Sabtu, Desember 08, 2012

Muhamad Roem Dalam Pergerakan

Roem adalah salah satu sosok muda dalam pergerakan. Dia tidak hanya tumbuh dan berkembang, tetapi juga berperan dengan para senior pergerakan yang pengaruhnya lebih besar. Dari dunia pergerakan pula karir politik negarawan awal kemerdekaan, termasuk Roem dimulai.
Orang-orang lebih sering mendengar namanya sebagai wakil Indonesia dalam perundingan Roem-Royen tanggal 7 Mei 1948 di Jakarta. Tidak salah. Setidaknya itulah yang tercatat dalam buku-buku sejarah, baik dari tingkat SD sampai SMA. Atau mungkin juga menjadi diktat-diktat dosen sejarah di perguruan tinggi.
Roem masih muda ketika dunia pergerakan nasional bergulir. Namun, bukan berarti saat itu Roem dan sebagian kawan sebayanya hanya berkutat dengan pelajarannya di sekolah-sekolah Belanda saja. Pengarus kakak iparnya di Pekalongan ikut membuatnya masuk dalam lingkungan kaum pergerakan Islam. Dunia pergerakan juga yang mengantarkan Roem sebagai tokoh nasional hingga mewakili delegasi Indonesia dalam perundingan Roem-Royen dalam rangka menuntaskan sengketa Indonesia-Belanda dimasa revolusi kemerdekaan Indonesia itu.

Perjalanan Bocah Parakan
Roem lahir pada 16 mei 1908, putra keenam dari seorang lurah Klewongan bernama Djulkarnain Djojosasmito di Parakan, Temenggung. Untuk ukuran masa itu Roem beruntung bisa bersekolah. Roem menjalani pendidikan formal barat-nya diHollandsche Inlandsche School (HIS)sebuah sekolah dasar ‘kelas dua’ pribumi-kelas satu-nya adalah Europe Leger School (ELS). Ketika Roem masih muda, masih berlaku aturan, siswa lulusan HIS bisa melanjutkan ke School tot Opleiding voor Artsen(STOVIA) di Batavia. Setamat HIS, pada awalnya Roem, masuk sekolah dokter pribumi itu. Tingkat persiapan dalam sekolah itu berhasil dilalui oleh Roem pada tahun 1927. Roem tidaklah menikmati pendidikan disini, dia lalu melanjutkan pendidikannya ke Algemene Middelsbare School (AMS)-setaraf SMU sekarang ini. Roem berhasil lulus sekolah itu pada tahun 1930. Roem tidak masuk Geneeskundige Hoge School-sekolah tinggi kedokteran pengganti STOVIA di Batavia-karena dua kali gagal dalam ujian masuk.[i]
Diluar pendidikan sekulernya di sekolah-sekolah Belanda, Roem juga mengenyam pendidikan agama Islam dari pak Wongso-seorang kyai. Dari kyai ini Roem bersentuhan dengan nilai-nilai Islam. Dimata Roem sendiri, sang ayah-yang menyuruhnya belajar agama Islam-bukanlah seorang yang agamis apalagi ahli tentang agama Islam. Sang ayah bahkan masih terpengaruh tradisi sinkretisme Islam dengan Jawa yang berkembang ratusan tahun di tanah Hindia, khususnya di pulau Jawa. Kendati begitu, keempat anak laki-laki Djulkarnain Djojosasmito diberikan nama dari nama-nama khalifah ar-Rasyidin, sedangkan nama Roem sendiri berasal dari kata surat dalam Al Qur’an yang berkisah mengenai bangsa Romawi. Ini adalah bukti sang ayah memiliki kesadaran historis, dimana sang anak menjadi monument atas kesadarannya itu.[ii]
Di usianya yang ke 11 tahun, Roem mulai bermukim di Pekalongan, sebuah kota penting pada awal-awal kehidupan Roem. Kota dimana roem menjalani sisa-sisa masa kecilnya. Kepindahan Roem tersebut dikarenakan Parakan sedang dilanda wabah kolera. Dilain waktu Parakan juga diserang wabah pest. Pekalongan, yang terletak di jalur pantai utara Jawa, adalah pusat gerakan revformasi Islam di Jawa. Di kota ini, semangat puritanisme Muhammadiyah dan gagasan sosialisme Islam ala Cokroaminoto berbaur. Roem tinggal bersama kakak wanitanya, dimana kakak iparnya duduk sebagai sekretaris Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) sekaligus tokoh Muhammadiyah Pekalongan.[iii]
Tuntutan pendidikannya, memaksa Roem harus meninggalkan Pekalongan menuju Batavia, masuk STOVIA sebelumnya akhirnya pindah ke AMS. Di Batavia, ketika masih berstatus sebagai pelaajar, Roem menjadi anggota Jong Jawa-sekelompok pemuda Jawa yang semula bernama Tri Darmo Kondo-salah satu inspirasi ini adalah aktifitas dari kakak iparnya di PSII atau Muhammadiyah di Pekalongan. Tidak heran Roem muda dengan jelas memahami gerakan PSII daripada gerakan politik lain yang ada dan berkembang pada masa itu.[iv]

Masuk Pergerakan
Karena dua kali gagal masuk kuliah, selama dua tahun Roem menganggur. Waktu lowong itu, diisi dengan mengikuti kegiatan PSII. Sekitar tahun 1930, Roem sering berkunjung ke rumah tokoh-tokoh PSII bersama Kasman Singodimedjo dan Suparmo. Salah satu toko itu adalah Agus Salim yang memang dikagumi oleh Roem. Tokoh yang kemudian menjadi sangat penting bagi masa muda Roem dalam pentas pergerakan. Sebagai kawan perjuangan juga sebagai penuntun jalan Roem dimasa pergerakan kemerdekaan. Sejak 1925, Roem sudah mengenal sosok idolanya itu sejak berdirinya Jong Islamiten Bond. Pengaruh Agus Salim diterima oleh Roem lewat tulisan-tulisan di surat kabar Hiindia Baru, Tajuk, Mimbar Jum’at. Kesadaran Roem pada tanah Hindia yang merdeka terinspirasi dari pidato Salim yang menyatakan ‘betapa masyarakat Hindia terutama kalangan intelektual dicekam dibawah sugesti superior barat’. Karenanya, Roem menyadari bahwa ia dan kawan-kawannya yang aktif dalam Jong Java dan JIB, menyadari bahwa dengan berorganisasi kelak mereka akan menjadi pimpinan bangsa. Pengaruh Salim, sebagai sosok yang dikagumi Roem, menentukan arah-arah politik Roem dikemudian hari. [v]
Sejak 1925, Roem aktif dalam JIB dan menjadi anggota National Indonesische Papvinderij (Natipij)-organisasi kepanduan JIB. Namun keanggotaan Roem disini tidak berlangsung lama. Aktifitasnya di JIB terhenti setelah Roem diterima di Recht Hoge School (RHS)-sekolah tinggi hukum di Batavia. Roem tidak berhenti berorganisasi setelah diterima di RHS. Roem hanya menyesuaikan diri dengan kuliahnya, karenanya Roem berkegiatan dalam organisasi yang dianggapnya sesuai dengan kebutuhan dan tidak menggangu kuliahnya. Bagaimanapun, berorganisasi adalah kebutuhan baginya. Bersama Jusuf Wibisono, Roem mendirikan Studenten Islamitische Studie Club. Masa-masa kuliah ini, sangat penting dalam kiprah awal Roem di dunia politik, sebagai anggota PSII. Roem mulai aktif di PSII sebelum dirinya menjadi anggota, Roem bahkan pernah menjadi ketua panitia Kongres PSII di Batavia.[vi]
Sebagai anggota PSII, Roem yang masih berstatus mahasiswa hukum aktif membela perkara orang-orang PSII di meja hijau tingkat negeri pemerintah kolonial. banyak perkara yang ditanganinya meliputi kasus tanah partikelir dan sikap tuan tanah yang sewenang-wenang pada penggarap tanahnya. Kegiatannya ini dilakukan bersama Agus Salim. Saat itu keduanya masih di PSII. Mereka keluar dari PSII setelah pernyataan Salim ‘agar PSII tidak terisolir harus melaksanakan kebijaksanaan koperasi’. Karenanya sebagian besar pimpinan dan anggota PSII tidak setuju dengan pendapat Salim, maka Salim-pun disingkirkan dari organisasi. Salim bersama tigapuluh orang pendukungnya dipecat dari PSII berdasar sidang dewan partai danladjnah tanfidzijah tanggal 19 Desember 1936. [vii]
Agus Salim lalu mendirikan Penyedar, dimana Roem ikut didalamnya bersama A.M. Sangadji dan Soedjono Hardjosoediro. Posisi Roem disini adalah sebagai ketua Komite Central Eksekutif. Barisan Penyedar berusaha menyadarkan para pimpinan dan anggota partai mengenai perlunya penggunaan azas nonkoperatif sebagai taktik belaka. [viii]
Partai ini lebih koperatif daripada PSII. Semua dilakukan karena tekanan pemerintah kolonial semakin keras saja pada kaum pergerakan non koperatif pasca gagalnya pemberontakan PKI 1926, pembabatan PNI 1928 juga. Stress juga mendera pemerintah kolonial setelah malaise (depresi ekonomi dunia) ikut juga menghantam perekonomian Hindia Belanda. Penyedar yang koperatif ini mendukung petisi Soetardjo 1938, yang menuntut pemerintahan yang otonom diatas tanah Hindia Belanda, meskipun petisi itu akhirnya juga terjungkal oleh politik kolonial elit birokrat kerajaan Belanda.[ix]
Kendati aktif dalam pergerakan, kuliah Roem di RHS Batavia berhasil diluluskannya pada 1939. Dia sempat mendirikan kantor pengacara, advocat en procuereur,lembaga hukum itu miliknya sendiri. Dalam kehidupannya sehari-hari, diluar lingkup pergerakan, profesi pengacara adalah lahan Roem mencari nafkah hidupnya. Profesi ini dijalani setelah masa-masa pergerakan sudah dilampauinya.[x]
Posisi Roem sebagai pengacara-yang pastinya mengerti prodesedur hukum, termasuk hukum kolonial, pasti akan menyelamatkan dirinya dari jeratan pasal-pasal karet ciptaan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sudah banyak memakan korban. tidak hanya dirinya yang terlindungi, mungkin juga kawan-kawan pergerakan lainnya. Jadi keberadaan Roem sebagai ahli hukum bermanfaat dalam pergerakan mereka, juga menyelamatkan mereka dari berbagai jebakan legal dari pemerijntah kolonial.

Catatan Roem Tentang Dunia Pergerakan
Kongres Nasional SI yang diadakan di Bandung itu, diadakan selama sepekan, sejak 17- 24 Juni 1916. Hajatan SI itu lebih mirip pekan pasar malam daripada sebuah kongres. Sebagai ketua panitia, Roem punya cerita tentang hajatan besar SI itu:
“Panitia Kongres bertekad membuat waktu itu djuga mendjadi pekan untuk berpesta. Seluruh alun-alun dipadjang, tarup pesta jang besar dibangun, dimana dibuka buffet untuk mendjual makanan dan minuman jang dapat mengelus-elius lidah. Gubuk-gubuk dibangun berderet-deret dalam garis jang rapih, dimana dipamerkan dan didjual matjam-matjam barang keradjinan rakjat. Hasil bersih dari usaha itu akan didermakan kepada Sekolah Agama Islam jang belum berselang lama didirikan.”[xi]
Mengenai kongres Sarekat Islam Roem mencatat juga pemberitaan harian-harian besar Hindia. saat itu dirinya masih kecil. Atas Kongres Sarekat Islam itu, tanggal 6 Agustus 1916, Limburg van Stirum-yang kala itu menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda-menulis surat pada Menteri tanah Jajahan Belanda, Pleyte. Limburg merasakan sebuah ketakutan atas terselenggaranya kongres itu. Sebuah bahaya sudah dilihat orang nomor satu di tanah Hindia Belanda itu. Isi surat tersebut adalah:
“Tuan tentu sudah mengikuti laporan kongres SI, seperti saya dengan penuh perhatian. Sikap mereka tepat sekali (correct), dan kita tidak dapat mengharapkan lebih dari itu. Saja pertjaja bahwa sebelum mereka mengadakan pertemuan lagi, Dewan Djajahan sudah terbentuk, meskipun parlemen sedang sibuk. Hindia tidak dapat menunggu.; semoga itu disadari negeri kita. Kedudukan kita sekarang baik, dan adalah ditangan kita sendiri untuk memelihara keadaan ini. Saja berbitjara tentang situasi dalam negeri, tidak Internasional.”[xii]
Kecurigaan pejabat kolonial atas kegiatan SI bukan hal biasa, dari prasangka pejabat-pejabat itu bisa tersusun skenario yang menjatuhakan orang-orang pergerakan kedalam bui. Limburg van Stirum juga menganggap pemimpin pergerakan macam Cokroaminoto dan Abdul Muis adalah sombong lagi berbahaya. Mereka berdua juga yang lainnya adalah orang-orang berbahaya yang harus selalu diawasi. Berbeda dengan pendapat Hazeu-penasihat urusan pribumi. Menurut Hazeu, orang-orang macam Cokroaminoto, Abdul Muis, Hasan Djajadiningrat, dan lainnya masihlah loyal pada pemerintah kolonial dan bisa dipercaya. Hazeu menambahkan, bila pemerintah kolonial tidak memiliki itikad baik untuk memperbaiki keadaan di tanah jajahan, sikap mereka akan berubah dan menimbulkan kegoncangan di tanah Hindia juga. Tanggal 29 September 1916, Hazeu menulis surat pada Limburg Stirum, yang merupakan laporan atas Kongres tersebut. “Umumnja para utusan mengikuti pembitjaraan- pembitjaraan dengan perhatian. Tampak ada perhatian jang besar, kesungguhan dan tertib.”[xiii]
Sikap mencurigai pemerintah kolonial terhadap kaum pergerakan, terus berlangsung sampai pemerintah kolonial Hindia Belanda bertekuk lutut kepada Jepang. Semakin hari Limburg van Stirum semakin keras menyikapi kaum pergerakan. Setelah Limburg tidak lagi menjadi Gubernur Jenderal, penerus-penerusnya juga rajin membuang orang pergerakan ke Digul atau ketempat lain yang jauh dari pulau Jawa. Roem menulis: “ada seorang Gubernur Djenderal jang mengira bahwa Pemerintah kolonial dapat bertahan lama.” Gubernur Jenderal yang dimaksud Roem adalah de Jonge. Berkatalah dengan angkuhnya de Jonge, sang Gubernur Jenderal itu: ” Kami bangsa Belanda disini sudah 300 tahun. Kami akan disini 300 tahun lagi. Sesudah itu kita boleh bertjakap-tjakap.”[xiv]
Bagi Roem: “Hubungan pendjadjahan memang tidak wadjar dan bertentangan dengan martanat manusia. Hanja dalam dunia jang bebas, berdasarkan persamaan, manusia dari berbagai-bagai bangsa dan agama dapat harga-menghargai, pertjaja-mempertjajai serta bersahabatan jang murni.”[xv]
Roem, dasarnya sama saja dengan sebagian orang-orang dizamannya, menginginkan sebuah perubahan yang menghargai sesama manusia, tidak seperti apa yang diterapkan oleh politik kolonial yang membumi di tanah Hindia kala itu. Roem merasa menjadi Inlander sangat tidak manusiawi bahkan menyakitkan, lantaran kerap dihina oleh orang-orang Belanda totok juga Indo.
Banyak hal membuat Roem menyadari hal-hal macam itu, pendidikan modern barat yang didapatnya sejak di HIS, AMS bahkan RHS membawanya sampai pada logika bahwa semua manusia pada dasarnya sama dan rasialisme tidak bisa diterima Roem sebagai dasar stratitifikasi sosial masyarakat di Hindia. Pergerakan, seperti yang disadari banyak orang-orang cerdas pribumi yang peduli dan menginginkan persamaan sebagai manusia, adalah jalan menuju perubahan. Pergerakan apapun, entah Islam atau sekuler sekalipun.
Roem, dimasa pergerakan belumlah menjadi raksasa pergerakan seperti Agus Salim, idolanya. Roem sedang tumbuh besar dimasa itu dengan jalan yang dipilihnya. Roem hanya segelintir orang muda yang mulai dipandang kepemimpinan dan pengaruhnya bahkan nyaris tidak diperhitungkan oleh kawan dalam pergerakan atau oleh musuh bersama pergerakan, pemerintah kolonial. Bisa dibilang Roem adalah anak yang baru tumbuh dibawah bayangan raksasa pergerakan bernama Agus Salim yang pengaruh sudah diperhitungkan oleh orang pergerakan maupun oleh pemerintah kolonial sendiri.
Dia hanya seorang pemuda yang sedang mencari jatidirinya. Disaat itu pula dia sudah memperlihatkan kepemimpinan dengan baik, sebagai ketua Comite Sentral Barisan Penyedar, sebuah organisasi yang berani menempuh jalan berbeda dari pecahannya, PSII. Keterlibatannya bersama Agus Salim itu membawa Roem berperan dalam dunia pergerakan nasional.
Seperti banyak tokoh-tokoh nasional yang populer diawal kemerdekaan, dimasa mudanya pastilah melewati masa pergerakan, seperti halnya Roem. Masa dimana mereka masih duduk sebagai siswa sekolah menengah. Masa dimana mereka mulai berdiskusi dengan kawan sebaya, orang yang lebih tua atau bahkan sudah mulai bergerak seperti Roem

[i] Fachri Ali, Muhamad Roem: Diplomat Pejuang, Yanto Bashri &Retno Suffatni (ed),Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta, LKiS, 2005. h. 219.
[ii] Ibid.,, h. 223.
[iii] Fachri Ali, Muhamad Roem: Diplomat Pejuang, dalamYanto Bashri &Retno Suffatni, (ed)., h. 224: lihat cover belakang Mohamad Roem, Bunga Rampai Dari Sejarah, Jakarta, Bulan Bintang, 1972.
[iv] Fachri Ali, Muhamad Roem: Diplomat Pejuang, dalam Yanto Bashri &Retno Suffatni, (ed)., h. 224
[v] Ibid., h. 227.
[vi] Ibid., h. 228.
[vii] Fachri Ali, Muhamad Roem: Diplomat Pejuang, dalam Yanto Bashri &Retno Suffatni, (ed)., h. 228-229: Parakirti Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta, Kompas, 2007. h. 761.
[viii] Fachri Ali, Mauhamad Roem: Diplomat Pejuang, dalam Yanto Bashri &Retno Suffatni, (ed)., h. 228-229: Parakirti Simbolon., h. 761
[ix] Fachri Ali, Mauhamad Roem: Diplomat Pejuang, dalam Yanto Bashri &Retno Suffatni, (ed)., h. 228-229: Parakirti Simbolon., h. 761.
[x] Lihat cover belakang Mohamad Roem, Bunga Rampai Dari Sejarah, Jakarta, Bulan Bintang, 1972.
[xi] Mohamad Roem, Bunga Rampai Dari Sejarah, Jakarta, Bulan Bintang, 1972. h. 15.
[xii] Ibid., h. 21.
[xiii] Ibid., h. 25.
[xiv] Ibid., h. 26.
[xv] Ibid., h. 27

Kamis, November 29, 2012

Nonton Remaja Jatuh Cinta

Katanya, masa SMA masa paling indah. Dan Film tentang kisah cinta anak SMA banyak muncul.

Adegan Ada Apa Dengan Cinta
 

Masa SMA masa yang paling indah, begitu yang disepakati sebagian dari kita semua.  Katanya, masa SMA masa yang paling indah. Ada yang pertama kali kenal cinta alias mulai pacaran. Ada yang pertama kali menyatakan cinta. Diantaranya ada yang naas ditolak. Sebagian lainnya berbahagia karena diterima, walau belakangan mulai menderita karena terkekang oleh pacarnya. Masa SMA, bisa jadi masa untuk belajar patah hati: entah karena ditolak sebelum menembak, ditolak setelah bersusah payah menembak,lihat  pacar selingkuh, diputus pacar dan kisah pahit lainnya. Mengenang masa SMA, bisa bikin tersenyum atau menangis, jika ingat bagian pahitnya. 

Film Ada Apa Dengan Cinta

Banyak film tentang masa SMA dibuat. Setidaknya, generasi remaja satu dekade silam tahu Ada Apa Dengan Cinta. Film besutan Rudi Sujarwo in dirilis tahun 2001. Dianggap salah satu tonggak kebangkitan film nasional, bersamaPetualaangan Serina.  Kisah cinta antara Cinta dengan Rangga yang unik. Rasa suka yang dipendam-pendam oleh Cinta itu ketahuan juga oleh teman-teman satu geng  di ekskul MAjalah dinDING.   


"Cinta (Dian Sastrowardoyo), 17 tahun, dipercaya mengelola majalah dinding sekolah bersama sahabatnya: Milly (Sissy Priscilia), Karmen (Adinia Wirasti), Alya (Ladya Cheryl), dan Maura (Titi Kamal). Mereka membentuk sebuah geng. Kenyamanan persahabatan ini berubah ketika Cinta bertemu dengan Rangga (Nicholaas Saputra), yang angkuh dan dingin, padahal mereka satu sekolah meski kehadiran Rangga tak terasakan. Rangga membawa Cinta masuk ke dunia "Lain" dari yang dihidupinya selama ini. Rangga juga membuat Cinta mulai "memisahkan" diri dari gengnya."  (kata Katalog Film Indonesia (1926-2005) hlm. 406-407, karya J.B. Kristanto)


Sebenarnya, Rangga tidak bermaksud memisahkan Cinta dari teman-temannya satu gengnya. Rangga hanya tak peduli saja dengan geng itu. Rangga
memang digambarkan angkuh dan dingin. Padahal, Rangga hanya orang pendiam yang asyik dengan dunianya. Tak sekali pun bermaksud angkuh atua dirinya tinggi. Kalau Rangga angkuh buat apa dia main sama Pak Bon sekolah. Jika Rangga itu dingin, kenapa dia memeluk Pak Bon yang dianggapnya seperti saudara. Maaf saya terlalu membela Rangga heheheh 

Poster film Gita Cinta Dari SMA

Lebih dari dua dekade sebelum Ada Apa Dengan Cinta  atau tiga dekade lebih sebelum sekarang (29 November 2012),  ada film Gita Cita dari SMA. Masih tentang kisah cinta anak SMA. Sutradaranya Arizal. Skenario ditulis Eddy Iskandar--yang sering menulis skenario film tentang anak muda. Film ini terlaris di masanya (1979).  Pernah disinetronkan, tapi filmnya saya kira lebih dasyat. Saya senang berulang kali menonton filmnya.


Kisah cinta (dua pelajar) SMA yaitu Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman). Keduanya adalah bintang kelas, baik dalam pelajaran, olah raga maupun tindak-tanduknya. Pokoknya, mereka ini pelajar teladan. Cuma, kisah cinta mereka tidak kesampaian. Ayah Ratna telah menjodohkan putrinya dengan seorang insinyur. Dengan segala macam paksaan, percintaan mereka diputuskan. Cinta yang menggebu-gebu yang memberanikan mereka diam-diam selalu berkencan,toh hanya sekedar bertemu saja." (Begitu ulasan dari Katalog Film Indonesia (1926-2005) hlm. karya J.B. Kristanto).

Waktu saya kecil, film-film Rano Karno pernah diputar. Ceritanya selalu Rano Karno sebagai peran protogonis. Kadang-kadang, Tino Karno, yang di dunia yata adalah kakak kandung Rano Karno kadang dapat peran antagonisnya. Yessi Gusman sering tampil bersama Rano Karno sebagai sepasang kekasih remaja. Hingga saya berimajinasi kalau mereka berdua pasangan sungguhan. Maklum pikiran bocah korban infotainment.

Adegan dalam film Gita Cinta Dari SMA

Belakangan, saya sadar imajinasi saya salah. Yessi Gusman belakangan punya suami pengusaha yang sepertinya kena kasus. Nah Rano Karno jadi pejabat Sipil yang pernah sukses dengan sinetronnya Si Doel Anak Sekolahan. Mesti sudah Bapak-bapak Rano Karno identik dengan anak sekolahan. Harusnya Rano Karno diangkat saja jadi Menteri Pendidikan. Hahahaha

Adegan film Pengantin Remaja

Dua film di atas hanya sekedar contoh masih ada film lain bertema soal kisah cinta SMA. Di tahun 1971, ada film yang judulnya Pengantin Remaja. Dimana Sophan Sophian sebagai Romi dan Widyawati sebagai Juli. Wim Umboh adalah sutradaranya. Alur cerita dari film ini meniru Love Story yang diangkat dari novel Eric Siegel dengan judul sama yang kondang tahun 1970. Kisah cinta dengan ending tragis. Dimana ada kematian yang memsahkan pasangan tadi.  

Bucek Depp dalam Pengantin Remaja versi baru


Belakangan, ada lagi film dengan judul sama. Pemainnya adalah Bucek Depp sebagai Romi dan vivi Samodro sebagai Juli. Wim Umboh masih jadi sutradaranya. Ini film pertama Bucek yang saya tonton. Sebagai anak kecil, film ini bagi saya keren. Dan Bucek adalah cowok keren yang wajib saya tiru, dan saingi jika mampu. Entahlah, sampai hari ini film dengan tema percintaan remaja tetap menarik. Anak remaja memang butuh hiburan. Entahlah akan muncul fim palagi tetang tema-tema ini? Kita tunggu saja.

Soejarso: Opsir Paling Bejo Tempo Doeloe

Tak kejar pangkat, tapi inilah bekas Opsir KNIL paling mujur. Jadi Jenderal dan menikahi Perempuan pujaan kepala Negara dari Kraton Solo.

Pemuda ini terkesan kurang ajar bagi pemerintah Belanda di jaman kolonial. Pemuda ini bukan kominis. Juga bukan perusuh yang mengganggu ketentraman. Dia anak sekolahan, tak bakat jadi perusuh.
Suatu hari di tahun 1930an, di Bandung diadakan pemutaran film. Saat dinyanyikan lagu kebangsaan Belanda—Wilhelmus van Nassau—untuk menghormati Ratu Wilhelmina, semua orang harus berdiri. Tak mau bikin masalah, orang Indonesia, uka tidak suka harus berdiri. Tapi,  Soejarso Soerjosoerarso tidak mau berdiri padahal semua hadirin berdiri. Karakter kerasnya mirip Pangeran Samber Nyowo.
Bukan masalah besar karena pemuda itu tidak ditahan PID.[1] Tapi, hiup Soerjosoerarso kemudian menjadi bahan intaian PID saja. Ketika itu Soejarso masih sekolah di HBS[2] Bandung.  

Soerjo Soerarso prajurit turunan Kraton

Jadi Opsir KNIL
Soejarso, pemuda kelahiran tahun 1916 itu, akhirnya masuk KMA[3] Breda (Akademi Militer). Selama menjadi Kadet KMA Soejarso Soerjosoerarso adalah kadet yang telah mendapat pengawasan dari pimpinan KMA. Ketika menjadi KMA Breda, Soejarso sebenarnya sudah mulai berhati-hati. Dia tidak berdekatan dengan orang-orang pergerakan atau semacamnya.[4]
Tahun 1939, Soejarso dinyatakan lulus dan diangkat menjadivaandrig (calon perwira). Soejarso lalu kembali ke Indonesia sebagai perwira KNIL. Konon di bedinas di Infanteri, namun setelah bergabung dengan TNI dia ditempatkan di Kaveleri. Soejarso berdinas hampir 3 tahun di KNIL.  Soejarso, konon, pernah menjadi salah satu instruktur di KMA Bandung—dimana A.H. Nasution, T.B. Simatupang dan A.E Kawilarang jadi kadet. Sebelum 1942, pangkat Soejarso sudah Letnan Dua.  
Setelah KNIL kalah dan bubar, Soejarso tak lagi jadi opsir KNIL. Dia lalu menjadi inspektur polisi bersama Surjadi Suriadama—kelak Kepala Staf Angkatan Udara RI—yang juga letnan KNIL lulusan Breda juga. Hanya seumur jagung mereka jadi inspektur polisi.
Setelah Indonesia merdeka, mereka bergabung dengan tentara Republik. Semasa Revolusi kemerdekaan, Soejarso tak begitu dikenal. Dia memang kurang menonjolkan diri sebagai perwira. Meski pun dirinya adalah lulusan Breda. Dimana tak semua pemuda bisa belajar disana. Soejarso menghabiskan karirnya di TNI sebagai komandan di korps kaveleri. Terakhir pangkatnya adalah Mayor Jenderal TNI.
             Nasution, bekas muridnya dan juga bawahannya selama di KNIL,  pernah bercerita tentang Seojarso, saat ada pergeseran di detasemennya, Soerjo Soelarso protes dengan cara datang dan duduk diam di ruang kerja Nasution. Sikap Soejarso adalah sikap bangsawan Jawa. Dia memang masih terhitung keluarga Pangeran  Mangkunegaran.
            Banyak orang percaya, Soejarso adalah perwira tanpa ambisi. Dia tak begitu ingin jadi panglima seperti banyak perwira lain.

Pilihan  Gusti Nurul

Majalah LIFE edisi 25 Januari 1937 meliput Gusti Nurul, putri Mangkunegoro VII Surakarta, yang menarikan tari serimpi di Belanda saat pernikahan Putri Juliana dan pangeran Bernhard. Gadis itu, kemudian jadi kembang di jamannya. Dia adalah gadis Kraton dengan pendidikan barat. Gusti Nurul adalah gadis kraton yang hidup dalam alam kraton yang diliputi tradisi dan alam modern sekaligus.
Gusti Nurul menari di acara pernikahan anggota keluarga kerajaan Belanda
            Sebagai perempuan manis, banyak laki-laki terpandang menaruh hati padanya. Entah dari kalangan kraton bahkan diantara pemimpin Republik sendiri. Dua dari tiga Bung pemimpin Indonesia, kecuali Bung Hatta yang dingin terhadap perempuan, Bung Karno dan Bung Syahrir menaruh hati pada Gusti Nurul.  Bung Karno, konon pernah melamarnya di tahun 1945. Bung Syahrir konon memacarinya selama 3 tahun (1946-1949).
Soerjo Soerarso dengan Gusti Nurul dalam pernikahan mereka

            Dari semua laki-laki yang pernah ada, Gusti Nurul hanya memilih Soejarso—pemuda bekas opsir KNIL—itu sebagai suaminya.  Mereka menikah pada 21 Maret 1951. Jejak Gusti Nurul bisa ditelusuri di Museum Ulen Sentalu, Sleman, DIY. Dialah satu dari sekian opsir paling bejo di Indonesia Tempo Doeloe. Sudah jadi Mayor Jenderal dan dapat Putri idaman para orang besar tempo doeloe juga. Betul betul heibat! 


[1] PID: Politiek Intelichten Dienst

[2] HBS: Hogare Burger School (Sekolah menengah yang lamanya lima tahun)

[3] KMA: Koninklijk Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan)

[4] Buku Kenang-kenangan Alumni KMA Breda, op. cit., hlm. 83.

Minggu, November 25, 2012

Untuk Anak Sehat Dan Kuat

Di majalah pensiunan militer, yang terbit antara 1939-1940, tak sengaja saya menemukan iklan Quaker Oats.  Sebelumnya, yang saya tahu, itu makanan impor. Kini iklannya, konon ini makanan bagus untuk jantung. Di iklan, ditemukan narasi yang menceritakan ada anak sakit. Itu anak lalu dibawa ke dokter. Setelah itu anak ini makan Quaker Out. Kemudian, anak ini pun sehat kembali bahkan bisa aktif bermain seperti sedia kala. Setelah membaca itu iklan, orang-orang akan berpikir jika Quaker Out diberikan pada anak mereka, maka anak mereka akan sehat dan kuat 
 
Iklan Quaker Out

Ketika membuka koran-koran lawas yang terbit sebelum "Indonesia Merdeka", pernah temukan iklan Blueband margarin. Saya kaget, makanan ini sudah ada toh di jaman itu. Tapi saya segera mikir lagi, ini pasti makanan mewah. Agak susah anak-anak pribumi bisa makan yang seperti ini. Sayang, saya tak sempat mendokumentasikannya. Hanya yang teringat iklan itu makanan ditujukan buat anak-anak.

Iklan Blue Band dengan gambar Giman

Belakangan, di internet saya temukan lagi gambar iklan Blue Band lawas. Ada iklan yang menggambarkan sosok anak Jawa dan juga anak Tionghoa. Entah kenapa hanya dua anak itu? Mungkin, pasar ini produk masih di Jawa dan daya beli orang Tionghoa yang cukup baik. Si anak Jawa di gambar bernama Giman. Giman digambarkan sedang lesu, gurunya lalu menawarkan roti berlapis Blue Band , setelah memakannya Giman semangat lagi dan bermain lagi dengan cerianya di sekolah.   Si anak Tionghoa itu diberinama A Fuk. Digambarkan, A Fuk suka memelihara tanaman. Suatu kali A Fuk kelelahan. Ibunya lalu memberikan roti berlapis Blue Band.  A Fuk akhirnya semangat lagi. Selau ada tulisan: Sehat dan Kuat Blue Band. Jika ingin anak sehat dan kuat campurlah makanan anak anda dengan Blue Band.


Iklan Blue Band dengan gambar A Fuk
Dari iklan-iklan tadi, Blue Band selalu berteman roti. Akhirnya, orang pun harus beli roti juga. Atau kalau orang beli roti, dia sebaiknya beli Blue Band. Keduanya, tak lain adalah makanan yang sulit diapat oleh orang tua jaman dulu. Jadi, tak semua anak di yang alami masa bocah sebelum tahun 1960an bisa makan roti. Mereka hanya tahu roti sumbu alias singkong. Sudah syukur bisa makan singkong. Ya biarlah. Namanya juga iklan. TOch orangtua selalu berusaha beri makanan yang terbaik buat anaknya agar sehat dan kuat juga.


Anak-anak butuh makanan bergizi. Itu jelas sekali penting. Apapun bentuknya. Bukan sekedar iklannya saja. Banyak orang merasa berdosa melihat anak kelaparan. Sebagian anak Indonesia pernah alami kesulitan makanan. Entah berapa kali? Di jaman tanam paksa, anak-anak kelaparan pun tak bisa dihindari karena orangtua mereka tak sempat ke sawah karena dipaksa menanam tanaman non pangan untuk kepentingan kolonialis dan pendukungnya. Di masa pendudukan Jepang, hingga masa revolusi Indonesia anak kelaparan masih ditemukan. Entah hari ini? Dan kita semua sedang menghindari itu terulang kembali.

Orang Indonesia Sikat Gigi

Gosok gigi sudah jadi hal umum di masa kini. Awal abad XX, Orang Belanda kenalkan obat gosok gigi alias pasta gigi alias odol untuk orang Indonesia, dan sekarang orang Indonesia rajin gogok gigi sampai sekarang. 

Kita kadang bertanya, kapan orang Indonesia sikat gigi pakai odol? Banyak yang tahu kalah sedari dulu, orang Indonesia menggosok giginya dengan buah pinang bahkan serbuk dari batu bata yang dibasahi air. Bahkan beberapa nenek-nenek masih melakukan hal itu. Padahal iklan sikat gigi beserta odolnya meraja-lela di televisi. Makin hari makin ditanamkan dalam pikiran kita semua, tak baik jalani hariklaau belum gosok gigi. 

Dari produk inilah orang akhirnya dapat nama untuk menyebut pasta gigi

Kebiasaan gosok gigi pakai odol, kemungkinan dibawa orang Belanda di jaman kolonial. Kenapa orang menyebut odol (untuk menyebut pasta gigi atau obat gosok gigi)? Itu karena di masa lalu ada pasta gigi bermerk Odol.  Menyebut pasta gigi atau obat gosok gigi, begitu sulit jadi orng menyebut saja odol daripada susah. Selain Odol, lalu muncul merk pasta gigi yang lain. Belakangan ada Pepsodent, Colgate dan lainnya. Orang Indonesia pun makin diajak gosok gigi. Entah agar gigi orang Indonesia pada putih semua warnanya atau agar produk pasta gigi laku.

Iklan Colgate dengan gamabar perempuan keturunan Eropa

Entah ada berapa banyak iklan pasta gigi, alias odol di jaman kolonial. Saya temukan dua iklan Colgate dari tahun 1940an di sebuah majalah tua. Saya kurang tahu apa bedanya, mungkin beda kasiat saja. Yang menarik adalah, salah satu kemasan produk Colgate itu, mereka memakai gambar perempuan pribumi. Wanita pribumi itu bisa dikenali dari dandanan rambutnya. Dia sepertinya memakai konde. Kemasan lain menggunakan gambar perempuan Belanda. Saya melihat wanita dalam gambar itu gemar ke salon. Maksud dari dua iklan itu, yang gambarnya perempuan keturunana Eropa, agar pribumi merasa bisa seperti orang Eropa kalau suah sikat gigi. Lalu yang gambarnya orang pribumi agar orang Indonesia pun juga harus sikat gigi.

Iklan Colgate dengan gambar perempuan bumiputra
Dari iklan bisa ditangkap, orang-orang di Hindia Belanda kudu punya gigi yang putih. Bisa kita bayangkan, itu cukup mustahil. Kita akan berpikir, orang-orang yang memakai odol pun kemungkinan adalah orang-orang kota atau orang-orang yang menganut gaya hidup modern ala barat. Di daerah terpencil tentu sulit ditemukan. Jangankan yang di daerah terpencil, di daerah kota saja tak semua orang yang tinggal di kota saja belum tentu ada keinginan gosok gigi. Kita juga akan membayangkan hanya orang-orang Belanda atau Eropa saja yang bisa dipastikan gogok gigi tiap pagi dan sebelum tidur. Orang pribumi yang kebanyakan jadi kuli, bisa jadi akan merasa gosok gigi itu sesuatu yang mewah. Jangankan beli pasta gigi, uang untuk makan saja susah. Bisa jadi punya gigi putih bukan impian juga bagi kaum kuli.

Iklan Pepsodent dengan jajni memutihkan gigi dalam waktu seminggu

Punya gigi putih itu jadi serasa perlu bagi sebagian orang. Akhirnya ada obatgigi yang menawarkan waktu seminggu untuk memeutihkan gigi dengan memakai obat giginya,Pepsodent. Iklan ini kira iklan tahun 1950an. Sekarang, setelah puluhan tahun, setelah Belanda tak lagi jadi Tuan di negeri ini. Orang Indonesia tetap harus gosok gigi. Gosok gigi bahkan dianjurkan di TK dan SD. Maksudnya, agar gigi bersih dan nafasnya tidak bau. Akhirnya, kebanyakan orang-orang dewasa akan merasa risih jika belum gosok gigi. Belum mandi tidak masalah asal sudah gosok gigi. Di kepala kita emua ditanamkan, gosok gigi itu perlu! Apakah anda sudah gosok gigi?

Jumat, November 23, 2012

Che ke Indonesia?

Kami tak pernah diberitahu kalau Che Guevara pernah kemari. Sekarang kami tahu jawabnya kenapa tak diberitahu.

CHE GUEVARA, pertama kali tahu nama itu saya masih SMP. Saya tak tahu pasti soal tokoh ini. Tak sekali pun saya temukan bacaannya di kota kami. Maklum Che bukan siapa-siapa di kota kami. Tak penting Che punya arti bagi mereka atau tidak. Yang pasti nama Che yang bisa bikin revolusi itu kemudian penting.

Bukan untuk kekacauan, sekedar bermimpi untuk kehidupan yang lebih saja paling tidak.
Kejatuhan Suharto—rezim yang menipu generasi muda seusiaku—menyadarkanku untuk tidak mempercayai siapapun. Che jadi teman di masa remajaku yang galau. Indonesia dan sejarahnya memang membuat saya merasa galau akan banyak hal.


Waktu SMA, saya pernah tempel gamabar musisi yang pakai kaus Che Guevara. Sialnya, kawan SMA yang kebanyakan sinis dengan mencopot gambar itu tanpa logika yang jelas. Maklum anak SMA biasanya sok benar dan susah terima perbedaan. Mungkin kawan sama yang bernama dian itu antek ore baru juga
Saya makin kenal Guevara waktu buka Ensiklopedi, tentu yang berbahasa Indonesia. Ternyata, si Che anak orang kaya; lulusan fakultas kedokteran dan memilih jadi aktivis. Waktu kuliah, uang hasil jaga parkir saya belikan buku Motorcycle Diary—yang bahasa Indonesia tentunya. Hebat di usia 23 tahun, Che keliling Amerika Latin. Di usia itu saya cuma bisa ke Nias saja.


Hal yang mengejutkan saya adalah, Che pernah ke Indonesia (1959). Saya jadi makin yakin orde baru betul-betul berengsek. Suharto yang mirip Batista pasti takut pada orang macam Che. Mereka merahasiakan persahabatan sejati Che dengan Indonesia. Che bukan Amerika yang terlalu banyak kepentingan dengan Indonesia. Seperti pernah pada bilang keGreat Master,[1] “tak ada yang gratis.”
Che sahabat Sukarno. Bahkan Che sendiri merasa belajar dari Sukarno. Rezim penipu melarang semua hal berbau komunisme. Syukurlah mereka tak cekal novel Cintaku di Kampus Biru. Dimana Anton Rorimpandey sang playboy dalam novel pengagum Che Guevara. Dan, dalam filmnya  sosok Che tak saya temukan. Dasar rezim.


Che pernah ke Indonesia. Che juga pernah kunjungi Borobudur. Luar biasa. Kehebatan Borobudur bagi saya bukan karena megahnya candi itu, tapi karena Che pernah kesana. Salah satu ‘kebetulan’ yang saya sukai adalah, tanggal lahir Che, 14 Juni mirip dengan tanggal lahir adik saya.
Bagi saya, Che bukan milik kaum komunis revolusioner semata. Che milik  orang-orang yang ingin perubahan dan bebas dari tekanan. Bukan ideologinya, tapi semangatnya yang harus kita ambil. Itulah yang harus diambil dari Che. Tentang keyakinan akan perjuangannya membebaskan Kuba dari tekanan Batista. Sayang, saya lahir jauh setelah Amerika membunuhnya memakai tangan serdadu Bolivia, jadi saya tak pernah ketemu Che. Salam untukmu Che di Sana. Damailah slalu, kami bersamamu.

[1] Guru yang luar biasa hebat. (Saya pinjam istilah ini dari  Faizal “Otan” Raptautan, murid saya di Palembang dulu). 

Java Bier

Waktu saya buka, majalah Trompet edisi tahun 1939 dan 1940, saya temukan iklan Java Bier. Cukup lucu dan menarik juga.

Iklan Javabier yang menggambarkan pria sehat dan kekar. Dalam iklan tertulis: "Badannja seperti Tarzan."

Lebih lanjut ada tulisan: “Waktoe diperiksa badan, nomor satoe di lihat siapa jang mempoenjai badan koeat dan tegap. Orang2 lelaki jang mempunjai dadah lebar dan tangan koeat ala jang paling disoeka. Orang2 jang begitoe koeat dan di kagoemi minoem selamanja JAVABIER.


Iklan Javabier dengan gambar Dokter Jawa bernama Soerono (yang memakai blangkon) dan pasien anak. Tertulis kalimat pujian buat si dokter: "Ia membikin semboeh orang2 sakit."

Lebih lanjut ditulis: Dr Soerono terkenal di sekitarnja karena ia beloem pernah gagal mengobati orang. Orang2 sakit jang minta pertoeloengan kepadanja, boleh pastikan jang ia orang akan dapatkan poela kembali kesehatannja. Dr Soerono selaloe banjak pekerdjaan seringkali diwaktoe malam ia moesti pergi. Tetapi selamanja ia tinggal tegap dan goembira, ia tida mengenal tjape. Dr Soerono djoega taoe apa jang ia moesti dapat sesoedah mengoeroeskan orang soesah bersalin atau habis membikin operatie bedah dengan kesoedahan  menjenangkan, maka ia selaloe minoem Javabier. Sebab ini banjak sekali oentoek badan dan djalannja darah.

Iklan Javabier dengan gambar pemadam kebakaran (Brandweer). Dalam iklannya tertulis: Paling dimoeka memadamkan kebakaran.


Terdapat narasi iklan yang bunyinya: Djika di kasih tanda ada kebakaran, selamanja Tahulangi paling doeloe melakoekan kewajibannja. Pekerdjaan paling berbahaja, selaloe di serahkan kepadanja. Dengan tida merasa takoet naik tangga kebakaran dengan pompanja  dan tida takoet api itoe berkobar kian kemari. Dimana sadja dia datang, api itoe tjepat di bikin padam. Tida heran jang ia beloem selang lama di naikan pangkatnja. Dan djika Tahulangi poelang dengan pakaian kotor dan basah - maka istrinja tahoe apa orang jang segagah moesti dapat – satoe gelas Java-Bier. Istrinja tahoe bahoea dengan minoem Java-Bier soeaminja dapat tambah tenaga.


Iklan Javabier dengan gambar pemburu. Terdapat kalimat pujian untuk si pemburu: “Tembakannja beloem pernah gagal.”

Lebih lanjut ditulis: “Dengan berani Kadiman, satoe pemboeroe memasoeki hoetan2 lebat dengan membawa senapannja, tida takoet kepada bahaja jang datang dari segala pendjoeroe. Dan djika dikasih taoe ada matjan ia lantas ia lantas pergi melihatnja. Dengan ia poenja mata jang tadjam, lantas ia dapat katemoekan itoe matjan dan tembak mati itoe binatang dengan beberapa tembakan djitoe. Kadiman adalah orang jang paling gagah di sekitar tempatnja….. Sesoeatoe orang kagoemkan ia. Dan djika Toean tanja kepadanja kenapa ia begitoe gagah, maka ia  djawab: Tidoer siang2 dan bangoen pagi2 dan sering minoem Java-Bier.


Di semua iklan Javabier yang saya lihat,  terdapat lagi tulisan: Orang tegap dan koeat minum: Java Bier.

Kamis, November 22, 2012

Soldaat KNIL di Balikpapan

Dahulu kala KNIL punya satu pasukan di Balikpapan. Semua tinggal cerita yang hilang karna nyaris tanpa bekas

Peringatan 105 tahun KNIL oleh Batalyon Infanteri VI KNIL di Balikpapan. (1935)
Buku Gedenschriften Koninklijk Nederlandsch Indische Leger1830-1950 halaman 64, memberi sedikit tulisan tentang KNIL. Ada sebuah Batalyon Infanteri KNIL, yakni Batalyon Infanteri VI di tahun 1935. Di tahun, 1935 itu, mereka melakukan upacara kemiliteran di sebuah lapangan di Balikpapan. tak disebutkan lapangan mana. Ada dua kemungkinan: pertama di lapangan depan tangsi mereka di pertigaan Balikpapan Plaza sekarang; kedua di Lapangan BPM (yang sekarang bernama Lapangan Merdeka). Dua lapangan itu terhitung tak begitu jauh dari tangsi mereka. Tak diketahui ada berapa lapangan di Balikpapan pada tahun 1930an.

Jajaran KNIL sebelum 1940 di Balikpapan (1950)

Di tahun 1940, setelah Negeri Belanda diduduki Jerman dan bahaya semakin mengancam di Hindia Belanda, balikpapan menjadi kota penting yang harus dilindungi. Banyak pengamat sejarah mengatakan pentingnya balikpapan yang merupakan kota minyak. Sebagai kota minyak, Balikpapan menyediakan banyak minyak untuk menjalankan mesin, termasuk mesin kendaraan militer. Balikpapan jelas bisa menjadi pintu masuk bagi balatentara Jepang untuk menduduki Jawa dan selatan Indonesia lainya. Ketika Armada Selatan kedua Angkatan Laut Jepang menduduki Balikpapan dan sekitarnya, maka posisi Hindia Belanda terjepit dan Angkatan Darat Jepang bisa lebih aman bergerak ke Jawa dan daerah selatan lainnya. Karenanya balikpapan benar-benar dijaga.

Ketika KNIL dikalahkan Tentara Jepang, banyak diantara mereka yang jadi tahanan. Beberapa diantara mereka terbunuh. Seorang Letnan KNIL pribumi di Balikpapan adalah Hamid Algadrie alias Max. Dia keturunan Kesultanan Pontianak. Max lulusan Akademi Militer Breda. Istrinya kala itu adalah wanita Belanda. Di Balikapapan, Max berdinas di sana dengan ditemani istrinya. Kemungkinan mereka tak tinggal jauh dari tangsi KNIL di Klandasan. Max beruntung, dia selamat dari keganasan Jepang. Belakangan diangkat menjadi Sultan Pontianak dengan gelar Sultan Hamid II. Dia bahkan diberi pangkat Kolonel kehormatan dengan jabatan Ajudan istimewa Ratu Belanda.

Bendera Batalyon Infanteri XIV KNIL Balikpapan (1946)

Kekuatan KNIL bangkit lagi setelah tahun 1945. DI Balikpapan sendiri kemudian dibentuk lagi Batalyon Infanteri II KNIL. Batalyon ini diperkuat lagi di Jakarta kemudian. Anggota batalyon kemungkinan juga berasal dari bekas tawanan perang, yang diantaranya mantan KNIL. Ada kalanya, KNIL juga rekrut orang pribumi lagi yang dilatih dari nol. September 1946, di Balikpapan dibentuk lagi Batalyon Infanteri XIV KNIL. Mereka kemungkinan beroperasi di sekitaran Kalimantan Timur, begitu yang disebut dalam Gedenschriften Koninklijk Nederlandsch Indische Leger 1830-1950 halaman 56.

Letnan Smit bersama eks Andjing NICA lain bergabung ke TNI (1950)

Setelah itu Batalyon Infanteri XIV pindah dari Balikpapan. Pasukan di Balikpapan diganti pada akhir 1949. Pasukan Batalyon Infanteri V Andjing NICA mendarat di Balikpapan. Pasukan ini berpusat di Balikpapan sebagai markas Batalyonnya. Tak semua pasukan di Balikpapan: Kompi Pertama disebar ke Sanga-sanga dan Anggana; Kompi kedua: ditempatkan di Sepinggan, dekat dengan lapangan udara; Kompi Ketiga di Samboja; Kompi keempat dan kelima berangkat ke Tarakan dan sekitarnya. Batalyon ini terbilang ganas semasa di Jawa. Mereka itu menyerang sekitar Jogja dari arah barat. batalyon ini tak lama di balikpapan. Mereka lalu bubar. Sebagian anggotanya ada yang bergabung dengan TNI pada 1950. Letnan Smit adalah salah satu perwira yang bergabung dengan TNI. Begitu menurut buku Het ANDJING NICA (KNIL) in Nederlands-Indie (1945-1950).

Rabu, November 21, 2012

Korpsen Hulftroepen

KNIL dan KL tak sendiri. Ada pasukan bantuan  dari kerajaan-kerajaan pribumi.

Ada beberapa pasukan bantuan bagi KNIL[1] di zaman Hindia Belanda masih berkuasa. Pasukan  bantuan itu antara lain dari Legiun Mangkunegaran[2] di Surakarta; Legiun Paku Alaman di Yogyakarta; Barisan Madura dari pulau Madura; Korps Prayoda di Bali. Pasukam-pasukan itu terlibat dalam beberapa perang di Jawa.

Tangsi Korps Prajoda


Perwira Legiun umumnya berasal dari bangsawan dan priyayi kraton Mangkunegaran Surakarta. Seorang Kapten KNIL dan instruktur KNIL juga diperbantukan disini. Di Bali terdapat korpsPrayodha dengan konsep yang sama dengan Barisan Madura dan Legiun Mangkunegaran. Pasukan-pasukan pribumi itu masih meneruskan sebagian tradisi militer Indonesia asli, walau sedikit terpengaruh oleh tradisi militer barat yang dibawa Belanda. Dalam pasukan itu, jumlah perwira kraton jelas lebih banyak dan kebanyakan masih menjaga tradisi asal dibanding perwira pribumi yang aktif dalam dinas militer KNIL.[3]

Seorang Letnan Barisan Tjakra di jaman kolonial


Barisan Madoera berkedudukan di Bangkalan. Barisan merupakan pasukan militer bagi ketiga Negara di pulau Madura itu. Sesudah ketiga negara tadi dihapuskan tahun 1885, tentara dari tiga negara tadi menjadi tentara kolonial.  dalam barisan terdapat tiga kesatuan (Korps) yakni: Korps Barisan Pamekasan; Korps Barisan Sumenep; dan Korps Barisan Bangkalan. Ketiga korps itu berada dibawah pengawasan Gubernur Jawa timur. Masing-masing korps terdiri dari para infanteris yang dipimpin oleh perwira Madura sendiri.[4]


Orang Madura yang keras cocok dengan profesi militer. Meski begitu, hanya ada 151 orang Madura di KNIL di tahun 1916.[5] Orang-orang Madura itu lebih sering menjadi anggota Barisan Madura ketimbang menjadi anggota reguler KNIL. Dalam sejarahnya, Barisan Madoera pernah ada Seorang sersan anggota Barisan Madura, bernama Joedokoesoemo, yang menjadi anggota SI. Pada 16 Maret 1914 telah dipaksa untuk meletakan jabatan dan pangkat militernya sebagai bintara dalam Barisan Madoera. Namun sersan itu tidak memperdulikan paksaan dari pembesar-pembesar kolonial itu. Sebuah tindakan pada sersan Madura itu telah dipersiapkan oleh petinjggi kolonial pribumi agar sersan Barisan Madoera itu dicopot dari jabatannya sebagai bintara dalam pasukan.[6]

Barisan Bangkalan Berlatih di Alun-Alun Bangkalan

            Sejarah pasukan Barisan Madura makin hilang. Ini lebih dikarenakan Barisan Tjakra Madoera ini terlibat dalam revolusi dalamkubu tentara Belanda KNIL/KL yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Spoor. Sentimen anti Belanda di Indonesia jelas mengharamkan apapaun bebau Belanda dan dekat dengan Belanda kemudian dianggap memalukan. Tidak banyak orang Madura yang tinggal di Madura tahu tentang jejak pasukan-pasukan kraton itu. Makam-makam perwiranya bisa jadi ada di pemakaman raja-raja Madura, baik di Bangkalan atau Sumenep.


[1] KNIL:Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Berdiri tahun 1830. KNIL terbiasa menghadapi pemberontakan di Indonesia.

[2] Legiun Mangkunegaran sama seperti Barisan Madoera. Pasukan dari kraton Mangkunegara bertempat di Keraton Mangkunegaran, Surakarta. Kekuatan pasukan ini adalah satu setengah Batalyon. Dalam pasukan ini terdapat seksi mitraliur karaben. Kendati dibentuk dilingkungan kraton, Legiun Mangkunegara juga pernah dipimpin oleh Mayor Infanteri KNIL Belanda. Harsya Bachtiar, Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm.. 7.

[3] Nugroho Notosusanto, Tentara PETA Pada Zaman Pendudukan   Jepang di  Indonesia, Jakarta, Gramedia, 1979. hlm. 51.

[4] Ibid., hlm. 9

[5] R.P Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara, jakarta, Grasindo, 2003, hlm. 325-326.

[6] Pewarta Soerabaia, 18 Maret 1914