Minggu, Juni 10, 2012

Catatan dari (film) Soegija

Ini film tak bicara masalalu, Soegija bicara soal masa kini dengan media masalalu untuk masa depan yang lebih baik. Historis sekali, meski tak andalkan fakta detail soal sejarah Indonesia.


 
Film Soegija

Bicara soal film ini, saya lihat betapa cepatnya orang Indonesia tahu kalau Kaisar Hirohito  menyerah kalah pada sekutu. Juga penggambaran serdadu Belanda derapkan langkahnya dari keretapi untuk rebut Jogja. Padahal serdadu Belanda masuk ke Jogja dengan terjun di lapangan Maguwo dan naik truk dari arah luar kota. Tapi ini film pastinya bukan buku sejarah. Film ini tak bertujuan beri detail fakta histories. Film ini lebih menginginkan menyampaikan pesan perdamaian dan keadilan (kemanusiaan).
            Kemanusiaan adalah satu, begitu tulis Soegija alias Monsinyor  Sugiopranoto—orang Indonesia yang pertama kali jadi Uskup. Tiba-tiba saya teringat  Prof Syafi’i Maarif—Profesor saya waktu kuliah dulu. Dari dia saya dengar kalimat Soegija itu. Ternyata itu ajaran dua orang hebat. Sayang tak banyak dari kita yang mau belajar dan membumikan ajaran itu.
            Banyak pesan berusaha disampaikan dalam film ini. Lihatlah dari awal sampai akhir. Ada pejuang—yang diperankan Kedung Darma Romansyah seorang penyair Jogja—berpesan agar pemimpin bangsa tahu darah yang dikorbankan pejuang jaman dulu. Makanya, pemimpin bangsa masa kini harus tahu diri kalau dulu nyawa jadi korban agar Negara yang dipimpin pemimpin yang nikmati fasilitas dari uang rakyat mengerti. Romo Soegija juga ajarkan kalau jadi pemimpin harus rela menderita. Sebuah kritik yang harus ditanggapi dengan baik oleh pemimpin masa kini.
            Meski berlatar sejarah, film ini tak sedang bicara tentang masa lalu. Masa lalu hanya sebuah media saja. Film ini bicara tentang masa kini, dan berharap masa depan yang lebih baik. Film ini cukup jujur bicara soal mental orang Indonesia yang rusuh. Serusuh masa revolusi dulu.
            Ternyata, meski berjudul Soegija, film ini tak bicara soal kehidupan Soegija melulu. Catatan Soegija adalah rekaman Indonesia masa peralihan di Semarang dan Jogja. Dari mulai runtuhnya sang penjajah serta perjuangan orang Indonesia lawan penjajah.
            Seperti pesan Soegija dalam film. Layani mereka (yang sedang ditimpa kemalangan karena perang). “Jangan layani saya!” Begitu pesan sang Romo. Gila! Pemimpin ini begitu hebat. Sulit, bisa jadi tak ada, pemimpin yang mau seperti ini di masa kini.
            Pastinya film ini punya misi. Lupakan cacian ekstrim kanan agama tertentu yang mau cekal ini film. Film ini meski berlatar gereja bukan film keagamaan apalagi propaganda agama katolik. Mentang-mentang Soegija seorang Romo—pemuka agama Katolik Jawa. Propaganda perdamaian tak bisa disanggah.
            Suara akan rindu perdamaian tergambar juga dalam lakon Lingling yang keturunan Tionghoa. Bocah manis ini kehilangan ibunya  yang diculik serdadu (cabul) Nippon. Bocah turunan Tionghoa ini bertanya, mengapa kami dijarah. Seperti nasib orang-orang Tionghoa yang selalu jadi korban penjarahan kalau ada kerusuhan.
            Ada bocah berwajah jelek yang ternaknya diculik. Dia agak kesal dengan kata merdeka karena di masa merdeka ternaknya hilang. Dia lalu terpaksa jadi gerilyawan jadi-jadian. Tapi, pelan-pelan bocah berlagak preman buta huruf ini belajar membaca juga. Kata yang pertama dia bisa baca adalah “merdeka.” Dia cuma bisa kata itu. Ketika diajak belajar dari Tan Malaka yang hebat itu, bocah ini mendadak malas dan cuma bisa bilang “gelut wae.” Dia cuma mau berkelahi pakai otot daripada belajar jadi orang cerdas. Bocah ini adalah gambaran orang Indonesia yang suka kekerasan daripada perdamaian. Perang yang tahu dirilah yang membentuk anak ini jadi suka kekerasan.
            Tergambar juga seorang perwira muda Belanda bernama Robert. Dia merasa dirinya mesin perang yang harus menghancurkan Republik Indonesia. Gambaran seorang serdadu KNIL di masa revolusi. Dia wakili sebagian watak serdadu Belanda yang bernafsu hancurkan Indonesia.
            Tergambar juga wartawan Belanda bernama Hendrik yang jatuh cinta pada Mariyem yang disapanya Maria. Cukup romantis pula. Hendrik terpesona pada mata Mariyem si Maria-nya. Sayang Mariyem lebih suka tumpahkan kekesalannya pada Belanda dengan marah-marah pada Hendrik.
            Ada lagi. Seorang perwira Jepang yang suka sekali pada lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang. Dia bisa bersikap baik pada seniman karena seniman itu bisa mainkan Bengawan Solo. Mirip adegan-adegan dalam film The Pianist-nya Roman Polanski.
            Banyak karekater berbeda disajikan. Tak melulu Soegija Sang Romo. Soegija hanya benang merah dari semua karakter yang ada. Itu karena Soegija juga gembala mereka.
            Penggarapan film ini cukup baik. Musik film garapan Djaduk Ferianto tak usah diragukan. Nuansa musik tempo dulu tersaji alami dan indah. Acting para pemain tak usah diragukan, mengalir. Kita semua percaya Garin Nugroho sang sutradara adalah jaminan yang tek perlu diragukan garapannya. Intinya, ini film bagus dari sisi penggarapan dan pesan yang disampaikan.
            Tak rugi jika anda menontonnya. Rasanya, kita harus berterimakasih pada Romo Banar. Dialah yang mengumpulkan catatan harian Romo Soegija semasa perang. Kita juga harus bersyukur kalau Romo hebat ini sudah jadi Pahlawan Nasional. Gelar yang ia layak terima karena perjuangannya. Bukan karena dia adalah pemuka agama.

Selamat menonton.





Sabtu, Juni 09, 2012

Kenapa Kitorang Kudu ke Universiteit

Universiteit di Indonesia memang rusak adanya. Tapi, bukan berarti tidak bisa bikin orang terpelajar. Masih ada harapan disana.
 Teringat kata-kata, “orang terpelajar adalah orang yang berpikir adil sejak dalam pikirannya.” Teringat Minke. Teringat orang-orang yang dulu disebut kaum terpelajar. Asal pernah injak sekolah, setidaknya sampai MULO, pun dulu disebut orang terpelajar. Sekarang, orang masuk universitas pun diragukan jikalau dia sebagai terpelajar.

Dahulu kala, Tan Malaka yang jebolan sekolah guru di Belanda bisa jadi ahli ideologi di hormati kaum komunis. Dia punya buku hebat, Madilog. Sebuah karya jenius. Sangat jenius buat orang Indonesia. Tan Malaka pernah ke Eropa. Tapi bukan untuk kuliah di universitas-universitas keren yang ada di kota Rotterdam, Delft, Amsterdam atau Leiden.

            Syahrir cuma dua tahun saja di ‘negeri penjajah’—pinjam istilah dari Harry Albert Poeze. Meski tak jelas kuliahnya, masa-masa di Negeri penjajah itulah Syahrir belajar banyak soal sosialisme dan mimpinya akan perubahan Indonesia. Tak ada yang sadari jikalau di kemudian hari Syahrir bisa ikut bikin perubahan di Indonesia, tak juga ayahnya yang Jaksa pemerintah kolonial. Kakak tiri Syahrir, Roehana Koedoes, yang tak makan bangku sekolah pun tak kalah hebatnya.

            Ini dia contoh ‘mapala’—mahasiswa paling lama. Siapa lagi kalau bukan Muhamad Hatta. Sebelas tahun kuliah di Negeri Penjajah.  Dia pernah hampir selesai di sebuah program studi. Tapi dia pindah. Di kemudian hari dia jadi ekonom. Hatta juga seorang aktivis pergerakan yang tak bisa disangkal jasanya.

            Masih banyak daftar orang Indonesia yang belajar di Eropa. Kitorang Indonesia tak pernah lupa sama Baharudin Jusuf Habibie alias Rudy. Semua orang sepakat dia jenius karena bisa bikin pesawat terbang. Dia bisa bikin orang Indonesia jaya di udara. Rudy pernah kuliah di Jerman. Dia cukup diakui sebagai teknokrat.

            Kitorang sepakat, “kalau mau pinter ya harus belajar.” Cuma itu jalannya. Terserah dengan gaya belajar macam apa. Orang Islam sepakat sama Muhammad SAW punya omongan, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Orang-orang tafsirkan ini ajakan buat kitorang semua kejar ilmu walau kita harus jauh tinggalkan kitorang punya kampung halaman.

            Lebih dari seabad lalu, Belanda terpaksa itu Politik Etis (baca: politik balas budi). Bukan melulu balas budi—yang seperti namanya. Ini juga dalam rangka agar tenaga terdidik tersedia buat kepentingan kolonialis. Tapi, yang namanya orang terpelajar seperti kata Pram dan Minke, kudu adil sejak dalam pikiran.
Butuh banyak orang pinter biar ini negeri merdeka dan maju. Tapi sayang, seperti kata orang ini negeri seperti tidak butuh orang pinter. Meski banyak pemimpinnya yang bebal, yang tidak bisa bedakan orang pinter  sama orang licik. Tak bisa bedakan orang pinter dengan robot.

Inilah Indonesia masa kini. Katanya merdeka tapi universitas atawa Universiteit bikinan pemerintah gagal bikin orang Indonesia jadi pinter. Universiteit di Indonesia banyak bikin orang-orang bermental robot daripada orang pinter en kreatif. Gagal bikin Rudy-Rudy yang kuasai teknologi maju. Gagal bikin guru bangsa atau orang hebat macam Tan Malaka atau Hatta. Tapi, meski busuk, tetap saja Universiteit masih potensial bikin orang pinter. Punya potensi bikin orang terpelajar yang sebenarnya. Yang berpikir adil.
Biar kata ini masalah super kronis, ini negeri agak beruntung sekali. Ada banyak anak mudanya yang masih punya mimpi tinggi buat jadi orang pinter dan bersikap jujur serta adil. Walau banyak dari mereka dihancurkan cita-citanya, tapi mereka seperti tak pernah berhenti bermimpi soal perubahan dan kejayaan ini negeri. Kalau kitorang muda, kitorang kudu punya mimpi. Jangan ngaku anak muda kalau tidak punya mimpi.

Mari kita ingat kata Minke en Pram, kalau orang yang terpelajar adalah orang yang berpikir adil sejak dalam pikirannya. Buat apa pinter kalau pincang pikirannya? Kalau ini dunia dipimpin orang pinter en adil, maka dunia ini aman damai. Sebaliknya, kalau pemimpinnya cuma pinter(pinteran)—ngibulin orang buat bikin kenyang perut atas en puaskan perut kebawah—lupakan saja mimpi Indonesia merdeka.
Nah. Kalau kita mau pinter en adil, kitorang punya banyak jalan. Kitorang bisa ke universiteit (sebutan universitas buat orang Belanda). Mari belajar adil en berusaha jadi pinter. Itu kenapa kitorang kudu ke universiteit. Biar kitorang juga bisa rubah Universiteit biar bisa bikin orang-orang terpelajar sejati--yang berpikir adil ari hati dan pikirannya. Bukan melulu seperti pabrik bikin sarjana. Semoga saja, kitorang adalah orang-orang terpelajar sejati itu.

NB: Terbikin untuk semua murid yang haus belajar! Mantap jaya buat kitorang semua!!

Senin, Mei 21, 2012

Geliat Rustam Effendi

Jagoan ini terlalu nekad, di kandang singa-pun dia masih berani berteriak. Dia masih bisa gembira dengan keyakinannya, walaupun akhirnya harus rela diterkam dan digigiti singa tadi.

Tokoh radikal ini telah malang melintang dalam dunia pergerakan, sejak remaja. Masa mudanya diliputi kisah pergerakannya. Dia bukanlah jago kandang. Dimanapun, pada siapapun dia berani keras, apalagi pada penindasan pemerintah kolonial di Hindia Belanda.
            Separuh karirinya dalam pergerakannya dilalui di Eropa setelah pemebrontakan PKI di Silungkang gagal yang dengan gemilang ditumpas polisi Belanda dan KNIL. Rustam Effendi bukan pengecut dengan lari dari Sumatra Barat, dia tidak lari dari kenyataan, dengan pergi ke Belanda. Ke Negeri Belanda berarti memasuki kandang singa buas yang bisa menerkam dan menggigit kapan saja

Berteriak di kandang Singa
Suatu minggu ditahun 1933, ketika Jerman dikuasai Adolf Hitler, Orang muda Hindia berpidato dalam sebuah rapat umum untuk pemilihan umum angota parlemen di Tiel. Dalam rapat umum itu pemuda itu menuduh Hitler sebagai 'Oorlogsmoordenaar' (calon pembunuh perang). Karenany pemeroiontah Belanda mengenakan delik, menghina kepala negara tetangga, pemuda itu diadili di kota itu juga. Karena kesal dengan sikap arogan sang hakim yamng terlalu merendahkan dirinya, pemuda itu berkata. "En wat doen yullie, uitbeitter in mijn land?".(Dan apa yang dilakukan Yullie, lebih baik di negerinya). Publik yang hadir dalam pengadilan itu bereaksi, mereka memberikan simpatinya pada pemuda itu dengan sorakan yang mempermalukan hakim tadi. Kendati dapat banyak simpati, tetap saja pemuda itu dijebloskan juga ke penjara. Bagi pemuda ini dikemudian hari, pemerintah Belanda dengan sengaja ingin menjegalnya sebagai anggota parlemen. Menurut ketentuan saat itu, orang terhukum tidak diperbolehkan menjadi anggota parlemen. Karena bukan terlibat kasus pidana atau perdata usaha pemerintah Belanda di negeri Belanda menghalangi pemuda itu naik ke kursi Tweede Kamer itupun gagal. Atas simpati sebagian rakyat Belanda lewat surat yang dikirim orang-orang Belanda yang simpati pada orang-orang Hindia, popularitas pemuda itu naik, dan akhirnya terpilih sebagai anggota parlemen. [1]
            Penindasan pemerintah kolonial terhadap Zeven Provincien, menimbulkan reaksi di Belanda. Kaum radikal lalu mengadakan demonstrasi besar-besaran. Suasana di parlemen juga panas karena pemberontakan itu. Ketika Rustam sedang membuat catatan, Jan Schouten dari kubu anti revolusioner yang mendukung tindakan refresif pemerintah kolonial, menurutnya pemerintah memang harus melakukan hal itu terhadap pemberontakan yang terlupakan dalam sejarah Indonesia itu. Ketika Jan Schoutman melontarkan kata-kata: "En de regering moet regeren!"  (Pemerintahan harus memerintah)—maksud kalimat itu, peme5rintah kolonial berhak menindas pemerontak diatas kapa itu. Bukan Rustam Effendi bila diam saja mendengar kalimat macam itu. Spontan Rustam melompat dan membalas kata-kata tadi dengan kalimat yang agak emosional:  "En mijn volk moet zeker creperen?" (Dan bangsaku harus terus sengsara). Peserta sidang-pun terkejut dan terdiam mendengar kata-kata Rustam tadi. [2]
            Tahun 1935, Rustam menghadiri sebuah upacara pembukaan parlemen. Banyak yang bertanya mengapa dirinya hadir? Rustam sendiri agak cemas ketika berada ditengah-tengah kaum reaksiner yang diantara berseragam militer dengan embel-embel bintang kebesarannya. Biasanya, setelah ratu memberikan sambutan, semua hadirin bersorak "leve Oranje!" (hidup dinasti Oranje). Ketika itu pula Rustam berteriak "Indonesia Merdeka!", hasirin-pun diliputi rasa panik oleh ulah Rustam yang tampak puas dengan ulanya itu. Ulah Rustam ini berbuah penganiayan polisi dan petugas keamanan yang tersebar dan bersembunyi dibalik-balik gorden. Rustam-pun babak belur atas teriakan yang berdasar dari keyakinannya itu. Harga bagi seorang yang terlalu nekad di kandang Singa. Itulah Rustam Effendi. [3]
Pemuda  Rantau
Rustam Effendi, kelahiran Padang, 13 Mei 1903, sebuah daerah yang cukup banyak melahirkan kaum pergerakan baik yang koperatif bahkan  radikal dalam sejarah. Rustam Effendi menikmati kebijakan politik etis dari pemerintah kolonial, dia mengenyam pendidikan dasarnya di Hollands Inlandsche School (SD dengan pengantar bahasa Belanda) di Padang. Setamat dari sekolah dasar, Rustam masuk Kweekschool (sekolah calon guru) di Bukittinggi—sebelumnya Tan Malaka pernah bersekolah disitu sebelum berangkat ke Negeri Belanda. Dari sekolah itu, dia meneruskan ke Hogare Kweekschool di Bandung, kendati tidak memperoleh diploma dari HKS, Rustam masih belajar lagi di beberapa lembaga pendidikan keguruan di Den Haag, ketika lari ke Belanda. Setidaknya Rustam pernah menempuh pendidikan di lagere Acte voor Onderwijs dan MO voor Ekonie, keduanya di Den Haag, Belanda. Hohe Schule für Journalistik, di Berlin. Pendidikan lain di Lenins Universiteit di Moskow. [4]
Ketika Rustam Effendi masih muda dan menjalani sekolah menengah keguruannya di Bandung, adalah masa-masa  kuartal pertama abad XX, masa-masa kolonial menjadi dewa atas tanah Hindia. Semua  lini kehidupan adalah berbau kolonial, termasuk pendidikan. Dalam politik pendidikan kolonial, siswa-siswa yang belajar di sekolah menengah, kejuruan maupun tinggi tidak pernah diajarkan ilmu atau soal-soal politik, sehingga dalam bidang ini kebanyakan siswa-siswa tidak mengerti sedikitpun tentang politik, termasuk Rustam sendiri. Ketika itu, Rustam duduk sebagai siswa di HKS (Hogare Kweek School) mempelajarinya dari ayahnya. Ayah Rustam adalah Sulaeman Effendi, salah satu tokoh propaganda NIP (Nationalis Indische Partij) pimpinan oleh Douwes Dekker, R.M. Suwardi Suryaningrat dan dr Cipto Mangunkusumo. Oleh sang ayah, Rustam sering dibawa oleh ayahnya berkunjung ke rumah orang-orang pergerakan tadi. Percakapan-percakapan dan diskusi orang-orang tua itu diamati Rustam, dari situ, sikap kritis dan benci pada orang-orang Belanda tumbuh dalam darah mudanya. Entah dirumah dr Cipto atau di rumah Douwes Dekker, untuk pertama kali Rustam mengenal  Soekarno, yang kuliah  di Technische Hoge School (sekolah tinggi tehnik) di Bandung. Kala itu hubungan Rustam dengan Soekarno cukup akrab sebagai kawan berdiskusi, hampir pembicaraan selalu diakhiri dengan ajakan Soekarno: "Ayo kita kita cari sate keluar, ambil angin!" katanya.  Mereka berdua sama-sama prihatin dengan banyaknya organisasi-organisasi pemuda waktu itu bergerak sendiri-sendiri. Mereka mengibarkan  dan mengikuti bendera kesukuannya masing-masing. Mereka antara lain: Jong Java; Jong Sumatranen Bond (JSB); Jong Minahasa; Sekar Rukun; Jong Ambon dan lain-lain. [5]
            Rustam sendiri waktu itu adalah anggota JSB, tetapi lama-lama dia tidak begitu yakin dengan corak kedaerahan organisasi-organisasi tadi. Ketika itu, belum ada format organisasi pemuda yang bergerak dan beridentitas sama dalam pergerakan, antara Soekarno dan Rustam juga belum terlintas bagaimana menyatukan mereka dalam satu wadah dan bergerak bersama. Terdorong keinginan hendak berbaur dengan pemuda-pemuda dari lain suku, Rustam-pun tertarik masuk perkumpulan DVI (Dienaren van Indie) yang dipimpin oleh dua orang Eropa, Ir Fournier dan Ir van Leeuwen. Anggota DVI ini diperoleh dengan bantuan dari tokoh-tokoh terkemuka dari organisasi kesukuan diatas, seperti Dr. Amir, Basuki, Sukamsa, Sanusi Pane, Muhamad Yamin, M. Thabrani, Adinegoro, Darsa Arsa, dan lain-lain yang kemudian menjadi orang-orang berpengaruh dalam pergerakan nasional. [6]  
            Sekitar tahun 1922 Rustam lulus dari HKS Bandung. Saat itu suasana dan gelombang politik  kaum 'non cooperation' sedang panas. Ketika itu, berdasar keputusan departement van Onderwijs melalui  telegram, Rustam telah diangkat sebagai guru kepala HIS di Siak Sri Indrapura, Sumatra. Rustam dihadapkan pada dua pilihan, jadi guru dengan pengfhasilan baik, atau hidup sebagai orang pergerakan dengan segala resiko. Tanpa pikir panjang lagi dan siap menghadapi berbagai resiko yang akan dihadapinya Rustam memilih yang kedua. Tentu saja isi telegram itu tidak lagi dipedulikannya. Rustam tidak lagi ingin menjadi guru. Akibatnya Rustam tidak mendapatkan diploma guru-nya sebagai tamatan HKS Bandung. [7]

Pelarian Politik dari Padang.
Di tanah  kelahiran saya di Padang yang penuh dengan warna pergerakan, Rustam mulai dikenal sebagai 'Jago Non'. Awalnya, menurut Soe Hok Gie dalam skripsinya Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan, Rustam tidak berani berpolitik dan dicap sebagai koperator. Namun perlahan sebagai 'anggota Inlander'  dalam gementeeraad (dewan kota) disana, dia mulai bersentuhan pemikiran non koperator. Terjadinya pemberontakan kaum komunis di Silungkang (1926). Rustam merasa, dirinya  tidak ada sangkut pautnya dengan pemberontakan kaum komunis itu, sebab saya bukan komunis, namun PID—Politieke Intellingen Dienst: polisi yang mengawasi kaum pergerakan—berusaha menjebloskannya dalam barisan komunis pemberontak itu. Untuk menghindari hal terburuk, Rustam dengan terburu-buru memutuskan meninggalkan Indonesia dan pergi ke Belanda. Mengenai pemberontakan PKI yang gagagl itu, Rustam sangat tidak menyetujuinya, seperti halnya Tan  Malaka. Rustam, menganggap pemberontakan PKI itu tidak memenuhi syarat-syarat obyektif, jadi mereka revolusi yang dicetuskan dari pertemuan di Prambanan tidak dipersiapkan secara matang. Karenanya pemberontakan itu nyaris sia-sia dan menjadi bomerang bagi kaum pergerakan pasca pemeberontakan—dimana posisi kaum non koperator semakin desak. Seperginya Rustam dari Indonesia, tercetuslah Sumpah Pemuda, sebuah langkah pertama menuju persatuan pemuda-pemuda Indonesia dari suku-suku yang berbeda menjadi satu untuk sebuah kamunitas 'Bangsa Indonesia'. Komunitas yang bukan lagi imajiner, tetapi nyata. Dikemudian hari Rustam yang saat iut di Eropa tidak menghadirinya. [8]
Belanda Rustam ditampung oleh Perhimpunan Indonesia yang diketuai Muhamad Hatta. Dari Hatta , Rustam banyak memperoleh bimbingan politik. Di PI, Rustam diperbantukan di redaksi dan administrasi majalah 'Perhimpuan Indonesia'. Seperti diketahui PI juga menjadi anggota perkumpulan Internasional 'Liga menentang Imperialisme dan menunjang perjuangan kemerdekaan Nasional bangsa-bangsa yaqng tertindas'. Di Negeri Belanda, PI merupakan menjadi tumpuan penggerak dari eksistensi dan gerakan liga-nya orang pergerakan negeri yang tertindas itu. Rustam yang ditunjuk oleh Hatta sebagai  penghubung antara PI dengan organisasi-organisasi lainnya mulai berhubungan dengan kaum radikal. Ada banyak organisasi radikal di Eropa, antara lain: 'Sosialis kiri', 'Anti Militaris', 'Anarche Syndikalis', Partai Pasifis, Komunis dan lain-lain, dengan sendirinya Rustam-pun terpengaruh. Disisi lain dirinya juga mempergunakan hubungan tersebut dengan baik, yakni memperluas propaganda pergerakan nasional di Eropa pada kaum –kaum radikal tadi. [9]
Rustam berusaha memaksimalkan kerjasama dengan mereka, baik dalam rapat terbuka maupun lewat pena. Kepada majalah-majalah kaum radikal Eropa itu, Rustam berusaha menuangkan semaksimal mungkin pemikirannya. Tulisan Rustam pernah dimuat di "Links Socialist', 'De Opbouws', 'De Anti Muiliteristi, 'De Branding', dan lain-lain milik kaum radikal itu. Dipastikan hubungan Rustam dengan kaum radikal Eropa itu menyeretnya ke arah radikalisme. Pastinya ini tidak disukai Hatta dan bisa berkibat buruk pada ideologi PI dimasa depan. Ketika Hatta hendak menyudahi studinya dan berencana pulang ke Hindia, pimpinan PI-pun diserahkan pada Abdul Syukur. Saynmgnya, pengganti Hatta ini kurang mempunyai wibawa dimata para anggota PI yang sebagian mulai radikal, termasuk Rustam.  Dimasa-masa akhir inilah Hatta menulis karangannya dalam majalah PI, didalamnya tersisip kalimat, " kami tidak ingin menjadi kuda penarik kereta Moskow."  Kalimat ini tentunya menimbulkan topan reaksi dikalangan orang-orang Komunis dalam tubuh PI. Dilingkungan PI sendiri timbul kegelisahan, yang meluap-luap dan berubah menjadi oposisi yang kuat. Ini bukan dipandang dipandang dari kepentingan komunis, melainkan dari sudut praktis politik. Menurut Rustam, jika PI atau pergerakan Indonesia lainnya memusuhi Moskow kala itu, maka kita dunia Internasional macam komintern tidak akan ada sokongan positif dari pihak mereka. Pihak oposisi ini yang dipelopori oleh Abdul Madjid, Setiadjid dan Rustam sendiri. Mereka berhasil dalam suatu rapat pleno, setelah melalui perdebatan sengit, mengalahkan Hatta dan Sutan Syahrir dengan suara terbanyak. Sejak itu PI di Belanda mulai dikendalikan oleh 'tiga serangkai' (Abdul Madjid, Setiadjid dan Rustam). Mereka-pun akhirnya terjerumus mengikuti jalur Moscow (Komintern), seperti yang dihindari atau mungkin ditakuti Hatta. Aktifitas dan popularitas Rustam dikalangan buruh Belanda , rupanya menarik perhatian Moscow juga, yang melalui CPN (Partai Komunis Belanda) mencalonkan Rustam untuk menjadi anggota Tweede kamer der Staten General. Untuk alasan itu pula Rustam-pun menjadi anggota resmi dan terbuka dari CPN itu, sedangkan kawan-kawan seperjuangan yang lain tetap dalam PI yang  sebagiannya adalah anggota ilegal. Sebelum Rustam, beberapa orang-orang Indonesia pernah dicalonkan oleh Partai Komunis Belanda, pada tiap-tiap pemilihan umum, mulai dari Tan Malaka, Alimin, Semaun, Musso, Darsono dan lain-lain. Namun tidak ada satu-pun dari mereka  yang terpilih. Dalam sejarah, Rustamlah orang Indonesia  pertama yang menduduki kursi palemen Belanda itu. Saat itu, Rustam tampil sebagai anggota termuda dari semua anggota Parlemen. [10]
Rustam akhirnya berusaha melepaskan diri dari pemgaruh Moscow yang dominan terhadap pergerakan radikal Indomnesia di Belanda. Moscow berambisi, Negara baru yang merdeka ditanah Hindia adalah negara komunis, bukan feodal borjuis. Terbukti Moscow mengutus Musso ditahun 1948. [11]
Rustam menginginkan sebuah koalisi antara kelompok sosialis yang ada, ketika sebuah ide untuk menyatukan kaum sosialis di Negeri Belanda maupun di Hindia Belanda ditolak oleh segolongan orang-orang Eropa dari pimpinan buruhreformis dan sosial demokrat Belanda, Rustam amat kecewa sekali dengan sikap orang-orang Belanda itu. Orang-orang Belanda itu dicap sebagai 'pimpinan sayap kanan SDAP (Belanda) yang sombong'. Menurut Rustam, penolakan kerjasama itu, sama saja memberikan kesempatan pada pemeritahan Colijn untuk berlaku reaksioner pada kaum pergerakan. Disisi lain hal ini juga merugikan rakyat Hindia yang tarap hidup-nya dibawah standar dan semakin menjerumuskan mereka dalam kelaparan, bahkan akan memiskinkan kaum buruh di Negeri Belanda juga. Rustam bisa bergembira ketika konsentrasi kekuatan rakyat anti imperialisme dan kolonialisasi terbentuk di Indonesia, yakni fusi pada bulan Desember 1935, antara Partai Bangsa Indonesia pimpinan Soetomo dengan Boedi Oetomo—yang awalnya didirikan dan dipimpin Soetomo juga. Fusi ini terus berkembang dengan bergabungnya organisasi kecil intelektual macam: Kelompok Intelektual Banten Tirtajasa, Kaoem Betawi, Sarekat Soematra, Partai Sarekat Selebes (Parsas), juga anggota-anggota Partai Rakyat Indonesia. Formasi ini adalah front nasional  bernama Partai Indonesia Raya. Biasa disingkat Parindra. Partai yang dip[impin oleh orang-orang koperatif macam Thamrin, Soetomo dan lainnya. Walau tidak sepenuhnya seperti yang diimpikannya, karena partai ini bersifat elitis borjuis, Rustam bisa gembira sejenak. [12]




[1] Roestam Effendi, Menyusuri Kenang-kenangan Perjuangan Masa Muda,dalam Bunga Rampai Sumpah Pemuda, dihimpun oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, Jakarta, Balai Pustaka, 1986. h. 399-400.
[2] Ibid., h. 400-401.
[3] Ibid., h. 401.
[4] Ibid., h. 396.
[5] Ibid., h. 397-398.
[6] Ibid., h. 398.
[7]  Ibid., h. 398-399.
[8] Roestam Effendi, Menyusuri Kenang-kenangan Perjuangan Masa Muda,dalam Bunga Rampai Sumpah Pemuda, dihimpun oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, Jakarta, Balai Pustaka, 1986. h. 398-399: Soe Hok Gie, Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan, Yogyakarta, Bentang, 1997. h. 29: Rustam Effendi, Sedikit Penjelasan Soal-soal Trotskisme, Jakarta, Patriot, 1950. h. 21.
[9] Roestam Effendi, Menyusuri Kenang-kenangan Perjuangan Masa Muda,dalam Bunga Rampai Sumpah Pemuda, dihimpun oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, Jakarta, Balai Pustaka, 1986. h. 398-399.
[10]Ibid., 1986. h. 398-399.

[11] Ibid., h. 402.
[12] Bob Hering. M.H. Thamrin and His Quest For Indonesian Nationshood, ab. Harsono Soetedjo, M.H. Thamrin: Membangun Nasionalisme Indonesia, Jakarta, Hasta Mitra, 2003. h. 256-257.

Jumat, Mei 18, 2012

Soegondo Djojopoespito: Romantisme Sumpah Pemuda

 
Nama Soegondo Djojopoepito dalam sejarah pergerakan nasional hanya dikaitkan dengan Sumpah Pemuda saja. Kendati dunia pergerakan dia geluti dengan berbagai resiko.


Kehidupan sebagai mahasiswa telah membawa masuk Soegondo Djojopoespito dalam dunia pergerakan. Sebuah dunia yang akan di jauhi oleh sebagian besar pegawai-pegawai kolonial. Mereka selalu memperingatkan anak-anak mereka yang dalam masa sekolah agar tidak terlibat didalamnya. Tidak jarang dunia pergerakan dilingkungan kampus menjadi alasan atas gagalnya kuliah sang aktivis pergerakan. 
Soegondo Djojopoespito dilahirkan pada tanggal 22 Februari 1905 di kota pesisir di Jawa Timur yang tersohor sejak zaman Majapahit,Tuban. Soegondo pernah kuliah di Recht Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum) Jakarta walau hanya sampai tingkat candidat II.[1]   Dari sini dapat ditarik kesimpulan, Soegondo jelas telah menikmati pendidikan modern di sekolah-sekolah dasar dan menengah sekuler berkualitas  milik pemerintah kolonial. Sekolah Tinggi pada masa Soegondo muda, yang menjadi mahasiswa, baik kedokteran, tehnik, atau hukum hanya menerima lulusan sekolah menengah Belanda model Hogare Burgere School (HBS) maupun Algemene Middlebare School (AMS). Untuk  menikmati pendidikan modern dari tingkat dasar, menengah apalagi sampai tingkat tinggi pasti membutuhkan banyak biaya. Sudah pasti Soegondo anak orang terpandang dengan penghasilan tinggi.


Yang Muda Yang Bergerak
Kaum  muda adalah elemen pembaharuan. Dengan gejolaknya, kaum muda mudah terbakar. Kaum muda hampir selalu ingin bebas dari kungkungan generasi sebelumnya. Tidak jarang kaum muda melabeli generasi tua sebagai generasi kolot. Kelak jika tua nanti mereka berubah juga menjadi generasi tua kolot juga. Setiap zaman punya jiwanya sendiri. Setiap zaman juga punya pemudanya sendiri-sendiri.
Pemuda bukan lagi anak-anak. Mereka mulai melihat dunia menjelang usia dewasanya. Mereka cenderung bereaksi terhadap hal-hal yang mereka anggap tidak cocok. Pemuda mulai berpikir apa yang terbai bagi dirinya, generasinya dan zamannya. Karenanya banyak pemuda bergabung dalam organisasi politik. Begitupun pemuda di tanah Hindia, khususnya pemuda pribumi terpelajar.
Pemuda-pemuda Hindia yang terpelajar banyak yang terjun ke masyarakat maupun belajar lagi di sekolah tinggi. Tidak sedikit pemuda yang berstatus mahsiswa sekolah tinggi tergabung dalam sebuah organisasi politik tertentu. Syarat  aktif berorganisasi politik menurut hukum kolonial pada dekade 1920an haruslah sudah menginjak usia 18 tahun. Pada umumnya mahasiswa-mahasiswa sekolah tinggi di Jakarta pastilah sudah lebih 18 tahun, jadi berhak menjadi anggota organisasi politik. [2]
Sekelompok mahasiswa tua (tingkat atas) School tot Opleiding van Indische Artssen (Stovia: Sekolah dokter pribumi) dan Recht Hoge School (RHS) mendirikan  Perhimpoenan Peladjar Peladjar Indonesia (PPPI) bulan September 1926. [3] Perhimpunan ini mendukung nasionalisme sekuler Indonesia, seperti halnya Perhimpoenan Indonesia di Negeri Belanda.
Keanggotaan PPPI terdiri dari perhimpunan pelajar kesukuan yang nama depannya memakai embel-embel "Jong" didepan nama daerah asal mereka seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks, Jong Ambon, Jong Celebes dan Jong-jong lainnya. Tidak jarang masih aktif  perhimpunan pelajar kesukuan-nya. Contohnya Muhamad Yamin dari Jong Sumatran Bond atau Amir Sjarifoedin dari Jong Bataks.  Perhimpunan ini biasa berkumpul di Indonesische Clubgebouw di jalan Kramat nomor 106 di Waltevreden (Jakarta Kota sekarang). Soegondo Djojopoespito adalah ketua PPPI ini. Indonesische Clubgebouw juga menjadi tempat tinggal  tempat tinggal Soegondo Djojopuspito dan kawan-kawan lainnya. Ditempat ini mereka diskusi masalah politik diatas rumput.hubungan antar anggota sangat akrab dan jauh dari kesan formal.
 Setelah tahun 1927 usaha membentuk "badan kontak" mengalami kegagalan. Jong Java yang sebelumnya menonjol kehilangan  dominasinya dalam dunia gerakan pemuda. Usaha pemersatuan pemuda kemudian di ambil alih perhimpunan baru macam: PPPI dan Jong Indonesia (Pemoeda Indonesia). [4]
Pada kongres pemuda tanggal 27-28 Oktober 1928, belum semua organisasi pemuda kedaerahan yang bergabung dengan perhimpunan oraganisasi pemuda semacam PPPI. Karenanya beberapa oraganisasi pemuda kemudian mengadakan perdiapan untuk melakukan fusi. Jong Java sebagai organisasi pemuda terbesar lantaran banyaknya pemuda terpelajar Jawa di Hindia. Organinsasi pemuda  tertua di Hindia ini dalam Kongres ke-XI pada tanggal 25-29 Desember 1928 di Yogyakarta memyetujui ide fusi yang sedang digulirkan itu. [5]
            Sebelum ada organisasi fusi harus ada sebuah komisi persiapan. Sebagai tindak lanjut dari Kongres-nya Jong Java, di Semarang  tahun 1929, membubarkan diri dan bergabung dengan Perkoempoelan Indonesia Moeda. Dalam persiapan fusi itu, tanggal 23 April dan 25 Mei 1929 di Gedung Indonesische Clubgebouw nomor 106, Waltevreden diadakan rapat yang dihari wakil-wakil perkumpulan yang siap melakukan fusi. [6]
            Hasil pertemuan antara perwakilan Jong Java, Jong Indonesia dan Pemuda Sumatra akan berganti nama dan menjadi perserikatan baru yang bedarkan kebangsaan bukan lagi kedaerahan atau kesukuan. [7]
            Soegondo Djojopoespito, selain di PPPI  kemudian juga bergabung  dengan Partai Nasional Indonesia-nya Soekarno, Pendidikan Nasional Indonesia-nya Hatta dan Syahrir.  Partai Sosialis Indonesia juga menjadi tempatnya berpolitik. [8]  
Sumpah Pemuda 1928
            Banyak tulisan yang menyebut PPPI ikut ambil dalam Kongres Pemuda I 1926 sebagai Panitia Kongres Pemuda I. Tulisan itu jelas tidak benar menurut Soegondo Djojopuspito. Dalam tulisannya yang berjudul Beberapa Peristiwa Yang Kurang Tepat Dalam Beberapa Karangan Tentang Sumpah Pemuda yang dimuat dalam buku 45 Tahun Sumpah Pemuda, menyebutkan bahwa panitia Kongres Pemuda Indonesia I dibentuk pada bulan April 1926, sedangkan PPPI baru dibentuk pada bulan September 1926. [9]
Sebagai perhimpunan yang baru dibentuk, peran PPPI sebagai Panitia Kongres Pemuda II. PPPI adalah penggerak dibelakang Kongres Pemuda Indonesia II dibulan Oktober 1928 itu. Tiga  pemuda berpengaruh PPPI, sesuai dengan rapat pembentukan panitia Juni 1928 berperan sebagai pimpinan komite, termasuk Soegondo yang menjadi ketua Kongres. Yamin sebagai sekretaris. Amir sebagai bendahara. [10]
Banyak pemuda yang hadir dalam kongres itu. Mereka menganakan "palmbeach licin dan distrika" juga "peci" khas Indonesia. Tidak lupa agen-agen  bahkan komisaris polisi juga hadir. Para polisi ini menjadi bahan tertawaan dalam kongres yang dikemas dalam bentuk halus oleh pengoloknya. [11]
            Banyak yang mengira Kongres Pemuda Indonesia II adalah sebuah rapat besar dengan peserta dari seluruh Hindia Belanda datang mewakili daerahnya masing-masing. Soegondo memiliki kesaksiannya sendiri mengenai lahirnya Sumpah Pemuda yang sakral itu. Soegondo menulis:
Banyak orang mengira bahwa pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 itu para pemuda dari seluruh Indonesia datang ke jakarta untuk mengadakan Kongres, yang dinamakan kongres Pemuda Indonesia II (Bahasa Belandanya: Tweede Indonesische Jeugd Congres). Sebetulnya tanggal tersebut  oleh panitia Kongres Pemuda II (Bahasa Belandanya: Tweede Indonesisische Congres Commite) diadakan tiga rapat umum. (terbuka untuk semua orang yang suka datang mengahadirinya). [12]
Rapat umum lebih bersikap terbuka dan tidak eksklusif dimana yang hadir hanya anggota saja. Kongres mempersilahkan siapa saja hadir menyaksi pemuda-pemuda terpelajar merumuskan eksistensi pemuda di tanah Hindia kala itu. Ramainya Kongres Pemuda Indonesia II ini pastinya terus dipantau oleh aparat pemerintah kolonial. Hindia Belanda menjadi rumah kaca bagi kaum pergerakan, sehingga dengan leluasa pemeritah dapat mengawasi tiap gerak orang pergerakan. Soegondo juga menggambarkan ramainya Kongres-nya:
Sebagian hadirin adalah khalayak ramai. Di antara khalayak ramai itu hadir juga undangan, yaitu: wakil perkumpulan-perkumpulan pemuda, parpol, ormas,, dan orang-orang terkemuka. Hadir pula untuk menjalankan tugas dinas: PID (Politieke Intelichtingen dienst) dan pegawai (Kantoor voor Inlandsche Zaken) (kantor ini membuat laporan kepada gubernur jenderal; laporannya sering membelaorang indonesia dan berbeda dengan laporan PID; kepala kantor ini antara lain ialah Dr Hazeu, Gobee, van der Plas). [13]
            Menurut hukum kolonial masa itu, polisi berhak untuk menghadiri semua rapat umum tanpa terkecuali. Tujuan pemerintah kolonial adalah untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum. Mereka juga memiliki wewenang untuk menegur bahkan menbubarkan suatu rapat umum bila rapat umum dinilai memprovokasi masa kearah sikap anti pemerintah. [14]  

           
Lagu Indonesia Raya
Wage Rudolf Supratman yang wartawan sering mengunjungi Indonesische Clubgebouw tiga kali seminggu sebelum kongres Pemuda II diadakan. Soegondo dapat kabar dari Thabrani bahwa W.R. Supratman memiliki konsep lagu kebangsaan. Di rerumputan halaman Gedung Komedi depan Stasiun Gambir, Soegondo meyarankan kepada kawan-kawannya yang sedang berkumpul agar lagu itu nantinya dinyanyikan di Indonesische Clubgebouw. Sekumpulan pemuda ini termasuk Soegondo lalu sepakat untuk menjadikan lagu ciptaan Supratman sebagai lagu kebangsaan Indonesia raya. [15]
            Pada malam penutupan Kongres Pemuda Supratman berangkat lebih awal. Setelannya jas putih-putih, peci dan sepatu putih mengkilap. Biolanya tidak lupa dibawa. Soegondo menjanjikan lagu itu akan dibawakan saat istirahat. Ketika secarik kertas berisi naskah lagu dari Supratman diberikan kepada Soegondo, timbul keraguan karena lirinya yang mengindikasikan tuntutan kemerdekaan. Soegondo takut bila dinyanyikan maka acara malam penutupan kongres terancam bubar, padahal hasil kongres akan dibacakan saat penutupan. [16]
 Soegondo lalu mendatangi Kepala Kantoor Inlands Zaken (urusan pribumi) van der Plas. Van der Plas kemudian bilang: " Tuan jangan bertanya kepada saya, tapi kepada tuan yang disana itu." Maksud van der Plas tuan yang disana itu adalah Komisaris Polisi. Soegondo yang takut bicara dengan polisi itu kemudian berinisiatif  dengan  meminta kepada Supratman agar lagu tersebut dibawakan instrumennya saja, tanpa lirik. [17]
Waktu jeda rapat kongres tiba. Terlebih dahulu Soegondo memperkenalkan Supratman yang akan memainkan sebuah lagu. [18] Supratman maju ketempat yang disediakan dan semua hadirin diam sejenak. Didepan khalayak ramai lagu Indonesia Raya tanpa lirik diperdengarkan dengan gesekan biola Supratman. Hadirin terpaku. Rupanya panitia meminta Supratman memperdengarkan lagi. Kali ini hadirin berdiri ketika lagu diperdengarkan. [19] Saat itu ada 1.000 orang yang memadati gedung Kongres Pemuda itu. Supratman telah membuat 1.000 orang itu terharu. [20]
Seperti tradisi yang masih dianut bangsa Indonesia saat ini, ketika lagu Indonesia Raya semua orang diminta berdiri seperti pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 tersebut.
            Sudah biasa dalam karangan-karangan tantang sumpah pemuda selau ada cerita tentang diperdengarkannya lagu Indonesia Raya kepada khalayak untuk pertama kalinya.  Ada orang yang menulis, bahwa WR Supratman menyanyikan lagunya sambil memetik gitar dan diiringi permainan biola serta ukulele seperti keroncong. Ada juga Supratman mengiringi dengan biolanya anak kecil yang bernyanyi.  Soegondo tidak menyalahkan semuanya.  Bagi Soegondo semua itu benar tetapi konteks waktu dan tempatnya tidak sama.

 Lagu Indonesia raya telah dimainkan berkali-kali dan dimana-mana, dengan iringan biola, dinyanyikan bersama-sama., dalam koor dan orkes. Saya ingat rapat rapat penutupan Kongres Pemuda Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928.....di Kramat 106, diruangan yang sama waktu Indonesia Raya diperdengarkan untuk pertama kalinya. Pada rapat penutupan itu dinyanyikan bersama-sam oleh hadirin. Para penyanyi kelihatan sedikit tersenyum, oleh karena seorang utusan dari Solo terdengar terang suaranya dengan nada "pelok." [21]

Sumpah Pemuda menjadi awal diperkenalkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya setelah diciptakan W.R. Supratman. Lagu ini menjadi lagu  sakral bagi bangsa Indonesia sampai sekarang. Keberadaannya sebagai lagu kebangsaan benar-benar tidak bisa digugat atau digantikan lagu-lagu lainnya.

Hidup Untuk Pergerakan
Masa muda Soegondo jelas dihabiskan dalam dunia pergerakan kaum muda yang juga menentang kolonialisasi dengan caranya sendiri. Tahun  1929 dia keluar dari kampusnya. Setahun sebelumnya dia telah memimpin sebuah Kongres yang akan selalu dikenang dalam sejarah bangsa Indonesia. Tidak diketahui mengapa dirinya tidak menamatkan kuliahnya. Bisa jadi riwayat Soegondo mirip Arnold Mononutu, pemuda Sulawesi Utara yang gagal kuliahnya lantaran terlibat dalam dunia pergerakan. Selama kuliah di Negeri Belanda, Arnold Mononutu alias Om No pernah distop biaya hidupnya di Eropa atas paksaan Pemerintah Hindia Belanda kepada orang tuanya yang pegawai pemerintah. Antara Arnold Mononutu dengan Soegondo pernah mengajar bahkan memimpin di Perguruan Rakyat di Jakarta. Arnold Mononutu manjabat terlebih dahulu. Setelah Arnold pulang ke Sulawesi Utara, jabatan itu dipegang Soegondo.[22]
Pekerjaan yang dijalani Soegondo sekeluarnya dari RHS nyatanya tidak sesuai dengan apa yang dipelajarinya di RHS. Bukan kantor pokrol (pengacara) yang ditempati, tetapi ruang kelas. Soegondo menjadi guru di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta sebelum mengajar di Perguruan Rakyat di Jakarta.  Di Taman Siswa Bandung Soegondo pernah mengajar. Dunia jurnalistik juga pernah di geluti oleh Soegondo sebagai wartawan setelah terkena larangan mengajar pada tahun 1934. Soegondo juga ikut membantu penerbitan koran Batavia Nieuwsblad dan Indische Courant di Surabaya.[23]
Anggota Jong Java, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, Partai politik Partai Nasional Indonesia, Pendidikan Nasional Indonesia. Hidup Soegondo Djojopoespito dalam pergerakan juga membuatnya menikah dengan Suwarsih Djojopoespito, seorang wanita yang juga dekat dengan kaum pergerakan. Bagi Soegondo dunia pergerakan untuk merubah Hindia Belanda menjadi tanah yang merdeka adalah hidupnya.
Jelas Soegondo adalah salah satu tokoh yang ikut memperkenalkan lagu Indonesai Raya sebagai lagu kebangsaan bangsa Indonesia. Soegondo yang merasa terjepit oleh janjinya kepada Supratman untuk memperdengarkan lagu itu disatu sisi dan reaksi yang akan timbul jika lagu tersebut dinyanyikan dengan liriknya yang revolusioner pasti akan menyeret kongresnya dalam bahaya karena dibubarkan padahal hasil kongres harus dibacakan diakhir kongres. Akhirnya Soegondo berinisiatif  dengan meminta Supratkan memainkan musiknya saja tanpa lirik. Walau begitu musikalitasnya mampu mengharukan pendengar kanya.
Tindakan Soegondo ini membuktikan bahwa dirinya telah berlaku bijak. Dia telah menjaga jalannya kongres juga membantu Supratman dalam menggugah rasa kebangsaan orang Indonesia masa itu dengan lagu Indonesia Raya.
Setelah Sumpah Pemuda berlalu, walaupun masih bergerak dalam dunia pergerakan popularitas Soegondo Djojopoespito seolah menghilang. Namanya hanya dikaitkan sebagai ketua Kongres Pemuda Indonesia II yang melahirkan Sumpah Pemuda dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.  


[1]45 Tahun Sumpah Pemuda, Jakarta, Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta & PT Gunung Agung, 1974. h. 209.
[2] Hans van Miert, Dengang Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930, Jakarta, KITLV-Hasta Mitra-Pustaka Hutan Kayu, 2003. h. 495.
[3] 45 Tahun Sumpah Pemuda, h. 211.
[4] Jong Indonesia ( Jong/Pemuda Indonesia yang didirikan di Bandung, 20 Rebruari 1927 oleh pelajar Algemene Middlebare School (AMS) Bandung. Salah satu dari pelajar itu adalah Soetan Sjahrir. (Hans van Miert, h.495-496)
[5] Restu Gunawan, Muhamad Yamin dan Cita-cita Persatuan, Yogyakarta: Ombak, 2005. h. 28.
[6] Ibid., h. 29.
[7] Ibid.
[8] 45 Tahun Sumpah Pemuda.  h. 209.
[9] tiga tokoh itu dibantu panitia lain yakni: Djohan Muhamad Tjai, Senduk, Leimena dan lainnya. ( 45 Tahun Sumpah Pemuda.  h. 209)
[10] Restu Gunawan,. h. 25-26
[11] Hans van Miert, h.502-503.
[12]  45 Tahun Sumpah Pemuda.  h. 209.
[13] Ibid., h. 209-210.
[14] Ibid., h. 209.
[15] Yanto Bashari &Retno Suffatni, Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta, LKiS, 2004. h.312.
[16] Ibid., h. 317-318.

[17] Hans van Miert, h.500.
[18] Ibid.
[19] Yanto Bashari &Retno Suffatni, h. 317-318.
[20]  Hans van Miert, h.500.
[21] 45 Tahun Sumpah Pemuda.  h. 212.
[22]  Ibid., h. 209-213.
[23] Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta, PT Cipta Adi Pustaka, 1989. h. 388.

Husein Djajadiningrat: Doktor Indologi Pribumi Pertama Untuk Hindia



Kenapa harus bukan orang Indonesia yang mengerti soal Indonesia. Dan, Indolog di jaman kolonial adalah orang-orang Belanda sampai munculnya Hoesein Djajadiningrat. 
 
 
Harusnya orang Indonesia mengerti tentang Indonesia. Beruntung, meski sudah berabad-abad dalam genggam kolonialisasi Belanda, Indonesia akhirnya punya ahli semacam Hoesein Djajadiningrat. Anak keluarga besar Djajadiningrat, yang adik birokrat Banten kesohor Ahmad Djajadiningrat ini, termasuk lulusan Leiden sohor juga.

Penikamat politik Etis
Max Havelaar baru saja meneriakan kekejaman tanam paksa di Jawa. Orang-orang dinegeri Belanda-pun tersentak, termasuk kaum liberal Belanda, ramai-ramai mengutuki sistem buatan van den Bosch itu. Muncullah van Deventer, sebuah perubahan tingkat elit feodal tanah jajahan mulai bergulir, sekolah model barat mulai dibuka untuk bumiputra kelas atas. Sekolah yang akan membawa mereka ke barat.
Tersebutlah seorang bupati Banten, kemajuan barat ingin pula diraihnya lewat anak-anaknya. Bupati itu tidak lewatkan kesempatan dari pemerintah kolonial itu. Sepertihalnya bupati Jepara diakhir abad XIX, ayah Kartini dan Sosrokartono, menyekolahkannya anak-anaknya ke sekolah model Belanda. Kedudukan bupati adalah tiket bagi anak-anak untuk dapat sekolah dasar di Europe Lager School selama tujuh tahun, lalu melanjutkan selama tiga atau lima tahun di sekolah menengah, Hogare Burger School (HBS).
Hoesein Djajadiningrat salah satu anak bupati itu. Terlahir di Banten pada 8 Desember 1886.1  Nama lengkapnya adalah Pangeran Aria Husein Djajadiningrat. Lahir di Kramat Waru, sebuah distrik diantara Serang dengan Cilegon Banten. Beruntung ayahnya berpandangan maju hingga bisa merasalkan pendidikan modern.2 Husein salah satu anak bupati Banten yang mengecap pendidikan barat sampai tingkat Hogare Burger Schoool--sekolah menengah lima tahun dan bila lulus bisa meneruskan ke universitas. Model sekolah sekolah yang hanya bisa dinikamti segelintir anak pembesar pribumi sampai awal abad XX. Sekolah kalangan terbatas itu juga dinikmati saudara-saudara Husein, Ahmad dan Hasan.3
Kakak Husein, Pangeran Ahmad Djajadiningrat kemudian menjadi seorang bupati di Serang dan Hasan menjadi tokoh Sarekat Islam berpengaruh di Jawa Barat diawal pergerakan nasional--sebelum kahirnya meninggal di tahun 1920. Ahmad dan Husein menjadi murid Snouck Hurgronje--sang etisi paling berpengaruh Hindia Belanda diawal abad XX. Setidaknya ada enam orang--termasuk Husein--anak bupati Serang yang lulus HBS. Diantara semua saudaranya itu, Husein-lah yang berhasil mencapai tingkat doktor di Leiden, Belanda.4
Keluarga ini berusaha menyekolahkan anaknya di sekolah Belanda yang mayoritas siswanya adalah orang-orang Belanda. Kakak Husein, Ahmad bahkan pernah menggunakan nama Willem van Banten agar bisa memasuki HBS, ketika kesempatan orang pribumi untuk bersekolah disitu belum terbuka dengan baik.5

Indolog Pribumi
Sekitar pergantian abad XIX ke XX, Indonesia, kala itu masih bernama Hindia Belanda masih berada dalam kekuasaan kolonial Belanda. Segala sesuatu di tanah ini nyaris hanya diketahui oleh orang-orang non pribumi. Akademisi Belanda berdatangan, dalam jumlah kecil, ke Hindia Belanda. Mereka menggali dan mempelajari banyak hal mengenai tanah Hindia. Mereka, akademisi barat itu, meramu apa yang mereka pelajari dari tanah Hindia menjadi apa yang disebut Indologi, sebuah disiplin ilmu wajib bagi calon pegawai kolonial kulit putih yang ingin jadi Meneer di tanah Hindia.
Tercatat nama besar Snouck Hurgronje diantara deretan akademisi Belanda itu. Orang yang  berjasa besar bagi perkembangan kolonialisasi Belanda di Hindia. Jiwa akademisi Snouck ikut pula menghancurkan eksistensi sebagai sebuah negeri merdeka , Aceh yang terus bergolak. Snouck adalah penasehat pemerintah kolonial untuk urusan pribumi Hindia. Snouck cukup akrab dengan aristokrat lokal macam Bupati Djajadiningrat. Semua anak-anak bupati mengenalnya, apalagi Husein.
Atas anjuran Snouck, selulusnya dari HBS Husein berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pelajarannya. Awalnya belajar bahasa latin dan Yunani Kuno antara tahun 1904-1905 di sebuah Gymnasium kota Leiden, lalu ikut ujian masuk Universitas Leiden.  Husein lulus diterima dan menjadi mahasiswa calon sarjana pada jurusan bahasa dan sastra kepulauan Indonesia.6 Husein tidak berhenti pada tingkatan sarjana namun terus sampai tingkat Doktor. Husein merasa tertarik dengan ilmu sejarah, dia berniat melihat tanah Hindia, yang juga tanah kelahirannya dengan kacamata historis.
Minat Husein pada Sejarah Aceh berkembanag ketika ikut serta dalam lomba menulis  tentang kesultanan Aceh. Kesultanan yang pernah ikut dihajar oleh Snouck Hurgronje lewat nasehatnya pada pemerintah kolonial. Sebelum merampungkan disertasinya, Hoesein pernah mengikuti sayembara menulis pada tahun 1908 di Universitas Leiden. Tulisannya berjudul Critisch Overzicht van de Maleische Werken Vervatte Gegevens van het Sultanaat van Aceh, dimuat di BKI deel 65 dan terbit tahun 1911.7
Sebelum ikut menulis itu, Husein terlebih dahulu meneliti naskah-naskah Melayu. Usaha yang tidak sia-sia, setidaknya bagi bumiputra macam Husein budaya Melayu tidak jauh dari dirinya sebagai orang Banten penganut Islam. Husein akhirnya menang.
Atas kemenangan itu Husein mendapatkan hadiah Medali. Ternyata orang Asia tidaklah terbelakang dan Husein bukanlah Sickman Asia. Setelah kemenangan itu Husein terjun semakin dalam menggali sejarah dan kebudayaan Hindia, khususnya Aceh selama beberapa tahun sebelum beralih pada daerah lainnya.
Sejak Mei 1914 sampai April 1915, Husein mulai mempelajari lebih dalam bahasa Aceh untuk membuat kamus bahasa Aceh-Belanda. Hasil kerjanya berupa Atjeh-Nederlandsche Wordenboek. Kamus itu lalu diterbitkan tahun 1934. Kamus ini dinilai sebagai kamus bahasa daerah terlengkap selama beberapa dekade. Tida heran jika Snouck Hurgronje kagum pada Husein. Bahkan dianggap memiliki reputasinya sama hebatnya sebagai Indolog dengan sang guru.
Kehidupan mahasiswa Husein ditutup dengan disertasinya mengenai sejarah Banten, tanah tempat dia lahir, tanah dimana keluarganya dijunjung. Husein sendiri, dalam sejarah pendidikan modern Indonesia, adalah orang pertama yang mempertahankan disertasi-nya di Universitas Leiden, tahun 1913, dengan judul: Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Pandangan Kritis Tentang Sejarah  Banten). Karena disertasinya itu, Hoesein di anggap sebagai pengganti Brandes, orang Belanda yang ahli keperubukalaan Jawa.8
Prof. H. Kern, salah seorang kolega Snouck Hurgronje, sangat memuji disertasi Husein itu. Terlihat dalam resensinya pada majalah De Gids di negeri Belanda. Kepada Husein, Kern sangat berharap agar ada lagi karya-karya Husein Djajadingrat yang lainnya setelah disertasinya itu.9
Disertasi itu lalu diterbitkan oleh Jon Enschede tahun 1913 di Haarlem. Pada halaman 201-212, Hoesein mengatakan bahwa bagi orang Jawa ramalan atau mimpi menandakan sesuatu atau memberikan suatu kesan yang mendalam.10 Bertindak sebagai promoter Hoesein, adalah Snouck Horgronje.
Jadilah Husein seorang Indolog tingkat dokter pertama bagi orang pribumi. Tidak hanya doktor Indologi pertama, tapi juga Doktor pribumi pertama lulusan Universitas Leiden yang menyimpan banyak bahan mengenai Indonesia itu. Karya tulis Husein termasuk disertasinya adalah sumbangan orang pribumi mengenai kajian tentang Hindia yang lebih didominasi oleh orang-orang Belanda. Husein telah mensejajarkan dirinya dengan mereka, orang-orang Belanda orientalis itu.
Karya-karya Husein sebagai Indolog antara lain; De Magische Achtergrond van de Maleische Pantoen yang merupakan pidato ilmiah pada tanggal 28 Oktober 1933, saat acara ulang tahun Recht Hoge School ke 9. karangan Husein tentang Islam adalah De  Mohammedaansche Wet en het Geetesleven der Indonesische Mohammedaansche Wet en het Geetesleven der Indonesische Mohammedaanen, juga pidato ilmiah Husein. Pada perguruan tinggi yang sama pada tahun 1925, ketika perguruan tinggi itu baru setahun.11 Semuanya dihasilkan oleh Husein ketika dia sudah berada di Indonesia.
Ada sisi baik dari suksesnya studi Husein mengenai Indologi di Leiden dengan predikat camme laude. Pemuda Indonesia ternyata bisa meraih prestasi akademik. Gagasan untuk mendidik kader pribumi, macam Husein Djajadiningrat, sekelompok kader yang akan membantu pemerintah kolonial menjalankan pemerintahan--dalam posisi terbatas--di Hindia Belanda. Gagasan itu kemudian diterima dan dijalankan oleh pemerintah kolonial, walau hanya sampai tahun 1931 saja.12

Kantoor voor Inlandsche Zaken
Husein akhirnya kembali ke Indonesia, setelah lebih dari sepuluh tahun di negeri Belanda belajar tentang tanahnya, Hindia, tanah yang asing bagi anak-anaknya. Mungkin tidak bagi Husein Djajadiningrat. Selama di Indonesia , Husein tetap bergelut di dunia ilmu pengetahuan. Setamat dari Leiden, awalnya Husein bekerja sebagai peneliti bahasa-bahasa di Indonesia pada  Kantoor voor Inlandsche Zaken (kantor Urusan Bumiputra) sampai tahun 1918. Sejak 19  Mei 1920 sampai dengan tahun 1925, Husein bekerja sebagai Adjunct Adviseur voor Inlandsche Zaken (Ajun/wakil penasehat urusan pribumi Hindia Belanda) pada kantor yang sama.13
Kantor tempat Husein bekerja, Kantoor voor Inlandsche Zaken, berdiri sejak tahun 1899 oleh Snouck Hurgronje, pelindung Husein juga. Kantor ini diisi oleh banyak orang antara lain ahli agama Islam, bahasa sastra maupun bahasa. Beberapa orang Belanda terkemuka yang pernah duduk dikator ini adalah G.A.J. Hazeu, D.A. Rinkes, R.A. Kern, E. Gobee, G.F. Pijper juga Charles van Der Plas.14
Setelah Snouck Hurgronje kembali ke Belanda tahun 1906, ditunjuklah  Hazeu sebagai pengganti untuk mengurusi permasalahan yang dihadapi pemerintah kolonial terhadap orang-orang pribumi. Hazeu dan beberapa orang lainnya adalah orang yang peduli dan sedang mengawasi pendidikan beberapa anak bumiputra, termasuk pada Alimin--salah satu anak angkat Hazeu yang belakangan menjadi tokoh PKI terkemuka di Indonesia.15
Kegiatan Husein selain bekerja di Kantoor voor Inlandsche Zaken setelah kepulangannya dari Belanda juga bergerak dibidang jurnalistik dan pendidikan mengenai kebudayaan Jawa. Tahun 1919 Husein mendirikan Java Institut dan menerbitkan majalah bulanan Djawa ditahun 1921. Husein menjadi redakturnya bersama J. Kats, Sam Koperberg, R. Ngabehi Poerbatjaraka dan J.W. Teiler. Tahun 1924, Husein diangkat sebagai guru besar di Recht Hoge School--Sekolah Tinggi Hukum--di  Jakarta untuk mata kuliah bahasa Melayu dan hukum Islam.16 Setahun setelah menjadi pegawai di kantor itu (1925), Husein tidak lagi menjabat sebagai Adjunct Adviseur voor Inlandsche Zaken.17
Karir Husein di Kantoor voor Inlandsche Zaken terbilang baik, ada saja orang-orang Belanda yang selalu menaunginya, walau Snouck sudah pulang ke Belanda, sebut saja beberapa orang disekitar Kern--yang menjelang jabatannya sebagai kepala kantor itu pada tahun 1926 mengajukan Husein sebagai Adviseur voor Inlandsche Zaken. Orang-orang itu merasa, Kantoor voor Inlandsche Zaken--yang mengurusi urusan orang pribumi yang mayoritas Muslim--tidak pernah dipimpin oleh orang-orang Muslim. Menurut mereka, kantor itu haruslah dipimpin oleh orang Muslim uyang tentunya mengerti banyak mengenai Islam.18 
Kantoor voor Inlandsche Zaken pada dua dasawarsa pertama memainkan peranan yang cukup baik di Hindia Belanda. Dua dasawarsa itulah masa keemasan kantor itu. Setelahnya, kantor itu tidak lebih daripada sebagai tempat pengaduan saja. Parahnya, pegawai yang ada tidak memiliki keahlian untuk menanggapi pengaduan tersebut. Disisi lain Bousquet--orang diluar Kantoor voor Inlandsche Zaken--mengkritik bahwa Kantoor voor Inlandsche Zaken terlalu menitikberatkan pada masalah Islam semata. Karenanya, dalam sidang Volksraad, para adviseur-nya bahkan juga Kantoor voor Inlandsche Zaken sempat menjadi pembicaraan dalam sidang dewan rakyat yang nyaris tidak merakyat itu.19
Dimata orang-orang Pribumi, Kantoor voor Inlandsche Zaken sering dianggap sebagai kantor mata-mata. Tuduhan itu berlebihan, seolah memposisikan Kantoor voor Inlandsche Zaken tidak ubahnya dengan Politieke Intellingen Dienst (PID)--polisi politik Belanda yang rajin mengawasi ruang gerak kaum pergerakan. Alasan tuduhan itu dikarenakan orang-orang dari Kantoor voor Inlandsche Zaken kerap hadir dalam pertemuan yang dihadiri orang-orang pergerakan, seperti hanya PID. Ditengah kritik dari berbagai pihak kantor ini mampu bertahan sejak dipimpin oleh Snouck Hurgronje sampai menyerahnya Hindia Belanda pada Tentara Pendudukan Jepang.20
Husein Djajadiningrat Dengan Kaum Pergerakan
Sayang, Husein tidak bertahan lama di kantor itu. Dirinya hanya bisa menjadi wakil saja tanpa bisa menjadi penasehat pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Entah apa yang akan dilakukan oleh Husein jika dirinya menjadi penasehat. Apapun alasannya, pemerintah kolonial tidak menginginkan orang pribumi masuk terlalu dalam pada jajaran birokrasinya, kendati orang pribumi yang bersangkutan adalah orang kompeten mengenai masalah yang terjadi di tanah Hindia Belanda. Dimanapun kaum kolonialis sejati takut perubahan
Setelah menjadi tenaga pengajar yang cukup prestisius di RHS, Husein pernah menjabat 'Ketua Panitia Perbaikan Peradilan Agama” sejak 1934. Hasil kerja Husein dan tim-nya adalah didirikannya 'Mahkamah Tinggi Islam' pada tahun 1937.  Figur Husein kahirnya makin bersinar pada tahun 1935, Husein diangkat menjadi anggota Raad van Nederlandsche Indie  (Dewan Hindia). Lima tahun kemudian, 1940, diangkat sebagai direktur Departemen Pengajaran dan Ibadah. Tahun 1941 sampai dengan 1946, Husein diangkat lagi menjadi Raad van Nederlandsche Indie.. 21 Tentunya jabatan itu hanya dipangku sampai 8 Maret 1942 karena Hindia Belanda menyerah tanpa syarat Jepang.
Husein selalu berusaha memperhatikan perkembangan pendidikan di Hindia Belanda. Dia pernah melaporkan diantara putra raja hanya Pengeran Hadiwidjojo-lah yang menaruh minat pada pengetahuan mutakhir dunia yang sedang berkembang.22 Pemuda pelajar dari Jong java pernah datang pada Husein, yang sudah menjadi doktor dalam bidang sastra timur dan  Indologi, untuk meminta saran sebuah vandel.23 Posisinya  sebagai direktur Departemen Pengajaran dan Ibadah diakhir kolonialisasi Hindia Belanda, memberinya kesempatan lebih untuk itu, kendati dalam waktu singkat dan hasil yang tidak terlalu signifikan.
Husein digolongkan sebagai intelektual terkemuka diakhir kolonialisasi Belanda di Indonesia.24 bersama Thamrin dan Koesoemo Oetojo, Husein membuat rencana tentang penggunaan kredit dari Bank-bank Jepang untuk membangun perusahaan dagang di Jepang bagi Importir dari Indonesia.25 Peran Husein Djajadingrat dalam pergerakan nyaris tidak terlihat, termasuk dalam kaum koperatif sendiri. Posisinya sebagai birokrat sebenarnya pernah menyelamtkan kaum pergerakan, seperti perlindungannya pada Douwes Dekker yang selalu dicurigai berskongkol dengan Jepang oleh aparat hukum kolonial.
Douwes Dekker pernah diminta menyampaikan pada Husein sebagai direktur Pendidikan untuk mengadakan survey Ekonomi untuk kepentingan Jepang diakhir kekuasaan Belanda.26 Rupanya Dekker selamt karena Husein Djajadiningrat-lah yang memberikan izin survey itu.27 Husein hadir saat Thamrin dimakamkan--setelah kematian Thamrin sebagai tahanan rumah saat Thamrin masih menjadi anggota Volksraad. Ini bukti bahwa Husein memiliki keterkaitan dengan pergerakan nasional, terlepas dari besar kecilnya peran dia dalam pergerakan.









1 P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Jakarta, KPG & Tenbi, 2002. h. 209.
2 Ensiklopedia Nasional Indonesia., h. 281.
3 John Legge, Kaum Intelektual dan Perjuangan Kemerdekaan, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1993.  h. 29.
4 A.P.E. Korver, Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil?, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1985. h. 251.
5 H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta, LP3ES, 1985. h. 153.
6 Ibid., h. 152.
7 P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Jakarta, KPG & Tenbi, 2002. h. 172.
8 Ibid., h. 96.
9 H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta, LP3ES, 1985. h. 154.
10 P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Jakarta, KPG & Tenbi, 2002. h. 141.
11 Ensiklopedia Nasional Indonesia., h. 283
12 H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta, LP3ES, 1985. h. 42.
13 Ibid., h. 153.
14 Deliar Noer., h.  26.
15 H. Aqib Suminto, h. 42.
16 Ensiklopedia Nasional Indonesia., h. 283
17 H. Aqib Suminto, h. 153.
18  Ibid.,h. 209-210.
19 Ibid., h. 205-207.
20 Ibid., h. 208-209.
21 Ensiklopedia Nasional Indonesia., h. 283: H. Aqib Suminto, h. 42.
22 Hans Meirt, Dengan semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda Di Indonesia (1918-1930), Jakarta, Hasta Mitra, Pustaka Hutan Kayu & KITLV, 2003. h. 291.
23 Ibid., h. 71.
24 Bob Hering., h. 356.
25 Ibid., h. 369.
26 Ibid., h. 375.
27 Ibid., h. 404.