Senin, Maret 17, 2008

Darsono Si Panah Beracun


Darsono berusia 19 tahun ketika bergabung dengan Sarekat Islam Semarang. Semuanya bermula ketika Darsono hadir dalam persidangan Sneevliet. Darsono begitu kagum kepada orang Belanda itu. Awalnya Darsono sempat ragu pada perjuangan Sneevliet membela rakyat. Begitu mengetahui Sneevliet bekerja di Kantor Dagang bergaji f 1.000 sebulan, Darsono semakin menaruh hormat pada pria Belanda pembebas kaum miskin Asia itu. Persidangan itu juga mempertemukan Darsono dengan Semaoen. Darsono diajak Semaoen bergabung dengan Sarekat Islam Semarang. Darsono yang melihat tidak ada jawaban atas pergulatan dirinya dalam Islam, Kristen maupun Budha, melainkan sosialisme. Sebuah dunia yang dia pilih untuk warnai masa mudanya.
Catatan sejarah atas diri Darsono sangat jauh dari cukup. Di diperkirakan 1897 tempat lahirnya tidak diketahui. Ayahnya seorang pegawai negeri, karenanya Darsono mampu mengenyam bangku sekolah. Darsono akrab dengan kehidupan petani karena pergaulanya dengan anak-anak petani ketika masih bocah.
Setamat dari sekolah pendidikan pertanian Darsono bekerja di perkebunan tebu. Sebuah tempat dimana dia melihat kemiskinan dan sistem sosial yang buruk. Selama bekerja, Darsono meluangkan waktunya dengan membaca buku-buku yang dia perolehnya. Masa itu kehidupan kuli-kuli perkebunan yang buruk menjadi hal biasa.
Setelah usahanya untuk belajar di Sekolah Dokter Hewan gagal, Darsono kembali ke Semarang. Sampai akhirnya hadir dalam persidangan Sneevliet dan bertemu Semaoen yang kemudian menempatkannya dalam redaksi Sinar Djawa mulai 27 Februari 1918 pada bagian telegram.
Menurut Darsono, rakyat Jawa masih bodoh. Untuk menyadarkannya diperlukan artikel-artikel yang berani. Tulisan yang terlalu ilmiah tidak akan dimengerti oleh rakyat yang umumnya tidak pernah sekolah. Orang yang berani lebih diperlukan dari pada orang yang terdidik dan pandai. Cara yang tepat menurut Darsono adalah hantam kromo bukancara intelektual.
Keterlibatan Darsono dan Mas Marso yang cenderung kiri di Sinar Djawa membuat beberapa orang pergerakan yang kurang radikal gerah. Sejak 28 Februari 1918 satu persatu anggota redaksi Sinar Djawa seperti Mohammad Joesoef, Aloei juga Martowidjojo keluar. SI cabang semarang semakin lama semakin radikal dan cenderung menyerang golongan moderatnya yang kebanyakan menduduki posisi kunci dalam SI, termasuk Darsono sendiri.
Artikel Darsono adalah Giftige Waarheidspijlein (Pengadilan Panah Beracun) menulis: "Selama toemboeh-toemboehan bisa hidoep, SETAN OEANG, jang dengan rapi dilindoengi oleh pemerintah, soedah membikin sengsaranja ra'jat."

"Setan Oeang" istilah politik pada zaman pergerakan yang ditujukan kepada para pemilik modal atau pengusaha. Istilah ini mengacu pada segala bidang di mana modal dapat berkuasa, seperti pendidikan, perkebunan, ataupun pajak. Politik etis yang dicanangkan kaum etisi Belanda lebih banyak dimanfaatkan pemilik modal. Pengadaan sarana irigasi, edukasi dan migrasi lebih menguntungkan pemilik modal daripada memperbaiki kehidupan rakyat pribumi. Setiap perusahaan yang mengeksploitasi hasil bumi tanah Hindia tentunya hanya membutuhkan tenaga-tenaga murah. Tidak masuk akal bagi kaum pemilik modal mendatangkan tenaga kasar dari Eropa. Pastinya tenaga murah pribumi yang dibutuhkan oleh para pemilik modal alias Setan Oeang (kata Darsono).

Pemerintah kolonial hanya sebagai fasilitator dari "Setan Oeang". Banyak sekolah dibangun untuk menyediakan tenaga kerja murah yang dibutuhkan oleh pemilik modal untuk menggerakan produksi mereka di Hindia. Pemerintah telah mengadakan beberapa sekolah pribumi dengan kurikulum terbatas bagi rakyat pribumi calon buruh dari usaha milik Setan Oeang. Anak-anak pribumi jelata hanya dapat menikmati tweede klass (sekolah bumiputra klas dua tanpa bahasa Belanda) yang biasa disebut Sekolah Angka loro. Sebuah sekolah dengan masa belajarnya 3 tahun. Dimana mereka hanya dididik untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Lulusan macam inilah yang dibutuhkan oleh Setan Oeang. Darsono yang geram dengan kondisi semacam ini berkata:
"Djika saja berani membilangkan, bahwa hampir semoea sekolahan jang diadakan di Hindia sini tjuma boeat membesarkan keoentoengan setan oeang asing, itoelah sebenarnja djuga, itoelah boekan omong kosong. Sekolahan machinist boeat pabrik-pabrik atau spoor dan tram, kepoenjaan setan oeang asing. Sekolah opzichter begitoe djoega; sekolah dagang idem; opleiding school boeat ambtenaar idem; cultureschool di Soekaboemi idem; sekolah dokter setali tiga oeang, dan begitoe sebagainja .
Umumnya pengadaan sekolah berkualitas dengan standart yang mendekati Eropa oleh pemerintah kolonial hanya ditujukan kepada elit feodal. Pembatasan pendidikan non formal bagi rakyat pribumi melalui rapat-rapat umum dilarang Asisten Residen di kota Semarang. Pemerintah kolonial berupaya menutup rapat pintu kesadaran kaum kromo akan pentingnya pendidikan politik. Darsono bereaksi dengan kecamannya terhadap Asisten Residen Semarang:

" Pada tanggal 9 mei jang laloe di gedoeng Oost java bioscoop Semarang diadakan Openbare Vergadering oleh ISDV....idzin boeat itoe bermoela toean toean asistent resident dari kota Semarang mendjawab tidak boleh diadakan...kedoea...minta idzin lagi didjawab: boleh diadakan, akan tetapi orang jang terpeladjar dari kepala warga SI sadja jang boleh mengoendjoengi, sedang lain-lainnja orang masih bodo dilarang mendengarkan itoe vergadering....pengadjaran boeat ra,jat berdjalan begitoe pelan seperti keong (slak) dia maoe mengelarang si bodo boeat mendengarkan itoe vergadering jang dapat menambahkan kepandaian dan melebarkan pemandangannja".

Pemerintah kolonial enggan membuka sekolah-sekolah tinggi bagi kemajuan rakyat Hindia. Terlalu mahal bagi pemerintah kolonial untuk mendatangkan pengajar-pengajar dari Eropa yang bayarannya tinggi. Alasan lain yang lebih penting karena perkembangan modal tidak menuntut tenaga kerja bumiputra (yang murah) yang berpendidikan tinggi karena relatif masih bisa diatasi oleh orang Belanda sendiri yang terkadang didatangkan juga dari Negeri Belanda.
Bergabungnya Darsono dalam barisan kiri Sarekat Islam Semarang ikut mewarnai perjuangan kaum buruh di Hindia. Golongan kiri di Sarekat Islam Semarang inilah cikal-bakal PKI yang yang meneriakan kepentingan buruh-tani di Hindia. Ketika masih di SI cabang Semarang Darsono berusaha memperjuangkan keringanan pajak rakyat dan membebankan pajak yang lebih besar kepada kaum Setan Oeang. Masalah ini akan dibawa dalam Kongres Nasional Central Sarekat Islam ke-3 yang diadakan pada tanggal 29 September-6 Oktober 1918 di Surabaya.
Dengan uang yang dimiliki kaum Setan Oeang memaksa desa-desa menyewakan tanahnya untuk perkebuanan dengan memberikan premi tertentu kepada lurah-lurah. Sawah milik desa yang komunal yang sebelumnya dikelola oleh petani, dijadikan perkebunan dan menjadikan para penduduk sebagai kuli perkebunan. Dalam hal ini pemerintah lalai denngan nasib para petani ini. Lurah hanya menjadi bagian dari sistem saja dan membiarkan warganya sengsara. Semua ini tak lain untuk meningkatkan produksi gula. Pemerintah hanya bisa mendukung kemauan kaum Setan Oeang yang hanya mengeruk laba dari keringat tenaga pribumi dan kesuburan tanah Hindia..."
Serangan Darsono dalam Giftige Waarheidspijlein adalah serangan terhadap kebijakan-kebijakan kolonial terhadap rakyat tertindas di Hindia. Giftige Waarheidspijlein ditulis Darsono berdasar literatur yang pernah dibacanya. Salah satu bahan tulisan Darsono adalah Het Process Sneevliet (1917) yang menjadi bacaan wajib kaum pergerakan dan menjadi bacaan terlarang di sekolah-sekolah pemerintah. Tulisan Clive Day The Policy and Administration of the Deutch in Java (1904). Kedua bahan ini menjelaskan bahwa kemiskinan yang melanda mayoritas pribumi tidak terjadi tanpa sebab, tetapi memiliki proses sejarah yang panjang. Het Process Sneevliet menyatakan sumber kemiskinan dimulai oleh merkantilisme VOC (Vereniging Oost indische Compagnie, maskapai dagang Belanda terbesar di Nusantara sebelum abad XIX). Devide et Impera (politik pecah belah) VOC berlanjut dengan monopoli perdagangan dan pungutan pajak yang mencekik rakyat pribumi. Penguasa lokal dan bawahannya lebih banyak diam (mendukung) dan hampir semuanya hidup jauh dari derita yang dialami rakyatnya. Pemerintah kolonial tidak lebih dari panah beracun bagi kaum kromo yang miskin dengan kebijakan-kebijakan kolonialnya.
Karena tulisan dan kepemimpinannya, Darsono menjadi sosok yang menonjol dan menjadi orang penting kedua dalam kepemimpinan ISDV di Semarang. Kebiasaannya membaca buku menjadikan ahli dalam berteori di partai. Rivalitas Darsono dengan tokoh SI mapan macam Tjokroaminoto atau Abdoel Moeis bukan rahasia umum. Awal 1920 sebuah surat dari Komunis Internasional(Komintern) datang, isinya adalah menganjurkan bergabungnya ISDV dalam Komintern. Salah satu syaratnya adalah menggunakan nama terang partai komunis. Sebuah sidang yang panas dengan peserta 40 kemudian menerima peubahan nama tersebut. Perserikatan Komunis di Hindia pun lahir pada tanggal 20 Mei 1920. Inilah PKI generasi pertama yang juga terlibat dalam pergerakan nasional. Hanya saja perenan mereka kurang diakui sebagai kaum pergerakan.
Pada bulan Mei 1921 Ir Adolf Baars dibuang bersama Darsono keluar negeri. Dalam perjalanan, di Shanghai mereka bertemu Sneevliet yang menjadi wakil Komintern di Cina. Mereka lalu menuju Rusia. Ketika terjadi pemogokan besar-besaran di Jawa banyak tokoh-tokoh kiri ditangkap. Darsono berada diluar negeri ketika penangkapan itu terjadi. Hal ini membuat pemerintah kesulitan. Pada bulan November 1921 Darsono menghadiri Kongres Partai Komunis Belanda (Comunist Partij: CP) dan memberikan pidatonya. Darsono meminta diadakannya kerjasama antara PKI dengan CP.

Selama menjadi anggota PKI , Darsono pernah dicalonkan sebagai anggota Tweede Kamer (Majelis Rendah) tahun 1929 oleh Partai Komunis Belanda. Darsono didaftar urutan 3 dan Tan Malaka didaftar urutan 2, namun keduanya tidak terpilih. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kunjungan dan pidatonya pada kongres CP November 1921 sebelumnya. Karenanya Darsono juga cukup populer di Belanda. Apalagi Darsono juga cukup teoritis dalam pergerakan. Walau begitu Semaun dan Darsono kemudian keluar dari PKI kendati mereka masih memihak kaum yang tertindas. Banyak juga tokoh PKI angkatan 1920an yang menghilang dari peredaran perpolitikan pasca kemerdekaan Indonesia.
Darsono mendedikasikan hidupnya membela kaum yang tertindas dengan melawan Setan Oeang. Darsono masih percaya kekuatan pena mampu mengalahkan pedang. Tulisannya Giftige Waarheidspijlein adalah sebuah pengadilan kepada pemerintah kolonial yang tidak peduli dengan nasib kaum kromo pribumi. Ciri khas Darsono dalam tulisannya adalah bahasanya yang berani. Baginya bahasa ilmiah tidak dipahami rakyat tertindas.

Catatan dari Sanga-sanga

Tak terasa tiga tahun berlalu. Aku bisa injakan kakiku lagi di kota itu. Senang bisa hirup udara Sanga-sanga lagi. Pemandangannya masih sama seperti dulu. Setelah aku lewati jalan-jalan aspal yang hancur oleh ulah mobil-mobil pertambangan yang penuh muatan. Masih seperti Sanga-sanga yang dulu. Kota tua ini masih saja seperti dulu dengan rumah-rumah tua. Bangsal-bangsal, sebagian orang menyebut rumah-rumah panjang yang disekat untuk beberapa keluarga pegawai minyak di kota minyak bernama Sanga-sanga itu.
Ibu membawaku ketika aku masih bayi. Dimana ibu yang lain juga memiliki bayi yang usianya dua bulan lebih muda daripada aku. Aku ingat kakak lelaki dari ibuku beserta keluarganya tinggal di bangsal-bangsal itu. Kakal lelaki ibuku, yang biasa kupanggil "Pakde" itu memiliki dua anak wanita dan satu anak lelaki yang masih bayi. Aku tidak mengenal mereka seperti sekarang. Aku memanggil mereka "Mbak" dan "Mas" untuk anak lelakinya.
Hal paling kusuka dari Sanga-sanga adalah menjelajahinya dengan berjalan kaki. Aku tidak akan merasa lelah. rumah-rumah tua adalah sajian favorit mataku di Sanga-sanga. Terakhirkali disana, aku masih sempat menyaksikan pemandangan itu. Rasanya aku tak perlu sesali hidup dengan sajian seperti itu.
Seperti biasa, Bude--biasa aku memanggil istri dari kakak lelaki ibuku--itu pasti menyimpan sambalnya yang buat lidah bergoyang. Kali ini ada menu udang, makanan yang dalam setahun belum tentu kumakandi Jogja atau Jakarta. Makan makanan laut dikota itu rasanya tidak akan senikmat memakannya di Sanga-sanga, atau kota pesisir lain di kalimantan Timur. Aku ingat, ayah kawanku yang pernah jadi serdadu dan dinas di Sanga-sanga bercerita, badan gatal-gatal karena terlalu banyak makan udang di Sanga-sanga.
Seperti biasa, Bude ajak aku ke daerah Muara naik mobil. Bude lagi mau borong udang yang banyak untuk pernikahan Mbak-kuyang kedua. Kami naik mobil dan nikmati Sanga-sanga yang tereksploitasi. Di sepanjang jalan, selain kampung, banyak pertambangan batu-bara. Ini mungkin surga bagi sebagian orang yang menggantungkan hidup dari tambang-tambang itu. Monster-monster bernama "Dump Truck" belum terlihat. Hanya saja perut bumi Sanga-sanga masih terus dikeruk. Hidup memang memilih, pasti ada yang terkorbankan. Apalagi kalau bukan alam dan masa depan Sanga-sanga.
Berdasarkan catatan Wikipedia, Sanga-sanga adalah: "Kecamatan Sanga-Sanga memiliki luas wilayah mencapai 233,4 km2 yang dibagi dalam 5 kelurahan. Sementara jumlah penduduk kecamatan ini mencapai 11.855 jiwa (2005). Kecamatan ini merupakan salah satu wilayah penghasil minyak bumi yang sangat penting di Kalimantan Timur sejak sumur minyak Louise untuk pertama kalinya mulai berproduksi pada tahun 1897, disamping sumur minyak Mathilde yang ada di Balikpapan.
Sanga-Sanga juga terkenal dengan sebuah peristiwa heroik yang terjadi pada tanggal 27 Januari 1947 ketika para pejuang kemerdekaan yang tergabung dalam Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI) bahu membahu bersama rakyat mempertahankan Sanga-Sanga dari gempuran Belanda, meski akhirnya korban banyak berjatuhan dari pihak pejuang dan rakyat Sanga-Sanga. Untuk mengenang peristiwa yang disebut sebagai Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sanga-Sanga ini, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara selalu menggelar upacara peringatan peristiwa tersebut setiap tanggal 27 Januari".
Kota kecil ini, memiliki sejarahnya yang cukup gemilang karena kandungan emas hitam yang terkandung di dalam tanahnya.

Gambaran Balikpapan Masa Kini


Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Balikpapan mengalami banyak perubahan. Lahan baru banyak dibuka menjadi pemukiman penduduk untuk memenuhi kebutuhan Balikpapan yang terus bertambah. Bangunan-bangunan baru lebih banyak berdiri dibanding beberapa tahun sebelumnya. Seperti juga beberapa kota lain di Kalimantan Timur, Balikpapan mulai melebarkan pemukiman penduduknya. pemukiman penduduk itu berusaha dibuat merata. Di daerah pinggiran banyak dibangun pemukiman. Pelabuhan Ferry yang dulu terletak di pelabuhan Sombir, kini berpindah ke Kariangau. Saat ini sangat sulit untuk dapat mencapai pelabuhan Ferry itu, namun ini akan memberi dampak positif dimasa depan.
Ditengah perubahannya, kota ini hingga sekarang masih berusaha memperlihatkan wajahnya yang bersih, aman dan nyaman. Serta berusaha menjadi kota Beriman--seperti jargonnya Balikpapan Beriman. Motto kota ini adalah Gawi Manuntung Waja Sampai Kaputing--artinya apabila memulai suatu pekerjaan maka harus diselesaikan sampai tuntas. Beberapa banguan penting yang menjadi bagian dari pembangunan nasional terdapat di kota ini. Sepinggan yang telah menjadi bandara internasional, telah menjadikan Balikpapan sebagai gerbang Kalimantan Timur. Kepolisian Daerah Kalimantan Timur (POLDA Kal-Tim) berkantor di kota ini. Begitu juga Markas Komando Daerah Militer (KODAM) VI Tanjung-Pura berada di kota ini.
Keberadaan instalasi kepolisian dan pertahanan di Balikpapan tentunya ikut menghindarkan Balikpapan dari kerusuhan. Hingga saat ini, diluar kasus kriminal biasa, Balikpapan jauh dari kerusuhan berbau SARA--meski banyak etnis menetap kota ini. Etnis paling dominan, seperti Bugis. Perkampungan yang cenderung bersifat kesukuan ada di kota Balikpapan. Orang-orang Bugis lebih banyak tinggal di daerah Kampung Baru, Manggar. Karang Jawa, Karang Bugis dan Karang Anyar banyak di huni orang-orang Bugis Banjar dan Jawa. Suku Jawa banyak bermukim didaerah Karang rejo dan Sumberejo. Walau begitu, paling sedikit telah terjadi pembauran diantara penduduk Balikpapan dan semakin menjadikan kota ini heterogen. Beberapa perkampungan banyak yang penduduknya adalah campuran seperti di daerah Gunung Sari, Gunung Malang dan Gunung Pasir.
Bertambahnya Balikpapan tentu saja akan membawa masalah baru dalam hal kependudukan. Kendati ledakan penduduk tidak besar, namun arus pendatang dari luar Balikpapan semakin besar. Mereka berasal dari Jawa dan pulau lain di Indonesia dan berbagai etnis. Pertumbuhan ekonomi Balikpapan menarik mereka untuk mengadu nasib di kota Balikpapan.
Hal ini sudah menajdi perhatian Imdad Hamid--walikota Balikpapan sekarang--sejak tahun 2001. Akhirnya jumlah pendatang yang masuk di kota Balikpapan dibatasi. Hal ini pastinya menimbulkan kesan “Balikpapan mengisolasi diri”--sebenarnya tidak, Balikpapan hanya ingin meredam masalah sosial pasti akan timbul oleh banyaknya penduduk dengan lahan ekonomi yang suatu saat semakin sempit.
Mata pencaharian orang Balikpapan seperti ada pengkaplingan--khususnya dalam hal perdagangan. Perdagangan sayur dan makanan biasa didominasi oleh orang-orang Jawa. Perdagangan kayu dilakukan oleh orang-orang Madura, perdagangan ikan dilakukan oleh orang-orang Bugis, perdagangan pakaian atau penjahit biasa dilakukan oleh orang-orang Banjar. Sementara untuk posisi pegawai pemerintahan maupun perusahaan swasta umumnya campuran. Tidak ada dominasi etnis didalam instansi manapun di kota Balikpapan.
Pusat keramaian kota ini masih tetap sama sebenarnya, walau saat ini pusat keramaian mulai disebar, ke daerah Balikpapan Baru (Ring Road). Sepanjang Jalan Jenderal Sudirman (Klandasan) adalah daerah yang masih ramai seperti dulu. Banyak pusat perbelanjaan dan perkantoran di sepanjang jalan itu. Angkutan umum dan kendaraan pribadi banyak melintasi jalan itu sepanjang hari. Keramaian Balikpapan mulai hilang setelah pukul 21.00 waktu setempat. Pukul 21.00 hingga pagi hari adalah waktu istirahat bagi seluruh kota Balikpapan.
Instalasi minyak yang sudah ada sejak dulu tentu saja masih ada di Balikpapan. Beberapa perusahaan minyak asing masih memiliki kantor di Balikpapan. Beberapa perusahaan alat berat juga terdapat di kota Balikpapan. Sebuah bandara bertaraf internasional juga berdiri di Balikpapan. Hal ini menjadikan Balikpapan sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur.
Bandara yang besar dulu itunya pernah menjadi tonggak kelahiran maskapai penerbangan swasta bernama Bouraq Airline--yang didirikan oleh J.A. Sumandep. Maskapai itu bermula dari pesawat-pesawat yang memfasilitasi transportasi pegawai di Balikpapan. Kala itu Sepinggan masih berupa lapangan rumput yang semakin hari lapangan rumput itu berubah menjadi lapangan besar. Bouraq mulai beroperasi tahun 1970 dengan menghubungkan Jakarta, Balikpapan, Kalimantan dan Surabaya. Armada Bouraq adalah pesawat Douglas DC-3. buatan Amerika.108
Balikpapan semakin terlihat maju sekarang. Orang-orang menilai dengan bertambahnya mall di Balikpapan adalah barometer kemajuan itu. Bandar udara Sepinggam juga menjadi alasan mengapa Balikpapan menjadi kota pelabuhan teramai di Kalimantan Timur.


Jumat, Februari 29, 2008

Musisi Tua dan Tuhannya


"Semua yang ada padaMu ohh...
Membuat diriku tiada berdaya
Hanyalah bagimu untukMu Tuhanku
Seluruh hidup dan cintaku"
(Gito Rollies, Cinta yang Tulus)
Bila mendengar lagu itu versi sebelum dirilis Gito Rollies bersama Gigi, liriknya pastilah berbeda. Tanya saja pada orang-orang yang hidup sepanjang dekade 1970an yang mengikuti perkembangan lagu Indonesia. Perubahan lirik itu menyiratkan sebuah pencerahan yang dialami Gito Rollies diakhir usianya. Gito merubah lirik lagu itu diakhir usianya, beberapa bulan sebelum berpulangnya Gito pada 28 Februari 2008 kemarin.Banyak musisi yang hidup relijius diusia tua. Sebutlah beberapa personil AKA—yang dulu digawangi Ucok Harahap—yang kehidupan masa tuanya merasa lebih tentram dibanding ketika mereka masih muda dan jaya dulu. Mereka kembali pada Tuhan. Kini mereka menjadi orang relijius.
Gito Rollies pun merasa masa mudanya cukup kelam. Masa dimana Gito berkarya, berjaya dan lakukan banyak kegilaan. Mungkin juga, Gito Rollies berpikir, dirinya jauh dari Tuhan di kala muda itu. Atas dosa-dosa masa lalu, yang Gito Rollies rasakan, maka masa tuanya diisi dengan pertobatan.
Hari kelulusan SMA, Gito melakukan hal gila. Dia merasa tidak akan lulus SMA karena kebadungannya. Setelah lihat papan pengumuman, dia dinyatakan lulus. Gito pun senang. Dia bugil keliling kota Bandung untuk merayakan kebebasan dari sekolah yang mungkin menyiksa dan membosankan itu. Kegilaannya semakin menjadi ketika dirinya menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia bersama band legendarisnya, The Rollies. Keanggotaan yang membuat dirinya memakai nama Rollies di belakang nama panggilannya. Nama asli Gito adalah Bangun Sugito Tukiman, kelahiran Biak 1 November 1947, dari namanya bisa ditebak dia adalah keturunan Jawa. Dia habiskan masa mudanya jauh dari tanah kelahirannya.
Bersama The Rollies, yang pendiriannya disponsori orang tua Deddy Stanzah, Gito melanglang buana keluar negeri. Mereka pernah tampil dan rekaman di Singapura. The Rollies memiliki ciri khas yang rasanya tidak dimiliki band Indonesia lainnya pada masa itu, mungkin juga masa sekarang. Mereka mirip Chicago. Musik mereka yang kerap memakai brass section (alat tiup), membuat mereka mirip Brassband. Jago Trombon Indonesia, Benny Likumahua, pernah mencurahkan hidupnya di band yang katanya tergolong kaya di zamannya ini. Band dengan alat tiup, orang pasti akan berasosiasi pada musik ska, seperti yang dimainkan Tipe X sekarang ini. Tapi ini The Rollies, mereka tergolong sangar di zamannya.
Mereka tidak hanya satu vokalis. Gito salah satunya. Suara Gito yang serak sudah cukup dikenal di zamannya. Mirip Rod Steward, Sting atau Ikang Fauzi lah. Gito bahkan sempat ikut terlibat dalam beberapa film.
Gito terlibat dalam film “Janji Joni” dan “Ada Apa Dengan Cinta” di masa kebangkitan kembali film Indonesia. Gito tidak meninggalkan dunia seni di akhir hidupnya. Tidak sekedar mengganjal perut, tapi juga berusaha memberi sesutu dalam perkembangan budaya populer Indonesia. Dia masih jalani hidup sebagai seniman dimasa dia merasa lebih dekat dengan Tuhan. Gito Rollies boleh menyesali apa yang dia perbuat dimasa mudanya, yang mungkin dianggapnya buruk. Namun tidak sepenuhnya yang dilakukan Gito buruk. Bersama The Rollies, Gito Rollies ikut memberi warna dalam musik pop Indonesia. Kini, musisi bersuara serak itu pergi meninggalkan dunia dengan karya-karyanya. Orang akan selalu ingat suara serak Gito karena ‘yang terekam tak pernah mati’. Gito boleh merasa pernah jauhdari Tuhannya, namun Gito tidak menyiakan apa yang diberikan Tuhannya. Dia Berkarya dengan suara dan bakat musiknya. Kedekatannya pada Tuhan telah terlihat dalam lirik lagu diatas.

Aku menulis ini untuk menghormati Gito Rollies, pada pagi 29 Februari 2008. Kemarin Gito Rollies wafat. Aku harus pulang besok. Mungkin menengok
piringan hitam dimana Gito Rollies berkesenian. Mereka yang berkarya memang tak pernah mati. Ini tulisan kedua di blog setelah hampir sebulan aku mandeg menulis.

Mereka Yang Mati Muda

Mati itu takdir kata orang beragama. Mati hal biasa, meski harus ditangisi. Kematian tetap menjadi misteri menarik bagi beberapa orang. Banyak buku membahas kematian. Seorang kawan bahkan sedang mengedit sebuah buku tentang kematian. Mati itu indah bagi beberapa orang. Ada adegan film dimana kematian begitu indah bagiku. Kematian Sersan Elias Grodin dalam film Platoon. Adegan yang sulit kulupakan, bahkan buat aku terobsesi.
Banyak orang orang hebat yang kukenal mati muda. Sebutlah Jimi Hendrix, Janis Joplin, Jim Morisson, juga Soe Hok Gie dan lainya. Mereka punya karya yang masih diingat. Nama paling belakang kusebut bahkan menjadi inspirasiku sebagai mahasiswa sejarah. Aku membaca dan akhirnya menulis, itu konsekuensi dari pilihan hidup yang kubuat waktu SMA dulu. Gie seolah menuntunku. Gie mati muda setelah menulis dua skripsinya yang terkenal, “Dibawah Lentera Merah” dan “Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan”. Mahasiswa sejarah Indonesia bodoh saja yang tidak pernah tahu kalau dua buku itu pernah ditulis. Gie mati dalam kedamaian dipuncak Semeru. Tragis sekaligus heroik.
Beberapa penulis dekat dengan kematian. Hidup dan mati seperti dua sisi mata uang dan bukan lagi lawan kata. Paling ekstrim tidak lain sastrawan Jepang. Yasunari Kawabata, orang Asia kedua peraih nobel sastra, mati bunuh diri. Lalu muncul beberapa sastrawan Jepang yang bunuh diri. “Sekali berarti sesudah itu mati”, seperti Chairil Anwar.
Mungkin saja sastrawan dan sebangsanya yang terobsesi dengan kematian itu menganggap kematian itu indah. Seperti Maximus yang merasa melihat pemandangan indah menjelang kematiannya, seperti dalam film Gladiator. Juga oleh Archer dalam Blood Diamond. Keindahan itu seoleh menjadi pintu antara hidup dan mati. Bagi beberapa orang, pintu itu begitu menakutkan. Bagi para mujahid, seperti dipercaya orang Islam, pintu kematian itu begitu indah juga. Ada yang bilang ada bau wangi disekitar pintu kematian bagi orang yang berjuang di jalan Allah (Jihad).
Bagi beberapa orang yang berjuang dengan keyakinan dan mati dalam keyakinan itu indah. Tidak salah bila sebelum di eksekusi Walter Manginsidi menulis: “Setia sampai akhir didalam keyakinan”. Mati itu indah. Walter Manginsidi orang beruntung. Salah besar bila dirinya menyia-nyiakan hidup dan mati muda. Dia meninggalkan puisi yang ditulis dalam penjara. Seperti halnya Soe Hok Gie, Walter Manginsidi adalah manusia yang hidup bebas dan mati muda. Hidup bebas adalah milik mereka yang berjuang bukan milik mereka yang hanya bisa menerima ketidakadilan.
Dua sosok pemuda Indoensia yang mati itu nyaris terlupakan—hanya Gie saja yang sedikit diingat hanya karena film Gie yang dibesut Riri Riza. Keduanya ’kiri’—dalam artian melawan apa yang menjadi arus utama dalam kehidupan mereka dimasa muda. Manginsidi, nyaris tidak menikmati masa mudanya karena perang. Masa muda Manginsidi adalah revolusi yang diliputi opurtunisme. Gie sempat menikmati Bob Dylan dan Joan Baez—ketika Sukarno melarang musik barat.
Sejarah Indonesia tidak hanya mencatat Walter Manginsidi dan Soe Hok Gie saja. Banyak pemuda yang tidak diketahui namanya yang harus mati muda untuk sebuah kebebasan sejati. Banyak diantaranya terlupakan—sebagian diantaranya tidak ingin diingat sebagai pahlawan. Mereka hanya ingin hidup bebas, namun akhirnya mereka mati muda. Mungkin ketika mereka menuju pintu kematian mereka terlihat keindahan membentang hadapan mereka, meski tubuh mereka tertembus peluru.

Minggu, Februari 03, 2008

Oeroeg: "Saudara Sedarah" Yang Tidak Sedarah

Tersebutlah seorang bocah pribumi bernama Oeroeg disebuah dusun miskin. Tidak jauh dari situ tinggal seorang bocah Belanda bernama Johan van Berghe. Karena ini suasana kolonial, pastinya Johan anak ondernemer (pengusaha perkebunan) Belanda itu tampil sebagai the have, Oeroeg sebagai the have not-nya. Itulah nusantara dekade 1930an.
Oeroeg tergolong anak cerdas di dusunnya. Satu sebab dia akhirnya bisa kuliah kedokteran, disamping simpati dari orang Belanda disekitar Johan pada Oeroeg.
Plot campuran dalam film ini, bukan untuk memperumit cerita. Plot yang tidak kronologis mungkin akan membuat film ini agak sulit dinikmati penonton umum. Plot film yang campuran dan acak itu seperti memberi bayangan pada kita tentang perubahan nusantara yang nyaris sulit ditebak. .Bagaimanapun film dari adaptasi roman yang juga bewrjudul Oeroeg karya Hella Haase, lalu diteruskan menjadi film dibawah besutan sutradara Hans Hylkema, berusaha menyajikan suasana Indis yang terkubur oleh revolusi kemerdekaan negara baru bernama Indonesia di tanah nusantara ini. Durasi 114 menit itu dimanfaatkan dengan tepat bagaimana membangun suasana perubahan dari kolonial menuju revolusi yang tidak jarang diliputi kekacauan. Film rilisan 1993 memberikan gambaran cukup realis dengan suasana masa transisi dalam sejarah Indonesia sekitar 1945Hal menarik dari cerita ini adalah bagaimana rasa persaudaraan lahir tidak dalam aliran darah yang sama. Persaudaraan hanya timbul dengan bagaimana kita berbagi pada orang lain. Seperti dalam alam pikir Johan kecil. Politik boleh saja mengatasnamakan kebaikan. Seperti politik kolonial yang berusaha perhatikan kebaikan masyarakat kulit putih. Politik kolonial sifat rasis bukan bagian dari diri Johan. Hingga dewasa, Johan bukan orang yang peduli pada masalah politik. Alasan dia kembali ke Kedungjati—tempat dia habiskan masa kecilnya tidak lain—hanya mencari misteri tentang saudara sedarahnya Oeroeg.
Pusaran politik besar dunia, Perang Dunia II, begitu jauh memisahkan persahabatan unik itu. Johan tertahan di Negeri Belanda, sementara ayahnya tertahan di Jawa. Oeroeg, sebagai bagian dari intelektual bumiputra yang sadar akan pembebasan, akhirnya menjadi bagian dari kelompok pendukung Republik. Johan, secara politis ada diseberang Oeroeg, menjadi bagian dalam pemuda Belanda yang ”dipaksa berperang” melawan orang Republik yang sebenarnya tidak mereka musuhi. Mereka terjun karena politik ’paksa” pemerintah bernama Wajib Militer untuk bergabung dalam Koninklijk Leger (KL). Johan adalah Letnan dengan kemampuan Zeni Bangunan yang memperbaiki jembatan. Diseberang sana ada Oeroeg yang menjadi orang penting dalam sebuah milisi Republik.
Sebagai perwira KL, Johan tergolong desertif dan kerap bermasalah dengan perwira perwira atasannya—yang dapat informasi dari NEFIS (intelejen Belanda di Indoensia) tentan kegiatan pribadi Johan yang menyimpang dari kebiasaan tentara umumnya. Dia bisa menghilang kemana saja menuruti intuisinya untuk mencari ”saudara sedarahnya” dan memecahkan sebuah misteri yang meliputi dirinya, Oeroeg, ayah Johan dan ayah Oeroeg yang menjadi ’jongos’ dirumah Johan dan tewas ketika mengambil arloji ayah Johan yang jatuh ke dalam danau. Insiden kematian ayah Oeroeg itu menjadi bagian misteri dari Johan hingga dewasa. Ada cacat orang Belanda dalam superioritas mereka sebagai penguasa nusantara kala itu.
Tidak mudah mencari Oeroeg. Johan harus lalui banyak hal hingga tertangkap milisi Republik dan ditawan. Johan juga harus melihat ayahnya tewas dimakan revolusi kemerdekaan Indonesia yang kacau di Kedungjati, dimana pikiran Johan setelah ayahnya tewas semakin tertuju pada Oeroeg. Johan akhirnya tahu bahwa Oeroeg telah ditawan Tentara Belanda selama enam bulan. Tiba waktu pertukaran tahanan antara milisi Republik dengan tentara Belanda, Johan yang seorang diri ditukar dengan sebelas orang Belanda. Mereka dilepas bersamaan. Johan maju seorang diri sambil memperhatikan tawanan Indonesia yang berjalan berhadapan dengannya di sebuah jembatan. Joham memperhatikan satu persatu, dilihat tawanan terakhir dibelakang, seorang yang nampak terpelajar. ”Saudara Sedarah” Johan itu muncul. Johan menawarkan persahabatan lama itu, sementara Oeroeg yang hanya bilang ”Asalkan sebelas orang Indonesia tidak ditukar dengan seorang Belanda”. Oeroeg nampak dibakar revolusi kemerdekaan. Oeroeg menjaga persahabatan itu begitu dalam dan dia hanya tampakan darah revolusinya. Pertemuan di jembatan itu adalah satu-satunya pertemuan antara dua ”saudara sedarah”. Setelah itu, mereka kembali pada kehidupan mereka ketika Tentara Belandaangkat kaki dari Indonesia. Bagaimanapun sahabat tetap sahabat. Perang dan revolusi hanya permainan dunia yang harus dilalui tanpa harus membunuh ”saudara sedarah” di dalam hati manusia.

Jumat, Februari 01, 2008

Lihat Nusantara Lewat Mata Inada Dao

Letupan Krakatau itu mulai menyambut Inada Dao (Bunda Dao) untuk bercerita tentang anak-anaknya lewati gambar-gambar hidup. Fenomena letusan itu seperti mengajak kita untuk mendengar Inada Dao bercerita. Setelahnya akan muncul rangkaian gambar hidup mengenai suasana kolonial, yang mungkin juga akan memilukan sebuah bangsa nestapa kala itu yang ribuan tahun mendiami mendiami nusantara ini. Akan tergambar bagaimana orang-orang ribumi direkrut menjadi kuli kontrak untuk perkebunan. Diantara kuli itu mungkin juga beberapa dari mereka yang akan menjadi korban Poenale Sanctie dari onderneming (perkebunan), salah satunya di Deli, tempat mereka menyambung hidup. Seorang penginjil yang berkuda dengan diantar oelh seorang pribumi yang berjalan telanjang kaki akan terekam. Dimana penginjil itu itu mengalami nasib malang karena jatuh ke air ketika menyeberangi sungai.

Kisah Moeder Dao masih panjang. Di Bowomataluo, sebuah kampung penting di Teluk Dalam Nias Selatan, para ksatria Nias dengan pakaian kebesarannya berkumpul didepan rumah pemuka mereka, tepat ditempat yang sekarang biasa diadakan Hombo Batu (lompat batu Nias). Kemajuan jaringan kereta api dan konsumsi mobil oleh orang-orang kaya di Hindia Belanda juga disajikan. Mobil begitu ekskusif seolah hanya dinikmat oleh orang-orang Eropa kaya yang tinggal di tanah Jawa. Kala itu, 1912 hinga 1932, kereta api telah mampu melewati perbukitan, sungaiyang curam di Jawa Tengah. Inada Dao juga bercerita tentang suasana para buruh pabrk di Balikpapan bekerja di bengkel trem (kereta), sebuah kendaraan yan hilang dan tidak mungkin lagi ditemui di kota itu. Sejarah pelayaran modern di nusantara akan diwakili oleh seuah kapal milik Kononkljk Packetvart Maatschappij (KPM) yang melayari sungai besar di Kalimantan Bagian Selatan. Pemandangan aneh anak Bali yang merokok juga direkam dengan baik dalam film okumenter ini. Rasanya bukan cuma itu yang akan diceritakan Bunda Dao tentang Nusantara.
Selama 88 menit, mata penonton akan lihat bagamana nusantara, nama paling indah untuk menyebut kepulauan raya ini, dalam kurun waktu 1912 hingga 1932. Zaman dimana lebih banyak diputar film-film bisu di nusantara ini. Film ini tidak bercerita seperti film-film komersil. Gambar film ini berbicara lewat potongan-potongan film yang dirangkai Vincent Monnikendam sang sutradara.
Film ini dirilis pada 1995. Gambaran nusantara dalam film ini tidak disajikan secara runtut oleh Monnikendam. Sajian gambar secara acak itu cukup artistik, walaupun ketika gambar hdup itu diambil dalam kurun waktu 1912 hingga 1932 bukanlah untuk tujuan artistik.
Monnikendam kumpulkan rangkaian film-film bisu yang diambil oleh kameramen Belanda pada tahun 1912 hingga 1932. Dari gambar kita lihat dalam film itu, tampaknya sang kameramen harus mengunjungi daerah-daerah terpencil yang kala itu dalam genggaman Sang Ratu Wilhelmina dari Belanda. Betapa, dengan susah payah sang kameramen harus membawa peralatannya ke daerah yang sulit djangkau mesin mobil kala itu. Bisa di bayangkan bagaimana sulitnya dengan teknologi rekam gambar hidup yang jauh dengan masa sekarang. Demi Ratu Belanda, rasanya kameramen itu sajikan bagaimana Nusantara yang telah digenggam imperium keluarga wanita yang mungkin hanya bersolek di Istana Negeri Belanda.
Sangat menarik dari judul film ini adalah mengambil istilah Nias untuk ibu atau Bunda, "Inada". Inada Dao adalah sosok yang sangat dipuja oleh masarakat Nias kuno. Konon, manusia diturunkan oleh Bunda Dao ke dunia disebuah tempat yang disebut "Bumi Manusia" atau Tana Niha (pulau Nias). Bunda Dao bisa dipadankan dengan ibu pertiwi. Inada Dao mungkin hanya istilah orang Nias saja, namun itu sudah cukup untuk menyebut sosok yang melahirkan manusia nusantara, yang bercerita dalam film ini. Inada Dao bercerita tentang nusantara untuk mencintainya. Cinta yang akan menerangi manusia nusantara itu, seperti dalam sebuah lagu, "Bagai sang surya menyinari dunia".


Kamis, Januari 31, 2008

Genjer-genjer Tak Pernah Mati


"Genjer-genjer. Nong kedok’an pating keleler. Genjer-genjer. Nong kedok’an pating keleler. Emak’e tole, teko-teko mbubuti genjer. Oleh sak tenong. Mungkor sedot seng tole-tole. Genjer-genjer. Saiki wis digowo muleh. Genjer-genjer. Isuk-isuk didol ning pasar. Dijejer-jejer, diuntingi, podo didasar. Dijejer-jejer, diuntingi, podo didasar. Emae’ Jebreng. Podo tuku nggowo welasan. Genjer-genjer saiki wis arep diolah. (Muhammad Arief, Genjer-genjer)

Ini bukan lagu mars Partai Komunis Indonesia, ini hanya lagu rakyat Genjer-genjer.Tapi banyak orang menganggap ini lagu PKI. Seorang kawan pernah bilang, "aku bisa di tempeleng ayahku kalau nyanyikan lagu itu". Lagu itu biasa dinyanyikan sebagian mahasiswa nakal di kampus. Lagu tadi sudah menjadi lagu haram selama Suharto berkuasa. Kini, apalagi setelah sang diktator itu tumbang, lagu itu perlahan sudah tidak haram lagi. Hanya beberapa orang tua masih tabu dan menganggap itu "lagu PKI"
Memang banyak orang menganggap ini "lagu PKI". Sejarah Indonesia masa orde baru memang menggelikan. Sejarah orde baru seperti mencuri karya budaya Banyuwangi, untuk dijadikan "alat pembenci massa". Genjer-genjer yang awalnya jeritan berbentuk lagu rakyat miskin, lapar dan tertindas dijadikan "setan yang harus dibenci". Sama halnya, Das Kapital, yang merupakan buku anti kapitalisme. Oleh orde baru buku ini adalah "buku setan" padahal ini buku yang wajib dibaca mahasiswa Ekonomi. Pembodohan oleh negara selama 3 dekade ini sempurna sudah. Ada buku terlarang, lagu terlarang, mungkin juga keyakinan terlarang.
Budayawan Banyuwangi Fatrah Abbal, 76, menyatakan, lagu Genjer-genjer sebenaranya diilhami oleh masakan sayur genjer yang disajikan Ny. Suyekti, Istri Muhammad Arief di tahun 1943. “M.Arief heran, tanaman yang awalnya dikenal sebagai makanan babi dan ayam itu ternyata enak juga dimakan manusia, akhirnya ia mengarang lagu Genjer-genjer,” katanya. Lagu ini lalu menjadi lagu rakyat berjudul Tong Ala Gentong Ali Ali Moto Ijo. Lagu ini pernah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani ketika orde lama belum tumbang.
Bisa ditangkap dari lirik lagu ini, isinya seputar kelaparan. Dimana seorang ibu berusaha keras memberi makan anaknya dari tanaman genjer yang tumbuh liar. Malangnya sang anak tidak tertolong. Setelah orde lama tumbang, lagu yang kerap dinyanyikan orang-orang kiri Indonesia lalu diberi "lebel haram". Lagu ini dicap sebagai lagu PKI, setelah PKI dan segala hal yang berbau dengan PKI dilarang.
Segera, lagu yang bercerita tentang kelaparan itu dilarang. Entah. Lagu ini tidak bicara dan mengajak orang untuk melawan negera. Lagu ini tidak mengajak manusia untuk berhenti bersujud pada Tuhan. Lagu ini hanya cerita seorang ibu yang memperjuangkan anaknya yang hampir habis usianya dengan mencabuti genjer-genjer yang tumbuh liar dipekarangan.
Dosa lagu ini, dimana rezim orde baru dan simpatisannya, hanya karena lagu ini pernah dinyanyikan orang PKI. Bila lagu ini tidak pernah dinyanyikan orang-orang PKI, maka lagu ini tidak akan menjadi lagu terlarang dimasa orde baru.
Dosa sebuah lagu ini juga menjadi azab bagi penciptanya, Muhamad Arif sekeluarga. Muhamad Arif harus menjadi korban vandalisme massa orde baru. Dimasa selanjutnya, nasib anak Muhamad Arif, Sinar Syamsi. Sebagai "anak PKI" Syamsi kerap di PHK tanpa alasan jelas. G 30 S seperti dianggap dosa ayahnya yang harus menimpa dirinya, seperti yang diinginkan rezim Suharto. Pernah terpikir oleh Syamsi untuk menjadi warga negara Belanda atau China. Berharap lagu genjer-genjer akan memberikan kebahagian dari orang-orang kiri disana. Ibu pertiwi sudah tidak bisa memberinya ketenangan. Ibu Pertiwi hanya milik penguasa, bukan milik "anak-anak PKI".
Lagu ini, boleh saja dsingkirkan pendukung orde baru. Namun Lagu ini akan abadi dinyanyikan orang yang lapar dan tertindas. Mengutip kata Jimi Multazam, "Yang Terekam Tak Pernah Mati". Pastinya, Genjer-gencer juga tak pernah mati. Lagu ini akan terus bercerita penderitaan rakyat di nusantara. Lagu ini juga pernah disenandungkan lagi dalam film "Gie". Bukankah ini berarti lagu ini mengabadi dalam ingatan, setidaknya dalam benak beberapa orang saja.

Senin, Januari 28, 2008

Sosok Dibalik Garuda Pancasila

Hampir semua ruang resmi selalu ada lambang burung Garuda Pancasila. Selalu ada pertanyaan dalam pelajaran sejarah, "siapa yang menjahir "Sang Saka Merah Putih"? murid akan menjawab "Ibu Fatmawati". Tapi tentang burung Garuda yang sudah meng-Indonesia itu, rasanya belum pernah guru di kelas bertanya, "Siapa yang merancang lambang negara "Garuda Pancasila?". Murid juga belum tentu bisa menjawabnya, begitu juga guru sejarahnya. Ini bukan kesalahan guru sejarah. Kurikulum sejarah di negara ini yang harus dirubah. Nasionalisme telah melahirkan kebisuan, dan akan bermuara pada kebohongan lagi.

Mengapa perancang burung Garuda itu dilupakan. Sejarah, yang ditulis kaum nasionalis negeri ini, seperti membuang nama tokoh ini dalam keranjang sampah. Sebagai orang yang tidak sejalan dengan kemauan besar orang-orang Indonesia, Revolusi dengan produk sebuah negara kesatuan, bukan federalis--seperti impian perancang burung garuda tadi.
Syarif Abdul Hamid Alkadrie, terlahir sebagai putra Sultan Pontianak--di Pontianak,Kalimantan Barat, 13 Juni 1913. Sebagai anak orang terpandang, Hamid bisa bersekolah di sekolah dasar untuk anak-anak Eropa, Europe Lager School. ELS Hamid dijalani dibeberapa kota seperti di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Tamat ELS, Hamid belajar di sekolah menengah untuk anak Eropa dari yang biasanya lulusan ELS, Hogare Burger School. Tamat HBS, Hamid meneruskan ke Technische Hoge School Bandung (ITB sekarang, namun tidak sampai tamat. Sebagai Pangeran, Hamid seolah terobsesi dengan 'junker' di Eropa. Dimana anak laki-laki keluarga bangsawan menjadi perwira militer. Hamid lalu masuk Koninklijk Miliaitre Academie (Akademi Militer Kerajaan Belanda) di Breda, Negeri Belanda. Tamat dari sana Hamid meraih pangkat letnan II pada kesatuan KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger: Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Sebelum PD II, hanya sekitar 20an pemuda pribumi saja yang menjadi kadet KMA.
Hamid berdinas di KNIL hingga mendaratnya Balatentara Jepang. Belanda dan sekutunya dan sekutunya kalah. Kala Jepang mendarat, Hamid menjadi Letnan I KNIL di Balikpapan. Pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan bebas ketika Jepang menyerah kepada Sekutu. Pendaratan Jepang adalah masa buruk baginya, sebagai perwira KNIL yang ditawan juga sebagai anak dari Sultan Pontianak yang dibunuh Jepang. Setelah comeback-nya Belanda, mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Hamid adalah orang pribumi (Indonesia) termasuk orang dengan pangkat tertinggi dalam KNIL, walau dia tidak lagi pegang komando dalam pasukan KNIL semasa revolusi Indonesia. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda.
Setelah ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalimantan Barat dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Hamid menjadi orang penting dalam masa-masa itu. Sebagai ketua delegasi BFO di KMB. Inilah mengapa banyak orang menilainya sebagai seorang pengkhianat revolusi Indonesia.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, Hamid masih menjadi orang penting di Nusantara, dimana dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio. Selama jabatannya sebgai menteri negara itu dia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Hamid seolah tidak puas dengan posisinya ini. Hamid menginginkan kursi Menteri Pertahanan yang dipegang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, kawan ELS Hamid di Yogyakarta dulu.
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia teknis untuk membuat lambang negara dengan nama 'Panitia Lencana Negara'. Dimana Hamid menjadi koordinator. Susunan panitia teknis ini terdiri dari Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Menurut Bung Hatta dalam “Bung Hatta Menjawab” ditulis, "untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang". Setelah rancangan dipilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika". Tanggal 8 Februari 1950, rancangan akhir lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan akhir lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Hamid kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali - Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. A.G .Pringgodigdo dalam “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, "rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “'tidak berjambul”' seperti bentuk sekarang ini".
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.
Penyempurnaan lambang negara itu terus berjalan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini. (Wikipedia.com)
Bagaimanapun ini juga karya Hamid, yang juga anak dari bangsa yang bernama Indonesia ini. Kendati Hamid punya sikap berbeda dengan bangsa ini.
Hamid II diberhentikan pada 5 April 1950 akibat diduga bersengkokol dengan Westerling dan APRA-nya. Hamid telah bersekongkol dengan Westerling. Setelah gagal dengan "Kudeta 23 Januari 1950", tanggal 24 Januari 1950 sekitar pukul 15.30 sore, Westerling mendatangi Hamid di hotel Des Indes bersama bekas Inspektur Polisi Frans Nayoan. Pertemuan itu melahirkan rencana membunuh Sri Sultan HB IX (Menteri Pertahanan), Ali Budiarjo (Sekretaris Jenderal Pertahanan) lalu T.B. Simatupang (Kepala Staf Angkatan Perang RIS) Dalam sidang menteri RIS di Pejambon. Dalam adegan pembunuhan itu, nantinya Hamid akan ditembak kakinya, sementara tiga orang yang disebut tadi akan dibunuh. Nyatanya Westerling dan pasukannya tidak jadi menyerbu dan hanya berputar dengan mobil di sekitar Pejambon. Westerling dan beberapa kawannya putus asa setelah gerakannya gagal. Semetara itu sidang menteri RIS tidak berjalan sebagai-mana mestinya, bubar sebelum waktunya karena Jakarta dianggap tidak aman.
Setelah konspirasi yang gagal itu Hamid hidup sebagai tahanan RIS.
Bagai kehidupan Hamid selanjutnya, seperti dicatat Wikipedia.com: "Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang."
Melihat Burung Garuda Pancasila yang dia rancang itu, rasanya tidak bijak jika mencap Hamid sebagai pengkhianat dalam sejarah Indonesia. Dia juga punya sumbangan lebih, lambang Garuda Pancasila, dibanding orang-orang yang mengatakannya 'pengkhianat'.

Penentu Sejarah Baru

Tidak ada kata pahlawan dan pengkhianat dalam sejarah. Bilapun ada hal itu tidak jauh dari amis politis rezim.Kejaksaan baru saja membakar buku-buku sejarah, seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Entah apa maksud dari kejaksaan itu. Kejaksaan saat ini tidak ada bedanya dengan Kejaksaan zaman orde lama yang doyan menghanguskan piringan hitam The Beatles pada dekade 1960an.Seperti ada pihak yang menolak paradigma baru sejarah Indonesia yang berusaha lebih terbuka untuk melakukan rekonsiliasi nasional atas peristiwa berdarah sekitar 1965/1966, seperti yang mungkin termuat dalam buku-buku sejarah yang dibakar tadi.

Pembakaran buku-buku itu, salah satunya karena kasus G 30 S yang belum selesai. G 30 S/PKI seolah menjadi kasus yang sudah selesai oleh orang-orang yang umumnya menjadi bagian dari orde baru. Paradigma lain dengan istilah G 30 S berusaha meluruskan sejarah negeri yang bengkok. Apakah G 30 S harus pakai embel-embel PKI atau tidak, masih menjadi masalah yang tidak akan selesai hingga kini.

Seperti ada pihak yang menolak paradigma baru sejarah Indonesia yang berusaha lebih terbuka untuk melakukan rekonsiliasi nasional atas peristiwa berdarah sekitar 1965/1966, seperti yang mungkin termuat dalam buku-buku sejarah yang dibakar tadi.
Pembakaran buku-buku itu, salah satunya karena kasus G 30 S yang belum selesai. G 30 S/PKI seolah menjadi kasus yang sudah selesai oleh orang-orang yang umumnya menjadi bagian dari orde baru. Paradigma lain dengan istilah G 30 S berusaha meluruskan sejarah negeri yang bengkok. Apakah G 30 S harus pakai embel-embel PKI atau tidak, masih menjadi masalah yang tidak akan selesai hingga kini.

Dalam pembelajaran sejarah di sekolah, buku-buku sejarah harus menjadikan buku putih yang berjudul Tragedi Nasional: Percobaan Kup G 30 S/PKI Di Indonesia yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, keduanya pejabat rezim lalu yang sudah tumbang—dimana PKI ditampilkan sebagai pelaku tunggal G 30 S. begitupun yang diterbitkan Sekretaris Negara, Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Setelah reformasi bergulir, banyak pendapat yang bertentangan dengan dua pejabat rezim orba itu, beberapa cetakan buku tidak memakai istilah PKI dibelakang G 30 S.
Sekarang permasalahannya tidak lagi pada pakai PKI atau tidak pakai PKI dalam istilah G 30 S. Hak setiap orang untuk menggunakan untuk memakai istilah G 30 S atau G 30 S/PKI—tidak peduli itu sejarahwan atau bukan karena menafsirkan sejarah adalah hak siapa saja, termasuk orang-orang awam dipinggir jalan sekalipun.
Sangat disayangkan adalah pembakaran itu telah menampilkan pembakar sebagai penentu kebenaran sejarah, dimana darinyalah semua boleh dipercaya. Kejaksaan rupanya telah memiliki fungsi baru sebagai penentu kebenaran sejarah di negeri ini. Sejarahwan paling kesohor sekalipun tidak akan mau menjadi penentu kebenaran karena bagaimanapun tugas sejarahwan bukan menentukan kebenaran, melainkan menafsirkan sebuah peristiwa sejarah.
Sejarahwan hampir selalu dikejar pertanyaan "mana yang benar?" oleh banyak orang. Ini pertanyaan sulit dijawab oleh sejarahwan karena kebenaran itu nisbi. Sejarahwan tidak perlu menjawab mana yang benar. Dengan memberikan penafsiran atas sebuah peristiwa sejarah saja, kendati menurut paradigmanya sendiri, sebenarnya sejarahwan telah melakukan tugasnya.
Sejarahwan besar saja tidak pernah merasa bahwa apa yang menjadi analisisnya adalah sebuah kebenaran. Begitupun sejarahwan lain, mereka lebih suka menafsirkan daripada membuat kebenaran. Dunia pendidikan Indoensia masih berusaha diarahkan ke alam fasis dimana institusi negara selalu benar—seperti dalam novel 1984 karya George Orwell. Paradigma pendidikan Indonesia, dalam memandang sejarah, tidaklah bersikap adil dan cenderung berpihak pada kekuasaan dan kemapanan.
Disayangkan pembenaran sejarah yang sering dilakukan rezim yang sudah lewat, tidak lebih untuk melegalisasi kekuasaannya agar terus bertahan. Akibatnya, lawan politis sang penguasa masuk keranjang sampah bergelar pengkhianat dan sang penguasa dan yang segaris dengan penguasa akan menjadi pahlawan.
Sejarah dijadikan daftar yang memuat para pahlawan dan pengkhianat, padahal sejarah mengajarkan manusia untuk tidak lebih bodoh daripada keledai. Nyatanya dengan paradigma sejarah yang dianut orba lebih menjadikan manusia Indonesia lebih bodoh daripada keledai. Dimana manusia Indonesia hanya dijadikan robot demi kekuasaan rezim.
Pelajaran sejarah disekolah menjadi lahan empuk bagi penguasa macam ini, dimana mereka menentukan sejarah mereka sendiri tanpa peduli paradigma sejarah menyesatkan generasi muda mereka. Sah sekali membakar buku bila buku itu tidak sesuai dengan paradigma mereka—begitupun mengganti kurikulum bila dirasa membahayakan.


Rabu, Januari 16, 2008

Bang Ben Ngerock

Siapa tidak kenal Benyamin Suaeb? Anak muda sekarang, mungkin hanya mengenalnya sebagai pelawak dari film-film komedi Benyamin yang diproduksi dekade 1970an, yang sering diputar televisi swasta di era redupnya film nasional Indonesia dekade 1990an silam. Banyak yang kurang mengenal sebagai musisi rock pada zamannya. Orang lebih mengenal Benyamin sebagai musisi tradisional dengan gambang kromong Betawi-nya. Benyamin memang menjadi legenda dunia hiburan dan panggung komedi Indonesia. Dia juga telah menjadi inspirasi, setidaknya panutan, bagi beberapa seniman muda Indonesia. Kiprah Benyamin sebagai musisi rock n roll pada paruh kedua dekade 1960an seperti terlupakan, padahal lagu 'Kompor Bledug' terbilang dasyat sebelum God Bless dan raksasa rock tanah air lainnya muncul dalam kanca musik rock Indonesia.

Wajah Benyamin kerap hiasi layar kaca Indonesia tahun 1970an. FIlm Benyamin umumnya adalah genre komedi. Film Benyamin mendapat tanggapan positif publik. Film "Intan Berduri" yang dibintanginya mendapatkan piala Citra pada 1978. Benyamin juga pernah memerankan tokoh Doel dalah "Si Doel Anak Modern" bersama rocker legendaris Ahmad Albar.

Benyamin juga pernah merintis karir sebagai musisi sebelum terjun ke dunai film pada dekade 1970an. Benyamin pernah memainkan Gambang Kromong hingga rock n roll. Di dunia musik Benyamin cukup cemerlang. Sebagai musisi rock Benyamin bisa dibilang sukses. Selama orde lama berkuasa, tidak akan ada Beatles, Bee Gees, Everly Brother dan musik lainnya.

Ketika musik rock dilarang pada dekade 1960an, Benyamin seolah melawan meanstream politik yang ada. Sukarno melarang lagu barat yang 'Ngak Ngik Ngok' seperti rock n roll. Orang orde lama bilang musik rock adalah musik setan. Seperti juga Koes Bersaudara, benyamin juga pernah merasakan bui karena ideologi musiknya yang nekad membawakan lagu barat.

Lagu rock n roll paling sukses dipasaran yang dibawakan Benyamin adalah "Kompor Bledug". Lagu ini keluar dipasaran setelah musim anti rock n roll baru saja berlalu. Arransemen lagu ini bisa dibilang Ngerock pada tahun perilisannya, dengan iringan organ dan sound drum yang unik. Mungkin saja arransemen lagu ini tergolong mutakhir pada zamannya. Tentu saja arransemen lagu ini dipengaruhi langsung musik rock n roll dari luar. Lagu ini seperti judulnya juga meledak di pasaran.

Lagu "Kompor Bledug" memiliki persamaan, walau tidak 100%, dengan lagu-lagu rock n roll yang diusung Naif selama beberapa tahun terakhir ini. Naif bahkan pernah bermimpi untuk berkolaborasi dengan Benyamin, namun Benyamin keburu meninggal. Mereka memiliki kecocokan, 'retro banget'.

Benyamin Sueb (1939 - 1995) lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939. Benyamin Sueb memang sosok panutan. Kesuksesan di dunia musik dan film membuat namanya semakin melambung. Benyamin telah menghasilkan 75 album musik dan 53 judul film yang ia bintangi adalah bukti keseriusannya di bidang hiburan tersebut. Perhatian Benyamin pada Gambang Kromong, secara tidak langsung, mentasbihkannya sebagai tokoh kesenian Betawi.



Nagabonar: Satu dari banyak Jenderal Batak

Pencopet jadi Jenderal? Rasanya itu cerita film Nagabonar yang digarap Asrul Sani tahun 1986. Nagabonar, mantan copet itu jadi jenderal, "Apa kata dunia?". Bagaimana mungkin, kapan dia lulus akademi militer, atau sudah berapa lama dia jadi serdadu hingga berani dia jadi Jenderal. Zaman revolusi adalah masa-masa penuh kekacauan. Apa saja juga bisa terjadi. Nyatanya Nagabonar pun jadi Jenderal. Anggap saja Nagabonar Jenderal yang diangkat oleh kekacauan zaman revolusi itu, seperti kata beberapa tulisan lain. Nagabonar menjadi kisah fiktif yang menarik. Semacam roman historis yang kocak dan memberikan gambaran pada kita betapa kacaunya negeri ini dimana sebuah negara baru harus lahir dimasa kekacauan ini. Nagabonar juga satu dari sekian pelaku dimasa yang kacau itu.

Tanah Batak punya banyak Jenderal. Buku sejarah nasional Indonesia pasti menulis nama Abdul Haris Nasution dan Tahi Bonar Simatupang. Keduanya termasuk pembangun Tentara Nasional Indonesia. Nama mereka akanselalu diingat dalam sejarah militer Indonesia. Masih ada lagi, Donald Izacus Panjaitan yang gugur sebagai pahlawan Revolusi. Di Balige, tempat kelahiran D.I. Panjaitan, patung jenderal ini berdiri tegak dijalan penting antar kota dalam provinsi Sumatra Utara.

Masih ada Jenderal-jenderal Batak lain di negeri ini. Entah apa tanggapan orang Batak yang bukan serdadu pada saudara setanah Batak mereka yang menjadi Jenderal. batak tidak termasuk suku penyumbang pemudanya dalam kemiliteran zaman kolonial. Hanya sedikit pemuda Batak yang menjadi serdadu KNIL.

Mengapa orang Batak punya banyak Jenderal. Sebagai daerah yang menjadi lahan pergerakan Zending pasca berakhirnya perang Sisingamangaraja XII, banyak sekolah model barat yang dikelola oleh Zending berdiri. Pendidikan model barat ini banyak dinikmati oleh sebagian orang-orang Batak khususnya orang-orang terpandang disana.

Majunya pendidikan modern di tanah Batak, walau tidak dirasakan semua orang Batak, memungkinkan beberapa pemuda Batak memperoleh ijazah MULO (Meer Uitgebrijd Leger Onderwijs: setingkat SMP sekarang). Bahkan ada yang AMS (Algemene Middelsbare School: setingkat SMU). Ijazah setara AMS merupakan akses untuk menjadi calon perwira seperti A.H. Nasution dan T.B. Simatupang. Mereka menjadi segelintir pemuda pribumi yang dididik sebagai kadet KMA (Koninlijk Militaire Academie: Akademi Militer Kerajaan)di Bandung.

Kedua kadet Batak tadi tergolong orang Batak yang pertama-tama menjadi Jenderal dalam dinas militer reguler TNI. Jumlah itu tentunya semakin bertambah. Tanpa bermaksud mengolok, apalagi menghina, tanah Batak juga memiliki Jenderal unik. Jenderal dadakan semasa revolusi kemerdekaan. Nama Jenderal ini adalah Timur Pane. Sebelum revolusi, jenderal ini pernah berprofesi sebagai pencopet.

Pencopet jadi jenderal? kita akan ingat nama Nagabonar. Film yang dibuat oleh Asrul Sani yang kemudian sekuelnya digarap oleh Deddy Mizwar. Deddy Mizwar masih memegang kuat karakter Nagabonar. Tetap jago mencopet, keras, kocak dan tulus. Bedanya kali ini Nagabonar sudah tua. Darimana Asrul Sani dapat ilham Nagabonar-nya. Bisa jadi Timur Pane adalah ilham itu, seperti pernah ditulis Aboebakar Loebis dalam biografinya tentang kunjungannya ke Sumatra Utara semasa Revolusi kemerdekaan sebagai utusan pemerintah pusat jakarta.

Saat itu, zaman revolusi Indonesia sedang bergolak, Aboebakar Loebis mendengar ada seorang mantan copet bernama Timur Pane yang menjadi pejuang yang bergerak melawan Pasukan Militer Belanda di tanah Batak, Sumatra Utara. Pejuang bekas pencopet ini, memiliki banyak pasukan, mengangkat dirinya sebagai Jenderal Mayor. Tentu saja pengangkatan Timur Pane sebagai Jenderal itu tidak sesuai dengan instruksi militer pusat di Jawa.

Apapun yang dilakukan Timur Pane, termasuk mengangkat diri sebagai Jenderal, pastinya juga ada jasa dia dalam mempertahankan tanah Batak dari pendudukan militer Belanda dimasa revolusi. Tidak diketahui nasib Timur Pane setelah revolusi. Namanya hilang setelah militer Belanda angkat kaki dari tanah Batak dan kepulauan Nusantara ini.

"Apa kata dunia?" nama jenderal copet itu terlupakan juga. Tenang saja, setidaknya ada jenderal Batak lain, 'jenderal beneran' pake bintang di pundak dan naik mobil, bukan jenderal copet yang naik kuda atau menggendong emaknya seperti di film Nagabonar.



Sejarahku Jangan Kau Paksa Dengan Sejarahmu

Di sekolah sejarah seperti menjadi kitab keramat yang membosankan. Terserah orang bilang sejarah membosankan dan tidak berguna. Ada dua kemungkinan alasan mereka berkata begitu, pertama mereka bodoh dan kedua mereka bukan manusia. Umumnya orang berpikir manusia tidak menyejarah, padahal manusia itu hidup dilingkupi sejarah. Tanpa manusia tidak akan ada sejarah dunia.

Tidak ada Manusia hidup tanpa sejarah. Hanya orang orang bodoh yang tidak setuju pernyataan tadi. Orang selalu terjebak bahwa sejarah sebagai hapalan memuakan dan membosankan di sekolah. padahal sejarah itu apa saja yang dialami kita semua dalam hidup. Termasuk apa yang kita lakukan beberapa menit yang lalu. Belajar sejarah tidak harus menghapal tanggal peristiwa besar, sebab sejarah mencakup semua, termasuk sejarah kecil yang unik.

Sejarah dalam pembelajarannya di Indonesia telah dihancurkan begitu rupa. Dimana para siswa selalu dijebak dengan sejarah elitis.Hal ini semakin menjauhkan siswa dari kehidupan riilnya. Hanya ada Jenderal Sudirman, Sukarno, Suharto atau tokoh nasional siapalah.

Sejarah sebagai ilmu humanis tidak pernah dipaku untuk hanya mengkaji hal besar. Banyak hal kecil yang sebenarnya mempengaruhi kehidupan manusia. Belajar sejarah sebenarnya berusaha membuat manusia menjadi arif, bukan sekedar menjadi hapal semua hal yang ada di buku sejarah. Apalagi yang ada di buku sejarah milik penguasa.

Menjadi bijak tidak perlu belajar dari tokoh besar semata. Belajar dari tuykang becak pun bisa membuat kita menjadi manusia humanis, yang juga memiliki kearifan. Ini lebih baik dibandingkan dengan belajar dari tokoh besar yang diagungkan, dimana banyak hal disekitar tokoh itu dimanipulasi. Artinya tokoh besar lenbih banyak dilingkupi kebohongan sejarah. Sudah waktunya pembelajaran sejarah Indonesia keluar dari meanstream sejarah orang besar. Sudah waktunya menilik sejarah kecil. Bukan lagi menghafal yang ditekankan dikelas, melainkan menangkap sisi yang manusiawi dari sejarah, peristiwanya, tokohnya dan apa saja yang melingkupinya.

Pembelajaran sejarah yang ada juga tidak jarang mematikan kreasi siswa. Sudah waktunya siswa memiliki sejarahnya sendiri. Biarkan anak tukang becak memahami sejarah tukang becak, atau sejarah apapun yang ingin dikajinya dan jangan pernah memaksakan padanya sesuatu yang sudah dikultuskan oleh otoritas penguasa yang selalu menjadikan sejarah sebagai alat. Ingat hidup adalah memilih. Siswa yang tidak mendapat nilai bagus di kelas bukanlah manusia yang buruk.

Mempertahankan apa yang terjadi diruang kelas saat ini akan membuat siswa seperti robot. Tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia dipastikan gagal dimasa depan. Jangan bertanya bila suatu hari nanti siswa-siswa akan berkata "We Don't need no education!"


Sabtu, Januari 12, 2008

Cinta Charlie Chaplin Pada Bali

Siapa percaya komedian kelas dunia bernama Charlie Chaplin pernah berkunjung ke Indonesia. Kata Pewarta Deli, Charlie Chaplin Jadi Turis di Bali. itu terjadi di dekade 1932. Ketika dunia dilanda Depresi Ekonomi yang juga disebut Malaise. Orang Indonesia biasa menyebutnya zaman 'meleset'. Banyak orang kehilangan pekerjaan, perusahaan gulung tikar dan angka kejahatanmeningkat. Tapi Chaplin yang pernah miskin di London pada pergantian abad XIX ke XX itu justru berlibur. Chaplin memang berhak menggunakan uangnya untuk apa saja. Kunjungannya ke Bali, pulau Indah yang menjadi bagian dari dunia ketiga.


Pewarta Deli edisi 2 April 1932, memberitakan bahwa Charlie Chaplin tiba di Surabaya dan menginap di hotel Oranje, Surabaya. Dimana insiden merah putih Surabaya terjadi di hotel yang zaman Jepang bernama Yamato. Kedatangan Charlie Chaplin itu dielukan banyak penggemarnya di Surabaya. Para penggemar Chaplin itu yang sudah menunggunya di stasiun--karena mengira Chaplin akan turun dari kereta api padahal Chaplin tiba di Surabaya dengan menggunakan mobil. Kedatangan Charlie Chaplin ke Hindia Belanda itu tidak lain dalam rangka berwisata ke Hindia Belanda. Selama kunjungannya ke Hindia Belanda, Chaplin sempat mengunjungi Garut dan Bali. Kedatangan Chaplin ke Hindia Belanda adalah sebuah hal pentung sekali mengingat predikat Charlie Chaplin sebagai komedian besar kelas dunia yang memiliki karya penting dalam sejarah film komedi dunia dimasa film bisu berjaya.

Charlie Chaplin berkunjung ke Indonesia bersama Sidney (kakak Charlie dari ibu yang sama namun yang juga seniman lawak). Dalam kunjungannya ke Indoensiaitu, Chaplin menyempatkan diri mengunjungi Bali. Dari Surabaya, Charlie dan abangnya menuju Singaradja, Bali pada 4 April. Mereka sedang berlibur di Hindia Belanda dan menghentikan kegiatan berkeseniannya selama beberapa waktu. Mereka mendapat sambutan dari penduduk asli Bali dan orang-orang kulit putih disana. Dikabarkan mereka telah mengunjungi residen setempat.

Kunjungan Chaplin, komedian dunia kesohor itu, menjadi kehormatan bagi Hindia Belanda, juga Bali--yang belum terlalu berkembang sebagai tempat wisata yang ramai seperti sekarang. Pada dekade 1930an, Bali mulai dilirik sebagai tempat kesenian yang mulai dikenal dunia karena juga keberadaan orang kulit putih disana yang mulai memperkenalkan seni Bali ke seluruh dunia, salah satunya oleh Walter Spies atau Rudolf Bonnet.

Pewarta Deli, 8 April 1932 memberitakan Charlie Chaplin masih berada di Bali. Dia menginap di Bali Hotel, di Denpasar. Karena merasa senang di Bali, Chaplin menunda perjalanannya kembali ke Surabaya--yang semula tanggal 10 menjadi tanggal 17 April kedepan. Chaplin tampak menikmati suguhan gemalan dan tarian Bali. Wujud kesenangan Chaplin adalah dengan mengadakan pemutaran film-filmnya di Denpasar untuk menghibur rakyat Bali. Masyarakat Bali mungkin adalah orang-orang beruntung dibanding tempat lain. Untuk bisa nonton film, orang harus mengantri di Bioskop, bayar pastinya.

Kedatangan Charlie Chaplin ke Bali adalah anugrah tersendiri. Legenda film komedi sepanjang sejarah. Lebih dari itu, Chaplin terpesona hingga mau berlama-lama karena keramahan alam-nya. Pulau Bali menjadi milik Chaplin juga saat itu seperti kita memilikinya.

Mungkinkah kunjungan Chaplin ke Hindia Belanda (nama Indonesia untukmenyebutnusantara ini belum dipakaisaat itu)itu membuat Chaplin semakin peka atas kemiskinan. Sebagaiorang yang pernah miskin, tidak salah bila Chaplin menaruh simpati pada komunisme--yang berusaha memberi solusi atas masalah abadi bernama kemiskinan.

Rasanya, bukan Pewarta Deli saja yang berkata Charlie Chaplin pernah ke Indoensia zaman HIndia Belanda dulu. Bataviase Nouvelles tahun lalu juga berkata Chaplin pernah ke Indonesia. Saya hanya bisa berimajinasi kalau Charlie Chaplin, mungkin juga abangnya, jatuh hati pada pulau Dewata bernama Bali.

Kamis, Januari 10, 2008

Rock Cengeng AKA yang abadi

Piringan hitamku pernah mutar lagu bagus. Melankolis memang, tapi itu lagu punya makna dalam untuk seniman bermasa depan suram. Judul lagu itu "Jeritan Seniman" milik AKA yang ada Ucok Harahap 'Kribo' itu. Lagu itu, bisa dibilang cukup cengeng. Lirik dan musiknya 'Ngeblus'(sedih, tapi bukan lagu yang menyedihkan secara kualitas). AKA memang band aliran cadas Indonesia zaman retro dulu. Uniknya, lagu-lagu mereka yang kata orang 'cengeng' kerap direquest di radio-radio yang memutar lagu-lagu lama, atau yang memiliki acara yang menyajikan lagu-lagu zaman dulu--alias Jadul. Sebenarnya, sebagai band cadas memang diakui dengan aksi panggungnya yang cukup sarang zaman dulu, mungkin belum ada yang meniru kegarangan AKA diatas panggung.

AKA kependekan dari Apotik Kali Asin--apotik milik keluarga Ucok Harahap di Surabaya. Ucok Harahap, rocker kribo yang sekarang menyepi di kaki sebuah gunung di Jawa Timur, itu tidak lain otak dari AKA. Dia vokalis dalam band yang juga memainkan organ. personil AKA yang lain adalah Arthur Anez Kaunang--ayah dari Tessa Kaunang yang selebritis itu. Basis kidal itu lulusan sastra Inggris di sebuah PTN di Surabaya zaman dulu. Personil lain adalah Sunata Tanjung yang memainkan gitar untuk AKA--yang cukup diakui kualitas permainan gitarnya. Syech Abidin bertugas memainkan drum.

Band ini mengikuti perkembangan rock dunia. Awalnya mereka kerap memainkan lagu-lagu Jimi Hendrix. AKA seperti band rock lain juga menikmati zaman kebebasan musik rock di Indonesia. Mereka tidak mengalami apa yang dialami Koes Bersaudara yang dibui oleh rezim penguasa orde lama.

Lagu-lagu AKA umumnya keras. Apalagi yang berbahasa Inggris. Mereka juga memiliki lagu yang bisa dibilang komersil karena diminati masyarakat umum, yang mungkin saja tidak suka musik rock. Lagu "Badai Bulan Desember", "Seniman dan Biola" atau "Jeritan Seniman" masih suka di request orang-orang yang pernah muda di dekade 1970an. Dua lagu tadi bisa dibilang lagu cengeng. Seperti umumnya lagu sekitar dekade 1970an, lagu AKA tadi, diiringi sound dari organ Hammond. Iringan itu, walau terkesan 'jadul' bahkan kuno oleh anak zaman sekarang, lagu tadi menjadi semakin kuat karakternya. Walau tidak sepopuler "Whiter Shade of Pale" milik Procol Harum yang sepertinya irama lagu itu nyontek dari "Air in G String"-nya Johan Sebastian Bach. Sound Organ Hammond mungkin tidak saja dipakai oleh AKA, tapi juga band lain. Bagaimanapun sound itu seperti air abadi untuk band-band zaman dulu, termasuk "Badai Bulan Desember", Seniman Dan Biola" dan "Jeritan Seniman" milik AKA.

"Do What you Like" adalah album AKA yang cukup kesohor di negeri ini. Beberapa mereka berbahasa Inggris. Untuk ukuran Indoensia, beberapa lagu mereka cukup eksperimental juga, seperti apa yang dibuat Pink Floyd di belahan dunia lain.

Aksi panggung AKA cukup sangar. Pakai aksi gantung diri Ucok Harahap di awal konser segala. Konser AKA selalu ramai dipadati penggemar rock fanatik. Nama AKA patut disejajarkan dengan God Bless. Sayang AKA tidak eksis selama God Bless yang kerap ganti personil. AKA menghilang di dekade 1990an. AKA tinggal nama. Mereka tidak konser. Apa yang direkam AKA tak pernah mati. Lagu mereka, apalagi yang lagu-lagu cengeng, kerap diputar oleh penggemar atau radio yang menyajikan lagu-lagu lawas.

Pasca vakumnya AKA, selain Ucok Harahap, tiga personil lain--Syech Abidin, Arthur Anez Kaunang dan Sunata Tanjung membentuk SAS yang merupakan kependekan dari nama mereka. Musik mereka tidak sekeras AKA namun cukup sukses dimata publik karena musik rock di dekade 1980an tidak lagi sekeras awal 1970an. Musik rock tahun 1980an, pamornya sedikit menurun dibanding 1970an.


AKA membuat para personilnya jadi selebritis. Ucok Harahap pernah bermain dalam film-nya Rhoma Irama, "Darah Muda" dimana Ucok berperan sebagai rocker bengal dengan geng motornya. Ucok dapat peran antagonis dan Rhoma Irama tentu saja dapat peran jadi jagoan--seperti di film-film box office. Film tadi seperti memposisikan rock sebagai sebagai musik orang-orang bengal yang tidak memiliki kegiatan positif. Padahal ada rocker yang jadi Astronom seperti Brian May.

Hampir semua personil AKA belakangan menjadi orang-orang yang religius. Rock juga mengantarkan mereka menjadi itu secara tidak langsung. Ucok konon diberitakan menjadi paranormal. Mereka tetap berkesenian, namun tidak Ngerock seperti 1970an dulu. Usia mereka tidak lagi cocok untuk membawakan lagu-lagu pemberontakan ala Rock.

Minggu, Januari 06, 2008

Rock n Roll Indonesia (1): Dari Ngak Ngik Nguk hingga Deg Deg Plas

Suatu hari dibulan Desember 1999, aku alami kejadian yang tidak akan aku lupa. Aku tidak dendam atas hal itu. Ayahku marah dan punggungku dipukul. Habis kejadian itu aku langsung kabur. Entah kemana aku lupa. Semua bermula dari keisenganku pada lagu-lagu zaman dulu yang nggak ada matinya.Satu-satunya hiburan dihunianku yang sempit waktu kecil hanyalah piringan hitam. ya, piringan hitam milik ayah. Entah bagaimana dulu ayah mendapatnya. Itu barang berharga miliknya. Ayah akan marah bila aku memutar lagu Speed King dari piringan hitam Deep Purple miliknya. Dia hampir memukulku waktu aku ketangkap basah sedang memutar lagu dari barang keramat itu. Sejak itu selama beberapa waktu itu aku tidak menyentuh barang hebat itu lagi.
Persetan dengan kawan-kawan yang merasa hebat dengan lagu Backstreet Boy. Gila, ada juga anak-laki-laki penggemar Boyband. Entahlah, aku belum pernah dengan Beatle’s, Queen atau barang kali Pink Floyd yang dibilang ayah sebagai band hebat. Aku lebih tertarik mencari tahu nama besar band Inggris itu. Diantara piringan hitam ayah, terdapat lagu-lagu Koes Plus—paling tidak sekitar sepuluh album pop dan tidak termasuk lagu-lagu Melayu maupun keroncong.
Aku pernah menonton di tiga film Beatles akhir bulan ini. Aku tidak mengerti film itu. Hanya tergambar di kepalaku band itu selalu membuat para gadis zaman itu menjerit. Pernah juga aku dengar piringan hitam Beatles dilarang orde lama. Sukarno melarang lagu-lagu Beatles, Ngak Ngik Nguk katanya. Kata pendukung Sukarno zaman itu, lagu-lagu barat dinilai tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Negara rupanya berhak mengatur selera musik rakyat yang mereka tindas. Pemerintah waktu itu, seperti sering dihimbau dalam harian Rakyat milik PKI, masyarakat luas diminta menyerahkan piringan hitam Beatles atau musik barat lainnya secara sukarela. Rasanya tidak ada pemuda pecinta rock n roll yang rela menyerahkan piringan hitamnya.
Pemerintah orde lama paling paranoid soal musik, Koes Bersaudara harus masuk bui karena nekad membawakan lagu I Saw Her Standing There dalam sebuah acara. Dalam acara itu, sebuah keributan terjadi, atap di tempat konser dilempari batu oleh orang-orang yang katanya pendukung revolusi Sukarno yang anti kapitalis.
Anti rock n roll tidaklah lama di Indonesia. Politik Indonesia lalu menenggelamkan kekuasaan Sukarno. Bapak Pemimpin Besar Revolusi itu digulingkan secara merangkak oleh kekuatan siluman yang kemungkinan juga ada campir tangan asing. Kejatuhan Sukarno memberi nafas bagi berjayanya musik rock di Indonesia. Masa-masa kebangkitan rock Indoensia ini, Koes Plus merekam dan merilis Deg Deg Plas (1969). Album ini tidak terlalu sukses penjualannya, karena masyarakat saat itu belum bisa menerima lagu-lagu mereka. Beberapa lagu dalam album itu seperti Manis dan Sayang, Derita, Awan Hitam, Kembali Ke Jakarta, Cintamu Telah Berlalu adalah lagi-lalgu yang kemudian populer hingga saat ini. Takdir lagu itu harus mengalami penolakan terlebih dahulu sebelum publik bisa menerimanya.
Tersebutlah seorang pemuda kelahiran Tuban 19 Januari 1936 bernama Koestono Koeswoyo, anak dari Koeswoyo pegawai negeri di Depertemen Dalam Negeri. Pemuda ini begitu tertarik pada musik rock n roll yang sedang mengila di barat sana. Tony Koeswoyo, begitu orang mengenalnya dalam sejarah musik pop Indonesia, lalu mengajak saudara-saudaranya yang laki-laki untuk membentuk band keluarga. Tony setidaknya pernah bermain band bersama kawan-kawannya dalam Teruna Moeda. Salah satu personilnya adalah Sopan Sophian—mantan fungsionaris PDI P dan anggota DPR.
Band keluarga itu kerap mendapat job menggung. Bayarannya mungkin tidak sebeerapa, namun mereka jelas senang bisa manggung. Mereka sering mengisi acara pesta dimana mereka pasti bisa makan gratis dalam pesta remaja itu.
Mereka juga menyambangi sebuah perusahaan rekaman. Bersama perusahaan rekaman itu, anak-anak Koeswoyo membuktikan diri sebagai musisi rock n roll. Nama besar yang terlibat dalam rekaman itu adalah Jack Lesmana, ayah Indra dan Mira Lesmana yang orang kenal sebagai musisi Jazz kesohor tanah air.
Bagi Tony Koeswoyo, musik adalah hidupnya, meskipun bukan sebagai mata pencarian yang menjanjikan pada awalnya. Tony sempat bekerja di Perkebunan Nusantara. Tony terus melangkah bersama Band-nya yang berubah nama dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus karena Nomo keluarga. Dua adik Tony, Yon dan Yok tetap bersamanya. Abang mereka Jhon, yang pernah ikut dalam Band belakang tidak ikut lagi. Jhon merelakan sebagian gajinya dipakai untuk membeli alat band. Jhon, seperti juga ibu mereka, sering menjadi sasaran omelan Koeswoyo yang tampak tidak rela anak-anaknya bermain band karena masa itu menjadi musisi tidak akan bisa hidup mapan.
Tony memimpin adik-adiknya dan anggota baru mereka Murry dalam Koes Plus. Band ini menjadi legenda musik Indoensia. Mereka berjaya di tahun 1970an dengan lagu mereka yang easy listening dan sederhana. Musik yang diusung Tony Koeswoyo bersama band dan saudaranya itu menjadi pelopor perkembangan musik pop setelah kejatuhan Soekarno. Perjuangan Tony seperti menjadi perjuangan musik pop yang memang berbau barat berkembang di Indonesia. Tony dan saudara-saudaranya harus merasakan penjara karena kegilaan mereka ini. Meski Koes Plus tidak ngerock ditahun 1970an, mereka seperti menjadi pembuka lembaran baru bagi perkembangan musik rock tanah air lewat album Deg Deg Plas---yang dimata sebagaian pihak dianggap gagal dari sisi penjualan namun memiliki beberapa lagu pop dasyat yang selalu diaingat orang. Apapun musik yang diusung Tony Koeswoyo, sangat munafik menggeser namanya dari jajaran tokoh musik rock tanah air. Perjuangan Tony yang kerap mengusung lagu-lagu the Beatles diawal karir musik adalah usaha berani yang membuat mereka harus di bui di penjara Glodok.
Aku ingat lagi ditempat ayahku tinggal sekarang, piringan hitam Deg Deg Plas itu masih ada. Aku pernah memutarnya waktu SMP dulu. Lagu-lagu mereka tidak jelek dan masih nyaman didengar hingga sekarang. Omongan kawan-kawan sekolahku kalau lagu lama, seperti juga lagu-lagu Koes Plus, adalah ketinggalan zaman hanya omong kosong mereka sebagai anak kecil yang hanya tahu yang terbaru adalah yang terbaik. Musik masalah selera, setiap penikmat musik punya ukuran sendiri mana musik yang bagus. Anak kecil hanya bisa bilang musik terkinalah yang terbaik.
Album gagal dalam penjulan tidak selamanya buruk dari sisi musikalitas. Entah apa yang dipikirkan Tony, apakah album itu akan laris ketika dirilis kita tidak tahu. Orang pada masa itu boleh saja memasukan rekaman mereka ke tong sampah. Sekarang album yang katanya dulu tidak laris itu masih kerap diputar, walau semakin jarang yang memutarnya sekarang ini. Karena orang lebih menyukai lagu-lagu baru. Biar tidak ketinggalan zaman kata mereka. Bagaimanapun, Tony dan dua bandnya menjadi anak di zamannya dan menjadi salah satu mata rantai dalam perkembangan msuik pop tanah air hingga seramai dan beragam seperti sekarang ini.





Minggu, Desember 30, 2007

Makassar Yang Panas (Agustus 1950)

Beberapa hari setelah pelantikannya sebagai perwira TNI, Andi Azis beserta pasukannya menyerang perumahan perwira TNI di staf kwartier dan asrama CPM di Verlegde Klapperlaan (jl Walter Mongisidi). Alibi pemberontakan adalah akan mendaratnya pasukan TNI, Batalyon Worang, pada April 1950 ke Sulawesi Selatan. Berita akan terjadinya pendaratan itu mendapat tentangan dari Andi Azis. Andi Azis menyatakan: “buat apa didatangkan pasukan APRIS dari Jawa, toh pasukan ex KNIL di Makassar-pun telah pasukan APRIS dan sanggup mengamankan NIT.”

Tindakan Andi Azis untuk menentang kedatangan TNI di Makassar mendapat dukungan dari banyak serdadu KNIL di MAkassar dan sekitanya. Sebelum penberontakan mereka mengadakan rapat tanggal 3 April 1950. Bekas serdadu KNIl tersebut membentuk ‘Panitia Pembentukan Peralihan KNIL ke APRIS’ yang disingkat PPPKA. Sebagai ketua, ditujnjuk bekas Sersan Mayor (KNIL) Christoffel. Rapat ini dikunjungi 700 orang anggota KNIL. Mereka mengeluarkan mosi: mendesak pucuk pimpinan KNIL dan APRIS supaya KNIL Makassar dimasukan ke APRIS; mendesak pemerintah RIS supaya pengiriman bekas TNI ke Indonesia timur ditunda untuk sementara waktu; mendesak pemerintah NIT mencegah kedatangan di Makassar dan seluruh NIT dari APRIS bekas TNI. Alasan yang dikemukakan dalam mosi itu adalah belum ada jaminan keamanan untuk anggota-anggota KNIL.

Hari rabu 5 April 1950 pukul 5 pagi, pasukan Andi Azis mengadakan gerakan pendadakan, menyerang asrama CPM dan perumahan perwira Staf Kwatier TNI. Dalam seranga ini letnan colonel Mokoginta dan pengawalnya disandera. Sebagian CPM tertawan dan sebagian lagi mundur untuk selanjutnya bergerilya. Mengenai tertawannya Mokoginta: sekitar pukul 5 subuh 5 April 1950 itu seorang komandan peleton dari pasukan Andi Azis dengan pangkat Pembantu Letnan datang pada Mokoginta dengan diantar letnan du Tumbelaka. Pada Mokoginta diminta diminta agar dirinya datang ke kamp Andi Azis. Sebagai Letnan Kolonel, permintaan dari kapten bawahannya itu ditolak oleh Mokoginta. Ketiak Mokoginta hendak menelpon Andi Azis, rupanya jaringan telepon telah diputus. Ketika akan berangkat ke markasnya, Mokoginta dicegat seorang bintara dan tiga anak buahnya. Tanpa bisa melawan Mokoginta-pun ditahan setelah yakin keluarganya aman. Bersama stafnya dia dibawa ke markas Andi Azis.

Kepada Letnan Kolonel Ahmad Yunus Mokoginto, Andi Azis—yang dalam TNI berstatus bawahan—mengatakan pada Mokoginto: “Het Pijt me, Overste, maar ik moct het doen”
Setelah Andi Azis menawan panglima TNI itu, pasukannya ditempatkan didaerah strategis dinbalik-balik bukit untuk menghadapi pendaratan Worang. Mereka mengatur arah dan posisi senjata watermantel mengarah ke kapal. Sebuah pesawat pembom B-25 Mitchel, rupanya telah siap membantu perlawanan Andi Azis. Dengan Mokoginta ditangan, Andi Azis meminta lewat Mokoginta agar pasukan jangan mendarat. Kekuatan pasukan Andi Azis ada sekitar 800 orang dengan senjata lengkap dengan lindungan senjata berat dan kendaraan lapis baja kL di Makassar yang berhasil dirampas.

Ketika pasukan Andi Azis berontak, letnan Kolonel Musch, pimpinan militer Belanda di Makassar tidak bisa berbuat apa-apa. Tanggal 5 April itu juga, kapal Waekelo dan Bontekoe yang mengangkut seribu prajurit TNI dari Batalyon Worang tiba di pantai Makassar. Karena kapal tidak bisa merapat, maka kapal bertahan di laut. Karena ada beberapa anggota kelurga pasukan, maka kapal untuk sementara mendarat di seberang pulau Sulawesi. Ada anggota keluarga pasukan yang untuk sementara ditinggalkan di Balikpapan karena kota Makassar jelas tidak aman—termasuk bagi penduduk Makassar sendiri apalagi pendatang dengan seragam TNI.

Tindakan Andi Azis tidak mengatasnamakan KNIL tetapi APRIS dan pemuka NIT macam Sukowati tidak ada sangkut paut denga gerakan militernya. Tujuan utama Andi Azis adalah memerptahankan NIT. Pemerintah NIT sendiri justru kecewa atas tindakan Andi Azis itu, seperti pidato PM Diapari di Radio Makassar pada tanggal 7 April 1950. Dua hari sebelumnya pemerintah mengeluarkan ultimatum pada Andi Azis yang memperingatkan Andi Azis untuk kembali ke Asrama dan tawanan dilepaskan; menyerahkan senjata-senjata pada yang berwenang dan Andi Azis diminta menghadap ke Jakrta. Sayangnya ultimatum tidak respon dengan cepat oleh Andi Azis. Karenanya pemerintah kirim pasukan lebih besar ke sana dibawah komando Kawilarang. Setelah menyerah ke Jakrta dan diadili Andi Azis dipenjara selama 14 tahun.

Jumlah tentara KNIL antara tahun 1945-1949 adalah sekitar 60.000 personil. Dalam formasi KNIL saat itu, komposisi serdadu Ambon dan non Ambon secara keseluruhan adalah satu banding lima. Mereka tinggal dalam tangsi-tangsi bersama anak dan istrinya. Orang-orang Ambon yang masuk KNIL biasanya beragama Kristen Protestan.
Sewaktu pemberontakan Andi Azis memberontak, Julius Tahiya—perwira KNIL terpopuler pribumi yang pernah bergerilya melawan Jepang di Maluku semasa pendudukan Jepang—pernah diajak pemberontak untuk amabil bagian, namun Julius menolak karena tidak lagi tertarik untuk menjadi seorang militer. “Selama Perang Dunia II aku bertemu dengan beriribu tentara Hindia Belanda. Sebagian lari ke Australia pada tahun 1942. Yang lain ditangkap Jepang dan ditahan di Biak, sebuah pulau kecil di barat daya Papua Nugini. Sekutu membebaskan mereka tahun 1944, dan menerbangkan mereka ke Australia. Disana mereka dilatih kembali dan digabungkan dalam unit-unit yang ditugaskan ke Hindia Belanda. Aku meminta agar penugasanku dalam Angkatan Perang Indonesia berlangsung selama dua tahun saja, karena aku tidak mau bekas tentara Hindia Belanda menganggap mereka pimpinanku. Mereka harus menerima diri mereka sebagai bagian dari angkatan bersenjata Indonesia yang merdeka. Salah satu tugasku adalah terbang ke Makassar untuk memeriksa keadaan bekas tentara Hindia Belanda di sana. Tentara-tentara itu lengkap dan telah mengenyam pengalaman yang cukup selama Perang Dunia II. Aku sengaja tidak memberitahukan rencana kedatanganku, dan pergi sendirian tanpa senjata, tanpa seragam. Dalam perjalanan ke Ujung Pandang pilot memanggilku ke kokpit. Ia memberitahu bahwa Kapten Andi Azis, pemimpin bekas batalyon tentara Hindia Belanda yang baru saja dialih-tugaskan ke Angkatan Bersenjata Indonesia, telah menangkap Kolonel Mokoginta, komandan disana. tindakan indisipliner ini jelas tidak dapat diterima. Tak lama aku stelah masuk hotel, tiga orang tentara yang memakai seragam tentara Hindia Belanda dan membawa senjata memberi hormat padaku. Aku mengenali mereka. Mereka adalah teman-teman dari Maluku yang pernah aku kenal ketika Perang melawan Jepang. Mereka meberi hormat. Pemimpin mereka berkata. “Kami meminta maaf. Tapi bapak harus kami tangkap”. “Kalian mau menangkapku?” tanyaku. “Siapa yang menyuruh kalian menangkapku?” Menurut mereka perintah itu datang dari Soumokil, seorang Ambon yang mau memisahkan Maluku sebagai negara sendiri. “Ya Betul. Kami harus menangkap bapak.” “Baik kalau begitu kalian harus memaksa saya.” Tentara-tentara Belanda itu tampak ragu, lalu berbisik-bisik. Akhirnya pimpinan mereka berkata, “Kami akan lapor komandan bahwa bapak tidak mau ikut dengan kami.” “Baik. Silahkan.” Aku segera meninggalkan hotel karena tahu bahwa sebentar lagi seseorangf akan datang bersama tentara yang akan menyeretku. Aku tidur di rumah seorang teman dan pagi harinya berjalan ke barak tentara. Semua tentara memberi hormat. Ketika berjalan diantara mereka, mereka mengelilingiku. “Tolong kami” kata mereka. “Jadilah komandan kami. Pimpin kami untuk mencegah tentara Republik mendarat kemari.” Aku tahu bahwa mereka tidak punya kekuatan melawan tentara Republik, yang punya lebih banyak senjata. Aku berdiri diatas peti mati. “Dengar,” kataku. “Belanda sudah mengakui kedaulatan Indonesia. sekarang saya adalah bagian dari Republik. Kalian ‘kan tentara. Nama kalian termasuk dalam daftar yang dialihkan ke Angkatan Bersenjata Republik. Republik akan menerima kalian dengan tangan terbuka. Jangan memepersulit tentara Republik yang akan datang kemari, karena itu berarti melanggar apa yang telah ditetapkan PBB.” Aku memilih setiap kata dengan hati-hati. “Kalian prajurit sejati atau petualang?Kalau kalian Cuma sekedar petualang, seluruh dunia akan menyalahkan kalian.” “Kami prajurit!”. Seru mereka. Lalu mereka menepuk punggungku untuk meyuakinkan bahwa mereka tidak akan mebuat keributan.

Atas hal ini pemerinbtah pusat di Jakarta bereaksi dengan meberi ultimatum kepada Anbdi Azis melalui Radio RIS. Ultimatum itu tidak dipenuhi sesuai kemauan pemerintah, karena Andi Azis terlambat memenuhi panggilan pemerinta itu. Walau Nadi Aziz menyerah dan diadili di Jakrta, makaassar masih dalam kekacauannya. Pemerintah mengirimkan sebuah pasukan ekspedisi yang terdiri dari beberapa dari brigade di Jawa ditambah batalion Worang yang berang kat laebih dulu ke Makassar. Operasi ini dipimpin Alex Kawilarang.