Minggu, Februari 03, 2008

Oeroeg: "Saudara Sedarah" Yang Tidak Sedarah

Tersebutlah seorang bocah pribumi bernama Oeroeg disebuah dusun miskin. Tidak jauh dari situ tinggal seorang bocah Belanda bernama Johan van Berghe. Karena ini suasana kolonial, pastinya Johan anak ondernemer (pengusaha perkebunan) Belanda itu tampil sebagai the have, Oeroeg sebagai the have not-nya. Itulah nusantara dekade 1930an.
Oeroeg tergolong anak cerdas di dusunnya. Satu sebab dia akhirnya bisa kuliah kedokteran, disamping simpati dari orang Belanda disekitar Johan pada Oeroeg.
Plot campuran dalam film ini, bukan untuk memperumit cerita. Plot yang tidak kronologis mungkin akan membuat film ini agak sulit dinikmati penonton umum. Plot film yang campuran dan acak itu seperti memberi bayangan pada kita tentang perubahan nusantara yang nyaris sulit ditebak. .Bagaimanapun film dari adaptasi roman yang juga bewrjudul Oeroeg karya Hella Haase, lalu diteruskan menjadi film dibawah besutan sutradara Hans Hylkema, berusaha menyajikan suasana Indis yang terkubur oleh revolusi kemerdekaan negara baru bernama Indonesia di tanah nusantara ini. Durasi 114 menit itu dimanfaatkan dengan tepat bagaimana membangun suasana perubahan dari kolonial menuju revolusi yang tidak jarang diliputi kekacauan. Film rilisan 1993 memberikan gambaran cukup realis dengan suasana masa transisi dalam sejarah Indonesia sekitar 1945Hal menarik dari cerita ini adalah bagaimana rasa persaudaraan lahir tidak dalam aliran darah yang sama. Persaudaraan hanya timbul dengan bagaimana kita berbagi pada orang lain. Seperti dalam alam pikir Johan kecil. Politik boleh saja mengatasnamakan kebaikan. Seperti politik kolonial yang berusaha perhatikan kebaikan masyarakat kulit putih. Politik kolonial sifat rasis bukan bagian dari diri Johan. Hingga dewasa, Johan bukan orang yang peduli pada masalah politik. Alasan dia kembali ke Kedungjati—tempat dia habiskan masa kecilnya tidak lain—hanya mencari misteri tentang saudara sedarahnya Oeroeg.
Pusaran politik besar dunia, Perang Dunia II, begitu jauh memisahkan persahabatan unik itu. Johan tertahan di Negeri Belanda, sementara ayahnya tertahan di Jawa. Oeroeg, sebagai bagian dari intelektual bumiputra yang sadar akan pembebasan, akhirnya menjadi bagian dari kelompok pendukung Republik. Johan, secara politis ada diseberang Oeroeg, menjadi bagian dalam pemuda Belanda yang ”dipaksa berperang” melawan orang Republik yang sebenarnya tidak mereka musuhi. Mereka terjun karena politik ’paksa” pemerintah bernama Wajib Militer untuk bergabung dalam Koninklijk Leger (KL). Johan adalah Letnan dengan kemampuan Zeni Bangunan yang memperbaiki jembatan. Diseberang sana ada Oeroeg yang menjadi orang penting dalam sebuah milisi Republik.
Sebagai perwira KL, Johan tergolong desertif dan kerap bermasalah dengan perwira perwira atasannya—yang dapat informasi dari NEFIS (intelejen Belanda di Indoensia) tentan kegiatan pribadi Johan yang menyimpang dari kebiasaan tentara umumnya. Dia bisa menghilang kemana saja menuruti intuisinya untuk mencari ”saudara sedarahnya” dan memecahkan sebuah misteri yang meliputi dirinya, Oeroeg, ayah Johan dan ayah Oeroeg yang menjadi ’jongos’ dirumah Johan dan tewas ketika mengambil arloji ayah Johan yang jatuh ke dalam danau. Insiden kematian ayah Oeroeg itu menjadi bagian misteri dari Johan hingga dewasa. Ada cacat orang Belanda dalam superioritas mereka sebagai penguasa nusantara kala itu.
Tidak mudah mencari Oeroeg. Johan harus lalui banyak hal hingga tertangkap milisi Republik dan ditawan. Johan juga harus melihat ayahnya tewas dimakan revolusi kemerdekaan Indonesia yang kacau di Kedungjati, dimana pikiran Johan setelah ayahnya tewas semakin tertuju pada Oeroeg. Johan akhirnya tahu bahwa Oeroeg telah ditawan Tentara Belanda selama enam bulan. Tiba waktu pertukaran tahanan antara milisi Republik dengan tentara Belanda, Johan yang seorang diri ditukar dengan sebelas orang Belanda. Mereka dilepas bersamaan. Johan maju seorang diri sambil memperhatikan tawanan Indonesia yang berjalan berhadapan dengannya di sebuah jembatan. Joham memperhatikan satu persatu, dilihat tawanan terakhir dibelakang, seorang yang nampak terpelajar. ”Saudara Sedarah” Johan itu muncul. Johan menawarkan persahabatan lama itu, sementara Oeroeg yang hanya bilang ”Asalkan sebelas orang Indonesia tidak ditukar dengan seorang Belanda”. Oeroeg nampak dibakar revolusi kemerdekaan. Oeroeg menjaga persahabatan itu begitu dalam dan dia hanya tampakan darah revolusinya. Pertemuan di jembatan itu adalah satu-satunya pertemuan antara dua ”saudara sedarah”. Setelah itu, mereka kembali pada kehidupan mereka ketika Tentara Belandaangkat kaki dari Indonesia. Bagaimanapun sahabat tetap sahabat. Perang dan revolusi hanya permainan dunia yang harus dilalui tanpa harus membunuh ”saudara sedarah” di dalam hati manusia.

Jumat, Februari 01, 2008

Lihat Nusantara Lewat Mata Inada Dao

Letupan Krakatau itu mulai menyambut Inada Dao (Bunda Dao) untuk bercerita tentang anak-anaknya lewati gambar-gambar hidup. Fenomena letusan itu seperti mengajak kita untuk mendengar Inada Dao bercerita. Setelahnya akan muncul rangkaian gambar hidup mengenai suasana kolonial, yang mungkin juga akan memilukan sebuah bangsa nestapa kala itu yang ribuan tahun mendiami mendiami nusantara ini. Akan tergambar bagaimana orang-orang ribumi direkrut menjadi kuli kontrak untuk perkebunan. Diantara kuli itu mungkin juga beberapa dari mereka yang akan menjadi korban Poenale Sanctie dari onderneming (perkebunan), salah satunya di Deli, tempat mereka menyambung hidup. Seorang penginjil yang berkuda dengan diantar oelh seorang pribumi yang berjalan telanjang kaki akan terekam. Dimana penginjil itu itu mengalami nasib malang karena jatuh ke air ketika menyeberangi sungai.

Kisah Moeder Dao masih panjang. Di Bowomataluo, sebuah kampung penting di Teluk Dalam Nias Selatan, para ksatria Nias dengan pakaian kebesarannya berkumpul didepan rumah pemuka mereka, tepat ditempat yang sekarang biasa diadakan Hombo Batu (lompat batu Nias). Kemajuan jaringan kereta api dan konsumsi mobil oleh orang-orang kaya di Hindia Belanda juga disajikan. Mobil begitu ekskusif seolah hanya dinikmat oleh orang-orang Eropa kaya yang tinggal di tanah Jawa. Kala itu, 1912 hinga 1932, kereta api telah mampu melewati perbukitan, sungaiyang curam di Jawa Tengah. Inada Dao juga bercerita tentang suasana para buruh pabrk di Balikpapan bekerja di bengkel trem (kereta), sebuah kendaraan yan hilang dan tidak mungkin lagi ditemui di kota itu. Sejarah pelayaran modern di nusantara akan diwakili oleh seuah kapal milik Kononkljk Packetvart Maatschappij (KPM) yang melayari sungai besar di Kalimantan Bagian Selatan. Pemandangan aneh anak Bali yang merokok juga direkam dengan baik dalam film okumenter ini. Rasanya bukan cuma itu yang akan diceritakan Bunda Dao tentang Nusantara.
Selama 88 menit, mata penonton akan lihat bagamana nusantara, nama paling indah untuk menyebut kepulauan raya ini, dalam kurun waktu 1912 hingga 1932. Zaman dimana lebih banyak diputar film-film bisu di nusantara ini. Film ini tidak bercerita seperti film-film komersil. Gambar film ini berbicara lewat potongan-potongan film yang dirangkai Vincent Monnikendam sang sutradara.
Film ini dirilis pada 1995. Gambaran nusantara dalam film ini tidak disajikan secara runtut oleh Monnikendam. Sajian gambar secara acak itu cukup artistik, walaupun ketika gambar hdup itu diambil dalam kurun waktu 1912 hingga 1932 bukanlah untuk tujuan artistik.
Monnikendam kumpulkan rangkaian film-film bisu yang diambil oleh kameramen Belanda pada tahun 1912 hingga 1932. Dari gambar kita lihat dalam film itu, tampaknya sang kameramen harus mengunjungi daerah-daerah terpencil yang kala itu dalam genggaman Sang Ratu Wilhelmina dari Belanda. Betapa, dengan susah payah sang kameramen harus membawa peralatannya ke daerah yang sulit djangkau mesin mobil kala itu. Bisa di bayangkan bagaimana sulitnya dengan teknologi rekam gambar hidup yang jauh dengan masa sekarang. Demi Ratu Belanda, rasanya kameramen itu sajikan bagaimana Nusantara yang telah digenggam imperium keluarga wanita yang mungkin hanya bersolek di Istana Negeri Belanda.
Sangat menarik dari judul film ini adalah mengambil istilah Nias untuk ibu atau Bunda, "Inada". Inada Dao adalah sosok yang sangat dipuja oleh masarakat Nias kuno. Konon, manusia diturunkan oleh Bunda Dao ke dunia disebuah tempat yang disebut "Bumi Manusia" atau Tana Niha (pulau Nias). Bunda Dao bisa dipadankan dengan ibu pertiwi. Inada Dao mungkin hanya istilah orang Nias saja, namun itu sudah cukup untuk menyebut sosok yang melahirkan manusia nusantara, yang bercerita dalam film ini. Inada Dao bercerita tentang nusantara untuk mencintainya. Cinta yang akan menerangi manusia nusantara itu, seperti dalam sebuah lagu, "Bagai sang surya menyinari dunia".


Kamis, Januari 31, 2008

Genjer-genjer Tak Pernah Mati


"Genjer-genjer. Nong kedok’an pating keleler. Genjer-genjer. Nong kedok’an pating keleler. Emak’e tole, teko-teko mbubuti genjer. Oleh sak tenong. Mungkor sedot seng tole-tole. Genjer-genjer. Saiki wis digowo muleh. Genjer-genjer. Isuk-isuk didol ning pasar. Dijejer-jejer, diuntingi, podo didasar. Dijejer-jejer, diuntingi, podo didasar. Emae’ Jebreng. Podo tuku nggowo welasan. Genjer-genjer saiki wis arep diolah. (Muhammad Arief, Genjer-genjer)

Ini bukan lagu mars Partai Komunis Indonesia, ini hanya lagu rakyat Genjer-genjer.Tapi banyak orang menganggap ini lagu PKI. Seorang kawan pernah bilang, "aku bisa di tempeleng ayahku kalau nyanyikan lagu itu". Lagu itu biasa dinyanyikan sebagian mahasiswa nakal di kampus. Lagu tadi sudah menjadi lagu haram selama Suharto berkuasa. Kini, apalagi setelah sang diktator itu tumbang, lagu itu perlahan sudah tidak haram lagi. Hanya beberapa orang tua masih tabu dan menganggap itu "lagu PKI"
Memang banyak orang menganggap ini "lagu PKI". Sejarah Indonesia masa orde baru memang menggelikan. Sejarah orde baru seperti mencuri karya budaya Banyuwangi, untuk dijadikan "alat pembenci massa". Genjer-genjer yang awalnya jeritan berbentuk lagu rakyat miskin, lapar dan tertindas dijadikan "setan yang harus dibenci". Sama halnya, Das Kapital, yang merupakan buku anti kapitalisme. Oleh orde baru buku ini adalah "buku setan" padahal ini buku yang wajib dibaca mahasiswa Ekonomi. Pembodohan oleh negara selama 3 dekade ini sempurna sudah. Ada buku terlarang, lagu terlarang, mungkin juga keyakinan terlarang.
Budayawan Banyuwangi Fatrah Abbal, 76, menyatakan, lagu Genjer-genjer sebenaranya diilhami oleh masakan sayur genjer yang disajikan Ny. Suyekti, Istri Muhammad Arief di tahun 1943. “M.Arief heran, tanaman yang awalnya dikenal sebagai makanan babi dan ayam itu ternyata enak juga dimakan manusia, akhirnya ia mengarang lagu Genjer-genjer,” katanya. Lagu ini lalu menjadi lagu rakyat berjudul Tong Ala Gentong Ali Ali Moto Ijo. Lagu ini pernah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani ketika orde lama belum tumbang.
Bisa ditangkap dari lirik lagu ini, isinya seputar kelaparan. Dimana seorang ibu berusaha keras memberi makan anaknya dari tanaman genjer yang tumbuh liar. Malangnya sang anak tidak tertolong. Setelah orde lama tumbang, lagu yang kerap dinyanyikan orang-orang kiri Indonesia lalu diberi "lebel haram". Lagu ini dicap sebagai lagu PKI, setelah PKI dan segala hal yang berbau dengan PKI dilarang.
Segera, lagu yang bercerita tentang kelaparan itu dilarang. Entah. Lagu ini tidak bicara dan mengajak orang untuk melawan negera. Lagu ini tidak mengajak manusia untuk berhenti bersujud pada Tuhan. Lagu ini hanya cerita seorang ibu yang memperjuangkan anaknya yang hampir habis usianya dengan mencabuti genjer-genjer yang tumbuh liar dipekarangan.
Dosa lagu ini, dimana rezim orde baru dan simpatisannya, hanya karena lagu ini pernah dinyanyikan orang PKI. Bila lagu ini tidak pernah dinyanyikan orang-orang PKI, maka lagu ini tidak akan menjadi lagu terlarang dimasa orde baru.
Dosa sebuah lagu ini juga menjadi azab bagi penciptanya, Muhamad Arif sekeluarga. Muhamad Arif harus menjadi korban vandalisme massa orde baru. Dimasa selanjutnya, nasib anak Muhamad Arif, Sinar Syamsi. Sebagai "anak PKI" Syamsi kerap di PHK tanpa alasan jelas. G 30 S seperti dianggap dosa ayahnya yang harus menimpa dirinya, seperti yang diinginkan rezim Suharto. Pernah terpikir oleh Syamsi untuk menjadi warga negara Belanda atau China. Berharap lagu genjer-genjer akan memberikan kebahagian dari orang-orang kiri disana. Ibu pertiwi sudah tidak bisa memberinya ketenangan. Ibu Pertiwi hanya milik penguasa, bukan milik "anak-anak PKI".
Lagu ini, boleh saja dsingkirkan pendukung orde baru. Namun Lagu ini akan abadi dinyanyikan orang yang lapar dan tertindas. Mengutip kata Jimi Multazam, "Yang Terekam Tak Pernah Mati". Pastinya, Genjer-gencer juga tak pernah mati. Lagu ini akan terus bercerita penderitaan rakyat di nusantara. Lagu ini juga pernah disenandungkan lagi dalam film "Gie". Bukankah ini berarti lagu ini mengabadi dalam ingatan, setidaknya dalam benak beberapa orang saja.

Senin, Januari 28, 2008

Sosok Dibalik Garuda Pancasila

Hampir semua ruang resmi selalu ada lambang burung Garuda Pancasila. Selalu ada pertanyaan dalam pelajaran sejarah, "siapa yang menjahir "Sang Saka Merah Putih"? murid akan menjawab "Ibu Fatmawati". Tapi tentang burung Garuda yang sudah meng-Indonesia itu, rasanya belum pernah guru di kelas bertanya, "Siapa yang merancang lambang negara "Garuda Pancasila?". Murid juga belum tentu bisa menjawabnya, begitu juga guru sejarahnya. Ini bukan kesalahan guru sejarah. Kurikulum sejarah di negara ini yang harus dirubah. Nasionalisme telah melahirkan kebisuan, dan akan bermuara pada kebohongan lagi.

Mengapa perancang burung Garuda itu dilupakan. Sejarah, yang ditulis kaum nasionalis negeri ini, seperti membuang nama tokoh ini dalam keranjang sampah. Sebagai orang yang tidak sejalan dengan kemauan besar orang-orang Indonesia, Revolusi dengan produk sebuah negara kesatuan, bukan federalis--seperti impian perancang burung garuda tadi.
Syarif Abdul Hamid Alkadrie, terlahir sebagai putra Sultan Pontianak--di Pontianak,Kalimantan Barat, 13 Juni 1913. Sebagai anak orang terpandang, Hamid bisa bersekolah di sekolah dasar untuk anak-anak Eropa, Europe Lager School. ELS Hamid dijalani dibeberapa kota seperti di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Tamat ELS, Hamid belajar di sekolah menengah untuk anak Eropa dari yang biasanya lulusan ELS, Hogare Burger School. Tamat HBS, Hamid meneruskan ke Technische Hoge School Bandung (ITB sekarang, namun tidak sampai tamat. Sebagai Pangeran, Hamid seolah terobsesi dengan 'junker' di Eropa. Dimana anak laki-laki keluarga bangsawan menjadi perwira militer. Hamid lalu masuk Koninklijk Miliaitre Academie (Akademi Militer Kerajaan Belanda) di Breda, Negeri Belanda. Tamat dari sana Hamid meraih pangkat letnan II pada kesatuan KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger: Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Sebelum PD II, hanya sekitar 20an pemuda pribumi saja yang menjadi kadet KMA.
Hamid berdinas di KNIL hingga mendaratnya Balatentara Jepang. Belanda dan sekutunya dan sekutunya kalah. Kala Jepang mendarat, Hamid menjadi Letnan I KNIL di Balikpapan. Pada 10 Maret 1942, ia tertawan dan bebas ketika Jepang menyerah kepada Sekutu. Pendaratan Jepang adalah masa buruk baginya, sebagai perwira KNIL yang ditawan juga sebagai anak dari Sultan Pontianak yang dibunuh Jepang. Setelah comeback-nya Belanda, mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel. Hamid adalah orang pribumi (Indonesia) termasuk orang dengan pangkat tertinggi dalam KNIL, walau dia tidak lagi pegang komando dalam pasukan KNIL semasa revolusi Indonesia. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda.
Setelah ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalimantan Barat dan selalu turut dalam perundingan-perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan KMB di Indonesia dan Belanda. Hamid menjadi orang penting dalam masa-masa itu. Sebagai ketua delegasi BFO di KMB. Inilah mengapa banyak orang menilainya sebagai seorang pengkhianat revolusi Indonesia.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, Hamid masih menjadi orang penting di Nusantara, dimana dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio. Selama jabatannya sebgai menteri negara itu dia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara. Hamid seolah tidak puas dengan posisinya ini. Hamid menginginkan kursi Menteri Pertahanan yang dipegang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, kawan ELS Hamid di Yogyakarta dulu.
Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia teknis untuk membuat lambang negara dengan nama 'Panitia Lencana Negara'. Dimana Hamid menjadi koordinator. Susunan panitia teknis ini terdiri dari Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Menurut Bung Hatta dalam “Bung Hatta Menjawab” ditulis, "untuk melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan menampakkan pengaruh Jepang". Setelah rancangan dipilih, dialog intensif antara perancang (Sultan Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta, terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan semboyan "Bhineka Tunggal Ika". Tanggal 8 Februari 1950, rancangan akhir lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan akhir lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Hamid kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali - Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri. A.G .Pringgodigdo dalam “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, "rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “'tidak berjambul”' seperti bentuk sekarang ini".
Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.
Penyempurnaan lambang negara itu terus berjalan. Kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini. (Wikipedia.com)
Bagaimanapun ini juga karya Hamid, yang juga anak dari bangsa yang bernama Indonesia ini. Kendati Hamid punya sikap berbeda dengan bangsa ini.
Hamid II diberhentikan pada 5 April 1950 akibat diduga bersengkokol dengan Westerling dan APRA-nya. Hamid telah bersekongkol dengan Westerling. Setelah gagal dengan "Kudeta 23 Januari 1950", tanggal 24 Januari 1950 sekitar pukul 15.30 sore, Westerling mendatangi Hamid di hotel Des Indes bersama bekas Inspektur Polisi Frans Nayoan. Pertemuan itu melahirkan rencana membunuh Sri Sultan HB IX (Menteri Pertahanan), Ali Budiarjo (Sekretaris Jenderal Pertahanan) lalu T.B. Simatupang (Kepala Staf Angkatan Perang RIS) Dalam sidang menteri RIS di Pejambon. Dalam adegan pembunuhan itu, nantinya Hamid akan ditembak kakinya, sementara tiga orang yang disebut tadi akan dibunuh. Nyatanya Westerling dan pasukannya tidak jadi menyerbu dan hanya berputar dengan mobil di sekitar Pejambon. Westerling dan beberapa kawannya putus asa setelah gerakannya gagal. Semetara itu sidang menteri RIS tidak berjalan sebagai-mana mestinya, bubar sebelum waktunya karena Jakarta dianggap tidak aman.
Setelah konspirasi yang gagal itu Hamid hidup sebagai tahanan RIS.
Bagai kehidupan Hamid selanjutnya, seperti dicatat Wikipedia.com: "Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974. Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak. Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974) sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara, disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara. Sultan Hamid II wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang."
Melihat Burung Garuda Pancasila yang dia rancang itu, rasanya tidak bijak jika mencap Hamid sebagai pengkhianat dalam sejarah Indonesia. Dia juga punya sumbangan lebih, lambang Garuda Pancasila, dibanding orang-orang yang mengatakannya 'pengkhianat'.

Penentu Sejarah Baru

Tidak ada kata pahlawan dan pengkhianat dalam sejarah. Bilapun ada hal itu tidak jauh dari amis politis rezim.Kejaksaan baru saja membakar buku-buku sejarah, seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Entah apa maksud dari kejaksaan itu. Kejaksaan saat ini tidak ada bedanya dengan Kejaksaan zaman orde lama yang doyan menghanguskan piringan hitam The Beatles pada dekade 1960an.Seperti ada pihak yang menolak paradigma baru sejarah Indonesia yang berusaha lebih terbuka untuk melakukan rekonsiliasi nasional atas peristiwa berdarah sekitar 1965/1966, seperti yang mungkin termuat dalam buku-buku sejarah yang dibakar tadi.

Pembakaran buku-buku itu, salah satunya karena kasus G 30 S yang belum selesai. G 30 S/PKI seolah menjadi kasus yang sudah selesai oleh orang-orang yang umumnya menjadi bagian dari orde baru. Paradigma lain dengan istilah G 30 S berusaha meluruskan sejarah negeri yang bengkok. Apakah G 30 S harus pakai embel-embel PKI atau tidak, masih menjadi masalah yang tidak akan selesai hingga kini.

Seperti ada pihak yang menolak paradigma baru sejarah Indonesia yang berusaha lebih terbuka untuk melakukan rekonsiliasi nasional atas peristiwa berdarah sekitar 1965/1966, seperti yang mungkin termuat dalam buku-buku sejarah yang dibakar tadi.
Pembakaran buku-buku itu, salah satunya karena kasus G 30 S yang belum selesai. G 30 S/PKI seolah menjadi kasus yang sudah selesai oleh orang-orang yang umumnya menjadi bagian dari orde baru. Paradigma lain dengan istilah G 30 S berusaha meluruskan sejarah negeri yang bengkok. Apakah G 30 S harus pakai embel-embel PKI atau tidak, masih menjadi masalah yang tidak akan selesai hingga kini.

Dalam pembelajaran sejarah di sekolah, buku-buku sejarah harus menjadikan buku putih yang berjudul Tragedi Nasional: Percobaan Kup G 30 S/PKI Di Indonesia yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, keduanya pejabat rezim lalu yang sudah tumbang—dimana PKI ditampilkan sebagai pelaku tunggal G 30 S. begitupun yang diterbitkan Sekretaris Negara, Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya. Setelah reformasi bergulir, banyak pendapat yang bertentangan dengan dua pejabat rezim orba itu, beberapa cetakan buku tidak memakai istilah PKI dibelakang G 30 S.
Sekarang permasalahannya tidak lagi pada pakai PKI atau tidak pakai PKI dalam istilah G 30 S. Hak setiap orang untuk menggunakan untuk memakai istilah G 30 S atau G 30 S/PKI—tidak peduli itu sejarahwan atau bukan karena menafsirkan sejarah adalah hak siapa saja, termasuk orang-orang awam dipinggir jalan sekalipun.
Sangat disayangkan adalah pembakaran itu telah menampilkan pembakar sebagai penentu kebenaran sejarah, dimana darinyalah semua boleh dipercaya. Kejaksaan rupanya telah memiliki fungsi baru sebagai penentu kebenaran sejarah di negeri ini. Sejarahwan paling kesohor sekalipun tidak akan mau menjadi penentu kebenaran karena bagaimanapun tugas sejarahwan bukan menentukan kebenaran, melainkan menafsirkan sebuah peristiwa sejarah.
Sejarahwan hampir selalu dikejar pertanyaan "mana yang benar?" oleh banyak orang. Ini pertanyaan sulit dijawab oleh sejarahwan karena kebenaran itu nisbi. Sejarahwan tidak perlu menjawab mana yang benar. Dengan memberikan penafsiran atas sebuah peristiwa sejarah saja, kendati menurut paradigmanya sendiri, sebenarnya sejarahwan telah melakukan tugasnya.
Sejarahwan besar saja tidak pernah merasa bahwa apa yang menjadi analisisnya adalah sebuah kebenaran. Begitupun sejarahwan lain, mereka lebih suka menafsirkan daripada membuat kebenaran. Dunia pendidikan Indoensia masih berusaha diarahkan ke alam fasis dimana institusi negara selalu benar—seperti dalam novel 1984 karya George Orwell. Paradigma pendidikan Indonesia, dalam memandang sejarah, tidaklah bersikap adil dan cenderung berpihak pada kekuasaan dan kemapanan.
Disayangkan pembenaran sejarah yang sering dilakukan rezim yang sudah lewat, tidak lebih untuk melegalisasi kekuasaannya agar terus bertahan. Akibatnya, lawan politis sang penguasa masuk keranjang sampah bergelar pengkhianat dan sang penguasa dan yang segaris dengan penguasa akan menjadi pahlawan.
Sejarah dijadikan daftar yang memuat para pahlawan dan pengkhianat, padahal sejarah mengajarkan manusia untuk tidak lebih bodoh daripada keledai. Nyatanya dengan paradigma sejarah yang dianut orba lebih menjadikan manusia Indonesia lebih bodoh daripada keledai. Dimana manusia Indonesia hanya dijadikan robot demi kekuasaan rezim.
Pelajaran sejarah disekolah menjadi lahan empuk bagi penguasa macam ini, dimana mereka menentukan sejarah mereka sendiri tanpa peduli paradigma sejarah menyesatkan generasi muda mereka. Sah sekali membakar buku bila buku itu tidak sesuai dengan paradigma mereka—begitupun mengganti kurikulum bila dirasa membahayakan.


Rabu, Januari 16, 2008

Bang Ben Ngerock

Siapa tidak kenal Benyamin Suaeb? Anak muda sekarang, mungkin hanya mengenalnya sebagai pelawak dari film-film komedi Benyamin yang diproduksi dekade 1970an, yang sering diputar televisi swasta di era redupnya film nasional Indonesia dekade 1990an silam. Banyak yang kurang mengenal sebagai musisi rock pada zamannya. Orang lebih mengenal Benyamin sebagai musisi tradisional dengan gambang kromong Betawi-nya. Benyamin memang menjadi legenda dunia hiburan dan panggung komedi Indonesia. Dia juga telah menjadi inspirasi, setidaknya panutan, bagi beberapa seniman muda Indonesia. Kiprah Benyamin sebagai musisi rock n roll pada paruh kedua dekade 1960an seperti terlupakan, padahal lagu 'Kompor Bledug' terbilang dasyat sebelum God Bless dan raksasa rock tanah air lainnya muncul dalam kanca musik rock Indonesia.

Wajah Benyamin kerap hiasi layar kaca Indonesia tahun 1970an. FIlm Benyamin umumnya adalah genre komedi. Film Benyamin mendapat tanggapan positif publik. Film "Intan Berduri" yang dibintanginya mendapatkan piala Citra pada 1978. Benyamin juga pernah memerankan tokoh Doel dalah "Si Doel Anak Modern" bersama rocker legendaris Ahmad Albar.

Benyamin juga pernah merintis karir sebagai musisi sebelum terjun ke dunai film pada dekade 1970an. Benyamin pernah memainkan Gambang Kromong hingga rock n roll. Di dunia musik Benyamin cukup cemerlang. Sebagai musisi rock Benyamin bisa dibilang sukses. Selama orde lama berkuasa, tidak akan ada Beatles, Bee Gees, Everly Brother dan musik lainnya.

Ketika musik rock dilarang pada dekade 1960an, Benyamin seolah melawan meanstream politik yang ada. Sukarno melarang lagu barat yang 'Ngak Ngik Ngok' seperti rock n roll. Orang orde lama bilang musik rock adalah musik setan. Seperti juga Koes Bersaudara, benyamin juga pernah merasakan bui karena ideologi musiknya yang nekad membawakan lagu barat.

Lagu rock n roll paling sukses dipasaran yang dibawakan Benyamin adalah "Kompor Bledug". Lagu ini keluar dipasaran setelah musim anti rock n roll baru saja berlalu. Arransemen lagu ini bisa dibilang Ngerock pada tahun perilisannya, dengan iringan organ dan sound drum yang unik. Mungkin saja arransemen lagu ini tergolong mutakhir pada zamannya. Tentu saja arransemen lagu ini dipengaruhi langsung musik rock n roll dari luar. Lagu ini seperti judulnya juga meledak di pasaran.

Lagu "Kompor Bledug" memiliki persamaan, walau tidak 100%, dengan lagu-lagu rock n roll yang diusung Naif selama beberapa tahun terakhir ini. Naif bahkan pernah bermimpi untuk berkolaborasi dengan Benyamin, namun Benyamin keburu meninggal. Mereka memiliki kecocokan, 'retro banget'.

Benyamin Sueb (1939 - 1995) lahir di Kemayoran, 5 Maret 1939. Benyamin Sueb memang sosok panutan. Kesuksesan di dunia musik dan film membuat namanya semakin melambung. Benyamin telah menghasilkan 75 album musik dan 53 judul film yang ia bintangi adalah bukti keseriusannya di bidang hiburan tersebut. Perhatian Benyamin pada Gambang Kromong, secara tidak langsung, mentasbihkannya sebagai tokoh kesenian Betawi.



Nagabonar: Satu dari banyak Jenderal Batak

Pencopet jadi Jenderal? Rasanya itu cerita film Nagabonar yang digarap Asrul Sani tahun 1986. Nagabonar, mantan copet itu jadi jenderal, "Apa kata dunia?". Bagaimana mungkin, kapan dia lulus akademi militer, atau sudah berapa lama dia jadi serdadu hingga berani dia jadi Jenderal. Zaman revolusi adalah masa-masa penuh kekacauan. Apa saja juga bisa terjadi. Nyatanya Nagabonar pun jadi Jenderal. Anggap saja Nagabonar Jenderal yang diangkat oleh kekacauan zaman revolusi itu, seperti kata beberapa tulisan lain. Nagabonar menjadi kisah fiktif yang menarik. Semacam roman historis yang kocak dan memberikan gambaran pada kita betapa kacaunya negeri ini dimana sebuah negara baru harus lahir dimasa kekacauan ini. Nagabonar juga satu dari sekian pelaku dimasa yang kacau itu.

Tanah Batak punya banyak Jenderal. Buku sejarah nasional Indonesia pasti menulis nama Abdul Haris Nasution dan Tahi Bonar Simatupang. Keduanya termasuk pembangun Tentara Nasional Indonesia. Nama mereka akanselalu diingat dalam sejarah militer Indonesia. Masih ada lagi, Donald Izacus Panjaitan yang gugur sebagai pahlawan Revolusi. Di Balige, tempat kelahiran D.I. Panjaitan, patung jenderal ini berdiri tegak dijalan penting antar kota dalam provinsi Sumatra Utara.

Masih ada Jenderal-jenderal Batak lain di negeri ini. Entah apa tanggapan orang Batak yang bukan serdadu pada saudara setanah Batak mereka yang menjadi Jenderal. batak tidak termasuk suku penyumbang pemudanya dalam kemiliteran zaman kolonial. Hanya sedikit pemuda Batak yang menjadi serdadu KNIL.

Mengapa orang Batak punya banyak Jenderal. Sebagai daerah yang menjadi lahan pergerakan Zending pasca berakhirnya perang Sisingamangaraja XII, banyak sekolah model barat yang dikelola oleh Zending berdiri. Pendidikan model barat ini banyak dinikmati oleh sebagian orang-orang Batak khususnya orang-orang terpandang disana.

Majunya pendidikan modern di tanah Batak, walau tidak dirasakan semua orang Batak, memungkinkan beberapa pemuda Batak memperoleh ijazah MULO (Meer Uitgebrijd Leger Onderwijs: setingkat SMP sekarang). Bahkan ada yang AMS (Algemene Middelsbare School: setingkat SMU). Ijazah setara AMS merupakan akses untuk menjadi calon perwira seperti A.H. Nasution dan T.B. Simatupang. Mereka menjadi segelintir pemuda pribumi yang dididik sebagai kadet KMA (Koninlijk Militaire Academie: Akademi Militer Kerajaan)di Bandung.

Kedua kadet Batak tadi tergolong orang Batak yang pertama-tama menjadi Jenderal dalam dinas militer reguler TNI. Jumlah itu tentunya semakin bertambah. Tanpa bermaksud mengolok, apalagi menghina, tanah Batak juga memiliki Jenderal unik. Jenderal dadakan semasa revolusi kemerdekaan. Nama Jenderal ini adalah Timur Pane. Sebelum revolusi, jenderal ini pernah berprofesi sebagai pencopet.

Pencopet jadi jenderal? kita akan ingat nama Nagabonar. Film yang dibuat oleh Asrul Sani yang kemudian sekuelnya digarap oleh Deddy Mizwar. Deddy Mizwar masih memegang kuat karakter Nagabonar. Tetap jago mencopet, keras, kocak dan tulus. Bedanya kali ini Nagabonar sudah tua. Darimana Asrul Sani dapat ilham Nagabonar-nya. Bisa jadi Timur Pane adalah ilham itu, seperti pernah ditulis Aboebakar Loebis dalam biografinya tentang kunjungannya ke Sumatra Utara semasa Revolusi kemerdekaan sebagai utusan pemerintah pusat jakarta.

Saat itu, zaman revolusi Indonesia sedang bergolak, Aboebakar Loebis mendengar ada seorang mantan copet bernama Timur Pane yang menjadi pejuang yang bergerak melawan Pasukan Militer Belanda di tanah Batak, Sumatra Utara. Pejuang bekas pencopet ini, memiliki banyak pasukan, mengangkat dirinya sebagai Jenderal Mayor. Tentu saja pengangkatan Timur Pane sebagai Jenderal itu tidak sesuai dengan instruksi militer pusat di Jawa.

Apapun yang dilakukan Timur Pane, termasuk mengangkat diri sebagai Jenderal, pastinya juga ada jasa dia dalam mempertahankan tanah Batak dari pendudukan militer Belanda dimasa revolusi. Tidak diketahui nasib Timur Pane setelah revolusi. Namanya hilang setelah militer Belanda angkat kaki dari tanah Batak dan kepulauan Nusantara ini.

"Apa kata dunia?" nama jenderal copet itu terlupakan juga. Tenang saja, setidaknya ada jenderal Batak lain, 'jenderal beneran' pake bintang di pundak dan naik mobil, bukan jenderal copet yang naik kuda atau menggendong emaknya seperti di film Nagabonar.



Sejarahku Jangan Kau Paksa Dengan Sejarahmu

Di sekolah sejarah seperti menjadi kitab keramat yang membosankan. Terserah orang bilang sejarah membosankan dan tidak berguna. Ada dua kemungkinan alasan mereka berkata begitu, pertama mereka bodoh dan kedua mereka bukan manusia. Umumnya orang berpikir manusia tidak menyejarah, padahal manusia itu hidup dilingkupi sejarah. Tanpa manusia tidak akan ada sejarah dunia.

Tidak ada Manusia hidup tanpa sejarah. Hanya orang orang bodoh yang tidak setuju pernyataan tadi. Orang selalu terjebak bahwa sejarah sebagai hapalan memuakan dan membosankan di sekolah. padahal sejarah itu apa saja yang dialami kita semua dalam hidup. Termasuk apa yang kita lakukan beberapa menit yang lalu. Belajar sejarah tidak harus menghapal tanggal peristiwa besar, sebab sejarah mencakup semua, termasuk sejarah kecil yang unik.

Sejarah dalam pembelajarannya di Indonesia telah dihancurkan begitu rupa. Dimana para siswa selalu dijebak dengan sejarah elitis.Hal ini semakin menjauhkan siswa dari kehidupan riilnya. Hanya ada Jenderal Sudirman, Sukarno, Suharto atau tokoh nasional siapalah.

Sejarah sebagai ilmu humanis tidak pernah dipaku untuk hanya mengkaji hal besar. Banyak hal kecil yang sebenarnya mempengaruhi kehidupan manusia. Belajar sejarah sebenarnya berusaha membuat manusia menjadi arif, bukan sekedar menjadi hapal semua hal yang ada di buku sejarah. Apalagi yang ada di buku sejarah milik penguasa.

Menjadi bijak tidak perlu belajar dari tokoh besar semata. Belajar dari tuykang becak pun bisa membuat kita menjadi manusia humanis, yang juga memiliki kearifan. Ini lebih baik dibandingkan dengan belajar dari tokoh besar yang diagungkan, dimana banyak hal disekitar tokoh itu dimanipulasi. Artinya tokoh besar lenbih banyak dilingkupi kebohongan sejarah. Sudah waktunya pembelajaran sejarah Indonesia keluar dari meanstream sejarah orang besar. Sudah waktunya menilik sejarah kecil. Bukan lagi menghafal yang ditekankan dikelas, melainkan menangkap sisi yang manusiawi dari sejarah, peristiwanya, tokohnya dan apa saja yang melingkupinya.

Pembelajaran sejarah yang ada juga tidak jarang mematikan kreasi siswa. Sudah waktunya siswa memiliki sejarahnya sendiri. Biarkan anak tukang becak memahami sejarah tukang becak, atau sejarah apapun yang ingin dikajinya dan jangan pernah memaksakan padanya sesuatu yang sudah dikultuskan oleh otoritas penguasa yang selalu menjadikan sejarah sebagai alat. Ingat hidup adalah memilih. Siswa yang tidak mendapat nilai bagus di kelas bukanlah manusia yang buruk.

Mempertahankan apa yang terjadi diruang kelas saat ini akan membuat siswa seperti robot. Tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia dipastikan gagal dimasa depan. Jangan bertanya bila suatu hari nanti siswa-siswa akan berkata "We Don't need no education!"


Sabtu, Januari 12, 2008

Cinta Charlie Chaplin Pada Bali

Siapa percaya komedian kelas dunia bernama Charlie Chaplin pernah berkunjung ke Indonesia. Kata Pewarta Deli, Charlie Chaplin Jadi Turis di Bali. itu terjadi di dekade 1932. Ketika dunia dilanda Depresi Ekonomi yang juga disebut Malaise. Orang Indonesia biasa menyebutnya zaman 'meleset'. Banyak orang kehilangan pekerjaan, perusahaan gulung tikar dan angka kejahatanmeningkat. Tapi Chaplin yang pernah miskin di London pada pergantian abad XIX ke XX itu justru berlibur. Chaplin memang berhak menggunakan uangnya untuk apa saja. Kunjungannya ke Bali, pulau Indah yang menjadi bagian dari dunia ketiga.


Pewarta Deli edisi 2 April 1932, memberitakan bahwa Charlie Chaplin tiba di Surabaya dan menginap di hotel Oranje, Surabaya. Dimana insiden merah putih Surabaya terjadi di hotel yang zaman Jepang bernama Yamato. Kedatangan Charlie Chaplin itu dielukan banyak penggemarnya di Surabaya. Para penggemar Chaplin itu yang sudah menunggunya di stasiun--karena mengira Chaplin akan turun dari kereta api padahal Chaplin tiba di Surabaya dengan menggunakan mobil. Kedatangan Charlie Chaplin ke Hindia Belanda itu tidak lain dalam rangka berwisata ke Hindia Belanda. Selama kunjungannya ke Hindia Belanda, Chaplin sempat mengunjungi Garut dan Bali. Kedatangan Chaplin ke Hindia Belanda adalah sebuah hal pentung sekali mengingat predikat Charlie Chaplin sebagai komedian besar kelas dunia yang memiliki karya penting dalam sejarah film komedi dunia dimasa film bisu berjaya.

Charlie Chaplin berkunjung ke Indonesia bersama Sidney (kakak Charlie dari ibu yang sama namun yang juga seniman lawak). Dalam kunjungannya ke Indoensiaitu, Chaplin menyempatkan diri mengunjungi Bali. Dari Surabaya, Charlie dan abangnya menuju Singaradja, Bali pada 4 April. Mereka sedang berlibur di Hindia Belanda dan menghentikan kegiatan berkeseniannya selama beberapa waktu. Mereka mendapat sambutan dari penduduk asli Bali dan orang-orang kulit putih disana. Dikabarkan mereka telah mengunjungi residen setempat.

Kunjungan Chaplin, komedian dunia kesohor itu, menjadi kehormatan bagi Hindia Belanda, juga Bali--yang belum terlalu berkembang sebagai tempat wisata yang ramai seperti sekarang. Pada dekade 1930an, Bali mulai dilirik sebagai tempat kesenian yang mulai dikenal dunia karena juga keberadaan orang kulit putih disana yang mulai memperkenalkan seni Bali ke seluruh dunia, salah satunya oleh Walter Spies atau Rudolf Bonnet.

Pewarta Deli, 8 April 1932 memberitakan Charlie Chaplin masih berada di Bali. Dia menginap di Bali Hotel, di Denpasar. Karena merasa senang di Bali, Chaplin menunda perjalanannya kembali ke Surabaya--yang semula tanggal 10 menjadi tanggal 17 April kedepan. Chaplin tampak menikmati suguhan gemalan dan tarian Bali. Wujud kesenangan Chaplin adalah dengan mengadakan pemutaran film-filmnya di Denpasar untuk menghibur rakyat Bali. Masyarakat Bali mungkin adalah orang-orang beruntung dibanding tempat lain. Untuk bisa nonton film, orang harus mengantri di Bioskop, bayar pastinya.

Kedatangan Charlie Chaplin ke Bali adalah anugrah tersendiri. Legenda film komedi sepanjang sejarah. Lebih dari itu, Chaplin terpesona hingga mau berlama-lama karena keramahan alam-nya. Pulau Bali menjadi milik Chaplin juga saat itu seperti kita memilikinya.

Mungkinkah kunjungan Chaplin ke Hindia Belanda (nama Indonesia untukmenyebutnusantara ini belum dipakaisaat itu)itu membuat Chaplin semakin peka atas kemiskinan. Sebagaiorang yang pernah miskin, tidak salah bila Chaplin menaruh simpati pada komunisme--yang berusaha memberi solusi atas masalah abadi bernama kemiskinan.

Rasanya, bukan Pewarta Deli saja yang berkata Charlie Chaplin pernah ke Indoensia zaman HIndia Belanda dulu. Bataviase Nouvelles tahun lalu juga berkata Chaplin pernah ke Indonesia. Saya hanya bisa berimajinasi kalau Charlie Chaplin, mungkin juga abangnya, jatuh hati pada pulau Dewata bernama Bali.

Kamis, Januari 10, 2008

Rock Cengeng AKA yang abadi

Piringan hitamku pernah mutar lagu bagus. Melankolis memang, tapi itu lagu punya makna dalam untuk seniman bermasa depan suram. Judul lagu itu "Jeritan Seniman" milik AKA yang ada Ucok Harahap 'Kribo' itu. Lagu itu, bisa dibilang cukup cengeng. Lirik dan musiknya 'Ngeblus'(sedih, tapi bukan lagu yang menyedihkan secara kualitas). AKA memang band aliran cadas Indonesia zaman retro dulu. Uniknya, lagu-lagu mereka yang kata orang 'cengeng' kerap direquest di radio-radio yang memutar lagu-lagu lama, atau yang memiliki acara yang menyajikan lagu-lagu zaman dulu--alias Jadul. Sebenarnya, sebagai band cadas memang diakui dengan aksi panggungnya yang cukup sarang zaman dulu, mungkin belum ada yang meniru kegarangan AKA diatas panggung.

AKA kependekan dari Apotik Kali Asin--apotik milik keluarga Ucok Harahap di Surabaya. Ucok Harahap, rocker kribo yang sekarang menyepi di kaki sebuah gunung di Jawa Timur, itu tidak lain otak dari AKA. Dia vokalis dalam band yang juga memainkan organ. personil AKA yang lain adalah Arthur Anez Kaunang--ayah dari Tessa Kaunang yang selebritis itu. Basis kidal itu lulusan sastra Inggris di sebuah PTN di Surabaya zaman dulu. Personil lain adalah Sunata Tanjung yang memainkan gitar untuk AKA--yang cukup diakui kualitas permainan gitarnya. Syech Abidin bertugas memainkan drum.

Band ini mengikuti perkembangan rock dunia. Awalnya mereka kerap memainkan lagu-lagu Jimi Hendrix. AKA seperti band rock lain juga menikmati zaman kebebasan musik rock di Indonesia. Mereka tidak mengalami apa yang dialami Koes Bersaudara yang dibui oleh rezim penguasa orde lama.

Lagu-lagu AKA umumnya keras. Apalagi yang berbahasa Inggris. Mereka juga memiliki lagu yang bisa dibilang komersil karena diminati masyarakat umum, yang mungkin saja tidak suka musik rock. Lagu "Badai Bulan Desember", "Seniman dan Biola" atau "Jeritan Seniman" masih suka di request orang-orang yang pernah muda di dekade 1970an. Dua lagu tadi bisa dibilang lagu cengeng. Seperti umumnya lagu sekitar dekade 1970an, lagu AKA tadi, diiringi sound dari organ Hammond. Iringan itu, walau terkesan 'jadul' bahkan kuno oleh anak zaman sekarang, lagu tadi menjadi semakin kuat karakternya. Walau tidak sepopuler "Whiter Shade of Pale" milik Procol Harum yang sepertinya irama lagu itu nyontek dari "Air in G String"-nya Johan Sebastian Bach. Sound Organ Hammond mungkin tidak saja dipakai oleh AKA, tapi juga band lain. Bagaimanapun sound itu seperti air abadi untuk band-band zaman dulu, termasuk "Badai Bulan Desember", Seniman Dan Biola" dan "Jeritan Seniman" milik AKA.

"Do What you Like" adalah album AKA yang cukup kesohor di negeri ini. Beberapa mereka berbahasa Inggris. Untuk ukuran Indoensia, beberapa lagu mereka cukup eksperimental juga, seperti apa yang dibuat Pink Floyd di belahan dunia lain.

Aksi panggung AKA cukup sangar. Pakai aksi gantung diri Ucok Harahap di awal konser segala. Konser AKA selalu ramai dipadati penggemar rock fanatik. Nama AKA patut disejajarkan dengan God Bless. Sayang AKA tidak eksis selama God Bless yang kerap ganti personil. AKA menghilang di dekade 1990an. AKA tinggal nama. Mereka tidak konser. Apa yang direkam AKA tak pernah mati. Lagu mereka, apalagi yang lagu-lagu cengeng, kerap diputar oleh penggemar atau radio yang menyajikan lagu-lagu lawas.

Pasca vakumnya AKA, selain Ucok Harahap, tiga personil lain--Syech Abidin, Arthur Anez Kaunang dan Sunata Tanjung membentuk SAS yang merupakan kependekan dari nama mereka. Musik mereka tidak sekeras AKA namun cukup sukses dimata publik karena musik rock di dekade 1980an tidak lagi sekeras awal 1970an. Musik rock tahun 1980an, pamornya sedikit menurun dibanding 1970an.


AKA membuat para personilnya jadi selebritis. Ucok Harahap pernah bermain dalam film-nya Rhoma Irama, "Darah Muda" dimana Ucok berperan sebagai rocker bengal dengan geng motornya. Ucok dapat peran antagonis dan Rhoma Irama tentu saja dapat peran jadi jagoan--seperti di film-film box office. Film tadi seperti memposisikan rock sebagai sebagai musik orang-orang bengal yang tidak memiliki kegiatan positif. Padahal ada rocker yang jadi Astronom seperti Brian May.

Hampir semua personil AKA belakangan menjadi orang-orang yang religius. Rock juga mengantarkan mereka menjadi itu secara tidak langsung. Ucok konon diberitakan menjadi paranormal. Mereka tetap berkesenian, namun tidak Ngerock seperti 1970an dulu. Usia mereka tidak lagi cocok untuk membawakan lagu-lagu pemberontakan ala Rock.

Minggu, Januari 06, 2008

Rock n Roll Indonesia (1): Dari Ngak Ngik Nguk hingga Deg Deg Plas

Suatu hari dibulan Desember 1999, aku alami kejadian yang tidak akan aku lupa. Aku tidak dendam atas hal itu. Ayahku marah dan punggungku dipukul. Habis kejadian itu aku langsung kabur. Entah kemana aku lupa. Semua bermula dari keisenganku pada lagu-lagu zaman dulu yang nggak ada matinya.Satu-satunya hiburan dihunianku yang sempit waktu kecil hanyalah piringan hitam. ya, piringan hitam milik ayah. Entah bagaimana dulu ayah mendapatnya. Itu barang berharga miliknya. Ayah akan marah bila aku memutar lagu Speed King dari piringan hitam Deep Purple miliknya. Dia hampir memukulku waktu aku ketangkap basah sedang memutar lagu dari barang keramat itu. Sejak itu selama beberapa waktu itu aku tidak menyentuh barang hebat itu lagi.
Persetan dengan kawan-kawan yang merasa hebat dengan lagu Backstreet Boy. Gila, ada juga anak-laki-laki penggemar Boyband. Entahlah, aku belum pernah dengan Beatle’s, Queen atau barang kali Pink Floyd yang dibilang ayah sebagai band hebat. Aku lebih tertarik mencari tahu nama besar band Inggris itu. Diantara piringan hitam ayah, terdapat lagu-lagu Koes Plus—paling tidak sekitar sepuluh album pop dan tidak termasuk lagu-lagu Melayu maupun keroncong.
Aku pernah menonton di tiga film Beatles akhir bulan ini. Aku tidak mengerti film itu. Hanya tergambar di kepalaku band itu selalu membuat para gadis zaman itu menjerit. Pernah juga aku dengar piringan hitam Beatles dilarang orde lama. Sukarno melarang lagu-lagu Beatles, Ngak Ngik Nguk katanya. Kata pendukung Sukarno zaman itu, lagu-lagu barat dinilai tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Negara rupanya berhak mengatur selera musik rakyat yang mereka tindas. Pemerintah waktu itu, seperti sering dihimbau dalam harian Rakyat milik PKI, masyarakat luas diminta menyerahkan piringan hitam Beatles atau musik barat lainnya secara sukarela. Rasanya tidak ada pemuda pecinta rock n roll yang rela menyerahkan piringan hitamnya.
Pemerintah orde lama paling paranoid soal musik, Koes Bersaudara harus masuk bui karena nekad membawakan lagu I Saw Her Standing There dalam sebuah acara. Dalam acara itu, sebuah keributan terjadi, atap di tempat konser dilempari batu oleh orang-orang yang katanya pendukung revolusi Sukarno yang anti kapitalis.
Anti rock n roll tidaklah lama di Indonesia. Politik Indonesia lalu menenggelamkan kekuasaan Sukarno. Bapak Pemimpin Besar Revolusi itu digulingkan secara merangkak oleh kekuatan siluman yang kemungkinan juga ada campir tangan asing. Kejatuhan Sukarno memberi nafas bagi berjayanya musik rock di Indonesia. Masa-masa kebangkitan rock Indoensia ini, Koes Plus merekam dan merilis Deg Deg Plas (1969). Album ini tidak terlalu sukses penjualannya, karena masyarakat saat itu belum bisa menerima lagu-lagu mereka. Beberapa lagu dalam album itu seperti Manis dan Sayang, Derita, Awan Hitam, Kembali Ke Jakarta, Cintamu Telah Berlalu adalah lagi-lalgu yang kemudian populer hingga saat ini. Takdir lagu itu harus mengalami penolakan terlebih dahulu sebelum publik bisa menerimanya.
Tersebutlah seorang pemuda kelahiran Tuban 19 Januari 1936 bernama Koestono Koeswoyo, anak dari Koeswoyo pegawai negeri di Depertemen Dalam Negeri. Pemuda ini begitu tertarik pada musik rock n roll yang sedang mengila di barat sana. Tony Koeswoyo, begitu orang mengenalnya dalam sejarah musik pop Indonesia, lalu mengajak saudara-saudaranya yang laki-laki untuk membentuk band keluarga. Tony setidaknya pernah bermain band bersama kawan-kawannya dalam Teruna Moeda. Salah satu personilnya adalah Sopan Sophian—mantan fungsionaris PDI P dan anggota DPR.
Band keluarga itu kerap mendapat job menggung. Bayarannya mungkin tidak sebeerapa, namun mereka jelas senang bisa manggung. Mereka sering mengisi acara pesta dimana mereka pasti bisa makan gratis dalam pesta remaja itu.
Mereka juga menyambangi sebuah perusahaan rekaman. Bersama perusahaan rekaman itu, anak-anak Koeswoyo membuktikan diri sebagai musisi rock n roll. Nama besar yang terlibat dalam rekaman itu adalah Jack Lesmana, ayah Indra dan Mira Lesmana yang orang kenal sebagai musisi Jazz kesohor tanah air.
Bagi Tony Koeswoyo, musik adalah hidupnya, meskipun bukan sebagai mata pencarian yang menjanjikan pada awalnya. Tony sempat bekerja di Perkebunan Nusantara. Tony terus melangkah bersama Band-nya yang berubah nama dari Koes Bersaudara menjadi Koes Plus karena Nomo keluarga. Dua adik Tony, Yon dan Yok tetap bersamanya. Abang mereka Jhon, yang pernah ikut dalam Band belakang tidak ikut lagi. Jhon merelakan sebagian gajinya dipakai untuk membeli alat band. Jhon, seperti juga ibu mereka, sering menjadi sasaran omelan Koeswoyo yang tampak tidak rela anak-anaknya bermain band karena masa itu menjadi musisi tidak akan bisa hidup mapan.
Tony memimpin adik-adiknya dan anggota baru mereka Murry dalam Koes Plus. Band ini menjadi legenda musik Indoensia. Mereka berjaya di tahun 1970an dengan lagu mereka yang easy listening dan sederhana. Musik yang diusung Tony Koeswoyo bersama band dan saudaranya itu menjadi pelopor perkembangan musik pop setelah kejatuhan Soekarno. Perjuangan Tony seperti menjadi perjuangan musik pop yang memang berbau barat berkembang di Indonesia. Tony dan saudara-saudaranya harus merasakan penjara karena kegilaan mereka ini. Meski Koes Plus tidak ngerock ditahun 1970an, mereka seperti menjadi pembuka lembaran baru bagi perkembangan musik rock tanah air lewat album Deg Deg Plas---yang dimata sebagaian pihak dianggap gagal dari sisi penjualan namun memiliki beberapa lagu pop dasyat yang selalu diaingat orang. Apapun musik yang diusung Tony Koeswoyo, sangat munafik menggeser namanya dari jajaran tokoh musik rock tanah air. Perjuangan Tony yang kerap mengusung lagu-lagu the Beatles diawal karir musik adalah usaha berani yang membuat mereka harus di bui di penjara Glodok.
Aku ingat lagi ditempat ayahku tinggal sekarang, piringan hitam Deg Deg Plas itu masih ada. Aku pernah memutarnya waktu SMP dulu. Lagu-lagu mereka tidak jelek dan masih nyaman didengar hingga sekarang. Omongan kawan-kawan sekolahku kalau lagu lama, seperti juga lagu-lagu Koes Plus, adalah ketinggalan zaman hanya omong kosong mereka sebagai anak kecil yang hanya tahu yang terbaru adalah yang terbaik. Musik masalah selera, setiap penikmat musik punya ukuran sendiri mana musik yang bagus. Anak kecil hanya bisa bilang musik terkinalah yang terbaik.
Album gagal dalam penjulan tidak selamanya buruk dari sisi musikalitas. Entah apa yang dipikirkan Tony, apakah album itu akan laris ketika dirilis kita tidak tahu. Orang pada masa itu boleh saja memasukan rekaman mereka ke tong sampah. Sekarang album yang katanya dulu tidak laris itu masih kerap diputar, walau semakin jarang yang memutarnya sekarang ini. Karena orang lebih menyukai lagu-lagu baru. Biar tidak ketinggalan zaman kata mereka. Bagaimanapun, Tony dan dua bandnya menjadi anak di zamannya dan menjadi salah satu mata rantai dalam perkembangan msuik pop tanah air hingga seramai dan beragam seperti sekarang ini.





Minggu, Desember 30, 2007

Makassar Yang Panas (Agustus 1950)

Beberapa hari setelah pelantikannya sebagai perwira TNI, Andi Azis beserta pasukannya menyerang perumahan perwira TNI di staf kwartier dan asrama CPM di Verlegde Klapperlaan (jl Walter Mongisidi). Alibi pemberontakan adalah akan mendaratnya pasukan TNI, Batalyon Worang, pada April 1950 ke Sulawesi Selatan. Berita akan terjadinya pendaratan itu mendapat tentangan dari Andi Azis. Andi Azis menyatakan: “buat apa didatangkan pasukan APRIS dari Jawa, toh pasukan ex KNIL di Makassar-pun telah pasukan APRIS dan sanggup mengamankan NIT.”

Tindakan Andi Azis untuk menentang kedatangan TNI di Makassar mendapat dukungan dari banyak serdadu KNIL di MAkassar dan sekitanya. Sebelum penberontakan mereka mengadakan rapat tanggal 3 April 1950. Bekas serdadu KNIl tersebut membentuk ‘Panitia Pembentukan Peralihan KNIL ke APRIS’ yang disingkat PPPKA. Sebagai ketua, ditujnjuk bekas Sersan Mayor (KNIL) Christoffel. Rapat ini dikunjungi 700 orang anggota KNIL. Mereka mengeluarkan mosi: mendesak pucuk pimpinan KNIL dan APRIS supaya KNIL Makassar dimasukan ke APRIS; mendesak pemerintah RIS supaya pengiriman bekas TNI ke Indonesia timur ditunda untuk sementara waktu; mendesak pemerintah NIT mencegah kedatangan di Makassar dan seluruh NIT dari APRIS bekas TNI. Alasan yang dikemukakan dalam mosi itu adalah belum ada jaminan keamanan untuk anggota-anggota KNIL.

Hari rabu 5 April 1950 pukul 5 pagi, pasukan Andi Azis mengadakan gerakan pendadakan, menyerang asrama CPM dan perumahan perwira Staf Kwatier TNI. Dalam seranga ini letnan colonel Mokoginta dan pengawalnya disandera. Sebagian CPM tertawan dan sebagian lagi mundur untuk selanjutnya bergerilya. Mengenai tertawannya Mokoginta: sekitar pukul 5 subuh 5 April 1950 itu seorang komandan peleton dari pasukan Andi Azis dengan pangkat Pembantu Letnan datang pada Mokoginta dengan diantar letnan du Tumbelaka. Pada Mokoginta diminta diminta agar dirinya datang ke kamp Andi Azis. Sebagai Letnan Kolonel, permintaan dari kapten bawahannya itu ditolak oleh Mokoginta. Ketiak Mokoginta hendak menelpon Andi Azis, rupanya jaringan telepon telah diputus. Ketika akan berangkat ke markasnya, Mokoginta dicegat seorang bintara dan tiga anak buahnya. Tanpa bisa melawan Mokoginta-pun ditahan setelah yakin keluarganya aman. Bersama stafnya dia dibawa ke markas Andi Azis.

Kepada Letnan Kolonel Ahmad Yunus Mokoginto, Andi Azis—yang dalam TNI berstatus bawahan—mengatakan pada Mokoginto: “Het Pijt me, Overste, maar ik moct het doen”
Setelah Andi Azis menawan panglima TNI itu, pasukannya ditempatkan didaerah strategis dinbalik-balik bukit untuk menghadapi pendaratan Worang. Mereka mengatur arah dan posisi senjata watermantel mengarah ke kapal. Sebuah pesawat pembom B-25 Mitchel, rupanya telah siap membantu perlawanan Andi Azis. Dengan Mokoginta ditangan, Andi Azis meminta lewat Mokoginta agar pasukan jangan mendarat. Kekuatan pasukan Andi Azis ada sekitar 800 orang dengan senjata lengkap dengan lindungan senjata berat dan kendaraan lapis baja kL di Makassar yang berhasil dirampas.

Ketika pasukan Andi Azis berontak, letnan Kolonel Musch, pimpinan militer Belanda di Makassar tidak bisa berbuat apa-apa. Tanggal 5 April itu juga, kapal Waekelo dan Bontekoe yang mengangkut seribu prajurit TNI dari Batalyon Worang tiba di pantai Makassar. Karena kapal tidak bisa merapat, maka kapal bertahan di laut. Karena ada beberapa anggota kelurga pasukan, maka kapal untuk sementara mendarat di seberang pulau Sulawesi. Ada anggota keluarga pasukan yang untuk sementara ditinggalkan di Balikpapan karena kota Makassar jelas tidak aman—termasuk bagi penduduk Makassar sendiri apalagi pendatang dengan seragam TNI.

Tindakan Andi Azis tidak mengatasnamakan KNIL tetapi APRIS dan pemuka NIT macam Sukowati tidak ada sangkut paut denga gerakan militernya. Tujuan utama Andi Azis adalah memerptahankan NIT. Pemerintah NIT sendiri justru kecewa atas tindakan Andi Azis itu, seperti pidato PM Diapari di Radio Makassar pada tanggal 7 April 1950. Dua hari sebelumnya pemerintah mengeluarkan ultimatum pada Andi Azis yang memperingatkan Andi Azis untuk kembali ke Asrama dan tawanan dilepaskan; menyerahkan senjata-senjata pada yang berwenang dan Andi Azis diminta menghadap ke Jakrta. Sayangnya ultimatum tidak respon dengan cepat oleh Andi Azis. Karenanya pemerintah kirim pasukan lebih besar ke sana dibawah komando Kawilarang. Setelah menyerah ke Jakrta dan diadili Andi Azis dipenjara selama 14 tahun.

Jumlah tentara KNIL antara tahun 1945-1949 adalah sekitar 60.000 personil. Dalam formasi KNIL saat itu, komposisi serdadu Ambon dan non Ambon secara keseluruhan adalah satu banding lima. Mereka tinggal dalam tangsi-tangsi bersama anak dan istrinya. Orang-orang Ambon yang masuk KNIL biasanya beragama Kristen Protestan.
Sewaktu pemberontakan Andi Azis memberontak, Julius Tahiya—perwira KNIL terpopuler pribumi yang pernah bergerilya melawan Jepang di Maluku semasa pendudukan Jepang—pernah diajak pemberontak untuk amabil bagian, namun Julius menolak karena tidak lagi tertarik untuk menjadi seorang militer. “Selama Perang Dunia II aku bertemu dengan beriribu tentara Hindia Belanda. Sebagian lari ke Australia pada tahun 1942. Yang lain ditangkap Jepang dan ditahan di Biak, sebuah pulau kecil di barat daya Papua Nugini. Sekutu membebaskan mereka tahun 1944, dan menerbangkan mereka ke Australia. Disana mereka dilatih kembali dan digabungkan dalam unit-unit yang ditugaskan ke Hindia Belanda. Aku meminta agar penugasanku dalam Angkatan Perang Indonesia berlangsung selama dua tahun saja, karena aku tidak mau bekas tentara Hindia Belanda menganggap mereka pimpinanku. Mereka harus menerima diri mereka sebagai bagian dari angkatan bersenjata Indonesia yang merdeka. Salah satu tugasku adalah terbang ke Makassar untuk memeriksa keadaan bekas tentara Hindia Belanda di sana. Tentara-tentara itu lengkap dan telah mengenyam pengalaman yang cukup selama Perang Dunia II. Aku sengaja tidak memberitahukan rencana kedatanganku, dan pergi sendirian tanpa senjata, tanpa seragam. Dalam perjalanan ke Ujung Pandang pilot memanggilku ke kokpit. Ia memberitahu bahwa Kapten Andi Azis, pemimpin bekas batalyon tentara Hindia Belanda yang baru saja dialih-tugaskan ke Angkatan Bersenjata Indonesia, telah menangkap Kolonel Mokoginta, komandan disana. tindakan indisipliner ini jelas tidak dapat diterima. Tak lama aku stelah masuk hotel, tiga orang tentara yang memakai seragam tentara Hindia Belanda dan membawa senjata memberi hormat padaku. Aku mengenali mereka. Mereka adalah teman-teman dari Maluku yang pernah aku kenal ketika Perang melawan Jepang. Mereka meberi hormat. Pemimpin mereka berkata. “Kami meminta maaf. Tapi bapak harus kami tangkap”. “Kalian mau menangkapku?” tanyaku. “Siapa yang menyuruh kalian menangkapku?” Menurut mereka perintah itu datang dari Soumokil, seorang Ambon yang mau memisahkan Maluku sebagai negara sendiri. “Ya Betul. Kami harus menangkap bapak.” “Baik kalau begitu kalian harus memaksa saya.” Tentara-tentara Belanda itu tampak ragu, lalu berbisik-bisik. Akhirnya pimpinan mereka berkata, “Kami akan lapor komandan bahwa bapak tidak mau ikut dengan kami.” “Baik. Silahkan.” Aku segera meninggalkan hotel karena tahu bahwa sebentar lagi seseorangf akan datang bersama tentara yang akan menyeretku. Aku tidur di rumah seorang teman dan pagi harinya berjalan ke barak tentara. Semua tentara memberi hormat. Ketika berjalan diantara mereka, mereka mengelilingiku. “Tolong kami” kata mereka. “Jadilah komandan kami. Pimpin kami untuk mencegah tentara Republik mendarat kemari.” Aku tahu bahwa mereka tidak punya kekuatan melawan tentara Republik, yang punya lebih banyak senjata. Aku berdiri diatas peti mati. “Dengar,” kataku. “Belanda sudah mengakui kedaulatan Indonesia. sekarang saya adalah bagian dari Republik. Kalian ‘kan tentara. Nama kalian termasuk dalam daftar yang dialihkan ke Angkatan Bersenjata Republik. Republik akan menerima kalian dengan tangan terbuka. Jangan memepersulit tentara Republik yang akan datang kemari, karena itu berarti melanggar apa yang telah ditetapkan PBB.” Aku memilih setiap kata dengan hati-hati. “Kalian prajurit sejati atau petualang?Kalau kalian Cuma sekedar petualang, seluruh dunia akan menyalahkan kalian.” “Kami prajurit!”. Seru mereka. Lalu mereka menepuk punggungku untuk meyuakinkan bahwa mereka tidak akan mebuat keributan.

Atas hal ini pemerinbtah pusat di Jakarta bereaksi dengan meberi ultimatum kepada Anbdi Azis melalui Radio RIS. Ultimatum itu tidak dipenuhi sesuai kemauan pemerintah, karena Andi Azis terlambat memenuhi panggilan pemerinta itu. Walau Nadi Aziz menyerah dan diadili di Jakrta, makaassar masih dalam kekacauannya. Pemerintah mengirimkan sebuah pasukan ekspedisi yang terdiri dari beberapa dari brigade di Jawa ditambah batalion Worang yang berang kat laebih dulu ke Makassar. Operasi ini dipimpin Alex Kawilarang.

Sabtu, Desember 29, 2007

Petualangan Andi Azis

Ini adalah simbol sekolah para Belanda, school voor opleiding tot parachutisten, dimana seorang Indonesia juga pernah menjadi instruktur disana. Mengejutkan sekali jika orang itu adalah Andi Azis yang memberontak di Makassar. Andi Azis adalah seorang mantan Letnan KNIL dan sudah masuk TNI dengan pangkat Kapten, dia ikut berontak bahkan memimpinnya. Dia memiliki riwayat yang sama uniknya dengan petualang KNIL lainnya seperti Westerling. Andi Azis memiliki cerita hidupnya sendiri. Cerita hidupnya sebelum berontak jauh berbeda dengan orang-orang Sulawesi Selatan pada umumnya. Tidak heran bila Andi Azis menjalanani pekerjaan yang jauh berbeda seperti orang-orang Sulawesi Selatan pada umumnya, sebagai serdadu KNIL. Bisa dipastikan Andi Azis adalah salah satu dari sedikit orang Bugis yang menjadi serdadu KNIL. Bukan tidak mungkin bila Andi Azis adalah orang Bugis dengan pangkat tertinggi dalam KNIL.

Andi Abdul Azis lahir di Sulawesi, diangkat anak oleh orang tua Eropa-nya yang membawanya lke Belanda dan ikut terlibat dalam PD II. Dirinya lalu kembali sebagai bagian dari tentara Belanda yang ysedang menduduki Indonesia. pasca KMB dia terlibat masalah serius dengan TNI karena kedekatannya dengan tokoh-tokoh federalis macam Saumokil yang memiliki posisi penting dalam Negara Indonesia Timur, Jaksa Agung. Berakhirnya Negara Indonesia Timur mengakibatkan.

Andi Abdul Azis asli Bugis putra orang Bugis. Andi Azis lahir tanggal 19 September 1924, di Simpangbinangal, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Pendidikan umumnya di Europe Leger School namun tidak sampai tamat. Andi Azis kemudian dibawa seorang pensiunan Asisten Residen bangsa Belanda ke negeri Belanda. Di Negeri Belanda tahun 1935 ia memasuki Leger School dan tamat tahun 1938, selanjutnya meneruskan ke Lyceum sampai tahun 1944. Sebenarnya Andi Azis sangat berhasrat untuk memasuki sekolah militer di negeri Belanda untuk menjadi menjadi seorang prajurit. Tetapi niat itu tidak terlaksana karena pecah Perang Dunia II. Kemudian Andi Azis memasuki Koninklijk Leger. Di KL, Andi Azis bertugas sebagai tim pertempuran bawah tanah melawan Tentara Pendudukan Jerman (NAZI). Dari pasukan bawah tanah kemudian Andi Azis dipindahkan kebelakang garis pertahanan Jerman, untuk melumpuhkan pertahanan Jerman dari dalam. Karena di Eropa kedudukan sekutu semakin terjepit, maka secara diam-diam Andi Azis dengan kelompoknya menyeberang ke Inggris, daerah paling aman dari Jerman—walaupun sebelum 1944 sering mendapat kiriman bom Jerman dari udara.

Di Inggris kemudian Andi Azis mengikuti latihan pasukan komando di sebuah Kamp sekitar 70 kilometer di luar London. Andi Azis lulus dengan pujian sebagai prajurit komando. Selanjutnya mengikuti pendidikan Sekolah calon Bintara di Inggris dan menjadi sersan kadet (1945). Di bulan Agustus 1945 karena SEAC dalam usaha mengalahkan Jepang di front timur memerlukan anggota tentara yang dapat berbahasa Indonesia, maka Andi Abdul Azis kemudian ditempatkan ke komando Perang Sekutu di India, berpindah-pindah ke Colombo dan akhirnya ke Calcutta dengan pangkat Sersan.
Andi Azis mungkin satu-satunya orang Indonesia yang mendapat latihan pasukan komando. Andi Azis juga orang Indonesia yang ikut menjadi bagian, walau tidak secara langsung, dari kelahiran pasukan-pasukan komando dunia seperti SAS milik Inggris dan KST Belanda. Andi Azis, seperti halnya Westerling, merupakan orang-orang yang luar di negeri Belanda yang ikut membebaskan Belanda dari pendudukan Jerman. Seperti Halim Perdana Kusuma, Andi Azis juga orang Indonesia yang ikut serta dalam perang Dunia II di front Barat Eropa.

Setelah Jepang menyerah tidak syarat pada sekutu, Andi Azis diperbolehkan memilih tugas apakah yang akan diikutinya, apakah ikut satuan-satuan sekutu yang akan bertugas di Jepang atau yang akan bertugas di gugus selatan (Indonesia). Dengan pertimbangan bahwa telah 11 tahun tidak bertemu orang tuanya di Sulawesi Selatan, akhirnya ia memilih bertugas ke Indonesia, dengan harapan dapat kembali dengan orang tuanya di Makassar. Pada tanggal 19 Januari 1946 satuannya mendarat di Jawa (Jakarta), waktu itu ia menjabat komandan regu, kemudian bertugas di Cilinding. Dalam tahun 1947 mendapat kesempatan cuti panjang ke Makassar dan mengakhiri dinas militer. Tetapi di Makassar Andi Azis merasa bosan. Ditinggalkannya Makassar untuk kembali lagi ke Jakarta dan mengikuti pendidikan kepolisian di Menteng Pulo, pertengahan 1947 ia dipanggil lagi masuk KNIL dan diberi pangkat Letnan Dua. Selanjutnya menjadi Ajudan Senior Sukowati (Presiden NIT), karena Sukowati berhasrat memiliki Ajudan bangsa Indonesia asal Sulawesi (Makasar), sedang ajudan seniornya selama ini adalah Kapten Belanda totok. Jabatan ini dijalaninya hampir satu setengah tahun, kemudian ia ditugaskan sebagai salah seorang instruktur di Bandung-Cimahi pada pasukan SSOP—sekolah pasukan payung milik KNIL bernama School tot Opleiding voor Parachusten—(Baret Merah KNIL) dalam tahun 1948. pada tahun 1948 Andi Azis dikirim lagi ke Makasar dan diangkat sebagai Komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu dengan 125 orang anak buahnya (KNIL) yang berpengalaman dan kemudian masuk TNI. Dalam susunan TNI (APRIS) kemudian Ia dinaikan pangkatnya menjadi kapten dan tetap memegang kompinya tanpa banyak mengalami perubahan anggotanya.

Tentu saja pasukan dari kompi yang dipimpinnya itu bukan pasukan sembarangan. Kemampuan tempur pasukan itu diatas standar pasukan reguler Belanda—juga TNI. Daerah Cimahi, adalah daerah dimana banyak prajurit Belanda dilatih untuk persiapan agresi militer Belanda II. Ditempat ini setidaknya ada dua macam pasukan khusus Belanda dilatih: pasukan Komando (baret hijau); pasukan penerjun (baret merah). Andi Azis kemungkinan melatih pasukan komando—sesuai pengalamannnya di front Eropa.
Pasukan Andi Azis ini menjadi salah satu punggung pasukan pemberontak selama bulan April sampai Agustus di Makassar—disamping pasukan Belanda lain yang desersi dan tidak terkendali. Apa yang terjadi dalam pemberontakan APRA Westerling yang terlalu mengandalkan pasukan khusus Belanda Regiment Speciale Troepen—yang pernah dilatih Westerling—maka dalam pemberontakan Andi Azis hampir semua unsur pasukan Belanda terlibat terutama KNIL non pasukan komando. Westerling kurang didukung oleh pasukan KNIL—Westerling lebih menaruh harapan pada RST yang desersi. Pasukan lain non RST hanya pasukan pendukung semata. Pemberontakan Andi Azis, tulang punggung pemberontakan adalah semua pasukan tanpa melihat kualifikasi pasukan.



KNIL Pedamba Kemerdekaan

Tidak semua anggota KNIL benar-benar memihak Belanda setelah pendaratan tentara Autralia, orang-orang KNIL golongan ini disebut angkatan baru. Alasan utama mereka bertahan di KNIL yang berperang demi ratu Belanda, tidak lain karena alasan perut saja. Hampir semua anggota KNIL biasanya hanya bisa menjadi tentara profesional dan tidak memiliki keterampilan. Tidak pekerjaan lain selain menjadi serdadu, apalagi dalam kondisi perang. Inti KNIL angkatan muda ini adalah antara lain bintara Salendu dan kawan-kawan. Mereka adalah bekas batalyon vechtwagen KNIL sebelum tahun 1942. mereka ditawan Jepang di rabaul dan Filipina bersama pasukan sekutu lain yang tertangkap. Tahun 1943 mereka dibawa ke Morotai. Dari rombongan ini 30 orang kabur dari kamp tawanan dan bergerilya bersama dengan pasukan sekutu dari Australia yang berhasil menyusup. Salah satu dari kelompok ini adalah Lembong, yang kemudian terbunuh sebagai letnan kolonel TNI oleh pasukan Westerling didepan markas SIliwangi di Bandung.
Tahun 1944 Morotai berhasil oleh Tentara Amerika dari tangan Jepang. Gerilyawan itu oleh panglima sekutu disuruh berhenti bergerilya dan melapor pada kepala kampung setempat. Bekas gerilyawan itu akhirnya dimasukan dalam komando tentara Australia. Anjuran itu tidak hanya ditujukan kepada bekas KNIL bekas internir tapi juga kepada bekas Heiho. Tanpa diduga KNIL bekas tawanan Jepang dan bekas Heiho itu rupanya diserahkan pada komando Belanda yang masih belum mapan kala itu. Belanda rupanya akan membentuk gezagstroepen untuk menjadi tentara polisi kolonial kembali di Indonesia setelah sekutu berhasil megusir Jepang. Tentara Belanda membangun kekuatannya kembali dan nyaris tidak peduli dengan pertaruhan kekuatan yang dilakukan sekutu dalam perang tersebut.
Di Morotai sendiri telah berdiri Leger Organisatie Corps (LOC), dimana para bekas KNIL, Heiho, Romusha dan lainnya yang terkait dengan Hindi Bekanda dilatih untuk menjadi serdadu kolonial. Mereka ini tidak mengatahui perkemnbangan yang terjadi di Jawa. Samapi sersan mayor Mamuaya, yang bekerja di dinas perhubungan menangkap berita proklamasi dari radionya. Berita ini diteruskan pada kawan-kawannya. Sebuahh komplotan terbentuk. Beberapa bintara seperti Salendu, Loloan, Mangundap lalu menghubungi seorang perwira NICA bekas Digulis. Berita dan rencana komplotan itu diterima, oleh bekas Digulis yang diperalat menjadi pejabat NICA itu, dengan gembira walau diselingi dengan keraguan. Keraguan atas peluang sukses dari pemberontakan itu tidak lain karena jarak Jawa dan Halmahera yang jauh sehingga pemerontakan tidak akan bertahan lama.
Digulis itu rupanya belajar dari kegagalan pemeberontakan PKI 1926/1927 juga pemberontakan Zeven Provinsion 1933. Pemberontakan itu dengan mudah dipatahkan oleh pemerintah kolonial. Perubahan tidak terjadi dan pelaku pemberontakan dan orang-oarang terkait lain menjadi sasaran penangkapan—tentunya pemerintah kolonial akan bersikap lebih keras lagi pada pemberontak.
Aksi tersebut akan dimulai dari kompi mereka. Sekitar 30% dari seluruh isi kompi telah tergabung dalam komplotan. Sayangnya pihak intelejen mencium rencana mereka. Suatu hari, secara mendadak, mereka dinaikan kapal tanpa diketahui kemana mereka akan dibawa dengan kapal Ophir. Sebelum berangkat terjadi perkelahian antara prajurit Australia dengan Belanda karena prajurit Belanda begitu tamak dengan membawa seluruh amunisi yang ada. Awak kapal ini adalah orang Cina dan Australia. Pelaut Indonesia sudah menolak bekerja kepentinga orang-orang Belanda. Menurut kabar, tujuan Ophir adalah Jakarta yang sedang mebawra oleh pemuda republik. KNIL Inodonesia itu juga sudah dengar kabar akan adanya BKR di Jawa. Dalam kompi tadi hanya ada dua orang Belanda, komandan kompi dan komanda peleton. Mereka berniat berontak di kapal tapi ada suara lain—yang meninginkan tidak berontak dan akan bergabung dengan BKR bila mereka tiba di Jakarta. Kaum pemberontak KNIL itu terbagi dalam dua kubu, masalahnya hanya, berontak sekarang atau nanti. Setelah diadakan perhitungan suara, mereka sepakat untuk berontak setalah sampai, nanti. Kapal itu tidak pernah sampai ke Jakarta melainkan akan ke Makassar. Disana juga sedabng bergolak kaum pemuda pribumi sehingga kapal untuk smentara tidak bisa bersandar. Rencana agak berubah sedikit, mereka akan berontak di Maksaar saja.
Harus disadari oelh bangsa Indonesia saat ini, tidak semua anggota KNIL adalah orang-oarang yang pro Belanda. Pernah ada pemberontakan bekas KNIL di Minahasa. Walau pemberontakan itu gagal, pemberontakan oitu membuktikan pada kita bahwa didalam KNIL—yang notabane adalah masuk angkatan perang Belanda di Indonesia—mereka bukan berarti 100% berpihak pada Belanda. KNIL adalah militer profesional dan bukan PETA yang fanatik. Orang-oarang Indonesia yang bekerja di dinas militer Belanda umumnya karena tuntutan perut. Gaji di di KNIL lebih baik dibanding gaji TNI sekarang.
Ketika KMB ditandatangani, terdapat 66.000 personil anggota KNIL. Dimana 55.000 orang diantaranya adalah orang-orang Indonesia dari berbagai suku. Pembubaran bekas tentara kolonial ini menimbulkan banyak masalah, seperti dalam kasus Andi Azis. Banyak bekas KNIL dari Ambon ingin kembali ke masyarakat namun hal ini tidaklah terlaksana. Dari 55.000 orang anggota KNIL itu, terdapat 26.000 orang akhirnya masuk TNI dan 17.000 orang bekas KNIL memilih kembali ke masyarakat—sebagai penduduk sipil biasa.

KNIL di Nusantara

KNIL adalah didirikan pertama kali tahun 1830 ketika van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Selama puluhan tahun, KNIL dimata pemerintah kolonial di Batavia terbilang sukses dalam menumpas berbagai pemberontakan di nusantara—walaupun masih ada pemberontakan kecil yang terus meletup. Tujuan didirikannya KNIL jelas bisa ditebak, menegakan kekuasaan kolonial secara de facto atas Hindia Belanda dalam rangka memperkaya kerajaan Belanda dengan melakukan berbagai eksploitasi isi tanah Hindia Belanda. Penguasa lokal bisa menjadi pengha;lang rencana itu karena merasa terganggu. Hal itu bisa berbuah menjadi sebuah pemberontakan. Jadi tugas KNIL paling utama menghabisi perlawanan dalam negeri—didalam koloni Hindia Belanda—dan sebagai militer KNIL hanya difokuskan didalam negeri saja. KNIL bukanlah sebagai angkatan perang yang ditugaskan untuk menghadapi musuh dari luar

Perekrutan prajurit bawahan KNIL dilakukan hanya dibeberapa tempat saja di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial, seperti memiliki kebijakan tidak tertulis, hanya merekrut prajurit KNIL dari daerah-daerah yang tidak terjadi pergolakan—atau setidaknya, selama beberapa waktu tidak memiliki permusuhan dengan pemerintah kolonial. pemuda-pemuda dari daerah-daerah sekitar Ambon, Menado, Minahasa adalah lokasi perekrutan ideal, sebelum akhirnya orang-orang Jawa dengan adanya basis militer Belanda di Gombong.
KNIL, dalam sejarah identik dengan suku Ambon yang dicap Belanda hitam—karena banyak yang melakukan Gelijkgesteld. Steriotip bahwa Ambon identik dengan KNIL telah banyak menjebak orang-orang untuk berpikir bahwa serdadu KNIL banyak yang berasal dari orang-orang Ambon. Sebenarnya sebagian besar serdadu KNIL berasal dari Jawa—saat itu Jawa sudahmenjadi pulau, juga suku, dengan populasi terbesar di Hindia Belanda. Hanya saja prajurit KNIL dari suku Ambon memiliki pengaruh dominan dalam KNIL.
Orang Ambon bersama orang-orang Menado dan Eropa lainnya adalah formasi terdepan dalam pertempuran. Orang-orang Ambon mungkin lebih dulu direkrut dalam dinas militer kolonial dibanding suku-suku lain di Indonesia—tercatat sejak zaman Kapitan Yonker. Karena hal ini orang-orang Belanda menganggap orang-orang Ambon loyal terhadap pemerintah kolonial—sehingga pemerintah kolonial memberikan orang-orang Ambon—seperti juga orang-orang Minahasa dan Menado—fasilitas yang lebih baik daripada prajurit KNIL dari suku lain.
Masalah agama juga menjadi sumber perbedaan diantara kalangan KNIL sendiri. Sekitar 7.500 personil KNIL adalah orang-orang Katolik, baik Eropa totok maupun Eurasia. Kalangan katolik dalam KNIL ini mendapat perhatian dari kaum misionaris Eropa yang menyebarkan agama katolik di Indonesia. keuntungan mendapat kenaikan gaji, dengan menjadi seorang kristen menjadi sesuatu yang menarik bagi prajurit rendahan—kendati tidak semua prajurit rendahan pribumi melakukannya. Masalah kedisiplinan religius yang besar harus dihadapi imam serdadu kolonial itu terkait kebiasaan memelihara nyai didalam tangsi.
Pernah ada keinginan dari beberapa prajurit KNIL agar mereka tidak lagi disatukan berdasarkan suku melainkan kesamaan agama. Dalam KNIL pengarush agama protestan, meski tidak dianut oleh sebagian besar serdadu KNIL, adalah sebuah agama yang dominan—seperti yang dianut beberapa serdadu KNIL Ambon. Seorang pater bernama H.C. Verbraak yang pernah terlibat dalam rehabilitasi serdadu KNIL tahun 1882 yang ditangkap lagi setelah desersi menulis: “Pagi ini salah seorang desertir berdamai kembali dengan Allah. Ia berhasil mealrikan diri bersama seorang teman selam tiga minggu. Mereka mengalami penderitaan kejam diantara orang-orang Aceh, dan malah jauh lebih menyedihkan lagi para desertir ini menganut agama Islam. Orang-orang ini tergoda oleh rumor palsu mengenai kehidupan mewah diantara orang-orang Aceh. Barangkali tidak ada lagi keinginan untuk hidup diantara orang-orang Aceh.”.
Pemerintah kolonial berusaha menegakan disiplin tentara dengan menggunakan imam iman katolik mungkin juga pendeta protestan. Semuanya, diharapkan oleh pemrintah, akan menghindari desersi serdadu kolonial ytang sangat dibutuhkan dalam penegakan kedaulatan Hindia Belanda—yang kerap dirong-rong oleh orang-orang lokal anti koloniliasi Belanda yang datang tanpa bisa ditebak kapan akan terjadi.
Agama barat itu diserap dengan sangat baik oleh banyak serdadu KNIL, khususnya yang berasal dari Ambon, Menado, Minahasa. Hingga berakhirnya KNIL banyak serdadu KNIL, bila memang beragama, adalah penganut protestan atau katolik. Mereka nyaris tidak bisa menyatu dengan prajurit TNI yang mayoritas dan dominan dengan dengan kultur Islam—yang diantara menganut Islma kejawen.
Perbedaan agama dengan mayoritas pribumi itu bisa jadi menjadi faktor selain politis dan ekonomis yang membuat mereka begitu ingin bertempur dengan tentara Indoensia yang umumnya berbeda keyakinan dengan mereka. Dimana pada akhirnya banyak bekas serdadu KNIL yang lebih memilih meninggalkan Indoesia tanpa harus berpikir dimana tanah air mereka sebenarnya. Salah satu harapan, mereka tidak perlu pusing untuk hidup dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan mereka. Didepan mata mereka, sudah muncul suatu ramalan, dominasi agama besar yang berbeda dengan mereka akan membuat mereka menjadi korban diskriminasi sosial dimasyarakat dimasa mendatang.
Dalam pertempuran orang-orang Jawa, berada dibelakang barisan orang-orang Ambon, Menado dan Belanda. Karena formasi ini pula timbul pemikiran bahwa orang-orang Jawa tidak loyal—atau mungkin juga tidak mampu bertempur. Pemikiran macam ini jelas salah, banyak juga orang-orang Jawa terpilih untuk menjadi prajurit Marsose—pasukian khusus Belanda yang mampu bergerilya dan beradu klewang dengan pertempuran jarak dekat. Bukti ini dalam dilihat dalam kerkof (kuburan militer) di Aceh—terdapat nama-nama Jawa, Ambon, Menado yang gugur sebagai prajurit Marsose. Beberapa orang Jawa juga telah mendapatkan medali kehormatan militer Belanda atas keberanian mereka dalam pertempuran—Militaire Willemsorde kelas IV.
Karena diskriminasi fasilitas dalam KNIL—selain karena sedang terjadi revolusi kemerdekaan yang hebat di Jawa—mengakibatkan tidak ada rekrutmen serdadu KNIL lagi di Jawa dalam jumlah besar. Bekas KNIL suku Jawa—yang setelah Jepang menduduki Indonesia dibebaskan oleh Jepang—lebih senang menjadi prajurit TNI yang belum mapan daripada bergabung kembali masuk KNIL yang diskriminatif. Ambil contoh Soeharto, Gatot Subroto dari kelompok bintara. Dari kelompok bintara ini KNIL, banyak yang kemudian diterima oleh Jepang untuk dijadikan perwira dalam PETA. Tentara pendudukan Jepang tidak menerima bekas perwira karena telah menerima pengaruh profesionalisme barat. Kepada prajurit PETA, para Jepang instruktur Jepang cenderung mendiskreditkan KNIL. Pamoe Rahardjo, mantan PETA, menulis: “saya lalu teringat dalam indoktrinasi sewaktu di PETA, selalu diajarkan bahwa KNIL adalah pasukan yang menjadi musuh pokok bangsa Indonesia”.
Banyak orang berpendapat bahwa orang-orang yang bekjerja untuk kepentingan pemerintah kolonial akan mendeapat banyak kesenangan. Hal ini tidak berlaku bagi KNIL. Sebagai serdadu KNIL mereka mendapat uang yang mungkin cukup untuk hidup dan sedikit bersenang-senang. Sebagai alat pemerintah mereka seolah diberi predikat pahlawan dimana orang-orang di Hindia menghormati mereka. Hal yang terjadi pada prajurit KNIL itu bukan sebagai orang yang dihormati sebagai pahlawan yang menegakan kekuasaan kolonial di nusantara. Serdadu KNIL, terutama prajurit rendahan sebenarnya berada dalam kondisi terisolasi dalam struktur masyarakat kolonial. Bukan hanya ketika sedang mengikuti ekspedisi namun ketika berada di garnisun tentara ketika tidak berperang. Meraka, prajurit KNIL itu hanya bisa bergantung pada diri sendiri dan kawan-kawan seprofesinya. Penduduk kota biasanya memandang sebelah mata pada mereka, para serdadu KNIL.
Mereka tidak temukan kenyamanan untuk bergaul dengan orang-orang biasa diluar tangsi kecuali kedai minum dan tempat prostitusi karena kebiasaan mereka pada minuman dan wanita. karenanya, prajurit itu lebih nyaman berada ditengah kawan-kawan KNIL-nya. Hal ini semakin lama makin mengisolasikan mereka baik dari masyarakat kolonial bangsa Eropa maupun orang-orang pribumi. Dimata banyak orang-orang pribumi profesi prajurit kolonial adalah rendah. Mungkin orang memandang mereka pembunuh, penzinah dan pemabuk—bukan karena mereka mematah perlawanan lokal di nusantara untuk kerajaan Belanda. Serdadu bawahan KNIL secara turun-temurun telah dijadikan kelas terhina dalam masyarakat kolonial.
Kehinaan dimasa kolonial jelas mereka rasakan, apalagi setelah revolusi kemerdekaan RI, dimana banyak hal kehinaan yang mereka terima. Rakyat Indonesia, setelah revolusi pasti begitu membenci hal-hal berbau kolonial, apalagi tentara kolonial yang menjadi alat penjajah di nusantara. Bekas KNIL pasca revolusi pasti meramalkan akan adanya kehinaan yang mereka terima dimasa-masa Indonesia merdeka. Kehinaan itu tentu diikuti dengan rasa permusuhan orang-orang opurtunis kini pro Republik pasti merasa bisa berbuat semaunya karena republik tampil sebagai pemenang. KNIL, dalam sejarahnya tidak mau menjadi pecundang, mereka telah patahkan banyak perlawanan rakyat lokal. Sangat tidak mungkin bagi mereka menerima penghinaan dari orang-orang pasca revolusi yang pro republik. Penghinaan yang akan diterima pasti lebih menyakitkan. Bukan lagi dianggap hina namun lebih dihinakan lagi. Dendam historis pasti banyak terjadi pasca revolusi.



PRoklamasi RMS

Beberapa bekas pasukan khusus KNIL dari Baret Hijau datang di kota Ambon pada 17 Januari 1950. Mereka berada dibawah pimpinan Samson. Sebagai pasukan khusus Belanda dan bersenjata, mereka memperlihatkan sikap yang tidak ramai pada penduduk Ambon. Mereka seolah ingin menjadi warlord. Pada 22 Januari 1950, beberapa orang Ambon yang baru saja keluar dari KNIL di Jawa datang ke Ambon berbuat ulah di Ambon. Mereka disertai beberapa anggota KNIL yang masih aktif di Ambon kemudian terlibat sebuah bentrokan dengan pemuda-pemuda pro republik. Sejak kedatangan Soumokil, kota AMbon semakin memanas. Sebagai bekas pejabat, Soumokil gagal memimpin semua bawahannya, khususnya bekas pasukan komando yang menjadi andalan RMS. Harusnya bekas pasukan komando Belanda itu loyal terhadap Soumokil. Hingga proklamasi RMS, tidak ada tim yang solid antara kelompok militer dan sipilnya. Akhir pemberontakan bisa ditebak. RMS seperti melakukan hal yang sia-sia.

Bekas pasukan baret hijau juga tidak jarang melakukan pemganiayaan pada pemuda pro republik. Pada kerusuhansebuah terjadi pada 22 Januari 1950 setidaknya 2 orang meninggal, 2 orang luka berat dan 15 lainnya luka ringan. Berdasar laporan resmi, kebencian menjalar begitu cepat di kalangan rakyat terhadap terhadap bekas KNIL tadi. Kondisi semacam ini tidak akan mampu menegakan kekuasaan Republik Indonesia di Ambon.
Rupanya kerusuhan itu juga tidak lain adanya isu bahwa setelah KNIL dibubarkan, maka bekas anggota KNIL dan juga mereka telah menentang Republik akan disingkirkan atau dihukum. Hasutan-hasutan itu tersebar semua kalangan prajurit KNIL sebelum KNIL benar-benar dibubarkan pada 26 Juli 1950.Hingga 27 Maret 1950, kondisi jota Ambon tetap panas seperti hari-hari sebelumnya. Eksistensi NIT saat itu tidak lagi jelas karena dukungan Belanda atas negara federal itu tentu semakin berkurang. Rakyat Ambon, yang masuh dalam wilayah Ambon minta, kepada kementerian Dalam Negeri NIT, adanya jaminan keamanan dan penegakan hukum tas wilayah Ambon dan sekitarnya. Kerusuhan tidak hanya terjada dikalangan orang-orang Ambon yang pro atau kontra terhadap Republik, tapi juga di dalam kalangan KNIL yang ada di Ambon sendiri. Perselisihan antara mereka adalah seputar pada kelompok-kelompok yang ingin masuk dan tidak ingin masuk TNI yang sebelumnya menjadi musuh mereka dalam revolusi 1945-1949.
Di Ambon, sebenarnya ada bebebarapa satuan KNIL yang ingin bergabung dengan TNI. Masalah mereka adalah mereka tidak mengerti bagaimana prosedur untuk bergabung dengan TNI. Seorang Mayor TNI yang berasal dari Maluku bernama Wesplat berusaha memberi solusi. Dia mengirim sebuah surat yang dititipkan pada seorang wanita separus tua anggota PNI—yang tidak diketahui namanya—yang berangkat ke Ambon. Surat yang kemungkinan digandakan ini ditujukan pada beberapa komanda KNIL yang dikenal oleh Wesplat. Isi surat itu adalah prosedur bagaimana cara bergabung dengan TNI. Surat itu juga sampai kepada Samson pimpinan Baret Hijau juga Nussy pimpinan baret merah disana. surat itu juga disampaikan kepada Sopacua pimpinan KNIL disana.
Wanita anggota PNI ini berusaha menjernihkan pikiran bekas KNIL yang akan dibubarkan itu. Dengan berani wanita ini bertemu dengan pimpinan pasukan baret yang kenal kejam itu. Tanggal 13 Februari 1950, wanita ijni bertemu Nussy, pimpinan baret merah. Kepada Nussy, wanita ini bercerita banyak bagaimana stuasi politik dan militer di Jakarta pasca Pengembalian Kedaulatan. Lebih jauh, wanita ini menceritakan bagaimana gembiranya orang-orang di Jakarta ketika mendengar kabar ada beberapa bekas KNIL yang akan masuk TNI di Ambon. Keesokan harinya, Wanita ini didatangi oleh Sopacua yang memimpin KNIL. Sopacua bercerita bagaimana bimbangnya anggota KNIL untuk bergabung karena adanya juga hasutan dari kalangan KL disana. Diantara bekas komandan tentara Belanda Ambon itu, hanya Nussy yang paling terbakar setelah menerima surat dari Wesplat. Tanpa pikir panjang, Nussy langsung menurunkan bendera Belanda di markasnya, tangsi Victoria. Setelah itu meletuslah pemberontakan terhadap Belanda.
Nussy kemudian memerintahkan kepada anak buahnya yang baret merah mengepung markas tentara Belanda yang ada di Ambon. Setelah itu Nussy mengajak seorang kepala daerah untuk memberontak. Namun yang terjadi justru Nussy diajak bertemu dengan seorang Indo-Belanda reaksioner bernama Kainama yang menjadi Mayor KL. Darisini terjadi perundingan rahasia yang melibatkan Nussy, Kainama, Manuhutu juga seorang perwira Belanda. Darisini lahir keputusan “anti masuk APRIS dan anti berontak melawan Belanda”. Ketika perundingan berlangsung, anak buah Nussy tetap menembaki tentara Belanda. Orang-orang yang hadir dalam rapat rahasia itu lalu datang ke tangsi Victoria untuk memadamkan pemberontakan baret merah itu. Beberapa orang baret merah mau berhenti, namun beberapa yang ingin masuk TNI tidak mau melakukannya dan terus menembak di dalam kota dan mengancam pasukan KL dan orang-orang pro Belanda. Pemberontakan ini mereda dengan sendirinya pada 16 April 1950 karena arah pemberontakan mereka tidak jelas dan tidak mengerti bagaimana melanjutkan pemberontakan. Insiden ini terjadi sekitar 5 April 1950.
Terjadinya kerusuhan di kota Ambon, mendorong Komisariat Tinggi Belanda di Jakarta untuk mengirimkan kapal “Kota Intan”. Kapal itu sedianya untuk mengangkut orang-orang sipil Belanda yang ada di Ambon. Dari Ambon mereka akan dibawa ke Jakarta—yang lebih aman dimata pejabat Belanda di Indonesia. Dinas Perhubungan Tentara Belanda di Jakarta mengumumkan, di kalangan 200 serdadu KNIL Ambon di Ambon terjadi sebuah masalah mengenai reorganisasi KNIL.
Mayor Jenderal J.J. Mojet, yang menjabat penasehat Umum Tentara dan Komandan Tentarqa Belanda dan Komandan Tentara Belanda di Indonesia Timur dari Teritorial Komisi NIT, telah berangkat ke Ambon untuk menyelediki masalah ini. Menurut Dinas Perhubungan Tentara Belanda, “walaupun penyelidikan masih dalam tingkat permulaan, tampak jelas, bahwa sebab dari keributan harus dicari pada ketidaksenangan karena militer KNIL tersebut sejak beberapa waktu tidak mendengar tentang pemindahan pada APRIS dan karena itu menurut perasaannya hari depan mereka berada dalam keadaan tidak pasti. Ini menyebabkan timbulnyasalah sangka dan salah menerima pada mereka, yang akhirnya memuncak dan mengambil putusan menyatakan tidak puasnya.
Di Ambon, Mojet disambut dengan penuh hormat oleh serdadu Belanda di tangsi Victoria. Tidak ketinggalan, musik Ambon juga menyabut Mojet. Hal ini menunjukan pada Mojet bahwa para serdadu KNIL di Ambon masih tunduk pada pemerintah Belanda. Sikap seperti ini tentu menutupi sebuah kenyataan dan perasaan sebagian serdadu yang tidak mau lagi tunduk pada bangsa lain seperti Belanda dan mereka adalah sekelompok orang pribumi yang ingin menjadi orang merdeka. Kemenangan bagi kelompok pro Belanda yang reaksiner dengan isi KMB dalam pasal yang mengatur status KNIL pasca pengembalian kedaulatan. Perselisihan antara mereka seolah tertutupi karena kehadiran Mojet, keadaan mereda.
Kelompok reaksioner pro Belanda berusaha menghasut, bila perlu meneror serdadu KNIL yang ingin masuk TNI. Kepada para anggota KNIL di Ambon, orang-orang reaksioner itu dipropagandakan kehadiran TNI nanatinya hanya akan memperkeruh keadaan. Kelompok reaksiner ternyata harus kecewa dengan sebuah insiden yang berupa pemukulan Mayor in Veld oleh para serdadu KNIL. Mereka tidak lagi menganggap sosok orang Belanda sebagai pimpinan mereka. Konon, hanya Kepala Daerah Manuhutu saja yang lebih mereka turuti ketimbang perwira Belanda yang masih memegang komando atas mereka. Manuhutu sendiri adalah seorang penganut paham unitaris yang ingin bergabung dengan RIS.

“…Memang sebenarnya meskipun turut dalam angkatan Perang Belanda, serdadu KNIL itu akhirnya toh orang Indonesia juga dan pada suatu ketika darah Indonesia akan berbicara juga. Jangan pula dilupakan diantara serdadu KNIL tidak sedikit yang sebanarnya masuk Tentara Belanda karena terjebak oleh propaganda bohong. Serdadu-serdadu yang dulu dalam perang Dunia II turut ke Australia misalnya, pula para Heiho serta Romusha, banyak yang tidak tahu apa yang terjadi di tanah air selama meninggalkan Indonesia. Kepada mereka dikatakan bersama Belanda mereka haruas memerdekakan tanah air dari pada tindasan Jepang, mereka harus mengusir Sukarno-Hatta yang bersama Jepang telah membawa Indonesia kedalam lembah kesengsaraan… Pun sebelum Perang Dunia II sudah nampak ada tanda-tanda, bahwa serdadu Ambon tidak selamamnya setia kepada Belanda seperti Belanda Gemborkan itu. Juga adakalanya mereka memberontak, oleh karena rasa keadilan mereka tertusuk.”
Datangnya Soumokil
Ditengah kebimbangan bekas serdadu KNIL yang terus berlangsung itu, akhirnya mereka mendapat hasutan dari Soumokil, seorang pejabat NIT yang dikenal anti republik. Soumokil adalah praktisi hukum dan ketika peristiwa Andi Azis berlangsung masih menjabat Jaksa Agung dajn mengepalai kepolisian NIT. Sejak pemerintah kolonial Hindia masih berkuasa, Soumokil tidak masuk dalam arus pergerakan nasional seperti sebagian intelektual bumiputra lainnya. Sebagai orang pribumi yang berstatus gelijkgesteld—yang berarti sama secara hukum dengan orang-orang Belanda—Soumokil juga mendapat tentangan dari kawan-kawan Maluku-nya ketika dirinya akan diangkat menjadi anggota Volksraad pada tahun 1938. Sebagai orang Ambon terpelajar, Sounokil tidak bergabung dalam Serikat Ambon atau organisasi lain. Mungkin ini didasari status gelijkgesteld-nya yang membuatnya ekslusif hidup dalam lingkungan kolonial Hindia Belanda.
Soumokil bukanlah seorang yang lahir ditanah nenek moyangnya, Ambon. Soumokil lahir di Surabaya tahun 1905. setelah tamat sekolah menengah di kota kelahirannya, Soumokil berangkat ke Belanda untuk belajar ilmu hukum. Setalah kembali dari Negeri Belanda tahun 1934, Soumokil menjadi pejabat hukum kolonial. Semasa pendudukan Jepang Soumokil ditangkap oleh Jepang dan dibawa ke Burma dan Thailand. Soumokil bebas setelah Perang Pasifik berakhir dan kembali ke Indonesia. Ketika revolusi Indonesia bergolak Soumokil tetaplah tidak mengikuti arus revolusi Indonesia. Dia lebih memilih menjadi seorang federalis dan tidak mau bergabung dengan kelompok Republik yang kemudian cenderung didominasi Jawa.
Soumokil adalah orang yang mengimpikan orang yang mengimpikan adanya otonomi daerah. RMS mungkin puncak dari cita-cita otonominya—dimana bukan tidak mungkin cita-cita itu sudah diimpikannya sejak masa kolonial dimana dia akan menjadi penguasanya. Keberadaan NIT sebenarnya tidaklah bertentangan dengan cita-citanya. Walau hanya sebuah negara bagian saja, setidaknya tidak ada dominasi kaum Republik. Soumokil nyatanya sangat menjaga jarak, baik sebelum dan sesudah pendudukan Jepang dan puncaknya mulai terlihat dalam NIT. Permusuhan terbesarnya dengan kaum Republik begitu nyata ketika Soumokil menjadi Jaksa dalam persidangan yang mendudukan Walter Mangisidi sebagai tersangka—dengan tuduhan teroris dalam wilayah NIT. Dalam persidangan itu, Walter Mangisidi dijatuhi hukuman mati. Vonis itu dijatuhkan beberapa bulan sebelum NIT dibubarkan. Ketika Walter Mangisidi dihukum mati pada September 1949 di Makassar, sedang berlangsung gencatan senjata antara Indonesia dengan Belanda.
Malam hari tanggal 4 Agustus 1950, Andi Azis dipanggil oleh Soumokil dirumahnya. Dirumah Soumokil itu, beberapa serdadu Ambon sudah menunggu. Para serdadu Ambon itu sudah bersiap untuk berperang bila pasukan TNI dari Batalyon Worang mendarat di Makassar. Setelah pertemuan itu, Andi Azis memutuskan melaksanakan sendiri kudeta—dimana dirinya akan bertindak sebagai pemimpin kudeta. Keesokan harinya, Letnan Kolonel Ahmad Yunus Mokoginto—Kepala Komisi Militer Teritorial untuk wilayah Indonesia Timur—ditahan untuk beberapa waktu. Atas kejadian ini pemerintah pusat meminta Andi Azis datang ke Jakarta sebelum pukul 14.00 tanggal 9 April 1950. karena permintaan itu tidak dilakukan Andi Azis, maka, Andi Azis dinyatakan sebagai pemberontak yang harus ditumpas TNI oleh pemerintah pusat tanggal 13 April 1950. Keesokan harinya, 14 April 1950, Andi Azis pergi ke Jakarta. Sebelumnya Andi Azis pamit pada Soumokil. Kepada Andi Azis, Soumokil berkata: “jika ose mati beta akan berjuang sampai titik darah penghabisan.” Setelah itu Soumokil ke Ambon, dan Andi Azis diadili dan dihukum di Jakarta.
Masih kabur apa alasan Andi Azis akhirnya mau bertanggungjawab atas kudeta yang terjadi di Makassar. Setidaknya, setelah gerakannya gagal, Andi Azis bisa ikut sebagian KNIL yang bergabung dengan Soumokil di Maluku. Andi Azis sendiri meninggalkan Makassar beberapa bulan sebelum pemberontakan KNIL di Makassar ditumpas pasukan Kawilarang. Kepergian Andi Azis ke Jakarta pada 14 April 1950, pemberontakannya baru saja berjalan 9 hari. Semangat perlawanan bekas KNIL belumlah padam kala itu. Secara politis pemberontakan KNIL—yang menentang pendaratan batalyon Worang itu—sia-sia walaupun mereka memiliki peluang untuk menang secara militer.
Beberapa hari setelah pemberontakan Andi Azis meletus, Soumokil melihat tanda-tanda gagalnya pemberontakan Andi Azis itu—seperti banyak ditulis sejarahwan. Seharusnya Soumokil mengerti pasukan KNIL di Makassar tidak akan mampu bertahan dari gempuran TNI yang semakin kuat setalah KMB. Soumokil juga tidak memperhitungkan bahwa hilangnya kegairahan sebagian anggota KNIL, termasuk jajaran komandan-komandannya, untuk bertempur melawan Republik karena menyadari secara politis KNIL sudah kalah. Soumokil pastinya bukan orang bodoh secara politis, walau kemudian gagal, dia juga mengikuti perkembangan yang terjadi di Jawa. Kegagalan Westerling bulan Januari 1950, untuk merebut kekuasaan di Jkarta dan Bandung, berarti Republik memiliki kekutan untuk menghantam sisa-sisa KNIL di perkotaan. Padahal Westerling didukung pasukan khusus Belanda.
Bila Soumokil mengerti kondisi pasukan KNIL dan kekuatan pasukan Andi Azis yang berontak, hasutannya terhadap bekas KNIL di Makassar untuk memberontak bukan hal sia-sia. Dengan kata lain bagian dari rencana besarnya di Ambon. Setelah pemberontakan meletus, Soumokil berpikir cepat dalam beberapa hari. Tanggal 12 April 1950, Soumokil meninggalkan Makassar menuju Ambon. Tepat seminggu setelah pemberontakan Andi Azis. Soumokil tiba di Ambon keesokan harinya, tanggal 13 April. Sebelum sampai di Ambon Soumokil singgah di Menado. Tujuan Soumokil meninggalkan Makassar tidak jelas. Menurut pimpinan KNIL di Makassar menyatakan bahwa pesawat terbang yang dihgunakan Soumokil itu diberikan berdasar kenyataan bahwa Soumokil masih menjabat Jaksa Agung—yang sering melakukan kunjungan ke wilayah NIT untuk memeriksa kepolisian.
Kendati gagal, pemberontakan Andi Azis juga memberi keuntungan bagi Soumokil—walau Soumokil tidak menyadarinya. Kekacauan di Makassar sejak 5 April oleh Andi Azis dan sebelumnya kekacauan di Bandung dan Jakarta yang tidak lain ulah Westerling, setidaknya memberi kesibukan bagi TNI untuk menyelesaikan kekacauan itu. Ketika TNI juga perhatian pemerintan mengarah pada dua kekacauan itu, ketika itu juga Soumokil menyusun rencana untuk berpisah dengan Republik—mendirikan negara baru setelah NIT bubar.
Setelah Andi Azis dikalhakan diM akassar, Soumokil berangkat ke Manado, dimana sebuah pemberontakan disiapkan oleh Soumokil. Di Menado, Soumokil memanfaatkan kaum Perstuan Timur Besar (PTB). Persatuan Timur Besar itu, menurut Ibrahim Ohoril—bekas Menteri Persediaan Makanan RMS yang menyerahkan diri ditahun 1951—terbentuk dari hasutan –hasutan kaum kolonial Belanda yang propagandanya selalu bersifat menentang Republik Indonesia dan selanjutnya ingin berdampingan dengan negeri Belanda sebagai provinsi ke-13. Tapin usaha pemberontakan Soumokil di Menado inipun menemui kegagalan. Setelah pemberontakan yang gagal itu, Soumokil lari ke Ambon. Soumokil menumpang pesawat pembom B-25 milik Militer Belanda. Menurut Kepala Dinas Perhubungan Militer Belanda, kepegian Soumokil bukanlah dengan cara yang diistimewakan. Kepergian Soumokil sendiri memancing kecurigaan di kalngan pemerintah NIT di Makassar. Karena hal ini, Soumokil diskor dari jabatannya sebagai Jaksa Agung NIT.
Disini Soumokil juga mempengaruhi berbagai kalangan untuk menolak keberadaan RIS di Ambon. Para raja, Partai Timur Besar, pasukan Baret dan tentu saja orang-orang KNIL di Ambon. Keberadaan pasukan baret ini sangat menguntungkan gerakan Soumokil di Ambon. Walau bukan orang Militer, Soumokil tentu mengerti kemampuan pasukan Baret yang telah merepotkan posisi pasukan republik selama Revolusi. Berbeda dengan di Makassar, kali ini gerakan TNI akan sulit sekali untuk melawan RMS yang dipimpinannya. Kasus Makassar, kekuatan Pmeberotakan hanya terdiri kalngan KNIL dan KL yang jarang bertempur. Berbeda denga pasukan Baret yang telah terlatih dan berpengalaman. Bila ini perhitungan Soumokil dalam pengunaan bekas Pasukan Baret Belanda adalah tepat, terbukti TNI kerepotan hinggga mengorbankan perwira TNI.
Soumokil pastinya mengerti kondisi pansanya Ambon karena sebagai Jaksa Agung yang membawahi Kepolisian NIT, Soumokil memperoleh banyak laporan mengenai perkembangan kondisi di Ambon. Apalagi dalam kepololisian NIT banyak terdapat orang-orang Belanda yang berpangkat Inspektur maupun Komisaris—umumnya mereka adalah orang-orang Belanda reaksioner. Kesamaan sikap antara orang-orang Belanda itu dengan Soumokil tentu melahirkan kerjasam dalam hal saling bertukar informasi di Indonesia Timur. Kerjasama itu bertambah besar ketika menyangkut masalah penolakan eksistensi RIS di Indonesia Timur yang kemungkinan akan menggeser mereka dari jabatan mereka sebelumnya.
Kota Ambon yang semakin memanas membuatbanyak penduduk sipil yang menyingkir ke luar kota. Hasutan kaum rekasioner yang sebagian adalah orang-orang Belanda juga dari Perstuan Timur Besar telah menimbulkan keresahan di kalangan orang-orang di dalam kota. Pasukan KNIL yang merasa nasibnya tidak menentu hanya bisa bersiap dengan senjata lengkap. Mereka bersiap menyambut kedatangan pasukan TNI. Pasukan KNIL bersiap diberbagai posisi dan sebagian lain berpatroli keliling kota Ambon.
Soumokil dan Manusama juga sering melakukan agitasi-agitasi ke publik yang bersifat menentang eksistensi Republik. Mereka berdua mendesak diadakannya sebuah rapat umum yang dipimpin oleh Han Boeng Hiong dari Parlemen NIT. Rapat umum ini dihadiri setidaknya 2.000 orang yang terdiri dari kaum militer dan sipil di Ambon. Diantara orang-orang Sipil itu terdiri atas orang-orang dari Persatuan Timur Besar yang hadir dengan pakaian hijau dan sedikit orang-orang biasa yang datang karena dipaksa. Pada rencana awal, Soumokil yang sudajh berada di Ambon untuk sementara tidak langsung tampil kemuka , seperti dalam rapat besar itu.
Penyelesaian dua kekacauan oleh orang-orang kontrarevolusi itu memberi waktu bagi Soumokil dan gerakan dadakan-nya untuk menyusun kekuatan. Masalah Andi Azis di Sulawesi Selatan, sudah cukup untuk mengalihkan perhatian dan kekuatan pemerintah untuk tidak menghiraukan Maluku. Proklamasi RMS baru terjadi 25 April 1950, ketika kota Makassar masih belum aman. Hal ini berarti pasukan Republik masih jauh untuk menghadapi RMS. RMS sendiri dibantu oleh pasukan baret yang pernah dilatih Westerling di Batujajar. Letak Maluku yang jauh ke timur dan harus dijangkau melalui laut selama beberapa hari. Jelas waktu yang tepat bagi kekuatan militer RMS yang terdiri bekas KNIL untuk bersiap.