Selasa, Juli 07, 2015

Soeriosantoso



Soeriosantoso dengan seragam Kapten dalam berita kenaikan pangkatnya sebagai MayorSoeriosantoso dengan seragam Kapten dalam berita kenaikan pangkatnya sebagai MayorSARDJONO Soeriosantoso adalah anak asuh dari Van Deventer, Soeriosantoso lahir sekitar tahun 1898.  Berkat jadi anak asuh itulah, Soeriosantoso yang dari namanya adalah orang Jawa, bisa peroleh pendidikan barat—dan akhirnya bisa jadi kadet Koninklijk Militaire Academie  (KMA) alias Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda, Negeri Belanda.  Kadet asal Indonesia yang lebih tua darinya adalah L.E. Lounjouw—masuk tahun 1915 da lulus 1918—yang diperkirakan orang Maluku, nnamun Lounjow nampaknya masih keturunan Eropa.  Soeriosantoso lulus KMA tahun 1920. Setelah melewati masa menjadi vandrig (Letnan Muda) lalu Letnan penuh, Suriosentosa lalu menjabat sebagai komandan Batalyon Artileri di Jagamonyet, Jakarta.  Selama berkarir jadi kapten Artileri KNIL,  Soeriosantoso pernah jadi pelindung bagi  suratkabar Niet  Europeeshe Onderofficiers Vereniging (Perkumpulan Perwira bawahan) dari KNIL. 
Sudah biasa jikalau militer pribumi susah naik pangkat. Biasanya, pangkat Letnan disandang bisa hampir tahun atau lebih, baik bagi perwira pribumi maupun Eropa. Begitu juga pangkat Kapten.  Setelah dinas 20 tahun, barulah Soeriosantoso naik pangkat jadi Mayor, pada 31 Juli 1941. Dia menambah deretan pribumi Indonesia yang jadi Mayor KNIL.
 Soeriosantoso dengan seragamnya setelah mayorSoeriosantoso dengan seragamnya setelah mayorPangkat tertinggi perwira pribumi yang bertugas di pasukan umumnya mayor. Namun ada juga yang menjadi Letnan Kolonel, namun hanya sebagai perwira kesehatan saja. Tetap saja pribumi paling tinggi hanya boleh jadi komandan Batalyon saja. Tak bisa lebih. Masa bahagia Soeriosantoso sebagai Mayor KNIL tak lama, tahun depannya, karena KNIL kalah dan bubar di Hindia Belanda. Lalu pemerintah kolonial menyerah kalah pada 8 Maret 1942 di Kalijati pada Balatentara Jepang.
 Setelahnya, bekas Mayor KNIL Soeriosentoso juga diawasi intel militer Jepang. Meski begitu, Soeriosentoso kerap berhubungan dengan kelompok bawah tanah Syahrir. Anaknya, Iwan Santoso sering berhubungan dengan kelompok Syahrir. Soeriosentoso memilih bersabar tanpa pasti di jaman pendudukan Jepang. Kesabaran itu berbuah manis, Jepang kalah dan Belanda coba kembali lagi ke Indonesia. Soeriosentoso ikut Belanda lagi. 
Bersama Max dan JuliusBersama Max dan JuliusDia pernah menolak ajakan Didi Kartasasmita agar bergabung dengan Republik Indonesia. Pangkatnya lalu tak lagi Mayor, tapi naik jadi Letnan Kolonel yang sepertinya diperbantukan di NEFIS (organiasi intelejen Belanda di Indonesia semasa Perang Pasifik dan Revolusi Indonesia) juga. Pada NEFIS pernah menulis laporan tentang Organisasi Islam yang cukup mendapat perhatian dari pemerintah militer di masa pendudukan Jepang. Hingga bisa dianggap mereka anti Belanda yang loyal pada Jepang dan bisa menjadi ancaman. Soeriosantoso menulisnya untuk orang penting bernama Charles orde van der Plas.
Soeriosantoso dianggap penting bagi Belanda.  Menjelang KOnferni Meja BUndar, Soeriosantoso sedang di Belanda bersama Sultan Hamid II dari Pontianak alias Max yang jadi ketua kelompok negara federal (BFO) dan Julius Tahija yang pernah jadi staf Jenderal Spoor. Dua orang tadi pernah jadi Letnan KNIL sebelum Belanda kembali ke Indonesia. Pangkat mereka makin naik lagi setelahnya. Apalagi Max jadi “Ajudan Isitimewa”  tertinggi Ratu Belanda.  Setelah KMB dan KNIL bubar selamanya, Soeriosantoso memilih ke Belanda.

Minggu, Mei 31, 2015

Dari Menulis, Guru dan Siswa bikin Buku

“Yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan terbawa angin.”


Menulis adalah tahap terakhir dari seorang peneliti setelah dia menelaah apa yang diteliti atau dipelajarinya. Menulis diktat, selama ini adalah kebiasaan dosen. Namun, tak ada larangan bagi seorang guru untuk membuat diktat.
Seorang guru, sebelumnya tentu belajar banyak perihal bidang atau ilmunya masing-masing. Tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana pun seseorang harus melalui skripsi. Ketika membuat skripsi pun, sejatinya sangat mirip dengan menyusun buku. Jadi, di masa sekarang para tentu sudah pernah menulis buku (alias skripsinya)—dimana sebelumnya mereka telah menulis banyak paper atau makalah dalam beberapa mata kuliah. 
                Sebagai seorang guru di era sekarang, tak mesti seorang guru harus membuat karya tulis ilmiah saja, tak ada salahnya jika membuat tulisan populer tentang ilmu atau bidang yang diajarkannya.  Tulisan populer, nyatanya jauh lebih menarik untuk baca orang lain, termasuk para siswa. Nah, tujuan guru menulis dalam konteks  ini adalah agar dibaca siswa.
                Dengan menulis seseorang akan dipaksa untuk berpikir lebih jernih dan membaca jauh lebih banyak. Membaca lebih banyak, akan membuat seseorang bertambah wawasannya.  Sejak awal, guru dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, apalagi siswa masa sekarang saja adalah siswa-siswa yang kritis. Siswa semakin lebih sering bertanya tentang banyak hal. Tak jarang tentang hal di luar materi pelajaran, namun sebenarnya masih terkait dengan pelajaran.

Apa yang harus ditulis guru?
Sebaiknya, guru menulis tentang apa yang biasa dan harus diajarkan. Tidak harus semua materi, menulis per bagian dari materi-materi yang diajarkannya pun sudah cukup membantu.  Bahkan hal-hal di luar materi pelajaran, namun terkait pun bisa di tulis. Seumpama Anda baru saja membaca buku, tak ada ruginya Anda menuliskan resensi atau review buku tersebut. Setidaknya itu akan menambah pengetahuan siswa, syukur jika siswa tersebut membaca juga apa yang direview. Sebenarnya, apa yang ditulis guru tak hanya tulisan saja. Untuk merangsang siswa-siswa yang malas membaca, mencantumkan foto atau gambar terkait dengan materi  yang ditulis justru lebih baik, walaupun tulisannya tak banyak. Buku bergambar lebih diminati ketimbang buku yang banyak tulisannya oleh pembaca.

Bagaimana menuliskannya?
Banyak guru yang sudah membuat powerpoint sebelum mengajar. Ketika membuat powerpoint sebenarnya seorang guru sudah menulis juga.  Ada baiknya, ketika membuat powerpoint guru mencantukan sumber dari apa yang ditulis di powerpoint, pencantuman sumber akan memperkuat pendapat dan juga ikut mengajarkan pada murid tentang kejujuran.  Jika seluruh powerpoint itu dikumpulkan, lalu dikembangkan sebenarnya guru tersebut sudah bisa membuat buku tipis.Bahkan banyak guru juga punya blog pribadi bahkan punya akun di kompasiana. Saya juga percaya beberapa guru bahkan sering menulis di harian Nasional. Tak kalah dengan para dosen di kampus ternama. Beberapa buku bahkan sudah mereka terbitkan. Idealnya, guru yang menulis bisa menularkan kebiasaan itu ke siswa. Sesudah itu siswa dibimbing. Pengalaman di sekolah kami ada guru Sosiologi yang membimbing siswa menulis puisi, kebutulan sang guru yang bernama Narudin itu adalah penyair. Tak sampai setahun setelah Sang Guru menerbitkan buku puisi indie-nya, si murid yang bernama Satrio pun merilis buku puisi indie pertamanya: Tentang Biji dan Yang Lampau.

Apa yang harus dilakukan guru?
Tentu saja guru harus membimbing. Di sekolah kami, SMA Sampoerna, tahun lalu Pak Hasan Basri (guru Sosiologi) mengumpulkan puluhan esai dari hampir dua ratus esai untuk dibukukan. Beliau mencari yang terbaik, selanjutnya beliau memposisikan diri sebagai editor yang sering berkonsultasi dengan murid. Maka jadilah buku: Membentang Pita Garuda (Pengalaman Reflektif Memaknai Nilai-nilai Ke-Indonesiaan), yang diterbitkan penerbitan indie Sibuku dari Jogja.
Tahun ini, Bu Udan Bitteraty (guru Bahasa Indonesia), juga melakukan hal yang sama seperti Pak Hasan di tahun sebelumnya. Bedanya, beliau ikut melibatkan beberapa siswa yang aktif dalam dunia penulisan dalam proses pra-produksi. Ada yang menjadi editor, illustrator, cover design dan lay-outer. Sedangkal pengalaman saya, dengan formasi yang dimiliki beliau itu sebuah penerbitan bisa berjalan, alias mereka bisa bikin penerbitan sendiri, meski mereka baru tahapan belajar. Nah, dari proyek bersama tahun ini, lahirlah buku: Terra Incognito yang diterbitkan penerbitan indie Garudhawaca.  
Tidak mesti seorang guru. Guru-guru ilmu humaniora dan Bahasa harusnya bisa ikut memberi bimbingan. Diantara para guru itu bisa mengadakan proyek bersama. Dimana sebuah tugas siswa bisa dievaluasi dan dinilai oleh beberapa guru bidang studi yang berbeda.  Untuk tema, diantara guru-guru itu haruslah memiliki benang merahnya. Jika tidak ada halangan, tahun depan guru Bahasa, Kewarganegaraan dan sejarah berusaha berkolaborasi.

Harus Kemana Tulisan Itu Kemudian?
Sudah banyak guru yang meng-upload  karya-karyanya di blog pribadi. Dimana banyak orang bisa mengakses karya-karya itu, termasuk para siswa tentunya.  Jika tak puas di blog pribadi, yang sulit menjaring banyak pembaca, karya-karya itu bisa disalurkan ke Kompasiana.com atau academia.edu. dia dua media online tadi, karya-karya Anda bahkan bisa mendapat respon bahkan kritik, dimana dengan kritik kita bisa membenahi karya kita. Dengan kritiklah guru, peneliti dan penulis bisa maju dan berkembang.  Di Academia.edu, Anda tak hanya bisa meng-upload artikel pendek. Naskah panjang  seperti buku pun bisa Anda upload. Karya Anda akan bisa diakses oleh banyak orang disini.
Jika Anda percaya diri dengan buku yang Anda tulis, Anda bisa mengirimnya ke penerbit buku komersil.  Jika Anda tidak yakin dengan penerbit besar, sementara Anda ingin menerbitkan naskah Anda, penerbit-penerbit indie sudah menjamur. Bahkan ada penerbit yang mau menerbitkan naskah Anda, dengan modal Rp 400.000 saja.  
Beberapa murid sering bertanya pada saya: kemana harus mengirim naskah? Saya sarankan ke mereka kirim ke jalur komersil (penerbit besar) yang ketat dan orientasi pasarnya yang  luar biasa, dan mereka saya sarankan cari penerbit indie  juga macam: Sibuku, Garudhawaca dan NulisBuku.com—hanya itu yang saya tahu walau ada banyak penerbitan indie diluar sana. Beberapa minggu silam saya terkejut menemukan buku

Harapan Ke Depan
Guru yang menulis cenderung dihormati oleh para siswanya, apalagi yang ditulis adalah buku yang berkualitas dan dibaca oleh banyak orang diluar sekolah.  Seorang guru kadang menyuruh siswanya menulis, jadi guru harus memulainya. Meski jaman sudah banyak berubah, tetap saja murid masih mengikuti apa yang dilakukan gurunya. Sudah seharusnya, bangsa Indonesia terus mengembangkan tradisi menulis.
Guru yang menulis juga akan membuat siswa-siswa yang punya minat untuk menulis untuk belajar lebih dalam menulis. Bahkan bisa jadi akan membuat siswa lain yang tidak berminat menulis kemudian mau untuk menulis juga.  Jika perlu bentuklah club menulis di sekolah atau diluar sekolah yang melibatkan para siswa. 
                Harapan ke depan, adalah ikut memajukan dunia kepenulisan dan perbukuan di Indonesia yang sebenarnya sedang lesu.  Pengalaman menulis, toch akan berguna bagi siswa kelak ketika menyusun tugas akhirnya. Dan syukur akan ada murid Anda yang jadi penulis masa depan dengan karya yang lebih baik daripada kita semua.
Setidaknya, dengan menulis Anda akan selalu dingat murid Anda, bahkan bahkan setelah  Anda mati. Kata pepatah Yunani: Scripta Manen Verba Volant (Yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan terbawa angin). Dan, “yang terekam tak pernah mati,” kata The Upstair. Begitu juga yang tertulis.
Petrik M, Guru Sejarah dan Penulis




Rabu, Februari 25, 2015

KNIL di Boven Digoel

Tak perlu memukuli orang buangan untuk menyiksa mereka. Cukup pastikan saja mereka tetap di Boven Digoel, Papoea, karena berada di Digoel pun juga penderitaan.

Dengan lagak mirip backpacker, dengan iseng  saya cari cerita Thomas Najoan di Boven Digoel. Sekitar 410 KM dari Merauke. Bersama sebuah hiline (mobil gardan ganda), saya menghabiskan waktu sekitar 10 jam. Dimana saya harus melewati hutan belukar yang saya kira masih cukup ganas. Jalanan yang dilewati mobil tumpangan kami, bukan jalan aspal mulus. Kebanyakan jalanan tanah, yang jika musim hujan dijamin becek dan sulit dilewati.
Pos-pos tentara dan polisi harus kami lewati. Tentara selalu berjalan bawa bedil SS mereka. Melihat tentara-tentara itu saya teringat serdadu-serdadu KNIL yang dikirim untuk menjaga oran komunis yang jadi orang buangan di Boven Digoel.
Demi menyikat semua musuh Ratu Singa van Negeri Orange, butuh serdadu-serdadu yang bernaung dibawah Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (baca: Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang biasa disingkat KNIL. Namun, lidah-lidah orang Indonesia lebih suka menyebutnya kompeni.
Sekitar ¾ dari semua serdadu-serdadu KNIL itu adalah orang-orang Indonesia.Mulai dari Jawa, Ambon, Manado, dan suku-suku lainnya. Jika ada yang menyebut jumlah serdadu Ambon lebih banyak ketimbangyang lain, maka itu jelas mitos, karena yang terbanyak jelaslah  orang Jawa.
Dalam sejarahnya KNIL eksis sejak era van den Bosch jadi Gubernur Jenderal  1830, bersamaan dimulainya tanam paksa (Cultuur Stelsel) dan mungkin untuk memuluskan tanam paksa itu juga. Setelah banyak menghabisi banyak perlawanan—seperti kata BukuGedenkschrift Koninklijk Nederlandsche Indische Leger 1830-1950—danbubar memalukan ketika Hindia Belanda menyerah pada balatentara Jepang, lalu pada 26 Juli 1950, KNIL tamat riwayatnya di nusantara.
Serdadu KNIL dicap ganas pada para pemberontak. Serdadu-serdadu KNIL, terutama dari korps Marsose sering menghabisi beberapa kampong di sekitar Aceh dan Gayo Alas selama Perang Aceh berlangsung.
Biasanya, anggota-anggota KNIL, terutama KNIL Ambon, mereka dicap garang. Dan, anak-anak serdadu KNIL yang disebut anak kolong pun bukan main nakalnya. Itu berlaku di banyak tempat yang dulu disebut Hindia Belanda ini.
KNIL adalah ujung tombak penjaga rust en orde (keamaan dan ketertiban) di jaman kolonial. Ketika polisi tak mampu lagi turun tangan, maka KNIL akan dikerahkan. Termasuk dalam menghabisi pemberontakan orang komunis di Banten dan daerah ain pada 1926/1927. Sebenarnya, menjaga tahanan cukup dikerahkan pada polisi saja, namun jika menjaganya di Boven Digoel, jelas sebuah pengecualian. KNIL harus berjaga disana, demirust en orde
Menjaga Para Digulis
Boven Digoel terletak nyaris di tengah belantara Papoea. Mendengar kata Papoea pun orang akan ketakutan, apalagi dibuang kesana. Boven Digoel atau Tanah Merah, awalnya hutan belantara. Orang buangan, yang disebut Digulis itu, tak datang dalam kondisi kamp Boven Digoel siap pakai. Mereka harus buka lahan dan bangun sendiri rumah-rumah—dengan dana yang disediakan pemerintah kolonial.
Konon, seperti tertulis dalam Digul: Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia karya A. Hasmji, “Kapten Becking goyang-goyang kepala,” melihat alam Papua yang harus mereka buka dan tinggali itu. Konon, Kapten Becking menilai, pemerintahnya (Hindia Belanda) sama sekali tak mempunyai perikemanusiaan, kejam dan ganas.
Apa boleh buat, bagi militer: perintah adalah perintah. Dan wajib hukumnya melaksanakan perintah atasan. Jadi, Kapten Becking sebagai seorang Kapten KNIL harus tunduk pada perintah atasannya, entah dari Legercommandant (panglima tertinggi) KNIL maupun Gubernur Jenderal di Batavia. Sekonyol apapun perintah itu, haram hukumnya kalau membangkang.
                Sebelumnya, Kapten Becking termasuk komandan KNIL yang ikut menghabisi pemberontakan komunis tahun 1926 di Banten. Bersama pasukannya, Becking berhasil menangkap banyak orang di Banten. Diantaranya, banyak juga yang ikut dibuang ke Boven Digoel. 

Sebagai pemenang perang, dalam penumpasan orang komunis di Banten, Becking harusnya boleh sombong. Namun, setelah pakai lagika (otak)nya, mungkin juga ada kerendahan hati juga, Becking bukannya jadi seorang semena-mena. Setidaknya, saya belum temukan catatan tentang kebencian orang-orang buangan, yang sebagian jelas bekas musuh, pada kapten Becking ini. Orang-orang buangan itu hanya benci setengah mati pada pemerintah kolonial.
Menurut Sejarawan Jepang, Takeshi Shiraisi, rombongan pertama orang buangan tiba di Digoel sekitar bulan Maret 1927. Sejak Januari 1927, Kapten L Th Becking dan rombongannya yang terdiri dari tawanan pekerja tiba di Digoel lebi dulu. Mereka babat alas. 
Meski ada sedikit rasa tidak suka di kalangan orang buangan, karena disuruh membuka hutan Boven Digoel, kapten Becking tetap berhasil memimpin pembukaan Boven Digoel secara besar-besaran. Hingga jadilah kamp Tanah Merah. Gubernur Jenderal harus berterimakasih sebesar-besarnya pada serdadu KNIL dibawah pimpinan Kapten Becking itu. Karnanya, jadi sudah kamp pembuangan yang pernah menampung 1.308 orang buangan anti pemerintah itu.
Hidup di Boven Digoel tak hidup diantara dinding-dinding tebal. Pemandangan dominan hanya hutan-hutan hijau, beserta sungai Digoel yang tak sebutek sungai-sungai di Kalimantan.  
Orang buangan di Boven Digoel, tak perlu dirantai ketika berkeliaran. Orang-orang buangan itu pun tak perlu dikurung dalam sel. Mereka boleh berkeliaran, tapi hanya di sekitar Tanah Merah saja. Namun, tetap saja hidup mereka diatur,Besluit (surat keputusan) dari Gubernur Maluku no BB 52/1/1 tanggal 17 Maret 1928, menyebut: orang-orang buangan hanya boleh berkeliaran dalam radius 30 kilometer, begitu pengakuan mantan Digulis bernama Bondan dalam biografinya yang ditulis istrinya yang bule Australia.
Radius 30 KM di Tanah Merah hanyalah hutan belukar. Mereka boleh lenggang kaki dalam radius itu, namun jika lebih dan penjaga (baik yang polisi dan tentara) tahu, maka mereka akan dikejar. Bebas dari kamp Tanah Merah alias Boven Digoel adalah mimpi yang amat sangat indah. Dari ratusan orang di Tanah Merah, hanya sedikit yang bermimpi mau kabur.
Serdadu KNIL di Boven Digoel, tak perlu bersikap keras pada orang buangan, jika ingin menyiksa orang komunis. Berada di Boven Digoel saja sudah siksaan luar biasa buat orang buangan. Boven Digoel tempo doeloe sudah sangat ganas, tak perlu lagi mengganasi orang komunis yang buang itu.
Beberapa penjaga, bahkan tak ragu bergaul dengan orang buangan atau tahanan. Disiplin penjaga penjara agak longgar. Suatu kali, Chalid Salim pernah melewati penjara dan melihat: pintu tahanan terbuka, seorang penjaga main kartu dengan tahanan, petugas jaga lain tertidur. Namun tak ada satu pun yang kabur. Ketika pengawas Belanda datang, permainan kartu berhenti sejenak. Para tahanan masuk dengan manis ke sel tahanan mereka. Pada si pengawas, penjaga hanya bilang, “tak ada hal khusus yang perlu dilaporkan, Tuan.”

 Para tentara atau polisi hanya akan repot jika ada tahanan yang kabur, karena harus mencari dan mengejarnya. Bagi tahanan yang ingin kabur, mereka harus berhadapan dengan ganasnya alam Papoea yang sudah kesohor itu. Ancaman serius manusia asli Papua yang masih Kanibal pun ancaman yang tak bisa acuhkan.Belum lagi binatang buasnya. Sungai Digoel bukan sungai bebas buaya, jika ada yang kabur memakai perahu.
Jika pun orang buangan itu kabur hingga keluar batas wilayah daerah koloni Hindia Belanda, maka tak ada negara atau lingkungan di sekitar Papua yang bisa menerima pelarian tadi.Semua wilayah di sekitar Papua adalah daerah koloni dari Negara-negara barat sekutu dari Kerajaan Belanda. 
Garnisun KNIL di Digoel, semula hanya terdiri dari lima regu, lalu ditambah menjadi tujuh regu. Setiap regu tadi, dipimpin seorang Sersan pribumi atau Eropa. Tugas mereka hanya menjaga rust en orde di Boven Digoel.  Mereka juga patroli di sekitar kamp tahanan di Tanah Merah (yang terbesar dimana mayoritas internir tinggal) dan Tanah Tinggi (yang hanya dihuni puluhan internir). Para militer penjaga itu tinggal dalam barak yang di area yang bukan tempat internir. Mereka tinggal terpisah dari internir-internir yang tinggal dalam kampung-kampung.
Untuk mencapai Tanah Merah, yang menjadi pusat dari Boven Digoel, dari Merauke  kapal yang digunakan untuk mengantar penumpang, baik tahanan maupun pegawai sipil atau militer, adalah kapal uap Formalhout. Pihak militer yang punya tugas tambahan untuk mengawasi tahanan, berurusan dengan kapal uap Formalhout.

Om Bintang dan Thomas Najoan
Tersebutlah seorang mantri polisi, yang bersama KNIL, menjaga rust en orde, dia nampaknya oran baik juga. Orang-orang buangan sering sebut namanya. Kadang terkait dengan Thomas Najoan. Reputasi Thomas Najoan yang doyan kabur tentu sohor di kalangan digulis, dia pernah kabur sampai Australia, namun ketangkap polisi disana, lalu dengan murah hatinya pemerintah Australia kembalikan Thomas Najoan si permata digul yang hilang itu.
Dalam kepulangan terkutuknya ke Digoel, dalam kondisi tangan dan kaki di rantai, Thomas Nayoan masih bisa bercanda ketika ditanya kawan lainnya, “Kenapa kau kembali?” kurang-lebih Thomas yang tersenyum pun bilang, “Oom Bintang kangen padaku.”
Oom Bintang adalah pensiunan bintara KNIL yang menjadi mantri polisi di Tanah Merah Boven Digoel. Tak jelas siapa nama aslinya, hanya diketahui dia adalah orang Ambon. Dia pernah terlibat dalam perang Aceh, dimana dia mendapat bintang (medali kehormatan militer dari kerajaan).Itulah kenapa dirinya dipanggil Oom Bintang. Orangnya diperkirakan tidak muda lagi.
                Dalam kesempatan lain, soal pelarian pertamanya yang ‘sukses-suksel gagal’ (berhasil kabur tapi tertangkap lagi), ketika sedang berkumpul dengan kawan-kawan sesama orang buangan lain, Thomas Najoan pernah ditanya kenapa dulu dia bisa kembali ke Digoel? Najoan berkelakar: “Australia tak suka padaku, maka kembalilah ke Oom Bintang!”
                Menyebut nama bekas bintara KNIL Ambon, yang selalu berurusan dengannya itu membuat Najoan panjang umur. Karena bisa tertawa bersama-kawan Digulis lainnya.
                Dulu, sebelum kabur, Kapten Becking pernah meminta Thomas Nayoan bikin percobaan dengan berbagai benih tanaman untuk dibudidayakan. Najoan pun bersedia melakukan percobaan itu. Namun, beberapa lama setelah si kapten memberi perintah, Najoan membawa sebuah kertas rancangan pembangunan  Proefstation Boven Digoel (Tempat penelitian pertanian Boven Digoel). Dimana dirinya bakal menjadi direktur Proefstation itu.
Rupanya Kapten Becking tak punya dana untuk proefstation itu. Namun Najoan tetap boleh melanjutkan percobaan benih-benih tadi. Najoan kecewa lalu tak pernah bicara itu lagi. Mungkin, itu kenapa Thomas Najoan kabur dan OomBintang harus pusing cari orang sosialis Indonesia generasi pertama ini.


“Tak Ada Orang Galak di Digoel”
Mantan bocah didikan Digoel, yang kini sepuh dan menghabiskan masa tuanya di Tangerang, waktu saya datangi dua minggu lalu bercerita pada saya, “tak ada orang galak di Digoel.” Trikoyo Ramidjo nama mantan bocah Digoel itu. Dia analah anak dari Kiai Dardiri Ramidjo alias Kiai Anom dari Purworejo.Trikoyo bangga sebagai bocah Digoel yang selalu berusaha ‘apa adanya.’Dia pernah terbitkan cerita-cerita masa kecilnya dalam buku yang berjudul: Kisah-kisah Dari Tanah Merah (Ultimus, 2009).  Mungkin, KNIL di Boven Digoel adalah KNIL-KNIL baik hati.Karena Trikoyo tak pernah menemukan KNIL galak.
                Mantan anak Digoel lain, Siti Rahmatun, putri dari Digulis asal banten bernama Muhamad Amin, yang saya datangi tahun lalu bersama Rudolf Mrazek, bilang pada saya, dia juga punya kawan anak militer. “Kalau kebetulan saya ke rumah wedana sering ketemu.Ada anakManado kalau kemana-mana ayahnya pergi dia ikut.”
                Karena, daerah sekitar kampong dan sungai adalah taman liar tempat mereka bermain, bukan sesuatu yang aneh jika anak orang buangan bisa bertemu anak-anak serdadu KNIL alias anak kolong itu, mungkin bermain bersama Tanah Merah (Boven Digoel). Jarak antara kampong-kampung orang buangan dengan rumah orang-orang Belanda maupun tangsi KNIL memang tidak jauh.
Jika anak-anak Digulis bersekolah di HIS milik Gubernemen (pemerintah), maka anak-anak Digulis itu akan kenal anak-anak kolong yang bersekolah disana. Nampaknya, diskriminasi kolonial tak terasa di Boven Digoel.“Kita tidak ada perbedaan,” kata Siti Rahmatun. Jika ada anak Digulis yang berobat ke klinik bernama Wilhelmina Ziekenhuis,  mereka akan melewati tangsi tentara.
Trikoyo yang pernah punya pengalaman jadi tahanan politik (tapol) di Pulau Buru, karena jadi wartawan Harian Rakyat, pernah membandingkan: kamp pembuangan Boven Digul, jauh lebih beradab ketimbang pulau buru. Pemerintah tak pernah begitu saja membiarkan orang buangan di Digul kelaparan dan sakit.Toch, klinik disediakan.
Tiap bulan semua orang buangan, bahkan yang masih bersikap keras sekalipun setidaknya dapat beras.Orang buangan pun tak ada kewajiban untuk kerja paksa. Padahal, di kamp tapol Pulau Buru, atau Moncongloe mungkin kamp tapol orde baru lain, seorang tawanan harus bekerja menggarap lahan milik anggota TNI tanpa bagi hasil dan jatah makan yang jelas. KNIL tidak melakukan itu di Boven Digoel.

KNIL Tak Perlu Kerja Keras
Tak adanya catatan tentang galaknya serdadu KNIL pada orang buangan, mungkin dikarenakan KNIL-KNIL itu merasa, jika mereka bersikap keras pada orang buangan, maka bisa melahirkan pemberontakan baru yang mungkin bisa memunuh mereka sendiri.
Seratusan KNIL, jika diserang serempak oleh 1000an orang nekad macam orang-orang tanah merah yang keras dan siap mati, tak akan bisa selamat. Toch, menunggu bala bantuan dari Merauke mungkin terlalu jauh dan pastinya butuh waktu lama sekali karena hanya Formalhout saja yang biasa pergi dan paham daerah sunga Digoel.
Dari beberapa foto tua tentang KNIL di Boven Digoel, jelas KNIL-KNIL itu bersenjatakan senapan laras panjang dan sudah bersepatu. Musuh KNIL di Boven Digoel jelas bukan orang-orang buangan. Sejatinya, Boven Digoel yang sekarang pun cocok untuk melatih nyali seorang serdadu-serdadu muda untuk bisa hidup di alam Papoea.
Mungkin, dibutuhkan serdadu-serdadu yang bisa tahan dari ancaman sunyi Digoel yang bisa bikin orang macam Thomas Najoan galau dan nyaris mengakhiri hidupnya. Mungkin, serdadu korps khusus antigerilya macam Marsose pasti punya daya tahan bagus terhadap hutan Papoea, namun, bisa jadi akan sulit akur dengan orang buangan komunis. Jadi, KNIL biasa mungkin lebih baik.
Bisa dibilang, KNIL-KNIL  di Boven Digoel tak terlalu sulit rust en orde. Mereka hanya perlu kejar orang buangan yang kabur. Sebab, kata Mrazek, ada jaringan mata-mata pemerintah kolonial di kalangan orang-orang buangan. Mata-mata ini dari kalangan orang buangan yang ingin cepat bebas, atau dapat uang tambahan. Organisasi ini disebut Rust en Orde Bewaarder (ROB)yang sering kirim laporan tentang kegiatan pada pemerintah kolonial dalam bahasa Melayu.
Orang buangan di Boven Digoel sudah dihancurkan dari luar oleh alamPapoe yang jauh dari keramaian dan perpecahan di kalangan orang buangan sendiri. Dan, KNIL di Boven Digoel lebih banyak menganggur, mirip orang-orang berkemah—namun untuk waktu yang lama sekali.


Rabu, November 05, 2014

Dr Sitanala

Dokter ini bukan dokter umum, dia ahli lepra dan aktivis kemanusiaan juga
Hatta, dengan bantuan Panitia Lima yang terdiri dari para dokter Indonesia kesohor, membentuk Palang Merah Indonesia pada 17 September 1945. Diantara Panitia Lima itu, terdapat: Bahder Djohan; Djoehana; J.B. Sitanala; R. Muchtar, dan Marzuki. Selain itu terdapat nama dokter Buntaran yang belakangan menjadi pejabat kesehatan.Dokter-dokter itu adalah orang-orang dari Jawa, Sumatra dan Maluku. Sitanala berasal dari Maluku.
                Sosok dokter Sitanala cukuplah menarik. Bukan dokter biasa. Dia terbiasa dengan penelitian. Dia ahli penyakit lepra sekaligus aktivis pergerakan dan kemanusiaan juga. Tentang Sitanala, Rushdy Hoesein menulis:


“JACOB Bernadus Sitanala dilahirkan dalam suatu keluarga pengusaha kecil pada 18 September 1889 di Kayeli, Pulau Buru. Ia keturunan keluarga besar Sitanala dari Desa Suli di Pulau Ambon.  Setelah menamatkan pendidikan dasar pada “Ambonsche Burger School” di Ambon dan pendidikan menengah MULO pada 1904, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedokteran yaitu “STOVIA” di Jakarta. Pada tahun 1912 Sitanala berhasil memperoleh ijasah dokter dan ditempatkan di berbagai tempat di Indonesia. Karena prestasinya yang tinggi dalam tugas pelayanan kedokteran dan penelitian ilmiah, ia mendapat tugas belajar ke Negeri Belanda tahun 1923 dan mendalami ilmu Penyakit Kusta (Lepra).  Pada tahun 1926 berhasil memperoleh diploma “Nederlandsche Arts” dan pada tahun 1927 mendapat gelar doctor dan guru besar dalam Ilmu Penyakit Kusta. Setelah kembali ke Indonesia dan bertugas sebagai ahli Penyakit Kusta, Dr Sitanala diangkat sebagai Kepala Pemberantasan Penyakit Kusta di Indonesia. Dr Sitanala adalah ahli Penyakit Kusta yang bertama di Indonesia. Sebagai perintis pemberantasan Penyakit Kusta, ia dikenal pula di dunia Internasional karena karya-karya ilmiah hasil penelitian dan metode baru pengobatan Penyakit Kusta yang ia kembangkan.”[1]

                Jacob Sitanala, bukan mahasiswa biasa. Dia juga ikut dalam pergerakan nasional. Namanya, tercatat hadir dalam sebuah pertemuan Ambonsch Studiefonds pada 17 Juli 1910, di Kebun Binatang, Betawi (Jakarta). Acara ini dihadiri sekitar 123 orang. Beberapa personil militer Ambon yang bermarkas di Meester. Cornelis (Jatinegara) juga turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka menyatakan akan menjadi anggota perhimpunan ini. Ketua dan wakil ketua berhalangan hadir, maka pembuka rapat Tuan Hetharin, anggota dari pengurus pusat. Setelah itu, Sitanala, yang kala itu mahasiswa sekolah dokter berpidato. Ia membicarakan tentang keadaan dan kehendak Ambonsch Studiefonds.
                Sitanala tak datang sendiri dari STOVIA. Dia datang dengan Latumeten. Dimana, Latumeten, berpidato mengenai keadaan Ambonsch Voksbond “Mena-Moeria” di Ambon serta cabangnya di Makasar dan Buleleng yang memiliki hubungannya dengan Ambonsch Studifonds Betawi. Ia mencoba mengingatkan para peserta untuk selalu mengingat jasa Tuan dan Nyonya Tehupeiorij yang telah meletakkan batu pertama di bangunan perhimpunan mereka serta menggerakkan Bangsa Ambon untuk berpartisipasi dalam perhimpunan tersebut. Dari pihak militer Ambon, Metekohij, sergeant major schrijver(jurutulis berpangkat sersan mayor) berpidato dengan Bahasa Melayu. Ia mengajak para militer untuk selalu cinta pada vaandel (vandal/kesatuan militer) dan Sri Baginda Raja Belanda.
Di akhir pertemuan, Sitanala mengkritik tajam terhadap kepengurusan saat itu. Ia mencoba mengoreksi ucapan Soselisa ketika baru saja terpilih sebagai ketua perhimpunan. Ia mengeluarkan janji-janji manis bagi perhimpunan, akan tetapi hingga pertemuan ini tidak dapat membuktikan ucapannya tersebut, bahkan tidak hadir dalam pertemuan kali ini.[2] Sebagai orang muda, Sitanala begitu aktif dan kritis.
                Seperti banyak lulusan STOVIA lain, dokter muda yang kadang disebut dokter Jawa itu, umumnya menjadi dokter pemerintah yang dikirim ke berbagai penjuru Hindia Belanda. Setelah lulus di tahun 1912, Sitanala pun bekerja untuk pemerintah kolonial di jawatan kesehatan. Tahun 1914, Belanda mengirim dr Jacob Bernadus Sitanala (1889-1958) ke Merauke untuk mengatasi penyebaran penyakit seks menular.[3]
Sitanala yang sering meneliti, akhirnya sekolah lagi ke negeri Belanda pada 1923. Dimana Sitanala juga ikut tergabung dalam Indische Vereniging (Perhimpunan Indonesia). Kehadirannya di Perhimpunan Indonesia tak mulus. Setelah rapat pada 11 Januari Perhimpunan Indonesia memutuskan garis politik organisasi adalah non kooperasi, dan memecat seorang anggota bernama J.B. Sitanala karena dipandang telah melanggar garis politik organisasi.[4] Selain itu, dipecat juga Notosuroto.[5] Setelahnya, hingga 1927an, Sitanala lebih fokus pada studinya yang hingga taraf doctor.
Sepulang dari Belanda, Sitanala bekerja lagi jawatan kesehatan pemerintah yang mengurusi Lepra.  Tercatat, pada 1 November 1927, Sitanala ditempatkan di rumah sakit lepra Plantoengan, tak jauh dari Semarang.[6]
Pada 27 Juli 1932, Dr Sitanala melakukan kunjungan ke rumah sakit lepra di Semarang. Setelah itu, Dr Sitanala dan Dr Kadijat pergi ke Surabaya. Tujuan kunjungan kedua dokter pribumi ahli penyakit lepra itu dalam rangka menyelidiki penyebab penyakit yang menyebar di jawa itu. Penyakit lepra atau kusta, banyak diderita oleh masyarakat pribumi.[7] Sitanala juga pernah berdiskusi dengan dr Soetomo untuk membicarakan penanggulangan penyakit lepra di Jawa Timur.[8]
Sitanala tampaknya begitu sohor sebagai dokter. Hingga  Batavia Nieuwsbladmewawancarai dr Sitanalamengenai penyekit lepra. Banyak yang menyebut, pada masa itu, bahwa lepra merupakan penyakit orang-orang melarat. Menurut Sitanala, seperti hasil kunjungannya ke beberapa kampung di Jawa Tengah, ketika seseorang yang terkena lepra, di daerah perkampungan, biasanya jarang langsung diberi pengobatan. Bila dibawa ke rumah sakit umum, maka pengelola rumah sakit akan menyarankan agar dibawa ke rumah sakit lepra. Sesampai di rumah sakit lepra, penderita lepra itu akan memperoleh jawaban yang tidak menyenangkan lagi, rumah sakit penuh dan kembali lagi kemari enam bulan lagi. Akhirnya penyakit lepra itu dibiarkan saja dan terus bertambah parah hingga mengganggu orang-orang yang ada disekitarnya. [9]
                Hingga 24 Januari 1940, Dr J.B.Sitanala yang kala itu tinggal di Semarang,  telah  menjabat Hoofd Leprabestrijding (Kepala Pemberantas Lepra). Dia juga menerima Wasa Orde yang diserahkan oleh Jhr. Ir. F.E. Everts. Penganugerahan itu dilakukan secara sederhana dan dihadiri oleh beberapa orang dokter seperti Dr Sardjito, Dr Djoehana, Dr Rehatta, dan Dr Rosendahl. Hal ini terkait dengan beberapa penyelidikan Sitanala tentang penyakit lepra di Hindia Belanda.[10] 1941, dirinya dipindahkan ke Surabaya.[11]   Selanjutnya, Sitanala terlibat dalam pendirian PMI. Belakangan RUmah sakit khusus Lepra pun diberinama sesuai nama dirinya. Namanya selalu dihafal oleh anggota palang merah remaja di Indonesia setidaknya, sebagai satu dari Panitia Lima.
                Anak Sitanala yang cukup sohor adalah: Harry Sitanala. Dia pernah mendaftar Akademi Militer Belanda di Bandung. Bersama-sama dengan Alex Kawilarang, Nasution dan Simatupang.. Seperti banyak keturunan Ambon di jaman kolonial mereka menjadi anggota militer KNIL. Sitanala yang bekas KNIL kemudian masuk TNI. Dia sempat menjadi komandan di Bali, namun karena sikapnya yang dekat dengan raja-raja lokal di Bali, dirinya tak disukai oleh orang-orang Republik Indonesia.[12]



[1] Rushdy Hoesein, Dr Jacob Bernadus Sitanala dalam (http://sejarahkita.blogspot.com/2013/04/dr-jacob-bernadus-sitanala.html)

[2] Begitulah kata berita dari Selompret Melajoe, 6 Agustus 1910 yang diperoleh kawan saya Poeteri Soraya Mansur.

[3] Saiful W. Harahap, Menyelamatkan (Suku-suku) Tanah Papua dari Ancaman AIDS, KOmpasiana (25 Juni 2011)


[4] Parakirti Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta, Kompas, 2004, hlm. 327

[5] Harry Poeze, Di Negeri Penjajah, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009, hlm. 190.

[6] De Indische courant, 2 November 1927.

[7] Bintang Timoer, 1 Agustus 1932

[8] De Indische courant, 27 Januari 1934.

[9] Wawancara itu dimuat lagi oleh suratkabar: Sin Po, 6 Desember 1932.

[10] Kaoem Moeda, 25 Januari 1940

[11] Bataviaasch nieuwsblad, 11 Februari 1941

[12] Ramadhan K.H, Untung Sang Merah Putih, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988, hlm. 15 & 239.

Minggu, Oktober 26, 2014

Tentang (Filmnya) Likas

Untuk Siapa Kau Bernafas? 
Di akhir film ini, saya agak kecewa sama ini film. Gambaran perangnya, bagi saya, cukup lebay. Seolah ada perang parit di Indonesia waktu Serdadu Balatentara Jepang di Indonesia merajalela.  Agak fatal buat saya—yang sok historis—adalah soal PETA di Sumatra. Itu konyol! Memang ada tentara sukarela macam PETA di Jawa, tapi orang menyebutnya: Gyugun (tentara sukarela), bukan PETA! Dasar Jawasentris!!! Terserah mereka, saya gak berhak mengatur pikiran dan lidah mereka, tapi mereka salah menggambarkan dan melupakan sejarah dan fakta.
Mata saya risih sekali dengan sepatu lars ala serdadu Amerika yang dipakai oleh Vino G Bastian (anak pengarang kisah Wiro Sableng) yang dapat peran jadi Djamin Ginting. Djamin Ginting, bekas perwira didikan Jepang juga. Ada yang menyebut dia pernah dilatih Jepang di Aceh.  Umumnya, sepatu serdadu Jepang lebih mirip sepatu KNIL sebelum Perang Dunia II. Sedang perwiranya ada yang pakai sepatu boot mirip orang berkuda.
Djamin Ginting, di dunia nyata adalah perwira karir yang mengakhiri karir militernya ketika berpangkat Mayor Jenderal. Dia adalah asisten dari Ahmad Yani di staf Umum Angkatan Darat yang tidak diculik. Bukan karna dia ikutan G 30 S sepertinya, dia hanya loyalis Sukarno. Nah, sudah biasa kalau Suharto mulai tidak suka pada seorang Jenderal, maka sang Jenderal akan ditendang jadi Duta Besar. Bagi orang sipil jadi Duta Besar itu keren, namun bagi prajurit sejati yang terbiasa jadi komandan pasukan, itu mungkin ada sesuatu.
Mari kita lupakan soal Djamin Ginting—yang di dalam film ini nampaknya tak begitu bahagia dengan posisinya setelah ditempatkan di Jakarta, bahkan sampai di-dubes-kan di Kanada. Film ini sebenarnya bicara soal Likas Tarigan sebenarnya. Yang tak lain istri perjuangan sang Jenderal. Yang maunya sampai mati bareng sang suami. Namun, suaminya pulang lebih dulu ke Bapa di Surga. Hidup tak mulus buat siapapun, termasuk Likas. 
Dalam film ini Likas diperankan dengan cukup baik oleh Atiqah Hasiholan, yang masih punya darah Batak.

Nampaknya, film ini ingin memaparkan omongan klasik: disamping laki-laki hebat ada perempuan hebat juga. Di samping sang Jenderal, ada Bu Jenderal.  Ehm… Tapi, saya suka penggambaran Likas dalam film ini. Memang ada adegan Likas berkumpul dengan istri-istri tentara atau pejabat, tapi tak banyak. Penggambaran Likas sebagai Ibu Rumah Tangga agak banyak dibanding jadi istri pejabat. Wanita hebat itu bukan hidup dibawah bayang-bayang pasangannya. Melainkan bisa jadi dirinya sendiri. Memangnya Ibu Rumah Tangga gak hebat? 
Meski pintar dan berpendidikan, Likas tergambar sebagai wanita lugu. Dia begitu sayang pada suaminya. Ada adegan dimana Likas telepon Jenderal Muskita—jenderal lain yang lolos dari G 30 S juga. Likas minta panser untuk temui Subandrio, namun tak langsung diberi karena Subandrio dan suaminya di Medan, jadi Likas titip surat lewat pesawat AURI. Meski nampak konyol, itu karena dia sayang Djamin Ginting. Djamin akhirnya pulang, naik panser sambal cengar-cengir. Dan kekhawatiran Likas pada Djamin hilang. Tentu saja itu bukan kekhawatiran pertama karena ditinggal tugas tanpa berita. Di jaman revolusi, itu lebih mengesalkan lagi buat Likas. Nyatanya, istri orang hebat itu biasanya lebih sering khawatir daripada merasa hebat.
Entahlah, saya merasa ada yang agak sisi religious di film ini. Walau tak ada pakai ayat-ayat dengan lebay-nya, ada ajaran Tuhan tentang kejujuran dan Keiklhasan di film ini. Djamin dan Likas orang Kristen, tapi sepanjang film saya tak merasa gambaran norak kalau Likas itu Kristen. Likas memang sekolah di Normal School yang Kristen, juga ada sekali sebut Djamin yang bilang Bapa di Surga adalah rumah untuk pulang.  Ya. Agama dan Tuhan itu di hati.
Buat saya, bagian menarik dari film ini adalah ketika Likas kecil. Dimana ayah Likas mengajari anaknya jujur sampai menangis, tapi tidak dengan kekerasan.  Likas keras hati sejak kecil. Dia tak biarkan marganya dihina kawan sepermainnya yang dikalahkan Likas waktu main gundu. Likas punya cita-cita tinggi dan peduli dengan persamaan derajat antara pria dan wanita. Itu alasan kenapa Djamin Ginting suka padanya.
Beruntung, ayah dan kakaknya mewujudkan mimpinya jadi guru. Meski ibunya yang lugu dengan keras menolaknya. Tentang Likas, yang dalam masa pertumbuhan lebih menarik bagi Anda-anda yang dalam masa pertumbuhan atau galau untuk menjadi orang jujur dan bangga jadi wanita berpendirian. Bagian awal film ini, jadi alasan buat saya jika film ini layak ditonton. Setidaknya, film ini cukup menggambarkan wanita Karo bernama Likas Tarigan. Serta bagaimana dia meresapi hidupnya dalam sejarah Indonesia yang bergolak. 
Tentu saja, akhir film Anda akan tahu, apa maksud dari 3 Nafas Likas; juga "untuk siapa Likas Bernafas?"

Rabu, Oktober 15, 2014

Trik Oentoek Hidoep dan Mati ala KNIL

Ada tjara unik serdadu balatentara Belanda pimpinan Djenderal Spoor hadapi Pedjuang Republik. Pake buku bergambar en foto jang lumajan kotjak.
AKHIRNJA. Setelah bertahun-tahun, saia jang penasaran pada Voorschrift Politiek-Politionele Taak Leger (kitorang batja sadja VPTL) atawa Undang2 kewadjiban politik dan kepolisian tentara, sedikit terobati dengan nongolnja  buku panduan jang merupakan penjabaran dari  VPTL, itu pun salinannja sadja. Ta’ apa. Buku berdjudul  Kennis van het VPTL : Een kwestie van leven of dood  (jang Di-Indonesia-kan djadi: Mengetahoei akan VPTL: Soal Hidoep atau Mati) ini, sepertinja dikeluarken djaman Djenderal Simon Hendrik Spoor djadi Legercommandant segala balatentara Belanda di Indonesia waktu djaman revolusi dulu.Ini buku, sepertinja disediaken bagi balatentara Belanda jang dari orang-orang Indonesia aseli. Basaha buku ini adalah Bahasa belanda dan Melaju Pasar (boleh dibilang Bahasa Indonesia djuga). Ingat, tak semua orang Indonesia djaman colonial en sesudahnja bisa omong pake Bahasa Belanda. Nah, ini buku pastinja bagus buat soldadu rendahan jang tahunja Bahasa Indonesia sadja
Dalam buku ini, dibahas banjak hal tentang bagaimana harusnja seorang serdadu KNIL patroli menghadapi geriljawan Indonesia jang ogah menjerah tapi minta ampun susahnja ditemukan sama serdadu-serdadu Ratu Olanda ini. Ada bagian berdjudul Even Rusten atawa Melepaskan Lelah sebentar. Ini fatsal soal posisi jang baik dan benar kalo pasukan sedang melepas lelah.  Ada djuga bagian soal bagaimana bahajanja kalau melepas lelah di warung. Ada pantangan, melepas lelah di warung atawa rumah-rumah penduduk. Tapi, dimana pun itu, semua seradu KNIL harus ingat: Djangan sampe tidak awas en djangan sampai sekonjong-konjong dapet serangan dari musuh!Bagian Inlichtingen (keterangan), tak lain bitjara soal bersikap pada djurubahasa pribumi. Pantang buat pertjaja buta sama djurubahasa. Bisa sadja, si djurubahasa berlebihan djikalau bertanja atau berbohong pada pasukan. Nampaknja, ada kewadjiban bagi semua serdadu Belanda untuk paham Bahasa pribumi. Untung sadja, serdadu KNIL berasal dari suku2 di Indonesia.
Ada djuga tata tjara memeriksa orang untuk mentjari sendjata atawa surat-surat berharga. Salah posisi, bisa-bisa serdadu Ratu Olanda bisa disepak sama jang terperiksa.  Ada djuga bagian tentang bagaimana mengikat tawan, serta bagaimana djuga membawanja dalam perdjalanan. Nah, dasar buku buat serdadu KNIL jang ndeso2, sudah pasti selain ada bagian bagaimana bertanja pada tawanan; bagian bagaimana tjaranja menghadang lawan serta bergerak madju menudju daerah lawan djuga dibahas. Bagaimana posisi barisan djika hanja berdua atau lebih tentu berbeda. Tjara mengepung kampong atawa rumah pun ada dibuku ini. Dalam menjeberang kali (sungai) pun bukan urusan sembarangan. Dibahas djuga bagaimana kalau melewati pusaran air dan menjebrangi jembatan ketjil tak lupa dibahas.
Kesalahan fatal serdadu KNIL terdahulu djuga tak lupa dibahas. Waktu di Atjeh dulu ada  kesalahan komandan Marsose dan kurang awas pada (waspada) musuh di sebuah rumah. Sepasukan Marsose djatuh korban. Si komandan mampus en pasukannja luka2. Ini ketjelakaan jang bikin malu serdadu Ratu Olanda jang ganas ini.Saia pribadi merasa ini buku bagus, jang disadjikan dengan kotjak. Selain terhibur, para serdadu2 jang batja ini buku bakal bertambah ilmu2 patrolinja en bisa djadi makin awas lagi kalo patrol. Nah begitulah dulu serdadu2  Ratu Olanda melawan pedjuang2 Indonesia. Belum ditemukan, apakah Republik bikin buku paduan buat serdadu, atau tidak?Saia pesankan, djikalau dibatja ini buku, djangan tersinggung kalo musuh2 jang dihadapi ini serdadu2 Belanda sebagai orang djahat. Dibuku inilah ada trik atawa tjara selamat buat serdadu buat selamat dalam patrol dan betempur sama orang Indonesia. Djudulnja sadja pake kata2, soal hidoep dan mati!!

Senin, Oktober 06, 2014

Film-film (Sejarah) Wajib tentang Sejarah Indonesia

Sejarah adalah bagaimana melihat dan mencari kebenaran. Ada banyak cara selain belajar sejarah selain membaca. Membaca memang harus, namun ada beberapa cara lain yang harus dilakukan untuk menikmati dan membumikan sejarah. Berziarah ke tempat sejarah dan menonton film-film sejarah. Nah, film yang ditonton pun tak melulu harus yang dokumenter.
 Sudah lazim jika sejarah yang difilmkan sering diberi bumbu agar menarik—dan komersil. Film tak bermaksud bohong, tapi sutradara punya subyektifitasnya sendiri.  Mari menjadi bijak untuk melihat film sebagai referensi belajar sejarah yang seru. Seperti buku sejarah, film sperti juga novel sejarah bisa membantu kita membayangkan bagaimana kondisi  atau kehidupan di masa lalu. Tentu saja bukan untuk dipercaya sepenuhnya, tapi setidaknya bisa ditangkap sisi positifnya.
Film bisa menjadi bahan pembelajaran di sekolah.
Pastinya, ada beberapa film yang layak ditonton untuk lebih bisa membayangkan bagaimana kehidupan atau sejarah Indonesia di masa lalu. Tentu saja film-film ini bukan dijadikan kebenaran mutlak, hanya bisa jadi sumber mencari kebenaran, atau setidaknya jadi pembanding. Beberapa film bahkan bisa ditemukan di Youtube. Diantara film-film itu adalah:
  1. Moeder Dao, ini adalah film documenter. Gambar yang diambil adalah Indonesia era 1912 sampai 1930an. Kita bisa melihat bagaimananya sederhananya orang Indonesia dalam berpakaian dan hidup. Dunia teknologi  industri di Indonesia yang mulai modern juga terlihat. Perbedaan hidup antara pribumi dengan Eropa juga bisa dilihat. Itu alasan mengapa film ini wajib ditonton.
  2. Max Havelaar, ini film berdasar novel curhat dari Eduard Douwes Dekker—yang mengisahkan dirinya sebagai Max Havelaar—pegawai  pangrehpraja Belanda yang kecewa dengan Tanam Paksa. Max hendak melaporkan kesewenangan Bupati Lebak pada pemerintah di pusat, namun laporan itu tak diterima. Max bahkan dimutasikan. Film ini mungkin bisa membantu kita melihat bahwa feodalisme adalah akar korupsi dan kesewenangan di Indonesia.
  3. Oeroeg, film ini diadaptasi dari novel Hella Hesse. Tentang persahabatan Oeroeg dan Johan Ten Berge, tentang anak pribumi dan Belanda di era kolonialisme. Dimana diskriminasi rasial begitu kuat. Mereka terpisah, namun bertemu lagi ketika Belanda harus dilawan.
  4. Soegija, tak butuh jadi seorang Katolik untuk mengenal Uskup (pribumi pertama) Romo Soegijopranoto. Film ini menggambarkan betapa humanisnya Sang Romo. Ceritanya tak melulu soal Sang Romo, tapi juga tentang orang disekitarnya yang hidup di masa-masa perang (mulai dari Perang Pasifik lalu Perang Kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1942-1949). Film ini cukup mengajarkan pluralism.
  5. Riding the Tiger, film ini adalah dokumentasi tentang Indonesia dari jaman Jepang, perang kemerdekaan, orde lama hingga orde baru. Selain rangkaian video dokumentasi, terdapat juga wawancara dengan saksi dan pelaku  sejarah, buruh pabrik, pejabat militer Indonesia, aktivis seperti Arif Budiman atau Romo Mangun.
  6.  Indo Calling, film documenter ini akan menunjukan kepada kita bagaimana perjuangan orang-orang Indonesia di Australia, yang diantara adalah pelaut-pelaut Indonesia. Rupanya, banyak orang-orang Australia yang menentang sikap Belanda yang ingin menjadikan Indonesia daerah kolonialisasi kembali. Gambar-gambar ini bisa jadi terkait dengan mogoh buruh pelabuhan Australia yang ogah bongkarmuat barang-barang ke kapal Belanda yang akan berangkat ke Indonesia.
  7. Tjoet Njak Dien, Dari judulnya, film ini jelas tentang perjuangan Cut Nyak Din dan pengikutnya melawan masuknya Tentara Belanda ke Aceh. Ini termasuk film sejarah terbaik, dengan dukungan aktor dan aktris terbaik Indonesia.
  8.   Soekarno, adalah fragmen tentang kehidupan Sukarno sejak di Bengkulu dia bertemu Fatma hingga kepindahan Sukarno ke Jakarta. Dimana Inggit kemudian meninggalkan Sukarno. Dimana Sukarno jadi penasehat militer Jepang, dengan harapan Jepang mengurangi tekanan terhadap rakyat Indonesia. Belakangan, Sukarno pun tampil sebagai Presiden RI pertama.
  9.  Sang Pencerah, film ini bercerita tentang Ahmad Dahlan sang pendiri Muhamadiyah. Dia bisa menampilkan orang-orang Islam sebagai orang yang juga bisa berpikiran maju. Dimana perubahan yang dibawa Ahmad Dahlan tak merusak tatanan nilai-nilai lain yang sudah ada.  
  10.  Sang Kiai, film ini tentang Kiai Haji Hasyim Asyhari pendiri pesantren Tebu Ireng. Film ini merekam imaji bagaimana kaum santri menghadapi sejarah Indonesia. Mereka ikut menderita di bawah Jepang dan ikut ambil bagian dalam revolusi kemerdekaan Indonesia.  
  11.   Pengkhianatan G 30 S/PKI, terlepas dari kontraversi, film ini tetap layak ditonton. Setidaknya film ini memberikan kesan betapa tegangnya tahun 1965. Tentang adegan penyiksaan, yang katanya tidak ada, setidaknya itu memberi gambaran pada kita betapa bencinya orang-orang orde baru pada komunis.
  12. Act of Killing,Biar imbang setelah nonton film Pengkhianatan G 30 S/PKI, boleh dong kita nonton film tentang orang yang mengaku pernah menjadi algojo di Medan. Anwar Kongo, sang algojo bisa menjadi contoh orang yang anti komunis di Indonesia. Tentu saja tak bermaksud mengajari sadism atau menjelek-jelekan, tapi harapannya agar tak ada lagi penghilangan nyawa.

Tentu saja, bukan film-film ini saja yang layak ditonton. Masih banyak yang lain, yang belum saya saya sebut dan saya tonton. 12 film diatas bagi saya cukup menarik untuk menemani Anda belajar sejarah.
Silahkan mengkritik….
Selamat menonton…

Jenderal Hitam: Penerus Tradisi Warlord


Belakangan, banyak kawan-kawan marah perihal  bekas Jenderal yang akan dijadikan penasehat calon Presiden terbaru RI (2014-2019). Bagi yang tahutrack record ini Jenderal akan paham, kenapa ini Jenderal harus dijauhkan dari kekuasaan. Apapun jasanya, dalam menaikan Presiden terbaru itu, dia tetaplah harus dijauhkan. Toch banyak orang yang berjasa dalam menaikkan ini Presiden baru juga jauh dari kekuasaan.  Selanjutnya, mari kita lihat seberani ihklas ini Jenderal. Kalau dia minta macam-macam, terlihat betapa tak ihklasnya dia.
Bicara dosa yang dikerjakan atas nama Negara, Jenderal yang kita maksud diatas, Peristiwa Talangsari sejatinya lekat nama sang jenderal. Apapun yang dia dan pembelanya katakanya, penghilangannya nyawa tak bisa dibenarkan.
Kita sedang bicara tentang Hendropriyono. Satu dari sekian Jenderal yang ahli Intelejen. Catatan karirnya sebagai militer sudah pasti gemilang.  Nah, orang-orang Islam yang merasakan bahayanya Hendropriyono harusnya tahu apa itu Peristiwa Talangsari 1989. Hanya karena curiga ada gerakan berbahaya (tentu dalam versi Hendropriyono cs), maka tengah malam menjelang 7 Februari 1989, Kolonel Hendropriyono, memimpin pasukan yang terdiri 3 peleton batalyon 143 dan sepeleton Brigade Mobil (Polisi). Pukul 04.00 tanggal 7 Februari 1989, pasukan menyerbu Umbul Cideung. Sebanyak 246 pengikut Warsidi tewas, termasuk Warsidi sendiri.[1] Begitulah cerita hitam Talangsari.

Tentang Perwira-perwira Yang Seenak Udel
Sejarah sudah kasih bukti betapa buruknya kelakuan Jenderal-jenderal kebanyakan.  Segelintir orang Indonesia yang tidak terpana dengan sejarah hebatnya Pahlawan Revolusi, mungkin pernah dengar poligami-nya Ahmad Yani—walau kata Soe Hok Gie dia pernah kasih peringatan pada anggota Angkatan Darat yang dia pimpin untuk tidak beristri lebih dari satu, tapi Ahmad Yani pun punya simpanan. Sudah jadi “tradisi” kalau Jenderal bolehngapain aja di negeri ini.
Itu masih belum apa-apa.  Masih ada cerita-cerita buruk yang katanya buruk tentang para Jenderal di Indonesia. Jangankan jenderalnya, banyak orang-orang tua yang paham soal kelakuan para komandan di daerah-daerah.  Di Sulawesi Selatan ada Andi Selle, Andi Sose atau Kahar Muzakkar.  Dua nama pertama dikenal sebagai perwira kaya. Mereka menumpuk kekayaan dari bisnis mereka dan memiliki banyak pasukan (diluar dari jumlah semestinya yang ditetapkan pemerintah). Bukan hanya mereka berdua yang bisa semena-mena, tapi juga bawahan mereka. Tentang Selle Barbara Sillars Harvey dalam risetnya menulis:
Selle dianggap sumber utama suplai barang bagi DI. Selle terkenal sebagai komandan yang kaya. Kancing baju dan lencananya terbuat dari emas. Dia bisa seenaknya memberikan jam tangan begitu saja kepada gadis-gadis cantik yang dia lihatnya di kota Makassar. Selle pernah memberikan hadiah Marcedes Benz kepada dokter yang merawatnya ketika sakit ringan di Rumah Sakit Pelamonia—yang merupakan rumah sakit militer. Dia juga pernah memberikannya pada istri Warouw.  Dua anak buah Selle yang sedang mabuk pernah buat onar di sebuah pesta perkawinan. Kekacauan itu membuat salah seorang prajurit itu terbunuh yang satunya terluka namun bisa kembali ke barak. Solidaritas buta kawan-kawan dua serdadu mabuk yang naas itu pun bergerak. Mereka datangi lokasi pesta. Pembantaian pun terjadi dimana orang-orang yang ada di sana terbunuh.[2]
                Tentu saja, Nasution tak suka dengan kelakuan perwira macam Selle. Nasution tentu berusaha menghancurkan Selle, dengan memakai tangan M. Jusuf—yang belakangan jadi Panglima ABRI jaman Orde Baru. Jusuf sukses, Selle tewas. Sementara Sose ditahan di Jakarta.[3] Tak hanya di Sulawesi Selatan, Pahlawan Toraja, Frans Karangan pun dicap sebagai Warlord juga ketika menjadi komandan di Sulawesi Tengah.
Kengerian perwira-perwira penguasa terjadi juga di kota Makassar sendiri. Kota yang nampaknya kota teraman di Sulawesi Selatan di masa-masa merajalelanya gangguan keamanan di sana.
Alkisah, seorang di antara perwira pengendali kekuasaan ini – yang dalam banyak hal perilakunya masih tergolong jauh kurang buruknya dari yang lain – memiliki isteri muda yang jatuh hati kepada seorang pria muda penyanyi band terkenal di daerah ini yang rekaman piringan hitamnya di Perusahaan Rekaman Lokananta menembus pasar nasional. Kisah jatuh cinta ini menjadi pangkal tragedi. Sang penyanyi, yang sebenarnya juga sudah punya seorang isteri yang cantik, lenyap bagai ditelan bumi dan hanya menyisakan kabar telah dieksekusi dengan cara-cara yang menyengsarakan tanpa belas kasihan. Penyanyi muda yang dimaksud adalah Djajadi Djamain putera sebuah keluarga Jawa di Sulawesi Selatan. Tetapi mampu mempopulerkan lagu-lagu daerah setempat ke tingkat nasional. Beberapa adik perempuannya yang hijrah ke Jakarta juga mengikuti jejaknya menjadi penyanyi yang cukup dikenal.[4]
Cerita ngeri yang terkait infotainment  ini nampaknya dengan cepat dilupakan orang. Saya tak tahu siapa perwira pengendali kekuasaan yang dimaksud? Nasib naas macam Djajadi Djamain ini tentu bisa terjadi pada siapa saja. Pembunuhan Djajadi Djamain itu, mungkin peringatan: jangan macam-macam dengan perwira itu!!! Nampaknya nasib yang serupa Djamadi Djamain bisa terjadi pada siapa saja.

Warlord No 1 di Indonesia
Mari kita bicara soal Warlord terbesar di Indonesia. Siapa yang tak mengenal Suharto. Jika tak mengenalnya sebagai warlord no 1 se-Indonesia, Anda pasti mengenalnya sebagai Presiden ke-2 RI, yang gelarnya “Bapak Pembangunan”.
Sebegai Jenderal dengan puluhan ribu tentara, kiprah Suharto jauh lebih besar daripada Selle, Sose atau warlord-warlord manapun di Indonesia.  Berkedok sebagai Presiden RI, dia bisa melakukan apapun. Bahkan sebelum Presiden, jejaknya sudah cukup hitam.
Tak banyak buku sejarah Indonesia menyinggung kasus dan bisnisnya ketika jadi Panglima di Jawa Tengah dengan Liem Sioe Liong (Sudono Salim mantan pemilik BCA) dan Bob Hasan di akhir decade 1950an. Mereka bertiga dipersatukan karena kedekatan dengan Letnan Jenderal Gatot Subroto. Bob Hasan diklaim sebagai anak angkat Jenderal Gatot Subroto. Suharto nyaris dipecat dari AD. Beruntung Gatot Subroto masih punya pengaruh di AD—hingga akhirnya Suharto hanya dicopot jadi Panglima dan hanya disekolahkan di Seskoad Bandung. Nama Suharto nampaknya jadi bersih setelah Operasi Mandala Trikora, dimana dia jadi Panglima. Penyerangan Papua yang disiapkan Suharto dan stafnya tak pernah terlaksana karena Diplomasi bersama Amerika mengakhiri sengketa Indonesia Belanda berebut Papua.
Setelah G 30 S 1965, Suharto jadi ”kuda hitam”. Dari Jenderal tak dianggap, yang jauh dari lingkaran Staf Umum Angkatan Darat yang didominasi grup dari Ahmad Yani, Suharto mulai bersinar setelah kematian Yani dan stafnya oleh pasukan G 30 S yang dipimpin Untung.
Jejak hitam terbesar Suharto adalah pembantaian pasukan AD terhadap orang-orang yang diduga PKI yang tak terhitung jumlahnya. Sarwo Edhi Wibowo, komandan pasukan khusus Resimen Para Komando Angkatan Darat, yang memimpin langsung pembersihan PKI di Jawa, pernah mencatat jumlah korban nyaris mencapai 3.000.000 jiwa.
Jejak hitam Suharto terkait korupsi, plus Kolusi dan Nepotisme-nya, jelas bukan rahasia lagi. Apapun dosa Suharto, bagi pendukung yang pernah hidup enak di jamannya akan tetap memujanya. Sementara bagi yang merasa jadi korban akan memcacinya, bahkan setelah kematian Suharto.
Mental Tentara Pendudukan
Sebagian besar perwira Indonesia  yang menguasai Angkatan Bersenjata Republik Indonesia di tahun 1960an, sebagian terbesar adalah perwira-perwira didikan Jepang. Mereka pernah jadi tentara sukarela Jepag Pembela Tanah Air (PETA) di Jawa atau Gyugun di Sumatera.
Mereka nampaknya kurang diajari teori-teori militer atau hukum perang, dibanding pribumi Indonesia yang pernah dilatih jadi Tentara Belanda,Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL). Mereka hanya diajari semangat bertempur, namun kurang di teknik-teknik bertempur dalam skala besar.
Sialnya, selaku tentara pendudukan di Indonesia Balatentara Nippon alias Jepang itu rupanya mewariskan semangat tentara pendudukan pada perwira-perwira muda macam Suharto dan ratusan lainnya.    
Revolusi yang kacau 1945-1949 semakin memantapkan mental pendudukan tadi. Tentara Republik seringnya lebih mirip preman yang rebutan lahan parker dengan sesame tentara Republik yang lain. Mereka tampaknya kurang begitu intens menggempur tentara Belanda. Di mata beberapa orang, tentara-tentara Republik yang kebanyakan bermental Nippon ini kalah heroik dibanding laskar-laskar rakyat.
Tentara-tentara itu kurang mendidik dirinya untuk menjadi tentara professional yang terlatih. Mereka kadang berebut wilayah. Belakangan muncul istilah daerah militer mulai dari level Komando Daerah Militer (KODAM) sampai Komando Rayon Militer (Koramil).  Di level terbawah, terdapat Babinsa (bintara Pembina desa). Tak jarang mereka mirip Warlord. Di Negara berkembang, Tentara punya wilayah kekuasaan. Begitu juga di Indonesia.
Pewarisan semangat Balatentara Jepang sebagai tentara pendudukan nampaknya ditradisikan Suharto. Jangankan militer, orang sipil saja disuruh baris-berbaris. Barisan penjaga kampung macam Hansip diadakan. Di kampus ada Resimen Mahasiswa (yang mirip ROTC di Amerika tapi tak dijadikan perwira jika di Menwa). Sebagian besar anak-anak Indonesia merasakan Senam Kesegaran Jasmanai tiap jum’at pagi yang mirip Taiso di jaman pendudukan Jepang.
Mental fasis yang diwariskan Suharto jelas menjangkit ke beberapa Jenderal. Mereka terlihat menghalalkan segala cara dalam menghadapi masalah—termasuk pada orang-orang yang berbeda pandangan. Orang-orang pasti tahu bagaimana nasib Theys Eluwe atau orang-orang dalam peristiwa Tanjung Priuk yang mirip pembantaian terhadap Kiai Haji Zaenal Mustofa di Sukamanah waktu jaman Jepang.
Orang-orang Fasis menghalalkan segala cara, tentu saja atas nama Bangsa dan Negara. Keburukan pemimpin mereka, demi Bangsa Negara maka harus ditutupi. Yang tak sepaham dengan  mereka adalah musuh besar Negara yang harus dihabisi. Orang-orang Indonesia tak sadar jika mereka diarahkan menjadi fasis di sekolah-sekolah. Pelajaran sejarah dijadikan media penting dalam doktrinasi Fasis.
Efek dari pendidikan yang fasis itu, karena diajarkan keggahan tentara, maka banyak orang suka berseragam dan belakangan pakai baret. Lucunya, belakangan ada Jenderal marah-marah jika ada ormas-ormas yang baretnya mirip TNI (termasuk baret merah). Jenderal ini sangatlah bodoh, dia tak tahu sejarah: seniornya di AD bernama SUhartolah yang membuat orang-orang Indonesia doyan berdandan Army Look.
Note:
[1] Tempo, 18 Februari 1989: Abdul Syukur, Gerakan Usroh di Indonesia: Peristiwa Lampung 1989, Jogjakarta, Ombak, 2003, hlm. 125-139.

[2]Barbara Sillard Harvey,  Pemberontakan Kahar Muzakkar: dari tradisi ke DI/TII, Grafitipers, 1989 hlm. 326.

[3] Meski hartanya disita, Sose yang kemudian keluar dari TNI akhirnya jadi lebih kaya setelah tak jadi warlord lagi. Pengaruh Sose nampaknya tak hanya masih kuat di kampung kelahirannya, Duri (Enrekang) saja, tapi bahkan di Makassar.

[4] Rum Aly, Titik silang jalan kekuasaan tahun 1966: mitos dan dilema : mahasiswa dalam proses perubahan politik, 1965-1970,Jakarta, Hasta Mitra, 2006, hlm. 9.

Jejak Harta Karun Nakamura


Sabtu siang, kami menginjak Jalan Braga, Bandung. Jalan yang pertama kali dengar namanya ketika bikin skripsi dulu. Setiap lewati jalan ini, Toko Buku Djawa no 79 jadi tujuan saya. Tak seramai Gramedia dagangannya. Tapi, ada buku menarik yang barangkali tak diditemukan di Gramedia. Disini, bersama adik sepupu saya, Yudha Pradita, kami temukan sebuah buku unik: Rampok. Tulisan Musa Dahlan, terbitan Granesia.
Buku ini sepertinya ditulis berdasarkan riset beberapa fakta sejarah ini, apapun opini sejarawan atas buku ini, tetap saja buku ini punya cerita yang cukup menarik.  Tentu saja cerita tentang perampokan. Bukan perampokan bank ala film-film koboi Hollywood-nya John Wayne. Melainkan perampokan emas dan berlian yang bukan main banyaknya.
Perampokan ini diklaim sebagai perampokan terbesar abad lalu, abad XX maksudnya. Setidaknya 960 Kg emas berhasil digasak dari Pegadaian di daerah Kramat, Jakarta. Emas-emas ini adalah emas yang dikumpulkan saudara tua alias balatentara Nippon (Jepang) dari emas-emas rakyat Indonesia alias saudara muda semasa perang Pasifik.
Hukum yang berlaku di jaman pendudukan Jepang: apapaun yang saudara  tua mau, makasaudara muda harus kasih. Apapun klaim atas emas-emas dan perhiasan lainnya, tetap saja itu milik saudara muda alias rakyat Indonesia.
Perampokan ini dilakukan oleh Kapten Nakamura—ahli politik militer Jepang di Jawa. Tentu saja atas sepengetahuan atasan-atasannya. Modus perampokannya cukup sederhana: Petinggi Militer Jepang ingin mengamankan emas-emas itu melalui tangan Kapten Nakamura.  Nakamura dibantu supir pribumi andalan atasannya yang bernama Akas; dua orang serdadu jepang.
Meski truk yang dipakai merampok sempat sulit dinyalakan mesinnya, tetap saja pemindahan emas atau perampokan itu sukses. Semua ditampung di rumah Nakamura. Oleh Nakamura, hasil rampokan itu dibagi dalam beberapa bagian untuk disebar ke beberapa komandan Jepang untuk dana operasional tentara Jepang selama di Indonesia. Pasca 14 Agustus 1945, militer Jepang di Indonesia tak disuplai lagi dari pusat. Karenanya, atasan-atasan Nakamura memutar akal untuk mencari dana. Kebetulan Nakamura tahu dimana emas-emas dikumpulkan.
Hasil rampokan itu pun bocor, karena gundik Nakamura yang keturunan Indo bernama Carla Wolff diam-diam mencuri jarahan Nakamura tadi. Sebagai wanita boros, Carla memakai uang itu berfoya-foya. Nama Carla Wolff juga dikenal karena terlibat dalam gerombolan bule bernama Nederland Indische Geurilla Organization (NIGO)—yang terkait dengan gerakan Westerling. Mungkin cerita ini ada kaitan dengan  mitos-mitos soal Harta Karun Nakamura.  Cerita perampokan ini lalu bergulir dan melibatkan lebih banyak orang lagi: perwira-perwira Inggris dan belanda; dan tentu saja perempuan-perempuan haus harta yang rela ditiduri.
Bagi saya pribadi, yang terhebat dari perampokan ini bukan hanya jumlah rampokannya yang besar, tentu saja karena orang-orang Indonesia nyaris tak pernah tahu soal perampokan besar-besaran itu. Bahkan berpikir perampokan itu tak pernah ada. Maklum, negeri terjajah yang selalu dirampok puluhan tahun.  
Orang-orang Indonesia tentu saja lebih asyik dengan Proklamasi  Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno cs di Pegangsaan Timur no 56. Merdeka dan dirampok, itulah Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Dan belakangan jadi Negara yang terus dirampok oleh penguasa bangsa lain dan bangsa sendiri. Mungkin Indonesia lahir untuk dirampok. Para perampok itu, pintar memilih ‘hari baik’ untuk beraksi.
Para sopir dan dua serdadu Jepang tak merasa jika mereka terlibat sebuah perampokan besar—tentu saja mereka tak dapat bagian yang pantas. Perampokan ini, menurut saya jauh lebih rapi ketimbang perampokan Kusni Kasdut di Museum Gajah yang heroik itu karena harus ada peluru yang meletus. Nakamura melakukannya dengan tenang. Kisah perampokan ini, boleh dipercaya boleh tidak, tapi pastinya menarik sekali untuk dijadikan film. Karena itulah kami beli buku Rampok di Jalan Braga 79.