Kamis, Juni 10, 2010

Joka-joka ke Barru


Barru, Pagi 8 Juni 2010.
Dengan modal sangat terbatas, saya putuskan untuk mengunjungi Sulawesi Selatan. Banyak hal yang menarik dari jazirah itu. Baik kebudayaan orang Bugisnya, dan juga sejarahnya. Meski berkali-kali menulis tentang kejadian di Sulawesi Selatan, sebelumnya tidak pernah sekalipun saya menginjakan kaki saya di tanah itu. Saya hanya mengerti sedikit soal Sulawesi Selatan hanya dari buku, maupun dari pergaulan dengan kawan-kawan saya yang berasal dan memiliki darah Sulawesi Selatan.
Kapal menjadi pilihan saya untuk mencapai Sulawesi Selatan. Selain murah, kita juga akan menikmati pemandangan laut biru. Bagi saya, kapal bukan pilihan yang buruk. Meski dibutuhkan waktu 24 jam untuk tiba di Pelabuhan Makassar, dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal akan melewati Selat Makassar yang indah pada malam hari.
Ketika kapal angkat jangkar dan bersiap berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, tampak diselatan Pelabuhan Jembatan Suramadu, yang menghubungkan antara kota Surabaya dengan Pulau Madura. Ketika kapal sampai di lepas pantai, pemandangan laut begitu menyenangkan untuk dilihat. Saya jadi ingat jika lautan Indonesia begitu luas dan kaya.
Setelah menyeberangi Selat Makassar, saya pun tiba di kota Makassar. Begitu turun dari kapal, saya sengaja tidak mencari angkutan, maupun penginapan. Saya memilih berjalan kaki menyusuri kota Makassar. Sebuah hal menyenangkan bagi backpacker.
Kota Makassar, sudah tampak ramai pada pukul 19.30. Dimana kehidupan malamnya sudah dimulai. Tempat hiburan sepanjang satu kilometer, baik café maupun Karaoke Dang-dut, yang terletak diseberang Pelabuhan Makassar sudah tampak berdenyut. Terlihat wanita pekerja malam sudah bersiap dengan pakaian seksinya. Meski belum banyak pengunjung datang.
Kaki saya terus melangkah ke sudut kota yang lain. Dimana jalanan kota Makassar masih dilalui banyak kendaraan bermotor. Melewati Lapangan Karebosi lalu terus ke arah utara. Dimana saya melihat betapa megahnya Masjid Al Markaz.
Karena hari sudah malam, saya lalu memutuskan berhenti berjalan. Selain kaki saya lelah, saya juga harus online di warnet di Jalan Masjid Raya. Penjaga warnetnya, Bang Meank, yang baik hati itu menawarkan saya tidur di warnetnya. Kami ngobrol soal Sulawesi sambil mendengar musik cadas, Avanged Sevenfold. Tanpa sadar saya pun terlelap di warnet hingga pagi.
Begitu pagi tiba, saya terbangun dan mengemasi barang saya. Tentu saja backpacker lagi. Kaki saya menyusuri utara kota Makassar. Setelah berjalan sekitar 2 KM, saya putuskan untuk naik mobil angkutan menuju terminal. Awalnya saya agak risih memasuki terminal. Perlahan rasa risih itu hilang, ketika orang-orang di terminal dengan ramah mengajak saya ngobrol. Saya pun jadi belajar lagi soal keramahan orang Bugis.
Saya menilai mereka begitu tulus dan tanpa maksud tertentu ketika saya mengobrol dengan saya. Mereka begitu ramah dan akrab sebelum mobil Panther yang akan menuju Barru berangkat. Karena penumpang di mobil sudah penuh, mobil pun berangkat. Tentu saja acara ngobrol di terminal harus selesai.
Tidak biasanya saya betah berlama-lama menunggu di terminal. Ternyata orang Bugis membuat saya betah berlama-lama di terminal tanpa sedikitpun khawatir. Saya jadi semakin yakin jika orang Bugis ramah dan menyenangkan.
Jalan ke Barru, di Maros, Pangkajane Kepulauan, Barru sendiri, dipenuhi dengan poster-poster calon Bupati dan calon wakil Bupatinya. Saya sadar, pilkada akan berlangsung. Perjalanan sangat menyenangkan. Mungkin karena ini adalah perjalanan pertama saya di Sulawesi Selatan.
Pak Ahmad, supir saya adalah orang yang ramah. Dia tahu saya dari Jogja yang jauh dari tanah Sulawesi. Beliau bahkan mentrakir saya makan siang di Pangkep, ketika singgah di sebuah rumah makan. Sebuah rezeki yang tidak bisa saya tolak. Setahu saya, orang Bugis tidak pernah membiarkan tamu atau kawan—yang dengan cepat dia anggap saudaranya—kelaparan.
Saya tiba di Barru pukul 12.30 siang. Tentu saja saya memutuskan berjalan kaki lagi. Setelah jalan sebentar saya beristirahat sebentar di pos ronda.sekedar duduk dan minum air mineral saya. Saya lalu berjalan lagi menyusuri Jalan Ahmad Yani. Belum jauh berjalan, saya menghampiri Seorang penjual Es Teler yang baik hati. Saya hanya sekedar bertanya awalnya, namun dia menwarkan saya untuk duduk di kursi. Lagi-lagi saya tidak bisa menolak.
Kami tidak saja mengobrol soal Barru, tapi Beliau juga menyuguhkan saya Es Teller buatannya. Cukup menyenangkan juga. Karena kemudian anak dan cucu dari Bapak penjual Es Teller itu datang dan mengobrol dengan saya. Kepada Bapak penjual Es Teller itu, saya bertanya arah pantai, karena saya akan ke pantai. Setelah ngobrol hamper 2 jam, saya putuskan untuk pamit. Ketika akan membayar Es Teller, Bapak tadi menolaknya dengan senyum. Saya jadi tidak enak. Dan saya hanya bisa ucapkab terimakasih dan tersenyum. Lalu saya berjalan lagi.
Dalam perjalanan ke pantai saya putuskan untuk tidur di pos ronda saja. Karena Barru sudah sangat nyaman buat saya. Sampai di pantai, saya duduk dan tertidur sebentar dibawah pohon asam. Bangun tidur saya langsung mandi. Saya sadar sudah dua hari saya belum mandi. Setelah mandi dan menjemur pakaian basah saya pergi ke rumah Andi Idris di Sumpang Binangae, salah satu kampong tua di Barru.
Awalnya, saya hanya bisa bicara dengan putra Andi Idris saja, namun kemudian saya bertemu juga dengan Andi Idris. Karena Beliau baru saja pulang. Saya bicara banyak dengan beliau. Tentu saja bicara soal Abang Beliau, Kapten Andi Azis—sosok hebat prajurit Indonesia yang pernah saya tulis dalam dua buku saya yang terbit tahun lalu. Ketika saya mengobrol sebentar dengan Putra Beliau, saya simpulkan bahwa wacana sejarah putra beliau saya piker cukup baik, apalagi untuk orang yang tidakKetika saya mengobrol sebentar dengan Putra Beliau, saya simpulkan bahwa wacana sejarah putra beliau saya piker cukup baik, apalagi untuk orang yang tidak pernah kuliah sejarah.
Pada saya Andi Idris bicara soal penyakit stroke yang menimpanya. Dia uga bicara soal masa mudanya. Masa-masa sekolahnya di Jogja. Dimana dia tinggal di Asrama Latimojong, bermain band dan merasakan rekaman di Lokananta, Solo. Juga soal ketekunannya dalam olahraga Judo. Hingga bisa menjadi juara nasional di Surabaya ketika mewakli kontingen Jogja. Sayangnya, sekolah Andi Idrus berantakan karena kegiatan hebatnya itu. Beliau lalu dipulangkan ke Barru. Dimana beliau pernah 10 tahun menjadi Kepala Desa Sumpang Binangae. Pengaruhnya yang besar di kampong juga membuatnya ditarik sebuah Partai berkuasa untuk menjadi anggota DPR.
Tidak lupa Andi Idris juga bercerita soal penembakan orang-orang Bugis di Sumpang Binangae, yang dituduh Extrimis oleh Tentara Belanda zaman revolusi. Karena ketika itu Andi Idris masih kecil, Beliau tidak ingat tahun berapa kejadiannya. Diperkirakan peristiwa ini terjadi setelah tahun 1947. Selain itu tentara Belanda juga berusaha membakar orang-orang Bugis, yang mungkin mereka tuduh Extrimis. Hal ini lalu dicegah oleh Andi Azis (kakak tertua Andi Idris) dan Andi Juana (Ayah Andi Idris)—yang pernah menjadi Sullewatang (semacam perdana menteri atau wakil raja) di Barru.
Pada saya, Andi Idris juga menwarkan saya menginap di rumahnya dan putra Beliau bahkan dengan sukarela akan mengantarkan saya ke Makam Andi Aziz. Dengan senang hati tawaran itu saya terima. Saya pun bisa tidur nyaman lagi setelah pada malam-malam sebelumnya hanya tidur di bis, malam berikutnya di kapal dan semalam yang lalu di warnet.
Orang-orang Bugis yang saya temui, umumnya mengakui jika bahasa dan cara mereka kasar. Namun, sebenarnya mereka sangat terbuka dan ramah. Dan tentu saja baik hati. Rasanya, selama ini orang Bugis memang tidak pernah mengecewakan saya. Ketika bersama mereka pun saya selalu merasa aman dan nyaman.
Sejauh ini Sulawesi Selatan masih sangat menyenangkan.

Bang Ali, Makasih Ye Tempat Pacarannye


Saya temukan kutipan yang menggelikan di tabloid Bataviasche Nouvelles, yang tidak pernah terbit lagi. Yakni pengakuan Ali Sadikin. Setahu saya dia mantan perwira KKO dan Gubernur Jakarta. Begini bunyinya:

“Saya bangun Lapangan Monas, saya bangun Ancol. Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. Awas lu ya, kalau mengganggu. Kalau melacur tidak boleh. Tapi kalau pacaran, itu Anugrah Allah.
Sudah pernah pacaran? Kan senang, bahagia….. Makanya tidak boleh diganggu. Sebab apa? Di kampung tidak bisa pacaran.
Coba, disini anak saya bisa pacaran, ruang tamu kosong, halaman besar. Tapi kalau you (kamu) masuk kampung, satu kamar berjejal dari kakek, nenek, sampai cucu jadi satu dimana mau pacaran? Orang sedang bercinta-cintaan ketahuan.
Ini saya hayati. Berikan tempat untuk berhibur. Nah orang tidak mengerti bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata. Dus, pikiran kita harus sampai kesana.”


Memang menggelikan gaya bahasanya. Tapi cukup mengena dizamannya. Kita bisa menilai betapa pedulinya orang yang biasa disapa Bang Ali ini. Pembangunan Jakarta, tidak melulu bangun gedung megah atau rumah-rumah gedongan (rumah mewah) semata. Ali Sadikin, telah mengenal medan Jakarta yang padat oleh manusia. Seperti lagu Gang Kelinci-nya Titik Puspa.

Bahkan perhatian Ali Sadkin harus dibilang jauh kedepan juga. Sampai pada tempat pacaran anak muda. Dia sadar tidak semua anak Jakarta bernasib seperti anaknya. Artinya, Ali Sadikin mengerti anak muda. Sebuah contoh langka di Indonesia, sosok pemimpin yang membangun kota tanpa menghiangkan sisi kemanusiaan warga kotanya. Juga kepada anak mudanya, yang sedang asyik pacaran. Anak muda Jakarta harus bangga pernah punya Gubernur macam Ali Sadikin.

Saya bukan orang Jakarta, tapi jika saya warga Jakarta, atau kebetulan sedang pacaran di Ancol atau taman Monas, saya mau bilang ke Ali Sadikin, “Bang Ali, makasih ye tempat pacaran-nya.”

Bangkit Dari Apa Sekarang?


102 tahun yang lalu sekelompok pemuda bangkit—dan merasa bosan dengan status mereka sebagai pribumi terjajah. Mereka memulai sebuah perbaikan penting dari sebuah kampus kedokteran bernama STOVIA. Kebangkitan Nasional itu lalu menjadi mitos yang diskralkan di negeri sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meski banyak perdebatan kapan sebenarnya Kebangkitan Negeri ini dimulai?
Sudah berpuluh-puluh tahun, Kebangkitan Nasional diperingati. Hasilnya, banyak orang mengerti bahwa dirinya adalah “terjajah” dan melawan. Hingga mereka bertindak berani menyatakan diri merdeka sebagai Indonesia, ketika Perang Dunia II, menggilas banyak bangsa Imperialis Eropa.
Berpuluh kali dperingati, penjajahan tak pernah berhenti. Artinya kondisi tdak berubah, meski penjajah lama, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, telah pergi. Penjajah hanya bersalin rupa. Kulitnya tidak lagi putih, kulitnya sawo matang. Berlaku layaknya wakil atau utusan rakyat.
Apa ukurun ketertindasan sekarang? Nyatanya pelayanan publik masa kini begitu mengecewakan. Banyak warga—yang seharusnya dilayani dengan baik—banyak yang merasa kecewa. Birokrasi makin rumit dan gila hormat. Kita tahu banyak birokrat, dari yang kecil hingga yang paling tinggi, gila hormat dan selalu ingin disembah layaknya priyayi zaman Kolonial. Artinya ada semacam feodalisme terselubung yang ingin dipelihara di sektor pelayanan publik. Intinya Birokrasi, yang harusnya melayani malah menindas. Apakah ini harus disebut kemerdekaan?
Sebagai pelayan publik, pemerintah Indonesia masa kini gagal dan semakin gagal saja dengan tersiksanya mereka yang mengurus berbagai perizinan dan kegiatan yang sebenarnya untuk kemaslahatan publik. Artinya “kemerdekaan” yang mereka dengungkan pada kita tidak memberi perbaikan hidup bagi banyak orang Indonesia. Orang miskin masih tetap ada, bahkan diantaranya masih dan terus dimiskinkan.
Apakah penjajah bersawo matang ini harus dilawan? Kata buku-buku disekolah, birokrasi—sebagai bagian dari Negara tidak boleh dilawan. Karenanya setiap yang melawan sama dengan pengkhianat. Pemberontak selalu salah, kata mereka. Sementara penindasan terselubung mereka semakin menjadi-jadi saja. Hanya perlu membuang jauh-jauh mental feodal mereka saja yang dibutuhkan, dan menggantinya dengan jiwa pelayan rakyat. Bagaimanapun birokrat adalah pelayan rakyat!
Pertanyaan saya sekarang adalah, akan kita apakan penjajah terselubung ini? Apa perlu sebuah kebangkitan untuk melawan mereka? Menerima atau bangkit melawan mentalitas mereka? Pastinya kita tidak ingin revolusi sosial, seperti yang terjadi di Brebes, Tegal dan Pekalongan pada awal kemerdekaan terjadi lagi tentunya? Atau akan ada kebangkitan yang lain?

Senin, Mei 10, 2010

Cacatnya Pelajaran Sejarah Indonesia

Kata sejarawan “bayaran” Pemerintah, Indonesia adalah bangsa besar. Begitu tertulis di buku pelajaran, apalagi di buku pelajaran sejarah. Konon, Indonesia punya sejarah hebat dan pemimpinnya sejak dulu tanpa cela. Saya, ketika disekolah dulu pernah begitu yakin dengan kehebatan bangsa, yang terus di reproduksi itu. Pelan-pelan saya belajar lebih dalam lagi. Betapa sangat mengejutkan dan menggelikan ketika melihat betapa lucunya sejarah Indonesia. Selalu ada seseorang yang ingin dijadikan dan menjadikan orang lan layaknya Pangeran yang terhormat tanpa cela. Banyak orang akan melihat itu pangeran, namun sebenarnya dia hanya badut atau bahkan penjahat.

Sejarah bukan perkara memiliki masa lalu hebat. Keharusan macam itu telah menyasat banyak generasi kedepan. Karena mereka akan lupa pada kesalahan yang seharusnya mereka perbaiki.

Selalu ada pihak yang selalu menampilkan sisi putihnya dalam sejarah. Nyaris tanpa cacat bahkan. Begitulah sejarah kaum nasionalis dibangun, demi cita-cita nasional katanya. Nyatanya itu hanya menguntungkan sekelompok elit saja. Kita tahu kelakuan Muhamad Yamin—yang mengagungkan sejarah Majapahit yang katanya jaya. Nyatanya Majapahit adalah Imperialis Nusantara. Hal ini tidak pernah dibahas dan sengaja dihindari dan ditutupi.

Tak Ada Sejarah Tanpa Cela
Nasionalisme dalam sejarah Indonesia begitu marak puluhan tahun silam. Dimana Muhamad Yamin sebagai salah satu pendukung Nasionalisme sejarah itu. Yamin terkesan berlebihan mengagungkan sejarah kejayaan nusantara dibawah Majapahtit demi membangkitkan nasionalisme. Padahal Majapahit adalah Imperialis pribumi terbesar di Nusantara sebelum VOC (Belanda) dan bangsa asing lainnya datang dan menguasai Indonesia.

Majapahit, bukan sebuah federasi kerajaan Nusantara dimana Majapahit sebagai pimpinan. Ekspedisi Majapahit sendiri dalam menguasai kerajaan lain dipenuhi kekerasan, walau ada beberapa kerajaan secara sukarela mau diperintah Majapahit ang mereka tahu begiu kuat. Kita tahu bersama peristiwa Bubat, dimana rombongan Sri Baduga Maharaja dihabisi orang-orang-nya Gajah Mada, karena Sri Baduga Maharaja selaku raja Sunda tidak mau tunduk pada Majapahit.

Tangan penguasa cenderung dikotori darah. Sukarno yang bukan pembunuh, bahkan tidak pernah memberi perintah untuk membunuh, pun harus tegak berdiri diatas kematian Musso, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, Tan Malaka dan lainnya. Suharto pun semua orang tahu betapa berdarah dinginnya dia. Orang yang diakui sebagai Jenderal Besar Bintang Lima itu, tidak pernah bertanggung-jawab atas jutaan pembunuhan politik di Indonesia ketika dirinya berkuasa. Namun nyatanya dalam buku-buku sejarah di sekolah nama-nama pemimpin Indonesia selalu harum dan suci.

Bahkan peran militer dalam sejarah juga ikut ditonjolkan ketika Suharto naik sebagai penguasa. Hingga peran kelompok lain akhirnya terpinggirkan. Dimana seolah hanya militerlah yang paling berjasa dan yang lain tidak begitu berjasa. Nugroho Notosusanto harus bertanggung-jawab soal dominasi militer dalam sejarah Indonesia. Militerisme adalah arah yang dibangun Nugroho Notosusanto dalam sejarah Indonesia.





Selalu Menyalahkan Bangsa Lain

Penulisan sejarah Indonesia yang akan dikonsumsi siswa sekolah dan masyarakat luas, selalu bernada kebencian pada bangsa penjajah secara berlebihan. Selalu digambarkan lebih jahat dari yang sebenarnya.

Lihat saja angka 40.000 korban kekejaman pasukan Westerling di Sulawesi Selatan. Angka 40.000 itu tidak disepakati sejarawan, termasuk sejarawan Indonesia. Seorang mahasiswa sejarah di Makassar malah mengaku bahwa angka sebenarnya bukan 40.000, namun bukan angka-nya yang mengerikan tapi metode pembunuhan yang dilakukan Westerling—yang sebenarnya hanya untuk mencari para gerilyawan ditengah kerumunan. Metode pembunuhan Westerling itu adalah pengadilan sekaligus eksekusi yang lebih banyak salah korban. Aksi Westerling yang hanya sekitar tiga bulan itu, hanya memakan korban sekitar beberapa ribu korban saja, tidak mencapai puluhan ribu. Karena berdasar penelitan dari Angkatan Darat RI, hanya menemukan angka 1.700. itupun angka yang tewas selama revolusi Indonesia. Meski hanya mencapai angka ribuan, tetap saja itu sudah jumlah yang banyak.

Dalam buku sejarah SD, selalu ditulis bahwa bangsa Belanda dengan VOC-nya menerapkan politik Devide Et Impera (politik pecah belah). Memang benar politik itu digunakan. Meski begitu, jangan lupa bahwa sebelum politik pecah belah dijalankan penguasa-penguasa di Nusantara sudah terpecah belah. Bahkan perpecahan antar bangsawan pada sebuah kerajaan sudah ada jauh sebelum bangsa asing datang. Artinya penguasa dan juga bangsawan-nya sudah terpecah belah dan memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Mereka memiliki ego untuk untung dan berkuasa sendiri, hingga dengan mudah dirangkul VOC. Banyak penguasa lokal mau bersekutu dengan VOC dengan syarat-syarat tertentu yang pastinya juga menguntungkan VOC.

Jadi, VOC tidak perlu bersusah payah memecah belah Bangsa yang mengaku Indonesia itu. Mereka sudah terpecah, jadi tidak susah menguasainya. Menguasai nusantara ada kalanya mudah karena sudah terpecah. Namun yang terkesan dalam pelajaran sejarah adalah bahwa VOC berusaha keras memecah belah bangsa di Nusantara.

Inilah hal yang konyol dalam pebelajaran sejarah di sekolah. Penjajah bangsa asing adalah sosok kejam yang menindas dan harus dibenci. Digambarkan kehidupan rakyat jelata menjadi susah ketika bangsa asing lain datang. Padahal kesengsaraan rekyat jelata sudah ada sejak feodalisme dan kerajaan-kerajaan klasik muncul. Pelajaran sejarah slalu mengarahkan bahwa penjajah selalu bangsa asing dan bukan Bangsawan penindas—yang memang menindas sejak dulu.





Harus Berhenti

Banyak hal yang harus dibongkar dalam sejarah Indonesia. Untung saja, kemajuan teknologi informsi membuat pemuda Indonesia makin kritis dan sedikit bisa menelanjangi sejarah yang dibangun pemerintah.

Banyak orang mulai bertanya kenapa Arung Palaka berontak? Kenapa Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, PRRI-Permesta berontak? Lalu kenapa pula Letkol Untung dengan berani menculik para Jenderal AD—yang adalah senior dan atasannya sendiri? Pasti ada sebabnya. Dan sebab pemberontakan selalu dikarang pemerintah karena mereka tidak memiliki rasa nasionalisme yang kuat. Lebih keji lagi para pemberontak disamakan dengan pengkhianat oleh pemerintah.

Pelajaran sejarah yang tidak jujur telah dibuat. Mulai dari menyalahkan para pemberontak, menutupi jasa-jasa kelompok PKI dalam pergerakan Nasional, mengkultuskan pemimpin nasional tertentu sebagai sosok tanpa cela, namun sebenarnya penuh dosa. Begitulah isi dan tujuan dari kurikulum pemerintah. Yang tidak adil dan sangat tidak jujur.

Efek dari ketidakjujaran yang dibangun pemerintah adalah makin hilangnya wibawa pemerintah di kalangan kaum muda sendiri. Dimata dunia internasional itu jelas memalukan. Setelahnya, bagi masyarkat dunia, Indonesia tentu akan dipandang hina sebagai bangsa pembohong. Jauh lebih memalukan setelah dituduh sebagai Bangsa Terkorup di dunia.

Sudah saatnya kurikulum pelajaran sejarah disusun dengan penuh kejujuran. Setidaknya pelajaran bisa mengajak generasi baru Indonesia untuk lebih bisa bersikap jujur daripada sebelumnya. Harapan jauh kedepannya sikap jujur ini bisa melahirkan perang melawan korupsi di Indonesia. Apa mungkin korupsi yang menjangkiti Indonesia ini dikarenakan pelajaran sejarah yang dipenuhi ketidak-jujuran?

Tulisan ini mungkin akan menjawab mengapa saya enggan menjadi guru sejarah di Sekolah yang harus ikut kurikulum yang tidak-jujur. Lagipula saya punya gelar SPd dan selalu mau membaca buku-buku sejarah non-diktat selama kuliah. Jika mau memotong rambut saya dan berpakaian rapi? Tentu saya semakin layak mengajar di sekolah. Ketidakjujuran kurikulum tadi ikut membuat saya memanjangkan rambut saya dan memilih mengajar dengan gaya saya, lewat tulisan atau diskusi ringan dimana pun, tidak harus di sekolah—yang sudah terkontaminasi.Cacatnya Pelajaran Sejarah Indonesia



Kata sejarawan “bayaran” Pemerintah, Indonesia adalah bangsa besar. Begitu tertulis di buku pelajaran, apalagi di buku pelajaran sejarah. Konon, Indonesia punya sejarah hebat dan pemimpinnya sejak dulu tanpa cela. Saya, ketika disekolah dulu pernah begitu yakin dengan kehebatan bangsa, yang terus di reproduksi itu. Pelan-pelan saya belajar lebih dalam lagi. Betapa sangat mengejutkan dan menggelikan ketika melihat betapa lucunya sejarah Indonesia. Selalu ada seseorang yang ingin dijadikan dan menjadikan orang lan layaknya Pangeran yang terhormat tanpa cela. Banyak orang akan melihat itu pangeran, namun sebenarnya dia hanya badut atau bahkan penjahat.

Sejarah bukan perkara memiliki masa lalu hebat. Keharusan macam itu telah menyasat banyak generasi kedepan. Karena mereka akan lupa pada kesalahan yang seharusnya mereka perbaiki.

Selalu ada pihak yang selalu menampilkan sisi putihnya dalam sejarah. Nyaris tanpa cacat bahkan. Begitulah sejarah kaum nasionalis dibangun, demi cita-cita nasional katanya. Nyatanya itu hanya menguntungkan sekelompok elit saja. Kita tahu kelakuan Muhamad Yamin—yang mengagungkan sejarah Majapahit yang katanya jaya. Nyatanya Majapahit adalah Imperialis Nusantara. Hal ini tidak pernah dibahas dan sengaja dihindari dan ditutupi.



Tak Ada Sejarah Tanpa Cela

Nasionalisme dalam sejarah Indonesia begitu marak puluhan tahun silam. Dimana Muhamad Yamin sebagai salah satu pendukung Nasionalisme sejarah itu. Yamin terkesan berlebihan mengagungkan sejarah kejayaan nusantara dibawah Majapahtit demi membangkitkan nasionalisme. Padahal Majapahit adalah Imperialis pribumi terbesar di Nusantara sebelum VOC (Belanda) dan bangsa asing lainnya datang dan menguasai Indonesia.

Majapahit, bukan sebuah federasi kerajaan Nusantara dimana Majapahit sebagai pimpinan. Ekspedisi Majapahit sendiri dalam menguasai kerajaan lain dipenuhi kekerasan, walau ada beberapa kerajaan secara sukarela mau diperintah Majapahit ang mereka tahu begiu kuat. Kita tahu bersama peristiwa Bubat, dimana rombongan Sri Baduga Maharaja dihabisi orang-orang-nya Gajah Mada, karena Sri Baduga Maharaja selaku raja Sunda tidak mau tunduk pada Majapahit.

Tangan penguasa cenderung dikotori darah. Sukarno yang bukan pembunuh, bahkan tidak pernah memberi perintah untuk membunuh, pun harus tegak berdiri diatas kematian Musso, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, Tan Malaka dan lainnya. Suharto pun semua orang tahu betapa berdarah dinginnya dia. Orang yang diakui sebagai Jenderal Besar Bintang Lima itu, tidak pernah bertanggung-jawab atas jutaan pembunuhan politik di Indonesia ketika dirinya berkuasa. Namun nyatanya dalam buku-buku sejarah di sekolah nama-nama pemimpin Indonesia selalu harum dan suci.

Bahkan peran militer dalam sejarah juga ikut ditonjolkan ketika Suharto naik sebagai penguasa. Hingga peran kelompok lain akhirnya terpinggirkan. Dimana seolah hanya militerlah yang paling berjasa dan yang lain tidak begitu berjasa. Nugroho Notosusanto harus bertanggung-jawab soal dominasi militer dalam sejarah Indonesia. Militerisme adalah arah yang dibangun Nugroho Notosusanto dalam sejarah Indonesia.





Selalu Menyalahkan Bangsa Lain

Penulisan sejarah Indonesia yang akan dikonsumsi siswa sekolah dan masyarakat luas, selalu bernada kebencian pada bangsa penjajah secara berlebihan. Selalu digambarkan lebih jahat dari yang sebenarnya.

Lihat saja angka 40.000 korban kekejaman pasukan Westerling di Sulawesi Selatan. Angka 40.000 itu tidak disepakati sejarawan, termasuk sejarawan Indonesia. Seorang mahasiswa sejarah di Makassar malah mengaku bahwa angka sebenarnya bukan 40.000, namun bukan angka-nya yang mengerikan tapi metode pembunuhan yang dilakukan Westerling—yang sebenarnya hanya untuk mencari para gerilyawan ditengah kerumunan. Metode pembunuhan Westerling itu adalah pengadilan sekaligus eksekusi yang lebih banyak salah korban. Aksi Westerling yang hanya sekitar tiga bulan itu, hanya memakan korban sekitar beberapa ribu korban saja, tidak mencapai puluhan ribu. Karena berdasar penelitan dari Angkatan Darat RI, hanya menemukan angka 1.700. itupun angka yang tewas selama revolusi Indonesia. Meski hanya mencapai angka ribuan, tetap saja itu sudah jumlah yang banyak.

Dalam buku sejarah SD, selalu ditulis bahwa bangsa Belanda dengan VOC-nya menerapkan politik Devide Et Impera (politik pecah belah). Memang benar politik itu digunakan. Meski begitu, jangan lupa bahwa sebelum politik pecah belah dijalankan penguasa-penguasa di Nusantara sudah terpecah belah. Bahkan perpecahan antar bangsawan pada sebuah kerajaan sudah ada jauh sebelum bangsa asing datang. Artinya penguasa dan juga bangsawan-nya sudah terpecah belah dan memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Mereka memiliki ego untuk untung dan berkuasa sendiri, hingga dengan mudah dirangkul VOC. Banyak penguasa lokal mau bersekutu dengan VOC dengan syarat-syarat tertentu yang pastinya juga menguntungkan VOC.

Jadi, VOC tidak perlu bersusah payah memecah belah Bangsa yang mengaku Indonesia itu. Mereka sudah terpecah, jadi tidak susah menguasainya. Menguasai nusantara ada kalanya mudah karena sudah terpecah. Namun yang terkesan dalam pelajaran sejarah adalah bahwa VOC berusaha keras memecah belah bangsa di Nusantara.

Inilah hal yang konyol dalam pebelajaran sejarah di sekolah. Penjajah bangsa asing adalah sosok kejam yang menindas dan harus dibenci. Digambarkan kehidupan rakyat jelata menjadi susah ketika bangsa asing lain datang. Padahal kesengsaraan rekyat jelata sudah ada sejak feodalisme dan kerajaan-kerajaan klasik muncul. Pelajaran sejarah slalu mengarahkan bahwa penjajah selalu bangsa asing dan bukan Bangsawan penindas—yang memang menindas sejak dulu.





Harus Berhenti

Banyak hal yang harus dibongkar dalam sejarah Indonesia. Untung saja, kemajuan teknologi informsi membuat pemuda Indonesia makin kritis dan sedikit bisa menelanjangi sejarah yang dibangun pemerintah.

Banyak orang mulai bertanya kenapa Arung Palaka berontak? Kenapa Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, PRRI-Permesta berontak? Lalu kenapa pula Letkol Untung dengan berani menculik para Jenderal AD—yang adalah senior dan atasannya sendiri? Pasti ada sebabnya. Dan sebab pemberontakan selalu dikarang pemerintah karena mereka tidak memiliki rasa nasionalisme yang kuat. Lebih keji lagi para pemberontak disamakan dengan pengkhianat oleh pemerintah.

Pelajaran sejarah yang tidak jujur telah dibuat. Mulai dari menyalahkan para pemberontak, menutupi jasa-jasa kelompok PKI dalam pergerakan Nasional, mengkultuskan pemimpin nasional tertentu sebagai sosok tanpa cela, namun sebenarnya penuh dosa. Begitulah isi dan tujuan dari kurikulum pemerintah. Yang tidak adil dan sangat tidak jujur.

Efek dari ketidakjujaran yang dibangun pemerintah adalah makin hilangnya wibawa pemerintah di kalangan kaum muda sendiri. Dimata dunia internasional itu jelas memalukan. Setelahnya, bagi masyarkat dunia, Indonesia tentu akan dipandang hina sebagai bangsa pembohong. Jauh lebih memalukan setelah dituduh sebagai Bangsa Terkorup di dunia.

Sudah saatnya kurikulum pelajaran sejarah disusun dengan penuh kejujuran. Setidaknya pelajaran bisa mengajak generasi baru Indonesia untuk lebih bisa bersikap jujur daripada sebelumnya. Harapan jauh kedepannya sikap jujur ini bisa melahirkan perang melawan korupsi di Indonesia. Apa mungkin korupsi yang menjangkiti Indonesia ini dikarenakan pelajaran sejarah yang dipenuhi ketidak-jujuran?

Tulisan ini mungkin akan menjawab mengapa saya enggan menjadi guru sejarah di Sekolah yang harus ikut kurikulum yang tidak-jujur. Lagipula saya punya gelar SPd dan selalu mau membaca buku-buku sejarah non-diktat selama kuliah. Jika mau memotong rambut saya dan berpakaian rapi? Tentu saya semakin layak mengajar di sekolah. Ketidakjujuran kurikulum tadi ikut membuat saya memanjangkan rambut saya dan memilih mengajar dengan gaya saya, lewat tulisan atau diskusi ringan dimana pun, tidak harus di sekolah—yang sudah terkontaminasi

Minggu, Maret 21, 2010

Sunarti Nasution, Terimakasih Telah Bercerita


Sejarah akan berbicara lewat mulut anaknya. Seperti Sunarti bercerita tentang dunia sosial di Indonesia dengan segala masalahnya, juga tentang hidupnya yang hebat.

Suatu hari di Bulan Desember 2009, saya harus mewawancarai Yohana Sunarti Nasution—tentang berbagai kegiatan Sosialnya yang seabrek. Seperti tokoh Angkatan 45 lainnya, hari itu wanita tangguh yang rela saya sapa Ibu Sunarti itu, berbicara pada saya panjang lebar soal kegiatan sosialnya dengan penuh semangat. Dia berkata pada saya ingin bercerita semuanya tentang dirinya dan apa yang dilakukannya, sebelum Tuhan memanggilnya.

Kegiatan sosial, dikenalkan oleh Ibunya, Maria Federika Rademayer—yang Belanda tulen dan Sunario Gondokusumo—salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia. Jadi Sunarti juga bagian kecil dari dunia pergerakan Nasional. Diusianya yang kelima, dia ikut hadir dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Meski berasal dari keluarga terpandang dan berada, hidup sebagai bagian dunia pergerakan nasional tidaklah terlalu menyenangkan. Selalu ada pengintai PID suruhan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sering tidak disadari.
Saya lebih mengenal suaminya, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Orang-orang Indonesia yang pernah buku sejarah kemerdekaan Indonesia pasti mengenalnya. Nama itu kerap saya tulis dalam tulisan-tulisan saya yang amis darah. Hanya sejarawan militer Indonesia bodoh saja yang tidak tahu siapa itu Abdul Haris Nasution. Sementara itu, tidak banyak yang tahu Yohana Sunarti Nasution, istri Jenderal Besar itu.
Masa mudanya, sebenarnya tergolong beruntung. Dia bisa menikmati pendidikan terbaik di zamannya. Dia pernah nikmati Lyceum (sekolah menengah elit) di Bandung sebelum Jepang datang. Lalu dia berhasil lulus ujian SMA zaman Jepang. Karena tidak bisa baca tulis huruf kanji, Ika Dai Gakku (sekolah tinggi Kedokteran) tidak menerimanya sebagai mahasiswa. Cita-citanya menjadi dokter pun pupus. Akhirnya Sunarti harus berpuas diri belajar menjadi apoteker. Zaman revolusi, Sunarti sempet belajar hukum di UGM, namun harus ditinggalkan karena salah satu pendiri Tentara Nasional Indonesia, Abdul Haris Nasution—yang masih berpangkat Kolonel—menikahinya. Segera Sunarti memasuki dunia para istri tentara—yang kerap diliputi kekhawatiran karena suami-suami mereka pergi berperang.
Menjadi istri Nasution bukan hal mudah. Nasution kerap berseberangan dengan penguasa negeri ini. Berkali-kali ancaman kematian menguntit hidupnya sejak zaman revolusi. Hal tragis lalu menimpanya. Putri bungsunya menjadi tumbal sejarah Indonesia dalam Gerakan 30 September 1965.
Lepas dari nasib tragis tadi, Sunarti masih terus menunjukkan kekuatannya. Dia terus membantu menanggulangi masalah sosial masyarakat yang menjadi korban pembangunan yang kejam dan tidak adil. Sunarti bersama-sama dengan banyak pihak berjuang untuk mensejahterakan orang-orang bernasib malang—yang tidak mampu disejahterakan negara.
Sunarti terus bergelut dalam dunia sosial ketika Nasution tidak lagi menjadi pejabat negara. Setidaknya dia bergelut di dunia sosial lebih dari separuh abad. Kegiatan sosial dijalani lebih lalui sepanjang hidupnya sejak belia. Hingga Magsaysay Award, penghargaan bergengsi dari Filipina, diganjarkan padanya beberapa dekade silam.
Pada saya, Sunarti mengaku, dirinya tidak melakukannya sendiri. Dia merasa apa yang dikerjakan berhasil bukan semata karena dirinya saja. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Ini menjadi hal penting baginya. Betapa egalitariannya Sunarti. Tanpa sadar dia telah ajarkan itu pada saya.
Namun, tetap saja ada orang-orang tertentu yang ikut merusak kerja sosial. Bahkan di eselon atas sendiri. Kerja sosial menjadi semakin kacau ketika orang-orang bermotif bisnis pencari profit pribadi masuk bahkan memimpin sebuah lembaga sosial. Duka dialami dan menghambat kerja sosial Sunarti di zaman orde baru. Penguasa yang tidak suka pada sang suami, begitu membatasi hubungan Sunarti dengan lembaga sosial luar negeri yang bermaksud membari bantuan pada Sunarti. Bukan Sunarti namanya jika dirinya berhenti begitu saja. Sunarti terus bergerak. Satu program digagalkan, Sunarti masih bergerak dengan program-program lainnya. Hanya sedikit cerita darinya yang bisa saya tulis sekarang.
Kalimat Sunarti yang masih terngiang di kepala saya adalah, “biarkan masalah datang pada saya, maka saya akan mencari penyelesaiannya.” Mengobrol dengannya menyenangkan dan membuat saya lupa bahwa hari sudah siang, juga lupa makan siang. Lalu saya pamit meninggalkan Sunarti sibuk menjalani kegiatan sosial dan hari tuanya. Usia tidak bisa mengalahkannya. Tidak ada matinya. Itulah Sunarti.
Pada saya, Sunarti telah bercerita banyak Desember itu. Lalu saya menuliskan ceritanya. Saya bangga pernah mendengar ceritanya. Sebagai salah satu anak sejarah, dia telah membuat sejarahnya dan memberikan saya petunjuk dari jejak-jejak sejarahnya, juga sejrah bangsanya yang ikut dia ukir. Saat itu adalah saat terakhir saya bertemu dengannya. Semoga Sunarti yang saya kenal pergi dalam damai. Terimakasih sudah berbagi cerita pada saya… Selamat Jalan Menuju Surga.



Rabu, Maret 03, 2010

Naar de Jogja


Entah dimana kutub magnet kota ini? Kami pilih tidak peduli saja dimana letaknya. Ya seperti inilah Jogja. Kecil tapi daya tariknya tak pernah habis. Kata Jogja dalam tulisan ini, tidak hanya mengacu pada kodya Jogja saja, tapi juga daerah sekitar Jogja seperti Sleman, Bantul, Kulon Progo dan pastinya Gunung Kidul.
Tidak ada yang menyangkal kota ini penting. Setidaknya, sejak 1755, pasca Perjanjian Giyanti. Dimana Kesultanan Yogyakarta hadiningrat berdiri setelah suksesnya pemberontakan Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan hamengkubuwono I. Yogyakarta adalah negeri yang lahir karena pemberontakan. Dan Yogyakarta bukan satu-satunya.

Banyak orang menuju kota ini. Tiap hari selalu ada bis pariwisata melintasi Jalan Malioboro. Selalu ada juga pengemudi-pengemudi sepeda motor yang dikejar setan. Mereka memacu kencang mesin agar cepat sampai kampus. Entah mau kuliah, mengumpul tugas dari dosen killer, atau sekedar ketemu pacar.
Kota ini seolah bukan milik Sri Sultan dan rakyatnya saja. Orang Kalimantan yang kuliah disini akan bilang saya betah tinggal disini. Juga orang dari pulau lain. Ada berjuta alas an mereka kangen Jogja. Mungkin di kota ini orang-orang kangen itu kenal cinta. Atau menemukan pasangannya. Ada juga yang kangen nasi kucing, beserta angkringannya. Banyak orang bilang, semua di Jogja murah, tapi orang-orangnya jelas tidak murahan. Mereka terbuka. Akhirnya jadilah kota ini milik siapa saja yang kangen padanya.
Pemandangan Jogja juga elok. Di sore yang cerah, bersepeda pancal kearah utara kota Jogja menyenangkan. Kita akan melihat Merapi. Gunung ini, mengingatkan orang pada sosok Mbah Marijan yang lugu dan baik hati. Dia pernah menyalami saya suatu pagi. Smoga dia sedang tersenyum di teras rumahnya sore ini.
Kata sejarawan, yang juga diamini anak-anak yang kuliah sejarah juga penduduk Jogja, daerah seputaran Jogjakarta adalah pemukiman tua yang sudah ada sejak zaman dulu. Terbukti banyak candi-candi dan bangunan tua lain yang ditemukan di sekitar Jogja. Pokoknya, banyak bentuk wisata di Jogja.
Kota ini juga hasilkan tokoh-tokoh hebat dalam sejarah Republik ini. Cukup panjang daftarnya jika kita sebutkan. Mulai dari tokoh politik, pendidikan dan kebudayaan. Wajar saja, sejak dulu kota ini sudah jadi kota pelajar. Ada banyak kampus, komunitas seni dan diskusi, juga banyak angkringan yang tidak jarang jadi tempat diskusi kecil.
Biar seru, saya akan cerita sedikit pentingnya Jogja zaman revolusi. Kota ini pernah jadi Ibukota Negara. Karenanya Jenderal Spoor begitu gigih merebut kota ini. Operasi bersandi burung gagak alias Kraii Operatie dia lancarkan. Pasukan penyerbu pun pilihan. Pasukan yang pernah dilatih dan dipimpin Westerling. Untung Westerlig tidak terlibat. Seperti saya tulis di skripsi pertama saya, dia mundur dari dinas militer Belanda karena berbeda pendapat dengan Spoor dan menolak perintah memimpin operasi penyerbuan ke Jogja. Bagi yang tahu reputasi westerling di Sulawesi Selatan, mungkin akan membayangkan dia akan menjadi algojo lagi ketika menyerbu Jogja. Jogja pun akan banjir darah sperti Sulawesi Selatan. Lalu Kraii Operatie pun dpimpin Letkol Van Beek. Tanggal 19 desember 1949, operasi Gagak ini sukses meawan pimpinan Republik. Namun menjunkirbalikan posisi Belanda di meja Diplomasi, karena dunia internasional mulai bersimpati pada Republik. Mungkin sengketa Indonesia Belanda bisa lebih panjang jika Jogja tidak diserbu Belanda. Bagaimanapun, Jogja pun menjadi kota perjuangan. Perlawanan terus berjalan disekitar Jogja, meski kota ini telah diduduki Belanda. Meski kta ini telah diduduki, tetap saja serdadu KL asal Negeri Belanda takut tidur di Jogja. Mereka merasa gerlyawan Republik akan menghantui mereka di Jogja.
Itulah mengapa Jogja, yang menjadi simbol eksistensi Republik Indonesia, begitu berharga bagi Spoor—yang tewas mendadak 6 bulan setelah sukses merebut Jogja. Sekarang kota ini makin berharga lagi. Banyak anak muda yang bermimpi jadi sarjana rela dan betah tinggal di kota ini. Bahkan diantara yang betah tadi, rela tidak jadi sarjana, atau setidaknya menunda jadi sarjana, agar bisa selamanya di Jogja. Mari berkaca siapa mereka?

Ya inilah Jogja yang sejuta kenangan. Milik mereka yang punya kenangan di kota ini. Mereka yang selalu merindukannya, meski di seberang lautan. Jogja, kami datang. Mari menuju Jogja! Naar de Jogja, kata serdadu Belanda yang menyerbu Jogja dulu.

Rabu, Februari 17, 2010

Dibalik Ronta


Selalu ada cerita menarik mengapa seseorang jadi pemberontak. Sudah pasti cerita-cerita itu tidak menyenangkan. Juga selalu ada alasan personal, yang tidak jarang juga bisa menjadi alasan kolektif, pencetus pemberontakan.

Arung Palakka dari Bone harus melawan Ayam Jantan dari Timur alias Sultan Hasanuddin, karena ingin membebaskan Bone dari cengkraman Gowa. Bone tidak akan merdeka dari Gowa seandainya Arung Palakka diam saja dan membiarkan banyak orang Bone dihinakan dalam sebuah kerja paksa untuk Gowa. Memberontak tentu sebuah solusi penting bagi Arung Palakka. Berontak bukan kata hina dan tidak bisa begitu saja disamakan dengan pengkhianat. Arung Palakka kemudian sukses, walau dia kemudian dicap pengkhianat dalam buku pelajaran sekolah karena bersekutu dengan VOC. Sementara, fakta imperialis Gowa sebagai penjajah tetangganya tertutupi dalam buku sekolah. Sejarah selalu dibuat mudah oleh penguasa. Politik selalu tidak menyenangkan bagi yang berkuasa

Ketika tanah leluhurnya di Tegalrejo dijadikan jalan kereta, maka Pangeran Diponegoro pun melawan. Masalah sengketa tanah itu pun menjadi sebuah Perang Besar yang menguras dalam kantong pemerintah kolonial. Diponegoro akhirnya kalah juga setelah memberi perlawanan hebatnya. De Kock dengan licinnya menjerat Diponegoro di Magelang lalu membuangnya ke Sulawesi. Saat ini, tanah sengketa itu menjadi jalur kereta api yang sering kulewati ketika menuju Jakarta dari Jogja. Rel itu memakan banyak darah. Tidak sia-sia, karena kita bisa belajar bahwa melawan itu perlu walaupun akhirnya kalah. Juga belajar agar tidak kalah dan ditindas lagi.

Nasionalisme, selalu jadi jawaban mengapa Sukarno melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Apa hanya karena itu? Entahlah. Ada cerita menarik. Ketika remaja Sukarno yang puber menyatakan cinta pada seorang gadis Belanda. Malangnya Sukarno ditolak. Gadis itu mungkin menyesal di kemudian hari, begitu tahu pria yang dulu dia tolak jadi Presiden. Jika ini adalah alasan Sukarno, karena merasa direndahkan kebangsaannya oleh penolakan gadis Belanda itu, maka ini bukan alasan yang buruk, meski lucu.

Kelas juga jadi alasan seseorang berontak. Seorang anak Dokter Jawa, bernama Maruto Darusman mengalami nasib naas. Lamarannya ditolak ayah gadis pujaannya. Konon, alasannya Darusman bukan orang kaya yang tidak sepadan dengan gadis pujaannya itu. Padahal keluarga dokter jawa bukan keluarga miskin dimasa itu. Darusman lalu ke Belanda dan jadi seorang komunis militan yang rasakan ngeri Perang Eropa. Dia kembali ke Indonesia sebagai seorang komunis, yang kemudian ditembak mati bersama Amir Syarifudin. Sebelum kematiannya untung saja Darusman menikah juga, walau bukan dengan gadis pujaannya yang dulu. Sebagai komunis samapDarusman dan Amir

Cerita-cerita tadi, bukan lagi cerita baru. Anda-anda tentu akan menerima cerita-cerita lain yang berbeda namun dengan inti sama, ketidakpuasan. Karena masih banyak cerita tidak menyenangkan lain yang jadi sebeb pemberontakan di Indonesia. Mulai dari enggan kerja paksa untuk pemerintah, ditolak masuk tentara, kemelaratan maupun karena kekecewaan lainnya. Sebenarnya tidak perlu teori macam-macam yang rumit untuk berontak. Cukup dengan ketidakpuasan, tenaga dan militansi maka meledaklah.

Didedikasikan untuk semua Pemberontak
Terimakasih telah warnai sejarah dan dunia…

Senin, Februari 15, 2010

Thomas Nayoan Tak Pernah Lelah Untuk Kabur


Kabur adalah tindakan pengecut, kata banyak orang. Tapi Nayoan kabur sebagai seorang pemberani. Ini adalah perlawana gigihnya terhadap politik kolonial.

Digul, banyak yang bilang Boven Digul (pedalaman Digul). Tempat ini begitu terkutuk. Ganas malarianya. Tidak ada yang bisa lolos darinya. Nyamuk disini tidak kenal kelas. Siapa saja dia gigit. Tempat ini makin terkutuk lagi dengan manusianya. Dulu, mereka manusia penuh semangat melawan Gobernemen. Mereka tampak mulia kala itu. Sekarang, mereka saling mangsa antar sesama, yang dulu sama-sama lawan Gubernemen. Waktu dan kamp terkutuk ini menggilas semangat mereka.
Pemerintah Gubernemen menyebut mereka kaum merah. Kaum yang dihabisi setelah mengamuk di tahun 1926-1927. Dengan mesin perangnya, Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL), pemerintah Gubernemen berhasil menyikat pemberontakan itu.
Banyak yang bilang, orang Menado adalah antek Belanda. Nyatanya tidak juga. Di Digul pun ada orang Menado juga. Tidak kalah merahnya dengan orang Jawa. Thomas Nayoan namanya. Tidak banyak cerita tentangnya. Apalagi dibuku sejarah. Nayoan seperti tidak dianggap penting. Dia memang bukan ketua partai oposisi terhadap pemerintah Gubernemen. Dia bagian dari pemberontakan PKI 1926. Tidak ada cerita detail tentang dirinya, juga bagaimana ceritanya hingga dia bisa menjadi seorang komunis.
Nayoan, yang dari Menado itu berada di Surabaya menjelang pemberontakan PKI 1926. Tidak ada catatan bagaimana posisi dia di partai. Rasanya dia seperti tokoh penting dan terpelajar. Hari itu, 7 Oktober 1926, Thomas Nayoan, ditangkap di Surabaya oleh oppas kolonial. Kemudian Najoan dikirim lagi ke Manado dan harus menjalani hukuman 3 bulan penjara lamanya. (Pandji Poestaka, 12 Oktober 1926)
Hukumannya tidak berhenti disitu. Akhirnya dia harus dikirim juga ke Digul. Sebuah pembuangan bagi kaum merah di Papua Barat. Banyak yang bilang jauh dari peradaban. Orang-orang merah itu, akan dibuat gila ditempat itu. Berharap orang merah itu kapok untuk melawan. Dan benar, orang-orang di pembuangan itu makin menggila. Entah karena malaria atau perpecahan antar mereka. Luar dalam, Digul pun semakin mengerikan saja.
Mereka yang menyerah dan tidak kuat pada tekanan alam Digul maupun politik kolonial tentu jadi gila. Yang menyerah pada Gubernemen, tentu bisa sedikit labih nyaman disana. Tapi alam Digul tetap tak kenal ampun.
Tekanan dan perpecahan diantara orang-orang merah terus mendera penghuni Digul. Ditengah kegilaan ini, tinggal Nayoan yang punya kegilaan sendiri. Dia selalu punya rencana kabur dari kamp Digul terkutuk itu. Dia mencoba kabur tiga kali, dan tiga kali pula gagal. Itulah yang ditulis oleh Sejarawan John Ingleson dalam bukunya "Jalan Ke Pengasingan".
Dalam pelarian keduanya, Nayoan sukses mencapai Australia dengan berperahu. Meski sukses melewati sungai-sungai Digul, yang katanya buaya sering berkeliaran, namun malangnya Nayoan tidak bisa menerabas hukum Australia—yang punya perjanjian Ekstradisi dengan Hindia Belanda. Tidak lama menikmati bebas dari politik kolonial, Nayoan dikapalkan lagi ke Digul.
Kembali ke Digul tentu bukan hal menyenangkan. Artinya harus kembali lagi menikmati tekanan politik kolonial seperti penghuni kamp lainnya. Mungkin saja ada ejekan bernada pujian dari sesama penghuni karena sukses kabur mencapai Australia walau kemudian tertangkap lagi.
Sebagai tukang kabur yang sering gagal namun hebat, Nayoan tentu tidak terlibat perbedaan paham antar penghuni kamp. Dia terhindar kegilaan tanpa arti penghuni kamp. Kabur lebih punya arti bagi Nayoan. Kabur lebih baik daripada berselisih seperti kawan-kawan merahnya di Digul. Kabur sering diidentikan sebagai tindakan pengecut dan bodoh oleh banyak orang. Nayoan rasanya tahu bahwa aparat kolonial akan terus mengejarnya. Namun, kebebasan adalah hal penting bagi Nayoan. Karenanya dia menjadi tukang kabur legendaries di kamp Digul. Ada impian menuju bebas ketika dia bergabung dengan PKI dan terlibat dalam pemberontakan. Impian menuju bebas itu terus walau dia semakin ditekan.
Dalam pelarian terakhirnya Nayoan mengambil jalan berbeda. Dalam palarian sebelumnya, yang kearah selatan, maka pelarian terakhir Nayoan ini menuju arah utara. Nayoan belajar bagaimana negeri di selatan bernama Australia tidak akan menerimanya, karena ada perjanjian ekstradisi. Karenanya Nayoan kabur ke arah utara. Dimana alam Papua yang ganas harus dinikmatinya.
Aparat kolonial, yang pasti memburunya, lalu tidak menemukan jejak Nayoan sama sekali. Setelah itu tidak ada lagi kabar tentang Thomas Nayoan. Berbagai spekulasi muncul. Ada yang bilang dia jadi korban kanibal suku asli yang masih liar pedalaman Papua. Hal ini tentu saja menakuiti penghuni kamp jika mereka berani kabur seperti Nayoan. Tapi kali ini Nayoan tidak tertangkap aparat kolonial lagi. Bagaimanapun nasibnya, Nayoan benar-benar bebas lagi dari tekanan Gubernemen. Perlawanan Nayoan terhadap politik kolonial pun sukses bagi dirinya.




Selasa, Januari 05, 2010

Indonesia Timur: Pantai yang indah, Buku dan Merdeka


Waktu kecil, aku berpikir Indonesia Timur adalah wilayah terbelakang yang tidak ada bagusnya sama sekali. Belakangan aku sadar, bahwa aku salah. Banyak laut dan pantai yang indah disana. Tentu, dengan tidak banyaknya pabrik disana, daerah itu akan jauh lebih baik daripada pinggiran rel kereta api di Bekasi yang dipenuhi pabrik. Bisa dibayangkan betapa bebas polusinya Indonesia Timur.

Indonesia Timur, dalam banyak buku yang kubaca, adalah daerah penuh konflik. Zaman Hindia Belanda, tentu bukan daerah stabil. Masalah pajak, bisa jadi sumber kerusuhan disana. Buku Pemberontak tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan Nusantara, mencatat banyak pemberontakan anti pajak di Indonesia Timur. Jelas orang Indonesia Timur bukan tipe orang yang mau ditindas. Mereka pernah berontak setidaknya, walau harus kalah oleh serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) yang membela kejayaan Sri Ratu Belanda di Indonesia.

Mengapa, ada bangsa asing di Maluku, buku-buku sejarah sudah jelas menjawabnya. Aroma rempah-rempah telah mangundang bangsa asing, dari Eropa seperti Belanda dan Portugis, mau datang ke Maluku. Anak kelas 6 SD di Indonesia tahu kalau zaman dahulu kala, Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah. Belanda kemudian sukses melakukan monopoli atas rempah-rempah itu dengan maskapai dagangnya Vereniging Oost-Indishe Compagnie (VOC). Setelah zaman tanam paksa, yang jauh sesudah VOC bangkrut, maka rempah-rempah meredup. Tanah Jawa dan sebagian Sumatra yang subur melahirkan banyak Onderneming (perkebunan) swasta yang sukses memenuhi kantong Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang bertahta di Batavia alias Jakarta. Begitu juga pertambangan di Sumatra dan Kalimantan, membuat pamor Indonesia Timur makin meredup.

Muncul kalimat, "Maluku masa lalu, Jawa masa kini, dan Sumatra masa depan" di kalangan orang petinggi dan pengusaha Belanda di Indonesia pada awal abad XX. Eksploitasi makin berkembang saja.

Zaman Revolusi, wilayah Sulawesi ke timur adalah wilayah Negara Indonesia Timur. Dimana banyak tokoh penting dari Sulawesi, Maluku dan Bali menjadi petinggi Negara--yang katanya Negara boneka Hubertus Van Mook itu. Negara Indonesia timur ini tidak banyak yang menginginkannya. Lalu Republik Indonesia yang Jawasentris mengambil alihnya pasca Pengembalian Kedaulatan Desember 1949.

Zaman Indonesia merdeka, Indonesia timur adalah daerah tertinggal. Dimana pemerintah pusat di Jawa terkesan hanya memperhatikan daerah Indonesia barat saja. Indonesia Timur terlupakan dan semakin jauh tertinggal. Memang banyak fasilitas pendidikan seperti sekolah dan Universitas namun kualitasnya jauh tertinggal. Sirkulasi buku-buku bacaan tentu akan sangat kalah jauh dengan di Jawa. Seorang kawan dari sana, jika berada di Yogyakarta--yang katanya gudang buku murah--tentu akan memborong banyak buku. Seorang Om dari kawan saya yang menjadi petinggi sebuah sekolah di Flores bilang, minat baca anak-anak disana tinggi, sayang buku-buku bacaan sangat kurang sekali. Sirkulasi buku di Indonesia timur harus ditingkatkan untuk mempercepat pembangunan pendidikan disana. Paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa buku barang mewah dan tidak perlu harus segera dihilangkan dengan sirkulasi buku yang baik.

Pemerataan adalah hal tersulit di Indonesia. Pembangunan seolah milik Indonesia bagian barat saja. Selalu ada kata orang-orang Indonesia Timur belum siap mental dan sebagainya. Bagaimana mau siap? Jika pendidikan masih jauh tertinggal dengan jawab. Setiap perasaan tidak puas mereka untuk melepaskan diri, akan selalu ditimpali dengan kata "Tidak Nasionalis." Orang pusat mungkin cuma mengerti kata tidak NAsionalis tapi tidak mengerti arti kata "berbagi." Tentu saja Indonesia tidak ingin terpecah lagi. Kasus Timor-Timur yang sudah jadi Timor Leste adalah pembelajaran. Orang-orang Indonesia umumnya tidak ingin Papua lepas dan Republik Maluku Selatan bangkit lagi. Gerakan Papua Merdeka dan Neo RMS tentu bisa tumbuh berkembang di Indonesia Timur jika pembangunan pendidikan disana jauh tertinggal. Pendidikan, perekonomian dan pemerataan yang lebih baik tentu akan membuat orang Indonesia Timur merasa mereka bagian dari Republik Indonesia.

Saya sering mendengar adanya percepatan pembangunan untuk Indonesia Timur. Sayangnya saya tidak tahu, apakah itu terjadi atau tidak. Jika terjadi itu baik sekali, namun jika tidak jangan salahkan sekelompok orang Indonesia Timur yang berteriak minta merdeka. Hanya ada dua pilihan sekarang untuk Indonesia Timur, "Percepatan pembangunan atau Merdeka!"




Selasa, November 03, 2009

Aku, Bugis dan Gadis Itu


Sejak kecil, aku selalu punya teman Bugis. Tidak mampu aku menghitung jumlahnya. Sangat banyak. HIngga hari ini, aku masih berhubungan dengan teman-teman Bugisku itu. Kota tempat aku lahir dan besar, Balikpapan, punya populasi orang Bugis yang banyak.
Gambaranku tentang orang Bugis adalah mereka keras, bisa berbaur dengan orang dari suku lain dan aku bisa pastikan agama mereka adalah Islam. Walau hanya Islam KTP sepertiku. Dalam pengalamanku mereka baik hati. Jika bertamu ke rumah mereka, aku tidak akan dibiarkan kelaparan.
Beberapa tahun ini, aku sangat jarang bertatap muka dengan mereka. Karena aku harus merantau dan menjalani hidupku sebagai apa yang aku mau.
Orang Bugis punya tanah leluhurnya di Sulawesi Selatan dari pinggir pantai sampai pegunungannya. Banyak orang menganggap, Bugis adalah bangsa Pelaut. Tapi, Christian Pelras, membantah itu dalam bukunya "Manusia Bugis"--buku paling kusuka tentang Bugis. Menurut Pelras, sebagian besar orang Bugis itu bertani dan yang terjun ke dunia maritim tidak sebanyak yang bertani. Nyatanya, di laut orang Bugis kesohor juga. Bahkan peradaban pelayarannya cukup maju dengan adanya Amanna Gappa.
Di bidang sastra, orang Bugis juga tidak kalah. ada I La Galigo. Salah karya sastra terhebat di dunia. Kajian tentang La Galigo sudah dimulai sejak awal abad XIX.
Tentang Bugis aku memang tidak banyak tahu. Tapi aku kerap bersentuhan dengan Bugis, terutama dalam kajian sejarah. Aku pernah menulis beberapa kisah pemberontakan yang dilakukan orang Bugis, juga tentang tokoh Bugis seperti Andi Azis dan We Tenriolle. Mereka, orang-orang Bugis memberontak dengan bagitu hebatnya kepada siapa saja yang merusak kehormatannya. Orang Bugis melakukan pemberontakan, lebih banyak dilakukan karena Sirri (harga diri). Arung Palaka juga melakukan pemberontakan karena ingin membebaskan Bone dari penjajahan dan penghinaan dari Gowa pada abad XVII.
Tulisanku tentang Andi Azis, tanpa disangka juga telah membuatku berkomunikasi kembali dengan orang Bugis, setelah sekian lama. Aku jadi mengenal istri Andi Azis, Tante Bida, begitu aku menyapanya. Juga keponakannya Andi Irvan Zulfikar, yang sangat peduli dengan kebudayaan Bugis. Meski Puang Irvan tidak tinggal di tanah Bugis, dia terus bersinggungan dengan tanah leluhurnya sejak lama. Bersama Puang Irvan aku kembali belajar tentang Bugis.
Orang Bugis memang menyebar dibanyak tempat di Indonesia. Di Nias pun ada perkampungan Bugis. Aku pun juga punya sahabat, yang biasa kusapa Dike, dia keturunan Bugis yang ayahnya hilang di laut. Ketika mencari ikan.
Seminggu yang lalu, aku juga bertemu orang Bugis, asal Bone. Dia bercerita tentang tanah kelahirnnya. Tiba-tiba, aku semakin menggebu-gebu untuk mengunjungi tanah leluhur orang Bugis itu. Kembali menjadi backpacker lagi. Tinggal menunggu waktu saja.
Aku memang bukan orang Bugis. Tapi, karena besar di Balikpapan dan kemudian menulis tentang serkelumit sejarah Bugis, maka aku pun bersentuhan dengan Bugis. Aku jadi ingat di Balikpapan dulu, tergila-gila seorang gadis Bugis juga. Mengingatnya membuat merah wajahku dan membayangkan sesosok Manusia Bugis dalam hidupku.


Jumat, September 11, 2009

Di Laut harus Jaya


Katanya nenek moyangku seorang pelaut. Itu kata lagu yang dinyanyikan Adikku waktu SD dulu. Rasanya, Indonesia kurang bangga sebagai Negara Maritim. Jalasveva Jaya Mahe (artinya: Dilaut kita jaya) seperti tidak arti. Cuma para pelaut rendahan saja yang menjadikan kalimat sakti itu sebagai kebanggaan.

Katanya, Muhamad Yamin, Majapahit dulu berhasil menguasai Nusantara. Jika benar, berarti Armada laut Majapahit pasti tangguh. Butuh armada laut tangguh untuk menjelajahi dan menguasai perairan nusantara yang kadang dipenuhi bajak laut.
Bisa disimpulkan kejayaan Majapahit, yang katanya menguasai Nusantara itu, berarti juga kejayaan pelaut Indonesia di masa lalu. Cukup bisa dibanggakan sebenarnya.

Zaman terus berlalu, nyatanya kejayaan Pelaut Indonesia tinggal romantisme belaka. Nyaris tidak bisa dibanggakan. Apakah salah para pelaut?rasanya tidak! Tidak ada yang salah dengan para pelaut. Mereka tidak bisa disalahkan ketika Laut Nusantara terus dijarah. Juga bukan salah nelayan di Nusantara jika banyak hasil laut dicuri, dan kadang rusak. Nyatanya banyak nelayan tidak diperhatikan.

Dalam sejarah, selain Hang Tuah (Panglima laut kerajaan Melayu), Mpu Nala (panglima armada laut Majaphit)ataupun John Lie (pahlawan Laut Indonesia zaman revolusi kemerdekaan RI), Indonesia harusnya bisa melahirkan pahlawan laut baru.
Dalam pelajaran SD, dijelaskan luas lautan Indonesia lebih luas daripada daratan. Jadi banyak perairan yang harus dijaga. Laut adalah anugrah terbesar bagi Indonesia, namun laut belum bisa dijaga dengan baik di Indonesia.

Siapa yang harus disalahkan? Ya siapa lagi kalau bukan pengarah pembangunan nasional, pemerintah. Kebijakan pemerintah kurang begitu peduli dalam sektor maritim. Mencintai Laut Indonesia, tinggal wacana kosong. Ketika Sail Buneken, yang diadakan Agustus lalu, selesai dilaksanakan, maka selesai pula perhatian orang Indonesia kepada laut.

LAUT INDONESIA LUAS
Orang-orang Indonesia pecinta laut Nusantara, tentu akan miris mendengar berita gangguan berupa pencurian di laut-laut Nusantara oleh kapal-kapal asing. Sementara itu, Angkatan Laut Indonesia tampak tidak berdaya mengatasi semua gangguan itu, karena laut Indonesia yang begitu luas. Banyak orang akan memaklumi ketidakberdayaan pihak Angkatan Laut itu setelah mengetahu jumlah personil Angkatan Laut yang jelas-jelas terbatas.

Tahun 2009, jumlah personil Angkatan Perang alias TNI berjumlah 432.129 personil. Dengan 328.517 personil diantaranya adalah Angkatan Darat. Sementara itu, jumlah personil Angkatan Laut hanya 74.963 personil. Jumlah personil Angkatan Udara, hanya 34.930 personil saja. Jumlah personil Angkatan Laut yang hanya 74.963 itu harus mengamankan lautan yang 5,8 juta km2 yang terdiri dari 3,1 juta km2 Perairan Nusantara dan 2,7 km2 Perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).Dan 70 persen dari luas total Indonesia, adalah lautan.

PERBANYAK PERSONIL DI LAUT!
Mengutip tulisan Nasrul Alam, "Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Bernard Kent Sondakh, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR awal Juli (2002), mengakui lemahnya kemampuan tempur matra laut. Dari total 113 KRI (Kapal Republik Indonesia) yang dimiliki TNI AL saat ini-meliputi kapal tempur, kapal patroli, dan kapal pendukung-tak ada satu pun yang siap tempur sesuai fungsi azasinya. Umumnya kapal milik TNI AL itu telah berusia tua dan kondisinya semakin diperparah oleh embargo peralatan militer oleh Amerika Serikat (AS), yang sampai saat ini belum benar-benar dicabut. Keseluruhan armada kapal TNI AL, sebanyak 39 KRI berusia di atas 30 tahun, 42 KRI berusia antara 21-30 tahun, 24 KRI berusia antara 11-20 tahun, dan hanya delapan KRI yang berusia di bawah sepuluh tahun tahun." Tergambar betapa payahnya armada laut Indonesia. Kondisi ini nampaknya tidak banyak berubah.

Bisa dibayangkan kondisi Angkatan Laut Indonesia seperti Angkatan Laut Hindia Belanda zaman Hindia Belanda sebelum dikalahkan Armada Laut Jepang dari arah Pasifik. Sekali serbu saja, Angkatan Laut Indonesia bisa kalah telak. Hal ini bisa mempengaruhi semangat berjuang para personil Angkatan Laut, yang sedianya siap mati di lautan untuk menjaga lautan Indonesia. Betapa, kondisi peralatan tempur Angkatan Laut itu juga mengecewakan personil Angkatan laut juga.

Semua harus berubah dari sekarang! Angkatan Laut harus terus disupport dengan personil dan peralatan tempur seperti kapal-kapal perang yang jumlahnya mampu menjaga lautan Indonesia. Petinggi TNI hendaknya tidak terus-terusan berpikir ke darat saja. Personil Angkatan Darat yang terlalu banyak rasanya lebih membahayakan. Indonesia adalah Negara Maritim, dan tidak boleh menjadi Negara Angkatan Darat!. Jangan sampai Indonesia seperti negara Amerika latin, dimana Angkatan darat dominan. Dominasi Angkatan Darat, hanya akan menjebak Angkatan Darat semakin menjadi pelanggar HAM terbesar ditubuh militer Indonesia.

Tidak ada waktu untuk menunggu sebuah pembenahan Angkatan Laut Indonesia secara besar-besaran untuk orang-orang Indonesia terus menjaga Nusantara dan dengan bangga bisa berkata, "JALASVEVA JAYA MAHE!" Ini tuntutan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi! Pencurian kekayaan laut harus berhenti atau di laut Indonesia tidak pernah jaya.


Selasa, September 08, 2009

Mahkamah Buku Untuk Kasdi


Aku bisa terus hidup karena buku. Aku tidak dibilang bodoh juga karena buku. Rupanya tidak hanya terjadi padaku. Orang lain juga rasakan hal yang sama.Ternyata buku milik peradaban manusia. Dan manusia beradab selalu hargai buku. Mantan Presiden juga menghormati buku, dengan membangun perpustakaan.

Di Indonesia, buku kadang menjadi sampah tak berharga. Bukan masalah jika yang perlakukan buku seperti sampah itu orang-orang awam. Ternyata, ada seorang yang harusnya menghargai buku malah membakar buku, seolah buku itu punya dosa padanya. Seminggu belakangan ini, ada kisah seorang Profesor membakar buku. Gila. Kawan-kawan yang sangat mencintai buku lalu mengganti gelar Prof (Profesor) nya menjadi Prov (Provokator).
Ampun deh. Kayaknya, dalam sejarah Indonesia baru dia yang bakar buku. Memalukan sekali? sangat tidak layak sekali.
Bukan rahasia umum, jika Kasdi alias Profesor Aminudin Kasdi yang guru besar Universitas Negeri Surabaya itu, anti komunis. Tidak ada yang salah dengan ideologinya! Dia cukup keras menulis sikap antinya terhadap komunis. Selama dia menulisnya itu tidak masalah, tapi bukan membakarnya.
Kasdi rupanya sangat kesal dengan sebuah buku tentang Sumarsono dan Revolusi Agustus-nya. Kasdi begitu membenci Sumarsono yang punya jasa terhadap Republik, walau Sumarsono tidak mengakui Proklamasi 17 Agustus. Rasanya itu hak Sumarsono, toch dia juga punya jasa besar dalam pertempuran 10 November 1945.
Katanya, dalam sebuah wawancara, Kasdi tidak puas dengan Buku Sumarsono. Harusnya! Jika Kasdi, yang katanya sejarwan yang banyak nulis buku, tidak puas dengan Buku-nya Sumarsono, ya Kasdi harus nulis buku juga. Tulisan dilawan dengan tulisan. Bukan tulisan dilawan dengan pembakaran.
Bagaimanapun pembakaran buku adalah vandalisme! Jadi harus ada sangsi kepada pelaku. Jika tidak buku menjadi makin tidak dihargai.Jadi, penting sekali untuk diadakan Mahkamah Buku untuk Kasdi! Letkol Untung saja diadili di Mahkamah Militer Luar Bi(n)asa, mengapa Kasdi tidak diadili oleh pecinta Buku sejagat? Kasdi harus mendapat hukuman setimpal!
Mahkamah Buku harus lahir dan bertindak untuk mengadili Kasdi! Agar tidak lahir Kasdi-Kasdi lain di masa depan yang hanya merusak peradaban manusia,


(NB: Tulisan ini adalah reaksi atas vandalisme yang dilakukan Profesor Aminudin Kasdi yang membakar buku Sumarsono. Semoga tidak peristiwa memalukan ini di masa depan. Peristiwa ini bukti bahwa Indonesia sebagai bangsa belum bisa menghargai buku!)

Rabu, Agustus 26, 2009

Nasib Anak Tiri Kartini


Sejarah selalu berkait antara satu dengan yang lain. Juga antara tokoh satu dengan yang lain. Semua saling mempengaruhi, setidaknya mewarnai. Ada cerita menarik tentang anak Kartini yang masuk dunia pergerakan. Dia bergerak seperti Ibu Tirinya yang hebat, seperti dalam kacamata Pramoedya Ananta Toer

Abdulmadjid dilahirkan pada tanggal 9 Januari 1904 di Rembang. Abdulmadjid terlahir sebagai putra bupati Rembang, dan termasuk salah satu anak tiri Kartini, karena ayahnya yang bupati Rembang itu menikahi Kartini. Abdulmadjid, menurut pengakuan salah seorang tokoh nasional yang dikutip oleh Soe Hok Gie dalam Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan, adalah sosok yang kaku, aristokratis dan dogmatis.
Pastinya Abdulmadjid tidak akan melihat Kartini yang moderat itu secara utuh, Kartini meninggal saat melahirkan Susalit ditahun 1904, yang juga tahun Abdulmadjid lahir. Hubungan akibat perkawinan ayahnya dengan Kartini itu tidak memberikan pengaruh pada intelektualitas Abdulmadjid. Ketika dalam masa pertumbuhan Abdulmadjid, tidak pernah berhubungan dengan Kartini yang sudah berada di alam baka.
Abdulmadjid setidaknya telah merasakan bangku empuk di sekolah Belanda hasil politik etis Belanda di pergantian abad XIX ke XX. Sebagai anak bupati Rembang, Abdulmadjid setidaknya bisa bersekolah dengan pengantar bahasa Belanda di Europe Lager School (ELS: setingkat SD) lalu ke Hogare Burger School (HBS: sekolah menengah)—sepertihalnya sosok Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dua sekolah sekolah macam tadi hanya terdapat di kota-kota besar Hindia kala itu, setidaknya Abdulmadjid pernah bersekolah di Semarang. Kota dimana Sastrokartono, kakak Kartini, sempat bersekolah sebelum akhirnyta belajar di Negeri Belanda.
Selepas sekolah menengah di Indonesia, Abdulmadjid mengikuti jejak paman tirinya, Sastrokaratono yang lebih dulu berangkat ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Disana Abdulmadjid berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa pergerakan macam Hatta. Abdulmadjid-pun terpengaruh dan ikut terlibat dalam arus pergerakan kaum kiri di Eropa itu. Tidak tanggung-tanggung, Abdulmadjid akhirnya terseret ke prodeo pemerintah Belanda yang represif terhadap gerakan anti kolonialisme.
Kehadiran orang-orang komunis dari Indonesia macam Semaun atau Darsono cukup memberi pengaruh pada Abdulmadjid untuk menempuh jalan komunis. Sama saja dengan Rustam Effendi, awalnya aktif di PI, lalu setelah Hatta kembali ke Indonesia tampil sebagai seorang komunis terkemuka di Eropa.
Abdulmadjid kemudian berhasil memepengaruhi kawannya yang lain dari Indoenesia, seperti Setiadjit. Pemuda ini kenal sebagai mahasiswa yang gemar mengunjungi dunia gemerlap malam di Belanda, dan oleh kawan-kawan Indonesianya dikenal sebagai anak malas dan tiap kali tidak punya uang sering meminjam uang dari Abdulmadjid dan kawan-kawan komunis lainnya. Semakin sering Setiadjit butuh uang, semakin sering dia berinteraksi dengan Abdulmadjid yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi Setiadjid dengan paham kirinya itu. Lama kelamaan, hobi Setiadjit meminjam uang itu semakin berkurang, ke menikmati dunia gemerlap malam-pun semaki berkurang. Pastinya mulailah Setiadjid terpengaruh oleh komunisme dari Abdulmadjid. Akhirnya Setiadjit mulai masuk dalam kelompoknya Abdulmadjid. Perkawanan Abdulmadjid dengan Setiadjit semakin akrab dalam gerakan kiri mahasiswa Indonesia itu. Mereka, seperti halnya Semaun-Darsono diawal kejayaan PKI di Semarang, tampil dwitunggal berpengaruh dalam PI pasca kembalinya Muhamad Hatta ke Indonesia.
Abdulmadjid kemudian sempat meninggalkan Belanda sebelum Jerman menduduki Negeri Belanda. Masa-masa menjadi aktifis Komunis itu, Abdulmadjid tidak pernah berhenti belajar. Setidaknya dia sudah menyandang gelar Mr (Meester in Rechten: Sarjana Hukum sekarang). Bersama beberapa kawannya Abdulmadjid pernah belajar di Lenins Institute di Moscow, Rusia sekitar tahun 1934-1935. Selama PD II mereka aktif dalam gerakan bawah tanah anti NAZI.
Abdulmadjid tampaknya berpikiran bahwa komunisme adalah jalan untuk mencapai tujuan perjuangan kaum pergerakan. Kesuksesan revolusi komunis di Rusia tahun 1917, memberi petunjuk bagi Abdulmadjid tentang perubahan atas tanah Hindia yang terjajah, dimana Hindia Belanda akan menjadi Indonesia dan tidak ada lagi kata Inlander lagi. Seperti halnya orang-orang komunis lain, Abdulmadjid yakin akan dukungan Komunis Internasional pada perjuangan bangsa Indonesia yang dipimpin kaum komunisnya untuk pembebasan negeri.
Kaum komunis Indonesia, termasuk Abdulmadjid, bagaimanapun juga adalah elemen penting pergerakan nasional. Sejak kemunculannya di Semarang, kaum komunis sudah berusaha menyentuh kepentingan kaum miskin tertindas dan ikut serta dalam pergerakan. Semaun, Tan Malaka, Darsono dan lainnya telah meberikan dirinyan untuk pergerakan. Begitu juga Abdulmadjid.
Apa yang dialami dan lakukan Abdulmadjid dan kawan-kawannya selama di Eropa bagaimanapun adalah suatu usaha untuk mencapai dua kata, seperti judul pledoi Muhamad Hatta, Indonesie Vrij (baca: Indonesia Merdeka). Tujuan yang sama dengan kaum pergerakan di Indonesia, walaupun berbeda visi mengenai Indonesia Merdeka bagaimanakah yang akan dituju itu.
Banyak tokoh nasional akan dicap sebagai sampaih bila pernah bersentuhan komunis. Tokoh yang terlibat dalam kudeta atau pemberontakan biasanya akan di beri lebel pengkhianat bangsa. Sejarah Indonesia tiga dekade terakhir masih menganggap kaum komunis di arena pergerakan nasional dianggap sebagai 'duri dalam daging' atau bahkan 'musuh dalam selimut' kaum pergerakan. Karenanya peranan kaum kiri itu nyaris tidak tertulis dalam sejarah bangsa. Dibangun opini bahwa orang-orang kiri adalah perusak perjuangan kaum pergerakan karena pemberontakan PKI 1926-1927. Hampir tidak pernah dibahas bahwa seorang orang kiri Indonesia di Negeri Belanda, Rustam Effendi pernah duduk dalam parlemen Belanda dan berhasil menarik simpati beberapa warga Belanda atas ketimpangan rasial pemerintah kolonial Belanda terhadap orang-orang Indonesia.
Stereotif atas orang-orang kiri itu sangat politis sekali, dalam sejarah, kaum penguasa berhak melakukan apa saja, apalagi terhadap kaum yang kalah—kaum yang pecundang yang layak dijadikan warganegara kelas dua bahkan layak juga diperbudak oleh kaum pemenang. Dalam sejarah tidak ada kata pengkhianat atau pahlawan. Bila-pun ada, hal itu lebih bersifat politis saja.
Ada yang patut diingat dari seorang Abdulmadjid dibalik sosoknya yang kaku dan nyaris dogmatis, seperti yang dikutip Soe Hok Gie, pengkomunisan yang dilakukannya terhadap PI adalah usahanya, bersama Setiadjid, memperoleh dukungan gerakan komunis Internasional pada dunia pergerakan nasional di Indosnesia. Terlihat Abdulmadjid berusaha belajar dari kecerobahan PKI 1926/1927 yang nekad memberontak itu.



Sabtu, Agustus 15, 2009

Bukan Kali Pertama Ada Bom


Orang-orang sibuk dengan berita bom. Berita-berita pendidikan dan kesejahteraan rakyat tenggelam. Ada yang untung dengan pemboman itu, tapi bukan sang teroris yang mungkin saja nyasar ke Surga.

Bom sendiri bukan hal baru seperti yang diributkan sekarang. Zaman revolusi juga bukan momen pertama bom meledak di Indonesia. Kota Semarang pernah menjadi sasaran bom di tahun 1923. Jika bom-bom di tahun 2000an mengkambinghitamkan kelompok Islam, maka bom tahun 1923 mengkambinghitamkan kaum komunis yang tidak sudi diperentah orang-orang Belanda
Kalender ketika itu menunjuk 31 Agustus 1923. Hari itu adalah Hari besar Kerajaan Belanda yang selalu dirayakan, baik di Negeri Belanda maupun dikoloninya. Bagi banyak kalangan, tidak layak kaum terjajah merayakan hari besar penjajahnya.
Hari itu, sekitar pukul 11.00 siang, bom meledak di Semarang. Ledakan terjadi di sekitar alun-alun kota Semarang yang ketika itu berlangsung keramaian. Suasana cukup ramai dalam acara tahunan itu ketika bom meledak. Diperkirakan sekitar 11.000 orang hadir dalam keramaian itu. Tanpa diduga seseorang tidak dikenal melemparlkan dua bom ke tengah alun-alun kota Semarang yang dipenuhi manusia itu. Satu bom dilempar lagi dari Hotel Du Pavilion. Akibat ledakan bom itu, 8 orang Tionghoa, 3 orang Eropa dan seorang pribumi tewas. Seorang polisi Belanda juga terluka insiden bom di siang bolong ini.

Serangan bom ini membuat komisaris polisi di Semarang mengerahkan pasukan polisinya untuk memperketat penjagaan di dalam kota Semarang. Polisi memperkirakamn pelaku pengeboman yang belum ditemukan itu masih berada di dalam kota Semarang.
Di tempat berbeda, di hari yang sama juga terjadi ledakan bom di Madiun. Ledakan bom itu mengakibatkan dua orang pribumi terluka dan akhirnya tewas karena ledakan bom. Polisi memperkirakan bom itu meledak sebelum waktunya dan kedua orang yang tewas akibat bom tersebut adalah orang komunis.
Kaum komunis adalah musuh pemerintah paling radikal di Hindia Belanda. Beberapa waktu sebelumnya, orang-orang komunis di Jawa itu juga telah menggerakan pemogokan buruh kereta api di Jawa yang mengakibatkan jaringan kereta api di Jawa lumpuh.
Orang-orang komunis dengan konsep perlawanan kelasnya dari ajaran Marx itu menganggap pemerintah kolonial sebagai musuh yang harus dilawan. Pemerintah kolonial, dimata kaum komunis dekade 1920an, sebagai antek kapitalisme yang menghisap rakyat pribumi yang di antara mereka menjadi buruh kereta api maupun kuli-kuli di perkebuanan.
Selain pemogokan, beberapa kaum komunis mencoba langkah lain, dengan cara lebih keras. Mereka meledakkan bom sebagai solusi ketika pemerintah kolonial tidak pernah mau berkompromi dengan tuntutan kaum kiri yang umumnya radikal. Tapi bom itu tidak membuat pemerintah kolonial takut, sebaliknya justru makin keras melakukan pembersihan di kalangan pergerakan yang radikal dan nonkoperasi.
Sumber-sumber pengadaan bahan peledak juga dibersihkan di seluruh Hindia Belanda. Namun, usaha pemerintah kolonial itu tidak selalu sukses. Pada 6 Oktober 1923, Pejabat Asisten Demang di Kacang, Sumatra Barat, gagal menangkap seorang yang dicurigai sebagai pedagang dimanit (bahan peledak). Dari orang yang sebelumnya ditangkap pihak berwenamg, orang yang melarikan diri tadi adalah pedagang dinamit yang memiliki banyak pelanggan di kalangan para penangkap ikan—yang sebagian memerlukan dinamit untuk menangkap ikan—yang tinggal di Kacang dan Tikalak. Penggunaan dinamit akan merusak lingkungan di sekitar danau Singkarak. Penggunaan dinamit sendiri oleh pemerintah kolonial hanya terbatas untuk menghancurkan bukit berbatu cadas untuk membangun jalan. Penjualan dinamit dikalangan sipil akan sangat berbahaya karena kerap disalahgunakan dan bisa memakan korban manusia.



Minggu, Juli 19, 2009

Musik Melayu Punya Indonesia!


Kalo Anti Melayu, Mending Bubarkan Saja Indonesia
Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu
Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu
lagu cinta melulu
kita memang benar-benar melayu
suka mendayu-dayu
(Efek Rumah Kaca, Cinta Melulu)

Belum lama ini, segerobolan musisi Indonesia komersil muring-muring. Mereka, yang kebanyakan ngepop itu, menggugat musik melayu. Bahkan ada musisi, yang katanya, Underground, sok menasehati, Bertobatlah!!!!
Heran? apa ada yang salah dari melayu. Kenapa mereka, musisi melayu harus digugat di ajang musik Indonesia. Mereka juga orang Indonesia! Musik melayu, juga musik Indonesia. Salah satu akar musik Dang Dut, yang diusung Rhoma Irama juga berakar dari Melayu. Bukan hal aneh, musik melayu juga milik Indonesia. Bukan milik orang Malaysia saja.
Kenapa dulu Siti Nurhaliza, yang Malaysia, diterima di Indonesia, tidak lain karena orang Indonesia punya akar musik melayu. Bahkan Indonesia adalah bagian dari rumpun melayu.
Hendaknya, orang-orang Indonesia sadar, bahwa di pesisir Sumatra sana ada orang-orang Melayu. Mereka juga bagian dari Indonesia. Dan bukan tidak mungkin kalo kakek-nenek orang-orang Indonesia itu juga pejuang kemerdekaan, hingga Indonesia bisa seperti sekarang. Hingga para pengejek musik melayu itu bisa bermusik dengan gaya mereka juga. So, tidak ada yang salah dengan musik melayu.
Kenapa Musisi-musisi Indonesia, yang sekelas Yovie Widianto tampak Childies dengan keberadaan band-band baru bergaya Melayu. Yovie menganggap mereka tidak layak masuk forum musisi Indonesia. What up? Apa masalah rezeki, karena musik bergaya melayu lebih laris? Memalukan sekali! Harusnya, sebagai musisi besar, Yovie cuek saja dan terus buat musik yang bisa kalahkan band-band Melayu itu. Dan bukan mengumbar kebencian! Rasanya sejawat Yovie yang anti band ala melayu, juga hendaknya lakukan hal yang sama. Biarkan masyarakat menilai.
Saya bertahu anda semua, ”Musik Melayu itu bagian dari musik Indonesia, seperti juga Campur Sari dan lainnya!
Tapi, seperti yang selama ini saya ikuti, lagu-lagu Yovie juga itu-itu saja. Alias tentang cinta aja. Sama saja dengan musisi melayu itu. Huuuhhhh. Sama-sama jual cinta, kayak pelacur-pelacur di tempat prostitusi! Mending rukun aja melacurnya, eh jual cintanya. Bersainglah dengan sehat! Sebelum bisa buat apa yang pernah dibuat Beatles atau Pink Floyd, Jangan mencela!

Sabtu, Mei 16, 2009

Dosa Mengejar Soumokil


Soumokil akhirnya tewas juga dihadapan regu tembak. Mungkinkah dia kualat pada walter Manginsidi yang belia itu.

Aku menemukan foto2 seram dua minggu lalu di http://republikmaluku.multiply.com/photos/album/3/Mr.Dr.Chr.Soumokil Reaksiku, kaget, senang, dan tentu saja menyeramkan. Selain, Soumokil yang narsis lewat foto. Banyak juga foto persidangan, foto penahanan dan foto eksekusi matinya.
Soumokil, dalam sejarah Indonesia, dicap pengkhianat dengan Republik Maluku Selatan (RMS)nya. Dia dianggap pro Belanda, ketika revolusi kemerdekaan. Tuntutan mati, yang sukses, atas diri Walter Manginsidi, adalah karyanya. Soumokil menjebloskan Manginsidi, si gerilya muda pro republik ke hadapan regu tembak, dengan alasan pengacau di Makassar.
Soumokil seperti dikejar dosa. kegagalan Andi Azis, yang berontak di Makassar, membuatnya lari ke Maluku. Masuknya tentara republik (TNI), berbahaya bagi posisinya, dia mungkin akan dituntut balik oleh orang2 pro republik atas kematian Manginsidi. Di Maluku Selatan, ada sebuah kesempatan untuk menjadi pejabat yang tidak perlu tunduk pada republik Indonesia, juga untuk menghindari diri dari dosa.
Soumokil, akhirnya pulang juga ke tanah Nenek Moyangnya. Dia lahir dan besar sebagai "Belanda Itam" di zaman kolonial. Gelijkgesteld, membuatnya jadi Belanda Itam, yang tentu berbeda dengan orang-orang pribumi biasa. Soumokil adalah pemuda beruntung, karena pernah kuliah hukum di Leiden, Belanda. Lepas kuliah, hidupnya tambah nyaman lagi, tapi tidak di zaman Jepang, dia jadi tawanan tentara jepang.
Zaman kemerdekaan Indonesia, mimpi buruknya dimulai. Tanda zaman suram membayanginya. Karena dia "Belanda Itam" dia pun pilih menolak Republik--hingga akhirnya memproklamasikan RMS. Kematian Manginsidi adalah dosanya, dan dosa mengejarnya.
Nasibnya pun tak jauh beda dengan Manginsidi, mati dihadapan regu tembak.Bedanya,jika Manginsidi di hadapan regu tembak Tentara Belanda, maka Soumokil ditembak oleh TNI. Intinya, nasib keduanya tragis.
Satu perbedaan lagi, Manginsidi jadi pehalawan yang harum, maka Soumokil sebaliknya. Namun di sebuah tempat di negeri Belanda sana, Soumokil mungkin dianggap pahlawan oleh generasi2 RMS.
(Foto kematian Soumokil, akan terabadi, dan jadi pelajaran.)



Minggu, Mei 03, 2009

Yang Terendam Buku


Lorong perpus SMA menjadi favoritku, meski jutaan orang Indonesia menghindarinya, kecuali hanya uuntuk bercumbu demi nafsu. Tapi, lorong perpus itu suci dan bukan untuk bercumbu. itu tempat pelarianku.

Aku bosan dengan Indonesia yang menyedihkan. Mungkin sama menyedihkannya dengan kondisi yang tidak nayaman di kelas 2 SMA ku.Ya mungkin sama menyedihkannya dengan kondisi dan mentalitas kawan-kawanku. Beragam, tapi pola pikirnya seragam hingga gak bisa hargai keberagaman. Sama seperti Indoensia. Indonesia tidak pernah damai karena sebenarnya orang yang beragam dipaksakan untuk seragam.
Seperti dunia kecil dalam kelas 2-1 SMA ku di SMA Negeri 2 Balikpapan. Dimana kawan mereka yang berbeda akan dianggap sok, gila, dan layak dibenci barangkali.

Aku terbilang beruntung menurut beberapa kawan SMP Negeri 3 Balikpapan, aku diterima di SMA Negeri 2 Balikpapan. Ya awal-awal cukup menyenangkan, tapi tidak seterusnya. Ada masa dimana keberadaanku tidak diakui. Karakterku tidak dibenarkan oleh kawan-kawan. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Rasanya semua harus seragam pola pikirnya. Tidak ada perbedaan, semua harus seperti kata orang-orang itu (kawan-kawan yang kerap mengkritiku tanpa mengerti apa duniaku).
Akhirnya, kelas menjadi tidak menyenangkan. Aku mulai muak dengan kelasku dan aku lebih senang bergaul dengan anak palang Merah, ato dengan anak kelas lain. Buruknya lagi, kami seperti disetting untuk ikut les. Beruntung aku tidak mau ikut. Dulu tidak ikut les menyakitkan, bakal ketinggalan pelajaran. Tapi sekarang, ketika aku telah melewati masa itu, aku merasa aku adalah manusia bebas ketika itu.
Sebuah tempat kemudian menyelamatkanku dari tekanan manusia-manusia sok sempurna itu. Ya, sebuah perpustakaan. Dimana buku-buku sejarah dan sastra tersimpan rapi dan menggiurkanku untuk dibaca. Tapi, kondisi sekarang sudah tidak seperti dulu. penyajian di Perpustakaan itu sudah tidak menarik lagi. Tidak seperti ketika Bu Satiyati mengurusnya. Semua berubah. Bu Satiayati, saperti juga Bu Asnalin (Guru Sejarah), termasuk orang yang membuat aku rajin membaca.
Di perpus aku temukan buku-buku yang buat aku menjadi manusia. Di kelas, aku adalah siswa yang paling rajin ke perpus dan pinjam buku. siswa yang nilainya paling baik pun jarang meminjam buku. mereka lebih banyak berkutat dengan buku-buku pelajaran saja. Gila, mereka dianggap pintar, tapi ogah membaca buku lebih banyak daripadaku. Membaca buku menjadi ritual paling asyik, meski aku dua kali hampir tidak naik kelas. Pokoknya, dan memang yang sebenarnya, bahwa buku adalah segala-galanya. Buku jauh lebih penting daripada buku-buku teks Eksakta, yang memuakan dan tidak manusiawi.
Buku-buku di Perpus itu membuat aku menjadi seperti sekarang, suka menulis dan mengkritik. Aku tidak merasa pintar, hanya saja aku menjadi semakin bisa melihat dunia, meski hanya dalam kacamataku saja. Aku suka buku dan cinta pada buku mulai menghebat waktu SMA. Aku berkenalan dengan tulisan Gibran yang dasyat. Tentu saja buku-buku sejarah juga mulai menggodaku, sebelum kuputuskan untuk menjad sejarawan.
Buku menyelamatku dari pola pikir konyol kawan-kawan SMA, yang merasa lebih dewasa. Buku seperti menutupi masa laluku yang tidak menyenangkan. Selama kuliah dan bergelut dengan buku, aku seolah melupakan sebuah peristiwa di kelas 2 SMA (2000-2001). Dulu ada berita kehilangan uang.kami sekelas jadi tersangka.seorang teman bernama Andre yang lagi iseng bilang, "Trik kayaknya kamu deh yang dituduh". sontak aku langsung bilang dengan tegas, "kalo sampe aku yang dituduh, bakal ada perang antar kelas!". aku wakil kelas miskin dan penuduh tentu wakil ato anjing kelas kaya. aku tahu Andre bercanda,tapi reaksiku sadarkan aku bahwa ajaran Marx dah merasuk dalam otakku.
Akhirnya, aku tahu bahwa dalam sejarah manusia ada istilah The Have & The Have Not. Dimana ada kaum The Have yang berpunya dan juga berkuasa dan ada The Have Not yang tidak memiliki apa-apa dan kerap tereksploitasi. Aku adalah kelompok yang The Have Not itu. Kuharap tak ada lagi orang sepertiku di sekolah. biar gak ada strugle class!!! Beberapa waktu buku bantu aku lupakan hal-hal konyol itu.
Itu semua karena buku. Aku juga menjadi orang yang tidak percaya dengan omongan orang, dan hanya buku yang bisa untuk dipercaya. Buku juga yang memperkenalkan aku pada Karl Marx--penulis Das Kapital yang pernah mengobrak-abrik Kapitalisme. Buku membuat aku berteriak, dan akhirnya jadi pemberontak.
Rasanya aku sedang balas dendam dengan masalalu.yang tak bermodal dilarang berekpresi oleh kawan sekelasnya.kemiskinan dan kerendahanku dibalas dengan cacian, kebencian pada tindak tandukku yang sebenarnya tidak mengganggu mereka. aku benci kelas 1 dan kelas 2 ku di SMA 2 tahun 2000-2001. Tapi, Kebencian itu bisa tertutupi dengan buku-buku yang kubaca, kukoleksi, atau yang kutulis.

Jumat, Mei 01, 2009

Tuhan Memberkati God Bless


Raksasa Rock ini masih hidup, ditengah arus musik pop yang menjejal blantika musik Indonesia. Legenda rock Indonesia ini masih menyisakan Ahmad Albar, Donny Fattah dan Ian Antono.

Bertahun-tahun menetap di Belanda, dan tidak lupa menjajal dapur rekaman di Eropa, akhirnya Ahmad Albar—yang biasa disapa Iyek—kembali ke Indonesia. Iyek ditemani oleh Ludwig Lehman.
Niat awalnya berlibur. Segera saja, niat itu berbelok. Di Jakarta, sedang diadakan pentas seni menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI, bertajuk Summers 1972. sebuah formasi band dadakan pun dibentuk. Tentu saja ada Iyek sebagai vokalis, Ludwig Lehman sebagai gitaris dan beberapa musisi yang kala itu masih muda—namun kini sudah menjadi nama besar dalam sejrah musik Indonesia.

Posisi drum awalnya diisi oleh Fuad Hasan dan Soman Lubis pada keyboard. Dua pemuda itu bernasib naas karena kecelakaan yang menewaskan mereka, ketika sepeda motor mereka berpapasan dengan truk kacang ijo (militer). Segera band yang diberinama God Bless ini minus pemain. Bukan hanya itu, kematian Fuad Hassan dan Soman Lubis itu juga, membuat personil lain terpukul. Meski begitu mereka terus menggeliat dalam dunia musik rock Indonesia.
God Bless pun menjadi raja panggung rock Indonesia. Mereka menjadi perhatian para pemuda Indonesia—yang mulai terjangkiti musik rock barat yang sedang populer. Kala itu raksasa rock dunia macam Led Zeppelin dan Deep Purple sedang naik daun. Lagu barat pun kerap dibawakan God Bless.
Gonta-ganti personil pun kerap didera band besar ini selama lebih dari dua dekade. Beberapa nama besar seperti: Deddy Stanzah alias Deddy Rollies (pendiri The Rollies dari Bandung), Deddy Dores (dedengkot Freedom of Rhapsodia juga dari Bandung), Abadi Soesman, juga Nasution bersaudara dari gang Pegangsaan pun pernah ikut memperkuat pasukan God Bless.
Nama-nama besar itu layak ngejam di God Bless karena mereka memang sangat diperhitungkan. God Bless, jadi para pemain instrumennya juga orang besar, setidaknya diperhitungkan ketika mereka mengisi formasi God Bless. Pemain instrumen boleh ganti, namun vokal tetap saja urusan Iyek—yang merupakan anggota terlawas selain Donny Fattah. Selama bergabung dengan God Bless, Donny Fattah sebagai pemain bas, namun di awal-awal God Bless, Donny Fattah sempat memegang gitar—namun tidak lama.
Bicara soal Gitaris? God Bless punya leganda. Anak band zaman sekarang pasti akan menyebut nama Ian Antono jika ditanya salah satu gitaris terhebat Indonesia. Memang benar! Setidaknya, majalah musik Rolling Stone versi Indonesia pernah mentasbihkan Ian Antono masuk sepuluh besar gitaris Indonesia terbaik. Ian Antono tidak hanya aktif di God Bless, diluar God Bless dia pernah main di Gong 2000 bersama Iyek. Ian pernah bermain di Benteol Band sebelum gabung di God Bless.
Personil God Bless pernah menjadi figuran film. Ketika Iyek ikut menjadi pemeran antagonis dalam Si Doel Anak Modern, personil lain ikut muncul sekilas ditangah adegan film. Bukan hal aneh! Dunia film lebih dulu dijajal Iyek sebelum berangkat ke Belanda. Ketika kecil, Iyek membintangi film Jenderal Kancil.
Popularitas Iyek ikut mengangkat popularitas God Bless juga. Begitu juga popularitas anggota lain yang keluar masuk—yang memang punya nama besar, meski kala itu belum jadi legenda musik Indonesia.
Hal unik, mungkin juga aneh bagi penglihatan orang dekade sekarang. Rupanya dua personil God Bless, Ian dan Iyek, pernah buat album Dangdut. Hit terkenal dalam album itu adalah lagu Zakia—yang tentang penari gurun pasir ternama itu. Lagu itu pun ngetop, bahkan pernah dirilis ulang oleh band rock, besar juga tapi belum melegenda, bernama Boomerang diakhir dekade 1990an. Hal itu dibuat Iyek dan Ian karena lagu dangdut lagi laris. Lumayan bisa ngasapi dapur. Daripada beridealisme dengan rock sementara perut kelaparan, dan juga tidak bisa main musik rock.
Cerita God Bless sangat panjang, juga menarik hingga Mira Lesmana dan Riri Riza berniat membuat film tentang God Bless. Tampaknya Tuhan memang memberkati band besar itu. Hingga eksis dan jadi legenda rock Indonesia. Sesuai namanya, God Bless (Inggris, artinya : Berkat Tuhan), Tuhan memberkati God Bless.



Selasa, Februari 10, 2009

Jejak Penangsang van Jipang


Begawan Sore masih kencang. Deras menuju laut. Motor kami meluncur diatas lumpur. Tibalah kami di desa Jipang. Pikiran kami melayang pada Aria Penangsang si pemberontak legendartis itu.

Berdasar catatanku, ini tempat Aria Penangsang berkuasa sebagai Adipati Jipang—yang wilayahnya meliputi sekitar Blora dan Bojonegoro. Padi terhampar luas, tanahnya subur—seperti dalam lirik lagu Darah Juang, ” Negeri kami subur Tuhan”.
Tidak jauh dari tepian Bengawan Sore, ada reruntuhan istana kadipaten Jipang. Nyaris tak terlihat. Tapi disini memang ada kehidupan, waktu zaman dulu—ketika darah tertentu saja yang jadi pemimpin. Istana itu diruntuhkan tanpa bekas oleh penguasa asing lalim lantaran penguasa lokal Jipang tidak mau bekerjasama dengan penguasa lalim tadi. Setidaknya, begitu kata Eko Prasetyo—pemuda peduli desa yang menjadi Modin di Desa Jipang.
Desa Jipang? Ya, Jipang bukan lagi sebuah kadipaten seperti zaman Aria Penangsang, Jipang kini hanya nama desa tempat Eko Prasetyo tumbuh. Jipang kini hanya bagian dari distrik Cepu, Blora. Eko, selaku Modin, berusaha menjaga komplek makam umum—dimana beberapa petingi Jipang bersemayam di pemakaman desa itu.
Siapa Aria Penangsang? Kita akan menemukan Aria Penangsang di buku-buku teks sejarah sekolah yang isinya seperti cerita sintron yang klise. Dimana selalu ada tokoh antogonis—yang harus dimusuhi oleh para penontonnya. Antagonis, begitulah Aria Penangsang diposisikan sebagai tokoh antagonis—yang dilaknat sejarah karena berontak pada Kerajaan Demak, yang dianggap penting oleh orang-orang Islam Jawa.
Demak dianggap mulia, begitupun penguasanya—yang mungkin juga sepenuhnya dianggap alim seperti tokoh protogonis dalam sinetron. Rasanya tidak adil jika kita beranggapan seperti itu. Aria Penangsang pun bukan orang yang sepenuhnya jahat. Pendekar berdarah panas ini adalah murid Sunan Kudus—salah seorang walisanga.
Mengapa Aria Penangsang berontak? Rasanya ini yang harus diketahui, termasuk oleh anak sekolah. Raden Fattah punya 3 anak: Adipati Unus, Seda Lepen dan Trenggana. Setelah Raden Fattah wafat maka Adipati Unus berkuasa. Ketika Adipati Unus, penguasa Demak setelah Raden Fattah wafat tanpa keturunan, Trenggana lalu naik tahta. Seharusnya, Seda Lepenlah yang lebih berhak awalnya berdasar urutan kelahiran dari putra-putra Raden Fattah.
Awal bekuasanya Trenggana, tidak ada perlawanan keras dari pihak Seda Lepen. Setelah kematian Trenggana, tahta pun harus berganti pemilik. Pertumpahan darah dimulai. Seda Lepen—orang yang seharusnya menjadi raja Demak—pun dibunuh sepulang dari shalat Jum’at atas kemauan Prawata, putra Trenggana yanga nampak ambisus.
Kematian Seda Lepen, tentu saja membakar amarah Aria Penangsang. Dimana Aria Penangsang menuntut balas pada saudara sepupunya yang kejam pada ayahnya hanya karena tahta. Selain menuntut balas kematian ayahnya, Penangsang juga menuntut tahta Demak. Aria Penangsang pun berontak pada Demak. Akhirnya, Prawata terbunuh juga oleh orang suruhan Penangsang. Begitu juga Pangeran Hadiri, suami Kalinyamat—putri dari Trenggana. ”Pembalasan memang lebih kejam” bukanlah sebuah omong kosong.
Singkat kata, Demak pun terpecah. Ada Pajang, yang dikuasai Jaka Tingkir yang licin dan Jipang yang dikuasai Penangsang sendiri. Semua bersaing demi bekas tahta Demak yang hancur. Dua penguasa itu bunuh-bunuhan, hingga muncul satu pemenang.
Beruntung saja, Jaka Tingkir punya sekutu macam Ki Ageng Pemanahan beserta kawan dan pengikutnya. Dimana Aria Penangsang yang mudah panas hati terpancing untuk bertarung melawan pengikut Ki Ageng Pemanahan. Dalam sebuah pertarungan tidak seimbang, Aria Penangsang yang dikeroyok, berhasil dilukai oleh Sutawijaya—Penembahan Senapati yang kelak mendirikan dinasti penguasa Mataram Islam—dengan tombak keramat Ki Plered-nya.
Pelan-pelan Aria Penangsang pun meninggal. Jipang pun meredup dari Sejarah Jawa, meski berusaha menentang penguasa asing termasuk VOC atau Hindia Belanda. Hingga Jipang hanya menjadi nama desa. Ini adalah resiko dari tidak mau berkompromi dengan penguasa yang lebih kuat. Ini bukan kebodohan, melainkan keberanian yang layak diapresiasi. Aria Penangsang layak menjadi tokoh Cepu atau Blora, dalam sejarah tidak ada pahlawan atau pengkhianat—seperti politisasi yang dimau oleh penguasa—melainkan pengukir sejarah saja.