Selasa, April 10, 2012

Biarkan Kami Gondrong

Nabi juga gondrong. Namun, kenapa rambut gondrong selalu dipermasalahkan dengan alasan tidak rapi. Padahal rambut tidak berdampak buruk pada kinerja dan kecerdasan.



Jika anda laki-laki, dan rambut anda panjang, anda layak disebut gondrong.  Kalau anda wanita, dan anda juga berambut panjang, apakah anda tidak aneh disebut gondrong? Setahu saya, wanita sah-sah saja punya rambut panjang. Harus saya akui wanita dengan rambut panjang, memang terlihat cantik.
Rambut tak pengaruhi otak. Bahkan rambut gondrong tidak pengaruhi isi kepala. Rambut gondrong juga belum tentu membuat seseorang malas dan tidak berkarya. Tak jarang orang gondrong adalah orang-orang kreatif.

Tradisi massif Kolonialis
Rambut telah menjadi ukuran kesopanan, keberadaban bahkan indikasi mental dan semangat juang. Itulah fenomena jaman modern. Semua diukur dari kerapian ala orang kantoran. Tak rapi macam orang kantoran tak layak. Dunia modern cuma suka lihat bungkus. Isi busuk tak apa, yang penting bungkus bagus. Tak heran kalau Indonesia jadi bangsa negara penipu yang menipu rakyatnya.
Termasuk dalam urusan rambut. Ini sudah gila. Saking paranoidnya, orang gondrong selalu disamakan seperti genderuwo atau semacamnya. Orang-orang Indonesia tidak mau belajar dari sejarah. Lihat saja di gereja-gereja, Yesus kan rambutnya gondrong. Bukan cepak macam kadet Akademi Militer. Juga tidak potongan pendek belah tengah macam Mao Ze Dong muda.
Orang Indonesia, tahunya kalau orang gondrong seperti genderuwo. Mereka pikir semua orang gondrong itu jahat. Coba pikirkan, jika Musso dan Aidit yang pemimpin PKI itu dianggap jahat, kita harus lihat rambut mereka tidak gondrong. Hampir semua koruptor bahkan tidak gondrong. Rambut mereka memang tidak gondrong, tapi mental mereka jelas genderuwo.
Orang Indonesia juga lupa kalau banyak pejuang gerilyawan Indonesia yang dulu bertempur melawan tentara Belanda jaman revolusi juga berambut gondrong. Tidak menghargai orang gondrong, berarti juga tidak menghargai perjuangan bangsa ini. Alias tidak nasionalis karena tidak menghargai para pejuang yang pernah gondrong.
Orde baru, meski sok liberal tulen, pernah antipati sama orang berambut gondrong. Entah kenapa? Setahu saya, banyak pejabat orde baru itu agamanya Islam dan juga Kristen. Kalau kita ke gereja, lihat saja banyak lukisan Yesus berambut gondrong. Muhammad, juga rasanya berambut gondrong. Tak ada tradisi cukur rambut teratur di masa lalu. Meski rambut mereka tidak jelas, mungkin juga gondrong, mereka bisa bikin jutaan orang tercerahkan. Itu luar biasa.
Saya kadang merasa kesal kalau ada orang Islam atau Kristen yang suka bilang, orang gondrong itu banci. Mengatakan orang gondrong itu banci, sebenarnya sama saja bilang Nabi-Nabi itu banci juga. Orang-orang Indonesia mulai massif rajin cukur rambut, itu karena dijajah Belanda. Jadi cukur rambut juga tradisi kolonial juga. Tapi, kaum nasionalis juga ikut-ikutan kaum penjajah juga, dengan rajin cukur rambut.
Setahu saya, Hatta juga rajin cukur rambut. Sebulan sekali, dengan waktu, tempat dan pencukur yang sama juga. Tapi, tak semua orang di Nusantara ini harus dan bisa seperti Hatta. Mereka juga punya hak untuk tidak seperti Hatta. Mereka punya hak untuk tidak perlu serapi Hatta. Mereka juga punya hak untuk gondrong.

Kami Gondrong Karena Kami Berkarya

Yesus, sebagai seorang nabi sudah beri pencerahan dan pembebasan bagi jutaan umat manusia di dunia. Seniman yang bisa membuat karya hebat juga berambut gondrong.  Lihat saja John Lennon, sebagai orang gondrong dia bisa mengajak dunia untuk hidup damai. Ketika orang-orang berambut rapi dan agamawan hanya sibuk dengan kepentingan kelompok mereka. Apa Lennon tidak bisa disebut mulia? Apa orang gondrong tidak boleh mulia?
            Orang gondrong selalu jadi masalah di kampus. Banyak mahasiswa gondrong dilarang ikut mata kuliah seorang dosen. Ada mahasiswa gondrong yang dianggap aneh di hadapan Rektor. Jika Rektor itu bermental produktif, si Rektor tentu akan bertanya, mana karyamu? Kamu sudah lakukan apa saja dengan rambutmu? Tapi Rektor saya bertanya soal rambut saya bukan karya dan kegiatan saya.
            Entah apa yang salah dari orang gondrong? Apa itu mengganggu nafkah orang lain? Apa gondrong itu mempengaruhi hidup mati orang lain? Jelas bahwa orang modern dijebak denga kata rapi. Begitulah Indonesia. Rapi adalah simbol peradaban. Bukan karya nyata. Layak saja Indonesia jadi bangsa penipu yang suka menipu sesamanya. Kerapian hanya memaksa orang terlihat bagus namun tidak pernah berpikir memiliki kualitas diri dan jadi orang berkarakter.
            Banyak orang gondrong juga punya kontribusi. Mereka tidak melulu pikirkan uang dan perut mereka. Mereka pikirkan juga bagaimana orang lain bisa makan. Orang gondrong juga berkarya. Lihat saja di Jogja, banyak orang gondrong punya karya. Banyak orang gondrong  juga peduli pada sesamanya, termasuk yang tidak gondrong.
            Dengan ini saya menuntut kepada semua element, hargailah orang gondrong. Biarkan mereka gondrong agar bisa berkarya dan berkegiatan dengan nyaman. Berikanlah kebebasan untuk berambut gondrong. Tidak hanya pada seniman, tapi juga kepada guru, dosen, pegawai dan lainnya agar kejujuran bisa ditegakan. Jujur berpenampilan harapannya akan membuat orang jujur dalam banyak hal. Biarkan kami gondrong, biarkan kami berkarya dan berkegiatan dengan rambut kami.

Senin, Maret 26, 2012

Angkringan dan Bu Siti

Jogja punya semuanya: buku murah, makanan murah, enak dan sehat. Itu sudah cukup buat saya.

Semua sepakat Jogja adalah pelajar. Sedari dulu memang begitu. Barangkali sebelum ada film Cintaku di Kampus Biru. Isinya jelas bukan melulu orang mapan. Pelajar atau mahasiswa jelas bukan orang mapan. Mereka masih mengemis dari orang tua mereka. Di Jogja, mahasiswa adalah mahluk yang jauh dari rumah. Jauh dari orangtua membuat kondisi kacau kantong. Banyak mahasiswa tak sanggup atur kantong mereka dengan benar.
Seperti  manusia lain, mahasiswa juga butuh makan. Makanan murah, enak dan kalau bisa sehat adalah impian mahasiswa Jogja yang jauh dari rumah orang tua mereka. Tidak sulit mencari makanan murah di Jogja. Di sekitar kampus, selalu ada warung makan murah meriah.
Ada ratusan warung murah meriah menyebar di penjuru Jogja. Di Bulaksumur, Karangmalang, Mrican, Babarsari, Seturan dan titik-titik kampus lainnya. Warung murah tadi belum termasuk Angkringan yang menyebar hampir di semua penjuru Jogja.

Ayo Ngangkring!
Setiap tanggal tua, angkringan adalah sahabat. Mahasiswa yang mendadak kere, bisa temukan nasi kucing disini. Nasi kucing adalah nasi putih biasa. Lauknya bisa kering tempe, sambel teri atau oseng-oseng lainnya. Porsinya jelas porsi makan kucing. Tidak banyak, hanya segenggem tangan orang dewasa. Nasi kucing sangat disukai orang yang makannya sedikit. Tapi, kurang bagi orang yang biasa makan banyak seperti saya.
Harga nasi kucing, setahun silam, 2011, masih Rp 1.000 tiap bungkusnya. Harga gorengan masih Rp 500 saja. Entah sekarang. Sebelum tahun 2011 kebawah tentu harganya lebih miring lagi. Tahun 2002, ketika saya baru masuk kuliah harga nasi kucing Cuma Rp 500 dan gorengan masih Rp 200 saja. Selain menyediakan nasi kucing,
Angkringan, meski harga makannya murah, tetap saja pengunjungnya tidak melulu orang-orang bokek. Angkringan sediakan teh hangat, teh jahe hangat, kopi dan sate usus. Semua menu itu disukai pengunjung. Para bekas mahasiswa Jogja yang sudah mapan, biasanya masih rindu dengan hidangan angkringan.
Angkringan, selain tempat makan, bisa jadi tempat berkumpul bagi mahasiwa. Angkringan kadang menyediakan lesehan dengan menggelar tikar di pekarangan belakang gerobak angkringan. Entah diskusi soal pelajaran di bangku kuliah, rapat organisasi, atau sekedang nongkrong. Ada juga yang pacaran di lesehan angkringan.
Angkringan jadi bagian sejarah penting para mahasiswa dan pendidikan di Jogja. Ada banyak proses pembelajaran disana. Angkringan juga punya sejarahnya sendiri.


Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Ya, ke sini, ke Jogjakarta. Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja. Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula. (http://sekedar-tahu.blogspot.com/2010/01/sejarah-angkringan.html)


Jogja seperti surga bagi saya waktu kuliah dulu. Buku murah, karena banyak penerbit dan fotocopy buku bajakan. Makanan juga murah, karena angkringan dimana-mana. Angkringan Temon & Felix di dekat kampus saya adalah angkringan yang tidak saya lupakan.


Bu Siti Im Coming
Warung nasi murah meriah tersebar di penjuru Jogja juga sangat penting dalam kehidupan mahasiswa. Warung-warung itu baru tutup ketika mahasiswa mudik. Biasanya ketika lebaran. Jangan harap temukan warung kala lebaran.
            Warung-warung nasi itu biasanya sediakan nasi sayur dan aneka lauknya. Mulai dari tempe, perkedel, ikan, daging ayam dan sapi. Biasanya harganya miring. Seperti warung tegal, namun dengan rasa yang tidak terlalu asing seperti warung tegal. Jogja identik dengan rasa manis. Seperti karakter para penghuninya.
            Sebagai bagian dari mahasiswa kere, saya punya langganan warung nasi. Murah meriah, enak dan sehat menurut saya. Benar-benar harga mahasiswa. Setahun silam, dengan uang Rp 5.000 saya bisa makan nasi sayur, ayam dan juga jus buah. Ini warung prasmanan, jadi kita bisa ambil nasi sayur sesuka kita. Tentu saja, saya ambil nasi dan sayur agak banyak seperti kuli. Karena kadang tidak yakin bisa makan atau tidak setelahnya.  
            Kami semua, para pelanggan biasa panggil si pemilik warung Bu Siti. Saya tidak tahu nama lengkapnya. Pastinya dia berjilbab dan tak pernah diam di warungnya. Warung ini semula di daerah Sagan, dekat Galeria Mall. Setelah itu sempat pindah ke komplek perumahan dosen UGM di Bulaksumur. Terakhir di Deresan.
            Saya pertama kali makan disini atas ajakan kawan. Sekitar tahun 2008, ketika insyaf ingin lulus kuliah. Berhubung BU Siti banyak punya pelanggan lecek seperti saya, dia mengira saya langganan lama. Dia pernah tanya kapan saya kuliah. Dan dia menyangka saya langganan sejak 2002. Dia selalu panggil saya Mbah Kakung.
            “Mbah Kakung, dari 2002 sekarang gak pernah berubah. Tetap lecek aja.” Begitu setiap kali Bu Siti menyambut kedatanga saya di warungnya. Kami akrab seperti bukan orang lain. Biasanya, orang yang datang bersama saya ke warung itu akan tertawa. Apalagi adik-adik angkatan. Saya pelanggan tertua disana. Saya bangga jadi pelanggan Bu Siti.
            Walau pacar berganti, Warung Bu Siti tetap warung tetap tempat makan saya. Murah, enak dan sehat—menurut saya. "Bu Siti Im Coming!!".

Alam Seperti Buku Pesta dan Cinta

Jangan mengaku anak muda kalau tak pernah camping. Jadi belajarlah tentang hidup bersama Alam kebesaranNya, jika merasa DIA ada.

Tidur nyenyak di rumah yang nyaman memang yang terbaik. Namun, hidup di alam terbuka juga sesuatu yang wajib dicoba juga. Ini bukan perkara penyiksaan diri yang asketis. Banyak manusia yang tak menyadari bahwa dalam ketidaknyamanan ditemukan kenyamanan dan kebahagiaan yang barangkali nikmat tiada tara.
            Semua percaya alam memberikan segalanya. Manusia hidup (bergantung) dari alam. Alam adalah sumber banyak hal. Alam adalah inspirasi, seperti pujangga-pujangga dulu. Orang beragama percaya Alam adalah kebesaran Illahi yang patut disyukuri.
            Menyatu dengan alam adalah perlu. Manusia memang harus bersahabat dengan alam, karena manusia hanyalah penumpang yang dititipi Illahi. Jadi, penting bagi manusia untuk menjaga titipan Illahi tadi.

Kenali Atau Tersiksa
Manusia memang mahluk sosial. Dimana manusia punya konsekuensi yang tak bisa dihindari, yakni berinteraksi dengan manusia lain. Dimana interaksi-interaksi itu belum tentu menyenangkan. Manusia boleh jadi kawan yang belum tentu baik, tapi alam sebenarnya selalu siap menjadi kawan yang baik juga. Asalkan kita bisa bersahabat dengan alam.
            Alam bisa memberi banyak manfaat jika kita mau belajar dan bersahabat dengannya. Sebaliknya, alam akan menyiksa manusia jika manusia tak mau belajar dan bersahabat dengannya. Lihat saja banjir yang dikarenakan ulah manusia, jelas karena mereka tidak bia bersahabat dengan alam. Siksaan alam jauh lebih pedih. Keacuhan kita pun bisa jadi alasan alam menyiksa kita.
            Jika kita tersesat dalam hutan, adalah kondisi dimana kita dituntut bisa bersahabat dengan alam. Jika kita mengenali alam kita maka kita akan selamat. Sebaliknya jika kita tak mengenali alam hutan itu, kita hanya dirundung ketakutan dan kemalangan. Hingga hutan menjadi siksaan.
            Ada banyak cara belajar mengenai Alam. Bukan harus dari buku atau pelajaran biologi di sekolah. Tidak semua orang suka buku atau belajar di kelas dimana menghafal adalah metode terbaik.Turun langsung adalah lebih baik.
            Camping di alam terbuka jelas hal menyenangkan bagi mereka yang suka alam terbuka. Meksi hanya berawal dari suka, sebenarnya ketika camping, tanpa sadar kita akan belajar perlahan dan menyenangkan tentang alam. Cinta membuat manusia belajar apasaja tentang yang dicintainya, tanpa menyadari dirinya sedang belajar. Rasa cinta pada alam membuat Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) mana pun belajar banyak hal tentang alam. Tidak heran, karena cintanya pada alam banyak mapala-mapala bertahan lama di kampusnya dengan berbagai alasan yang mereka miliki. Tak ada yang mengalahkan rasa cinta dalam hal ini.
            Camping, mengajari banyak hal bagi remaja atau penikmat alam pemula. Di alam, kita akan belajar tentang kemandirian. Manusia dituntut untuk tidak bergantung pada orang lain. Dia harus bisa mengatasi masalah dan tantangannya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Ada kalanya, manusia dihadapkan pada kesendirian. Berharap bantuan orang lain adalah salah, yang benar adalah kita menolong diri kita sendiri dalam kesendirian. Jika kita mandiri mampu menjaga diri sendiri maka kita akan bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Ini bukan membuat kita menjadi egois, melainkan menjauhkan diri dari sikap manja. Hidup di alam terbuka bukan di hotel mewah pastinya.
            Kita juga akan belajar bertanggungjawab pada apapun. Mulai dari diri kita sendiri, pada apapun yang kita bawa dan juga pada Alam. Jika kita camping, kita akan berusaha menjaga keselamatan kita, mulai dari diri kita sendiri dan bersama. Kita juga akan bertanggungjawab pada apapun yang kita bawa. Jika kita meninggalkan atau kehilangan panci atau kompor kita terancam kelaparan. Jika meninggalkan baju hangat kita akan kedinginan. Lapar dan dingin di atas gunung tinggi bisa mengakibatkan kematian. Disinilah tanggungjawab itu perlu. Selain itu, kita harus bertanggungjawab pada alam dengan tidak merusak tanaman-tanaman yang kita lewati dan tidak meninggalkan sampah. Merusak alam berarti merusak masa depan kedamaian manusia juga. Mengotori alam terbuka akan merusak pemandangan alam di masa depan. Dimana kita tak temukan lagi pemandangan indah di masa depan. Itulah mengapa tanggungjawab perlu dan bisa mempelajarinya dari camping.
            Camping mengajarkan untuk berbagi juga. Dalam kondisi mapan diatas gunung, para pendaki biasanya mau menolong pendaki lain. Jika seorang pendaki bisa mandiri dan agak berlebih, biasanya pendaki rela berbagi makanan. Apalagi dengan sesame kawan camping. Akan ada waktu berbagi.
            Tanpa disadari, camp melahirkan persahabatan juga. Semua orang di dalam camp adalah kawan. Begitu diantara pendaki, semua pendaki sejatinya adalah kawan. Begitulah Alam bisa mendamaikan dan mengeratkan semua manusia yang menikmati Alam.
            Untuk pergi ke lokasi camping, diperlukan keterampilan yang agak dianggap sepele seperti membaca peta dan kompas, memasak, membangun camp, mencari lokasi camp dan lainnya. Kita bisa bertanya pada orang-orang yang berpengalaman camping. Kita bisa mempelajarinya pelan-pelan sambil camping tentunya.
Jika kita tahu bagaimana hidup di alam terbuka maka camping menjadi hal menyenangkan. Camping akan membuat seseorang pemuda untuk siap menghadapi banyak masalah di masa depan dengan sigap.

Bercermin pada Gie
Pemuda turunan Tionghoa ini bukan raja camping. Dia semacam resi (orang bijak) dalam hal camping di gunung. Menikmati alam adalah hal yang sering dia lakukan. Bersama teman dan kadang dengan pacarnya, jika ada. Gie, nama lengkapnya Soe Hok Gie, bukan penjelajah macam Sir Edmond Hillary.  Gie suka naik gunung. Dia naik bersama kawan-kawannya.
            Naik Gunung adalah salah satu contoh bersahabat dengan alam juga. Naik gunung membuat seseorang bisa mandiri, bertanggungjawab dan berjiwa sosial juga. Jangan heran jika beberapa komunitas menjadikan gunung sebagai tempat perploncoan. Dimana anggota komunitas baru belajar dan diajarkan bagaimana menghadapi hidup yang sebenarnya. Dan biasanya, para calon anggota itu akan dilantik sebagai anggota di puncak gunung.
            Selain tempat belajar, bagi Gie camping dan gunung adalah untuk mereka yang ingin damai. Bukan lari dari kenyataan. Tapi bagaimana mencari kekuatan dari alam yang Tuhan limpahkan di segala penjuru alam. Bersahabat dengan alam akan memberikan kekuatan pada kita. Gunung atau alam terbuka membuat Gie merasa nyaman dan bisa berisitirahat dari ketidaknyamanan Indonesia dimasa orde baru.
            Seperti  pemuda lain, Gie juga bisa berhura-hura seperti kawan-kawannya. Seperti pesta. Nikmati alam adalah sebuah kecintaan tersendiri. Dan cinta itu, bagi yang mau percaya katanya, akan bisa ditemukan ketika menikmati alam. Gie menemukannya.
            Alam memberi banyak hal pada kita. Kita bisa memperoleh pengetahuan seperti membaca buku. Alam mampu membuat sekumpulan manusia bahagia layaknya sebuah pesta tanpa akhir. Dan manusia akan menemukan suasana menyenangkan di alam terbuka layaknya orang jatuh cinta. Ya, alam itu ibarat buku, pesta dan cinta.

Sepanjang Jalan Sudirman

Sepanjang jalan Sudirman, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan Sudirman kau peluk diriku mesra

Jalan ini begitu lebar. Aspalnya hitam dan mulus. Nyaris tanpa lubang. Ditengah jalan ada pepohonan atau taman mungil. Di sisi kanan kirinya ada trotoar. Jalan ini pasti jalan ramai di sebuah kota.

Hampir setiap kota di Negeri ini punya jalan ini. Meski hanya beberapa kilometer saja. Jalan ini begitu ramai. Biasanya, beberapa kantor pemerintahan atau perusahaan besar ada di jalan ini. Pasar rakyat atau mall juga di jalan ini.

Jalan Protokol

Nyaris semua warga kota pasti pernah melintasinya. Entah untuk pergi ke kantor, pasar, sekolah atau yang lainnya. Jalan ini tak pernah sepi setiap harinya. Minggu pagi, meski lengang, ada saja yang melintas. Entah orang jogging atau pedagang keliling. Minggu pagi memang waktu yang tepat jalan-jalan pagi bersama yang tersayang atau binatang kesayangan.

Jalan ini, sedari dulu umumnya sudah jadi jalan penting. Dari zaman Ratu (Belanda) jadi penguasa Nusantara—nama Indonesia sebelum ada istilah Indonesia. Jalan ini sengaja dibuat lebar. Sebagai jalan penting, jalan ini sering dipakai parade. Di jaman kolonial dulu tiap 31 Agustus. Dan berubah jadi 17 Agustus setelah Republik Indonesia berkuasa.

Di tiap kota, di masa lalu nama jalan ini berbeda. Suka-suka siapa yang berkuasa. Di jaman kolonial dulu pakai nama Belanda pastinya. Entah nama raja atau ratu, atau nama tempat di Negeri Belanda sana.

Waktu Indonesia merdeka, nama jalan itu otomatis berubah juga. Tentu saja atas nama Nasionalisme. Nama jalan yang semula memakai nama asing diubah jadi nama-nama Indonesia. Begitulah era Sukarno.

Nama jalan besar itu bukan sekali dua kali berganti. Setelah Sukarno—salah seorang pendiri Negara Indonesia—ditumbangkan secara terselubung, nama-nama jalan berubah lagi. Nama-nama Jenderal pun banyak dipakai. Tak ada Jenderal, nama Kolonel, Letnan Kolonel, Mayor dan lainnya juga boleh dipakai. Jika perlu nama kopral pun dipakai juga.

Sukarno merubah nama jalan, itu perkara identitas. Demi sebuah negeri yang disebut Indonesia. Sementara itu, Suharto—dengan sok heroik—merubah nama jalan menjadi nama-nama serdadu. Suharto, tanpa sadar merusak Indonesia dengan membohongi rakyat dengan memperbanyak nama jalan dengan memakai nama serdadu. Seolah-olah jaman revolusi dulu yang berjuang dan menderita hanya serdadu TNI. Nyatanya banyak pejuang non tentara. Mereka ogah jadi tentara bahkan ketika mereka ditawari jadi tentara.

Jika Sukarno ubah nama jalan karena perkara identitas, maka Suharto ubah nama jalan karena perkara politis. Jelas sekali terasa. Nama jalan berbau militer. Dia ingin memperkuat pengaruh militer dalam semua lini kehidupan agar kekuasaannya terjaga. Tidak heran nama jalan protokol ini penting bagi penguasa.

Sebagai Dagangan Historis

Yani, Letnan Jenderal Ahmad Yani, sebenarnya rival terselubung Ahmad Yani. Yani adalah orang yang berbahaya bagi karir militer Suharto. Banyak orang yakin jika masih hidup, dan Sukarno meninggal, maka Yani adalah Presiden Indonesia. Tapi berhubung Yani tewas, maka Suharto naik.

Orde Baru ikut memuji Yani. Rivalitas tak perlu diingat. Sebagai korban penculikan pasuka G 30 S pimpinan Letkol Untung, nama Yani sangat menjual bagi kampanye anti-komunis yang dilancarkan Orde Baru. Jualan orde baru adalah antikomunisme. Semua orang komunis dihabisi hidup dan penghidupannya. Orang-orang yang tidak disukai, entah karena bersebrangan dengan Suharto atau pendukung setia Sukarno, tinggal dicap komunis saja. Selanjutnya, habislah mereka atau setidaknya masuk kerangkeng orde baru.

Nama Yani diabadikan agar semua orang memusuhi orang-orang kiri (termasuk komunis) dan Suharto punya banyak pengikut. Sehingga kekuasaan Suharto aman. Nama jenderal lain adalah D.I Panjaitan—yang tidak suka pada Suharto dengan menolak Suharto sebagai ketua senat di Seskoad karena kasus korupsi Suharto di Jawa Tengah. Beruntung juga Suharto akhirnya, seperti Yani juga, Panjaitan diculik pasukan Untung. Nama Panjaitan harum dan Suharto semakin merajalela.

Nama-nama Pahlawan revolusi adalah paling laris. Namun, seperti dalam hirarki militer, maka harus ada nama Jenderal yang harus disebut. Tentu saja ini bukan Jenderal sembarangan. Nama Sudirman pun diangkat sebagai nama jalan. Sudah pasti ini jalannya bagus. Jalan yang mulus dan lebar. Rasanya selalu nama jalan protocol di kota-kota di Indonesia.

Orde baru memang orde militer. Kebanyakan pemimpin dan juga nama-nama jalan adalah nama orang militer. Orde baru memang bau kacang ijo.

Jalan Kenangan

Jalan punya banyak peran dalam hidup manusia. Dimana banyak manusia melintas. Sejarah juga melintas disana.

Jalan Sudirman di Jakarta jelas penting. Gedung-gedung perkantoran mengapit di dua sisi. Untuk memperjelas nama jalan itu Jalan Jenderal Sudirman, maka sebuah patung Jenderal Sudirman dibangun disana.

Di kota lain pun hampir serupa, setidaknya jadi pusat keramaian. Jalan Jenderal Sudirman pun memang sohor. Tak ada Jalan Jenderal Sudirman pun, dia tetap kesohor dan jadi idola. Entah di kalangan orang Muhamadiyah, karena Sudirman guru di sekolah Muhamadiyah. Juga sebagian kalangan prajurit. Dalam sejarah perang, Sudirman adalah Jenderal yang memimpin perang dengan satu paru-paru.

Jalan menyimpan banyak memori. Ribuan kenangan banyak orang tersimpan disana. Mulai dari yang kecelakaan lalu-lintas, ditilang Polantas, kecopetan atau yang lainnya. Bagi yang kasmaran, pasti akan ingin melintasi jalan itu bersama pasangannya. Naik sepeda motor, sepeda, angkot, jalan kaki pun tak masalah asal gandengan. Ada yang masih sekedar khayalan atau sudah jadi kenyataan. Dan, jalan Sebagian warga kota biasanya punya kenangan tertentu disana. Semua kenangan itu juga tak lepas adanya fungsi jalan dalam tataran pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.

Jalan Sudirman pun tak lagi perkara identitas seperti Sukarno; perkara politis seperti Suharto, tapi juga perkara romantis bagi sebagian warga kota. Tinggal pelesetkan lirik sebuah lagu lawas: “sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra” menjadi “sepanjang jalan Sudirman, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan Sudirman kau peluk diriku mesra”

Sepanjang Jalan Sudirman menyimpan kenangan. Barangkali ini yang paling berkesan bagi banyak orang. Jalan bukan perkara identitas apalagi perkara politis, ini perkara romantisme dan pragmatisme juga. Jalan penuh kenangan.

Minggu, Februari 26, 2012

Berapa Jumlah korbannya?

Saya pun hanya bisa bilang, berdasar perkiraan saya, jumlah korban masih dalam angka ribuan bukan puluhan ribu.
 


Ada taksiran jumlah korban mencapai 40.000 jiwa. Menurut Edward Polinggomang, Sejawarawan Sulawesi Selatan, angka ini berasal dari Kahar Muzakkar—ketika Kahar berada di Jawa semasa revolusi Indonesia—yang begitu prihatin terhadap pembantaian orang-orang Indonesia di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, AD RI pernah melakukan penyelidikan jika jumlah korban yang terbunuh hanya 1700. Itu pun bukan memulu dilakukan tentara Belanda. Tapi juga milisi lokal pro Belanda. Saya pernah kutip ini dalam skripsi pertama saya yang gagal, Westerling Kudeta Yang Gagal.
Pemerintah Belanda mengaku hanya sekitar 3.000 sampai 5.000 orang saja korban pembantaian itu.  Westerling sendiri, sebagai mahluk yang paling bertanggung-jawab disana mengaku hanya membunuh 400 sampai 700 saja. Tentu saja, Westerling hanya melihat korban-korban yang dia lihat saja. Westerling seperti lupa, jika tentara Belanda lainnya juga tidak ingin kalah kejam. Ternyata, sebagian orang Belanda, juga sebagian tentara Belanda pun, juga ngeri dengan  aksi-aksi Westerling—yang diberi judul sebagai kampanye Pasifikasi itu. Meski disebut kampanye pasifikasi, orang-orang lebih merasa benar jika sebut itu pembantaian.
Berapapun jumlahnya, membunuh orang lain adalah salah. Seorang awan keturunan Bugis, yang dulu kuliah di Makassar, juga tidak yakin dengan jumlah korban mencapai 40.000 jiwa. Banyak orang di Makassar sendiri kurang yakin dengan angka itu. Bisa dipastikan, mereka sepakat jika pembantaian yang dilakukan Westerling mengerikan. Sebuah teror luar biasa diciptakan oleh tentara Belanda, baik KNIL atau KL.
Upaya Westerling cukup menebar terror juga. Pasca pembantaian yang berlangsung sejak Desember 1946 sampai akhir Februari itu, perlawanan gerilya di Sulawesi Selatan berkurang. Banyak gerilyawan mundur. Bukan untuk jadi pengecut tentuya. Tentu saja orang Bugis dan Makassar punya Sirri na Passe yang membuat mereka tidak punya alasan jadi pengecut.
Mengapa perlawanan mengendur? Kemanakah gerilyawan pro Republik ketika banyak orang tak berdosa dibantai? Tentu saja, posisi tentara Belanda jelas kuat. Gerilyawan lebih memilih bertahan di hutan atau gunung daripada masuk kampung dan orang kampung jadi korban tentara Belanda seperti ketika Westerling datang.
Yang terbunuh belum tentu orang yang membantu gerilyawan. Cara Westerling mencari gerilyawan atau orang-orang yang membantunya adalah dengan mengumpulkan semua penduduk di tanah lapang. Selanjutnya, Westerling akan menunjuk salah satu dari mereka dan memaksa orang itu menunjukan siapa gerilyawan maupun orang-orang yang biasa bantu gerilyawan. Tentu saja orang itu dibawah todongan senjata api. Biasanya, orang yang dipaksa dan merasa terancam itu, akan menunjuk sembarangan agar terbebas dari tekanan dan kematian oleh peluru tentara Belanda. Bukan tidak mungkin si orang yang disuruh menunjuk itu akan menunjuk orang yang tidak disukainya di kampung.
Begitulah pembantaian Westerling. Hasilnya, banyak janda, anak yatim dan orang tua yang ditinggal mati anaknya. Trauma itu pasti ada. Jika orang-orang itu menuntut pada Pemerintah Belanda itu hal yang wajar. Peristiwa Rawagede adalah contoh bagaimana pemerintah Belanda berusaha bertanggungjawab. Bahkan Duta Besar Belanda minta maaf atas peristiwa Rawagede itu di hadapan keluarga korban.
Yang mati takkan pernah kembali pastinya. Hanya saja etiket baik dari orang-orang Belanda tentu haruslah dihargai. Kita tidak mungkin hidup dalam kebencian dan dendam. Harus ada perbaikan atas perasaan (negative) yang tidak kita ingini itu.
Pernah suatu hari, Linawati Sudarto, seorang kontributorWeekender, bertanya pada saya, berapa jumlah korban sesungguhnya dari aksi pasukan Westerling di Sulawesi Selatan. Sulit menentukan angka pastinya. Apalagi banyak saksi-saksi yang sudah meninggal.
Saya langsung terbayang jumlah pasukan Westerling dan tentara-tentara Belanda di Sulawesi Selatan yang ada disana yang ikut membantai, jumlahnya mungkin haya 1000an saja menurut saya. Juga lama operasi yang dijalankan Westerling, hanya sekitar dua bulan. Kampung-kampung yang mereka kunjungi dan mereka bantai penduduknya, menyebar di penjuru Sulawesi Selatan. Lokasi operasi pasukan itu tentu berpinda-pindah.
Selama dua bulan itu, belum tentu tentara-tentara Belanda setiap hari melakukan pembantaian. Bila hari efektif membantai adalah 60 hari dan setiap harinya mereka hanya membunuh sekitar 100 orang, jumlah korban sekitar 6.000 orang lebih, perkiraan saya. Tetap saja ini bukan angka kecil.
Saya pun tidak tahu angka pastinya. Saya hanya bisa bilang, berdasar perkiraan saya, jumlah korban masih dalam angka ribuan bukan puluhan ribu. Begitulah jawaban saya.



Kamis, Februari 23, 2012

Kita Memang Orang Kampung

Kenapa harus malu dibilang Kampungan atau nDeso? Itu adalah fakta bagi banyak orang Indonesia.

KAMPUNGAN, jadi teringat album Slank, band papan atas Indonesia. Kampungan, memang jadi kata yag memalukan di beberapa kalangan. Karena identik dengan orang yang kurang beradab dan ketinggalan jaman. Entah siapa yang memulai itu? Dasar gila, memang kampung salah apa? Hingga kata kampungan begitu buruk?

Kitorang, sedari dulu dasarnya emang kampungan. Kenapa tidak, toch banyak dari kita yang tinggal di kampung-kampung. Itu fakta. Meski tinggal di rumah gedongan atau bangsal-bangsal, tetap saja masih ada mental kampung diantara kita.

Akar orang-orang di Nusantara (nama keren dari Indonesia) adalah desa (kata lain dari kampung). Begitulah. Karena kota sendiri adalah hal baru. Sepertinya, orang-orang India yang pernah punya Mahenjodaro-Harappa, adalah orang-orang yang mempengaruhi orang-orang di Nusantara untuk memiliki kota. Kitorang bisa lihat bagaimana kota kuno Majapahit di Trowulan. Tapi, rasanya jauh lebih banyak kampung di Indonesia ketimbang kota.

Jauh sebelum bangsa asing masuk ke Indonesia, orang-orang Indonesia sudah beradab. Lihat saja kampung-kampung di Flores atau Nias yang tidak terasa sama sekali pengaruh Hindu atau Budha.

Orang-orang di Nusantara sudah kenal kampung dari awal. Kampung adalah susunan masyarakat terpenting bagi orang-orang di Nusantara. Sedari awal, masyarakat di nusantara hanya kenal kampung. Setelah masa kehidupan berburu dan berpindah-pindah, mereka hidup menetap dan pelan-pelan kampung-kampung terbentuk di nusantara.

Orang kampung tidak butuh sistem kerajaan, seperti yang dibawa orang-orang India, sebenarnya. Orang kampung hanya perlu kepala kampung yang bijaksana. Yang mengerti kebutuhan mereka. Yang selalu melindungi semuanya. Kita semua tahu, raja kadang sering lalim. Cuma bisa menindas dengan perang, lalu pungut hasil panen, tak lupa ambil perempuan kampung untuk penuhi hasrat raja yang katanya suci.

Mereka sebenarnya bisa hidup damai sebelum orang asing datang. Karena tiap manusia pasti punya hasrat jadi raja. Agar bisa semena-mena atau setidaknya kaya dan dihormati. Sistem kerajaan, karena rawan permusuhan, rasanya tidak baik bagi orang-orang kampug rindu damai. Dalam sejarah, sering terjadi perang antar kerajaan, dengan alasannya ingin berjaya katanya. Belum lagi permusuhan dilingkungan keluarga raja sendiri sering bikin suasana tidak tentram. Dan orang kampung pasti jadi korban.

Kampung, atau biasa disebut desa, begitu penting sebenarnya. Kota-kota biasanya tidak bisa hidup tanpa adanya kampung-kampung. Bahkan di dalam kota-kota juga ada kampung-kampung yang membuat kota jadi hidup. Kota butuh kampung karena dari kampung dipinggiran kota yang punya lahan pertanian, orang kota bisa dapat pasokan makanan.

Tidak heran jika gerilyawan komunis menganggap kampung begitu penting. Karena makanan ada disana. Jika kampung dipegang, maka kemenangan atas serangan kaum komunis ke kota hanya menunggu waktu saja. Begitulah tentang, “desa mengepung kota.”

Jadi, banggalah jadi orang kampung. Toch kekuatan orang-orang di Indonesia adalah di desa. Desa adalah akar. Desa adalah rumah. Desa pastinya juga lumbung. Dimana kehidupan bisa berjalan karenanya. Kota hanyalah pusat segala administrasi dan pasar yang tidak akan hidup tanpa desa.

Pernah ada orang bilang, tidak ada kota besar di Indonesia, hanya ada desa besar. Mungkin terkait dengan perilaku orang Indonesia yang tidak bisa tertib. Orang kampung, pada dasarnya orang yang penyabar, namun budaya kota membuat orang-orang kampung kekota-kotaan dan jadi agresif.

Akhirnya kampung sebagai tempat yang nyaman pun hilang. Namun beberapa kampung seperti sebagaian kampung-kampung Badui seolah berusaha menjadi diri mereka sendiri. Bangga jadi orang kampung yang damai.

Jadi, kepada semua orang Indonesia, sadarilah kampung sebagai akar kita. Dari sana kita bisa hidup dan kota nyatanya hanya formalitas. Dan, soal Negara apapun bentuknya, hanya pelengkap yang kadang tidak perlu dan menyebalkan. Padahal dengan hidup di kampung saja, orang-orang nusantara pernah sentosa.

Banggalah jadi orang kampung.

Senin, Februari 20, 2012

Arti Memori

Sukarno bilang: Jangan Sekali-kali melupakan sejarah. Ternyata itu lebih dari sekedar seruan, tapi juga mampu menjaga identitas sebuah bangsa.

Apa jadinya jika sebuah bangsa tidak punya sebuah sebuah memori (ingatan)? Mungkin bangsa itu tidak bedanya dengan segerombolan ternak. Yang hanya mengerti makan dan bereproduksi.

Kenapa memori begitu penting? Dengan memori sekelompok orang akan sadar jika mereka adalah kelompok atau bangsa. Memori mampu membangun sebuah identitas kelompok atau bangsa. Identitas bisa membangun solidaritas dan rasa saling menjaga sebagai sebuah bangsa. Identitas juga memberi semangat bagi seseorang untuk berjuang.

Identitas, yang merupakan memori kolektif, juga bisa membangun karakter sebuah kelompok atau bangsa pastinya.

Sejarah adalah pelajaran melawan lupa. Tapi jika dipolitisir sejarah juga bisa membuat sebuah bangsa jadi amnesia (hilang ingatan). Itu sudah terjadi di banyak Negara. Di masa lalu, jika terjadi suksesi (pergantian) raja di Tiongkok, maka si penguasa baru yang mungkin berkuasa secara tidak sah, akan membakar semua buku sejarah yang terkait dengan raja sebelumnya. Raja baru itu akan membuat buku sejarah baru yang mendukung dirinya. Ingatan rakyat tentang raja sebelumnya pun hilang.

Tanpa sejarah, sebagai penjaga memori akan sebuah identitas, sebuah bangsa juga bisa hancur. Karena mereka tidak punya identitas yang menjaga persatuan mereka. Bersatu adalah penting bagi sebuah bangsa.

Bayangkan jika orang Indonesia tidak pernah tahu sumpah pemuda, dimana pemuda-pemuda Indonesia berikrar untuk berbangsa satu sebagai bangsa Indonesia. Mungkin orang-orang Batak akan dirikan Negara Batak,orang Jawa akan dirikan Negara Jawa. Orang Sulawesi dirikan Negara Sulawesi dan lainnya.

Jika pelajaran sejarah tidak dipelajari anak-anak muda, otomatis mereka tidak akan tahu siapa diri mereka. Maka sebuah generasi akan lupa. Mereka tidak lagi punya memori atau ingatan tentang bagaimana pendahulu mereka membangun dan menjaga sebuah bangsa. Akhrnya menjadi manusia yang tidak punya identitas dan karakter positif sebagai bangsa. Kedepannya bangsa itu akan terpecah atau mungkin hilang.

Itulah mengapa Sukarno berucap, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah.” Itu karena agar Bangsa Indonesia yang merdeka tidak hancur. Dan belajar sejarah yang obyektif dan tidak dipolitisir akhirnya menjadi sebuah kebutuhan. Kita bisa belajar sejarah di mana saja. Kadang dalam sejarah bangsa kita sering temukan prestasi hebat yang patut dibanggakan dan ditiru.

Penting juga kiranya para sejarawan untuk jujur. Jika sejarawan tidak jujur, maka akan timbul ketidakpercayaan generasi baru pada bangsanya, karena telah dibohongi. Dan ada cap bahwa bangsanya adalah bangsa pembohong. Itu hanya akan memburuk karakter bangsa di masa depan. Jadi lebih baik seorang menulis seadanya, agar generasi muda bisa membuat sejarah bangsanya jadi lebih baik lagi dengan belajar dari kesalahan dari masa lalu.

WebRepPredikat secara keseluruhan

Untuk Yang Berhak

Beasiswa, harusnya bisa menjadi sebuah penghargaan atas tindakan positif dan kerja keras, dan juga menjadi harapan atas masa depan yang lebih baik untuk semua.

Tersebutlah bocah dekil penuh kudis. Dia berumur 9 tahun. Ketika itu dia sedang bermain bersama teman-temannya di dekat alun-alun. Seorang Belanda, bernama Hazeu, lalu memberikan beberapa keping uang ke bocah dekil itu. Hazeu lalu geleng-geleng. Si bocah dekil itu kemudian membagi kawan-kawannya. Hazeu terkesima. Lalu si bocah dekil itu dijadikan anak angkatnya. Tentu saja bocah dekil itu di sekolahkan. Bocah dekil itu tak lain adalah Alimin.[1]

Hazeu adalah pejabat urusan pribumi Hindia. Dia adalah pejabat penting di HIndia Belanda. Alimin, yang berasal dari keluarga miskin itu kemudian di sekolahkan di sekolah elit bernama Europe Lager School—yang biasanya diperuntukan bagi anak-anak Eropa maupun pribumi kaya di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Alimin kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan kiri yang membuat Indonesia merdeka juga.[2] Alimin bukan satu-satunya anak Indonesia berasal dari keluarga miskin yang beruntung. Mungkin masih banyak contoh.

Hazeu mengambil Alimin sebagai anak karena bocah ini memiliki rasa berbagi yang sangat tinggi. Bagaimana mungkin bocah miskin, yang tidak punya uang anyak, masih mau berbagi uang. Alimin jelas luar biasa di masa bocahnya. Hazeu memilih orang yang tepat untuk di sekolahkan.

Bagi Yang Berminat

Tidak semua anak miskin berminat untuk sekolah. Pikiran mereka lebih banyak untuk berpikir bagaimana caranya bertahan hidup dan mencari uang. Penting kiranya untuk mencari hanya anak-anak yang berminat keras. Biasanya anak yang punya minat dia akan berusaha keras untuk mejadi lebih baik dan mengusai sebuah bidang.

Sudjojono, Bapak Ahli gambar Indonesia, juga berasal dari keluarga miskin. Namun, beruntungnya, sejak usia 4 tahun si bocah sudah djadikan anak angkat oleh seorang guru. Hingga bisa bersekolah dan menjadi ahli gambar atau pelukis terkemuka Indonesia. Sedari kecil, Sudjojono memang pintar hingga diangkat anak oleh Yudhokusumo—sang guru yang baik hati itu.

Sangat sulit untuk bisa mencari anak yang berminat sekolah seperti yang dilakukan Hazeu. Sekolah mungkin tidak terpikir Alimin awalnya. Begitu juga Yudhokusumo mengangkat Sudjojono sebagai anak. Baik Alimin atau Sudjojono, jelas keduanya memiliki sisi menonjol, walau belum menghasilkan prestasi.

Di masa kini, beasiswa biasanya diberikan kepada anak-anak yang diketahui cerdas meski belum memiliki prestasi. Penting juga untuk mengetahui minat seorang bocah yang tidak mampu bersekolah. Biasanya, seorang bocah memiliki cita-cita tinggi. Sedikit diantaranya obsesif. Hingga mereka tampak keras berusaha mengejar cita-cita atau mimpi mereka.

Penghargaan dan Harapan

Selain minat belajar, perlu kiranya dilihat latar belakang atau tindakan positif si anak dari keluarga miskin. Seperti yang pernah dilakukan Alimin. Membagi uang, seperti dilakukan Alimin yang sama miskinnya, pada anak miskin lainnya jelas hal luar biasa.

Banyak juga anak-anak miskin dengan pemikiran maju, meski hidup mereka dalam kesulitan. Mereka biasanya punya mimpi. Mulai dari ingin punya taman bacaan dan lain sebagainya. Diantara anak-anak itu juga, pasti ada yang berjiwa pemimpin. Anak berjiwa pemimpin biasanya memiliki semangat tinggi untuk terus belajar dan bertindak.

Rasanya penting juga bagi pihak pencari anak-anak penerima beasiswa dari keluarga miskin, untuk melihat hal positif yang pernah dilakukan si anak. Setidaknya sebagai penghargaan tas solidaritasnya. Dan harapan kedepannya, dengan ilmu dan kesuksesan yang dimiliki di masa depan, maka dia bisa menolong orang miskin yang lainnya.

Banyak bocah-bocah miskin di masa-lalu. Banyak diantara mereka yang tidak mampu bersekolah. Tidak heran jika seorang bernama RM Suryopranoto, kakak dari KI Hajar Dewantara mendirikan Hollands Inlandsche School Adhi Dharma di Yogyakarta. Sebuah sekolah untuk anak-anak miskin.[3] Tentu saja itu hanya bisa dinikmati oleh anak-anak di sekitar Yogyakarta saja.

Setidaknya, sedikit anak itu bisa menjadi pemimpin di kampungnya. Dimana akan ada harapan kampong akan bisa lebih maju dan tercerdaskan pelan-pelan.

Note:

[1] Tempo, 8 November 2010.

[2] Parakirti Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta, Kompas, 2003, hlm. 619.

[3] Bambang Sukawati, Raja Mogok Suryopraoto: Sebuah Buku Kenangan, Jakarta, Hasta Mitra, 1983, hlm. 72-74.

Jumat, Februari 10, 2012

Belajar dari (Pelaku) Sejarah

Mudah membagikannya, tapi butuh waktu lama meresapi dan memiliki karakter positif untuk menjadi Meanusia Indonesia Berkarakter.
Kita selalu dingiangkan soal pendidikan pendidikan karakter. Ada banyak definisi pendidikan karakter, namun intinya pendidikan karakter adalah penanaman nilai-nilai dan sikap-sikap positif agar menjadi manusia yang baik dan berkarakter. Pendidikan Karakter memang bukan hal mudah. Butuh proses panjang yang tidak sebentar. Meski bukan hal mudah, bukan berarti proyek mulia ini butuh suntikan dana besar. Hanya butuh renungan dari apa yang sudah ada atau apa yang sudah terjadi. Lalu membagikannya pada siswa. Tampak begitu mudah membagikannya. Yang tersulit dari proses pendidikan karakter dalam pelajajaran sejarah
Beberapa karakter penting yang harus dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Dimana karakter-kareakter ini bisa ditemukan oleh tokoh-tokoh terbaik bangsa Indonesia, yang diantaranya adalah pendiri Negara.
Dibutuhkan banyak sikap Positif jika Indonesia ingin terus ada dan maju, apalagi untuk Indonesia yang jaya di masa depan. Dimana semua karakter ini harus ditanamkan sejak dini pada generasi baru Indonesia dalam pendidikan karakter yang melibatkan semua pihak. Pendidikan karakter tentu akan melibatkan banyak pihak. Mulai dari sekolah, pemerintah, media dan juga masyarakat.
Guru di sekolah jelas sekali punya pengaruh besar dalam pendidikan karakter. Seorang guru biasanya punya tokoh favorit, dimana tokoh itu punya banyak karakter positif yang membuat si tokoh dikenal banyak tokoh. Siapapun tokohnya, bisa kita ambil sebagai pelajaran. Bahkan orang semacam Adolf Hitler yang jahat sekali pun. Tentu saja, kita hanya tarik sikap positifnya saja. Terlepas dari kekejamannya pada orang-orang Yahudi, Hitler adalah orang yang pantang menyerah, punya prinsip dan selalu mencari ide-ide jenius. Ini yang membuat Jerman maju di masa Perang Dunia II (1939-1940).
Kita bisa mengambil Para Nabi sebagai manusia mulia yang layak diteladani. Kita tahu manusia mulia seperti nabi jelas punya karakter mulia juga pastinya. Agama-agama ajarkan kemuliaan pada umatnya.
Indonesia juga punya banyak tokoh hebat. Kita semua tahu Sukarno. Pembebas Indonesia dari penjajahan dan bukan hanya pemimpin Indonesia saja sebenarnya, tapi juga pemimpin dunia. Dari buku sejarah, kita bisa lihat Sukarno sebagai orang yang berani, mandiri dan cinta pada kemerdekaan. Itu yang bisa kita petik.
Karena pelaku sejarah juga manusia, maka kita akan temukan sifat negatif dari si tokoh. Itu sangatlah manusiawi. Yang positif jelas bisa kita petik, yang negatif juga bisa dipelajari dan diusahakan agar tidak terulang lagi. Itulah inti dari belajar sejarah. Sangat rugi belajar sejarah di sekolah jika tidak bisa memetik karakter positif dari pelaku-pelaku sejarah.
Ada ribuan buku biografi di perpustakaan. Dimana dengan membacanya kita bisa menarik karakter pelaku sejarah. Jika bosan membaca kita bisa menonton film atau film dokumenter tentang biografi tokoh-tokoh. Metro TV setiap minggunnya punya program acara Biography yang membicarakan tokoh-tokoh peting dunia.
Harus diakui, suka tidak suka bangsa (Indonesia) ini adalah bangsa berkarakter. Semua hanya kembali bagaimana arah bangsa ini saja.

Selasa, Februari 07, 2012

Jangan Lupakan Letnan Gozsen

Banyak sudah yang hilang dari laut Indonesia. Jadi, di laut, Indonesia harus jaya. 


Kenapa dengan mudah nusantara dikuasai oleh kompeni Belanda? Orang-orang Indonesia hanya percaya, itu hanya karena politik Devide et Impera—alias politik belah bambu. Bukan politik belah duren pastinya. Sebuah kepercayaan yang membutakan orang Indonesia, seolah orang Indonesia sebelumnya tidak terpecah belah atau hidup tentram satu dengan yang lain. Orang Indonesia tidak mau belajar dari kasus pemberontakan Kuti, yang difitnah Mahapati Gajah Mada. Inilah Indonesia yang sedari dulu doyan sikut-sikutan.
Sebagai bangsa yang pelupa dan durhaka pada kodratnya, dijajah Verenigng Oost-Indische Compagnie (Maskapai dagang Hindia Timur) alias kompeni Belanda adalah sebuah hukuman yang layak diterima. Jika di abad XV orang Indonesia paham jika Indonesia adalah bangsa Maritim, maka kapal-kapal dan orang-orang Kompeni Belanda tidak akan bisa kuasai Indonesia. Orang Indonesia lupa jika nenek moyang mereka seorang pelaut dan akhirnya laut yang dulu menjadi kejayaan nenek moyang mereka kemudian dikuasai bangsa asing.
Lemahnya laut Indonesialah yang membuat Indonesia dengan mudahnya dijajah Kompeni Belanda. Itulah yang harus dijaga Indonesia sekarang. Jangan sampai laut menjadi milik kekuatan asing.
Hindia Belanda Memang Lupa, Tapi Masih Usaha
Melupakan laut, lalu dilakukan oleh Hindia Belanda. Mereka lebih suka membangung Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (Tentara Hindia Belanda) alias KNIL. Laut terlupakan. Karenanya dengan mudah Tentara Jepang masuk ke Indonesia. Dan dengan mudah KNIL dikalahkan oleh balatentara Jepang.
Meski melemah, Hindia Belanda juga masih ada usaha menjaga kawasan laut Hindia Belanda. Meski hasilnya masih buruk pada Perang Pasifik. Setidaknya di awal abad XX, pemerintah berencana membangun Armada Laut yang baik dan tangguh.
Tersebutlah seorang Letnan Laut bernama Goozsen, yang kemudian menjadi perwira tinggi armada laut Belanda di Indonesia juga. Tentang dia Pewarta Makassar mennyebut bahwa Letnan Goozsen, perwira Angkatan Laut Hindia Belanda yang tinggal di Bogor, mendapat perintah agar membantu petinggi militer Hindia untuk mendirikan sekolah pelaut di Hindia Belanda yang akan dibangun di Padang dan Makassar.
Rencananya, Orang-orang pribumi yang lulus dari sekolah pelaut itu akan ditempatkan di kapal perang yang menjaga perairan Hindia Belanda—yang sekarang menajdi perairan Indonesia. Tujuan dari perekrutan orang-orang prinbumi tidak lain untuk mengurangi ketergantungan dari pelaut yang diambil dari negeri Belanda. Wilayah koloni Hindia Belada yang demikian besar--dimana lautannya lebih luas dibandingkan daratannya, maka armada laut yang menjaga lautan sangatlah penting sekali. (Pewarta Makassar, 20 Februari 1914)
Bukan hanya mendirikan sekolah, kapal perang juga didatangkan dari negeri Belanda.
Dua kapal torpedo, Wolf dan Linx, yang datang dari Surabaya tiba di perairan Makassar. Kapal-kapal itu tiba sekitar pukul 09.00 pagi. Kapal-kapal tersebut diawaki 80 orang pelaut--yang terdiri dari pelaut Jawa dan Belanda. Kapal-kapal itu, menurut rencana akan menjadi bagian dari pendidikan para pelaut pribumi--pemerintah kolonial baru saja merencanakan pendirian sekolah pelaut disana. (Pewarta Makassar, 21 Februari 1914)
Pemerintah kolonial, sebenarnya tidak begitu peduli dengan masalah pertahanan laut karena doktrin militernya lebih memperhatikan pertahanan darat. Tidak heran bila kekuatan darat Hindia Belanda lebih besar, namun hanya ditujukan untuk permasalahan domestik--seperti menumpas para pemberontak--dan tidak sekalipun memperhatikan ancaman yang datang dari luar.
Melawan Pemerintah Yang Latah
Sekarang, setelah hampir 98 tahun setelah perintah kepada Goozsen, pemerintah meski sudah banyak menghasilkan para pelaut Indonesia, tetap saja belum bisa menjaga lautan Indonesia. Kekayaan laut Indonesia jelas harus dijaga. Sudah banyak kekayaan laut yang dicuri. Menjaga laut pun jadi keharusan yang tidak bisa ditawar lagi jika ingin kekayaan laut tidak hilang.
Pemerintah Indonesia tampaknya latah. Seperti berhasrat mengulangi kesalahan bangsa Indonesia ratusan tahun silam. Jika ratusan tahun silam pelan-pelan Indonesia dijajah, maka sekarang pelan-pelan dan pasti banyak kekayaan laut Indonesia hilang.
Banyak hal yang dibutuhkan untuk menjaga laut. Personil dan peralatan yang memadai tentunya, juga beberapa hal lain yang mendukung. Indonesia butuh alat yang memadai untuk menjaga lautnya. Soal perrsonil, ribuan pemuda Indonesia siap dilatih untuk menjadi pelaut atau penjaga pantai yang siap bertugas di segala perairan Indonesia.
Sambil mengingat  Goozsen, rasanya penting sekarang bagi Indonesia untuk memiliki para Penjaga Pantai (Coast Guard) untuk menjaga semua area perairan Indonesia. Ini sudah jadi keharusan. Jika di darat pernah ada Hansip (Pertahanan Sipil) mengapa di laut tidak diadakan semacam itu.
Buat apa menyia-nyiakan semangat pemuda Indonesia yang menggebu-gebu untuk menjaga Indonesia? Jika disia-siakan mereka bisa menjadi masalah besar dari bangsa ini, solusi untuk mereka tak lain adalah diberdayakan dengan tepat.
Indonesia harus mengingat bagaimana usaha pemerintah kolonial yan beri perintah pada Goozsen untuk membuat sekolah pelaut 98 tahun silam.

Sulawesi Selatan Dalam Sejarah


Yang saya dapati sejarah Sulawesi Selatan, cukup menarik dikaji. Sulawesi Selatan dalah daerah termaju di Indonesia Timur.


Sebelumnya saya mengenal Sulawesi Selatan hanya dari buku atau hanya dari cerita kawan-kawan saya ketika kecil. Suatu kali Indonesia Boekoe, tempat saya pernah bekerja memberi tugas pada saya untuk menulis salah satu tokoh wanita dari Sulawesi Selatan, We Tenriolle. Tokoh ini sangat asing sekali dalam sejarah Indonesia.

Bukan Sekedar Sejarah Kekerasan
Sejarah Sulawesi selatan cukup disoroti dalam sejarah Indonesia. Sayangnya, dalam Sejarah Nasional Indonesia yang disusun Nugroho Notosusanto, kebanyakan hanya berupa kekerasan saja. Dimana ditemukan tentang perang Sultan Hasanudin melawan VOC. Juga memposisikan Arung Palaka pengkhianat karena bersekutu dengan VOC melawan Sultan Hasanudin. Lalu ada cerita heroik Walter Monginsidi dan selanjutnya ada pemberontakan Kahar Muzakar yang dituduh antek DI/TII, padahal pemberontakan terjadi karena pemerintah tidak bisa bertrima-kasih kepada bekas pejuang kemerdekaan yang kemudian ikut berontak dengan Kahar Muzakar.
Sayangnya, Sejarah intelektulitas masyarakat Sulawesi Selatan tidak diangkat. Padahal orang-orang Sulawesi Selatan punya cendikiawan sekelas Karaeng Patinggalong, Syech Yusuf dan lain-lainnya. Bicara soal hukum dan lautan, orang Bugis-Makassar memiliki Amanna Gappa. Sejarah Nasional Indonesia, yang enam jilid dan belum lama cetak ulang itu, kebanyakan berbicara Jawa jauh lebih banyak daripada yang lainnya.
Pergerakan nasional, sebagai titik penting Sejarah Nasional Indonesia, dianggap banyak sejarawan sebagai masa berakhirnya perlawanan fisik rakyat Indonesia yang menentang Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dengan kata lain, masa pergerakan, sesudah 1908, adalah waktunya berjuang dengan otak dan otot tidak lagi dipakai. Berarti beberapa tokoh yang melakukan perlawanan seperti Kiai Hasan di Cimereme dan tokoh lain ditempat yang lain tidak lebih daripada perusuh saja. Mereka tentu tidak akan menjadi pahlawan nasional karena dianggap perusuh.
Perjuangan tanpa kekerasan, atau yang dianggap perjuangan gaya modern, yang pakai otak, sebenarnya dimulai sebelum 1908. Sebelum meninggalnya ditahun 1904, Kartini sudah berusaha mencerdaskan kaum putri.
Sejarah Sulawesi Selatan sendiri, tidaklah hanya diisi dengan sejarah kekerasan yang memakan nyawa saja. Tradisi intelektual sebenarnya sudah dimulai juga menjelang abad XX. Dimana beberapa orang tua dari kalangan berada memasukan anak-anaknya ke sekolah modern, dan jauh sebelumnya lagi mengirim anaknya ke pesantren.
Meski orang tua terkesan opurtunis, dengan anaknya belajar di sekolah modern, maka si anak akan mengerti perkembangan dunia dan juga bisa mengenali musuh-musuhnya. Jangan heran jika keluarga bangsawan Jawa, juga Bugis, mengirim anakanya ke sekolah modern.
Meski di Makassar pada zaman kolonial, hanya ada sekolah menengah. Yakni hanya sekelas Meer Uitgebrid Lager Onderwijs (MULO; setara SMP) saja, tidak ada Algemene Midelsbare School (AMS; setara SMA) maupun Hogare Burger School (HBS; sekolah menengah 5 tahun yang lulusannya setara lulusan SMA). Jika ingin sekolah lebih tinggi maka pemuda sulawesi selatan harus pergi ke pulau Jawa—dimana akses pendidikannya paling maju di zaman kolonial.
Tradisi sekolah di Sulawesi Selatan, sebenarnya tidak hanya dilakukan pemerintah kolonial pada kalangan terbatas. Banyak juga tokoh pribumi yang membuka sekolah. We Tenriolle adalah salah satunya di Sulawesi Selatan. Raja wanita dari Tanette ini pernah mendirikan sebuah sekolah. Dimana sebagian muridnya adalah wanita. Dengan sekolah ini, modernisasi di Sulawesi Selatan bisa berjalan meski palan. Karena terbatasnya akses sekolah.
Sebenarnya, sejak dulu, dari apa yang saya baca tentang Sulawesi Selatan, Sulawesi Selatan memiliki produk intelektual yang hebat. Mulai dari Sureq La Galigo sampai etika kelautan Amanna Gappa. Tradisi menulis juga dilakukan dalam lontara’ dengan huruf Bugis yang bentuknya berbeda dengan huruf Jawa.
Bicara soal La Galigo, untuk sementara saya menilai, cerita ini asli dan tidak mengadaptasi dari cerita lain dari luar. Berbeda dengan beberapa karya Jawa seperti Arjunawiwaha yang lebih banyak dipengaruhi oleh cerita Ramayana maupun Baratayudha. Menurut saya La Galigo jelas asli Sulawesi Selatan. Tentunya orang Sulawesi Selatan harus bangga pada La Galigo.
Dari budaya pemkiran yang ada tadi, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa Sulawesi Selatan punya kebudayaan intelektual. Sayangnya, banyak pemberitaan di media mengidentikan daerah ini dengan kekerasan saja. Begitu juga dalam sejarah Indonesia, dimana sejarah Sulawesi Selatan lebih banyak hanya menonjolkan perang dan kekerasan tanpa mengangkat sejarah intelektualnya. Tidak mengangkat sastra dan produk hukum lautnya.

Yang Termaginalisasi
Kota Makassar sudah menjadi pusat politik sejak lama. Ketika Revolusi Indonesia terjadi, Makassar juga masih menjadi kota penting. Makassar juga menjadi pusat sebuah Negara Boneka buatan Van Mook, selaku kolonialis sejati yang berusaha menegakan kembali Hindia Belanda di tanah yang sudah menyatakan diri Indonesia.
Negara Indonesia Timur buatan van Mook itu dicap oleh sejarah Indonesia sebagai kelompok pendukung politik kembalinya kolonialisme di nusantara. Dengan kata lain, orang-orang NIT banyak dicap sebagai antek-antek Belanda.
Dengan politik Devide et Impera gaya barunya Van Mook tampak ingin memecah belah Indonesia. Dengan BFO yang kemudian berdiri dan diketuai oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, semua Negara buatan Van Mook bersatu. Sebagai pihak ketiga, selain Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia, dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Dan setelah tentara Belanda ditarik, maka kaum federalis yang dulu pernah dalam BFO dan lain sebagainya adalah pihak yang paling disalahkan dalam sejarah.
Ada tidaknya BFO dan Negara-negara bagian buatan Van Mook itu, tetap saja Indonesia merdeka dan akan memperoleh wilayah nusantara sebagai wilayah kekuasaan, seperti wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena situasi dunia pasca Perang Dunia II, nyatanya lebih mendukung Indonesia ketimbang Belanda. Negara-negara boneka itu juga didirikan pasca perundingan yang mempersempit wilayah RI.
Negara-negara bagian itu sempat bersatu dengan RI dalam kerangka Republik Indonesia Serikat (RIS). Namun Negara federal itu tidak bertahan lama ditahun 1950. beberapa kerusuhan seperti Peristiwa Westerling di Bandung dan Jakarta, dan juga Peristiwa Andi Aziz di Makassar, maka antipati terhadap Negara federal pun tumbuh dan RIS kemudian bubar. Negara federal lalu disalhakan dan siapapun yang mendukungnya berarti menolak Negara kesatuan dan harus berhadapan dengan TNI. Sistem federal lalu disamakan dengan disintegrasi dan pengkhianatan.
Dalam sejarah Indonesia, Peristiwa Andi Azis dianggap sebagai contoh sejarah atas buruknya sistem federal. Dimana kaum federalis itu dianggap menolak Republik Indonesia di Makassar, meski sebanarnya mereka cukup mengakui pemerintahan RI di Makassar, namun kebijakan RI atas NIT terkesan tidak menghargai bekas kaum federalis. Kota Makassar adalah saksi dikambinghitamkannya sistem federal. Karenanya pasca reformasi 1998, otonomi daerah menjadi jembatan anatara sistem federal dengan Negara kesatuan.
Masalah federalisme pun bisa teratasi namun pengkambinghitaman terhadap kaum pendukung federalisme di Indonesia terus berlangsung. Tidak banyak yang menyadari, bahwa kaum federalis disamakan dengan menolak NKRI dan dianggap pengkhianat.
Kaum federalis bukan satu-satunya yang termarginalisasi. Tokoh penting Sulawesi Selatan yang temarginalisasi dlam sejarah adalah Arung Palaka. Dirinya dianggap berkhianat kepada Indonesia, entah Indonesia yang mana? Ini karena persekutuannya dengan VOC melawan Sultan Hasanudian, Raja Gowa yang dizamannya telah menjajah Bone—tanah kelahiran Arung Palaka.
Sejarah Nasional umumnya sulit berkata jujur, dan hanya mengambil sisi praktis semata untuk pemerintah yang hanya ingin kestabilan dan menghindari keadilan sejarah. Dan soal gelar pahlawan yang diberikat Negara pada seorang tokoh, juga predikat pengkhianat pada yang tidak sejalan jelas adalah hal yang sangat politis. Meski Negara bisa stabil oleh politisasi sejarahnya yang tidak jujur dan tidak adil, namun kebohongan akan tercium dan akan bisa merusak citra Negara tersebut, khususnya di kalangan intelektualnya.

Penulisan Sejarah Sulawesi Selatan
Tidak ada yang mengalahkan kebenaran sejarah nasional yang disusun pemerintah. Apalagi untuk Negara macam Indonesia. Wacana buku Sejarah Nasional Indonesia, dijadikan sesuatu yang dibenarkan. Tentunya wacana-wacana itu dimasukan dalam pelajaran sejarah sekolah dari SD hingga SMA.
Jika wacana sejarah ala pemerintah tadi memuat ketidak-adilan sejarah, maka penulisan sejarah alternatif harus dilakukan. Sangat penting menulis sejarah dari sudut pandang berbeda, jika ada sebuah wacana yang secara politis memelintir sebuah fakta sejarah dan berpihak pada sebuah golongan khususnya golongan penguasa. Karenanya penulisan sejarah haruslah beragam dari sudut pandang yang berbeda, yang tentunya berusaha berpihak pada kemanusiaan saja.
Penulisan sejarah ini tentu saja tidak bermaksud membuat masyarakat bingung untuk mengikuti yang mana. Sebenarnya, justru masyarakatlah yang seharusnya menjadi juri yang menilai kebenaran sejarahnya. Selama ini, pemerintah yang begitu dominan dalam menentukan mana wacana sejarah yang dibenarkan dan harus dianut oleh masyarakat. Hingga pembodohan sejarah pun menjadi penyakit akut masyarakat Indonesia. Penting sekali untuk menjadikan masyarakat Indonesia sebagai juri pengadilan sejarah Indonesia yang berhak menilai kebenaran sejarah. Sementara itu tugas sejarawan, yang selama ini dianggap sebagai sumber kebenaran, sebenarnya hanyalah menafsirkan fakta-fakta sejarah yang ada. Sejarawan tidak berhak menjadi orang yang merasa diri dan karyanya paling benar.
Soal penulisan sejarah Sulawesi Selatan, saya melihat ada dua macam penulis. Pertama penulis atau peneliti asing. Mereka bisa berlatarbelakang Sejarah maupun ilmu-ilmu social lain. Jumlah saya pikir cukup banyak. Sebut saja Leonard Andaya, Christian Pelras dan lainnya. Tentunya mereka-mereka ini bukan berdarah Sulawesi Selatan, malainkan dari luar Sulawesi Selatan. Mereka adalah peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya masaing-masing dan telah memiliki karya ilmiah penting tentang Sulawesi Selatan.
Kedua, penulis asli Sulawesi Selatan. Mereka tentunya berdarah Sulawesi Selatan, bahkan masih berdomisili di Sulawesi Selatan. Mereka bisa berasal dari etnis Bugis maupun Makassar biasanya. Diantaranya adalah Haji Daeng Mangemba, Ahmad Ubbe dan lain-lain. Sebagian dari mereka adalah akademis yang berpengalaman dalam penelitian. Sebagian lagi, meski bisa jadi tidak memiliki pendidikan tinggi formal, namun mereka adalah orang yang mengerti dan peduli pada sejarah lokal Sulawesi Selatan. Mereka memiliki ikatan emosi yang cukup kuat dengan daerahnya.
Dari beberapa buku tentang Sulawesi Selatan yang saya baca, tulisan-tulisan tentang Sulawesi Selatan sudah cukup banyak. Baik yang ditulis oleh peneliti asing maupun pemerhati lokal yang berdarah asli Sulawesi Selatan. Meski saya lihat cukup banyak ditengah payahnya tradisi menulis di Indonesia, namun beberapa pihak menyatakan kurang. Sebuah hal yang wajar. Tradisi menulis sejarah di Indonesia, yang saya lihat paling menonjol adalah deerah Jawa secara umum, lalu disusul Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan. Di Sumatra Barat, penulisan sejarah kota lebih menonjol. Sementara itu di Sulawesi Selatan adalah sejarah tokoh.
Penulisan sejarah tentang Sulawesi Selatan juga cukup terbantu dengan adanya buku biografi maupun autobiografi tokoh yang berasal Sulawesi Selatan seperti Jenderal M. Yusuf, Bahar Mattalioe, Arung Palaka (yang ditulis Leonard Andaya), dan tokoh-tokoh lain. Keberadaan biografi maupun autobiografi tokoh Sulawesi Selatan yang ada itu tentu sangat membantu penelitian maupun penulisan sejarah di masa mendatang.
Sementara itu beberapa penulis asli Sulawesi Selatan, meski tulisannya terkesan sebuah penelitian ringan, yang tentunya bukan berupa tesis maupun disertasi, tetap saja karya-karya tersebut penting dalam memperkaya khasanah penulisan dan tentunya pengetahuan tentang daerah Sulawesi Selatan apapun judulnya.
Semua penulisan sejarah tadi sangat penting dalam mendokumentasikan pentingnya Sulawesi Selatan dalam sejarah. Khususnya bagi Indonesia bagian timur. Apalagi sejarah kejayaan etnis-etnis di Sulawesi Selatan yang memiliki karya besar dan pengaruh politiik yang cukup besar juga di nusantara.

Jenderal dan Wanitanya

Sebagai manusia, jenderal juga bisa tergoda. Pada apa lagi kalau bukan pada harta, tahta dan wanita.

Manusia tak ada puasnya, begitu kata banyak orang. Kebutuhannya selalu tak terbatas. Kebutuhan itu pun tak pernah ada habisnya. Hidup juga menyajikan banyak godaan yang membuat kebutuhan manusia jad semakin banyak dan rumit. Mengikuti godaan berarti menjadikan hidup menjadi lebih rumit.


Jenderal Yani
Tersebutlah Yani. Alias Letnan Jenderal Ahmad Yani, Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ribuan tentara ada dalam komandonya. Dia memulai karir militernya sebagai Sersan topografi KNIL, lalu perwira PETA dan pelan-pelan jadi perwira tinggi TNI. Yani tergolong orang Indonesia beruntung karena bisa sekolah sampai Algemene Middelbare School (SMA di zaman Hindia Belanda). Yani menguasai beberapa bahasa asing.

Letnan Jenderal Ahmad Yani
        
  Dengan segala kecerdasan Yani menjadi perwira andalan di Divisi Diponegoro awalnya. Lalu ditarik ke Jakarta dan kuliah di Sekolah staf dan komando AD AS, di Fort Benning, AS. Karir Yani melesat setelah operasi penumpasan PRRI/Permesta di Sumatra.[1]
Semula, Yani adalah seorang yang lurus. Dia semula menolak poligami. Dia sayang pada istrinya, yang dipacari sejak zaman Jepang. Dimana Yani rela bersepeda dari Magelang ke Purworejo dengan jalan penuh tanjakan. Cinta Yani yang begitu besar tanjakan itu pun dilampui juga oleh Yani.
Hingga orang-orang tahu soal poligami yang dilakukan Yani. Banyak pejabat-pejabat di sekitar Sukarno dan istana Negara melakukan itu. Yani nampaknya terjebak Jakartanisasi yang membuatnya punya wanita lain. Poligami adalah isu yang nyaris tidak pernah didengar ditubuh militer.  Tidak banyak mengetahui hal ini karena tertutup dengan posisi Yani sebagai pahlawan nasional.
Poligami Yani, yang tentunya diam-diam itu, sungguh ironis. Karena sebelumnya Yani sempat melarang para prajurit AD melakukan poligami, namun Yani yang mengeluarkan larngan itu malah berpoligami.[2]
Istri kedua Yani, Khadjah, setelah Yani meninggal dalam sebuah tragedi bernama G 30 S, kemudian dinikahi oleh Letkol Herman Sarens Sudiro. Yang kemudian menjadi jenderal kaya penggemar motor gede, Harley Davidson.[3]  Herman dikenal pernah menikahi artis ibukota yang tidak begitu popular dan terlibat kasus korupsi dan peggelapan tanah negara.

Jenderal Sarwo

 
Kolonel Sarwo Edhi Wibowo

Ada lagi jenderal lain. Dia juga dituduh punya simpanan.  Tersebutlah Sarwo Edhi Wibowo. Sarwo, masih sekampung dengan Yani. Mereka tampak seperti saudara.  Ketika masih sama-sama di PETA mereka sudah saling kenal. Sarwo adalah perwira dengan karakter keras. Mereka cukup dekat meski pernah berkonflik. Suatu kali karena suatu perkara, pangkat Sarwo yang semula kapten diturunkan menjadi Letnan Satu. Hal itu membuat Sarwo sakit hati meski tak ada dendam pada Yani.
Ketika Yani menjadi Jenderal, Sarwo masih Kolonel. Pengalaman Sarwo Edhi di militer jelas tidak diragukan. Tidak heran jika dia kemudian dijadikan Komandan RPKAD (Kopassus) sekarang. Meski banyak yang meragukannya karena bukan berlatar belakang pedidikan komando. Karenanya, Sarwo ikut pelatihan singkat komando. Ketika menjabat komandan RPKAD, Sarwo pun bisa membuktikan ketangguhannya sebagai komandan operasi pasca G 30 S—yang menewaskan beberapa perwira tinggi AD. Dimana Sarwo memimpin operasi penumpasan pengikut PKI di Jawa. Dimana dia jadi berjarak dengan istrinya.
Di Jogja, Sri Wulan baru saja kehilangan suaminya kolonel Katamso Darmokusumo. Sarwo datang ke Jogja bak pahlawan perang tentunya. Betapa tidak, Sarwo ikut menghabisi orang-orang, yang barangkali di mata Sri Wulan adalah orang-orang yang membuatnya jadi janda.  Banyak perwira datang ke rumah sang janda agar kuat setelah ditinggal. Tak ketinggalan Sarwo juga datang. Pertemuan itu berulang.
Di kalangan para jenderal AD pasca G 30 S, Sri Wulan adalah sosok yang mempesona. “Istri Katamso cantik dan seksi sekali,”kata seorang jenderal. Sarwo, sosok yang gagah dimata wanita, itu pun bisa jatuh hati pada Sri Wulan. Ini godaan besar bagi Sarwo tentunya. Sarwo punya istri yang jelas setia dan juga anak-anak. Sarwo tentu bukan tipikal orang suka menyakiti wanita.
Sebagai wanita yang baru tinggalkan suaminya, dalam sebuah kematian yang tragis, Sarwo tentu iba. Bukan tidak mungkin itu menimbulkan rasa kasih Sarwo pada Wulan. Sarwo jadi rajin berkunjung ke rumah Wulan selama operasi di Jawa Tengah. Hingga secara alami mereka menjalin hubungan yang cukup rumit.
Di permukaan kehidupan rumah tangga Sarwo tampak baik-baik saja, karena tidak ada perceraian karena hubungan itu. Konon, dari hubungan itu, lahir seorang anak yang diberi nama Hartanto yang dijadikan anak angkat Sarwo. Dimana dia diperlakukan sebagai anak sendiri oleh Sarwo dan istrinya Sunarti.[4]  
Berhubung Ani Yudoyono adalah putri Sarwo Edhi Wibowo, cerita cinta Sarwo dan Sri Wulan bisa jadi cerita yang sangat seru. Tapi tidak bagi Partai Demokrat dimana Susilo Bambang Yudoyono, sang menantu, adalah Dewan Pembinanya. Seuah kisah cinta hebat bagi musuh Demokrat tentunya.
Beberapa pejabat Indonesia memang suka selingkuh. Namun selingkuhan tentunya hanya wanita muda yang masih cantik dan segar di mata mereka. Beda dengan Sarwo, meski Sri Wulan masih cantik, hubungan mereka lebih digiring karena keadaan Indonesia yang kacau. Selingkuh memang Indah, bagi pelaku pastinya.

***
Begitulah kisah Yani dan Sarwo. Kesamaan dua jenderal asal Purworejo ini adalah, meski mereka kepingcut pada wanita lain, mereka tidak bisa tinggalkan istri pertama mereka. Bagaimana pun istri pertama adalah istri perjuangan. Lebih dari kawan semasa dalam penderitaan. Bersama istri pertama pula terkadang karir dan mimpi dibangun.





[1] Amelia Yani, Ahmad Yani: Profil Seorang Prajurit TNI, Jakarta, Sinar Harapan, 1998.

[2] Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta, LP3ES, 2005, hlm. 100.

[3] Tempo, 25 Januari 2010

[4] Tempo, 13 November 2011

Rabu, Desember 28, 2011

Dibawah Naungan Pink Floyd

Pink Floyd menghentikan langkah saya. Dan saya mulai menulis catatan perjalanan singkat ini.

Saya ingin pergi tidur di penginapan. Rupanya ada yang menahan saya. Bukan orang jauh, sekelompok pemuda keren di masa lalu, yang kesohor dengan rock eksperimentalnya. Siapa lagi kalau bukan Pink Floyd. Setelah berhari-hari, saya dengarkan lagi sealbum The Wall dari Pink Floyd. Ini begitu luar biasa. Sebuah Café yang tak jauh dari jam Gadang Bukittinggi.

Tak disangka, di kota elok macam Bukittinggi pun saya masih bisa mendengar musik-musik mereka. Musik yang mewarnai masa-masa kreatif saya dan sesudahnya. Musik Pink Floyd, kadang jadi teman mabuk, atau menikmati narkoba. Saya menikmatinya untuk menulis atau mengerjakan hal diluar menulis. Pink Floyd membuat saya menulis cacatan perjalanan singkat ini. Ketika menulis kalimat ini, Comfortable Numb sedang diputar di café.

Padang, 23 Desember 2011

Padang adalah kota pertama yang saya singgahi. Bersama Arif—murd saya—dan juga Hafif (adik Arif), kami pergi ke Museum Adityawarman setelah Shalat Jum’at. Sialnya Museum sedang dipugar lagi. Mungkin karena Gempa 30 Setember 2009. Beberapa bangunan masih menjadi saksi gempa tersebut. Namun, lebih banyak lagi banguna yang diperbaiki. Tidak lama kami di Museum.

Kami lalu pergi ke Teluk Bayur. Kawasan pelabuhan yang cukup sohor di masa lalu. Dulu Teluk Bayur disebut Emma Haven. Kota Padang cukup kecil dan tenang. Dimasa lalu, Padang adalah kota dengan sarana pendidikan yang cukup baik. Karena sudah ada MULO (SMP) di zaman kolonial. Hatta dan Rosihan Anwar adalah lulusan MULO Padang.

Sawahlunto, 25 Desember 2011

Bersama keluarga besar Pak Irman, kami menuju kota tambang Sawahlunto yang cukup kesohor itu. Kota ini tidak banyak berubah sepertinya. Tata kotanya tidak banyak berubah meski produksi batubaranya tidak seperti dulu.

Kami bisa temukan bekas Dapur besar yang kini disebut Museum Gudang Ransum. Ini adalah Dapur umur terbesar dalam sejarah Indonesia. Dapur ini bisa memberi makan seisi kota Sawahlunto—yang hidup dari pertambangan batubara. Tidak jauh dari museum juga terdapat lubang Mbah Suro. Nama Jawa ini dimaksudkan untuk menghargai jasa mandor yang bernama Surono yang dikenal sebagai Mbah Suro ini.

Setelah masuk Museum dan melihat tungku-tungku besar dan foto-foto buruh tambang. Kami melihat nisan tak barnama, namun berangka. Angka itu sepertinya no register buruh tambang. Nama buruh tak menjadi hal penting. Sepertinya itu nisan dari buruh yang meninggal.

Batusangkar, 26 Desember

Adityawarwan yang ternyata pengikut sekte Bhairawa—ajaran pra Islam yang punya ritual mempersembahkan manusia sebagai kurban. Diperkirakan, sisa kerajaan Adityawarman, yakni Pagaruyung, bisa ditemukan jejak-jejaknya di daerah Batusangkar (Kabupaten Tanah Datar). Dimana beberapa prasasti dan beberapa kuburan dengan nisan yang bentuknya cukup unik bisa ditemukan dipinggir jalan.[1]

Tahun 1818,Thomas Stanford Raffless pernah berkunjung ke daerah sini. Dia sudah tidak menjadi Letnan Gubernur Jenderal Inggris lagi ketika itu. Ketika melakukan perjalanan itu, Raffless menemukan reruntuhan kerajaan Pagaruyung itu.[2]

Bukittinggi, 26-27 Desember 2011

Beruntung, keluarga Arif mengantar saya sampai Bukittinggi. Kota ini menjadi tujuan saya dari awal. Objek pertama yang saya lihat adalah Jam Gadang yang kesohor itu. Dimana angka empat (4) tidak ditulis IV (dalam Romawi), melainkan IIII. Unik juga. Setelah berpisah dengan keluarga Arif yang besar kebaikannya pada saya, saya mencari penginapan murah.

Setelah mendapat kamar dan mandi, saya menyusuri bukit tinggi di malam hari. Saya masih penasaran dengan gedung SMA Negeri 2 Bukittinggi. Saya curiga itu adalah bekas kweekschool Fort de Kock. Sekolah guru tertua di Indonesia. Saya kesana dan bertanya, tapi belum yakin. Setelah itu saya kembali ke kamar dan tidur nyenyak hingga pagi.

Bangun tidur, saya langsung berjalan mencari benteng Fort de Kock dan Ngarai Sianok. Jalan pun saya susuri hingga saya mencapai lembah di Ngarai Sianok. Sebuah sungai membelah ngarai. Airnya cukup jernih meski ada sampah-sampah yang tidak sedap dipandang mata.

Dari Ngarai, saya bergerak menuju benteng. Letaknya tidak terlalu jauh. Bisa dengan berjalan kaki. Udaranya di pagi hari cukup sejuk. Sampai benteng, pikiran saya tertuju pada Jenderal Markus de Kock. Jenderal Belanda yang berhasil menjerat Diponegoro. Dan perlawanan Diponegoro berakhir karenanya.

Fort de Kock adalah benteng alami. Tanpa tembok besar seperti benteng-benteng pada umumnya. Letak fort de Kock adalah diatas bukit yang indah. Benteng ini dibangun dimasa Perang Paderi oleh Kapten Beuss. Benteng ini beralih fungsi menjadi kebun binatang yang tidak banyak koleksinya. Tempat ini rindang, cocok dijadikan tempat bersantai.

Ada jembatan Limpapeh yang menghubungkan benteng dengan bukit lain. Panjangnya sekitar 25 meter. Dari jembatan, sebagian kota kecil Bukittinggi terlihat. Terutama kampong Cino.

Dari kebun binatang, saya menuju rumah kelahiran Bung Hatta. Letaknya tidak begitu jauh dari Kebun Binatang. Hanya mencari tangga dekat Pasar Wisata, lalu turun dan letaknya tidak jauh dari pertigaan di Pasar Banto. Tidak sulit mencarinya. Warga Bukittingi pasti tahu tempat itu. Rumah ini termasuk bangunan lama. Kawasan ini sekarang adalah pasar. Dulunya, ada areal persawahan di depan rumah.

Hatta, adalah contoh dari anak keluarga pedagang yang cukup berada di Pasar Bawah, Bukittinggi. Rumah orangtua Hatta, cukup besar dan bagus. Keluarga ini memiliki sebuah bendi (kereta kuda) beserta kudanya.[3] Hatta kemudian bersekolah di MULO Padang setamat ELS Bukittinggi. Hatta adalah kebanggaan wargakota Bukittinggi.

Hari ini adalah tanggal penting bagi Hatta. Di Den Haag, 27 Desember 1949, Hatta menandatangi kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB). Dimana Belanda mengembalikan kedaulatan Indonesia, yang dirampas karena serangan militer dan pendudukan Belanda di Indonesia. Dimana Hatta adalah ketua delegasi Indonesia disana.

Tempat lain di Bukittinggi yang bersejarah adalah pusat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Syafrudin Prawiranegara. Apajadinya jika PDRI tidak ada. RI pasti selesai karena Jogja sebagai ibukota diduduki tentara Belanda dan Pemimpin besar Republik ditangkap. PDRI nampaknya tidak bisa dihabisi Tentara Belanda karena Bukittinggi adalah kota yang memiliki benteng alam yang cukup baik. Sangat sulit tentara Belanda mengerahkan pasukan ke Bukittinggi. Gerilyawan pro Republik bisa menyergap mereka ketika berjalan menanjak ke arah Bukittinggi. Kata Prof Syafii Maarif, dosen saya kuliah dulu, Bukittinggi kota pedalaman yang sulit dijangkau.[4]

Siang ini, saya kunjungi lagi SMAN 2 Bukittinggi untuk memastikan ini adalah Kweekschool Fort de Kock dulunya. Saya perkirakan, gedung SMA Negeri 2 Bukittinggi[5] dulunya adalah Kweekschool (sekolah guru), yang orang biasa sebut Sekolah Raja.

Saya mujur perkiraan saya benar. Gedung SMA 2, dulunya adalah Kweekshool Fort de Kock. Gedung ini sengaja dipertahankan dan masih digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Saya kira, Harry Albert Poeze pernah mengunjungi sekolah ini karena dia adalah ahli soal Tan Malaka dan juga ahli sekali soal sejarah kemerdekaan Indonesia.[6]

Di dalam gedung tua ini, sebuah foto tua masih terpampang. Juga beberapa tulisana berbahasa Belanda yang memastikan bahwa ini dulunya adalah Kweekschool Bukittinggi. Mungkin, para siswa tidak pernah tahu jika gedung sekolah ini, yang pernah disebut sekolah raja adalah sekolah guru tertua di Indonesia.

Siang ini, siswa-siswi yang classmeeting pasca ujian belum pulang. Guru-guru masih rapat. Saya putuskan untuk memotret dan menulis. Akhirnya saya diperbolehkan memotret. Setelah memotret saya putuskan mencari bekas kantor PDRI (Pemerintah Daruarat Republik Indonesia). Ada petugas yang menyatakan jika kantor dinas pendidikan dulunya kantor PDRI, namun banyak yang tidak yakin.

Payakumbuh, 27 Desember

Saya putuskan pergi ke kampong Tan Malaka siang ini. Saya naik colt L300 dari Bukittinggi. Mobil ini membawa saya ke Suliki, salah satu kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan ke kampong Tan Malaka cukup indah. Jauh dari modern ketika Tan Malaka kecil.

Ketika sampai Payakumbuh, saya terkejut melihat sebuah jalan bernama Tan Malaka. Ini pertama kalinya saya melihat nama jalan dari tokoh kiri hebat macam dia. Saya segera sumringah. Saya hampir sampai rasanya. Saya lalu berganti mobil. Jarang ada mobil ke Padamgadang, kampong Tan Malaka.

Sebagian orang bilang hanya ojek yang bisa bawa saya. Tapi, seorang Ibu yang berjualan lotek menolong saya mencarikan mobil. Setelah menghabiskan lotek saya pun berangkat ke Padamgadang.

Saya belum tahu persis dimana lokasinya. Saya katakana ke sopir, “rumah Tan Malaka”. Supir mengerti dan menurunkan saya di kaki bukit. “Itu, kata dia. Saya turun dan bayar bis lalu keluar. Hanya beberapa puluh meter dari jalan raya. Kata remaja yang tinggal dekat situ, rumah tidak terkunci. Saya masuk.

Tidak ada yang isitimewa di dalamnya. Hanya ada buku-buku terkait dengan Tan Malaka. Seperti Dari Penjara ke Penjara yang legendaries itu. Sudah pasti buku tulisan Harry Albert Poeze—seorang Indonesianis yang selama 30 tahun meneliti tentang Tan Malaka. Saya pernah bertanya, pada Poeze dalam sebuah diskusi di Jogja,kenapa dia betah meneliti Tan Malaka selama 30 tahun? Poeze bilang pada saya, dia melihat sejarah perubahan Indonesia dari perjuangan puluhan tahun dari Tan Malaka.

Ya. Saya percaya hal itu. Tan Malaka memang layak disebut Bapak Republik. Entah karena pikirannya dalam buku Menuju Republik dan juga perjuangannya hingga menjadi buronan Negara Imperialis macam Belanda dan Inggris. Sayang penghargaan pada Tan Malaka begitu kurang. Ini karena kebodohan sejarawan pemerintah yang sok anti komunis, namun tidak pernah tahu esensi dari komunis.

Saya tidak lama di rumah Tan Malaka. Hari hampir sore dan saya harus ke kota yang lain lagi. Hari ini saya sudah ke sekolahnya (di Kweekschool Bukittinggi) dan ke rumahnya juga. Saya seperti mencari teman yang membolos karena pulang kampong. Pada Tan Malaka, saya ingin katakana sesuatu:

“Bung, aku tadi ke sekolahmu. Kau tak disana. Apa kau sedang mebolos di jam gadang? Rasanya tidak. Apa kau sedang ngedate sama Syarifah Nawawi? Wah kurang ajar kau! Kau berani kecengi anak guru. Aku lalu ke rumahmu. Eh kau juga tak ada. Aku mau bertanya Tan, kenapa kau tidak pulang saja ke kampung selulus dari Kweekschool? Hidupmu akan lebih baik. jadi guru yang dihormati. Kau juga tidak akan menjomblo di akhir hidupmu. Setahu aku, gadis Suliki manis-manis Tan. Kau bisa dapat satu setidaknya. Yang paling cantik diantara mereka. Yah. Apa boleh buat, kau pilih jalanmu seperti kupilih jalanku, jalan-jalan. Aku seperti lupa fakta sejarah, kau sudah dihabisi di Kediri. Tapi aku harus bilang kau petualang dan pejuang sejati bung. Salam dariku.”

Perjalanan di Sumatra Barat sejauh ini menyenangkan. Butuh banyak waktu lagi. Terlalu banyak yang harus disinggahi. Tidak semua saya singgahi. Hanya sebagian kecil. Perlu juga untuk kunjungi tanah Minang ini suatu hari. Kuputuskan tinggalkan Payakumbuh. Menuju kota lain sebelum akhirnya kembali bekerja.

Note:

[1] Saya berucap banyak terimakasih pada keluarga besar Bapak Irman dan Pak John yang membawa dan memperkenalkan pada saya tempat bersejarah sisa istana Pagaruyung di Batusangkar dan juga alam indah tanah Minangkabau.

[2] Anthony Reid (peny), Sumatra Tempo Doeloe, Jakarta, Komunitas Bambu, 2011, hlm. 203-211.

[3] Rumah Hatta bisa dikunjungi hingga kini. Kejayaan keluarga orangtua Hatta sebagai pedagang yang terpandang masih bisa disaksikan.

[4] Prof Achmad Syafii Maarif mengatakan itu ketika dalam perkuliahan. Syafii jelas tahu hal itu karena beliau berasal dari Sumpurkudus, yang tidak terlalu jauh dari Bukittinggi.

[5] SMA 2 di kota-kota Indonesia, biasanya adalah bekas Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

[6] Sangat jarang siswa yang tahu jika di gedung yang menjadi kelas dan kantor guru itu dulunya adalah tempat Tan Malaka sekolah. Mereka mungkin tidak pernah tahu jika Tan Malaka adalah Bapak Republik.