Jumat, Agustus 26, 2011

Ini Negeri (tara) Lutju

"Pilih mana? Djajabaja, Madjapahit, atawa Samin?"

Apa djadinja jikalo, balatentara Nipon tara kalahkan Hindia Belanda? Bisa djadi radja Djajabaja dari Kediri tak kondang sama sekali. Maklum doi punja ramalan jang bikin orang2 Djawa bahagia. “akan datang orang kate dari utara dan mereka mengusir kebo-kebo bule.” Jang dimaksud orang kate itu tara lain ialah orang Nipon dan kebo bule ialah orang Belanda. Itu ramalan boleh djadi bikin sebagian orang Djawa ogah pake otot buat lawan kolonialisme ala Hindia Belanda.

Disatu sisi, rada aneh djuga, didjadjah kebo eh ditolong orang kate jang kemudian djadi penodong jang peras habis lumbung2 padi. Sebuah negeri jang tragis. Ramalan Djajabaja itu memang bikin susah djuga. Kenapa isi ramalan Djajabaja isinja adalah, Samin Surosentiko jang dari Blora itu adalah radja abadi di nusantara. Lebih enak rasanja. Tiada perlu bajar padjak. Tiada perlu pakai todong orang pake bedil. Pastinja, semua sedhulur. Pokoknja, Samin djauh lebih heibat dari Stalin, jang gagal bikin negeri komunis.

Di sekolah, Madjapahit katanja masa djaja Indonesia. Begitulah dalam sedjarahnja Madjapahit keradjaan besar djuga. Tapi, apa besar dan tidak satu keradjaan itu punja pengaruh bagus buat rakjat djelata? Rasanja, radja2 biasanja tjuma seenak udelnja sadja. Sama sadja dengan radja (batja pemimpin djaman sekarang). Tjuma kasih kenjang perut sendiri. Tapi tetap sadja djaman Madjapahit djadi kebanggaan. Persetan derita rakjat djelata. Bagaimana djika anda rakjat djelata dan saia djadi radja? Saia tinggal bilang “derita loh,” niru remadja masa kini.

Ini negeri, walau ngaku udah Republik, tapi tetap sadja mentaliteit radja masih gede. Dengan sengadja itu dipelihara. Kajak pelihara ikan lele atawa kambing. Djadinja, radja2 ketjil djadi perkara biasa. Dan rada biadab djuga. Tapi rasanja orang2 Indonesia masa kini terbiasa karnanja. Djadi radja ketjil atawa djadi djagonja radja ketjil itu sudah keren.

Waktu saia sekolah dulu, saia punja teman jang lebih suka djadi preman. Mrika suka bikin geng. Biasa pake nama sok Europe atawa Amrik. Biar keren. Kalo mrika agak nasionalis, dan tahu sedjarah Ken Arok jang djagoan itu, mrika bakal kasih nama geng mrika “Anak Ken Arok” kalo disingkat djadi AKA. Mirip nama band rock Indonesia tahun 70an. Harap maklum, orang2 Indonesia lebih pertjaja bedil daripada intelektualiteit.

Beruntung sekali rezim Orba. Nama Samin tak tersebut. Orang Samin bahkan dipojokin abis. Djadi orang2 tidak bikin gerakan kajak Samin. Kalau ada gerakan model Samin. Harto pasti murka dan serdadu2nja pasti bikin tawuran ala marsose. Harap maklum, tiada pemimpin Indonesia jang berani kere matjem Samin. Pemimpin kan dojannja naik mobil mewah dan rumah gedongan. Kalo bisa djuga punja simpenen. Rasanja itulah kenapa Samin dilarang.

Tidak ada jang gratis. Djadi pemimpin pun ada upah jang matjam2 djuga. Kudu ada fasiliteit. Tiada jang seperti Samin lagi. Djika ada kitorang pasti lagi mimpi teramat indah. Amboy.

Belajar dari Semaoen

Seorang murid bertanya, kurang lebih begini, “apakah seorang tidak berpendidikan bisa ikut berpolitik?” Entah kenapa pikiran saya melayang pada sosok Semaoen. Betapa tidak, Semaoen hanya lulus sekolah rendah. Dia langsung kerja jadi buruh kereta api. Juga bergabung dalam serikat buruhnya. Serikat buruh rasanya sekolah Semaoen yang sebenarnya. Dia banyak belajar kejamnya penghisapan kolonialisme di Serikat Buruh.

Di usianya yang ke-14 tahun, Semaoen adalah anggota SI Surabaya. Sebelum akhirnya hijrah ke Semarang, pada 1916. Dimana Semaoen menjadi ketua cabang SI Semarang di usianya yang ke 17 tahun. Usia hura-hura untuk pemuda masa kini. Hura-hura Semaoen adalah bersama kaum buruh. Berjuang menuntut keadilan.

Tidak sekolah tak mengapa, tapi belajar tetap bisa dimana saja. Semaoen memang belajar dari siapa saja dan apa saja. Tapi dia punya dua guru hebat setidaknya. Pertama adalah Cokroaminoto, guru bagi pemimpin kaum pergerakan. Yang punya kekuatan dari kaum Islam Indonesia. Cokro adalah pimpinan tertinggi Sarekat Islam yang legendaris itu. Kedua adalah Sneevliet. Orang yang dianggap sebagai nabi bagi kaum komunis Indonesia. Nama Sneevliet sendiri, sengaja dilupakan, dan terlupakan bagi Bangsa Indonesia. Dari Sneevliet, Semaoen belajar bahasa Belanda.

Guru terakhir ini yang paling berpengaruh dari Semaoen. Karena tidak bermental kolonial. Sneevliet pernah keluar dari kantor dagang yang beri dia bayaran besar hanya karena ingin bergiat di serikat buruh dengan pemasukan yang kecil. Semaoen belajar banyak soal politik dari Cokro maupun Sneevliet. Pelajaran yang begitu penting yang membuatnya kesohor sebagai pembela dan pahlawan buruh di Jawa.[1]

Semaoen, diusianya yang baru belasan, bukan lagi sekedar anak ingusan. Tidak hanya berorganisasi yang dia bisa. Tapi juga menulis. Dua pelajaran penting yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia masa kini.

Semaeon juga mampu ikuti wacana pemikiran. Meski tak sehebat Darsono atau Tan Malaka. Tulisan Semaoen pun tak mengecewakan. Setidaknya dia pernah menulis Hikayat Kadiroen. Semaoen juga menulis untuk surat-kabar. Menulis dan bergerak bersama kaum buruh adalah bentuk partisipasi politik Semaoen dalam melawan politik kolonial dari Hindia Belanda. Kehebatan Semaoen adalah dia menjadi Ketua pertama dari Perhimpunan Komunis Indonesia yang kemdian menjadi Partai Komunis Indonesia.

Nama Semaoen lalu melekat kuat di kalangan buruh. Ketika pemogokan buruh terbesar di Indonesia pada 1923, nama Semaoen disebut. Dia bukan lagi anak Ingusan ketika itu. Semaoen baru saja merasakan kehadiran anak pertamanya di tahun itu. Dia sudah beristri dan masih tetap sebagai aktivis buruh. Namun disekitar masa bahagianya itu, Semaoen ditangkap pemerintah kolonial dari rumahnya di Tegalwereng, Semarang.[2]

Nama Semaoen lalu meredup. Setelah berkelana ke Eropa Semaoen tidak lagi aktif sebagai ketua PKI. PKI mengalami perubahan haluan politik. Yang tahun 1920an independen dari Moskow, menjadi pro Stalin di tahun 1948. Dan pro Mao Ze Dong di tahun 1965. Nama Semaoen hilang. Meski punya jasa pada Indonesia namanya tidak dianggap penting dalam sejarah Indonesia.

Semaoen adalah contoh orang muda Indonesia yang layak dijadikan panutan. Mengapa? Semaoen adalah orang yang bisa belajar dari keterbatasan. Prestasi Semaoen dalam menulis dan berorganisasi layaknya bisa diapresiasi oleh pemuda Indonesia lainnya. Lupakan aroma politis soal kekomunisan Semaoen. Banyak hal positif yang bisa dipelajari darinya.

NB: Dilarang keras menyukai catatan ini! Kritiklah dengan pedas naskah ini!

[1] Tempo edisi 21 Agustus 2011, hlm. 64.

[2] Darmo Kondo, 9 Mei 1923.

Potret Semaoen dalam cover bukunya.

Kamis, Agustus 18, 2011

Presiden = Radja

Presiden adalah landjutan sedjarah radja. Lupakan demokrasi karna itu tjuma Gintju. Dan akan lahir dinasti lebay.

Dulu kala, kitorang punja radja. Mau kedjam, mau begundal, atau gimana djuga, itu radja tetep adja mulia. Dan, kitorang kudu sembah itu radja. Karna katanja, radja itu djuga wakil Tuhan. Muke gile. Lalu, kitorang di nusantara tertjinta ini punja Gubernur Djinderal. Tangan pandjang dari Ratu Singa diseberang lautan sono. Pokoknja bule deh.

Tukang Kibul kelas Wahid

Lalu mengakulah orang-orang di Pegangsaan sono pada 17 Agustus 1945. Katanja Indonesia sudah merdika. Dan, kitorang AMINI itu sampai ini hari. Kata buku peladjaran begitu djuga, pokoknja ini negri sudah merdika. Achirnja, kitorang punja presiden. Kulitnja sama. Tidak bule. Mirip sama radja2 djaman dulu. Kulitnja sama dengan kitoranglah.

Ada kalanja, Presiden kajak Malaikat. Tapi kata orang, djiwa iblisnja bisa muntjul. Karna takut orang2 liat itu Presiden punja tanduk, maka si Presiden punja profesi terselubung, djadi tukang kibul. Dan achirnja, kitorang tahu jikalo mo djadi presiden, kudu bisa ngibul. Apalagi djadi presiden Indonesia. Banjak rakjat jang suka dan rela dikibulin, tapi ada orang jang tara mau dikibulin tapi serba salah untuk djadi pinter.

Sebenarnja, buat apa djadi merdika kalo dikibuli selalu? Entahlah, rasanja orang Indonesia emang dojan dikibuli. Djadi penipu tak apalah. Asal punja Mercy dan bagi2 duit. Karna orang tetep akan hormat. Djadi, tukang kibul itu sutji di ini negeri. Guru SD jang bikin pinter anak2 bego pun deradjatnja djauh dibanding tukang kibul. Itu semua karna tukang kibul punja kuasa jang luar binasa. Djadi kitorang pada takut kena masalah, susah bikin KTP, susah dapat kredit usaha bahkan takut kena bedil pula.

Dinasti Lebay

Kata orang di djaman Orde Babe (pintjem etjeannja Om Ben Anderson buat ngetje Harto en geng) musuh atawa bahaja laten, tara lain adalah Komunis. Padahal komunis gak lagi djadi bahaj karna sudah disikat sampai kering. Kalo diperes ra ono getihe (gak ada darahnja, kata orang Djawa).

Di djaman ini, djaman Presiden paling Lebay (aliasa Alay Commander) , musuh besar itu terorisme. Orang matjam saia djadi bingung. Rasanja, teroris itu gak pernah ngebom angkringan Felix langganan kami di Karangmalang Djogja. Djuga ibu2 jang djual makanan murah di dekat pondok2 pesantren Krapjak. Bahaja matjam mana pula itu teroris. Teroris djadi bahaja laten. Rasanja kitorang boleh sebut teroris sebagai bahaja paling lebay. Karna itu tjuma isu ra mutu (tak bermutu, istilah kawan2 saia di Djogja). Toch kitorang tahu kalo dinasti lebay pantang ngutuk korupsi. Entah kenapa? Mereka djuga tara pernah ngiangkan bahaja laten korupsi.

Kitorang pernah denger keluarga Kennedy atau Bush di Amrik sono. Atawa tak usah djauh2 dari Indonesia, kitorang tahu Filipina jang punja beberapa dinasti politik matjam Aquino atau Aroyo. Atawa ada Butho di Pakistan. Dan Indonesia mulai tiru itu gaja. Dinasti Sukarno jang pertama sukses karna Megawati djadi Presiden. Dan akan muntjul Dinasti politik lain. Politisi rasanja djadi profesi keren walau tak mutu. Tak apalah, duitnja kan tebel kata orang.

Kini semua orang tahu, kitoran punja Presiden makin lebay. Pake mau naikan istrinja djadi Presiden. Djelas ini watjana konjol. Kajak Kabupaten Bantul sadja. Kitorang lagi tahu kalo Presiden terAlay kita, kasih naik doi punja ipar biar bikin stabil doi punja kuasa. Dalam sedjarah posisi KSAD itu lebih vital daripada Panglima serdadu Republik Indonesia. Soalnja setjara hirarki, diatas kertas Panglima serdadu lebih tinggi daripada KSAD. Tapi urusan pegang serdadu KSAD lebih punja kuasa. Soal sistem, semua kan bisa diatur, jang penting ada komisi. Djauh lebih penting pasukan ditangan.

Kitorang kudu tahu kalo dinasti kudu punja pendukung. Nah tentara kan djuga bisa dipake. Kita lihat seberapa lama Ipar si Presiden lebay bisa tahan lama djadi KSAD. Rasanja si pemilih tak perlu bosan. Dan dinasti pun punja gigi sekarang. Meski diambang hantjur dinasti lebay tjukup kuat. Punja tentara pula. Ngeri. Presiden sudah djadi sang radja sekarang. Radja jang bersiap diambang tumbang.

Jumat, Agustus 12, 2011

Rasa Merdika

Mrika bosan djadi Inlander. Mrika lebih suka djadi Indonesier. Dan Merdika itu mimpi utama.

Orang2 Indonesia kini pertjaja bahwasanja diri mrika telah merdika. “Merdika itu bebas dari pendjadjahan orang asing,” kata mrika. Kini orang2 Indonesia memang dojan ngaku diri mrika sudahlah merdika. Begitulah mrika kini.

Merdika itu sebuah mimpi besar. Sedari djaman Ratu Wilhelmina dulu. Lalu muntjul kaum-kaum terpeladjar. Mrika dari Sekolah Dokter Djawa, jang tak djauh dari bekas Pasar Buku Kwitang itu. Mrika anak prijaji sebenarnja. Mrika lajak djuga kita sebut sebagai orang2 Mulia.

Lalu muntjullah kaum pergerakan. Kaum-kaum jang radjin serang gubermen pake kritik jang lumajan pedes djuga di djaman itu. Mrika tak lagi pake otot. Kini mrika adalah orang jang ingin pake otak. Mrika tak mau pake Ratu Adil, jang entah kapan mau turun ke bumi. Mrika bukan pendahulu mrika. Kesamaan dengan pendahulu hanja melawan gubermen dengan tjara mrika, tjara baru.

Makin hari, makin banjak orang2 jang seide sama itu kaum pergerakan. Orang2 pribumi, jang leh Tuan Blanda disebut Inlander itu, mulai ingin djadi Indonesier sedjati. Itu tara mudah. Tetap sadja mrika berdjuang. Dengan keras hati, seperti badja. Meski diantara mrika ada jang ditangkap sama oppas2 gubermen. Mrika bahkan rela mogok kerdja dan dipetjat karnanja. Mrika trus melawan. Tuan Gubernur Djenderal, lalu teken surat buat bikin pengasingan super ngeri di pedalaman Papua. Digul namanja. Meski terpentjar, dan hantjur, merdika masih djadi mimpi utama.

Suatu kali, seorang bernama Soetardjo bikin petisi heibat. Petisi Soetardjo namanja. Itu petisi bikin nama Indonesia makin eksis sadja. Seperti dalam Kongres Pemoeda sebelumnja. Soetardjo inginkan sebuah parlemen. Ini hal penting dalam sedjarah parlemen di Indonesia. Sajang sekali ini dilupakan. Orang Indonesia kini hanja ingin djadi anggota parlemen alias DPR, tapi ogah mau tahu bagaimana harusnja Parlemen itu.

Lalu datang balatentara dari utara, tentara Djepun. Orang Djawa liat ini gedjala bagus. Mirip Ramalan djangka Djajabaja. Akan datang orang Kate dari utara jang bebaskan mrika dari kebo bule, kata mrika. Mrika suka orang2 Djepun datang. Karna bisa sikat itu orang2 Blanda. Tapi Djepun pun super kedjam. Mrika sikat smua padi buat bikin perang. Sikat perempuan pribumi biar puas birahi tentara mrika jang berperang demi Asia Timur Raja. Sebuah pengorbanan gila.

Beruntung, ada bom djatuh dari arah langit. Jang dibawa kapal mabur dari Amrik. Dua bom itu bikin mampus dua kota di Djepun sana. Nagasaki dan Hirosima djadi tumbal djuga dari politik militerisme Djepun. Achirnja, Djepun pun ngaku kalah sama sekutu Amrik. Dan Kaisar Hirohito pun bangun Djepun lagi. Dan djadilah kini Djepun bangsa besar di Asia Raja, meski tak kuasai Asia Raja, banjak bikinan Djepun meradjalela di Asia Raja. Termasuk Indonesia jang dojan pake bikinan Djepun.

Tak lama Djepun ngaku kalah pada sekutu, segera orang2 Indonesia jang tak sabar lagi ingin merdeka mo bikin Proklamasi. Pengakuan kalo mrika sudah merdika. Itu rada sulit djuga. Karna ada orang2 tua jang takut sama tentara sekutu. Ada djuga orang2 jang masih setia pada Blanda. Mrika ini jang lalu disebut Andjing NICA.

Dan proklamasi pun tara bisa terhalangi lagi. Niat merdika itu mulia, djadi lebih tjepat lebih baik. Dan lahirlah Repoeblik Indonesia. Dan segala aset penting pun ditulisi Milik RI. Bukan hal mudah bikin negara. Orang2 Indonesia tampak belum siap. Kata orang luar, mrika tidak tampak seperti orang Indonesia. Mrika lebih mirip Inlander jang berlagak kajak tuan-tuan. Dan revolusi Indonesia pun tampak ngawur. Main bunuh sembarangan pada siapa sadja jang tak disuka. Revolusi tampak seperti Chaos antar sesama.

Ternjata, masuknja tentara Djepun ke Indonesia bikin lahir satu generasi opurtunis. Lihat sadja Soeharto cs. Mrika pimpin sebuah rezim korup selama tiga dekade. Dimana orang2 dihisap dan ada kelas baru jang untung. Kelas jang dekat dengan Harto pasti kelas beruntung. Jang lain kudu miskin. Tara boleh kritis. Kalo kritis nanti dibui. Meski hidup di negeri fasis terselubung dibawah orde baru, orang2 masih suka bilang merdika. Omong kosong jang heibat sekali pastinja.

Tak ada jang pernah ada jang lebih baik dimasa merdika. Rasanja ada sadja hal jang makin rusak. Bahkan lebih rusak dari djaman Ratu. Merdika achirnja hanja kekatjauan jang begitu rapi dalam politik Indonesia. Dan merdika adalah masa dimana pemimpin disjaratkan buat korup. Dan korup adalah tradisi negeri dan orang korup adalah orang mulia di djaman merdika. Bukan orang pergerakan jang mulia kini.

Orang korup didjamin mulia. Punja duit semua tanggung beres. Tanja sadja pada Gayus jang sukses ngibulin rakjat Indonesia dan aparat hukum. Tjukup dengan bayar pedjabat hukum dan doi bisa liburan ke Bali.

Dan orang muda jang heibat dimasa kini bukanlah jang bergerak. Tapi jang bisa djadi pedjabat, boleh di Partai boleh di PT atawa di birokrasi. Pemuda baik2 itu, dimasa sekarang adalah pemuda jang mapan. Banjak duit. Tak berdjiwa merdika tak apalah. Jang penting kaja-raja.Mrikalah harapan mertua masa kini. Korup tak apalah, jang penting duit melimpah. Pemuda bukan lagi penggerak kayak di djaman pergerakan dulu.

Adakah rasa merdika itu? Silahkan anda2 djawab sendiri sadja. Orang sekarang boleh ngaku Indonesier, walo mental masih Inlander. Mental mrika jang korup dan terlalu tunduk pada golongan korup, rasanja bukan mental Indonesier jang ditanamkan pendiri ini negeri. Rasanja, orang Indonesia masih berdjiwa Inlander dan tara lajak disebut Indonesier sedjati. Itu menurut kitorang. Mungkin berbeda menurut anda.

Senin, Agustus 08, 2011

Menjaga Laut

Kita punya laut luas dan kaya. Apakah kita bisa menjaganya?

“Seekor keledai tidak akan jatuh pada Lubang yang sama,” setidaknya itulah kata orang Belanda. Mereka berusaha untuk tidak menjadi lebih bodoh dari keledai. Mereka tahu keledai dianggap binatang bodoh. Meski bodoh, keledai selalu belajar.

Tidak sia-sia. Hampir semua orang Indonesia tahu bahwa orang-orang Belanda yang datang ke Nusantara dibawah panji-panji VOC[1], berhasil menguasai Indonesia. Nasib yang malang bagi nusantara, karena dikuasai sebuah perusahaan. Apalagi perusahaan penguasa nusantara itu jumlah personilnya tidak sebanyak orang-orang Indonesia yang dikuasainya. Apa orang-orang Belanda itu terlalu pintar atau orang-orang Indonesia itu terlalu baik hati untuk dikuasai.

Mengapa Terjajah

Ada pertanyaan mengapa orang Indonesia dijajah orang Belanda? Jawaban dalam buku pelajaran disekolah adalah, karena orang Belanda memakai Devide et Impera alias politik belah bambu. VOC hanya memanfaatkan perpecahan diantara para penguasa di Indonesia di nusantara. Dan memang, berseteru di nusantara adalah hal biasa. VOC tidak perlu terlalu pusing membuat perpecahan, karena perpecahan itu sudah ada. Bahkan di sebuah kerajaan pun beberapa Bangsawan pun bisa diadu domba.

Politik belah bambu memang strategi yang bagus. Tapi itu bukan strategi utama apalagi penyebab utama orang-orang Belanda menguasai Indonesia. Politik belah bambu saja belum cukup untuk menguasai Indonesia. Ketika orang-orang Belanda datang ke nusantara, tidak ada kerajaan besar di nusantara yang benar-benar menguasai lautan.

Setelah Gajah Mada tiada dan runtuhnya Majapahit, kerajaan-kerajaan di nusantara mulai mengabaikan kekuatan laut. Tidak ada federasi kerajaan-kerajaan kecil yang mau menjaga lautan nusantara. Sebagian laut, akhirnya menjadi arena merampok bagi para bajak laut. Akhirnya, laut juga yang menjadi jalan bagi masuknya Imperialisme barat. Dimulai dari kedatangan Cornelis de Houtman yang kemudian disusul orang-orang VOC lainnya.

Orang-orang Indonesia melupakan dan tidak tahu bahwa laut adalah Benteng. Jika laut nusantara dikuasai maka nunsatara pun otomatis dikuasai orang asing.

Yang Tidak Pernah Belajar

Apa yang terjadi sekarang rasanya seperti tak berkaca dari masa lalu. Selalu ada slogan yang lalu biarlah berlalu. Akhirnya kesalahan yang lalu terulang lagi. Pernah ada masa dimana penjajah datang melalui laut dan dengan gemilang menguasai seluruh nusantara. Bahkan tercatat, oleh sekelompok sejarawan yang mengklaim bahwa Indonesia dijajah Belanda 350 tahun.

Beberapa tahun silam, setidaknya dua pulau Indonesia dikuasai Malaysia. Ini segera masalah nasional yang sangat terlambat untuk diatasi. Dan kasus yang sering terjadi adalah masuknya kapal-kapal asing ke laut Indonesia yang kaya. Dimana berton-ton kekayaan laut Indonesia hilang dicuri. Ironis sekali jika negara yang dikarunia laut begitu luas tidak bisa menjaga laut beserta isinya yang kaya.

Layakkah Indonesia disebut sebagai negara Maritim? Sebuah pertanyaan yang akan mendapat banyak jawaban. Sebagai negara yang wilayahnya terdiri dari lautan, Indonesia syah disebut negara Maritim. Tapi jika dilihat dari mentalitas dan bagaimana cara menjaga laut, jawabannya tidak. Semua orang di negeri ini tahu Angkatan Laut Indonesia begitu lemah.

Laut harusnya menjadi lumbung pangan rakyat. Banyak rakyat Indonesia yang bergantung pada sektor keluatan. Kita tahu ribuan nelayan bergantung pada tangkapan ikan dari laut Indonesia. Ikan tidak pernah habis mereka tangkapi tapi mereka selalu miskin karena keterbatasan alat penangkap ikan. Mereka kalah dengan kapal nelayan asing yang mencuri kekayaan laut Indonesia.

Kondisi ekonomi Indonesia yang demikian terpuruk kala ini bisa juga diatasi dengan memberdayakan sektor kelautan. Dengan memperkuat industri maritim yang beraneka-ragam bentuknya. Mulai dari perikanan sampai pariwisata. Melihat laut Indonesia yang kaya, rasanya Indonesia bisa melakukan apa saja dilaut.

Dunia Yang Sunyi

Keluatan menjadi studi yang sangat sepi. Karena negeri ini beserta penguasanya mulai meninggalkan laut. Dalam artian tidak lagi peduli dengan keluatan. Terlihat dari kurangnya armada Angkatan Laut untuk menjaga laut Indonesia yang luar biasa luasnya. Hingga kekayaan laut Indonesia binasa dan tak lagi dinikmati rakyat Indonesia. Dan artinya kemiskinan terus berlanjut bagi rakyat Indonesia

Dalam sepinya pemerintah peduli pada laut, tetap saja ada saja orang Indonesia yang masih peduli dengan laut. AB Lapian hanya salah satu. Dia telah menulis karya pentingnya soal laut. Bukunya, Orang Laut Bajak Laut Raja Laut, yang merupakan disertasinya adalah karya penting dalam dunia keluatan Indonesia. AB Lapian dikenal sering menulis tentang Laut Indonesia yang dilupakan.

Sebelum terlambat lebih jauh, atau menyesal di kemudian hari, marilah kiranya kita perhatikan laut Indonesia. Dan membuatnya menjadi kuat. Kita bisa buktikan bahwasanya Indonesia sekarang tidak kalah dengan Sriwijaya dan Majapahit di masa lalu. Kalah jaya di laut dibanding jaman Sriwijaya dan Majapahit jelas kemunduran besar. Dan ini sangat memalukan.

[1] VOC: Vereninging Oost-Indische Compagnie (Perusahaan dagang Hindia Timur)

Jumat, Juli 29, 2011

Melawan Lupa dengan Tidak Menghafal

Pertama yang terbesit bagi orang-orang yang pernah belajar sejarah di sekolah adalah menghafal. Banyak yang mengamini belajar sejarah adalah pelajaran yang menghafal. Jadilah pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang dihindari di sekolah. Hebat juga orang yang membuat siswa harus menghafal. Akhirnya, esensi sejarah untuk berkaca dari masa lalu untuk menghadapi masa depan hanya omong kosong. Mungkin ini yang diinginkan dunia pendidikan di Indonesia.


Menghafal

Semua orang sepakat pelajaran sejarah adalah pelajaran menghafal. Menggali hal-hal menarik berupa nilai-nilai kemanusiaan bukan lagi hal penting. Anak-anak SMA tentu merasa sejarah adalah pelajaran menghafal tanggal-tanggal.

Karena tuntutan menghafal, membuat banyak orang yang awalnya agak tertarik dengan pelajaran sejarah jadi bosan dan kehilangan rasa tertarik itu. Sejarah memang untuk mengobati rasa penasaran. Bukan berarti harus menghafal detilnya saja. Tapi mencari esensi dibalik peristiwa itu. Rasanya yang diinginkan pejabat pendidikan Indonesia hanya generasi yang bisanya hanya menghafal. Dan bukan generasi yang bisa belajar dari masa lalu. Kita tahu, para siswa dibuat menghafal menjelang ujian dan kemudian lupa karena tidak membekas sama sekali. Kita tahu banyak hal yang kita lupa setelah kita berjuang keras menghafal.


Memang banyak orang yang belajar sejarah bisa hafal—dalam jangka waktu—beberapa hal dalam sejarah tertentu. Biasanya itu bukan karena memaksakan diri untuk menghafal, tapi lebih karena membaca santai dan tidak dalam tekanan. Setidaknya itu pengalaman saya dan beberapa kawan (sejarawan) muda saya yang bergelut dengan sejarah. Mereka hanya membawa tanpa menekan diri mereka untuk hafal. Kami tak terlalu berniat menghafal, tapi entah mengapa akhirnya kami hafal? Bagi kami menghafal bukan hal penting, yang terpenting bagi kami adalah menggali esensi dari sebuah peristiwa atau tokoh sejarah.


Harus diakui, sejarah adalah pelajaran paling gila. Betapa tidak semua anak sekolah dari SD hingga SMA harus menghafal semuanya. Tidak penting menggali nilai-nilai yang ada dalam sejarah. Selalu diarahkan untuk menghafal. Dan hafalan itu akan keluar dalam ujian. Dan ujian sejarah seperti Who Wants to Be a Millionaire. Bedanya ujian bertujuan untuk menentukan nilai siswa untuk lulus, sedang Who Wants to Be a Millionaire kita dijanjikan uang banyak jika bisa jawab pertanyaan.


Yang terus menjadi pertanyaan saya, pentingkah menghafal sesuatu dan kemudian lupa begitu saja? Jujur saja, saya lupa apa saja yang saya jawab waktu ujian di sekolah saya. Jika pun saya bisa mengingat sesuatu itu bukan karena menghafal, tapi lebih karena saya menggelutinya—sekedar membacanya tanpa tekanan.


Pertanyaan lain, siapakan sebenarnya yang untung dari memaksakan siswa untuk menghafal isi pelajaran sejarah yang begitu banyak? Terutama fakta-fakta yang sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Apakah siswa untung? Rasanya siswa alami itu hanya sebagai fase untuk lulus sekolah.

Melawan Lupa

Teringat Milan Kundera, jika megucap berjuang melawan lupa. Hidup adalah berjuang. Termasuk berjuang melawan lupa. Dimana sejarah adalah media untuk berjuang melawan lupa. Orang-orang berpikiran maju biasanya orang-orang yang tidak ingin dibohongi oleh siapa saja. Termasuk oleh pemimpinnya. Orang-orang berpikiran maju tentu saja orang berjuang untuk tidak menjadi orang yang amnesia terhadap sejarah.



Kita tahu banyak penguasa dunia berusaha membangun sejarah yang begitu herois, dimana menampilkan sosok si penguasa sebagai pahlawan yang harus senantiasa didukung. Dan pelajaran sejarah di sekolah pun dijadikan media propaganda semacam itu. Semua orang Indonesia rasanya sudah mengerti hal itu. Dimana semua orang dibuat percaya heroisme penguasa (sejarah) melalui banyak hafalan. Rasanya kebenaran sejarah, yang sebenarnya relatif, menjadi bukan hal penting. Yang terpenting, versi penguasa selalu benar bagi mereka yang mendukung pemerintah. Begitulah pembodohan di Negara Dunia Ketiga.


Dengan membuat generasi muda tidak suka sejarah dengan menghafal yang sedemikian rupa, maka sebuah rezim sukses membuat sebuah amnesia sejarah bagi generasi di masa depan. Juga menjadikan jurusan sejarah sebagai kampus buangan adalah ide yang bagus untuk menjaga wacana sejarah, yang katanya selalu benar itu.

Yang terjadi memang banyak siswa enggan belajar sejarah karena enggan menghafal banyak data yang diantaranya kebenarannya masih diragukan. Ditambah lagi dalam pelajaran sejarah di sekolah gagal mengajak siswa untuk menangkap esensi dari peristiwa atau teladan dari pelaku sejarah dengan jujur.


Sepertinya, ada sebuah ketakutan jika siswa-siswa di sekolah belajar menggali sejarah masa lalu. Bisa jadi kebusukan sejarah sebuah rezim penguasa akan terbongkar dan image si penguasa akan jatuh di mata rakyatnya. Ketakutan akan kebohongan itu terbongkar tentu disiasati dengan memaksakan fakta-fakta yang dimaui si penguasa untuk di hafal generasi muda.


Kebosanan dalam pelajaran sejarah, karena terus dipaksa menghafal, tentu akan membuat siswa yang awalnya suka jadi tidak suka. Belajar sejarah, membuat seseorang menjadi ditektif yang terus menemukan fakta baru, tidak jarang faktu itu begitu memalukan bagi sebuah rezim. Itulah kenapa Suharto dan pengikutnya tidak ingin melawan lupa. Sudah pasti agar kebusukan mereka dimasa lalu tertutupi dan hanya mengumbar sisi baiknya saja agar bisa terus berkuasa. Rezim semacam itu tentu takut dengan orang-orang yang berjuang melawan lupa.


Orang-orang yang berjuang melawan lupa itu bisa siapa saja, tidak harus sejarawan. Mereka bisa pelajar-pelajar di sekolah atau orang-orang yang punya minat terhadap sejarah. Orang-orang semacam ini biasanya adalah orang-orang jujur yang apolitis. Mereka hanya ingin tahu yang benar. Mereka adalah orang yang berbahaya bagi sebuah rezim. Karenanya sebuah rezim tidak menginginkan orang-orang seperti ada. Bagi sebuah rezim, sangat penting untuk menjadi lupa. Dan bagi yang jujur dan berpikiran maju akan memilih menjadi orang yang berjuang melawan lupa.


Senin, Juli 25, 2011

Mercy’s dan Lagu-lagu Manisnya

Dekade 1980an, Rinto Harahap memang identik dengan lagu-lagu sendu—kalau tidak boleh disebut cengeng. Nama Rinto di musik pop Indonesia sudah begitu dikenal sebagai musisi, entah sebagai pencipta lagu maupun pemain musik. Rinto Harahap, dimasa mudanya adalah musisi.

Di dekade 1970an, semua pemuda penggila musik pop tahu The Mercy’s. Banyak hit yang dihasilkan band ini. Mereka punya banyak album yang berupa piringan hitam dan kaset pita. Orang-orang yang hidup ditahun 1970an, sebagaian hafal dengan hit-hit mereka. Hingga beberapa dekade setelahnya lagu-lagu mereka terus diingat dan dinyanyikan ulang oleh musisi lain.

Menuju Jakarta

Bermula, awal 1969 di kota Medan, Sumatra Utara, sekelompok anak muda memulai sebuah band. Terdapat dua bersaudara bermarga Harahap—Erwin dan Rinto—dalam band ini. Mereka bertolak dari Jakarta menuju Medan membentuk band pesta. Selain Erwin dan Rinto, awalnya mereka digawangi oleh Rizal Arsyad pada Gitar Rythem, Iskandar alias Bun pada Keyboard dan Reynold Panggabean pada Drum. Belum setahun terbentuk, band ini sudah dapat tawaran manggung di Malaysia. Namun Bun keluar. Setelah Bun keluar karena ingin kuliah kedokteran, maka Charles Hutagalung pun masuk menggantikan. Bun kemudian memang menjadi dokter bedah syaraf.

Pada band mereka, mereka pilih The Mercy’s. Nama The Mercy's sendiri secara spontan terbesit, karena menyukai naik mobil bermerk Mercy. Dalam bahasa Prancis, Mercy's artinya kasihan atau bisa juga terima kasih. Seperti band pop Indonesia lain, band ini juga mengikuti tren perkembangan musik mancanegara. Mereka sering mengacu pada band The Beatles, The Bee Gees, The Hollies, C.C.R maupun Monkeys—yang menjadi band paling berpengaruh kala itu.

Charles memiliki karakter suara yang unik. Suara Rinto pun melengkapi vokal band ini. Seperti Bee Gees, The Mercy’s punya lebih dari satu vokalis. Selain suara instrusmen musik yang khas ala 1970an, suara vokal pun menjadi sesuatu yang menarik.

Band melejit lagi setelah Charles menciptakan Tiada Lagi. Mereka tampil di sebuah club di Malaysia. Dimana mereka menetap selama enam bulan sebelum akhirnya kembali ke Medan. RRI medan lalu merekam lagu Tiada Lagi. Sebuah lagu yang cukup melankolis namun memiliki komposisi musik yang bagus, untuk ukuran jamannya.

Band ini beberapa akan tampil di negara Asia lain, namun rencana selalu kandas. Meraka hijrah ke Jakarta. Sebuah kota yang tepat untuk karir musik mereka. Mereka pun menjadi band papan atas yang sejajar dengan The Rollies. Mereka berhasil merekam album pertama mereka, pada Agustus 1972. Beberapa hit dalam album itu adalah Untukmu, Hidupku Sunyi, Love, dan Kisah Seorang Pramuria. Dua perusahaan rekaman—Remaco dan bergabung untuk merekam album pertama The Mercy’s itu.

Penjualan Album itu menyaingi dua band papan atas di zaman itu, Koes Plus dan Panbers. Hit mereka juga menjadi lagu yang sering diputar oleh radio-radio swasta Indonesia. Mereka pernah konser bersama Koes Plus, Panbers, The Favourite di Jakarta. Penonton pun membludak melebihi kapasitas.[1] Artinya band ini dasyat juga di zamannya.

Legenda Pop Juga

The Mercy’s pun jadi legenda musik pop Indonesia. Band ini selalu disebut juga dalam sejarah musik pop Indonesia. Orang-orang pun masih juga menikmati musiknya hingga kini. Kini personil-personil yang dulu berambut gondrong ini sudah beranjak tua. Charles Hutagalung pun sudah lama meninggal beberapa tahun silam. Tentang Charles, Rinto punya kesan, “Sebenarnya The Mercy's masih ada dan dari kami pun belum ada pernyataan resmi bubar. Namun, tidak dapat dipungkiri The Mercy's dikenal karena keberadaan Charles Hutagalung. Kami ini hanya sebagai pelengkap saja.” Rinto tampak rendah hati. Meski Rinto dan yang lainnya punya jasa dalam The Mercy’s. Mereka tampak menghargai Charles.

Setelah masa jayanya, Band ini sempat vakum oleh proyek-proyek individu. Charles dengan solo albumnya. Reynold dengan OM Tarantula-nya. Rinto juga banyak mengorbitkan banyak penyanyi baru seperti Christine Panjaitan atau Eddy Silitonga. [2] Sudah pasti dengan lagu-lagu yang cengeng. Intinya mereka tetap berkarya.

The Mercy’s juga identik dengan penyanyi-penyanyi Batak. Gereja membuat orang-orang batak memiliki olah vokal yang baik. Dan musik menjadi hal yang biasa dan penting bagi kehidupan mereka sehari-hari, juga dalam kegiatan religius. The Mercy’s adalah bagian penting dari sekian banyak musisi Batak lainnya.

Meski tidak akan pernah tampil lagi, karena kehilangan personil, tetap saja Band ini punya peninggalan yang masih bisa dinikmati oleh generasi sekarang. Orang-orang akan ingat lagu-lagu manisnya. The Mercy’s terus dikenang.



[2] http://ms.wikipedia.org/wiki/Kumpulan_The_Mercys: Rinto Harahap: Jangan Sakiti Hatinya, http://nasional.kompas.com/read/2010/11/07/03493533/ (Minggu, 7 November 2010 | 03:49 WIB)

Senin, Juni 27, 2011

Garudaye

Suatu hari, April 2003, bus kami menuju sebuah candi di pinggir Malang. Tur histories pertama kami. Kami menuju Candi Kidal. Sebuah perhormatan bagi Anusapati. Anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Anusapati jadi raja setelah membunuh ayah tirinya, Ken Arok. Seperti Ken Arok, Anusapti juga mati dibunuh ketika sabung ayam. Tohjaya, anak Ken Arok dari Ken Umang, adalah dalang pembunuhan karena merasa berhak atas kerajaan, yang dikenal dengan nama Singosari itu.

Garudaye

Candi ini mirip dengan candi-candi Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit. Seperti candi lain, ada bagian tertentu yang hilang dari candi ini. Candi ini mulai dibangun sejak 1248 hingga 1260. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan. Seperti biasa selalu ada kalamakara yang menyeramkan. Sebagai pelindung yang letaknya diatas pintu candi.

Ciri khas candi ini adalah adanya narasi cerita Garuda terlengkap yang terpahat pada kaki candi. Cara membacanya dengan berjalan berlawanan arah jarum jam, dimulai dari sisi sebelah selatan.

Relief pertama, menggambarkan Garuda menggendong tiga ekor ular besar; Kedua, melukiskan Garuda dengan kendi di atas kepalanya, Ketiga Garuda menyangga seorang wanita. Kini, hanya relief kedua yang paling indah dan masih utuh. Menurut kesusasteraan Jawa Kuno, Garudaye, ketiga relief tersebut menggambarkan perjalanan Garuda dalam membebaskan Ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta'mentana..[1]

Tersebutlah, resi Kasiapa yang punya dua orang istri, Kadru dan Winata. Kedua wanita itu adalah bersaudara. Dua wanita itu punya anak angkat. Kadru punya tiga ular sebagai anak angkat. Winata hanya punya Garuda. Kadru yang malas mengurus tiga anak angkatnya itu kemudian berhasil memperbudak Winata dengan sebuah taruhan. Ketiga garuda beranjak dewasa Garuda berusaha membebaskan ibunya.

Dimana Garuda kemudian melakukan perjalanan dan mencari Amertamentana. Demi membebaskan ibunya, Winata. Air itu disimpan di khayangan dan dijaga para dewa. Air suci itu berasal dari lautan susu. Itulah air keabadian.

Garuda rela melakukan apa saja untuk dapatkan air itu. Termasuk berkelahi dengan para dewa. Demi kemerdekaan Winata. Ketika para dewa di khayangan bias dikalahkan Garuda, Batara Wisnu pun turun. Garuda dikalahkan. Namun, dengan bijak, Wisnu sebagai sang pemenang, mau mendengar cerita Garuda—tentang derita Winata ibunya.

Wusnu pun mengerti. Wisnu mau memberikan Amertamentana, dengan syarat, Garuda mau menjadi tunggangannya. Demi kemerdekaan Winata, Garuda pun rela. Garuda pun berhasil membebaskan Winata. Dalam relief Garuda menggendong Winata. Jadilah Garuda tunggangan Dewa Wisnu paling sohor, Garuda Wisnu Kencana.

Mengapa Anusapati diagungkan seperti Garuda? Tak lain karena dia adalah anak yang berbakti pada Ibunya. Seperti kisah Garudaye.Anusapati tertulis dalam kitab kuno, Negarakartagama:

Bathara Anusapati menjadi raja

Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa

Tahun caka Persian Gunung Sambu (1170 C - 1248 M),

Beliau berpulang ke Siwabudaloka

Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal.[2]

Itulah kenapa Indonesia jadikan garuda sebagai lambang Negara. Tidak penting burung garuda itu pernah ada atau tidak. Kandungan dari cerita Garudaye, tentang anak berbakti dan bermental pejuang itulah yang layak diteladani orang Indonesia. Ketika mengunjungi candi Kidal, cerita Garudaye adalah cerita yang ingin sekali saya ceritakan pada adik sepupu saya yang masih kecil atau pada siapa saja. Ini cerita paling hebat yang pernah saya dengar.

[1] Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/culture/2147808-candi-kidal-peninggalan-anusapati-bakti/#ixzz1QRzvTa29

[2] Nagarakretagama, pupuh 41 / bait 1 berdasar tafsiran Slamet Mulyono.

Sabtu, Juni 25, 2011

Sisi Lain Dokter Indonesia

Dokter bukan cuma pengobat. Dimasa lalu dokter adalah bagian dari kaum intelektual yang berjasa bagi Indonesia.

dr Cipto

Di jaman Majapahit, seorang tabib pernah membunuh Raja lalim bernama Jayanegara. Karena sang tabib bernama Ra Tanca itu sakit hati karena istrinya digoda oleh sang Raja. Padahal Ra Tanca salah satu putra terbaik Majapahit. Menjadi tabib raja bukan hal sembarangan. Dia harus kuasai ilmu kedokteran kuno. Di jaman setelahnya tidak ada cerita tabib lagi. Tabib kemudian bergeser oleh masuknya ilmu kedokteran dari Tiongkok bahkan barat.

Dokter kemudian profesi popiler. Bukan saja karena pentingnya dalam dunia kesehatan masyarakat. Tapi juga peran politisnya dalam sejarah Indonesia, disamping kaum militer, rakyat pejuang dan terpelajar lainnya. Namun, peran dokter dalam perbaikan masyarakat makin menghilang.

Mencetak Dokter Jawa

Lalu muncul istilah Dokter Jawa Mereka juga seperti tabib yang bisa mengobati orang sakit. Bedanya, dokter jawa menguasai pengobatan ala kedoteran barat. Ada yang menganggap dokter jawa di awal sejarahnya setara dengan mantri jaman sekarang. Dokter Jawa adalah lulusan School tot Opleiding voor Indische Artsen (Sekolah Kedokteran untuk Hindia) di Betawi.

Bermula dari sekolah mantri cacar yang didirikan pemerintah kolonial tahun 1849. Karena kekhawatiran pemerintah akan berjangkitnya banyak wabah penyakit di Hindia Belanda. Dan hingga awal abad XX, pes adalah wabah yang mengerikan bersama wabah-wabah lain. Belum lagi adanya penyakit tropis macam beri-beri.

Tentang sekolah dokter Jawa ini, Wikipedia mencatat:

Pada tahun 5 Juni 1853, kegiatan kursus juru kesehatan ditingkatkan kualitasnya melalui Surat Keputusan Gubernemen no. 10 menjadi Sekolah Dokter Djawa, dengan masa pendidikan tiga tahun. Lulusannya berhak bergelar "Dokter Djawa", akan tetapi sebagian besar pekerjaannya adalah sebagai mantri cacar. Selanjutnya Sekolah Dokter Djawa yang terus menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada tahun 1889 namanya diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen (atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi), lalu pada tahun 1898 diubah lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (atau Sekolah Dokter Pribumi). Akhirnya pada tahun 1913, diubahlah kata Inlandsche (pribumi) menjadi Indische (Hindia)…. Nama STOVIA tetap digunakan hingga tanggal 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (atau Sekolah Tinggi Kedokteran). Sempat terjadi beberapa kali lagi perubahan nama, yaitu Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) di masa pendudukan Jepang dan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan Indonesia.[1]

Sekolah Dokter Jawa dianggap berdiri pada tahun 1851. Dengan lokasi awal adalah Rumah Sakit AD Gatot Subroto sekarang. Sekolah ini lalu pindah gedung ke Gedung yang sekarang disebut Gedung Kebangkitan Nasional, Jalan Abdurahman Saleh.[2]

Kawasan Senen hingga Lapangan Banteng, dulu Waterlooplein, adalah kawasan dimana instalasi militer KNIL berdiri. Ada yang menyebut, STOVIA dalam sejarahnya terkait dengan kedokteran militer KNIL. Lulusannya maupun pengajarnya ada yang dijadikan dokter militer. Sejarahnya, pada 29 November 1847 Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan akan memanggil pemuda-pemuda pribumi untuk dididik menjadi juru kesehatan. Mereka yang memenuhi syarat akan dididik di Rumah Sakit Militer.[3]

Para lulusan STOVIA tidak dianggap dokter penuh seperti dokter lulusan universitas di Belanda. Melainkan hanya setara mantri. Untuk bisa disamakan dengan dokter Belanda, seorang lulusan STOVIA harus melanjutkan ke Negeri Belanda. Salah seorang lulusan STOVIA yang melakukannya adalah dr Abdul Rivai. Seorang dokter Minang yang cukup dikenal dibidang penulisan.[4]

STOVIA hilang. Lalu muncul dia sekolah kedokteran yang setara dengan dokter Eropa. Geneeskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran), disingkat GHS, di Jakarta dan Nederlandsch Indische Artsen School (Sekolah Dokter Hindia Belanda), yang disingkat NIAS, di Surabaya. NIAS berdiri pada 1913, juga seperti STOVIA untul mencetak dokter Jawa juga. Pengajar NIAS adalah dokter-dokter militer KNIL.[5] NIAS dan GHS lalu digabung di Jakarta.

Dokter dan Bekas Mahasiswa Kedokteran.

Tersebutlah dokter Wahidin Sudirohusodo. Kakek dari pelukis terkenal Basuki Abdullah itu. Dialah dokter penting dalam pergerakan nasional. Dia menggaungkan kebangkitan nasional. Dia mengajurkan adanya Dana pelajar untuk membiayai pendidikan pemuda cerdas namun kurang mampu.

Lalu berdirilah Boedi Oetomo, pada 20 Mei 1908. Dimana mahasiswa dokter bernama Soetomo adalah ketua pertama. Berdirinya Boedi Oetomo, bagi sebagian pihak dianggap sebagai momen Kebangkitan Bangsa Indonesia. Soetomo tidak lama di Boedi Oetomo, karena dia kecewa dengan Boedi Oetomo yang makin feodalis. Setelah lulus dan jadi dokter, Soetomomasih bergiat dalam dunia pergerakan hingga kematiannya. Soetomo bergerak dalam organisasi yang lebih besar yang dia dirikan. Seperti Parindra di kemudian hari.[6]

Cipto Mangunkusumo adalah dokter juga. Meski dari kalangan priyayi, Cipto adalah dokter yang egalitarian dan terkesan anti feodalis dan kolonialis. Tahun 1913, dia bersama Suryadi Suryaningrat dan Douwes Dekker, dalam Tiga Serangkai, mereka mendirikan Indische Partij (Partai Hindia). Sebuah Partai Politik pertama di Hindia. Mereka bertiga lalu dibuang pemerintah kolonial ke Negeri Belanda. Pembuangan adalah hal biasa dalam hidup dr Cipto. Tahun 1927, dia diseret ke pembuangan karena dianggap terlibat dalam rencana pemberontakan sekelompok serdadu KNIL Minahasa yang gagal.[7] Cipto juga dokter berani. Dia pernah terang-terangan memakai medali hadiah dari Raja Belanda di bokongnya. Medali itu diberikan atas jasa Cipto ikut memberantas wabah pes di Jawa awal abad XX. Cipto juga pernah mengendarai kereta kuda di area terlarang milik Kesultanan. Itulah bentuk kekurang-ajaran dr Cipto sang pemberontak dimata kaum feodal.

Dokter lain lulusan STOVIA yang kesohor adalah dr Rajiman Widyoningrat yang menjadi ketua BPUPKI diakhir pendudukan Jepang. Dr Ferdinand Lumbun Tobing yang menjadi Residen Republik Indonesia di Sumatra pada masa Revolusi. Dia adalah residen sekaligus dokter gerilya.

Bukan hanya lulusan STOVIA yang punya kontribusi terhadap Indonesia. Beberapa bekas mahasiswa yang tidak pernah lulus bahkan punya andil besar bagi Indonesia. Sebutlah Tirto Adhi Suryo, Suryadi Suryaningrat dan Djamaludin Adinegoro.

Tirto Adhi Suryo (TAS), yang keturunan Bupati di pesisir uata Jawa, adalah tokoh pers kebangsaan. TAS tidak menamatkan studinya di STOVIA. Dia memilih terjun ke dunia jurnalisme.Dimana pada usia belia, sekitar 20 tahunan dia menjadi redaktur Soenda Berita. Lalu dengan bantuan RAA Prawiradiredja, Bupati Cianjur, TAS menerbitkan Medan Prijaji. Melalui Medan Prijaji, TAS telah menggerakan bangsanya melalui bahasanya.[8] TAS harus jalani hidupnya yang tragis juga. Dia alami pembuangan dan kematiannya yang sunyi. Dia kemudian menjadi pejuang yang ditenggelamkan penguasa sejarah bangsanya sendiri.[9] Beruntung dia punya pengikut yang tidak kalah hebat darinya, seperti Marco Kartodikromo—pemuda minim pendidikan barat, namun punya tulisan pedas yang bikin marah pemerintah kolonial.

Djamaludin Adhinegoro adalah bekas mahasiswa kedokteran yang memilih jalan sama dengan TAS. Dia keluar dari STOVIA di tingkat tiga. Dia kemudian menulis dan melakukan perjalanan ke Eropa. Tulisan perjalanannya itu cukup dikenang dalam Melawat ke Barat. Nama Djamaludin Adinogoro kemudian banyak dikenang dalam dunia penulisan di Indonesia. Pernah ada Hadiah Adinegoro untuk dedikasi dibidang penulisan di Indonesia.

Siapa tak kenal Ki Hajar Dewantara? Nama itu yang melekat pada Suwardi Suryaningrat. Lepas dari STOVIA, Suryadi terjun ke jurnalistik. Dimana dia menulis Als Ik eens Nederlander was—yang menentang peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis Napoleon—yang membuatnya dibuang. Suryadi kemudian begerak di bidang pendidikan. Dimana dia mendirikan Taman Siswa yang masih hidup hingga sekarang. Dia mentasbihkan diri sebagai Ki Hajar Dewantara. Dia juga menjadi pernah menjadi Menteri Pendidikan dan salah satu dari sekian banyak pejuang kemerdekaan.

Betapa kita kita tidak boleh meremehkan orang yang tidak selesai kuliah. Meski tidak selesai itu bukan berarti bodoh. Bisa jadi lebih pandai. Mereka bahkan punya banyak kontribusi untuk mencerdaskan manusia Indonesia menuju kemerdekan.

Sabtu Pagi di Kuliah Patologi (1943)

Sabtu di bulan Oktober 1943, sepasukan serdadu Jepang memasuki sebuah ruang kuliah di Ika Dai Gakku (Sekolah Kedokteran) di Jakarta. Mahasiswa di ruangan itu sedang mengikuti mata kuliah Patologi. Dengan senjata siap tembak serta bayonet terhunus serdadu Jepang itu memasuki ruang kuliah.

Banyak mahasiswa yang mengikuti kuliah patologi itu tidak mengerti kehadiran serdadu Jepang itu. Akan tetapi mahasiswa-mahasiswa itu melihat ada beberapa serdadu Jepang memegang gunting dan tondeuse—alat untuk mencukur rambut. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu kemudian mengerti bahwa mereka akan kehilangan rambut mereka. Kepala mereka akan digundul seperti serdadu Jepang, meski mereka—mahasiswa kedokteran itu—bukanlah serdadu Jepang.

Akhirnya para mahasiswa kedokteran itu sadar kedatangan tentara Jepang itu terkait dengan beberapa hari sebelumnya. Mereka menolak perintah penggundulan rambut dari petinggi militer Jepang di Jawa. Sekadar pengetahuan, mahasiswa kedokteran yang umumnya lelaki adalah orang-orang terpelajar dengan pendidikan formal di atas rata-rata orang Indonesia di zaman Belanda. Mereka pun menolak perintah penggundulan itu. Bagi para mahasiswa itu, kepala adalah bagian tubuh yang harus dihormati orang lain. Pengundulan kepala bisa saja dianggap hal tidak senonoh.

Ketika tentara Jepang memasuki ruang kuliah, deretan kursi belakang ricuh. Seorang mahasiswa bersitegang dengan seorang perwira Jepang. Mahasiswa itu adalah I Gusti Ngurah, asal Bali, yang dikenal pendiam oleh kawan-kawannya. Tentara Jepang mengokang senjatanya, bersiap menembak. Para mahasiswi pun menjerit histeris. Beberapa mahasiswa bersiap mengangkat kursi untuk membantu I Gusti Ngurah yang terancam senjata tentara Jepang. Sang perwira Jepang dengan cepat mencabut pistol dari sarungnya.

Pistol sang perwira tidak jadi menyalak. Tapi pipi I Gusti Ngurah kena tampar Ketegangan mulai mereda. Penggundulan paksa akhirnya diteruskan. Satu persatu mahasiswa kehilangan rambutnya hingga tinggal satu millimeterja. Aksi penggundulan kepala mahasiswa kedokteran berlansung cepat. Tentara Jepang menggundul dengan serampangan. Belakangan, mahasiswa harus merapikan sendiri rambutnya di asrama atau tempat lain setelah tentara Jepang menghilang dari ruang kuliah patologi itu.[10]

Setelah para serdadu dan perwira Jepang meninggalkan ruang kuliah Patologi, para mahasiswa beringsut pulang. Sebagaian dari mereka menuju asrama mahasiwa di Prapatan 10 dan asrama Cikini 71, Jakarta. Mereka berencana melakukan aksi sebagai rekasi atas penggundulan serdadu Jepang yang baru saja mereka alami.

Berita itu sampai ke beberapa orang pergerakan, salah satunya, Harastuti Subandrio, seorang dokter wanita yang sudah menikah. Minggu pagi, dokter itu mendatangi mahasiswa. Dokter itu berusaha ikut menyelesaikan masalah mahasiswa calon dokter itu. Wanita ini berusaha menghindarkan mahasiswa kedokteran itu dari amarah serdadu Jepang yang tidak segan menembaki mahasiswa itu.

Hari berikutnya, Prof. dr. Achmad Mochtar mengingatkan mahasiswa agar kembali ke bangku kuliah seperti biasa karena pemerintah balatentara Jepang akan bertindak semakin keras jika pemogokan diteruskan. Mahasiswa menolak himbauan sang rektor.[11]

Peristiwa di ruang Patologi adalah bentuk perlawanan mahasiswa kedokteran di masa pendudukan Jepang. Beberapa mahasiswa kedokteran Jakarta adalah pengikut Syahrir yang militan. Mereka bergerak dengan cerdas hingga tidak menjadisantapan Kenpeitai (Polisi Rahasia) Pendudukan Jepang.

Calon Dokter Pegang Bedil

Dimasa revolusi, banyak bekas mahasiswa kedokteran di jaman pendudukan Jepang yang bergabung dengan Tentara Nasional—sejak masih bernama Bdan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bekas mahasiswa kedokteran itu kemudian menjadi perwira karena latar belakang pendidikan mereka. Setidaknya letnan, kapten dan seterusnya. Tergantung nasib dan kepemimpinannya. Beberapa mahasiswa kedokteran memang pernah mendapart latihan militer singkat Daidan (Batalyon) PETA[12] Jakarta.

Beberapa bekas mahasiswa kedokteran bahkan menduduki jabatan penting di kemiliteran. Ada Daan Yahya yang menjadi Komandan Militer di Jakarta. Eri Sudewo yang sempat menjadi Panglima Divisi Siliwangi. Revolusi memaksa mereka untuk angkat senjata. Revolusi juga membuat mereka jadi tentara.

Selain bekas mahasiswa kedokteran. Beberapa dokter juga ditentarakan. Biasanya mereka diberi pangkat mayor. Dimana mereka harus menjadi dokter yang dibutuhkan tentara dan mengobati siapa saja. Diantara dokter itu, banyak yang masih konsisten sebagai dokter di tentara. Ada juga dokter yang dapat tugas diluar kedokteran.

Dr Rubiono Kertapati adalah orang penting dalam intelejen ketika Sukarno berkuasa. Dimana Rubiono terbiasa menjadi analis intelejen bagi Sukarno.[13] Dia bahkan dikenal sebagai Bapak Persandian Indonesia. Dia aktif dalam Depatemen Pertahan ketika Republik baru berdiri. Dia punya pangkat Letnan Kolonel.

Subandrio, yang Kepala Biro Pusat Intelejen, juag seorang dokter. Dia dokter yang dekat dengan Sukarno. Pasca kudeta G 30S yang gagal, Subandrio termasuk orang yang bernasib sial. Dia dikutuk dan lama dipenjara oleh orde baru. Baru bebas ketika orde baru tumbang. Subandrio dianggap dekat dengan PKI oleh beberapa pihak.

Lalu siapa dokter paling kaya dalam sejarah Indonesia? Kita bisa menunjuk Ibnu Sutowo sebagai jawaban. Bagaimana tidak, keluarga Sutowo adalah keluarga kaya hingga saat ini. Ibnu Sutowo adalah dokter lulusan NIAS Surabaya. Dia kemudian berdinas di Sumatra cukup lama. Menikah dan kemudian ikut revolusi disana. Dia bahkan sempat menjadi Panglima Komando Militer Sumatra selatan—yang kemudian di sebut Sriwijaya. Nasibnya sama seperti Eri Sudewo di Siliwangi Jawa Barat. Dari Sumatra Selatan, Ibnu Sutowo ditarik ke Jakarta. Dia termasuk dekat dengan Ahmad Yani yang pernah jadi KSAD sebelum G 30 S. Sutowo juga jadi jenderal. Dia bersama Eri Sudewo adalah contoh sedikit dokter yang jadi Jenderal. Hebatnya lagi, setelah jadi jenderal tentara, Ibnu Sutowo adalah Direktur Pertamina. Dari jaman Sukarno hingga Suharto. Di Pertamina, Ibnu dianggap pejabat korup dan dibenci mahasiswa Demonstran. Mulai dari demonstrasi 1966 maupun 1974. Kasus korupsi Pertamina yang sempat muncul lalu ditenggelamkan oleh orde baru.

***

Begitulah cerita tentang dokter-dokter di Indonesia. Sebuah bagian dari kelompok Intelektual Indonesia. Banyak nama dokter yang punya jasa bagi Republik ini. Hingga ada yang jadi nama jalan. Ada juga yang masuk sel. Ada yang terkenal karena tulisannya. Ada yang memang dikenal karena dedikasinya pada dunia kedoteran Indonesia. Ada juga yang bermain minyak dan lainnya.

Cerita dokter Indonesia mungkin agak sedikit menjengkelkan dengan mahalnya biaya ke dokter. Juga diperparah dengan oknum dokter yang malpraktek. Sebuah fenomena yang mengerikan dan berbalik parah jika kita melirik peran dokter dalam kemerdekaan Indonesia.

Biaya kuliah untuk jadi dokter juga mengerikan hingga tidak ada dokter macam Cipto Mangunkusumo. Indonesia nyaris tidak punya dokter macam Guevara.

Ada cerita miris tentang dokter Kuba seputar Gempa 2006 di Jogja dan Klaten dari seorang kawan. Dimana sekelompok dokter Kuba yang akan beri pengobatan gratis dilarang buat Rumah Sakit. Hingga korban luka harus dibawa ke rumah sakit pemerintah yang tidak murah bayarnya. Dimana dokter-dokter Indonesia yang mirip pedagang maut berkeliaran.

Dunia para dokter atau mahasiswa kedokteran juga latar belakang menarik dalam novel sastra Indonesia. Sutan Takdir Alisyahbana menggunakan dalam Layar Terkembang. Marga T dalam Badai Pasti Berlalu.

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/School_tot_Opleiding_van_Indische_Artsen.

[2] STOVIA Gedenboek, 1851-1926, Waltevreden, G Kolff, 1936: Fredrick Willem & Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia, Jakarta, LP3ES, 2005, hlm. 242.

[3] Bali Post, 22 Mei 2005, http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2005/5/22/ars1.html

[4] Kumpulan tulisan dr Rivai bisa ditemukan dalam buku Student Indonesia di Eropa, Jakarta, KPG, 2000.

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Nederlandsch_Indische_Artsen_School

[6] Beruntung dr Soetomo menulis autobiografinya. Buku itu berjudul Kenang-kenangan dr Soetomo.Lihat Fredrick Willem & Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia (Sebelum dan Sesudah Revolusi), Jakarta, LP3ES, 2005, hlm 152-172,

[7] Lihat Petrik Matanasi, Pemberontak Tak Selalu Salah, Yogyakarta, Indonesia Boekoe, 2009.

[8] Takeshi Siraishi, Zaman Bergerak, Jakarta, Grafiti, 1997, hlm. 43-44 & 46.

[9] Tentang TAS dilihat Pramoedia Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta, Lentera Dipantara, 2000. Pramoedia Ananta Toer juga menulis 4 novel biografis terkait kehidupan TAS, Tetralogi Buru yang terdiri dari Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca.

[10] Soejono Martosewojo dkk, Mahasiswa ’45 Prapatan 10: Pengabdiannya 1, Bandung, Patma, 1984, hlm. 27.

[11] Ibid., hlm. 28.

[12] PETA: Pembela Tanah Air adalah tentara sukarelawan yang dibentuk Jepang untuk mempertahankan Jawa dari serangan sekutu. PETA dibentuk tahun 1943. Mantan PETA menjadi pendominasi dalam ketentara Republik setelah Indonesia merdeka.

[13] Lihat Ken Conboy, Intel: Menguak Dunia Intelejen Indonesia, Jakarta.


Selasa, Juni 14, 2011

Kepada Penulis Skenario Darah Garuda

BERLEBIHAN, itulah kesan saya tentang film ini. Heroisme, solidaritas dan juga Nasionalisme-lah yang ingin diangkat film ini. Gayanya pun cukup Hollywood. Tidak ada masalah yang saya lihat dari aktor-aktor yang memerankannya. Semua bermain dengan cukup baik. Entah Donny Alamsyah, Atikah Hasiholan, Darius Sinatrya, Lukman Sardi, Rudy Wowor dan lainnya sudah bermain dengan baik. Tidak terlalu menonjol juga tidak minus juga aktingnya. Salut untuk semua pemeran.

Film bernuansa nasionalisme biasanya klise dan emosional. Begitu juga film ini. Biasanya, karena terlalu emosional yang sering terlalu didramatisir, maka tidak akan terlihat realis. Itu terjadi di film ini.

Meski digarap dengan dana yang cukup besar dan mendatangkan orang-orang Hollywood yang konon terlibat dalam pembuatan miniseri HBO Band of Brother,film ini jadi nampak konyol. Kalah dramatis dengan Band of Brother. Karena heroisme yang berlebihan itu. Film ini juga gagal menangkap suasana jaman revolusi. Terdapat juga kesalahan Setting dalam film ini.

Darah Garuda

Meleset Gambarkan Tentara Belanda

Di bagian awal, film ini menggambarkan kekejaman tentara Belanda yang berlebihan. Seolah kelakuan tentara Belanda sama dengan kelakuan tentara Jepang yang doyan memperkosa wanita. Tentara Belanda lebih suka ngamar ke tempat pelacuran ketimbang memperkosa yang bisa membuat mereka diseret ke mahkamah militer. Saya pribadi belum pernah dengar laporan dan membaca catatan bahwa tentara Belanda doyan memperkosa wanita pribumi di masa revolusi.

Di film Darah Garuda, ada terdapat tangsi di pegunungan. Dimana tangsi tentara Belanda itu berupa pondokan dari kayu dan beratap rumput. Di masa revolusi, tentara Belanda biasa memakai bangunan kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Biasanya, tangsi tentara Belanda di sekitar kota. Tidak jauh di gunung yang sepi dan rawan gangguan gerilyawan pro Republik.

Tentara Belanda lazim pakai istilah Ekstrimis buat para gerilyawan pro Republik. Itu tidak tergambar dalam film ini.

Parahnya lagi, senjata tentara Belanda dalam film Darah Garuda ini, bukanlah senapan mesin ringan jenis Sten Gun—yang magazine-nya disamping. Film ini memakai senjata semacam Carl Gustaav dan Thompson. Thompson yang buatan Amerika itu hanya mungkin dipakai Marinir Belanda—karena Marinir Belanda memang dilatih Amerika. Kebanyakan tentara Belanda baik KNIL maupun KL, hanya memakai Sten Gun atau senapan laras panjang lainnya. Lebih konyol lagi, sebagian gerilyawan dalam film ini juga ikut menyandang Thompson. Ya, Thompson memang ada dipakai tapi tidak akan sebanyak pemakai Sten Gun.

Masih Bambu Runcing

Entah dari mana tentara Republik dapat tenda peleton? Sulit sekali mendapatkan tenda bagi tentara Republik yang bergerilya di Jawa Tengah. Tentara Republik tidak bisa bertahan lama di daerah Jawa Tengah. Posisi tentara Belanda yang kuat dan ofensif jelas membuat tentara Republik harus terus bergerak. Yang terjadi dimasa revolusi, tentara Republik biasa tidur dirumah penduduk atau di alam terbuka ketimbang di tenda peleton—yang entah dari mana?

Di film Darah Garuda, di dalam tenda yang jadi ruang kerja komandan terdapat meja dan alat tulis yang cukup baik. Mustahil di masa revolusi, ada perkemahan tentara Republik yang dilengkapi meja. Pekerjaan tulis menulis perwira biasanya dilakukan seadanya dan dimana saja. Tapi sulit menemukan meja dan alat tulisnya di tengah hutan.

Dalam dialog, disebut, Sekolah Tentara Rakyat. Saya tidak pernah temukan catatan soal sekolah militer semacam itu. Hanya ada Akademi Militer atau sekolah militer dengan nama tertentu. Tapi bukan pakai nama Tentara Rakyat. Bisa dipastikan sekolah militer masa itu terlihat kacau mulai dari segaram dan kurikulum latihannya. Memang nyaris sulit bagi tentara Republik adakan sekolah militer yang mapan.

Katanya, Film ini bersetting 1947. Anehnya, kenapa ada Jenderal Sudirman ditandu. Dan banyak pengawal yang pakai bambu runcing . Padahal, Jenderal Sudirman baru pakai tandu setelah 19 Desember 1948—setelah Jogja diduduki tentara Belanda dalam Agresi Militer Belanda II. Sementara itu, rombongan pengawal Jenderal Sudirman ketika gerilya sudah banyak yang pakai senjata api. Entah Mauser, Garand, Sten Gun atau yang lainnya. Komandan tertinggi Pengawal Sudirman adalah Kolonel Suadi. Setting tempat dalam film ini begitu kabur hingga alurnya kurang realis lagi.

Serangan yang paling mungkin dilakukan gerilyawan pro Republik biasanya adalah gangguan di malam hari. Itu pun hanya dilakukan di dari luar tangsi tentara Belanda. Di awal film digambarkan gerilyawan pro Republik berhasil menyusup ke dalam tangsi tentara Belanda dan membuat kekacauan yang merugikan tentara Belanda. Dimana jumlah para penyusup itu hanya sedikit. Itu adalah cerita yang tidak pernah saya baca dari laporan-laporan sejarah. Hanya isapan jempol. Para gerilyawan pro republik tidak akan sebodoh itu. Sudah bagus jika para gerilyawan menyerang di malam hari dan kemudian lari ke hutan lagi.

Misi menghancurkan lapangan udara setelah agresi militer II, adalah hal mustahil. Misi penghancuran lapangan terbang oleh tentara Republik memang pernah dilakukan di Lapangan terbang Kalibanteng di Semarang. Misi ini sukses dilakukan diawal-awal revolusi kemerdekaan, sebelum tahun 1947, oleh pasukan yang sekarang Korps Marinir Indonesia. Dimana beberapa pesawat Belanda rusak. Setelah itu tidak ada lagi. Lapangan terbang biasanya dijaga ketat. Dalam film Darah Garuda, seolah tentara Belanda membangun lapangan terbang. Itu jelas tidak mungkin. Bisa membangun jembatan yang dirusak gerilyawan saja sudah cukup bagus sekali..

Hal Bodoh Lain

Cacat adegan adalah hal biasa dalam film-film mana pun. Namun cacat adegan dalam film ini nampak konyol. Bisa bertahan hidup di bilik kayu yang terus mendapat rentetan tembakan dari musuh adalah adegan akhir yang konyol. Seperti biasa tentara musuh seolah tampak bodoh karena tidak bisa menghabisi orang-orang yang berada dalam bilik kayu tersebut. Apalagi posisi orang yang bersembunyi di dalam itu duduk dan bukan tiarap. Pejuang Indonesia memang digambarkan selalu sakti.

Pesawat terbang mirip Cessna juga sudah ada di film ini. Pesawat macam itu tidak digunakan tentara Belanda di zaman revolusi. Jika bukan jenis Mustang untuk memburu pesawat musuh, paling hanya Dakota yang buat menerjunkan pasukan atau mengangkut pasukan dan barang. Itu patut kita tertawakan juga.

Lebih lucu lagi, Marius (tokoh yang diperankan Darius) digambarkan sebagai pemuda kaya yang bisa menerbangkan pesawat. Itu hal sangat mustahil. Zaman Hindia Belanda atau zaman Jepang, orang pribumi Indonesia yang bisa menerbangkan pesawat biasanya berstatus pilot militer. Tidak ada sekolah penerbangan sipil di Indonesia. Hindia Belanda bukan Amerika. Jika ada orang yang iseng belajar biasanya berpangkat tinggi, seperti Letnan Jenderal Barenschot yang tewas dalam kecelakaan pesawat.

Film fiksi boleh berimajinasi, tapi jika lepas dari realitas maka film itu akan terlihat konyol seperti film ini. Darah Garuda. Dana besar, didukung aktor-aktris hebat pula, tapi tidak didukung cerita yang realis dan sesuai dengan nuansa historis yang realistis.

Film Nagabonar masih jauh lebih bagus dari film Darah Garuda ini. Meski tampak konyol tokoh-tokohnya, Nagabonar sangat realis dan juga dramatis. Sudah pasti menghibur pula. Kepada penulis scenario, sebaiknya sebanyak mungkin membaca buku sejarah Indonesia. Setidaknya melihat-lihat foto-foto terbitan Ipphos. Itu sangat membantu menangkap suasana jaman revolusi.

Jika saya tertawa menonton film ini, itu bukan karena lucu seperti Nagabonar, tapi karena setting filmnya yang konyol dan tidak realis. Maaf jika kritikan saya terlalu pedas dan terlamabat? Tapi Nagabonar adalah film perang paling realis dan menghibur Indonesia.


Kamis, Juni 09, 2011

Jejak Rimbaud

6 MEI 2011, sore itu Stasiun sepi. Kereta lewat jika hari libur saja, kata petugas yang masih berjaga di stasiun bersejarah itu. Seorang dari jauh yang fasih soal sejarah Indonesia beritahu kami jika Stasiun Tuntang pernah disinggahi Jean Arthur Rimbaud,[1] penyair Perancis kesohor itu. Seorang sejarawan Perancis Bernhard Dorleans pernah menulis dalam artikelnya soal Rimbaud di Indonesia.[2] Sebuah tangsi Kompeni alias KNIL[3] pernah berdiri tidakjauh dari stasiun.

Rimbaud muda

Dari keterangan orang-orang yang kami temui, ada tiga rumah tua dekat stasiun itu dulunya tangsi kompeni itu. Tangsi ini sepertinya hanya kantor dan tempat tinggal beberapa serdadu dulunya.

Seperti ditulis Dorleans, Rimbaud mendaftar KNIL di Negeri Belanda. Dia melewati Haderwijk pastinya, got Eropa yang membuang manusia-manusia yang dianggap sampah-sampah Eropa itu.

Setelah mengalami perjalanan laut yang lama, Rimbaud tiba di HIndia Belanda. Dia lalu menuju Semarang. Dari Semarang Rimbaud naik kereta ke Tuntang. Dari Tuntang, Rimbaud jalan kaki ke Salatiga.

Salatiga sudah menjadi tempat latihan militer Belanda kala itu. Setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia di kawasan sekitar Salatiga dan Ambarawa, masih banyak terdapat instalasi militer.[4] Menurut Ben Anderson dan sejarawan lain, Salatiga menjadi tempat latihan bagi serdadu KNIL asal Eropa yang baru dating ke HIndia Belanda.

Salatiga menjadi kota orientasi bagi serdadu Eropa untuk mengenal lama tropis nusantara. Tidak mudah bagi banyak serdadu Eropa untuk bisa menyesuaikan diri dengan iklim tropis Nusantara yang disebut Hindia oleh serdadu-serdadu Eropa itu.

Rimbaud mungkin termasuk yang tidak betah dengan iklim tropis. Selain masalah iklim ada juga serdadu Eropa yang tertipu dalam masalah kontrak. Kenyataan dan janji yang tidak sesuai itu tidak jarang membuat beberapa serdadu kecewa dan ingin kabur.

Kisah serdadu kecewa dan kabur itu, pernah ditulis dalam novel Desersi karya Paerlaer. Bekas perwira KNIL di Kalimantan. Rimbaud pun salah satu desertir yang layak jadi legenda prajurit desersi dalam dunia militer. Rimbaud bukan satu-satunya yang desersi, mungkin karena nama besar Rimbaud di dunia sastra.

Kisah Rimbaud yang kabur dari Salatiga jelas absurd. Dia baru seminggu di Salatiga. Dan Selama beberapa bulan Rimbaud menghilang. Rimbaud kemudian muncul lagi di Eropa.

Rimbuad tampak terobsesi dengan petualangan. Hal yang membuatnya masuk KNIL. Sebuah unit militer yang mirip Legion Estranger (Legiun Asing Perancis) yang anggotanya disebut Legiuner. Dimana orang dari bermacam bangsa bisa bertempur untuk kerajaan. Bedanya, KNIL tidak perlu nama samaran seperti para calon Legioner.

Sayangnya, Rimbaud tidak terlalu tahan menderita. Jika mau bersabar, dia akan nikmati indahnya nusantara. Seorang serdadu kompeni alias KNIL lebih banyak berpindah-pindah daripada TNI. Seorang serdadu kompeni akan berkali-kali jelajahi nusantara yang luas dan banyak pulau.

Rimbaud pasti akan rasakan ganasnya rimba belantara Kalimantan, atau indahnya alam Indonesia lain. Bisa jadi juga Rimbaud akan mati membela Ratu Belanda karena kena peluru atau kelewang pemberontak..

Ada pertanyaan konyol di kepala kami. Kemana Rimbaud berlari begitu dia menghilang dari Salatiga? Apa mungkin dia menikmati terlebih dahulu Rawa Pening. Lalu sekedar mampir ke Bandungan, yang punya image sebagai “Surga Laki-laki”. Dimana banyak serdadu KNIL biasa kesana. Rimbaud mungkin akan hindari tempat ini, karena banyak serdadu KNIL Ngamar di Bandungan.

Catatan Akhir:

[1] Rimbaud adalah penyair Perancis yang cemerlang. Di usia 15 tahun dia menulis syair-syair hebat. Kemudian dia jalani kehidupannya yang liar dan penuh petualangannya. Terlahir di Charleville, 20 Oktober 1854 dan wafat 10 November 1891.

[2] Kisah Rimbaud di Salatiga sebagai serdadu KNIL selama seminggu itu pernah ditulis Bernhard Dorleans dalam bukunya Les Francais et l’Indonesie due XVIe au Xxe siecle, yang dialih bahasakan Parakirti Simbolon dkk dalam bahasa Indonesia menjadi Orang Indonesia Dan Orang Prancis: Dari Abda XVI Sampai Dengan Abad XX, terbitin KPG Jakarta 2006. Saya mengutip banyak darinya ketika menulis buku KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger): Bom Waktu Tinggalan Belanda.

[3] KNIL: Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Militer Hindia Belanda yang sebagian besar anggotanya adalah orang-orang Indonesia dan sekelompokcampuran dari bangsa-bangsa lain termasuk Belanda.

[4] Di Jawa Tengah, ada beberapa kota yang ditempati instalasi militer. Seperti Gombong, Magelang, Salatiga, Ambarawa dan Semarang. Kita bisa menyebut kota-kota tadi sebagai kota tangsi.

Selasa, Mei 31, 2011

Meneropong Manusia Bugis Dari Dekat

Pertama kali baca Manusia Bugis ini, saya sudah jadi mahasiswa ujur yang harus siap DO. Kebetulan, saya harus cari bahan soal We Tenriolle, Ratu dari Tanette. Meski tidak temukan apa yang saya cari, buku ini sangat membantu saya untuk mengenali tradisi Bugis dan peranan wanitanya dalam kehidupan sehari-hari.

Christian Pelras, berbagi banyak informasi dan analisisnya tentang komunitas akbar yang mendiami jazirah Sulawesi Selatan ini. Cukup komprehensip juga. Meski tidak terlalu detail. Pelras menulis bagaimana perkawinan orang Bugis, agama yang dianut, budaya orang Bugis, pergolakan politiknya dan mata pencaharian orang Bugis.

Yang paling menarik dari buku ini, Pelras berusaha meluruskan bahwa orang Bugis tidak melulu bermata pencaharian sebagai pelaut. Seperti terkonstruk dalam pikiran banyak orang bahwa Bugis adalah bangsa pelaut, bersama orang Makassar. Banyak orang Bugis yang bertani juga. Sebagian tanah di tempat komunitas Bugis bermukim cukuplah subur. Begitulah kenyataan di tanah Bugis. Orang Bugis banyak menyebar ke berbagai wilayah di nusantara. Dan memang mereka dikenal sebagai bangsa pelaut dan saudagar karenanya.

Pelras, menggambarkan bagaimana Luwu sebagai kerajaan terpenting di Sulawesi Selatan, secara kultural. Kerajaan ini pengaruh politisnya memudar ketika kerajaan macam Gowa atau Bone pegang peranan penting di Sulawesi Selatan pada abad XVII.

Kuatnya pengaruh Islam bai orang Bugis, juga orang-orang Makassar dijelaskan dengan baik juga oleh Pelras. Saat ini, pengaruh Bugis kuno yang masih dianut oleh kaum Bissu, ditinggalkan. Dimasa lalu, kaum bissu adalah orang terdekat dan berpengaruh di kerajaan. Mereka seperti balian dalam masyarakt Dayak. Bissu adalah orang-orang sakti. Kini bissu hanya kaum minoritas. Hampir semua orang Bugis di masa kini adalah penganut Islam.

Sudah pasti, Pelras juga bicara soal La Galigo—sastra Bugis yang menjadi legenda itu. Berkisah tentang perjalanan panjang Sawerigading. Karya ini banyak menjadi kajian dunia sastra di masa kini. Pastinya, Manusia Bugis—yang dalam bahasa aslinya The Bugis—bukanlah satu-satunya buku tentang Bugis. Akan tetapi ini adalah buku penting untuk mengenali Bugis sejak dini. Christian Pelras membangun sebuah pintu untuk memasuki peradaban Bugis. Sudah empat dekade Pelras bergelut dalam penelitiannya soal Bugis.

Seorang putra bangsawan Bone pernah bercerita pada saya (2010), bagaimana Pelras yang begitu dekatnya dengan turunan raja Bone. Dimana Pelras memposisikan dirinya sebagai rakyat Bugis dalam hubungan antara rakyat dengan raja. Pelras telah menunjukan totalitasnya, baik dalam riset dan tentu saja dalam buku ini.

Bagi para backpacker, buku ini bisa merayu anda untuk mengunjungi tanah Bugis.