Senin, Juli 29, 2013

Sejarah adalah Hari Ini!

Sejarah bukan sembarang referensi! Faktanya, dengan belajar dari sejarah kita bisa membuat sejarah!!!
Hari ini tak dimulai dari tadi pagi, tapi sebelumnya lagi, begitulah monolog awal dalam film Mengejar  Matahari. Tak ada hari ini tanpa kemarin. Tak ada esok tanpa hari ini dan kemarin.
Kata orang, sejarah adalah masa-lalu. Pikiran macam itu menyesatkan mereka pada akhirnya, akhirnya mereka apatis pada banyak hal. Mereka seperti tak paham jika apa yang mereka lakukan hari ini akan menentukan di masa depan. Setidaknya, ada 2 alasan mengapa kita harus belajar sejarah:
Pertama, Tidak Mengulang Kesalahan Sama, Lupa adalah penyakit kronis manusia. Sangat penting bagi manusia untuk berjuang melawan lupa. Lupa, seperti kata Milan Kundera, adalah rezim paling berbahaya dan mengerikan. Lupa akan membuat kebodohan terulang kembali. Ada pepatah Belanda yang menyebutkan, “seekor keledai tidak akan jatuh pada lubang yang sama.” Maksudnya, kesalahan di masa lalu janganlah sampai terulang kembali di masa sekarang maupun di masa mendatang. Ada banyak contoh kesalahan fatal yang terulang. Diantaranya, serbuan Hitler ke Rusia di musim dingin yang gagal. Dingin salju menghambat pergerakan pasukan menyerang Rusia. Seabad sebelumnya, Napoleon pernah melakukannya dan gagal juga. Sebagai penyuka pelajaran sejarah, Hitler nampaknya tidak belajar dari sejarah.
Kedua, Menjadi Bijak. Mengambil keputusan adalah hal penting. Perlu banyak bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Sangat perlu sekali bagi para pengambil keputusan untuk menengok ke masa lalu. Hal ini karena sejarah memiliki arah gerak. dengan melihat arah gerak, maka semakin banyak hal yang bisa diramalkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Tak ada yang salah dengan belajar dari masa lalu. Dari situ kekuatan bisa diukur. Untuk melangkah, kita harus paham potensi kita berdasar pengalaman. Contoh orang yang menjadi bijak dengan belajar dari sejarah paling terkenal adalah: Negara sekutu pemenan perang dunia II (1939-1945), tidak memperlakukan Jerman sebagai Negara yang kalah perang seperti pecundang yang dibebani banyak hutang dan terhina seperti pasca Perang Dunia I (1914-1918). Pasca PD II, Jerman bahkan dibantu memulihkan keadaan, meski Jerman agak dibatasi dalam masalah militer. Pasca PD I negara sekutu tak bijak dengan membebani Jerman banyak hutang dan membuat Jerman terhina. Akhirnya, Jerman bangkit lagi dan PD II meletus. Sikap Negara sekutu pasca PD II, cukup berhasil Jerman tak bisa berperang lagi.
                Sialnya, terutama di Indonesia, pelajaran sejarah jelas-jelas tidak membumi. Hingga orang-orang Indonesia pada umumnya dibuat tidak cerdas dengan mengatakan, “sejarah itu (pelajaran) hafalan.” Sebenarnya, ketidakcerdasan itu dibangun oleh sekelompok pihak yang ingin menjauhkan orang Indonesia masa depan dari sejarah mereka. Metode hafalan, yang sangat dibenci itu, dipaksakan pada semua siswa. Yang semula suka pun bisa jadi benci pada pelajaran sejarah. Apalagi yang tidak suka otomatis jadi semakin membenci. Sementara pemerintah (Indonesia) sangat suka sekali menjelali pelajaran sejarah di sekolah dengan sekian banyak materi yang wajib hafal. Mungkin ada tujuan, ketika sejarah tak disukai dan dijauhi maka orang-orang Indonesia tak kenal dirinya dan identitasnya. Setidaknya, dijauhkan dari kebenaran sejarah. Dengan begitu orang Indonesia hanya jadi robot baik kaum penguasa tertentu.
                Manusia tak paham sejarah, tentu tak beda dengan robot atau binatang. Yang dengan mudah digiring. Artinya metode hafalan bisa merusak bahkan menghilangkan humanisme seseorang. Mereka akan sulit belajar dari sejarah dan rentan mengulangi kesalahan yang sama. Pelajaran sejarah sudah diajarkan secara salah. Dan cukup terlihat jelas hasilnya. Orang-orang selalu memandang jika sejarah itu melulu bicara tokoh-tokoh besar yang nyaris jadi manusia “setengah dewa,” dan buku sejarah dijadikan “kitab suci.” Padahal buku sejarah atau historiografi adalah rekonstruksi yang masih bisa diperdebatkan dan bukan kebenaran mutlak.Akhirnya, pelajaran sejarah pun jadi mirip pelajaran agama!!!
                Tak ada waktu lagi untuk menunda, meski sulit kita harus luruskan. Sejarah bukan hafalan soal masa lalu. Tanamkan, bahwa kenyataannya sejarah itu rangkaian panjang yang belum selesai. Sejarah itu kemarin, saat ini dan esok. Dan kita semua adalah pelaku sejarah yang membuat sejarah! Lalu kenapa kita harus menengok ke masa lalu? Atau kenapa harus baca buku sejarah? Itu karena masa lalu adalah referensi penting untuk membandingkan dan mencari tahu mana yang baik untuk kita semua agar esok hidup kita menjadi lebih baik.
                Yang tak kalah penting juga; buku sejarah pada dasarnya rekonstruksi yang mereka masa-lalu. Jadi, sejarah bukan kebenaran mutlak yang layak dipercaya, meski sejarawan berusaha mendekati kebenaran. Kebenaran sejarawan itu jelas nisbi (relative). Sejarah itu sejatinya pelajaran seharusnya membuat kita berpikir dan mereka-reka masa-lalu.
 Jangan samakan sejarawan dengan Nabi!!! Buku sejarah jelas-jelas bukan kitab suci!! Jika kita memaksakan diri untuk percaya sepenuhnya pada kebenaran buku sejarah (terutama versi pemerintah), maka itu sama saja dengan musyrik bagi orang Islam yang cuma harus percaya pada kebenaran Tuhan. Jika begitu yang percaya pada kebenaran buku sejarah bikinan sejarawan, mungkin boleh dibilang kafir. Nah Jaksa Agung yang memaksakan buku sejarah versi Nugroho Susanto sebagai  kebenaran, layak juga disebut kafir..hehehehe
Tak penting rasanya berdebat, mana buku yang paling benar! Yang terpenting adalah, mencari tahu dengan akal sehat kita sendiri. Setelahnya, berusaha memaknai masa lalu untuk bekal menghadapi hari ini dan hari esok.
Satu hal yang tak kalah penting untuk kita yakini adalah jika sejarah adalah hari ini. Apa yang kita lakukan hari ini akan mempengaruhi hari esok. Kita harus sadar jika sejarah itu dibuat oleh kita sendiri bukan oleh orang besar saja. Dan semua orang kecil sebenarnya juga bagian penting dalam pembentukan sejarah dunia.

Rabu, Juli 24, 2013

Pangkat:Melesat Karena Revolusi

Revolusi begitu hebat dan mampu merubah nasib beberapaorang. Kekacauan melahirkan kekosongan yang kemudian segera diisi orang baru. 

Hilangnya orang Belanda dalam pemerintahan kemudian mulai diisi olehorang-orang Indonesia,yang hampir semuanya masih keturunan priyayi. Sementara di lapangan militer,hilangnya komandan-komandan Belanda, terganti dengan dengan perwira-perwira Indonesia,yang banyak diantaranya keturunan priyayi dan agak sedikit dari kalangan biasa.
Militer segera menjadi ajangmerubah nasib. Banyak orang kebanyakanbisa jadi perwira. Ada beberapa contoh macam ini: Mayor Dullah yang gugur diMaluku; Letnan Kolonel Imam Syafei yang pernah menjadi menteri; Timur Panebekas pencopet yang mengaku Jenderal di Sumatra Utara di masa revolusi; dan contohterbesar adalah Suharto.

Siapa Dulu Bapaknya?
Orang macam Abdul Haris Nasution, Alex Evert Kawilarang,T.B. Simatupang, Djatikusumo, Andi Muhamad Yusuf, Andi Matalatta, dan mungkinperwira tinggi lain di TNI tak terlalu mengherankan bisa jadi perwira di masamudanya dan kemudian jadi Jenderal di masa tua.
Nasution sang Jenderal
Nasution sang Jenderal
A.H Nasution bukan anak orang miskin pastinya.Di jaman kolonial, orang bisa sekolah adalah orang beruntung dan tercerdaskan.Soal dia pergi sekolah jalan kaki, itu hal lumrah. Bis sekolah atau angkotbelum ada di kampung pada tahun-tahun 1930an. Nasution bisa sekolah alaBelanda—dariHolland Inlandche School(HIS) atau Sekolah Belanda untuk pribumi yang semacam SD, lalu ke kweekschool sekolah guru.
Kawilarang sang perwira Brilian
Kawilarang sang perwira Brilian
Alex Evert Kawilarang? Dia ayah dia seorangperwira KNIL dengan pangkat terakhir mayor. Darah militer mengalir di dalamdirinya. Alex mengaku dalam biografinya yang ditulis Ramadhan KH, dia merasaberuntung dengan posisi ayahnya yang Mayor KNIL. Setelah sekolah di SD elitbernama Europe Lager School (sekolahuntuk Eropa), Alex bisa masuk sekolah menengah Hogare BurgerlijkSchool  (HBS) Bandung.
Simatupang sang pemikir
Simatupang sang pemikir
Tahi Bonar Simatupang, dia bukan anak pegawai pos rendahan.Posisi ayahnya memungkinkan dirinya bersekolah hingga sekolah menengah Belanda.Ini membuat T.B Simatupang sebagai pemuda cerdas dan paling cemerlang karirnyadi masa revolusi. Di usia 30 tahun, dirinya adalah Kepala Staf Angkatan PerangRIS. Meski dirinya tak sepopuler Jenderal besar Sudirman yang begitudimitoskan.
Andi Muhamad Yusuf dan Andi Matalatta, masih keturunanBangsawan Bugis. Mereka masih ada hubungan darah dengan Pahlawan Bugis palingdipuja, Arung Palakka. Mereka berdua bisa sekolah dengan baik hingga sekolahmenengah. Sayangnya, mereka berdua tidak perh masuk akademi militer. Nyaris takada pemuda asli Sulawesi Selatan  masukakademi militer di jaman Kolonial. Andi Azis, yang masih sepupu jauh AndiMatalatta, mungkin satu-satunya orang Bugis yang pangkatnya paling tinggi diKNIL pun tak pernah masuk akademi militer. Dia memulai karir dari bawah, meskidia anak bangsawan. Karena kecakapan militernya, karena pernah dilatih sebagaipasukan khusus dan pernah terjun dalam front Eropa, juga kebutuhan akan perwirapribumi bagi kepentingan KNIL di Indonesia, dalam waktu tak lebih dari 8 tahunpangkatnya sudah Letnan.
            Jadi, dimasa kolonial, posisi orang tua baik secara ekonomis maupun politis begitumempengaruhi pendidikan anak lelaki mereka. Yang orang tuanya terpandang, akanbisa bersekolah dengan baik. Yang biasa-biasa saja orang tuanya, cukupbersyukur dengan belajar 3 tahun di Volkschool(Sekolah rakyat) yang kadang disebut sekolah desa. Pendidikan tentumempengaruhi karir di masa depan.
Revolusi Indonesiayang Heibat
Tentara nasional yang baru dimiliki Indonesia lalu menyerap banyakpemuda dan orang terpandang untuk bergabung. Mereka lalu menjadikomandan-komandan. Bisa dibayangkan betapa kacaunya. Ada bocah macam Slamet Riyadi, yang usianyabelum genap 20 tahun harus memimpin ratusan prajurit. Hal ini sepertinyaterjadi pula pada Andi Sose asal Enrekang yang menjelang tahun 1950an menjadikomandan batalyon di Sulawesi Selatan.
            Hebatnyarevolusi Indonesiabisa menjadikan jagoan terkenal dari dunia hitam macam Imam Syafei yang kondangdi Senen menjadi orang baik-baik karena dia menjadi Kapten TNI yang seringdiberitugas khusus. Konon katanya dia buta huruf dan pernah masuk penjaraanak-anak. Pemerintah orde lama sukses membina Imam Syafei yang kemudian menjadiMenteri urusan keamanan Ibukota di masa kabinet 100 menteri. Dia dikenalsebagai menteri copet.
            Revolusijuga membuat raja copet macam Timur Pane berani mengangkat diri jadi Jenderal.Meski pasukannya barangkali tak lebih dari satu resimen. Petinggi tentara tentupusing dalam mengurus tentara yang kacau dari sisi rekrutmen dan kepangkatan.Belum lagi memikirkan latihan dan kesejahteraan yang nyaris tak mungkindilakuka bagi seluruh tentara RI. Banyak orang seenaknya menaikan pangkatnya.Konon Moestopo pernah mengangkat diri jadi menteri. Timur Pane tentu the realNagabonar.
            Jaditentara barangkali keterpaksaan bagi banyak pemuda. Tak ikut tentara bisa takada kawan, karena semua pemuda nyaris jadi tentara. Entah tentara reguler ataulaskar perjuangan. Yang penting pegang senjata! Tak ikut tentara, bisa-bisadituduh mata-mata Belanda atau AndjingNICA.
Suharto yang melesat karirnya di masa revolusi
Suharto yang melesat karirnya di masa revolusi
Bagi segelintir pemuda menonjol, meski pendidikan formalnyatak jelas, mereka bisa menjadi komandan. Jadi Letnan, Kapten atau Mayor lebihbaik. Dullah salah satunya. Dia bisa jadi Mayor, bahkan bisa mempersuntingperempuan terpandang. Nasib serupa dialami Suharto.
            Suharto,sekolahnya tak jelas. Dia menyelesaikan SD, namun tak selesai di sekolahmenengah. Kualitas SD, Suharto tak seperti HIS atau ELS. Pendidikanformal Suharto jelas kurang untuk jadi perwira. Suharto banyak balajar soalmiliter setelah dirinya mulai gabung di KNIL. Dengan cepat dia jadi kopral laluSersan dalam kurun waktu 2 tahun. Dengan kemampuannya dia bisa jadi KomandanKompi di akhir pendudukan. Suharto adalah contoh nyata seorang militer yang melesat seperti meteor karirnya. Memulai dari bawah lalu naik dengan cepat. Dari kopral sampai mayor Jenderal sebagai militer, dengan jabatan terakhir menteri Angkatan Darat atau setara KSAD. Lalu pangkatnya naik sebagai Jenderal sebagai Presiden Indonesia. Belakangan dipuja berlebihan sebagai Jenderal besar bintang lima yang patut dipertanyakan sumbangannya bagi militer Indonesia. Tapi Jenderal AD berwatak Jenderal Amerika latin tentu bangga pada Suharto yang posisikan Angkatan Darat sebagai angkatan utama dalam militer Indonesia. 

Selasa, Juli 23, 2013

Kaum Opurtunis dalam Arsip

Tak sedikit orangmengecam revolusi. Namun, ada sebagian orang bisa berubah nasibnya karenarevolusi. Mereka mungkin hidup susah di jaman kolonial. 

Revolusi Indonesia yangkeruh tentu membawa berkah. Bagi orang-orang muda yang pintar sebenarnyaberkah, namun tidak bagi sebagian kaum konservatif yang pernah jadi pamongprajaBelanda. Banyak kaum priyayi bekerjaasama dengan Belanda.
Andi Tjallo ArengMallusetasi mungkin contoh priyayi yang berpikir jika Belanda masih kuat danlayak jadi pemerintah di Hindia Belanda yang sudah berubah jadi Indonesia.Bersama beberapa bangsawan dia mendukung Belanda.

"Ia memerintahkanAndi Tjate bersama Polisi Negara (BAPIT) dalam daerah Adjatappareng menangkapidan memejarakan di Pare-pare semua pengurus-pengurus dan anggota-anggota BPRI,PKR, API, Al Anzhar dan lain-lain."[1]

Bangsawan ini kemudianmelarikan diri ke Surabaya setelah APRIS dariJawa menduduki Makassar tahun 1950. Tak hanyaBangsawan, pekerja jawatan pun ada yang dianggap sebagai orang yang pernahmenjadi agen NEFIS dengan memberikan informasi. Tersebutlah seseorang dengannama panggilan S Bone, dia adalah inspektur pertanian di Makassar.S Bone, konon kerap berhubungan dengan Westerling selama Kampanye Pasifikasi(1946-1947).[2]
Dua laporan mengenaituduhan dua orang tadi sebenarnya bisa diragukan juga. Bisa jadi tuduhan ataulaporan itu didasarkan dari orang-orang pada yang bersangkutan.
Tuduhan menjadimata-mata bagi Belanda akan kuat jika dituduhkan pada Suriosentoso, pensiunanMayor KNIL yang diaktifkan kembali oleh Belanda. Pangkat terakhirnya di KNILadalah Kolonel. Semasa pendudukan Jepang, Suriosentoso terlibat dalam gerakanbawah tanah anti Jepang, meski dirinya diawasi penuh oleh Kenpeitai. Bagusnya,Suriosentoso tak seceroboh Amir Syafrudin yang kemudian ditangkap dan hampirdihukum mati oleh Jepang. Suriosentoso pernah bersinggungan dengan gerakanSutan Syahrir, karena ada anak Suriosentoso yang kuliah bersama anggota gerakanbawahtanah Syahir, begitu kata Rudolf Mrazek dalam bukunya tentang Syahrir.
Bukti jelas bagaimanaSuriosentoso bekerja untuk Belanda. Ketika dia diaktifkan kembali sebagai KNILdengan pangkat Letnan Kolonel, dirinya pernah menulis laporan tentangpropaganda Islam oleh Balatentara Jepang di Jawa. Tak bisa disangkal jikaorang-orang Islam memang dirangkul Jepang, meski tak semua dirangkul.Diantaranya ada juga orang macam Zainal Mustofa yang melawan. Organisasi Islamcukup mendapat perhatian dari pemerintah militer di masa pendudukan Jepang.Hingga bisa dianggap mereka anti Belanda yang loyal pada Jepang dan bisamenjadi ancaman. Suriosantoso menulisnya untuk orang penting bernama Charlesorde van der Plas.Posisi Suriosentoso adalah kepala Afdeling Intellegence en Loyaliteit sonderoek.[3]
Memang ketikaKonferensi Meja Bundar di Den Haag, Suriosentoso ikut ke Belanda sebagai pihakBelanda. Dirinya sempat berfoto dengan Julius Tahiya dan Sutan Max Hamid II(wakil BFO). Dua nama itu jelas-jelas bekas perwira KNIL. Max lulusan KMA Bredanamun Julius Tahija awalnya bintara cemerlang namun belakangan menjadi stafJenderal Spoor. Di masa revolusi orang-orang ini nampaknya menjadi orangpenting bagi pejabat sipil maupun militer Belanda macam Hubertus van Mook atauCharles van der Plas.
Mereka-mereka yangdituduh mata-mata atau yang jelas bekerjasama dengan Belanda tadi nampaknyamerasa Republik Indonesiatak bisa diharapkan sebagai tempat berkarir. Karena sebagai negara baru Indonesia lemahdalam banyak hal. Tak ada keuntungan yang bisa diharapkan secara materi. Takada gaji daan fasilitas layak bagi yang bekerja pada Republik. Hingga bagi kaumkonservatif, jika tak ingin memakai istilah kontrarevolusi, lebih nyaman jikabekerja untuk Belanda. Kaum kontrarevolusi biasanya orang-orang tua bekaspegawai kolonial.
Tulisan ini bukan bermaksud menuduh, hanya menyikapi saja. Apapun itu tak bisa diterima tanpa ada penelusuran.
Note:
[1] (Arsip KPM RI Jilid 1 no 940:Surat-surat Mengenai Keterlibatan Raja Areng Mallusetasi dari Pare-pare danpemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan-3 November 1950)
[2] (Arsip KPM RI Jilid 1 no 1117: Laporanmengenai S Bone Inspektur Pertanian di Makassar yang dianggap sebagai mata-mata18 Agustus 1952).
[3] (Arsip NEFIS no 18: Verslag CCC IAMA-CABAfdeling Intellegence en Loyaliteit sonderzoek: berisi peringatan kepada Ch.Ovan der Plas mengenai propaganda Islam oleh Jepang yang dibuat oleh LetnanKolonel Soeriasentoso 20 Maret 1946).

Jungschlager dalam Proses Verbal

Berdasar KMB, KL angkat kaki dari Indonesia dan  KNIL bubar dan musuh pemerintah berkurang. Namun, ada orang Indo dan Belanda yang masih melawan diam-diam.

Berikut ini adalah petikan dari proses verbal atas peradilan Jungschlager. Dia didakwa melakukan gerakan melawan pemerintahan. Gerakannya terkait dengan kelanjutan gerakan APRA Westerling yang sebelumnya gagal total. Jungschlager adalah contoh kontrarevolusi yang tampaknya ingin menjaga kepentingan ekonomi kelompok anti pemerintah yang diantara Indo Belanda bahkan Belanda totok. 
Jungschlager dalam persidangan

Tentang Jungschlager
Nama lengkapnya, Leon Nicolaas Hubert Jungschlager, kelahiran Maastricht (Limburg)1904. Dia tinggal di Jalan Pegangsaan 33, Jakarta. Dia lama bekerja di KPMsebagai Chef Nautische Dienst. Jungschlager  tidak memiliki tempat tinggal tetap sebelum1930. Dia pernah berdiam di Makassar pada 1930. Di Surabaya 1934. Jungschlager  sempat cutipanjang ke Belanda pada 1935. Dan kembali ke Negeri Belanda lagi untukmengambil kapal de Tegelberg. Jungschlager  tidak berkeluarga karenanya dia tidak punyatempat tinggal tetap.baru tahun 1938, Jungschlager  dan keluarganyamenetap di Jakarta.[1]
Akhir 1941,Jungschlager masuk AU Belanda (MLD) di Surabaya. Februari 1942, Jungschlagerikut menyingkir ke Australia. Jungschlager tinggal selama 6 sampai 7 minggusebelum akhirnya berangkat ke Amerika bersama serombongan calon penerbang MLD.
Januari 1944,Jungschlager tidak lagi di Amerika. Dia ditempatkan pada Squadron Belanda diDarwin selama enam bulan. Setelah itu ditempatkan di squadron pemburu 121 dicanberra. Antara April dan Mei, Jungschlager ditempatkan di Marauke, Papua.Antara September dan Oktober, Jungschlager ditempatkan di Camp Colombia,Brisbane pada NEFIS (Netherlands Forces Intelligence Service).  
Antara Oktoberdan November 1945, Jungschlager datang lagi ke Jakarta sebagai Letnan Satu ALyang diperbantukan di NEFIS. Tahun berikutnya pangkatnya Kapten Angkatan Laut.Jungschlager, sebagai perwira Angkatan Laut bekerja langsung dibawah komandoJenderal Spoor dan Admiral Pigke. Jungschlager bahkan dianggap sebagai DirekturNEFIS setelah pada 1946 Spoor menjadi Legercommandant semua tentara Belanda diIndonesia. [2]

Bersekutu dengan DI
DI adalah sekelompok orang-orang yang tidak puas dengan Republik Indonesia,karenanya mereka kemudian memproklamasikan DI/TII. DI didirikan olehKartosuwiryo yang merupakan proklamator sekaligus imamnya. Pengaruh DI awalnyahanya di Jawa Barat. Pengaruhnya, kemudian menyebar ke jawa tengah sebagaidaerah yang dekat dengan jawa Barat. Belakangan, pengaruhnya masuk ke beberapadaerah seperti Aceh, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
Kartosuwiryo, dulunya adalah seorang tokoh pergerakan juga. Dia pernah menjadimurid dari HOS Cokroaminoto, seorang tokoh pemimpin SI dan pergerakan panislamis yang begitu dihormati dizamannya. Dia dianggap guru bagi tokohpergerakan macam Sukarno, Semaun, Musso dan juga Kartosuwiryo.

Aksi-aksi Jungschluger
Setelahpengakuan kedaulatan, Jungschlager melakukan gerakan bawah tanah menentangRepublik dengan menyediakan dan mengirim senjata,pakaian, makanan dan lainnyakepada gerombolan bersenjata seperti NIGO, White Eagle, Nederland zalHerrrijzen (NZH).[3]
Motman adalah Staf NIGO. Iamengadakan hubungan dengan DI.  Sekitar15 Januari 1950, dia atas suruhan Jungschlager mengirim ke Pelabuhan 3 petipeluru dan 6 peti makanan. Permulaan Maret 1950, Motman menerangkan bahwadaerah perlawanan NIGO dibagi jadi tiga.[4]Sekitar bulan Maret itu juga, Jungschlager menerima uang sebesar Rp 125.000untuk diserahkan kepada Brouwer dan Hadji Achmad. Keduanya orang NIGO. Selainuang itu, 164 pucuk senapan juga diterima untuk diberikan kepada KolonelTompson. Jungschlager juga memberikan uang sebesar Rp 60.000 kepada Motman yangberasal dari onderneming Tjikasungka (Tangerang Selatan). Pertengahan Mei 1950,Motman diperintahkan untuk mengambil 1 zender 3 HT dan 2 lichtaggregaat dirumah Mayor van Buren di Bogor,  untukdiserahkan pada Kapten Schmidt di Cidaun.
Ada rencana akan ada penyeranganterhadap TNI di Garut, Bandung dan Jakarta. Schmidt akan menjadi komandanoperasi NIGO. Basis NIGO nantinya adalah Jakarta dimana semua uang NIGO ada diJakarta.  Manoch, seorang anggota NIGO,juga mendapat perintah untuk menghancurkan gedung Kabinet Presiden di Jalan Merdeka Utara dengan bom. Tapi Manochkemudian tidak berani memasuki gedung itu karena dijaga ketat oleh pasukanpengawal Presiden yang dipimpin Mangil.
Ada rencana untuk menjatuhkanbantuan peluru, senjata dan lainnya kepada NIGO dari pesawat terbang denganpayung.  Pada Juli 1951 ada empatpeti  senjata yang akan dikirim kePalembang. Mei 1951 juga ada pengiriman ke Jambi. 
 Jungschlager juga memimpin NZH yang menghimpun bekas lurah atau kepala kampung dizaman pendudukan tentara Belanda. Mereka mendukung pemerintahan Federal yangberusaha diterapkan NICA pimpinan van Mook. Gerakan NZH nampak seperti gerakanlegal.[5]

Penerus gerakan Westerling
Bagi Manoch, Schmidt bukan orangbaru. Sejak 1940, ketika Manoch menjadi militie soldaat, Schmidt adalah atasanManoch.[6]Manoch pernah menjadi sopir Kapten Westerling. Manoch menceritakan tentang dropingenyang dilakukan Jungschlager. Dimana bantuan senjata
Organisasi gelap macam NIGO, WhiteEagle, NZH dan lainnya bermaksud menentang RI (RIS) dengan segala cara.Organisasi ini kerap menyelundupkan dan membagi senjata mereka pada musuh RI.Senjata itu didatangkan dari Singapura. Dimana pasar gelap senjata berada.Senajta itu lalu dimuat dalam kapal-kapal General Motor yang biasa dipakaiuntuk membuang kotoran ke laut, melewati Kampung Melayu (Tangerang) atauCilincing. Ada juga senjata yang mereka dapat dari gudang NMM.
Sebelum Bandung diserbu olehpasukan APRA Westerling, pernah diambil senjata-senjata dari dump truk  milik Tentara Belanda. Dipastikan bahwasenjata-senjata tersebut adalah untuk para gerilyawan.  Suatu kali, atas perintah Kapten De Jong danVan Wieringen,  makanan dan obat-obatandalam jumlah besar dibawa ke Kebayoran dengan menggunakan truk NMM.
Jungschlager dan Manoch pernahbertemu di goa-goa sekitar gunung Salak antara 1950 dan 1951. Saksi terlibatdalam penyerangan kota Bandung bersama KNIL. Setelah serangan gagal, saksibersama komandannya dan beberapa bawahan lainnya berusaha melucuti senjatapolisi. Namun serangan itu gagal. Semuanya penyerang tertangkap.[7]
Keuangan NIGO berasal darisumbangan beberapa pihak. Seperti Kepala Perkebunan Karet Serpong, Seynja. Diapernah serahkan uang sumbangan kepada bekas Inspektur Teerling yang menjadikepala gerombolan. Diantara uang yang diberikan itu, terdapat uang palsu dariNegeri Belanda tetapi double series.
November 1950, Kapten Schmidtdatang ke Serpong. Dimana Manoch kemudian menjadi sopir mobil Schmidt ke Bogor.Manoch mengaku pernah melakukan infiltrasi ke kantor kejaksaan, kejaksaan agungdan instansi pemerintah lainnya. Itu semua atas perintah Schmidt. [8]
Wilayah gerilya NIGO dibagimenjadi 3: Batalyon 178 dibawah pimpinan vanKleef dan Zainal Abidin. Mereka beroperasi di daerah Garut.
Batalyon 781 dibawah pimpinanKolonel Tompson dan Katamsi. Beroperasi di daerah Cirebon.
Batalyon 871 dibawah pimpinanKapten Schmidt, Sungkawa dan Subrata. Daerah operasinya lebih luas dibandingyang lain. Yakni Jakarta, Bandung, Cianjur dan Sukabumi.
Pertengahan Maret 1950,Jungschlager ke Dermaga dengan sedan Pontiac. Dia meminta dan menerima uangdari Motman sebesar Rp 120.000. Uang itu dipecah lagi kemudian, Rp 100.000untuk  para gerombolan untuk beroperasi.Sedang, Rp 20.000 diberikan pada Ki Achmad dari Semarang.  Jungschlager juga menerima 164 senjata api,diantara 12 senapan Thompson. Separuh dari senjata itu lalu diserahkan padKolonel Tompson
 Jungschlager datang bersama Lammers van Buurendan sopirnya Ernst Parre untuk mengambil 8 mortir 2 inci dan 3 peti pistolCanada (MKI). [9]
Manoch, bersama Baden, melihatJungschlager di Dermaga, pada permulaan Juni 1950.[10]  Manoch bertemu Jungschlager lagi di rumahMotman. Jungschlager memimpin pertemuan itu. Dibicarakan bahwa Motman akanmengundurkan diri karena ada urusan keluarga. Diputuskan bawah: staf di Dermagaakan dipindahkan ke Jakarta disamping divisi. Haji Achmad akan diperbantukanpada Anak Agung Gede Made di Sumatra. Diperintahkan agar hanya menyerang TNI diGarut, Bandung dan Jakarta. Jungschlager akan memperlambat jalur pengangkutanke laut atau menghentikannya sam sekali?. Mereka yang tidak ingin membantu lagidiharapkan untuk menyimpan rahasia. Jungschlager memiliki banyak mata-mata.Schmidt akan tetap menjadi komandan Operasi 2/3 Jawa Barat.
November 1950, Motman yang sejaklama merasa gelisah, berangkat ke Australia. Begitu juga dengan Peters danMoorselaar pergi dari dermaga. Maret 1951, Jungschlager menemui Peters yangbaru berangkat ke Australia pada April 1951.[11]  
Lodewyk Jacob Tomasoa, sejakJepang menyerah Tomasoa adalah anggota KNIL di bagian IntelichtingenVeiligheidsdienst sebagai Sergeant dan ikut serta dalam operasi militer. 1948,Tomasoa keluar dari KNIL.
Meski tidak lagi sebagai tentara,tetap saja dia masih berhubungan dengan tentara Belanda seperti Letnan D.C.Prins dari KL. Dia sering bebergian Jakarta Bandung.  Atas perintah Letnan Prins pula, Tomasoamembuat peta Bandung yang berisikan posisi pos TNI di Bandung.  Peta itu, oleh Prins diberikan pada LetnanHinter. Dari Hinter, peta itu lalu diberikan pada Letnan Titalay. Oleh Titalay,Tomasoa pernah akan dipertemukan dengan Westerling, namun dia sendiri menolak.
Atas perantaraan Moorselaar,Tomasoa kemudian mendaat pekerjaan di onderneming Dermaga dengan posisi sebagaikepala teknik. Setelah beberapa bekerja, Tomasoa pun mengerti soal adanya NIGO.Kepala Onderneming, Motman adalah salah satu pimpinan NIGO di Dermaga. Dermagasendiri adalah tempat penyimpanan senjata, amunisi, bahan makanan dan lain-lainnyauntuk gerilyawan NIGO, sebelum didistribusikan seluruhnya pada gerilyawan NIGO.

Catatan;
[1] Dia memulai karirnya di KPM sebagaiStuurman IV.  1926, dia masukdientsplicht di Angkatan Laut Belanda di Surabaya selama sembilan bulan. Enambulan sebagai matros, tiga bulan sebagai adspirant Reserve Officier. Selesaipendidikan itu, dia kembali berdinas di KPM. Tahun 1927, dia diperbantukansebagai MLD sebagai reserve Officier. Dia menjalani latihan sebanyak 3 atau 4kali. Dimana masing-masing latihan bisa memakan waktu 56-58 hari. (R. Soenario,Proses Jungschlager, Jakarta, Gunung Agung, hlm. 16.)
[2] R. Soenario, Proses Jungschlager, Jakarta, Gunung Agung, hlm. 16-17.
[3] R. Soenario, Proses Jungschlager, Jakarta, Gunung Agung, hlm. 16-17.
[4] Motman memberikan kartu nama atas namaMuller pada inspektur Denis untuk mengambil barang-barang keperluan gerombolandari pelabuhan. (R. Soenario, ProsesJungschlager, Jakarta, Gunung Agung, hlm. 18.)
[5] R. Soenario, Proses Jungschlager, Jakarta, Gunung Agung, hlm. 18-19.
[6] R. Soenario, Proses Jungschlager, hlm. 20.
[7] R. Soenario, Proses Jungschlagerhlm. 69.
[8] R. Soenario, Proses Jungschlagerhlm. 69.
[9] R. Soenario, Proses Jungschlagerhlm. 74.
[10] Baden harus ditutup matanya dalampertemuan itu. Baden adalah orang yang bisa dipercaya.
[11] R.Soenario, Proses Jungschlagerhlm. 75.

Selasa, Mei 28, 2013

Indonesia di mata Bekas Anak Kolong (sebuah resensi yang terlambat atas Burung-Burung Manyar)

Seandainya serdadu Nippon tak serbu Hindia Belanda, juga tak ada fasisme Jepang, bocah Teto alias Setadewa yang separuh Londo tak akan menderita. Ibunya yang bule Londo tak akan dijadikan gundik Komandan Tentara  Jepang dan ayahnya yang Letnan Tentara Kerajaan Hindia Belanda tak akan jadi buruan Kenpeitai (Polisi Rahasia Jepang). Teto sendiri tak perlu terlibat gerakan bawah tanah dan jadi pemuda pendendam dan sinis pada Indonesia—yang baginya bikinan Jepang.
Gambaran anak kolong jaman kolonial
Kekejaman Jepang pada keluarganya membuatnya benci pada Jepang. Hal berbau Jepang pun lalu dibenci, termasuk kepemimpinan Sukarno yang baginya bekas kolaborator juga dimusuhinya.  Maka pilihan terbaik Teto adalah jadi Letnan  KNIL juga—atas rekomendasi mayor Verbrugen. Jadi bandit-bandit VOC jelas lebih baik daripada jadi Anjing Fasis.
Masa muda Teto yang suram membuatnya benci pada Republik. Teto melihat Indonesia sebagai Negara bikinan balatentara Jepang, dimana para bekas kolaborator Jepang adalah pemimpinnya. Hingga Teto tak merasa perlu menghormati mereka. Menembaknya jauh lebih baik.
Derita Teto seolah tak habis setelah Indonesia merdeka. Ibunya begitu nestapa dan jadi gila. Teto menemukannya di rumah sakit jiwa Magelang. Balatentara Jepang tak hanya memeras harta benda, darah dan keringat tapi juga bikin orang jadi gila. Mungkin tak hanya ibu Teto tapi juga seluruh orang Indonesia yang tiba-tiba doyan pegang bedil dan pakai baju militer.
Di usia tuanya, Teto mengunjungi Indonesia setelah berpuluih tahun hidup di Luar Negeri dan punya karir bagus di perusahaan asing. Rasa sinis Teto tak hilang, meski dia tampak lebih memaklumi dari sebelumnya.
Cover novel Burung-burung Manyar
Begitulah yang saya tangkap dari novel Romo Mangunwijaya ini. Pertama kali, saya hanya nikmati penggalan awal. Kisah Teto bergaul anak kolong (anak-anak serdadu bawahan), walau Teto anak Letnan. Teto bahagia dalam masa kecilnya yang egalitarian. Penggalan ini sangat saya dan sahabat saya, Dwi Saputro, sukai waktu SMA dulu. Belakangan dia punya novelnya dan saya belum. Sial.
Membaca novel ini dan menikmati diri masuk ke dalam cerita sebagai Teto membuat kita melihat Indonesia sebagai seorang pembenci—meski ada rasa cinta di balik benci itu. Rasanya, kita perlu melihat Indonesia sebagai pembenci. Itu bukan pendekatan yang buruk. Apalagi dalam kondisi Indonesia yang semakin tidak menyenangkan seperti sekarang.
Cerita dalam novel jelas menarik. Tak perlu diragukan. Namun, hal yang paling menarik buat saya adalah bagaimana Romo Mangun memberikan gambaran nyata Indonesia di masa lalu. Setidaknya itu membuat kita berimajinasi ke masa lalu. Saya kira, Romo Mangun begitu kuat membangun setting cerita, soal karakter dan plot saya tak ragukan. Ini mungkin karena Romo Mangun hidup di jaman ketika Indonesia masih disebut Hindia Belanda. Dia terlibat langsung dalam revolusi dan mengalami Indonesia masa presiden Sukarno dan Suharto.
Romo Mangun dalam kebersahajaan
Novel Romo Mangun yang dirilis tahun 1981 ini sangat membantu saya menulis sejarah—baik buku maupun skripsi. Nama Romo Mangun sering saya singgung selama mata kuliah Sejarah Indonesia Modern. Meski fiksi, gambaran Indonesia masa kolonial soal anak kolong saya bisa dapat.
Romo Mangun punya latar belakang sebagai arsitek, rohaniawan, aktivis sosial kelas kakap selain sebagai penulis. Itu semua tentu membuatnya menjadi orang yang banyak paham soal Indonesia. Baginya, mungkin Indonesia ibarat bangunan yang harus dilihat dari berbagai macam sisi.
Novel Romo Mangun ini sangat membantu saya menulis sejarah—baik buku maupun skripsi. Nama Romo Mangun sering saya singgung selama mata kuliah Sejarah Indonesia Modern. Meski fiksi, gambaran Indonesia masa kolonial soal anak kolong saya bisa dapat. Dari sekian banyak penulis hebat yang menulis soal Indonesia, Romo Mangun adalah salah satu yang mempengaruhi.

Tribute: Romo Mangun (Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, lahir di Ambarawa 6 Mei  1929. Menulis banyak novel historis, salah satu yang terkenal adalah Roro Mendut.romo Mangun yang pernah belajar arsitektur di Eropa, juga dikenal sebagai arsitek yang karya-karyanya memiliki bentuk yang unik. Orang-orang layak menyebutnya sebagai budayawan penting. Orang cerdas di Jogja pasti mengenal tokoh yang meninggal pada 10 Februari 1999). 

Minggu, Mei 19, 2013

Negeri Terjajah Yang Menipu Diri

Enak mana, dijajah Belanda, Perancis, Inggris atau Jepang?  Apapun jawabannya, sangat tak pantas jika dijajah Bangsa sendiri.

Menunggu kereta di stasiun Senen sangat membosankan. Kereta senja ke Jogja yang terjadwal pukul 07.00 hampir selalu ngaret. Banyak orang Indonesia pasrah dengan tradisi ngaret penyedia jasa. Tapi, bagi mahluk yang sudah kangen setengah hidup pada Jogja, ini tak bisa dimaafkan. Sebaiknya Menteri Perhubungan digantung saja di Lapangan Banteng. Penantian kereta senja itu membuat saya merenungi banyak hal.
Ketika kereta datang, saya naik kereta, cari kursi saya dan duduk. Lalu saya merenung lagi. Pikiran saya melayang lagi. Ditengah perenungan saya mengantuk karena sebelum ke Senen, saya harus ke perpustakaan Salemba cari bahan untuk menulis. Itu melelahkan sekaligus menyenangkan.
Saya baru terbangun ketika menjelang kereta menginjak Tanah Tegalrejo, dekat rumahnya Pangeran Diponegoro. Gara-gara Belanda mau bikin jalan, keributan dimulai dan berubah jadi Perang Jawa. Harus saya akui, apa yang saya rasakan itu hasil penderitaan orang-orang Indonesia yang diperas darah dan keringatnya, sekaligus kreatifitas teknisi Belanda yang memperlancar kolonialisasi. Karena mereka, saya bisa naik kereta api. Kerena mereka saya bisa pulang ke Jogja sebagai rumah sejati sekaligus menyambangi pacar saya waktu itu, yang sudah jadi mantan.

Jawa: Pulau Yang Paling Lama Dijajah
Selanjutnya, muncul pertanyaan. Siapa yang membangun jaringan kereta ini? Lalu kenapa rel-rel kereta api itu dibangun? Karena kuliah sejarah hamper tujuh tahun, tak sulit bagi saya menjawabnya. Rel kereta-api beserta keretanya itu dibangun Belanda, dengan tujuan memperlancar eksploitasi hasil perkebunan pasca tanam paksa demi menggendutkan kantong Ratu Singa (di Negeri Belanda).  
Lukisan stasiun kereta api dan relnya.
Beruntunglah Pulau Jawa sebagai pulau yang paling lama dijajah Belanda. Jaringan rel jauh lebih banyak daripada di pulau lain. Belanda memang baru betul-betul fokus di pulau besar paling lama dijajah dahulu, pulau lain masih belum dan rencananya menyusul.
Sayang, Indonesia keburu merdeka dan jaringan rel di luar Jawa masih ala kadarnya saja. Jaringan rel yang tak begitu panjang  pernah dibangun juga di Sumatra Selatan-Lampung (1914), Sumatra barat (1886) Sumatra utara (1891); Aceh (1874); Makassar Takalar (1922). Selama pendudukan Jepang, banyak rel dibongkar balatentara Pendudukan Jepang.
Lalu saya teringat Jalan Deandels. Jenderal Perancis yang loyal pada Napoleon ini, kesohor karena mega-proyeknya Anyer –Panarukan yang menelan banyak korban. Jalan itu dibangun sekitar satu tahun, dengan panjang sekitar 1.000 KM. Deandels yang tangan besi itu jelas jauh lebih hebat daripada kontraktor pembuat jalan raya masa kini. Keberadaan Deandels adalah jejak penjajahan tak langsung Perancis sekaligus efek revolusi Perancis di Indonesia. 

Potret Herman Deandels sang Marsekal napoleon di Jawa
Maha karya Deandels itu, nampaknya berkembang menjadi jalan raya yang hingga saat ini masih dipakai. Jalan Raya Pos yang membentang di utara pulau Jawa. Jalur yang selalu ramai di kala mudik lebaran. Jadi, berhentilah mengutuk Deandels jika masih memakai jalan itu!!!

Kalau ada yang bertanya, “kenapa di Jawa ada kereta api dan jalan rayanya bagus?” Selain karena uang banyak berputar di Jawa, yang terpenting adalah Jawa adalah pulau yang paling lama dijajah. Sejarawan Jawasentris percaya Indonesia dijajah 350 tahun. Mitos ini ditentang oleh sejarawan Belanda, kalau tidak salah namanya Van Resink.
Mitos ini mengundang disintegrasi, karena Aceh, Bali, Tanah Batak baru dikuasai Belanda tak lebih dari 40 tahun—karena baru sekitar tahun 1905-1908 baru dikalahkan KNIL. Mengakui pendapat sejarawan Jawasentris tadi berarti memecah-belah NKRI yang mereka banggakan karena tak menafikan orang Aceh, Batak dan Bali juga. Sejatinya, bukan Indonesia yang dijajah 350 tahun tapi Jawa.

Enak Jamanku to?
Kira-kira, paling enak itu dijajah siapa ya? Banyak yang sering bertanya pada saya seperti itu, karena mereka mengira saya sejarawan yang bisa dipercaya—walau saya ragukan itu hehehe. Saya pun tak bisa jawab pertanyaan itu.
Kalau saya bekas pegawai terpelajar kolonial Belanda saya akan bilang dengan jujur, “enak ikut Ratu Wilhelmina. Pegawai yang bisa baca-tulis hidupnya enak tanpa harus korupsi.”  Tapi bagi sebagian bekas serdadu buatan Jepang macam PETA, dijajah Jepang itu keren. Nyatanya kebiasaan Jepang di Indonesia macam taiso dan sistem tentara pendudukan jelas-jelas dilestarikan Suharto cs.
si Smiling General Suharto yang inocen
Saya agak geli sekaligus kesal dengan gambar Suharto tersenyum bertuliskan: “Piye kabarmu? Enak jamanku to?.” Bagi mereka yang merasa nyaman di jaman itu jelas bilang enak jaman Suharto. Bagi saya yang pernah merasakan kelaparan bersama adik saya, maka dalam hati yang paling dalam akan bilang, “matamu kae, Su!!!” Pendukung Suharto tentu tak rasakan lapar yang saya rasakan.
 Tanpa Suharto saya bisa melakukan apa yang saya mau, itu alas an kalau Suharto itu penipu ulung dalam sejarah Indonesia. Saya pernah ditipu antek-antek Suharto, beruntung ada gerakan Mahasiswa reformasi 1998 yang menyadarkan saya.  Itu alasan tambahan untuk tidak suka dan melawan Suhartoisme.
Suharto, bagi saya adalah penerus raja Jawa. Selicik Ken Arok dalam merebut kekuasaan. Sekaligus selemah Amangkurat dari Mataram. Kalau Amangkurat kasih Semarang ke VOC, maka Suharto kasih Papua ke Freeport.  Rela jual apa saja untuk berkuasa. Hal ini diteladani banyak orang Indonesia yang membeli jabatan. Suharto adalah pemelihara bibit korupsi dalam sejarah Indonesia yang berakar dari feodalisme. 

Menipu diri dengan mitos-mitos
Mahasiswa sejarah sering membandingkan jika Negara yang dijajah Inggris itu lebih maju daripada dijajah Belanda.  Mereka melihat perkembangan India dan Malaysia yang jauh diatas Indonesia. Adik kelas saya pernah menyanggah opini macam itu yang didukung Profesor Killer kami di kelas. Gara-gara dijajah Inggris kultur masyarakat Melayu di Malaysia jadi rusak.
Katanya, kalau dijajah Inggris kita akan bisa berbahasa Inggris. Bisa bahasa Inggris itu keren karena itu bahasa Internasional. Itu sangat diagung-agungkan. Sebuah keterpaksaan kultural tidak mereka sadari.  Kalau saya memakai bahasa Inggris, itu karena saya terpaksa sebagai  bagian dari rakyat terjajah, sama saja seperti yang tidaknya menyadarinya. Bedanya saya sadar secara bahasa saya terjajah.
Coba lihat serial anak Ipin dan Upin, terlihat betapa bahasa Melayu mereka sudah terkontaminasi dengan Inggris. Meski saya suka serial ini karena dua karakter lucu itu, saya merasa bahasa Melayu Indonesia lebih terpelihara daripada Melayu Malaysia. Sementara itu, selama kolonialisasi Belanda di Indonesia, hukum adat lebih terpelihara daripada setelah Indonesia merdeka, begitu pula agama lokal—yang makin punah setelah Belanda pergi.
Ipin dan Upin, jejak penjajahan INggris ada disana. Baguskah bahasa leluhur hilang dan berganti bahasa penjajah
Sebetulnya, terjebak dalam opini kalau perkembangan suatu Negara dipengaruhi siapa Negara penjajahnya, adalah agak menyesatkan. Opini ini pun sudah menjadi mitos menghambat kemajuan Indonesia.  Mereka lupa kalau kemajuan itu diperjuangkan. Mereka lupa kalau Jepang tak pernah dijajah untuk jadi Negara maju, mereka hanya perlu kerja keras.
Ada banyak mitos menyesatkan yang berbahaya di Indonesia. Saya hanya bisa sebutkan empat: Pertama, mitos Indonesia dijajah 350 tahun yang berpotensi disintegrasi. Kedua, korupsi itu ada sejak jaman VOC  hingga orang Indonesia lupa kalau korupsi itu ada karena feodalisme yang terpelihara kuat hingga sekarang hingga korupsi pun merajalela. Ketiga, Indonesia tidak maju karena lama dijajah Belanda dan tidak dijajah Inggris. Ini menyesatkan karena sejatinya kemajuan itu dicapai karena kerja keras dan mitos ini hanya untuk menyembunyikan sifat malas orang Indonesia.  Keempat, katanya Pancasila nyatanya keadilan hukum dan kesejahteraan tidak terjamin. Artinya pancasila hanya symbol Negara dan juga mitos. Kelima, di jaman Suharto semua enak, kata siapa? Lah saya kelaparan, bukan cuma saya. Percaya mitos bodoh ini berarti menafikan penderitaan orang lain dan hanya peduli pada perut sendiri. Mitos-mitos lain mungkin bisa anda-anda temukan di ruang dan waktu yang lain. Jika Anda percaya pada mitos-mitos tadi, saya ucapkan selamat menipu diri sendiri...

Itulah yang saya renungi dari penantian di stasiun dan gerbong kereta api. Menanti kereta pukul tujuh itu membuat saya menulis lirik pendek sebuah lagu absurd yang tak pernah selesai. Dimanapun, Indonesia adalah renungan dan kegelisahan. 

Selasa, April 30, 2013

Indonesia Pra Sekolah

Orang Berpendidikanadalah orang yang sekolah, begitu kata orang-orang. Apakah orang bijak akanbilang seperti itu?

Sebelum ada sekolah, Indonesia sudah terdidik oleh alam. Sebelumada sekolah, orang-orang Indonesia sudah belajar dan berguru. Entah ilmu agamaatau ilmu silat. Apakah bijak mengatakan orang yang belajar tapi tak sekolahsebagai orang tak berpendidikan.

Guru Kula Mirip Cerita Silat
Tak ada gambaran pasti bagaimana awal sejarah pendidikan diIndonesia. Tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana seseorang belajar menjadicerdas dari gurunya di masa Nusantara lama dulu? Mungkin tak dikenal sistempembelajaran yang mapan. Manusia hanya belejar tanpa menyadari bahwa dirinyajuga belajar, dengan kata lain belajar secara alamiah. Untuk bisa bertahanhidup manusia memang butuh belajar.

Guru Kula era India Kuno
Dosen mata kuliah Sejarah Pendidikan saya waktu kuliah di IKIP Jogja dulu, Akung  Karsiman, Guru Kula tergolong sistem pengajaran tertua di Indonesia sebelum ada Madrasah atau sekolah. Guru Kula disebut Gurukul  dalam bahasa Sansekerta—dimana istilah ini berasal. Bisa ditelaah jika sistem ini dibawa orang India ke Indonesia di era awal-awal masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia. Sistem ini memang sarana pembelajaran agama Hindu sejak zaman Weda di India, belakangan juga Budha menerapkannya.

Guru diartikan sebagai pengajar,pendidik, guru atau master. Kula diartikan sebagai keluarga. Maksudnya, muriddan guru tinggal bersama dalam satu lingkungan—dimana murid juga harusmengurusi pekerjaan rumah tangga di lingkungan itu sembari belajar ilmu laindari sang guru.  Murid hidup jauh darikeluarganya. Lingkungan ini disebut asrama (ashram).Murid disebut shishya—mungkin diadaptasidalam bahasa Indonesia menjadi siswa.
Kita mungkin teringat bagian daricerita Pararaton dimana Ken Arokbelajar  sebentar pada seorang gurubernama Lohgawe. Meski dikenal sebagai garong sebelum jadi raja, Ken Aroksetidaknya bisa digolongkan sebagai orang berpendidikan. Begitu simpulan sayasoal Ken Arok yang pernah berguru diashrampendeta Lohgawe.

Wiro Sableng murid si Sinto Gendeng. Dialah produk Guru Kula
Dalam otak saya, Gurukul atau Guru Kula mirip dengan padepokan silat dalam cerita atau film-film silat. Seperti Wiro Sableng diasuh dan diajar silat oleh Sinto Gendeng.  Setelah Sinto Gendeng merasa cukup mengajarkan ilmu silatnya pada Wiro Sableng, maka Wiro pun berkelana untuk belajar soal kehidupan diluar padepokan. Sang Guru pun melepas murid kesayangannya itu.

Dalam cerita silat, seorang gurusilat tak hanya punya satu murid. Ada beberapa murid. Murid-murid yang baikselalu bersikap melindungi saudaranya yang lain. Kadang, ada cerita murid yangdurhaka pada sang guru dan menyakiti murid yang lain. 
Di Indonesia, bentuk rasa hormatmurid pada sang guru adalah menjadikan cium tangan sang guru sebagai tradisi. Halini belakangan sering dianggap feodal dan terkesan konservatif.  Andi Hakim Nasution pernah punya jawaban,kenapa murid kudu cium tangan pada gurunya? Menurutnya, ketika seorang muridmelihat murid lain mencium tangan gurunya, murid itu akan merasa kalau gurumereka sama. Dan mereka harusnya merasa saudara seperguruan. 
Cium tangan ternyata bukan perkara simbolis!
Sebagai saudara mereka harus saling menjaga, jadi haram hukumnya untuk baku hantam atau tawuran antar sesama. Ini tak hanya berlaku di sekolah saja seharusnya. Dalam dunia persilatan pun sama. Jadi cium tangan itu bukan hal mudah. Cium tangan bukan simbolis belaka!!

Pesantren: Penerus Guru Kula
Beberapa sejarawan Islam di Indonesia percaya pesantrenmuncul di era Walisongo menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Berdasarkan catatan yangada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun1596. Kegiatan agama inilah yang kemudain dikenal dengan nama Pondok Pesantren. Bahkan dalam catatan Howard M. Federspiel, salah seorang pengkaji keIslaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh (pesantren disebut dengan nama Dayah); Palembang, di Jawa Timur dan di Gowa telah menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar. (Hielmy, Irfan. Wancana Islam (ciamis:Pusat InformasiPesantren,2000), hal. 120).
Pesantren, berasal dari katasantri (berarti murid dalam bahasa Jawa). Area pesantren disebut funduuq(dalam bahasa Arab) atau Pondok(dalam bahasa Indonesia). Guru atau pengajar atau pendidik di pesantren disebutKyai.
Cium tangan Kyai, sebuah tradisi pesantren


Biasanya Kyai ini guru tertinggidisamping guru-guru pembantu lain. Guru di pesantren tampaknya lebihbertingkat. Mungkin tak sebanyak GuruKula.Sama dengan sistem Guru Kula,dalam sistem pesantren murid-murid atau santri-santri tinggal dalam satulingkungan yang disebut pondok tadi. Lalu, dimana perbedaan pesantren dengan Guru Kula? Setidaknya, hanya beda dalamistilah saja dan pesantren adalah pengembangan adalah Guru Kula.
Orang boleh saja mengklaimpesantren asli Indonesia dan produk Islam Indonesia. Tapi jangan lupa iniberangkat dari sistem zaman Hindu yang dibawa orang India. Pengembangan Islamnyatanya memang sering memakai tinggalan Hindu sebagai media, termasuk sistempengajarannya.
Pesantren makin hari makinberkembang. Bahkan jauh lebih besar daripada Guru Kula. Termasuk dalam jumlah murid. Belakangan, banyakpesantren non tradisional tak memakai istilah Kyai untuk para guru melainkanmemakai istilah Ustadz—yang terkesan lebih Arab (atau Islami bagi kelompoktertentu).
Para santri siap mendengar wejangan


Pesantren masih bisa eksis dijaman dimana sekolah dianggap bergengsi. Sialnya, pesantren kadang dijadikanpelarian bagi sebagian orangtua untuk menitipkan anak mereka yang nakal. Karenasekolah, yang semula mereka anggap keren itu tak mampu lagi membuat anak merekabaik di mata mereka.
Pesantren  tak terkesan kuno. Pesantren tak takutmemodernkan diri. Tujuannya tak lain adalah memberi bekal lulusannya agar bisamenghadapi tuntutan dunia yang terus berubah. Nilai-nilai kearifan yang agamistentu tetap ditekankan.


Ayo Sekolah
Siapa yang membawa sekolah ke Indonesia? Anda bisa tebak kalauorang-orang barat macam Belanda atau Eropa lain. Kaum misionaris dan Zending,yang menyebar agama ke Indonesia, adalah pihak yang terbilang massif mempopulerkansekolah di Indonesia, ketika pemerintah Kolonial baru bikin sedikit sekolahkarena lebih asyik mengeksploitasi bumi nusantara.
                Sekolahtentu berbeda dengan Guru Kula atauPesantren, murid tak harus tinggal dalam satu asrama dengan guru—meski adasekolah berasrama. Kebanyakan, murid tinggal di di rumah bersama orangtua. Hanyajam tertentu saja mereka ke sekolah untuk ambil kelas. Harus kita akui jika sekolah adalah bagian dari pembaratandi Indonesia.

Sekolah sebagai wadah pembaratan yang tak disadari.
Sekolah atau school dapat dilacak dari kata Latinseperti skhole, scola, scolae,yang dipergunakan sekitar awal abad XII. Arti harafiahnya adalah "waktuluang" atau "waktu senggang". Dengan demikian agaknya bersekolahpada awalnya tak lain adalah leisuredevoted to learningyakniwaktuluang yang digunakan secara khusus untuk belajar.(Andreas Harefa, Pembelajaran:Melacak Asal Usul Sekolah).

Dasar OrangIndonesia! Yang dari barat selalu bagus dalam otak mereka. Sekolah, dianggaplebih modern ketimbang pesantren apalagi GuruKula. Sekolah juga menjadi kebutuhansekaligus trend masyrakat Indonesia. Sedari kecil, anak mereka yang masih 4 atau5 tahun dimasukan ke sekolah. Anak mereka pun dibiasakan dengan tugas-tugas.

Tak puas disekolah, anak mereka pun diikutkan les. Jam bermain anak pun makin menipis dansosialisasi anak dengan teman sebayanya, akhirnya berujung pada semakin mininyakesetiakawanan sosial—mungkin karena orang Indonesia tak membutuhkannya.

Orang-orangpun menganggap perlu sekolah hanya untuk tuntutan sosial bukan pada kebutuhanuntuk menjadi cerdas dan kebutuhan batin mereka. Begitulah sekolah jadi trendIndonesia di masa modern.