Jumat, Mei 18, 2012

Tipisnya Tabir Mimpi dan Kenyataan


Laskar Pelangi sudah bubar. Ikal yang merasa kehilangan, mulai dari A Ling sampai kawan-kawan SD Muhamadiyah Gantong lainnya, harus menjalani sesuatu yang baru. Dia temui kawan baru, yang tak lain adalah saudara sepupunya, Arai--yang baru saja ditinggal mati ayahnya. Mereka juga mendapat kawan baru lagi, Jimbron, bocah yatim piatu Muslim yang dirawat Pendeta Giovani. Uniknya, sang pendeta menyuruh Jimbron belajar mengaji di Surau. Di Surau inilah ketiga bocah ini, itu akrab dan menjadi pemimpi hebat. Perkawanan mereka berlanjut hingga ke SMA Manggar. Hidup mereka selanjutnya semakin dipenuhi mimpi-mimpi.

Ikal remaja (Vikri Setiawan) dengan mimpi menginjak Paris dan belajar di Universitas Sarbonne. Arai (Rendy Ahmad Syaifullah), juga punya cita-cita yang tidak jauh beda dengan Ikal, namun salah satu mimpi jangka pendeknya adalah mencuri hati Zakia Nurmala--"Kembang cantik" SMA Manggar (yang diperankan Maudi Ayunda). Mimpi Jimbron remaja paling penting adalah membuat Laksmi, yang juga sama yatim piatunya setelah orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, kembali tersenyum. 



Di sekolah, Arai dan Ikal tergolong murid pandai, namun Jimbron tidak hingga harus dibantu dua sahabatnya itu dalam mengerjakan tugas sekolah. Beruntung, sebagai para pemimpi belia, meraka memiliki guru Bahasa dan Sastra yang selalu mengajak murid-muridnya mengucapkan kutipan-kutipan orang hebat yang cuku memotivasi. Tidak hanya kutipan dari orang hebat kelas dunia, tapi juga potongan lagu dari Iwan Fals atau Rhoma Irama. Balia (Nugie Nugraha), sang guru hebat itu adalah sosok yang lemah lembut. Dia cukup bersebrangan dengan Pak Mustar (Landung Simatupang) sang kepala sekolah dalam mengajar. Tetap saja mereka adalah guru hebat, yang pergi kesekolah dengan sepeda butut dan dengan pakaian sederhana yang jauh dari necis.   

Mereka tidak seperti anak-anak SMA kota besar zaman sekarang. Mereka harus banting tulang sepulang dari sekolah. Bukan sekedar mengisi perut mereka, tapi juga untuk mimpi besar mereka, berangkat ke Paris. Mereka mengumpulkan jerih keringat mereka. Ikal dalam kotak pemberian A Ling yang bergambar Menara eifel. Dan, Jimbron yang terobsesi dengan kuda, menyimpan uangnya dalam dua celengan Kuda yang dia isi sama rata.

Sebagai mahluk yang melewati masa puber, mereka juga penasaran dengan seksualitas. Suatu kali mereka pun nekad menonton film semi biru, yang sedang populer kala itu dan kebetulan masih diputar di bioskop yang tidak jauh dari pondok mereka. Sialnya, mereka ketahuan Pak Mustar yang memaksa mereka pulang ketika film sedang di putar. Karena dianggap keterlaluan oleh Sang Kepala sekolah maka mereka dihukum membersihkan WC sekolah. Sebuah tempat paling terkutuk bagi Ikal karena joroknya yang luar biasa. Tidak jauh beda dengan WC pria di sekolah saya dulu, mungkin juga disekolah yang lain.

Sebagai pemimpi belia, kegalauan hati ada kalanya datang mendera. Ikal pun alami hal itu. Suatu kali Ikal menghilang dari sekolah dan mogok bicara selama beberapa hari. Sementara Arai, si pemimpi tergigih, hanya bersabar berusaha paham dengan sikap saudara sepupunya yang aneh itu.

Bagaimanapun, badai pasti berlalu. Sebagai para pemimpi tangguh, mereka kembali dalam rel mimpi mereka. Ikal kembali ke sekolah bersama Jimbron dan Arai. Mimpi Jimbron yang ingin melihat kuda dan membuat Laksmi tersenyum pun terwujud. Jimbron pun mengajak Laksmi yang penuh derita itu naik keatas kuda. Sebuah moment penting yang membawa dua anak manusia yang penuh derita itu mulai beranjak dari penderitaan mereka. Berbekal mimpi, dan tentu saja kerja keras, Jimbron pun meraih mimpinya.

Sebagai pemimpi, Arai berusaha sekuat tenaga merebut hati Zakia Nurmala. Untung saja Arai bertemu Bang Zaitun (Jay Widjajanto) Seniman Musik Melayu keliling yang lebih dari 30 tahun malang melintang di blantika musik Belitong dan sukses menggaet beberapa wanita yang kemudian menjadi istri-istrinya. 

Tidak rugi juga Arai berguru. Berbekal sebuah gitar dari Sang Guru, Arai yang berpakaian ala Melayu mendatangi jendela kamar Zakia Nurmala. Mulailah Arai menyanyikan lagi Melayu dengan indahnya demi pujaan hatinya. Tidak sia-sia juga, ketika Arai diatas kapal yang hendak meninggalkan Manggar, Zakia melambaikan tangannya dan memberi senyumannya pada Arai. Mimpi Arai terlaksana juga. Tentu saja Arai girang bukan kepalang.

Setelah masa SMA berakhir, Ikal dan Arai meinggalkan Belitung untuk ke Jakarta. Mereka berencana kuliah disana, lalu meneruskan mimpi mereka ke Eropa. Mereka berdua berpisah dengan Jimbron yang sudah menggandeng Laksmi. Kepada mereka, Jimbron memberikan dua celengan kuda yang dia isi uang sama rata. Meski Jimbron tidak mengantar sampai Eropa, tapi isi celengan kuda Jimbronlah yang ikut mengantarkan mereka. Di Jakarta, mereka bermetamorfosa. Arai dan Ikal menjadi sarjana juga dari Universitas Indonesia yang bergengsi itu. Arai dewasa (yang diperankan Nasril Ilham alias Ariel Peterpan) dan Ikal dewasa (oleh Lukman Sardi) terpisah. Lupakah mereka pada mimpi mereka? Tentu tidak terjadi pada mereka. Mereka bertemu lagi dalam sebuah wawancara beasiswa. Mimpi mereka pun makin di depan mata.

Jarak mimpi dan kenyataaan memang kadang tipis. Inilah aIasan banyak pejuang lahir. Hanya butuh kerja keras untuk membuka tabir yang membatasi mimpi dan kenyataan. Film ini harusnya bisa memberi insiprasi, seperti halnya bukunya yang sukses di pasaran buku Indonesia.

Dalam sang Pemimpi ini, Riri Riza kembali sukses menafsirkan isi buku Sang Pemimpi, dan sebelumnya Sang pemimpi. Nama-nama besar orang Seni Indonesia dalam film ini cukup mampu mendongkrak film ini menjadi sesuatu yang hidup seperti film-film Riri Riza yang lain. Selalu berusaha untuk realis dan selalu memberi jeda-jeda pengundang tawa disela-sela yang mengharukan dalam alur filmnya. Selalu saja,dalam film-film Riri Riza para penonton selalu sukses memasuki dunia yang menjadi setting film itu. Dalam film Gie, kita akan temukan aura Jakarta tahun 1960an. Dan, dalam Sang Pemimpi, sukses membawa kita ke Belitung tahun 1985an.

Bagi anda yang pernah menghabiskan masa SMA didaerah terpencil, maka anda akan terharu menonton Sang Pemimpi. Film ini akan membaca ke masa-masa SMA, yang katanya masa-masa paling indah. Silahkan mengenang masa SMA anda, bagi yang sudah pernah merasakannya. Bagi yang belum dan tinggal di perkotaan, anda tidak akan alami apa yang dialami Arai dan Ikal. Namun, dengan menonton Sang pemimpi anda akan rasakan sekolah di daerah yang jauh tertinggal.



    
Laskar Pelangi sudah bubar. Ikal yang merasa kehilangan, mulai dari A Ling sampai kawan-kawan SD Muhamadiyah Gantong lainnya, harus menjalani sesuatu yang baru. Dia temui kawan baru, yang tak lain adalah saudara sepupunya, Arai--yang baru saja ditinggal mati ayahnya. Mereka juga mendapat kawan baru lagi, Jimbron, bocah yatim piatu Muslim yang dirawat Pendeta Giovani. Uniknya, sang pendeta menyuruh Jimbron belajar mengaji di Surau. Di Surau inilah ketiga bocah ini, itu akrab dan menjadi pemimpi hebat. Perkawanan mereka berlanjut hingga ke SMA Manggar. Hidup mereka selanjutnya semakin dipenuhi mimpi-mimpi.

Ikal remaja (Vikri Setiawan) dengan mimpi menginjak Paris dan belajar di Universitas Sarbonne. Arai (Rendy Ahmad Syaifullah), juga punya cita-cita yang tidak jauh beda dengan Ikal, namun salah satu mimpi jangka pendeknya adalah mencuri hati Zakia Nurmala--"Kembang cantik" SMA Manggar (yang diperankan Maudi Ayunda). Mimpi Jimbron remaja paling penting adalah membuat Laksmi, yang juga sama yatim piatunya setelah orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, kembali tersenyum. 


Di sekolah, Arai dan Ikal tergolong murid pandai, namun Jimbron tidak hingga harus dibantu dua sahabatnya itu dalam mengerjakan tugas sekolah. Beruntung, sebagai para pemimpi belia, meraka memiliki guru Bahasa dan Sastra yang selalu mengajak murid-muridnya mengucapkan kutipan-kutipan orang hebat yang cuku memotivasi. Tidak hanya kutipan dari orang hebat kelas dunia, tapi juga potongan lagu dari Iwan Fals atau Rhoma Irama. Balia (Nugie Nugraha), sang guru hebat itu adalah sosok yang lemah lembut. Dia cukup bersebrangan dengan Pak Mustar (Landung Simatupang) sang kepala sekolah dalam mengajar. Tetap saja mereka adalah guru hebat, yang pergi kesekolah dengan sepeda butut dan dengan pakaian sederhana yang jauh dari necis.   

Mereka tidak seperti anak-anak SMA kota besar zaman sekarang. Mereka harus banting tulang sepulang dari sekolah. Bukan sekedar mengisi perut mereka, tapi juga untuk mimpi besar mereka, berangkat ke Paris. Mereka mengumpulkan jerih keringat mereka. Ikal dalam kotak pemberian A Ling yang bergambar Menara eifel. Dan, Jimbron yang terobsesi dengan kuda, menyimpan uangnya dalam dua celengan Kuda yang dia isi sama rata.

Sebagai mahluk yang melewati masa puber, mereka juga penasaran dengan seksualitas. Suatu kali mereka pun nekad menonton film semi biru, yang sedang populer kala itu dan kebetulan masih diputar di bioskop yang tidak jauh dari pondok mereka. Sialnya, mereka ketahuan Pak Mustar yang memaksa mereka pulang ketika film sedang di putar. Karena dianggap keterlaluan oleh Sang Kepala sekolah maka mereka dihukum membersihkan WC sekolah. Sebuah tempat paling terkutuk bagi Ikal karena joroknya yang luar biasa. Tidak jauh beda dengan WC pria di sekolah saya dulu, mungkin juga disekolah yang lain.

Sebagai pemimpi belia, kegalauan hati ada kalanya datang mendera. Ikal pun alami hal itu. Suatu kali Ikal menghilang dari sekolah dan mogok bicara selama beberapa hari. Sementara Arai, si pemimpi tergigih, hanya bersabar berusaha paham dengan sikap saudara sepupunya yang aneh itu.

Bagaimanapun, badai pasti berlalu. Sebagai para pemimpi tangguh, mereka kembali dalam rel mimpi mereka. Ikal kembali ke sekolah bersama Jimbron dan Arai. Mimpi Jimbron yang ingin melihat kuda dan membuat Laksmi tersenyum pun terwujud. Jimbron pun mengajak Laksmi yang penuh derita itu naik keatas kuda. Sebuah moment penting yang membawa dua anak manusia yang penuh derita itu mulai beranjak dari penderitaan mereka. Berbekal mimpi, dan tentu saja kerja keras, Jimbron pun meraih mimpinya.

Sebagai pemimpi, Arai berusaha sekuat tenaga merebut hati Zakia Nurmala. Untung saja Arai bertemu Bang Zaitun (Jay Widjajanto) Seniman Musik Melayu keliling yang lebih dari 30 tahun malang melintang di blantika musik Belitong dan sukses menggaet beberapa wanita yang kemudian menjadi istri-istrinya. 

Tidak rugi juga Arai berguru. Berbekal sebuah gitar dari Sang Guru, Arai yang berpakaian ala Melayu mendatangi jendela kamar Zakia Nurmala. Mulailah Arai menyanyikan lagi Melayu dengan indahnya demi pujaan hatinya. Tidak sia-sia juga, ketika Arai diatas kapal yang hendak meninggalkan Manggar, Zakia melambaikan tangannya dan memberi senyumannya pada Arai. Mimpi Arai terlaksana juga. Tentu saja Arai girang bukan kepalang.

Setelah masa SMA berakhir, Ikal dan Arai meinggalkan Belitung untuk ke Jakarta. Mereka berencana kuliah disana, lalu meneruskan mimpi mereka ke Eropa. Mereka berdua berpisah dengan Jimbron yang sudah menggandeng Laksmi. Kepada mereka, Jimbron memberikan dua celengan kuda yang dia isi uang sama rata. Meski Jimbron tidak mengantar sampai Eropa, tapi isi celengan kuda Jimbronlah yang ikut mengantarkan mereka. Di Jakarta, mereka bermetamorfosa. Arai dan Ikal menjadi sarjana juga dari Universitas Indonesia yang bergengsi itu. Arai dewasa (yang diperankan Nasril Ilham alias Ariel Peterpan) dan Ikal dewasa (oleh Lukman Sardi) terpisah. Lupakah mereka pada mimpi mereka? Tentu tidak terjadi pada mereka. Mereka bertemu lagi dalam sebuah wawancara beasiswa. Mimpi mereka pun makin di depan mata.

Jarak mimpi dan kenyataaan memang kadang tipis. Inilah aIasan banyak pejuang lahir. Hanya butuh kerja keras untuk membuka tabir yang membatasi mimpi dan kenyataan. Film ini harusnya bisa memberi insiprasi, seperti halnya bukunya yang sukses di pasaran buku Indonesia.

Dalam sang Pemimpi ini, Riri Riza kembali sukses menafsirkan isi buku Sang Pemimpi, dan sebelumnya Sang pemimpi. Nama-nama besar orang Seni Indonesia dalam film ini cukup mampu mendongkrak film ini menjadi sesuatu yang hidup seperti film-film Riri Riza yang lain. Selalu berusaha untuk realis dan selalu memberi jeda-jeda pengundang tawa disela-sela yang mengharukan dalam alur filmnya. Selalu saja,dalam film-film Riri Riza para penonton selalu sukses memasuki dunia yang menjadi setting film itu. Dalam film Gie, kita akan temukan aura Jakarta tahun 1960an. Dan, dalam Sang Pemimpi, sukses membawa kita ke Belitung tahun 1985an.

Bagi anda yang pernah menghabiskan masa SMA didaerah terpencil, maka anda akan terharu menonton Sang Pemimpi. Film ini akan membaca ke masa-masa SMA, yang katanya masa-masa paling indah. Silahkan mengenang masa SMA anda, bagi yang sudah pernah merasakannya. Bagi yang belum dan tinggal di perkotaan, anda tidak akan alami apa yang dialami Arai dan Ikal. Namun, dengan menonton Sang pemimpi anda akan rasakan sekolah di daerah yang jauh tertinggal.

Kamis, Mei 17, 2012

Nostalgia Ada Apa Dengan Cinta

Inilah kebangkitan film Indonesia. Film yang bukan sekedar kisah cinta, tapi juga bercerita tentang puisi.

Dekade 1990an adalah dekade suram dalam film Indonesia. Banyak orang bilang, tak ada film menarik dan bermutu. Ada pun film-film syur. Yang pamer payudara atau paha-paha. Banyak pelaku film lalu beralih ke sinetron. Sepinya penonton film Indonesia, munculnya stasiun televisi, masuknya film asing secara besar-besaran dianggap biang kerok keoknya film nasional.
            Lesunya film memang bikin banyak pelaku film frustasi. Tapi itu tidak semuanya. Harus disyukuri, ada beberapa sineas muda Indonesia yang sadar dan rindu film bermutu. Ada Mira Lesmana dan lainnya. Mereka bikin film yang agak absurd, yang berjudul Kuldesak. Bisa jadi, judul film yang jika diartikan sebagai jalan buntu ini sebuntu film nasional Indonesia.
            Beruntungnya lagi, ada beberapa sineas yang buat film seperti Rudi Sujarwo. Anak bekas Kapolri ini bikin film Bintang Jatuh. Ini adalah debut dari Dian Sastro—salah satu aktris muda Indonesia yang patut diperhitungkan aktingnya.
            Orang-orang rasanya masih ingat Petualangan Sherina. Film ini menyedot banyak penonton di Bioskop. Film anak-anak yang dibintangi Sherina, yang waktu itu masih penyanyi cilik, ini bercerita petualangan anak kecil untuk lolos dari penculikan. Tak ada unsure sadisme. Kekocakan aktor-aktor penculik juga jadi bukti akting orang Indonesia cukup baik. Tak butuh pamer dada rupanya untuk bikin penonton Indonesia masuk bioskop. Film ini sukses. Film Indonesia kembali bernafas. Anak-anak suka Petualangan Sherina. Kemudian, remaja-remaja pun diberi hiburan berkualitas setelah lebih dari satu dekade tak ada film bagus buat mereka.
 
Ada Apa Dengan Cinta

            Inilah Ada Apa Dengan Cinta. Masih garapan Rudi Sujarwo. Juga ada Dian Sastroyang kebagian peran sebagai Cinta. Film ini melahirkan aktor bagus seperti Nicholas Saputra.
            Banyak sepakat, film ini anak muda banget. Jalan cerita begitu sederhana. Bercerita tentang Cinta. Gadis SMA yang punya gang anak cewek yang aktif di Mading sekolah. Solidaritas mereka diangkat dengan halus apik. Sudah pasti bercerita tentang kisah kasih Cinta dengan Rangga. Yang dicap anak-anak sekolah sebagai mahluk aneh yang doyan membaca.
            Cinta, jago menulis puisi. Langganan juara di sekolah. Banyak orang anggap dia satu-satunya jagoan puisi. Tapi, dia tersadar ada juara baru dan orang-orang terkejut. Rupanya, sang penjaga sekolah diam-diam mengirimkan puisi bagus ke panitia. Dan puisi itu menang. Itulah puisi Rangga yang sering mengurung diri di kamar sang penjaga sekolah yang lugu itu. Yang oleh Rangga dianggap seperti keluarga sendiri. Maklum, Rangga anak aktivis yang dijauhi orang.
Rangga tak merasa dirinya juara. Karena tak mengirimnya. Rangga yang menulis puisi itu  awalnya tak peduli dengan puisi tersebut.


kulari ke hutan kemudian menyanyiku
kulari ke pantai kemudian teriakku
sepi… sepi.. dan sendiri aku benci
aku ingin bingar… aku mau di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga jika kusendiri

pecahkan saja gelasnya biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh
ada malaikat menyulam
jaring laba laba belang di tembok keraton putih

kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera
atau aku harus lari ke hutan
lalu ke pantai…
Puisi dasyat gubahan Rako Priyanto ini pun dikenal. Banyak orang membacakannya. Sebuah puisi yang berontak atas kesunyian diri. Dasar penyair, sunyi pun dipermasalahkan.
            Singkat kata terjalin kisah. Berawal dari puisi lalu berlanjut ke buku dan selanjutnya lagi adalah urusan hati. Meski sempat memusuhi Rangga, karena sikap Rangga yang super cuek ala kaum intelektual kesepian itu, akhirnya Cinta tergoda juga. Diam-diam buku Rangga disembunyikan Cinta. Buku berjudul Aku karya Sumanjaya (ayah dari drummer Wong Aksan) itu dibaca Cinta sampai habis. Dan bikin Cinta terkesan juga. Buku itu lalu dikembalikan diam-diam dan mereka pun mulai saling mengenal.
Kisah bergulir indah. Karena kencan Cinta dan Rangga membuat Cinta merasa hubungannya dengan sahabat-sahabat perempuannya memburuk, Cinta putuskan tak berhubngan lagi dengan Rangga. Rupanya, sahabat-sahabat Cinta tak melarang hubungan yang ditutupi-tutupi itu. Cinta sadar dia tak bisa lupakan Rangga. Akhirnya, sahabat-sahabat Cinta dukung Cinta. Cerita diakhiri dengan perpisahan Cinta dengan Rangga di Bandara. Dimana Cinta bersusah payah datang. Seperti yang ditulis Rangga dalam puisinya, “Perempuan datang atas nama cinta.”
Ilustrasi musik di film ini anak muda banget. Soundtrack-nya digarap Anto Hoed dan Melly. Album soundtrack dari film ini laris manis terjual. Konon, dalam hitungan jam, ratusan ribu copy kaset dan CD terjual.
Film ini juga membuat Aku karya Sumanjaya dicetak dan masuk toko buku lagi. Dengan sampul buku yang sama dengan yang ada di film. Aku adalah buku yang rencananya mau dikembangkan menjadi skrip untuk film. Aku adalah potret semi imajiner dari penyair Chairil Anwar alias si Binatang Jalang. Buku yang bagus. Film ini, tanpa disadari banyak orang, sebenarnya telah mampu mengajak anak muda suka sastra dan buku, meski hanya sastra popular. Ini yang saya acungi jempol dari film ini.
Ini adalah film terbaik di jaman saya SMA. Meski saya tidak begitu suka film romantis, tapi saya selalu mau diajak nonton bareng film ini.Anak muda masa kini pun bisa menikmati film ini. Beruntung bisa menontonnya bersama murid-murid saya yang hebat.

Senin, Mei 14, 2012

Mei Bergerak

Banyak perubahan bergulir di bulan Mei. Buruh bergerak, pemuda bergerak dan kaum komunis Indonesia juga bergerak di bulan ini.

Jaman penjajahan dulu, kitorang dikata Inlander. Semua pribumi memang dibilang Inlander. Jadi orang jajahan tentu tak enak. Diperas. Dihinakan. Tak jarang disamakan dengan anjing. Tak heran sering ditemui dimasa k olonial tulisan berbunyi: verboden voor honden en inlander (baca: dilarang masuk bagi anjing dan Inlander.
Banyak orang pribumi umumnya terima-terima saja disebut Inlander. Mereka tidak marah. Mereka hanya marah kalau tanah mereka diserobot atau harga dirinya diinjak-injak. Penjajahan identitas tak jadi masalah buat mereka. Mereka tak butuh identitas. Dan, orang-orang penjajah pun senang dengan kebodohan pribumi itu.

20 Mei 1908
Beruntung juga akhirnya bangsa yang disapa Inlander  ini. Ada sekumpulan anak muda, mahasiswa School tot Opleiding voor Indisch Artsen  atau Sekolah Dokter Jawa yang bikin gebrakan. Mereka bikin Boedi Oetomo yang ingin lebih banyak lagi orang terpelajar. Kalau perlu anak miskin pun disekolahka semampunya agar pandai seperti mereka juga.
Boedi Oetomo yang mau bikin anak bangsa ini cerdas pun tak diteladani oleh Negara yang kitorang kenal dengan nama Republik Indonesia ini. Negara ini lebih diisi orang-orang yang mendukug bisnis pendidikan. Boedi Oetomo pun tinggal masa lalu yang boleh dikenang dan ditangisi. Setuju atau tidak, langkah Boedi Oetomo jelas gebrakan untuk perubahan bagi manusia nusantara yang lebih baik.
Banyak orang sepakat, ini tonggak kebangkitan nasional. Namun, para pelaku rasanya tak pernah peduli akan disebut apa gebrakan yang mereka lakukan. Mereka hanya ingin lakukan yang terbaik. Boedi Oetomo lalu dielu-elukan. Banyak priyayi bergabung dan Boedi Oetomo pun jadi besar. Namun, para pendiri tak lalu tak peduli pada Boedi Oetomo yang mereka dirikan. Mungkin karena dominasi priyayi.
Tak bisa dipungkiri banyak anak muda ikut dirikan Boedi Oetomo. Soetomo sang ketua pertama tetaplah pejuang walau ia tak muda dan jadi mahasiswa lagi. Setelah jadi dokter dia tetap melawan pemerintah kolonial. Dia pemimpin Partai Indonesia Raya (Parindra) sebuah partai besar di jaman kolonial setelah dibekukannnya Partai Nasional Indonesia pimpinan Soekarno.  
Para pemuda dalam Boedi Oetomo bergerak di bulan Mei. Entah 20 Mei 1908, tonggak kebangkitan nasional atau bukan, tetap saja bulan Mei adalah bulan penting pembebasan negeri ini.

23 Mei 1920
Ada juga sekumpulan pemuda yang bukan anak sekolahan macam mahasiswa STOVIA. Meski tak makan bacaan, kecuali soal sosialisme dan tulisan kiri lainnya, para pemuda ini tak kalah pintarnya dengan anak sekolah yang belajar di STOVIA atau RHS Betawi.
            Ada Semaun yang cuma anak buruh dan sekolahnya tak lebih dari sekolah dasar. Semaun yang pintar jadi makin pintar setelah berguru pada HOS Cokroaminoto soal organisasi dan pergerakan. Lalu belajar pada Henk Snevliet soal sosialisme barat yang radikal. Ada juga yang lebih terpelajar dari Semaun sebenarnya, seperti Alimin dan Darsono.
            Orang-orang komunis generasi pertama ini mulai bergerak sejak muda. Di usia yang ke-17an, Semaun sudah jadi ketua SI cabang Semarang. Sudah tentu karena sudah kenal Snevliet, SI ini jadi SI merah. Karena Semaun memang merah. Kemungkinan Semaun jadi ketua lantaran banyak buruh kiri sudi masuk SI. Dimana mereka lebih sepaham dengan Semaun.
            Ketika tak lagi di SI, Semaun bersama kawan-kawan kirinya kemudian bersatu dalam sebuah partai komunis di Hindia.  Dimana partai itu kitorang kenal sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI).  
Orang-orang kiri ini tak hanya butuh orang yang sekedar pintar, tapi tak kalah penting adalah mereka butuh orang-orang yang mau bergerak sampai ke akar rumput. Banyak orang kiri ini dekat dengan orang miskin yang jadi buruh dan juga para jagoan atau preman. Alimin, seperti pernah disinggung Robert Cribb, sangat akrab dengan jagoan-jagoan Jakarta. Dalam kenyataannya, diantara para pemberontak yang terlibat dalam pemberontakan PKI 1926/1927 adalah para jagoan juga. Tak heran mereka tampak begitu nekat lawan aparat kolonial yang pakai bedil.
 Saya  hanya bisa beri dua contoh besar tadi. Bagaimana orang muda bergerak di bulan Mei. Masih banyak contoh lain rasanya. Ada revolusi Mei rasanya dalam sejarah sebuah negeri. Namun, ada contoh besar pergerakan di bulan Mei. Sesuatu yang mendunia sekali. Setiap tanggal 1 Mei, May Day, adalah harinya kaum buruh sedunia yang bergerak demi kesejahteraan bersama.
Suharto yang lebih dari 30 tahun jadi penguasa dalam rezim orde baru pun ditumbangkan di bulan Mei 1998. Ini adalah sala satu dari gerakan pemuda yang cukup penting dalam sejarah Indonesia. para haasiswa dan yag lainnya bergerak di bulan Mei untuk menindak Suharto yang lalim dan memiskinkan Indonesia.
Dan, Mei adalah bulan yang bergerak. Bulan Mei adalah bulan revolusi. Di bulan Mei, kadang kitorang jadi saksi atas sebuah perjuangan besar bagi kemanusiaan di muka bumi ini.
20 Mei 1908 mahasiswa STOVIA ajak orang-orang Indonesia agar tidak lagi jadi Inlander. Dan orang-orang komunis pun menyusulnya pada 23 Mei 1920. Semua adalah untuk kemanusiaan. Agar tiada yang diperas dan dihina. Mari Bergerak!

Senin, April 30, 2012

Pleidoi Orang Jelek

“Kenapa perempuan lebih sering pake bedak daripada pake otak?”
            “Karena laki-laki gak pernah pake otak.”

Tanpa sadar orang Indonesia jadi manusia yang menafikan Tuhan dengan membeda-bedakan manusia dengan melihat warna kulit, bentuk wajah. Kita mungkin salah satu dari manusia Indonesia itu. Kitorang boleh tertawa. Merasa taat pada Tuhan namun memelintir ayatnya dengan membeda-bedakan kaum tertentu atau bahkan merendahan kaum tertentu juga.

Rasis ala Orang Indonesia
Tuhan tak pernah ciptakan batas antar manusia. Namun, atas nama Tuhan, manusia telah membuat tembok besar diantara manusia-manusia. Pembeda-pembeda diciptakan demi strata-strata yang tidak hanya rumit tapi juga melecehkan kemanusiaan.
            Manusia Indonesia masa kini, entah sejak kapan?, adalah manusia rasis sebenarnya.  Mau bukti, pernah di Bandara, saya melihat dua wanita berbicara dalam bahasa Jawa yang isinya saya pahami sebenarnya merendahkan orang Papua yang berkulit hitam. Mereka berdua seolah merasa ngeri dengan kulit hitam si orang Papua, yang menurut saya berwajah ramah. Betapa dua wanita Jawa itu tak punya Bhineka Tunggal Ika. Walau tiap hari mengaku bangga jadi warga Indonesia yang merasa ber-Pancasila.
            Jika sikap rasis yang menganggap aneh orang Papua tadi diteruskan, Indonesia akan bubar. Indonesia Raya hanya tinggal sebuah lagu. Kalau mengaku masih ber-Pancasila, sebaiknya bunuh sikap rasis tadi.
            Manusia Indonesia yang lain pun tak kalah rasis juga. Ini melanda pengkonsumsi infotainment dan sinetron. Ada kala dimana para penonton begitu kesengsem dengan aktor atau aktris berwajah Indo. Karena mancung, agak pirang dan lain.
Bagi mereka, yang indo tentu lebih tampan dari saudara mereka yang dari Papua. Orang-orang ini adalah orang-orang yang rindu dijajah Belanda. Meski mengaku nasionalis, pemikiran ala orientalis kolonial jaman dulu melekat kuat dalam kepala mereka. Dimana Eropa adalah segalanya dalam banyak hal.
Orang Indonesia tetap berpikir ala orientalis meski mengaku nasionalis.  Meski pun kebanyakan orang-orang Eropa sudah lama meninggalkan pemikiran usang ala orientalis kolonialis tadi. Begitulah orang Indonesia, ngaku Indonesia tapi beranggapan ras Kaukosoid Eropa adalah bagus. Sebuah sikap rasis yang aneh dan sakit. Dan orang Indonesia selalu tak sadari kerasisan yang merendahkan diri mereka. Kerasisan yang mengamini kalau Tuhan tak adil. Karena memposisikan sebuah kaum atau ras tertentu lebih tinggi.
Sampai hari ini, kitorang Indonesia akan menilai perempuan dan laki-laki berwajah Eropa lebih rupawan ketimbang orang Papua. Sebuah hal yang masih kitorang pelihara tanpa kitorang sadari.

Tentang Rendah Diri
Pramoedya Ananta Toer pernah bercerita, dia pernah bercinta dengan wanita Belanda. Pram adalah orang yang rendah diri di masa lalu. Dia mungkin pernah merasa rendah diri sebagai Inlander waktu kolonial dulu.
Sebagai pengarang, Pram pun akhirnya banyak disukai orang, termasuk kaum hawa. Suatu kali, datang kesempatan. Pram akhirnya bercinta dengan wanita Eropa. Sebuah hal yang banyak diimpikan laki-laki Indonesia. Harus diakui, kitorang Indonesia selalu merasa “Bule itu keren.”
Ketika bercinta dengan wanita itu, Pram kemudian ada merasa, diatas ranjang semuanya adalah sama. Begitulah, diatas ranjang semua bangsa adalah sama. Di atas ranjang, tak ada di si rupawan dan buruk rupa. Semua adalah semua. Rasa rendah diri Pram pun hilang.
Ranjang seperti memberi kemerdekaan. Jika saya jadi Pram, saya akan berteriak, “Merdeka!!” Ketelanjangan dan ranjang ajarkan manusia lebih manusiawi ketimbang dunia nyata yang dipenuhi pesolek rasis.

   
Si Buruk Rupa
Manusia modern adalah manusia yang rumit. Manusia modern punya criteria bagaimanakah pria tampan dan wanita cantik, juga sebaliknya yang berwajah jelek. Hidung mancung, tubuh langsing bagi wanita atau kekar bagi para pria, kulit putih bersih adalah manusia rupawan.
Hidung pesek, gemuk atau terlalu kurus, pendek adalah kriteria jelek. Tuhan menciptakan manusia memang berbeda-beda, namun Tuhan dalam kitab suci tak pernah punya firman soal kriteria rupawan atau buruk rupa.
            Manusia modern begitu senang bersolek. Dan menekankan bersolek itu perlu. Tak heran, manusia modern pun rajin pakai krim ini, pakai krim itu. Sedot lemak macam sedot tinja. Suntik silikon di sana-sini biar merangsang. Lalu manusia modern yang tak peduli pada penampilan sering dianggap berwajah jelek dan tidak keren.
            Keasyikan bersolek akhirnya melupakan kualitas diri yang lain. Bersolek juga kadang bisa jadi jurus untuk menutupi kualitas diri—baik yang berupa pemikiran dan keterampilan. Memang, orang Indonesia lebih suka lihat tampang ketimbang kualitas diri. Jangan heran jika ada dialog singkat seperti:
            “Kenapa perempuan lebih sering pake bedak daripada pake otak?”
            “Karena laki-laki gak pernah pake otak.”
            Akhirnya, tanpa disadari, muncullah kaum buruk rupa. Di Indonesia, saya termasuk kaum buruk rupa juga. Karena wajah saya jelas tidak tampan dan ceking. Dan bermimpi punya wajah macam Christian Sugiono adalah mustahil. Punya badan sekekar Chris John juga mimpi di siang bolong.
            Tentu saja, sebagai si buruk rupa, saya tidak tinggal diam. Saya akan berkampanye, kalau menjadi tampan dengan pakai krim tertentu adalah terkutuk. Minum susu biar badan kekar tak hanya terkutuk tapi juga laknat! Bukan berarti jadi kekar dilarang, bukan pula langsing dilarang, namun lebih mulia jika semuanya terjadi secara alamiah. Kita bukan actor atau aktris yang ikuti skenario film keren.
            Kini adalah waktunya untuk berhenti rendah diri jadi manusia buruk rupa (seperti standar kaum kapitalis)! Jadi jangan peduli dengan wajah kita. Jadi buruk rupa pun tak masalah. Kalau percaya Tuhan dan Humanis, harusnya kita bilang, “wajah jelek bukan kutukan.” 

Selasa, April 10, 2012

Biarkan Kami Gondrong

Nabi juga gondrong. Namun, kenapa rambut gondrong selalu dipermasalahkan dengan alasan tidak rapi. Padahal rambut tidak berdampak buruk pada kinerja dan kecerdasan.



Jika anda laki-laki, dan rambut anda panjang, anda layak disebut gondrong.  Kalau anda wanita, dan anda juga berambut panjang, apakah anda tidak aneh disebut gondrong? Setahu saya, wanita sah-sah saja punya rambut panjang. Harus saya akui wanita dengan rambut panjang, memang terlihat cantik.
Rambut tak pengaruhi otak. Bahkan rambut gondrong tidak pengaruhi isi kepala. Rambut gondrong juga belum tentu membuat seseorang malas dan tidak berkarya. Tak jarang orang gondrong adalah orang-orang kreatif.

Tradisi massif Kolonialis
Rambut telah menjadi ukuran kesopanan, keberadaban bahkan indikasi mental dan semangat juang. Itulah fenomena jaman modern. Semua diukur dari kerapian ala orang kantoran. Tak rapi macam orang kantoran tak layak. Dunia modern cuma suka lihat bungkus. Isi busuk tak apa, yang penting bungkus bagus. Tak heran kalau Indonesia jadi bangsa negara penipu yang menipu rakyatnya.
Termasuk dalam urusan rambut. Ini sudah gila. Saking paranoidnya, orang gondrong selalu disamakan seperti genderuwo atau semacamnya. Orang-orang Indonesia tidak mau belajar dari sejarah. Lihat saja di gereja-gereja, Yesus kan rambutnya gondrong. Bukan cepak macam kadet Akademi Militer. Juga tidak potongan pendek belah tengah macam Mao Ze Dong muda.
Orang Indonesia, tahunya kalau orang gondrong seperti genderuwo. Mereka pikir semua orang gondrong itu jahat. Coba pikirkan, jika Musso dan Aidit yang pemimpin PKI itu dianggap jahat, kita harus lihat rambut mereka tidak gondrong. Hampir semua koruptor bahkan tidak gondrong. Rambut mereka memang tidak gondrong, tapi mental mereka jelas genderuwo.
Orang Indonesia juga lupa kalau banyak pejuang gerilyawan Indonesia yang dulu bertempur melawan tentara Belanda jaman revolusi juga berambut gondrong. Tidak menghargai orang gondrong, berarti juga tidak menghargai perjuangan bangsa ini. Alias tidak nasionalis karena tidak menghargai para pejuang yang pernah gondrong.
Orde baru, meski sok liberal tulen, pernah antipati sama orang berambut gondrong. Entah kenapa? Setahu saya, banyak pejabat orde baru itu agamanya Islam dan juga Kristen. Kalau kita ke gereja, lihat saja banyak lukisan Yesus berambut gondrong. Muhammad, juga rasanya berambut gondrong. Tak ada tradisi cukur rambut teratur di masa lalu. Meski rambut mereka tidak jelas, mungkin juga gondrong, mereka bisa bikin jutaan orang tercerahkan. Itu luar biasa.
Saya kadang merasa kesal kalau ada orang Islam atau Kristen yang suka bilang, orang gondrong itu banci. Mengatakan orang gondrong itu banci, sebenarnya sama saja bilang Nabi-Nabi itu banci juga. Orang-orang Indonesia mulai massif rajin cukur rambut, itu karena dijajah Belanda. Jadi cukur rambut juga tradisi kolonial juga. Tapi, kaum nasionalis juga ikut-ikutan kaum penjajah juga, dengan rajin cukur rambut.
Setahu saya, Hatta juga rajin cukur rambut. Sebulan sekali, dengan waktu, tempat dan pencukur yang sama juga. Tapi, tak semua orang di Nusantara ini harus dan bisa seperti Hatta. Mereka juga punya hak untuk tidak seperti Hatta. Mereka punya hak untuk tidak perlu serapi Hatta. Mereka juga punya hak untuk gondrong.

Kami Gondrong Karena Kami Berkarya

Yesus, sebagai seorang nabi sudah beri pencerahan dan pembebasan bagi jutaan umat manusia di dunia. Seniman yang bisa membuat karya hebat juga berambut gondrong.  Lihat saja John Lennon, sebagai orang gondrong dia bisa mengajak dunia untuk hidup damai. Ketika orang-orang berambut rapi dan agamawan hanya sibuk dengan kepentingan kelompok mereka. Apa Lennon tidak bisa disebut mulia? Apa orang gondrong tidak boleh mulia?
            Orang gondrong selalu jadi masalah di kampus. Banyak mahasiswa gondrong dilarang ikut mata kuliah seorang dosen. Ada mahasiswa gondrong yang dianggap aneh di hadapan Rektor. Jika Rektor itu bermental produktif, si Rektor tentu akan bertanya, mana karyamu? Kamu sudah lakukan apa saja dengan rambutmu? Tapi Rektor saya bertanya soal rambut saya bukan karya dan kegiatan saya.
            Entah apa yang salah dari orang gondrong? Apa itu mengganggu nafkah orang lain? Apa gondrong itu mempengaruhi hidup mati orang lain? Jelas bahwa orang modern dijebak denga kata rapi. Begitulah Indonesia. Rapi adalah simbol peradaban. Bukan karya nyata. Layak saja Indonesia jadi bangsa penipu yang suka menipu sesamanya. Kerapian hanya memaksa orang terlihat bagus namun tidak pernah berpikir memiliki kualitas diri dan jadi orang berkarakter.
            Banyak orang gondrong juga punya kontribusi. Mereka tidak melulu pikirkan uang dan perut mereka. Mereka pikirkan juga bagaimana orang lain bisa makan. Orang gondrong juga berkarya. Lihat saja di Jogja, banyak orang gondrong punya karya. Banyak orang gondrong  juga peduli pada sesamanya, termasuk yang tidak gondrong.
            Dengan ini saya menuntut kepada semua element, hargailah orang gondrong. Biarkan mereka gondrong agar bisa berkarya dan berkegiatan dengan nyaman. Berikanlah kebebasan untuk berambut gondrong. Tidak hanya pada seniman, tapi juga kepada guru, dosen, pegawai dan lainnya agar kejujuran bisa ditegakan. Jujur berpenampilan harapannya akan membuat orang jujur dalam banyak hal. Biarkan kami gondrong, biarkan kami berkarya dan berkegiatan dengan rambut kami.

Senin, Maret 26, 2012

Angkringan dan Bu Siti

Jogja punya semuanya: buku murah, makanan murah, enak dan sehat. Itu sudah cukup buat saya.

Semua sepakat Jogja adalah pelajar. Sedari dulu memang begitu. Barangkali sebelum ada film Cintaku di Kampus Biru. Isinya jelas bukan melulu orang mapan. Pelajar atau mahasiswa jelas bukan orang mapan. Mereka masih mengemis dari orang tua mereka. Di Jogja, mahasiswa adalah mahluk yang jauh dari rumah. Jauh dari orangtua membuat kondisi kacau kantong. Banyak mahasiswa tak sanggup atur kantong mereka dengan benar.
Seperti  manusia lain, mahasiswa juga butuh makan. Makanan murah, enak dan kalau bisa sehat adalah impian mahasiswa Jogja yang jauh dari rumah orang tua mereka. Tidak sulit mencari makanan murah di Jogja. Di sekitar kampus, selalu ada warung makan murah meriah.
Ada ratusan warung murah meriah menyebar di penjuru Jogja. Di Bulaksumur, Karangmalang, Mrican, Babarsari, Seturan dan titik-titik kampus lainnya. Warung murah tadi belum termasuk Angkringan yang menyebar hampir di semua penjuru Jogja.

Ayo Ngangkring!
Setiap tanggal tua, angkringan adalah sahabat. Mahasiswa yang mendadak kere, bisa temukan nasi kucing disini. Nasi kucing adalah nasi putih biasa. Lauknya bisa kering tempe, sambel teri atau oseng-oseng lainnya. Porsinya jelas porsi makan kucing. Tidak banyak, hanya segenggem tangan orang dewasa. Nasi kucing sangat disukai orang yang makannya sedikit. Tapi, kurang bagi orang yang biasa makan banyak seperti saya.
Harga nasi kucing, setahun silam, 2011, masih Rp 1.000 tiap bungkusnya. Harga gorengan masih Rp 500 saja. Entah sekarang. Sebelum tahun 2011 kebawah tentu harganya lebih miring lagi. Tahun 2002, ketika saya baru masuk kuliah harga nasi kucing Cuma Rp 500 dan gorengan masih Rp 200 saja. Selain menyediakan nasi kucing,
Angkringan, meski harga makannya murah, tetap saja pengunjungnya tidak melulu orang-orang bokek. Angkringan sediakan teh hangat, teh jahe hangat, kopi dan sate usus. Semua menu itu disukai pengunjung. Para bekas mahasiswa Jogja yang sudah mapan, biasanya masih rindu dengan hidangan angkringan.
Angkringan, selain tempat makan, bisa jadi tempat berkumpul bagi mahasiwa. Angkringan kadang menyediakan lesehan dengan menggelar tikar di pekarangan belakang gerobak angkringan. Entah diskusi soal pelajaran di bangku kuliah, rapat organisasi, atau sekedang nongkrong. Ada juga yang pacaran di lesehan angkringan.
Angkringan jadi bagian sejarah penting para mahasiswa dan pendidikan di Jogja. Ada banyak proses pembelajaran disana. Angkringan juga punya sejarahnya sendiri.


Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Ya, ke sini, ke Jogjakarta. Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja. Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula. (http://sekedar-tahu.blogspot.com/2010/01/sejarah-angkringan.html)


Jogja seperti surga bagi saya waktu kuliah dulu. Buku murah, karena banyak penerbit dan fotocopy buku bajakan. Makanan juga murah, karena angkringan dimana-mana. Angkringan Temon & Felix di dekat kampus saya adalah angkringan yang tidak saya lupakan.


Bu Siti Im Coming
Warung nasi murah meriah tersebar di penjuru Jogja juga sangat penting dalam kehidupan mahasiswa. Warung-warung itu baru tutup ketika mahasiswa mudik. Biasanya ketika lebaran. Jangan harap temukan warung kala lebaran.
            Warung-warung nasi itu biasanya sediakan nasi sayur dan aneka lauknya. Mulai dari tempe, perkedel, ikan, daging ayam dan sapi. Biasanya harganya miring. Seperti warung tegal, namun dengan rasa yang tidak terlalu asing seperti warung tegal. Jogja identik dengan rasa manis. Seperti karakter para penghuninya.
            Sebagai bagian dari mahasiswa kere, saya punya langganan warung nasi. Murah meriah, enak dan sehat menurut saya. Benar-benar harga mahasiswa. Setahun silam, dengan uang Rp 5.000 saya bisa makan nasi sayur, ayam dan juga jus buah. Ini warung prasmanan, jadi kita bisa ambil nasi sayur sesuka kita. Tentu saja, saya ambil nasi dan sayur agak banyak seperti kuli. Karena kadang tidak yakin bisa makan atau tidak setelahnya.  
            Kami semua, para pelanggan biasa panggil si pemilik warung Bu Siti. Saya tidak tahu nama lengkapnya. Pastinya dia berjilbab dan tak pernah diam di warungnya. Warung ini semula di daerah Sagan, dekat Galeria Mall. Setelah itu sempat pindah ke komplek perumahan dosen UGM di Bulaksumur. Terakhir di Deresan.
            Saya pertama kali makan disini atas ajakan kawan. Sekitar tahun 2008, ketika insyaf ingin lulus kuliah. Berhubung BU Siti banyak punya pelanggan lecek seperti saya, dia mengira saya langganan lama. Dia pernah tanya kapan saya kuliah. Dan dia menyangka saya langganan sejak 2002. Dia selalu panggil saya Mbah Kakung.
            “Mbah Kakung, dari 2002 sekarang gak pernah berubah. Tetap lecek aja.” Begitu setiap kali Bu Siti menyambut kedatanga saya di warungnya. Kami akrab seperti bukan orang lain. Biasanya, orang yang datang bersama saya ke warung itu akan tertawa. Apalagi adik-adik angkatan. Saya pelanggan tertua disana. Saya bangga jadi pelanggan Bu Siti.
            Walau pacar berganti, Warung Bu Siti tetap warung tetap tempat makan saya. Murah, enak dan sehat—menurut saya. "Bu Siti Im Coming!!".

Alam Seperti Buku Pesta dan Cinta

Jangan mengaku anak muda kalau tak pernah camping. Jadi belajarlah tentang hidup bersama Alam kebesaranNya, jika merasa DIA ada.

Tidur nyenyak di rumah yang nyaman memang yang terbaik. Namun, hidup di alam terbuka juga sesuatu yang wajib dicoba juga. Ini bukan perkara penyiksaan diri yang asketis. Banyak manusia yang tak menyadari bahwa dalam ketidaknyamanan ditemukan kenyamanan dan kebahagiaan yang barangkali nikmat tiada tara.
            Semua percaya alam memberikan segalanya. Manusia hidup (bergantung) dari alam. Alam adalah sumber banyak hal. Alam adalah inspirasi, seperti pujangga-pujangga dulu. Orang beragama percaya Alam adalah kebesaran Illahi yang patut disyukuri.
            Menyatu dengan alam adalah perlu. Manusia memang harus bersahabat dengan alam, karena manusia hanyalah penumpang yang dititipi Illahi. Jadi, penting bagi manusia untuk menjaga titipan Illahi tadi.

Kenali Atau Tersiksa
Manusia memang mahluk sosial. Dimana manusia punya konsekuensi yang tak bisa dihindari, yakni berinteraksi dengan manusia lain. Dimana interaksi-interaksi itu belum tentu menyenangkan. Manusia boleh jadi kawan yang belum tentu baik, tapi alam sebenarnya selalu siap menjadi kawan yang baik juga. Asalkan kita bisa bersahabat dengan alam.
            Alam bisa memberi banyak manfaat jika kita mau belajar dan bersahabat dengannya. Sebaliknya, alam akan menyiksa manusia jika manusia tak mau belajar dan bersahabat dengannya. Lihat saja banjir yang dikarenakan ulah manusia, jelas karena mereka tidak bia bersahabat dengan alam. Siksaan alam jauh lebih pedih. Keacuhan kita pun bisa jadi alasan alam menyiksa kita.
            Jika kita tersesat dalam hutan, adalah kondisi dimana kita dituntut bisa bersahabat dengan alam. Jika kita mengenali alam kita maka kita akan selamat. Sebaliknya jika kita tak mengenali alam hutan itu, kita hanya dirundung ketakutan dan kemalangan. Hingga hutan menjadi siksaan.
            Ada banyak cara belajar mengenai Alam. Bukan harus dari buku atau pelajaran biologi di sekolah. Tidak semua orang suka buku atau belajar di kelas dimana menghafal adalah metode terbaik.Turun langsung adalah lebih baik.
            Camping di alam terbuka jelas hal menyenangkan bagi mereka yang suka alam terbuka. Meksi hanya berawal dari suka, sebenarnya ketika camping, tanpa sadar kita akan belajar perlahan dan menyenangkan tentang alam. Cinta membuat manusia belajar apasaja tentang yang dicintainya, tanpa menyadari dirinya sedang belajar. Rasa cinta pada alam membuat Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) mana pun belajar banyak hal tentang alam. Tidak heran, karena cintanya pada alam banyak mapala-mapala bertahan lama di kampusnya dengan berbagai alasan yang mereka miliki. Tak ada yang mengalahkan rasa cinta dalam hal ini.
            Camping, mengajari banyak hal bagi remaja atau penikmat alam pemula. Di alam, kita akan belajar tentang kemandirian. Manusia dituntut untuk tidak bergantung pada orang lain. Dia harus bisa mengatasi masalah dan tantangannya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Ada kalanya, manusia dihadapkan pada kesendirian. Berharap bantuan orang lain adalah salah, yang benar adalah kita menolong diri kita sendiri dalam kesendirian. Jika kita mandiri mampu menjaga diri sendiri maka kita akan bisa menolong orang lain yang membutuhkan. Ini bukan membuat kita menjadi egois, melainkan menjauhkan diri dari sikap manja. Hidup di alam terbuka bukan di hotel mewah pastinya.
            Kita juga akan belajar bertanggungjawab pada apapun. Mulai dari diri kita sendiri, pada apapun yang kita bawa dan juga pada Alam. Jika kita camping, kita akan berusaha menjaga keselamatan kita, mulai dari diri kita sendiri dan bersama. Kita juga akan bertanggungjawab pada apapun yang kita bawa. Jika kita meninggalkan atau kehilangan panci atau kompor kita terancam kelaparan. Jika meninggalkan baju hangat kita akan kedinginan. Lapar dan dingin di atas gunung tinggi bisa mengakibatkan kematian. Disinilah tanggungjawab itu perlu. Selain itu, kita harus bertanggungjawab pada alam dengan tidak merusak tanaman-tanaman yang kita lewati dan tidak meninggalkan sampah. Merusak alam berarti merusak masa depan kedamaian manusia juga. Mengotori alam terbuka akan merusak pemandangan alam di masa depan. Dimana kita tak temukan lagi pemandangan indah di masa depan. Itulah mengapa tanggungjawab perlu dan bisa mempelajarinya dari camping.
            Camping mengajarkan untuk berbagi juga. Dalam kondisi mapan diatas gunung, para pendaki biasanya mau menolong pendaki lain. Jika seorang pendaki bisa mandiri dan agak berlebih, biasanya pendaki rela berbagi makanan. Apalagi dengan sesame kawan camping. Akan ada waktu berbagi.
            Tanpa disadari, camp melahirkan persahabatan juga. Semua orang di dalam camp adalah kawan. Begitu diantara pendaki, semua pendaki sejatinya adalah kawan. Begitulah Alam bisa mendamaikan dan mengeratkan semua manusia yang menikmati Alam.
            Untuk pergi ke lokasi camping, diperlukan keterampilan yang agak dianggap sepele seperti membaca peta dan kompas, memasak, membangun camp, mencari lokasi camp dan lainnya. Kita bisa bertanya pada orang-orang yang berpengalaman camping. Kita bisa mempelajarinya pelan-pelan sambil camping tentunya.
Jika kita tahu bagaimana hidup di alam terbuka maka camping menjadi hal menyenangkan. Camping akan membuat seseorang pemuda untuk siap menghadapi banyak masalah di masa depan dengan sigap.

Bercermin pada Gie
Pemuda turunan Tionghoa ini bukan raja camping. Dia semacam resi (orang bijak) dalam hal camping di gunung. Menikmati alam adalah hal yang sering dia lakukan. Bersama teman dan kadang dengan pacarnya, jika ada. Gie, nama lengkapnya Soe Hok Gie, bukan penjelajah macam Sir Edmond Hillary.  Gie suka naik gunung. Dia naik bersama kawan-kawannya.
            Naik Gunung adalah salah satu contoh bersahabat dengan alam juga. Naik gunung membuat seseorang bisa mandiri, bertanggungjawab dan berjiwa sosial juga. Jangan heran jika beberapa komunitas menjadikan gunung sebagai tempat perploncoan. Dimana anggota komunitas baru belajar dan diajarkan bagaimana menghadapi hidup yang sebenarnya. Dan biasanya, para calon anggota itu akan dilantik sebagai anggota di puncak gunung.
            Selain tempat belajar, bagi Gie camping dan gunung adalah untuk mereka yang ingin damai. Bukan lari dari kenyataan. Tapi bagaimana mencari kekuatan dari alam yang Tuhan limpahkan di segala penjuru alam. Bersahabat dengan alam akan memberikan kekuatan pada kita. Gunung atau alam terbuka membuat Gie merasa nyaman dan bisa berisitirahat dari ketidaknyamanan Indonesia dimasa orde baru.
            Seperti  pemuda lain, Gie juga bisa berhura-hura seperti kawan-kawannya. Seperti pesta. Nikmati alam adalah sebuah kecintaan tersendiri. Dan cinta itu, bagi yang mau percaya katanya, akan bisa ditemukan ketika menikmati alam. Gie menemukannya.
            Alam memberi banyak hal pada kita. Kita bisa memperoleh pengetahuan seperti membaca buku. Alam mampu membuat sekumpulan manusia bahagia layaknya sebuah pesta tanpa akhir. Dan manusia akan menemukan suasana menyenangkan di alam terbuka layaknya orang jatuh cinta. Ya, alam itu ibarat buku, pesta dan cinta.

Sepanjang Jalan Sudirman

Sepanjang jalan Sudirman, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan Sudirman kau peluk diriku mesra

Jalan ini begitu lebar. Aspalnya hitam dan mulus. Nyaris tanpa lubang. Ditengah jalan ada pepohonan atau taman mungil. Di sisi kanan kirinya ada trotoar. Jalan ini pasti jalan ramai di sebuah kota.

Hampir setiap kota di Negeri ini punya jalan ini. Meski hanya beberapa kilometer saja. Jalan ini begitu ramai. Biasanya, beberapa kantor pemerintahan atau perusahaan besar ada di jalan ini. Pasar rakyat atau mall juga di jalan ini.

Jalan Protokol

Nyaris semua warga kota pasti pernah melintasinya. Entah untuk pergi ke kantor, pasar, sekolah atau yang lainnya. Jalan ini tak pernah sepi setiap harinya. Minggu pagi, meski lengang, ada saja yang melintas. Entah orang jogging atau pedagang keliling. Minggu pagi memang waktu yang tepat jalan-jalan pagi bersama yang tersayang atau binatang kesayangan.

Jalan ini, sedari dulu umumnya sudah jadi jalan penting. Dari zaman Ratu (Belanda) jadi penguasa Nusantara—nama Indonesia sebelum ada istilah Indonesia. Jalan ini sengaja dibuat lebar. Sebagai jalan penting, jalan ini sering dipakai parade. Di jaman kolonial dulu tiap 31 Agustus. Dan berubah jadi 17 Agustus setelah Republik Indonesia berkuasa.

Di tiap kota, di masa lalu nama jalan ini berbeda. Suka-suka siapa yang berkuasa. Di jaman kolonial dulu pakai nama Belanda pastinya. Entah nama raja atau ratu, atau nama tempat di Negeri Belanda sana.

Waktu Indonesia merdeka, nama jalan itu otomatis berubah juga. Tentu saja atas nama Nasionalisme. Nama jalan yang semula memakai nama asing diubah jadi nama-nama Indonesia. Begitulah era Sukarno.

Nama jalan besar itu bukan sekali dua kali berganti. Setelah Sukarno—salah seorang pendiri Negara Indonesia—ditumbangkan secara terselubung, nama-nama jalan berubah lagi. Nama-nama Jenderal pun banyak dipakai. Tak ada Jenderal, nama Kolonel, Letnan Kolonel, Mayor dan lainnya juga boleh dipakai. Jika perlu nama kopral pun dipakai juga.

Sukarno merubah nama jalan, itu perkara identitas. Demi sebuah negeri yang disebut Indonesia. Sementara itu, Suharto—dengan sok heroik—merubah nama jalan menjadi nama-nama serdadu. Suharto, tanpa sadar merusak Indonesia dengan membohongi rakyat dengan memperbanyak nama jalan dengan memakai nama serdadu. Seolah-olah jaman revolusi dulu yang berjuang dan menderita hanya serdadu TNI. Nyatanya banyak pejuang non tentara. Mereka ogah jadi tentara bahkan ketika mereka ditawari jadi tentara.

Jika Sukarno ubah nama jalan karena perkara identitas, maka Suharto ubah nama jalan karena perkara politis. Jelas sekali terasa. Nama jalan berbau militer. Dia ingin memperkuat pengaruh militer dalam semua lini kehidupan agar kekuasaannya terjaga. Tidak heran nama jalan protokol ini penting bagi penguasa.

Sebagai Dagangan Historis

Yani, Letnan Jenderal Ahmad Yani, sebenarnya rival terselubung Ahmad Yani. Yani adalah orang yang berbahaya bagi karir militer Suharto. Banyak orang yakin jika masih hidup, dan Sukarno meninggal, maka Yani adalah Presiden Indonesia. Tapi berhubung Yani tewas, maka Suharto naik.

Orde Baru ikut memuji Yani. Rivalitas tak perlu diingat. Sebagai korban penculikan pasuka G 30 S pimpinan Letkol Untung, nama Yani sangat menjual bagi kampanye anti-komunis yang dilancarkan Orde Baru. Jualan orde baru adalah antikomunisme. Semua orang komunis dihabisi hidup dan penghidupannya. Orang-orang yang tidak disukai, entah karena bersebrangan dengan Suharto atau pendukung setia Sukarno, tinggal dicap komunis saja. Selanjutnya, habislah mereka atau setidaknya masuk kerangkeng orde baru.

Nama Yani diabadikan agar semua orang memusuhi orang-orang kiri (termasuk komunis) dan Suharto punya banyak pengikut. Sehingga kekuasaan Suharto aman. Nama jenderal lain adalah D.I Panjaitan—yang tidak suka pada Suharto dengan menolak Suharto sebagai ketua senat di Seskoad karena kasus korupsi Suharto di Jawa Tengah. Beruntung juga Suharto akhirnya, seperti Yani juga, Panjaitan diculik pasukan Untung. Nama Panjaitan harum dan Suharto semakin merajalela.

Nama-nama Pahlawan revolusi adalah paling laris. Namun, seperti dalam hirarki militer, maka harus ada nama Jenderal yang harus disebut. Tentu saja ini bukan Jenderal sembarangan. Nama Sudirman pun diangkat sebagai nama jalan. Sudah pasti ini jalannya bagus. Jalan yang mulus dan lebar. Rasanya selalu nama jalan protocol di kota-kota di Indonesia.

Orde baru memang orde militer. Kebanyakan pemimpin dan juga nama-nama jalan adalah nama orang militer. Orde baru memang bau kacang ijo.

Jalan Kenangan

Jalan punya banyak peran dalam hidup manusia. Dimana banyak manusia melintas. Sejarah juga melintas disana.

Jalan Sudirman di Jakarta jelas penting. Gedung-gedung perkantoran mengapit di dua sisi. Untuk memperjelas nama jalan itu Jalan Jenderal Sudirman, maka sebuah patung Jenderal Sudirman dibangun disana.

Di kota lain pun hampir serupa, setidaknya jadi pusat keramaian. Jalan Jenderal Sudirman pun memang sohor. Tak ada Jalan Jenderal Sudirman pun, dia tetap kesohor dan jadi idola. Entah di kalangan orang Muhamadiyah, karena Sudirman guru di sekolah Muhamadiyah. Juga sebagian kalangan prajurit. Dalam sejarah perang, Sudirman adalah Jenderal yang memimpin perang dengan satu paru-paru.

Jalan menyimpan banyak memori. Ribuan kenangan banyak orang tersimpan disana. Mulai dari yang kecelakaan lalu-lintas, ditilang Polantas, kecopetan atau yang lainnya. Bagi yang kasmaran, pasti akan ingin melintasi jalan itu bersama pasangannya. Naik sepeda motor, sepeda, angkot, jalan kaki pun tak masalah asal gandengan. Ada yang masih sekedar khayalan atau sudah jadi kenyataan. Dan, jalan Sebagian warga kota biasanya punya kenangan tertentu disana. Semua kenangan itu juga tak lepas adanya fungsi jalan dalam tataran pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.

Jalan Sudirman pun tak lagi perkara identitas seperti Sukarno; perkara politis seperti Suharto, tapi juga perkara romantis bagi sebagian warga kota. Tinggal pelesetkan lirik sebuah lagu lawas: “sepanjang jalan kenangan, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan kau peluk diriku mesra” menjadi “sepanjang jalan Sudirman, kita slalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan Sudirman kau peluk diriku mesra”

Sepanjang Jalan Sudirman menyimpan kenangan. Barangkali ini yang paling berkesan bagi banyak orang. Jalan bukan perkara identitas apalagi perkara politis, ini perkara romantisme dan pragmatisme juga. Jalan penuh kenangan.

Minggu, Februari 26, 2012

Berapa Jumlah korbannya?

Saya pun hanya bisa bilang, berdasar perkiraan saya, jumlah korban masih dalam angka ribuan bukan puluhan ribu.
 


Ada taksiran jumlah korban mencapai 40.000 jiwa. Menurut Edward Polinggomang, Sejawarawan Sulawesi Selatan, angka ini berasal dari Kahar Muzakkar—ketika Kahar berada di Jawa semasa revolusi Indonesia—yang begitu prihatin terhadap pembantaian orang-orang Indonesia di Sulawesi Selatan.
Sementara itu, AD RI pernah melakukan penyelidikan jika jumlah korban yang terbunuh hanya 1700. Itu pun bukan memulu dilakukan tentara Belanda. Tapi juga milisi lokal pro Belanda. Saya pernah kutip ini dalam skripsi pertama saya yang gagal, Westerling Kudeta Yang Gagal.
Pemerintah Belanda mengaku hanya sekitar 3.000 sampai 5.000 orang saja korban pembantaian itu.  Westerling sendiri, sebagai mahluk yang paling bertanggung-jawab disana mengaku hanya membunuh 400 sampai 700 saja. Tentu saja, Westerling hanya melihat korban-korban yang dia lihat saja. Westerling seperti lupa, jika tentara Belanda lainnya juga tidak ingin kalah kejam. Ternyata, sebagian orang Belanda, juga sebagian tentara Belanda pun, juga ngeri dengan  aksi-aksi Westerling—yang diberi judul sebagai kampanye Pasifikasi itu. Meski disebut kampanye pasifikasi, orang-orang lebih merasa benar jika sebut itu pembantaian.
Berapapun jumlahnya, membunuh orang lain adalah salah. Seorang awan keturunan Bugis, yang dulu kuliah di Makassar, juga tidak yakin dengan jumlah korban mencapai 40.000 jiwa. Banyak orang di Makassar sendiri kurang yakin dengan angka itu. Bisa dipastikan, mereka sepakat jika pembantaian yang dilakukan Westerling mengerikan. Sebuah teror luar biasa diciptakan oleh tentara Belanda, baik KNIL atau KL.
Upaya Westerling cukup menebar terror juga. Pasca pembantaian yang berlangsung sejak Desember 1946 sampai akhir Februari itu, perlawanan gerilya di Sulawesi Selatan berkurang. Banyak gerilyawan mundur. Bukan untuk jadi pengecut tentuya. Tentu saja orang Bugis dan Makassar punya Sirri na Passe yang membuat mereka tidak punya alasan jadi pengecut.
Mengapa perlawanan mengendur? Kemanakah gerilyawan pro Republik ketika banyak orang tak berdosa dibantai? Tentu saja, posisi tentara Belanda jelas kuat. Gerilyawan lebih memilih bertahan di hutan atau gunung daripada masuk kampung dan orang kampung jadi korban tentara Belanda seperti ketika Westerling datang.
Yang terbunuh belum tentu orang yang membantu gerilyawan. Cara Westerling mencari gerilyawan atau orang-orang yang membantunya adalah dengan mengumpulkan semua penduduk di tanah lapang. Selanjutnya, Westerling akan menunjuk salah satu dari mereka dan memaksa orang itu menunjukan siapa gerilyawan maupun orang-orang yang biasa bantu gerilyawan. Tentu saja orang itu dibawah todongan senjata api. Biasanya, orang yang dipaksa dan merasa terancam itu, akan menunjuk sembarangan agar terbebas dari tekanan dan kematian oleh peluru tentara Belanda. Bukan tidak mungkin si orang yang disuruh menunjuk itu akan menunjuk orang yang tidak disukainya di kampung.
Begitulah pembantaian Westerling. Hasilnya, banyak janda, anak yatim dan orang tua yang ditinggal mati anaknya. Trauma itu pasti ada. Jika orang-orang itu menuntut pada Pemerintah Belanda itu hal yang wajar. Peristiwa Rawagede adalah contoh bagaimana pemerintah Belanda berusaha bertanggungjawab. Bahkan Duta Besar Belanda minta maaf atas peristiwa Rawagede itu di hadapan keluarga korban.
Yang mati takkan pernah kembali pastinya. Hanya saja etiket baik dari orang-orang Belanda tentu haruslah dihargai. Kita tidak mungkin hidup dalam kebencian dan dendam. Harus ada perbaikan atas perasaan (negative) yang tidak kita ingini itu.
Pernah suatu hari, Linawati Sudarto, seorang kontributorWeekender, bertanya pada saya, berapa jumlah korban sesungguhnya dari aksi pasukan Westerling di Sulawesi Selatan. Sulit menentukan angka pastinya. Apalagi banyak saksi-saksi yang sudah meninggal.
Saya langsung terbayang jumlah pasukan Westerling dan tentara-tentara Belanda di Sulawesi Selatan yang ada disana yang ikut membantai, jumlahnya mungkin haya 1000an saja menurut saya. Juga lama operasi yang dijalankan Westerling, hanya sekitar dua bulan. Kampung-kampung yang mereka kunjungi dan mereka bantai penduduknya, menyebar di penjuru Sulawesi Selatan. Lokasi operasi pasukan itu tentu berpinda-pindah.
Selama dua bulan itu, belum tentu tentara-tentara Belanda setiap hari melakukan pembantaian. Bila hari efektif membantai adalah 60 hari dan setiap harinya mereka hanya membunuh sekitar 100 orang, jumlah korban sekitar 6.000 orang lebih, perkiraan saya. Tetap saja ini bukan angka kecil.
Saya pun tidak tahu angka pastinya. Saya hanya bisa bilang, berdasar perkiraan saya, jumlah korban masih dalam angka ribuan bukan puluhan ribu. Begitulah jawaban saya.



Kamis, Februari 23, 2012

Kita Memang Orang Kampung

Kenapa harus malu dibilang Kampungan atau nDeso? Itu adalah fakta bagi banyak orang Indonesia.

KAMPUNGAN, jadi teringat album Slank, band papan atas Indonesia. Kampungan, memang jadi kata yag memalukan di beberapa kalangan. Karena identik dengan orang yang kurang beradab dan ketinggalan jaman. Entah siapa yang memulai itu? Dasar gila, memang kampung salah apa? Hingga kata kampungan begitu buruk?

Kitorang, sedari dulu dasarnya emang kampungan. Kenapa tidak, toch banyak dari kita yang tinggal di kampung-kampung. Itu fakta. Meski tinggal di rumah gedongan atau bangsal-bangsal, tetap saja masih ada mental kampung diantara kita.

Akar orang-orang di Nusantara (nama keren dari Indonesia) adalah desa (kata lain dari kampung). Begitulah. Karena kota sendiri adalah hal baru. Sepertinya, orang-orang India yang pernah punya Mahenjodaro-Harappa, adalah orang-orang yang mempengaruhi orang-orang di Nusantara untuk memiliki kota. Kitorang bisa lihat bagaimana kota kuno Majapahit di Trowulan. Tapi, rasanya jauh lebih banyak kampung di Indonesia ketimbang kota.

Jauh sebelum bangsa asing masuk ke Indonesia, orang-orang Indonesia sudah beradab. Lihat saja kampung-kampung di Flores atau Nias yang tidak terasa sama sekali pengaruh Hindu atau Budha.

Orang-orang di Nusantara sudah kenal kampung dari awal. Kampung adalah susunan masyarakat terpenting bagi orang-orang di Nusantara. Sedari awal, masyarakat di nusantara hanya kenal kampung. Setelah masa kehidupan berburu dan berpindah-pindah, mereka hidup menetap dan pelan-pelan kampung-kampung terbentuk di nusantara.

Orang kampung tidak butuh sistem kerajaan, seperti yang dibawa orang-orang India, sebenarnya. Orang kampung hanya perlu kepala kampung yang bijaksana. Yang mengerti kebutuhan mereka. Yang selalu melindungi semuanya. Kita semua tahu, raja kadang sering lalim. Cuma bisa menindas dengan perang, lalu pungut hasil panen, tak lupa ambil perempuan kampung untuk penuhi hasrat raja yang katanya suci.

Mereka sebenarnya bisa hidup damai sebelum orang asing datang. Karena tiap manusia pasti punya hasrat jadi raja. Agar bisa semena-mena atau setidaknya kaya dan dihormati. Sistem kerajaan, karena rawan permusuhan, rasanya tidak baik bagi orang-orang kampug rindu damai. Dalam sejarah, sering terjadi perang antar kerajaan, dengan alasannya ingin berjaya katanya. Belum lagi permusuhan dilingkungan keluarga raja sendiri sering bikin suasana tidak tentram. Dan orang kampung pasti jadi korban.

Kampung, atau biasa disebut desa, begitu penting sebenarnya. Kota-kota biasanya tidak bisa hidup tanpa adanya kampung-kampung. Bahkan di dalam kota-kota juga ada kampung-kampung yang membuat kota jadi hidup. Kota butuh kampung karena dari kampung dipinggiran kota yang punya lahan pertanian, orang kota bisa dapat pasokan makanan.

Tidak heran jika gerilyawan komunis menganggap kampung begitu penting. Karena makanan ada disana. Jika kampung dipegang, maka kemenangan atas serangan kaum komunis ke kota hanya menunggu waktu saja. Begitulah tentang, “desa mengepung kota.”

Jadi, banggalah jadi orang kampung. Toch kekuatan orang-orang di Indonesia adalah di desa. Desa adalah akar. Desa adalah rumah. Desa pastinya juga lumbung. Dimana kehidupan bisa berjalan karenanya. Kota hanyalah pusat segala administrasi dan pasar yang tidak akan hidup tanpa desa.

Pernah ada orang bilang, tidak ada kota besar di Indonesia, hanya ada desa besar. Mungkin terkait dengan perilaku orang Indonesia yang tidak bisa tertib. Orang kampung, pada dasarnya orang yang penyabar, namun budaya kota membuat orang-orang kampung kekota-kotaan dan jadi agresif.

Akhirnya kampung sebagai tempat yang nyaman pun hilang. Namun beberapa kampung seperti sebagaian kampung-kampung Badui seolah berusaha menjadi diri mereka sendiri. Bangga jadi orang kampung yang damai.

Jadi, kepada semua orang Indonesia, sadarilah kampung sebagai akar kita. Dari sana kita bisa hidup dan kota nyatanya hanya formalitas. Dan, soal Negara apapun bentuknya, hanya pelengkap yang kadang tidak perlu dan menyebalkan. Padahal dengan hidup di kampung saja, orang-orang nusantara pernah sentosa.

Banggalah jadi orang kampung.

Senin, Februari 20, 2012

Arti Memori

Sukarno bilang: Jangan Sekali-kali melupakan sejarah. Ternyata itu lebih dari sekedar seruan, tapi juga mampu menjaga identitas sebuah bangsa.

Apa jadinya jika sebuah bangsa tidak punya sebuah sebuah memori (ingatan)? Mungkin bangsa itu tidak bedanya dengan segerombolan ternak. Yang hanya mengerti makan dan bereproduksi.

Kenapa memori begitu penting? Dengan memori sekelompok orang akan sadar jika mereka adalah kelompok atau bangsa. Memori mampu membangun sebuah identitas kelompok atau bangsa. Identitas bisa membangun solidaritas dan rasa saling menjaga sebagai sebuah bangsa. Identitas juga memberi semangat bagi seseorang untuk berjuang.

Identitas, yang merupakan memori kolektif, juga bisa membangun karakter sebuah kelompok atau bangsa pastinya.

Sejarah adalah pelajaran melawan lupa. Tapi jika dipolitisir sejarah juga bisa membuat sebuah bangsa jadi amnesia (hilang ingatan). Itu sudah terjadi di banyak Negara. Di masa lalu, jika terjadi suksesi (pergantian) raja di Tiongkok, maka si penguasa baru yang mungkin berkuasa secara tidak sah, akan membakar semua buku sejarah yang terkait dengan raja sebelumnya. Raja baru itu akan membuat buku sejarah baru yang mendukung dirinya. Ingatan rakyat tentang raja sebelumnya pun hilang.

Tanpa sejarah, sebagai penjaga memori akan sebuah identitas, sebuah bangsa juga bisa hancur. Karena mereka tidak punya identitas yang menjaga persatuan mereka. Bersatu adalah penting bagi sebuah bangsa.

Bayangkan jika orang Indonesia tidak pernah tahu sumpah pemuda, dimana pemuda-pemuda Indonesia berikrar untuk berbangsa satu sebagai bangsa Indonesia. Mungkin orang-orang Batak akan dirikan Negara Batak,orang Jawa akan dirikan Negara Jawa. Orang Sulawesi dirikan Negara Sulawesi dan lainnya.

Jika pelajaran sejarah tidak dipelajari anak-anak muda, otomatis mereka tidak akan tahu siapa diri mereka. Maka sebuah generasi akan lupa. Mereka tidak lagi punya memori atau ingatan tentang bagaimana pendahulu mereka membangun dan menjaga sebuah bangsa. Akhrnya menjadi manusia yang tidak punya identitas dan karakter positif sebagai bangsa. Kedepannya bangsa itu akan terpecah atau mungkin hilang.

Itulah mengapa Sukarno berucap, “jangan sekali-sekali melupakan sejarah.” Itu karena agar Bangsa Indonesia yang merdeka tidak hancur. Dan belajar sejarah yang obyektif dan tidak dipolitisir akhirnya menjadi sebuah kebutuhan. Kita bisa belajar sejarah di mana saja. Kadang dalam sejarah bangsa kita sering temukan prestasi hebat yang patut dibanggakan dan ditiru.

Penting juga kiranya para sejarawan untuk jujur. Jika sejarawan tidak jujur, maka akan timbul ketidakpercayaan generasi baru pada bangsanya, karena telah dibohongi. Dan ada cap bahwa bangsanya adalah bangsa pembohong. Itu hanya akan memburuk karakter bangsa di masa depan. Jadi lebih baik seorang menulis seadanya, agar generasi muda bisa membuat sejarah bangsanya jadi lebih baik lagi dengan belajar dari kesalahan dari masa lalu.

WebRepPredikat secara keseluruhan

Untuk Yang Berhak

Beasiswa, harusnya bisa menjadi sebuah penghargaan atas tindakan positif dan kerja keras, dan juga menjadi harapan atas masa depan yang lebih baik untuk semua.

Tersebutlah bocah dekil penuh kudis. Dia berumur 9 tahun. Ketika itu dia sedang bermain bersama teman-temannya di dekat alun-alun. Seorang Belanda, bernama Hazeu, lalu memberikan beberapa keping uang ke bocah dekil itu. Hazeu lalu geleng-geleng. Si bocah dekil itu kemudian membagi kawan-kawannya. Hazeu terkesima. Lalu si bocah dekil itu dijadikan anak angkatnya. Tentu saja bocah dekil itu di sekolahkan. Bocah dekil itu tak lain adalah Alimin.[1]

Hazeu adalah pejabat urusan pribumi Hindia. Dia adalah pejabat penting di HIndia Belanda. Alimin, yang berasal dari keluarga miskin itu kemudian di sekolahkan di sekolah elit bernama Europe Lager School—yang biasanya diperuntukan bagi anak-anak Eropa maupun pribumi kaya di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Alimin kemudian dikenal sebagai tokoh pergerakan kiri yang membuat Indonesia merdeka juga.[2] Alimin bukan satu-satunya anak Indonesia berasal dari keluarga miskin yang beruntung. Mungkin masih banyak contoh.

Hazeu mengambil Alimin sebagai anak karena bocah ini memiliki rasa berbagi yang sangat tinggi. Bagaimana mungkin bocah miskin, yang tidak punya uang anyak, masih mau berbagi uang. Alimin jelas luar biasa di masa bocahnya. Hazeu memilih orang yang tepat untuk di sekolahkan.

Bagi Yang Berminat

Tidak semua anak miskin berminat untuk sekolah. Pikiran mereka lebih banyak untuk berpikir bagaimana caranya bertahan hidup dan mencari uang. Penting kiranya untuk mencari hanya anak-anak yang berminat keras. Biasanya anak yang punya minat dia akan berusaha keras untuk mejadi lebih baik dan mengusai sebuah bidang.

Sudjojono, Bapak Ahli gambar Indonesia, juga berasal dari keluarga miskin. Namun, beruntungnya, sejak usia 4 tahun si bocah sudah djadikan anak angkat oleh seorang guru. Hingga bisa bersekolah dan menjadi ahli gambar atau pelukis terkemuka Indonesia. Sedari kecil, Sudjojono memang pintar hingga diangkat anak oleh Yudhokusumo—sang guru yang baik hati itu.

Sangat sulit untuk bisa mencari anak yang berminat sekolah seperti yang dilakukan Hazeu. Sekolah mungkin tidak terpikir Alimin awalnya. Begitu juga Yudhokusumo mengangkat Sudjojono sebagai anak. Baik Alimin atau Sudjojono, jelas keduanya memiliki sisi menonjol, walau belum menghasilkan prestasi.

Di masa kini, beasiswa biasanya diberikan kepada anak-anak yang diketahui cerdas meski belum memiliki prestasi. Penting juga untuk mengetahui minat seorang bocah yang tidak mampu bersekolah. Biasanya, seorang bocah memiliki cita-cita tinggi. Sedikit diantaranya obsesif. Hingga mereka tampak keras berusaha mengejar cita-cita atau mimpi mereka.

Penghargaan dan Harapan

Selain minat belajar, perlu kiranya dilihat latar belakang atau tindakan positif si anak dari keluarga miskin. Seperti yang pernah dilakukan Alimin. Membagi uang, seperti dilakukan Alimin yang sama miskinnya, pada anak miskin lainnya jelas hal luar biasa.

Banyak juga anak-anak miskin dengan pemikiran maju, meski hidup mereka dalam kesulitan. Mereka biasanya punya mimpi. Mulai dari ingin punya taman bacaan dan lain sebagainya. Diantara anak-anak itu juga, pasti ada yang berjiwa pemimpin. Anak berjiwa pemimpin biasanya memiliki semangat tinggi untuk terus belajar dan bertindak.

Rasanya penting juga bagi pihak pencari anak-anak penerima beasiswa dari keluarga miskin, untuk melihat hal positif yang pernah dilakukan si anak. Setidaknya sebagai penghargaan tas solidaritasnya. Dan harapan kedepannya, dengan ilmu dan kesuksesan yang dimiliki di masa depan, maka dia bisa menolong orang miskin yang lainnya.

Banyak bocah-bocah miskin di masa-lalu. Banyak diantara mereka yang tidak mampu bersekolah. Tidak heran jika seorang bernama RM Suryopranoto, kakak dari KI Hajar Dewantara mendirikan Hollands Inlandsche School Adhi Dharma di Yogyakarta. Sebuah sekolah untuk anak-anak miskin.[3] Tentu saja itu hanya bisa dinikmati oleh anak-anak di sekitar Yogyakarta saja.

Setidaknya, sedikit anak itu bisa menjadi pemimpin di kampungnya. Dimana akan ada harapan kampong akan bisa lebih maju dan tercerdaskan pelan-pelan.

Note:

[1] Tempo, 8 November 2010.

[2] Parakirti Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta, Kompas, 2003, hlm. 619.

[3] Bambang Sukawati, Raja Mogok Suryopraoto: Sebuah Buku Kenangan, Jakarta, Hasta Mitra, 1983, hlm. 72-74.