Rabu, Februari 12, 2014

Hidup Usman Harun!!!

KKO AL punya pahlawan. Jadi, hak AL untuk memberi nama pada kapalnya, tak perlu dengar apa kata tetangga yang cerewet itu
Dulu, waktu Sukarno masih jadi presiden, waktu konfrontasi Malaysia, dua orang prajurit KKO bermasil memasuki Singapura dengan bantuan orang sipil bernama Gani. Dua KKO itu berhasil menuntaskan misi sabotase mereka. Peledakan Mcdonald House di Singapura sukses. 
Pengeboman MacDonald House terjadi pada tanggal 10 Maret 1965. Gedung ini merupakan gedung dari  Hongkong and Shanghai Bank.  Orang menyebutnya MacDonald House. Terletak di Orchard Road, Singapura. Tiga orang meninggal dunia (Dua korban yang tewas berasal dari suku Tionghoa sedangkan satunya lagi adalah orang Melayu) dan sedikitnya 33 orang cidera.  Pengeboman di MacDonald House merupakan pengeboman yang paling serius dari seluruh pengeboman-pengeboman yang terjadi di Singapura. (The Straits Times, 11 Maret 1965)
Misi boleh sukses. Pihak otoritas Singapura tentu tak diam. Pelaku peledakan diburu. Mereka ditangkap di sekitar Selata Malaka. Dua anggota KKO tertangkap. Mereka lalu di tahan cukup lama di penjara Changi. Setelahnya mereka di gantung dak tak pernah kembali pulang. (Sapuduto Citrowijoyo, Kompi X Siglayan, hlm. 14). Jika bicara soal hukuman, dari pihak Singapura jelas sudah impas.
Dulu, waktu Sukarno masih jadi presiden, waktu konfrontasi Malaysia, dua orang prajurit KKO bermasil memasuki Singapura dengan bantuan orang sipil bernama Gani. Dua KKO itu berhasil menuntaskan misi sabotase mereka. Peledakan Mcdonald House di Singapura sukses. Pengeboman MacDonald House terjadi pada tanggal 10 Maret 1965. Gedung ini merupakan gedung dari Hongkong and Shanghai Bank. Orang menyebutnya MacDonald House. Terletak di Orchard Road, Singapura. Tiga orang meninggal dunia (Dua korban yang tewas berasal dari suku Tionghoa sedangkan satunya lagi adalah orang Melayu) dan sedikitnya 33 orang cidera. Pengeboman di MacDonald House merupakan pengeboman yang paling serius dari seluruh pengeboman-pengeboman yang terjadi di Singapura. (The Straits Times, 11 Maret 1965) Misi boleh sukses. Pihak otoritas Singapura tentu tak diam. Pelaku peledakan diburu. Mereka ditangkap di sekitar Selata Malaka. Dua anggota KKO tertangkap. Mereka lalu di tahan cukup lama di penjara Changi. Setelahnya mereka di gantung dak tak pernah kembali pulang. (Sapuduto Citrowijoyo, Kompi X Siglayan, hlm. 14). Jika bicara soal hukuman, dari pihak Singapura jelas sudah impas.
Belakangan Singapura rebut. Mereka nampaknya tak suka rencana TNI AL memberikan nama Usman-Harun pada kapal perang terbaru mereka. Kapal tersebut didanai Indonesia, dan nama Usman Harun adalah pahlawan bagi Angkatan Laut Indonesia, jadi Angkatan Laut berhak memakai nama itu.
 Harun dan Usman bukan sosok prajurit dengan pangkat tinggi. Mereka hanya tamtama ketika mereka dikirim ke singapura untuk melakukan sabotase didalam wilayah singapura sendiri. Harun yang berpangkat Prajurit, kemudian menjadi Kopral Dua setelah dinyatakan gugur. Dan Usman yang semula kopral lalu dinaikan pangkatnya menjadi Sersan Dua. 
Upaya pembebasan dua KKO itu justru dilakukan setelah Sukarno tak berdaya lagi sebagai Presiden. Suharto sudah mulai naik dan usaha damai untuk menghentikan konfrontasi “Ganyang Malaysia” mulai dilakukan Suharto dan pengikutnya. Namun di masa transisi menuju perdamaian itulah hukuman gantung dijatuhkan pada 17 Oktober 1968. Karena konfrontasi sudah berhenti tak lama setelah 1965. Hukuman mati itu jelas di waktu yang salah, setidaknya terlambat sekali datangnya. Jika pihak Singapura ingin menghukum mati mereka, setidaknya tak lama setelah kejadian peledakan. Ini bukan bentuk perdamaian Indonesia, melainkan betapa murahnya nyawa manusia pada zaman orde baru.
Belakangan Singapura rebut. Mereka nampaknya tak suka rencana TNI AL memberikan nama Usman-Harun pada kapal perang terbaru mereka. Kapal tersebut didanai Indonesia, dan nama Usman Harun adalah pahlawan bagi Angkatan Laut Indonesia, jadi Angkatan Laut berhak memakai nama itu. Harun dan Usman bukan sosok prajurit dengan pangkat tinggi. Mereka hanya tamtama ketika mereka dikirim ke singapura untuk melakukan sabotase didalam wilayah singapura sendiri. Harun yang berpangkat Prajurit, kemudian menjadi Kopral Dua setelah dinyatakan gugur. Dan Usman yang semula kopral lalu dinaikan pangkatnya menjadi Sersan Dua. Upaya pembebasan dua KKO itu justru dilakukan setelah Sukarno tak berdaya lagi sebagai Presiden. Suharto sudah mulai naik dan usaha damai untuk menghentikan konfrontasi “Ganyang Malaysia” mulai dilakukan Suharto dan pengikutnya. Namun di masa transisi menuju perdamaian itulah hukuman gantung dijatuhkan pada 17 Oktober 1968. Karena konfrontasi sudah berhenti tak lama setelah 1965. Hukuman mati itu jelas di waktu yang salah, setidaknya terlambat sekali datangnya. Jika pihak Singapura ingin menghukum mati mereka, setidaknya tak lama setelah kejadian peledakan. Ini bukan bentuk perdamaian Indonesia, melainkan betapa murahnya nyawa manusia pada zaman orde baru.

Sebelum eksekusi, Usman dan Harun sempat bersurat pada keluarga mereka. Mereka minta kepada keluarga, mereka begitu tegar atas nasib buruk yang akan mereka alami. Kepada ibu-ibu dan keluarga besar  mereka, mereka tidak sekedar meminta ampun atas dosa mereka perbuat semasa hidup. Tidak lupa mereka meminta keihklasan keluarga, apalagi ibu mereka, dalam menjalani hukuman. Mereka juga meminta keluarga mereka untuk tegar dan bisa menerima kenyataan akan hukuman mati yang akan mereka terima.
 Kematian dua KKO AL itu mengundang reaksi keras dari banyak orang Indonesia. Mereka menyatakan tidak bisa menerima tindakan pemerintah Singapura—yang bagi mereka berlebihan. Dari poster demonstrasinya, para demonstran yang tidak terima atas hukuman dua prajurit KKO, sudah bernada ingin membalas dan menghancurkan Singapura. Kedua prajurit KKO tadi lalu dimakamkan di Taman makam pahlawan Kalibata. Pangkat mereka juga dinaikan. Usman sebagai Sersan dan Harun menjadi Kopral.
Sebelum eksekusi, Usman dan Harun sempat bersurat pada keluarga mereka. Mereka minta kepada keluarga, mereka begitu tegar atas nasib buruk yang akan mereka alami. Kepada ibu-ibu dan keluarga besar mereka, mereka tidak sekedar meminta ampun atas dosa mereka perbuat semasa hidup. Tidak lupa mereka meminta keihklasan keluarga, apalagi ibu mereka, dalam menjalani hukuman. Mereka juga meminta keluarga mereka untuk tegar dan bisa menerima kenyataan akan hukuman mati yang akan mereka terima. Kematian dua KKO AL itu mengundang reaksi keras dari banyak orang Indonesia. Mereka menyatakan tidak bisa menerima tindakan pemerintah Singapura—yang bagi mereka berlebihan. Dari poster demonstrasinya, para demonstran yang tidak terima atas hukuman dua prajurit KKO, sudah bernada ingin membalas dan menghancurkan Singapura. Kedua prajurit KKO tadi lalu dimakamkan di Taman makam pahlawan Kalibata. Pangkat mereka juga dinaikan. Usman sebagai Sersan dan Harun menjadi Kopral.
Dua pahlawan itu lalu menjadi pahlawan kebanggaan korps marinir hingga kini. Terlepas nasib naas yang dialami oleh kedua prajurit KKO itu, sebenarnya misi yang mereka emban sukses. Misi sabotase di dalam daerah lawan itu sangat berhasil. Klendestin (penyamaran) prajurit KKO itu sukses. Kepanikan paska peledakan itulah yang membuat aparat keamanan Singapura berusaha keras mencari mereka, hingga akhirnya mereka tertangkap.
 Kematian dua pahlawan Dwikora itu adalah kisah menarik dalam sejarah Operasi Dwikora. Dimana kisah kepahlawanan itu seolah tidak mendapat porsi semestinya dalam sejarah Indonesia.  Hal ini selain demi menjaga hubungan baik dengan Negara tetangga Singapura, jelas memiliki muatan politis di dalam negeri sendiri. Salah satunya untuk meminggirkan KKO, yang kemudian bersalin nama menjadi Korps Marinir, sendiri.
Dua pahlawan itu lalu menjadi pahlawan kebanggaan korps marinir hingga kini. Terlepas nasib naas yang dialami oleh kedua prajurit KKO itu, sebenarnya misi yang mereka emban sukses. Misi sabotase di dalam daerah lawan itu sangat berhasil. Klendestin (penyamaran) prajurit KKO itu sukses. Kepanikan paska peledakan itulah yang membuat aparat keamanan Singapura berusaha keras mencari mereka, hingga akhirnya mereka tertangkap. Kematian dua pahlawan Dwikora itu adalah kisah menarik dalam sejarah Operasi Dwikora. Dimana kisah kepahlawanan itu seolah tidak mendapat porsi semestinya dalam sejarah Indonesia. Hal ini selain demi menjaga hubungan baik dengan Negara tetangga Singapura, jelas memiliki muatan politis di dalam negeri sendiri. Salah satunya untuk meminggirkan KKO, yang kemudian bersalin nama menjadi Korps Marinir, sendiri.
Tindak kepahlawanan Usman dan Harun, jelas tidak kalah Herois dengan kepahlawanan Toha dari Bandung selatan dimasa revolusi. Sayangnya, kepahlawanan Usman dan Harun yang gugur ditangan musuh dan telah merugikan musuh itu harus dikalahkan oleh pengkultusan tokoh-tokoh yang lebih banyak yang menghabisi para pemberontak yang tidak lain adalah suadara sendiri.
 Eksekusi mati atas Harun dan Usman adalah awal keangkuhan Singapura dalam menginjak-injak Indonesia. Dan, omong kosong besar jika Suharto adalah Presiden yang kuat di luar negeri. Jika kuat harusnya tak hukuman mati untuk dua KKO tadi. Jika Sukarno masih berkuasa, vonis mati pada Usman dan Harun, konfrontasi Malaysia bisa berubah jadi perang terbuka. Harga diri Indonesia nomor satu buat Sukarno, meski Sukarno gagal membangun ekonomi. Sukarno mungkin tak akan terima dua KKO itu dihukum oleh bekas Negara boneke bikinan nekolim (Inggris).
Tribute to: Usman Harun
Tindak kepahlawanan Usman dan Harun, jelas tidak kalah Herois dengan kepahlawanan Toha dari Bandung selatan dimasa revolusi. Sayangnya, kepahlawanan Usman dan Harun yang gugur ditangan musuh dan telah merugikan musuh itu harus dikalahkan oleh pengkultusan tokoh-tokoh yang lebih banyak yang menghabisi para pemberontak yang tidak lain adalah suadara sendiri. Eksekusi mati atas Harun dan Usman adalah awal keangkuhan Singapura dalam menginjak-injak Indonesia. Dan, omong kosong besar jika Suharto adalah Presiden yang kuat di luar negeri. Jika kuat harusnya tak hukuman mati untuk dua KKO tadi. Jika Sukarno masih berkuasa, vonis mati pada Usman dan Harun, konfrontasi Malaysia bisa berubah jadi perang terbuka. Harga diri Indonesia nomor satu buat Sukarno, meski Sukarno gagal membangun ekonomi. Sukarno mungkin tak akan terima dua KKO itu dihukum oleh bekas Negara boneke bikinan nekolim (Inggris). Tribute to: Usman Harun

Minggu, Februari 09, 2014

Curhatan Pink Floydian

Saya harus mengaku dosa, terlambat dengar Pink Floyd, piringan hitam yang ada cuma Led Zeppelin, Deep Purple, dan yang menye2 macam Bee Gees.

Sebagai manusia yang lahir di paruh pertama dekade 1980an, sudah takdirnya untuk jalani masa puber di tahun 1990an. Apa yang kami dengar, lihat dan entah apa saja di dekade 1990an, asal sesuai hati kami akan terima dengan cengar-cengir. Masa edan itu sudah lewat pastinya. Masa-masa dimana musik bisa menggugah semangat. Demam K-Pop waktu itu cuma mimpi di siang bolong. Musik pop cengeng pun bisa menghentak. Bahkan boybands pun, walo sudah banyak yang ngece, tetap cool dan tidak menjijikan untuk dilihat.
Ini tulisan, jelas subyektif saya, sebagai pemberontak gak jelas, penggemar rock (yang biasanya sok ngaku Pink Floydian sejati) yang masih ada secelah toleransi terhadap music pop, dangdut bahkan India. Tak pernah ada bayangan demam K-Pop akan jadi seperti wabah kolera seperti saat ini. Maklum, jaman itu televisi swasta masih sehat pikirannya, karena masih kasih putar film-film lawas. Kita bisa nonton film tahun 1970an. Ada Benyamin S, Rano Karno, dan lainnya termasuk yang sekarang nyebelin macam Haji Rhoma Irama. Semua itu, walo jadoel, tetap saja keren sebetulnya. 
Musik yang lagi nge-Trend bisa dilihat dari televisi swasta macam SCTV. Karena belum melek internet, kami puas dengan music-musik yang sebetulnya ngetrend di akhir 1980an, tapi masih garang, bahkan lebih garang di decade 1990an, macam Guns n Roses; Metallica; Yngwey Malmsten dan sebangsanya. 
Waktu kecil, ada lagu John Lennon yang sering saya dengar waktu kecil, Imagine. “Mama saya berteriak, ‘ayo lekas mandi!!’ pada pukul lima sore. John Lennon nyanyikan Imagine di TVRI pada pukul lima sore” (mohon ampun pada Fredrico Garcia Lorca). Saya hanya dengar lagu itu, tapi tahu apa judul lagu bahkan penyanyinya. 
Saya baru tahu Imagine itu karyanya Lennon anggotanya Beatles. Soal Beatles sendiri, saya pertama kali tahu itu kekurang-ajaran mereka sama Imelda Marcos. Waktu Madam Marcos yang korup tak terkira itu, ngundang show di istana, John bilang, “kalau mau pertunjukan, datang saja ke kamar kami.”  Itulah rasa hormat pertama saya untuk Beatles dan Lenon pastinya. Belakangan baru dengar lagunya. Saya menyesal sekali kenal lagu mereka juga.
Waktu itu, di decade jahiliyah itu, saya belum tahu kalau itu juga Britpop. Seorang paman saya bernama Heri Purwanto, yang doyan putar MTV, kasih lihat saya Blur dan Oasis. Juga Collective Soul. Sayang, sence rock saya memble. Sampai belakangan aufklarung (pencerahan) datang pada saya dan saya sadar itu semua band-band keren. Saya juga terlambat kenal Nirvana. Sial!! Maklum gagap trend. 
Tapi, ada pusaka keluarga, satu-satunya barang paling natik dan mewah keluarga kami bernama piringan hitam, mesin pemutarnya merek Philips. Keluarga kami kere tapi saya bangga punya itu barang. Dari piringan hitam itu saya dengar Lennon, Santana, Led Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk Railroad, dan yang menye2 Bee Gees. Dulu hanya sebatas dengar dan belum menikmati. 
Beberapa hari silam, saya dengar lagu terkini (berdasar ukuran saya), Gara-Gara Kahitna judulnya, enyang dibawakan Project Pop. Dimana disinggung beberapa lagu-lagu Kahitna yang ngetop macem: Andai Dia Tahu; Cantik; Tak Sebebas Merpati dan lainnya. Sudah saya bilang, toleransi kuping saya cukup bagus. Musik Indonesia macam Kahitna; Java Jive, Dewa19, Kla Project; Humania; Indie bisa masuk juga. Dan sedikit-sedikit dengar Slank, waktu Pay, Indra sama Bongky masih ngendon di Gang Pot Lot. 
Agak beruntung juga, berteman sama anak-anak yang usianya agak tua, akhirnya saya jadi bisa dengar band yang keyboardisnya jenggotan (Ahmad Dhani). Gara-gara mereka saya tahu lagu Kamulah Satu-satunya  dan lagu-lagu lainya. Dari sekian banyak lagu Dewa19, Kamulah Satu-satunya paling berarti buat saya.
Harus diakui, musik-musik yang bagus, masih beredar di tahun 1990an. Masa keemasan music rock yang bisa menggerakan dunia muncul kembali di tahun 1990an. Mungkinkah ini siklus 20 tahunan sejak 1969 di Woodstock? Musik 1970an muncul dengan wajah baru. Orang muda jelang 1990an akhir dengan pakai celaka mirip cutbray walau kalah cutbray 1970an. Rambut gondrong trend penting tahun 1990an. Syukurlah di Gendut Sumitro tak jadi Pangkopkamtib lagi.
Nah. Di hari pertama SMA, saya masih ingat masa-masa jahiliyah itu, di bangku sebelah saya ada bocah keriting, belakangan saya tahu namanya Dwi Saputra en kadang sok kemayu kalo dipanggil Puput (biar mirip Puput Melati barangkali). Belakangan kami jadi sahabat baik, salah satu sababat baik yang seperti sodara. Nah ini bocah dengan tengilnya ngoceh tentang Guns n Roses. Sudah pasti saya tidak paham. Tidak!!
Sebagai manusia yang lahir di paruh pertama dekade 1980an, sudah takdirnya untuk jalani masa puber di tahun 1990an. Apa yang kami dengar, lihat dan entah apa saja di dekade 1990an, asal sesuai hati kami akan terima dengan cengar-cengir. Masa edan itu sudah lewat pastinya. Masa-masa dimana musik bisa menggugah semangat. Demam K-Pop waktu itu cuma mimpi di siang bolong. Musik pop cengeng pun bisa menghentak. Bahkan boybands pun, walo sudah banyak yang ngece, tetap cool dan tidak menjijikan untuk dilihat. Ini tulisan, jelas subyektif saya, sebagai pemberontak gak jelas, penggemar rock (yang biasanya sok ngaku Pink Floydian sejati) yang masih ada secelah toleransi terhadap music pop, dangdut bahkan India. Tak pernah ada bayangan demam K-Pop akan jadi seperti wabah kolera seperti saat ini. Maklum, jaman itu televisi swasta masih sehat pikirannya, karena masih kasih putar film-film lawas. Kita bisa nonton film tahun 1970an. Ada Benyamin S, Rano Karno, dan lainnya termasuk yang sekarang nyebelin macam Haji Rhoma Irama. Semua itu, walo jadoel, tetap saja keren sebetulnya. Musik yang lagi nge-Trend bisa dilihat dari televisi swasta macam SCTV. Karena belum melek internet, kami puas dengan music-musik yang sebetulnya ngetrend di akhir 1980an, tapi masih garang, bahkan lebih garang di decade 1990an, macam Guns n Roses; Metallica; Yngwey Malmsten dan sebangsanya. Waktu kecil, ada lagu John Lennon yang sering saya dengar waktu kecil, Imagine. “Mama saya berteriak, ‘ayo lekas mandi!!’ pada pukul lima sore. John Lennon nyanyikan Imagine di TVRI pada pukul lima sore” (mohon ampun pada Fredrico Garcia Lorca). Saya hanya dengar lagu itu, tapi tahu apa judul lagu bahkan penyanyinya. Saya baru tahu Imagine itu karyanya Lennon anggotanya Beatles. Soal Beatles sendiri, saya pertama kali tahu itu kekurang-ajaran mereka sama Imelda Marcos. Waktu Madam Marcos yang korup tak terkira itu, ngundang show di istana, John bilang, “kalau mau pertunjukan, datang saja ke kamar kami.” Itulah rasa hormat pertama saya untuk Beatles dan Lenon pastinya. Belakangan baru dengar lagunya. Saya menyesal sekali kenal lagu mereka juga. Waktu itu, di decade jahiliyah itu, saya belum tahu kalau itu juga Britpop. Seorang paman saya bernama Heri Purwanto, yang doyan putar MTV, kasih lihat saya Blur dan Oasis. Juga Collective Soul. Sayang, sence rock saya memble. Sampai belakangan aufklarung (pencerahan) datang pada saya dan saya sadar itu semua band-band keren. Saya juga terlambat kenal Nirvana. Sial!! Maklum gagap trend. Tapi, ada pusaka keluarga, satu-satunya barang paling natik dan mewah keluarga kami bernama piringan hitam, mesin pemutarnya merek Philips. Keluarga kami kere tapi saya bangga punya itu barang. Dari piringan hitam itu saya dengar Lennon, Santana, Led Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk Railroad, dan yang menye2 Bee Gees. Dulu hanya sebatas dengar dan belum menikmati. Beberapa hari silam, saya dengar lagu terkini (berdasar ukuran saya), Gara-Gara Kahitna judulnya, enyang dibawakan Project Pop. Dimana disinggung beberapa lagu-lagu Kahitna yang ngetop macem: Andai Dia Tahu; Cantik; Tak Sebebas Merpati dan lainnya. Sudah saya bilang, toleransi kuping saya cukup bagus. Musik Indonesia macam Kahitna; Java Jive, Dewa19, Kla Project; Humania; Indie bisa masuk juga. Dan sedikit-sedikit dengar Slank, waktu Pay, Indra sama Bongky masih ngendon di Gang Pot Lot. Agak beruntung juga, berteman sama anak-anak yang usianya agak tua, akhirnya saya jadi bisa dengar band yang keyboardisnya jenggotan (Ahmad Dhani). Gara-gara mereka saya tahu lagu Kamulah Satu-satunya dan lagu-lagu lainya. Dari sekian banyak lagu Dewa19, Kamulah Satu-satunya paling berarti buat saya. Harus diakui, musik-musik yang bagus, masih beredar di tahun 1990an. Masa keemasan music rock yang bisa menggerakan dunia muncul kembali di tahun 1990an. Mungkinkah ini siklus 20 tahunan sejak 1969 di Woodstock? Musik 1970an muncul dengan wajah baru. Orang muda jelang 1990an akhir dengan pakai celaka mirip cutbray walau kalah cutbray 1970an. Rambut gondrong trend penting tahun 1990an. Syukurlah di Gendut Sumitro tak jadi Pangkopkamtib lagi. Nah. Di hari pertama SMA, saya masih ingat masa-masa jahiliyah itu, di bangku sebelah saya ada bocah keriting, belakangan saya tahu namanya Dwi Saputra en kadang sok kemayu kalo dipanggil Puput (biar mirip Puput Melati barangkali). Belakangan kami jadi sahabat baik, salah satu sababat baik yang seperti sodara. Nah ini bocah dengan tengilnya ngoceh tentang Guns n Roses. Sudah pasti saya tidak paham. Tidak!!
Lama-lama tiap ke rumahnya, selalu putar lagu-lagu rock lawas. Dan lama-lama terbiasa. Celana sobek mulai dipakai, begitu juga baju belel gak jelasnya. Mulailah mimpi-mimpi jadi seniman terbentuk, ya sebut saja seniman tanpa visi. Yang penting sok nyeni.  Kata kawan saya Erang, dalam tubuh manusia itu mengalir jiwa seni. Setidaknya, air kencing saja disebut air seni. Luar biasa!
Karena penasaran sama Nirvana, pinjamlah saya kasetnya Nirvana., yang album Nevermind dari Dewi Asih—temen baik juga en netral dalam pergaulan. Salute voor Jij Sista!!! Dengan tebengan tape itu lagu saya denger juga dan anak tetangga yang masih ingusan pun seneng sama musiknya. Saya sebelumnya tidak tahu kalau Kurt Cobain yang bunuh diri itu adalah vokalis dan gitaris Nirvana yang ngetop dengan jurus 3 chord-nya. Betapa hinanya kuping saya. Entah nikmat music rock keren mana lagi yang saya dustakan?
Harus diakui, saya lebih dulu membaca majalah baru dengar lagu keren. Dulu, saya agak rajin beli majalah HAI. Majalah yang cowok banget dan gak menye2 macam aneka, kawanku dll. Dari majalah itu saya mulai ngikuti, walau bukan menikmati music rock. Maklum ada rasa tidak sreg dengan genre music jaman SMA macam: Korn, Limbizkid, Linkin Park (yang saya ingat lirik lagunya: “soooolikin mati, ketiban radioooo”)
Masa kuliah adalah masa pengenalan teknologi buat saya. Terimakasihyang tiada tara kepada Tri Sutanto (kita sebut saja Adoel) yang ngajari saya memakai computer dan menyalakan WInamp. (Maaf kawan saya primitive soal itu). Juga kawan Herry Prabowo (yang baru saja berhenti melajang, jangan tanya kapan saya nikah!!!) yang suka bagi-bagi dengar music keren en ngajak nonton konser band2 Jogja (yang dalam ukuran sayacukup enak didengar ketimbang K-pop. Juga Beny yang rajin sasay puter kaset Led Zeppelinnya.
Saya mulai memburu, entah membaca majalah music, pinjam kaset, beli cd bajakan band keren macam U2 atau Queen. Di masa-masa kuliah saya baru bisa merasakan kerennya lagu cinta bernama Creep miliknya Radiohead. Saya tahu lagu ini cari bacaan. Radio juga membantu saya mencari music terbaik yang pernah ada dalam sejarah dunia. 
Ada banyak lagu saya bajak dari radio, banyak yang saya tidak tahu. Bahkan lagu yang isinya alunan piano yang disusul sama teriakan suara tinggi yang keren abis. Belakangan saya tahu itu Great Gig in the Sky yang tulis Richard Wrigth (Pink Floyd). Saya tak pernah tahu apa saja lagu Pink Floyd, namun karena bacaan saya jadi tahu mereka Band ekperimental yang doyan bikin music gak biasa. Lalu soal Syd Barret yang gila. Roger Water yang dominan macam Dhani Dewa19. Saya lebih dulu tahu soal personil Pink Floyd, seperti halnya saya tahu personil Beatles. Bacaan lebih cepat saya tangkap ketimbang music.
Terlambat lulus kuliah karena menjual skripsi saya(yang jadi buku pertama saya)  sendiri adalah anugrah luar biasa. Muhidin M Dahlan dan Zen RS, senior waktu kuliah di IKIP Jogja, menampung magang saya jadi esais sejarah disitu ada mahluk bernama An Ismanto yang doyan putar music. Itulah pertama kalinya saya dengar Shine on You Crazy Diamond  yang legendaris itu.  Tidak!! Keren abis!!!! 
Secara tak sengaja saya temukan lagu favorit saya: Green is the Colour. Lagu itu selalu saya putar waktu ngetik, naik sepeda melawan arus pejalan kaki Malioboro. Telat lulus memang berkah. Saya jadi makin kenal Pink Floyd waktu kerja di Patehan (Jogja) dan Veteran (Jakarta). Lagu Us and Them pun saya dengar juga. Soal lagu ini disukai pemabuk, bukan urusan saya. Tak perlu negak alcohol atau pakai narkoba untuk mabuk, cukup dengar Pink Floyd.
Tuhan, ampuni hambamu ini yang mendustakan kerennya music Pink Floyd.
Lama-lama tiap ke rumahnya, selalu putar lagu-lagu rock lawas. Dan lama-lama terbiasa. Celana sobek mulai dipakai, begitu juga baju belel gak jelasnya. Mulailah mimpi-mimpi jadi seniman terbentuk, ya sebut saja seniman tanpa visi. Yang penting sok nyeni. Kata kawan saya Erang, dalam tubuh manusia itu mengalir jiwa seni. Setidaknya, air kencing saja disebut air seni. Luar biasa! Karena penasaran sama Nirvana, pinjamlah saya kasetnya Nirvana., yang album Nevermind dari Dewi Asih—temen baik juga en netral dalam pergaulan. Salute voor Jij Sista!!! Dengan tebengan tape itu lagu saya denger juga dan anak tetangga yang masih ingusan pun seneng sama musiknya. Saya sebelumnya tidak tahu kalau Kurt Cobain yang bunuh diri itu adalah vokalis dan gitaris Nirvana yang ngetop dengan jurus 3 chord-nya. Betapa hinanya kuping saya. Entah nikmat music rock keren mana lagi yang saya dustakan? Harus diakui, saya lebih dulu membaca majalah baru dengar lagu keren. Dulu, saya agak rajin beli majalah HAI. Majalah yang cowok banget dan gak menye2 macam aneka, kawanku dll. Dari majalah itu saya mulai ngikuti, walau bukan menikmati music rock. Maklum ada rasa tidak sreg dengan genre music jaman SMA macam: Korn, Limbizkid, Linkin Park (yang saya ingat lirik lagunya: “soooolikin mati, ketiban radioooo”) Masa kuliah adalah masa pengenalan teknologi buat saya. Terimakasihyang tiada tara kepada Tri Sutanto (kita sebut saja Adoel, sahabat yang mirip saudara) yang ngajari saya memakai computer dan menyalakan WInamp. (Maaf kawan saya primitive soal itu). Juga kawan Herry Prabowo (yang baru saja berhenti melajang, jangan tanya kapan saya nikah!!!) yang suka bagi-bagi dengar music keren en ngajak nonton konser band2 Jogja (yang dalam ukuran sayacukup enak didengar ketimbang K-pop. Juga Beny yang rajin sasay puter kaset Led Zeppelinnya. Saya mulai memburu, entah membaca majalah music, pinjam kaset, beli cd bajakan band keren macam U2 atau Queen. Di masa-masa kuliah saya baru bisa merasakan kerennya lagu cinta bernama Creep miliknya Radiohead. Saya tahu lagu ini cari bacaan. Radio juga membantu saya mencari music terbaik yang pernah ada dalam sejarah dunia. Ada banyak lagu saya bajak dari radio, banyak yang saya tidak tahu. Bahkan lagu yang isinya alunan piano yang disusul sama teriakan suara tinggi yang keren abis. Belakangan saya tahu itu Great Gig in the Sky yang tulis Richard Wrigth (Pink Floyd). Saya tak pernah tahu apa saja lagu Pink Floyd, namun karena bacaan saya jadi tahu mereka Band ekperimental yang doyan bikin music gak biasa. Lalu soal Syd Barret yang gila. Roger Water yang dominan macam Dhani Dewa19. Saya lebih dulu tahu soal personil Pink Floyd, seperti halnya saya tahu personil Beatles. Bacaan lebih cepat saya tangkap ketimbang music. Terlambat lulus kuliah karena menjual skripsi saya(yang jadi buku pertama saya) sendiri adalah anugrah luar biasa. Muhidin M Dahlan dan Zen RS, senior waktu kuliah di IKIP Jogja, menampung magang saya jadi esais sejarah disitu ada mahluk bernama An Ismanto yang doyan putar music. Itulah pertama kalinya saya dengar Shine on You Crazy Diamond yang legendaris itu. Tidak!! Keren abis!!!! Secara tak sengaja saya temukan lagu favorit saya: Green is the Colour. Lagu itu selalu saya putar waktu ngetik, naik sepeda melawan arus pejalan kaki Malioboro. Telat lulus memang berkah. Saya jadi makin kenal Pink Floyd waktu kerja di Patehan (Jogja) dan Veteran (Jakarta). Lagu Us and Them pun saya dengar juga. Soal lagu ini disukai pemabuk, bukan urusan saya. Tak perlu negak alcohol atau pakai narkoba untuk mabuk, cukup dengar Pink Floyd. Tuhan, ampuni hambamu ini yang mendustakan kerennya music Pink Floyd.

Tentang Laurent van der Post

Iri sekali pada kehidupan Afrikaner yang pernah menolong Indonesia ini. Selain penjelajahan, karya tulisnya sangat menarik. 
Suatu kali, murid saya bertanya, “apakah orang-orang Belanda jahat waktu revolusi?” Sebagai guru sejarah, yang harus jujur. Beruntung, waktu SMP saya pernah membaca sosok pria Inggris, yang saya kira orang baik. Laurent van der Post. Ayah baptis Pangeran William dari Inggris. Tentunya pria ini hanya salah satu dari sekian orang bule yang baik pada Indonesia.
Dari namanya, dia turunan Belanda. Dia lahir pada 13 Desember 1906, di Afrika Selatan.  Ayahnya memang keturunan Belanda, yang jadi pengacara dan politisi di Afrika Selatan. Ayahnya punya perpustakaan yang memanjakan mata dan pikiran Laurent akan bacaan. 
Laurent muda anti rasialisme yang dijunjung tinggi penguasa kulit putih Afrika Selatan. Laurent juga kulit putih, tak sendirian dia melawan rasialisme. Jauh sebelum Nelson Mandela kesohor akan penentangannya pada rasialisme, Laurent mudah sudah menulis artikel anti rasialisme. Kemungkinan, dia menulis soal itu ketika dirinya jadi jurnalis miskin di Afrika Selatan.
Suatu kali, murid saya bertanya, “apakah orang-orang Belanda jahat waktu revolusi?” Sebagai guru sejarah, yang harus jujur. Beruntung, waktu SMP saya pernah membaca sosok pria Inggris, yang saya kira orang baik. Laurent van der Post. Ayah baptis Pangeran William dari Inggris. Tentunya pria ini hanya salah satu dari sekian orang bule yang baik pada Indonesia. Dari namanya, dia turunan Belanda. Dia lahir pada 13 Desember 1906, di Afrika Selatan. Ayahnya memang keturunan Belanda, yang jadi pengacara dan politisi di Afrika Selatan. Ayahnya punya perpustakaan yang memanjakan mata dan pikiran Laurent akan bacaan. Laurent muda anti rasialisme yang dijunjung tinggi penguasa kulit putih Afrika Selatan. Laurent juga kulit putih, tak sendirian dia melawan rasialisme. Jauh sebelum Nelson Mandela kesohor akan penentangannya pada rasialisme, Laurent mudah sudah menulis artikel anti rasialisme. Kemungkinan, dia menulis soal itu ketika dirinya jadi jurnalis miskin di Afrika Selatan.
Ketika Perang Dunia melanda Eropa,  Laurent secara sukarela bergabung dengan tentara Inggris (1940). Setelah pelatihan, dia jadi kapten di bagian intelejen. Dia pernah dikirim ke Afrika Timur, sebelum akhirnya dikirim ke Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum Indonesia merdeka).  Dengan pangkat mayor, dia memimpin sebuah misi khusus 43. Misi ini bermaksud menyiapkan evakuasi rahasia tentara sekutu. Laurent sempat bergerilya di pedalaman Jawa Barat melawan Jepang setelah Hindia Belanda menyerah kalah pada Jepang di Kalijati Subang (8 Maret 1942). Sebelumnya akhirnya menyerah juga pada serdadu Jepang, pada 20 April 1942.
Laurent mengalami masa-masa menderita tanpa kepastian sebagai tawan perang Jepang. Dia sempat menempati kamp interniran di Sukabumi dan Bandung. Meski penuh tekanan, dan nyaris frustasi, dirinya tetap berusaha melakukan hal positif, seperti berternak dan membuat kampus belajar sejarah di dalam kamp tawanan. Sekedar sibuk di dalam kamp yang terkurung tanpa kepastian, sangat membantu melawan frustasi.
Pengalaman sebagai tawanan Jepang di Jawa, banyak memberinya inspirasi dalam menulis kisah-kisah yang  tertuang dalam bukunya:  A Bar of Shadow (1954), The Seed and the Sower (1963) and The Night of the New Moon(1970). Sebuah film yang berjudul Merry Chrismast Mr Lawrence, yang dimainkan juga oleh David Bowie, pernah dibuat tahun 1983. Belakangan, ketika dirinya tak muda lagi, Laurent terkenal sebegai penulis terkenal.
Setelah Jepang menyerah, Laurent tak langsung mudik. Laurent memilih menetap di Indonesia selama lebih dari setahun. Dia menjadi mediator antara pihak Indonesia dengan Belanda dalam sengketa yang kita sebut revolusi Indonesia. Sukarno dan Hatta sangat percaya pada perwira penghubung Inggris ini.  Nampaknya, apa yang dilakukannya menguntungkan Indonesia. Laurent memberikan peringatan kepada Perdana Inggris Clement Attlee dan Panglima Inggris di Asia, Sir Louis Mountbatten, tentang revolusi Indonesia yang tak bisa dihindari. Dia bahkan memperingatkan para menteri Kerajaan Belanda. Belakangan, November 1946, Inggris pun tarik pasukannya dari Indonesia. Toch tugas pasukan sekutu, melucuti serdadu Nippon Jepang dan membebaskan tawanan tunai sudah. Tak ada alasan bagi Inggris menembaki orang Indonesia lagi, hanya menguntungkan pihak Belanda saja.
Ketika Perang Dunia melanda Eropa, Laurent secara sukarela bergabung dengan tentara Inggris (1940). Setelah pelatihan, dia jadi kapten di bagian intelejen. Dia pernah dikirim ke Afrika Timur, sebelum akhirnya dikirim ke Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum Indonesia merdeka). Dengan pangkat mayor, dia memimpin sebuah misi khusus 43. Misi ini bermaksud menyiapkan evakuasi rahasia tentara sekutu. Laurent sempat bergerilya di pedalaman Jawa Barat melawan Jepang setelah Hindia Belanda menyerah kalah pada Jepang di Kalijati Subang (8 Maret 1942). Sebelumnya akhirnya menyerah juga pada serdadu Jepang, pada 20 April 1942. Laurent mengalami masa-masa menderita tanpa kepastian sebagai tawan perang Jepang. Dia sempat menempati kamp interniran di Sukabumi dan Bandung. Meski penuh tekanan, dan nyaris frustasi, dirinya tetap berusaha melakukan hal positif, seperti berternak dan membuat kampus belajar sejarah di dalam kamp tawanan. Sekedar sibuk di dalam kamp yang terkurung tanpa kepastian, sangat membantu melawan frustasi. Pengalaman sebagai tawanan Jepang di Jawa, banyak memberinya inspirasi dalam menulis kisah-kisah yang tertuang dalam bukunya: A Bar of Shadow (1954), The Seed and the Sower (1963) and The Night of the New Moon(1970). Sebuah film yang berjudul Merry Chrismast Mr Lawrence, yang dimainkan juga oleh David Bowie, pernah dibuat tahun 1983. Belakangan, ketika dirinya tak muda lagi, Laurent terkenal sebegai penulis terkenal. Setelah Jepang menyerah, Laurent tak langsung mudik. Laurent memilih menetap di Indonesia selama lebih dari setahun. Dia menjadi mediator antara pihak Indonesia dengan Belanda dalam sengketa yang kita sebut revolusi Indonesia. Sukarno dan Hatta sangat percaya pada perwira penghubung Inggris ini. Nampaknya, apa yang dilakukannya menguntungkan Indonesia. Laurent memberikan peringatan kepada Perdana Inggris Clement Attlee dan Panglima Inggris di Asia, Sir Louis Mountbatten, tentang revolusi Indonesia yang tak bisa dihindari. Dia bahkan memperingatkan para menteri Kerajaan Belanda. Belakangan, November 1946, Inggris pun tarik pasukannya dari Indonesia. Toch tugas pasukan sekutu, melucuti serdadu Nippon Jepang dan membebaskan tawanan tunai sudah. Tak ada alasan bagi Inggris menembaki orang Indonesia lagi, hanya menguntungkan pihak Belanda saja.
Laurent pun ditunjuk jadi atase Inggris di Jakarta, meski tak lama. Tahun 1947, Laurent pun menyelesaikan masa tugasnya di Indonesia. Tak ada lagi serdadu Inggris di Indonesia. Sebelum ke Inggris, Sukarno titip salam pada orangtua Laurent. Masa dinas militernya diakhiri, dia menyandang pangkat terakhir koloenl dan mendapat gelar Sir dari kerajaan Inggris. Namun, meski kulitnya putih, atas pedulinya pada Afrika, disejatinya Afrikaner.
Yang dilakukan sebagai orang sipil adalah: menulis sebagai wartawan dan novelis, yang kemudian terkenal. Dia masih terus bertualang, termasuk ke Afrika da bertemu orang-orang Bushman. Dan sepertinya tetap anti apartheid yang kemudian dilawan keras oleh Nelson Mandela. Begitulah tentang yang saya anggap petualang keren sekaligus penulis. Senang mengetik namanya tiga kali di halaman 67 skripsi terakhir saya, Pribumi Jadi KNIL. Pria ini menikmati masa tuanya, hingga 16 Desember 1996, sebagai pria terhormat—setidaknya sebagai laki-laki baik-baik.
Laurent pun ditunjuk jadi atase Inggris di Jakarta, meski tak lama. Tahun 1947, Laurent pun menyelesaikan masa tugasnya di Indonesia. Tak ada lagi serdadu Inggris di Indonesia. Sebelum ke Inggris, Sukarno titip salam pada orangtua Laurent. Masa dinas militernya diakhiri, dia menyandang pangkat terakhir koloenl dan mendapat gelar Sir dari kerajaan Inggris. Namun, meski kulitnya putih, atas pedulinya pada Afrika, disejatinya Afrikaner. Yang dilakukan sebagai orang sipil adalah: menulis sebagai wartawan dan novelis, yang kemudian terkenal. Dia masih terus bertualang, termasuk ke Afrika da bertemu orang-orang Bushman. Dan sepertinya tetap anti apartheid yang kemudian dilawan keras oleh Nelson Mandela. Begitulah tentang yang saya anggap petualang keren sekaligus penulis. Senang mengetik namanya tiga kali di halaman 67 skripsi terakhir saya, Pribumi Jadi KNIL. Pria ini menikmati masa tuanya, hingga 16 Desember 1996, sebagai pria terhormat—setidaknya sebagai laki-laki baik-baik.

Rabu, Januari 29, 2014

Orang-Orang Bagelen

Ternyata, cerita dari serdadu-serdadu KNIL asal Bagelen, bisa ditemukan di majalah komunitas pensiunan KNIL: Trompet. Mungkin ini bukti, orang Bagelen punya darah serdadu.


Kampung nenek-moyang, di sisi timur Bagelen[1], kami tak subur. Tak bisa ditanami padi. Hanya singkong dan kelapa yang bisa menghidupi.  Waktu orang kampong tak kenal uang semua mungkin baik-baik saja, namun ketika uang sudah dikenal dan didewakan, banyak orang harus pergi berburu uang di kota. Dan, bakat berkelahi yang diwarisi sebagai turunan pengikut Diponegoro yang dulu melawan Belanda, tentu saja membuat banyak pemuda jadi serdadu KNIL. Tak masalah, meski KNIL adalah tentara Belanda juga, karena waktu Diponegoro melawan KNIL belum ada. Ini mungkin pleidoi untuk mereka jadi serdadu, meski sebenarnya uanglah akar utamanya.
                Sireng salah satu jagoan kampong. Jadi jago kandang jelas tak baik. Lebih baik adu jago diluar. Kalo kalah tak masalah, yang penting bukan jago kandang. Sireng masuk KNIL. Dan berdinas puluhan tahun. Dua anak pertama lahir di tangsi,yang ketiga  lahir di kapal dan satu lagi yang terakhir lahir waktu Sireng pension dan sudah punya nama Ki Hadiwijoyo yang dihormati orang kampong nenek yang kering.
                Waktu belum masuk KNIL, Sireng belum bisa baca-tulis, dan setelah dinas dia mulai belajar baca-tulis huruf latin. Tak banyak lagi cerita tentangnya. Hanya saja, dia pernah  kunjungi banyak tempat di Indonesia sebagai serdadu KNIL. Kami tak tahu nomor registrasi prajuritnya.  Pangkatnya pun cuma Spandrig (prajurit bawahan), tak lebih. Ada banyak pemuda macem Sireng, si kakek buyut saya itu, di tanah Bagelen yang sebagian besarnya gersang.
Mungkin tiap kampungnya pernah berikan pemudanya yang suka berkelahi jadi serdadu dan pulang kampong sebagai orang yang dihormati. Seperti orang Ambon.  Ada juga yang tak kembali ke kampong dan pilih tinggal di sekitar kota yang ramai, karena mereka sudah terbiasa dengan hal-hal modern yang barbau barat. Mereka bukan lagi orang kampong.

Redjakrama (No. 20329)
Ada Marsose asal Bagelen  bernama Redjakrama. Pemuda kelahiran Kedungwaru, Bagelen—Kabupaten Purworejo sekarang—tahun 1867. Diusianya yang ke-18, tahun 1885 diateekensoldij (daftar jadi tentara) di Gombong. Setehun kemudian Redjakrama dikirim ke Aceh untuk pertama kalinya. Tahun 1887 Redjakrama ditempatkan di Sulawesi.  

Tanggal 21 Desember 1888, Redjakrama resmi menjadi kopral dan 2 Oktober 1890 sudah menjadi seorang sersan. Sebuah prestasi hebat untuk seorang pemuda kampung yang tidak terpelajar macam dirinya.  Pada 2 Oktober 1901, Redjakrama dimutasikan ke Marsose. Sebagai Marsose Redjakrama telah menunjukan keberaniannya—seperti yang dimuat dalam majalah Trompet. Pada 26 Juni 1904, Sersan Redjakrama ditugaskan di daerah Beureuleueng, Pidie—Nangroe Aceh Darussalam sekarang.

“Sementara berkelahi ini, maka satu bahagian dari kumpulan musuh darai Pang Andah  tahan sekuat-kuatnya  didalam dua rumah dari sini mereka pasang pada Marsose. Cuma dengan pendek saja, pasangan dari musuh dibalas oleh Marsose, lantas Marsose tarik jatuh dinding dari kedua rumah. Ini pekerjaan dikerjakan oleh brigade, dimana terdapat sesan Redjakrama yang telah enam bulan lamanya pegang komando dari brigade ini yang telah menunjuk gagah beraninya. Ini onderofficer biasa terdapat ditempat-tempat yang ada  dan sikapnya ada satu contoh yang bagus buat soldadu-soldadu. Yang perlu sabar dan tiada hilang otak sehat, sebab brigade terdiri dihadapan musuh yang tahan dengan sekuat-kuatnya dirumah-rumah dimana seperti dekking, musuh memakai karung-karung dengan beras. Contoh yang  gagah berani dari sesan Redjakrama yang pertama kali masuk rumah, ada sebegitu rupa sehingga dituruti oleh brigade, yang bikin kalah musuh dan sesungguh-sungguhnya.” (TROMPET edisi Februari 1940)

Redjakrama setelah dinasnya, kemudian pension dan tinggal di Cilacap. Semasa dinasnya dia beberapa mendapat medali: MWO  kelas 4. Ridder Militairre Willems Orde klaas 4e berdasar Koninklijk Besluit (keputusan Kerajaan) no 49 yang dikarenakan jasa-jasanya bertempur di Aceh. 

Matsalim (No. 42308)
Marsose bagelen lainnya adalah: Matsalim. Dia jug lahir pada 1873 di Karangpoh, Bagelen. Di usia yang ke-20 tahun, pada 1893, dirinya bergabung dengan KNIL di Salatiga. Dua tahun kemudian dia dikirim ke Aceh. Tahun 1897, dia dimasukan ke korps Marsose. 
Mat Salim
Mat Salim
Tahun 1903, pangkatnya pun naik jadi kopral. Tujuh tahun kemudian, 1910, pangkatnya naik jadi sersan. Ini mungkin pangkat orang tinggi yang paling banyak dicapai orang kampong, dengan pendidikan tak jelas, dalam kemiliteran KNIL.
Matsalim terbiasa denganAceh, lebih dari 10 tahun dalam karirnya adalah sebagai Marsose di Aceh. Bahkan menjelang pensiunnya ditahun 1913, tepat diusia 40 tahun. Selain di Aceh, dia pernah dikirim ke Sulawesi.  Matsalim, ketika cerita ini dirilis sedang menghabiskan masa pensiunnya di Gombong. Begini cerita tentang Matsalim dalam Trompet edisi Juni 1939:

Pada tanggal 25 Maret 1903 terimalah Letnan Satu dari Marechaussee Watrin pada malam dari Lam Meulo dengan 4 brigade afmarscheren (berbaris/berjalan) ke Reudenep untuk menangkap Tangkoe Manja Keumala atau bikin mati ia. Oleh sebab itu, maka tiada lagi berjalan di alur, tetapi diperintahkan akan insluiten (masuk),kampong.  Bertentangan dengan musuh berawas-awas, dan sawah-sawah basah, sehingga marcheren (berbaris) diam-diam tak bisa, berjalan didalam hutan juga ada halangan. Sebab disituada terdapat beberapa rumah. Waktu Marsch (jalan), dan membikin omtrekken (lingkar), maka diketahui musuh dan patrouille (patroli) dipasang. Dengan lekas brigade cari masing-masing punya tempat dan satu brigade mulai cari tempat sembunyi dari moesoeh, waktu terang sedikit. Satu watchpost (pos pemantau) dari musuh terdiri 4 orang, mencoba lari dari selatan, disitu tempat yang terdapat separuh brigade dibawah komando Sersan Matsalim. Oleh sikapnya Matsalim yang teratur, maka 4 orang musuh itu ditembak mati; diantara mayat-mayat itu ada mayat dari Pang Aron dari keumala, satu Beamount, gonderbus dan beberapa senjata lainjatuh ditangan brigadenya Matsalim. Pada malam di Keumala Raja dibivak, maka dikasih perintah akan cari lading dari Pang Amat terdapat disebelah selatan dari gunung di keumala. Ladang itu menurut gids (penghantar) terdapat di Aloe Intan, satu kali yang belum diketahui. Pada pagi hari, tanggal 27 Maret, maka patrol itu berangkat, gids itu pada waktu malam tiada bisa tunjuk  itu voetpad (jalur). Aloee Intandengan gampang ketemui dan berjalan ikut Aloee Intan keatas. Waktu datang disatu mata jalan, dimana gids menyatakan, bahwa lading dari Pang Amat tiada jauh lagi, maka diperintahkan 2 brigade dibawah komando seorang sersan Belanda berjalan richting (arah) selatan, supaya diatas gunung boleh menjaga. Satu brigade dekking trein (mungkin berkendara kereta), dapat perintah menunggu 10 menit dan kemudian turut Aloee keatas, sedang Letnan Watrin dengan 4 brigade ikut voetpad ke sebelah utara. Sesudahnya naik kereta kira-kira 10 menit., maka letnan Watrin melihat itu lading, dimana terdapat 14 rumah yang berdiri jauh-jauh. Supaya mengasih tempo pada brigade yang dibawah komando dari sersan Belanda ambil stelling (posisi bertahan), maka brigadenya Letnan Watrin diopstel (dipasang) dengan sembunyi. Tiada lama lagi, maka kedengaran revolverschot (tembakan pistrol revolver) dari pihak musuh, waktu itu juga kelihatan satu grup yang dengan cepat naik pada gunung disebelah selatan. Cuma Marechaussee de Fretes yang diingedeeld (ditempatkan) di brigade yang belakang, lari dan tinggalkan teman-temannya, supaya boleh bersama-sama kopral Patty dan kedua laki-laki maju ke muka dengan tiada peduli dengan vuren (tembakan) musuh, asal saja bezetten (menempati tempat) tjot (bukit) yang paling tinggi. Sesudah revolverschot kedengaran, maka ada serupa alarm di lading dan 30 orang Aceh mencoba melarikan mereka punya diri, di jura dan tjot. Satu bagian dari musuh lari  dirichting utara, dimana tiada ada afdeeling (bagian) marechausse. Letnan Watrin perintah saru brigade ke richting utara untuk omtrekken (mengitari) musuh, dan potong pas (jalur) mereka. Letnan sendiri pergi ke brigade yang dekken trein ditjot itu, tetapi dekat aloee. Tempo Letnan lihat , bahwa brigade itu mendapat perintah buat omtrkekken musuh barangkali telat, maka ia perintahkan brigade dari brigade dari treindekking buat buru musuh. Seorang kopral yang ditunjuk seperti komandan begitu perlahan, dan dengan begitu susah turun dari tjot, sehingga Letnan Watrin menunjuk Marechausssee Matsalim seperti komandan. Mat Salim turun dari tjot tingginya kurang lebih 30 meter dengan looppas (berjalan); sesudahnya itu lari dengan cepat di lading yang lebar , kurang lebih 100 meter dan penuh dengan pohon-pohon yang ditebang, masuk di kali Aloee dan kemudian naik dengan tiada berhenti tjot yang begitu tanjak, tinggi 150 meter, dan beralang-alang. Pada permulaan dan kemudian Cuma Matsalim dikikuti Marechaussee Laloan.ini Marechausse yang buru pada musuh. Ketemu mereka dan tembak beberapa dari musuh, biarpun Matsalim dan Laloan berulang kali mesti berhenti untuk vuren (menembak) pada musuh. Selain dari ini, maka Matsalim dan Laloan tembak beberapa musuh yang sembunyi di alang-alang. Laloan sendiri afslaan (turun/memberi) satu aanval (serangan) dari dua musuh yang sembunyi di alang-alang, dan kedua musuh ditembak oleh Laloan, dimana dua senapan Beaumont jatuh ditangan kita. Dari 15 orang musuh yang sudah lari kemuaka dan jatuh, maka Cuma 5 orang yang luput dari pelor kompeni (kompi).  Matsalim Cuma dengan 6 orang serdadu, tembak 10 orang musuh, diantara yang ditembak terdapat Keuci Putih. Selain dari ini, maka 3 Beaumont, 1 voorlaad, 1 donderbus,  dan banyak senjata lainmenjadi kepunyaan kompeni. (Trompet, edisi Juni 1939).

Matsalim yang menjalani hidupnya sebagai pensiunan KNIL di Kuwarasan, Gombong itu, dianugrahi bintang Militairre Willems Orde 4e klasse dan Eervolle Vermelding. Dapat bintang sebagai serdadu KNIL adalah kebanggaan tersendiri.

Sanin (No. 62069) 
Tersebutlah seorang pemuda bernama Sanin, yang teekensoldij pada 6 Desember 1900. Usianya 19 tahun kala itu.  Terlahir  di desa Semawung. Dia pernah dikirim ke Aceh, Sumatra Tengah, dan Timor. Seperti serdadu KNIL lain, dirinya pernah dikirim ke daerah bergolak dimana dirinya pernah terluka. Dengan panjang lebar, Trompet edisi Oktober 1910:

Kediaman di Lewo Lera (Flores) sesudahnya Marsch bivak (tangsi)  diaanval (diserang musuh yang kuat dan kemudian mundur ke pantai dari tanggal 25 sampai 29 September  1914.  Satu brigade infanteri (prajurit jalan kaki), terdiri dari sersan Belanda, 3 fuselier Ambon, dan 14 fuselier Jawa, pada pagi hari 25 September 1914 dengan sekonyong-konyong diaanval dibivak Lewo Lera (Pulau Lomblen) oleh musuh yang kuat, sehingga hasilnya satu sersan Belanda, komandan brigade  dan satu fusilier Jawa meninggal, sedang 2 fuselier Ambon dan 4 fuselier Jawa luka bayah dan 2 fuselier Jawa luka enteng. Cuma 8 fuselier tiada kejadian apa-apa. Dikeliling penduduk yang bermusuh dan kira-kira 1,5 hari marsch (jalan) dari bivak di Wae Komo, maka kedudukan brigade itu amat susah.  Biarpun bukan soldadu tua, maka Fuselier Sanin ambil over komando dan urus semua perkara. Ia memberanikan teman-temanya yang akukan ia seperti komandan. Sanin ceritakan teman-temannya akan tahan pada musuh biarpun  mereka ada banyak di satu bukit, sampai bantuan dari militairen yang tiada lama lagi datang, sebab seorang strapan (orang hukuman atau orang rantai) telah pergi minta bantuan itu. Stelling yang baru dikuatkan dengan  rintangan bamboo, soldadu yang baru luka ditaruh ditengah-tengah  dan 4 orang strapan dikasih pakaian seperti soldadu, dan dikasih senjata, supaya musuh boleh keliru dari kekuatannya brigade. Pada hari itu begitu pun dua hari yang lain musuh maju ke bivak. Hari kedua, musuh bakar tiada jauh dari bivak dan pasang pada brigade vuurlaadgeweren (mungkin maksudnya temabakan senjata api). Semua aanvallen ini ditangkis dan dibalas dengan pasangan (mungkin tembakan) dari brigade. Sesudahnya 3 hari dan 2 malam tahan pada musuh, dengan tiada dapat pertolongan maka brigade mengerti juga, bahwa tahan sedemikian tiada bisa diteruskan. Brigade tidak mempunyai kekuatan lagi oleh tiada tidur dan terus dipost, begitupun rawati mereka yang luka dimana diantara mereka telah meninggal dunia. Selain dari ini, maka bangkai dari mereka yang yang meninggal begitu bau sehingga tiada bisa tahan lagi. Pada malam ketiga, troep (pasukan) mundur dengan begitu susah, sebab amat capai (lelah). Troep ini terdiri dari 13 orang, dimana 5 yang luka payah dan 2 luka enteng. Biarpun begitu capai mereka tinggal menunjuk keberanian mereka, sikap ini yang dipuji amat. Bukan saja mereka yang luka , tapi juga semua wapens (senjata)  dan patronen (bawaan) dibawa, sampai satu zak (kantung) yang penuh dengan uang-uang belasting (pajak). Troep ini juga sekali-kali tiada mamu kasih tinggal apapun di bivak. Dua orang yang luka payah dipikul oleh 4 orang strapan didalam tandu. Sedang ketiga yang luka payah oleh sebab tiada tandu lagi, dipikul sendiri oleh Sanin. Begitu troep ini maju dengan perlahan dalam gelap gulita, dengan mencoba jalan puter kampong Lewo Lera, supaya boleh datang di pantai. Dengan segera musuh tahu maksudnyabrigade, sehingga terpaksa tinggalkan voetpad dan berjalan terus lewat terrain (tempat) umtuk sampai di pantai. Biarpun begitu brigade bisa teruskan perjalannya dengan berulang kali lawan pada musuh dan mesti jalan turun ke satu jurang yang dalam. Pada salah satu rustplaats  (peristirahatan), maka dengan tiada sengaja satu karaben (senapan pendek) dengan tiada mempunyai Grendel (kunci) ditinggalkan.tempo sudah berjalan jauh, maka berpikirlah brigade itu apakah mereka mesti kembali ambil itu karaben, tetapi penghabisan diputus, putusan ini adalah baik, kasih tinggal saja itu karaben. Juga pada hari esoknyamesti Marsch terus dan lagi satu malam mesti berdiam di terrain yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Waktu troep itu dengar stoomfluit darikapal setengah komepni, maka ia serupa menambah kekuatan kekuatan pada mereka. Pada hari 29 September 1914 dengan memaksa marsch terus dan penghabisan jam 10 pag, maka mereka sampai di pantai, dimana mereka mendapat pertolongan dari lain brigade yang datang untuk kasih bantuan. Brigade ini bertemu dengan mereka yang sudah semuanya tenaganya hilang, kelaparan dan dimana merek yang luka amat payah. Kesusaha besar tiada lama dihabiskan, waktu mereka dinaikan diatas kapal Pelikaan. Boleh dikata bagian besar dari pekerjaan ini sampai brigade itu berselamat adalah dari fusilier Sanin, tetapi juga oleh pertolongan besar dari teman-temannya dan 4 orang strapan. Jikalau ini tidak ada, maka musuh bisa bikin habis semua yang orang yang di brigade. (Trompet, Oktober 1940)


Begitulah cerita Sanin dan pasukannya yang bertahan hidup dari kejaran pemberontak yang nekad melawan pemerintah kolonial itu.  Tak lama setelahnya, 11 Desember 1914, Sanin naik pangkat jadi kopral, setelah 14 tahun berdinas. Dan 18 Juni 1919, dirinya naik pangkat jadi Sersan. 22 Desember 1923, Sanin pension dari KNIL dan tinggal di Gombong. Dia memperoleh bintang MWO kelas 4.

Sanin
Sanin
Tahun 1914, mungkin bisa dijadikan tahun bersejarah. Mereka tak cuma kirim pemuda ke KNIL untuk jadi Spandrig, fusilier, kopral atau Sersan. Ada pemuda bernama Oerip Soemoharjo. Dia lulus sebagai vandrig (mungkin setara Letnan Dua) KNIL. Belakangan Oerip jadi Kepala Staf Tentara Indonesia pertama. Dia mungkin Jenderal TNI pertama. Oerip Soemohardjo (No. staamboek 77352) lulus dari Inlandsch Officieren School (Sekolah Opsir untuk Pribumi) Meester Cornelis—Jatinegara, Jakarta. Dia lulus bersama:Sugondo (No. staamboek 77336) dan Bagoes Soedjon (No. staamboek 747840). Nama-nama mereka dimuat di suratkabar Sinar Djawa, 24 Oktober 1914.  Begitulah orang-orang sohor Bagelen, jadi serdadu.

NB: [1] Bagelen saat ini adalah nama Kecamatan di Kabupaten Purworejo. Sebenarnya dahulu ada yang disebut Karesidenan Bagelen, sebelum akhirnya dihapus.  

Senin, Januari 27, 2014

Mayor Abdullah Yang Dihilangkan

Butahuruf bukan ahkhir segalanya, karena revolusi nyatanya bisa jadi jalan kemuliaan. Dan Revolusi adalah jalan Abdullah jadi perwira, yang mungkin dia tidak pikirkan sebelumnya.
Revolusi, tak hanya menghilangkan kambing, radio, pakaian beras dan lainnya. Revolusi mampu membalikan sebuah keadaan—yang semula tertutup menjadi terbuka—untuk sementara waktu, selama revolusi. Revolusi Indonesia mampu menghancurkan strata baru, yang walau belakangan dimapankan dengan bungkusan yang baru. Perubahan hanya ada ketika revolusi, setelahnya keadaan kembali seperti semula.
Kita mungkin pernah nonton film Nagabonar, dimana seorang bekas copet yang mendadak jadi gerilyawan disegani dengan konyolnya mengangkat diri jadi Jenderal. Ini film mungkin fiksi, namun dalam kehidupan nyata ada juga mantan copet yang ngaku Jenderal bernama Timur Pane.

Di sekitar front Jawa Timur, ada bekas tukang becak yang sebelum tahun 1947 masih buta huruf. Konon, pemuda tukang becak yang berasal dari Gorontalo ini lahir tahun 1920. Dia baru berhenti jadi tukang becak tahun 1945, bertepatan dengan datangnya revolusi. Pemuda bernama Abdullah, mungkin ada yang menyebutnya Dullah.
Revolusi adalah latihan dasar kemiliterannya. Peristiwa 10 November 1945, adalah medan pertempuran pertamanya, bahkan bisa jadi terhebat dalam hidupnya. Menggempur tentara asing berpengalaman macam Inggris, tentu prestasi yang hebat.

Mula-mula, Dullah bergabung sebagai anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut. Meski namanya BKR Laut, sebenarnya pasukan ini jauh lebih banyak bertempur di darat ketimbang di laut. Sebagai anggota ALRI Divisi VII, dirinya menunjukan kemampuan memimpin pertempuran,  sebagai komandan kompi. Akhirnya, dirinya dijadikan komandan Batalyon—yang membawahi beberapa kompi.
Tentang karir militernya Rusdi Hoesein menulis:
Pada tahun 1946, Abdullah memimpin pasukan yang diberi nama “Bajak Laut”. Pasukan ini mampu bertahan disebelah utara Sidoarjo. Dalam pertempuran disekitar Buduran-Sruni, Abdullah mampu memperlihatkan kecakapannya dan keberaniannya. Karena kemampuannya memimpin pasukan itulah pada April 1947, dia di-serahi memimpin barisan “Pelopor” dengan pangkat Kapten. Ketika TLRI direorganisir pada Maret 1948, Barisan Pelopor berubah menjadi “Depot Batalyon”. Markasnya juga pindah kesekitar Lawang. Sebagai komandan Abdullah naik pangkat menjadi Mayor. (Roesdy Hoesein, Pahlawan 10 November yang Gugur di Ceram,sejarahkita.blogspot.com)
Dullah yang awalnya buta huruf, mulai istrinya membaca setelah diajari istrinya yang konon Indo, pada 1947. Sang istri, yang saya tidak tahu namanya, adalah lulusan HBS 5 tahun. Bukan perempuan bodoh pastinya. Kemampuan membaca harusnya membuat karirnya bertambah baik. Ketika itu Abdullah terlibat gerilya di sekitar Jawa Timur. Broer Tumbelaka dan J.F Warouw, yang belakangan terlibat perjuangan Permesta, adalah kawan seperjuangannya. Pasukan yang dipimpin Dullah isinya bermacam-macam etnis.

Nama militer Indonesia memang silih berganti, begitu pun organisasinya. Berdasar dekrit wakil Presiden, September 1948, TLRI dilebur menjadi TNI. Depot Batalyon, yang dipimpin Abdullah pun menjadi Batalyon XVII, Brigade I Divisi Brawijaya. Dimana Kolonel Sungkono yang pernah terlibat pemberontakan Kapal Zeven Provincien adalah komandan divisi ini. Selama di Batalyon 17, kepala staf Batlyon adalah Broer Tumbelaka, orang Manado, yang menjadi kepala staf pasukan. . (Barbara Silar Harvey, Permesta: Pemberontakan Setengah Hati, hlm. 216.)

  Abdullah tampak dekat dengan kelompok kiri (sosialis). Dia bersama Warouw ikut serta penandatangan Pakta Kawi, yang nampaknya independen dan bebas dari pengaruh petinggi tentara di Yogyakarta. (Harry Albert Poeze, Tan Malaka: gerakan kiri, revolusi Indonesia IV, hlm. 308) Nampaknya, ini diindikasikan jika Abdullah adalah komandan kiri. Konon, Slamet Riyadi pun juga dianggap kiri, setidaknya berasal dari Divisi Senopati yang kiri. Ketika berlangsung perundingan Linggajati, antara Indonesia dengan Belanda di KUningan, Kapten Abdullah adalah pimpinan pasukan TLRI yang bertugas didaerah Kuningan. Ketika itu, Perdana Menteri adalah Syahrir yang sosialis.

setelah Belanda angkat kaki dan bekas pasukan KNIL yang tergabung dalam Republik Maluku Sleatan yang diproklamirkan Soumokil, Abdullah pun dikirim kesana. Abdullah nampkanya terbiasa memimpin siapa saja. Namun, sniper RMS adalah musuh tersembunyi yang bisa membunuh siapa saja, termasuk Abdullah. Dalam bukunya, Kawilarang mengatakan: 

Batalyon Abdullah sudah menempatkan pasukan APRIS di kepulauan Tamimbar, Kei, Aru hingga kepulauan Geser dan beberapa tempat di Seram Selatan. Mayor Abdullah gugur dalam salah satu pendaratan di Seram Selatan. Ternyata pasukan RMS dapat menyeberangkan sebagian pasukannya dengan perahu-perahu ke Pulau Seram dan menyerang Amahai. Tetapi serangan ini dapat di patahkan oleh pasukan Mayor Soeradji. (Ramadhan KH, Untuk Sang Merah Putih.)

Dalam buku "Sedjarah Bataljon Y", tercatat: Mayor Abdullah gugur pada tgl 25 September 1950 dalam pendaratan di Negeri Angar Ceram Timur. Dia gugur dalam posisinya sebagai komandan batalyon XVII Divisi Brawijaya (Jawa Timur).

Soal orang ini masih menarik untuk dibicarakan. Termasuk pengirimannya ke menumpas RMS. Kenapa harus komandan yang dekat dengan orang kiri macam Slamet Riyadi dan Abdullah yang dikirim. Belakangan mereka berdua gugur disana. Dibalik opini yang herois, mungkin ada sebuah kebetulan disana. Perwira kiri yang handal, meski minim pendidikan militer, yang bisa jadi saingan perwira yang lebih berpendidikan.

Kematian mereka, setidaknya, walau tanpa disengaja, bisa jadi menguntungkan perwira-perwira yang beda paham dengan dua orang yang karismatik ini. Kebetulan lagi, nama Mayor ini kalah sohor dan terlupakan. Begitu sedikit yang saya tahu soal Mayor hebat ini. Dia pembuat sejarah kaum tak berpunya yang mampu menonjol dalam sejarah.