Rabu, September 18, 2013

Karaeng Patinggaloang: Orang Paling Terpelajar dari Timur

Nama orang terpelajar nyaris tak pernah disebut dalam sejarah Indonesia. Akhirnya kita muntah karena nama penguasa macam gajah Mada atau Suharto lebih sering disebut.

Jika ada yang bertanya, siapa manusia paling bijak dari Indonesia timur? Karaeng patinggaloang lah orangnya. Saya tak terkejut secara tidak sengaja menemukan Museum yang menggunakan namanya di dalam komplek Benteng Somba Opu, di Sungguminasa. Ini Karaeng Keturunan Bangsawan Tallo. Dimana dia kemudian menjadi karaeng atau semacam raja di Tallo. Tallo di masa sekarang adalah pusat kota Makassar sekarang.
Makassar kota yang lebih dikenal sebagai kota tawuran. Begitulah kata media nasional. Seolah, tak ada yang dilakukan orang-orang Makassar selain tawuran. Mereka lupa, Makassar di masa lalu punya Karaeng Patinggaloang. 


Semasa hidupnya, diperakan sejak 1600-1654, Karaeng Patinggaloang adalah mangkubumi kerajaan besar Makassar, dimana Gowa adalah pemimpinnya. Artinya Patinggaloang adalah penasehat raja sekaligus perdana menteri dari Sultan Muhammad Said, Sultan Gowa kala itu. Karena terbiasa berhubungan dengan orang asing, entah untuk urusan kerajaan atau dagang, maka dirinya menguasai beberapa bahasa asing seperti Belanda, Portugis, Spanyol, dan lainnya. 
Banyak yang mencatat, Patinggaloang punya banyak koleksi buku dari barat yang disimpannya dalam perpustakaannya. Dirinya pernah memesan bola dunia (globe) buatan Bleu dari Inggris. Dia juga punya atlas eropa. Tak hanya berhubungan dengan orang Eropa, sejarah Eropa pun dia pelajari.  
Pastor Alexander de Rhodes S.J mencatat: “Jika kita mendengar omongannya tanpa melihat orangnya, pasti kita mengira bahwa dia adalah orang Portugis sejati, karena ia berbahasa orang Portugis sama fasihnya dengan orang Lisbon ....  Menguasai dengan baik segala misteri kita, dan telah membaca semua kisah raja-raja kita di Eropa dengan keingintahuan yang besar.”
Semasa hidupnya, diperakan sejak 1600-1654, Karaeng Patinggaloang adalah mangkubumi kerajaan besar Makassar, dimana Gowa adalah pemimpinnya. Artinya Patinggaloang adalah penasehat raja sekaligus perdana menteri dari Sultan Muhammad Said, Sultan Gowa kala itu. Karena terbiasa berhubungan dengan orang asing, entah untuk urusan kerajaan atau dagang, maka dirinya menguasai beberapa bahasa asing seperti Belanda, Portugis, Spanyol, dan lainnya. Banyak yang mencatat, Patinggaloang punya banyak koleksi buku dari barat yang disimpannya dalam perpustakaannya. Dirinya pernah memesan bola dunia (globe) buatan Bleu dari Inggris. Dia juga punya atlas eropa. Tak hanya berhubungan dengan orang Eropa, sejarah Eropa pun dia pelajari. Pastor Alexander de Rhodes S.J mencatat: “Jika kita mendengar omongannya tanpa melihat orangnya, pasti kita mengira bahwa dia adalah orang Portugis sejati, karena ia berbahasa orang Portugis sama fasihnya dengan orang Lisbon .... Menguasai dengan baik segala misteri kita, dan telah membaca semua kisah raja-raja kita di Eropa dengan keingintahuan yang besar.”
Matematika pun menjadi ilmu yang menarik bagi Patinggaloang. Banyak hal soal ilmu-ilmu pengetahuan dari barat dia coba ketahui. Tak ada untuk bukti menuduhnya menjadi barat, atau menginginkan adanya pembaratan di Makassar. Yang terlihat hanya dirinya sebagai orang dengan rasa ingin tahu lebih jauh tentang ilmu dari barat.
Sayang, nyaris tak ada bangsawan lain yang serius untuk belajar soal ilmu-ilmu yang dikuasai orang Belanda di masanya. Di masa setelahnya pun, orang-orang Indonesia sekolah bukan karena cinta pada ilmu pengetahuan, melainkan lebih karena mengejar ijazah dan prestis. Akhirnya kita tak perlu heran jika generasi muda sekarang adalah generasi pemburu ijazah, karena tak diajarkan untuk mencintai ilmu pengetahuan sejak dini di sekolah.
Matematika pun menjadi ilmu yang menarik bagi Patinggaloang. Banyak hal soal ilmu-ilmu pengetahuan dari barat dia coba ketahui. Tak ada untuk bukti menuduhnya menjadi barat, atau menginginkan adanya pembaratan di Makassar. Yang terlihat hanya dirinya sebagai orang dengan rasa ingin tahu lebih jauh tentang ilmu dari barat. Sayang, nyaris tak ada bangsawan lain yang serius untuk belajar soal ilmu-ilmu yang dikuasai orang Belanda di masanya. Di masa setelahnya pun, orang-orang Indonesia sekolah bukan karena cinta pada ilmu pengetahuan, melainkan lebih karena mengejar ijazah dan prestis. Akhirnya kita tak perlu heran jika generasi muda sekarang adalah generasi pemburu ijazah, karena tak diajarkan untuk mencintai ilmu pengetahuan sejak dini di sekolah.
Beruntung sekali orang-orang Makassar punya tokoh teladan macam Karaeng Patinggaloang. Serta sangatlah beruntung Arung Palakka, raja Bone terbesar dalam sejarah, yang pernah menjadi anak asuh dari Karaeng Patinggaloang.  Sedikit banyak Karaeng Patinggalong tentu ada yang bisa dipelajari oleh Arung Palakka. Banyak hal bijak yang dipelajari dari Karaeng Patinggalong, termasuk dalam pemerintahan untuk menjadi raja. Tak perlu heran jika Arung Palakka jadi raja besar yang dihormati. Arung Palakka mungkin murid Karaeng Patinggalong yang kesohor. 
Nama Patinggaloang, yang seharusnya bisa dibanggakan seolah tenggelam oleh nama Hasanudin. Ini karena sentiment anti Belanda yang berlebih dari orang Indonesia. Yang melawan Belanda boleh jadi Pahlawan, walau ada main dengan Portugis.
Beruntung sekali orang-orang Makassar punya tokoh teladan macam Karaeng Patinggaloang. Serta sangatlah beruntung Arung Palakka, raja Bone terbesar dalam sejarah, yang pernah menjadi anak asuh dari Karaeng Patinggaloang. Sedikit banyak Karaeng Patinggalong tentu ada yang bisa dipelajari oleh Arung Palakka. Banyak hal bijak yang dipelajari dari Karaeng Patinggalong, termasuk dalam pemerintahan untuk menjadi raja. Tak perlu heran jika Arung Palakka jadi raja besar yang dihormati. Arung Palakka mungkin murid Karaeng Patinggalong yang kesohor. Nama Patinggaloang, yang seharusnya bisa dibanggakan seolah tenggelam oleh nama Hasanudin. Ini karena sentiment anti Belanda yang berlebih dari orang Indonesia. Yang melawan Belanda boleh jadi Pahlawan, walau ada main dengan Portugis.
Dia bukan penguasa yang bijak belaka. Dia adalah pecinta ilmu pengetahuan. Orang terpelajar haruslah jadi orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Sejarah Indonesia yang disajikan di sekolah selama ini cuma omong bagus soal politik saja. Sejarah Indonesia di sekolah tak pernah belajar bagaimana menghargai dan mendalami ilmu pengetahuan.
Bagi Anda yang bosan, karena lebih sering dijejali soal Sukarno dan Suharto atau Gajah Mada, sebaiknya acuhkan mereka sejenak! Mari kita berkaca pada seseorang yang jelas-jelas mencintai ilmu pengetahuan dulu. Sejarah Indonesia harusnya memberi contoh pemimpin bijak dan ilmuwan atau pecinta ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan teladan. Harapannya, Indonesia bisa seperti Jerman yang punya Goethe, Itali yang punya Da Vinci atau tokoh kesohor di bidang ilmu pengetahuan dan Teknologi. Indonesia baru punya beberapa orang macam Habibie, negara sebesar Indonesia harus punya banyak.
Dia bukan penguasa yang bijak belaka. Dia adalah pecinta ilmu pengetahuan. Orang terpelajar haruslah jadi orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Sejarah Indonesia yang disajikan di sekolah selama ini cuma omong bagus soal politik saja. Sejarah Indonesia di sekolah tak pernah belajar bagaimana menghargai dan mendalami ilmu pengetahuan. Bagi Anda yang bosan, karena lebih sering dijejali soal Sukarno dan Suharto atau Gajah Mada, sebaiknya acuhkan mereka sejenak! Mari kita berkaca pada seseorang yang jelas-jelas mencintai ilmu pengetahuan dulu. Sejarah Indonesia harusnya memberi contoh pemimpin bijak dan ilmuwan atau pecinta ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan teladan. Harapannya, Indonesia bisa seperti Jerman yang punya Goethe, Itali yang punya Da Vinci atau tokoh kesohor di bidang ilmu pengetahuan dan Teknologi. Indonesia baru punya beberapa orang macam Habibie. Untuk negara sebesar Indonesia, harusnya punya banyak Habibie

Senin, September 16, 2013

Antara Max, Adipati dan Korupsi

Di sebuah kadipaten kere bernama Lebak kedatangan bule humanis, yang kebetulan kaki tangan pemerintah kolonial Belanda juga. Namanya Max Havelaar. Pegawai muda ini tiba bersama Tine, istrinya dan anak semata wayangnya yang lucu. Max diantar oleh residen. Sebelumnya, Max pernah bertugas di luar Jawa. Max orang yang sangat peduli pada orang pribumi yang dulunya seharga sampah, alias tak berarti. Max orang yang siap susah. Dia bahkan pernah berduel dengan Letnan KNIL yang kurang ajar. Perwira itu melecehakan seorang wanita pribumi berwajah cukup manis. Max berhasil melukai lawannya. Namun Max menyesalinya.
Tahun 1850an, Jawa sudah jadi pulau termaju di Hindia Belanda. Kepindahan dinas Max ke pulau Jawa, sebenarnya menyenangkan istrinya pada awalnya. Apalagi, Max yang karirnya tak terbilang bagus, kini diangkat jadi Asisten Residen. Namun begitu sadar di daerah yang miskin, rasa gembira Tine berkurang. 
Di Lebak, mereka menempati rumah asisten residen lama. Bekas Nyai Asisten Residen lama tinggal tak jauh dari rumah itu. Asisten Residen lama, Mr Slotering, sebetulnya mati diracun orang-orang setia sang Adipati. Namun, laporan pemerintah menyebut, Slotering mati karena liver. 
Max terkejut. Di pulau yang katanya punya budaya luhur itu, rakyat jelata diperlakukan oleh para penguasa lokal. Dimana ada orang-orang tak dibayar yang diharuskan bekerja membersihkan rumput di pekarangan kadipaten. Max marah atas penghisapan, yang bagi kaum feudal Indonesia adalah wajar jika rakyat jelata harus menurut apa saja perintah Adipati. Orang-orang itu disuruh pulang. Sang Adipati lalu mengirim orang-orang untuk memberishkan pekarangan rumah Max. Dengan tegas Max menolak.
Tahun 1850an, Jawa sudah jadi pulau termaju di Hindia Belanda. Kepindahan dinas Max ke pulau Jawa, sebenarnya menyenangkan istrinya pada awalnya. Apalagi, Max yang karirnya tak terbilang bagus, kini diangkat jadi Asisten Residen. Namun begitu sadar di daerah yang miskin, rasa gembira Tine berkurang. Di Lebak, mereka menempati rumah asisten residen lama. Bekas Nyai Asisten Residen lama tinggal tak jauh dari rumah itu. Asisten Residen lama, Mr Slotering, sebetulnya mati diracun orang-orang setia sang Adipati. Namun, laporan pemerintah menyebut, Slotering mati karena liver. Max terkejut. Di pulau yang katanya punya budaya luhur itu, rakyat jelata diperlakukan oleh para penguasa lokal. Dimana ada orang-orang tak dibayar yang diharuskan bekerja membersihkan rumput di pekarangan kadipaten. Max marah atas penghisapan, yang bagi kaum feudal Indonesia adalah wajar jika rakyat jelata harus menurut apa saja perintah Adipati. Orang-orang itu disuruh pulang. Sang Adipati lalu mengirim orang-orang untuk memberishkan pekarangan rumah Max. Dengan tegas Max menolak.
Max juga kemudian harus menyaksikan demang dari kadipaten merampas kerbau keluarga Saidjah. Mereka tak berdaya dan takut melawan demang beserta centeng-centengnya. Ketika Max mendatangi mereka, tak ada seorang pun yang berani buka mulut soal perampasan itu, meski Max berjanji akan melindungi mereka. Rakyat jelata memang tak doyan melawan. 
Hidup Max tentu dibuat tak tenang. Ular-ular berbisa pun dikirim ke sekitar rumah Max. Max junior bahkan hampir mati dipatuk. Nyai dari Slotering lalu cerita pada Max, soal Slotering yang diracun. Max mulai waspada. Makin hari antek-antek sang Adipati makin menggila, mereka rela membunuh orangtua Saidjah. Namun mereka tak berani terang-terangan melukai Max.
Max juga kemudian harus menyaksikan demang dari kadipaten merampas kerbau keluarga Saidjah. Mereka tak berdaya dan takut melawan demang beserta centeng-centengnya. Ketika Max mendatangi mereka, tak ada seorang pun yang berani buka mulut soal perampasan itu, meski Max berjanji akan melindungi mereka. Rakyat jelata memang tak doyan melawan. Hidup Max tentu dibuat tak tenang. Ular-ular berbisa pun dikirim ke sekitar rumah Max. Max junior bahkan hampir mati dipatuk. Nyai dari Slotering lalu cerita pada Max, soal Slotering yang diracun. Max mulai waspada. Makin hari antek-antek sang Adipati makin menggila, mereka rela membunuh orangtua Saidjah. Namun mereka tak berani terang-terangan melukai Max.
Rupanya, kerbau-kerbau rampasan itu dijadikan hidangan sang Adipati yang sedang menjamu tamu jauh yang katanya agung dari Bandung. Max yang telah meminjamkan uang pada Adipati pun merasa kesal dan melapor pada residen. Namun residen beserta jajarannya lebih suka mendukung sang Adipati. Mungkin karena para adipati atawa Bupati yang sangat berjasa dalam membantu program tanam paksa yang berhasil menambah pemasukan Belanda. Belakangan Max pun dipecat.
Sejatinya, dalam sejarah rakyat jelata adalah kelas yang selalu menderita. Itu seolah takdir yang diamini orang-orang. Rakyat jelata, mungkin sejak jaman orang-orang Indonesia kenal kerajaan, adalah orang yang boleh diperas: boleh diambil ternaknya; istrinya; anak gadisnya; atau apa saja yang berharga lainnya oleh para penguasa yang kadang berupa raja, bupati atau tuan tanah. 
HIngga hari ini, feodalisme, meski mulai ditinggalkan tetap saja ingin dipertahankan penguasa. Lihat saja para pejabat lokal Indonesia masa kini. Feodalisme, sebetulnya akar terbesar dari korupsi di Indonesia. Seorang feodal seperti raja selalu merasa apapun yang ada disekitar dirinya adalah miliknya. Boleh perintah orang seenaknya; semua uang atau apa saja yang ada didepan matanya adalah miliknya jadi boleh dia mabil dan pakai semaunya. Kalau sudah ada di wilayah mereka uang itu harus jadi milik mereka. Tak istilah uang rakyat lagi dimata mereka. 
 Film Max Havelar yang sempat dilarang ini sebetulnya bisa membantu kita menelisik akar korupsi atau bentuk penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia. Mungkin itu juga alas an kenapa film ini pernah dilarang beredar di Indonesia. Sebuah film yang bagus, meski agak menyesakkan dada kaum nasionalis buta yang selalu bilang orang Belanda selalu jahat. Mereka tentu tak akan terima kalau ada priyayi Indonesia asli menindas bangsa sendiri.
Rupanya, kerbau-kerbau rampasan itu dijadikan hidangan sang Adipati yang sedang menjamu tamu jauh yang katanya agung dari Bandung. Max yang telah meminjamkan uang pada Adipati pun merasa kesal dan melapor pada residen. Namun residen beserta jajarannya lebih suka mendukung sang Adipati. Mungkin karena para adipati atawa Bupati yang sangat berjasa dalam membantu program tanam paksa yang berhasil menambah pemasukan Belanda. Belakangan Max pun dipecat. Sejatinya, dalam sejarah rakyat jelata adalah kelas yang selalu menderita. Itu seolah takdir yang diamini orang-orang. Rakyat jelata, mungkin sejak jaman orang-orang Indonesia kenal kerajaan, adalah orang yang boleh diperas: boleh diambil ternaknya; istrinya; anak gadisnya; atau apa saja yang berharga lainnya oleh para penguasa yang kadang berupa raja, bupati atau tuan tanah. HIngga hari ini, feodalisme, meski mulai ditinggalkan tetap saja ingin dipertahankan penguasa. Lihat saja para pejabat lokal Indonesia masa kini. Feodalisme, sebetulnya akar terbesar dari korupsi di Indonesia. Seorang feodal seperti raja selalu merasa apapun yang ada disekitar dirinya adalah miliknya. Boleh perintah orang seenaknya; semua uang atau apa saja yang ada didepan matanya adalah miliknya jadi boleh dia mabil dan pakai semaunya. Kalau sudah ada di wilayah mereka uang itu harus jadi milik mereka. Tak istilah uang rakyat lagi dimata mereka. Film Max Havelar yang sempat dilarang ini sebetulnya bisa membantu kita menelisik akar korupsi atau bentuk penyalahgunaan kekuasaan di Indonesia. Mungkin itu juga alas an kenapa film ini pernah dilarang beredar di Indonesia. Sebuah film yang bagus, meski agak menyesakkan dada kaum nasionalis buta yang selalu bilang orang Belanda selalu jahat. Mereka tentu tak akan terima kalau ada priyayi Indonesia asli menindas bangsa sendiri.

Yang Katanya Negara Agraris

“Orang Indonesia akan bilang belum makan kalau belum makan nasi”

Nasi goreng sudah mendunia. Berdasar survey media kesohor dunia, nasi termasuk makanan paling enak di dunia. Ini makanan sudah ada sedari jaman kolonial. Ini makanan lahir karena masuknya orang-orang Belanda yang susah ketemu roti di Indonesia. Akhirnya nasi pun mereka makan, tentu setelah menggorengnya.
            Nasi bukan satu-satunya makan di Indonesia. Meski harus kita akui, “orang Indonesia akan bilang belum makan kalau belum makan nasi.” Entah ini dosa rezim siapa? Sepertinya ratusan tahun silam tak seperti itu. Orang Madura biasa makan jagung. Orang Papua atau Maluku punya tradisi makan sagu. Kata seorang kawan, satu pohon sagu bisa mengisi perut satu keluarga selama beberapa bulan. Dalam sebuah acara di televisi, cacing yang ditemukan di pohon sagu pun bisa dimakan
Indonesia memang punya banyak makanan enak. Tak melulu yang dari beras. Papeda juga makanan enak dari sagu. Kata seorang anak Digulis, "asal bisa mengolah. Ikan dan sagu bisa menjadi makanan enak." Begitu kenangan ibu-ibu tua di masa bocahnya di pedalaman Papua, Boven Digoel.
Ada semacam konversi pangan. Nasi dijadikan makanan pokok Indonesia. Tak masalah jika itu hanya berlaku di Jawa, atau daerah-daerah yang bisa ditanami padi. Tap bagaimana dengan orang Papua dan Maluku yang sudah terbiasa dengan sagu? Kelaparan yang terjadi di Papua beberapa tahun silam jangan-jangan dosa pemerintah yang mengkonversi makanan pokok menjadi nasi. Nampaknya, ini hanya bagian dari bisnis. Agar orang-orang diluar Jawa tergantung pada beras. Agar orang terpaksa membeli beras. Tapi, rupanya pemerintah pun gagal sediakan beras murah.
Tak hanya itu, petani beras pun tak pernah untung. Rupanya, diam-diam pemerintah masih import beras. Meski begitu tak pernah ada himbauan yang jelas dari pemerintah pada rakyat untuk mencari sumber makanan lain selain beras. Sedari dulu pertanian pribumi adalah eksploitasi yang memiskinkan. Petani adalah kaum paling menderita sepanjang sejarah. Di jaman kerajaan, petani adalah kelompok yang sudah pasti paling sering dipungut berasnya oleh raja-raja. Di jaman kolonial, dengan perantara priyayi, para petani dipaksa menanam tanaman komoditas, non beras, hingga lupa tanam padi. Akhirnya mereka kelaparan. Sekarang pun, di jaman kemerdekaan, petani Indonesia belum merdeka. 
Masalah pertanian rakyat pribumi juga menjadi perhatian Husni Thamrin. Masalah pemasaran gula, kedelai beras di dalam negeri dipelajarinya dengan teliti bahkan diperdebatkan dengan sengit jika masalah ini menyangkut kaum petani sebagai produsen lokal yang harus diperjuangkannya. Dalam sebuah sidang delegasi pada 24 Februari 1934 telah gagal dibatasinya Import beras. Thamrin kemudian mendesak untuk pemerintah segera mengubah tanah-tanah yang disewa perusahaan besar agar dikembalikan kepada petani untuk menanam padi pada musim hujan.  Karena import beras yang harga pasarannya rendah maka terjadi banjir beras, baik yang berasal dari Jepang maupun dari Thailand. Dalam hal ini Thamrin mendesak dilakukannya keseimbangan antara beras lokal dengan beras import. Desakan Thamrin gagal, import beras telah mendorong gagalnya produksi beras dalam negeri, pemerintah juga rupanya lebih senang mengimpor beras Thailand yang lebih murah. Import beras mendatangkan rezeki bagi importir maupun pedagang Cina menangguk banyak untung. Pemerintah kolonial juga tidak lepas beruntungnya dengan bertambahnya keuangan mereka dari import beras ini. (Bob Hering , M.H. Thamrin and His Quest for Indonesian Nationhood 1917-1941 ,  hlm.  241)
 Kata seorang kawan, seorang dosen pertanian di UGM, maaf off the record, para petani Indonesia beserta lahan-lahan yang ada sebetulnya mampu memberi makan semua orang Indonesia. Itu belum termasuk sagu-sagu orang Papua dan Maluku, juga belum termasuk jagung-jagung orang Madura. Tapi, kenapa masih impor beras? Padahal, waktu Syahrir jadi perdana Menteri, beras-beras Karawang pernah dikirim ke India yang kelaparan. Indonesia punya sejarah manis itu. Tapi sekarang bertolak belakang. Apa yang terjadi sejak masa Suharto dan setelahnya nampaknya pengulangan jaman kolonial.  Untuk bangsa yang katanya anti kolonial, kita masih menganut kebijakan impor beras macam kolonial Belanda dulu. Itu sama saja NKRI meludahi wajah dan perjuangan Husni Thamrin. 

Sabtu, September 14, 2013

Sebatas Rindu pada Hoegeng

Kami tak bisa lagi percaya, meski berharap akan ada polisi jujur dan berani macam Hoegeng. Tapi, kami semua sadar jika itu khayal.


Berita soal terorisme dari kelompok radikal Islam sudah basi rupanya. Alias orang-orang waras akal tak mau lagi dengar. Berita penyerangan polisi lalu tersebar. Tapi, berita itu tak undang simpati masyarakat. Soal polisi orang-orang waras sudah banyak tidak peduli lagi, percaya sama polisi pun ogah. Polisi sudah menjadi momok. Jangankan berurusan, melihat pun sebaiknya jangan. Si kumis 1, kapolri kesayangan Beye, yang sepertinya belum minta maaf sama anak PUNK Aceh yang dibotaki pun bukan pemandangan bagus di televisi. Ya. Timur Pradopo betul-betul merusak mata saya kalau nonton berita di TV. Entahlah, banyak memori atau hal buruk soal polisi. Padahal, banyak kawan-kawan yang jadi polisi. Mungkin kelakukan opas polisi kolonial masih lebih nyaman. 
 Ada sebuah joke, konon ini joke dari Gus Dur. Hanya ada tiga polisi baik di Indonesia: pertama patung polisi; kedua polisi tidur (yang ada di jalan); dan polisi betulan yang namanya Hoegeng alias Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso. Saya pernah baca biografinya. Dia polisi yang berani tegakkan hukum demi keadilan. Dia pernah menolak banyak uang atau barang sogokan yang jumlahnya sangat banyak sekali waktu dinas di Medan.
Berita soal terorisme dari kelompok radikal Islam sudah basi rupanya. Alias orang-orang waras akal tak mau lagi dengar. Berita penyerangan polisi lalu tersebar. Tapi, berita itu tak undang simpati masyarakat. Soal polisi orang-orang waras sudah banyak tidak peduli lagi, percaya sama polisi pun ogah. Polisi sudah menjadi momok. Jangankan berurusan, melihat pun sebaiknya jangan. Si kumis 1, kapolri kesayangan Beye, yang sepertinya belum minta maaf sama anak PUNK Aceh yang dibotaki pun bukan pemandangan bagus di televisi. Ya. Timur Pradopo betul-betul merusak mata saya kalau nonton berita di TV. Entahlah, banyak memori atau hal buruk soal polisi. Padahal, banyak kawan-kawan yang jadi polisi. Mungkin kelakukan opas polisi kolonial masih lebih nyaman. Ada sebuah joke, konon ini joke dari Gus Dur. Hanya ada tiga polisi baik di Indonesia: pertama patung polisi; kedua polisi tidur (yang ada di jalan); dan polisi betulan yang namanya Hoegeng alias Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso. Saya pernah baca biografinya. Dia polisi yang berani tegakkan hukum demi keadilan. Dia pernah menolak banyak uang atau barang sogokan yang jumlahnya sangat banyak sekali waktu dinas di Medan.
Dia pernah memimpin jawatan imigrasi sebelum jadi Panglima Angkatan Kepolisian (Kapolri). Dia tergolong sebagai orang-orang baik dan bisa diandalkan di awal orde baru. Tapi, banyak yang sepakat dia bukan antek ORBA sejati macam Sudomo. Karirnya terhenti di tahun 1971, ketika ada kasus penyelundupan Robby Tjahjadi yang melibatkan pejabat, kasus Sum Kuning yang melibatkan anak-anak penggede di Yogyakarta, dan kasus lain yang tak terselesaikan. Hoegeng merasa penasaran sebenarnya, tapi tak bisa berbuat apapun.
 Seandainya serdadu Nipon tak pernah datang dan menduduki Indonesia, Hoegeng mungkin bakal jadi Pengacara atau notaris. Dia pernah kuliah di Recht Hoge School (sekolah tinggi hukum) di jakarta. Kondisi masa pendudukan Jepang yang penuh ketidakpastian, membuatnya ambil keputusan ikut kursus kepolisian. Tidak langsung jadi inspektur, Hoegeng harus rela dinas sebagai Agen polisi rendahan yang kudu patroli pakai sepeda. 
 Di jaman revolusi, Hoegeng sempat jadi Mayor di Polisi Militer AL. Namun dia keluar dan memilih jadi polisi sipil biasa. Hoegeng merasakan sulitnya jaman revolusi dan pernah jadi tawanan Belanda juga. Dia bisa bebas karena Oom dia adalah Abdulkadir yang pejabat tinggi Belanda yang mewakili Belanda dalam perjanjian Renville. Hoegeng termasuk orang yang rela belajar dari nol lagi, walau pernah punya pengalaman sebagai kepala polisi rendahan. Hoegeng pernah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Dia juga pernah dikirim ke Amerika untuk memperdalam ilmu tentang kepolisian.
Dia pernah memimpin jawatan imigrasi sebelum jadi Panglima Angkatan Kepolisian (Kapolri). Dia tergolong sebagai orang-orang baik dan bisa diandalkan di awal orde baru. Tapi, banyak yang sepakat dia bukan antek ORBA sejati macam Sudomo. Karirnya terhenti di tahun 1971, ketika ada kasus penyelundupan Robby Tjahjadi yang melibatkan pejabat, kasus Sum Kuning yang melibatkan anak-anak penggede di Yogyakarta, dan kasus lain yang tak terselesaikan. Hoegeng merasa penasaran sebenarnya, tapi tak bisa berbuat apapun. Seandainya serdadu Nipon tak pernah datang dan menduduki Indonesia, Hoegeng mungkin bakal jadi Pengacara atau notaris. Dia pernah kuliah di Recht Hoge School (sekolah tinggi hukum) di jakarta. Kondisi masa pendudukan Jepang yang penuh ketidakpastian, membuatnya ambil keputusan ikut kursus kepolisian. Tidak langsung jadi inspektur, Hoegeng harus rela dinas sebagai Agen polisi rendahan yang kudu patroli pakai sepeda. Di jaman revolusi, Hoegeng sempat jadi Mayor di Polisi Militer AL. Namun dia keluar dan memilih jadi polisi sipil biasa. Hoegeng merasakan sulitnya jaman revolusi dan pernah jadi tawanan Belanda juga. Dia bisa bebas karena Oom dia adalah Abdulkadir yang pejabat tinggi Belanda yang mewakili Belanda dalam perjanjian Renville. Hoegeng termasuk orang yang rela belajar dari nol lagi, walau pernah punya pengalaman sebagai kepala polisi rendahan. Hoegeng pernah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Dia juga pernah dikirim ke Amerika untuk memperdalam ilmu tentang kepolisian.
Meski tak jadi pejabat polisi lagi, Hoegeng bukan manusia apatis "sok realistis" Hoegeng berani kritis pada Suharto cs. Butuh keberanian untuk itu. Resiko melawan Suharto cs itu tidak ringan. Hoegeng sendiri pernah dipersulit. Hoegeng harus kehilangan panggung Hawaiian di TVRI. Karena melawan, hobby bermusiknya dimatikan sama rezim satu itu. Tidak mudah jadi orang jujur. Juga jadi polisi jujur. Buat kawan-kawan yang polisi, sebetulnya Hoegeng adalah Panglima terbaik kalian, belum ada yang menandinya.
 Orang-orang Indonesia, setidaknya saya, sangat merindukan polisi jujur macam Hoegeng. Sebetulnya kami ingin percaya, tapi bagaimana kami percaya jika uang kami dihisap dan entah lari kemana waktu bikin SIM atau ditilang? Padahal, sepertikata kawan saya, di sebuah negeri antah berantah sebuah jalan layang dibangun dari uang tilang. Bagaiamana kami bisa percaya jika ada orang-orang yang ditangkap tanpa jelas perkaranya? Bagaimana kami bisa menghormati kepala polisi yang tak berani tidak anggotanya yang korup? Bagaimana kami bisa terlindungi oleh polisi yang manut sama penguasa tak jujur?
 Kitorang semua tak bisa berharap apa-apa lagi, dan mungkin hanya sebatas rindu saja pada Hoegeng si polisi baik. Sebetulanya, masih ada lagi kebaikan Hoegeng seperti perpisahannya dengan SUsy dan Domo yang disayanginya, keduanya nama orangutan peliharaannya, ke alam hijau. Sayang, tak semua polisi seperti Hoegeng.
Meski tak jadi pejabat polisi lagi, Hoegeng bukan manusia apatis "sok realistis" Hoegeng berani kritis pada Suharto cs. Butuh keberanian untuk itu. Resiko melawan Suharto cs itu tidak ringan. Hoegeng sendiri pernah dipersulit. Hoegeng harus kehilangan panggung Hawaiian di TVRI. Karena melawan, hobby bermusiknya dimatikan sama rezim satu itu. Tidak mudah jadi orang jujur. Juga jadi polisi jujur. Buat kawan-kawan yang polisi, sebetulnya Hoegeng adalah Panglima terbaik kalian, belum ada yang menandinya. Orang-orang Indonesia, setidaknya saya, sangat merindukan polisi jujur macam Hoegeng. Sebetulnya kami ingin percaya, tapi bagaimana kami percaya jika uang kami dihisap dan entah lari kemana waktu bikin SIM atau ditilang? Padahal, sepertikata kawan saya, di sebuah negeri antah berantah sebuah jalan layang dibangun dari uang tilang. Bagaiamana kami bisa percaya jika ada orang-orang yang ditangkap tanpa jelas perkaranya? Bagaimana kami bisa menghormati kepala polisi yang tak berani tidak anggotanya yang korup? Bagaimana kami bisa terlindungi oleh polisi yang manut sama penguasa tak jujur? Kitorang semua tak bisa berharap apa-apa lagi, dan mungkin hanya sebatas rindu saja pada Hoegeng si polisi baik. Sebetulanya, masih ada lagi kebaikan Hoegeng seperti perpisahannya dengan SUsy dan Domo yang disayanginya, keduanya nama orangutan peliharaannya, ke alam hijau. Sayang, tak semua polisi seperti Hoegeng.

Jumat, September 06, 2013

Pilot (Tempur) Generasi Pertama Indonesia

Masih menjadi misteri, siapakah orang Indonesia yang pertama kali jadi pilot? Setidaknya ada beberapa nama pilot sohor Indonesia generasi pertama, mereka kebanyakan pilot militer.
Ada yang menulis, Bob Freiberg adalah pilot RI pertama. Ini karena Bob menerbangkan RI 002 Seulawah. Itu bukan berarti Bob pilot pertama yang pernah ada di Indonesia. Siapakah orang yang pertama kali terbang di Indonesia? Orang-orang awam mungkin ingat mitologi Bramakumbara yang terbang dengan burung raksasa-nya. 
        Di Wonosobo, 18 Januari 1914, Dennij, seorang pembuat balon udara yang kesohor di masanya, mendemonstrasikan atraksi balon udara di hadapan  masyarakat Wonosobo. Banyak orang-orang melihatnya di tanah lapang. Orang-orang Wonosobo bersorak ketika balon berhasil terbang. Sayang, ketika mendarat terjadi kecelakaan. Orang-orang yang terkesima pun tegang. Balon udara rusak berat, sementara Dennij cidera.  Orang-orang pribumi masih belum terbiasa dengan teknologi barat.(Sinar Djawa, 23 Januari 1914)
Legercommandant KNIL pun bekas pilot
Hein Ter Porten tergolong sebagai salah satu pilot pertama di Hindia Belanda. Sehari-hari dia adalah Letnan Artileri KNIL. Dia belajar terbang dengan uangnya sendiri. Dia pernah terbang mengitari Batavia. (Gedenschrift Koninklijk Nederlansche Indische Leger 1830-1950, hlm. 76-77). 
Hein Ter Porten yang mantan pilot militer jadi tawanan.
Hein Ter Porten yang mantan pilot militer jadi tawanan.
Penerbangan Ter Porten tak selamanya mulus. Pada 14 Februari 1916
Pesawatnya mengalami kecelakaan di Kalijati. Kecelakaan ini disebabkan oleh rusaknya mesin pesawat, ditambah keadaan cuaca yang buruk. Kala itu Ter Porten adalah ajudan dari Jenderal Michielsen— Legercommandant (Komandan Pasukan) KNIL. Ter Porten luka parah kala itu. Sementara Michelson meninggal dunia dan dimakamkan keesokan harinya. (Pembrita Betawi, 16 Februari 1916)
Belakangan, Ter Porten jadi komandan KNIL juga, menggantikan Barenschot yang meninggal karena kecelakaan pesawat, seperti yang dialami Michelsen. Setidaknya dua Jenderal KNIL meninggal karena kecelakaan pesawat. Nasib Ter Porten sebagai komandan KNIL pun tergolong merana, dia kalah perang dan KNIL vakkum. Dirinya pun sempat hidup di kamp interniran sebagai tawanan.
Pribumi Terbang
Tersebutlah Soetardjo—putra Bupati Bandung. Dia seorang Sportvlieger (olahragawan penerbang pesawat layang sederhana) Indoensia pertama. Pada 9 Februari 1932 dirinya telah mengadakan percobaan terbang untuk mendapatkan brevet dibidang terbang layang dari Nederlandsche Indie Vlieg Club (peerkumpulan aerosport Hindia Belanda). Sayang dalam percobaan itu Soetardjo jatuh sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Brevet yang diinginkannya pun kandas untuk beberapa waktu. (Pelita Andalas, 11 Februari 1932)
Surjadi Suryadarma, bekas pilot KNIL yang belakangan KSAU
Surjadi Suryadarma, bekas pilot KNIL yang belakangan KSAU
Sebelum Adisucipto terbang di tahun 1945, ada beberapa nama lain yang layak disebut sebagai pilot. Setidaknya ada Surjadi Surjadarma, Samboja Hurip, dan tentu Adi Sucipto sendiri. Mereka semua adalah penerbang militer.
        Surjadi Surjadarma adalah lulusan Akademi militer Breda di Belanda. Sebelum ikut latihan terbang dia adalah perwira KNIL. Belakangan dia dilibatkan dalam dunia pernebangan militer, sebelum Jepang datang ke Indonesia. Surjadi, kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Udara RI pertama dan terlama.
Adisucipto salah satu perintis penerbangan militer Indonesia
Adisucipto salah satu perintis penerbangan militer Indonesia
Adisucipto adalah pilot Indonesia paling kesohor. Dia menggerakan penerbangan militer di awal RI berdiri. Dia dikenal sebagai Bapak penerbangan RI. Kawan Adi Sucipto yang cemerlang selam latihan pilot oleh Belanda adalah Sambudjo Hurip. Sambudjo Hurip, terkenal sebagai petenis professional sebelum Perang Pasifik. Ancaman Jepang membuatnya harus ikut perang, sebagai pilot. Dia meninggal dalam sebuah operasi menghadapi pesawat-pesawat Jepang lalu hilang di sekitar Sumatra. 
Abdurahman Saleh Sang dokter yang terbang
Abdurahman Saleh Sang dokter yang terbang
Di zaman Adisucipto, sebetulnya banyak pilot kesohor seperti Abdurahman Saleh yang seorang dokter dan juga perancang pemancar radio  yang menyiarkan berita kemerdekaan RI. Taka da catatan bagaimana Abdurahman Saleh belajar terbang. Sebagai dokter dengan bayaran yang bagus tentu bukan hal sulit untuk ikut kursus. Nyatanya, setelah 1945, Abdurahman Saleh bisa menerbangkan pesawat.  Selain itu, ada juga Abdul Halim perdanakusumah yang pernah menjadi navigator pesawat pembom Canada dalam front Eropa semasa Perang Dunia II. AURI sedari awal sudah dilimpahi pilot-pilot hebat, namun sedari dulu hingga kini, pesawat-pesawat mereka tak memadai untuk mengawal angkasa nusantara.Halim Perdanakusuma, bekas navigator veteran front Eropa
Halim Perdanakusuma, bekas 

Selasa, September 03, 2013

Di Leang-leang bersama murid-murid

Tak lengkap rasanya jika melupakan gua Leang-leang untuk dikunjungi. Setelah 3 tahun, akhirnya saya melihat lagi lukisan purba di dalamnya.
Museum samping istana Balalompoa
Museum samping istana Balalompoa
Meski lelah, jadi backpacker jelas seru. Sabtu siang, saya baru turun dari Malino. Sekedar mengamati kota mungil di timur Makassar. Sekedar menyinggahi sebuah gereja kecil yang dulunya pernah dilangsungkan konferensi Malino pada 1946. Setelah mencari dan salah tempat, saya akhirnya temukan tempat itu. Lalu mengambil gambar dengan ditemani beberapa suster yang manis-manis. Dari gereja mungil itu lalu ke sebuah makam yang tampaknya telah berubah tugunya. Dari Malino saya langsung ke Balalompoa, sekedar cari informasi soal kacamata seorang sahabat yang tertinggal disana. Hasilnya tidak meyakinkan.
para manusia gua
para manusia gua
Esok paginya, saya penuhi janji untuk jalan-jalan ke Bantimurung. Jauh hari sebelumnya, saya pernah berjanji kepada murid-murid di sekitar Makassar untuk jalan-jalan ke Bantimurung. Tapi sebelumnya saya ingin singgahi sebuah gua purba di desa Leang-leang yang tak jauh dari Bantimurung. Semua sepakat dengan rencana saya. Kami naik pete-pete (sebutan angkot bagi orang-orang Makassar) dari jalan poros dekat Bandara. Beruntung dapat pete-pete yang ternyata supirnya adalah penduduk Leang-leang juga. Setelah melewati sebagian kota Maros, kami melewati daerah penuh sawah di kanan dan kiri jalannya. Sebelum Bantimurung, kendaraan belok kiri, masuk ke gua Leang-leang.  
Lukisan dinding di gua Leang-leang
Lukisan dinding di gua Leang-leang
Begitu sampai di loket dan pintu gerbang kami langsung menuju gua dengan berjalan kaki menyusuri taman hijau yang dipenuhi batu-batu yang mirip batu di tepi laut. Bukan batu Andesit. Taman ini disebut Taman Purbakala. Dulunya, mungkin ratusan ribu tahun silam, daerah ini adalah laut. Untuk mencapai gua, kami harus naik tangga besi yang disediakan pengelola tempat wisata yang memungut Rp 10.000 sekali masuk bagi wisatawan.
Akhirnya, pemandangan yang kami tuju pun di depan mata. Sebuah lukisan dinding buatan manusia purba. Sebuah gambar babi rusa disertai beberapa telapak tangan manusia. Ukuran telapak tangan tak jauh beda dengan telapak tangan manusia sekarang. Kata penjaga gua, lukisan itu memakai bahan pewarna dari tumbuh-tumbuhan yang ada di zaman purba, yang mungkin tumbuhan itu sudah punah.
Di dalam gua
Di dalam gua
Sudah pasti kami ambil foto sepuasnya di dalam gua. Untungnya, tak ada biaya masuk untuk kamera di tempat ini, seperti halnya banyak tempat di Jogja yang sudah kenakan biaya tambahan jika membawa kamera. Selesai berfoto di gua, kami turun dan berfoto di taman purbakala. Sementara anak-anak berfoto, saya mencari jejak Kjokenmodinger(sampah dapur). Saya agak lupa dimana tempatnya, karena sudah 3 tahun tak kunjungi lagi tempat ini. Karena kami tak lama, hanya sekitar satu jam. Kami harus ke Bantimurung untuk bersenang-senang sampai siang. Senang sekali bisa ke tempat ini bersama murid-murid. Dimana pun dan dalam kondisi apapun, bersama mereka penuaan itu serasa mitos. Saya serasa masih 23 tahun.Taman Purbakala
Taman Purbakala

Senin, September 02, 2013

Jejak Sekolah Guru Pelaut

Banyak peristiwa penting terjadi dikawasan yang dulu disebut Kampemen KIS. Pernah ada Sekolah guru pelaut dan akhirnya tetap jadi tangsi lagi.
Sore terakhir saya habiskan dengan mengunjungi tempat penting di kota Makassar. Sebelum mengunjunginya, saya pernah menulis soal peristiwa penting di kota ini, termasuk tempat yang dulunya pernah disebut sebagai kampemen KIS. Beruntung saya bisa mengunjunginya.
Dulunya, di tahun 1924 jalan ini bernama Strand Weg. Kawasan ini tak jauh dari laut. Kawasan ini adalah kawasan vital bagi Angkatan Laut Belanda di Makassar. Betapa tidak, ada bangunan dan sekolah penting bagi masa depan palayaran Belanda disini.
Sekolah Guru Pelayaran Makassar (1924)
Sekolah Guru Pelayaran Makassar (1924)
Dalam sebuah foto dari Tropen Museum yang diambil pada 20 April 1924, ada seorang pelaut menenteng senapan laras panjang berjaga di depannya. Pelaut bersenjata itu nampaknya orang pribumi. Bisa dipastikan jika sekolah guru pelayaran ini milik Angkatan Laut Belanda. Di atas pintu gerbang terdapat tulisan, Kweekschool voor Inlandsche Schepelingen, yang bisa diartikan sebagai Sekolah Guru Pelayaran Pribumi.
Saya lalu teringat koran tua yang pernah saya bongkar 2007 silam. Pewarta Makassar menulis:  Letnan Goozsen, perwira Angkatan Laut Hindia Belanda yang tinggal di Bogor, mendapat perintah agar membantu petinggi militer Hindia untuk mendirikan sekolah pelaut di Hindia Belanda yang akan dibangun di Padang dan Makassar.
Rencananya, Orang-orang pribumi yang lulus dari sekolah pelaut itu akan ditempatkan di kapal perang yang menjaga perairan Hindia Belanda—yang sekarang menajdi perairan Indonesia. Tujuan dari perekrutan orang-orang prinbumi tidak lain untuk mengurangi ketergantungan dari pelaut yang diambil dari negeri Belanda. Wilayah koloni Hindia Belada yang demikian besar--dimana lautannya lebih luas dibandingkan daratannya, maka armada laut yang menjaga lautan sangatlah penting sekali. (Pewarta Makassar, 20 Februari 1914)
Harap maklum, sedari dulu sejak ratusan tahun silam, kota Makassar memang kota pelabuhan penting, setidaknya di Indonesia bagian timur. Jazirah selatan Sulawesi tak hanya dikenal sebagai pusat pelayaran saja, sebuah kitab hukum Laut pun bernama Amanna Gappa, diambil dari nama salah orang Bugis Wajo yang menyusunnya.
Bekas kampement KIS akhirnya jadi markas Zeni Tempur
Bekas kampement KIS akhirnya jadi markas Zeni Tempur
Sekarang, bangunan sekolah itu masih ada meski ada perubahan sedikit. Namun bukti jika itu bekas sekolah pelayaran kolonial masih tersisa. Sekarang, gedung yang terletak di Jalan Rajawali itu, telah menjadi markas dari Batalyon Zeni Tempur 8 SMG. Sebelumnya, daerah pernah menjadi tangsi KNIL yang disebut kampement KIS (tangsi KIS).
Tahun 1950, di kawasan ini pernah terjadi pertempuran antara TNI dari Jawa dengan KNIL yang tak rela Makassar berada di tangan TNI--ketika Peristiwa Andi Azis bergolak membakar kota ini. Ketika menulis soal Andi Azis saya mulai familiar dengan nama kampement KIS. Belakangan saya baru paham mengapa namanya adalah kampement KIS, ternyata karena dulunya bekas sekolah pelayaran KIS tadi.
Entah kapan berubah jadi tangsi tentara, saya belum tahu, hanya saja di jaman perang kemerdekaan di sekitar bekas area sekolah ini jadi tempat berkumpul tentara Belanda. Ada yang mengatakan ada bunker di sekitar tempat ini.     
Rumah Tahanan Militer. Mungkin Walter Monginsidi pernah ditahan disini
Rumah Tahanan Militer. Mungkin Walter Monginsidi pernah ditahan disini
Tak jauh dari bekas kampement KIS ini terdapat rumah tahanan militer. KOnon katanya, Walter Manginsidi pernah ditahan di sekitar kampement KIS. Bisa jadi disinilah tempat Walter Manginsidi yang doyan kabur dan sebenarnya enggan menyerah pada Belanda itu ditahan.  Kawasan Jalan Rajawali, seperti juga beberapa kawasan lain adalah kawasan penting bagi kota Makassar di masa lalu. 
Sayang sekali, gedung ini bukan jadi sekolah pelaut yang sedianya bisa menjaga lautan Indonesia yang luas dan sering dicuri kekayaan lautnya.

Jumat, Agustus 30, 2013

Kami adalah Keluarga (Besar) Metallica

Musik rock di Indonesia seolah tenggelam begitu dalam, buat saya. Geliatnya baru gemilang lagi 25 Agustus 2013, ketika Metallica manggung.

Selain Tae Kwon Do, Palang Merah dan pastinya Sejarah, musik rock adalah hal penting di masa-masa SMA. Tanpa sadar, saya sudah dengar John Lennon dari kecil. Saya baru menyadarinya saat SMA. Di SMP, saya sudah dengar dengar Led Zeppelin; Deep Purple; Grand Funk Railroad; AKA dan entah apalagi dari piringan hitam di rumah. Hampir semua piringan yang ada pernah saya putar, termasuk lagu-lagu cengengnya Panbers atau Freedom of Rhapsodia.
            Saya punya banyak teman keren yang kenalkan saya banyak hal. Tukul alias Dwi Saputro perkenalkan Guns and Roses dan juga Metallica. Tak sekedar dengar lagu-lagu cadas mereka, kami kadang bicara tentang mereka. Kami sering menikmati Nothing Else Matter atau Enter sandman. Saya tak pernah punya mimpi untuk menonton langsung konser band rock besar macam mereka. Itu sangat mustahil. Saya kira, waktu itu, band-band rock besar dunia ogah konser di Indonesia. Apalagi Metallica punya mengalaman buruk konser di Indonesia. 
            Trend musik lalu berubah. Anak muda Indonesia belakangan lebih suka musik yang tak menggugah smangat, macam ST 12, Kangen Band dan entah apalagi. Itu semakin meyakinkan saya, "sampai kiamat pun tak bakal ada Band rock, bahkan yang Metal bakal ridho konser di negeri ini. Sebuah kiamat panjang yang menyakitkan dan terpaksa harus dinikmati anak muda pecinta musik cadas.
            Di masa kiamat panjang itu, ternyata masih ada segelintir anak muda yang masih doyan rock. Beruntung, di kampus saya yang payah masih ada penggemar rock. Ada anak-anak mahasiswa pecinta alam, anak-anak band kampus dan beberapa senior organisasi kampus lain yang bisa diajak berbagi MP3 atau cerita soal band rock. Meski nampak ketinggalan jaman, tetap saja musik rock hebat di masa itu. 
            Sekian lama musik rock tak menggema begitu rupa. Tanpa semarak konser rock band besar dunia Indonesia seolah mengalami kiamat panjang, beruntung Metallica akhirnya datang. Secara pribadi saya bukan penggemar metal, banyak tahu saya adalah penikmat Pink Floyd, tapi Metallica meyakinkan saya jika rock itu masih layak didengar oleh orang-orang Indonesia. Tanpa ragu saya terima ajakan kawan sekantor saya, sebut saja Angga Adil Darmawan, yang mengajak saya nonton Metallica. Kami tak peduli harganya, yang penting Metallica. Kami berdua berjuang memburu tiket untuk melihat Kirk Hammet, James Hetfield, Lars Ulrich dan Robert Trujilo manggung di Senayan. Beruntung kami temukan tiket itu juga di Matraman, maaf nama tempat itu ogah saya sebutkan.
            Tanggal 25 Agustus 2013 pun tiba. Kami bersukacita menyambut konser itu. Kami berangkat bersama. Mendekati Senayan, kami orang berbaju hitam dimana-mana. Mereka juga akan ke Senayan seperti kami. Metallica adalah tujuan kami. 
Norak bersama John Paul Ivan
Norak bersama John Paul Ivan
Sampai di Senayan, saya melihat rocker keren yang dipuja-puja bocah-bocah jaman saya. Dia John Paul Ivan, mantan gitaris Boomerang yang sekarang tak pernah saya lihat lagi. Terakhir lihat di Palembang, waktu ada konser yang menghadir banyak gitaris di sana, bersama kawan saya Olin Reynaldi dua tahun silam.        
Saya mendadak norak, minta foto bareng. Saya mendadak seperti anak SMA lagi. Tak apa, itu bukan dosa! Ini nostalgia. Beruntung, JOhn Paul Ivan yang mulai terlupakan itu dengan senang hati diabadikan bersama kami. 
            Pukul lima sore kami masuk Stadion Senayan. Ternyata festival A masih agak sepi. Kami ambil posisi di depan. Sambil duduk, kami pun dengan cepat ngobrol dengan penonton lain. Tanpa memperkenalkan nama. Kami hanya bicara Metallica tanpa tahu siapa nama lawan bicara kami. Kami seolah sudah kenal sejak SMA. Semua penonton Metallica di stadion rasanya seperti kawan baik. Di konser lain saya tak pernah merasa seperti itu.
  Seringai tampil sebagai band pembuka. Sebelumnya ada Raisa, penyanyi cewek yang baru naik daun, memimpin kami semua menyanyikan Indonesia raya dari atas panggung. Saya baru tahu itu adalah Raisa yang sering dibicarakan teman-teman di kantor. Seringai tampil juga bersama Stevi Item, yang aslinya memang anak Metal, tapi orang lebih sering lihat dia jadi personilnya Andra and The Backbone.
Setelah seringai turun panggung, kami menunggu satu jam Metallica untuk naik panggung. Entah alasannya apa, tetap saja itu menyebalkan. Banyak yang tak sabar, beruntung orang-orang bisa tahan diri. Tak seperti yang dibayangkan, penonton Metallica di sekitar kami adalah orang-orang tertib karena punya kesadaran pentingnya damai. Mungkin tak seperti penonton dangdut koplo yang mabuk. Maklum kebanyakan penonton adalah orang-orang yang usianya sekitar 30 tahunan, bahkan lebih.
James dkk beraksi
James dkk beraksi
Akhirnya, James dkk pun muncul. suasana mendadak meriah. Dan kiamat kecil yang panjang, dimana lingkungan sekitar jauh dari hingar bingar musik rock, pun segera berakhir. Ada kegembiraan tak tertahan dalam benak saya. Entah penonton lain. Ada diantara mereka yang menanti 20 tahun untuk menonton Metallica. Kangen mereka terobati. Dari jauh mereka datang ke Jakarta. Dengan pesawat, kereta api juga mungkin kapal laut. Semua demi Metallica. Jakarta pun menghitam. Tapi damai. 
Sebenarnya FPI ulang tahun di hari Metallica konser. Mereka sepertinya takut sama anak-anak metal. Dulu mereka boleh gagalkan Lady Gaga, tapi tidak Metallica. Mereka pasti hancur jika mencoba gagalkan Metallica, karena anak metal itu berotak dan berotot, cerdas dan bersemangat.  Harus diakui, kawan-kawan saya yang penggemar Metallica adalah orang-orang cerdas dan berani. FPI tak berani sweep and destroy...
James, ditengah konser berteriak pada semua penonton, "kalian adalah keluarga besar Metallica." Saya sepakat sekali. Saya terenyuh ketika penonton bagian depan mengambil air mineral gelasan, lalu mengoperkannya ke belakang, yang dibelakangnya, menyerahkannya ke belakang lagi. Banyak penonton yang berbagi segelas air gelasan itu ditengah konser. Jakarta boleh mengajarkan individualisme, tapi saya tak lihat rasa Individualisme yang belakangan diangkat oleh kawan-kawan Jakartais saya kantor.
Kembali ke konser, saya lupa urutan lagu-lagu yang dibawakan. JUjur saya tak hafal lagu-lagu Metallica, tapi tetap saja saya jingkrak-jingkrak, kadang seperti kerasukan. Ada rasa yang luar biasa ketika Nothing Else Matter yang alunannya agak santai. 
Semua lalu memuncak ketika Enter Sandman dibawakan James dkk. Hampir semua penonton tampak lebih menikmati konser. Seperti ada kebahagiaan yang sulit digambarkan. Senang bisa menonton Metallica. Hitam itu ternyata tidak buruk, nyatanya penonton Metallica yang berbaju hitam punya humanisme yang baik daripada orang berdasi. Saya masih terngiang, "kami adalah keluarga besar Metallica."

Mengintai Orang Kate Dari Utara

Ini bukan review film. Tapi hanya catatan soal bagaimana sekutu memata-matai Jepang di Pasifik.

Sekutu tak tinggal diam ketika Balatentara Jepang menduduki Indonesia. Untuk Indonesia, di Australia yang menjadi ladang pengungsian besar-besaran dari pihak Belanda pun sudah punya rencana untuk Indonesia. Bersama Tentara Belanda, pihak Australia terus melakukan kerja terpisah dalam mengumpulkan data-data kekuatan militer Jepang di Indonesia. Hanya infiltrasi yang bisa dilakukan mengingat kuatnya militer Jepang di Indonesia. 
Wilyah kekuasaan Angkatan Laut Jepang, Armada Selatan Kedua, yang membawahi  daerah Kalimatan hingga sekitar perairan Papua, adalah sasaran infiltrasi yang agaknya dianggap lemah. Wilayah armada selatan kedua itu jelas jauh lebih luas daripada wilayah Tentara ke-16 (Angkatan Darat) di Jawa dan Tentara ke-25 (Angkatan Darat) di Sumatra.
Ada beberapa misi rahasia dari pihak sekutu: Inggris; Belanda; Australia dan Selandia Baru dalam memata-matai Jepang di Indonesia. 

Z Force Hingga Mel Gibson
Sebuah satuan intelejen bernama SAD Force (Z Force) dikirim menyusup ke Balikpapan untuk mengumpulkan informasi intelejen. SAD Force adalah regu intelejen yang berpangkalan di Morotai. Regu ini berjumlah 14 orang tentara sekutu yang dipimpin oleh William C. Dwyer, salah satunya adalah orang Melayu. dengan kapal selam regu ini berangkat dari Morotai dan mendarat ditepi pantai Sigaku, Samboja. Mereka mendapat bantuan dari penduduk setempat. Tidak semua penduduk bersimpati pada mereka karena ada salah satu penduduk yang melapor pada Kempeitai Jepang di Balikpapan mengenai keberadaan penyusup itu di Samboja. Atas laporan itu Jepang segera bertindak dengan mengirim sekompi pasukan untuk memburu para penyusup itu. (Agus Suprapto, Perang Berebut Minyak: Peranan Strategis Pangkalan Minyak Kalimanatan Timur dalam Perang Asia Pasifik 1942-1945, hlm.197-202).
Pasukan Jepang berusaha menangkap mereka, penyusup SAD Force itu berlari kearah hutan Sigaku yang lebat. Dua anggota SAD Force tertangkap Jepang ketika merusak sarana komunikasi milik Jepang di Sungai Tiram. Dengan menambah jumlah pasukan, para penyusup itu terus diburu tentara Jepang. Akhirnya, hutan itu dipagar betis oleh pasukan Jepang agar para penyusup tidak bisa lolos lagi. Akhirnya terjadi pertempuran sengit antar pasukan itu. Pasukan khusus SAD Force tidak mau menyerah dan terus mealwan pasukan Jepang yang jumlahnya lebih dari satu kompi itu.
Penyusup SAD Force terus membobol kepungan pasukan Jepang yang sudah rapat itu. Penyusup itu berhasil membedah kepungan pasukan Jepang yang dianggap lemah dengan tembakan bertubi-tubi sehingga prajurit yang mengepung itu tewas. Kecuali seorang petugas radio yang ditangkap, penyusup SAD Force berhasil meloloskan diri dari kepungan Jepang itu.
Misi ini seolah tanpa hasil karena belum cukup memperoleh data. Mereka kembali ke pangkalan mereka di kepulauan Morotai dengan dijemput oleh pesawat Catalina—bersama penyusup SAD Force terdapat empat orang penduduk setempat yang kemudian dimintai keterangan mengenai posisi Jepang di Balikpapan. Tetap saja belum ada informasi intelejen yang layak yang digunakan untuk merencanakan penyerbuan ke Balikpapan. Setelah penyusupan itu gagal, Penjawat (camat) Samboja A.R. Ariomidjoyo, Mantri Polisi H. Anwar, dan Kepala kampung H. Arief ditangkap dari rumahnya. Atas tuduhan membantu penyusup SAD Force ketiga orang itu dieksekusi tanpa diadili terlebih dahulu. (Agus Suprapto, Perang Berebut Minyak: Peranan Strategis Pangkalan Minyak Kalimanatan Timur dalam Perang Asia Pasifik 1942-1945, hlm. 204).
Begitulah misi Z Force di Indonesia. Ternyata, Z Force tak hanya bergerak di Kalimantan saja. Mereka juga bergerak di daerah pendudukan Jepang yang lain di Asia Tenggara dan sekitar Papua. Tim khusus ini tak hanya melibatkan serdadu-serdadu Bule, orang-orang Timor, melayu pun dilibatkan. Mereka tak hanya cari informasi, mereka juga melakukan sabotase untuk mengganggu gerakan Jepang di Kepulauan Pasifik. (David Horner, (1989). SAS: Phantoms of the Jungle-A History of the Australian Special Air Service, hlm. 26).
Kisah heroik tim khusus ini pun kemudian difilmkan pada 1982 oleh Australia dan Taiwan. Saya belum telusuri lebih jauh apakah kisah film itu real atau tidak, setidaknya film buatan Australia itu terinspirasi dari aksi-aksi tim Z Force tadi. Film yang berjudul Attack Z Force ini juga melibatkan Mel Gibson sebagai Kapten Kelly, komandan pasukan misi. Tampaknya Mel Gibson tertarik dengan cerita pembebasan hingga dia terlibat dalam The Patriot,Braveheart, dan juga Galipoli. 

Misi Saumlaki dan NEFIS
Belanda tentu tak ketinggalan memata-matai Indonesia. Julius Tahiya dan seregu KNIL dikirim ke Kepulauan Saumlaki. Dengan kekuatan terbatas pasukan kecil ini berusaha melawan serdadu Jepang yang mengincar mereka. Meski sempat menuai kemenangan, tetap saja mereka harus pergi. Serdadu Jepang takan lepaskan mereka.
Julius Tahiya, masuk sebagai bintara KNIL di tahun 1937. Dia ikut menyeberang ke Australia ketika Perang Pasifik berkobar dan Tentara jepang masuk Indonesia. Julius Tahiya pernah melakukan pedaratan diam-diam di Saumlaki pada masa pendudukan Jepang sebagai bintara KNIL. Setelah PD II berakhir pangkat Julius Tahiya diaikan menjadi Letnan.
Semasa revolusi kemerdekaan RI, Julius Tahiya bekerja untuk kepentingan Belanda karena dia termasuk KNIL yang dibawa Belanda ke Australia. Julius Tahiya, sebagai orang Indoensia yang pastinya memiliki pengetahuan tentang Indonesia yang berusaha direbut kembali oleh Belanda, sangatlah penting kedudukannya. Karenanya Julius Tahiya dijadikan staf Jenderal Spoor dengan pangkat Kapten. Tahiya tidak lama menjadi staf Jenderal Spoor. (Julius Tahiya, Horizon Beyond, ab. Melani Budianta, Melintas Cakrawala: Kisah Sukses Pengusaha Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1997, hlm. 37-56, 71).
Seharusnya,  pengalaman JUlius dan kawan-kawannya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi NEFIS yang berdiri sebelum 1945. NEFIS sendiri berdiri di AUstralia. Mereka sudah mulai mengumpulkan informasi apa saja soal kekuatan Jepang dan juga soal masyrakat Indonesia. Sayangnya, NEFIS gagal membuat analisa yang tepat soal Indonesia. Mereka mengira orang Indonesia akan senang jika Belanda kembali, karena kejamnya Jepang, namun yang terjadi sebalikanya. Mereka disambut dengan perlawanan, bukan sebagai pahlawan. Pimpinan NEFIS yang kesohor adalah Simon Hendrik Spoor yang kemudian jadi Legercommandant KNIL.
Gerrits Kakisina adalah lulusan Kader  School Gombong sebelum perang dunia II. Dia ikut mengungsi ke Australia. Sebagai Sersan II KNIL, dia dilatih  tentara Amerika untuk tugas Field Combat Intelliegence untuk menyerbu Asia Tenggara. Konon, Gerrits pernah bertugas di front Pasifik juga. Setelah Jepang menyerah, Gerrits adalah anggota NEFIS. Gerrits masuk ke Surabaya pada November 1945.Gerrits buta politik. Dia hanya berpikir dirinya serdadu yang harus professional yang harus jalankan apapun perintah komandan. Bukan mengikuti perkembangan politik. Selama di Australia, atasan-atasan Belandanya mengatakan yang akan dihadapinya di Indonesia adalah Ektrimis. Ketika bertugas di TNI, di tahun 1960an, dengan pangkat Letnan Satu, di Sumatra Selatan. Gerrits tidak begitu disukai. Bahkan dijauhi. Karena dirinya bekas musuh TNI di masa revolusi. Gerrits tak banyak bicara.  Dia pensiun dengan pangkat Kapten. (Z.A. Maulani, Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan danT anah Air (Memoar Seorang Prajurit TNI),Jakarta, Desata, 2005, hlm. 132-134). 
Gerits yang mantan NEFIS, mungkin juga termasuk orang yang ikut meneropong dan mematai serdadu Jepang yang disebut sebagai orang kate dari utara. Setidaknya dia pernah ikut melawan serdadu Jepang. Tak seperti orang macam Suharto yang tidak melawan Jepang.