Senin, September 06, 2010

Ragusa Lagi



Siang bolong, adalah waktu dimana Jakarta sedang panas-panasnya. Rasanya ini sudah terjadi sejak zaman kolonial. Untung saja, beberapa tahun sebelum Hindia Belanda bertekuk-lutut pada Balatentara Jepang ditahun 1942, sudah ada Ragusa. Es krim ini konon sudah ada sejak 1932, namun masih brdagang keliling di sekitar Pasar Gambir. Inilah es krim ala Italia yang merupakan salah satu legenda es krim di Indonesia.

Hingga akhirnya Ragusa kemudian memiliki lahan sendiri, di Jalan Vetaran satu, sebelumnya bernama Jalan Segara dimana pernah bermarkas pasukan Pengawal Sukarno, Cakrabirawa. Jalan Veteran, sejak dulu sangat straegis. Dekat dengan Wilhelminapark (Taman Masjid Istiqlal) dan Koningenplain (Monas). Dekat juga dengan Gambir dan juga istana Gubernur jenderal (Istana Negara).

Es krim ragusa, kadang dianggap es krim tradisional. Seperti industri makanan rumah-tangga. Tidak diproduksi pabrik besar. Rasanya jelas unik. Dan berbeda daripada es krim buatan pabrik. es krim disini menggunakan bahan-bahan berkualitas mulai dari susu sampai bahan lainnya. Semuanya dibuat secara handmade, bukan diambil dari pabrik jadi kualitas akan tetap terjaga. Bahkan es krim yang berasal dari Italia ini tidak menggunakan pengawet.

Es Krim Ragusa masih legenda hingga kini. Selama beberapa generasi, Ragusa masih menjadi tujuan kuliner yang menyenangkan. Jika anda menikmati Ragusa di Jalan Veteran, anda juga akan nikmati suasana yang agak Jadul alias tempo doeloe sekali. Tidak AC, hanya ada kipas angin. Selain itu anda juga akan duduk di kursi-kursi rotan. Beberapa potret tua juga dipajang didinding. Suasananya mirip zaman kolonial sebelum Perang Dunia II. Sangat indies sekali menurut saya.

Walau bangunannya dan interiornya kuno, tidak berarti rasa dari es krim tidak layak untuk dicicipi. Anda dapat mencoba menu yang ada misalnya banana split, special mix, spaghetti ice cream, cassata siciliana, tutti frutti, chocolate sundae, lemon ice, cola float dan nougat. Dengan tampilan es yang menarik, Anda dapat merasakan keunikan rasanya. Bila Anda bingung memilih, Anda dapat menentukan pilihan Anda setelah melihat gambar-gambar es krim yang ada dipajang di sekeliling dinding bagian atas.

Ragusa, karena ada aroma indies-nya, membuat saya ingin menikmatinya lagi jika ke Jakarta. Ragusa juga mengingatkan masa-masa awal bekerja di Jakarta. Ketika lelah mencari data di perpustakaan Salemba, atau menulis kronik, Ragusa menjadi tujuan. Bukan hanya saya, tapi juga kawan-kawan lain, yang mungkin sampai hari ini masih merindukannya. Terakhir kali di Ragusa, saya bersama kawan saya asal Belanda, Fredrick. Menyenangkan sekali mengobrol disana, terutama bagi anda yang suka bicara soal sejarah.

Jika anda merasa gerah dengan kota Jakarta, terutama jika anda di sekitar Monas, ragusa mungkin bisa sedikit basahi tenggorokan anda.

Kamis, Agustus 05, 2010

Isu Kudeta Dewan Jenderal

Tidak ada yang bernama Dewan Jenderal. Hanya saja, ada sekelompok jenderal yang agak bersebrangan dengan Sukarno menjelang Oktober 1965. Nyatanya kudeta Dewan Jenderal tidak pernah terjadi, namun hanya ada satu Jenderal pemenang.


Senjata Anti Komunis

Perang Ideologi juga melahirkan perang teknologi, termasuk teknologi persenjataaan. Ketika Uni Sovyet merilis AK-47 yang melegenda itu, maka Amerika Serikat kemudian menciptakan M-16. Kedua sejata itu adalah symbol perang dingin juga. [1]

RPKAD muncul dalam sebuah perayaan HUT ABRI penuh duka. Bukan parade militer yang diadakan tapi iringan jenazah 6 perwira tinggi AD dan seorang perwira pertama. Kala itu M-16 belum sepenuhnya digunakan AS. Anggota militer AS di Vietnam saja masih menggunakan senjata M-14 maupun M-1 Garand. Ketika itu senjata standar AD bukanlah M-16 atau semacamnya. AK-47 adalah yang paling banyak diandalkan oleh para prajurit TNI yang kala itu sudah disebut ABRI.

Bisa jadi senjata buatan Amerika itu pesanan resmi, namun memesan senjata baru yang belum jelas kemampuannya juga hal jangal. Apalagi senjata itu berasal dari Negara yang jelas menjadi musuh kepala Negara. Pesanan M-16 itu, tentu tidak akan terjadi tanpa ada hubungan antara jenderal AD dengan AD Amerika Serikat.

Hubungan Sukarno dengan AS kala itu cukup buruk. Sangat mustahil jika AS memberikan senjata andalan mereka ke Indonesia—yang mereka anggap komunis. Apalagi, seluruh dunia tahu jika Sukarno selaku Presiden RI cenderung bersikap pro pada Negara Sosialis yang baru merdeka dan tidak menyukai imperialisme gaya barunya Inggris dan Amerika Serikat. Petinggi AD tampak berhubungan dengan AS menjelang PRRI/Permesta meletus. AS awalnya hanya mau membantu BRIMOB saja. Dimana pasukan para militer kepolisian ini pernah mendapat latihan ranger dari AD AS. Latihan ranger biasanya hanya diberikan kepada AD, bukan paramiliter polisi.



Tenatara Amerika menggemgam senapan M-16. (http://www.fxha.com/Gallery01.htm)


AD RI baru dilirik AS ketika PRRI/Permesta dianggap tidak mampu melawan pemerintahan komunis Sukarno. Kebetulan Nasution, panglima AD yang cukup berpengaruh cukup bersebrangan dengan Sukarno. AD kemudian tampil sebagai kelompok anti komunis, hingga sering bersebrangan dengan politik Sukarno.

Angkatan Darat ditahun 1960an, dipimpin oleh orang-orang yang di zaman revolusi sudah menjadi perwira militer—dengan pangkat antara Kapten hingga Letnan Kolonel. Mereka biasanya perwira kelahiran 1917-1925. Beberapa diantara perwira tinggi AD itu diantaranya berasal dari KODAM Diponegoro, Jawa Tengah, setidaknya pernah berhubungan dengan Jawa Tengah semasa revolusi.

Ahmad Yani berhasil menjadi orang nomor satu di AD menggantikan Nasution sejak tahun 1962. Seperti Nasution, Yani juga kemudian bersebrangan dengan Sukarno soal politik yang dijalankan Sukarno. Perbedaan paham antara Presiden dengan petinggi Angkatan Darat itu tentu menjadi peluang bagi CIA AS yang begitu ingin menggulingkan Presiden Sukarno. CIA-AS percaya bahwa AD adalah sekutu terbaik untuk menggulingkan Sukarno. Petinggi AD yang terkesan tidak loyal terhadap Sukarno.

CIA mulai merangkul AD setelah Pemberontakan PRRI/Permesta. Dimana CIA-AS merasa memiliki sekutu baru untuk menggulingkan Sukarno yang cenderung ke kiri. Sebelumnya, AS lebih percaya pada polisi sebagai elemen anti komunis potensial di tubuh militer Indonesia. Peristiwa Madiun yang melibatkan sebagian AD di Jawa Tengah, membuat AS yakin bahwa AD adalah sarang komunis yang sulit dipercaya. Apalagi Panglima Sudirman merangkul Tan Malaka yang kiri dalam Persatuan Perjuangan di zaman revolusi.

Tidak heran jika pasukan Brimob dari kepolisian pernah mendapat latihan ranger. Latihan yang seharusnya diberikan kepada pasukan Angkatan Darat. Tujuan tidak lain agar Polisi bisa bertempur melawan komunis. Perkembangan Brigade Mobil itu tentunya diperhatikan oleh Amerika Serikat—yang sedang giat-giatnya melakukan propaganda anti komunis. Tentu ada maksud dalam memperkuat Brimob. Tentu demi menghancurkan kaum komunis. Kala itu AD—yang kemudian dekat dengan AS—belum dilirik AS—sebaga kekuatan anti komunis.[2] AD yang terlibat dalam peristiwa Madiun dan sudah terkena anasir PKI. AS begitu menjaga jarak dengan AD sebelum kasus PRRI/Permesta.

Banyak yang sepakat bahwa keterlibatan AS melatih polisi karena Terbongkarnya konspirasi CIA untuk menggulingkan pemerintah Indonesia membuat panik pemerintah Amerika Serikat. Amerika Serikat dan CIA kemudian membuat manuver untuk ”mengambil hati” Bung Karno. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah AS adalah memberikan bantuan militer bagi Indonesia dengan mendidik para perwira militer Indonesia di AS.

Brigade Mobil juga kemudian mendapatkan ”berkah” dari aksi permintaan maaf oleh pemerintah Amerika Serikat ini. Pada bulan Januari 1959, pemerintah AS memberikan bantuan pelatihan militer dan senjata kepada Brigade Mobil dari Kepolisian Republik Indonesia. Ada 8 perwira polisi yang dididik di Okinawa (pangkalan marinir AS) sebagai kontingen pertama. Selanjutnya pada bulan September 1959 kompi pertama Brimob Ranger telah dibentuk. Pada pertengahan 1960 kontingen kedua perwira polisi Indonesia kembali dididik menjadi Ranger.

Selain mendapatkan pelatihan, pada pertengahan 1960, Ranger Brigade Mobil (saat itu namanya berubah menjadi Pelopor) mendapatkan bantuan senjata senapan serbu AR 15 yang merupakan versi awal atau versi non-militer dari M 16 A1. Pasukan Menpor adalah salah satu pengguna pertama senjata ini, bahkan pada saat itu pasukan reguler batalyon Infanteri AS yang ditugaskan di Vietnam sebagai observer (pengamat) militer AS saja masih menggunakan senjata M 1 Garrand sebagai perlengakapan tempur di Vietnam.[3]

Setidaknya, ditahun 1965, tepatnya pada 5 Oktober 1965, ada anggota RPKAD yang menyandang senapan M-16, yang menjadi senapan standar militer Amerika Serikat.[4] Tidak diketahui bagaimana senjata tersebut bisa masuk ke Indonesia. Hanya bisa dipastikan senjata itu berasal dari Amerika Serikat.

Senjata-senjata itu bahkan digunakan RPKAD untuk membersihkan orang-orang Komunis. Senjata asal Amerika Serikat itu macet ketika digunakan. Sebenarnya senjata ini baru tahap uji coba. RPKAD sendiri lebih suka memakai AK 47 yang jelas terbukti garang dalam pertempuran meski akurasinya kalah dengan M 16.[5]

Keamanan Sukarno yang terancam, membuat petinggi militer membentuk sebuah pasukan yang lebih kuat lagi untuk menjaga keselamatan Pemimpin Besar revolusi.

Ketika Cakrabirawa berdiri, pada Juni 1962, setiap Angkatan memberikan pasukan khususnya. Hanya AD yang tampaknya enggan memberikan pasukan khususnya. Cakrabirawa yang begitu loyal pada Sukarno kemudian tampak seperti SS-Nazi yang loyal pada Hitler. Tidak hanya loyal tapi juga tangguh.

Petinggi AD kemungkinan tidak ingin sebagian pasukan RPKAD masuk Cakrabirawa. Dalam kondisi AD bersebrangan dengan Sukarno, sangat tidak mungkin AD memberikan pasukan terbaiknya untuk Sukarno.

Alasan Nasution dan petinggi AD lain yang menyatakan RPKAD hanya memfokuskan diri menjadi pasukan khusus, adalah alasan masuk akal dan bisa diterima banyak pihak termasuk Sukarno sendiri. RPKAD pun bebas dari jeratan masuk kandang Sukarno. Sementara RPKAD terus menempa diri menjadi pasukan khusus, semua anggota RPKAD masih bisa dikendalikan pimpinan AD tentunya.

AD merasa RPKAD adalah elemen potensial meski jumlahnya kecil. Sementara itu Kostrad kurang begitu diperhitungkan karena kebanyakan pasukannya tersebar. Sementara RPKAD berada disekitar Jakarta dan bisa digerakan sewaktu-waktu. Bagaimanapun RPKAD adalah kekuatan penting AD, karena merupakan pasukan terlatih dan siap tempur. Meski begitu, Kostrad sendiri dimasa Sukarno sebenarnya bisa menjadi pasukan pemukul yang baik karena memiliki pasukan lintas udara (airborne), yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kostrad adalah pasukan cadangan yang memiliki daya pukul. Pasukan ini ada setelah Trikora selesai.


RPKAD berfose denganorang sipil ditahun 1966. (http://psik.multiply.com/photos/photo/11/5)


Keberadaan AD, dengan pasukan Kostrad dan RPKAD tentu menakutkan banyak pihak. Artinya jenderal-jenderal yang tidak loyal terhadap Sukarno itu tentunya memiliki kekuatan, yang layak ditakuti lawannya. Bukan tidak mungkin Sukarno juga khawatir. Jenderal-jenderal AD yang tidak loyal tentu cukup punya taring untuk adu kekuatan dengan musuh-musuhnya yaitu, kaum komunis. Di belakang jenderal-jenderal AD itu, ada Amerika Serikat. Dimana seorang atase militer-nya, Kolonel George Benson, yang tidak lain adalah kawan baik Yani selama sekolah staf dan komando di Fort Benning, Amerika Serikat.

RPKAD adalah unit kecil dan penting ditahun 1965. Beberapa petinggi militer Indonesia yang menjadi perwira pertama RPKAD kala itu adalah Sintong Panjaitan dan Faizal Tanjung (yang kemudian menjadi orang penting di AD pada akhir kejayaan orde baru).

Unit ini sukses menggulung beberapa pemberontakan pasca 30 September 1965. kondisi pasukan RPKAD yang tidak masuk RPKAD tentu mudah menggerakannya. Meski jumlah pasukan RPKAD di Jawa hanya tinggal separuh karena sebagaian dikirim ke perbatasan Malaysia dalam rangka konfrontasi Dwikora. Bukan hal sulit menggulung kelompok gerakan 30 September yang dipimpin oleh Untung. Pasukan yang terlibat sendiri, setelah penculikan selesai sebenarnya tidak ingin bertempur dengan siapapun. Mereka bahkan memilih kembali ke kesatuanya.

Isu sakitnya Sukarno, yang begitu parah tentu membuat banyak pihak khawatir. Banyak yang sepakat, jika dimasa itu hanya ada dua pilihan mendahului atau didahului. Beberapa orang bahkan mengatakan jika banyak pihak bersiap untuk menjaga kemungkinan jika sewaktu-waktu Sukarno meninggal karena sakitnya.

AD selaku musuh besar PKI tentu bersiap. Begitu juga PKI juga menjaga kemungkinan agar tidak didahului AD. Hanya orang atau pihak bodoh yang tidak bersiap dalam kondisi “Ibu Pertiwi Hamil Tua” itu. RPKAD jelas menjadi andalan jajaran petinggi AD jika pecah perang saudara.

Tidak ada RPKAD dalam Cakrabirawa? Hanya ada Banteng Raiders dari batalyon 454/Diponegoro saja pimpinan Letkol Untung. Ketiadaan RPKAD dalam Cakrabirawa bisa mengesankan bahwa AD tidak loyal pada Sukarno. Jenderal SUAD, dalam hal ini Yani, kerap berhubungan dengan Amerika. Setidaknya Yani pernah belajar di Fort Benning, AS. Dimana dia berkawan dengan Kolonel George Benson.

Mengapa RPKAD tdak masuk Cakrabirawa adalah agar petinggi AD punya pasukan andalan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.. Entah untuk kudeta maupun mengcounter kudeta sewaktu-waktu.

Ketika Konfrontasi Dwikora pun prajurit RPKAD hanya sebagian saja yang dikirim ke Kaliantan. KKO lah penyumbang terbanyak Sukarelawan Dwikora dalam konfrontasi dengan Malaysia.



4. Soal Ada Tidaknya Dewan Jenderal?

Pertentangan petinggi AD dengan Sukarno begitu kentara. Nasution, selaku perwira senior AD, yang sudah menjabat Menteri Pertahanan. Sebuah jabatan tak bergigi bagi seorang perwira tinggi militer sepertinya. Artinya Nasution tidak punya pasukan, meski tingkat jabatannya diatas Panglima yang memegang puluhan ribu pasukan yang diantaranya mahir bertempur.

Jenderal pemegang pasukan di AD adalah Suharto, Umar Wirahadikusumah (Pangdam Jakarta), Ibrahim Adjie (Pangdam Siliwangi di Jawa Barat). Di KKO ada Mayor Jenderal Hartono. Di AD, lebih kebawah lagi ada Kolonel Sarwo Edhi Wibowo komandan RPKAD, kawan lama Yani dan sama-sama berasal dari Purworejo.[6]

Petinggi AD di SUAD umumnya adalah orang-orang anti-komunis. Banyak dari para perwira ini merasa bahwa Konfrontasi melawan Malaysia di perbatasan adalah sesuatu yang tidak perlu didukung. AD tampak setengah hati saja dalam menghadapi Dwikora. Padahal Sukarno jelas begitu antusias.

Tidak heran jika Konfrontasi Dwikora juga dianggap sepi oleh sebagaian pucuk perwira Angkatan darat. Hanya ada sedikit pasukan komando Angkatan darat yang diterjunkan semasa Dwikora. Sementara, KKO yang terkenal loyal terhadap Presiden Sukarno, beserta sukarelawan lainnya sajalah yang berada di sekitar perbatasan Malaysia berperang. Sementara kebanyakan pasukan AD hanya sibuk dengan perang saudara di Jawa. Dan KKO adalah prajurit yang tidak melibatkan diri dari perang saudara—yang dibanggakan orde baru sebagai penumpasan kaum komunis.



Jenderal Abdul Haris Nasution, Wakil Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan yang gagal diculik pasukan Untung. (http://mahasurya-46.blogspot.com/p/sekilas-mahasurya.html)


Nasution tidak loyal pada Sukarno. Nasution sudah berbeda pendapat dengan Sukarno sejak Peristiwa 17 Oktober 1952. Nasution terkenal sebagai Jenderal yang cerdas dan kuat ketika menjadi KSAD. Dalam sejarah, Nasution adalah KSAD terlama. Dia sempat diskor dari posisinya sebagai KSAD selama tiga tahun. Meski banyak musuh, terutama dalam kasus PRRI/Permesta, posisi Nasution tetap kuat. Karena kuatnya posisi Nasution di AD, maka posisi Nasution kemudian dilemahkan. Tahun 1962, Nasution tidak lagi menjadi KSAD. Hingga Nasution menjadi Jenderal tanpa pasukan.

Meski tanpa pasukan, Nasution tidak sendiri dalam berbeda pendapat dengan Sukarno. Yani, pengganti Nasution, yang semula dianggap loyal kepada Sukarno juga kemudian bersebrangan dengan Sukarno. Jumlah musuh Sukarno pun bertambah dan Sukarno tidak bisa merangkul AD. Padahal AD adalah kekuatan militer terbesar di Indonesia.

Isu Dewan Jenderal semakin sensitive di zaman orde baru. Kontraversi keberadaan Dewan Jenderal tentu menjadi masalah. Seorang perwira tinggi pernah terkena masalah karena menyatakan Dewan Jenderal itu ada. Ahmad Sukandro, nama Jenderal itu, kemudian dijauhkan dari pusat kekuasaan. Mayjen Achmad Sukendro - Ditahan selama 9 bulan di RTM Nirbaya karena pernah mengakui keberadaan Dewan Jenderal dalam sebuah seminar Angkatan Darat.[7]

Ditakutkan pengakuan Sukendro itu dipercaya banyak pihak. Apalagi Sukendro juga menjadi sasaran penculikan pasukan Letkol Untung pada malam 30 September 1965. Selain itu Sukendro adalah orang kepercayaan Nasution. Nasution sendiri tidak banyak bicara soal Dewan Jenderal. Pemerintah Orde Baru adalah yang paling berkeras bahwa-sanya Dewan Jenderal itu tidak pernah ada. Hal ini dimaksudkan untuk menyudutkan kaum komunis sebagai pelaku utama kudeta 30 September agar aksi pembunuhan besar-besar yang dijalankan RPKAD dan sekutu anti komunisnya tidak tercium.

Istilah Dewan Jenderal konon diciptakan oleh petinggi partai komunis untuk menjatuhkan Jenderal Angkatan Darat. Dimana Dewan Jenderal ini berniat untuk melakukan kudeta terhadap Sukarno. Tentu saja hal ini diangap fitnah oleh kelompok perwira itu.

Ada yang menyebut bahwa kudeta akan dilakukan pada tanggal 5 Oktober 1965. Hal ini nampaknya sulit dipercaya. Tidak pernah ada terlihat bahwa para petinggi AD di SUAD melakukan persiapan kudeta terhadap Sukarno. Petinggi AD tidak melakukan manauver apapun menjelang akhir September. Artinya tidak ada bukt kuat jika AD akan melakukan kudeta pada tangga 5 Oktober 1965. Hanya ada persiapan pasukan RPKAD dalam jumlah kecil di Jakarta untuk diberangkatkan ke Kalimantan dalam rangka memperkuat pasukan dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Soal Dewan Jenderal sediri, tidak ada sebuah komunitas pun yang menyatakan diri sebagai Dewan Jenderal menjelang Peristiwa 30 September. Hanya ada sekelompok Jenderal AD saja yang bersebrangan dengan Sukarno. Mereka juga tidak menyatakan diri sebagai Dewan Jenderal. Jika pun ada yang dsebut Dewan Jenderal, tentunya bukan sebagai institusi resmi. Tidak lebih hanya sekelompok kecil Jenderal SUAD, yang tidak sadar bahwa mereka adalah sebuah komunitas. Mereka adalah orang-orang anti Sukarno.

Mereka punya potensi menjadi junta militer. Seperti yang terjadi di Negara-negara berkembang yang baru merdeka. Hal lumrah di negara seperti itu bagi AD untuk mendirikan junta militer. Jumlah AD berlebih tentu sebuah potensi demi terbentuknya junta militer. Hanya tinggal melakukan kudeta saja.




Letnan Jenderal Ahmad Yani. Orang yang dianggap Dewan Jenderal dan harus bernasib naas di Lubang Buaya karena penculikan bekas pasukan Banteng Raider yang pernah didirikannya.

(http://pahlawannasional-indonesia.blogspot.com/2008/11/jenderal-anumerta-achmad-yani.html)


Apalagi Yani adalah seorang yang ambisius dan kehilangan atas respeknya terhadap Sukarno. Dengan sakitnya Sukarno tentu pertanda akan adanya keekosongan kekuasaan di Indonesia. Jika ada pemilu, maka PKI sangat berpotensi menjadi pemenang. Sebuah hal yang sangat tidak disukai dan tidak boleh terjadi bagi petinggi AD yang anti komunis karena dekat dengan Sukarno.

Nasution, Yani dan kawan-kawan Jenderalnya adalah harimau bertaring menjelang Oktober 1965. Jika mau, mereka bisa melakukan kudeta menjelang Oktober 1965. Dukungan luar tidak perlu diragukan. AS yang anti komunis tentu akan mendukung Jenderal-jenderal AD tersebut untuk merebut kekuasaan dan menggulingkan Sukarno. Dukungan umum dari AD yang terpecah tentu masih mejadi masalah.

Harapan AS adalah menghancurkan kaum komunis Indonesia, yang bisa jadi akan bersekutu dengan Komunis Vietnam atau Republik Rakyat China. Teori Domino AS untuk menghambat komunis juga harus dilakukan di Indonesia. Duta Besar AS, Marshal Green konon tidak bisa berbuat banyak dalam mengontrol kegiatan intelejen AS di Indonesia untuk menghancurkan Sukarno.

Petinggi AD, para jenderal pembangkang itu tentu tidak akan sulit melakukan kudeta jika waktunya tepat. Cukup menggerakan RPKAD dan pasukan lain yang masih pro SUAD saja sebenarnya. Komandan RPKAD adalah Kolonel Sarwo Edhi Wibowo—ayah mertua dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—yang kawan lama Yani. Mereka sama-sama berasal dari Purworejo.

RPKAD bisa dijadikan pasukan utama kudeta. Namun memenuhi pasukan pendukung adalah hal mustahil. AD sendiri memang terpecah. Tidak semua perwira, terutama di daerah, mau dan bisa sepaham dengan perwira tinggi SUAD di Jakarta. Artinya kudeta bisa dilakukan namun dengan mudah bisa dicounter pasukan lain.

Seumpama, Sukarno meninggal tentu jenderal SUAD akan bergerak dengan kekuatan yang ada. Hal ini tentu untuk menghindari berkuasanya kaum komunis. Kekosongan kekuasaan ditengah kekacauan jika Sukarno meninggal tentunya membuat jenderal tertinggi AD, entah Nasution maupun Yani, akan naik sebagai penguasa. Kondisi keamanan sendiri bisa menjadi alasan bagi petinggi AD tadi untuk menjalankan status Negara dalam bahaya. Yang tentunya akan mempermudah tindakan refresif mereka pada kelompok yang akan menentang mereka atas nama menegakan ketertiban dan keamanan.


5. Para Jenderal AD Dimata Kelompok Untung

Bagi kelompok Untung, para Jenderal SUAD itu ditambah Menteri Pertahanan, adalah orang-orang yang tidak loyal pada presiden dan kontrarevolusioner. Anggota kelompok Untung yang membangun komplotan anti Jenderal AD di SUAD, jelas beranggapan bahwa akan ada usaha dari kelompok Jenderal yang mereka cap sebagai Dewan Jenderal itu.

Kelompok Untung tentu begitu yakin jika apa yang mereka lakukan adalah menyelamatkan Presiden dan juga menyelamatkan Revolusi Indonesia yang berusaha dihalangi Dewan Jenderal itu. Dewan Jenderal, dalam hal ini adalah Jenderal-Jenderal AD, yang diantaranya adalah atasan Untung juga, adalah musuh berbahaya dan layak untuk disingkirkan.

Tidak ada alasan lagi bagi Untung sebagai prajurit revolusioner untuk taat pada Jenderal macam Yani dan kawan-kawan SUAD-nya. Sebagai prajurit revolusioner, Untung tentunya hanya tunduk pada Pemimpin Besar Revolusi yang jelas konsisten pada Revolusi Indonesia. Sementara itu, Yani selaku Pemimpin AD dan juga atasan Untung karena Untung sejatinya adalah prajurit AD juga, tidak perlu lagi dianggap pemimpin AD dari sebuah Negara yang menjalankan revolusi. Yani dan kawan-kawannya jelas dianggap sebagai duri dalam daging bagi Presiden dan revolusi.





[1] Angkasa Edisi Koleksi, no 65, Kisah hebat AK-47 & Lima Senapan Legendaris, Jakarta, Gramedia, tanpa-tahun, hlm. 107.



[2] Harold Crouch, Army and Politics In Indonesia, ab. T.H. Sumarthana, Militer & Politik Di Indonesia, Jakarta, Sinar Harapan, 1999. hlm. 107.



[3] Commando, edisi No 1 th IV, 2010. hlm. 72-73.



[4] Angkasa Edisi Koleksi, no 65, Kisah hebat AK-47 & Lima Senapan Legendaris, Jakarta, Gramedia, tanpa-tahun, hlm. 107.



[5] Hendro Subroto, Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Komando, Jakarta Kompas, 2009. hlm. 141-143.



[6] Amelia Yani, Ahmad Yani Profil Sang Prajurit, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1990, hlm. 240.


[7] Teguh Budi Santoso, Pembersihan Jenderal, Dalam http://anusapati.com/?p=45 (Diakses November 2009, pukul 22.00)



Senin, Juli 12, 2010

Akhirnya KNIL Bubar Juga


60 tahun lalu, serdadu-serdadu KNIL makin gelisah menjelang 26 Juli 1950. Mereka meraba masa depan suram sesudahnya.

Sekumpulan pembela ratu Singa itu harus terima kenyataan pahit. Mereka harus dikalahkan oleh Diplomasi yang berpihak pada Indonesia. Padahal, mereka baru saja sukses mendesak kekuatan militer Indonesia pada 19 Desember 1948. Dimana Militer Indonesia hanya bisa bergerilya. Para pembela ratu Singa itu nyaris sukses dengan semakin luasnya wilayah pendudukan Belanda.
Merekalah Koninklijke Nederlandsch Indische Leger. Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Hampir 75% anggotanya adalah pribumi Indonesia. Lebih dari 100 tahun mereka menegakan kekuasaan Hindia Belanda di nusantara. Dimana banyak pemberontakan suci kaum pribumi yang ingin bebas dari kekuasan asing ditindas. Itulah tugas KNIL. Tugas serdadu atau militer professional yang baru muncul di Indonesia. Ada yang menyebut KNIL serdadu bayaran, walau sebenarnya KNIL adalah tentara regular. Seorang penyair menyebutnya bandit VOC.
Meski sempat vakkum di Indonesia, semasa pendudukan Jepang, KNIL dibangun lagi dengan persenjataan lebih canggih dan kostum yang berbeda dibanding sebelum Jepang datang. Dengan pasukan baru yang terdiri dari orang rekrutan dari kamp tahanan Jepang dan lainnya, KNIL tampil lagi sebagai pembela Ratu Singa. Tugas mereka bukan melawan pemberontak, melainkan Negara baru.
Dengan dukungan lebih dari 3 divisi KL dari Negeri Belanda, yang sebagian ogah-ogahan bertempur lawan Negara merdeka, KNIL begitu bersemangat menghabisi kekuatan bersenjata Indonesia. KNIL jauh lebih bersemangat dan lebih bisa diandalkan daripada KL dari Belanda.

Mulai Gelisah

KNIL pun tampil sebagai musuh tentara dan orang Indonesia. Dimana banyak militer Indonesia dulunya juga mantan KNIL sebelum revolusi. KNIL asli Indonesia tampak lebih beringas daripada KL—yang Belanda asli. Hingga mereka kerap disebut Belanda Item. Selama beberapa tahun revolusi, KNIL cukup sukses bertempur.
Hingga datanglah KMB yang begitu menguntungkan Indonesia sebenarnya. Jadilah KNIL sebagai orang kalah secara politis. Ternyata kemenangan militer Belanda tidak diikuti kemenangan politis dalam diplomasi. Serdadu-serdadu KNIL lalu gelisah. Sebuah poin KMB adalah bahwa KNIL akan dimasukan dalam TNI. Padahal TNI adalah musuh KNIL selama hampir lima tahu revolusi Indonesia.
Parahnya lagi gaji mereka di TNI nantinya jauh lebih rendah daripada semasa mereka di KNIL. Di TNI mereka hanya terima upah f. 4 seminggu. Sementara di KNIL mereka bisa terima f. 140 sebulan. Sebuah kondisi yang makin pahit. Kalah secara politis dan terancam miskin. Belum lagi mereka akan bertemu orang-orang bekas musuh mereka yang sudah dipastikan akan memusuhi mereka di barak.
Para serdadu KNIL pun mulai gelisah. Masalah gajih dan kawan yang dulunya musuh yang masih sulit menerima kehadiran meraka. Kebiasaan buruk mereka pada minuman keras, dan sikap temperamental serdadu KNIL, yang tidak bisa diragukan lagi, tentu semakin tidak terkontrol atas kondisi buruk politik Indonesia. Mereka cenderung indisipliner.
Pasca penandatangan KMB, 27 Desember 1949, pikiran mereka terganggu. Hingga dengan mudah diajak oleh jaringan Westerling untuk bertindak rusuh. Tidak heran jika sebagian KNIL kemudian terlibat dalam aksi Angkatan Perang Ratu Adil binaan Westerling—yang tidak menjadi kapten KNIL yang pimpin pasukan khusus Belanda. Aksi APRA itu cukup kesohor di Bandung dan Jakarta.
Kekecewaan KNIL di Makassar pun tidak terbendung lagi. Sepasukan TNI yang terdiri dari satu batalyon pimpinan mayor Hein Worang dikirim ke Makassar. Pemerintah RI begitu bernafsu dan gegabah mengirimkan pasukan Worang. KNIL di Makassar itu menolak kedatangan pasukan pemerintah karena merekalah yang brwenang menjaga kota Makassar. Peristiwa Andi Azis tentu tidak akan terjadi jika pasukan TNI tidak dikirim kesana. Pemerintah harusnya bersbar dan menunda pasukan Worang mendarat. Karenanya, bentrokan KNIL dan TNI disana tidak bisa dihindari.

Dijauhi

Agenda pembubaran KNIL 26 Juli 1950, tentu membuat banyak KNIL frustasi. Meski mereka diberi pilihan untuk masuk TNI atau masuk KL dan ikut ke Negeri Belanda. Selama masa penantian itu mereka biasa berbuat rusuh. Mereka begitu tempramentalnya dengan membuat keributan. Mereka tampak belum puas bertempur melawan tentara Indonesia.

Sebelum KNIL dinyatakan bubar pada 26 Juli 1950, beberapa kerusuhan antara KNIL dan TNI kerap terjadi. Seperti di Bandung, Jakarta, Bogor, Makassar dan Malang. Di Jakarta, Bandung dan Bogor masih terkait dengan peristiwa Westerling.

Saya menemukan nama Letnan Spier, mungkin Emile Spier kata Fredrick Willem kawan saya di Nijmegen, dalam arsif seputar Peristiwa Westerling yang saya temukan di Gedung Arsip Nasional Jakarta. Spier berasal dari KL. Dirinya memiliki beberapa pengikut yang terlibat dalam peristiwa Westerling. Dimana pengikut APRA Cibarusa dipersenjatai olehnya.

Pengikut Westerling yang lain adalah Adjudant Tanasale. Dia KNIL Ambon yang hnya berpangkat Spaandrig (serdadu kelas I) sebelum revolusi Indonesia. Dia anggota Batalyon X di Senen, Jakarta—yang kerkenal ganas dan kejam pada pemuda Pro Republik Indonesia yang mereka temui.

Tanasale konon telah membunuh beberapa orang Indonesia militan hingga pangkatnya dinaikan menjadi adjudant (setara pembantu letnan) di KNIL dimasa revolusi. Ada kabar yang menyebutkan bahwa Tanasale telah masuk TNI dengan pangkat Kapten.

Di Makassar adalah peristiwa Andi Azis. Dimana Kapten Andi Azis yang sudah masuk TNI harus terkena getah dari serdadu gelisah. Pengaruhnya atas pasukan KNIL di Makassar membuatnya terseret dalam masalah yang biangnya adalah pemerintah RI di Jawa yang memaksakan diri untuk mengirim pasukan TNI ke Makassar.

Dan di Malang tidak banyak diketahui. Setidaknya saya belum menemukan buku yang menyebut kerusuhan KNIL di Malang. Dimana sekelompok serdadu KNIL, dari suku Ambon, membuat keributan di Alun-alun Malang. Mereka beselisih dengan orang-orang China. Semula terjadi cek-cok di Bioskop REX Malang. Yang kemudian berlanjut dengan baku tembak di dekat restoran China dekat Alun-alun. Begitu kata arsif yang saya temukan di arsip nasional Jakarta.

Rupanya, banyak juga anggota KNIL dan KL di bioskop. Namun mereka memilih tidak ikut dalam keributan. Karena mereka mengakui kekalahan meraka dalam revolusi Indonesia. Mereka merasa Indonesia adalah Negara merdeka. Sebagai militer mereka hanya mennggu nasib. Ke Belanda atau masuk TNI.

Diantara serdadu gelisah itu. Banyak juga yang memilih tidak bersikap temperamental. Gelisah adalah hal yang biasa dialami di masa perang. Mereka gelisah soal masa depan mereka pasca perang. Inilah yang dialami banyak serdadu KNIL. Hilangnya pekerjaan. Hilangnya kehidupan yang sebelumnya nyaman. Mungkin masih banyak ketakutan akan kehilangan lagi.

Serdadu bawahan KNIL yang hidupanya keras, apalagi pasca revolusi Indonesia yang membuat mereka harus kalah, membuat mereka menjadi orang yang nampak berbahaya bagi banyak orang Indonesia. Mereka kerap dijauhi. Seperti dialami Geritz Kakisima, seorang mantan KNIL dan NEFIS yang masuk TNI. Letnan itu sangat dijauhi meski keahlian militer yang diperlukan TNI.

Dimasa lalu, zaman revolusi, mereka dicap sebagai pengkhianat dan musuh. Tidak heran jika kemudian mereka membuat iri para bekas pejuang yang tidak bisa diterima dalam TNI.

Begitulah nasib KNIL yang harus tumbang oleh revolusi Indonesia. Dan serdadu-serdadunya yang gelisah pun ikut tertelan sejarah di kemudian hari. Mereka hanya bisa timbulkan keributan-keributan menjelang mereka dibubarkan.

120 tahun bukan waktu singkat bagi KNIL berkiprah di Indonesia. TNI pun masih baru separuh usia KNIL sekarang. Suka tidak suka KNIL juga punya kontribusi pada TNI meski sering dinafikan kaum nasionalis anti Belanda. Sementara itu, dari KNIL, petinggi TNI hanya bisa mengambil sisi buruk saja. Seperti hanya bersiap menindas bangsa sendiri daripada bertahan dari serangan luar. Sementara sisi professional KNIL tidak pernah bisa ditiru dengan baik kecuali jadi jargon.

Semoga dimasa depan TNI bisa lebih baik daripada KNIL!!!!

Rabu, Juli 07, 2010

Perwira Polisi Korup: Pemuja Rahasia van Rossen


Beberapa waktu lalu, saya dengar majalah Tempo diborong dalam jumlah besar. Entah oleh kelompok mana? Kemudian, saya baru tahu, jika cover majalah Tempo edisi 28 Juni –4 Juli 2010 itu bergambar polisi senior memegang kekang beberapa ekor celeng (babi) gemuk. Laporan utama edisi itu adalah Rekening Gendut Perwira Polisi. Aksi borong itu tentunya membuat publik berpikir bahwa polisi-lah yang memborong majalah-majalah itu hingga sulit dicari di pasaran.
Beberapa hari kemudian ada berita jika kantor Tempo dilempar bom Molotov. Lagi-lagi tidak tahu pasti siapa pelakunya. Judul artikel beserta covernya itu tentu bias bikin gerah petinggio Polisi, terutama yang merasa memegang rekening. Sebuah tanda bahaya.
Aksi borong dan pelembaran bom Molotov itu, membuat banyak orang berfikir jika polisi ada balik semua aksi tadi. Beberapa orang berpikir, polisi lakukan itu demi menjaga nama baik korps. Tapi kebenaran belum terkuak. Kita semua hanya bisa berspekulasi. Tanpa tahu siapa pelaku sebenarnya. Ini hanya permainan yang menguntungkan pihak tertentu.
Polisi korup bukan hal aneh. Film-film Mandarin, Hollywood, juga film-film Bollywood sudah sering mengangkat cerita tentang polisi-polisi korup. Terutama kelas perwiranya. Anak kecil juga tahu sepertinya.
Polisi bukan sosok yang menyenangkan bagi banyak orang Indonesia. Polisi bahkan bukan pengayom, seperti dalam jargon-jargon mereka. Rasa aman pada masyarakat pun gagal diberikan polisi. Polisi masih hanya sebagai alat politis semata. Polisi hanya dikenal sebagai tukang tilang di jalan raya.

Dulu Memang Ada Yang Begitu

Tidak ada yang kaget soal polisi sekarang korup. Sebelum orang Indonesia, pimpin kepolisian, zaman kolonial sudah ada polisi korup. Tanggal 24 Oktober 1923, suratkabar Oetoesan Melajoe-Perobahan, menulis Asisten Residen Meester Cornelis (Jatinegara), Jakarta, bernama Beck telah diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya. Pemecatan Beck itu terkait dengan penggelapan uang belasting (pajak perorangan). Rupanya, Beck bukanlah pelaku utama, masih terdapat nama komisaris polisi van Rossen dan bekas kepala Accountandiesnt, yang paling aktif berperan dalam penggelapan terkait dengan posisinya sebagai kepala akuntan. Beberapa pelaku penggelapan uang negara itu akhirnya akan dihadapkan ke Raad van Justitie di Betawi (Jakarta).
Kejadian itu bikin gempar pemerintah kolonial Hindia Belanda di Batavia. Pada 2 November 1923 Di Istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jakarta telah diadakan konferensi. Konferensi dihadiri oleh sekretaris pemerintah kolonial, Welter--yang kemudian menjadi Menteri tanah Jajahan Belanda. Pembicaraan konferensi itu mnyengkut siapakah yang akan diajdikan Kepala Komisaris Polisi Betawi pasca terbongkarnya penggelapan yang dilakukan oleh van Rossen--Komisasris Polisi sebelumnya. Lowongan ajun komisaris Polisi Bogor juga dibicarakan. Kali ini pemerintah akan lebih berhati-hati dalam menunjuk seorang komisaris polisi yang membawahi dua daerah penting pusat kekuasaan kolonial Hindia Belanda itu.
Tanggal 6 November 1923 Tersiar kabar bahwa Seorang perwira militer dalam dinas militer Hindia Belanda akan diangkat menjadi Kepala Komisaris Polisi Betawi. Pengangkatan iini terkait dengan terjadinya kecurangan-kecurangan orang-orang dalam tubuh kepolisian Betawi. Tidak hanya perwira, personil lain kepolisian juga akan diambil dari orang-orang Militer, karena orang-orang sipil yang menjadi polisi itu tidak bisa bekerja dengan baik dan jujur.
Tanggal 15 November 1923 Oetoesan Melajoe Peroebahan kemudian juga memberitakan Politie Bond (Perkumpulan anggota Polisi) yang merasa tidak senang dengan rencana pengangkatan orang militer sebagai kepala Polisi di Betawi menyatakn keberatannya. Mereka akan mengajukan keberatan mereka pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta. Mereka tidak menginginkan adanya campur tangan militer dalam kepolisian dalam wujud pengangkatan seorang perwira militer sebagai kepala polisi yang membawahi wilayah sebesar Betawi. Penolakan ini bermula dari rencana pemerintah kolonial untuk mengangkat seorang perwira militer untuk menggantikan komisaris polisi van Rossen yang terlibat kasus pengelapan uang negara.

Van Rossen Belum Mati

Kasus van Rossen adalah kasus klasik yang kerap berulang. Orang-orang Indonesia tentu bisa, bahkan mudah membayangkan, jika perwira polisi ala van Rossen masih ada. Yang digelapkan tentu bukan lagi uang belasting, seperti zaman kolonial. Bisa uang tilang dari pelanggaran pengendara di jalan raya.
Kawan saya, Oryza Aditama, pernah membaca di sebuah Negara barat, uang tilang bisa membangun jalan layang. Betapa pelanggar hukum pun berkontribusi pada pembangunan. Disini, Indonesia katanya, tidak pernah jelas kemana uang tilang dipergunakan.
Polisi adalah orang bersenjata paling kaya. Seperti para mafia cosa nostra di pulau Sicilia, Itali sana. Bedanya hanya yang berseragam tentu lebih sok suci. Alias pakai bawa nama Tuhan, ketika disumpah sebelum menjadi dan menjabat. Kita tahu sekarang itu omong kosong.
Polisi Indonesia, terutama kalangan perwira tertentunya, seolah dirasuki jiwa-jiwa van Rossen. Bukan jiwa Pancasila—yang rajin diobral di khalayak. Van Rossen adalah contoh pejabat polisi korup yang tentunya tidak patut diitiru.
Meski tidak layak ditiru oleh polisi Indonesia, setelah puluhan tahun Indonesia merdeka,polisi Indonesia adalah masih juga korup. Seperti para polisi yang menjajahnya. Saya yakin polisi Indonesia tidak pernah tahu siapa dan apa yang dilakukan van Rossen, tapi kelakuan van Rossen banyak ditiru sebagian perwira polisi.
Saya tidak tahu nasib van Rossen setelah korupsinya terbongkar. Van Rossen masih tetap ada dan tidak pernah mati, karena sebagian perwira polisi Indonesia adalah pemuja rahasia van Rossen.

Dari Polisi Kebon ke Densus Acak Acak


Seharusnya, orang-orang Indonesia muntah dengan polah sok aksi para polisi yang mengatas-namakan pemberantasan teroris. Menangkap orang yang dicurigai seperti penculik aktivis 1998. Pemeriksaan terhadap tersangka terorisme juga tidak pernah terbuka. Tidak ada azas praduga tak bersalah salah. Bagi sebagian orang tampak hebat. Bagi kemanusiaan itu jelas menjijikan.
Polisi bersenjata semacam Densus 88, katanya dibiayai oleh Amerika Serikat. Wajar jika tunduk pada kepentingan Amerika Serikat untuk memberantas orang yang disebut teroris. Polisi, dalam hal ini Brigade Mobil, memang sudah menjadi alat AS sejak zaman revolusi Indonesia. Ketika CIA-AS tidak percaya pada TNI AD, maka polisi Indonesia dibina untuk menghabisi kaum komunis. Tidak heran jika kemampuan Brimob setara dengan tentara. Sekarang, ketika komunisme habis, maka musuh lain terorisme adalah kelompok Islam garis keras. Dan jika Islam garis keras, entah siapa yang akan dihabisi. Begitulah alat amerika kebanggan Indonesia itu. Sejarahnya juga cukup panjang.

Polisi Kebon
Zaman Hindia Belanda terdapat istilah Veldpolitie. Di Italia terdapat istilah Carabinieri. Semacam pasukan para-militer. Tidak diketahui, Negara mana yang menggunakan pasukan semacam ini untuk pertama kalinya. Namun di Eropa pernah ada pasukan marechaussée—yang di Indonesia disebut Marsose.
Di Hindia Belanda, Marsose adalah pasukan gerak cepat dengan seragam hijau dengan tanda garis bengkok warna merah pada lengan dan leher terdapat gari merah. Dalam tugasnya, mereka dibekali senjata khas penduduk setempat, semacam klewang. Mereka memakai bedil dengan ukuran yang lebih pendek dari bedil biasa, karaben. Mereka tidak tergantung pada angkutan militer dan biasa berjalan kaki. Mereka tidak bergantung pada jalur suplai logistik.
Pemerintah Kolonial sendiri memiliki pasukan para-militer di kepolisian. Mereka bersenjata karena biasa dikerahkan menghadapi para pemberontak dan perusuh yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah kolonial yang dirasa menindas. Pasukan para-militer ini setidaknya sudah ada sejak 1919.
Pada 17 Februari 1919, Mr. Hoorweg berangkat ke Jawa Tengah dengan tujuan akan membentuk veldpolitie (polisi lapangan). Awalnya ada kabar yang menyatakan bahwa van Hambracht akan diangkat menjadi inspektuur (inspektur) dari veld politie. Tetapi kabar tersebut seakan sirna saat diketahui bahwa tahun ini van Hambracht ada keinginan untuk pergi ke Eropa dan telah mendapatkan ijin dari atasannya.
Awalnya veld politie ini bernama Gewapende Politie (polisi bersenjata). Tugasnya antara lain, Menjaga keamanan dan ketertiban serta meredam segala konflik dengan tetap menjunjung tinggi hukum sipil agar tindakan yang merupakan tugas aparat militer tidak terjadi. Veld politie inilah yang bisa dikatakan sebagai organ polisi pertama kali yang kontak secara langsung terhadap beberapa perlawanan massa, sebelum aparat militer turun tangan secara langsung jika situasi benar-benar sudah tidak terkendali. Brimob POLRI saat ini sebenarnya sedikit banyak juga merupakan metaforfosis dari paramiliter era penjajahan Belanda ini.

Semakin hari, karena semakin panasnya gerakan perlawanan kaum Merah, maka pada 31 Maret 1927 Departemen Dalam Negeri berencana melakukan Perluasan polisi dengan penambahan veldpolitie (polisi kebon).
Kerusuhan adalah gangguan yang dialami oleh pemerintah Kolonial yang ingin menegakan Rush en Orde. Salah satunya adalah pencegahan menghindari kerusuhan besar karena bentrokan kecil di Banten tahun 1932. Banten sendiri pernah terjadi pemberontakan beberapa kali. Jadi kali ini Pemerintah Kolonial langsung mengirimkan pasukan Veldpolitie-nya.
Veldpolitie juga tidak hanya menanggulangi kerusuhan tapi dilibatkan juga dalam membantu tugas polisi lain. Seperti penggerebegan pabrik minuman keras. Seperti yang terjadi pada 30 Maret 1930. Dimana Petugas Veldpolitie di Tebingtinggi, tidak jauh dari Simujur, Sumatra Utara, ikut membongkar sebuah pabrik minuman keras yang tertangkap basah sedang melakukan kegiatan membuat minuman keras. Enam buah ketel, lima buah tong dan 15.000 tapeh disita. Dalam sehari pabrik tersebut dapat memproduksi 100 kaleng arak. Namun dari 10 orang pembuat arak, hanya 3 orang yang tertangkap, salah seorang yang tertangkap adalah penghulu.
Pasukan paramiliter Veldpolitie jelas dibutuhkan kehadirannya oleh pemerintah kolonial. Karena kehadiran militer sebisa mungkin dibatasi oleh pemerintah kolonial. Jadi Veldpolitie begitu diandalkan untuk menjaga ketertiban masyarakat di daerah yang pernah terjadi pemberontakan.
Tentu saja Pemerintah Kolonial menaruh perhatian begitu besar pada kesatuan Veldpolitie ini. Selain penambahan personil, tentunya pemerintah berpikir untuk melokalisasi tempat tinggal anggota Veldpolitie agar bisa digunakan sewaktu-waktu. Karenanya sebuah tangsi bagi tempat tinggal dan koordinasi agar kerja Veldpolitie efektif, seperti halnya KNIL.

Lalu Jadi Polisi Istimewa
Menjelang runtuhnya Hindia Belanda, Veldpolitie masih ada. Meski kemudian nama Veldpolitie tidak disebut, namun sejarah Veldpolitie atau Polisi Lapangan masih ada walau sempat sementara waktu dizaman Jepang. Hanya berganti sistem, bentuk, nama dan juga ditambah fungsinya namun intinya tetap saja sebagai pasukan polisi bersenjata yang bisa bergerak kemana saja.
Pemerintah militer Jepang menginginkan adanya tenaga cadangan yang dapat digerakkan dengan cepat dan memiliki mobilitas yang tinggi. Jika keadaan memerlukan, cadangan polisi ini dapat berperan sebagai tenaga tempur, keinginan ini akhirnya terealisasi dengan terbentuknya polisi khusus yang disebut Tokubetsu Keisatsu Tai (Pasukan Polisi Istimewa) pada April 1944.
Anggotanya terdiri dari para Polisi Muda serta Pemuda Polisi. Tokubetsu Keisatsu Tai didirikan di setiap keresidenan seluruh Jawa-Madura dengan fasilitas persenjataan lebih lengkap daripada Polisi Umum. Para calon anggota Tokubetsu Keisatsu Tai diasramakan serta memperoleh pendidikan dan latihan kemiliteran dari tentara Jepang. Maka dari itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa anggota Tokubetsu Keisatsu Tai adalah pasukan yang terlatih, berdisiplin tinggi, terorganisasi dengan rapi dan memiliki persenjataan yang cukup baik.
Di setiap keresidenan wilayah Jawa-Madura pada akhir tahun 1944 telah dibentuk Tokubetsu Keisatsu Tai dengan kekuatan satu kompi yang beranggotakan 60 sampai 200 orang, tergantung pada situasi wilayah kompi tersebut berada di bawah kekuasaan Polisi Keresidenan, umumnya Komandan Kompi berpangkat Itto Keibu (Letnan Satu).
Ketika Jepang menyerah kalah kepada sekutu dan kemudian Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, pada saat itu pula ‘masa penggemblengan’ Tokubetsu Keisatsu Tai telah cukup. Bersama-sama dengan rakyat dan berbagai kesatuan lainnya, anggota Tokubetsu Keisatsu Tai telah bahu-membahu ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Tentu saja memberi pengaruh pada polisi di Indonesia. Jika anggota PETA dipulangkan dan senjata dilucuti, maka polisi sebagai penjaga ketertiban masih menyandang senjatanya. Jadi polisi adalah satu-satunya kesatuan militer yang masih utuh, baik personil dan persenjataan ketika Revolusi Indonesia dimulai.
Selanjutnya, satuan polisi bersenjata tinggalan Jepang itu menamakan diri mereka Polisi Istimewa yang tunduk pada Proklamasi Sukarno Hatta 19 Agustus 1945. Selanjutnya Polisi-polisi harus bekerja lebih keras daripada sebelum laykanya tentara. Mereka tidak sempat jalani tugas sebagai polisi penertib. Mereka terpaksa jadi pasukan tempur atas tuntutan revolusi Indonesia—yang dalam bahaya karena kedatangan Tentara Belanda dengan KNIL-nya.

Jadi Brimob
Dalam usaha penyempurnaan Pasukan Polisi Istimewa, yang ketika itu masih terdapat banyak sebutan seperti Polisi Istimewa, Pasukan Polisi Istimewa, Barisan Polisi Istimewa, maka Komisaris Polisi Soemarto, yang ketika itu menjabat Wakil Kepala Kepolisian Negara mempunyai inisiatif agar Pasukan Polisi Istimewa diubah namanya menjadi Mobile Brigade (Mobrig) dan kemudian akhirnya menjadi Brimob. Dizaman pergolakan daerah dekade 1950an, Brimob juga ikut terjun menumpas pemberontakan daerah seperti PRRI/Permesta dan DI/TII.
Republik Indonesia pernah mendapat bantuan pelatihan militer dari Amerika. Latihan militer itu lalu diberikan pada Polisi bersenjata atau Brimob. Tentu saja kemudian Brimob menjadi semakin membangun diri sebagai kesatuan paramiliter yang memiliki kemampuan tempur seperti halnya pasukan darat milik Angkatan darat. Tidak heran diakhir orde lama Brimob dan KKO menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan.
Polisi brsenjata itu juga kemudian mendapat senjata AR-15—yang cukup mutakhir dizamannya. Tidak banyak kesatuan militer RI lain yang memilki senjata macam itu dizamannya. Senjata buatan Amerika Serikat itu adalah saingan AK-47 yang legendaris.
Brigade Mobil itu tentunya diperhatikan oleh Amerika Serikat—yang sedang giat-giatnya melakukan propaganda anti komunis. Tentu ada maksud dalam memperkuat Brimob. Tentu demi menghancurkan kaum komunis.

Mengacak Rumah
Ancaman terorisme, yang cendrung pro Marxis, di tahun 1970an, membuat banyak Negara di dunia barat maltih kembali polisi bersenjata mereka. Hingga akhirnya lahirlah semacam tim SWAT dalam penanggulangan teroris itu. Di Jerman Barat, yang mendapat serangan teroris dalam Olimpiade Munich, terpaksa membentuk tim polisi khusus legendarisnya, GSG 9 yang menjadi kiblat polisi khusus dunia.
Di Indonesia, juga terdapat Gegana. Hingga kemudian terbentuklah Densus 88. Dengan tujuan yang tentu sama dengan GSG 9 milik Jerman. Densus memdapat peralatan tempur terbaik tentunya. Seperti senapan MP 5 maupun senjata api dengan tingkat akurasi yang cukup baik. Selama ini, tim ini cukup mendapat pujian dari kepala Negara. Namun juga kritik atas aksi mereka di Temanggung yang dianggap beberapa pihak tidak efktif.
Aksi densus 88 di Temanggung itu terkesan serampangan. Karena banyak tembakan sia-sia yang dilakukan tim densus ke arah rumah dimana seorang yang diduga gembong teroris. Padahal orang yang mereka serang jelas lemah dan bukan perkara sulit, karena sudah terkepung. Aksi buang peluru itu tentu sangat mengganggu penduduk sekitar area penangkapan.
Selain aksi di Temanggung, masih di daerah Jawa Tengah, tim densus juga menggeladah rumah yang diduga dihuni oleh seorang teroris. Banyak orang tidak percaya atas dugaan polisi itu. Di rumah itu polisi tidak menemukan apa-apa. Sebuah pekerjaan sia-sia. Satuan yang banyak habiskan uang ini tidak berbuat banyak pada rakyat Indonesia. Hanya tuduhan dan isu keji atas seseorang sebagai teroris saja yang bias ditebar satuan ini. Juga kerusakan akibat aksi main tangkap yang sok aksi layaknya film Hollywood.
Sebaiknya Densus 88 kita sebut Densus Acak-acak yang tidak berguna bagi sebagian rakyat Indonesia, kecuali beberapa elit pemerintah yang begitu sujudnya pada kepentingan AS. Akan lebih berguna jika satuan ini dikerahkan untuk menghabisi kapal-kapal asing pencuri kekayaan laut Indonesia.

Rabu, Juni 30, 2010

Enrekang-Tana Toraja, Negeri Diawan


Menginjak Tana Toraja membuat saya bernyanyi sebuah lagu yang populer waktu saya kecil. Negeri Diawan judulnya. Yang video klipnya sangat bagus sekali.
Naar de Tana Toraja
Saya terbangun ketika bus malam yang saya tumpangi sudah mencapai Enrekang. Artinya, dari Makassar saya sudah melewati Maros, Pangkajane Kepulauan, Barru, Pare-pare dan Sidrap. Saya teringat, pemandangan di jalan-jalan menuju Tana Toraja begitu indah. Saya pun tidak bisa memejamkan mata lagi. Hari masih subuh, namun pelan-pelan pemandangan indah mulai terlihat.
Pelan-pelan, hari mulai terang. Barisan pegunungan yang berselimut kabut begitu indah di daerah Enrekang. Jalan menuju Tana Toraja dari Enrekang terus menanjak. Serasa bus akan mendekati awan.
Setelah melewati kota Enrekang yang begitu kecil, bus terus berjalan menanjak lagi mengitari lereng-lereng gunung. Di seberang gunung, masih ada gunung lagi yang lebih tinggi dengan dengan hanya dibatasi sebuah jurang yang cukup jalan. Sekitar 59 KM dari Enrekang, bus akhirnya melewati perbatasan Toraja-Enrekang. Di perbatasan itu terdapat sebuah gerbang tak berpintu dengan dilengakapi beberapa ruangan sebagai pos.
Ketika pagi datang, Tana Toraja masih menyisakan kabutnya. Meski hari sudah terang, beberapa pucuk gunung masih diselimuti kabut. Bukan hal buruk. Namun sebaliknya, disinilah daya tariknya Tana Toraja yang berada di dataran tinggi Sulawesi Selatan.
Pemandangan khas dari Tana Toraja adalah bentuk rumahnya yang agak mirip dengan suku Batak. Menyerupai bentuk tanduk. Bangunan unik khas toraja itu, yang saya lihat kali ini lebih kecil. Sebuah bangunan yang sebenarnya berfungsi sebagai lumbung. Bangunan yang lebih besarlah yang dimanfaatkan sebagai rumah untuk ditinggali sebuah keluarga.
Orang-orang Toraja masih mempertahankan kebudayaan lamanya. Yaqng tentunya sangat berbeda dengan suku Bugis atau Makassar yang terpengaruh Islam. Menurut Yamin Buan, kawan saya yang asli Toraja yang sekarang tinggal di Makassar, agama asli orang Toraja adalah semacam Animisme. Agama yang sekarang berkambang disana masuknya belakangan. Dibeberapa wilayah bahkan baru dianggap beragama ala pemerintah ketika zaman orde baru.
Sebuah pemberontakan terbesar di Sulawesi Selatan, yang mengatasnamakan sebuah agama dominan, konon agak memaksakan masuknya sebuah agama yang dianut pemberontak. Anda yang pernah baca buku sejarah Indonesia pasti bisa menebak agama apa itu, saya enggan sebut merek.
Orang-orang Toraja yang saya lihat adalah orang dengan kulit bersih karena alam mereka yang sejuk. Mereka biasa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Toraja sebagai bahasa ibu. Meraka salah satu masyarakat agraris dengan lahan pertanian yang subur.
Mereka tergolong sebagai masyarakat yang hidup modern, namun masih menjalankan tradisi lama, seperti pemakaman ala Toraja yang menghabiskan banyak dana. Mempertahankan penguburan orang yang sudah meninggal di bukit berbatu.
Beberapa hari sebelum saya injakan kaki di tanah Toraja, Tana Toraja, terutama di Makale—pusat pemerintahan Kabupaten Tana Toraja—begitu mencekam. Sekelompok masssa yang menolak hasil PEMILUKADA menyerang kantor KPUD Tana Toraja. Kotak suara hasil pilihan rakyat pun dibakar dan menuntut pemilihan ulang. Ketika saya melewati kantor KPUD, kantor itu masih diberi segel oleh polisi.
Selain Makale di Kabupaten Tana Toraja, di kabupaten Toraja Utara yang baru dimekarkan terdapat Rantepao. Keduanya adalah pusat kabupaten. Jarak dua daerah itu sebenarnya berdekatan. Hanya butuh waktu 15 menit dengan berkendaraan mobil. Keduanya adalah kota kecil yang cukup teratur. Makale tidak sedatar Rantepao.

Upacara Kematian
Ada beberapa kuburan batu di Tana Toraja dan Toraja Utara. Semuanya memiliki daya tarik. Upacara pemakaman orang Toraja juga memiliki daya tarik bagi pihak luar. Meski sebenarnya berkabung, upacara pemakaman yang besar-besaran itu terkesan seperti pesta.
Dari pengakuan orang-orang Toraja yang saya kenal, pemakaman itu ramai dan harus memotong banyak kerbau karena banyak anggota keluarga jauh datang menghadiri acara pemakaman itu.
Sebagai bentuk penghormatan pada tamu yang datang, yang kebanyakan dari luar daerah karena banyak orang Toraja merantau jauh dari Toraja, diluar Sulawesi Selatan tentunya. Dan perjalanan menuju Tanah Toraja tentu saja menguras banyak tenaga, maka menghidangkan makanan dalam jumlah besar menjdi keharusan. Tidak hanya bagi sanak keluarga yang dtang dari jauh saja, tapi juga semua yang hadir dalam acara. Itulah jawaban orang-orang Toraja atas betapa mahal dan ramainya upacara kematian keluarga mereka yang telah pergi.
Dalam upacara kematian biasanya dipotong beberap ekor kerbau. Padahal harga kerbau di Toraja cukup tinggi. Maklum, postur kerbau Toraja cukup besar dan nampak sehat. Kerbau Toraja umumnya berbulu. Dan kerbau Toraja adalah harta penting petani Toraja. Sebelum dipotong, kerbau diadu terlebih dahulu. Adu kerbau tentu menjadi tontotan yang mengasyikan bagi banyak orang. Cara penyebelihan kerbau pun dengan mengikuti tradisi lama.
Kadang, upacara penguburan menjadi agenda yang ditunggu-tunggu banyak wisatawan dari luar Tana Toraja. Paling ramai adalah ketika musim libur, dimana banyak anggota keluarga bisa berkumpul lebih banyak.

Menikmati Kota Kecil
Sebenarnya, Tana Toraja cukup menyenangkan. Alam dan kultur masyarakatnya yang masih asli cukup menyenangkan. Karena saya juga penasaran pada daerah lain di Tana Toraja, maka saya tidak bisa berlama-lama di Tana Toraja. Saya harus menuju Enrekang, yang subuh tadi saya lewati. Penginapan di Enrekang jauh lebih murah daripada di Tana Toraja. Jika ingin berhemat, untuk menginap ketika mengunjungi Tana Toraja dalam waktu yang singkat, sebaiknya menginap di Enrekang. Apalagi jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 59 KM.
Daerah ini memiliki pesona alam yang tidak kalah indahnya dengan Tana Toraja. Enrekang memiliki Gunung Latimojong, yang merupakan Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Enrekang juga punya gnung eksotik yang dikenal orang sebagai Gunung Nona, karena bentuknya yang menyerupai payudara wanita. Gunung ini dapat dilihat dalam perjalanan dari Enrekang ke Tana Toraja.
Enrekang dan Tana Toraja memiliki kultur masyarakat yang berbeda. Toraja adalah suku tersendiri di Sulawesi Selatan selain Makassar dan Bugis. Seperti ditulis Pelras. Sementara Enrekang, meski dianggap sebagai bagian dari suku Bugis, lebih merasa sebagai bagian dari Mesenrempulu. Sebuah komunitas yang memiliki perbedaan bahasa dengan Bugis.
Sebenarnya ingin mencari tahu sejarah Enrekang. Tapi sulit mencari jejaknya. Kecuali sebuah monumen perjuangan laskar Harimau Indonesia dan BPRI di jalan poros. Sebuah saksi bisu perjuangan dua laskar penting di Sulawesi Selatan. BPRI (Badan Pemberontak Republik Indonesia) terdapat ditempat lain di Indonesia. Dimana Soetomo alias Bung Tomo, tokoh penting 10 November 1945 adalah pimpinannya. Sementara Harimau Indonesia, hanya ada di Sulawesi Selatan. Walter Manginsidi pernah terlibat dalam laskar ini dalam menghadapi tentara Belanda. Selain monumen tadi, saya hanya ingat jika pasukan pemberontak pimpinan Kahar Muzakar pernah bergerilya melawan TNI di pegunungan Enrekang.
Perjalanan panjang dari Makassar Tana Toraja tentu melelahkan. Sekarang waktunya istirahat. Sambil menikmati dua tanah yang saya sebut saja Negeri di Awan, karena kabut begitu rajin datang kemari.

Senin, Juni 28, 2010

Ziarah Minggu Pagi


Sekian lama di Makassar, saya lebih sibuk kunjungi kota diluar Makassar. Hari inilah saya bisa menyusuri sedikit situs sejarah Makassar dan Gowa.


Hari minggu lagi. Bangun pagi lagi. Kali ini, dengan sepeda motor pinjaman Acil. Dengan badan masih bau, saya meluncur ke Jalan Peristis Kemerdekaan-Urip Sumoharjo-A.P Petarani-Sultan Alaudin-Sultan Hasanudin. Acara pagi ini hanya cuci-mata. Tentu saja ke situs sejarah seperti biasa. Sebuah ritual yang terus saya lakukan sejak kuliah sejarah.

Ada yang kurang dalam perjalanan saya. Mengunjungi makam pemberontak terhebat dalam sejarah Indonesia. Arung Palaka namanya. Saya memasukannya, dan dengan bangga pernah menulis artikel tentangnya dalam buku Pemberontak Tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan di Nusantara.

Saya mengira Arung Palaka dimakamkan di Bone. Ternyata tidak. Di Bone hanya ada keturunan dan penerusnya saja. Beberapa minggu lalu, Andi Irvan Zulfikar menyarankan saya mengunjungi makamnya di Gowa. Dia juga menyarankan saya mengunjungi makam Syech Yusuf—seorang pemuka agama Islam tersohor asal Sulawesi Selatan. Mungkin sekarang saatnya.

Ketika mencapai perbatasan Makasar-Gowa, saya mulai menurunkan kecepatan motor. Saya mencari jalan masuk ke makam Arung Palaka. Saya tidak menemukan plang tulisan Makam Arung Palaka, padahal saya melihatnya tiga hari yang lalu ketika kembali dari Selayar.

Maksud hati saya semula adalah menuju Makam Arung Palaka, namun yang saya temukan justeru makam Sultan Hasanudin. Tanpa pikir panjang, saya ikuti juga plang itu dan berbelok, menuju Makam Sultan Hasanudin. Setelah bertanya arah makam pada seorang tukang besak, saya temukan juga makamnya. Sebuah bangunan gaya lama dan cukup besar.

Makam Sultan Hasanudin, nampaknya bergaya Eropa. Tentu saja ada plang bertulis Pahlawan Nasional-nya. Sayangnya saya hanya bisa memotret sedikit dari luar saja. Tak apalah, saya tidak bisa berlama-lama di depan makam. Saya kembali pada tujuan semula, makam Arung Palaka. Karena masih agak lupa saya ke Balalompoa, rumah kebesaran kerajaan Makassar di Gowa. Bangunan ini cukup megah dan menjadi symbol kebesaran Gowa dimasa lalu. Hanya sebentar saja di Balalompoa, yang masih dalam perbaikan. Hanya memotret dari jauh saja.

Saya pun kembali mencari makam Arung Palaka lagi. Saya kembali ke jalan yang saya lewati sebelumnya dan mengamati plang-plang dipinggir jalan raya yag saya lewati. Akhirnya saya menemukan gerbang bertulis Makam Arung Palaka. Saya pun girang dan langsung menuju makam.

Jalanan menuju Makam Arung Palaka tidak sebagus jalanan ke Makam Sultan Hasanudin. Namun makam Arung Palaka lebih mudah dijangkau dengan berjalan kaki dari jalan raya.

Seperti halnya Makam Sultan Hasanudin, Makam Arung Palaka juga bergaya Barat juga. Terbuat dari batu dan berwarna putih. Makamnya cukup megah dari luar meski agak berlumut, seperti bangunan tua lainnya. Meski dimakan usia, baik makam Sultan Hasanudin maupun Arung Palaka sama-sama masih tampak kokoh.

Rupanya makam Arung Palaka sedang terkunci, maka saya hanya memotret dari luar saja. Meski saya tahu Arung Palaka bukan komunis maupun Sosialis, namun karena perjuangannya juga melawan penindasan maka saya menyanyikan dalam hati lagu Internasionale yang legendaris itu. Sebagai bentuk penghormatan saya atas pejang kemanusiaan yang berani berontak melawan penindasan.


"Bangkitlah kaum yang tertindas. Bangkitlah kaum yang lapar. Cita mulia dalam perjuangan. Senantiasa bertambah besar. Pikirkan adat paham lama, kita masa rakyat yang sadar. Dunia telah berganti rupa, untuk kemenangan kita. Perjuangan Penghabisan, bangkitlah melawan. Internasionale pasti jaya di dunia.Perjuangan Penghabisan, bangkitlah melawan. Internasionalepasti jaya di dunia."

Ini adalah lagu pemberontakan rakyat tertindas di seluruh dunia. Namun Arung Palaka dan pembebas lain dunia banyak yang berjuang sebelum lagu ini ada. Setelah itu saya pergi dengan bangga karena pernah berkunjung ke makam Arung Palaka.

Selanjutnya saya memacu kendaraan saya ke arah Benteng Sombaopu. Benteng terpenting milik Kerajaan Makassar melawan VOC dan sekutunya. Hanya sekitar 30 ment saja dari Makam Sultan Hasanudin dan Makam Arung Palaka. Benteng ini cukup besar dan menjadi pusat perekonomian di Sulawesi Selatan abad XVII. Dimana beberapa perwakilan asing seperti Portugis, Denmark, China dan Belanda pernah berkantor di sekitar benteng.

Di komplek situs sejarah benteng Sombaopu, terdapat museum Kareng Patingalong. Sebagai penghormatan pada penguasa Tallo yang begitu peduli pada ilmu pengetahuan. Dia adalah guru dan pelindung Arung Palaka ketika di Gowa, sebelum berontak. Sangat sedikit koleksi museum ini.

Setelah puas memotret saya meninggalkan komplek benteng Sombaopu. Jadi saya sudah menziarahi empat situs sejarah. Mulai dari makam Sultan Hasanudin; Istana Bolalompoa; makam Arung Palaka dan Benteng Sombaopu. Selanjutnya saya meluncur dengan sepeda motor pinjaman ke arah kota Makasar. karena asal jalan, saya tersesat. berkat jurus primitif saya ketika tidak tahu, bertanya, maka saya pun selamat. Seseorang menunjukan pada saya arah jalan raya menuju Makassar. Tidak butuh uang, cukup bermodal senyum saja.

Ternyata saya menyusuri jalan raya yang melewati Trans Studio, sebuah tempat wisata yang cukup besar. Dimana Yusuf Kalla dianggap berjasa dalam pembangunannya. Setelah itu saya ,elewati pantai Losari yang cukup ramai. Maklum hari minggu. Sebenarnya saya ingin ke Fort Roterdam, namun saya tidak tahu persis dimana tempatnya. Maka saya tunda dulu.

Saya pun berjalan ke arah Masjid Al Markaz-yang dibangun mantan Jenderal M Yusuf. Saya pun teringat plang bertulis makam Diponegoro ketika baru sampai di Makassar, tiga minggu sebelumnya. Saya pun mencari plang itu dan menemukannya. Saya ikuti plang itu dan menemukan juga makam Diponegoro. Pemberontak yang tidak diakui oleh kaum nasionalis. Malang sekali.

Bagi saya Pangeran Diponegoro jelas-jelas berontak pada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Meski bukan hal memalukan, menganggap Diponegoro sebagai Pemberontak karena tujuan dia berontak sangat mulia juga, melawan keserakahan pemerintah kolonial yang sok modern dengan menyerobot tanah makam leluhur Diponegoro dan kemudian membangun rel keretapi diatasnya. Sebuah hal politis untuk mencap semua pemberontak adalah salah. Karena teladan dan kharisma Diponegoro yang besar, maka gelar suci Pangeran DIponegoro sebagai pemberontak hebat di nusantara pun dihilangkan. Dasar Nasionalis picik.

Kampung kelahiran nenek saya adalah kampng yang berdiri pasca Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro. Setelah Diponegoro ditawan, maka pengikutnya pun bubar dan membangun banyak kampung di sekitar daerah Temanggung, Bagelen dan lainnya. Jadi riwayat saya maski tersangkut oleh Diponegoro, meski saya bukan turunannya. Mungkn keturunan pengikutnya.

Dengan makam Pangeran Diponegoro, maka sudah lima situs saya ziarahi. Selanjutnya saya kembali lagi ke Tamalanrea, basecamp saya. Untuk menulis lagi tentang perjalanan ini. Dan tentu saja mengembalikan sepeda motornya Acil.

Jika saya hidup di zaman perang Jawa, saya memilih ikut berontak dengan Pangeran Diponegoro. Dan jika saya hidup di zaman orang Bone dikerja-paksakan, maka saya memilih bergabung dengan Arung Palaka, meski saya bukan orang Bugis.

Jumat, Juni 25, 2010

Sambil Memantau Jalan-jalan di Selayar


Pesta Demokrasi lagi. Kali ini di Selayar. Lagi-lagi bukan sebagai pemilih. Berkali-kali saya sia-siakan hak pilih saya. Saya tidak pernah menyesalinya. Bagi saya, melihat orang lain pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan mencoblos pilihannya, daripada saya mencoblos.
Beruntung saya mendapat kesempatan sebagai pemantau PEMILUKADA (Pemilihan Umum Kepala Daerah). Dimana saya hanya perlu mendatangi TPS, lalu melaporkan hasil perhitungan suara ke Jaringan Suara Indonesia (JSI), melalui SMS saja. Bukan hal sulit. Bahkan lebih terkesan menyenangkan buat saya. Melihat orang berbondong datang ke TPS dan mencoblos pilihannya, sebagai ujud peran serta mereka dalam kehidupan bernegara dan berdemokrasi tentunya. Sayangnya saya terlambat datang ke TPS.
Namun bagaimanapun, hal yang membaut saya senang adalah saya bisa berkeliling Selayar. Saya tidak peduli dengan politik. Disini saya hanya memantau pemilu dan tidak perlu pusing dengan para kandidat pemilu. TPS bisa menjadi ajang silaturahmi bagi banyak orang. Dimana mereka bisa bertemu dan bersenda-gurau. Meski mereka punya pilihan berbeda dan berpotensi pada konflik. Hal terpenting ketika saya memantau PEMILUKADA adalah saya bisa belajar sedikit tentang orang-orang Selayar yang sebenarnya heterogen dimasa kini. Selayar adalah daerah wisata laut yang cukup menarik dan mulai dikembangkan, seperti Taka Bonerate yang merupakan area menyelam. Sayang saya tidak bisa kesana. Mungkin bukan sekarang.
PEMILUKADA adalah hal yang memungkinkan saya berada disini. Karena dengan menjadi pemantau maka saya diberngkatkan kemari. Karena saya tidak suka politik praktis, untuk saat ini, maka saya enggan bicara politik. Dan catatan ini bukan tntang PEMILUKADA, tapi sedikit catatan tentang Selayar yang baru saya kenal.

Selayar Asing Buat Saya
Selayar, ini adalah sebuah kepulauan yang indah. Saya tidak pernah mengetahui secara pasti letak pulau ini sebyenarnya. Dua minggu terakhir, saya makin sedikit memahami letak geografis Sulawesi Selatan. Saya bahkan tidak pernah memasukannya dalam gambar peta yang saya buat ketika SD dulu. Karena saya hanya mengerti Sumatra, Papua, Sulawesi, Jawa, Madura, Bali dan tentu saja Kalimanatan—tanah dimana saya dibesarkan. Beruntung bisa menjejakan kaki di pulau kecil ini, setelah menjejakan kaki di Sulawesi.
Untuk mencapai pulau ini, dari Makassar kita harus menyusuri beberapa (kota) Kabupaten di selatan provinsi Sulawesi Selatan—seperti Gowa, Takalar, Bantaeng lalu Bulukumba. Semuanya bisa memakan waktu sekitar 6 jam, termasuk istirahat makan di jalan. Di Bulukumba, kita harus menunggu kapal ferry untuk menyebrang di Pelabuhan Bira, Bulukumba. Dari Bira, diperlukan waktu setidaknya sekitar 2 jam untuk mencapai Pulau Selayar.
Kapal biasanya merapt di sore hari dan baru berangkat menjelang senja. Pemandangan sore hari di Bira cukup indah ketika matahari terbenam. Di sore itu tentu saja dipenuhi oleh hiruk-pikuk bongkar-muat kapal yang cukup ramai. Menyebrang menuju Selayar bukan hal mudahr. Gelombang laut yang kencang membuat kapal bergoyang. Itu yang kami rasakan. Berkali-kali kapal oleng. Meski menakutkan, para penumpang umumnya cukup mhiaklum atas kondisi ini.
Setelah dua jam lebih kapal merapat juga. Tidak mudah merapatkan kapal. Karena beberapa mil sebelum daratan pulau Selayar, ada sebuah area dengan gelombang keras. Hal ini tentu mempersulit dan membuat kapal harus berjalan melambung mengitari laut untuk mencapai pelabuhan Selayar. Pengalaman awak ferry menghadapi hal semacam ini, akhirnya membuat kapal merapat juga.
Pusat Kepulauan Selayar adalah daerah Benteng—sebuah kecamatan besar yang dan paling ramai Selayar. Dari pelabuhan, diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalan dengan mobil ke Banteng. Angkutan darat di Selayar adalah angkutan mobil yang biasa disebut pete-pete (istilah yang sama dengan yang d kota Makassar) atau ojek. Di pulau ini biaya hidup tinggi, jauh lebih tingggi daripada Makassar. Selayar adalah salah satu daerah wisata laut di Indonesia. Daerah Taka Bonerate adalah area menyelam banyak diminati.
Ini adalah kesekian kalinya saya berada di sebuah daerah, yang mana bahasa dan kultur masyarakatnya tidak saya pahami. Bahasa daearah di Selayar mirip dengan bahasa di Makassar. Meski masyarakat sehari-harinya berbahasa daerah, cukup banyak orang-orang di Selayar bisa berbahasa Indonesia.
Selayar mengingatkan saya pada Nias. Dimana banyak orang Nias yang masih belum bisa berbahasa Indonesia. Sebenarnya hal semacam ini adalah wajar di luar pulau Jawa. Dimana anak-anak kecil hanya bisa menggunakan bahasa daerahnya, karena itulah bahasa ibunya. Seorang anak baru bisa berbahasa Indonesia biasanya menginjak usia 10 tahun, bahkan lebih. Saya tidak alami kesulitan berkomunikasi di Selayar. Karena memang banyak orang Selayar yang bisa berbahasa Indonesia.

Naik Onthel lagi
Di Selayar, kami (rombongan pematau), menginap di rumah Pak Syamsudin, ayah kawan kami Dian yang asli Selayar. Cukup menyenangkan lagi seperti di rumah-rumah dan keluarga yang pernah saya singgahi di Sulawesi Selatan. Semua memiliki keramahan dan keunikannya masing-masing. Dengan Pak Syamsudin, saya cukup nyaman mengobrol tentang Jawa. Dimana Pak Syamsudin pernah tinggal di Bogor dan belajar pertanian di IPB. Obrolan kami pun akhirnya beralih ke onthel. Setelah obrolan Onthel itu saya pun minta izin mempergunakannya esok hari untuk ke TPS.
Dengan onthel pinjaman, saya sedikit bisa menjelahan kecamtan Benteng. Mengingatkan saya pada masa-masa kuliah ditahun 2005 hingga 2007. Dimana saya pergi kuliah ke kampus atau pesiar keliling Jogaj dengan Onthel. Kendaraan yang satu ini memang punya sejarah khusus dengan saya. Sepeda kadang identik dengan orang yang belum mampu membeli sepeda motor. Memang tapi tidak sepenuhnya itu bentuk keprihatinan. Bagaimanapun gaya hidup tidak selalu sepenuhnya dikarenakan isi kantong. Beberapa orang kaya kadang memilih sederhana. Dan mereka juga suka bersepeda.
Kali ini saya bersepeda bukan alasan kondisi ekonomi. Bukan perkara murah saja. Sepeda lebih efektif untuk menyusuri desa-desa di sekitar Benteng. Apalagi onthel adalah kendaraan yang cukup seksi karena unik. Kata Pak Syamsudin, onthel punya daya tarik bagi orang-orang berumur, apalagi yang sudah mapan. Onthel juga pernah jadi raja jalanan yang cukup melegenda. Dan Onthel masih diminati banyak usia, meski pengoleksinya cukup sedikit.

Nekara Raksasa
23 Juni 2010, waktu saya banyak saya habiskan dengan Onthel pinjaman dari Pak Syamsudin. Selain keliling kota, saya kayuh Onthel untuk mencari lokasi gong raksasa berupa nekara perunggu. Nekara itu membuat saya penasaran juga. Malam sebelumnya, sebelum tidur, Pak Syamsudin bercerita pada saya soal nekara raksasa itu.
Karena punya nilai Historis, sudah pasti saya penasaran.
Dan sore itu saya datangi lokasi nekara yang tidak jauh dari sebuah masjid. Tidak jauh dari tempat penyimpanannya yang cukup megah, terdapat rumah juru kunci. Ketika saya mendatangi rumah itu. Sang juru kunci tidak ada. Hanya ada dua gadis muda yang cukup mabnis saya pikir. Pada mereka saya bertanya dimana juru kunci berada. Tapi mereka justru memberi saya kunci tempat penyimapan. Saya heran sekaligus senang. Perjalan yang tidak sia-sia. Tidak apa tidak bertemu juru kunci, karena kuncinya ada dan yang memberi dua orang gadis muda yang manis-manis.
Sayangnya, saya tidak bisa memotret nekara. Pencahayaan kamera HP saya tidak bisa diharapkan. Tidak lama saya datang datang empat pemuda yang juga penasaran dengan nekara tadi. Kami berbincang sambil menganati nekara yang kami pikir sudah tidak asli lagi bentuknya dengan ketika ditemukan. Seperti ada tambalan dan renovasi.
Nekara ini ditemukan oleh seorang petani di Selayar, pada tahun 1600an. Dimana kemudian nekara tadi menjadi pusaka dua kerajaan yang pernah ada di Selayar yakni Pontobangun pada awalnya lalu oleh kerajaaan Matalalang. Benda besar ini cukup menarik dan semoga tidak dicuri. Karena ini adalah harta kolektif orang-orang Selayar.

Ngobrol Dengan Pelaut Phinisi
Di TPS, saya bertemu pemantau dari partai. Wajahnya mirip Abdel (pasangannya Temon dalam sebuah komedi disebuah TV swasta). Kita sebut saja pria ini Abdel. Saya kaget, dia ternyata seorang pelaut tradisonal. Lebih tepatnya dia pelaut di sebuah kapal phinisi. Kapal khas Bugis. Dia adalah turunan Bone. Ayah dan kakeknya adalah pelaut seperti dia juga. Meski tidak terlalu menguntungkan secara ekonomis, darah pelaut mengalir keras ditubuhnya. Dia pernah ke Timor Leste, ketika Negara kecil itu masih NKRI. Tapi dia lebih sering ke Surabaya.
Abdel memberitahu saya sedikit soal Phinisi. Dulunya kapal phinisi diawaki 14 orang. Dimana awak kapal merangkap kuli angkut ketiak kapal bongkar muat. Namun sekarang kapal phinisi bisa diawaki 8 orang saja. Karena kuli angkut sudah disediakan pihak pelabuhan. Tentu saja penghasilan pelaut agak berkurang karena tidak ada kerja angkut-angkut lagi. Kedelapan awk itu terdiri dari nakhoda, tiga petugas kebersihan kapal, tiga juru mesin dan seorang juru masak.
Kapal phinisi kebanyakan dibuat di Bulukumba, Sulawesi Selatan, memang terkenal dalam hal ini. Biasanya kapal bisa dibuat dalam kurun waktu antara enam bulan hingga setahun. Semua kembali dari ada tidaknya bahan baku utama, yakni kayu. Kayu beberapa tahun terakhir memang sulit dicari, pasca naiknya SBY yang memperketat penebangan hutan untuk kayu. Sebuah kebijakan yang membuat kayu menjadi barang langka.
Hingga akhirnya kebudayaan fisik yang dibuat dari kayu semakin langka juga. Banyak rumah adat dari kayu, seperti banyak didapati di luar Jawa, menjadi sulit dibangun karena orang-orang banyak beralih ke rumah batu. Begitu juga dengan kapal-kapal kayu yang menjadi bagian penting budaya maritim Indonesia. Itulah efek buruk kebijakan masa kini. Kebijakan yang merusak sebuah kultur tanpa disadari.
Jatah waktu untuk Selayar dari saya tidak banyak, jadi esok paginya saya harus kembali ke Makassar. Sebuah perjalanan panjang yang diiringi hujan pagi. Namun tidak lama karena laut tampak cerah. Lagi-lagi saya malas mandi sebelum meninggalkan Selayar.

Minggu, Juni 20, 2010

Wisata Pagi Ini, Bantimurung


Saya belum mandi pagi ini. Dengan sepeda motor pinjaman dari Iwan, saya meluncur ke Maros pukul 07.00 pagi. Jalanan agak sepi. Kendaraan saya pacu tidak lebih dari 60 KM/jam. Satu jam kemudian saya mencapai jalan poros Maros-Bone. Tidak sulit mencapai jalan itu, selain jalannya cukup baik, juga saya mengerti jalur itu ketika menuju Bone beberapa hari yang lalu. Acara minggu pagi saya kali ini adalah ke Bantimurung.
Ini adalah wisata saya ke tempat wisata terkenal selama perjalanan saya ke Sulawesi Selatan. Saya memang menghindari daerah tujuan wisata, karena pengalaman yang tidak menyenangkan di Jawa. tempat wisata di Indonesia tidak bisa menjamin privasi seseorang karena gangguan pedagang asongan yang sebenarnya setengah memaksa agar barangnya dibeli. Hal yang sulit dihindari juga, karena mereka juga cari makan.

Liang Leang-leang
Beberapa bulan lalu, seorang kawan wanita saya zaman SMA, bercerita pada tentang taman yang terdapat kupu-kupunya. Maksudnya Taman Nasional Bantimurung. Tapi itu bukan tujuan pertama saya. Karena seorang kawan saya di Jogja pernah bercerita tentang desa Leang-Leang, yang penuh gua. Ketika saya ke Bone, saya melihat ternyata jarak Leang-leang dengan Taman Nasional tidak jauh dan sejalur. Dimana Leang-leang pertama dilewati sebelum Taman Nasional Bantimurung. Maka saya pun putuskan ke Leang-Leang dulu.
Tidak sulit mencari jalan masuk menuju desa Leang-Leang. Cukup mencari kantor camat Bantimurung, maka kita akan temukan gapura bertulis Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang. Masuklah ke jalan tersebut, dan seterusnya ikuti jalan desa yang sebagian mulus sebagian kecil berlubang. Jika anda bingung, bertanyalah pada penduduk sekitar jalan. Mereka tentu akan menjawab dengan ramah jika anda bertanya dengan ramah juga tentunya. Tenang saja penduduk disini cukup ramah.
Di sepanjang jalan, saya melihat sawah-sawah yang luas. Dimana banyak saya lihat serangga beterbangan diatas tanaman padi milik petani. Banyak gunung-gunung di desa ini, tapi saya tidak menghitungnya.
Untuk mencapai Desa Leang-leang untuk menemukan goa dan taman prasejarahnya, saya harus masuk sekitar 6 KM. Sebelum saya mencapai desa Leang-leang, saya menemukan gua Leang Burung I dan II. Saya hanya memotret sebagian saja dan meneruskan perjalanan ke desa Leang-leang yang jaraknya dari gua Leang Burung sekitar 1,5 KM.
Saya tiba di des Leang-leang sekitqar pukul 08.00 lebih. Setelah memarkir sepeda motor dan membayar bea masuk hanya Rp 5.000, saya mulai berjalan menuju gua. Ditemani Aba, seorang juru kunci yang masih muda. Pada saya Aba bercerita banyak soal gua Leang-leang itu.
Pintu masuk gua sengaja dikunci karena situs gua-gua disini adalah situs sejarah yang dilindungi. Saya dengan ditemani Aba, melewati taman terlebih dahulu sebelum tiba di mulut gua. Belum sampai mulut gua, saya melihat tangga besi yang cukup tinggi untuk naik. Gua ini adalah Petta Kere. Didalamnya ditemukan lukisan dinding bergambar babi rusa dan telapak tangan manusia. Ketika ditemukan gua, di gua ini ditemukan alat batu serpih bilah dan mata panah. Mungkin saja manusia purba disini hidup dari berburu dan meramu.
Saya sekuat tenaga manaiki tangga dan menyusuri gua dengan menunduk atau memiringkan badan. Saya rasa semua orang bisa lalui apa yang saya lalui. Dan sesekali memanjat untuk melihat lukisan dinding purba yang ditunjukan Aba. Meski agak gelap saya berusaha memotret lukisan dinding itu dengan kamera HP 1 MP, yang tentu saja tidak baik hasilnya. Susur gua ini cukup melelahkan dan menyenangkan. Saya berkeringat dan terengah-engah.
Saya tidak lama di gua ini karena saya akan menuju gua yang lain. Jaraknya tidak jauh dari Petta Kere. Jalannya juga cukup baik. Gua itu masih termasuk dalam taman prasejarah Leang-leang. Gua ini tidak setinggi gua Petta Kere, tapi saya lupa nama gua ini. Disini sya tidak perlu memanjat lagi. Disini juga terdapat lukisan dinding. Di dua gua ini saya hanya foto-foto. Udara disini cukup sejuk di pagi hari.
Pada saya Aba bercerita, banyak arkelog dan wisatawan asing mengunjungi gua purba ini. Wisatawan dalam negeri sangat jarang ke Taman Prasejarah ini. Saya bisa memaklumi jika tempat ini agak sepi. Biasanya, para arkeolog kadang bermalam di gua dengan asyik-nya. Tentu saja tidak merusak sedikitpun, hanya menikmati hidup di gua dan menikmati lukisan dinding gua yang kecil. Aba juga menyayangkan adanya coretan, meski tidak banyak, buatan manusia masa kini yang mengaku beradab.
Setelah menyusuri dua gua yang tidak dalam namun indah itu, saya dan Aba menuju museum gua. Dimana disajikan artefak berupa pecahan alat dari batu milik manusia prasejarah. Ada juga keterangan tentang gua-gua di sekitar Leang-leang, Aba mengatakan pada saya, ada sekitar 50 gua prasejarah di sekitar des Leang-leang. Namun tidak semuanya memiliki lukisan dinding.
Leang adalah bahasa Bugis untuk gua atau liang. Tidak salah jika desa yang masuk dalam Kecamatan bantimurung, Kabupaten Maros ini diberi nama Leang-leang. Salah satu tempat wisata menarik juga.
Sepertinya saya harus kesini lagi suatu hari. Untuk menjelajahi gua-gua yang lain. Dari museum saya pamit pada Aba menuju Bantimurung. Senang bisa bertemu orang muda seperti Aba yang cukup mengerti soal saya pikir.

Melihat Kupu-kupu
Taman Nasional Bantimurung tidak jauh dari Leang-leang. Masih satu kecamatan. Di gerbang masuk taman nasional ini terdapat patung kupu-kupu yang cukup besar dipinggir jalan poros Maros Bone. Jadi tidak sulit mencapainya. Seperti Leang-leang yang harus masuk kedalam sepanjang 6 KM.
Setelah parkir sepeda motor dan beli tiket masuk, maka saya pun masuk. Tiket masuk hanya Rp 10.000. Tidak malah. Udara di taman nasional juga cukup sejuk. Tidak juh dari pintu masuk terdapt museum kupu-kupu. Dimana terdapat beberapa kupu-kupu yang diawetkan dan dipajang dengan keterangan speciesnya. Museum kupu-kupu ini adalah andalan dan ikon taman nasional Bantimurung. Dimana banyak anak-anak kecil disekitar Bantimurung suka menangkap kupu-kupu, seperti yang saya temui dalam perjalanan ke Leang-leang. Mereka menggukan jaring-jaring penangkap kupu-kupu biasanya. Di dekat pintu masuk juga banyak pedagang kaki lima yang menjajakan jupu-kupu yang sudah diawetkan.
Disini juga terdapat air terjun. Ini adalah wisata yang paling diminati di Bantimurung daripada wisata gua dan museum kupu-kupu. Banyak anak-anak mandi di air terjun ini. Cukup aman karena dangkal. Saya hanya memotret air terjun dan anak-anak yang nampak ceria bermain air atau berenang. Saya menaiki tangga yang cukup tinggi. Ini tangga kedua pagi ini yang saya naiki cukup melelahkan juga. Selanjutnya saya menyusuri jalan kecil dengan penjual minuman dan makanan dipinggir jalan. Tidak seagresif di tempat wisata di Jawa. Saya melewati danau yang dipagari. Danau ini cukup tenang airnya, namun pernah memakan korban setahun silam. Begitu kata petugas.
Akhirnya saya sampai juga ke ujung area wisata Bantimurung. Sebuah gua. Gua ini cukup gelap dimasuki. Kita bisa menyewa senter untuk masuk dan melihat dinding gua yang mengkilap seperti kristal atau marmer. Di dekat Leang-leang memang ada penggalian batu marmer. Saya tidak masuk gua kali ini, perut saya yang belum saya isi sejak pagi tidak bisa diajak kompromi. Saya hanya mendapat cerita dari Bapak-bapak yang menyewakan senter kalau di dalam gua terdapat tempat bertapa dan air yang bisa membuat kita awet muda.
Saya pun meninggalkan Taman Nasoional Bantimurung dengan perut kroncongan. Saya pun bertekad cari makanan dipinggir jalan. Setelah melewati terminal Bantimurung, saya pun menemukan warung makan kecil. Dengan menu ikan baker dan sup. Saya pun pesan satu porsi kepala ikan tongkol bakar. Begitu disajikan dimuka saya ikan bakar, sup dan nasi saya langsung melahapnya. Sangat nikmat sekali makan pagi ini. Hrganya hanya Rp 8.000. Saya nyaris tidak percaya semurah itu untuk makanan lezat yang baru saya makan.
Setelah membayar, saya pun menuju Makassar lagi. Dengan perut kenyang dan hati puas karena sudah mencapai desa Leang-leang dan Taman Bantimurung yang pernah diceritakan kawan wanita saya yang sekarang entah dimana itu. Dia mungkin salah satu alasan perjalanan saya juga.

Jumat, Juni 18, 2010

Wisata Sejarah Bumi Arung Palaka


Cerita menarik saya dapat lagi. Bukan cuma tentang Arung Palaka, tapi juga Pelras—yang luar biasa tekun meneliti tentang Bugis.

Hidup adalah berjalan. Makanya saya terus berjalan dan belajar lagi. Tujuan selanjutnya adalah Bone. Terlepas karena rasa penasaran soal Bone, juga karena tawaran Irfan, putra daerah asli Bone. Banyak cerita menarik lagi saya peroleh. Itulah gunanya berjalan.
Bukan buang-buang waktu tapi belajar hal baru. Tentu saja harus dibarengi dengan membuka diri tentang banyak hal yang belum tentu kita sepakati. Disinilah kita akan belajar lagi tentang bagaimana menerima sesuatu. Tidak semua yang kita ingini akan kita temukan. Bisa jadi yang tidak kita akan menemui kita. Berjalan tentu membuat kita belajar menerima, sesuatu yang tidak kita ingini. Inilah hidup. Sepertinya sok bijak sekarang. Sudahlah, saya hanya ingin bercerita saja.

Naar de Bone
Sore itu (15/06/12), Makassar hujan rintik-rintik. Agenda sore ini adalah menuju rumah Irfan di Watampone, Bone. Diperkirakan, perjalanan memakan waktu 5 jam. Cukup lama juga. Saya hanya bisa membayangkan jalan rusak meuju Bone. Saya cukup maklum jika jalan diluar pulau Jawa buruk. Jadi bukan masalah jika nantinya saya akan melewati jlan yng buruk. Setelah menunggu agak lama, kami menemukan mobil yang diinginkan Irfan untuk pulang ke rumahnya. Irfan memang tipe manusia pemilih, dalam hal ini memelih mobil.
Mobil kami meluncur mulus menuju Maros. Saya baru tahu Bone lewat Maros. Saya pernah lewat Maros, waktu ke Barru. Mobil lalu mengambil jalan ke arah Bone, di sebuah pertigaan. Jalan yang dilewati mobil makin mengecil. Dan jalan mulai menanjak. Di kanan-kiri jalan perumahan tampak sederhana khas Makassar. Sebagian besar rumah adalah rumah panggung. Hanya sedikit rumah batu yang saya lihat.
Tidak jauh dari jalan raya, di sisi kiri jalan menuju Bone, sebuah bukit tegak lurus berdiri terlihat. Bukit ini mlembentang cukup panjang dari barat ke timur. Jalan yang kami lewati adalah desa-desa yang cukup ramai.
Mobil kami akhirnya melewati Bantimurung. Saya jadi ingat taman kupu-kupu yang cukup terkenal, dan desa Leang-Leang yang menyimpan gua purba beserta lukisan dindingnya. Dua desa di Maros itu membuat saya penasaran, tapi saya tidak bisa singgah. Sepertinya saya harus kunjungi dua desa itu. Mungkin sekembali dari Bone. Rasa penasaran saya pun bertambah lagi.
Lepas dari Bantimurung, jalan semakin menanjak. Pemandangan di kanan kiri jalan menuju Bone begitu hijau. Baik oleh hutan maupun persawahan. Maros masih memelihara tradisi agrarisnya. Karena hari mulai gelap, maka pemandangan indah itu tidak bisa terus saya nikmati. Saya hanya bisa berkata,” woooww keren,” sambil mengacungkan jempol pada Irfan. Hawa dingin makin terasa ketika melewati perbukitan hijau.
Jalan berkelok-kelok dan menanjak, membuat isi perut tergoncang. Namun bukan masalah buat saya, pemandangan indah di perbukitan membuat tubuh saya nyaman juga. Namun ada penumpang wanita di mobil kami harus muntah-muntah, hingga mobil harus berhenti sebentar. Sopir lalu membersihkan muntahan wanita muda itu. Dan saya pilih tidak peduli, seperti orang autis yang sedang berada di dunia lain.
Saya tidak menyesal ke Sulawesi Selatan. Dan masih ingin kembali lagi lain waktu. Jika punya anak, saya akan melatihnya menjadi backpacker sejak dini. Tentu saja saya akan mengajaknya menjelajahi Sulawesi Selatan. Tidak ke Bali bukan masalah, tapi ke Sulawesi Selatan harus!
Jalan menuju Bone, selain menanjak juga berkelok-kelok. Gelap malam membuat saya kurang bisa menikmati pemandangan. Seorang asal Bone yang saya temua di kereta-api Jakarta-Jogaj tahun lalu pernah bilang, tanah di Bone subur. Omongan Bapak yang tidak saya ketahui namanya itu benar juga. Karena ketika mencapai Bone, saya masih melihat banyak persawahan.a
Mobil akhirnya sampai juga di rumah Irfan. Kami beristirahat. Ibu Irfan harus repot lagi, memasak untuk kami. Ibu Irfan lalu menyuruh kami makan malam. Hawa dingin di jalan, membuat kami makan dengan lahap. Setelah itu saya tidur.

Keliling Watampone
Agenda pagi ini adalah pergi ke balai arsip, perpustakaan dan museum. Satu persatu tempat itu pun kami kunjungi. Kami hanya sebentar saja di perpustakaan dan arsip daerah. Selanjutnya kami menuju museum. Jadi hari ini hanya sekitar Watampone.
Museum Lapowawoi nama museum ini. Diambil dari nama raja Bone yang melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di tanah Bone. Lapawawoi Karaeng Segeri tidak bisa lagi berkuasa sejak 1905 karena pemberontakannya berhasil dihabisi serdadu KNIL. Kisah pemberontakan Lapowawoi pernah saya tuliskan dalam buku saya Pemberontak Tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan di Nusantara (Yogyakarta: Indonesia Buku, 2009). Dalam buku ini saya juga menulis pemberontakan raja wanita Bone, Besse Kajuara. Dan tentu saja Arung Palaka sang pembebas Bone.
Tidak ada loket dimana pengunjung harus membayar. Museum tampak sepi. Penjaga museum mempersilahkan masuk. Juga membiarkan saya memngambil foto. Tidak pungutan apapun. Sosok Arung Palaka begitu mendominasi museum. Tokoh ini adalah ikon Bone masa kini. Meski Sejarah nasional versi pemerintah begitu menyudutkan Arung Palaka. Hal ini karena persekutuan Arung Palaka dengan VOC yang kemudian meruntuhkan imperium Gowa di Sulawesi Selatan. Alasan persekutuan itu adalah demi membebaskan Bone yang kala itu dijajah Gowa. Nyatanya alasan Arung Palaka bersekutu dengan VOC untuk membebaskan Bone dari penjajahan Gowa itu tidak bisa diterima begitu saja, apalagi oleh Sejarawqan-Sejarawan berstatus pegawai negeri yang dibayar pemerintah.
Tidak saya sangka, ternyata keturunan raja Bone kebetulan tinggal disitu. Andi Baso Bone, begitu dia perkenalkan dirinya. Awalnya kami hanya mengobrol sekilas saja tentang isi museum. Akhirnya, pelan-pelan kami mengobrol soal sejarah Bone. Tentu saja dalam perspektif orang Bone. Andi Baso begitu fasih bercerita soal Bone, dan tentu saja tentang Arung Palaka.
Tentang Arung Palaka, Andi Baso bercerita bahwa Arung Palaka digambarkan sebagai sosok yang tangguh, cerdas dan berperawakan setinggi 2 meter. Soal Arung Palaka yang kemudian menjadi pemimpin besar bukan hal aneh. Karena Arung Palaka alias La Tenritata pernah tinggal dengan Karaeng Patingalong, seorang Cendikiawan Makassar yang mencintai ilmu pengetahuan dan sangat ahli dalam berdiplomasi. Dari Karaeng Patingngalong ini, Arung Palaka banyak belajar.
Arung Palaka begitu dihormati karena perjuangan heroiknya membebaskan Bone. Andi Hasanudin, salah seorang Budayawan Bugis pernah bilang pada saya Arung Palaka pernah mengunjungi Sultan Hasanudin yang sedang sakit di Istana Balalompoa. Setelah membebaskan Bone, Arung Palaka tidak menaruh dendam pada Gowa—yang pernah menjadi penjajah sekaligus musuhnya.
Arung Palaka, seperti diceritakan Andi Baso Bone, berusaha menciptakan kestabilan di Sulawesi Selatan. Jalannya dengan melakukan perkawinan antar keluarga bangsawan Bugis dan Makassar. Tidak heran jika kemudian raja-raja di Sulawesi Selatan adalah bersaudara sedarah sebenarnya. Karenanya, pasca berkuasanya Arung Palaka, Sulawesi Selatan nyaris tidak terdengar adanya perang saudara yang cukup parah. Hanya ada perang antara orang Bugis melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pembicaraan saya dengan Andi Baso juga menyinggung Christian Pelras yang menulis Manusia Bugis, buku favorit saya soal Bugis. Bertahun-tahun Pelras, yang asli Perancis, belajar tentang Bugis. Pelras mahir berbahasa dan baca-tulis huruf Bugis. Pelras cukup menyelami masyarakat Bugis dengan berlaku layaknya rakyat jelata ketika akan bertemu keturunan raja Bone. Pelras berusaha melihat Bugis dengan menyelami hubungan antara raja dengan rakyat Bugis. “Pelras itu orang Bugis, hanya kulitnya saja yang putih,” kata Andi Baso.
Dari Andi Baso, saya mendapatkan copyan foto We Tenriolle lagi, juga foto suami Belanda-nya Johan Brugman. Perjalanan membuat saya temukan hal baru. Saya menilai, Andi Baso cukup peduli dengan warisan Bone dan memiliki visi melestarikan sejarah Bone. Ketika hari menjelang siang saya dan Irfan pamit dari Museum. Saya beruntung bisa berbincang dan mendapat hal baru dalam kunjungan ke Museum Lapowawoi.
Agenda selanjutnya adalah mengunjungi komunitas Bissu Bone di Gedung Kesenian Bone, Bolasoba. Sore itu komplek gedung kesenian cukup ramai oleh remaja-remaja yang berlatih tari tradisional. Pertanda bagus dalam pelestarian Budaya Bugis. Bissu mungkin bias menjadi agen pelestari budaya Bugis. Bissu dalam pandangan saya adalah orang-orang sakti. Orang-orang menganggap mereka adalah banci. Mereka bisa bermain debus yang membuat kita merinding ketika mereka menusuk leher, mata atau bagian tubuh yang lainnya dengan badik atau keris. Kata bissu sendiri kemungkinan, seperti banyak pendapat ahli Bugis, adalah dari kata biksu (atau pendeta). Zaman dahulu, Bissu adalah penasehat spiritual raja.
Sepulangnya kami melewati sumur penting dalam sejarah Bone, Sumur Laccokkong. Dimana seorang bayi, yang kemenakan raja Bone, sekaligus akan raja Palaka, pernah merasakan air disumur itu ketika bayi. Dimana sehari sesudahnya bayi itu dinobatkan menjadi raja Bone.
Bone, jauh sebelum saya tiba di Watampone, memang identik dengan Arung Palaka. Lukisan diri Arung Palaka dengan gambar pita bertulis “Radja Palacca de koning der Bugish” selalu menjadi perhatian saya disini. Saya begitu hormat padanya atas keberaniannya berontak membebaskan Bone. Tentu saja saya menyempatkan diri berfoto di bawah patung Arung Palaka di Taman Bunga kota Watampone. Tidak biasanya saya mau narsis dekat dengan patungnya, salah satu pemberontak idola saya.
Belajar soal Bugis masih berlanjut tentunya. Malamnya saya belajar lagi soal Bugis. Kali ini berupa obrolan santai dengan Burhanudin, abangnya Irfan. Cukup menyenangkan juga belajar seperti ini. Walau saya tidak yakin akan mengikuti jejak Pelras.
Agenda hari kamis (17/06/10), di Bone adalah mengunjungi Goa Cempalagi atau Goa Janji. Goa ini adalah salah satu persembunyian Arung Palaka dari kejaran tentara Gowa, sebelum menuju Buton. Di Goa ini juga ada perjanjian beberapa bangsawan Bugis, untuk membebaskan Bone—yang kala itu dijajah Gowa. Karenanya goa ini disebut goa Janji. Tentu saja goa ini cukup penting dalam sejarah Bone.
Kami berdua memasuki goa gelap ini setelah menaiki tangga didepan mulut gowa. Jalan masuk goa cukup sempit, namun didalamnya banyak ruang besar. Kami tidak lama didalam goa, karena baterai senter terbatas. Lagi pula kami tidak terlalu mengenal goa ini. Kami kelelahan, meski hanya beberapa meter saja menjelajahi goa. Menurut saya, kadar oksigen di goa ini cukup baik. Karena banyak lobang bercahaya.
Tidak jauh dari goa adalah hutan kecil yang dihuni banyak kalong. Ada juga sebuah situs yang dipercaya jejak kaki Arung Palaka. Menurut penduduk sekitar, air laut yang mengenai jejak kaki Arfung Palaka itu tidak asin.
Dari goa, saya dan Irfan mengunjungi rumah keluarganya, yang tidak jauh dari goa. Irfan pernah menjalani masa kecilnya di desa ini. Bang Arif, saudara sepupu Irfan, mempersilahkan kami naik ke rumah panggungnya yang sederhana. Kami bersantai di beranda. Dimana sanggara’ (pisang goreng) dan es teh lemon dihidangkan. Tentu swaja sambil mengobrol. Irfan dan keluarganya sering bicara dalam bahasa Bugis, yang tentu saja saya tidak mengerti. Tapi bukan masalah bagi saya.
Cukup menyenangkan, menikmati hidangan sambil melihat hamparan sawah hijau dan hembusan angin sore yang meneduhkan. Tidak hanya itu, kami juga disuguhi makanan berat. Setelah puas duduk di beranda, saya dan Irfan pamit. Selanjutnya kami menuju Tanjung Palette, sebuah tempat wisata dipinggir laut Teluk Bone. Saya dan Irfan melewati rumah Yusuf Kalla—mantan Wakil Presiden RI yang sekarang menjadi ketua PMI. Sepanjang jalan yang kami lewati adalah areal tambak yang luas. Dimana masyarakat disini hidup dari Ikan dan rumput laut. Sekolah perikanan juga kami lewati sebelum mencapai gerbang tempat wisata Tanjung Palette. Disini setelah melihat laut, kami berenang di kolam renang. Cukup hanya membayar Rp. 4.000 saja. Hari ini masih menyenangkan. Selanjutnya kami menginap dirumah paman-bibinya Irfan.
Begitu banyak kisah-kisah yang tidak bisa saya dokumentasikan di Bone. Waktu saya sebenarnya terbatas kali ini. Butuh waktu yang agak lama untuk bisa mendokumentasikan kisah-kisah tentang Bone.
Andi Baso bilang pada saya, “harus bertahun-tahun tinggal disini untuk belajar tentang Bugis. Bahkan jika perlu harus beristrikan orang Bugis juga.” Saya setuju poin pertama, tapi poin terakhir agak sulit saya terima karena sulit untuk saya. Tapi suatu kali saya akan kembali lagi, mungkin untuk waktu yang agak lama. Tentu saja meropotkan Irfan lagi. Jum'at siang, kami harus kembali ke Makassar. Bang Bur menghadiahi say sandal jepit. Saya sangat senang sekali, karena akan sangat berguna sekali. Sekaligus menggantikan sandal saya yang hilang. Sandal jepit memang sangat berguna bagi para backpacker, begitu juga saran backpacker berpengalaman, seperti yang saya baca di sebuah majalah.