Rabu, April 30, 2014

Kisah Haru Si Bekas Romusha

Jadi KNIL, bisa jadi pilihan. Tapi orang Bagelen tak ingin jadi Romusha.

Suatu siang, bersama nenek dan sepupu lainnya, Nenek kisah cerita menarik. Bukan tentang keluarga kami. Cerita tentang orang lain yang Nenek lupa nama orang itu. Tentang pemuda desa yang dipaksa jadi romusha. Ini hanya cerita versi Nenek. 
Menten adalah seorang lurah. Dimana dengan posisinya, dia cukup dituruti orang-orang kampung. Ketika Balatentara Jepang datang, dia masih lurah. Tapi, Menten harus menurut pada petinggi Balatentara Nippon. Jika tidak, hidupnya dijamin susah.
Balatentara Nippon adalah saudara tua yang harus dituruti maunya. Jika minta beras, maka rakyat nusantara si saudara muda harus setor beras. Jika radio harus disetor,maka harus dengan sukarela semua orang harus serahkan mereka punya radio. Jika saudara tua minta wanita penghibur, saudara muka harus relakan selangkangan saudari-saudarinya demi birahi serdadu turunan matahari. Begitulah indahnya persahabatan Saudara Tua si Nippon dengan Saudara Muda yang belakangan mengaku orang Indonesia.
Suatu kali, petinggi balatentara Nippon minta tenaga kerja gratisan. Maka semua kepala orang Indonesia harus sediakan permintaan itu petinggi. Jepang harus membuat banyak jalan dan lubang perlindungan untuk menghadapi tentara sekutu. Serdadu-serdadu Nippon tak mungkin mengerjakan dengan tangan mereka. Bagi mereka, sebaiknya tangan-tangan saudara muda yang mengerjakan.
Pahlawan Pekerja alias Romusha pun diadakan. Nyatanya, Romusha tak lebih pekerja paksa yang direndahkan derajatnya. Tanpa upah, makanan dan kesehatan layak. Mereka harus bikin banyak bangunan dan jalan yang sangat panjang. Kerja mereka berat. Ada cerita mengerikan yang berkembang dikalangan romusha. Sekelompok romusha baru saja menyelesaikan bangunan rahasia yang diinginkan serdadu Jepang.  Demi menjaga keamanan (keharasiaan) para pekerja paksa itu kemudian dibunuh, agar bangunan itu itu terjaga kerahasiaanya dari siapa saja, termasuk dari tentara sekutu.
Menten, sang lurah pun kebagian jatah menyetor tenaga kerja dari kampungnya. Sudah tentu ada puji-pujian bagi pekerja paksa itu. Namun, bekerja tanpa upah untuk orang asing yang kejam tentu bukan keinginan orang sehat akal.
Suatu siang, bersama nenek dan sepupu lainnya, Nenek kisah cerita menarik. Bukan tentang keluarga kami. Cerita tentang orang lain yang Nenek lupa nama orang itu. Tentang pemuda desa yang dipaksa jadi romusha. Ini hanya cerita versi Nenek. Menten adalah seorang lurah. Dimana dengan posisinya, dia cukup dituruti orang-orang kampung. Ketika Balatentara Jepang datang, dia masih lurah. Tapi, Menten harus menurut pada petinggi Balatentara Nippon. Jika tidak, hidupnya dijamin susah. Balatentara Nippon adalah saudara tua yang harus dituruti maunya. Jika minta beras, maka rakyat nusantara si saudara muda harus setor beras. Jika radio harus disetor,maka harus dengan sukarela semua orang harus serahkan mereka punya radio. Jika saudara tua minta wanita penghibur, saudara muka harus relakan selangkangan saudari-saudarinya demi birahi serdadu turunan matahari. Begitulah indahnya persahabatan Saudara Tua si Nippon dengan Saudara Muda yang belakangan mengaku orang Indonesia. Suatu kali, petinggi balatentara Nippon minta tenaga kerja gratisan. Maka semua kepala orang Indonesia harus sediakan permintaan itu petinggi. Jepang harus membuat banyak jalan dan lubang perlindungan untuk menghadapi tentara sekutu. Serdadu-serdadu Nippon tak mungkin mengerjakan dengan tangan mereka. Bagi mereka, sebaiknya tangan-tangan saudara muda yang mengerjakan. Pahlawan Pekerja alias Romusha pun diadakan. Nyatanya, Romusha tak lebih pekerja paksa yang direndahkan derajatnya. Tanpa upah, makanan dan kesehatan layak. Mereka harus bikin banyak bangunan dan jalan yang sangat panjang. Kerja mereka berat. Ada cerita mengerikan yang berkembang dikalangan romusha. Sekelompok romusha baru saja menyelesaikan bangunan rahasia yang diinginkan serdadu Jepang. Demi menjaga keamanan (keharasiaan) para pekerja paksa itu kemudian dibunuh, agar bangunan itu itu terjaga kerahasiaanya dari siapa saja, termasuk dari tentara sekutu. Menten, sang lurah pun kebagian jatah menyetor tenaga kerja dari kampungnya. Sudah tentu ada puji-pujian bagi pekerja paksa itu. Namun, bekerja tanpa upah untuk orang asing yang kejam tentu bukan keinginan orang sehat akal.
Menten menunjuk banyak pemuda, baik yang sudah nikah atau belum. Seorang pemuda (kita sebut saja Bejo, bukan nama sebenarnya) kena tunjuk. Bejo sudah menikah. Dikirim romusha berarti harus pisah dengan istrinya. Sebagai orang kecil, Bejo harus menurut apa kata pemimpin desa.
Bejo dan pemuda lain pun dikirim. Tak jelas kemana dia dikirim. setelah kepergia Bejo, istrinya pun hamil lalu melahirkan anak Bejo. Tak ada pertukaran kabar antara suami istri muda itu. 
Setelah tahun-tahun berlalu, balatentara Jepang akhirnya dikalahkan. Tak lama Jepang kalah, Menten pun menghilang. Tak ada orang yang tahu kabarnya. Setelah menghilang, dia mungkin ganti nama. Dia takut akan adanya balas dendam dari orang desa yang saudaranya, ayahnya atau siapanya dikirim sebagai romusha tanpa kejelasan kabar. Maklum, orang-ornag desa umumnya butahuruf. Tentang kehilangan ini, Menten pasti harus jadi orang yang paling disalahkan oleh penduduk desa.
Para pekerja paksa pun dibebaskan. Kesehatan mereka dipulihkan oleh tentara sekutu. Bersama tentara sekutu itu, terdapat tentara Belanda. Dengan fasilitas tentara sekutu, Bekas romusha itu, juga tawanan sekutu yang semula adalah Heiho, dilatih menjadi tentara Belanda. Romusha dan tawanan perang Jepang bisa ditemukan di Jawa dan Sumatra. Bekas Heiho banyak yang tertangkap sekutu di sekitar Pasifik,  
Bejo termasuk bekas romusha yang dijadikan tentara Belanda KNIL. Diperkirakan, pangkat Bejo adalah Soldaat (prajurit rendahan). Bejo pun tergabung dalam KNIL yang merebut Indonesia kembali. Bejo hanya orang desa yang tak paham politik. Bejo tak paham apa itu nasionalisme. Penglihatan Bejo bahwa Jepang kejam itu jelas sudah. Kebetulan, Republik Indonesia dicap sebagai negara bikinan Jepang. Itulah yang dipercaya Bejo hingga dia mau bertahan di KNIL.
Empat tahun sudah berlalu. Tanpa diduga Bejo yang sudah tidak tahu kabar istrinya, yang mungkin sudah dia anggap hilang, akhirnya datang kesempatan untuk bertemu. Pasukan dimana Bejo bergabung bergerak di sekitar Purworejo. Bejo pun berpikir untuk singgah. Berharap menengok istrinya. Meski bukan tidak mungkin istrinya sudah jadi kawin lagi dengan laki-laki lain yang tersisa di desa.
Menten menunjuk banyak pemuda, baik yang sudah nikah atau belum. Seorang pemuda (kita sebut saja Bejo, bukan nama sebenarnya) kena tunjuk. Bejo sudah menikah. Dikirim romusha berarti harus pisah dengan istrinya. Sebagai orang kecil, Bejo harus menurut apa kata pemimpin desa. Bejo dan pemuda lain pun dikirim. Tak jelas kemana dia dikirim. setelah kepergia Bejo, istrinya pun hamil lalu melahirkan anak Bejo. Tak ada pertukaran kabar antara suami istri muda itu. Setelah tahun-tahun berlalu, balatentara Jepang akhirnya dikalahkan. Tak lama Jepang kalah, Menten pun menghilang. Tak ada orang yang tahu kabarnya. Setelah menghilang, dia mungkin ganti nama. Dia takut akan adanya balas dendam dari orang desa yang saudaranya, ayahnya atau siapanya dikirim sebagai romusha tanpa kejelasan kabar. Maklum, orang-ornag desa umumnya butahuruf. Tentang kehilangan ini, Menten pasti harus jadi orang yang paling disalahkan oleh penduduk desa. Para pekerja paksa pun dibebaskan. Kesehatan mereka dipulihkan oleh tentara sekutu. Bersama tentara sekutu itu, terdapat tentara Belanda. Dengan fasilitas tentara sekutu, Bekas romusha itu, juga tawanan sekutu yang semula adalah Heiho, dilatih menjadi tentara Belanda. Romusha dan tawanan perang Jepang bisa ditemukan di Jawa dan Sumatra. Bekas Heiho banyak yang tertangkap sekutu di sekitar Pasifik, Bejo termasuk bekas romusha yang dijadikan tentara Belanda KNIL. Diperkirakan, pangkat Bejo adalah Soldaat (prajurit rendahan). Bejo pun tergabung dalam KNIL yang merebut Indonesia kembali. Bejo hanya orang desa yang tak paham politik. Bejo tak paham apa itu nasionalisme. Penglihatan Bejo bahwa Jepang kejam itu jelas sudah. Kebetulan, Republik Indonesia dicap sebagai negara bikinan Jepang. Itulah yang dipercaya Bejo hingga dia mau bertahan di KNIL. Empat tahun sudah berlalu. Tanpa diduga Bejo yang sudah tidak tahu kabar istrinya, yang mungkin sudah dia anggap hilang, akhirnya datang kesempatan untuk bertemu. Pasukan dimana Bejo bergabung bergerak di sekitar Purworejo. Bejo pun berpikir untuk singgah. Berharap menengok istrinya. Meski bukan tidak mungkin istrinya sudah jadi kawin lagi dengan laki-laki lain yang tersisa di desa.
Dengan ijin komandannya, Bejo akhirnya memasuki desa. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Bejo bertemu bocah kecil yang sedang bermain. Bejo nampaknya suka anak kecil. Apalagi anak kecil itu berkeliaran di kampungnya. 
Anak kecil itu seperti karpet merah yang menyabutnya. Dengan ramah bocah kecil itu ditanya: “dimana rumahnya?” Rupanya anak kecil itu menunjuk sebuah rumah Bejo dan istrinya dulu sebelum jadi romusha. Bejo terkejut lalu bertanya lagi, “simbok ada?” Bocah itu mengiyakan. 
Mereka berdua masuk rumah. Dan bertemulah Bejo dengan istrinya yang bertahun-tahun terpaksa dia tinggakan karena kerja paksa gila bikinan Nippon. Mereka tampaknya terpaksa mengerti atas keadaan mengerikan di jaman perang yang membuat mereka berpisah dan bisa jadi celaka. 
Rasa kangen mereka terluapkan. 
Bejo akhirnya mengajak istri dan bocah kecil yang ternyata anaknya itu meninggalkan kampung. Mereka mungkin hidup di tangsi. Tinggal di kampung jelas tak aman. Sebagai serdadu KNIL, istri Bejo bisa celaka karena oleh orang-orang pro Indonesia bisa main tuduh: mata-mata Belanda pada istri Bejo. 
Setelah pertemuan itu, tak ada lagi kabar dari Bejo setelah Pengembalian Kedaulatan pasca KMB 1949. Orang-orang hanya bisa saja berspekulasi tentang Bejo dan keluarganya: ikut gabung ke TNI bersama KNIL lain, tapi malu balik ke kampung karena mungkin merasa dimusuhi orang karena pernah jadi KNIL; masuk KL bersama tentara Belanda lain lalu ikut ke Belanda; terbunuh selama revolusi lalu keluarganya terlantar lagi seperti saat Bejo jadi romusha (ini adalah spekulasi yang paling tidak diinginkan pembaca yang budiman dan bisa memahami derita si Bejo). 
Bejo, mantan romusha Begelen itu tergolong beruntung. Dia tak diterjang peluru serdadu Jepang atau mati kelaparan, meski tubuhnya pernah dikuruskan serdadu Nippon. Selain selamat Bejo bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang dia sayangi.
Dengan ijin komandannya, Bejo akhirnya memasuki desa. Dalam perjalanan menuju rumahnya, Bejo bertemu bocah kecil yang sedang bermain. Bejo nampaknya suka anak kecil. Apalagi anak kecil itu berkeliaran di kampungnya. Anak kecil itu seperti karpet merah yang menyabutnya. Dengan ramah bocah kecil itu ditanya: “dimana rumahnya?” Rupanya anak kecil itu menunjuk sebuah rumah Bejo dan istrinya dulu sebelum jadi romusha. Bejo terkejut lalu bertanya lagi, “simbok ada?” Bocah itu mengiyakan. Mereka berdua masuk rumah. Dan bertemulah Bejo dengan istrinya yang bertahun-tahun terpaksa dia tinggakan karena kerja paksa gila bikinan Nippon. Mereka tampaknya terpaksa mengerti atas keadaan mengerikan di jaman perang yang membuat mereka berpisah dan bisa jadi celaka. Rasa kangen mereka terluapkan. Bejo akhirnya mengajak istri dan bocah kecil yang ternyata anaknya itu meninggalkan kampung. Mereka mungkin hidup di tangsi. Tinggal di kampung jelas tak aman. Sebagai serdadu KNIL, istri Bejo bisa celaka karena oleh orang-orang pro Indonesia bisa main tuduh: mata-mata Belanda pada istri Bejo. Setelah pertemuan itu, tak ada lagi kabar dari Bejo setelah Pengembalian Kedaulatan pasca KMB 1949. Orang-orang hanya bisa saja berspekulasi tentang Bejo dan keluarganya: ikut gabung ke TNI bersama KNIL lain, tapi malu balik ke kampung karena mungkin merasa dimusuhi orang karena pernah jadi KNIL; masuk KL bersama tentara Belanda lain lalu ikut ke Belanda; terbunuh selama revolusi lalu keluarganya terlantar lagi seperti saat Bejo jadi romusha (ini adalah spekulasi yang paling tidak diinginkan pembaca yang budiman dan bisa memahami derita si Bejo). Bejo, mantan romusha Begelen itu tergolong beruntung. Dia tak diterjang peluru serdadu Jepang atau mati kelaparan, meski tubuhnya pernah dikuruskan serdadu Nippon. Selain selamat Bejo bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang dia sayangi.

Jumat, Maret 21, 2014

Demi Kebo Kalang

Kebo itu sutji, bukan karna agama sadja. Tapi bagaimana kebo ikut kasih hidup pada kitorang semua
Sudah djadi tradisi orang Indonesia  memaki pake kata benda. Dimana benda-benda itu djelas-djelas barang berguna: andjing (hampir dipake merata di Indonesia bagian barat terutama); batu (di Nias); Kebo (djuga merata meski tak sebanjak pemakaian kata andjing). Kenapa barang berguna, kenapa tidak pake kata: koruptor atau sebangsanja sadja?
 Mungkin koruptor lebih lajak disembah di ini negeri? Meski kelakuan itu koruptor mmirip tikus jang kalo disawah bisa bikin habis lumbung petani kitorang semua jang mulia. 
Djika menjamakan kebo dengan kebodohan, artinja orang Indonesia hidup dari kebodohan. Karena kerbau petani bisa badjak sawah, bahkan tahi kerbau—jang otaknja dianggap bodoh itu pun bisa menjuburkan tanah. Orang Indonesia gagal didik diri untuk menghargai hal sepele, bahkan tak bisa memberi hormat sepantasnja pada kerbau jang djuga kasih mereka hidup.
Waktu kuliah, kawan saaia, Isklowor pernah njanji-njanji: "kerbauku kerbau petani..ularku ular sanca."  Belakangan saia dikasih tahu sama ini mahluk, kalo lagu itu djudulnja Cikal. Iwan Fals tulis itu lagu. Iwan Fals setidaknya bisa mengajak kitorang semua untuk menghormati kerbau kawan petani yang memberi hidup pada kitorang smua jang makan nasi atawa beras. (Maaf ini lagu pake edjaan baru en bukan djadul)
Sudah djadi tradisi orang Indonesia memaki pake kata benda. Dimana benda-benda itu djelas-djelas barang berguna: andjing (hampir dipake merata di Indonesia bagian barat terutama); batu (di Nias); Kebo (djuga merata meski tak sebanjak pemakaian kata andjing). Kenapa barang berguna, kenapa tidak pake kata: koruptor atau sebangsanja sadja? Mungkin koruptor lebih lajak disembah di ini negeri? Meski kelakuan itu koruptor mmirip tikus jang kalo disawah bisa bikin habis lumbung petani kitorang semua jang mulia. Djika menjamakan kebo dengan kebodohan, artinja orang Indonesia hidup dari kebodohan. Karena kerbau petani bisa badjak sawah, bahkan tahi kerbau—jang otaknja dianggap bodoh itu pun bisa menjuburkan tanah. Orang Indonesia gagal didik diri untuk menghargai hal sepele, bahkan tak bisa memberi hormat sepantasnja pada kerbau jang djuga kasih mereka hidup. Waktu kuliah, kawan saaia, Isklowor pernah njanji-njanji: "kerbauku kerbau petani..ularku ular sanca." Belakangan saia dikasih tahu sama ini mahluk, kalo lagu itu djudulnja Cikal. Iwan Fals tulis itu lagu. Iwan Fals setidaknya bisa mengajak kitorang semua untuk menghormati kerbau kawan petani yang memberi hidup pada kitorang smua jang makan nasi atawa beras. (Maaf ini lagu pake edjaan baru en bukan djadul)

Kerbau di kepalaku ada yang suci Kerbau di kepalamu senang bekerja Kerbau di sini teman petani
Ular di negara maju menjadi sampah nuklir Ular di dalam buku menjadi hiasan tato Ular di sini memakan tikus
Kerbauku kerbau petani, ularku ular sanca Kerbauku teman petani, ularku memakan tikus
Kerbauku besar kerbauku seram Tetapi ia buka pemalas Hidupnya sederhana
Sancaku besar sancaku seram Mengganti kulit luar sarang makan dan bertapa Hidupnya sederhana
Ularku ular sanca, kerbauku kerbau petani Ularku memakan tikus, kerbauku teman petani
Walau kerbauku bukan harimau Tetapi ia bisa seperti harimau Kerbauku tetap kerbau Kerbau petani yang senang bekerja Sancaku melilitnya Kerbauku tidak terganggu Karena sancaku dan kerbau temannya petani
Lalu di mana anak-anak sang tikus Bayi bayi bayi murni dan kosong Bayi bayi bayi, bayi ya bayi
Kalu kita sedang tidur dan tiba-tiba saja kita terbangun Karena lubang hidung kita terkena kumis harimau Lalu kita kan lari, ya lari Tetapi bayiku tidak Bukan karena bayiku belum bisa berlari Aku percaya aku percaya!
Bayiku tidak akan pernah berpikir bahwa harimau itu jahat Bayiku menari-narik kumis dan memukul-mukul mulut harimau Harimau malah memberikan bayiku mainan Bayiku menjadi bayi harimau Bayi harimau anak petani Seperti sanca melilit kerbau Dia ada di gorong-gorong kota Lantas apa agamanya?!
Kerbauku kerbau petani, ularku ular sanca Bayiku murni dan kosong dia ada di gorong-gorong kota Kerbauku kerbau petani, ularku ular sanca Bayiku bayi harimau dia ada di gorong-gorong kota
Kerbauku kerbau petani, ularku ular sanca (Bayi bayi bayi murni dan kosong) Bayiku murni dan kosong dia ada di gorong-gorong kota
Kerbauku kerbau petani, ularku ular sanca (Bayi bayi bayi bayi harimau) Bayiku bayi harimau dia ada di gorong-gorong kota
Kerbauku kerbau petani, ularku ular sanca (Bayi bayi bayi yang berkalung sanca) Bayiku murni dan kosong dia ada di gorong-gorong kota
Kerbauku kerbau petani, ularku ular sanca (Bayi bayi bayi yang disusui kerbau) Bayiku bayi harimau dia ada di gorong-gorong kota
Nah, kitorang punja kawan. Sedjarawan van Amoentai, sebut sadja doi punja nama Muhammad Iqbal alias Gus Iq. Doi bikin kitorang kaget, sebab tahu-tahu setelah lama tak sua, doi bikin gerakan melindungi kebo kalang. Kitorang tak paham kenapa itu kebo dikasih nama kalang? Apa ada kaitan sama orang kalang di Djawa. Biarlah!!
Ternjata ini kebo terantjam djuga, karna orang2 pada rakus pengen gendutin mereka punja rekening. 
Sedjarah Kalimantan sebetulnja terkait sama kebo djuga. Paling tidak, Radja Mulawarman pernah kasih 20.000 ekor kebo pada para Brahamana di tahun 400an. itu kata prasasti Yupa. Kata Kamus Sejarah Indonesia bikinan Audrey Kahin en Robert Cribb, kebo sudah masuk ke Indonesia sekitar 1000 SM. Kitorang bisa tarik kesimpulan, kebo sudah eksis di ini negeri sudah 3000 tahun. 
Mari kitorang lupakan orang2 jang  hina kebo2 jang kitorang sajangi.  Sebaiknja kalo ada petisi buat kasih lindung ini kebo kalang, kitorang teken sadja. Tjukup sudah sawitnja. Kebo kalang lebih punja hak hidup ketimbang sawit jang sudah kasih rusak hutan Kalimantan. Bukan hanya itu, banjak orang utan djuga mati gara2 sawit. Sebagai orang jang lahir di Kalimantan, sangat sedih kalau kebo kalang ilang dari mata dunia....
Nah, kitorang punja kawan. Sedjarawan van Amoentai, sebut sadja doi punja nama Muhammad Iqbal alias Gus Iq. Doi bikin kitorang kaget, sebab tahu-tahu setelah lama tak sua, doi bikin gerakan melindungi kebo kalang. Kitorang tak paham kenapa itu kebo dikasih nama kalang? Apa ada kaitan sama orang kalang di Djawa. Biarlah!! Ternjata ini kebo terantjam djuga, karna orang2 pada rakus pengen gendutin mereka punja rekening. Sedjarah Kalimantan sebetulnja terkait sama kebo djuga. Paling tidak, Radja Mulawarman pernah kasih 20.000 ekor kebo pada para Brahamana di tahun 400an. itu kata prasasti Yupa. Kata Kamus Sejarah Indonesia bikinan Audrey Kahin en Robert Cribb, kebo sudah masuk ke Indonesia sekitar 1000 SM. Kitorang bisa tarik kesimpulan, kebo sudah eksis di ini negeri sudah 3000 tahun. Mari kitorang lupakan orang2 jang hina kebo2 jang kitorang sajangi. Sebaiknja kalo ada petisi buat kasih lindung ini kebo kalang, kitorang teken sadja. Tjukup sudah sawitnja. Kebo kalang lebih punja hak hidup ketimbang sawit jang sudah kasih rusak hutan Kalimantan. Bukan hanya itu, banjak orang utan djuga mati gara2 sawit. Sebagai orang jang lahir di Kalimantan, sangat sedih kalau kebo kalang ilang dari mata dunia....

Jumat, Februari 21, 2014

Menantu Idaman: Tetap Kopral dan Sersan Mayor

Dulu Kopral dan Sersan Mayor pun bisa jadi calon menantu idaman. Sekarang masih tetap, hanya saja kopralnya: kopral taruna dan sersan mayornya juga: sersan mayor taruna, biar si mertua punya peluang jadi mertuanya si Jenderal.

Kopral Jono dalam film laskar Pemimpi
Kopral Jono dalam film laskar Pemimpi
Anhar Gonggong, sejarawan gondrong keren inspiratory saya itu, pernah bercerita ada tiga pangkat idaman mertua di tahun 1950an. Anhar memang besar dalam decade 1950an. Kakaknya adalah mayor di tahun 1950an. Paling dihormati di sekitar Pinrang, Sulawesi Selatan, namanya Andi Selle. Namun, pangkat yang dimaksud Anhar tak setinggi pangkat abangnya di TNI.
Karena saya pendengar yang buruk, saya hanya ingat dua pangkat saja: Kopral dan Sersan Mayor. Serdadu dengan dua pangkat itu, sudah cukup menjadi idaman bagi para wanita dan calon mertua di kampong-kampung sekitar Pinrang, waktu tahun 1950an. Dengar dua nama pangkat tadi, kita akan teringat Ismail Marzuki. Ada lagu Kopral Jono:

Oh... Kopral Jono, gadis mana yang tak kenal akan dikau
Oh... Kopral Jono, gadis mana yang tak rindu akan dikau
Gayamu yang perkasa mirip banget panglima Ramah tamah-mu membikin gila hati wanita
O o o ... Kopral Jono Kopral Jono, Kopral Jono, Kopral Jono
Oh... Kopral Jono, dikau buah tutur gadis nan remaja
Oh... Kopral Jono, dikau sensasi gadis gunung dan kota
Aksimu bung very good seperti mas Robin Hood
Dengan jambulmu semua gadis bertekuk lutut
O o o ... Kopral Jono Kopral Jono, Kopral Jono, Kopral Jono
Oh... Kopral Jono, dikau rebutan para gadis juwita
Oh... Kopral Jono potret-mu menghiasi dinding mereka
Memang hebat lagakmu seperti mas Danny Kaye
Bikin dunia wanita semua kacau berabe
O o o ... Kopral Jono Kopral Jono, Kopral Jono, Kopral Jono
Kopral adalah pangkat setelah prajurit kepala di masa sekarang. Dan dahulu, sebelum ada prajurit kepala, pangkat untuk prajurit bawahan hanya Prajurit Dua dan Prajurit Satu. Orang jaman dulu mungkin tak muluk-muluk maunya. Bahkan pangkat kopral pun tak jadi masalah. Ismail Marzuki punya lagu lain selain Kopral Jono, ada Sersan Mayorku:


Kalau ibuku cari menantu
Pilihlah dia sersan mayorku
Pria idaman, hasratnya hatiku
Juru terbang angkatan udara negaraku

Alangkah gagahnya, miring topinya
Aku namakan dia juru terbangku si gatot kaca
Alangkah manisnya, sopan santunnya
Aku namakan dia burung garuda yang istimewa

Sersan Mayor Juru Terbang Maemun Saleh dari Aceh
Sersan Mayor Juru Terbang Maemun Saleh dari Aceh

Di Indonesia masa kini, Sersan Mayor adalah pangkat sesudah Sersan Kepala. Jaman dulu, Sersan Mayor tampaknya sudah cukup keren. Bahkan seorang penerbang pun, pada jaman colonial pangkatnya hanya Sersan dan Sersan Mayor saja. Lama kelamaan, pangkat penerbang setidaknya Letnan. Tak ada lagi Sersan Mayor “juru terbang Angkatan Udara Negaraku.” Sersan Mayor biasanya bagian teknik atau penjaga pangkalan saja. Waktu itu, serdadu adalah profesi idaman baru bagi orang-orang Bugis atau Makassar. Sebelumnya, serdadu bukan profesi terhormat di nusantara. Hanya orang sebagian Jawa, Ambon dan Menado terbiasa dengan profesi serdadu. Hanya di Ambon dan Menado yang jadi kebanggaan. Karena politik diskriminasi colonial mengistimewakan orang Ambon dan Manado. Dan, orang-orang Jawa yang jadi serdadu lebih karena mereka tak punya sawah subur, seperti orang-orang Bagelen.

iklan perekrutan serdadu KNIL. Hal yang dihindari orang Indonesia
iklan perekrutan serdadu KNIL. Hal yang dihindari orang Indonesia

Saya pernah baca bukunya Haji Daeng Mangemba, Takutlah Pada Orang-orang Jujur, katanya, Tungguruk Soldadu pantangan besar bagi orang Bugis jadi serdadu (Belanda). Diantara puluhan ribu serdadu KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger: Tentara Hindia Belanda), hanya sekitar 300-400 orang Bugis Makassar yang jadi serdadu.  Konon, serdadu dari Bugis Makassar dikurangi karena mereka mudah mengamuk, walau mereka dianggap berani. Kemungkinan besar serdadu KNIL Bugis Makassar itu orang-orang terbuang di daerah asalnya, karena bagaimanapun ada rasa tak suka dari orang Makassar, mungkin juga Bugis, pada Belanda yang mengalahkan Sultan Hasanuddin dan belakangan orang-orang Bugis keturunan keluarga Arung Palaka pun melawan. Meski sebelumnya, Arung Palaka, untuk sementara waktu, pernah menjadi bagian dalam militer VOC, sebelum akhirnya jadi penguasa yang dihormati di Sulawesi Selatan.

patroli KNIL
Patroli bersepeda KNIL tempo doeloe

Sejarah masa-lalu boleh bilang serdadu bukan profesi terhormat bagi orang Indonesia asli, termasuk Bugis dan Makassar, namun revolusi menentukan sejarah masa depan. Revolusi, mungkin juga masa pendudukan Jepang atas Indonesia yang terjadi sebelumnya, memberikan pandangan baru bagi orang Indonesia. Di tengah kacau dan sulitnya kehidupan, terlihat betapa gagah dan ditakutinya orang yang menyandang bedil. Musuh orang-orang kecil Sulawesi Selatan di jaman revolusi: tentara Belanda, entah KNIL atau serdadu bule yang disebut KL. Mereka bersenjata. Orang-orang tentu masih ingat bagaimana Westerling dan pasukan elitnya, Depot Speciale Troepen, dengan kejamnya membantai ribuan orang (maaf saya tidak tahu angka pastinya) di penjuru Sulawesi selatan. Orang teraniaya jelas butuh pahlawan. Untungnya, banyak pemuda Sulawesi bertempur melawan serdadu-serdadu Belanda yang berbedil bagus. Pemuda-pemuda itulah yang jadi pahlawannya. Bisa dibayangkan bedil pemuda Sulawesi selatan, yang boleh kita sebut gerilyawan atau pejuang itu, sangat tidak memadai. Mungkin banyak diantara mereka yang sekedar bawa golok atau badik saja. Tak masalah, yang penting bergerilya.

serdadu tetap impian
serdadu tetap impian

Belakangan, bekas gerilyawan cum pejuang itu pun sebagian ditarik jadi serdadu TNI. Sebagian lagi, walau ingin sekali jadi serdadu TNI, mereka harus tersingkir. Maklum diantara bekas pejuang itu butahuruf. Tak heran jika kemudian bekas pejuang itu berontak pada pemerintah, karena tak diterima masuk tentara. Dimana Kahar Muzakkar jadi pimpinannya.Jadi Kahar semula melawan bukan untuk bikin Negara Islam, sejak kawal Kahar cinta Republik Indonesia sejatinya. Kalau orang kecewa kan lama-lama rasa cinta itu bisa jadi benci.
Serdadu bekas gerilyawan itu diantara ada yang jadi kopral dan Sersan Mayor, walau bukan Sersan Mayor juru terbang karena Angkatan UDara belum mapan di Sulawesi Selatan. Sersan Mayor juru tembak saja sudah bagus. Bisa jadi, yang punya pangkat di bawah Kopral pun sudah ada calon mertua yang mau tamping, walau gaji serdadu Indonesia sedari jaman itu sangat kecil.

sersan mayor idaman gaya baru
Sersan Mayor Taruna menantu idaman gaya baru

Nah, serdadu tetap kerjaan idaman pemuda Indonesia, apalagi yang doyan tawuran. Jadi Prajurit Dua tak apa, yang penting serdadu. Syukur kalau bisa lebih seperti kopral dan sersan mayor. Sampai 20 tahun kedepan, jadi serdadu masih tetap harapan pemuda Indonesia, kecuali petani di pegawai-negerikan besar-besaran dengan gaji setara buruh pertambangan. Rasanya khayal sekali…Yang berubah hanyalah, jiwa matematika calon mertua. Dulu kalau kopral dan Sersan Mayor idaman mereka, namun setelah berhitung dengan melihat besar gaji dan pengaruhnya di masyarakat, maka mereka merevisi sedikit apa yang jadi idaman mereka itu. Begini: kopral idaman mereka adalah kopral taruna dan sersan mayor idaman yang dimaksud adalah Sersan Mayor Taruna. Terserah, mau taruna Akmil Magelang, AAL Surabaya , AAU Yogyakarta atau Akpol Semarang boleh. Yang penting kopral taruna dan sersan mayor taruna. Harapan jangka pendeknya, biar punya mantu perwira dan harapan jangka panjangnya (kalau bisa) biar punya mantu Jenderal.

Rabu, Februari 12, 2014

Hidup Usman Harun!!!

KKO AL punya pahlawan. Jadi, hak AL untuk memberi nama pada kapalnya, tak perlu dengar apa kata tetangga yang cerewet itu
Dulu, waktu Sukarno masih jadi presiden, waktu konfrontasi Malaysia, dua orang prajurit KKO bermasil memasuki Singapura dengan bantuan orang sipil bernama Gani. Dua KKO itu berhasil menuntaskan misi sabotase mereka. Peledakan Mcdonald House di Singapura sukses. 
Pengeboman MacDonald House terjadi pada tanggal 10 Maret 1965. Gedung ini merupakan gedung dari  Hongkong and Shanghai Bank.  Orang menyebutnya MacDonald House. Terletak di Orchard Road, Singapura. Tiga orang meninggal dunia (Dua korban yang tewas berasal dari suku Tionghoa sedangkan satunya lagi adalah orang Melayu) dan sedikitnya 33 orang cidera.  Pengeboman di MacDonald House merupakan pengeboman yang paling serius dari seluruh pengeboman-pengeboman yang terjadi di Singapura. (The Straits Times, 11 Maret 1965)
Misi boleh sukses. Pihak otoritas Singapura tentu tak diam. Pelaku peledakan diburu. Mereka ditangkap di sekitar Selata Malaka. Dua anggota KKO tertangkap. Mereka lalu di tahan cukup lama di penjara Changi. Setelahnya mereka di gantung dak tak pernah kembali pulang. (Sapuduto Citrowijoyo, Kompi X Siglayan, hlm. 14). Jika bicara soal hukuman, dari pihak Singapura jelas sudah impas.
Dulu, waktu Sukarno masih jadi presiden, waktu konfrontasi Malaysia, dua orang prajurit KKO bermasil memasuki Singapura dengan bantuan orang sipil bernama Gani. Dua KKO itu berhasil menuntaskan misi sabotase mereka. Peledakan Mcdonald House di Singapura sukses. Pengeboman MacDonald House terjadi pada tanggal 10 Maret 1965. Gedung ini merupakan gedung dari Hongkong and Shanghai Bank. Orang menyebutnya MacDonald House. Terletak di Orchard Road, Singapura. Tiga orang meninggal dunia (Dua korban yang tewas berasal dari suku Tionghoa sedangkan satunya lagi adalah orang Melayu) dan sedikitnya 33 orang cidera. Pengeboman di MacDonald House merupakan pengeboman yang paling serius dari seluruh pengeboman-pengeboman yang terjadi di Singapura. (The Straits Times, 11 Maret 1965) Misi boleh sukses. Pihak otoritas Singapura tentu tak diam. Pelaku peledakan diburu. Mereka ditangkap di sekitar Selata Malaka. Dua anggota KKO tertangkap. Mereka lalu di tahan cukup lama di penjara Changi. Setelahnya mereka di gantung dak tak pernah kembali pulang. (Sapuduto Citrowijoyo, Kompi X Siglayan, hlm. 14). Jika bicara soal hukuman, dari pihak Singapura jelas sudah impas.
Belakangan Singapura rebut. Mereka nampaknya tak suka rencana TNI AL memberikan nama Usman-Harun pada kapal perang terbaru mereka. Kapal tersebut didanai Indonesia, dan nama Usman Harun adalah pahlawan bagi Angkatan Laut Indonesia, jadi Angkatan Laut berhak memakai nama itu.
 Harun dan Usman bukan sosok prajurit dengan pangkat tinggi. Mereka hanya tamtama ketika mereka dikirim ke singapura untuk melakukan sabotase didalam wilayah singapura sendiri. Harun yang berpangkat Prajurit, kemudian menjadi Kopral Dua setelah dinyatakan gugur. Dan Usman yang semula kopral lalu dinaikan pangkatnya menjadi Sersan Dua. 
Upaya pembebasan dua KKO itu justru dilakukan setelah Sukarno tak berdaya lagi sebagai Presiden. Suharto sudah mulai naik dan usaha damai untuk menghentikan konfrontasi “Ganyang Malaysia” mulai dilakukan Suharto dan pengikutnya. Namun di masa transisi menuju perdamaian itulah hukuman gantung dijatuhkan pada 17 Oktober 1968. Karena konfrontasi sudah berhenti tak lama setelah 1965. Hukuman mati itu jelas di waktu yang salah, setidaknya terlambat sekali datangnya. Jika pihak Singapura ingin menghukum mati mereka, setidaknya tak lama setelah kejadian peledakan. Ini bukan bentuk perdamaian Indonesia, melainkan betapa murahnya nyawa manusia pada zaman orde baru.
Belakangan Singapura rebut. Mereka nampaknya tak suka rencana TNI AL memberikan nama Usman-Harun pada kapal perang terbaru mereka. Kapal tersebut didanai Indonesia, dan nama Usman Harun adalah pahlawan bagi Angkatan Laut Indonesia, jadi Angkatan Laut berhak memakai nama itu. Harun dan Usman bukan sosok prajurit dengan pangkat tinggi. Mereka hanya tamtama ketika mereka dikirim ke singapura untuk melakukan sabotase didalam wilayah singapura sendiri. Harun yang berpangkat Prajurit, kemudian menjadi Kopral Dua setelah dinyatakan gugur. Dan Usman yang semula kopral lalu dinaikan pangkatnya menjadi Sersan Dua. Upaya pembebasan dua KKO itu justru dilakukan setelah Sukarno tak berdaya lagi sebagai Presiden. Suharto sudah mulai naik dan usaha damai untuk menghentikan konfrontasi “Ganyang Malaysia” mulai dilakukan Suharto dan pengikutnya. Namun di masa transisi menuju perdamaian itulah hukuman gantung dijatuhkan pada 17 Oktober 1968. Karena konfrontasi sudah berhenti tak lama setelah 1965. Hukuman mati itu jelas di waktu yang salah, setidaknya terlambat sekali datangnya. Jika pihak Singapura ingin menghukum mati mereka, setidaknya tak lama setelah kejadian peledakan. Ini bukan bentuk perdamaian Indonesia, melainkan betapa murahnya nyawa manusia pada zaman orde baru.

Sebelum eksekusi, Usman dan Harun sempat bersurat pada keluarga mereka. Mereka minta kepada keluarga, mereka begitu tegar atas nasib buruk yang akan mereka alami. Kepada ibu-ibu dan keluarga besar  mereka, mereka tidak sekedar meminta ampun atas dosa mereka perbuat semasa hidup. Tidak lupa mereka meminta keihklasan keluarga, apalagi ibu mereka, dalam menjalani hukuman. Mereka juga meminta keluarga mereka untuk tegar dan bisa menerima kenyataan akan hukuman mati yang akan mereka terima.
 Kematian dua KKO AL itu mengundang reaksi keras dari banyak orang Indonesia. Mereka menyatakan tidak bisa menerima tindakan pemerintah Singapura—yang bagi mereka berlebihan. Dari poster demonstrasinya, para demonstran yang tidak terima atas hukuman dua prajurit KKO, sudah bernada ingin membalas dan menghancurkan Singapura. Kedua prajurit KKO tadi lalu dimakamkan di Taman makam pahlawan Kalibata. Pangkat mereka juga dinaikan. Usman sebagai Sersan dan Harun menjadi Kopral.
Sebelum eksekusi, Usman dan Harun sempat bersurat pada keluarga mereka. Mereka minta kepada keluarga, mereka begitu tegar atas nasib buruk yang akan mereka alami. Kepada ibu-ibu dan keluarga besar mereka, mereka tidak sekedar meminta ampun atas dosa mereka perbuat semasa hidup. Tidak lupa mereka meminta keihklasan keluarga, apalagi ibu mereka, dalam menjalani hukuman. Mereka juga meminta keluarga mereka untuk tegar dan bisa menerima kenyataan akan hukuman mati yang akan mereka terima. Kematian dua KKO AL itu mengundang reaksi keras dari banyak orang Indonesia. Mereka menyatakan tidak bisa menerima tindakan pemerintah Singapura—yang bagi mereka berlebihan. Dari poster demonstrasinya, para demonstran yang tidak terima atas hukuman dua prajurit KKO, sudah bernada ingin membalas dan menghancurkan Singapura. Kedua prajurit KKO tadi lalu dimakamkan di Taman makam pahlawan Kalibata. Pangkat mereka juga dinaikan. Usman sebagai Sersan dan Harun menjadi Kopral.
Dua pahlawan itu lalu menjadi pahlawan kebanggaan korps marinir hingga kini. Terlepas nasib naas yang dialami oleh kedua prajurit KKO itu, sebenarnya misi yang mereka emban sukses. Misi sabotase di dalam daerah lawan itu sangat berhasil. Klendestin (penyamaran) prajurit KKO itu sukses. Kepanikan paska peledakan itulah yang membuat aparat keamanan Singapura berusaha keras mencari mereka, hingga akhirnya mereka tertangkap.
 Kematian dua pahlawan Dwikora itu adalah kisah menarik dalam sejarah Operasi Dwikora. Dimana kisah kepahlawanan itu seolah tidak mendapat porsi semestinya dalam sejarah Indonesia.  Hal ini selain demi menjaga hubungan baik dengan Negara tetangga Singapura, jelas memiliki muatan politis di dalam negeri sendiri. Salah satunya untuk meminggirkan KKO, yang kemudian bersalin nama menjadi Korps Marinir, sendiri.
Dua pahlawan itu lalu menjadi pahlawan kebanggaan korps marinir hingga kini. Terlepas nasib naas yang dialami oleh kedua prajurit KKO itu, sebenarnya misi yang mereka emban sukses. Misi sabotase di dalam daerah lawan itu sangat berhasil. Klendestin (penyamaran) prajurit KKO itu sukses. Kepanikan paska peledakan itulah yang membuat aparat keamanan Singapura berusaha keras mencari mereka, hingga akhirnya mereka tertangkap. Kematian dua pahlawan Dwikora itu adalah kisah menarik dalam sejarah Operasi Dwikora. Dimana kisah kepahlawanan itu seolah tidak mendapat porsi semestinya dalam sejarah Indonesia. Hal ini selain demi menjaga hubungan baik dengan Negara tetangga Singapura, jelas memiliki muatan politis di dalam negeri sendiri. Salah satunya untuk meminggirkan KKO, yang kemudian bersalin nama menjadi Korps Marinir, sendiri.
Tindak kepahlawanan Usman dan Harun, jelas tidak kalah Herois dengan kepahlawanan Toha dari Bandung selatan dimasa revolusi. Sayangnya, kepahlawanan Usman dan Harun yang gugur ditangan musuh dan telah merugikan musuh itu harus dikalahkan oleh pengkultusan tokoh-tokoh yang lebih banyak yang menghabisi para pemberontak yang tidak lain adalah suadara sendiri.
 Eksekusi mati atas Harun dan Usman adalah awal keangkuhan Singapura dalam menginjak-injak Indonesia. Dan, omong kosong besar jika Suharto adalah Presiden yang kuat di luar negeri. Jika kuat harusnya tak hukuman mati untuk dua KKO tadi. Jika Sukarno masih berkuasa, vonis mati pada Usman dan Harun, konfrontasi Malaysia bisa berubah jadi perang terbuka. Harga diri Indonesia nomor satu buat Sukarno, meski Sukarno gagal membangun ekonomi. Sukarno mungkin tak akan terima dua KKO itu dihukum oleh bekas Negara boneke bikinan nekolim (Inggris).
Tribute to: Usman Harun
Tindak kepahlawanan Usman dan Harun, jelas tidak kalah Herois dengan kepahlawanan Toha dari Bandung selatan dimasa revolusi. Sayangnya, kepahlawanan Usman dan Harun yang gugur ditangan musuh dan telah merugikan musuh itu harus dikalahkan oleh pengkultusan tokoh-tokoh yang lebih banyak yang menghabisi para pemberontak yang tidak lain adalah suadara sendiri. Eksekusi mati atas Harun dan Usman adalah awal keangkuhan Singapura dalam menginjak-injak Indonesia. Dan, omong kosong besar jika Suharto adalah Presiden yang kuat di luar negeri. Jika kuat harusnya tak hukuman mati untuk dua KKO tadi. Jika Sukarno masih berkuasa, vonis mati pada Usman dan Harun, konfrontasi Malaysia bisa berubah jadi perang terbuka. Harga diri Indonesia nomor satu buat Sukarno, meski Sukarno gagal membangun ekonomi. Sukarno mungkin tak akan terima dua KKO itu dihukum oleh bekas Negara boneke bikinan nekolim (Inggris). Tribute to: Usman Harun

Minggu, Februari 09, 2014

Curhatan Pink Floydian

Saya harus mengaku dosa, terlambat dengar Pink Floyd, piringan hitam yang ada cuma Led Zeppelin, Deep Purple, dan yang menye2 macam Bee Gees.

Sebagai manusia yang lahir di paruh pertama dekade 1980an, sudah takdirnya untuk jalani masa puber di tahun 1990an. Apa yang kami dengar, lihat dan entah apa saja di dekade 1990an, asal sesuai hati kami akan terima dengan cengar-cengir. Masa edan itu sudah lewat pastinya. Masa-masa dimana musik bisa menggugah semangat. Demam K-Pop waktu itu cuma mimpi di siang bolong. Musik pop cengeng pun bisa menghentak. Bahkan boybands pun, walo sudah banyak yang ngece, tetap cool dan tidak menjijikan untuk dilihat.
Ini tulisan, jelas subyektif saya, sebagai pemberontak gak jelas, penggemar rock (yang biasanya sok ngaku Pink Floydian sejati) yang masih ada secelah toleransi terhadap music pop, dangdut bahkan India. Tak pernah ada bayangan demam K-Pop akan jadi seperti wabah kolera seperti saat ini. Maklum, jaman itu televisi swasta masih sehat pikirannya, karena masih kasih putar film-film lawas. Kita bisa nonton film tahun 1970an. Ada Benyamin S, Rano Karno, dan lainnya termasuk yang sekarang nyebelin macam Haji Rhoma Irama. Semua itu, walo jadoel, tetap saja keren sebetulnya. 
Musik yang lagi nge-Trend bisa dilihat dari televisi swasta macam SCTV. Karena belum melek internet, kami puas dengan music-musik yang sebetulnya ngetrend di akhir 1980an, tapi masih garang, bahkan lebih garang di decade 1990an, macam Guns n Roses; Metallica; Yngwey Malmsten dan sebangsanya. 
Waktu kecil, ada lagu John Lennon yang sering saya dengar waktu kecil, Imagine. “Mama saya berteriak, ‘ayo lekas mandi!!’ pada pukul lima sore. John Lennon nyanyikan Imagine di TVRI pada pukul lima sore” (mohon ampun pada Fredrico Garcia Lorca). Saya hanya dengar lagu itu, tapi tahu apa judul lagu bahkan penyanyinya. 
Saya baru tahu Imagine itu karyanya Lennon anggotanya Beatles. Soal Beatles sendiri, saya pertama kali tahu itu kekurang-ajaran mereka sama Imelda Marcos. Waktu Madam Marcos yang korup tak terkira itu, ngundang show di istana, John bilang, “kalau mau pertunjukan, datang saja ke kamar kami.”  Itulah rasa hormat pertama saya untuk Beatles dan Lenon pastinya. Belakangan baru dengar lagunya. Saya menyesal sekali kenal lagu mereka juga.
Waktu itu, di decade jahiliyah itu, saya belum tahu kalau itu juga Britpop. Seorang paman saya bernama Heri Purwanto, yang doyan putar MTV, kasih lihat saya Blur dan Oasis. Juga Collective Soul. Sayang, sence rock saya memble. Sampai belakangan aufklarung (pencerahan) datang pada saya dan saya sadar itu semua band-band keren. Saya juga terlambat kenal Nirvana. Sial!! Maklum gagap trend. 
Tapi, ada pusaka keluarga, satu-satunya barang paling natik dan mewah keluarga kami bernama piringan hitam, mesin pemutarnya merek Philips. Keluarga kami kere tapi saya bangga punya itu barang. Dari piringan hitam itu saya dengar Lennon, Santana, Led Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk Railroad, dan yang menye2 Bee Gees. Dulu hanya sebatas dengar dan belum menikmati. 
Beberapa hari silam, saya dengar lagu terkini (berdasar ukuran saya), Gara-Gara Kahitna judulnya, enyang dibawakan Project Pop. Dimana disinggung beberapa lagu-lagu Kahitna yang ngetop macem: Andai Dia Tahu; Cantik; Tak Sebebas Merpati dan lainnya. Sudah saya bilang, toleransi kuping saya cukup bagus. Musik Indonesia macam Kahitna; Java Jive, Dewa19, Kla Project; Humania; Indie bisa masuk juga. Dan sedikit-sedikit dengar Slank, waktu Pay, Indra sama Bongky masih ngendon di Gang Pot Lot. 
Agak beruntung juga, berteman sama anak-anak yang usianya agak tua, akhirnya saya jadi bisa dengar band yang keyboardisnya jenggotan (Ahmad Dhani). Gara-gara mereka saya tahu lagu Kamulah Satu-satunya  dan lagu-lagu lainya. Dari sekian banyak lagu Dewa19, Kamulah Satu-satunya paling berarti buat saya.
Harus diakui, musik-musik yang bagus, masih beredar di tahun 1990an. Masa keemasan music rock yang bisa menggerakan dunia muncul kembali di tahun 1990an. Mungkinkah ini siklus 20 tahunan sejak 1969 di Woodstock? Musik 1970an muncul dengan wajah baru. Orang muda jelang 1990an akhir dengan pakai celaka mirip cutbray walau kalah cutbray 1970an. Rambut gondrong trend penting tahun 1990an. Syukurlah di Gendut Sumitro tak jadi Pangkopkamtib lagi.
Nah. Di hari pertama SMA, saya masih ingat masa-masa jahiliyah itu, di bangku sebelah saya ada bocah keriting, belakangan saya tahu namanya Dwi Saputra en kadang sok kemayu kalo dipanggil Puput (biar mirip Puput Melati barangkali). Belakangan kami jadi sahabat baik, salah satu sababat baik yang seperti sodara. Nah ini bocah dengan tengilnya ngoceh tentang Guns n Roses. Sudah pasti saya tidak paham. Tidak!!
Sebagai manusia yang lahir di paruh pertama dekade 1980an, sudah takdirnya untuk jalani masa puber di tahun 1990an. Apa yang kami dengar, lihat dan entah apa saja di dekade 1990an, asal sesuai hati kami akan terima dengan cengar-cengir. Masa edan itu sudah lewat pastinya. Masa-masa dimana musik bisa menggugah semangat. Demam K-Pop waktu itu cuma mimpi di siang bolong. Musik pop cengeng pun bisa menghentak. Bahkan boybands pun, walo sudah banyak yang ngece, tetap cool dan tidak menjijikan untuk dilihat. Ini tulisan, jelas subyektif saya, sebagai pemberontak gak jelas, penggemar rock (yang biasanya sok ngaku Pink Floydian sejati) yang masih ada secelah toleransi terhadap music pop, dangdut bahkan India. Tak pernah ada bayangan demam K-Pop akan jadi seperti wabah kolera seperti saat ini. Maklum, jaman itu televisi swasta masih sehat pikirannya, karena masih kasih putar film-film lawas. Kita bisa nonton film tahun 1970an. Ada Benyamin S, Rano Karno, dan lainnya termasuk yang sekarang nyebelin macam Haji Rhoma Irama. Semua itu, walo jadoel, tetap saja keren sebetulnya. Musik yang lagi nge-Trend bisa dilihat dari televisi swasta macam SCTV. Karena belum melek internet, kami puas dengan music-musik yang sebetulnya ngetrend di akhir 1980an, tapi masih garang, bahkan lebih garang di decade 1990an, macam Guns n Roses; Metallica; Yngwey Malmsten dan sebangsanya. Waktu kecil, ada lagu John Lennon yang sering saya dengar waktu kecil, Imagine. “Mama saya berteriak, ‘ayo lekas mandi!!’ pada pukul lima sore. John Lennon nyanyikan Imagine di TVRI pada pukul lima sore” (mohon ampun pada Fredrico Garcia Lorca). Saya hanya dengar lagu itu, tapi tahu apa judul lagu bahkan penyanyinya. Saya baru tahu Imagine itu karyanya Lennon anggotanya Beatles. Soal Beatles sendiri, saya pertama kali tahu itu kekurang-ajaran mereka sama Imelda Marcos. Waktu Madam Marcos yang korup tak terkira itu, ngundang show di istana, John bilang, “kalau mau pertunjukan, datang saja ke kamar kami.” Itulah rasa hormat pertama saya untuk Beatles dan Lenon pastinya. Belakangan baru dengar lagunya. Saya menyesal sekali kenal lagu mereka juga. Waktu itu, di decade jahiliyah itu, saya belum tahu kalau itu juga Britpop. Seorang paman saya bernama Heri Purwanto, yang doyan putar MTV, kasih lihat saya Blur dan Oasis. Juga Collective Soul. Sayang, sence rock saya memble. Sampai belakangan aufklarung (pencerahan) datang pada saya dan saya sadar itu semua band-band keren. Saya juga terlambat kenal Nirvana. Sial!! Maklum gagap trend. Tapi, ada pusaka keluarga, satu-satunya barang paling natik dan mewah keluarga kami bernama piringan hitam, mesin pemutarnya merek Philips. Keluarga kami kere tapi saya bangga punya itu barang. Dari piringan hitam itu saya dengar Lennon, Santana, Led Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk Railroad, dan yang menye2 Bee Gees. Dulu hanya sebatas dengar dan belum menikmati. Beberapa hari silam, saya dengar lagu terkini (berdasar ukuran saya), Gara-Gara Kahitna judulnya, enyang dibawakan Project Pop. Dimana disinggung beberapa lagu-lagu Kahitna yang ngetop macem: Andai Dia Tahu; Cantik; Tak Sebebas Merpati dan lainnya. Sudah saya bilang, toleransi kuping saya cukup bagus. Musik Indonesia macam Kahitna; Java Jive, Dewa19, Kla Project; Humania; Indie bisa masuk juga. Dan sedikit-sedikit dengar Slank, waktu Pay, Indra sama Bongky masih ngendon di Gang Pot Lot. Agak beruntung juga, berteman sama anak-anak yang usianya agak tua, akhirnya saya jadi bisa dengar band yang keyboardisnya jenggotan (Ahmad Dhani). Gara-gara mereka saya tahu lagu Kamulah Satu-satunya dan lagu-lagu lainya. Dari sekian banyak lagu Dewa19, Kamulah Satu-satunya paling berarti buat saya. Harus diakui, musik-musik yang bagus, masih beredar di tahun 1990an. Masa keemasan music rock yang bisa menggerakan dunia muncul kembali di tahun 1990an. Mungkinkah ini siklus 20 tahunan sejak 1969 di Woodstock? Musik 1970an muncul dengan wajah baru. Orang muda jelang 1990an akhir dengan pakai celaka mirip cutbray walau kalah cutbray 1970an. Rambut gondrong trend penting tahun 1990an. Syukurlah di Gendut Sumitro tak jadi Pangkopkamtib lagi. Nah. Di hari pertama SMA, saya masih ingat masa-masa jahiliyah itu, di bangku sebelah saya ada bocah keriting, belakangan saya tahu namanya Dwi Saputra en kadang sok kemayu kalo dipanggil Puput (biar mirip Puput Melati barangkali). Belakangan kami jadi sahabat baik, salah satu sababat baik yang seperti sodara. Nah ini bocah dengan tengilnya ngoceh tentang Guns n Roses. Sudah pasti saya tidak paham. Tidak!!
Lama-lama tiap ke rumahnya, selalu putar lagu-lagu rock lawas. Dan lama-lama terbiasa. Celana sobek mulai dipakai, begitu juga baju belel gak jelasnya. Mulailah mimpi-mimpi jadi seniman terbentuk, ya sebut saja seniman tanpa visi. Yang penting sok nyeni.  Kata kawan saya Erang, dalam tubuh manusia itu mengalir jiwa seni. Setidaknya, air kencing saja disebut air seni. Luar biasa!
Karena penasaran sama Nirvana, pinjamlah saya kasetnya Nirvana., yang album Nevermind dari Dewi Asih—temen baik juga en netral dalam pergaulan. Salute voor Jij Sista!!! Dengan tebengan tape itu lagu saya denger juga dan anak tetangga yang masih ingusan pun seneng sama musiknya. Saya sebelumnya tidak tahu kalau Kurt Cobain yang bunuh diri itu adalah vokalis dan gitaris Nirvana yang ngetop dengan jurus 3 chord-nya. Betapa hinanya kuping saya. Entah nikmat music rock keren mana lagi yang saya dustakan?
Harus diakui, saya lebih dulu membaca majalah baru dengar lagu keren. Dulu, saya agak rajin beli majalah HAI. Majalah yang cowok banget dan gak menye2 macam aneka, kawanku dll. Dari majalah itu saya mulai ngikuti, walau bukan menikmati music rock. Maklum ada rasa tidak sreg dengan genre music jaman SMA macam: Korn, Limbizkid, Linkin Park (yang saya ingat lirik lagunya: “soooolikin mati, ketiban radioooo”)
Masa kuliah adalah masa pengenalan teknologi buat saya. Terimakasihyang tiada tara kepada Tri Sutanto (kita sebut saja Adoel) yang ngajari saya memakai computer dan menyalakan WInamp. (Maaf kawan saya primitive soal itu). Juga kawan Herry Prabowo (yang baru saja berhenti melajang, jangan tanya kapan saya nikah!!!) yang suka bagi-bagi dengar music keren en ngajak nonton konser band2 Jogja (yang dalam ukuran sayacukup enak didengar ketimbang K-pop. Juga Beny yang rajin sasay puter kaset Led Zeppelinnya.
Saya mulai memburu, entah membaca majalah music, pinjam kaset, beli cd bajakan band keren macam U2 atau Queen. Di masa-masa kuliah saya baru bisa merasakan kerennya lagu cinta bernama Creep miliknya Radiohead. Saya tahu lagu ini cari bacaan. Radio juga membantu saya mencari music terbaik yang pernah ada dalam sejarah dunia. 
Ada banyak lagu saya bajak dari radio, banyak yang saya tidak tahu. Bahkan lagu yang isinya alunan piano yang disusul sama teriakan suara tinggi yang keren abis. Belakangan saya tahu itu Great Gig in the Sky yang tulis Richard Wrigth (Pink Floyd). Saya tak pernah tahu apa saja lagu Pink Floyd, namun karena bacaan saya jadi tahu mereka Band ekperimental yang doyan bikin music gak biasa. Lalu soal Syd Barret yang gila. Roger Water yang dominan macam Dhani Dewa19. Saya lebih dulu tahu soal personil Pink Floyd, seperti halnya saya tahu personil Beatles. Bacaan lebih cepat saya tangkap ketimbang music.
Terlambat lulus kuliah karena menjual skripsi saya(yang jadi buku pertama saya)  sendiri adalah anugrah luar biasa. Muhidin M Dahlan dan Zen RS, senior waktu kuliah di IKIP Jogja, menampung magang saya jadi esais sejarah disitu ada mahluk bernama An Ismanto yang doyan putar music. Itulah pertama kalinya saya dengar Shine on You Crazy Diamond  yang legendaris itu.  Tidak!! Keren abis!!!! 
Secara tak sengaja saya temukan lagu favorit saya: Green is the Colour. Lagu itu selalu saya putar waktu ngetik, naik sepeda melawan arus pejalan kaki Malioboro. Telat lulus memang berkah. Saya jadi makin kenal Pink Floyd waktu kerja di Patehan (Jogja) dan Veteran (Jakarta). Lagu Us and Them pun saya dengar juga. Soal lagu ini disukai pemabuk, bukan urusan saya. Tak perlu negak alcohol atau pakai narkoba untuk mabuk, cukup dengar Pink Floyd.
Tuhan, ampuni hambamu ini yang mendustakan kerennya music Pink Floyd.
Lama-lama tiap ke rumahnya, selalu putar lagu-lagu rock lawas. Dan lama-lama terbiasa. Celana sobek mulai dipakai, begitu juga baju belel gak jelasnya. Mulailah mimpi-mimpi jadi seniman terbentuk, ya sebut saja seniman tanpa visi. Yang penting sok nyeni. Kata kawan saya Erang, dalam tubuh manusia itu mengalir jiwa seni. Setidaknya, air kencing saja disebut air seni. Luar biasa! Karena penasaran sama Nirvana, pinjamlah saya kasetnya Nirvana., yang album Nevermind dari Dewi Asih—temen baik juga en netral dalam pergaulan. Salute voor Jij Sista!!! Dengan tebengan tape itu lagu saya denger juga dan anak tetangga yang masih ingusan pun seneng sama musiknya. Saya sebelumnya tidak tahu kalau Kurt Cobain yang bunuh diri itu adalah vokalis dan gitaris Nirvana yang ngetop dengan jurus 3 chord-nya. Betapa hinanya kuping saya. Entah nikmat music rock keren mana lagi yang saya dustakan? Harus diakui, saya lebih dulu membaca majalah baru dengar lagu keren. Dulu, saya agak rajin beli majalah HAI. Majalah yang cowok banget dan gak menye2 macam aneka, kawanku dll. Dari majalah itu saya mulai ngikuti, walau bukan menikmati music rock. Maklum ada rasa tidak sreg dengan genre music jaman SMA macam: Korn, Limbizkid, Linkin Park (yang saya ingat lirik lagunya: “soooolikin mati, ketiban radioooo”) Masa kuliah adalah masa pengenalan teknologi buat saya. Terimakasihyang tiada tara kepada Tri Sutanto (kita sebut saja Adoel, sahabat yang mirip saudara) yang ngajari saya memakai computer dan menyalakan WInamp. (Maaf kawan saya primitive soal itu). Juga kawan Herry Prabowo (yang baru saja berhenti melajang, jangan tanya kapan saya nikah!!!) yang suka bagi-bagi dengar music keren en ngajak nonton konser band2 Jogja (yang dalam ukuran sayacukup enak didengar ketimbang K-pop. Juga Beny yang rajin sasay puter kaset Led Zeppelinnya. Saya mulai memburu, entah membaca majalah music, pinjam kaset, beli cd bajakan band keren macam U2 atau Queen. Di masa-masa kuliah saya baru bisa merasakan kerennya lagu cinta bernama Creep miliknya Radiohead. Saya tahu lagu ini cari bacaan. Radio juga membantu saya mencari music terbaik yang pernah ada dalam sejarah dunia. Ada banyak lagu saya bajak dari radio, banyak yang saya tidak tahu. Bahkan lagu yang isinya alunan piano yang disusul sama teriakan suara tinggi yang keren abis. Belakangan saya tahu itu Great Gig in the Sky yang tulis Richard Wrigth (Pink Floyd). Saya tak pernah tahu apa saja lagu Pink Floyd, namun karena bacaan saya jadi tahu mereka Band ekperimental yang doyan bikin music gak biasa. Lalu soal Syd Barret yang gila. Roger Water yang dominan macam Dhani Dewa19. Saya lebih dulu tahu soal personil Pink Floyd, seperti halnya saya tahu personil Beatles. Bacaan lebih cepat saya tangkap ketimbang music. Terlambat lulus kuliah karena menjual skripsi saya(yang jadi buku pertama saya) sendiri adalah anugrah luar biasa. Muhidin M Dahlan dan Zen RS, senior waktu kuliah di IKIP Jogja, menampung magang saya jadi esais sejarah disitu ada mahluk bernama An Ismanto yang doyan putar music. Itulah pertama kalinya saya dengar Shine on You Crazy Diamond yang legendaris itu. Tidak!! Keren abis!!!! Secara tak sengaja saya temukan lagu favorit saya: Green is the Colour. Lagu itu selalu saya putar waktu ngetik, naik sepeda melawan arus pejalan kaki Malioboro. Telat lulus memang berkah. Saya jadi makin kenal Pink Floyd waktu kerja di Patehan (Jogja) dan Veteran (Jakarta). Lagu Us and Them pun saya dengar juga. Soal lagu ini disukai pemabuk, bukan urusan saya. Tak perlu negak alcohol atau pakai narkoba untuk mabuk, cukup dengar Pink Floyd. Tuhan, ampuni hambamu ini yang mendustakan kerennya music Pink Floyd.

Tentang Laurent van der Post

Iri sekali pada kehidupan Afrikaner yang pernah menolong Indonesia ini. Selain penjelajahan, karya tulisnya sangat menarik. 
Suatu kali, murid saya bertanya, “apakah orang-orang Belanda jahat waktu revolusi?” Sebagai guru sejarah, yang harus jujur. Beruntung, waktu SMP saya pernah membaca sosok pria Inggris, yang saya kira orang baik. Laurent van der Post. Ayah baptis Pangeran William dari Inggris. Tentunya pria ini hanya salah satu dari sekian orang bule yang baik pada Indonesia.
Dari namanya, dia turunan Belanda. Dia lahir pada 13 Desember 1906, di Afrika Selatan.  Ayahnya memang keturunan Belanda, yang jadi pengacara dan politisi di Afrika Selatan. Ayahnya punya perpustakaan yang memanjakan mata dan pikiran Laurent akan bacaan. 
Laurent muda anti rasialisme yang dijunjung tinggi penguasa kulit putih Afrika Selatan. Laurent juga kulit putih, tak sendirian dia melawan rasialisme. Jauh sebelum Nelson Mandela kesohor akan penentangannya pada rasialisme, Laurent mudah sudah menulis artikel anti rasialisme. Kemungkinan, dia menulis soal itu ketika dirinya jadi jurnalis miskin di Afrika Selatan.
Suatu kali, murid saya bertanya, “apakah orang-orang Belanda jahat waktu revolusi?” Sebagai guru sejarah, yang harus jujur. Beruntung, waktu SMP saya pernah membaca sosok pria Inggris, yang saya kira orang baik. Laurent van der Post. Ayah baptis Pangeran William dari Inggris. Tentunya pria ini hanya salah satu dari sekian orang bule yang baik pada Indonesia. Dari namanya, dia turunan Belanda. Dia lahir pada 13 Desember 1906, di Afrika Selatan. Ayahnya memang keturunan Belanda, yang jadi pengacara dan politisi di Afrika Selatan. Ayahnya punya perpustakaan yang memanjakan mata dan pikiran Laurent akan bacaan. Laurent muda anti rasialisme yang dijunjung tinggi penguasa kulit putih Afrika Selatan. Laurent juga kulit putih, tak sendirian dia melawan rasialisme. Jauh sebelum Nelson Mandela kesohor akan penentangannya pada rasialisme, Laurent mudah sudah menulis artikel anti rasialisme. Kemungkinan, dia menulis soal itu ketika dirinya jadi jurnalis miskin di Afrika Selatan.
Ketika Perang Dunia melanda Eropa,  Laurent secara sukarela bergabung dengan tentara Inggris (1940). Setelah pelatihan, dia jadi kapten di bagian intelejen. Dia pernah dikirim ke Afrika Timur, sebelum akhirnya dikirim ke Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum Indonesia merdeka).  Dengan pangkat mayor, dia memimpin sebuah misi khusus 43. Misi ini bermaksud menyiapkan evakuasi rahasia tentara sekutu. Laurent sempat bergerilya di pedalaman Jawa Barat melawan Jepang setelah Hindia Belanda menyerah kalah pada Jepang di Kalijati Subang (8 Maret 1942). Sebelumnya akhirnya menyerah juga pada serdadu Jepang, pada 20 April 1942.
Laurent mengalami masa-masa menderita tanpa kepastian sebagai tawan perang Jepang. Dia sempat menempati kamp interniran di Sukabumi dan Bandung. Meski penuh tekanan, dan nyaris frustasi, dirinya tetap berusaha melakukan hal positif, seperti berternak dan membuat kampus belajar sejarah di dalam kamp tawanan. Sekedar sibuk di dalam kamp yang terkurung tanpa kepastian, sangat membantu melawan frustasi.
Pengalaman sebagai tawanan Jepang di Jawa, banyak memberinya inspirasi dalam menulis kisah-kisah yang  tertuang dalam bukunya:  A Bar of Shadow (1954), The Seed and the Sower (1963) and The Night of the New Moon(1970). Sebuah film yang berjudul Merry Chrismast Mr Lawrence, yang dimainkan juga oleh David Bowie, pernah dibuat tahun 1983. Belakangan, ketika dirinya tak muda lagi, Laurent terkenal sebegai penulis terkenal.
Setelah Jepang menyerah, Laurent tak langsung mudik. Laurent memilih menetap di Indonesia selama lebih dari setahun. Dia menjadi mediator antara pihak Indonesia dengan Belanda dalam sengketa yang kita sebut revolusi Indonesia. Sukarno dan Hatta sangat percaya pada perwira penghubung Inggris ini.  Nampaknya, apa yang dilakukannya menguntungkan Indonesia. Laurent memberikan peringatan kepada Perdana Inggris Clement Attlee dan Panglima Inggris di Asia, Sir Louis Mountbatten, tentang revolusi Indonesia yang tak bisa dihindari. Dia bahkan memperingatkan para menteri Kerajaan Belanda. Belakangan, November 1946, Inggris pun tarik pasukannya dari Indonesia. Toch tugas pasukan sekutu, melucuti serdadu Nippon Jepang dan membebaskan tawanan tunai sudah. Tak ada alasan bagi Inggris menembaki orang Indonesia lagi, hanya menguntungkan pihak Belanda saja.
Ketika Perang Dunia melanda Eropa, Laurent secara sukarela bergabung dengan tentara Inggris (1940). Setelah pelatihan, dia jadi kapten di bagian intelejen. Dia pernah dikirim ke Afrika Timur, sebelum akhirnya dikirim ke Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum Indonesia merdeka). Dengan pangkat mayor, dia memimpin sebuah misi khusus 43. Misi ini bermaksud menyiapkan evakuasi rahasia tentara sekutu. Laurent sempat bergerilya di pedalaman Jawa Barat melawan Jepang setelah Hindia Belanda menyerah kalah pada Jepang di Kalijati Subang (8 Maret 1942). Sebelumnya akhirnya menyerah juga pada serdadu Jepang, pada 20 April 1942. Laurent mengalami masa-masa menderita tanpa kepastian sebagai tawan perang Jepang. Dia sempat menempati kamp interniran di Sukabumi dan Bandung. Meski penuh tekanan, dan nyaris frustasi, dirinya tetap berusaha melakukan hal positif, seperti berternak dan membuat kampus belajar sejarah di dalam kamp tawanan. Sekedar sibuk di dalam kamp yang terkurung tanpa kepastian, sangat membantu melawan frustasi. Pengalaman sebagai tawanan Jepang di Jawa, banyak memberinya inspirasi dalam menulis kisah-kisah yang tertuang dalam bukunya: A Bar of Shadow (1954), The Seed and the Sower (1963) and The Night of the New Moon(1970). Sebuah film yang berjudul Merry Chrismast Mr Lawrence, yang dimainkan juga oleh David Bowie, pernah dibuat tahun 1983. Belakangan, ketika dirinya tak muda lagi, Laurent terkenal sebegai penulis terkenal. Setelah Jepang menyerah, Laurent tak langsung mudik. Laurent memilih menetap di Indonesia selama lebih dari setahun. Dia menjadi mediator antara pihak Indonesia dengan Belanda dalam sengketa yang kita sebut revolusi Indonesia. Sukarno dan Hatta sangat percaya pada perwira penghubung Inggris ini. Nampaknya, apa yang dilakukannya menguntungkan Indonesia. Laurent memberikan peringatan kepada Perdana Inggris Clement Attlee dan Panglima Inggris di Asia, Sir Louis Mountbatten, tentang revolusi Indonesia yang tak bisa dihindari. Dia bahkan memperingatkan para menteri Kerajaan Belanda. Belakangan, November 1946, Inggris pun tarik pasukannya dari Indonesia. Toch tugas pasukan sekutu, melucuti serdadu Nippon Jepang dan membebaskan tawanan tunai sudah. Tak ada alasan bagi Inggris menembaki orang Indonesia lagi, hanya menguntungkan pihak Belanda saja.
Laurent pun ditunjuk jadi atase Inggris di Jakarta, meski tak lama. Tahun 1947, Laurent pun menyelesaikan masa tugasnya di Indonesia. Tak ada lagi serdadu Inggris di Indonesia. Sebelum ke Inggris, Sukarno titip salam pada orangtua Laurent. Masa dinas militernya diakhiri, dia menyandang pangkat terakhir koloenl dan mendapat gelar Sir dari kerajaan Inggris. Namun, meski kulitnya putih, atas pedulinya pada Afrika, disejatinya Afrikaner.
Yang dilakukan sebagai orang sipil adalah: menulis sebagai wartawan dan novelis, yang kemudian terkenal. Dia masih terus bertualang, termasuk ke Afrika da bertemu orang-orang Bushman. Dan sepertinya tetap anti apartheid yang kemudian dilawan keras oleh Nelson Mandela. Begitulah tentang yang saya anggap petualang keren sekaligus penulis. Senang mengetik namanya tiga kali di halaman 67 skripsi terakhir saya, Pribumi Jadi KNIL. Pria ini menikmati masa tuanya, hingga 16 Desember 1996, sebagai pria terhormat—setidaknya sebagai laki-laki baik-baik.
Laurent pun ditunjuk jadi atase Inggris di Jakarta, meski tak lama. Tahun 1947, Laurent pun menyelesaikan masa tugasnya di Indonesia. Tak ada lagi serdadu Inggris di Indonesia. Sebelum ke Inggris, Sukarno titip salam pada orangtua Laurent. Masa dinas militernya diakhiri, dia menyandang pangkat terakhir koloenl dan mendapat gelar Sir dari kerajaan Inggris. Namun, meski kulitnya putih, atas pedulinya pada Afrika, disejatinya Afrikaner. Yang dilakukan sebagai orang sipil adalah: menulis sebagai wartawan dan novelis, yang kemudian terkenal. Dia masih terus bertualang, termasuk ke Afrika da bertemu orang-orang Bushman. Dan sepertinya tetap anti apartheid yang kemudian dilawan keras oleh Nelson Mandela. Begitulah tentang yang saya anggap petualang keren sekaligus penulis. Senang mengetik namanya tiga kali di halaman 67 skripsi terakhir saya, Pribumi Jadi KNIL. Pria ini menikmati masa tuanya, hingga 16 Desember 1996, sebagai pria terhormat—setidaknya sebagai laki-laki baik-baik.