Kamis, November 29, 2012

Nonton Remaja Jatuh Cinta

Katanya, masa SMA masa paling indah. Dan Film tentang kisah cinta anak SMA banyak muncul.

Adegan Ada Apa Dengan Cinta
 

Masa SMA masa yang paling indah, begitu yang disepakati sebagian dari kita semua.  Katanya, masa SMA masa yang paling indah. Ada yang pertama kali kenal cinta alias mulai pacaran. Ada yang pertama kali menyatakan cinta. Diantaranya ada yang naas ditolak. Sebagian lainnya berbahagia karena diterima, walau belakangan mulai menderita karena terkekang oleh pacarnya. Masa SMA, bisa jadi masa untuk belajar patah hati: entah karena ditolak sebelum menembak, ditolak setelah bersusah payah menembak,lihat  pacar selingkuh, diputus pacar dan kisah pahit lainnya. Mengenang masa SMA, bisa bikin tersenyum atau menangis, jika ingat bagian pahitnya. 

Film Ada Apa Dengan Cinta

Banyak film tentang masa SMA dibuat. Setidaknya, generasi remaja satu dekade silam tahu Ada Apa Dengan Cinta. Film besutan Rudi Sujarwo in dirilis tahun 2001. Dianggap salah satu tonggak kebangkitan film nasional, bersamaPetualaangan Serina.  Kisah cinta antara Cinta dengan Rangga yang unik. Rasa suka yang dipendam-pendam oleh Cinta itu ketahuan juga oleh teman-teman satu geng  di ekskul MAjalah dinDING.   


"Cinta (Dian Sastrowardoyo), 17 tahun, dipercaya mengelola majalah dinding sekolah bersama sahabatnya: Milly (Sissy Priscilia), Karmen (Adinia Wirasti), Alya (Ladya Cheryl), dan Maura (Titi Kamal). Mereka membentuk sebuah geng. Kenyamanan persahabatan ini berubah ketika Cinta bertemu dengan Rangga (Nicholaas Saputra), yang angkuh dan dingin, padahal mereka satu sekolah meski kehadiran Rangga tak terasakan. Rangga membawa Cinta masuk ke dunia "Lain" dari yang dihidupinya selama ini. Rangga juga membuat Cinta mulai "memisahkan" diri dari gengnya."  (kata Katalog Film Indonesia (1926-2005) hlm. 406-407, karya J.B. Kristanto)


Sebenarnya, Rangga tidak bermaksud memisahkan Cinta dari teman-temannya satu gengnya. Rangga hanya tak peduli saja dengan geng itu. Rangga
memang digambarkan angkuh dan dingin. Padahal, Rangga hanya orang pendiam yang asyik dengan dunianya. Tak sekali pun bermaksud angkuh atua dirinya tinggi. Kalau Rangga angkuh buat apa dia main sama Pak Bon sekolah. Jika Rangga itu dingin, kenapa dia memeluk Pak Bon yang dianggapnya seperti saudara. Maaf saya terlalu membela Rangga heheheh 

Poster film Gita Cinta Dari SMA

Lebih dari dua dekade sebelum Ada Apa Dengan Cinta  atau tiga dekade lebih sebelum sekarang (29 November 2012),  ada film Gita Cita dari SMA. Masih tentang kisah cinta anak SMA. Sutradaranya Arizal. Skenario ditulis Eddy Iskandar--yang sering menulis skenario film tentang anak muda. Film ini terlaris di masanya (1979).  Pernah disinetronkan, tapi filmnya saya kira lebih dasyat. Saya senang berulang kali menonton filmnya.


Kisah cinta (dua pelajar) SMA yaitu Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman). Keduanya adalah bintang kelas, baik dalam pelajaran, olah raga maupun tindak-tanduknya. Pokoknya, mereka ini pelajar teladan. Cuma, kisah cinta mereka tidak kesampaian. Ayah Ratna telah menjodohkan putrinya dengan seorang insinyur. Dengan segala macam paksaan, percintaan mereka diputuskan. Cinta yang menggebu-gebu yang memberanikan mereka diam-diam selalu berkencan,toh hanya sekedar bertemu saja." (Begitu ulasan dari Katalog Film Indonesia (1926-2005) hlm. karya J.B. Kristanto).

Waktu saya kecil, film-film Rano Karno pernah diputar. Ceritanya selalu Rano Karno sebagai peran protogonis. Kadang-kadang, Tino Karno, yang di dunia yata adalah kakak kandung Rano Karno kadang dapat peran antagonisnya. Yessi Gusman sering tampil bersama Rano Karno sebagai sepasang kekasih remaja. Hingga saya berimajinasi kalau mereka berdua pasangan sungguhan. Maklum pikiran bocah korban infotainment.

Adegan dalam film Gita Cinta Dari SMA

Belakangan, saya sadar imajinasi saya salah. Yessi Gusman belakangan punya suami pengusaha yang sepertinya kena kasus. Nah Rano Karno jadi pejabat Sipil yang pernah sukses dengan sinetronnya Si Doel Anak Sekolahan. Mesti sudah Bapak-bapak Rano Karno identik dengan anak sekolahan. Harusnya Rano Karno diangkat saja jadi Menteri Pendidikan. Hahahaha

Adegan film Pengantin Remaja

Dua film di atas hanya sekedar contoh masih ada film lain bertema soal kisah cinta SMA. Di tahun 1971, ada film yang judulnya Pengantin Remaja. Dimana Sophan Sophian sebagai Romi dan Widyawati sebagai Juli. Wim Umboh adalah sutradaranya. Alur cerita dari film ini meniru Love Story yang diangkat dari novel Eric Siegel dengan judul sama yang kondang tahun 1970. Kisah cinta dengan ending tragis. Dimana ada kematian yang memsahkan pasangan tadi.  

Bucek Depp dalam Pengantin Remaja versi baru


Belakangan, ada lagi film dengan judul sama. Pemainnya adalah Bucek Depp sebagai Romi dan vivi Samodro sebagai Juli. Wim Umboh masih jadi sutradaranya. Ini film pertama Bucek yang saya tonton. Sebagai anak kecil, film ini bagi saya keren. Dan Bucek adalah cowok keren yang wajib saya tiru, dan saingi jika mampu. Entahlah, sampai hari ini film dengan tema percintaan remaja tetap menarik. Anak remaja memang butuh hiburan. Entahlah akan muncul fim palagi tetang tema-tema ini? Kita tunggu saja.

Soejarso: Opsir Paling Bejo Tempo Doeloe

Tak kejar pangkat, tapi inilah bekas Opsir KNIL paling mujur. Jadi Jenderal dan menikahi Perempuan pujaan kepala Negara dari Kraton Solo.

Pemuda ini terkesan kurang ajar bagi pemerintah Belanda di jaman kolonial. Pemuda ini bukan kominis. Juga bukan perusuh yang mengganggu ketentraman. Dia anak sekolahan, tak bakat jadi perusuh.
Suatu hari di tahun 1930an, di Bandung diadakan pemutaran film. Saat dinyanyikan lagu kebangsaan Belanda—Wilhelmus van Nassau—untuk menghormati Ratu Wilhelmina, semua orang harus berdiri. Tak mau bikin masalah, orang Indonesia, uka tidak suka harus berdiri. Tapi,  Soejarso Soerjosoerarso tidak mau berdiri padahal semua hadirin berdiri. Karakter kerasnya mirip Pangeran Samber Nyowo.
Bukan masalah besar karena pemuda itu tidak ditahan PID.[1] Tapi, hiup Soerjosoerarso kemudian menjadi bahan intaian PID saja. Ketika itu Soejarso masih sekolah di HBS[2] Bandung.  

Soerjo Soerarso prajurit turunan Kraton

Jadi Opsir KNIL
Soejarso, pemuda kelahiran tahun 1916 itu, akhirnya masuk KMA[3] Breda (Akademi Militer). Selama menjadi Kadet KMA Soejarso Soerjosoerarso adalah kadet yang telah mendapat pengawasan dari pimpinan KMA. Ketika menjadi KMA Breda, Soejarso sebenarnya sudah mulai berhati-hati. Dia tidak berdekatan dengan orang-orang pergerakan atau semacamnya.[4]
Tahun 1939, Soejarso dinyatakan lulus dan diangkat menjadivaandrig (calon perwira). Soejarso lalu kembali ke Indonesia sebagai perwira KNIL. Konon di bedinas di Infanteri, namun setelah bergabung dengan TNI dia ditempatkan di Kaveleri. Soejarso berdinas hampir 3 tahun di KNIL.  Soejarso, konon, pernah menjadi salah satu instruktur di KMA Bandung—dimana A.H. Nasution, T.B. Simatupang dan A.E Kawilarang jadi kadet. Sebelum 1942, pangkat Soejarso sudah Letnan Dua.  
Setelah KNIL kalah dan bubar, Soejarso tak lagi jadi opsir KNIL. Dia lalu menjadi inspektur polisi bersama Surjadi Suriadama—kelak Kepala Staf Angkatan Udara RI—yang juga letnan KNIL lulusan Breda juga. Hanya seumur jagung mereka jadi inspektur polisi.
Setelah Indonesia merdeka, mereka bergabung dengan tentara Republik. Semasa Revolusi kemerdekaan, Soejarso tak begitu dikenal. Dia memang kurang menonjolkan diri sebagai perwira. Meski pun dirinya adalah lulusan Breda. Dimana tak semua pemuda bisa belajar disana. Soejarso menghabiskan karirnya di TNI sebagai komandan di korps kaveleri. Terakhir pangkatnya adalah Mayor Jenderal TNI.
             Nasution, bekas muridnya dan juga bawahannya selama di KNIL,  pernah bercerita tentang Seojarso, saat ada pergeseran di detasemennya, Soerjo Soelarso protes dengan cara datang dan duduk diam di ruang kerja Nasution. Sikap Soejarso adalah sikap bangsawan Jawa. Dia memang masih terhitung keluarga Pangeran  Mangkunegaran.
            Banyak orang percaya, Soejarso adalah perwira tanpa ambisi. Dia tak begitu ingin jadi panglima seperti banyak perwira lain.

Pilihan  Gusti Nurul

Majalah LIFE edisi 25 Januari 1937 meliput Gusti Nurul, putri Mangkunegoro VII Surakarta, yang menarikan tari serimpi di Belanda saat pernikahan Putri Juliana dan pangeran Bernhard. Gadis itu, kemudian jadi kembang di jamannya. Dia adalah gadis Kraton dengan pendidikan barat. Gusti Nurul adalah gadis kraton yang hidup dalam alam kraton yang diliputi tradisi dan alam modern sekaligus.
Gusti Nurul menari di acara pernikahan anggota keluarga kerajaan Belanda
            Sebagai perempuan manis, banyak laki-laki terpandang menaruh hati padanya. Entah dari kalangan kraton bahkan diantara pemimpin Republik sendiri. Dua dari tiga Bung pemimpin Indonesia, kecuali Bung Hatta yang dingin terhadap perempuan, Bung Karno dan Bung Syahrir menaruh hati pada Gusti Nurul.  Bung Karno, konon pernah melamarnya di tahun 1945. Bung Syahrir konon memacarinya selama 3 tahun (1946-1949).
Soerjo Soerarso dengan Gusti Nurul dalam pernikahan mereka

            Dari semua laki-laki yang pernah ada, Gusti Nurul hanya memilih Soejarso—pemuda bekas opsir KNIL—itu sebagai suaminya.  Mereka menikah pada 21 Maret 1951. Jejak Gusti Nurul bisa ditelusuri di Museum Ulen Sentalu, Sleman, DIY. Dialah satu dari sekian opsir paling bejo di Indonesia Tempo Doeloe. Sudah jadi Mayor Jenderal dan dapat Putri idaman para orang besar tempo doeloe juga. Betul betul heibat! 


[1] PID: Politiek Intelichten Dienst

[2] HBS: Hogare Burger School (Sekolah menengah yang lamanya lima tahun)

[3] KMA: Koninklijk Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan)

[4] Buku Kenang-kenangan Alumni KMA Breda, op. cit., hlm. 83.

Minggu, November 25, 2012

Untuk Anak Sehat Dan Kuat

Di majalah pensiunan militer, yang terbit antara 1939-1940, tak sengaja saya menemukan iklan Quaker Oats.  Sebelumnya, yang saya tahu, itu makanan impor. Kini iklannya, konon ini makanan bagus untuk jantung. Di iklan, ditemukan narasi yang menceritakan ada anak sakit. Itu anak lalu dibawa ke dokter. Setelah itu anak ini makan Quaker Out. Kemudian, anak ini pun sehat kembali bahkan bisa aktif bermain seperti sedia kala. Setelah membaca itu iklan, orang-orang akan berpikir jika Quaker Out diberikan pada anak mereka, maka anak mereka akan sehat dan kuat 
 
Iklan Quaker Out

Ketika membuka koran-koran lawas yang terbit sebelum "Indonesia Merdeka", pernah temukan iklan Blueband margarin. Saya kaget, makanan ini sudah ada toh di jaman itu. Tapi saya segera mikir lagi, ini pasti makanan mewah. Agak susah anak-anak pribumi bisa makan yang seperti ini. Sayang, saya tak sempat mendokumentasikannya. Hanya yang teringat iklan itu makanan ditujukan buat anak-anak.

Iklan Blue Band dengan gambar Giman

Belakangan, di internet saya temukan lagi gambar iklan Blue Band lawas. Ada iklan yang menggambarkan sosok anak Jawa dan juga anak Tionghoa. Entah kenapa hanya dua anak itu? Mungkin, pasar ini produk masih di Jawa dan daya beli orang Tionghoa yang cukup baik. Si anak Jawa di gambar bernama Giman. Giman digambarkan sedang lesu, gurunya lalu menawarkan roti berlapis Blue Band , setelah memakannya Giman semangat lagi dan bermain lagi dengan cerianya di sekolah.   Si anak Tionghoa itu diberinama A Fuk. Digambarkan, A Fuk suka memelihara tanaman. Suatu kali A Fuk kelelahan. Ibunya lalu memberikan roti berlapis Blue Band.  A Fuk akhirnya semangat lagi. Selau ada tulisan: Sehat dan Kuat Blue Band. Jika ingin anak sehat dan kuat campurlah makanan anak anda dengan Blue Band.


Iklan Blue Band dengan gambar A Fuk
Dari iklan-iklan tadi, Blue Band selalu berteman roti. Akhirnya, orang pun harus beli roti juga. Atau kalau orang beli roti, dia sebaiknya beli Blue Band. Keduanya, tak lain adalah makanan yang sulit diapat oleh orang tua jaman dulu. Jadi, tak semua anak di yang alami masa bocah sebelum tahun 1960an bisa makan roti. Mereka hanya tahu roti sumbu alias singkong. Sudah syukur bisa makan singkong. Ya biarlah. Namanya juga iklan. TOch orangtua selalu berusaha beri makanan yang terbaik buat anaknya agar sehat dan kuat juga.


Anak-anak butuh makanan bergizi. Itu jelas sekali penting. Apapun bentuknya. Bukan sekedar iklannya saja. Banyak orang merasa berdosa melihat anak kelaparan. Sebagian anak Indonesia pernah alami kesulitan makanan. Entah berapa kali? Di jaman tanam paksa, anak-anak kelaparan pun tak bisa dihindari karena orangtua mereka tak sempat ke sawah karena dipaksa menanam tanaman non pangan untuk kepentingan kolonialis dan pendukungnya. Di masa pendudukan Jepang, hingga masa revolusi Indonesia anak kelaparan masih ditemukan. Entah hari ini? Dan kita semua sedang menghindari itu terulang kembali.

Orang Indonesia Sikat Gigi

Gosok gigi sudah jadi hal umum di masa kini. Awal abad XX, Orang Belanda kenalkan obat gosok gigi alias pasta gigi alias odol untuk orang Indonesia, dan sekarang orang Indonesia rajin gogok gigi sampai sekarang. 

Kita kadang bertanya, kapan orang Indonesia sikat gigi pakai odol? Banyak yang tahu kalah sedari dulu, orang Indonesia menggosok giginya dengan buah pinang bahkan serbuk dari batu bata yang dibasahi air. Bahkan beberapa nenek-nenek masih melakukan hal itu. Padahal iklan sikat gigi beserta odolnya meraja-lela di televisi. Makin hari makin ditanamkan dalam pikiran kita semua, tak baik jalani hariklaau belum gosok gigi. 

Dari produk inilah orang akhirnya dapat nama untuk menyebut pasta gigi

Kebiasaan gosok gigi pakai odol, kemungkinan dibawa orang Belanda di jaman kolonial. Kenapa orang menyebut odol (untuk menyebut pasta gigi atau obat gosok gigi)? Itu karena di masa lalu ada pasta gigi bermerk Odol.  Menyebut pasta gigi atau obat gosok gigi, begitu sulit jadi orng menyebut saja odol daripada susah. Selain Odol, lalu muncul merk pasta gigi yang lain. Belakangan ada Pepsodent, Colgate dan lainnya. Orang Indonesia pun makin diajak gosok gigi. Entah agar gigi orang Indonesia pada putih semua warnanya atau agar produk pasta gigi laku.

Iklan Colgate dengan gamabar perempuan keturunan Eropa

Entah ada berapa banyak iklan pasta gigi, alias odol di jaman kolonial. Saya temukan dua iklan Colgate dari tahun 1940an di sebuah majalah tua. Saya kurang tahu apa bedanya, mungkin beda kasiat saja. Yang menarik adalah, salah satu kemasan produk Colgate itu, mereka memakai gambar perempuan pribumi. Wanita pribumi itu bisa dikenali dari dandanan rambutnya. Dia sepertinya memakai konde. Kemasan lain menggunakan gambar perempuan Belanda. Saya melihat wanita dalam gambar itu gemar ke salon. Maksud dari dua iklan itu, yang gambarnya perempuan keturunana Eropa, agar pribumi merasa bisa seperti orang Eropa kalau suah sikat gigi. Lalu yang gambarnya orang pribumi agar orang Indonesia pun juga harus sikat gigi.

Iklan Colgate dengan gambar perempuan bumiputra
Dari iklan bisa ditangkap, orang-orang di Hindia Belanda kudu punya gigi yang putih. Bisa kita bayangkan, itu cukup mustahil. Kita akan berpikir, orang-orang yang memakai odol pun kemungkinan adalah orang-orang kota atau orang-orang yang menganut gaya hidup modern ala barat. Di daerah terpencil tentu sulit ditemukan. Jangankan yang di daerah terpencil, di daerah kota saja tak semua orang yang tinggal di kota saja belum tentu ada keinginan gosok gigi. Kita juga akan membayangkan hanya orang-orang Belanda atau Eropa saja yang bisa dipastikan gogok gigi tiap pagi dan sebelum tidur. Orang pribumi yang kebanyakan jadi kuli, bisa jadi akan merasa gosok gigi itu sesuatu yang mewah. Jangankan beli pasta gigi, uang untuk makan saja susah. Bisa jadi punya gigi putih bukan impian juga bagi kaum kuli.

Iklan Pepsodent dengan jajni memutihkan gigi dalam waktu seminggu

Punya gigi putih itu jadi serasa perlu bagi sebagian orang. Akhirnya ada obatgigi yang menawarkan waktu seminggu untuk memeutihkan gigi dengan memakai obat giginya,Pepsodent. Iklan ini kira iklan tahun 1950an. Sekarang, setelah puluhan tahun, setelah Belanda tak lagi jadi Tuan di negeri ini. Orang Indonesia tetap harus gosok gigi. Gosok gigi bahkan dianjurkan di TK dan SD. Maksudnya, agar gigi bersih dan nafasnya tidak bau. Akhirnya, kebanyakan orang-orang dewasa akan merasa risih jika belum gosok gigi. Belum mandi tidak masalah asal sudah gosok gigi. Di kepala kita emua ditanamkan, gosok gigi itu perlu! Apakah anda sudah gosok gigi?

Jumat, November 23, 2012

Che ke Indonesia?

Kami tak pernah diberitahu kalau Che Guevara pernah kemari. Sekarang kami tahu jawabnya kenapa tak diberitahu.

CHE GUEVARA, pertama kali tahu nama itu saya masih SMP. Saya tak tahu pasti soal tokoh ini. Tak sekali pun saya temukan bacaannya di kota kami. Maklum Che bukan siapa-siapa di kota kami. Tak penting Che punya arti bagi mereka atau tidak. Yang pasti nama Che yang bisa bikin revolusi itu kemudian penting.

Bukan untuk kekacauan, sekedar bermimpi untuk kehidupan yang lebih saja paling tidak.
Kejatuhan Suharto—rezim yang menipu generasi muda seusiaku—menyadarkanku untuk tidak mempercayai siapapun. Che jadi teman di masa remajaku yang galau. Indonesia dan sejarahnya memang membuat saya merasa galau akan banyak hal.


Waktu SMA, saya pernah tempel gamabar musisi yang pakai kaus Che Guevara. Sialnya, kawan SMA yang kebanyakan sinis dengan mencopot gambar itu tanpa logika yang jelas. Maklum anak SMA biasanya sok benar dan susah terima perbedaan. Mungkin kawan sama yang bernama dian itu antek ore baru juga
Saya makin kenal Guevara waktu buka Ensiklopedi, tentu yang berbahasa Indonesia. Ternyata, si Che anak orang kaya; lulusan fakultas kedokteran dan memilih jadi aktivis. Waktu kuliah, uang hasil jaga parkir saya belikan buku Motorcycle Diary—yang bahasa Indonesia tentunya. Hebat di usia 23 tahun, Che keliling Amerika Latin. Di usia itu saya cuma bisa ke Nias saja.


Hal yang mengejutkan saya adalah, Che pernah ke Indonesia (1959). Saya jadi makin yakin orde baru betul-betul berengsek. Suharto yang mirip Batista pasti takut pada orang macam Che. Mereka merahasiakan persahabatan sejati Che dengan Indonesia. Che bukan Amerika yang terlalu banyak kepentingan dengan Indonesia. Seperti pernah pada bilang keGreat Master,[1] “tak ada yang gratis.”
Che sahabat Sukarno. Bahkan Che sendiri merasa belajar dari Sukarno. Rezim penipu melarang semua hal berbau komunisme. Syukurlah mereka tak cekal novel Cintaku di Kampus Biru. Dimana Anton Rorimpandey sang playboy dalam novel pengagum Che Guevara. Dan, dalam filmnya  sosok Che tak saya temukan. Dasar rezim.


Che pernah ke Indonesia. Che juga pernah kunjungi Borobudur. Luar biasa. Kehebatan Borobudur bagi saya bukan karena megahnya candi itu, tapi karena Che pernah kesana. Salah satu ‘kebetulan’ yang saya sukai adalah, tanggal lahir Che, 14 Juni mirip dengan tanggal lahir adik saya.
Bagi saya, Che bukan milik kaum komunis revolusioner semata. Che milik  orang-orang yang ingin perubahan dan bebas dari tekanan. Bukan ideologinya, tapi semangatnya yang harus kita ambil. Itulah yang harus diambil dari Che. Tentang keyakinan akan perjuangannya membebaskan Kuba dari tekanan Batista. Sayang, saya lahir jauh setelah Amerika membunuhnya memakai tangan serdadu Bolivia, jadi saya tak pernah ketemu Che. Salam untukmu Che di Sana. Damailah slalu, kami bersamamu.

[1] Guru yang luar biasa hebat. (Saya pinjam istilah ini dari  Faizal “Otan” Raptautan, murid saya di Palembang dulu). 

Java Bier

Waktu saya buka, majalah Trompet edisi tahun 1939 dan 1940, saya temukan iklan Java Bier. Cukup lucu dan menarik juga.

Iklan Javabier yang menggambarkan pria sehat dan kekar. Dalam iklan tertulis: "Badannja seperti Tarzan."

Lebih lanjut ada tulisan: “Waktoe diperiksa badan, nomor satoe di lihat siapa jang mempoenjai badan koeat dan tegap. Orang2 lelaki jang mempunjai dadah lebar dan tangan koeat ala jang paling disoeka. Orang2 jang begitoe koeat dan di kagoemi minoem selamanja JAVABIER.


Iklan Javabier dengan gambar Dokter Jawa bernama Soerono (yang memakai blangkon) dan pasien anak. Tertulis kalimat pujian buat si dokter: "Ia membikin semboeh orang2 sakit."

Lebih lanjut ditulis: Dr Soerono terkenal di sekitarnja karena ia beloem pernah gagal mengobati orang. Orang2 sakit jang minta pertoeloengan kepadanja, boleh pastikan jang ia orang akan dapatkan poela kembali kesehatannja. Dr Soerono selaloe banjak pekerdjaan seringkali diwaktoe malam ia moesti pergi. Tetapi selamanja ia tinggal tegap dan goembira, ia tida mengenal tjape. Dr Soerono djoega taoe apa jang ia moesti dapat sesoedah mengoeroeskan orang soesah bersalin atau habis membikin operatie bedah dengan kesoedahan  menjenangkan, maka ia selaloe minoem Javabier. Sebab ini banjak sekali oentoek badan dan djalannja darah.

Iklan Javabier dengan gambar pemadam kebakaran (Brandweer). Dalam iklannya tertulis: Paling dimoeka memadamkan kebakaran.


Terdapat narasi iklan yang bunyinya: Djika di kasih tanda ada kebakaran, selamanja Tahulangi paling doeloe melakoekan kewajibannja. Pekerdjaan paling berbahaja, selaloe di serahkan kepadanja. Dengan tida merasa takoet naik tangga kebakaran dengan pompanja  dan tida takoet api itoe berkobar kian kemari. Dimana sadja dia datang, api itoe tjepat di bikin padam. Tida heran jang ia beloem selang lama di naikan pangkatnja. Dan djika Tahulangi poelang dengan pakaian kotor dan basah - maka istrinja tahoe apa orang jang segagah moesti dapat – satoe gelas Java-Bier. Istrinja tahoe bahoea dengan minoem Java-Bier soeaminja dapat tambah tenaga.


Iklan Javabier dengan gambar pemburu. Terdapat kalimat pujian untuk si pemburu: “Tembakannja beloem pernah gagal.”

Lebih lanjut ditulis: “Dengan berani Kadiman, satoe pemboeroe memasoeki hoetan2 lebat dengan membawa senapannja, tida takoet kepada bahaja jang datang dari segala pendjoeroe. Dan djika dikasih taoe ada matjan ia lantas ia lantas pergi melihatnja. Dengan ia poenja mata jang tadjam, lantas ia dapat katemoekan itoe matjan dan tembak mati itoe binatang dengan beberapa tembakan djitoe. Kadiman adalah orang jang paling gagah di sekitar tempatnja….. Sesoeatoe orang kagoemkan ia. Dan djika Toean tanja kepadanja kenapa ia begitoe gagah, maka ia  djawab: Tidoer siang2 dan bangoen pagi2 dan sering minoem Java-Bier.


Di semua iklan Javabier yang saya lihat,  terdapat lagi tulisan: Orang tegap dan koeat minum: Java Bier.

Kamis, November 22, 2012

Soldaat KNIL di Balikpapan

Dahulu kala KNIL punya satu pasukan di Balikpapan. Semua tinggal cerita yang hilang karna nyaris tanpa bekas

Peringatan 105 tahun KNIL oleh Batalyon Infanteri VI KNIL di Balikpapan. (1935)
Buku Gedenschriften Koninklijk Nederlandsch Indische Leger1830-1950 halaman 64, memberi sedikit tulisan tentang KNIL. Ada sebuah Batalyon Infanteri KNIL, yakni Batalyon Infanteri VI di tahun 1935. Di tahun, 1935 itu, mereka melakukan upacara kemiliteran di sebuah lapangan di Balikpapan. tak disebutkan lapangan mana. Ada dua kemungkinan: pertama di lapangan depan tangsi mereka di pertigaan Balikpapan Plaza sekarang; kedua di Lapangan BPM (yang sekarang bernama Lapangan Merdeka). Dua lapangan itu terhitung tak begitu jauh dari tangsi mereka. Tak diketahui ada berapa lapangan di Balikpapan pada tahun 1930an.

Jajaran KNIL sebelum 1940 di Balikpapan (1950)

Di tahun 1940, setelah Negeri Belanda diduduki Jerman dan bahaya semakin mengancam di Hindia Belanda, balikpapan menjadi kota penting yang harus dilindungi. Banyak pengamat sejarah mengatakan pentingnya balikpapan yang merupakan kota minyak. Sebagai kota minyak, Balikpapan menyediakan banyak minyak untuk menjalankan mesin, termasuk mesin kendaraan militer. Balikpapan jelas bisa menjadi pintu masuk bagi balatentara Jepang untuk menduduki Jawa dan selatan Indonesia lainya. Ketika Armada Selatan kedua Angkatan Laut Jepang menduduki Balikpapan dan sekitarnya, maka posisi Hindia Belanda terjepit dan Angkatan Darat Jepang bisa lebih aman bergerak ke Jawa dan daerah selatan lainnya. Karenanya balikpapan benar-benar dijaga.

Ketika KNIL dikalahkan Tentara Jepang, banyak diantara mereka yang jadi tahanan. Beberapa diantara mereka terbunuh. Seorang Letnan KNIL pribumi di Balikpapan adalah Hamid Algadrie alias Max. Dia keturunan Kesultanan Pontianak. Max lulusan Akademi Militer Breda. Istrinya kala itu adalah wanita Belanda. Di Balikapapan, Max berdinas di sana dengan ditemani istrinya. Kemungkinan mereka tak tinggal jauh dari tangsi KNIL di Klandasan. Max beruntung, dia selamat dari keganasan Jepang. Belakangan diangkat menjadi Sultan Pontianak dengan gelar Sultan Hamid II. Dia bahkan diberi pangkat Kolonel kehormatan dengan jabatan Ajudan istimewa Ratu Belanda.

Bendera Batalyon Infanteri XIV KNIL Balikpapan (1946)

Kekuatan KNIL bangkit lagi setelah tahun 1945. DI Balikpapan sendiri kemudian dibentuk lagi Batalyon Infanteri II KNIL. Batalyon ini diperkuat lagi di Jakarta kemudian. Anggota batalyon kemungkinan juga berasal dari bekas tawanan perang, yang diantaranya mantan KNIL. Ada kalanya, KNIL juga rekrut orang pribumi lagi yang dilatih dari nol. September 1946, di Balikpapan dibentuk lagi Batalyon Infanteri XIV KNIL. Mereka kemungkinan beroperasi di sekitaran Kalimantan Timur, begitu yang disebut dalam Gedenschriften Koninklijk Nederlandsch Indische Leger 1830-1950 halaman 56.

Letnan Smit bersama eks Andjing NICA lain bergabung ke TNI (1950)

Setelah itu Batalyon Infanteri XIV pindah dari Balikpapan. Pasukan di Balikpapan diganti pada akhir 1949. Pasukan Batalyon Infanteri V Andjing NICA mendarat di Balikpapan. Pasukan ini berpusat di Balikpapan sebagai markas Batalyonnya. Tak semua pasukan di Balikpapan: Kompi Pertama disebar ke Sanga-sanga dan Anggana; Kompi kedua: ditempatkan di Sepinggan, dekat dengan lapangan udara; Kompi Ketiga di Samboja; Kompi keempat dan kelima berangkat ke Tarakan dan sekitarnya. Batalyon ini terbilang ganas semasa di Jawa. Mereka itu menyerang sekitar Jogja dari arah barat. batalyon ini tak lama di balikpapan. Mereka lalu bubar. Sebagian anggotanya ada yang bergabung dengan TNI pada 1950. Letnan Smit adalah salah satu perwira yang bergabung dengan TNI. Begitu menurut buku Het ANDJING NICA (KNIL) in Nederlands-Indie (1945-1950).

Rabu, November 21, 2012

Korpsen Hulftroepen

KNIL dan KL tak sendiri. Ada pasukan bantuan  dari kerajaan-kerajaan pribumi.

Ada beberapa pasukan bantuan bagi KNIL[1] di zaman Hindia Belanda masih berkuasa. Pasukan  bantuan itu antara lain dari Legiun Mangkunegaran[2] di Surakarta; Legiun Paku Alaman di Yogyakarta; Barisan Madura dari pulau Madura; Korps Prayoda di Bali. Pasukam-pasukan itu terlibat dalam beberapa perang di Jawa.

Tangsi Korps Prajoda


Perwira Legiun umumnya berasal dari bangsawan dan priyayi kraton Mangkunegaran Surakarta. Seorang Kapten KNIL dan instruktur KNIL juga diperbantukan disini. Di Bali terdapat korpsPrayodha dengan konsep yang sama dengan Barisan Madura dan Legiun Mangkunegaran. Pasukan-pasukan pribumi itu masih meneruskan sebagian tradisi militer Indonesia asli, walau sedikit terpengaruh oleh tradisi militer barat yang dibawa Belanda. Dalam pasukan itu, jumlah perwira kraton jelas lebih banyak dan kebanyakan masih menjaga tradisi asal dibanding perwira pribumi yang aktif dalam dinas militer KNIL.[3]

Seorang Letnan Barisan Tjakra di jaman kolonial


Barisan Madoera berkedudukan di Bangkalan. Barisan merupakan pasukan militer bagi ketiga Negara di pulau Madura itu. Sesudah ketiga negara tadi dihapuskan tahun 1885, tentara dari tiga negara tadi menjadi tentara kolonial.  dalam barisan terdapat tiga kesatuan (Korps) yakni: Korps Barisan Pamekasan; Korps Barisan Sumenep; dan Korps Barisan Bangkalan. Ketiga korps itu berada dibawah pengawasan Gubernur Jawa timur. Masing-masing korps terdiri dari para infanteris yang dipimpin oleh perwira Madura sendiri.[4]


Orang Madura yang keras cocok dengan profesi militer. Meski begitu, hanya ada 151 orang Madura di KNIL di tahun 1916.[5] Orang-orang Madura itu lebih sering menjadi anggota Barisan Madura ketimbang menjadi anggota reguler KNIL. Dalam sejarahnya, Barisan Madoera pernah ada Seorang sersan anggota Barisan Madura, bernama Joedokoesoemo, yang menjadi anggota SI. Pada 16 Maret 1914 telah dipaksa untuk meletakan jabatan dan pangkat militernya sebagai bintara dalam Barisan Madoera. Namun sersan itu tidak memperdulikan paksaan dari pembesar-pembesar kolonial itu. Sebuah tindakan pada sersan Madura itu telah dipersiapkan oleh petinjggi kolonial pribumi agar sersan Barisan Madoera itu dicopot dari jabatannya sebagai bintara dalam pasukan.[6]

Barisan Bangkalan Berlatih di Alun-Alun Bangkalan

            Sejarah pasukan Barisan Madura makin hilang. Ini lebih dikarenakan Barisan Tjakra Madoera ini terlibat dalam revolusi dalamkubu tentara Belanda KNIL/KL yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Spoor. Sentimen anti Belanda di Indonesia jelas mengharamkan apapaun bebau Belanda dan dekat dengan Belanda kemudian dianggap memalukan. Tidak banyak orang Madura yang tinggal di Madura tahu tentang jejak pasukan-pasukan kraton itu. Makam-makam perwiranya bisa jadi ada di pemakaman raja-raja Madura, baik di Bangkalan atau Sumenep.


[1] KNIL:Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Berdiri tahun 1830. KNIL terbiasa menghadapi pemberontakan di Indonesia.

[2] Legiun Mangkunegaran sama seperti Barisan Madoera. Pasukan dari kraton Mangkunegara bertempat di Keraton Mangkunegaran, Surakarta. Kekuatan pasukan ini adalah satu setengah Batalyon. Dalam pasukan ini terdapat seksi mitraliur karaben. Kendati dibentuk dilingkungan kraton, Legiun Mangkunegara juga pernah dipimpin oleh Mayor Infanteri KNIL Belanda. Harsya Bachtiar, Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm.. 7.

[3] Nugroho Notosusanto, Tentara PETA Pada Zaman Pendudukan   Jepang di  Indonesia, Jakarta, Gramedia, 1979. hlm. 51.

[4] Ibid., hlm. 9

[5] R.P Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara, jakarta, Grasindo, 2003, hlm. 325-326.

[6] Pewarta Soerabaia, 18 Maret 1914

Rabu, November 07, 2012

Makam No 31

Dari sekian banyak nama, makam no 31 atas nama Nahjohan buat saya bertanya-tanya. Siapa sebenarnya yang aa didalamnya?  

Suatu pagi (13 Agustus 2012) saya mengunjungi beberapa makam pejuang  pergerakan kemerdekaan yang menurut saya terlupakan.  Bagi orang-orang tertentu mereka layak dilupakan, karena mereka dianggap kominis. Bagi mereka kominis itu salah. Gelar Pahlawan jelas tidak adil di negeri ini. Banyak yang berjasa tapi tak dapat. Ada pejabat lalim dan korup malah dipuja-puja jadi Pahlawan. Negeri yang aneh.

Tugu Muka Taman Makam Perintis Kemerdekaan di Tanah Merah, Boven Digoel

Setelah mengamati deretan nama-nama satu persatu, aku menemukan sesuatu yang membuatku semakin bingung. Ada makam no 31 di Taman Makam Perintis Kemerdekaan  Indonesia di Boven Digoel. Tertulis atas nama Nahjohan, wafat: 5 Juli 1941. Dari daftar nama orang yang dimakamkan di depan tugu makam pahlawan tertulis nama Nahjohan. Nama Nahjohan kadang disamakan dengan Thomas Najoan si tukang kabur legendaris itu. Asal mereka juga sama-sama Manado. Apakah mereka orang yang sama?

Deretan nama-nama Pejuang Kemerdekaan yang dimakamkan di Taman Makam Perintis Kemerdekaan di Tanah Merah, Boven Digoel

Kabar terakhir soal Najoan menyebut jika Thomas Najoan dinyatakan hilang di pedalaman Papua. Tidak diketahui bagaimana nasibnya kemudian. Jika benar Nahjohan yang dimaksud adalah Thomas Nayoan, dan Thomas Nayoan sendiri sudah hilang di pedalaman Papua sekitar 1941, maka makam siapakah sebenarnya yang bernomor 31 itu? Memang ada tokoh pergerakan yang meninggal di Digul tapi tak ada makamnya disana, seperti Mas Marco Kartodikromo.

Makam no 31 atas nama Nahjohan.

Jika masih hidup, Najoan mungkin akan dikirim ke Australia juga. Setelah 1945, jika dirinya masih hidup dia pasti akan direkrut jadi Officer NICA seperti Muchtar Lutfie—Digulis yang semula pemuka pergerakan Islam anti kolonial asal Minangkabau. Meski jadi officer NICA, Muchtar Lutfie adalah pecinta kemerdekaan. Diam-diam Muchtar Lutfie mendukung gerakan kemerdekaan di Makassar. Bagi orang Makassar dia juga Pahlawan. Ada jalan di Makassar yang memakai namanya. Melihat watak Najoan yang tukang kabur bukan tidak mungkin Najoan tak kalah heroik dengan Muchtar Lutfie.     

Kamis, November 01, 2012

Bonek: Serdadu Inggris Kita Linggis!

"Allah Akbar!!" Kata Bung Tomo di radio pemberontak. Di front pertempuran, pemuda yang ketemu musuh bilang: "Djiancuk!" (Mengutip dagelan Sudjiwo Tedjo) 

Pertempuran hebat di Surabaya membuat rakyat sipil Surabaya mengungsi

Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh di Jembatan Merah, Surabaya. Seorang pemuda belasan tahun tak dikenal dianggap penembaknya. Sama dengan pembunuh Mayor Jenderal Kohler di Aceh. Kohler tewas ditembak pemuda Aceh di depan Masjid Raya Aceh sekarang. Setidaknya, pemuda Indonesia jago bertempur. Bayangkan diantara mereka pernah membunuh jenderal Eropa yang pimpin pasukan tangguh. Perang Aceh berkobar hebat. Di Surabaya, Militer Inggris yang mungkin malu besar pun bombardir Surabaya yang dipenuhi pemuda nekad.

A.W.S Mallaby, Komandan Pasukan Brigade Divisi India di Surabaya.

Selama tiga tahun sebelumnya Mallaby hanya menjabat jabatan non komandan. Mallaby tampaknya terpengaruh laporan intelejen NEFIS yang menyebut orang-orang Indonesia akan menerima orang Belanda kembali. Laporan ini jelas keliru. Mallaby tak mengerti apa mau rakyat Surabaya. Dan jadi tewas di tengah gejolak revolusi Indonesia adaah harga yang harus dibayar atas kekolotan Mallaby sendiri. Serdadu Inggris bawahannya pun harus tegakan wibawa Inggris dengan menghancurkan pemuda Republik.

Serdadu-serdadu Artileri Inggris dari India melayani meriam.

Serdadu Inggris berasal dari beberapa kesatuan dan warna kulit. Banyak yang berkulit putih. Ada yang dari India (Sikh) dan Nepal (Gurkha). Tak semua orang Indonesia bisa membedakan antara Gurkha atau Sikh. Orang Sikh sering disangka Gurkha. Orang Indonesia selalu "sibuk" dengan dirinya hingga tak sempat kenali musuhnya. Diantara serdadu India kadang punya simpati pada orang-orang Indonesia yang ingin merdeka.

Dua serdadu Inggris berbeda bangsa.

Pasukan Inggris yang ada di Surabaya tergolong lengkap. Mereka punya banyak satuan Infantri yang tersebar di Surabaya dengan menyandang senapan bolt action jenis Lee Einfield  atau senapan mesin ringan Stan Gun. Dalam gerakannya serdadu-serdadu Infantri Inggris biasanya dilindungi Kaveleri yang punya kendaraan lapis baja macam panser atau tank. Di belakang, artileri mereka memberi bantuan tembakan dari meriam-meriam mereka. Inggris adalah pasukan militer yang lengkap.

Para serdadu Inggris berhasil mendapatkan keris milik orang Indonesia.

Beda dengan musuhnya, gerilyawan Indonesia hanya bersenjata seadanya. Hanya bambu runcing, golok, panah atau keris saja  dimiliki kebanyakan pemuda. Belum banyak yang punya senapan atau pistol. Bisa dipastikan banyak pemuda kena tembak dan roboh karena kalah senjata dan keahlian tempur. Musuh gerilyawan itu adalah tentara berpengalaman dalam Perang Dunia II di Pasifik. Mereka adalah pemenang perang dunia II yang bisa buat mereka besar kepala di Surabaya. Tapi 10 November 1945, adalah mimpi buruk bagi pemenang perang itu.

Serdadu Inggris dari Batalyon Pertama Yorkshire Resimen minum birSurabaya.

Serdadu-serdadu Inggris tadi, akhirnya hadapi perang kota yang tak kalah ngeri dengan perang mereka terhadap tentara fasis Jepang. Gerilyawan berjiwa merdeka yang Republikan itu memberikan perlawanan terbaiknya pada serdadu Inggris berpengalaman dengan senjata lengkap itu. Modal mereka adalah nekad. Mereka bondo nekad alias bonek sejati. Dimasa kini bonek adalah pendukung klub sepakbola Surabaya yang masih nekad. Mereka bisa membuat kereta api ekenomi bisa berjalan cepat seperti kereta api kelas eksekutif. Lebih cepat dari jadwal. Belum ada Menteri Perhubungan atau Presiden RI yang bisa bikin Kereta api Ekonomi berjalan lebih cepat. Bonek dalam sejarahnya, dalam pertempuran 10 November 1945, tak kalah hebat dari tentara, mereka tidak sekedang bilang "Inggris kita linggis!." Mereka membuktikannnya, melinggis tentara modern dengan susah payah. Tidak cuma bilang, "Djiancuk!"

Sumber foto: tropenmuseum.nl