Sabtu, Februari 12, 2011

Heidt dan Kesepian itu

Dokter Heidt. Dua kali bikin geger Gunung Sitoli, Tana Niha (Bumi Manusia). Pertama dia bikin kudeta dan memproklamasikan koloni seberang lautan bernama pulau Nias sebagai bagian dari NAZI Jerman. Ya dasar dokter Fasis. Dia salah satu fasis dari Bandung. Paham fasis masih tersimpan di kepalanya ketika pemerintah kolonial penjarakan semua orang-orang Jerman termasuk dirinya.
Heidt dan ratusan orang Jerman termasuk Walter Spies, seniman Jerman yang menetap di Bali, diangkut dalam sebuah kapal. Lepas dari Sibolga kapal itu dimuntahi bom maut pesawat Jepang. Para tawanan diperlakukan biadab oleh awak kapal Belandayang tidak memberi mereka pertolongan.
Bangkai kapal dan mayat-mayat dari atas kapal Belanda itu bisa memancing ikan hiu. Sebagian orang Jerman tadi termasuk sang dokter lalu tiba di Nias dan jadi tawanan lagi. Meski dari dalam penjara mereka sukses melakukan kudeta dengan mengajak polisi pribumi yang dikecewakan pegawai dan pemerintah kolonial. Dalam semalam kekuasaan berpindah dari tangan pegawai kolonial Belanda ke tawanan Jerman itu.
Mereka tidak lama berkuasa karena kemudian mereka menyerahkan Nias pada tentara Jepang. Ternyata Selain Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang, secara tidak langsung Indonesia pernah dijajah Perancis dan Jerman juga dengan aksi dokter Heidt dan kawan-kawannya itu.
Ketika kawan-kawannya pergi, Heidt tinggal sendiri di Nias. Sayang Heidt tidak segila Robinson Crusoe atau petualang lainnya. Heidt tidak menikmati Nias rupanya. Padahal ngayau alias tradisi penggal kepala sudah lewat sejak Deninger datang menginjil. Heidt mungkin juga tidak jatuh cinta pada satu wanita Nias pun, yang tidak kalah cantik daripada wanita Jerman.
Entah mengapa Heidt merasa sepi? Pastinya di segelintir kulit putih disana dan mungkin saja tidak mampu berbahasa Nias. Bisa jadi juga dia hilang kontak dengan keluarganya karena Perang Dunia II berkecamuk. Hingga Heidt yang kesepian itu makin tertekan saja setelah ditinggal kawan-kawannya. Tentang kesepian Heidt, saya hanya bisa berspekulasi saja.
Akhirnya, untuk kedua kalinya Heidt bikin geger Gunung Sitoli lagi. Dia bunuh diri. Tidak anyak orang Nias tahu kisah ini. Tentu saja orang-orang Nias itu tidak tahu betapa sepinya sang dokter.

Kamis, Januari 13, 2011

Orang KNIL Ambon

Setidaknya, ada tiga orang KNIL yang cukup dikenal masuk TNI. Josef Muskita, Tanasale dan Julius Tahiya. Dimana semua punya ceritanya sendiri-sendiri.

Jumlah tentara KNIL tahun 1945 adalah sekitar 60.000 personil. Dalam formasi KNIL saat itu, komposisi serdadu Ambon dan non Ambon secara keseluruhan adalah satu banding lima. Mereka tinggal dalam tangsi-tangsi bersama anak dan istrinya. Orang-orang Ambon yang masuk KNIL biasanya beragama Kristen Protestan.[1]

Mereka juga tidak lagi mendapat gaji yang besar seperti ketika mereka bergabung dalam KNIL. Walau begitu, bekas KNIL ini justeru mendapat gaji besar dibandingkan dengan prajurit TNI yang lebih lama mengabdi dan hal ini pula yang menimbulkan kecemburuan dikalangan TNI sendiri.


Diperkirakan mereka adalah KNIL Ambon

Masa Bersiap, yang menakutkan bagi banyak orang-orang yang dianggap pro Belanda pada awal Revolusi, juga menjadi salah satu sebab bagi banyak anggota atau mantan KNIL Ambon enggan bergabung ke Republik.

Mereka digolongkan sebagai Andjing NICA, seperti halnya sebagian orang pro Belanda. Bergabung dengan Republik sama saja menyerahkan diri pada bekas musuh, yang bisa jadi menjadi musuh abadi.

Ketika banyak bekas serdadu KNIL Ambon kembali pulang ke kampungnya, mereka dalam kondisi tidak terima dengan kekalahan politik Belanda dalam diplomasi, mereka begitu merasa hidup mereka tanpa masa depan.

Josef Muskita

Terahir di kota militer Magelang, 28 Juli 1924. pernah menikmati sekolah di Hogare Burger School bagian B (Ilmu Pasti Alam). Kemungkinan dia belajar di HBS Jakarta sebelum Jepang mendarat. Melihat kota kelahirannya, Muskita nampaknya berasal dari keluarga militer KNIL juga.

Sebelum tahun 1950, dia adalah perwira KNIL. Lalu masuk TNI pasca KMB. Dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal, yang disandangnya sejak 1 Oktober 1967. Dan purnawirawan sejak 28 Juli 1979. Usianya baru 43 tahun ketika menjadi Mayor Jenderal. Meski tergolong cepat, namun tidak pernah menempati posisi strategis dalam kemiliteran di TNI. Beberapa kali belajar di luar negeri.

Diusianya yang harusnya menjadi pucuk pimpinan militer, Muskita hanya menjadi Pimpinan Sementara PT Departemen Store Indonesia Sarinah pada 14 November 1970. Lalu diangkat menjadi Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, pada Departemen Perdagangan dan Koperasi sejak akhir tahun 1970 hingga tahun 1978. Selanjutnya menjadi Duta Besar RRI untuk Jerman Barat sejak 1979. Sejak September 1983 diangkat menjadi sekretaris Wakil Presiden RI.[2]

Karir militer Muskita selesai ketika orde baru mulai merangkak dan berkuasa. Muskita bukan orang politik. Dan yang pasti Muskita juga bukan orang PETA yang punya kencendrungan dekat dengan Suharto dan dapat posisi empuk di militer pada rezim Suharto. Muskita bisa dibilang tersingkir. Mungkin karena dia bekas KNIL zaman revolusi yang jadi musuh TNI dan laskar.

Tidak diketahui dimana dia bertugas sebagai KNIL semasa revolusi. Bisa dipastikan dia hanya berpangkat Letnan KNIL, jika melihat latar belakang pendidikan dan kacaunya revolusi Indonesia yang membuat KNIL butuyh perwira berpendidikan sepertinya. Dia juga bukan perwira KNIL yang populer bagi para gerilyawan RI yang menjadi musuhnya. Berbeda dengan Tanasale.

Muskita, ketika baru ergabung dengan TNI sudah diikutsertakan dalam operasi penumpasan RMS. Pengalamannya di KNIL, dan latar belakang kesukuannya, dinilai potensial untuk menyelesaikan masaah RMS yang melibatkan banyak mantan KNIL

Adjudant Tanasale

Ketika revolusi kemerdekaan Indonesia berlangsung, masih banyak orang Ambon yang tergabung dalam KNIL. Mereka menunjukan diri sebagai prajurit tangguh. Tidak heran jika mereka kemudian direkrut dalam pasukan baret Hijau yang dilatih Westering. [3]

Salah satu pengikut Westerling adalah Adjudant (Pembantuy Letnan) Tanasale. Dia KNIL Agmbon yang hnya berpangkat Spaandrig (serdadu kelas I) sebelum revolusi Indonesia. Dia anggota Batalyon X di Senen, Jakarta—yang kerkenal ganas dan kejam pada pemuda Pro Republik Indonesia yang mereka temui. [4]

Tanasale konon telah membunuh beberapa orang Indonesia militan ghingga pangkatnya dinaikan menjadi adjudant (setara pembantu letnan) di KNIL dimasa revolusi. Ada kabar yang menyebutkan bahwa Tanasale telah masuk TNI dengan pangkat Kapten.[5]

Sebagai pengikut Westerling, Tanasale bahkan tidak tersentu sama sekali. Dia cukup beruntung karena didekati oleh Palupesy dari brigade Patimura.[6] Brigade Patimura adalah kelompok yang akan diberangkatkan ke Maluku Selatan. Termasuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Tanasale adalah salah satu dari sekian banyak serdadu KNIL. Namun dia beruntung karena bisa melewati banyak tingkatan. Mulai dari Spandrig lalu menjadi Adjudant. Dan di TNI dia bisa naik pangkat menjadi Kapten. Tanasale tidak memilih ikut ke Negeri Belanda. Jika ia ikut tentara Belanda, dalam Koninklijk Landmacth (Angkatan darat Kerajaan Belanda, disingkat KL) ia hanya akan menjadi adjudant. Dan bisa jadi hanya akan menjadi pensiunan Letnan saja. TNI mungkin menjadi sebuah harapan bagi mantan KNIL yang tidak ingin ikut dengan KL. Setelah itu, tidak ada cerita bagaimana nasib Tanasale di TNI.

Julius Tahiya

Masuk sebagai bintara KNIL di tahun 1937. Dia ikut menyeberang ke Australia ketika Perang Pasifik berkobar dan Tentara jepang masuk Indonesia. Julius Tahiya pernah melakukan pedaratan diam-diam di Saumlaki pada masa pendudukan Jepang sebagai bintara KNIL. Setelah PD II berakhir pangkat Julius Tahiya diaikan menjadi Letnan.

Semasa revolusi kemerdekaan RI, Julius Tahiya bekerja untuk kepentingan Belanda karena dia termasuk KNIL yang dibawa Belanda ke Australia. Julius Tahiya, sebagai orang Indoensia yang pastinya memiliki pengetahuan tentang Indonesia yang berusaha direbut kembali oleh Belanda, sangatlah penting kedudukannya. Karenanya Julius Tahiya dijadikan staf Jenderal Spoor dengan pangkat Kapten. Tahiya tidak lama menjadi staf Jenderal Spoor.[7]

Bulan April 1946 Tahiya meninggalkan KNIL untuk mengikuti pendidikan di jawatan Keuangan Jakarta. Hal ini adalah persiapan dirinya untuk menjalankan perannya dalam Negara Indonesia Timur. Selanjutnya, sebagai orang Maluku, Tahiya ditunjuk sebagai perwakilan orang-orang Maluku di NIT. Ketika Konferensi Malino pada 16 hingga 22 Juli 1946, Tahiya hadir. Dimana disusun struktur pemerintahan Federalis.[8] Julius hanya seorang federalis. Kedekatannya dengan Belanda hanya untuk mendukung kemajuan Indonesia Timur.

Meski mengaku keluar dari KNIL 1946, Julius masih sering terlibat dalam forum penting seperti KMB. Dia kemudian mencapai pangkat Letnan Kolonel.

Agenda pembubaran KNIL 26 Juli 1950, tentu membuat banyak KNIL frustasi. Meski mereka diberi pilihan untuk masuk TNI atau masuk KL dan ikut ke Negeri Belanda. Selama masa penantian itu mereka biasa berbuat rusuh. Mereka begitu tempramentalnya dengan membuat keribeutan. Mereka tampak belum puas bertempur melawan tentara Indonesia.

Sebelum KNIL dinyatakan bubar pada 26 Juli 1950, beberapa kerusuhaan antara KNIL dan TNI kerap terjadi. Seperti di Bandung, Jakarta, Bogor, Makassar dan Malang. Di Jakarta, Bandung dan Bogor masih terkait dengan peristiwa Westerling.

Sebenarnya, kepindahan orang-orag KNIL ke TNI bukan hal mudah. Bergabung di TNI berarti akan kehilangan penghasilan f 140 ssebulan. Orang-orang KNIL sendiri menganggap prajurit TNI umumnya buta huruf. Oran-orang KNIL yang akan bergabung dalam TNI sendiri merasa bahwa mereka akan dianggap sebagai pengkhianat turun-temurun karena semasa revolusi melawtan pemerintah republik. Mantan KNIL yang ingin bergabung ke TNI umumnya orang-orang Menado-Minahasa.[9]

Di Surabaya, muncul kegelisahan orang-orang KNIL. Mereka tampak tidak begitu suka dengan kehadiran Julius Tahiya yang mulai mengadakan sosialisasi mutasi KNIL ke TNI. Beberapa beranggapan bahwa tahiya mengkhianati mereka. Tahiya cukup kesohor di kalangan KNIL Ambon. Menjelang berakhirnya KNIL, Tahiya mulai dibenci oleh serdadu bawahan KNIL ambon. Mereka melihat Tahiya makin condong ke Republik Indonesia. Tahiya adalah anggota delegasi BFO dalam KMB. Serdadu KNIL di Surabaya begitu membencinya. Ketika Tahiya hendak memberikan sosialisasi pemindahan KNIL pribumi kedalam TNI.Sebagian beranggapan selaku orang Maluku Tahiya tidak paham dengan kondisi Maluku.

Julius Tahiya. Dia lebih memilih menjadi pengusaha daripada terus berkarir di TNI. Sebuah langkah bijak bagi seorang ingin membangun sebuah negeri baru. Surplus tentara adalah masalah bagi sebuah Negara yang baru mulai membangun. Latar belakang militer Julius Tahiya di KNIL, dimana dirinya pernah menjadi asisten Jenderal Spoor bisa menjadi masalah bila dirinya terus berkarir di militer. Julius Tahiya mungkin masih bisa hidup sebagai perwira militer dengan gaji kecil karena istrinya yang keturunan Australia adalah seorang dokter gigi.[10] Istri Julius Tahiya bahkan sudah merasa nyaman sebagai seorang istri perwira dan menentang rencana Julius yang ingin keluar sepenuhnya dari dinas militer.[11] Padahal posisi seorang perwira secara ekonomis di masa itu sangatlah lemah, meski tiap bulan dapat gaji. Pilihan Julius keluar dari TNI tepat. Dia akhirnya menjadi pengusaha terkenal yang memiliki usaha minyak dan bank. Sebelum masuk KNIL tahiya meman sudah punya bakat dagang.

[1] Rosihan Anwar, Sejarah Kecil “La Petite Histoire” Indonesia, Jakarta Kompas, 2004. h. 52-53.

[2] Muskita pernah menjadi pelatih olahraga perahu layar (sailing). Dan ikut serta dalam olimpiade perahu layar di Napoli Itali. Dia juga pernah menjadi Duta Besar RI untuk Jerman Barat (1983-1988) dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1988-1993). Dirinya pernah mendapat Groot-Officier in de Orde van Oranje-Nassau dari pemerintah belanda 1990. Josef Muskita tutup usia pada 1 Mei 2006. (http://anakmaluku.blogspot.com/): Harsya Bachtiar, Siapa Dia: Perwira Tinggi TNI AD, Jakarta, Djambatan, 1988. hlm., hlm. 217.

[3] Laporan Djawatan Kepolisian Negara kpada Pemangku jabatan Presiden RI, perdana Menteri RI, Jaksa Agung,, Yogyakarta 21 Februari 1950. No Polisi: 278/AR/PAM/DKN/50. Perihal Aksi Westerling. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara Bagian PAM Yogyakarta beserta lampiran. (Desember 1949, Januari, Maret 1950)

[4] Laporan Djawatan Kepolisian Negara kpada Pemangku jabatan Presiden RI, perdana Menteri RI, Jaksa Agung,, Yogyakarta 21 Februari 1950. No Polisi: 278/AR/PAM/DKN/50. Perihal Aksi Westerling. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara Bagian PAM Yogyakarta beserta lampiran. (Desember 1949, Januari, Maret 1950)

[5] . Laporan Pengawas Aliran Masyarakat kepada Kepala Polisi Keresidenan Bogor di Bogor Tanggal 5 Juli 1950. No: 84/rahasia, Perihal: Suasana Kalangan KNIL, KL dan TNI. (Koleksi ANRI: KPM RI Yogyakarta. No 130 RA 5. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara bagian PAM Mengenai Insiden antara KNIL dan TNI beserta Lampirannya (Januari, februari, Mei, Juni, Juli 1950)

[6] Laporan Djawatan Kepolisian Negara kepada Pemangku jabatan Presiden RI, perdana Menteri RI, Jaksa Agung,, Yogyakarta 21 Februari 1950. No Polisi: 278/AR/PAM/DKN/50. Perihal Aksi Westerling. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara Bagian PAM Yogyakarta beserta lampiran. (Desember 1949, Januari, Maret 1950)

[7] Julius Tahiya, Horizon Beyond, ab. Melani Budianta, Melintas Cakrawala: Kisah Sukses Pengusaha Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1997, hlm. 37-56, 71.

[8] Ibid., hlm. 73-74.

[9] Lampiran Pengakuan Tuan Korro. Laporan Pengawas Aliran Masyarakat kepada Kepala Polisi Keresidenan Bogor di Bogor Tanggal 5 Juli 1950. No: 84/rahasia, Perihal: Suasana Kalangan KNIL, KL dan TNI. (Koleksi ANRI: KPM RI Yogyakarta. No 130 RA 5. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara bagian PAM Mengenai Insiden antara KNIL dan TNI beserta Lampirannya (Januari, februari, Mei, Juni, Juli 1950).

[10] Julius Tahiya, op. cit. hlm. 43, 75-76.

[11] Ibid., hlm. 105.

Rabu, Januari 12, 2011

Jan Rapar

Sosok Preman ideal. Dia seorang revolusioner yang punya jasa Republik, namun belakangan dia terlihat sebagai seorang kontrarevolusioner.


Jan Rapar (bertopi) bersama Evert Lengkai

Berdasar pengakuan Vintje Sumual, Rapar adalah bagian dari kelompomk Senen. Dia bagian dari kelompok Preman pimpinan Imam Syafei alias bang Pie’i. Mereka tergolong sebagai bagian dari kelompok yang kemudian pro kemerdekaan Indonesia. Mereka dicap sebagai bagian dari dunia hitam yang menguasai kawasan Senen.[1]

Di Senen, rapar bukan satu-satunya orang Menado-Minahasa. Rapar adalah mantan KNIL. Di masa pendudukan Jepang, Rapar sudah menjadi preman di Senen. Rapar dikenal sebagai manusia bersosok tinggi besar. Dengan berat badan 100 Kg. Postur yang baik untuk seorang preman. Dia dikenal sosok tukang berkelahi. Dan seringkali terlibat perkelahian. Jika sudah begini, Mr AA Maramis, seorang tokoh pergerakan yang juga seorang advocate turun tangan. Dan orang Menado-Minahasa yang ribut dan ditahan polisi itu pun bebas.[2] Hubungan preman Indonesia dengan kaum pergerakan pun terjalin. Meski hanya dalam batas tertentu.

Preman Menado Minahasa, di masa pendudukan Jepang, biasa berhubungan dengan pemuda Menado-Minahasa di Asrama Kaigun (Angkatan Laut Jepang) Gunung Sahari. Di Angkatan laut Jepang, Laksamana Maeda, duduk sebagai wakil Angkatan Laut di Jakarta. Jakarta sendiri adalah pusat Angkatan Darat ke-16 yang menguasai Jawa.

Selama pendudukan Jepang, Maeda pernah mendirikan Choku-eitai, semacam organisasi semi-militer dengan berbagai macam fungsi seperti kontraintelejen, sabotase, dan pengintaian. Guna menghadapi sekutu yang bisa mendarat kapan saja ke Hindia Belanda. Beberapa anggota dari kelompok ini adalah orang-orang Minahasa—yang direkrut di Jakarta karena tidak bisa pulang ke kampungnya ketika Jepang mendarat. Maeda diberi tugas oleh petinggi Angkatan Laut di Makassar untuk mengawasi orang-orang Minahasa itu. Sebagian diantaranya adalah mantan KNIL yang kehilangan pekerjaan dan terpisah dari keluarganya. Organisasi ini terkesan seperti pengawal Maeda.

Di Jawa, pusat Angkatan Laut adalah di Jakarta dan Surabaya, karenanya ketika KRIS berdiri, dua kota in menjadi basis KRIS yang terkuat. Di Surabaya, organisasi ini terkesan dikuasai orang-orang Menado saja dan memfokuskan diri sebagai unit militer. Di Jakarta, KRIS tidak hanya kegiatan militer saja dan tidak hanya terdiri dari orang Menado saja, tap banyak suku di Sulawesi. Di KRIS Jakarta, organisasi API Sulaawesi pimpinan Jan Rapar. Dimana KRIS kemudian membangun diri sebagai unit militer bersenjata yang berdisiplin baik seperti tentara resmi.[3]

Gejolak Revolusi

Sebagai bagian dari kelompok Senen, Rapar juga pendukung Republik di kala Republik baru lahir. Para pemuda Manado-Minahasa di Jakarta, baik yang biasanya bergiat sebagai Preman Senen maupun pemuda penghuni Asrama Kaigun Gunung Sahari, berada dibawah komando Rapar mengamankan proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan cara mereka. Mengamankan area sekitar Pegangsaan, dengan berjaga. Menjaga kemungkinan gangguan Angkatan Darat yang bisa datang kapan saja. Angkatan darat dengan angkatan Laut Jepang punya kedekatan dan pemikiran berbeda tentang orang-orang Indonesia yang ingin merdeka.

Ketika Indonesia Merdeka, sebagian orang Menado-Minahasa resah. Mereka, karena selama Kolonial Hindia Belanda berkuasa di Indonesia, banyak orang Menado-Minahasa begitu dekat dengan pemerintah colonial. Banyak diantara mereka yang menjadi pegawai pemerintah Kolonial. Juga menjadi serdadu pemerintah Kolonial KNIL. Kedekatan itu berdampak buruk bagi orang-orang Menado-Minahasa di sekitar Jakarta. Mereka menjadi sasaran buta orang-orang Indonesia anti Belanda yang terjebak dalam euphoria kemerdekaan Indonesia. “Masa bersiap” juga menjadikan mereka terteror. Mereka bukan orang pro Belanda.

Karenanya, orang-orang Menado-Minahasa mendirikan organisasi yang berusaha melindungi orang Menado-Minahasa dari serangan buta orang Indonesia yang dendam pada Belanda. Image orang Menado-Minahasa sebagai Andjing NICA dalam pikiran orang awam yang dendam pada Belanda harus diubah. Dengan susah payah Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi pun terbentuk. Tidak hanya kelompok Menado-Minahasa asal Sulawesi utara saja. Orang Sulawesi Selatan juga bergabung. Salah satu yang kesohor adalah kahar Muzakar. KRIS terbentuk pada 9 Oktober 1945.[4]

Rapar dan kawan-kawan Menado-Minahasa-nya, yang biasa bentrok dengan orang-orang pro Belanda di sekitar Senen, juga dihubungi oleh Willy Pesik, seorang yang kemudian menjadi petinggi KRIS. KRIS sebenarnya sebuah organisasi sosial saja. Dalam perkembangannya, KRIS memiliki seksi pertahanannya sendiri. Seksi pertahanan ini lalu berkembang menjadi sayap militer yang kekuatannya satu Brigade. Rapar adalah salah satu pimpinannya. Bahkan yang paling berpengaruh selama revolusi.

Rapar adalah tipikal gerilyawan nekad. Bersama Lombogia dan Hermanus mereka sering menyerang markas batalyon X yang terkenal ganas di Senen. Bersama preman senen pimpinan Imam Syafei, preman Minahasa kerap melakukan penghadangan untuk memperoleh senjata.

Sebagai pemimpin militer KRIS, Rapar sering terlibat dalam pertempuran melawan pasukan NICA (Nederland Indies Civil Administration atau Pemerintah sipil Hindia Belanda)—yang membonceng pada sekutu. Karenanya Rapar menjadi orang yang begitu dihormati oleh orang-orangg KRIS. Rapar paling sering terlibat bentrokan dengan personil KNIL dari Batalyon X di Senen dan sekitarnya. Batalyon itu juga terkenal ganas di sekitar Jakarta. Namun sebagian orang dari Batalyon itu, mereka yang berasal dari suku Menado-Minahasa, diam-diam bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. Kadang-kadang mereka memberi bantuan diam-diam pada Republik.[5]

Dalam perkembangannya, Rapar memimpin KRIS bersama Evert Lengkai. Orang yang pernah terlibat dalam Peristiwa 10 November 1945 dan kenal baik dengan Bung Tomo—pimpinan rakyat dalam Peristiwa 10 November itu. Dimana Rapar menjadi Wakil Lengkai selaku Komandan Brigade. Namun pengaruh rapar jauh lebih besar di pasaukan ketimbang Lengkai. Belakangan, Evert Lengkai mundur dan menyerahkan komando pasukan pada Rapar pada 1947.[6]

Selama kepemimpinannya, Rapar tergolong orang selalu peduli pada bawahannya. Namun bersikap tegas dan menghukum siapa saja bawahannya yang bersalah. Rapar juga selalu menempatkan orang pintar pada posisi yang tepat dalam komandonya.

Pasukan KRIS juga menjadi bagian dari pasukan militer Indonesia, yang kala itu bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang melawan tentara Belanda. Meski masuk dalam ketentaraan, struktur tidak banyak berubah. Dalam artian kepemimpinan masih dipegang oleh orang-orang Sulawesi yang sejak awal bergabung dengan KRIS. KRIS justru semakin besar. Bukan hanya orang Sulawesi tapi dari suku lain. Nama KRIS juga mash dipakai sebagai nama brigade. Ketika pemerintahan republik menyingkir ke Jogjakarta, pasukan Rapar juga ikut ke Jogja dan bertemu dengan pasukan KRIS lain. [7]

KRIS menjadi laskar tangguh karena banyak orang tua mantan serdadu KNIL sebelum jepang mendarat, juga masuk KRIS. Dimana orang tua itu akan berbagi ilmu dan pengalaman militernya.[8]

Tersingkir

Belakangan, Rapar tersingkir dalam ketentaraan. Dia kehilangan posisi penting yang biasa dia pegang dalam pasukan KRIS. Dimana kemudian dia keluar dari ketentaraan. Bersama beberapa pengikut setianya, Rapar kembali ke Jakarta yang berstatus sebaga daerah pendudukan Tentara Belanda. Rapar tetap menjadi orang berpengaruh di kalangan bekas pejuang yang pernah bertempur di sekitar Cikampek. Disini Rapar memiliki ratusan pengikut yang siap bertempur bersamanya.[9]

Rapar kemudian terlibat dalam gerakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) Westerling. Rapar nampak begitu kecewa pada tentara republik dalam gerakan Weserling itu, rapar bahakan tergolong begitu bersemangat. Tidak begitu jelas apa lasan Rapar ikut Westerling? Beberapa kawan seperjuangan Rapar semasa revolusi yakin jika Rapar hanya membayangi Westerling alias memata-matai Westerling. Seperti juga alasan frans Nayoan, seorang mantan polisi.

Rapar tewas dalam sebuah serbuan ke sebuah asrama polisi ketika akan merebut senjata dari para polisi itu. Rapar tertembak. Ketika itu pasukan APRA gagal memperoleh senjata untuk gerakannya pada 23 Januari 1950. Rapar lalu mengusulkan untuk merebut senjata dari asrama polisi, Westerling setuju. Rencana gagal dan Rapar bernasih naas dan tewas.[10]

Begitulah akhir nasib dari Jan Rapar. Bekas KNIL sangar yang ditakuti. Rapar yang selalu berlinang air mata ketika mengingat kampung halamannya di Sulawesi Selatan sana yang selalu dia rindukan. Perang Dunia II dan revolusi Indonesia menghalanginya pulang. Begitulah pengakuan Vintje Sumual, kawan seperjuangan Rapar dimasa revolusi.

[1]Lihat Laporan Djawatan Kepolisian Negara Bagian PAM kepada Presiden RI di Yogyakarta, tanggal 21 Februari 1950.No. Polisi 278/A.R./PAM/DKN/50. (Koleksi Arsip Nasional)

[2] [2] Bert Supit & BE Matindas, Ventje Sumual: Menatap Hanya Ke Depan (Biografi Seorang Patriot, Gembong Pemberontak), Jakarta, Bina Insani, 1998, hlm. 40-100.

[3] Ben Anderson, Java in the Time of Revolution, Occupation and Resistence, 1944-1946, ab. Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 , Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988, hlm. 290-291.

[4] Jozef Warouw, KRIS 45 Berjuang Membela Negara: Sebuah Refleksi Perjuangan Revolusi KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1999, hlm. 37-46.

[5] Ibid., hlm. 51 & 86.

[6] Ibid., hlm. 95-100.

[7] Ibid., hlm. 160-163, 183, 283.

[8] Ibid., hlm. 68, 143 & 154.

[9] Persatuan Djaksa-djaksa Seluaruh Indonesia, Peristiwa Sultan Hamid II,Jakarta, Fasco Jakarta, 1955, hlm. 60-80: Lihat Laporan Djawatan Kepolisian Negara Bagian PAM kepada Presiden RI di Yogyakarta, tanggal 21 Februari 1950.No. Polisi 278/A.R./PAM/DKN/50. (Koleksi Arsip Nasional)

[10] Dominique Venner, Westerling de Eenling, Amsterdam, Uitgeverij Spoor, 1983, hlm. 348-350.


Jumat, Januari 07, 2011

Akhir Andjing NICA


Batalyon KNIL terganas ini andalan bagi NICA di zaman revolusi. Akhir pahit harus mereka alami di Balikpapan. Dimana mereka harus berhenti jadi andjing NICA.



Menjelang kalahnya Jepang, KNIL dibangun kembali. Bekas KNIL, juga tawanan perang, pun direkrut menjadi serdadu KNIL. KNIL sedang membutuhkan personil banyak pasca kalahnya balatentaara jepang. Batalyon Infanteri II, IV dan V adalah pasukan yang terdiri dari bekas tawanan juga. Namun, revolusi Indonesia yang buta dan tak kenal belas kasih kepada orang-orang pro Belanda, juga yang dituduh pro Belanda, harus melahirkan dendam bagi sebagian orang. Inilah yang terjadi di masa bersiap. Dimana banyak orang pro Belanda, maupun yang dianggap pro Belanda, mengalami ketakutan luar biasa dari orang-orang Indonesia yang begituy antipati pada belanda.

Rasa dendam pun lahir dari sekelompok orang yang kemudian rela menjadi serdadu KNIL. Dimana mereka bergabung sebuah Batalyon paling brutal di zaman revolusi Indonesia. Batalyon Infanteri V KNIL. Alias Andjing NICA. Batalyon yang biasa bertempur dengan gaya beringas di front-front pertempuran. Batalyon ini dibentuk di Bandung.[1]



Lahir Untuk Bertempur

Batalyon V terbentuk pada 2 Desember 1945. ketika ‘masa bersiap’ mencekam banyak orang Eropa maupun Ambon dan Menado. Nyawa mereka terancam oleh kacaunya revolusi Indonesia yang diwarnai kebencian kepada hal-hal berbau Belanda, termasuk orang-orang Belanda dan semacamnya. Tidak heran jika banyak orang-orang Belanda dan Ambon pro Belanda menaru dendam atas kebencian orang-orang Indonesia di kemudian hari. Dua bulan, antara September hingga November, setidaknya menjadi masa mengerikan bagi beberapa orang itu.[2]



Terbentuknya batalyon V bisa menjadi solusi mereka. Dengan bersenjata mereka bisa menjaga diri dan terlepas dari rasa takut atas serangan kekacauan revolusi. Masa mencekam itu segera tertutup oleh rasa benci tak terhingga pada orang-orang Indonesia.

Batalyon ini bertempur dengan ganasnya. Banyak bekas pejuang kemerdekaan mengerti betapa menerikannya pasukan ini. Pasukan ini menyebut dirinya sebagai Andjing NICA. Lamban mereka adalah anjing galak berwarna merah. Batalyon ini terlibat dalam beberapa seranga militer Belanda ke Jawa Tengah.[3] Di seragamnya,mereka selal menuliskan kata “Andjing NICA”. Orang-oran kemudian lebih mengenal pasukan ini sebaai Andjing NICA.

Istilah Andjing NICA lebih banyak diketahui orang sebagai julukan atau stigma kepada orang-orang Indonesia pro Belanda. NICA sendiri adalah pemerintahan sipil di Hindia Belanda. Sebuah badan untuk mengambil-alih kembali kekuasaan belanda atas Hindia Belanda sebagai bagian dari republik Indonesia. Orang Indonesia pro Belanda tersebut biasanya, orang-orang pribumi yang menjadi pegawai sipil maupun militer pada pemerintah Hindia Belanda. Secara tidak langsung, orang-orang Ambon maupun Menado yang berdomisili di Jawa dan keluarganya berkaitan erat dengan KNIL maupun pegawai gubernemen kena getahnya pula.

Diera penuh kekacauan itu, keluarga Ambon maupun menado di Jakarta, Bandung dan sekitarnya terancam keselamatannya karena revolusi membunuh orang yang dianggap pro Belanda tanpa pandang bulu.

Padahal tidak sedikit orang Menado maupun Ambon yang berpihak pada Republik dan dimasa sebelum perang terlibat dalam pergerakan nasional. Hanya image belanda itam atau Andjing NICA saja yang ada di kepala orang-orang tentang orang Ambon maupun Menado.

Selain batalyon V,ada juga batalyon X KNIL yang berkedudukan di Senen, tepatnya di bekas daerah yang kini menjadi Hotel Borobudur. Batalyon ini terdapat banyak orang Ambon sebagai serdadu bawahannya. Mereka tidak kalah ganasnya kepada oran-oran Indonesia pro republik.

Dari batalyon X ini, Westerling memperoleh banyak pasukan untuk dijadikan inti dari Depot Speciale troepen. Mereka terlibat dalam “kampanye pasisfikasi”ala westerling di Sulawesi Selatan. Batalyon X d Senen banyak beranggotakan orang-orang Ambon yang temperamental. Mereka mudah tersulut emosinya. Hingga mereka sering bentrok dengan pemuda-pemuda Indonesia, terutama yag pro republik.[4] Orang-orang biasa menyebut pasukan ini Belanda Hitam. Mereka dianggap lebi belanda daripada orang belanda sendiri.

Beberapa orang Ambon, yang kerap muncul di Senen, bernama Wimpie, Albert, Mingus Gerardus dan Polang, konon pernah menyuruh orang republic yang mereka temui ntuk menelan lencana merah putih yang dikenakannya.[5]

Nyaris tidak ada gambaran positif dari oran Indonesia tentang Andjing NICA. Menurut orang-orang KRIS, sebagian anggota Batalyon X, ada juga yan mau membantu republic diam-diam.

Andjing NICA bertempur dengan ganasnya. Layaknya marsose dimasa perang aceh. Dimana bertempur adalah dengan penuh kebencian. Bukan bertempur dengan kehormatan. Mereka bertempur untuk Nederlands Indies Civil Administration (NICA)—pemerintah sipil di Hindia Belanda—yang baru dibentuk dan berkuasa atas nama kerajaan Belanda di Indonesia selama revolusi. Sangat layak jika juluki diri mereka, atau orang lain menjuluki mereka, Andjing NICA.







Sebuah Batalyon



Batalyon Andjing NICA, semula beroperasi di Jawa Barat di bawah komando Brigade W. Sejak 2 Desember 1945, Batalyon ini menyusun kekuatan di Bandung. Dimana diadakan pendidikan dan perekrutan oleh mantan Kapten KNIL JC Pasqua—yang semula jua bekas tawanan Jepang. Batalyon ini dibentuk di gedung bekas Koninklijk Militaire Academie (KMA) Bandung.

23 Desember 1945 hingga 18 januari 1946 kekuatannya terus dibangun di sekitar Bandung dan Cimahi. Lalu Juni 1946, batalyon tersusun dalam 4 kompi. Dimana mereka memakai warna dasi yang berbeda. Kompi Eropa dengan dasi hijau, Kompi Ambon dengan dasi merah, Kompi Timor dengan warna hitam. Dan kompi campuran denan warna biru.

Batalyon V Infanteri memilih julukan itu tetapi gelar kehormatan yang disajikan dalam lambang lengan dirancang oleh E.C.E. Amade.[6] Lambang Anjing menyala pun dipakai.



Andjing NICA yang Lain

Istilah Andjing NICA juga dipakai untuk menyebut` orang-orang pro Belanda di kalangan sipil. Siapa pun yang dekat dengan orang Belanda, meski tidak terkesan politis dan sekedar bersahabat, juga bisa kena cap Andjing NICA. Revolusi Indonesia meman buta dan orang tak bersalah pun bisa kena getah.

Kebencian antar manusia, terutama pada yang berbeda kulit, begitu besar di Indonesia. Seperti yang tulis dalam Menjadi Tjamboek Berdoeri: memoir Kwee Thiam Tjing, digambarkan:



Di Malang, masih terdapat banjak pendoedoek golongan Belanda(kebanjakan golongan Indo) maka tentoe sadja saling bentji membentji dan mentjoerigai ada hal² jang bisa dimengerti. Satoe waktoe terdapat aroes apa jang dinamakan “andjing NICA”. Dengen Nica dimaksoedken kekoeatan militer Belanda jang datang poela dengen membontjeng dibelakang sekoetoe. Baik di stasion kereta-api, di pasar, di kendaraan oemoem, dimana sadja, kalaoe badan lagi apes dan kita ditjoerigai sebage “andjing Nica” (mata² Belanda), nasib kita aken djelek sekali. Soedah bagoes kalaoe tjoeman dihadjar dan digeboekin sadja. Dan ini tjap “andjing Nica” tida pandang boeloe, tjoema oedji nasib. Mala orang² Indonesia asli tida djarang jang ditjap sebage mata² Belanda, hal mana saja sendiri saksikan kebenarannja, kalaoe ditilik dari matjamnja orang² jang lagi alamken nasib djelek begitoe.[7]



Begitulah revolusi Indonesia. Sementara yang dicap Andjing NICA terus kena sial, Batalyon Andjing NICA terus brutal melawan tentara republic dan laskarnya. Andjing NICA pernah diterjunkan ke Jawa Tengah. Tentu saja berhadapan dengan TNI yang berkonsentrasi di pedalaman Jawa. Kebrutalan itu membuat mereka kesohor dimasa revolusi.





Balikpapan: Akhir Sejarah Andjing NICA

Balikpapan adalah kota penting dengan instalasi minyak. Tidak heran jika KNIL ditempatkan di Balikpapan. Kehadiran Andjing NICA juga cukup penting di kota itu. Setidaknya hanya menjaga kota dan instalasinya. Perlawanan bersenjata di Kalimantan timur tidak separah di Jawa. Andjing NICA tidak terlalu banyak musuh berat di Balikpapan. Perlawanan bersenjata dari pihak RI lebih banyak terjadi diluar kota balikapapan. Pemerintah NICA tentunya telah memperkuat militernya di kota balikapapan. Hingga angguan keamanan cukup minim. Dalam sebuah tulisan Bambang Sadaryanto Santoso di multiply.com:





Meskipun di Balikpapan masih ada sebahagian pasukan dari Yon Anjing NICA yang merupakan seteru lama (yang mundur dari Jawa Tengah) dan KMK hanya membawahi empat orang TNI saja, tampaknya tantangan itu dapat dilewati.

Dari buku Anjing NICA terbaca bahwa Yon V (Anjing NICA) / KNIL tsb. diangkut mundur dengan kapal laut, diantaranya adalah kapal Waibalong, pada bulan Desember 1949 dari Semarang dalam suasana hati depresi. Letkol Van Santen yg telah menjadi komandan Batalyon selama 4 tahun baru diganti dengan Letkol Van Loon. Pada pagi hari sebelum Waibalong bongkar sauh, Van Loon cedera akibat kecelakaan (jip nya menabrak pohon) sehingga pimpinan batalyon diserahkan kepada perwira paling senior, yaitu Kapten Schlosmacher. Sementara loading barang2 ke kapal cukup rumit sehingga banyak yang rusak. Setelah mendarat di Kalimantan, staf dan kompi staf nya ditempatkan di Balikpapan

. Kompi-kompi lainnya ditempatkan di Samarinda, Samboja dan Sepinggan.

Letnan Toorop yg saat itu menjabat Komandan Kompi dari Yon XIV / KNIL dan sudah beberapa lama bertugas di Balikpapan menulis: Karena jumlah perwira sangat minim, terjadilah situasi-situasi aneh. Saya Komandan Kompi 3 / Yon XIV, tetapi hrs merangkap komandan kompi staf / Yon XIV. Betul2 gila (helemal te gek) ketika saya hrs juga mengurus kompi staf / Yon V (Anjing NICA) yg baru mendarat.[8]









Ketika Batalyon Andjing NICA ditempatkan di Balikpapan, sebagian besar serdadu KNIL sebenarnya dalam kondisi terpuruk. KNIL yang dalam proses pembubaran. Seorang perwira KNIL di Balikpapan merasa mengalami situasi yang unik. Dimana dirinya harus sekaligus memimpin tiga kompi dari dua batalyon berbeda.

Semua anggota KNIL yg berminat beralih ke APRIS ditempatkan di Batalyon XIV. Sisanya ditempatkan di batalyon V yg kemudian akan dibubarkan. Si perwira ini, secara resmi pada tanggal 16 Mei 1950 juga dipindah dari Batalyon XIV ke Batalyon V. Namun dia tetap di batalyon sebelumnya juga sampai hari pembubarannya.

Aksi APRA (Westerling) di Bandung dan Jakarta. Juga Peristiwa Andi Azis di Makasar juga mempengaruhi anggota KNIL di Balikpapan. Nyaris saja aksi seperti itu terjadi di Balikpapan. Hal ini mungkin saja terjadi di kalangan KNIL yang sebagian besar temperamental. Schlosmacher menulis:



“Pemberontakan telah dilakukan di Balikpapan oleh anggota KNIL terutama yang asal Ambon, yg antara lain kecewa karena tdk diperbolehkan kembali ke Ambon. Mereka mengancam untuk membakar kilang minyak BPM. Mereka menduduki tangsi, menguasai gudang senjata dan amunisi serta menyekap beberapa perwira dan tidak mengijinkan seorang pun masuk tangsi. Untunglah situasi ini diselamatkan oleh Jenderal Scheffelaar, yang pernah jadi komandan Anjing NICA. Ia memerintahkan agar kapal Waterman - yg berisi ex KNIL (kebanyakan asal Ambon) yg baru dikalahkan APRIS di Makasar - singgah di Balikpapan. Lalu pimpinan pemberontak KNIL di Balikpapan yg asal Ambon dibiarkan berbicara dgn konco (teman2) nya di kapal. Pendekatan ini berhasil. Pemberontakan di Balikpapan diakhiri dan pemberontak setuju menyerahkan senjatanya bila mendapat 'perlindungan KL'. Hal ini berlangsung dan orang-orang asal Ambon yg tidak mau beralih ke APRIS itu diberangkatkan dengan kapal ke Jakarta dan kemudian ke Negeri Belanda.”[9]



KOndisi di Balikpapan mungkin berbeda dengan KNIL di Bandung,Jakarta, Malang, maupun di makassar. Dimana bekas KNIL itu harus menentukan pilihan yang keduanya tidak menyenangkan. Mereka terkalahkan secara politis. Diplomasi Belanda harus kalah dengan diplomasi Republik, walau secara militer, Belanda lebih unggul. Sebagian KNIL diberi pilihan juga untuk bergabung dengan tentara Republik. Soal ini Toorop juga menulis:



“Serah terima resmi dari pasukan KNIL (yang mau beralih ke APRIS) dilakukan melalui suatu upacara militer. Mayor Wiluyo (Puspoyudo), otoritas militer APRIS tertinggi setempat, menerima pasukan itu. Sisa pasukan KNIL (yg tidak mau beralih ke APRIS) secara resmi dibubarkan melalui surat Ratu Belanda tanggal 20 Juli 1950. Kelak Balikpapan (dan Dewan Kalimantan Timur) ikut mendukung peleburan RIS menjadi RI (NKRI) pada tanggal. 17 Agustus 1950.”[10]



Bubarnya KNIL, berarti bubarnya Andjing NICA. Riwayat mereka tamat bersama riwayat NICA selaku pemegang kuasa atas daerah pendudukan Belanda di Indonesia semasa revolusi.

Djokja, 19 Desember 1948


“Good Luck,” ucap Spoor si legercommant KNIL yang membawahi tentara Belanda dan tentara Hindia belanda di Indonesia. Spoor menucapkannya pasukan payungnya. Ujung tombak serangan ke jantung Republik musuhnya itu. Dua puluh menit kemudian, pasukan-pasukan itu duduk dalam pesawat untuk berangkat ke Yogyakarta.



Spoor tampaknya optimis akan serangannya kali ini. Setelah tertunda operasi impiannya itu terlaksana juga. Tidak tanggung-tanggung, Spoor mengerahkan pasukan baret merah (penerjun) dan baret hijau (komando) yang pernah dipimpin Westerling. Kedua pasukan itu cukup terlatih.



Pasukan payung terjun dari udara. Mereka berangkat dari Andir. Sementara itu pasukan baret hijau berangkat dari Semarang. Naik pesawat juga namun mereka mendarat bersama pesawat. Berbeda dengan pasukan payung sebagai pasukan pendahulu yang membersihkan area pendaratan.



Sementara itu pasukan pendukung lain, seperti pasukan brigade T pimpinan Kolonel van Langen akan memasuki Jogja setelah pasukan merah dan hijau memasuki kota Jogja. . Operasi bersandi "Gagak," alias Kraai Operatie itu pun sukses.



Jantung Republik



Mengapa Jogja? Kota ini begitu penting karena disinilah pusat pemerintahan Republik yang telah menyingkir dari Jakarta yang kacau oleh kebrutalan tentara Belanda. Salah satu sumber kerusuhan itu adalah Batalyon X KNIL, yang markasnya kini menjadi Hotel Borobudur. Batalyon ini cukup sering adu fisik dengan orang-oran pro Republikdi Senen.



Mengapa Jogja? Kota ini relatif tenang. Selama Gunung Merapi tidak sedang erupsi tentunya. Selain itu, Bangunan fisik untuk perkantoran di Jogja bisa diandalkan untuk menjalankan roda pemerintahan. Malioboro terdapat gedung yang bisa dijadikan perpustakaan umum. Dan ada bekas benteng Vredeberg dan istana bekas gubernur Jawa Bagian Selatan yang kini disebut Istana gedung Agung itu. Sultan Jogja, Hamengkubuwono IX, yang berkuasa atas Jogja juga dengan rela menerima Jogja sebagai Ibukota.



Menjadikan Joja sebagai ibukota tentu hal yang tepat bagi kaum Republik. Hingga sebagai ujud terimakasih pada Jogja, selama puluhan tahun Jogja menjadi daerah istimewa. Dimana Sultan Hamengkubuwono dan Sri Paku Alam yang memerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Rakyat Jogja pada umumnya menerima dua bangsawan itu sebagai pemimpin. Dan ketenangan pun tercipta.



Jakarta, selaku pusat Republik selama puluhan tahun menerima kondisi Yogyakarta. Meski terkesan feodal, Keistimewaan Jogja itu seolah menjadi identitas daerah Jogja pada umumnya. Dimana sisa kejayaan Mataram masih tersisa. Di kota yang katanya feodal inilah, banyak orang dari luar Jogja yang sedah sekolah atau kuliah belajar apa itu demokrasi. Termasuk saya sendiri.







“Good Luck”



Republik Indonesia memang beruntung punya Jogja. Yang membantu Republik berdiri tegak dari kehebatan militer Belanda. Beruntung sekali bisa ke Jogja. Apalagi menguasainya. Hingga untuk merebutnya, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor pun harus berucap “Good Luck” (semoga beruntung) pada pasukannya yang akan terjun ke Jogja. Spoor nampak berdoa dalam ucapannya itu.



Singkat kata, penerjunan pasukan pun sukses. Tidak sampai sehari kota Jogja dikuasai pasukan Spoor. Tentara Belanda memang beruntung. Dengan susah payah Joja sebagai jantung republik Indonesia akhir mereka kuasai.



Dari foto-foto yang saya lihat, tentara Belanda, baik KNIL maupun KL, tampak gembira memasuki Jogja—walau mereka juga takut kena peluru nyasar tentara republik yang kapan saja akan menyerbu mereka di Jogja.

“Good Luck,”



“Good Luck,” tentara Belanda, atau bandit-bandit VOC kata Romo Mangun dalam novel Burung Burung Manyar-nya, sangat beruntung. Doa Spoor terkabul lewat kerja keras pasukannya yang hebat itu. Jogja mereka kuasai. Namun mereka tidak berani macam-macam pada Sultan Jogja. Sungguh musuh yang beradab.



Beruntunglah tentara Belanda itu. Namun Republik lebih beruntung lagi karena Jogja kemudian kembali ke tangan Republik pasca Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Atas dedikasinya Jogja lalu menjadi daerah istimewa selama pemerintahan beberapa Presiden. Bahkan Presiden suharto yang paling dikator pun tidak berani mengusiknya.



Dan sungguh tidak tahu diuntung, orang yang mencabut keistimewaan Jogja! Apalagi dengan menjual nama demokrasi. Bagaimanapun, demokrasi bukan sekedar memilih dan dipilih, atau juga ditetapkan. Demokrasi itu juga menghargai! Yang pasti juga, demokrasi tidak menjual nama demokrasi juga.



Beginilah Jogja! Tidak megistimewakannya mungkin sebuah pengkhianatan dalam perjuangan republik ini. Meski terkesan feodal, banyak orang belajar demokrasi disini.

Mbah Sireng van Bagelen


110 tahun silam. Pergantian abad modern, XIX menuju XX. Kata cerita yang kudengar dari Adik dari Eyang kakung, membuatku menyimpulkan Eyang buyut sudah jadi serdadu kompeni kala itu. Perang Aceh juga sedang berkobar kala itu. Para serdadu kompeni, yang kelak disebut KNIL, dengan dibantu Marsose yang jago berantem itu.



Eyang buyut, kami menyebutnya Mbah Sireng, berasal dari bukit-bukit kecil di Bagelen yang tidak subur. Tanah yang tidak subur itu pula alasan banyak orang Bagelen jadi serdadu. Dari jaman kompeni sampe jaman Presiden NKRI berkuasa. Biasanya jadi serdadu rendahan. Serdadu rendahan tak tahu sekolah. Kalau mereka bisa baca tulis, di kompeni mereka bisa jadi kopral. Tidak jadi spandrig. Kata adik Eyang kakung, mbah buyut bisa baca tulis karena belajar di tangsi.



Orang Bagelen memang cocok jadi serdadu. Mereka bisa juga berkelahi. Konon, kampung-kampung di Bagelen didirikan pengikut Diponegoro yang dikalahkan dengan licik oleh Jenderal Mayor de Kock di Magelang (1830). Bisa dibilang umur sebagian kampung di Bagelen paling tua belum lebih dari 180 tahun. Makanya mereka juga punya darah petarung. Meski tidak sesangar orang KNIL dari luar Bagelen seperti dari Ambon. Menado, Minahasa, timor dan lainnya.



Kata sejarawan sableng, Ambon adalah KNIL paling setia. Mungkin seperti ituy, tapi harus dicatet, orang Jawa adalah penyumbang terbanyak serdadu KNIL. Tahun 1916, terdapat 17.854 orang Jawa; 1.792 orang Sunda; 151 orang Madura; 36 orang Bugis; 1.066 orang Melayu; 3.519 orang Ambon; 5.925 orang Menado dan 59 orang Alfuru dalam formasi KNIL. Banyak orang Jawa kan? Eyang buyut bagian dari serdaduy KNIL Jawa. Dia dari Bagelen.



Kata Adik Eyang Kakung lagi, Mbah Sireng pernah dikirim ke beberapa daerah di Nusantara. Ke Nias, Aceh dan daerah lainnya. Aku hanya bisa bayangkan kalau Mbah Sireng adalah bagian dari Serdadu Jawa yang tidak pakai sepatu kalo berjalan kaki dan bertempur. Orang Jawa paling sial di KNIL. Sepatu tidak pakai, gaji paling kecil.



Ada yang bilang Orang Jawa tidak loyal. Tapi tidak demikian kata menantu Van Heutz, si Jenderal Perang Aceh.Menantuy Van Heutz ituy menulis:



“Prajurit Jawa tidak rendah kualitasnyua, tetapi direndahkan oleh kita sendiri, orang-orang Belanda. Apakah kita tidak belajar dari sejarah perang Jawa, dimana orang-orang Jawa dapat berperang dengan gagah berani serta nekad, meskipun melawan kita, orang orang Belanda, yang jumlahnya lebih banyak. Karena ia tahu berperang untuk tujuan mulia. Kita tidak boleh melupakan orang Jawa setelah orang Aceh adalah lawan kita paling tangguh dan berani.”



Sejak itu Serdadu KNIL Jawa Bersepatu. Dan Mbah Sireng pun jadi Serdadu KNIL bersepatu. Pangkat terakhir Mbah Sireng adalah Spandrig. Dia rajin dimutasi petinggi KNIL ke beberapa daerah di Indonesia. Dia lalu dapet pensiun dari pemerintah kolonial. Kata Adik Eyang, uang pensiun spandrig KNIL Jawa cukup untuk hidup. Dengan uang itu anak Mbah Sireng, kakek dan saudaranya, bisa belajar baca tulis tanpa perlu jadi serdadu. Anak Mbah Sireng terbiasa dengan dunia serdadu. Anak tertuanya, seorang wanita, kawin dengan serdadu KNIL yang kemudian masuk TNI di zaman revolusi. Ketiga anak lelakinya, tidak ada yang jadi KNIL. Anak lekaki tertua, Eyang buyutku pernah jadi tentara Republik di zaman revolusi. Dia pernah jadi tawanan tentara Belanda. Hebatnya dia sukses kabur waktu mandi di sebuah kali. Entah di kali mana? Arah larinya ke kampung halannya di bagelen.



Di kampung eyang Buyut menikahi seorang gadis kampung juga, yang kelak jadi Eyang putriku. Waktu Tentara Belanda pergi, Eyang kakung dapet panggilan jadi serdadu lagi. tapi panggilan itu tidak dipenuhi. Dia pilih hidup tidak jadi serdadu seperti ayahnya, Mbah Sireng. Dia pilih kerja di Pertamina jadi terrain bewaging alias petugas keamanan di kilang minyak Balikpapan. Kata Eyang Putri, Eyang kakung jago nyanyi krongcong. Anak Lelaki kedua, dia pensiunan Pembantu Letnan TNI, istilah jaman Belandanya Adjudant. Dia dinas di kesehatan tentara KODAM Siliwangi. Di zaman revolusi, usianya baru belasan tahun. Dia suydah ikut jadi tentara republik.semasa revolusi ini Mbah Sireng wafat. Dia pergi dengan damai. Dan disemayamkan di sebuah bukit.Anak laki-laki terakhir tidak jadi serdadu. Namun menikahi anak serdadu juga. Putri seoran TNI danhidup tenang di Jogja. Dialah adik bungsu eyang kakung yang bercerita banyak pada saya soal Eyang Buyut yang serdadu KNIL, tentang Bagelen, tentang Bagus Kendo dan lainnya. Kami memanggilnya Mbah Sihir.



Imajinasiku selalu membayangkan, bedil Mbah Sireng menembaki para pemberontak yang ingin merdeka. Aku tidak menganggapnya jahat, meski tidak juga membenarkannya. Karena itu tugasnya sebagai serdadu kompeni. Itu pilihan hidupnya.



Jika dia datang ke suatu daerah dengan bedilnya danpanji-panji negara di zamannya. Aku hanya perlu membawa buku. Entah ke Nias, Aceh, Sulawesi, atau ke tempat lainnya. Aku harus bawa buku saja. Ya kami, Mbah Sireng dan aku, hidup di zaman berbeda. Juga dengan pilihan dan jalan berbeda pula. Diam-diam aku bangga padanya sebagai orang yang berpindah-pindah tempat. Rasanya, darah backpacker dalam diriku datang darinya.



Sesekali aku selalu berceloteh, "aku anak KNIL" dan kenalanku tertawa. Dia adalah serdadu KNIL tulen berpangkat spandrig. Sebagai cicitnya, saya hanya pemerhati sejarah militer yang sering bicara dan menulis tentang KNIL. Beberapa orang bilang saya adalah sejarawan KNIL. KNIL menjadi penghubung saya dengan Eyang buyut saya.





Tulisan ini hanya sejarah kecil tentang orang kecil, dalam hal ini Eyang buyut saya. Kita punya sejarah keluarga kita sendiri. Dan tidak jarang itu menarik bagi kita sendiri. Saya yakin semua orang yang ingin menulis sejarah keluarganya, bisa melakukannya. Menulis sejarah kita sendiri.

Bekas Vaandrig Itu

Mereka bekas serdadu kolonial berpengalaman. Namun revolusi memecah mereka. Dan revolusi juga buat mereka kecewa.



KNIL punya banyak vaandrig, alias perwira muda rendahan. Banyak diantaranya melampaui pangkat diatasnya. Banyak yang bilang, keberadaan perwira pribumi dalam KNIL adalah keterpaksaan. Karena butuh banyak perwira lapangan. Pangkat tertinggi perwira pribumi yang bertugas di pasukan umumnya mayor. Namun ada juga yang menjadi Letnan Kolonel namun di kesehatan.[1]

Bekas perwira KNIL pribumi, berdasarkan berita radio tanggal 9 Maret 1942 KNIL telah dibubarkan dan seluruh prajurit KNIL tidak lagi terikat dengan sumpah setia Ratu Belanda

Perwira macam ini pastinya mengalami masa pahit pendudukan Jepang yang membuat mereka dendam. Bagaimana tidak, pendudukan Jepang memberi perlakuan khusus kepada bekas perwira KNIL yang tentu saja tidak diberi kesempatan untuk berkarir sebagai perwira militer dalam PETA—karena paham profesionalisme KNIL sebagai militer dengan pengaruh barat. Dimasa pendudukan Jepang Suriosentoso juga diawasi Jepang meskipun kerap berhubungan dengan kelompok bawah tanah Syahrir.[2]

Pasca Proklamasi Sukarno Hatta, sebagian bekas perwira KNIL itu mendukung gerakan kemerdekaan republik Indonesia. Mereka berdiri dibelakangnya dan siap melaksanakan apa yang dimintah pemerintah baru, Republik Indonesia.

Didi Kartasasmita, salah satuy dari bekas perwira KNIL itu, ikut menentukan keberpihakan bekas perwira KNIL pada republik baru. Dikalangan bekas perwira KNIL sendiri paling dominan dalam TNI adalah KNIL angkatan-angkatan terakhir macam Nasution setelah kelompok perwira tua tersingkir satu persatu dari tentara baru itu. Didi adalah lulusan KMA Breda tahun 1938 dan menjadi perwira KNIL sampai PD II meletus dan akhirnya diinternir Jepang.

Sebagai dukungannya pada Republik, Didi mencari para bekas KNIL yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk mengumpulkan tanda tangan untuk mendukung pernyataan yang dibuatnya bersama Soedibyo dan Samidjo.[3]

Di lain tempat, ada beberapa eks perwira KNIL yang ikut KNIL lagi. Ketika KNIL dibangun kembali beberapa mantan perwira KNIL seperti Mayor Surio Sentoso, Kapten Kavaleri Suryobroto, Mayor Sugondo, Letnan Satu Hamid Algadrie bergabung kembali dengan KNIL. Beberapa mantan KNIL bahkan sudah diculik untuk berabung kembali dalam KNIL.[4]

Terdapat juga nama Poerbo Soemitro (kelahiran tahun 1915). Dia menjadi Letnan II sejak 1939, pastinya mengalami ikut berperang melawan Jepang sebelum kapitulasi Kalijati.[5] Diawal kemerdekaan, Poerbo Soemtro yang ditemui Didi Kartasasmita ketika memgumpulkan petisi bekas perwira KNIL untuk mendukung kemerdekaan RI, mendukung isi petisi itu. Belakangan, Poerbo Soemitro justru menyeberang kepada tentara Belanda. Bersama istrinya Poerbo Soemitro mengikuti tentara Belanda yang kembali ke Negeri Belanda.[6]

Sultan Hamid Alqadrie II sebagai perwira KNIL yang mengalami masa interniran setelah kalah dalam pertempuran di Balikpapan, juga pembunuhan Tentara Jepang terhadap ayahnya yang Sultan Pontianak dan anggota keluarganya yang lain, setidaknya membuat Hamid membenci kekejaman fasisme Jepang.[7]

Pemerintahan RI yang baru dengan formasi Sukarno dan Hatta, yang terlanjur dicap sebagai kolaborator fasisme Jepang bahkan juga penjahat perang dimata sekutu, tentu saja tidak menarik simpati sama sekali dari Hamid. Sukarno dan Hatta yang identik dengan Jepang dan cukup mengundang antipati dari sekutu, dimata Hamid bukanlah sosok yang layak dihormati sebagai pemimpin negara baru. Inilah mengapa kemudian Sultan Hamid II terlibat dengan Belanda dalam BFO yang berusaha memperlemah posisi RI.[8]

Hamid adalah lulusan KMA Breda juga.[9] Dia cukup lama jadi Letnan KNIL. Dan pernah alami sebuah diskriminasi rasial juga. SROI yang didirikan atas prakarsa Sultan Hamid II itu untuk mencetak perwira tentara federal BFO itu.[10] Dari latar belakang Hamid dapat diramalkan bagaimana arah sekolah perwira itu. Model perwira itu bisa saja sama dengan para lulusan KMA Breda. Tentara BFO itu juga tidak jauh dari model militer KNIL.

Kolonel Sugondo juga mantan KNIL yang kecewa dengan keadaan. Menurut Hamid beberapa perwira yang kemudian gabung dengan APRIS mengeluh. Menurut Hamid “Perwira-perwira itu, di Kementrian Pertahanan hanya doiberi meja saja dengan tidak diberi komando” oleh petingg APRIS.[11]

Kolonel Soegondo sebenarnya sudah dinyatakan pensiun tahun 1939.[12] bekas perwira KNIL pribumi yang berpihak pada Belanda selama revolusi kemerdekaan umumnya telah berpangkat perwira menangah, sudah mayor, sebelum PD II berlangsung.

Satu persatu mantan Perwira KNIL seperti Urip Sumoharjo menghilang daari markas Besar TKR dan Didi Kartasasmita lalu mengundurkan diri dan hidup di Pariangan karena merasa tidak lagi diterima dalam Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat. Usia tua membuat Oerip harus mundur dari pertarungan antar kepentingan dalam Markas Besar TKR. Perannya untuk TKR dianggapnya sudah cukup dalam pendirian Markas Besar TKR di Jogjakarta. Organisasi Tentara pun sudah dia rancang. Sebagai sosok yang tidak ambisius, dirinya merasa lebih baik mundur dan jalani hari tuanya dengan tenang.

Markas Besar TKR hanya menyisakan beberapa mantan perwira KNIL yang lebih muda. Suryadarma dan Didi Kartasasmita lalu digolongkan sebagai orang tua setelah kepergian Urip dari dinas militer. Perwira lain adalah perwira mantan KNIL muda seperti Nasution dan Simatupang. Meski muda, mereka cukup brilyan dalam TKR, meski juga tidak disenangi. Nasution adalah satu-satunya mantan perwira KNIL yang bisa mencapai jabatan tertinggi dalam Ketentaraan, sebagai KSAD lalu menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Perang dalam kurun waktu yang cukup lama dan berliku karena ditentang banyak perwira mantan PETA.[13]

Didi, mengaku berberat hati, menulis surat pengunduran dirinya pada Presiden tanggal 20 april 1947. Surat itu tidaklah berbalas dengan pengabulan dari pemerintah. Didi tetap saja diberi posisi tidak strategis di ketentaraan selama setahun lebih. Akhirnya, pada 31 Juni 1948, Didi resmi tidak berhubungan dengan tentara republic yang pernah dia bangun. Pasca pengunduran dirinya Didi kembali ke Jawa barat. Dalam perjalanan, Didi dibawa tentara Belanda yang menangkapnya ke Purwokerto. Dari Purwokerto Didi dibawa ke Semarang. Dan terbang dari lapangan udara Jatingaleh ke Jakarta. Didi kemudian menetap di Bandung. Dimana Didi dibujuk untuk jadi komandan Veilligheids Bataljon Negara Pasundan. Namun Didi lebih memilih bekerja di dinas kesehatan Negara Pasundan saja.[14]

Disbanding, Sultan Hamid II, Soeriasentoso dan lainnya, Didi jauh dari klaim pengkhianat Indonesia. Meski kecewa setidaknya Didi pernah membangun tentara republik di awal kemerdekaan. Mengapa Didi masuk ke daerah pendudukan Belanda? Mungkin adalah salah satu bentuk kekecewaannya pada tentara republik yang pernah dibangunnya bersama Urip Sumoharjo.

Rupanya tidak hanya Didi saja yang keluar, mantan perwira KNIL lain yang keluar dari tentara republik adalah Kolonel Samidjo dan Jenderal Mayor Soedibyo.[15] Mereka tampaknya juga kecewa.

Mereka semua, mulai dari Hamid, Soegondo, hingga Didi adalah orang potensial yang kecewa pada keadaan. Ada yang kecewa dengan Negara baru yang dipimpin kolaborator Jepang, Sukarno-Hatta. Ada yang kecewa dengan sekelompok perwira bekas didikan Jepang yang dominan di ketentaraan. Dan lainnya. Hingga mereka mau bekerja sama dengan musuh. Hal yang manusiawi.





[1] Harsya Bachtiar, Siapa Dia?Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm. 4-5.



[2] George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution In Indonesian, ab. Nin Bakdi Soemanto, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, tanpa kota, UNS Press & Pustaka Sinar Harapan, 1995, hlm. 432-434.



[3] Rosihan Anwar, Sejarah Kecil “La Petit Histoire” Indonesia, Jakarta: Kompas, 2004, hlm. 251-253.



[4] Abdul Haris Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid II, Bandung, Angkasa dan Disjarahad, 1977, hlm. 215.



[5] Harsya Bachtiar, Siapa Dia?Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm. 4.



[6] Didi Kartasasmita bertemu kembali dengan Poerbosoemitro pada perayaan 150 tahun berdirinya KMA Breda tahun 1978 di Negeri Belanda. Poerbo Soemitro, seperti pengakuan Didi, pernah menjadi perwira KL di Suriname dan mencapai pangkat yang cukup tinggi dalam KL. (Tatang Sumarsono, Didi Kartasasmita: Pengabdian Untuk Republik, Jakarta, Pustaka Jaya, 1995, hlm. 114.)



[7] Sultan Hamid II sendiri beristrikan wanita Belanda. Dikalangan orang-orang Eropa, Sultan Hamid biasa dipanggil, dengan nama Eropa, Max.



[8] Hamid melihat peluang berdirinya sebuah pemerintahan lain non RI diluar Jawa melalui BFO-nya. Pandangan buruk dari orang-orang pro republik kapada Hamid semakin kentara sekali ketika terjadi Kudeta 23 Januari yang digerakan Westerling. Disini Hamid, seperti banyak dituduhkan dan diakuinya sendiri, jelas terlibat bahkan menjadi otak atas peristiwa yang rencananya akan membunuh beberapa pejabat dan melukai Hamid sendiri.



[9] Buku Kenang-Kenangan Alumni KMA Breda. Yayasan Wira Bakti. Tanpa kota dan tahun. Hlm. 82



[10]Ibid.



[11] Persatuan Djaksa-djaksa Seluruh Indonesia, Peristiwa Sultan Hamid II, Jakarta, Fasco Jakarta, 1955, hlm. 156.



[12] Harsya bachtiar, Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm. 5.



[13] Ulf Sundhaussen, Road to Power: Indonesian Army, ab. Hasan Basary, Politik Militer Indonesia 1945-1967, Jakarta, LP3ES, 1982., hlm. 70.



[14] Tatang Sumarsono, Didi kartasasmita: Pengabdian bagi Kemerdekaan, Jakarta, Dunia Pustaka Jaya, 1993, hlm. 210, 238-256



[15] Ibid., hlm. 223.

Senin, Desember 13, 2010

Pasifikasi ala Westerling di Zuid Celebes

Pasifikasi ala Westerling di Zuid Celebes


Sebagian pasukan DST dalam Kampanye Pasifikasi Westerling Di Sulawesi Selatan. Mereka menerapkan Pengadilan lapangan atas rakyat sipil yang dituduh pro geriluawan kemerdekaan.
Zaman permulaan revolusi Indonesia di Sulawesi Selatan tidak kalah panasnya. Perlawanan gerilya pro republik di Sulawesi Selatan membuat perwira tertinggi KNIL disana frustasi dan menghubungi Spoor. Harus ada solusi atas perlawnan gerilya yang sengit dan membuat Sulawesi Selatan menjadi daerah, yang bagi Belanda, paling tidak aman di luar Jawa.
Spoor akhirnya memerintahkan pasukan Westerling untuk turun tangan. Pasukan Westerling itu belum lama dibentuk. Mereka melakukan berbabgai latihan militer khusus. Sepertinya penerjunan pasukan Westerling ke Sulawesi Selatan itu seolah menjadi ujicoba pasukan Komando baru itu. Ini tentu hal baru, sebab metode pelatihan yang digunakan Westerling adalah yang didapatnya di Inggris—metode bertempur Komando yang dirancang untuk wilayah Eropa.
Mereka berangkat 5 Desember 1946. Dan Aksi mereka mulai sejak 11 Desember 1946. Aksi mereka baru berakhir 3 bulan kemudian. Dengan menumpahkan banyak darah orang yang belum tentu bersalah juga.
Pasukan yang mengikuti tugas Westerling di Sulawesi Selatan itu terdiri dari 123 prajurit komando—yang sudah dilatih Westerling. Seabian besar kompi Westerling itu adalah orang-orang Ambon yang diambil dari kesatuan KNIL. Mereka juga diambil dari Batalyon X KNIL sebelum PD II yang memang militan.
Mungkin ada perbedaan medan Eropa dengan medan tropis Indoensia. Ini tantangan sendiri bagi Westerling—dimana dia harus menyesuaikan metode yang didapatnya di inggris dengan mengadaptasikannya dengan medan tropis Indonesia. Selalu ada kesamaan dalam dunia pasukan komando antara satu dan yang lain. Mereka selalu dilatih untuk meminimalisir penggunaan senjata api dan berusaha beradaptasi untuk bertempur disegala medan. Hanya saja, sebuah pasukan komando selalu dilatih dengan menyesuaikan diri disegala medan dan keadaan yang tidak selalu nyaman. Pasukan yang diberi pelatihan ini pernah diturunkan dalam kampanye Pasifikasi Belanda Di Sulawesi Selatan, dimana Westerling menjadi komandan pasukan dan operasi yang membanatai banyak nyawa orang-orang Sulawesi Selatan itu.
Pasukan Westerling yang ikut dalam kampanye pasifikasi itu adalah pasukan yang sangat loyal kepada Ratu Belanda. Selama di Jakarta, mungkin sebelum direkrut dalam DST, orang-orang itu sering terlibat baku hantam dengan pemuda-pemuda pro republik.Kebencian mereka terhadap hal berbau republik menjadi tersalur dengan kekejaman mereka di Sulawesi Selatan. Dalam mendapatkan informasi tentang gerilyawan, mereka berlaku kejam terhadap rakyat sipil—yang dimata mereka adalah orang republik yang tidak layak dihormati.
Westerling berangkat ke Sulawesi Selatan bersama 120 prajurit komando yang selesai dilatihnya. Sebelum Westerling dalam rombongan besar berangkat, sebuah tim pendahuluan telah dikirim terlebih dahulu. Tim yang terdiri 20 prajurit DST ini dipimpin oleh Letnan Satu Vermeulen. Tim pertama ini melakukan tugas-tugas intelejen untuk melacak keberadaan pimpinan republik di Sulawesi Selatan.
Aksi (pasukan) Westerling ini tidak peduli status sosial dalam menghabisi korban. Seorang bengsawan Bugis pro republik Datu Suppa juga dijadikan korban. Dalam tulisan Ricklefs tercatat sedikitnya 3.000 orang tebunuh karena aksi Westerling dan pasukannya ini.
Selama penugasan di Sulawesi Selatan, Westerling sama sekali tidak berpedoman pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionale Taak van het Legel (VTPL)—pedoman pelaksanaan bagi tentara untuk tugas politik dan polisional—dimana terdapat petunjuk mengenai pelaksanaan tugas intelejen dan bagaimana memperlakukan penduduk dan tahanan. Westerling telah mengulang apa yang dilakukan van Daelaan di Aceh dan Tanah Gayo. Kitab VTPL dianggap kuno oleh Westerling dan hanya taktik komando yang berlaku dalam melakukan Counter Insurgency (menghadapi pemberontak).
Pasukan ini tentu saja melakukan tugasnya seperti mesin perang. Mereka sudah memiliki latar belakang sebagai orang-orang yang akan membela Ratu Belanda untuk menguasai Indonesia kembali. Mereka merasa mereka hanya membunuh para gerilyawan saja dan merasa tidak peduli dengan hukum perang dan kemanusian.
Belum empat bulan aksi Westerling di Sulawesi Selatan, Spoor menarik Westerling dan pasukannya ke Jakarta. Terlepas dari berbagai kecaman orang-orang sipil peduli HAM, dimata petinggi militer, pasukan Westerling itu dinilai sukses di Sulawesi Selatan.
Keberadaan Westerling di daerah Jakarta yang tergolong aman oleh militer Belanda tentu bukan untuk bersantai di tangsi. Bersama para stafnya, Westerling tentu harus melatih terus pasukannya, baik yang lama apalagi y ang baru. Melatih pasukan semacam ini tentunya tidak bisa langsung dalam jumlah besar. mereka dipilih berdasar kemampuan sebagai seorang militer. Dari sekian ratus calon prajurit komando dari berbagai kesatuan militer Belanda, hanya beberapa orang saja yang terpilih. Mereka dilatih dalam sebuah kamp khusus di Jakarta dan Jawa Barat.
Kegilaan Westerling tidak berhenti di Sulawesi Selatan. Westerling selalu berambisi untuk menangkap orang-orang pemerintah RI. Westerling berserta pasukan khususnya pernah melakukan pembunuhan terhadap orang sipil—sekitar 150 orang di Cikalong, selatan Tasikmalaya; 200 orang yang dituduh preman dan melukai 200 lainnya di Karawang. Selain menewaskan 150 orang, pasukan Westerling yang kala itu sudah bernama Korps Speciale Troepen, di Cikalong juga menghancurkan 165 rumah dan membakar 980 ton padi—tujuannya tidak lain untuk memperlemah perlawanan gerilyawan yang ada di sekitar Cikalong. Aksi KST itu terjadi sekitar bulan Mei 1947.
Aksi pasukan Westerling juga menimbulkan protes dari kalngan pemuda wajib militer dan sukarelawan KL. Melalui Mayor KL R.F. Schill, komandan pasukan 1-11 Resimen Infanteri di Tasikmalaya, ulah Westerling dan pasukannya itu dilaporkan kepada Kolonel KL M.H.P.J. Paulissen. Pengaduan Schill itu menyebutkan bahwa tanpa alasan yang jelas, 10 orang penduduk dibantai pasukan DST dan membiarkan 10 mayat itu dibiarkan begitu saja dipinggir jalan. Setelah diusut, disimpulkan bahwa DST telah mengalami kemerosotan moral dan Westerling paling disalahakan dalam hal ini.
Menurut Batara Hutagalung, Jenderal Spoor mengambil langkah aman dengan me-nonaktif-kan Westerling dari pasukan Khusus untuk menghindari penyelidikan lebih lanjut—yang menurut Spoor tidak baik bagi jalannya peperangan Belanda di Indonesia. Akhirnya Westerling dinonaktifkan sejak 16 November 1948 oleh Jenderal Spoor, orang yang paling mengandalkannya untuk merebut ibukota RI. Dalam biografinya, Westerling justru mengaku bahwa dia dinonaktifkan oleh Spoor bukan karena kasus HAM-nya, melainkan karena menolak perintah Spoor untuk memimpin operasi ke Yogyakarta.
Terjadi simpangsiur berapa sebenarnya korban pembantaian alias pasifikasi ala Westerling ini. Ada yang menyebut 40.000 jiwa. Yang mana sebagian orang Sulawesi Selatan sendiri meragukan jumlah ini. Mereka percaya jumlahnya pasti banyak ribuan orang. Sulit menghitungnya. TNI AD yang pernah membuat penyelidikan menyatakan jumlahnya sekitar 1.700 jiwa. Saya hanya bisa perkirakan, meski bukan angka pasti, jumlah korban hanya ribuan, tidak sampai puluhan ribu. Dengan melihat waktu pembantaian dan personil pembantainya yang tidak terlalu banyak. Jadi saya ragu dengan angka 40.000 jiwa.

Tjeritera dari Peng Gepeng

Tersebutlah seorang botjah bernama Tjipto. Tjukup Broken Home didjamannja. Ajahnja djadi kriminil lantaran tjuri duit dari sebuah onderneming (Perkebunan, Belanda). Ibunja pun kawin lagi dengan orang Madura. Tjipto jang awalnja sekolah di Europe Leger School (ELS)--jang elite itu--lalu pindah ke sekolah jang lebih rendah drajatnja. Ajah tiri Tjipto tjukup kedjam djuga padanja. Hingga kelujuran djadi djurus mudjarab biar tidak ketemu dia punja ajah tiri jang galak itu.

Tjipto tinggal di Situbondo kala itu. Kemungkinan tidak djauh dari Kampung Panjie jang luas itu. Situbondo banjak dihuni orang-orang berbahasa Medura. Ja, mereka itu memang orang Medura pastinja. Seperti djuga ajah Tjipto jang tiada tara galaknja itu.

Bukan botjah djika tidak suka kelajapan. Tjipto suka kelajapanan pastinja. Tjipto punja perdjalanan heibat. Suatu hari. djika tidak salah masih diawal abad lalu, abad XX. Sekitar 90 taun silam rasanja. Tjipto berdjalan menudju sebuah bukit. Orang biasa sebut itu Bukit Ulama. Dengan smangat botjah-nja Tjipto susuri djalan jang pastinja tidak semulus djaman kita sekarang. Kemungkinan, Tjipto mulai perjalannja tidak lama sehabis petang.

Langkah botjah seusia Tjipto biasanja ketjil. Dan tidak bisa tjepat sepertinja. Dia berdjalan bersama prempuan-prempuan dewasa. Prempuan-prempuan itu djuga aken menudju itu bukit. Mereka bawa sadjen. Mereka, para prempuan itu tentu akan djiarah kubur. Bersama prempuan-prempuan itu, Tjipto berdjalan slama satu djam. Setelah bersusah pajah, tibalah mereka di sebuah bukit. Itulah jang di sebut orang djaman itu sebagai Bukit Ulama.Tempat dimana orang biasa minta berkah kehidupan.

Setiba disana, Tjipto disidik sama pendjaga makam. Laiknja seorang orang asing mentjurigakan. Pendjaga makam mungkin merasa aneh dengan botjah Tjipto ini. Mengapa kelujuran ke makam jang agak djauh dari kampung itu? Malam-malam pula. Rupanja si pendjaga makam tidak ambil pusing djuga akhirnja. Dan Tjipto pun bebas kelujuran disitu.

Tjipto menjaksikan pemandangan bagus disitu. Dia tidak tjuma liat makam--jang rupanja makam Panji Anom Prangkusumo--jang dianggep makam pendiri kampung Panjie itu. Ketika Tjipto menghadap arah barat daja, Tjipto liat gemerlapnja Situbondo di kala malam.

Soal Panji Anom Prangkusumo, ada jang sebut ini orang adik dari Djoko dari Medura. Kemungkinan besar, Panji Anom dari Medura djuga. Dia pendiri kampung Panjie di Situbondo.Tidak banjak tjatetan tentang Panji Anom. Panji Anom beserta keluarganja memang dimakamkan di makam itu djuga.

Meski bukan perdjalanan pandjang, tapi ini perdjalanan tjukup heibat untuk anak seumur Tjipto. Mungkin kala itu, Tjipto baru berumur 11 taun. Usia dimana dia sudah bisa batja tulis. Diantara orang bumiputra, dia tentu tergolong pintar djuga.Bagi botjah seperti Tjipto pemandangan Situbondo kala itu begitu heibat karena dia belum banjak jelajahi kota lain.

Tjipto kemudian bikin cerita soal perdjalanan hebatnja itu. Dalam sebuah naskah. Ben Anderson mengetahui naskah itu. Dan memang menarik mendengar apalagi membatja ceritera Tjipto itu. Menurut Ben, kisah masa ketjil jang dimasukan dalam sebuah memoar 90 taun silam adalah hal langka di Hindia Belanda. Kemungkinan Tjipto orang Bumiputra jang pertama kali melakukannja.

Beruntung Tjipto pernah bercerita pada kita tentang Bukit Ulama. Saat ini tidak seorang pun di Situbondo jang mengerti ada tempat jang bernama Bukit Ulama. Mereka hanja mengerti Penggepeng. Sebuah bukit dimana masih tersisa sebuah makam kuno. Makam jang sama sekali tidak berbau Islam. Meski dulu itu disebut Bukit Ulama.

Tidak sulit menemukannja. Djika anda di Situbondo, silahkan pergi ke Panjie lalu tanja dimana Penggepeng. Maka orang aken menundjukan sebuah bukit. Dimana berdiri tiang sutet. Nah makam itu disebelah tiang sutet itu. Nama makam itu berbau Madura memang. Penggepeng.

Jumat, November 26, 2010

Yang Terlupakan di Baret Merah




Orang hanya mengenal Prabowo Subianto atau Benny Murdani sebagai tokoh penting dalam sejarah pasukan komando Indonesia. Ternyata ada banyak orang yang membangun korps yang ditakuti dan disegani ini. Beberapa dari tokoh dalam sejarah pasukan komando Indonesia, memang nyaris terlupakan.


Apapun yang terjadi, serta siapapun yang berkuasa, nama mereka harus masuk dalam sejarah militer Indonesia. Walau mereka pernah bersebrangan dengan pemerintah. Ataupun mereka bukan berdarah Indonesia. Orang asing yang berjasa pada militer Indonesia diantaranya adalah Hunzhohl di Marinir (KKO) atau Rokus Bernadus Visser.



Andi Azis: Orang Indonesia Pertama



Dia memang bukan anggota Kopassus. Namun pengalamannya sebagai orang Indonesia yang pernah dilatih sebagai pasukan khusus oleh tentara Inggris cukup menarik. Andi Azis sendiri hanya sebentar di TNI sebelum berontak. Jika masih berdinas di TNI dia tentu akan ditempatkan di pasukan khusus karena pengalamannya bertempur ala komando di Eropa.

Andi Abdul Azis asli Bugis putra orang Bugis. Andi Azis lahir tanggal 19 September 1924, di Simpangbinangal, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Andi Azis memulai pendidikan dasarnya di Europe Leger School namun tidak sampai tamat. Europe Leger School adalah sekolah dasar kolonial yang memiliki gengsi paling tinggi dibanding Holandsche Inlandsch School. Sekolah ini diprioritaskan untuk anak-anak Belanda atau Eropa. Walau begitu banyak juga anak-anak pribumi terpandang yang belajar disekolah ini. Andi Azis tidak lulus sekolah ini bukan karena dia tidak mampu secara akadenis maupun finansial, melainkan karena dibawa ke Negari Belanda sebelum lulus—ketika dibawa ke Negeri Belanda usianya sekitar 11 tahun.[1]

Andi Azis lalu diangkat sebagai anak dibawa seorang pensiunan Asisten Residen bangsa Belanda ke negeri Belanda. Di Negeri Belanda tahun 1935 ia memasuki Leger School dan tamat tahun 1938, selanjutnya meneruskan ke Lyceum sampai tahun 1944.[2] Sebenarnya Andi Azis sangat berhasrat untuk memasuki sekolah militer di negeri Belanda untuk menjadi seorang prajurit Belanda pada masa damai. Tetapi niat itu tidak terlaksana dengan baik karena pecah Perang Dunia II. Namun Andi Azis jadi anggota militer juga. Andi Azis memasuki Koninklijk Leger (KL), Tentara Kerajaan Belanda di Negeri Belanda.

Di KL, Andi Azis bertugas sebagai tim pertempuran bawah tanah melawan Tentara Pendudukan Jerman (NAZI). Dari pasukan bawah tanah kemudian Andi Azis dipindahkan kebelakang garis pertahanan Jerman, untuk melumpuhkan pertahanan Jerman dari dalam. Karena di Eropa kedudukan sekutu semakin terjepit, maka secara diam-diam Andi Azis dengan kelompoknya menyeberang ke Inggris, daerah paling aman dari Jerman—walaupun sebelum 1944 sering mendapat kiriman bom Jerman dari udara.[3]

Di Inggris kemudian Andi Azis mengikuti latihan pasukan komando di sebuah Kamp sekitar 70 kilometer di luar London. Andi Azis lulus dengan pujian sebagai prajurit komando. Selanjutnya mengikuti pendidikan Sekolah calon Bintara di Inggris dan menjadi sersan kadet (1945).[4] Di bulan Agustus 1945 karena SEAC dalam usaha mengalahkan Jepang di front timur memerlukan anggota tentara yang dapat berbahasa Indonesia, maka Andi Abdul Azis kemudian ditempatkan ke komando Perang Sekutu di India, berpindah-pindah ke Colombo dan akhirnya ke Calcutta dengan pangkat Sersan.[5]

Andi Azis mungkin satu-satunya orang Indonesia yang mendapat latihan pasukan komando di Inggris. Andi Azis juga orang Indonesia yang ikut menjadi bagian, walau tidak secara langsung, dari kelahiran pasukan-pasukan komando dunia seperti SAS milik Inggris dan KST Belanda. Andi Azis, seperti halnya Westerling, merupakan orang-orang yang luar di negeri Belanda yang ikut membebaskan Belanda dari pendudukan Jerman. Seperti Halim Perdana Kusuma, Andi Azis juga orang Indonesia yang ikut serta dalam perang Dunia II di front Barat Eropa.

Setelah Jepang menyerah tidak syarat pada sekutu, Andi Azis diperbolehkan memilih tugas apakah yang akan diikutinya, apakah ikut satuan-satuan sekutu yang akan bertugas di Jepang atau yang akan bertugas di gugus selatan (Indonesia). Dengan pertimbangan bahwa telah 11 tahun tidak bertemu orang tuanya di Sulawesi Selatan, akhirnya ia memilih bertugas ke Indonesia, dengan harapan dapat kembali dengan orang tuanya di Makassar.

Pada tanggal 19 Januari 1946 satuannya mendarat di Jawa (Jakarta), waktu itu ia menjabat komandan regu, kemudian bertugas di Cilinding. Dalam tahun 1947 mendapat kesempatan cuti panjang ke Makassar dan mengakhiri dinas militer. Tetapi di Makassar Andi Azis merasa bosan. Ditinggalkannya Makassar untuk kembali lagi ke Jakarta dan mengikuti pendidikan kepolisian di Menteng Pulo, pertengahan 1947 ia dipanggil lagi masuk KNIL dan diberi pangkat Letnan Dua. Selanjutnya menjadi Ajudan Senior Sukowati (Presiden NIT), karena Sukowati berhasrat memiliki Ajudan bangsa Indonesia asal Sulawesi (Makasar), sedang ajudan seniornya selama ini adalah Kapten Belanda totok. Jabatan ini dijalaninya hampir satu setengah tahun, kemudian ia ditugaskan sebagai salah seorang instruktur di Bandung-Cimahi pada pasukan SSOP—sekolah pasukan payung milik KNIL bernama School tot Opleiding voor Parachusten—(Baret Merah KNIL) dalam tahun 1948.

Pada tahun 1948 Andi Azis dikirim lagi ke Makasar dan diangkat sebagai Komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu dengan 125 orang anak buahnya (KNIL) yang berpengalaman dan kemudian masuk TNI. Dalam susunan TNI (APRIS) kemudian Ia dinaikan pangkatnya menjadi kapten dan tetap memegang kompinya tanpa banyak mengalami perubahan anggotanya.[6]

Tentu saja pasukan dari kompi yang dipimpinnya itu bukan pasukan sembarangan. Kemampuan tempur pasukan itu diatas standar pasukan reguler Belanda—juga TNI. Daerah Cimahi, adalah daerah dimana banyak prajurit Belanda dilatih untuk persiapan agresi militer Belanda II. Ditempat ini setidaknya ada dua macam pasukan khusus Belanda dilatih: pasukan Komando (baret hijau); pasukan penerjun (baret merah). Andi Azis kemungkinan melatih pasukan komando—sesuai pengalamannnya di front Eropa.

Pasukan Andi Azis ini menjadi salah satu punggung pasukan pemberontak selama bulan April sampai Agustus di Makassar—disamping pasukan Belanda lain yang desersi dan tidak terkendali. Apa yang terjadi dalam pemberontakan APRA Westerling yang terlalu mengandalkan pasukan khusus Belanda Regiment Speciale Troepen—yang pernah dilatih Westerling—maka dalam pemberontakan Andi Azis hampir semua unsur pasukan Belanda terlibat terutama KNIL non pasukan komando. Westerling kurang didukung oleh pasukan KNIL—Westerling lebih menaruh harapan pada RST yang desersi. Pasukan lain non RST hanya pasukan pendukung semata. Pemberontakan Andi Azis, tulang punggung pemberontakan adalah semua pasukan tanpa melihat kualifikasi pasukan.



Alex Kawilarang: Pendiri Kopassus

A.E. Kawilarang mengikuti jejak sang ayah, menjadi perwira KNIL. Jalur yang ditempuh Alex berbeda dengan yang ditempuh sang ayah. Sang ayah masuk KNIL ketika masa damai lewat Inlandsche Officieren School, sedang Alex menjalani sesuatu yang baru di Hindia Belanda, Akademi Militer. Saat itu Belanda terjepit oleh ancaman Jepang.

Beberapa pemuda Indonesia di beri kesempatan belajar di KMA untuk dijadikan perwira KNIL. Pemuda-pemuda itu tentu bukan pemuda sembarangan. Mereka setidaknya harus lulusan sekolah menengah. Seperti diakui Alex Kawilarang, “kedudukan orang tua memungkinkan saya masuk HBS-V Bandung.” Ayahnya adalah pensiunan Mayor KNIL. Setamat HBS 5 tahun itu di Bandung itu, Alex memilih masuk CORO sebelum akhirnya masuk KMA Bandung.[7]

Mengikuti jejak sang ayah adalah hal biasa bagi seorang anak. Hal yang lumrah jika kemudian Alex Kawilarang masuk KNIL sebagai perwira. Tahun 1940 Alex masuk CORO dan sembilan bulan lamanya saya dilatih dan belajar disitu. Waktu itu pemerintah Belanda mempercepat mengisi kebutuhan akan perwira-perwira. Pada tingkat pertama semua menjadi milisi biasa. Pada tingkat kedua diadakan seleksi. Yang terpilih jadi bintara-bintara militer. Setelah itu mereka diseleksi lagi dan yang terpilih lagi menjadi taruna-taruan (kadet) dan langsung duduk ditingkat kedua KMA. Selebihnya menjadi vaandrig (pembantu letnan calon perwira) milisi. Beberapa ratus pemuda Belanda dan beberapa belas pemuda Indonesia diterima menjadi siswa milisi CORO di Bandung. Kebutuhan perwira juga prajurit membuat petinggi militer di Hindia Belanda berpikir cepat untuk mengisi tenaga pertahanan.

Tahun 1941 Alex diterima masuk di KMA. Diantara kami ada tujuh orang Indonesia disiapkan menjadi Infanteri, yaitu A.H. Nasution, Aminin, Rachmat Kartakusuma, Mantiri (yang bersama ayah Alex Kawilarang A.H.H Kawilarang pada tanggal 18 September 1944 tenggelam din Laut Hindia dekat Muko-muko, perbatasan Bengkulu-Sumatra Barat, sebagai tawanan Jepang) Liem King Ien, Lim Kay Hoen dan saya. Satu orang di Arteleri, Askari. Dan dua orang untuk administrasi, yakni Samsudarso dan Tan. Waktu latihan kami sangat berat, sehingga terbatas sekali waktu untuk rekreasi. Ada dua ratus siswa KMA dalam dua tahun pendidikan yang dibagi dalam enam seksi itu. Alex termasuk diantara yang seratus orang yang duduk dikelas tertinggi.”[8]



Masuk CORO tidaklah mudah, seleksi diadakan ketat sekali. Menurut T.B Simatupang, seleksi masuk KMA. Ada beberapa tahapan bagi calon kadet yang akan belajar di KMA dengan masuk CORO terlebih dahulu. Pertama, orang-orang pribumi yang mendaftar menjadi sukarelawan akan dites selama dua sampai tiga bulan, jika lulus mendapat pangkat brigadir. Dengan pangkat Brigadir mereka akan menjalani masa uji coba lagi pada tahap dua. Jika lulus dalam tahap dua mereka akan menyandang pangkat sersan. Para sersan ini dimasukan ke CORO di Bandung. Pendidikan CORO berlangsung selama sembilan bulan. Setelah itu akan ada seleksi tahap tiga untuk para sersan CORO itu. Jika lulus, mereka akan dimasukan ke KMA dengan pangkat sersan-kadet.[9]

Pendidikan di KMA bagi kadet yang pernah dilatih di CORO dimulai dengan kurikulum tahun kedua. Begitu juga bagi yang telah menjalani wajib militer atau Dienstplicht. Mantan kadet pelatihan CORO atau wajib militer yang telah menjalani pendidikan dan pelatihan militer di KMA Bandung selama dua tahun diluluskan dengan pangkat vaandrig (calon perwira atau pembantu Letnan).[10]

Alex Evert Kawilarang (lahir di Jakarta 22 Februari 1920). Semasa kemerdekaan Alex Kawiralang bergabung dengan kesatuan Siliwangi. Ketika pertama kali bergabung dalam TKR, karenan pernah menjadi kadet KMA Bandung, dia memperoleh pangkat Mayor. Awal 1946, sebagai komandan Brigade II dengan wilayah operasi Cianjur, Bogor dan Sukabumi, dengan pangkat Letnan Kolonel. Tahun 1948 Alex dikirim ke Sumatra untuk menjadi komandan Sub Teritorial VII/Tapanuli/Sumatra Timur dan Selatan.

Setelah pengakuan kedaulatan, Alex diangkat sebagai Panglima Tentara & Teritorial Sumatra Utara, tanah dimana Ayahnya dulu bertugas sebagai komandan kompi KNIL. Ketika Peristiwa Andi Azis meletus, Alex ditunjuk sebagai komandan operasi-nya dengan ikut menggunakan pasukan Letnan Kolonel Soeharto. Andi Azis, selesai Alex dikirim lagi ke Maluku, untuk menghantam RMS. Setelah tugasnya di Indonesia Timur selesai, pada November 1951, Alex diangkat sebagai Panglima Tentara & Teritorial/III Jawa Barat.

Selama di Jawa barat ini, Alex ikut memimpin penumpasan DI/TII Jawa Barat yang dipimpin langsung oleh Kartosuwiryo. Dari pasukan Siliwangi ini, Alex ikut memprakarsai pendirian KKAD—yang lalu bermetamorfosa menjadi RPKAD, Kopasanda, Kopassus. Semasa rezim Soekarno berkuasa, Alex Kawilarang bersebrangan dengan pemerointah pusat-nya Soekarano, sehingga dia ikut terlibat dalam PRRi/Permesta, saat itu Kawilarqang sedang menjadi atase militer RI di Washington. Tahun 1959, Kawilarang dicantumkan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Permesta. Dua tahun kemudian, setelah posisi Permesta terjepit, Kawilarang menyerah.[11]

Alex Kawilarang nyaris hilang namanya karena dia terlibat Permesta. Ada rumor menyebutkan bahwa ketika menjadi atasan Suharto, dia pernah menampar Suharto di Makassar. Dan ini mungkin alasan yang membuatnya hilang dari sejarah baret merah Indonesia. Padahal dia yang berjasa dalam pendirian korps ini.



Mochammad Idjon Djanbi: Komandan Pertama

Terlahir di Kanada sekitar tahun 1915, dengan nama Rokus Bernardus Visser. Dia putra seorang petani Tulip yang sukses. Selepas menyelesaikan kuliahnya, Visser muda membantu ayahnya berjualan bola lampu di London. Ketika itu perang dunia kedua dimulai dan karena tidak bisa pulang ke Belanda yang dikuasai oleh Jerman, Visser mendaftarkan pada dinas Ketentaraan Belanda yang mengungsi ke Britania dan membentuk kekuatan baru disana. Setelah itu dia ditugaskan menjadi sopir Ratu Wilhemena.

Setelah setahun di post tersebut dia mengundurkan diri dan mendaftarkan diri di sebagai operator radio (Radioman) di pasukan Belanda ke 2 (2nd Dutch Troop). Bersama dengan pasukan sekutu, Visser merasakan operasi tempurnya yang pertama, yaitu Operasi Market Garden pada bulan September 1944, saat itu pasukan Belanda ke 2 bagian dimana Visser berada, dimasukan dalam Divisi Lintas Udara 82 Amerika Serikat. Diterjunkan melalui pesawat layang Visser dan teman-teman Amerikanya mendarat di bagian dengan konsentrasi pasukan Jerman tinggi. Dua bulan kemudian saat dikumpulkan kembali, Visser digabungkan dengan pasukan Sekutu yang lain dan melakukan operasi pendaratan amphibi di Walcheren, sebuah kawasan pantai di Belanda bagian selatan.[12]

Karena dianggap berprestasi maka dia disekolahkan di Sekolah Perwira sebelum di kirim ke Asia. Selanjutnya Viser dikirmkan ke Sekolah Pasukan Para di India dan dimaksudkan bergabung dengan pasukan untuk memukul kekuatan Jepang di Indonesia. Kekalahan pasukan Jepang pada 1945 mengakhiri perang dunia ke 2 dan Jepang mundur dari Indonesia sebelum pasukan Visser sempat dikirimkan ke Indonesia. Mundurnya Jepang dari Indonesia membuka peluang kepada Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Karena keadaan di Belanda sedang kacau dan mereka tidak mampu mengirimkan pasukan dari Eropa ke Indonesia, maka mereka berusaha membentuk kesatuan unit khusus di India dengan mendirikan School voor Opleiding van Parachutisten (sekolah pasukan terjun payung) dan pasukan ini dikirim ke Jakarta pada 1946. dibawah pimpinan Letnan Visser, sekolah ini kemudian di pindah ke Jayapura (Hollandia) di Irian Jaya yang waktu itu dinamakan Dutch West Guinea oleh Belanda , menempati sebuah bangunan rumah sakit Amerika yang telah ditinggalkan oleh pasukan Jenderal Douglas Mc Arthur.

Dengan segala kondisi yang ada Visser ternyata menyukai hidup di Asia,sehingga dia meminta istrinya (wanita Inggris yang dinikahinya semasa perang dunia 2) dan keempat anaknya untuk ikut dengannya ke Indonesia. Ketika istrinya menolak, Visser memilih untuk bercerai. Saat kembali ke Indonesia pada 1947, Sekolah pimpinannya sudah dipindah ke Cimahi, Bandung dan Viser dipromosikan naik pangkat menjadi Kapten. Selama tahun 1947 sampai akhir 1949 , Sekolah pimpinan Kapten Visser terus melahirkan tentara terjun payung sampai saat dimana Belanda harus menyerahkan kekuasaaanya kepada Republik Indonesia. Karena sudah merasa nyaman dengan gaya hidup Asia, maka Kapten Visser memutuskan untuk tinggal di Indonesia sebagai warga sipil. Keputusan ini sangat berisiko, karena walaupun dia bukan termasuk pasukan baret hijau belanda yang dikenal sangat kejam (Visser sendiri berbaret merah), tapi tidak ada yang bisa meramalkan bagaimana keamanan seorang mantan perwira penjajah di negara jajahanya yang baru saja merdeka.[13]

Akhirnya dia menetapkan keputusannya untuk tinggal di Indonesia, pindah ke Bandung, bertani bunga di Pacet, Lembang, memeluk agama islam, menikahi kekasihnya yang orang Sunda dan mengubah namanya menjadi Mochammad Idjon djanbi. Dalam hidupnya, Visser hanya mengenal dua macam pekerjaan, sebagai petani maupun sebagai prajurit. Selama tidak menjadi tentara dia bertani.[14]



[1] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973) 2 Peranan TNI AD Menegakan Negara Kesatuan RI, Jakarta, Disjarahad TNI AD. 1979. h. 97-98

[2] Andi Azis diangkat anak oleh orang Belanda itu—seperti halnya Alimin yang diangkat anak oleh seorang penasehat urusan pribumi. Sebagai anak angkat orang Belanda terpelajar mereka pastinya menikmati pendidikan modern yang hanya bisa dinikmati segelintir orang pribumi. Berbekal semua itu sebenarnya Andi Azis memiliki bakat menjadi orang berpengaruh di Indonesia Timur bila NIT masih bertahan.

[3] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973) 2 Peranan TNI AD Menegakan Negara Kesatuan RI, Jakarta, Disjarahad TNI AD. 1979. h. 97-98: Disjarahad Militer AD, Naskah Pemebrontakan PRRI Permesta, Andi Azis, RMS dan OPM, Bandung, 1972. (Manuskrip).

[4] Andi Azis bisa jadi pernah bertemu Westerling disana. Disana mereka dilatih menjadi pasukan khusus. Pendidikan disini sangat berat. Paling berat dibanding pasukan-pasukan lain yang akan terjun dalam front Eropa.

[5] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973), h. 97-98.

[6] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973), h. 97-98.

[7] Ramadhan K.H, A.E. Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988, hlm. 14-16.

[8] Ibid.

[9] T.B. Simatupang, Membuktikan ketidakbenaran suatu Mitos Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas Bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa dan Negara, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1991. hlm. 81-82: Coen Husein Pontoh, op. cit., hlm. 15.

[10] Buku Kenang-kenangan Alumni KMA Breda, op. cit., hlm. 84.

[11] Ensiklopedia Nasional Indoneseia, Jakarta, Cipta Adi Perkasa, 1991. h. 238-239.

[12] Ken Conboy, Kopassus: Innside Indonesia’s Special Forces, Jakatarta-Singapore, Equinox Publishing, 2003, hlm. 16: Wawancara dengan Jan Linzel 5 maret 1999

[13] Ibid., hlm. 17.

[14] Ibid., hlm 17-18.

Sabtu, Oktober 23, 2010

Marsose Oh Marsose


“Biar susah satu gunung, kami tetap Marsose…”

Ketiksa saya SMP, saya pernah membaca keganasan pasukan kolonial. Konon cukup tidak beradab dalam menghabisi pemberontak—atau pembebas—pribumi. Saya mulai tertarik mengkajinya di akhir-akhir kuliah saya yang berantakan. Cerita soal Marsose masih menarik buat saya.

Bermula dari Pemerintah Kolonial yang begitu pusing menghadapi para pemberontak Nusantara. Juga Perang Aceh yang makan banyak biaya. Banyaknya korban dikalangan KNIL dalam menghadapi gerilyawan pribumi yang hanya bersenjata parang dan minim senjata api itu, maka pemerintah kolonial mencari cara mengalahkan para pemberonak.

Lalu munculah sebuah gagasan membentuk pasukan khusus yang efektif menghadapi gerilyawan. Pasukan yang beradaptasi dengan gaya perang kaum gerilyawan. Jadilah sebuah pasukan antigerilya. Jangan heran bila dalam Marsose penggunaan senjata api sangatlah minim. Prajurit Marsose lebih sering menggunakan klewang daripada karaben atau senjata api yang mereka bawa.

Sepertihalnya gerilyawan, pasukan Marsose tidak memerlukan logistik yang terlalu banyak seperti pasukan biasa. Marsose selalu hampir memasuki hutan untuk mencari para gerilyawan dan sebisa mungkin menangkap pemimpinnya—perburuan itu dilakukan selama berhari-hari.

Keberhasilan Marsose menjadi kebanggan tersendiri bagi sebagian kalangan termasuk militer Belanda—disamping kesadisannya yang juga dibenci dan membuat ngeri sebagian orang-rang Belanda sendiri. Bagaimanapun juga, pasukan ini memiliki legenda tersendiri di nusantara.

Pasukan ini dibentuk pada tanggal 20 April 1890—digolongkan oleh beberapa kalangan sebagai pasukan komando modern. Menurut Paul van’t Veer, Marsose dibentuk atas prakarsa dari Teuku Muhamad Arif, seorang Jaksa Kepala di Kutaraja, Aceh. Pastinya Teuku Muhamad Arif adalah orang Indonesia yang pro Belanda setelah pendudukan Belanda di Aceh dimulai. Dia memberi nasehat kepada Gubernur Militer Belanda di Aceh, Jenderal van Teijn juga Kepala Staf-nya J.B. van Heutsz, untuk membentuk sebuah unit-unit tempur kecil infanteri yang memiliki mobilitas tinggi. Pasukan ini tentunya pasukan anti gerilya. Pembentukan pasukan ini tidaklah sulit, tahun 1889, Komando Tentara Belanda di Aceh sudah menyusun dua detasemen pengawalan mobil yang memiliki kemampuan antigerilya.[i]

Konsep pasukan itu lalu dimatangkan lagi hingga menjadi pasukan Marsose yang akhirnya membuktikan diri sebagai pasukan elit karena beberapa tugas berat yang sulit dilakukan serdadu KNIL biasa berhasil mereka selesaikan. Bagaimana tidak, pasukan ini adalah pasukan pilihan dari berbagai kesatuan KNIL baik pribumi maupun Eropa.[ii]

Setiap unit Marsose terdiri dari 20 orang dengan dipimpin seorang sersan Belanda yang dibantu seorang kopral pribumi. Setiap pasukan biasanya terdiri dari satu peleton yang terdiri dari 40 orang dan dipimpin seorang Letnan Belanda. Secara keseluruhan, korps Marsose terdiri dari 1.200 orang—dari berbagai bangsa. Pasukan ini, selain dipersenjatai karaben, juga dipersenjatai dengan senjata tradisional seperti klewang, rencong dan sebagainya.[iii]

Kata Marsose berasal dari kata marechaussée yang sebenarnya memiliki akar sejarah cukup panjang. Tahun 1370, dikota Paris terdapat sebuah otoritas hokum bernama Tribunal of Constables and Marshals of France. Constables dan Marshals ini lalu menjadi Gendermarie, yang menjadi kekuatan kepolisian di Belanda dan Belgia. sebuah unit kepolisian yang berakar pada masa pendudukan Perancis di Belanda. Berdasar dekrit Republik Bataaf, bentukan Perancis, dibentuklah sebuah unit kepolisian ini pada tanggal 4 Februari 1863 dengan nama marechaussée. Hal ini tidak langsung ditanggapi oleh otoritas Belanda. Tahun 1805, barulah terbentuk satu unit Gendermarie.[iv] Ketika wangsa Oranje berkuasa di Negeri Belanda, setelah Republik Bataaf tersingkir, berdasar dekrit nomor 48 tanggal 26 Oktober 1814 Marechaussée terbentuk.[v]

Di Hindia Belanda, Marsose adalah pasukan gerak cepat dengan seragam hijau dengan tanda garis bengkok warna merah pada lengan dan leher terdapat gari merah. Dalam tugasnya, mereka dibekali senjata khas penduduk setempat, semacam klewang. Mereka memakai bedil dengan ukuran yang lebih pendek dari bedil biasa, karaben. Mereka tidak tergantung pada angkutan militer dan biasa berjalan kaki. Mereka tidak bergantung pada jalur suplai logistik.[vi]

Keberadaan Marsose di Hindia Belanda lebih berkembang sebagai pasukan tempur handal daripada pasukan polisi bersenjata seperti pendahulunya, Marechaussée, di Eropa barat. Kesamaannya di Eropa atau di Hindia Belanda, keduanya sama diseganinya. Ketika Perang Dunia II berlangsung, Marsose ikut membantu Angkatan Perang Belanda. Pasukan ini berhasil menewaskan Sisingamangaraja XII di Sumatra utara.[vii]

Marsose terdiri orang-orang Belanda, Perancis, Swiss, Belgia, Afrika, Ambon, Ambon, Menado, Jawa, juga beberapa orang Nias dan Timor. Selain karaben—senapan modern berukuran pendek—mereka juga membawa klewang dalam front Aceh dan Batak. Hal ini sangat berguna dalam perang jarak dekat, man to man, seperti yang dilakukan para gerilyawan pribumi. Marsose berusaha mengikuti gaya berperang ini karena gerilya kaum gerilyawan begitu efektif menggempur KNIL yang biasa menang dalam front besar namun repot ketiuka diserang mendadak. Pasukan ini tentunya terlatih dalam peperangan di hutan menghadapi serangan gerilyawan[viii]

Marsose bukan pasukan tempur biasa seperti yang berkembang pada pergantian abad XIX ke XX. Marsose tidak seperti KNIL, mereka memiliki karakter sendiri dalam bertempur. Mereka tidak terlalu mengandalkan senjata api, melainkan klewang mereka untuk mengahabisi lawannya dalam jarak dekat. Marsose lebih terlihat seperti jawara dibanding tentara reguler pada umumnya. Senjata api tetap mereka pegang dan akan digunakan bila keadaan terpaksa.

Kapten Hans

Hans Christofell adalah orang yang memimpin pengejaran yang menewaskan Sisingamangaraja XII dengan bantuan prajurit Belanda dari Senegal yang sangat ahli berburu. Setelah mereka menewaskan Sisingamangaraja XII, dipedalaman Sumatra Utara, Piso Gaja Dompak, pedang pusaka yang biasa dibawa bertempur oleh Sisingamangaraja XII lalu diserahkan ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai bukti[ix] Sisingamangaraja XII tewas ditembak seorang serdadu, asal Alfuru bernama Hamisi.[x]

Selama Pemberontakan PKI 1926-1927 yang gagal, disamping polisi, KNIL juga ikut melakukan penumpasan. Penumpasan pemberontakan PKI di Padang dan Silungkang , Sumatra Barat, beberapa brigade Marsose pimpinan Mayor (KNIL) W.V. Rhemrev, melakukan penyiksaan sadis pada kaum pemeberontak komunis. Terjadi penjagalan dalam usaha meredam pemberontakan kaum komunis itu. Tubuh korban dirusak, kepala korban ditusuk dengan tongkat lalu diarak keliling kampung. Tujuannya tidak lain untuk menebar teror di kalangan penduduk biasa. Berita kesadisan Marsose itu terdengar sampai di Eropa tanpa dapat disangkal.[xi]

Marsose, dalam banyak catatan, lebih banyak melakukan tugasnya sebagai pasukan kontra-gerilya di Aceh dan Tanah Batak. Dua daerah itu sangatlah sulit dikuasai pemerintah kolonial hingga awal abad XX. Marsose dalam jumlah besar dibutuhkan disana untuk waktu tugas yang lama. Bahkan setelah perang melawan orang-orang Batak di Pedalaman Sumatra dan Aceh itu berakhir, perlawanan kecil kadang masih terjadi. Seperti dialami bekas komandan Marsose, Letnan Kolonel W.B.J.A Scheepens, yang tertusuk rencong orang Aceh.

Marsose sebenarnya tidak hanya ditugaskan di dua daerah itu, tapi juga dibeberapa tempat seperti di kepulauan Nusa Tenggara juga Sulawesi—walau dengan personil yang tidak terlalu banyak. Cerita kekejamana pasukan Marsose lebih banyak didengar di Aceh saja dan tanah Gayo saja.

Kolone Macan

Kehadiran Marsose sebagai pasukan khusus yang sedemikian handal itu, rupanya masih dirasa belum cukup oleh petinggi militer Belanda. Perwira-pwerwira Belanda itumembentuk lagi sebuah unit didalam pasukan Marsose bernama Kolone Macan.. Seperti halnya Marsose, Kolone Macan juga dipimpin oleh perwira-perwira dari orang-orang Eropa. Salah satunya adalah perwira asal Swiss bernama Hans Christofell. Dia sangat tersohor karena berjasa kepada pemerintah kolonial dalam peperangan di Sumatra bagian utara itu. Dia membentuk pasukan khusus baru lagi, dimana anggotanya adalah anggota-anggota Marsose yang terpilih.[xii]

Ada perwira Marsose yang lebih tinggi pangkatnya dibanding Christoffel, Kapten Scheepens. Setelah lewati berbagai pertimbangan, pembuat kebijakan militer Belanda sampai pada kesimpulan, pekerjaan algojo yang sadistis tidaklah cocok bagi Scheepens—walaupun Scheepens tergolong orang bersedia mengerjakan tugas militer yang berat sekalipun seperti bertempur berhari-hari dalam hutan. Dimata pembuat kebijakan itu, Christoffel dianggap lebih cocok untuk memimpin sekelompok algojo. Akhirnya Christoffel diberangkatkan ke Cimahi—dimana berdiri sebuah garnisun pasukan Belanda disana. Disini Christoffel berttemu dengan banyak Marsose kawakan dan memiliki pengalaman bertempur di Aceh. Keberadaan mereka di Cimahi adalah dalam rangka istirahat setelah peperangan berat di Aceh selama berbulan-bulan.[xiii]

Dia menghimpun anggota Marsose yang beringas, jago berkelahi. Pasukan ini dinamakan Kolone Macan. Pasukan ini dilatih oleh Christoffel di Garnisun Cimahi. Pakaian mereka berwarna hijau kelabu yang kerah bajunya terdapat dua lambing jari berdarah. Tentu saja ikat leher warna merah agar nampak lebih lebih menyeramkan. Mereka dikenal sebagai pasukan yang menyeramkan dengan julukan ‘pembunuh berdarah dingin’.[xiv]

Setelah beristirahat dalam waktu yang lama, para Marsose itu merasa ingin kembali berperang di Aceh lagi. Dunia Marsose jelas bukan dunia tangsi yang damai, dunia mereka adalah peperangan dalam hutan, seperti di Aceh. Selama di tangsi Cimahai yang damai itu, para Marsose itu juga diberikan teori peperangan, namun hal itu kurang direspon pleh marsose yang berpendidikan rendah. Mereka tidak butuh teori dalam peperangan, melainkan pertempuran. Wajar bila teori perang itu tidak sekalipun dicerna prajurit Marsose. Mereka lebih tahu dan senang bertempur. Rutinitas lain yang mereka benci di tangsi adalah beberapa kali dalam sehari harus apel. Latihan marsose bukanlah menembakan senapan, melainkan memainkan klewang.[xv]

Di Cimahi, Christoffel mengamboil beberapa komandan brigade—yang biasanya berpangkat sersan—terbaik Marsose. Mereka yang bosan hidup di garnisun jelas menjadi prioritasnya. Pasukan ini terdari dari 12 brigade marsose yang sudah dilatih lagi di Cimahi. Betapa terlatihnya mereka sekarang. Barisan depan pasukan Kolene Macan adalah para Marsose jejaka. Jelas mereka bisa lebih leluasa bertempur karena tidak akan memikirkan anak istrinya.[xvi]

Cara kerja pasukan ini lebih kejam dari Marsose sebelumnya. Mereka melakukan eksekusi ditempat. Hal ini tergolong gila, seperti yang dirasakan salah seorang komandan Marsose Schriwanek. Walau dia tergolong kasar, namun dia melihat cara kerja Kolone Macan, dirasa oleh perwira itu, benar-benar keterlaluan ketika melakukan Sweeping. Mereka membersihkan gerakan gerilyawan perlawanan rakyat dengan kejam sejak dari dataran rendah. Mereka lakukan kerja mereka dengan singkat dan tuntas.[xvii]

Reaksi keras atas cara kerja Kolone Macan muncul juga dari kalangan militer Belanda sendiri. Peperangan yang mereka jalankan di Aceh terbilang keterlaluan. Reaksi ini datang dari perwira Belanda yang bukan berlatar belakang dari tentara bayaran. Akhirnya komando atas daerah Aceh dirubah dari van Daalen kepada Swart. Karena hal pergantian komando itu, cara kejam Kolone Macan perlahan dihilangkan. Pasukan yang pernaha dilatih dan dipimpin oleh Christoffel itu kemudian beralih komando pada van der Vlerk. Komandan baru ini, seperti tuntutan sebagian perwira Belanda yang benci kebengisan van Daalen dan Christoffel, mulai merubah sifat pasukan Kolone Macan. Pasukan ini lama-lama menghilang dan hanya menjadi Marsose biasa.[xviii]

Kolone Macan adalah bagian terkejam dari korps bernama Marsose dan hanya terjun di front Aceh saja. Pemerintah Kolonial rupanya tidak menginginkan adalah sepasukan algojo terorganisir, bagi pemerintah kolonal, cukup hanya marsose saja pasukan terkejam yang mereka miliki. Bagaimanapun perlawanan terhadap kebijakan kolonial tidak bisa ditebak kapan terjadinya dan inilah alasan mengapa Marsose terus dipertahankan walaupun perannya semakin meredup sinarnya. Marsose tidak terdengar kehebatannya lagi ketika Jepang mendarat di Indonesia. akhir sejarahnya mungkin saat perang Aceh saja lalun hilang adan tanpa terlihat taringnya yang tajam seperti pada Perang Aceh.

Cerita-cerita Marsose Pribumi.

Walau, Marsose pasukan elit, bukan berarti pasukan ini hanya terdiri orang Belanda maupun Eropa lain. Banyak orang pribumi yang menjadi anggota Marsose. Orang pribumi bahkan bisa menjadi Marsose yang baik dibanding orang-orang Eropa yang menjadi serdadu KNIL umumnya tidak bisa menyesuaikan diri dengan iklim tropis. Banyak diantara Marsose adalah orang-orang dengan kemampuan seperti jawara yang ada di Banten yang ahli dalam berkelahi.

Satu dari banyak anggota Marsose pribumi yang cukup diakui jasanya adalah W.C. Ferdinandus. W.C. Ferdinandus adalah pemuda kelahiran 19 Februari 1883 di Haruku, Saparua. Seperti banyak pemuda disana yang ingin bertualang sebagai serdadu KNIL, Ferdinandus pada tanggal 1 Maret 1906 mendaftarkan diri sebagai KNIL di Ambon—teeken soldadu istalahnya pada waktu itu.[xix]

Pagi hari tanggal 12 Desember 1908 di Dondo—sebuah daerah di Nusa tenggara Barat sekarang ini—sekelompok Marsose bergerak. Salah satu dari mereka adalah W.C. Ferdinandus bergerak dibawah komando dari Letnan Satu de Vries untuk menyerang markas pemberontak di pantai utara. Marie Langa, pimpinan pemberontak itu membangun kubu pertahanan didekat Watoe Ngere. W.C. Ferdinandus adalah salah satu dari sekian banyak pasukan dari Letnan Satu De Vries. Pasukan yang dipimpin De Vries itu terdiri dari tiga brigade Marsose dengan kekuatan 50 karaben. Dan sekelompok strapan yang terdiri dari tiga puluh orang.

Pasukan beserta strapannya itu berangkat ke Nio Panda, mereka tiba pukul 2 sore. Mereka beristirahat, sebelum bergerak pada pukul 22.00 malam. Malam itu, De Vries, memimpin pasukannya mengintai benteng musuh itu dari atas. Dalam kegelapan malam mereka bergerak. Mereka melintasi jalan yang berat dan terjal. Mereka mencapai daerah tujuan mereka denganm susah payah dan dari jauh mengintai lawan mereka dalam kegelapan malam itu.

Pada pukul 8 pagi, 12 Desember 1908, Letnan Satu de Vries membagi tiga pasukannya, satu pasukan dibawah sersan van Rijen, satu pasukan dibawah pimpinan sersan Ambon dan satu pasukan lagi dibawah pimpinan Kopral Katuuk. Ketiga pasukan itu bergerak mengelilingi benteng diam-diam. W.C. Ferdinandus adalah Marsose pertama yang menaiki benteng. Didalam benteng, W.C. Ferdinandus dan penyerang lain berhasil menembak tiga musuh dalam benteng dan membuat gerilyawan lain melarikan diri ke utara, sementara itu di utara sudah menunggu pasukan pimpinan Kopral Katuuk. Akhir dari serangan itu adalah, beberapa musuh melarikan diri dan benteng direbut. Majalah Trompet juga pernah menampilkan profil salah prajurit marsose lain, salah satunya dalah Robert Talumewo. Pemuda dari Langoan kelahiran 11 September 1882 dan teeken soldadu pada 6 Agustus 1904 di Manado. Karena keberaniannya ketika menjadi serdadu reguler biasa di KNIL, dia akhirnya dimutasikan ke Marsose[xx]

Ada Marsose Jawa bernama Redjakrama. Pemuda kelahiran Kedungwaru, Bagelen—Kabupaten Purworejo sekarang—tahun 1867. Diusianya yang ke-18, tahun 1885 dia teeken soldadu di Gombong. Setehun kemudian Redjakrama dikirim ke Aceh untuk pertama kalinya. Tahun 1887 Redjakrama ditempatkan di Sulawesi. Tanggal 21 Desember 1888, Redjakrama resmi menjadi kopral dan 2 Oktober 1890 sudah menjadi seorang sersan. Sebuah prestasi hebat untuk seorang pemuda kampung yang tidak terpelajar macam dirinya. Pada 2 Oktober 1901, Redjakrama dimutasikan ke Marsose. Sebagai Marsose Redjakrama telah menunjukan keberaniannya—seperti yang dimuat dalam majalah Trompet. Pada 26 Juni 1904, Sersan Redjakrama ditugaskan di daerah Beureuleueng, Pidie—Nangroe Aceh Darussalam sekarang.

“Sementara berkelahi ini, maka satu bahagian dari kumpulan musuh darai Pang Andah tahan sekuat-kuatnya didalam dua rumah dari sini mereka pasang pada Marsose. Cuma dengan pendek saja, pasangan dari musuh dibalas oleh Marsose, lantas Marsose tarik jatuh dinding dari kedua rumah. Ini pekerjaan dikerjakan oleh brigade, dimana terdapat sesan Redjakrama yang telah enam bulan lamanya pegang komando dari brigade ini yang telah menunjuk gagah beraninya. Ini onderofficer biasa terdapat ditempat-tempat yang ada dan sikapnya ada satu contoh yang bagus buat soldadu-soldadu. Yang perlu sabar dan tiada hilang otak sehat, sebab brigade terdiri dihadapan musuh yang tahan dengan sekuat-kuatnya dirumah-rumah dimana seperti dekking, musuh memakai karung-karung dengan beras. Contoh yang gagah berani dari sesan Redjakrama yang pertama kali masuk rumah, ada sebegitu rupa sehingga dituruti oleh brigade, yang bikin kalah musuh dan sesungguh-sungguhnya.”[xxi]

Cerita keberanian yang juga dimuat di Majalah Trompet adalah Simon Leiwakabessy. Ia pensiunan kopral yang tinggal di Ambon. Leiwakabessy lahir di Tial, Ambon pada 25 Januari 1870 dan teeken soldadu di Ambon pada 8 Maret 1894. sebelum ditempatkan di Marsose, Leiwakabessy termasuk anggota pasukan dari Batalyon 3 yang beberapa kali pindah tugas dibeberapa tempat di Indonesia.

“Overvalling musuh disebelah selatan dari Cot Bamboton (Troeseb Pidie) pada tanggal 24 Agustus 1903. Agar supaya menyemu musuh, maka keluarlah Letnan Darlang pada tanggal 24 Agustus jam 3 pagi dari Didok dengan satu brigade ke selatan dari Troeseb yang terdapat di terrain yang berbukit-bukit. Yang lain brigadenya mendapat opdract pada jam 7 pagi marsch ke lapang, disebelah dari kaki utara dari bukit-bukit dan disana diajak musuh dengan vurren yang biasa dari pihak itu mereka pasang pada compagnie. Waktu pagi hari, maka Letnan Darlang 2 orang Aceh Aceh disatu cot boleh jadi ini 2 orang ada Wachtpost dari musuh. Dengan tiada diketahui oleh musuh, maka brigadenya Letnan Darlang di itu bukit dan dengan ati-ati naik keatas. Sampai dekat diatasnya bukit, maka kelihatan 10 orang Aceh, yang ada tidur ditanah. Tempo satu dari diantara musuh bangun dan berdiri dan tunggu lama tiadalah baik, bertentangan dengan mereka boleh lihat di compagnie maka Darlang dan beberapa Marsose-nya storm pada musuh. Marsose Leiwakabessy yang oleh sebab kurang kader dan juga oleh sebab gagah berani-nya dan cepat biasanya ditunjuk seperti komandan dari spits lari kemuka dengan lewati 2 temannya dan sekonyong-konyong berada ditengah-tengah dari musuh yang lari. 2 orang musuh ditembak mati oleh Leiwakabessy. Tempo Leiwakabessy lihat, bahwa lain-lain musuh lari kebawah, maka dengan beberapa temannya dari spits ia ambil jalan pendek dan potong pas dari musuh. Dengan ini, maka ia tembak lagi 4 orang musuh mati. Oleh sebab gagah beraninya dari Leiwakabessy, maka jatuh didalam tangan kita 6 orang musuh dengan senjata-senjatanya, 3 beamont dan 3 senapan voorlaad.”[xxii]

Stephanus Melfibossert Anthony pemuda kelahiran 3 Juni 1872 di Ambon dan teeken Soldadu tanggal 27 Agustus 1890 di Ambon. S.M. Anthony terpilih untuk dimasukan ke korps Marsose pada 13 April 1897 lalu terlinbat dalam ekspedisi militer KNIL di beberapa tempat seperti Aceh, Timor juga Sulawesi Selatan. Dia memiliki cerita keberaniannya sebagai seorang Marsose dalam benteng Sala Banga di daerah Mandar, Sulawesi Selatan. Peristiwa oitu terjadi pada 20 Oktober 1914.

“Waktu bestorming benteng tersebut, maka naiklah kopral Anthony, biarpun musuh tahan dengan begitu kuat dan lawan pada compagnie dengan gagah berani stormladder dan biasa pertama dimuka waktu bongkar rintangan-rintangan dimana pekerjaan ini menuntut banyak kekuatan. Sesudahnya dengan banyak susah pekerjaan lamanya satu setengah jam dikerjakan dan satu lubang diborstwering dibikin, maka dengan segera Anthony storm kemuka dengan lagti 3 militairen lain kedalam benteng. Sesudahnya itu ia pasang pada musuh yang dekat padanya, sehingga mereka tiada bisa apa lagi, sehingga troep dibelakang bisa mendapat kesempatan ke borstwering.”[xxiii]

Masih banyak lagi cerita heroik yang menggambarkan keberanian para Marsose pribumi—dimata masyarakat kolonial—yang termuat di majalah Trompet. Marsose-marsose pribumi tadi telah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang prajurit yang membela bendera Ratu Belanda. Bagaimanapun, Marsose pribumi adalah bagian penting dalam korps Marsose, dari segi jumlah pastinya lebih banyak dan sebagai prajurit rendahan mereka siap melakukan hal-hal berat yang mungkin saja tidak mau dilakukan oleh perwira maupun bintara Belanda. Sebagai prajurit mereka siap untuk melawan siapa saja yang menajdi musuh ratu Belanda di Hindia Belanda. Mereka tidak takut melawan siapa saja termasuk gerilyawan di Aceh. Perang Aceh dan gerilyawannya yang tidak kenal menyerah adalah bagian terpenting dalam sejarah Marsose selain korps dan anggota Marsose itu sendiri.

Disarikan dari buku Pasukan Komando: Pengukir Sejarah Indonesia (Media Pressindo, Yogyakarta, 2008)

Catatan Kaki

[i]Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, Jakarta, Cipta Adi Perkasa, 1990. h. 167.

[ii] Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, h. 167.

[iii] Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, h.167-168.

[iv] Polisi Lapangan bersenjata seperti Brigade Mobil di Indonesia sekarang.

[v] (Batara Hutagalung, Mardijkers, Marechaussěe, Tentara Kontrakan, Belanda Hitam Dan KNIL, http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/04/mardijkers-marechaussee-tentara.html Diakses pada tanggal 29 Maret 2007, pukul 09.38 wib.)

[vi] R.P. Suyono, Peperaqngan Kerajaan di Nusantara, Jakarta, Grasindo, 2003. h. 336.

[vii] Batara Hutagalung, Mardijkers, Marechaussěe, Tentara Kontrakan, Belanda Hitam Dan KNIL, Dalam: http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/04/mardijkers-marechaussee-tentara.html Diakses pada tanggal 29 Maret 2007, pukul 09.38 wib

[viii] Walter Bonar Sidjabat, Ahu Sisingamangaradja XII, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1982, h. 245.

[ix] Sibarani, Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, Jakarta, Ever Ready, tanpa tahun. h. 210-218: W. Bonar Sidjabat, h. 17.

[x] W. Bonar Sidjabat, h. 290-295.

[xi] Imam Soedjono, Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, Yogyakarta, Resist Book, 2006. h. 37.

[xii] Sibarani, h. 204

[xiii] H.C. Zentgraaff, Aceh, ab. Firdaus Burhan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jarahnitra, 1983. h. 177.

[xiv] Sibarani,. h. 204

[xv] H.C. Zentgraaff, h. 178.

[xvi] H.C. Zentgraaff, h. 178.

[xvii] H.C. Zentgraaff, h. 179.

[xviii] H.C. Zentgraaff, h. 179.

[xix] TROMPET (organ van den Bond van Inheemsche Gepensionereerd Militairen) no 72 tahun ke 6, edisi Januari 1940. h. 4-5.

[xx] TROMPET no 72 tahun ke 6, edisi Januari 1940., h. 4-5.

[xxi] TROMPET no 73 tahun ke 6, edisi Februari 1940., h 6-7.

[xxii] TROMPET no 70tahun ke 6, edisi November 1939., h 4-5.

[xxiii] TROMPET no 81 tahun ke 6, edisi November 1940, h . 5