Kamis, Februari 23, 2012

Kita Memang Orang Kampung

Kenapa harus malu dibilang Kampungan atau nDeso? Itu adalah fakta bagi banyak orang Indonesia.

KAMPUNGAN, jadi teringat album Slank, band papan atas Indonesia. Kampungan, memang jadi kata yag memalukan di beberapa kalangan. Karena identik dengan orang yang kurang beradab dan ketinggalan jaman. Entah siapa yang memulai itu? Dasar gila, memang kampung salah apa? Hingga kata kampungan begitu buruk?

Kitorang, sedari dulu dasarnya emang kampungan. Kenapa tidak, toch banyak dari kita yang tinggal di kampung-kampung. Itu fakta. Meski tinggal di rumah gedongan atau bangsal-bangsal, tetap saja masih ada mental kampung diantara kita.

Akar orang-orang di Nusantara (nama keren dari Indonesia) adalah desa (kata lain dari kampung). Begitulah. Karena kota sendiri adalah hal baru. Sepertinya, orang-orang India yang pernah punya Mahenjodaro-Harappa, adalah orang-orang yang mempengaruhi orang-orang di Nusantara untuk memiliki kota. Kitorang bisa lihat bagaimana kota kuno Majapahit di Trowulan. Tapi, rasanya jauh lebih banyak kampung di Indonesia ketimbang kota.

Jauh sebelum bangsa asing masuk ke Indonesia, orang-orang Indonesia sudah beradab. Lihat saja kampung-kampung di Flores atau Nias yang tidak terasa sama sekali pengaruh Hindu atau Budha.

Orang-orang di Nusantara sudah kenal kampung dari awal. Kampung adalah susunan masyarakat terpenting bagi orang-orang di Nusantara. Sedari awal, masyarakat di nusantara hanya kenal kampung. Setelah masa kehidupan berburu dan berpindah-pindah, mereka hidup menetap dan pelan-pelan kampung-kampung terbentuk di nusantara.

Orang kampung tidak butuh sistem kerajaan, seperti yang dibawa orang-orang India, sebenarnya. Orang kampung hanya perlu kepala kampung yang bijaksana. Yang mengerti kebutuhan mereka. Yang selalu melindungi semuanya. Kita semua tahu, raja kadang sering lalim. Cuma bisa menindas dengan perang, lalu pungut hasil panen, tak lupa ambil perempuan kampung untuk penuhi hasrat raja yang katanya suci.

Mereka sebenarnya bisa hidup damai sebelum orang asing datang. Karena tiap manusia pasti punya hasrat jadi raja. Agar bisa semena-mena atau setidaknya kaya dan dihormati. Sistem kerajaan, karena rawan permusuhan, rasanya tidak baik bagi orang-orang kampug rindu damai. Dalam sejarah, sering terjadi perang antar kerajaan, dengan alasannya ingin berjaya katanya. Belum lagi permusuhan dilingkungan keluarga raja sendiri sering bikin suasana tidak tentram. Dan orang kampung pasti jadi korban.

Kampung, atau biasa disebut desa, begitu penting sebenarnya. Kota-kota biasanya tidak bisa hidup tanpa adanya kampung-kampung. Bahkan di dalam kota-kota juga ada kampung-kampung yang membuat kota jadi hidup. Kota butuh kampung karena dari kampung dipinggiran kota yang punya lahan pertanian, orang kota bisa dapat pasokan makanan.

Tidak heran jika gerilyawan komunis menganggap kampung begitu penting. Karena makanan ada disana. Jika kampung dipegang, maka kemenangan atas serangan kaum komunis ke kota hanya menunggu waktu saja. Begitulah tentang, “desa mengepung kota.”

Jadi, banggalah jadi orang kampung. Toch kekuatan orang-orang di Indonesia adalah di desa. Desa adalah akar. Desa adalah rumah. Desa pastinya juga lumbung. Dimana kehidupan bisa berjalan karenanya. Kota hanyalah pusat segala administrasi dan pasar yang tidak akan hidup tanpa desa.

Pernah ada orang bilang, tidak ada kota besar di Indonesia, hanya ada desa besar. Mungkin terkait dengan perilaku orang Indonesia yang tidak bisa tertib. Orang kampung, pada dasarnya orang yang penyabar, namun budaya kota membuat orang-orang kampung kekota-kotaan dan jadi agresif.

Akhirnya kampung sebagai tempat yang nyaman pun hilang. Namun beberapa kampung seperti sebagaian kampung-kampung Badui seolah berusaha menjadi diri mereka sendiri. Bangga jadi orang kampung yang damai.

Jadi, kepada semua orang Indonesia, sadarilah kampung sebagai akar kita. Dari sana kita bisa hidup dan kota nyatanya hanya formalitas. Dan, soal Negara apapun bentuknya, hanya pelengkap yang kadang tidak perlu dan menyebalkan. Padahal dengan hidup di kampung saja, orang-orang nusantara pernah sentosa.

Banggalah jadi orang kampung.

Senin, Februari 20, 2012

Arti Memori

Sukarno bilang: Jangan Sekali-kali melupakan sejarah. Ternyata itu lebih dari sekedar seruan, tapi juga mampu menjaga identitas sebuah bangsa.

Apa jadinya jika sebuah bangsa tidak punya sebuah sebuah memori (ingatan)? Mungkin bangsa itu tidak bedanya dengan segerombolan ternak. Yang hanya mengerti makan dan bereproduksi.

Kenapa memori begitu penting? Dengan memori sekelompok orang akan sadar jika mereka adalah kelompok atau bangsa. Memori mampu membangun sebuah identitas kelompok atau bangsa. Identitas bisa membangun solidaritas dan rasa saling menjaga sebagai sebuah bangsa. Identitas juga memberi semangat bagi seseorang untuk berjuang.

Identitas, yang merupakan memori kolektif, juga bisa membangun karakter sebuah kelompok atau bangsa pastinya.

Sejarah adalah pelajaran melawan lupa. Tapi jika dipolitisir sejarah juga bisa membuat sebuah bangsa jadi amnesia (hilang ingatan). Itu sudah terjadi di banyak Negara. Di masa lalu, jika terjadi suksesi (pergantian) raja di Tiongkok, maka si penguasa baru yang mungkin berkuasa secara tidak sah, akan membakar semua buku sejarah yang terkait dengan raja sebelumnya. Raja baru itu akan membuat buku sejarah baru yang mendukung dirinya. Ingatan rakyat tentang raja sebelumnya pun hilang.

Tanpa sejarah, sebagai penjaga memori akan sebuah identitas, sebuah bangsa juga bisa hancur. Karena mereka tidak punya identitas yang menjaga persatuan mereka. Bersatu adalah penting bagi sebuah bangsa.

Bayangkan jika orang Indonesia tidak pernah tahu sumpah pemuda, dimana pemuda-pemuda Indonesia berikrar untuk berbangsa satu sebagai bangsa Indonesia. Mungkin orang-orang Batak akan dirikan Negara Batak,orang Jawa akan dirikan Negara Jawa. Orang Sulawesi dirikan Negara Sulawesi dan lainnya.

Jika pelajaran sejarah tidak dipelajari anak-anak muda, otomatis mereka tidak akan tahu siapa diri mereka. Maka sebuah generasi akan lupa. Mereka tidak lagi punya memori atau ingatan tentang bagaimana pendahulu mereka membangun dan menjaga sebuah bangsa. Akhrnya menjadi manusia yang tidak punya identitas dan karakter positif sebagai bangsa. Kedepannya bangsa itu akan terpecah atau mungkin hilang.

Itulah mengapa Sukarno berucap, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah.” Itu karena agar Bangsa Indonesia yang merdeka tidak hancur. Dan belajar sejarah yang obyektif dan tidak dipolitisir akhirnya menjadi sebuah kebutuhan. Kita bisa belajar sejarah di mana saja. Kadang dalam sejarah bangsa kita sering temukan prestasi hebat yang patut dibanggakan dan ditiru.

Penting juga kiranya para sejarawan untuk jujur. Jika sejarawan tidak jujur, maka akan timbul ketidakpercayaan generasi baru pada bangsanya, karena telah dibohongi. Dan ada cap bahwa bangsanya adalah bangsa pembohong. Itu hanya akan memburuk karakter bangsa di masa depan. Jadi lebih baik seorang menulis seadanya, agar generasi muda bisa membuat sejarah bangsanya jadi lebih baik lagi dengan belajar dari kesalahan dari masa lalu.

WebRepPredikat secara keseluruhan

Untuk Yang Berhak

Beasiswa, harusnya bisa menjadi sebuah penghargaan atas tindakan positif dan kerja keras, dan juga menjadi harapan atas masa depan yang lebih baik untuk semua.

Tersebutlah bocah dekil penuh kudis. Dia berumur 9 tahun. Ketika itu dia sedang bermain bersama teman-temannya di dekat alun-alun. Seorang Belanda, bernama Hazeu, lalu memberikan beberapa keping uang ke bocah dekil itu. Hazeu lalu geleng-geleng. Si bocah dekil itu kemudian membagi kawan-kawannya. Hazeu terkesima. Lalu si bocah dekil itu dijadikan anak angkatnya. Tentu saja bocah dekil itu di sekolahkan. Bocah dekil itu tak lain adalah Alimin.[1]

Hazeu adalah pejabat urusan pribumi Hindia. Dia adalah pejabat penting di HIndia Belanda. Alimin, yang berasal dari keluarga miskin itu kemudian di sekolahkan di sekolah elit bernama Europe Lager School—yang biasanya diperuntukan bagi anak-anak Eropa maupun pribumi kaya di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Alimin kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan kiri yang membuat Indonesia merdeka juga.[2] Alimin bukan satu-satunya anak Indonesia berasal dari keluarga miskin yang beruntung. Mungkin masih banyak contoh.

Hazeu mengambil Alimin sebagai anak karena bocah ini memiliki rasa berbagi yang sangat tinggi. Bagaimana mungkin bocah miskin, yang tidak punya uang anyak, masih mau berbagi uang. Alimin jelas luar biasa di masa bocahnya. Hazeu memilih orang yang tepat untuk di sekolahkan.

Bagi Yang Berminat

Tidak semua anak miskin berminat untuk sekolah. Pikiran mereka lebih banyak untuk berpikir bagaimana caranya bertahan hidup dan mencari uang. Penting kiranya untuk mencari hanya anak-anak yang berminat keras. Biasanya anak yang punya minat dia akan berusaha keras untuk mejadi lebih baik dan mengusai sebuah bidang.

Sudjojono, Bapak Ahli gambar Indonesia, juga berasal dari keluarga miskin. Namun, beruntungnya, sejak usia 4 tahun si bocah sudah djadikan anak angkat oleh seorang guru. Hingga bisa bersekolah dan menjadi ahli gambar atau pelukis terkemuka Indonesia. Sedari kecil, Sudjojono memang pintar hingga diangkat anak oleh Yudhokusumo—sang guru yang baik hati itu.

Sangat sulit untuk bisa mencari anak yang berminat sekolah seperti yang dilakukan Hazeu. Sekolah mungkin tidak terpikir Alimin awalnya. Begitu juga Yudhokusumo mengangkat Sudjojono sebagai anak. Baik Alimin atau Sudjojono, jelas keduanya memiliki sisi menonjol, walau belum menghasilkan prestasi.

Di masa kini, beasiswa biasanya diberikan kepada anak-anak yang diketahui cerdas meski belum memiliki prestasi. Penting juga untuk mengetahui minat seorang bocah yang tidak mampu bersekolah. Biasanya, seorang bocah memiliki cita-cita tinggi. Sedikit diantaranya obsesif. Hingga mereka tampak keras berusaha mengejar cita-cita atau mimpi mereka.

Penghargaan dan Harapan

Selain minat belajar, perlu kiranya dilihat latar belakang atau tindakan positif si anak dari keluarga miskin. Seperti yang pernah dilakukan Alimin. Membagi uang, seperti dilakukan Alimin yang sama miskinnya, pada anak miskin lainnya jelas hal luar biasa.

Banyak juga anak-anak miskin dengan pemikiran maju, meski hidup mereka dalam kesulitan. Mereka biasanya punya mimpi. Mulai dari ingin punya taman bacaan dan lain sebagainya. Diantara anak-anak itu juga, pasti ada yang berjiwa pemimpin. Anak berjiwa pemimpin biasanya memiliki semangat tinggi untuk terus belajar dan bertindak.

Rasanya penting juga bagi pihak pencari anak-anak penerima beasiswa dari keluarga miskin, untuk melihat hal positif yang pernah dilakukan si anak. Setidaknya sebagai penghargaan tas solidaritasnya. Dan harapan kedepannya, dengan ilmu dan kesuksesan yang dimiliki di masa depan, maka dia bisa menolong orang miskin yang lainnya.

Banyak bocah-bocah miskin di masa-lalu. Banyak diantara mereka yang tidak mampu bersekolah. Tidak heran jika seorang bernama RM Suryopranoto, kakak dari KI Hajar Dewantara mendirikan Hollands Inlandsche School Adhi Dharma di Yogyakarta. Sebuah sekolah untuk anak-anak miskin.[3] Tentu saja itu hanya bisa dinikmati oleh anak-anak di sekitar Yogyakarta saja.

Setidaknya, sedikit anak itu bisa menjadi pemimpin di kampungnya. Dimana akan ada harapan kampong akan bisa lebih maju dan tercerdaskan pelan-pelan.

Note:

[1] Tempo, 8 November 2010.

[2] Parakirti Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta, Kompas, 2003, hlm. 619.

[3] Bambang Sukawati, Raja Mogok Suryopraoto: Sebuah Buku Kenangan, Jakarta, Hasta Mitra, 1983, hlm. 72-74.

Jumat, Februari 10, 2012

Belajar dari (Pelaku) Sejarah

Mudah membagikannya, tapi butuh waktu lama meresapi dan memiliki karakter positif untuk menjadi Meanusia Indonesia Berkarakter.
Kita selalu dingiangkan soal pendidikan pendidikan karakter. Ada banyak definisi pendidikan karakter, namun intinya pendidikan karakter adalah penanaman nilai-nilai dan sikap-sikap positif agar menjadi manusia yang baik dan berkarakter. Pendidikan Karakter memang bukan hal mudah. Butuh proses panjang yang tidak sebentar. Meski bukan hal mudah, bukan berarti proyek mulia ini butuh suntikan dana besar. Hanya butuh renungan dari apa yang sudah ada atau apa yang sudah terjadi. Lalu membagikannya pada siswa. Tampak begitu mudah membagikannya. Yang tersulit dari proses pendidikan karakter dalam pelajajaran sejarah
Beberapa karakter penting yang harus dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Dimana karakter-kareakter ini bisa ditemukan oleh tokoh-tokoh terbaik bangsa Indonesia, yang diantaranya adalah pendiri Negara.
Dibutuhkan banyak sikap Positif jika Indonesia ingin terus ada dan maju, apalagi untuk Indonesia yang jaya di masa depan. Dimana semua karakter ini harus ditanamkan sejak dini pada generasi baru Indonesia dalam pendidikan karakter yang melibatkan semua pihak. Pendidikan karakter tentu akan melibatkan banyak pihak. Mulai dari sekolah, pemerintah, media dan juga masyarakat.
Guru di sekolah jelas sekali punya pengaruh besar dalam pendidikan karakter. Seorang guru biasanya punya tokoh favorit, dimana tokoh itu punya banyak karakter positif yang membuat si tokoh dikenal banyak tokoh. Siapapun tokohnya, bisa kita ambil sebagai pelajaran. Bahkan orang semacam Adolf Hitler yang jahat sekali pun. Tentu saja, kita hanya tarik sikap positifnya saja. Terlepas dari kekejamannya pada orang-orang Yahudi, Hitler adalah orang yang pantang menyerah, punya prinsip dan selalu mencari ide-ide jenius. Ini yang membuat Jerman maju di masa Perang Dunia II (1939-1940).
Kita bisa mengambil Para Nabi sebagai manusia mulia yang layak diteladani. Kita tahu manusia mulia seperti nabi jelas punya karakter mulia juga pastinya. Agama-agama ajarkan kemuliaan pada umatnya.
Indonesia juga punya banyak tokoh hebat. Kita semua tahu Sukarno. Pembebas Indonesia dari penjajahan dan bukan hanya pemimpin Indonesia saja sebenarnya, tapi juga pemimpin dunia. Dari buku sejarah, kita bisa lihat Sukarno sebagai orang yang berani, mandiri dan cinta pada kemerdekaan. Itu yang bisa kita petik.
Karena pelaku sejarah juga manusia, maka kita akan temukan sifat negatif dari si tokoh. Itu sangatlah manusiawi. Yang positif jelas bisa kita petik, yang negatif juga bisa dipelajari dan diusahakan agar tidak terulang lagi. Itulah inti dari belajar sejarah. Sangat rugi belajar sejarah di sekolah jika tidak bisa memetik karakter positif dari pelaku-pelaku sejarah.
Ada ribuan buku biografi di perpustakaan. Dimana dengan membacanya kita bisa menarik karakter pelaku sejarah. Jika bosan membaca kita bisa menonton film atau film dokumenter tentang biografi tokoh-tokoh. Metro TV setiap minggunnya punya program acara Biography yang membicarakan tokoh-tokoh peting dunia.
Harus diakui, suka tidak suka bangsa (Indonesia) ini adalah bangsa berkarakter. Semua hanya kembali bagaimana arah bangsa ini saja.

Selasa, Februari 07, 2012

Jangan Lupakan Letnan Gozsen

Banyak sudah yang hilang dari laut Indonesia. Jadi, di laut, Indonesia harus jaya. 


Kenapa dengan mudah nusantara dikuasai oleh kompeni Belanda? Orang-orang Indonesia hanya percaya, itu hanya karena politik Devide et Impera—alias politik belah bambu. Bukan politik belah duren pastinya. Sebuah kepercayaan yang membutakan orang Indonesia, seolah orang Indonesia sebelumnya tidak terpecah belah atau hidup tentram satu dengan yang lain. Orang Indonesia tidak mau belajar dari kasus pemberontakan Kuti, yang difitnah Mahapati Gajah Mada. Inilah Indonesia yang sedari dulu doyan sikut-sikutan.
Sebagai bangsa yang pelupa dan durhaka pada kodratnya, dijajah Verenigng Oost-Indische Compagnie (Maskapai dagang Hindia Timur) alias kompeni Belanda adalah sebuah hukuman yang layak diterima. Jika di abad XV orang Indonesia paham jika Indonesia adalah bangsa Maritim, maka kapal-kapal dan orang-orang Kompeni Belanda tidak akan bisa kuasai Indonesia. Orang Indonesia lupa jika nenek moyang mereka seorang pelaut dan akhirnya laut yang dulu menjadi kejayaan nenek moyang mereka kemudian dikuasai bangsa asing.
Lemahnya laut Indonesialah yang membuat Indonesia dengan mudahnya dijajah Kompeni Belanda. Itulah yang harus dijaga Indonesia sekarang. Jangan sampai laut menjadi milik kekuatan asing.
Hindia Belanda Memang Lupa, Tapi Masih Usaha
Melupakan laut, lalu dilakukan oleh Hindia Belanda. Mereka lebih suka membangung Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (Tentara Hindia Belanda) alias KNIL. Laut terlupakan. Karenanya dengan mudah Tentara Jepang masuk ke Indonesia. Dan dengan mudah KNIL dikalahkan oleh balatentara Jepang.
Meski melemah, Hindia Belanda juga masih ada usaha menjaga kawasan laut Hindia Belanda. Meski hasilnya masih buruk pada Perang Pasifik. Setidaknya di awal abad XX, pemerintah berencana membangun Armada Laut yang baik dan tangguh.
Tersebutlah seorang Letnan Laut bernama Goozsen, yang kemudian menjadi perwira tinggi armada laut Belanda di Indonesia juga. Tentang dia Pewarta Makassar mennyebut bahwa Letnan Goozsen, perwira Angkatan Laut Hindia Belanda yang tinggal di Bogor, mendapat perintah agar membantu petinggi militer Hindia untuk mendirikan sekolah pelaut di Hindia Belanda yang akan dibangun di Padang dan Makassar.
Rencananya, Orang-orang pribumi yang lulus dari sekolah pelaut itu akan ditempatkan di kapal perang yang menjaga perairan Hindia Belanda—yang sekarang menajdi perairan Indonesia. Tujuan dari perekrutan orang-orang prinbumi tidak lain untuk mengurangi ketergantungan dari pelaut yang diambil dari negeri Belanda. Wilayah koloni Hindia Belada yang demikian besar--dimana lautannya lebih luas dibandingkan daratannya, maka armada laut yang menjaga lautan sangatlah penting sekali. (Pewarta Makassar, 20 Februari 1914)
Bukan hanya mendirikan sekolah, kapal perang juga didatangkan dari negeri Belanda.
Dua kapal torpedo, Wolf dan Linx, yang datang dari Surabaya tiba di perairan Makassar. Kapal-kapal itu tiba sekitar pukul 09.00 pagi. Kapal-kapal tersebut diawaki 80 orang pelaut--yang terdiri dari pelaut Jawa dan Belanda. Kapal-kapal itu, menurut rencana akan menjadi bagian dari pendidikan para pelaut pribumi--pemerintah kolonial baru saja merencanakan pendirian sekolah pelaut disana. (Pewarta Makassar, 21 Februari 1914)
Pemerintah kolonial, sebenarnya tidak begitu peduli dengan masalah pertahanan laut karena doktrin militernya lebih memperhatikan pertahanan darat. Tidak heran bila kekuatan darat Hindia Belanda lebih besar, namun hanya ditujukan untuk permasalahan domestik--seperti menumpas para pemberontak--dan tidak sekalipun memperhatikan ancaman yang datang dari luar.
Melawan Pemerintah Yang Latah
Sekarang, setelah hampir 98 tahun setelah perintah kepada Goozsen, pemerintah meski sudah banyak menghasilkan para pelaut Indonesia, tetap saja belum bisa menjaga lautan Indonesia. Kekayaan laut Indonesia jelas harus dijaga. Sudah banyak kekayaan laut yang dicuri. Menjaga laut pun jadi keharusan yang tidak bisa ditawar lagi jika ingin kekayaan laut tidak hilang.
Pemerintah Indonesia tampaknya latah. Seperti berhasrat mengulangi kesalahan bangsa Indonesia ratusan tahun silam. Jika ratusan tahun silam pelan-pelan Indonesia dijajah, maka sekarang pelan-pelan dan pasti banyak kekayaan laut Indonesia hilang.
Banyak hal yang dibutuhkan untuk menjaga laut. Personil dan peralatan yang memadai tentunya, juga beberapa hal lain yang mendukung. Indonesia butuh alat yang memadai untuk menjaga lautnya. Soal perrsonil, ribuan pemuda Indonesia siap dilatih untuk menjadi pelaut atau penjaga pantai yang siap bertugas di segala perairan Indonesia.
Sambil mengingat  Goozsen, rasanya penting sekarang bagi Indonesia untuk memiliki para Penjaga Pantai (Coast Guard) untuk menjaga semua area perairan Indonesia. Ini sudah jadi keharusan. Jika di darat pernah ada Hansip (Pertahanan Sipil) mengapa di laut tidak diadakan semacam itu.
Buat apa menyia-nyiakan semangat pemuda Indonesia yang menggebu-gebu untuk menjaga Indonesia? Jika disia-siakan mereka bisa menjadi masalah besar dari bangsa ini, solusi untuk mereka tak lain adalah diberdayakan dengan tepat.
Indonesia harus mengingat bagaimana usaha pemerintah kolonial yan beri perintah pada Goozsen untuk membuat sekolah pelaut 98 tahun silam.

Sulawesi Selatan Dalam Sejarah


Yang saya dapati sejarah Sulawesi Selatan, cukup menarik dikaji. Sulawesi Selatan dalah daerah termaju di Indonesia Timur.


Sebelumnya saya mengenal Sulawesi Selatan hanya dari buku atau hanya dari cerita kawan-kawan saya ketika kecil. Suatu kali Indonesia Boekoe, tempat saya pernah bekerja memberi tugas pada saya untuk menulis salah satu tokoh wanita dari Sulawesi Selatan, We Tenriolle. Tokoh ini sangat asing sekali dalam sejarah Indonesia.

Bukan Sekedar Sejarah Kekerasan
Sejarah Sulawesi selatan cukup disoroti dalam sejarah Indonesia. Sayangnya, dalam Sejarah Nasional Indonesia yang disusun Nugroho Notosusanto, kebanyakan hanya berupa kekerasan saja. Dimana ditemukan tentang perang Sultan Hasanudin melawan VOC. Juga memposisikan Arung Palaka pengkhianat karena bersekutu dengan VOC melawan Sultan Hasanudin. Lalu ada cerita heroik Walter Monginsidi dan selanjutnya ada pemberontakan Kahar Muzakar yang dituduh antek DI/TII, padahal pemberontakan terjadi karena pemerintah tidak bisa bertrima-kasih kepada bekas pejuang kemerdekaan yang kemudian ikut berontak dengan Kahar Muzakar.
Sayangnya, Sejarah intelektulitas masyarakat Sulawesi Selatan tidak diangkat. Padahal orang-orang Sulawesi Selatan punya cendikiawan sekelas Karaeng Patinggalong, Syech Yusuf dan lain-lainnya. Bicara soal hukum dan lautan, orang Bugis-Makassar memiliki Amanna Gappa. Sejarah Nasional Indonesia, yang enam jilid dan belum lama cetak ulang itu, kebanyakan berbicara Jawa jauh lebih banyak daripada yang lainnya.
Pergerakan nasional, sebagai titik penting Sejarah Nasional Indonesia, dianggap banyak sejarawan sebagai masa berakhirnya perlawanan fisik rakyat Indonesia yang menentang Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Dengan kata lain, masa pergerakan, sesudah 1908, adalah waktunya berjuang dengan otak dan otot tidak lagi dipakai. Berarti beberapa tokoh yang melakukan perlawanan seperti Kiai Hasan di Cimereme dan tokoh lain ditempat yang lain tidak lebih daripada perusuh saja. Mereka tentu tidak akan menjadi pahlawan nasional karena dianggap perusuh.
Perjuangan tanpa kekerasan, atau yang dianggap perjuangan gaya modern, yang pakai otak, sebenarnya dimulai sebelum 1908. Sebelum meninggalnya ditahun 1904, Kartini sudah berusaha mencerdaskan kaum putri.
Sejarah Sulawesi Selatan sendiri, tidaklah hanya diisi dengan sejarah kekerasan yang memakan nyawa saja. Tradisi intelektual sebenarnya sudah dimulai juga menjelang abad XX. Dimana beberapa orang tua dari kalangan berada memasukan anak-anaknya ke sekolah modern, dan jauh sebelumnya lagi mengirim anaknya ke pesantren.
Meski orang tua terkesan opurtunis, dengan anaknya belajar di sekolah modern, maka si anak akan mengerti perkembangan dunia dan juga bisa mengenali musuh-musuhnya. Jangan heran jika keluarga bangsawan Jawa, juga Bugis, mengirim anakanya ke sekolah modern.
Meski di Makassar pada zaman kolonial, hanya ada sekolah menengah. Yakni hanya sekelas Meer Uitgebrid Lager Onderwijs (MULO; setara SMP) saja, tidak ada Algemene Midelsbare School (AMS; setara SMA) maupun Hogare Burger School (HBS; sekolah menengah 5 tahun yang lulusannya setara lulusan SMA). Jika ingin sekolah lebih tinggi maka pemuda sulawesi selatan harus pergi ke pulau Jawa—dimana akses pendidikannya paling maju di zaman kolonial.
Tradisi sekolah di Sulawesi Selatan, sebenarnya tidak hanya dilakukan pemerintah kolonial pada kalangan terbatas. Banyak juga tokoh pribumi yang membuka sekolah. We Tenriolle adalah salah satunya di Sulawesi Selatan. Raja wanita dari Tanette ini pernah mendirikan sebuah sekolah. Dimana sebagian muridnya adalah wanita. Dengan sekolah ini, modernisasi di Sulawesi Selatan bisa berjalan meski palan. Karena terbatasnya akses sekolah.
Sebenarnya, sejak dulu, dari apa yang saya baca tentang Sulawesi Selatan, Sulawesi Selatan memiliki produk intelektual yang hebat. Mulai dari Sureq La Galigo sampai etika kelautan Amanna Gappa. Tradisi menulis juga dilakukan dalam lontara’ dengan huruf Bugis yang bentuknya berbeda dengan huruf Jawa.
Bicara soal La Galigo, untuk sementara saya menilai, cerita ini asli dan tidak mengadaptasi dari cerita lain dari luar. Berbeda dengan beberapa karya Jawa seperti Arjunawiwaha yang lebih banyak dipengaruhi oleh cerita Ramayana maupun Baratayudha. Menurut saya La Galigo jelas asli Sulawesi Selatan. Tentunya orang Sulawesi Selatan harus bangga pada La Galigo.
Dari budaya pemkiran yang ada tadi, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa Sulawesi Selatan punya kebudayaan intelektual. Sayangnya, banyak pemberitaan di media mengidentikan daerah ini dengan kekerasan saja. Begitu juga dalam sejarah Indonesia, dimana sejarah Sulawesi Selatan lebih banyak hanya menonjolkan perang dan kekerasan tanpa mengangkat sejarah intelektualnya. Tidak mengangkat sastra dan produk hukum lautnya.

Yang Termaginalisasi
Kota Makassar sudah menjadi pusat politik sejak lama. Ketika Revolusi Indonesia terjadi, Makassar juga masih menjadi kota penting. Makassar juga menjadi pusat sebuah Negara Boneka buatan Van Mook, selaku kolonialis sejati yang berusaha menegakan kembali Hindia Belanda di tanah yang sudah menyatakan diri Indonesia.
Negara Indonesia Timur buatan van Mook itu dicap oleh sejarah Indonesia sebagai kelompok pendukung politik kembalinya kolonialisme di nusantara. Dengan kata lain, orang-orang NIT banyak dicap sebagai antek-antek Belanda.
Dengan politik Devide et Impera gaya barunya Van Mook tampak ingin memecah belah Indonesia. Dengan BFO yang kemudian berdiri dan diketuai oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, semua Negara buatan Van Mook bersatu. Sebagai pihak ketiga, selain Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia, dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Dan setelah tentara Belanda ditarik, maka kaum federalis yang dulu pernah dalam BFO dan lain sebagainya adalah pihak yang paling disalahkan dalam sejarah.
Ada tidaknya BFO dan Negara-negara bagian buatan Van Mook itu, tetap saja Indonesia merdeka dan akan memperoleh wilayah nusantara sebagai wilayah kekuasaan, seperti wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena situasi dunia pasca Perang Dunia II, nyatanya lebih mendukung Indonesia ketimbang Belanda. Negara-negara boneka itu juga didirikan pasca perundingan yang mempersempit wilayah RI.
Negara-negara bagian itu sempat bersatu dengan RI dalam kerangka Republik Indonesia Serikat (RIS). Namun Negara federal itu tidak bertahan lama ditahun 1950. beberapa kerusuhan seperti Peristiwa Westerling di Bandung dan Jakarta, dan juga Peristiwa Andi Aziz di Makassar, maka antipati terhadap Negara federal pun tumbuh dan RIS kemudian bubar. Negara federal lalu disalhakan dan siapapun yang mendukungnya berarti menolak Negara kesatuan dan harus berhadapan dengan TNI. Sistem federal lalu disamakan dengan disintegrasi dan pengkhianatan.
Dalam sejarah Indonesia, Peristiwa Andi Azis dianggap sebagai contoh sejarah atas buruknya sistem federal. Dimana kaum federalis itu dianggap menolak Republik Indonesia di Makassar, meski sebanarnya mereka cukup mengakui pemerintahan RI di Makassar, namun kebijakan RI atas NIT terkesan tidak menghargai bekas kaum federalis. Kota Makassar adalah saksi dikambinghitamkannya sistem federal. Karenanya pasca reformasi 1998, otonomi daerah menjadi jembatan anatara sistem federal dengan Negara kesatuan.
Masalah federalisme pun bisa teratasi namun pengkambinghitaman terhadap kaum pendukung federalisme di Indonesia terus berlangsung. Tidak banyak yang menyadari, bahwa kaum federalis disamakan dengan menolak NKRI dan dianggap pengkhianat.
Kaum federalis bukan satu-satunya yang termarginalisasi. Tokoh penting Sulawesi Selatan yang temarginalisasi dlam sejarah adalah Arung Palaka. Dirinya dianggap berkhianat kepada Indonesia, entah Indonesia yang mana? Ini karena persekutuannya dengan VOC melawan Sultan Hasanudian, Raja Gowa yang dizamannya telah menjajah Bone—tanah kelahiran Arung Palaka.
Sejarah Nasional umumnya sulit berkata jujur, dan hanya mengambil sisi praktis semata untuk pemerintah yang hanya ingin kestabilan dan menghindari keadilan sejarah. Dan soal gelar pahlawan yang diberikat Negara pada seorang tokoh, juga predikat pengkhianat pada yang tidak sejalan jelas adalah hal yang sangat politis. Meski Negara bisa stabil oleh politisasi sejarahnya yang tidak jujur dan tidak adil, namun kebohongan akan tercium dan akan bisa merusak citra Negara tersebut, khususnya di kalangan intelektualnya.

Penulisan Sejarah Sulawesi Selatan
Tidak ada yang mengalahkan kebenaran sejarah nasional yang disusun pemerintah. Apalagi untuk Negara macam Indonesia. Wacana buku Sejarah Nasional Indonesia, dijadikan sesuatu yang dibenarkan. Tentunya wacana-wacana itu dimasukan dalam pelajaran sejarah sekolah dari SD hingga SMA.
Jika wacana sejarah ala pemerintah tadi memuat ketidak-adilan sejarah, maka penulisan sejarah alternatif harus dilakukan. Sangat penting menulis sejarah dari sudut pandang berbeda, jika ada sebuah wacana yang secara politis memelintir sebuah fakta sejarah dan berpihak pada sebuah golongan khususnya golongan penguasa. Karenanya penulisan sejarah haruslah beragam dari sudut pandang yang berbeda, yang tentunya berusaha berpihak pada kemanusiaan saja.
Penulisan sejarah ini tentu saja tidak bermaksud membuat masyarakat bingung untuk mengikuti yang mana. Sebenarnya, justru masyarakatlah yang seharusnya menjadi juri yang menilai kebenaran sejarahnya. Selama ini, pemerintah yang begitu dominan dalam menentukan mana wacana sejarah yang dibenarkan dan harus dianut oleh masyarakat. Hingga pembodohan sejarah pun menjadi penyakit akut masyarakat Indonesia. Penting sekali untuk menjadikan masyarakat Indonesia sebagai juri pengadilan sejarah Indonesia yang berhak menilai kebenaran sejarah. Sementara itu tugas sejarawan, yang selama ini dianggap sebagai sumber kebenaran, sebenarnya hanyalah menafsirkan fakta-fakta sejarah yang ada. Sejarawan tidak berhak menjadi orang yang merasa diri dan karyanya paling benar.
Soal penulisan sejarah Sulawesi Selatan, saya melihat ada dua macam penulis. Pertama penulis atau peneliti asing. Mereka bisa berlatarbelakang Sejarah maupun ilmu-ilmu social lain. Jumlah saya pikir cukup banyak. Sebut saja Leonard Andaya, Christian Pelras dan lainnya. Tentunya mereka-mereka ini bukan berdarah Sulawesi Selatan, malainkan dari luar Sulawesi Selatan. Mereka adalah peneliti yang cukup mumpuni di bidangnya masaing-masing dan telah memiliki karya ilmiah penting tentang Sulawesi Selatan.
Kedua, penulis asli Sulawesi Selatan. Mereka tentunya berdarah Sulawesi Selatan, bahkan masih berdomisili di Sulawesi Selatan. Mereka bisa berasal dari etnis Bugis maupun Makassar biasanya. Diantaranya adalah Haji Daeng Mangemba, Ahmad Ubbe dan lain-lain. Sebagian dari mereka adalah akademis yang berpengalaman dalam penelitian. Sebagian lagi, meski bisa jadi tidak memiliki pendidikan tinggi formal, namun mereka adalah orang yang mengerti dan peduli pada sejarah lokal Sulawesi Selatan. Mereka memiliki ikatan emosi yang cukup kuat dengan daerahnya.
Dari beberapa buku tentang Sulawesi Selatan yang saya baca, tulisan-tulisan tentang Sulawesi Selatan sudah cukup banyak. Baik yang ditulis oleh peneliti asing maupun pemerhati lokal yang berdarah asli Sulawesi Selatan. Meski saya lihat cukup banyak ditengah payahnya tradisi menulis di Indonesia, namun beberapa pihak menyatakan kurang. Sebuah hal yang wajar. Tradisi menulis sejarah di Indonesia, yang saya lihat paling menonjol adalah deerah Jawa secara umum, lalu disusul Sumatra Barat dan Sulawesi Selatan. Di Sumatra Barat, penulisan sejarah kota lebih menonjol. Sementara itu di Sulawesi Selatan adalah sejarah tokoh.
Penulisan sejarah tentang Sulawesi Selatan juga cukup terbantu dengan adanya buku biografi maupun autobiografi tokoh yang berasal Sulawesi Selatan seperti Jenderal M. Yusuf, Bahar Mattalioe, Arung Palaka (yang ditulis Leonard Andaya), dan tokoh-tokoh lain. Keberadaan biografi maupun autobiografi tokoh Sulawesi Selatan yang ada itu tentu sangat membantu penelitian maupun penulisan sejarah di masa mendatang.
Sementara itu beberapa penulis asli Sulawesi Selatan, meski tulisannya terkesan sebuah penelitian ringan, yang tentunya bukan berupa tesis maupun disertasi, tetap saja karya-karya tersebut penting dalam memperkaya khasanah penulisan dan tentunya pengetahuan tentang daerah Sulawesi Selatan apapun judulnya.
Semua penulisan sejarah tadi sangat penting dalam mendokumentasikan pentingnya Sulawesi Selatan dalam sejarah. Khususnya bagi Indonesia bagian timur. Apalagi sejarah kejayaan etnis-etnis di Sulawesi Selatan yang memiliki karya besar dan pengaruh politiik yang cukup besar juga di nusantara.

Jenderal dan Wanitanya

Sebagai manusia, jenderal juga bisa tergoda. Pada apa lagi kalau bukan pada harta, tahta dan wanita.

Manusia tak ada puasnya, begitu kata banyak orang. Kebutuhannya selalu tak terbatas. Kebutuhan itu pun tak pernah ada habisnya. Hidup juga menyajikan banyak godaan yang membuat kebutuhan manusia jad semakin banyak dan rumit. Mengikuti godaan berarti menjadikan hidup menjadi lebih rumit.


Jenderal Yani
Tersebutlah Yani. Alias Letnan Jenderal Ahmad Yani, Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ribuan tentara ada dalam komandonya. Dia memulai karir militernya sebagai Sersan topografi KNIL, lalu perwira PETA dan pelan-pelan jadi perwira tinggi TNI. Yani tergolong orang Indonesia beruntung karena bisa sekolah sampai Algemene Middelbare School (SMA di zaman Hindia Belanda). Yani menguasai beberapa bahasa asing.

Letnan Jenderal Ahmad Yani
        
  Dengan segala kecerdasan Yani menjadi perwira andalan di Divisi Diponegoro awalnya. Lalu ditarik ke Jakarta dan kuliah di Sekolah staf dan komando AD AS, di Fort Benning, AS. Karir Yani melesat setelah operasi penumpasan PRRI/Permesta di Sumatra.[1]
Semula, Yani adalah seorang yang lurus. Dia semula menolak poligami. Dia sayang pada istrinya, yang dipacari sejak zaman Jepang. Dimana Yani rela bersepeda dari Magelang ke Purworejo dengan jalan penuh tanjakan. Cinta Yani yang begitu besar tanjakan itu pun dilampui juga oleh Yani.
Hingga orang-orang tahu soal poligami yang dilakukan Yani. Banyak pejabat-pejabat di sekitar Sukarno dan istana Negara melakukan itu. Yani nampaknya terjebak Jakartanisasi yang membuatnya punya wanita lain. Poligami adalah isu yang nyaris tidak pernah didengar ditubuh militer.  Tidak banyak mengetahui hal ini karena tertutup dengan posisi Yani sebagai pahlawan nasional.
Poligami Yani, yang tentunya diam-diam itu, sungguh ironis. Karena sebelumnya Yani sempat melarang para prajurit AD melakukan poligami, namun Yani yang mengeluarkan larngan itu malah berpoligami.[2]
Istri kedua Yani, Khadjah, setelah Yani meninggal dalam sebuah tragedi bernama G 30 S, kemudian dinikahi oleh Letkol Herman Sarens Sudiro. Yang kemudian menjadi jenderal kaya penggemar motor gede, Harley Davidson.[3]  Herman dikenal pernah menikahi artis ibukota yang tidak begitu popular dan terlibat kasus korupsi dan peggelapan tanah negara.

Jenderal Sarwo

 
Kolonel Sarwo Edhi Wibowo

Ada lagi jenderal lain. Dia juga dituduh punya simpanan.  Tersebutlah Sarwo Edhi Wibowo. Sarwo, masih sekampung dengan Yani. Mereka tampak seperti saudara.  Ketika masih sama-sama di PETA mereka sudah saling kenal. Sarwo adalah perwira dengan karakter keras. Mereka cukup dekat meski pernah berkonflik. Suatu kali karena suatu perkara, pangkat Sarwo yang semula kapten diturunkan menjadi Letnan Satu. Hal itu membuat Sarwo sakit hati meski tak ada dendam pada Yani.
Ketika Yani menjadi Jenderal, Sarwo masih Kolonel. Pengalaman Sarwo Edhi di militer jelas tidak diragukan. Tidak heran jika dia kemudian dijadikan Komandan RPKAD (Kopassus) sekarang. Meski banyak yang meragukannya karena bukan berlatar belakang pedidikan komando. Karenanya, Sarwo ikut pelatihan singkat komando. Ketika menjabat komandan RPKAD, Sarwo pun bisa membuktikan ketangguhannya sebagai komandan operasi pasca G 30 S—yang menewaskan beberapa perwira tinggi AD. Dimana Sarwo memimpin operasi penumpasan pengikut PKI di Jawa. Dimana dia jadi berjarak dengan istrinya.
Di Jogja, Sri Wulan baru saja kehilangan suaminya kolonel Katamso Darmokusumo. Sarwo datang ke Jogja bak pahlawan perang tentunya. Betapa tidak, Sarwo ikut menghabisi orang-orang, yang barangkali di mata Sri Wulan adalah orang-orang yang membuatnya jadi janda.  Banyak perwira datang ke rumah sang janda agar kuat setelah ditinggal. Tak ketinggalan Sarwo juga datang. Pertemuan itu berulang.
Di kalangan para jenderal AD pasca G 30 S, Sri Wulan adalah sosok yang mempesona. “Istri Katamso cantik dan seksi sekali,”kata seorang jenderal. Sarwo, sosok yang gagah dimata wanita, itu pun bisa jatuh hati pada Sri Wulan. Ini godaan besar bagi Sarwo tentunya. Sarwo punya istri yang jelas setia dan juga anak-anak. Sarwo tentu bukan tipikal orang suka menyakiti wanita.
Sebagai wanita yang baru tinggalkan suaminya, dalam sebuah kematian yang tragis, Sarwo tentu iba. Bukan tidak mungkin itu menimbulkan rasa kasih Sarwo pada Wulan. Sarwo jadi rajin berkunjung ke rumah Wulan selama operasi di Jawa Tengah. Hingga secara alami mereka menjalin hubungan yang cukup rumit.
Di permukaan kehidupan rumah tangga Sarwo tampak baik-baik saja, karena tidak ada perceraian karena hubungan itu. Konon, dari hubungan itu, lahir seorang anak yang diberi nama Hartanto yang dijadikan anak angkat Sarwo. Dimana dia diperlakukan sebagai anak sendiri oleh Sarwo dan istrinya Sunarti.[4]  
Berhubung Ani Yudoyono adalah putri Sarwo Edhi Wibowo, cerita cinta Sarwo dan Sri Wulan bisa jadi cerita yang sangat seru. Tapi tidak bagi Partai Demokrat dimana Susilo Bambang Yudoyono, sang menantu, adalah Dewan Pembinanya. Seuah kisah cinta hebat bagi musuh Demokrat tentunya.
Beberapa pejabat Indonesia memang suka selingkuh. Namun selingkuhan tentunya hanya wanita muda yang masih cantik dan segar di mata mereka. Beda dengan Sarwo, meski Sri Wulan masih cantik, hubungan mereka lebih digiring karena keadaan Indonesia yang kacau. Selingkuh memang Indah, bagi pelaku pastinya.

***
Begitulah kisah Yani dan Sarwo. Kesamaan dua jenderal asal Purworejo ini adalah, meski mereka kepingcut pada wanita lain, mereka tidak bisa tinggalkan istri pertama mereka. Bagaimana pun istri pertama adalah istri perjuangan. Lebih dari kawan semasa dalam penderitaan. Bersama istri pertama pula terkadang karir dan mimpi dibangun.





[1] Amelia Yani, Ahmad Yani: Profil Seorang Prajurit TNI, Jakarta, Sinar Harapan, 1998.

[2] Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta, LP3ES, 2005, hlm. 100.

[3] Tempo, 25 Januari 2010

[4] Tempo, 13 November 2011

Rabu, Desember 28, 2011

Dibawah Naungan Pink Floyd

Pink Floyd menghentikan langkah saya. Dan saya mulai menulis catatan perjalanan singkat ini.

Saya ingin pergi tidur di penginapan. Rupanya ada yang menahan saya. Bukan orang jauh, sekelompok pemuda keren di masa lalu, yang kesohor dengan rock eksperimentalnya. Siapa lagi kalau bukan Pink Floyd. Setelah berhari-hari, saya dengarkan lagi sealbum The Wall dari Pink Floyd. Ini begitu luar biasa. Sebuah Café yang tak jauh dari jam Gadang Bukittinggi.

Tak disangka, di kota elok macam Bukittinggi pun saya masih bisa mendengar musik-musik mereka. Musik yang mewarnai masa-masa kreatif saya dan sesudahnya. Musik Pink Floyd, kadang jadi teman mabuk, atau menikmati narkoba. Saya menikmatinya untuk menulis atau mengerjakan hal diluar menulis. Pink Floyd membuat saya menulis cacatan perjalanan singkat ini. Ketika menulis kalimat ini, Comfortable Numb sedang diputar di café.

Padang, 23 Desember 2011

Padang adalah kota pertama yang saya singgahi. Bersama Arif—murd saya—dan juga Hafif (adik Arif), kami pergi ke Museum Adityawarman setelah Shalat Jum’at. Sialnya Museum sedang dipugar lagi. Mungkin karena Gempa 30 Setember 2009. Beberapa bangunan masih menjadi saksi gempa tersebut. Namun, lebih banyak lagi banguna yang diperbaiki. Tidak lama kami di Museum.

Kami lalu pergi ke Teluk Bayur. Kawasan pelabuhan yang cukup sohor di masa lalu. Dulu Teluk Bayur disebut Emma Haven. Kota Padang cukup kecil dan tenang. Dimasa lalu, Padang adalah kota dengan sarana pendidikan yang cukup baik. Karena sudah ada MULO (SMP) di zaman kolonial. Hatta dan Rosihan Anwar adalah lulusan MULO Padang.

Sawahlunto, 25 Desember 2011

Bersama keluarga besar Pak Irman, kami menuju kota tambang Sawahlunto yang cukup kesohor itu. Kota ini tidak banyak berubah sepertinya. Tata kotanya tidak banyak berubah meski produksi batubaranya tidak seperti dulu.

Kami bisa temukan bekas Dapur besar yang kini disebut Museum Gudang Ransum. Ini adalah Dapur umur terbesar dalam sejarah Indonesia. Dapur ini bisa memberi makan seisi kota Sawahlunto—yang hidup dari pertambangan batubara. Tidak jauh dari museum juga terdapat lubang Mbah Suro. Nama Jawa ini dimaksudkan untuk menghargai jasa mandor yang bernama Surono yang dikenal sebagai Mbah Suro ini.

Setelah masuk Museum dan melihat tungku-tungku besar dan foto-foto buruh tambang. Kami melihat nisan tak barnama, namun berangka. Angka itu sepertinya no register buruh tambang. Nama buruh tak menjadi hal penting. Sepertinya itu nisan dari buruh yang meninggal.

Batusangkar, 26 Desember

Adityawarwan yang ternyata pengikut sekte Bhairawa—ajaran pra Islam yang punya ritual mempersembahkan manusia sebagai kurban. Diperkirakan, sisa kerajaan Adityawarman, yakni Pagaruyung, bisa ditemukan jejak-jejaknya di daerah Batusangkar (Kabupaten Tanah Datar). Dimana beberapa prasasti dan beberapa kuburan dengan nisan yang bentuknya cukup unik bisa ditemukan dipinggir jalan.[1]

Tahun 1818,Thomas Stanford Raffless pernah berkunjung ke daerah sini. Dia sudah tidak menjadi Letnan Gubernur Jenderal Inggris lagi ketika itu. Ketika melakukan perjalanan itu, Raffless menemukan reruntuhan kerajaan Pagaruyung itu.[2]

Bukittinggi, 26-27 Desember 2011

Beruntung, keluarga Arif mengantar saya sampai Bukittinggi. Kota ini menjadi tujuan saya dari awal. Objek pertama yang saya lihat adalah Jam Gadang yang kesohor itu. Dimana angka empat (4) tidak ditulis IV (dalam Romawi), melainkan IIII. Unik juga. Setelah berpisah dengan keluarga Arif yang besar kebaikannya pada saya, saya mencari penginapan murah.

Setelah mendapat kamar dan mandi, saya menyusuri bukit tinggi di malam hari. Saya masih penasaran dengan gedung SMA Negeri 2 Bukittinggi. Saya curiga itu adalah bekas kweekschool Fort de Kock. Sekolah guru tertua di Indonesia. Saya kesana dan bertanya, tapi belum yakin. Setelah itu saya kembali ke kamar dan tidur nyenyak hingga pagi.

Bangun tidur, saya langsung berjalan mencari benteng Fort de Kock dan Ngarai Sianok. Jalan pun saya susuri hingga saya mencapai lembah di Ngarai Sianok. Sebuah sungai membelah ngarai. Airnya cukup jernih meski ada sampah-sampah yang tidak sedap dipandang mata.

Dari Ngarai, saya bergerak menuju benteng. Letaknya tidak terlalu jauh. Bisa dengan berjalan kaki. Udaranya di pagi hari cukup sejuk. Sampai benteng, pikiran saya tertuju pada Jenderal Markus de Kock. Jenderal Belanda yang berhasil menjerat Diponegoro. Dan perlawanan Diponegoro berakhir karenanya.

Fort de Kock adalah benteng alami. Tanpa tembok besar seperti benteng-benteng pada umumnya. Letak fort de Kock adalah diatas bukit yang indah. Benteng ini dibangun dimasa Perang Paderi oleh Kapten Beuss. Benteng ini beralih fungsi menjadi kebun binatang yang tidak banyak koleksinya. Tempat ini rindang, cocok dijadikan tempat bersantai.

Ada jembatan Limpapeh yang menghubungkan benteng dengan bukit lain. Panjangnya sekitar 25 meter. Dari jembatan, sebagian kota kecil Bukittinggi terlihat. Terutama kampong Cino.

Dari kebun binatang, saya menuju rumah kelahiran Bung Hatta. Letaknya tidak begitu jauh dari Kebun Binatang. Hanya mencari tangga dekat Pasar Wisata, lalu turun dan letaknya tidak jauh dari pertigaan di Pasar Banto. Tidak sulit mencarinya. Warga Bukittingi pasti tahu tempat itu. Rumah ini termasuk bangunan lama. Kawasan ini sekarang adalah pasar. Dulunya, ada areal persawahan di depan rumah.

Hatta, adalah contoh dari anak keluarga pedagang yang cukup berada di Pasar Bawah, Bukittinggi. Rumah orangtua Hatta, cukup besar dan bagus. Keluarga ini memiliki sebuah bendi (kereta kuda) beserta kudanya.[3] Hatta kemudian bersekolah di MULO Padang setamat ELS Bukittinggi. Hatta adalah kebanggaan wargakota Bukittinggi.

Hari ini adalah tanggal penting bagi Hatta. Di Den Haag, 27 Desember 1949, Hatta menandatangi kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB). Dimana Belanda mengembalikan kedaulatan Indonesia, yang dirampas karena serangan militer dan pendudukan Belanda di Indonesia. Dimana Hatta adalah ketua delegasi Indonesia disana.

Tempat lain di Bukittinggi yang bersejarah adalah pusat Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Syafrudin Prawiranegara. Apajadinya jika PDRI tidak ada. RI pasti selesai karena Jogja sebagai ibukota diduduki tentara Belanda dan Pemimpin besar Republik ditangkap. PDRI nampaknya tidak bisa dihabisi Tentara Belanda karena Bukittinggi adalah kota yang memiliki benteng alam yang cukup baik. Sangat sulit tentara Belanda mengerahkan pasukan ke Bukittinggi. Gerilyawan pro Republik bisa menyergap mereka ketika berjalan menanjak ke arah Bukittinggi. Kata Prof Syafii Maarif, dosen saya kuliah dulu, Bukittinggi kota pedalaman yang sulit dijangkau.[4]

Siang ini, saya kunjungi lagi SMAN 2 Bukittinggi untuk memastikan ini adalah Kweekschool Fort de Kock dulunya. Saya perkirakan, gedung SMA Negeri 2 Bukittinggi[5] dulunya adalah Kweekschool (sekolah guru), yang orang biasa sebut Sekolah Raja.

Saya mujur perkiraan saya benar. Gedung SMA 2, dulunya adalah Kweekshool Fort de Kock. Gedung ini sengaja dipertahankan dan masih digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Saya kira, Harry Albert Poeze pernah mengunjungi sekolah ini karena dia adalah ahli soal Tan Malaka dan juga ahli sekali soal sejarah kemerdekaan Indonesia.[6]

Di dalam gedung tua ini, sebuah foto tua masih terpampang. Juga beberapa tulisana berbahasa Belanda yang memastikan bahwa ini dulunya adalah Kweekschool Bukittinggi. Mungkin, para siswa tidak pernah tahu jika gedung sekolah ini, yang pernah disebut sekolah raja adalah sekolah guru tertua di Indonesia.

Siang ini, siswa-siswi yang classmeeting pasca ujian belum pulang. Guru-guru masih rapat. Saya putuskan untuk memotret dan menulis. Akhirnya saya diperbolehkan memotret. Setelah memotret saya putuskan mencari bekas kantor PDRI (Pemerintah Daruarat Republik Indonesia). Ada petugas yang menyatakan jika kantor dinas pendidikan dulunya kantor PDRI, namun banyak yang tidak yakin.

Payakumbuh, 27 Desember

Saya putuskan pergi ke kampong Tan Malaka siang ini. Saya naik colt L300 dari Bukittinggi. Mobil ini membawa saya ke Suliki, salah satu kecamatan di Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan ke kampong Tan Malaka cukup indah. Jauh dari modern ketika Tan Malaka kecil.

Ketika sampai Payakumbuh, saya terkejut melihat sebuah jalan bernama Tan Malaka. Ini pertama kalinya saya melihat nama jalan dari tokoh kiri hebat macam dia. Saya segera sumringah. Saya hampir sampai rasanya. Saya lalu berganti mobil. Jarang ada mobil ke Padamgadang, kampong Tan Malaka.

Sebagian orang bilang hanya ojek yang bisa bawa saya. Tapi, seorang Ibu yang berjualan lotek menolong saya mencarikan mobil. Setelah menghabiskan lotek saya pun berangkat ke Padamgadang.

Saya belum tahu persis dimana lokasinya. Saya katakana ke sopir, “rumah Tan Malaka”. Supir mengerti dan menurunkan saya di kaki bukit. “Itu, kata dia. Saya turun dan bayar bis lalu keluar. Hanya beberapa puluh meter dari jalan raya. Kata remaja yang tinggal dekat situ, rumah tidak terkunci. Saya masuk.

Tidak ada yang isitimewa di dalamnya. Hanya ada buku-buku terkait dengan Tan Malaka. Seperti Dari Penjara ke Penjara yang legendaries itu. Sudah pasti buku tulisan Harry Albert Poeze—seorang Indonesianis yang selama 30 tahun meneliti tentang Tan Malaka. Saya pernah bertanya, pada Poeze dalam sebuah diskusi di Jogja,kenapa dia betah meneliti Tan Malaka selama 30 tahun? Poeze bilang pada saya, dia melihat sejarah perubahan Indonesia dari perjuangan puluhan tahun dari Tan Malaka.

Ya. Saya percaya hal itu. Tan Malaka memang layak disebut Bapak Republik. Entah karena pikirannya dalam buku Menuju Republik dan juga perjuangannya hingga menjadi buronan Negara Imperialis macam Belanda dan Inggris. Sayang penghargaan pada Tan Malaka begitu kurang. Ini karena kebodohan sejarawan pemerintah yang sok anti komunis, namun tidak pernah tahu esensi dari komunis.

Saya tidak lama di rumah Tan Malaka. Hari hampir sore dan saya harus ke kota yang lain lagi. Hari ini saya sudah ke sekolahnya (di Kweekschool Bukittinggi) dan ke rumahnya juga. Saya seperti mencari teman yang membolos karena pulang kampong. Pada Tan Malaka, saya ingin katakana sesuatu:

“Bung, aku tadi ke sekolahmu. Kau tak disana. Apa kau sedang mebolos di jam gadang? Rasanya tidak. Apa kau sedang ngedate sama Syarifah Nawawi? Wah kurang ajar kau! Kau berani kecengi anak guru. Aku lalu ke rumahmu. Eh kau juga tak ada. Aku mau bertanya Tan, kenapa kau tidak pulang saja ke kampung selulus dari Kweekschool? Hidupmu akan lebih baik. jadi guru yang dihormati. Kau juga tidak akan menjomblo di akhir hidupmu. Setahu aku, gadis Suliki manis-manis Tan. Kau bisa dapat satu setidaknya. Yang paling cantik diantara mereka. Yah. Apa boleh buat, kau pilih jalanmu seperti kupilih jalanku, jalan-jalan. Aku seperti lupa fakta sejarah, kau sudah dihabisi di Kediri. Tapi aku harus bilang kau petualang dan pejuang sejati bung. Salam dariku.”

Perjalanan di Sumatra Barat sejauh ini menyenangkan. Butuh banyak waktu lagi. Terlalu banyak yang harus disinggahi. Tidak semua saya singgahi. Hanya sebagian kecil. Perlu juga untuk kunjungi tanah Minang ini suatu hari. Kuputuskan tinggalkan Payakumbuh. Menuju kota lain sebelum akhirnya kembali bekerja.

Note:

[1] Saya berucap banyak terimakasih pada keluarga besar Bapak Irman dan Pak John yang membawa dan memperkenalkan pada saya tempat bersejarah sisa istana Pagaruyung di Batusangkar dan juga alam indah tanah Minangkabau.

[2] Anthony Reid (peny), Sumatra Tempo Doeloe, Jakarta, Komunitas Bambu, 2011, hlm. 203-211.

[3] Rumah Hatta bisa dikunjungi hingga kini. Kejayaan keluarga orangtua Hatta sebagai pedagang yang terpandang masih bisa disaksikan.

[4] Prof Achmad Syafii Maarif mengatakan itu ketika dalam perkuliahan. Syafii jelas tahu hal itu karena beliau berasal dari Sumpurkudus, yang tidak terlalu jauh dari Bukittinggi.

[5] SMA 2 di kota-kota Indonesia, biasanya adalah bekas Sekolah Pendidikan Guru (SPG).

[6] Sangat jarang siswa yang tahu jika di gedung yang menjadi kelas dan kantor guru itu dulunya adalah tempat Tan Malaka sekolah. Mereka mungkin tidak pernah tahu jika Tan Malaka adalah Bapak Republik.

Sabtu, Desember 03, 2011

Tentang Danu

Ada dua Douwes Dekker yang bikin kesal pemerintah kolonial, karena simpati mereka pada rakyat Hindia. Namun hanya EFE Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi saja yang bisa lihat Hindia menjadi Indonesia.


Danudirja Setiabudi


Heran juga ada bapak-bapak dengan rupa agak bule bernama Kesworo.[1] Usut punya usut, ternyata bapak-bapak bule ini anak dari Danudirja Setiabudi. Dia Pahlawan Nasional Indonesia. Seorang Indo, yang dimata orang Indonesia sebagai orang baik hati.

Orang lebih kenal Danudirja Setiabudi sebagai Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Kadang timbul salah tafsir jika Douwes Dekker yang dikenal sebagai Danudirja Setiabudi ini sama dengan Multatuli, karena sama-sama Douwes Dekker. Douwes Dekker yang Multatuli—yang menggegerkan Negeri Belanda karena buku Max Havelaar-nya mengkritik habis system tanam paksa, yang punya nama Edward Douwes Dekker, sebenarnya masih satu keluarga besar Douwes Dekker. Ada yang menyebut EFE Douwes Dekker keponakan dari Edward Douwes Dekker.[2] Mari kita sapa EFE Douwes Dekker sebagai Danu saja, agar lebih santai.

Sedari muda, Danu seorang petualang. Pecinta kebebasan. Lepas HBS[3] Danu pernah kerja sebentar di sebuah perkebunan kopi. Di usia yang baru 22 tahun, Danu bertualang ke Afrika Selatan. Terlibat dalam perang Boer. Dimana dia berada dipihak Boer dan melawan Inggris. Namun dia ditawan oleh tentara Inggris lalu ditahan di Srilangka sebentar. Danu, kemudian dibebaskan dan kembal ke Hindia Belanda (Indonesia).

Hidup baru setelah kebebasan dari penjara kolonial, dijalani Danu sebagai jurnalis. Dia pernah bekerja di De Locomotief dan beberapa suratkabar berbahasa Belanda lainnya. Selama menjadi jurnalis, Danu sempat mengunjungi Belanda, antara tahun 1909-1910. Sekembali dari Negeri Belanda, Danu lalu berhasil mendirikan harian De Express.

Danu kemudian teribat gerakan politik. Danu seperti wakil orang-orang Indo yang menginginkan adanya perubahan di Hindia Belanda. Selain Danu, beberapa orang dengan nama Douwes Dekker, tergabung dalam kelompok sosialis di Hindia Belanda.[4] Tentu saja, Danu berbeda dengan orang-orang Indo kebanyakan yang mengeklusifkan diri—karena kalah status dengan dan direndahkan oleh Belanda totok, juga tidak mau disamakan dengan pribumi.

Danu adalah orang terbuka. Nyata, dia bersama dr Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat adalah Tiga Serangkai pendiri Indische Partij. Sebuah partai terbuka bagi semua orang di Hinda, entah Indo atau pribumi. Kaum Indo kadang dikenal sebagai kaum Insulinde.

Indische Partij berdiri tepat Natal 25 Desember 1912, setelah Tiga Serangkai melakukan perjalanan propaganda keliling Jawa. Tahun 1913, adalah tahun pengusiran Danu karena aktifitas politiknya yang dengan pedas mengkriti pemerintah kolonial. Hingga Danu harus angkat kaki dar Hindia. Danu memilh ke Belanda dan memilih belajar di sana.

Danu baru kembali pada 1918. Dimana dia bergerak dibidang pendidikan. Dia menjadi direktur dari Ksatriaan Institut 1924.[5] Sebuah perguruan modern yang cukup dipandang sebagai pembibitan pemuda Indonesia. Di Ksatriaan Institut, pendidikan kepada anak-anak Indonesia semakin bisa semakin ternikmati. Salah satu jebolan Ksatrian Institut adalah Baharudin Muhamad Diah, yang dikenal sebagai tokoh pers Indonesia.

Ketika perang di Pasifik mulai bergolak, Danu mulai dekat dengan orang-orang Jepang. Seperti juga Husni Thamrin yang anggota Volksraad. Mereka berdua pun mulai diawasi pemerintah kolonial. Danu berencana mengirimkan beberapa pemuda lulusan Ksatrian Institut ke Jepang. Tentu saja ini membuat para pemerintah berang, meski Hindia Belanda dan Jepang belum terlibat perang secara langsung. Jika kemudian Danu ditangkap oleh aparat hukum kolonial pada Januari 1941 di Ngawi, maka Husni Thamrin harus meninggal dalam tahanan rumah.[6]

Selanjutnya, Danu jalani hukuman dari pemerintah kolonial untuk ketiga kalinya. Dia mengalami pembuangan ke Suriname. Tahun 1945, ketika di Negeri Belanda, Danu akhirnya mendengar kabar proklamasi Indonesia. Dia pun segera kembali ke Indonesia yang dia cintai. Beberapa waktu tinggal di Indonesia, ketika Syahrir menjadi Perdana Menteri, Danu dimasukan dalam kabinet sebagai Menteri Negara. Danu, pada 1952, meninggal dunia di tanah yang diperjuangkan kemerdekaannya.

Danu sempat menikah dua kali seumur hidupnya. Anak dari istri terakhirnya rela dinamai Kesworo, karena kecintaannya pada Indonesia. Nama Kesworo mengingatkan saya pada Kisworo alias Klowor alias Iswara NR yang pernah punya bajing yang dinamai Douwes Dekker. Bukan ingin merendahkan, tapi sebagai penghormatan unik ala kawan saya itu. Belakangan, bajing bernama Douwes Dekker itu kabur entah kemana? Yah Douwes Dekker memang berjiwa bebas dan tidak ingin hidup dalam sangkar. Bukan cuma Douwes Dekker si bajing, tapi juga dua orang bernama Douwes Dekker yang pernah hidup di Indonesia. Mereka berdua tidak melulu kejar kebebasan, tapi juga tidak ingin melihat orang lain menderita.

[1] Kesworo mengingatkan saya pada Kisworo alias Klowor alias Iswara NR yang pernah punya bajing yang dinamai Douwes Dekker

[2] Ensiklopedi Umum, Kanisius, 1973, hlm. 350-351.

[3] HBS: Hogare Burger School (sekolah menengah lima tahun). Sebuah sekolah elit yang hanya bias dimasuki anak dari kalangan keluarga berada saja.

[4] Periksa buku Hans Meirt, Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930, Jakarta, Hasta Mitra, 2003.

[5] Surat Gubernur Jenderal tertanggal 15 Januari 1923 no. 3 A x Geheim, dalam Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta, Balai Pustaka, 2008, hlm. 288.

[6] Tentang kematian Thamrin lihat dalam Bob Hering, M. H. Thamrin : Membangun Nasionalisme Indonesia, Jakarta, Hasta Mitra, 2003.


Kamis, Desember 01, 2011

Meniru Saudara Tua

Akan datang orang kate dari utara membawa bambu wulung untuk mengusir kebo bule. Begitu isi ramalan Jayabaya sebelum Saudara Tua datang.

Tentara Jepang datang sebagai pahlawan setelah Hindia Belanda dibungkam pada Maret 1942. Butuh waktu 2 minggu menyikat Hindia Belanda. Namun sejak 1916 sudah ada spionase Jepang di Hindia Belanda yang terus memantau Hindia Belanda. Karenanya dengan mudah Belanda kalah. Selanjutnya, tentara Jepang memberi pengaruh bagi Indonesia.

Dari beberapa buku biografi tokoh Indonesia, khususnya tokoh-tokoh militer Indonesia yang saya baca, diantara mereka adalah didikan Jepang. Djatikusumo, bekas KSAD pertama ini menganggap Jepang hebat dalam mendidik pemuda Indonesia. Maklum, di KNIL Djati hanya sampai pangkat Kopral taruna. Sementara di PETA , cukup dengan latihan tiga bulan Djatikusumo sudah jadi Chudanco alias komandan kompi setara kapten. Tokoh lain yang dididik Jepang adalah Suharto, Ahmad Yani, Sarwo Edhi Wibowo, Supriyadi, Zulkifli Lubis dan Kemal Idris. Tiga nama terakhir, tidak terlalu bangga menjadi bagian dari PETA. Usia mereka agak lebih muda dibanding Suharto dan Yani. Mereka lebih dulu dididik sebagai militer sebelum PETA berdiri. Tiga nama pertama, tidak menunjukan rasa bangga berlebih juga, namun mereka bisa meraih pangkat tinggi di kemudian hari. Mereka adalah orang-orang beruntung dari yang pertama.

Tiga nama terakhir kemudian menjadi orang dominan dalam militer Indonesia. Mereka membuat TNI lebih mirip tentara pendudukan Jepang. Dimana tentara begitu mendominasi. Pengaruh Suharto dan kawan-kawan yang pernah dididik tentara Jepang, memberikan pengaruh besar dalam pendidikan Indonesia. Di level sekolah menengah, pengaruh tentara pendudukan Jepang masih tersisa. Ketika Jepang berkuasa, ada yang disebut senam pagi massal yang disebut Taiso. Dimana semua siswa harus bergerak seragam. Setiap gerakan salah jadi hal memalukan. Arahnya, adalah penyeragaman isi kepala juga. Dimana ada tujuan agar semua orang bisa jadi orang penurut. Begitu juga dengan latihan baris-berbaris yang melelahkan. Akhirnya, dari Jepang militerisme adalah yang paling jaga. Sementara itu, gaya militer fasis yang pernah dibawa ke Indonesia sudah ditinggalkan oleh militer Jepang.

Banyak hal dari Jepang yang berusaha ditiru oleh orang-orang Indonesia. Mulai dari kuliner, olahraga dan lainnya. Orang Indonesia kenal Karate, Judo bahkan Aikido sebagai olahraga beladiri. Banyak orang Indonesia mempelajarinya, meski sedikit diantaranya yang bisa menangkap filosopi dari olahraga itu. Beberapa diantara orang Indonesia yang mempelajari itu bisa sukses. Hanya sedikit yang seberuntung itu.

Sebagai saudara muda, hanya sedikit yang dipelajari Indonesia dari Jepang. Indonesia, lebih suka meneruskan budaya berbau fasis, seperti senam pagi di sekolah, segaram sekolah dan semacamnya. Tanpa pernah bisa belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan. Kita tahu Jepang pernah begitu hancur setelah hancur lebur dibom sekutu. Sebuah kekalahan yang cukup memukul juga. Namun Jepang bisa bangkit dengan cepat. Musibah apa yang bisa membuat orang Jepang menyerah? Rasanya belum pernah kita dengar. Pasca tsunami dan kebocoran reactor nuklirnya di Fukushima, Jepang masih maju terus.

Tidak banyak yang berubah dari Indonesia sejak krisis monoter 1998. Meski lebih kaya dari sisi potensi alam, namun tidak banyak memberi kemajuan bagi Indonesia. Banyak yang mengakui bahwa Indonesia melakukan banyak kesalahan dalam mengelola kekayaan alam. Selain itu, etos untuk menjaga dan mengelola segala sumber daya yang ada juga begitu kurang.

Sebenarnya, meniru Jepang adalah bagaimana belajar mengelola kekayaan alam yang ada tanpa harus merusak, meniru semangat kerja kerasnya, dan bagaimana menghargai sisa-sisa tradisi masa lalu. Tiga hal itu belum dimililki orang Indonesia.

Dari Guruh Anak Sukarno

Melati Suci, bisa membuat kita ingat Guruh. Selain itu, lagu bermakna dalam ini seperti identik dengan Kaum Hawa.



Sejujurnya, Sukarno bukan idola dan kebanggaan saya. Meski membencinya, karena melarang rock n’roll dan memenjarakan Syahrir, saya salut dengan perlawanan Sukarno pada Negara besar bermental neo-kolonialis. Sukarno boleh disejajarkan dengan Guevara, Castro dan Tito. Mereka yang terhebat sebelum Evo Morales, Ahmadinejad jadi di idola dunia ketiga. Jika ditanya, siapa yang terhebat di dunia ketiga, merekalah jawabnya.



Kembali ke Sukarno, banyak yang tidak saya suka dari dinasti politik keluarga Sukarno. Saya tidak suka Megawati, yang rada bikin malu wanita dan Ibu-ibu Indonesia, karena jago mutung. Diluar masalah politik, dari keluarga Sukarno, saya suka dari keluarga Sukarno adalah Guruh. Bukan karena dia tampan dan saya tidak, tapi soal kontribusi Guruh dalam kesenian. Seniman Indonesia di dekade-dekade lalu, pasti tahu Guruh. Siapa yang tak tahu Swara Mahardika? Dimasa lalu.



Di music Guruh juga kontribusi, meski tidak banyak generasi sekarang yang tahu. Guruh dianggap berkontribusi dalam musik-musik eksperimental yang dirilisnya bersama Gipsy. Dimana Almarhum Chrisye juga bergabung. Mereka pernah membuat Chopin Larung, sebuah repertoar sepanjang 7.17. Dimana musik etnik ala Indonesia dan sentuhan piano modern. Penikmat psikedelik mungkin akan senang mendengarnya. Bagi saya, Guruh dan kawan-kawan Gipsy-nya bisa disejajarkan dengan band psikedelik macam Pink Floyd.



Karya Guruh yang paling banyak disuka tentunya, Melati Suci. Sebuah lagu yang begitu puitis dan mendalam. Musiknya pun adalah alunan stringsection (alat gesek), piano flute, marching bell dan lainnya. Saya kira lagu ini termasuk lagu yang tidak boleh dilupakan orang Indonesia.



Garuh, sepertinya menulis lagu ini untuk ibunya. Mendengarnya, saya ingat Fatmawati—ibu yang melahirkan putra bernama Guruh Sukarno Putra. Kecintaan Sukarno pada seni menurun pada Guruh. Sepertinya, Guruh dilahirkan untuk seni. Sukarno tentu akan bangga pada anak bungsunya dari Fatmawati ini.





Putih

Putih melati

Mekar di taman sari

Semerbak wangi penjuru bumi



Seri

Seri melati

Bersemi anggun asri

Kucipta dalam gubahan hati



Tajuk bak permata

Siratan bintang kejora

'Kan kupersembahkan

Bagimu pahlawan bangsa

Putiknya persona

Rama-rama 'neka warna

'Kan kupersembahkan

Bagi pandu Indonesia



Suci

Suci melati

Suntingan 'bu Pertiwi

Lambang nan luhur budi pekerti



Tajuk bak permata

Siratan bintang kejora

'Kan kupersembahkan

Bagimu pahlawan bangsa

Putiknya persona

Rama-rama 'neka warna

'Kan kupersembahkan

Bagi pandu Indonesia



Suci

Suci melati

Suntingan 'bu Pertiwi

Lambang nan luhur budi pekerti



Oh, melati ...

Oh, melati ...

Oh, melati ...



Begitulah lirik Melati Suci. Mau tenggelam seperti apapun, Guruh pernah menjadi yang terbaik dan juga membuat sesuatu yang baik bagi dunia musik Indonesia. Melati Suci adalah salah satu terbaik dari Guruh Sukarno Putra.



NB: Guruh terlahir dengan sebagai Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra di Jakarta, 13 Januari 1953. Guruh pernah aktif sebagai anggota Parlemen yang berani mencalonkan diri sebagai Presiden ketika Orde Baru Suharto masih kuat. Lagu Melati Suci, silahkan didownload saja di internet.

Sabtu, November 19, 2011

Anak Kolong


"Tak ada ranjang, kolong pun jadi," begitulah fenomena anak kolong (anak tentara) dimasa-lalu. Anak Kolong sering ikuti jejak sang ayah, jadi tentara juga.


Tak kenal takut, tak kenal jorok dan agak bengal, rasanya itu yang dimiliki anak tentara. Mereka bisa bermain dimana saja. Tentu di mulai dari belakang tangsi, lalu ke sawah, sungai atau kemana saja. Boleh mengganggu siapa saja yang lewat. Tak ada yang berani sama anak kolong. Mirip cerita Teto dalam Burung-Burung Manyar.[1] Gambaran anak perwira KNIL di Magelang. Meski anak perwira, Teto dengan senang hati main dengan anak-anak kopral atau Spandrig—yang pangkatnya lebih rendah dari pada ayahnya yang Letnan KNIL.

Dimana istilah anak kolong bermula? Ini karena sempitnya tangsi. Dimana serdadu KNIL beristri selalu bawa anak-anak mereka jika mereka dimutasi. Setiap serdadu cuma punya jatah tempat tidur sempit. Hingga anak-anak mereka kudu tidur dan main dibawah kolong tempat ayah dan ibu mereka tidur.[2]

Rasanya, kondisi ini terjadi di awal-awal abad XX. Nasib anak kolong pelan-pelan pasti agak berubah. Dan predikat anak kolong kemudian tidak hanya untuk anak dari serdadu KNIL semata tapi juga anak-anak prajurit TNI.



Anak Tentara Jadi Tentara

Biasanya, anak tentara juga bakal jadi tentara. Begitulah yang terjadi bagi sebagaian orang. Banyak juga, bahkan lebih banyak anak tentara yang tidak jadi tentara. Biasanya karena tidak mau. Terlalu banyak aturan, tidak bebas, gaji kecil dan lainnya biasanya jadi alasan.

Dalam sejarahnya, banyak anak-anak dari tentara yang menjadi tentara. Sebut saja Vintje Sumual, Alex Kawilarang dan juga Nicolaas Sulu. Vintje Sumual juga anak serdadu KNIL. Vintje tidak bergabung dengan KNIL. Dia memilih belajar di sekolah pelayaran. Dimana dia kemudian melakukan pembangkangan terhadap perwira militer Jepang di kapal Jepang. Vintje lalu lari ke Jakarta. Dimana dia pernah berkumpul dan berjuang dengan para jagoan Senen.[3] Perang Kemerdekaan lalu membawa Vintje masuk TNI. Dimana dia bisa menjadi perwira. Dia kembali ke tanah kelahirannya sebagai Mayor. Vintje juga terlibat dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Serangan yang melambungkan nama Suharto.

Semua prajurit Kopassus pasti tahu siapa Alex Kawilarang. Alex adalah salah satu pendiri Kopassus. Ayah Alex adalah seorang mayor KNIL, Adolf Kawilarang. Tergolong sebagai pemuda-pemuda pertama yang masuk sekolah militer di Meester Cornelis (Jatinegara). Ayah Alex, termasuk orang Indonesia dengan pangkat tertinggi di KNIL. Adolf Kawilarang selalu berpindah-pindah tugas. Untuk itu dia harus membawa keluarganya. Termasuk Alex. Semasa di Tarutung, Sumatra Utara, Alex pernah ikut ayahnya patrol. Ayah Alex pernah menjadi komandan Kompi Infanteri KNIL di Tarutung, sebuah daerah yang menyisakan banyak instalasi militer sampai saat ini, pada dekade 1930an. Profesi sang ayah begitu mempengaruhi Alex. Dimana kemudian Alex pernah menjadi vaandrig (pembantu Letnan) di KNIL setelah lulus dari Koninklijk Militaire Academie (KMA) di Bandung. [4]

Kawan sekelasnya adalah Simatupang dan Nasution. Jika kedua kawannya itu ahli dalam masalah teori dan strategi militer, maka Alex ahli sebagai perwira lapangan yang bisa menguasai pertempuran. Tidak heran jika kemudian dunia militer begitu cocok dengannya. Jika sang ayah pension di KNIL sebagai Mayor, maka Alex masuk TNI dengan pangkat pertama Mayor. Beberapa kali, Alex menjadi komandan operasi yang cukup sukses juga di Indonesia Timur. Belakangan, Alex menjadi Panglima territorial di Jawa Barat, Siliwangi. Dimana dia mendirikan Kopassus.

Anak kolong lain adalah Ryamizard Ryacudu. Ayahnya adalah Brigadir Jenderal Ryacudu. Seorang perwira yang sudah bergabung dengan TNI sejak awal kemerdekaan. Ryacudu juga dianggap Jenderal yang loyal pada pemerintah. Sang Jenderal mempengaruhi anaknya, yang kemudian menjadi alumni akabri 1973 dan berkarir cemerlang di TNI. Melampaui ayahnya, Ryamizard di akhir karirnya menjadi Jenderal penuh. Masih banyak anak kolong lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.



Anak Kolong Minahasa Yang Terjebak

Di Minahasa, menjadi KNIL bukan hal aneh. Jika si ayah jadi KNIL maka si anak tidak menutup kemungkinan akan ikut. Nicolas Sulu, sepertinya salah satu diantaranya. Terlahir di Bukittinggi 1 Februari 1927. Lalu sempat menikmati masa remaja di Minahasa. Masuk KNIL di tahun 1947 di Minahasa. Sempat terseleksi menjadi anggota Korps Special Troopen (baret hijau) yang pernah dipimpin Kapten Raymond Westerling. Sesudah penyerahan kedaulatan thn 1950, Nicolaas ditarik menjadi anggota TNI melalui Batalyon 3 Mei. Seterusnya menjadi anggota Batalyon 330 Siliwangi. Lagi-lagi masuk jadi pasukan khusus lagi. Dan menjadi RPKAD angkatan pertama di Batujajar.[5]

Nicolaas berpangkat Sersan di tahun 1956. Dia adalah salah satu prajurit andalan Angkatan Darat, RPKAD di Batujajar. Ketika konflik AD marak di decade 1950an, NIcolaas Sulu dan prajurit RPKAD lainnya terseret dalam Peristiwa Kranji juga. Dimana Nicolaas dan kawan-kawannya berencana bergerak di Jakarta, tapi mereka tertahan di lapangan Kranji Karawang. Nicolaas mengaku, “Kami meninggalkan Batujajar dengan berjalan kaki melawati sawah. Kemudian naik ke atas truk yang sudah menunggu, menuju Jakarta lewat Karawang.”[6]

Bukan sekali itu saja Nicolaas terjebak dalam konstelasi politik nasional yang kacau. Sangat wajar prajurit macam Nicolaas yang tidak ada urusan soal politik, tiba-tiba terlibat dalam pertentangan politik militer atau politik nasional di Indonesia. Setelah peristiwa Kranji, Nicolaas terjebak lagi dalam Permesta. Seperti dituturkan Phill Sulu:

“Sewaktu cuti ke Minahasa di tahun 1958 terjadi pergolakan daerah, sehingga menjadi anggota pasukan PRRI/Permesta dan sempat ditugaskan dalam operasi militer ke Sulawesi Tengah. Sekembalinya dari Sulawesi Tengah dengan berjalan kaki sampai ke Minahasa, menjadi pimpinan pasukan setingkat kompi dari Batalyon 999, yang kemudian dilebur menjadi Batalyon I Tarantula. Pangkat Nicolaas Kapten, jabatan Komandan Kompi I merangkap wakil Komandan Batalyon. Setelah usai (masalah) PRRI/Permesta, sempat memimpin Pasukan Detasemen M.Pramuka yang ditugaskan ke Kalimantan Utara di tahun 1963 dalam rangka Dwikora konfrontasi dengan Malaysia, menyamar sebagai sukarelawan TNKU (Tentara Nasional Kalimantan Utara). Sesudah itu dipensiunkan sebagai anggota TNI sampai beliau tutup usia di Kakaskasen - Tomohon, pada 11 April 2006.”[7]

Begitulah tentang Nicolaas Sulu, satu dari sekian banyak prajurit Indonesia. Dalam Dwikora, Nicolaas Sulu tentu menjalani pertempuran hebat. Musuh yang dilawan bukan pemberontak tak terlatih (yang tak lain saudara sendiri), tapi tentara musuh dari Negara lain. Dimana pasukan khusus Inggris diam-diam juga terlibat dalam pertempuran di Kalimantan Utara itu.


NB
[1] YB Mangunwijaya, Burung Burung Manyar, Jakarta, Djambatan, 2001, hlm. 1-5.
[2] R.P. Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara, Jakarta, Grasindo, 2003, hlm. 330-340.
[3] Bert Supit & BE Matindas, Ventje Sumual: Menatap Hanya Ke Depan (Biografi Seorang Patriot, Gembong Pemberontak), Jakarta, Bina Insani, 1998, hlm. 1-40.
[4] Ramadhan K.H, A.E. Kawilarang Untuk Sang Merah Putih, Jakarta Pustaka Sinar Harapan, 1988. hlm. 13-15.
[5] Pengakuan Phill Sulu, 15 November 2011. Phill Sulu adalah adik dari Nicolaas Sulu.
[6] Julius Pour, Benny Murdani : Profil Prajurit Negarawan, Jakarta, Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman, 1993, hlm. 121.
[7] Pengakuan Phill Sulu, 15 November 2011. Phill Sulu adalah adik dari Nicolaas Sulu.

Rabu, November 16, 2011

Susur Kampung Bersama Arno


Sasaran kami kali ini adalah Kampung Arab. Sebuah kampung kuno yang unik di pesisir Musi.

Setelah sekian tahun, saya bertemu lagi dengan Arnaud Abbel—kami biasa panggil Arno. Kawan lama. Seorang sosialis Perancis. Kami bertemu di Museum Sultan Mahmud Badarudin II(12/11/2011). Arno tidak berubah. Tetap lusuh. Tetap bohemian. Padahal saya sudah agak borjuis sekarang. Arno tetap seperti dulu. Kami biasa dikusi dan sesekali mantau demo di Jogja.

Setelah berkenalan dengan Fara, Emak Yuniar dan Atira, Arno saya ajak menyusuri kampong kuno sekitar Ampera. Tujuan pertama adalah kampong Kapitan. Sebuah perkampungan Tionghoa dimasa lalu. Masih banyak peranakan di kampong itu. Kami tidak lama disini. Kami hanya bisa melihat rumah dan kantor kapitan Tionghoa. Sementara Fara, Emak dan Atira mengamati rumah ala peneliti, saya dan Arno sibuk ngobrol soal apa saja, dari Museum sampai Kampung Kapitan dengan melintasi Ampera.

Ini Tempat Setan
Kami sempat singgah sebentar di tepian dan sekedar diskusi. Soal jilbab dan pemerintah Perancis—yang dimata Arno sangat konyol. Bukan Arno jika tidak kritis dan ngece pemerintah mana pun di muka bumi ini. Dasar sosialis.

Beruntung, sebelum sampai Kampung Arab yang sebenarnya, kami banyak temukan rumah-rumah tua yang masih tegak berdiri meski seperti kurang terawat. Selanjutnya kami bergerak lagi. Tidak jauh dari masjid, kami temukan rumah besar. Paling besar di dusun itu.



Selanjutnya, kami bergerak lagi menysuri jalan aspal. Dimana seorang Bapak berbaju koko dan berpeci memberi tahu kami soal kampong Arab di daerah 13 Ulu. Kami segera berjalan kesana. Tepat menjelang matahari di atas kepala kami. Kami terus berjalan. Semua tampak semangat.

Perjalanan kali ini tidak seperti biasanya. Kami melewati banyak rumah orang, jalan sempit dan juga pesta perkawinan. Makanannya cukup menggiurkan. Apalagi di siang bolong yang terik. Perjalanan menguras cairan tubuh. Air saja yang saya butuhkan.veldvest saya nyaris kosong sepanjang jalan.

Begitu saya melihat sebuah Toserba, saya langsung masuk ke dalam. Sekedar ngadem. Dan berharap membeli minuman dingin. Arno mengintip dari kaca. Lalu dia menuju pintu dengan terburu-buru. Minuman dingin yang saya cari belum saya temukan. Arno memanggil saya dari luar dan saya mendekati pintu.

Ketika kepalanya sampai di pintu, Arno bilang ke saya, “Ini tempat setan,”katanya. Saya segera ketawa dalam hati. Saya ajak semua pergi. Sebelum penjaga toserba itu marah-marah. Niat mencari minuman pun saya lupakan. Bagi Arno, seperti yang saya amini, toserba itu juga ikut matikan perekonomian rakyat kecil. Saya juga salah satu pembunuh rakyat kecil karena sering belanja di toserba macam itu. Dunia memang rumit. Wajar Arno punya pikiran toserba macam itu tempat setan.

Soal Kampung Arab

Kami teruskan perjalanan. Setelah bertanya-tanya—tanpa memakai gaya Ayu Ting Ting “dimana…dimana…dimana..” yang rajin ditiru anak-anak—kami temukan dimana lorong masuk kampong itu. Kami masuki sebuah lorong. Dengan rumah-rumah tua. Di pinggir jalan adalah rumah batu. Di dalam lorong adalah rumah-rumah kayu yang cukup besar. Agak lebih besar daripada rumah besar di kampong Kapitan.

Kami amati pelan-pelan rumah-rumah di lorong. Bangunannya unik. Atira memperhatikan anak-anak kecil yang bermain. Menurut Atira, diantara mereka masih keturunan Arab jika dilihat dari wajahnya. Kami sepakat dengan Atira.

Warga keturunan asing bukan hal baru bagi Palembang. Menurut Djohan Hanafiah, Kesultanan memberikan ijin tinggal bagi para pendatang di kawasan Seberang Ulu. Dimana Kampung kapitan, yang dulunya penghuninya adalah orang-orang Arab juga, Orang-orang Belanda pun harus tinggal di Seberang Ulu. Begitu kebijakan Sultan dari abad XVI hingga XIX.[1] Di zaman Kesultanan Palembang, semua tanah dimiliki oleh Sultan dan tak ada bangunan yang didirikan tanpa seijin Sultan. Hanya orang Palembang asli yang diperbolehkan bermukim di daratan. Pendatang dan orang-orang asing, misalnya Tionghoa, Eropa, Keling dan Arab hanya boleh tinggal di rumah Rakit. Sumber lain menyatakan bahwa para pemimpin kerajaan tinggal di daratan sepanjang sungai, sementara orang kebanyakan tinggal terpisah di perairan, pada rumah Rakit yang tertambat suatu tiang atau tonggak.[2]

Komunitas Arab memang sudah ada di nusantara sejak lama. Mereka berdagang. Mereka juga membawa ajaran Islam dari tanah leluhur mereka. Mereka hidup turun-temurun di Palembang. Mereka juga mempertahankan darah Arab mereka. Tidak heran jika masih banyak orang-orang berwajah peranakan Arab di sekitar Kampung Arab. Karena warga kominitas Arab cukup banyak di Palembang, maka akan ada seorang pemimpin Arab dengan gelar letnan atau kapitan. Sebuah gelar yang diberikan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Seorang kapitan, biasanya memimpin ratusan masyarakat—biasanya adalah masyarakat non pribumi seperti Arab maupun Tionghoa. Seorang kapitan memimpin ratusan orang asing. Jika lebih dari seribu, maka Mayorlah yang memimpin. Jika komunitas tidak terlalu banyak mungkin hanya dipimpin seorang letnan saja. Di Palembang memang terdapat beberapa lorong di Palembang.[3]

Kami singgah agak lama. Beristirahat di mushala tepi sungai yang teduh. Merendam kaki begitu menyenangkan. Sambil ngobrol lagi dengan Arno. Dari Kampung Arab kami cari makan lalu kembali ke Museum. Dan ketika menjelang sore kami melihat lomba perahu bidar. Setelah itu kami berpisah dengan Arno yang akan menuju Jakarta. Ala backpacker tentunya. Begitulah perjalanan kami ke kampong Arab.

NB:
[1] Johannes Adiyanto, Kampung Kapitan Interpretasi ’Jejak’ Perkembangan Permukiman dan Elemen Arsitektural, Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, hlm. 14.
[2] Myra P. Gunawan, Pariwisata Tepian SungaiMusi, Palembang, artikel dalam Monumen danSitus Indonesia, ICOMOS Indonesia, 1999, hlm.144
[3] Aryandini Novita & Sondang Siregar, Fragmen Peradaban Palembang Tempo Doeloe (Dari Sriwijaya hingga Kolonial), Balai Arkeologi Palembang, 2010, hlm. 36.

Sasaran kami kali ini adalah Kampung Arab. Sebuah kampung kuno yang unik di pesisir Musi.



Setelah sekian tahun, saya bertemu lagi dengan Arnaud Abbel—kami biasa panggil Arno. Kawan lama. Seorang sosialis Perancis. Kami bertemu di Museum Sultan Mahmud Badarudin II(12/11/2011). Arno tidak berubah. Tetap lusuh. Tetap bohemian. Padahal saya sudah agak borjuis sekarang. Arno tetap seperti dulu. Kami biasa dikusi dan sesekali mantau demo di Jogja.





Setelah berkenalan dengan Fara, Emak Yuniar dan Atira, Arno saya ajak menyusuri kampong kuno sekitar Ampera. Tujuan pertama adalah kampong Kapitan. Sebuah perkampungan Tionghoa dimasa lalu. Masih banyak peranakan di kampong itu. Kami tidak lama disini. Kami hanya bisa melihat rumah dan kantor kapitan Tionghoa. Sementara Fara, Emak dan Atira mengamati rumah ala peneliti, saya dan Arno sibuk ngobrol soal apa saja, dari Museum sampai Kampung Kapitan dengan melintasi Ampera.



Ini Tempat Setan

Kami sempat singgah sebentar di tepian dan sekedar diskusi. Soal jilbab dan pemerintah Perancis—yang dimata Arno sangat konyol. Bukan Arno jika tidak kritis dan ngece pemerintah mana pun di muka bumi ini. Dasar sosialis.

Beruntung, sebelum sampai Kampung Arab yang sebenarnya, kami banyak temukan rumah-rumah tua yang masih tegak berdiri meski seperti kurang terawat. Selanjutnya kami bergerak lagi. Tidak jauh dari masjid, kami temukan rumah besar. Paling besar di dusun itu.



Selanjutnya, kami bergerak lagi menysuri jalan aspal. Dimana seorang Bapak berbaju koko dan berpeci memberi tahu kami soal kampong Arab di daerah 13 Ulu. Kami segera berjalan kesana. Tepat menjelang matahari di atas kepala kami. Kami terus berjalan. Semua tampak semangat.



Perjalanan kali ini tidak seperti biasanya. Kami melewati banyak rumah orang, jalan sempit dan juga pesta perkawinan. Makanannya cukup menggiurkan. Apalagi di siang bolong yang terik. Perjalanan menguras cairan tubuh. Air saja yang saya butuhkan.veldvest saya nyaris kosong sepanjang jalan.



Begitu saya melihat sebuah Toserba, saya langsung masuk ke dalam. Sekedar ngadem. Dan berharap membeli minuman dingin. Arno mengintip dari kaca. Lalu dia menuju pintu dengan terburu-buru. Minuman dingin yang saya cari belum saya temukan. Arno memanggil saya dari luar dan saya mendekati pintu.



Ketika kepalanya sampai di pintu, Arno bilang ke saya, “Ini tempat setan,”katanya. Saya segera ketawa dalam hati. Saya ajak semua pergi. Sebelum penjaga toserba itu marah-marah. Niat mencari minuman pun saya lupakan. Bagi Arno, seperti yang saya amini, toserba itu juga ikut matikan perekonomian rakyat kecil. Saya juga salah satu pembunuh rakyat kecil karena sering belanja di toserba macam itu. Dunia memang rumit. Wajar Arno punya pikiran toserba macam itu tempat setan.



Soal Kampung Arab



Kami teruskan perjalanan. Setelah bertanya-tanya—tanpa memakai gaya Ayu Ting Ting “dimana…dimana…dimana..” yang rajin ditiru anak-anak—kami temukan dimana lorong masuk kampong itu. Kami masuki sebuah lorong. Dengan rumah-rumah tua. Di pinggir jalan adalah rumah batu. Di dalam lorong adalah rumah-rumah kayu yang cukup besar. Agak lebih besar daripada rumah besar di kampong Kapitan.



Kami amati pelan-pelan rumah-rumah di lorong. Bangunannya unik. Atira memperhatikan anak-anak kecil yang bermain. Menurut Atira, diantara mereka masih keturunan Arab jika dilihat dari wajahnya. Kami sepakat dengan Atira.



Warga keturunan asing bukan hal baru bagi Palembang. Menurut Djohan Hanafiah, Kesultanan memberikan ijin tinggal bagi para pendatang di kawasan Seberang Ulu. Dimana Kampung kapitan, yang dulunya penghuninya adalah orang-orang Arab juga, Orang-orang Belanda pun harus tinggal di Seberang Ulu. Begitu kebijakan Sultan dari abad XVI hingga XIX.[1] Di zaman Kesultanan Palembang, semua tanah dimiliki oleh Sultan dan tak ada bangunan yang didirikan tanpa seijin Sultan. Hanya orang Palembang asli yang diperbolehkan bermukim di daratan. Pendatang dan orang-orang asing, misalnya Tionghoa, Eropa, Keling dan Arab hanya boleh tinggal di rumah Rakit. Sumber lain menyatakan bahwa para pemimpin kerajaan tinggal di daratan sepanjang sungai, sementara orang kebanyakan tinggal terpisah di perairan, pada rumah Rakit yang tertambat suatu tiang atau tonggak.[2]



Komunitas Arab memang sudah ada di nusantara sejak lama. Mereka berdagang. Mereka juga membawa ajaran Islam dari tanah leluhur mereka. Mereka hidup turun-temurun di Palembang. Mereka juga mempertahankan darah Arab mereka. Tidak heran jika masih banyak orang-orang berwajah peranakan Arab di sekitar Kampung Arab. Karena warga kominitas Arab cukup banyak di Palembang, maka akan ada seorang pemimpin Arab dengan gelar letnan atau kapitan. Sebuah gelar yang diberikan pemerintah kolonial Hindia Belanda.



Seorang kapitan, biasanya memimpin ratusan masyarakat—biasanya adalah masyarakat non pribumi seperti Arab maupun Tionghoa. Seorang kapitan memimpin ratusan orang asing. Jika lebih dari seribu, maka Mayorlah yang memimpin. Jika komunitas tidak terlalu banyak mungkin hanya dipimpin seorang letnan saja. Di Palembang memang terdapat beberapa lorong di Palembang.[3]



Kami singgah agak lama. Beristirahat di mushala tepi sungai yang teduh. Merendam kaki begitu menyenangkan. Sambil ngobrol lagi dengan Arno. Dari Kampung Arab kami cari makan lalu kembali ke Museum. Dan ketika menjelang sore kami melihat lomba perahu bidar. Setelah itu kami berpisah dengan Arno yang akan menuju Jakarta. Ala backpacker tentunya. Begitulah perjalanan kami ke kampong Arab.



NB:



[1] Johannes Adiyanto, Kampung Kapitan Interpretasi ’Jejak’ Perkembangan Permukiman dan Elemen Arsitektural, Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, hlm. 14.



[2] Myra P. Gunawan, Pariwisata Tepian SungaiMusi, Palembang, artikel dalam Monumen danSitus Indonesia, ICOMOS Indonesia, 1999, hlm.144



[3] Aryandini Novita & Sondang Siregar, Fragmen Peradaban Palembang Tempo Doeloe (Dari Sriwijaya hingga Kolonial), Balai Arkeologi Palembang, 2010, hlm. 36.

Dengan Arnaud Abbel, Mei 2008

Mencari Kampung Arab