Selasa, Desember 10, 2013

Cukup Bandara Sepinggan Saja

Tak ada yang salah dengan nama Sepinggan. Kemulian hati dan menghargai sejarah tak harus dengan memberikan nama raja sebagai Bandara.


Dulu, nama Jalan Affandi Yogyakarta adalah Jalan Gejayan. Tetap saja orang-orang yang terbiasa melewati jalan itu masih terbiasa menyebut nama jalan itu Gejayan. Bukan Affandi. Ini bukan berarti tak menghormati Affandi yang maestro lukis Indonesia yang tak boleh dilupakan. Cara menghormati seorang maestro bukan mencomot namanya, namun meneladani dan berkarya apa saja, seperti yang didedikasikan sang Maestro.
Sebagai kota pelabuhan, Balikpapan punya lapangan terbang. Lapangan terbang yang bernama Sepinggan ini, setidaknya sudah ada sebelum datangnya Balatentara Jepang. Ada yang menyebut bandara ini dibangun untuk kepentingan Bataafs Petroleum Maatschappij (maskapai minyak Belanda) yang kita sebut BPM. Sebagai lapangan terbang, Sepinggan adalah bagian penting dari sejarah Balikpapan.  
Soal mengapa namanya Sepinggan, sebetulnya masih jadi teka-teki yang menarik untuk membuat otak-otak orang berpikir. Ini bukan hal buruk, karena keberadaan seseorang itu ditentukan ketika dia berpikir. “Cogito Ergu Sum (Saya Berpikir Maka Saya Ada),” kata Rene Descartes. Toch berhenti berpikir akan membuat seseorang menjadi pikun dan lupa. Selama kita melatih otak kita untuk berpikir maka itu bisa menghindari pusing. Mengganti nama Sepinggan, yang sudah jadi icon Balikpapan, berarti membuat orang malas berpikir. Selanjutnya bisa menjerumuskan orang Balikpapan menjadi bodoh. Ini tentu alasan yang sulit diterima orang yang malas berpikir.
            Belakangan muncul wacana konyol: perubahan nama Sepinggan menjadi Sultan Adji Moehammad Soelaiman. Nama yang jadi wacana itu diambil dari nama seorang Sultan Kutai yang memberikan konsesi kepada maskapai minyak Belanda. Dari konsesi itu, pundi-pundi sang Sultan bertambah. Lalu, minyak dan para buruh minyak itulah yang bergerak membangun sebuah kampong yang boleh kita sebut sebagai Balikpapan menjadi sebuah kota modern.
Dulu, nama Jalan Affandi Yogyakarta adalah Jalan Gejayan. Tetap saja orang-orang yang terbiasa melewati jalan itu masih terbiasa menyebut nama jalan itu Gejayan. Bukan Affandi. Ini bukan berarti tak menghormati Affandi yang maestro lukis Indonesia yang tak boleh dilupakan. Cara menghormati seorang maestro bukan mencomot namanya, namun meneladani dan berkarya apa saja, seperti yang didedikasikan sang Maestro. Sebagai kota pelabuhan, Balikpapan punya lapangan terbang. Lapangan terbang yang bernama Sepinggan ini, setidaknya sudah ada sebelum datangnya Balatentara Jepang. Ada yang menyebut bandara ini dibangun untuk kepentingan Bataafs Petroleum Maatschappij (maskapai minyak Belanda) yang kita sebut BPM. Sebagai lapangan terbang, Sepinggan adalah bagian penting dari sejarah Balikpapan. Soal mengapa namanya Sepinggan, sebetulnya masih jadi teka-teki yang menarik untuk membuat otak-otak orang berpikir. Ini bukan hal buruk, karena keberadaan seseorang itu ditentukan ketika dia berpikir. “Cogito Ergu Sum (Saya Berpikir Maka Saya Ada),” kata Rene Descartes. Toch berhenti berpikir akan membuat seseorang menjadi pikun dan lupa. Selama kita melatih otak kita untuk berpikir maka itu bisa menghindari pusing. Mengganti nama Sepinggan, yang sudah jadi icon Balikpapan, berarti membuat orang malas berpikir. Selanjutnya bisa menjerumuskan orang Balikpapan menjadi bodoh. Ini tentu alasan yang sulit diterima orang yang malas berpikir. Belakangan muncul wacana konyol: perubahan nama Sepinggan menjadi Sultan Adji Moehammad Soelaiman. Nama yang jadi wacana itu diambil dari nama seorang Sultan Kutai yang memberikan konsesi kepada maskapai minyak Belanda. Dari konsesi itu, pundi-pundi sang Sultan bertambah. Lalu, minyak dan para buruh minyak itulah yang bergerak membangun sebuah kampong yang boleh kita sebut sebagai Balikpapan menjadi sebuah kota modern.
Di kota-kota lain, kebanyakan nama bandara adalah nama-nama orang, seperti Adisucipto, Sukarno-Hatta, Sultan Mahmud Badarudin II, Juanda, Ngurah Raid dan entah apalagi. Namun, ada juga yang masih nyaman dengan nama tempat seperti Sentani. Ini adalah hal yang sangat jarang alias sedikit kota yang melakukannya. Menjadi sesuatu yang sedikit itu adalah salah satu karakter.
            Selama ini banyak orang merasa jika Balikpapan adalah kota tak berkarakter apalagi tak beridentitas. Ini salah!!! Tak semua kota bisa setertib dan sebersih Balikpapan. Penyebrang jalan, bisa jadi raja di jalanan kota Balikpapan karena banyak pengendara rela memberi jalan pada penyebrang. Tak seperti Jakarta yang dibangga-banggakan Indonesia. Itu karakter dan identitas Balikpapan.
Ada lagi yang bisa dibanggakan sebagai karakter dan identitas Balikpapan: mempertahankan nama Sepinggan. Dengan itu, maka Balikpapan, beserta warga kotanya, akan terhindar dari image latah. Seperti halnya manusia, kota yang baik pun adalah kota yang bisa menjadi dirinya sendiri. Orang atau kota yang latah adalah kota yang tak layak disebut dalam sejarah.
            Saat ini, polemik perubahan nama terus berlangsung. Bagi yang ingin Balikpapan menjadi kota berkarakter, tentunya konsisten denga nama Sepinggan. Namun, pejabat lokal ingin adanya kemulian hati, atau kita sebut saja mengalah.
Di kota-kota lain, kebanyakan nama bandara adalah nama-nama orang, seperti Adisucipto, Sukarno-Hatta, Sultan Mahmud Badarudin II, Juanda, Ngurah Raid dan entah apalagi. Namun, ada juga yang masih nyaman dengan nama tempat seperti Sentani. Ini adalah hal yang sangat jarang alias sedikit kota yang melakukannya. Menjadi sesuatu yang sedikit itu adalah salah satu karakter. Selama ini banyak orang merasa jika Balikpapan adalah kota tak berkarakter apalagi tak beridentitas. Ini salah!!! Tak semua kota bisa setertib dan sebersih Balikpapan. Penyebrang jalan, bisa jadi raja di jalanan kota Balikpapan karena banyak pengendara rela memberi jalan pada penyebrang. Tak seperti Jakarta yang dibangga-banggakan Indonesia. Itu karakter dan identitas Balikpapan. Ada lagi yang bisa dibanggakan sebagai karakter dan identitas Balikpapan: mempertahankan nama Sepinggan. Dengan itu, maka Balikpapan, beserta warga kotanya, akan terhindar dari image latah. Seperti halnya manusia, kota yang baik pun adalah kota yang bisa menjadi dirinya sendiri. Orang atau kota yang latah adalah kota yang tak layak disebut dalam sejarah. Saat ini, polemik perubahan nama terus berlangsung. Bagi yang ingin Balikpapan menjadi kota berkarakter, tentunya konsisten denga nama Sepinggan. Namun, pejabat lokal ingin adanya kemulian hati, atau kita sebut saja mengalah.
“Mengakhiri polemik itu adalah kemuliaan hati dari warga Kalimantan Timur. Menambah nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada nama bandara Sepinggan adalah suatu keluhuran yakni keluhuran pikiran, hati dan jiwa semua semua warga Kalimantan Timur,” kata Awang Yacoub, ketua DPRD Kutai Kartanegara. Maka baiklah, kami minta kepada semua pihak dengan kemulian hati untuk tetap mempertahankan nama Sepinggan sebagai nama bandara kebanggaan Balikpapan.  
            Bicara soal menghargai sang Sultan Kutai, sebaiknya dirikan saja sebuah universitas yang betul-betul dibutuhkan bagi masyarakat Kaltim. Atau jadikan saja nama jalan bagus yang menghubungkan banyak daerah. Mungkin bisa juga dijadikan nama jembatan di Tenggarong yang kemarin runtuh.
            Mari kita bertanya lagi, buat apa memberi nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada sebuah bandara di kota kecil? Apakah itu artinya tidak menghina Sultan Adji Moehammad Soelaiman sendiri. Saya kira, nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman akan dibutuhkan ditempat lain. Harus kita sadari, para Balikpapaner (baca: orang-orang Balikpapaner), sudah terbiasa dengan nama Balikpapan. Memaksakan nama baru, berarti menganiaya lidah Balikpapaner. Jadi mengganti nama Sepinggan bukan kebijaksaan atau kemuliaan hati. Jangan sampai belakangan kita sadar jika ada muatan politik dibalik nama baru bandara dalam rangka Pemilu 2014 atau politik dinasti. Itu akan memperburuk citra Balikpapan sebagai kota berkarakter...
“Mengakhiri polemik itu adalah kemuliaan hati dari warga Kalimantan Timur. Menambah nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada nama bandara Sepinggan adalah suatu keluhuran yakni keluhuran pikiran, hati dan jiwa semua semua warga Kalimantan Timur,” kata Awang Yacoub, ketua DPRD Kutai Kartanegara. Maka baiklah, kami minta kepada semua pihak dengan kemulian hati untuk tetap mempertahankan nama Sepinggan sebagai nama bandara kebanggaan Balikpapan. Bicara soal menghargai sang Sultan Kutai, sebaiknya dirikan saja sebuah universitas yang betul-betul dibutuhkan bagi masyarakat Kaltim. Atau jadikan saja nama jalan bagus yang menghubungkan banyak daerah. Mungkin bisa juga dijadikan nama jembatan di Tenggarong yang kemarin runtuh. Mari kita bertanya lagi, buat apa memberi nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada sebuah bandara di kota kecil? Apakah itu artinya tidak menghina Sultan Adji Moehammad Soelaiman sendiri. Saya kira, nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman akan dibutuhkan ditempat lain. Harus kita sadari, para Balikpapaner (baca: orang-orang Balikpapaner), sudah terbiasa dengan nama Balikpapan. Memaksakan nama baru, berarti menganiaya lidah Balikpapaner. Jadi mengganti nama Sepinggan bukan kebijaksaan atau kemuliaan hati. Jangan sampai belakangan kita sadar jika ada muatan politik dibalik nama baru bandara dalam rangka Pemilu 2014 atau politik dinasti. Itu akan memperburuk citra Balikpapan sebagai kota berkarakter...

Selasa, November 26, 2013

Dari Oom Bintang sampai Bier Bintang

Anak kecil, berpikir bintang; serdadu KNIL bangga kalau ada bintang di dada. Dan sebagian orang meminumnya di kala senggang.


Di sebuah tempat sunyi di pedalaman Papua yang bernama Tanah Merah alias Boven Digoel, tersebutlah seorang mantra polisi. Di mata  Thomas Nayoan Si Raja Pelarian yang kesohor karena doyan kabur itu, Oom Bintang bukan sipir jahat yang suka menyiksa tahanan. Oom Bintang yang ditemui Thomas Nayoan pastinya tak sejahat dan sebengis sipir penjara jaman orde baru yang suka memerah keringat orang tahanan untuk kepentingan pribadi. Seperti seorang abdi negara yang pernah menyuruh Hendra Gunawan melukis, lalu uang penjualan lukisan itu dimakan untuk dirinya. Oom Bintang yang di Boven Digoel tak seperti kesannya barangkali. Jadi, kata siapa jaman colonial lebih buruk daripada jaman Indonesia merdeka?
 Mari kita bicara lagi soal Oom Bintang. Dulu, setelah Thomas Nayoan tertangkap lagi setelah kaburnya yang begitu heroik sampai Australia, Nayoan tak sedih. Dia masih suka berkelakar seperti ini: “Australia tak suka padaku, maka kembalilah ke Oom Bintang!” 
Orang yang melihatnya, akan berpikir Nayoan terlihat seperti orang bebas tanpa tekanan di Digoel. Nayoan terlihat sebagai orang yang suka tersenyum.    Terbayang dalam pikiran saya, Oom Bintang hanya geleng-geleng saja pada Nayoan. Paling Nayoan hanya ditaruh di ruang isolasi saja. Tak perlu disiksa, karena pernah tinggal di Digoel saja sudah siksaan buat Nayoan cs.
Suatu kali Syahrir bertanya pada Nayoan, “apa tujuan pelariannya?.” Thomas Nayoan, dengan lucunya menjawab: “Yang pertama lari untuk ketemu Lenin, tetapi yang ketemu Oom Bintang. Yang kedua kali ingin ketemu Stalin, tetapi yang ketemu Oom Bintang juga.”
Di sebuah tempat sunyi di pedalaman Papua yang bernama Tanah Merah alias Boven Digoel, tersebutlah seorang mantra polisi. Di mata Thomas Nayoan Si Raja Pelarian yang kesohor karena doyan kabur itu, Oom Bintang bukan sipir jahat yang suka menyiksa tahanan. Oom Bintang yang ditemui Thomas Nayoan pastinya tak sejahat dan sebengis sipir penjara jaman orde baru yang suka memerah keringat orang tahanan untuk kepentingan pribadi. Seperti seorang abdi negara yang pernah menyuruh Hendra Gunawan melukis, lalu uang penjualan lukisan itu dimakan untuk dirinya. Oom Bintang yang di Boven Digoel tak seperti kesannya barangkali. Jadi, kata siapa jaman colonial lebih buruk daripada jaman Indonesia merdeka? Mari kita bicara lagi soal Oom Bintang. Dulu, setelah Thomas Nayoan tertangkap lagi setelah kaburnya yang begitu heroik sampai Australia, Nayoan tak sedih. Dia masih suka berkelakar seperti ini: “Australia tak suka padaku, maka kembalilah ke Oom Bintang!” Orang yang melihatnya, akan berpikir Nayoan terlihat seperti orang bebas tanpa tekanan di Digoel. Nayoan terlihat sebagai orang yang suka tersenyum. Terbayang dalam pikiran saya, Oom Bintang hanya geleng-geleng saja pada Nayoan. Paling Nayoan hanya ditaruh di ruang isolasi saja. Tak perlu disiksa, karena pernah tinggal di Digoel saja sudah siksaan buat Nayoan cs. Suatu kali Syahrir bertanya pada Nayoan, “apa tujuan pelariannya?.” Thomas Nayoan, dengan lucunya menjawab: “Yang pertama lari untuk ketemu Lenin, tetapi yang ketemu Oom Bintang. Yang kedua kali ingin ketemu Stalin, tetapi yang ketemu Oom Bintang juga.”
Usut punya usut, Oom Bintang adalah pensiunan Sersan KNIL  barangkali. Pangkat yang sudah cukup baik baik orang Indonesia di KNIL. yang menjadi mantri polisi di Tanah Merah Boven Digoel. Tak jelas siapa nama aslinya, hanya diketahui dia adalah orang Ambon. Dia pernah terlibat dalam perang Aceh, dimana dia mendapat bintang (medali kehormatan militer dari kerajaan). Itulah kenapa dirinya dipanggil Oom Bintang.    
 Gubernemen Belanda, tentu bukan penajajah yang bodoh dalam meperlakukan orang pribumi. Jauh lebih pinter ketimbang penguasa berambut hitam terhadap saudara sedarah dan setanah airnya. Ada kerja ada gaji. Ada jasa bisa dapat penghargaan atau bintang. Itu prinsip gubernemen Belanda. Bukan karena koneksi lantas seenaknya dapat bintang, apalagi jadi pahlawan nasional.
 Dulu, waktu gubernemen Belanda masih berkuasa, ada penghargaan khusus bagi serdadu yang berjasa. Tapi, ada tingkatan medali bagi serdadu yang berjasa, Militair Willemsorde. Nah sialnya, orang pribumi paling banyak hanya dapat Militair Willemsorde kelas IV saja. Sedikit yang dapat di kelas atasnya. Tapi, dasar orang Indonesia yang cepat bersyukur, apapun namanya dan tingkatannya, dapat bintang macam Militair Willemsorde kelas IV, saja bangga luar biasa. Pakai seragam dengan medali di dada, itu membanggakan. 
Orang Indonesia memang tergolong orang-orang haus penghargaan atau gelar. Tak perlu heran jika banyak orang Indonesia yang doyan mengoleksi dan mengejar sertifikat. Tak heran jika diantara kita ada yang mengejar gelar haji, sarjana, bahkan Pahlawan Nasional. Tapi, setidaknya mereka akan dapat gelar almarhum juga.   
Punya bintang dari Kanjeng Ratu itu sesuatu banget. Bisa dibayangkan betapa bahagianya mantri polisi Tanah Merah itu disapa Oom Bintang. 
Ada rumor, kenapa di tahun 1950, serdadu-serdadu KNIL bikin rebut? Ternyata mereka sudah lama tak minum bier. Tak ada lagi jatah bier, karena KNIL hamper bubar. Jika mereka berganti gabung ke TNI mereka tak bakal dapat jatah bier.
Usut punya usut, Oom Bintang adalah pensiunan Sersan KNIL barangkali. Pangkat yang sudah cukup baik baik orang Indonesia di KNIL. yang menjadi mantri polisi di Tanah Merah Boven Digoel. Tak jelas siapa nama aslinya, hanya diketahui dia adalah orang Ambon. Dia pernah terlibat dalam perang Aceh, dimana dia mendapat bintang (medali kehormatan militer dari kerajaan). Itulah kenapa dirinya dipanggil Oom Bintang. Gubernemen Belanda, tentu bukan penajajah yang bodoh dalam meperlakukan orang pribumi. Jauh lebih pinter ketimbang penguasa berambut hitam terhadap saudara sedarah dan setanah airnya. Ada kerja ada gaji. Ada jasa bisa dapat penghargaan atau bintang. Itu prinsip gubernemen Belanda. Bukan karena koneksi lantas seenaknya dapat bintang, apalagi jadi pahlawan nasional. Dulu, waktu gubernemen Belanda masih berkuasa, ada penghargaan khusus bagi serdadu yang berjasa. Tapi, ada tingkatan medali bagi serdadu yang berjasa, Militair Willemsorde. Nah sialnya, orang pribumi paling banyak hanya dapat Militair Willemsorde kelas IV saja. Sedikit yang dapat di kelas atasnya. Tapi, dasar orang Indonesia yang cepat bersyukur, apapun namanya dan tingkatannya, dapat bintang macam Militair Willemsorde kelas IV, saja bangga luar biasa. Pakai seragam dengan medali di dada, itu membanggakan. Orang Indonesia memang tergolong orang-orang haus penghargaan atau gelar. Tak perlu heran jika banyak orang Indonesia yang doyan mengoleksi dan mengejar sertifikat. Tak heran jika diantara kita ada yang mengejar gelar haji, sarjana, bahkan Pahlawan Nasional. Tapi, setidaknya mereka akan dapat gelar almarhum juga. Punya bintang dari Kanjeng Ratu itu sesuatu banget. Bisa dibayangkan betapa bahagianya mantri polisi Tanah Merah itu disapa Oom Bintang. Ada rumor, kenapa di tahun 1950, serdadu-serdadu KNIL bikin rebut? Ternyata mereka sudah lama tak minum bier. Tak ada lagi jatah bier, karena KNIL hamper bubar. Jika mereka berganti gabung ke TNI mereka tak bakal dapat jatah bier.

Mungkin, kebiasaan serdadu KNIl minum bier sedikit bisa dilacak dari terbitan organisasi pensiunan militer KNIL (Bond van Inheemsche Gepensioneneerde Militairen) bernama TROMPET. Ada iklan bier dalam terbitan-terbitan yang bisa ditemukan di Perpustakaan Nasional Jakarta lantai 7. Setidaknya ada iklan Javabier; Ankerpils dan juga Heinekens. Setidaknya, marketing perusahaan bier bisa mencium ada peminum di kalangan serdadu-serdadu. 
Terbitan ini menarik karena selain berisi kabar-kabar soal para pensiunan KNIL yang tersebar di Hindia Belanda, ada sebuah rubrik bernama Ridders—yang berisi kisah-kisah heroik pensiunan itu di waktu muda dulu. Ketika mereka bertempur melawan para pemberontak pribumi yang ogah nurut sama Gubernemen dan hanya bersenjata golok. Ada yang bertempur di Aceh atau Flores. Nah atas aksi-aksi heroik itu mereka dapat bintang. 
Belakangan, ada adik tiri dari Heinekens yang dikenal sebagai Bintang. Dimana bier ini kemudian begitu dikenal di Indonesia dan masih cukup diminati di Indonesia. Ternyata, ini bier punya sejarha panjang juga. Pada tahun 1929, perusahaan bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen didirikan di Medan dan pabrik pembuatan bir di Ngegel Surabaya.  Pada tahun 1936, kantor dipindahkan ke Surabaya, dan pada tahun yang sama, Heineken NV menjadi pemegang saham utama. Dari sinilah bier Bintang lahir dan berkembang hingga sekarang.
Mungkin, kebiasaan serdadu KNIl minum bier sedikit bisa dilacak dari terbitan organisasi pensiunan militer KNIL (Bond van Inheemsche Gepensioneneerde Militairen) bernama TROMPET. Ada iklan bier dalam terbitan-terbitan yang bisa ditemukan di Perpustakaan Nasional Jakarta lantai 7. Setidaknya ada iklan Javabier; Ankerpils dan juga Heinekens. Setidaknya, marketing perusahaan bier bisa mencium ada peminum di kalangan serdadu-serdadu. Terbitan ini menarik karena selain berisi kabar-kabar soal para pensiunan KNIL yang tersebar di Hindia Belanda, ada sebuah rubrik bernama Ridders—yang berisi kisah-kisah heroik pensiunan itu di waktu muda dulu. Ketika mereka bertempur melawan para pemberontak pribumi yang ogah nurut sama Gubernemen dan hanya bersenjata golok. Ada yang bertempur di Aceh atau Flores. Nah atas aksi-aksi heroik itu mereka dapat bintang. Belakangan, ada adik tiri dari Heinekens yang dikenal sebagai Bintang. Dimana bier ini kemudian begitu dikenal di Indonesia dan masih cukup diminati di Indonesia. Ternyata, ini bier punya sejarha panjang juga. Pada tahun 1929, perusahaan bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen didirikan di Medan dan pabrik pembuatan bir di Ngegel Surabaya. Pada tahun 1936, kantor dipindahkan ke Surabaya, dan pada tahun yang sama, Heineken NV menjadi pemegang saham utama. Dari sinilah bier Bintang lahir dan berkembang hingga sekarang.
Anda bisa temukan gambar bintang merah di bier Bintang maupun  Heinekens.Orang Indonesia mungkin kesulitan menyebut, bahkan mengingat, kata Heinekens. Orang mungkin lebih ingat bintang merah yang ada diatas tulisan Heinekens. Itu mungkin alasan orang lebih mengenalnya sebagai Bintang. Lalu dibuatlah merk baru agar orang mudah mengingat dan melafalkan. Inilah Heinekens versi lokal alias Bintang.
Pernah ada iklan bir Tjap Bintang dengan logo bintang segienam seperti bintang Daud di koran Soerabaiasche Handelsblaad. Tapi sepertinya ini berbeda dengan Bintang yang adik tiri Heinekens tadi. Bir ini sepertinya cocok dengan serdadu-serdadu-nya Ratu Belanda, baik yang totok maupun yang pribumi. Tegukan pertama rasanya seperti disematkan bintang oleh Ratu Wilhelmina. Selanjutnya, dunia dalam genggaman dan akhirnya Je Martendrai (kita akan berkuasa selamanya).
Anda bisa temukan gambar bintang merah di bier Bintang maupun Heinekens.Orang Indonesia mungkin kesulitan menyebut, bahkan mengingat, kata Heinekens. Orang mungkin lebih ingat bintang merah yang ada diatas tulisan Heinekens. Itu mungkin alasan orang lebih mengenalnya sebagai Bintang. Lalu dibuatlah merk baru agar orang mudah mengingat dan melafalkan. Inilah Heinekens versi lokal alias Bintang. Pernah ada iklan bir Tjap Bintang dengan logo bintang segienam seperti bintang Daud di koran Soerabaiasche Handelsblaad. Tapi sepertinya ini berbeda dengan Bintang yang adik tiri Heinekens tadi. Bir ini sepertinya cocok dengan serdadu-serdadu-nya Ratu Belanda, baik yang totok maupun yang pribumi. Tegukan pertama rasanya seperti disematkan bintang oleh Ratu Wilhelmina. Selanjutnya, dunia dalam genggaman dan akhirnya Je Martendrai (kita akan berkuasa selamanya).

Minggu, November 10, 2013

Cukup Sudah Pahlawan Nasionalnya!!!

Ini Negeri memang punya banyak Pahlawan, namun bukan berarti semuanya harus dijadikan Pahlawan Nasional. Harusnya, kita semua sadar Pahlawan yang baik adalah bukan (melulu) Pahlawan Nasional, tapi pahlawan yang bisa diteladani.

"Bangsa besar, adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, begitu kata Sukarno. Tapi, apakah Sukarno berpesan bahwa semua orang yang berjasa dalam pergerakan nasional maupun dalam revolusi fisik 1945-1949 harus 'di-Pahlawan-Nasionalkan'?
Percaya atau tidak, kita semua butuh pahlawan. Setidaknya untuk menyemangati kita atau sekedar membuat kita bangga akan apa yang kita punya. Pahlawan itu bisa siapa saja, entah yang masuk dalam daftar Pahlawan Nasional atau yang tidak sama sekali. Tak harus Jenderal Sudirman yang harus jadi pahlawan atau inspirator kita semua, bisa kakek kita, orang tua kita, saudara kita, kawan kita atau siapapun itu selama itu baik untuk hidup kita semua.
Dulu, sedari kecil, anak Indonesia diarahkan untuk percaya bahwasanya Pahlawan itu suci tanpa cela. Bersyukur saya kuliah sejarah 7 tahun (gak asal kuliah pastinya!!!), hingga akhirnya saya tahu, kalau ada pahlawan yang diangkat orde baru ternyata 'pengkhianat' dalam sudut pandang saya. Saya sebut dia 'pahlawan gadungan saja, karena tak baik sebut namanya. Saya sadar sekali kalau ini pahlawan gadungan tak sejalan dengan cita-cita revolusi Indonesia. Dia bukannya loyal pada Pemimpinnya, tapi malah 'main mata' dengan musuh revolusi. Ini pahlawan gadungan hidupnya mewah, tapi bawahannya kere merana. Masih mending kere hore rame-rame, dimana semua boleh kere tapi senang bersama yang mimpin maunpun dipimpin. Nah, ini Pahlawan gadungan mujur abis. Bayangkan, hidup enak di Menteng, tak lama setelah mampus jadi pahlawan--dengan gelar yang harus saya tertawakan. (Maafkan sahaya pembaca yang budiman, saya tak bisa sebutkan apa gelarnya? Silahkan tebak sendiri).
Terkait dengan pengangkatan T.B Simatupang, ada pihak-pihak suka tapi ada pihak-pihak yang curiga. Nah pihak yang curiga ini bukanlah orang-orang yang keberatan atas pengangkatan itu. Karena, selama pengabdiannya di Tentara Nasioanal Indonesia (yang tak begitu panjang) dia turut membentuk dan memperkuat organisasi ketentaraan dalam melawan KNIL/KL pimpinan Jenderal Spoor, Simatupang tergolong bersih dan bisa dicontoh. Orang yang layak jadi pahlawan juga.
Orang-orang akan curiga akan maksud pengangkatan Simatupang sebagai Pahlawan. Maksud sejatinya, bukan ingin menghargai, bahkan meneladani Simatupang sebagai seorang perwira pemikir di kala perang yang penuh bahaya, tapi justeru bukan apa-apa di militer pada masa damai. Lihat saja, si pemberi gelar apa berani meneladani Simatupang?
"Ada undang dibalik batu," begitu kata orang-orang yang curiga. Dulu rezim Suharto juga menjadikan Abdul Haris Nasution sebagai Jenderal Bintang Lima. Itu mungkin cara agar Suharto juga layak jadi bintang lima. Karena, Nasution lebih pintar dan terbukti kepemimpinannya di tentara. Dan juga mengangkat Sudirman yang jelas heroiknya memimpin perang diatas tandu. Karena dua nama tadi harus disebut, maka diangkatlah mereka jadi jenderal bintang lima. Agar gelar jenderal bintang lima layak bagi Suharto.
Lalu, bagaimana dengan maksud pengangkatan Simatupang? Mungkin akan ada nama lain setelah Simatupang? Ada yang curiga Suharto bakal diangkat. bahkan Sarwo Edhi Wibowo. Itu loh menanti eSBeYe. Ehm sebuah penghinaan bagi akal sehat dan hak azasi manusia. Menjadikan pembunuh sebagai Pahlawan bukan cara menghargai jasa pra pahlawan atau menjadikan Indonesia besar. Itu hanya kan menjadikan Indonesia jadi bangsa biadab. Itu memalukan di mata dunia luar dan Insyallah melahirkan para pembunuh baru. Mengangkat Sarwo Edhi atau Suharto sebagai Pahlawan berarti merusak karakter bangsa Indonesia!
Nah. Idealnya, dalam sudut pandang saya. Pahlawan yang baik adalah pahlawan yang bisa diteladani. Pahlawan ini mungkin ada diantara jajaran pahlawan nasional. Bahkan diluar daftar pahlawan nasional. Tak masalah, selama dia bisa memberikan teladan yang baik dari jasa-jasanya dialah pahlawan sejati.Pahlawan yang baik itu bukan pahlawan yang sekedar masuk daftar pahlawan nasional versi pemerintah, karena pemerintah kadang ngibul dan khilaf kalau ngasih gelar. Pahlawan yang baik itu yang orang yang jasa-jasanya layak kita teladani agar kita menjadikan kehidupan lebih baik.
Saya tidak bermaksud merusak hari Pahlawan yang pembaca semua rayakan dengan cara masing-masing. Saya enggan merayakan karena kita semua selalu terpaku pada para Pahlawan yang hanya ada di daftar Pahlawan Nasional dan kita melupakan Pahlawan yang dekat dengan hidup kita. Entah itu orangtua, nenek moyang, saudara, kawan atau siapa saja. Anda semua pasti punya orang-orang terdekat dengan berjasa dalam hidup Anda. Karena manusia mahluk sosial yang tak bisa hidup sendiri. Bukan hal mudah meniru Robinson Cruso.
Tak perlu kita angkat terlalu banyak pahlawan. Buat apa Anda menyebut nama mereka, tanpa meneladani. Jangan sampai karena terlalu banyak nama pahlawan nasional generasi muda akan muntah-muntah menghafalnya! Pahlawan yang diteladani sebetulnya cukup dengan orang-orang yang ada disekitar mereka. Itu justeru malah sia-sia. Anak muda gak butuh orang bergelar pahlawan nasional, tapi cukup orang yang bisa ditaladani dan menyemangati mereka berjuang. Itulah kenapa Rhoma Irama yang saat ini nampak konyol lebih diidolakan ketimbang Sudirman Yani Cs.
Ingat!!! (saya harus ulangi!) Pahlawan yang baik adalah pahlawan yang bisa diteladani (jasa-jasanya)!!! Bukan (melulu) Pahlawan Nasional. Selamat hari Pahlawan Kawan-kawan tercinta!!! 

Rabu, Oktober 30, 2013

Petani: Derita lo Yang Tiada Akhir

Semua percaya, Gajah Mada pemersatu Nusantara. Terserah, tapi secara nyata, meski tersembunyi petani pribumilah yang biayai semuanya dengan darah, keringat dan pastinya air mata.

Sumpah Pemuda boleh-boleh saja dirayakan. Asal jangan lupa kelompok lain yang juga ikut berjasa pada persatuan Nusantara. Anak bangsa yang baik gak boleh durhaka. Jadi ingatlah jasa pendahulu di masa lalu. Nah pendahulu yang kita bahas bukan Sultan, bukan Raden, bukan Kyai, bahkan bukan wali. Diantara mereka ada yang namanya: Gimin, Paidjo, Udin, Bacok, Ucok atau lainnya. Nah mereka ini tidak pegang bedil, tapi cangkul. Mereka adalah petani yang memberi makan orang-orang. Mereka adalah kaum terpinggirkan, di masa kini, juga pastinya di masa lalu.
 Raja boleh dipuja-puja. Tapi, mereka dipedulikan pun tidak. Nah, Anda-anda yang BerTuhan akan marah kan, kalau saya bilang Tuhan tidak adil karena takdirkan petani nusantara sebagai kaum yang dilahirkan untuk dihinakan dan ditindas? Jadi, saya cukup bilang saja karena Hukum Rimba yang mendarah daging di negeri ini membiarkan petani sebagai kaum tak penting, meski berasnya selalu ditelan dalam perut.
Bukan Gajah Mada atau kembarannya Gajah Mada yg bernama Muhamad Yamin itu yang secara nyata menguasai dan mempersatukan Indonesia tapi serdadu2 KNIL dan para petani Indonesia. Juga bukan karena Sumpah pemuda 1928 juga, tapi karena petani dan serdadu KNIL. Silahkan Anda tidak percaya. Tapi, diskusi kami di kelas tadi ada betulnya juga.
Tapi, Negara durhaka ini dalam kurikulum Sejarah Indonesia cuma bisa kasih tempat pada raja-raja dan pengikutnya. Mereka lupa pada kaum yang selalu menyediakan beras dan selalu dirampas harta apapun yang dimilikinya. Tontonlah Max Havelaar. Ada adegan dimana si Pantang yang hebat karena membunuh seekor harimau dengan tanduknya itu dirampas si Demang, biar Bupati senang. Anda yang punya nurani mungkin akan menangis atau bahkan marah.

Mitos Para Raja
Sejarah Indonesia cuma bisa kasih tempat pada raja-raja dan pengikutnya. Mereka lupa pada kaum yang selalu sediakan bahan makanan. Apa jadinya jika petani tak ke sawah? Kelaparan bakal datang. Mungkin kurikulum sejarah Indonesia kurang bisa menghargai kaum petani ini. Meski Sartono pernah menulis Pemberontakan Petani Banten, tetap saja Istanacentris jadi dambaan. Mau rajanya otak ayam, tetap aja raja didaulat sebagai yang Pemimpin Yang Bijaksana. Petani, mau jasanya segede gunung, tetap saja setara paria.
Sumpah Pemuda boleh-boleh saja dirayakan. Asal jangan lupa kelompok lain yang juga ikut berjasa pada persatuan Nusantara. Anak bangsa yang baik gak boleh durhaka. Jadi ingatlah jasa pendahulu di masa lalu. Nah pendahulu yang kita bahas bukan Sultan, bukan Raden, bukan Kyai, bahkan bukan wali. Diantara mereka ada yang namanya: Gimin, Paidjo, Udin, Bacok, Ucok atau lainnya. Nah mereka ini tidak pegang bedil, tapi cangkul. Mereka adalah petani yang memberi makan orang-orang. Mereka adalah kaum terpinggirkan, di masa kini, juga pastinya di masa lalu. Raja boleh dipuja-puja. Tapi, mereka dipedulikan pun tidak. Nah, Anda-anda yang BerTuhan akan marah kan, kalau saya bilang Tuhan tidak adil karena takdirkan petani nusantara sebagai kaum yang dilahirkan untuk dihinakan dan ditindas? Jadi, saya cukup bilang saja karena Hukum Rimba yang mendarah daging di negeri ini membiarkan petani sebagai kaum tak penting, meski berasnya selalu ditelan dalam perut. Bukan Gajah Mada atau kembarannya Gajah Mada yg bernama Muhamad Yamin itu yang secara nyata menguasai dan mempersatukan Indonesia tapi serdadu2 KNIL dan para petani Indonesia. Juga bukan karena Sumpah pemuda 1928 juga, tapi karena petani dan serdadu KNIL. Silahkan Anda tidak percaya. Tapi, diskusi kami di kelas tadi ada betulnya juga. Tapi, Negara durhaka ini dalam kurikulum Sejarah Indonesia cuma bisa kasih tempat pada raja-raja dan pengikutnya. Mereka lupa pada kaum yang selalu menyediakan beras dan selalu dirampas harta apapun yang dimilikinya. Tontonlah Max Havelaar. Ada adegan dimana si Pantang yang hebat karena membunuh seekor harimau dengan tanduknya itu dirampas si Demang, biar Bupati senang. Anda yang punya nurani mungkin akan menangis atau bahkan marah. Mitos Para Raja Sejarah Indonesia cuma bisa kasih tempat pada raja-raja dan pengikutnya. Mereka lupa pada kaum yang selalu sediakan bahan makanan. Apa jadinya jika petani tak ke sawah? Kelaparan bakal datang. Mungkin kurikulum sejarah Indonesia kurang bisa menghargai kaum petani ini. Meski Sartono pernah menulis Pemberontakan Petani Banten, tetap saja Istanacentris jadi dambaan. Mau rajanya otak ayam, tetap aja raja didaulat sebagai yang Pemimpin Yang Bijaksana. Petani, mau jasanya segede gunung, tetap saja setara paria.
Tadi kami belajar sejarah. Dari yang kami diskusikan, ternyata bukan Gajah Mada yg menyatukan Indonesia hingga seperti sekarang ini. Tak  ada raja berotak dan normal mau begitu saja jadi bagian dari Majapahit. Anak SD juga tahu kalau jadi Negeri merdeka itu lebih nikmat daripada jadi bagian kerajaan besar tapi hidup menderita. 
Misal, Kerajaan Kutai jadi bagian dari Majapahit, maka Rakyat Kutai akan sengsara dua kali lipat. Pertama, rakyat Kutai harus bayar pajak pada pajak pada Raja Kutai. Kedua, pajak pada Majapahit pun harus mereka tanggung. Jika pajak-pajak itu dijadikan satu paket, tetap saja Raja Kutai tak mau miskin. Raja Majapahit pun akan ngambek bahkan ngamuk kalau tidak disetori upeti. 
Jika benar Majapahit pernah jadi kerajaan nusantara, atau benar Majapahit atau Juga Sriwijaya jadi penguasa nusantara, maka saya curiga kehidupan petani atau rakyat jelata sangat berat sekali. Sebagai keturunan petani yang bukan bangsawan, saya yakin nenek moyang saya dulu menderita. Sudah harus beri seserahan tiap tahun pada raja-raja Jawa, nah kalau raja-raja lewat nenek moyang saya bakal disuruh jongkok bahkan menyembah raja-raja Jawa tak tahu diri itu. “Memang susah, jadi orang yang tak punya,” Ahmad Albar dalam lagunya.
Jaman raja-raja Islam pun sama saja. Islam mereka paling symbol. Kelakuan raja tetap saja binal en ‘semau gue’. Semacam Islam KTP. En kalau sudah merasa terancam kelakuan seperti lascar nasi bungkusnya Habib Rizieq. Jual nama Tuhan biar bisa tetap berkuasa.
Lalu, siapa yang menyatukan Nusantara?
Masih ingat Tanam Paksa? Itu loh yang diterapkan van den Bosch. Dari tahun 1830-1870. Yang kalau Multatuli gak pernah tulis Max Havelaar mungkin gak ada orang Belanda yang teriak-teriak untuk hapuskan itu system gila yang menyiksa petani Indonesia. Anda-anda semua wajib nonton Max Havelaar.
Tadi kami belajar sejarah. Dari yang kami diskusikan, ternyata bukan Gajah Mada yg menyatukan Indonesia hingga seperti sekarang ini. Tak ada raja berotak dan normal mau begitu saja jadi bagian dari Majapahit. Anak SD juga tahu kalau jadi Negeri merdeka itu lebih nikmat daripada jadi bagian kerajaan besar tapi hidup menderita. Misal, Kerajaan Kutai jadi bagian dari Majapahit, maka Rakyat Kutai akan sengsara dua kali lipat. Pertama, rakyat Kutai harus bayar pajak pada pajak pada Raja Kutai. Kedua, pajak pada Majapahit pun harus mereka tanggung. Jika pajak-pajak itu dijadikan satu paket, tetap saja Raja Kutai tak mau miskin. Raja Majapahit pun akan ngambek bahkan ngamuk kalau tidak disetori upeti. Jika benar Majapahit pernah jadi kerajaan nusantara, atau benar Majapahit atau Juga Sriwijaya jadi penguasa nusantara, maka saya curiga kehidupan petani atau rakyat jelata sangat berat sekali. Sebagai keturunan petani yang bukan bangsawan, saya yakin nenek moyang saya dulu menderita. Sudah harus beri seserahan tiap tahun pada raja-raja Jawa, nah kalau raja-raja lewat nenek moyang saya bakal disuruh jongkok bahkan menyembah raja-raja Jawa tak tahu diri itu. “Memang susah, jadi orang yang tak punya,” Ahmad Albar dalam lagunya. Jaman raja-raja Islam pun sama saja. Islam mereka paling symbol. Kelakuan raja tetap saja binal en ‘semau gue’. Semacam Islam KTP. En kalau sudah merasa terancam kelakuan seperti lascar nasi bungkusnya Habib Rizieq. Jual nama Tuhan biar bisa tetap berkuasa. Lalu, siapa yang menyatukan Nusantara? Masih ingat Tanam Paksa? Itu loh yang diterapkan van den Bosch. Dari tahun 1830-1870. Yang kalau Multatuli gak pernah tulis Max Havelaar mungkin gak ada orang Belanda yang teriak-teriak untuk hapuskan itu system gila yang menyiksa petani Indonesia. Anda-anda semua wajib nonton Max Havelaar.
Hingga awal abad XX, Belanda kan masih doyan perang sama rakyat atau raja-raja yang ingin merdeka dan tak mau masuk dalam Hindia Belanda yang meliputi Sabang sampai Merauke itu. Masih ingat perang Aceh? Yang baru betul-betul selesai awal abad XX itu. Itu kan butuh dana banyak. Apakah dana itu berasal dari kantong Jenderal Van Heutzs? Tidak, Kawan! Itu berasal dari kas pemerintah. Nah Kas pemerintah pastinya berasal dari pajak atau setoran dari rakyat petani kere yang dihisab sama pemerintah colonial melaui tangan-tangan priyayi Indon.
Tak ada penjajah yang mau rugi. Mustahil jika uang yang digunakan untuk bikin istana-istana colonial; bayar gaji pegawai dan serdadu; dana perang untuk menguasai secara de facto seluruh wilayah nusantara tidak berasal dari setoran yang dibayarkan rakyat (petani) nusantara.
Masih ingat Jalan Deandels. Semua sepakat kalau Deandels cs konspetornya. Lalu siapa eksekutor dan sponsor utama dana pembangunan Jalan Deandels itu. Yang paling banyak, barangkali hampir semua dana pembangunan itu, dari para rakyat yang dikerahkan kerja paksa itu. Walau Deandels yang punya ide, tapi jalan itu milik Rakyat yang dihisab tenaganya. Ribuan nyawa pun konon harus tewas karena lapar dan sakit.
Tak ada bedanya penyatuan nusantara oleh pemerintah colonial Hindia Belanda. Memang serdadu-serdadu kNIL yang mayoritas pribumi, yang menyikat semua musuh dan menjadikan Hindia Belanda (juga Kerajaan Belanda) menguasai seluruh nusantara. Tapi, harus diingat uang atau dana yang digunakan KNIL itu tentunya juga berasal dari kas pemerintah yang didapat dari pemerasan kepada rakyat petani di tanah koloni mereka. Yang terakhir ini sering dilupakan.
Banyak Ada bau darah, air mata dan keringat petani disana. Belanda bisa menguasai Nusantara itu karena ada uang (dana) dari kas pemerintah Hindia Belanda yang pastinya dari hasil tanam paksa keji juga. Jadi wilayah Indonesia yang luas seperti sekarang ini, juga dikarenakan sumbangan tenaga, darah, kengingat bahkan airmata para petani Indonesia. 
Petani adalah korban dan tulang punggung utama utama tanam paksa. Mereka menanam, mereka menyetor lebih dari 1/5, mereka juga menderita dan tetap miskin. Dengan Uang kas kolonial dari para petani itulah yang membuat KNIL bisa menghabisi musuh pemerintah dan menguasai Indonesia. 
Perut rakyat akan kenyang kalau ada petani yang banyak tanam padi. Dan wawasan rakyat jadi luas karena ada pelaut yang berbagi pengalamannya. Memang terdengar konyol. Tapi itulah adanya.
(Terimakasih atas diskusi hari ini anak-anak… Kalian keren!!!)
Hingga awal abad XX, Belanda kan masih doyan perang sama rakyat atau raja-raja yang ingin merdeka dan tak mau masuk dalam Hindia Belanda yang meliputi Sabang sampai Merauke itu. Masih ingat perang Aceh? Yang baru betul-betul selesai awal abad XX itu. Itu kan butuh dana banyak. Apakah dana itu berasal dari kantong Jenderal Van Heutzs? Tidak, Kawan! Itu berasal dari kas pemerintah. Nah Kas pemerintah pastinya berasal dari pajak atau setoran dari rakyat petani kere yang dihisab sama pemerintah colonial melaui tangan-tangan priyayi Indon. Tak ada penjajah yang mau rugi. Mustahil jika uang yang digunakan untuk bikin istana-istana colonial; bayar gaji pegawai dan serdadu; dana perang untuk menguasai secara de facto seluruh wilayah nusantara tidak berasal dari setoran yang dibayarkan rakyat (petani) nusantara. Masih ingat Jalan Deandels. Semua sepakat kalau Deandels cs konspetornya. Lalu siapa eksekutor dan sponsor utama dana pembangunan Jalan Deandels itu. Yang paling banyak, barangkali hampir semua dana pembangunan itu, dari para rakyat yang dikerahkan kerja paksa itu. Walau Deandels yang punya ide, tapi jalan itu milik Rakyat yang dihisab tenaganya. Ribuan nyawa pun konon harus tewas karena lapar dan sakit. Tak ada bedanya penyatuan nusantara oleh pemerintah colonial Hindia Belanda. Memang serdadu-serdadu kNIL yang mayoritas pribumi, yang menyikat semua musuh dan menjadikan Hindia Belanda (juga Kerajaan Belanda) menguasai seluruh nusantara. Tapi, harus diingat uang atau dana yang digunakan KNIL itu tentunya juga berasal dari kas pemerintah yang didapat dari pemerasan kepada rakyat petani di tanah koloni mereka. Yang terakhir ini sering dilupakan. Banyak Ada bau darah, air mata dan keringat petani disana. Belanda bisa menguasai Nusantara itu karena ada uang (dana) dari kas pemerintah Hindia Belanda yang pastinya dari hasil tanam paksa keji juga. Jadi wilayah Indonesia yang luas seperti sekarang ini, juga dikarenakan sumbangan tenaga, darah, kengingat bahkan airmata para petani Indonesia. Petani adalah korban dan tulang punggung utama utama tanam paksa. Mereka menanam, mereka menyetor lebih dari 1/5, mereka juga menderita dan tetap miskin. Dengan Uang kas kolonial dari para petani itulah yang membuat KNIL bisa menghabisi musuh pemerintah dan menguasai Indonesia. Perut rakyat akan kenyang kalau ada petani yang banyak tanam padi. Dan wawasan rakyat jadi luas karena ada pelaut yang berbagi pengalamannya. Memang terdengar konyol. Tapi itulah adanya. (Terimakasih atas diskusi hari ini anak-anak… Kalian keren!!!)

Minggu, Oktober 27, 2013

Sedikit Darah Pribumi di Tubuh Legercommandat KNIL

Barangkali, kaum kolonialis rasis harus menangis karena ada darah pribumi yang ikut memimpin Hindia Belanda. Bahkan posisinya adalah Legercommandant KNIL. 

Namanya Gerardus Johanes Barenschoot. Karena dia orang penting di Koninklijk Nederlansch Indisch Leger  (Tentara Kerajaan Hindia Belanda: kita singkat saja KNIL), maka namanya harus disebut juga dalam sejarah militer Hindia Belanda. Gedenkschrift Koninklijk Nederlansch Indisch Leger (1830-1950) mencatat nama dan kiprahnya sebagai perwira KNIL. 
Terlahir sebagai anak perwira KNIL. Ayahnya Letnan Kolonel Geritts Hendrik Barenschoot. Ibunya adalah Florance Mildred Rappa. Di kota Solok, Sumatra Barat, pada 24 juli 1887, dia terlahir. Hidup sebagai anak perwira KNIL tentu membuatnya terbiasa dengan kehidupan militer Hindia. Prajurit dan perwira KNIL terbiasa berpindah-pindah tugas. Sejak kecil, Barenschoot tentunya terbiasa.
Namanya Gerardus Johanes Barenschoot. Karena dia orang penting di Koninklijk Nederlansch Indisch Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda: kita singkat saja KNIL), maka namanya harus disebut juga dalam sejarah militer Hindia Belanda. Gedenkschrift Koninklijk Nederlansch Indisch Leger (1830-1950) mencatat nama dan kiprahnya sebagai perwira KNIL. Terlahir sebagai anak perwira KNIL. Ayahnya Letnan Kolonel Geritts Hendrik Barenschoot. Ibunya adalah Florance Mildred Rappa. Di kota Solok, Sumatra Barat, pada 24 juli 1887, dia terlahir. Hidup sebagai anak perwira KNIL tentu membuatnya terbiasa dengan kehidupan militer Hindia. Prajurit dan perwira KNIL terbiasa berpindah-pindah tugas. Sejak kecil, Barenschoot tentunya terbiasa.
Barenschoot mungkin tak terlalu merasakan nikmatnya jadi anak kolong seperti dalam Burung-burung Manyar karya Romo Mangun. Karena anak pejabat Eropa, sudah tentu Barenschoot muda bisa sekolah hingga di SMA macam Hogare Burger School. Di usia yang ke 15 tahun, dia dikirim ke Negeri Belanda. Tentunya juga memenuhi harapan orang tua terpandang masa itu, agar anaknya dapat pendidikan yang layak.
Dia sempat belajar ke di Sekolah Kadet Alkmaar lalu masuk Koninklijk Militaire Academie  (Akademi MIliter) Breda. Lulus dari sana pada tahun 1907, Barenschoot jadi Letnan Dua KNIL. Dirinya pernah berdinas di Aceh yang penuh bahaya bagi KNIL Belanda, pada 1910-1915. Setelahnya dia pernah dikirim ke Hogare Krijgschool, semacam sekolah lanjut perwira.
Karir militernya tergolong baik. Dia dianggap sebagai orang yang paham organisasi. Ini tidak mengherankan, karena Barenschoot adalah lulusan no satu di angkatannya waktu di KMA Breda. Dia dikenal sebagai perwira yang cerdas, seperti halnya Spoor.
Tahun 1934, setelah 27 tahun dinas di KNIL, akhirnya Barenschoot diangkat menjadi  Kepala staf (Jenderal) KNIL, semacam orang nomor dua di KNIL. Dia mengisi posisi ini cukup lama, hingga tahun 1939. Sementara orang nomor satu di KNIL alias panglima tertinggi KNIL atau Legercommandant  adalah M Boerstra. Kemungkinan pangkat Barenschoot Jendral Mayor, karena Legercommandant berpangkat Letnan Jenderal.
Barenschoot mungkin tak terlalu merasakan nikmatnya jadi anak kolong seperti dalam Burung-burung Manyar karya Romo Mangun. Karena anak pejabat Eropa, sudah tentu Barenschoot muda bisa sekolah hingga di SMA macam Hogare Burger School. Di usia yang ke 15 tahun, dia dikirim ke Negeri Belanda. Tentunya juga memenuhi harapan orang tua terpandang masa itu, agar anaknya dapat pendidikan yang layak. Dia sempat belajar ke di Sekolah Kadet Alkmaar lalu masuk Koninklijk Militaire Academie (Akademi MIliter) Breda. Lulus dari sana pada tahun 1907, Barenschoot jadi Letnan Dua KNIL. Dirinya pernah berdinas di Aceh yang penuh bahaya bagi KNIL Belanda, pada 1910-1915. Setelahnya dia pernah dikirim ke Hogare Krijgschool, semacam sekolah lanjut perwira. Karir militernya tergolong baik. Dia dianggap sebagai orang yang paham organisasi. Ini tidak mengherankan, karena Barenschoot adalah lulusan no satu di angkatannya waktu di KMA Breda. Dia dikenal sebagai perwira yang cerdas, seperti halnya Spoor. Tahun 1934, setelah 27 tahun dinas di KNIL, akhirnya Barenschoot diangkat menjadi Kepala staf (Jenderal) KNIL, semacam orang nomor dua di KNIL. Dia mengisi posisi ini cukup lama, hingga tahun 1939. Sementara orang nomor satu di KNIL alias panglima tertinggi KNIL atau Legercommandant adalah M Boerstra. Kemungkinan pangkat Barenschoot Jendral Mayor, karena Legercommandant berpangkat Letnan Jenderal.
Tahun 1939, Barenschoot pun jadi orang nomor satu di KNIL. Dia adalah Legercommandant KNIL pertama yang punya darah pribumi. Ketika Barenschoot menjadi legercommandant, 1940, Negeri Belanda diduduki Jerman. Dan Barenschoot harus kerjakeras menghadapi ancaman yang bakal timbul dari Jepang di Pasifik. Delegasi militer Inggris dan Amerika dalam konferensi senang sekali pada Barenschoot yang mewakili HIndia Belanda. Setelah dua tahun menjabat Legercommandant, Barenschoot tutup usia karena kecelakaan pesawat pada oktober 1941 di Kemayoran, Betawi. Kemungkinan dia dimakamkan di sekitaran Batavia.
Tahun 1939, Barenschoot pun jadi orang nomor satu di KNIL. Dia adalah Legercommandant KNIL pertama yang punya darah pribumi. Ketika Barenschoot menjadi legercommandant, 1940, Negeri Belanda diduduki Jerman. Dan Barenschoot harus kerjakeras menghadapi ancaman yang bakal timbul dari Jepang di Pasifik. Delegasi militer Inggris dan Amerika dalam konferensi senang sekali pada Barenschoot yang mewakili HIndia Belanda. Setelah dua tahun menjabat Legercommandant, Barenschoot tutup usia karena kecelakaan pesawat pada oktober 1941 di Kemayoran, Betawi. Kemungkinan dia dimakamkan di sekitaran Batavia.
Kalangan Indo—yang statusnya lebih rendah dari Belanda totok namun tak mau disamakan dengan pribumi biasa—tentu saja sangat senang. Meski secara hukum Barenschoot diakui sebagai orang Belanda, dia masih punya sedikit tetesan darah pribumi dalam tubuhnya. Hal ini nampaknya tidak disukai orang-orang Belanda yang anti dengan orang-orang Indo Belanda yang mulai cerewet Hindia Belanda, baik pada pemerintah colonial Belanda maupun kaum pribumi. Mereka merasa jika Hindia Belanda adalah tanah air kaum Indo. 
Dalam strata tertinggi militer Belanda, khususnya KNIL, Barenschoot dianggap orang Indo pertama. Ada setetes darah keturunan orang pribumi dalam KNIL yang rasis. Dimana mayoritas pribumi hanya bisa jadi spandrig (prajurit) lalu sedikit kopral dan lebih sedikit lagi sersan, apalagi Letnan.  Paling tingga orang Indonesia hanya jadi Letnan Kolonel di dinas kesehatantentara regular, bukan posisi komandan satuan tempur.
Orang-orang rasis perancang kolonialis yang ingin kemurnian ras dalam struktur komando atau pemerintah HIndia Belanda nampaknya harus menangis karena tak bisa menghindari darah pribumi Barenschoot masuk dalam hirarki.
Kalangan Indo—yang statusnya lebih rendah dari Belanda totok namun tak mau disamakan dengan pribumi biasa—tentu saja sangat senang. Meski secara hukum Barenschoot diakui sebagai orang Belanda, dia masih punya sedikit tetesan darah pribumi dalam tubuhnya. Hal ini nampaknya tidak disukai orang-orang Belanda yang anti dengan orang-orang Indo Belanda yang mulai cerewet Hindia Belanda, baik pada pemerintah colonial Belanda maupun kaum pribumi. Mereka merasa jika Hindia Belanda adalah tanah air kaum Indo. Dalam strata tertinggi militer Belanda, khususnya KNIL, Barenschoot dianggap orang Indo pertama. Ada setetes darah keturunan orang pribumi dalam KNIL yang rasis. Dimana mayoritas pribumi hanya bisa jadi spandrig (prajurit) lalu sedikit kopral dan lebih sedikit lagi sersan, apalagi Letnan. Paling tingga orang Indonesia hanya jadi Letnan Kolonel di dinas kesehatantentara regular, bukan posisi komandan satuan tempur. Orang-orang rasis perancang kolonialis yang ingin kemurnian ras dalam struktur komando atau pemerintah HIndia Belanda nampaknya harus menangis karena tak bisa menghindari darah pribumi Barenschoot masuk dalam hirarki.

Selasa, Oktober 15, 2013

Jenderal Ambon

Dulu, seorang perwira cerdas bernama Muskita pernah jadi Mayor Jenderal. Lalu Toisutta jadi Jenderal dan jadi KSAD.

Masih menjadi pertanyaan buat saya, siapakah orang Ambon pertama yang menjadi Jenderal TNI? Mungkin Oerip Sumoharjo adalah salah satu Letnan Jenderal pertama, lalu ada Sudirman. Mereka berdua orang Jawa. Selain dua jenderal betulan tadi, di zaman revolusi ada semacam “Jenderal jadi-jadian” alias orang-orang yang kebetulan punya pasukan banyak yang mengangkat diri jadi Jenderal. Semacam Nagabonar dalam cerita film dan Timur Pane dalam dunia nyata, seperti yang dilaporkan Abubakar Lubis.
Setidaknya, ada Leo Wattimena yang pernah jadi Marsekal di AURI, yang dikenal sebagai pilot tempur terbaik Indonesia.  Bahkan Johanes Leimena yang sebenarnya seorang dokter, berkali-kali jadi Menteri Kesehatan RI dan pernah jadi Wakil Perdana Menteri, pernah jadi Laksamana Madya titular ALRI.
Nah, bagaimana dengan di darat?
Dulu ketika Republik Maluku Selatan (RMS) berontak, nampaknya tak satu pun panglima tentara RMS yang mengaku diri sebagai Jenderal. Para bekas sersan KNIL macam Samson, Sopacua dan Nussy, yang mendadak panglima itu lebih suka memposisikan diri sekelas Mayor, Letnan Kolonel dan Kolonel saja. Seperti Che Guevara dan Fidel Castro dalam Revolusi Cuba. 

foto Lonjouw
foto Lonjouw

Waktu di Hindia Belanda KNIL masih Berjaya, orang Ambon dengan pangkat tertinggi di KNIL adalah Letnan Kolonel Apituley. Tapi bukan sebagai komandan pasukan, melainkan sebagai dokter tentara. Begitu yang tercantum dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD. Memang banyak orang Ambon yang jadi serdadu KNIL. Banyak yang jadi sersan, kopral  dan tentu saja prajurit bawahan dengan pangkat macam soldaat atau spaandrig. Nampaknya, orang Indonesia lebih bisa percaya mitos bahwa sebagian besar serdadu KNIL adalah orang-orang Ambon. Padahal orang Jawa jumlahnya paling banyak di KNIL.
Konon, L.E. Lonjouw adalah orang Indonesia, yang belajar sebagai orang Indonesia pertama yang masuk Akademi Militer Breda. Saya meragukannya jika dia orang Indonesia. Henry Poeze menyebut namanya dalam buku Di Negeri Penjajah. Pernah hidup seorang Ambon bernama EA Latuperisa. Dia lulusan Akademi Militer Breda dan sudah jadi kapten KNIL dan pernah tugas di Indonesia, ketika Perang Eropa berlangsung. E.A Latuperisa sebetulnya sedang menjalani sekolah lanjutan bagi perwira di Hogare Kriegschool. Sialnya, Lautperisa, yang sempat menjadi bagian dari gerakan bawah tanah anti fasis di Belanda, akhirnya ditembak serdadu Jerman.  Jika, taka da perang dunia II, E.A Latuperisa adalah salah satu orang yang posisinya akan sejajar dengan Oerip Sumoharjo atau Adolf Kawilarang (ayah Alex Kawilarang) sebagai Mayor KNIL—posisi tertitnggi orang Indonesia dalam jajaran tempur KNIL.  Ada juga kadet Ambon yang belum lulus dari Breda yang tewas dalam Perang Eropa, marganya Makatita.

EA Latuperisa
EA Latuperisa

Di masa Nasution jadi KSAD, Herman Pieter adalah Kolonel TNI yang jadi perwira sejak tahun 1945 dan ikut bergerilya melawan Belanda di Jawa Timur. Tak diketahui dimana dia ikut latihan dasar militer. Pangkat terakhirnya KOlonel dan pernah jadi panglima di Maluku. Nasution sangat percaya padanya.
 Saya hanya bisa menemukan nama Joost Muskita sebagai orang Ambon yang jadi Mayor Jenderal AD. Namun, dia bukan perwira tinggi dengan posisi panglima pasukan tempur. Belakangan dia mengisi jabatan tinggi di bidang non militer.


Muskita memimpin pasukan
Muskita memimpin pasukan

Muskita dan Toisutta
Josef alias Joost Muskita pernah jalani hidup sebagai anak kolong. Dia lahir di Magelang, 28 Juni 1924. Ayahnya, bahkan kakeknya adalah serdadu KNIL.  Muskita bisa bersekolah sampai Hogare Burger School (SMA untuk anak Eropa) yang elit itu. Namun, hidupnya  agak susah di jaman pendudukan Jepang, apalagi statusnya sebagai turunan KNIL Ambon yang jadi bulan-bulanan serdadu Balatentara Nippon. Ketika ‘masa bersiap’ yang menegangkan, Joost muda ikut serta dalam melindungi kaumnya yang nyaris disembelihi oleh perusuh berkedok pejuang kemerdekaan yang buta.
Atas rekomendasi veteran perang Pasifik, Kapten Julius Tahiya, Muskita yang pernah SMA pun dimasukan ke School Reserve Officiern der Infanterie di Bandung. Selesai dari sana, Muskita menjadi Letnan KNIL. Kawan sekelas Muskita, yang sesame Indonesia, adalah Andi Azis yang juga veteran Perang Eropa.
Ketika KNIL akan bubar pada pertengahan tahun 1950, Muskita memilih masuk TNI. Alasannya, dia ingin merubah sejarah keluarganya yang selama beberapa generasi sebelumnya bekerja sebagai serdadu Belanda. Mungkin ada diantara kita yang menafsir, jika Muskita seperti mencuci dosa atau kekhilafan di masa lalu dengan menjadi TNI. Konsekuensi Muskita masuk TNI adalah pangkatnya dinaikan agar tunjangannya mendekati apa yang didapat di KNIL. Gaji TNI lebih rendah daripada di KNIL.
 Muskita langsung dilibatkan dalam operasi penumpasan Republik Maluku Selatan yang dipimpin Kolonel Alex Evert Kawilarang, yang sebelum pendudukan Jepang adalah Letnan KNIL juga. Sebagai komandan, Alex Kawilarang puas dengan kerja Muskita. Muskita mengajari   taktik tempura la KNIL sebelum pasukannya berhadapan dengan pasukan RMS tangguh.
Dalam hitungan belasan tahun, dari Kapten secara perlahan Muskita menjadi Brigadir Jenderal  sekitar tahun  1966. Namun dia tak mengisi posisi militer vital seperti panglima. Suharto tak berminat memasukan Muskita yang bukan termasuk TNI angkatan 45, meski Muskita termasuk perwira militer yang bisa diandalkan. Pangkat terakhir Muskita adalah Letnan Jenderal. Selama hidupnya, Muskita menikahi anak dari gubernur pertama Maluku, Latuharhari. 

George Toisutta
George Toisutta

Orang Ambon selanjutnya adalah George Toisutta. Dia terlahir di Makassar, kota dimana banyak orang Ambon juga bermukim. Istrinya seorah hajjah, dan George adalah Muslim. Ayahnya juga perwira TNI, Christian Toisutta. George muda mengikuti jejak ayahnya.
Di usia yang ke-23 tahun, George lulus Akabri (Akmil) Magelang pada 1976. Selama puluhan tahun jadi perwira, beberapa kali dirinya menjadi komandan dari level terbawah sampai akhirnya menjadi panglima. Dia pernah menjadi Panglima KODAM Trikora dan Siliwangi, lalu Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) sebelum akhirnya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat(KSAD).  Posisi KSAD dan Pangkostrad adalah posisi penting dalam Angkatan Darat. Seandainya dulu Suharto tak pernah jadi Pangkostrad, meungkin sejarah tak menunjuknya jadi Presiden.
George Toisutta mencatatkan diri sebagai orang Ambon pertama yang menjadi KSAD dengan pangkat Jenderal, meski tak sampai dua tahun. George yang energik itu dikenal banyak orang terkait pencalonannya sebagai ketua PSSI.