Kamis, Oktober 27, 2011

Sekedar Mampir ke Kampung Kapitan

RASA penasaran itu seketika hilang. Berganti senyum dan ucapan “wooow”. Kampung yang membuat saya bertanya dimana letaknya sudah saya kunjungi, walau sebentar. Kampung yang saya cari ternyata mudah dijangkau. Tidak jauh dari pusat kota. Tepat diseberang Benteng Kuto Besak.



Bekas kantor dan kediaman Kapitan Tionghoa di Palembang

Kampung Kapitan adalah kampung yang saya maksud. Namanya cukup unik, kapitan. Kapitan adalah jabatan pemuka masyarakat di zaman kolonial. Jika dalam istilah militer, kapitan sama saja dengan kapten. Seorang kapitan, biasanya memimpin ratusan masyarakat—biasanya adalah masyarakat non pribumi seperti Arab maupun Tionghoa. Seorang kapitan memimpin ratusan orang asing. Jika lebih dari seribu, maka Mayorlah yang memimpin.

Warga asing atau para pendatang bukan hal asing bagi kesultanan Niaga macam Palembang Darusalam. Menurut Djohan Hanafiah, Kesultanan memberikan ijin tinggal bagi para pendatang di kawasan Seberang Ulu. Dimana Kampung kapitan, yang dulunya penghuninya adalah orang-orang Tionghoa, memang termasuk kawasan Seberang Ulu. Tidak hanya Tionghoa, orang-orang Belanda pun harus tinggal di Seberang Ulu. Begitu kebijakan Sultan dari abad XVI hingga XIX.[1]

Menurut kisah, Menurut kisah, pada zaman Kesultanan Palembang, semua tanah dimiliki oleh Sultan dan tak ada bangunan yang didirikan tanpa seijin Sultan. Hanya orang Palembang asli yang diperbolehkan bermukim di daratan. Pendatang dan orang-orang asing, misalnya Tionghoa, Eropa, Keling dan Arab hanya boleh tinggal di rumah Rakit. Sumber lain menyatakan bahwa para pemimpin kerajaan tinggal di daratan sepanjang sungai, sementara orang kebanyakan tinggal terpisah di perairan, pada rumah Rakit yang tertambat suatu tiang atau tonggak.[2]

Bisa dibilang, Palembang adalah kota yang heterogen. Ada banyak etnis dari luar Palembang atau Sumatra Selatan yang bermukim. Bisa jadi, di Zaman Kerajaan Sriwijaya pun sudah ada banyak pendatang dari banyak bangsa masuk, dan mungkin juga bermukim di sekitar Musi atau Palembang.

Kohar, salah seorang tetua Kampung Kapitan adalah salah satu keturunan Kapitan Tionghoa di Palembang. Kohar sudah sulit berbicara karena usia. Menantunya, yang bernama Eng Sui memberikan saya keterangan mengenai rumah dan kantor Kapitan Tionghoa di kampung Kapitan. Soal bagaimana rumah kapitan juga beralih fungsi menjadi tempat peribadatan kepercayaan Tionghoa. Seperti Klenteng. Juga tentang taman depan rumah yang sedang dirombak.

Eng Sui adalah nama Tionghoa. Namun Eng Sui yang ramah itu, punya juga nama Indonesia. Dia pakai nama Suryanto. Kepala saya pun melayang ke zaman orde baru dan politik Indonesianisasi yang konyol. Dimana semua orang Tionghoa dipaksa halus pakai nama Indonesia. Sebuah pembunuhan karakter yang dilegalkan. Teringat Soe Hok Jin alias Arif Budiman—kakak dari Soe Hok Gie.

Kampung Kapitan membuat saya sadar, kapitan adalah pemimpin masyarakat. Bukan seperti yang tergambar dalam sebuah lagu, “Aku seorang kapitan mempunyai pedang panjang....” Sebuah lagu yang rasanya untuk mengenang Kapitan Pattimura. Bukan mengenang kapitan-kapitan di zaman kolonial. Tidak lebih dari satu jam mampir kampung Kapitan, karena saya harus jalan lagi. Saya akan kembali bersama banyak kawan lain kali.

Catatan Akhir

[1] Johannes Adiyanto, Kampung Kapitan Interpretasi ’Jejak’ Perkembangan

Permukiman dan Elemen Arsitektural, Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, hlm. 14.

[2] Myra P. Gunawan, Pariwisata Tepian SungaiMusi, Palembang, artikel dalam Monumen dan

Situs Indonesia, ICOMOS Indonesia, 1999, hlm.144


Senin, Oktober 10, 2011

Pasar 16

Cara terbaik mengenal sebuah kota adalah dengan menyusurinya. Bukan saja butuh waktu lama, tapi juga melelahkan. Begitu yang kami lakukan siang ini (9 Oktober 2011). Awalnya, hanya Museum Sultan Mahmud Badarudin saja tujuan kami. Beberapa peninggalan Kesultanan Palembang Darusalam kami bisa lihat disana.


Pasar 16 tempo dulu

Warisan Sriwijaya

Cukup membayar Rp 2.000 saja, Museum—yang dulunya berfungsi sebagai Kraton—itu bisa kami masuki. Beberapa koleksi bukanlah barang original. Foto dan barang kerajinan adalah yang paling dominan. Koleksi uang kuno, seperangkat alat musik brassband, juga senjata tradisional khas Palembang adalah yang paling menarik.

Koleksi tidak hanya didalam gedung museum. Di luar museum terdapat patung Budha dan Ganesha. Patung Budha jelas tinggal kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan Budha. Seperti ditempat lain, Budha bediri diatas teratai. Ganesha, dalam agama Hindu adalah Dewa Ilmu Pengetahuan. Terdapat 2 arca Ganesha. Satu diantaranya adalah arca yang belum selesai dipahat. Arca itu terbuat dari batu andesit. Ganesha itu berasal dari Musi Rawas, Sumatra Selatan.

Keberadaan Arca Ganesha sesuatu yang luar bisa buat kami. Kita semua tahu kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Budha. Sementara Ganesha jelas sekali warisan Hindu. Jika arca Ganesha itu satu zaman dengan kerajaan Sriwijaya, maka kita bisa menafsirkan bahwa ada lebih dari satu agama di Sriwijaya. Dimana Kerajaan Sriwijaya yang Budha terdapat beragam kepercayaan. Ini jelas bukan sesuatu yang buruk. Tidak ditemukan catatan tentang penindasan terhadap penganut agama lain yang berbeda. Berbanggalah, orang-orang Sumatra selatan jika di tanah mereka ini, dahulunya sudah ada keberagaman antar pemeluk agama. Seperti dibanyak tempat, Ganesha yang ditemukan adalah Ganesha duduk. Setahu saya, Ganesha berdiri hanya ada di Karangkates, dekat Malang.

Berkah Musi

Tidak terlalu lama, kami keluar museum. Mungkin karena koleksi museum tidak begitu banyak. Pemandangan paling dominan diluar adalah Sungai Musi. Bisa kami bayangkan betapa pentingnya Sungai Musi bagi orang-orang Palembang. Seperti pentingnya Sungai Nil bagi orang-orang Mesir. Sungai adalah pembawa kemakmuran bagi masyarakat di sekitarnya. Kutai punya Mahakam. Majapahit dan Singasari punya Brantas. Mataram Islam punya Bengawan Solo. Entah masyarakat lain dengan dengan sungainya.

Sungai adalah jalur transportasi selama berabad-abad silam. Dimana orang pergi menjual atau membeli sesuatu, atau hanya sekedar bepergian. Sungai adalah jalur perekonomian juga. Karena ribuan pedagang dan jutaan kwintal barang melintas diatasnya.

Musi juga jalur melintasnya para pedagang itu sejak lebih dari seribu tahun silam. Ketika Sriwijaya berjaya. Bisa jadi juga sebelum Sriwijaya berjaya. Sriwijaya juga kerajaan niaga dengan armada laut yang baik. Dari banyak catatan, Sriwijaya unggul di lautan dan cukup disegani oleh banyak kerajaan dimasa itu.

Pasar 16, adalah tempat dimana para saudagar mengadu untung dengan berjual-beli barang. Dan banyak kuli mengadu nasib. Sudah pasti di tempat ini pula kebutuhan hidup orang-orang di Palembang dan sekitarnya bisa terpenuhi. Sudah pasti, pasar ini awalnya berupa pasar kecil yang sekarang menjadi pasar yang besar.

Mengapa pasar ini begitu besar? Bisa jadi karena pasar ini terletak di pinggir Musi. Dimana banyak kapal berlalu-lalang. Pasar ini nampaknya berawal ditepi Musi. Perlahan semakin meluas jauh ke arah Pasar Cinde. Dan diantara pasar itu banyak terdapt pertokoan. Dengan kata lain ini adalah kawasan niaga penting di Palembang.

Saya bertanya pada dua murid saya, kapan Pasar 16 mulai ada? Mereka belum berani menjawab. Kami lalu berjalan dan melintasi sisa-sisa gedung tua yang rasanya tidak diketahui banyak orang. Lalu sampailah kami di gedung besar. Dibagian atas gedung itu, terdapat tulisan angka 1924. Murid-murid saya yang lucu itu terkejut melihatnya. Ternyata Pasar 16 begitu tua. Kami hanya bisa perkiraan, gedung bertuliskan angka 1924 itu termasuk bagian pasar tertua. Letaknya tidak jauh dari Musi. Dan rasanya pasar ini memang sudah ada sejak sebelumnya.

Kami lalu susuri bagian pasar yang lain. Dimana kami lihat banyak ruko dengan jendela yang begitu besar. Jendela besar, adalah ciri jendela di bangunan tropis tinggalan kebudayaan Indies jaman Belanda. Lalu kemi perhatikan atap-atap ruko yang mirip dengan rumah-rumah Tionghoa. Awal abad XX, sudah banyak orang-orang Tionghoa yang menjadi pedagang di Indonesia. Dan tidak aneh jika bentuk atap di ruko-ruko itu mirip rumah Tionghoa. Bisa jadi pemilik awal adalah orang Tionghoa. Dan bukan rahasia jika pengaruh budaya Tionghoa begitu besar di Palembang.

Letak Pasar 16, sedari awal cukup strategis. Terdapat kraton Sultan Palembang, Masjid Raya dan kemudian kantor-kantor penting—yang dibangun oleh pemerintah kolonial. Letak pasar yang 16 dengan sudah satu paket dalam sebuah kota kuno. Ada tempat peribadatan dan tanah lapang dimana banyak orang bisa berkumpul, pasar yang didekatnya adalah pelabuhan, ada kraton tempat raja bertahta.

Sejarah pasar 16 menarik juga. Dari pasar kita belajar bagaimana sebuah kota bisa terbangun. Dan peran pasar, juga sungai ternyata sangat penting dalam perjalanan sejarah sebuah masyrakat aatau kerajaan dimasa lalu. Bahkan juga bagi sebuah masyarakat di masa sekarang. Begitulah perjalanan singkat kami hari ini.


Minggu, Oktober 09, 2011

Baju Bodo

Seminggu yang lalu, seorang murid yang tidak pernah saya temui lagi selama berbulan-bulan muncul di dunia maya dengan foto-fotonya. Saya mengira, dalam foto itu dia memakai baju bodo, tapi kemudian saya tidak yakin karena samar-samar. Saya tidak peduli, tetap saja pikiran saya terus tertuju pada baju bodo.


Baju Bodo di masa lalu

Baju bodo berbentuk segi empat, biasanya berlengan pendek, yaitu setengah atas bagian siku lengan. Baju bodo juga dikenali sebagai salah satu busana tertua di dunia.[1] Baju bodo dikenal sebagai pakaian adat bagi wanita Sulawesi Selatan, baik Bugis maupun Makassar. Sedangkan Lipa’ sabbe adalah sarung sutra, biasanya bercorak kotak dan dipakai sebagai bawahan baju bodo.[2]

Belum saya temukan catatan sejak kapan baju bodo mulai dikenakan wanita Bugis dan Wanita Makassar. Apa mungkin sudah ada di zaman La Galigo (karya sastra Bugis yang legendaris itu) diciptakan. Bisa dipastikan dari catatan James Broke, seorang petualang Inggris yang kemudian menjadi raja di Serawak, bahwasanya baju bodo sudah dipakai sebelum 1840. Broke menulis:

“Perempuan (Bugis) mengenakan pakaian sederhana… Sehelai sarung (menutupi pinggang) hingga kaki dan baju tipis longgar dari kain muslin (kasa), memperlihatkan payudara dan lekuk-lekuk dada. Rambut mereka panjang dan hitam, biasanya ditarik kebelakang dengan ketat dan kondenya berdiri ke atas. Perempuan bangsawan dan perempuan pengawalnya, berkuku panjang dengan ‘sarung kuku’ amat mewah.” (catatan perjalanan James Broke ke Sulawesi Selatan tahun 1840).[3]

Lebih lanjut Broke menggambarkan bahwa wanita bugis mengenakan blus transparan warna-warni model kuno, yang dikenal sebagai baju bodo. Di masalalu, warna dianggap mewakili kelompok tertentu. Hijau untuk bangsawan. Putih untuk pengasuh anak bangsawan. Kuning untuk dukun. Aturan soal warna dianggap sebagai tahapan kehidupan (usia). Berdasar catatan Christian Pelras, aturan soal warna masih berlalu hingga tahun 1970an.

Selain itu ada warna merah jambu untuk wanita yang belum menikah. Merah muda bagi yang sudah menikah. Merah tua bagi yang sudah melahirkan anak pertama. Hitam bagi wanita yang sudah tua. Semakin gelap warna baju bodo semakin tebal kainnya. Gadis-gadis kecil dimasa lalu, mungkin bertelanjang dada hingga memasuki akil balig. Mereka baru memakai bodo ketika ripang’ala (upacara mengenakan baju pertama kali).[4] Warna jingga adalah warna baju bodo untuk anak berusia sekitar 10 tahunan.[5]

Tahun 1930an, ketika BH belum diperkenalkan, baju bodo merang jambu yang terbuat dari bahan kain yang transparan, membuat payudara wanita yang memakainya terlihat. Begitu yang tergambar dalam foto yang diambil orang-orang Belanda, yang sekarang sepertinya tersimpan dalam Troepenmeuseum, sebuah Museum militer, di Negeri Belanda.

Saya kira banyak wanita hebat dari Sulawesi Selatan, seperti Basse Kajuara (raja Wanita Bone) atau We Tenriolle (Raja wanita Tanette), memakai pakaian ini dimasa lalu. Dimana mereka terlihat anggun karenanya. Juga banyak wanita Bugis atau Makassar lainnya

Baju bodo terus terpelihara. Pakaian ini kerap dipakai untuk acara adat seperti upacara pernikahan. Tetapi kini, baju bodo mulai direvitalisasi melalui acara lainnya seperti lomba menari atau acara penting lainnya. Termasuk juga menyambut tamu agung.[6]

Hingga kini, baju bodo jadi pakaian kebanggaan wanita Sulawesi Selatan. Bersama baju bodo mereka terus memelihara kebudayaan mereka. Jelasnya baju bodo membuat mereka terlihat cantik.

[1] Baju Bodo, Salah Satu Busana Tertua di Dunia, Suara Pembaruan: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/11/18/Gaya/gaya02.htm.

[2] Andi Tenriadjeng, Mencari Perempuan Bugis, Kompasiana; http://umum.kompasiana.com/2009/06/21/mencari-perempuan-bugis/

[3] Saya kutip kembali dari Christian Pelras, Manusia Bugis, Jakarta, Nalar, 2005, hlm. 271. Kutipan ini juga saya masukan dalam tulisan panjang saya yang termuat dalam buku 7 Ibu Bangsa terbitan Indonesia Buku tahun 2008.

[4] Christian Pelras, op. cit., hlm. 272.

[5] Andi Tenriadjeng, loc. cit.

[6] Bangga dengan Pakaian Adat, Harian Ujungpandang Ekspres: http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=25344&jenis=Life


Minggu, September 11, 2011

Onthel Poenja Tjeritera

Banyak wanita mengantri dibonceng dengan Onthel saya waktu kuliah dulu. Itu cerita saya bersama Onthel. Mana cerita anda?


(Mijn Pit Onthel)

Terbayang film Cintaku Dikampus Biru (1976) bikinan Ami Priyono.[1] Dimana sepeda masih jadi raja jalanan. Jogja, kota dalam film Cintaku Di Kampus Biru, masih menyisakan banyak sepeda—yang akrab disapa onthel oleh orang-orang Jogja dan sekitarnyasampai kini. Onthel masih sering berkeliaran di Jogja. Masih punya gengsi, walau kalah banyak dengan sepeda-motor. Meski kalah cepat dengan sepeda motor, Onthel tetap dihargai. Entah oleh penggunanya, atau orang yang sekedar melihatnya.

Onthel

Onthel, adalah barang tak kenal kelas di Jogja. Pembeda kelas ala Marxisme tidak akan bisa memilah siapa si kaya dan siapa si miskin diantara para pemilik Onthel. Siapa saja bisa punya Onthel di Jogja. Entah itu Sultan Jogja, bahkan rakyat jelatanya sekalipun. Jangan heran jika banyak komunitas sepeda Onthel di Jogja. Tinggal pilih. Semua komunitas punya keunikannya masing-masing.

Sebenarnya, onthel bukan masalah kelas sosial. Ini masalah gaya hidup. Jogja, adalah kota dengan bermacam gaya hidup. Jangan heran jika ada seorang berumah besar, bermobil dan punya banyak kekayaan lain, kadang dia lebih memilih melaju dengan onthelnya. Jangan samakan Jogja dengan kota lain.

Onthel masalah rasa juga. Bukan karena masalah kantong yang melilit banyak mahasiswa di Jogja. Tak terhitung jumlah kawan yang bangga mengendarai dan memiliki Onthel. Cobalah anda mengitari Jogja dengan Onthel.

Pertama, anda akan rasakan betapa menjijikannya modernitas ala orang Indonesia—yang ngawur dan tak beradab kadang. Kedua, anda seperti berada di masalalu. Seperti seorang mandor atau priyayi berwibawa dimasalalu ketika mengendarai Onthel. Ketiga, dengan Onthel anda akan belajar menghargai waktu. Anda akan mengatur waktu anda untuk menuju tempat acara agar tidak telat. Anda akan alokasikan waktu bersepeda untuk sampai ke tempat acara terlambat. Keempat, anda akan belajar sabar. Onthel tidak punya mesin jadi tidak bisa cepat. Dan anda juga akan bersabar dengan kelakuan pengendara sepeda motor atau mobil Jogja yang arogan dan ngawur.

Bisa dipastikan, Onthel masuk ke Indonesia di jaman Hindia Belanda. Dimana awalnya, hanya kaum pegawai kolonial dan misionaris yang punya Onthel. Lalu para priyayi pun punya Onthel. Orang Belanda menyebut sepeda atau onthel sebagai fiets. Dan orang Jawa melisankan menjadi “pit” sampai sekarang. Hingga kini orang Jawa masih menyebut sepeda sebagai pit.[2] Jaman itu Onthel adalah barang mewah. Yang memilikinya sudah pasti dianggap modern.

Cerita dibalik Onthel

Ada banyak kisah heroik antara manusia dengan Onthel. Seperti dalam film Malena, Amoroso Renoto bersepeda menjalani hari hingga jadi dewasa, mengitari kota yang dicintainya, dan juga memantau wanita pujaannya Malena. Begitulah sepeda menjadi kawan penting dalam kehidupan seseorang.

Dalam sebuah film dokumenter, saya lupa namanya, serdadu Jepang yang mendarat di pesisir pantai Rembang dengan menggunakan sepeda. Sepeda membantu mobilitas serdadu Jepang itu untuk mengalahkan KNIL yang tidak siap terhadap serangan asing. Serdadu Jepang menang. Dan sepeda pun jadi barang penting bagi unit militer. Hingga kini, pasukan payung di negara berkembang pun menyertakan sepeda sebagai bagian dari logistik dalam penerjunan atau operasi militer. Betapa bergunanya sepeda.

Cerita lain soal sepeda adalah cerita dari Abdul Haris Nasution. Jenderal Bintang Lima AD ini pernah kabur dari KNIL, menjelang pendaratan Jepang. Dia melarikan diri ketika berjaga sebagai Letnan KNIL di Jawa Timur. Nasution kabur ke perkampungan. Setelahnya dia mendapatkan sepeda. Dengan sepeda itu, Nasution bersepeda dari Jawa Timur, melewati Jawa Tengah dan akhirnya sampai ke Jawa Barat. [3] Serdadu Jepang memburu dan mengawasi banyak bekas serdadu dan perwira KNIL di masa pendudukan Jepang.

Hingga akhirnya Nasution sampai juga di Bandung, ke rumah keluarga Gondokusumo. Nasution sejak awal kenal keluarga itu. Di jaman Jepang keluarga Gondokusumo adalah pelindungnya. Sepeda juga, selain tenis dan Gondokusumo—Bapak Kos yang orang pergerakan dan jadi mertua Nasution di kemudian hari—yang mempertemukan Nasution dengan jodohnya. Yohana Sunarti Nasution. Mereka berdua memperbaiki sepeda milik keluarga Gondokusumo.[4] Dengan sepeda itu Nasution bisa berkeliling Bandung dan mengikuti perkembangan perang pasifik barangkali.

Cerita heroik dan romantis tentang sepeda adalah Cerita Ahmad Yani dengan istrinya. Ketika belum menikah, Yani yang bertugas di luar kota Purworejo, kalau tidak salah sekitar Magelang. Demi melepas kangennya pada Yayuk gadis pujaannya yang tinggal di Purworejo, Yani harus bersepeda melewati perbukitan di sekitar perbatasan Magelang-Purworejo.[5] Heroik sekali.

Ada banyak kisah antara manusia dengan sepada lainnya. Ada seorang anak yang mencari ayahnya ke Sumatra. Selama bertahun-tahun tiadak ada kabar dari sang ayah. Didorong rasa rindu yang begitu besar dari sang anak, maka perjalanan besar pun di mulai. Si anak bersepeda berhari-hari dari Jogja ke Sumatra. Sampai Sumatra, si anak harus terima kenyataan bahwa si ayah telah punya istri lagi. Memilukan juga perjalanan itu.[6]

Selama di Jogja, onthel sering saya lihat dikendarai banyak orang. Dari berbagai usia dan kalangan. Bapak-bapak tua yang jadi abdi dalem kraton, ibu-ibu dengan belanjaannya, mahasiswa kucel yang entah kuliah di kampus mana, anak-anak sekolah. Rasanya, tanpa Onthel Jogja tidak ada rasa Jogjanya. Onthel adalah bentuk egalitarian dari Jogja.

Seingat saya, waktu kuliah dulu banyak mahasiswi mengantri dan ingin dibonceng oleh saya keliling kampus Karangmalang. Lumayan, bisa bikin iri banyak kawan-kawan saya. Dan onthel begitu berjasa membantu saya di masa-masa skripsi dan menulis. Sepulang menulis di Patehan, menyusuri Pasar Ngasem, dan bersepeda melawan arah di Malioboro dan sampai di kampus karangmalang, sebelum akhirnya kembali ke rumah di Minomartani. Mengunjungi rumah Nenek dengan Onthel dari Jogja ke Bagelen (Purworejo) waktu lebaran 2005, juga menyenangkan. Onthel juga mengantarkan naskah skripsi pertama, yang gagal meluluskan saya, ke penerbit. Beberapa tahun bersama onthel adalah masa penting dalam hidup saya. Itu cerita saya bersama onthel, mana ceritamu?

NB: Tribute to Mas Dede Febrianto dan Onthel yang dipinjamkan pada saya yang entah dimana sekarang?

Catatan:

[1] Cintaku Di Kampus Biru, Sutradara Ami Priyono, dibintangi Roy Marten, Yati Octavia, Rae Sita, Farouch Avero. Diangkat dari Novel berjudul sama karya Ashadi Siregar. Settingan film adalah suasana kampus UGM tahun 1970an di Yogyakarta.

[2]Tentang sepeda, ada beberapa versi soal sejarahnya. Ada yang mengatakan sepeda berasal dari Perancis. Dimana Baron von Drais merakitnya pada 1817.( Onthel: Sepeda Jaman Dulu Yang Berkelas, http://www.anneahira.com/sepeda-jaman-dulu.htm; pada 1839, Kirkpatrick MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, membuatkan "mesin" khusus untuk sepeda. Tentu bukan mesin seperti yang dimiliki sepeda motor, tapi lebih mirip pendorong yang diaktifkan engkol, lewat gerakan turun-naik kaki mengayuh pedal. MacMillan pun sudah "berani" menghubungkan engkol tadi dengan tongkat kemudi (setang sederhana). ensiklopedia Britannica.com mencatat upaya penyempurnaan penemu Perancis, Ernest Michaux pada 1855, dengan membuat pemberat engkol, hingga laju sepeda lebih stabil. Makin sempurna setelah orang Perancis lainnya, Pierre Lallement (1865) memperkuat roda dengan menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya (sekarang dikenal sebagai pelek atau velg). Lallement juga yang memperkenalkan sepeda dengan roda depan lebih besar daripada roda belakang. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sepeda)

[3] Tentang pengalaman Nasution muda lihat, Abdul Haris Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid I, Bandung, Angkasa, 1977.

[4] Wawancara dengan Yohana Sunarti Nasution (Jakarta, Desember 2009)

[5] Tentang Ahmad Yani, lihat Amelia Yani, Profil Seorang Prajurit TNI, Jakarta, Sinar Harapan, 1988.

[6] Kisah ini pernah dimuat di majalah kampus Ekspresi UNY (2003).

Kamis, September 08, 2011

GELAR?

Kenapa kitorang slalu sibuk sama gelar? Apa karna terlalu lama didjadjah? Atau barangkali pengen seperti radja-radja djaman behuela? Inilah Indonesia.

Barusan, ada partai gede di negeri ini dukung ibu negara dapat bintang mahaputra. “Apo dio nih?”tanja orang Palembang. Kitorang kudu tanja, kenapa doi dapat itu bintang? Punja djasa apo? Lebih baik itu bintang buat para pemulung jang berdjuang atasi sampah tiap hari. Kenapa Ibu negara dapat bintang? Apa karena Ibu negara itu istri dari Paduka Jang Mau-mulia Presiden? Sudah pasti ada dari kubu sok biru jang djilat agar Ibu Negara dapat itu bintang. Lebay sekali. Bikin geli djuga kelakukan elit negeri tempat kitorang numpang hidup ini.

Tjukup geli djuga, waktu kitorang denger Paduka Jang Mau-mulia ternjata punja gelar Doktor. Muke gile. Emang kapan doi kuliah? Apa pula doi punja djudul disertasi? Kalo badjakan alias bajar orang buat bikin, khan malu2in. Kitorang semua paham, serdadu sibuk slalu. Kapan doi bisa kuliah? Kalau Doktor Honoris Causa djuga lutju. Apa dia orang punja djasa. Kalo Nasution bisa dapet Doktor untuk sedjarah, itu kitorang bisa maklum karna doi nulis banjak buku soal sedjarah dan militer ini negeri. Walo Nasution djuga pake penulis hantu.

Di kampus saia dulu, ada seorang Doktor jang bukunja banjak Nauzubilleh. Lebih dari 100 sepertinja. Saia tidak peduli, bagaimana itu doktor bikin buku rasanja tidak perlu dibahas. Tapi saia lihat sesuatu jang lain. Doi nulis buku mungkin mau ngedjek dosen2 jang ogah nulis. Alias tara produktif. Tapi rasanja si Doktor ini tak digubris. Tetap sadja tidak banjak dosen jang menulis. Mereka tjuma pasang gelar mentereng. Muke gile djuga.

Gelar itu prestise. Punja gelar bikin kitorang dipandang. Dipandang sebagai orang heibat, bukan dipandang sebelah mata. Seolah ini orang2 Indonesia tara tahu djikalau punja gelar itu ada konsekuensinja. Kudu ada sumbangannya buat dunia keilmuan. Ibarat seorang empu, doi kudu bisa bikin keris. Sjukur itu keris bisa pengaruhi empu2 jang lain buat bikin keris lebih bagus lagi.

Indonesia makin banjak orang2 punja gelar. Kata Gubermen itu bagus. Tapi, orang2 bergelar itu tara bisa berbuat banjak. Bukan karna mrika itu bego. Ini karna Universiteit sebagai lembaga jang kasih mrika gelar tara beri pengetahuan memadai. Alias asal tjetak sadja itu sardjana2. Tara pikir mereka kudu diberi apa.

Djikalau ditanja ke dosen2, mrika pasti bilang sudah kasih materi terbaik. Tapi, apa pula materi terbaik itu. Rasanja, banjak mahasiswa diadjar buat djadi diktator. Djadi itu mahasiswa dikasih diktat. Nanti udjiannja dari diktat. Akhirnja itu mahasiswa malas membaca buku lain. Praktis kata mereka. Djidjiknja lagi mrika bilang ini realistis. Akhirnja mrika tjuma djadi orang jang kajak robot. Gak bisa bikin sesuatu jang baru. Kebanjakan makan diktat. Itu tjeritera dari saia orang punja kampus.

Untung sadja, banjak temen2 dekat saia tara bangga sama doi punja gelar. Prekk kata mrika kalo ngomong soal gelar mrika. Temen jang bertahun2 serumah dengan saia djuga kadang merasa gelarnja tara berguna. Doi bilang djuga apa jang doi peladjari di STM djauh lebih heibat daripada jang dipeladjari di Universiteit.

Universiteit begitu mengetjewakan. Entah di bekas kampus saia dan kampus lain. Asal bajar, asal mau djadi robotnja dosen diktator jang dojan kasih diktat dan gak andjurin muridnja batja buku, maka kitorang bisa lulus. Betapa enaknja kuliah djaman sekarang. Idjazah matjam sampah sadja. Asal ada uang gelar pun dapat. Djikalau ada universiteit besar jang kasih Radja Arab Doktor Honoris Causa untuk kemanusiaan, itu sangat gila sekali. Buat apa kasih radja jang kasih penggal banjak kepala orang tara berdosa. Radja jang biarkan ribuan orang miskin Indonesia tersiksa di Negeri tutunnja agama Islam. Radja Islam jang mendjidjikan.

Djadi Universiteit di ini negeri kajak Unisex sadja. (Istilah unisex saia pindjam dari kenalan). Tara beda Universiteit itu dengan tempat prostitusi. Tinggal bajar anda puas. Heibat djuga naluri bisnis orang Indonesia. Apa sadja bisa djadi duit. Djangankan barang, pendidikan pun boleh didjual. Dan djualannja laris manis pula. Kajak gula djawa bikinan nenek saia di kampung dulu.

Djikalau anda pengen heibat, anda bisa beli gelar. Dimana sadja. Dari universiteit gurem sampe jang kakap di negeri ini. Asal ada fulus kajak Radja Arab. Jah tinggal anda bertanja pada kantong anda, “wani piro?” (Niru iklan di TV).

Senin, Agustus 29, 2011

Mudik = Jarak + Rindu

Ada rindu tak terhingga dibalik lebaran. Mudik menjadi pemecah kerinduan itu.

Lebaran sudah ratusan tahun di negeri ini. Konon, bermula dari Raja Amangkurat yang memilih pulang mengunjungi orang-orang tercintanya setelah berpuasa sebulan penuh. Lebaran menjadi simbol kemenangan bagi orang-orang Islam yang berpuasa di bulan puasa. Orang yang tidak berpuasa pun boleh ikut rayakan kemenangan itu.

Arus mudik tak bisa dihindari karena tradisi yang sudah ada di masa Amangkurat itu. Yang ke barat menuju ke timur atau sebaliknya. Begitu juga yang dari utara pulang ke selatan atau sebaliknya. Jangan heran jika jalanan macet. Kereta api berlalu seperti di jaman revolusi, yang mengangkut penumpang seperti mengangkut pengungsi perang.

Lebaran menjadi ziarah yang sama sekali tak bisa diabaikan selama ratusan tahun. Akan tetap seperti itu, berapapun angka pemudik tiap tahunnya. Bagaimanapun, lebaran tetap lebaran. Dimana selalu ada yang mudik. Berkumpul dengan orang-orang terkasih. Itu yang selalu dinanti. Meski sebagian orang jadikan lebaran ajang adu gengsi. Biarlah. Inti lebaran tetap lepas kangen.

Tak peduli seberapa jauh, jarak adalah sesuatu yang harus hancurkan. Demi sebuah kerinduan yang harus dituntaskan. Bagaimanapun caranya! Jadi, jarak sama dengan rindu. Begitulah rumusnya. Dan cara pecahkan rumus itu adalah dengan bertemu. Bagaimanapun caranya! Jangan heran jika jalanan ramai.

Lebaran punya hubungan mesra dengan sejarah negeri ini. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia juga masih dalam suasana lebaran. Tapi, tahun 2011, negara sudah bikin kecewa soal hari perayaan. Dan jutaan orang Indonesia pun harus menunda sehari lebaran mereka. Angpao, yang selalu ditunggu anak-anak kecil hingga remaja, harus dikantongi dulu. Ketupat pun harus ditunda untuk dihidangkan.

Bagi yang masih berada di jalan, dan merasa terlambat pulang, ditundanya lebaran bisa jadi pertanda baik. “Lebaran boleh ditunda. Sampai tahun depan sekalipun. Tapi, rinduku padamu tak lagi bisa ditunda,"kata seorang lelaki pada wanitanya. Itulah yang akan tetap dikatakan.

Dedicated: para pemudik yang berjuang menuntaskan kangennya. Selamat Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir batin buat semua ciptaanNya. Semoga kita semua damai selalu dan masih berjalan menuju kemenangan....

Jumat, Agustus 26, 2011

Ini Negeri (tara) Lutju

"Pilih mana? Djajabaja, Madjapahit, atawa Samin?"

Apa djadinja jikalo, balatentara Nipon tara kalahkan Hindia Belanda? Bisa djadi radja Djajabaja dari Kediri tak kondang sama sekali. Maklum doi punja ramalan jang bikin orang2 Djawa bahagia. “akan datang orang kate dari utara dan mereka mengusir kebo-kebo bule.” Jang dimaksud orang kate itu tara lain ialah orang Nipon dan kebo bule ialah orang Belanda. Itu ramalan boleh djadi bikin sebagian orang Djawa ogah pake otot buat lawan kolonialisme ala Hindia Belanda.

Disatu sisi, rada aneh djuga, didjadjah kebo eh ditolong orang kate jang kemudian djadi penodong jang peras habis lumbung2 padi. Sebuah negeri jang tragis. Ramalan Djajabaja itu memang bikin susah djuga. Kenapa isi ramalan Djajabaja isinja adalah, Samin Surosentiko jang dari Blora itu adalah radja abadi di nusantara. Lebih enak rasanja. Tiada perlu bajar padjak. Tiada perlu pakai todong orang pake bedil. Pastinja, semua sedhulur. Pokoknja, Samin djauh lebih heibat dari Stalin, jang gagal bikin negeri komunis.

Di sekolah, Madjapahit katanja masa djaja Indonesia. Begitulah dalam sedjarahnja Madjapahit keradjaan besar djuga. Tapi, apa besar dan tidak satu keradjaan itu punja pengaruh bagus buat rakjat djelata? Rasanja, radja2 biasanja tjuma seenak udelnja sadja. Sama sadja dengan radja (batja pemimpin djaman sekarang). Tjuma kasih kenjang perut sendiri. Tapi tetap sadja djaman Madjapahit djadi kebanggaan. Persetan derita rakjat djelata. Bagaimana djika anda rakjat djelata dan saia djadi radja? Saia tinggal bilang “derita loh,” niru remadja masa kini.

Ini negeri, walau ngaku udah Republik, tapi tetap sadja mentaliteit radja masih gede. Dengan sengadja itu dipelihara. Kajak pelihara ikan lele atawa kambing. Djadinja, radja2 ketjil djadi perkara biasa. Dan rada biadab djuga. Tapi rasanja orang2 Indonesia masa kini terbiasa karnanja. Djadi radja ketjil atawa djadi djagonja radja ketjil itu sudah keren.

Waktu saia sekolah dulu, saia punja teman jang lebih suka djadi preman. Mrika suka bikin geng. Biasa pake nama sok Europe atawa Amrik. Biar keren. Kalo mrika agak nasionalis, dan tahu sedjarah Ken Arok jang djagoan itu, mrika bakal kasih nama geng mrika “Anak Ken Arok” kalo disingkat djadi AKA. Mirip nama band rock Indonesia tahun 70an. Harap maklum, orang2 Indonesia lebih pertjaja bedil daripada intelektualiteit.

Beruntung sekali rezim Orba. Nama Samin tak tersebut. Orang Samin bahkan dipojokin abis. Djadi orang2 tidak bikin gerakan kajak Samin. Kalau ada gerakan model Samin. Harto pasti murka dan serdadu2nja pasti bikin tawuran ala marsose. Harap maklum, tiada pemimpin Indonesia jang berani kere matjem Samin. Pemimpin kan dojannja naik mobil mewah dan rumah gedongan. Kalo bisa djuga punja simpenen. Rasanja itulah kenapa Samin dilarang.

Tidak ada jang gratis. Djadi pemimpin pun ada upah jang matjam2 djuga. Kudu ada fasiliteit. Tiada jang seperti Samin lagi. Djika ada kitorang pasti lagi mimpi teramat indah. Amboy.

Belajar dari Semaoen

Seorang murid bertanya, kurang lebih begini, “apakah seorang tidak berpendidikan bisa ikut berpolitik?” Entah kenapa pikiran saya melayang pada sosok Semaoen. Betapa tidak, Semaoen hanya lulus sekolah rendah. Dia langsung kerja jadi buruh kereta api. Juga bergabung dalam serikat buruhnya. Serikat buruh rasanya sekolah Semaoen yang sebenarnya. Dia banyak belajar kejamnya penghisapan kolonialisme di Serikat Buruh.

Di usianya yang ke-14 tahun, Semaoen adalah anggota SI Surabaya. Sebelum akhirnya hijrah ke Semarang, pada 1916. Dimana Semaoen menjadi ketua cabang SI Semarang di usianya yang ke 17 tahun. Usia hura-hura untuk pemuda masa kini. Hura-hura Semaoen adalah bersama kaum buruh. Berjuang menuntut keadilan.

Tidak sekolah tak mengapa, tapi belajar tetap bisa dimana saja. Semaoen memang belajar dari siapa saja dan apa saja. Tapi dia punya dua guru hebat setidaknya. Pertama adalah Cokroaminoto, guru bagi pemimpin kaum pergerakan. Yang punya kekuatan dari kaum Islam Indonesia. Cokro adalah pimpinan tertinggi Sarekat Islam yang legendaris itu. Kedua adalah Sneevliet. Orang yang dianggap sebagai nabi bagi kaum komunis Indonesia. Nama Sneevliet sendiri, sengaja dilupakan, dan terlupakan bagi Bangsa Indonesia. Dari Sneevliet, Semaoen belajar bahasa Belanda.

Guru terakhir ini yang paling berpengaruh dari Semaoen. Karena tidak bermental kolonial. Sneevliet pernah keluar dari kantor dagang yang beri dia bayaran besar hanya karena ingin bergiat di serikat buruh dengan pemasukan yang kecil. Semaoen belajar banyak soal politik dari Cokro maupun Sneevliet. Pelajaran yang begitu penting yang membuatnya kesohor sebagai pembela dan pahlawan buruh di Jawa.[1]

Semaoen, diusianya yang baru belasan, bukan lagi sekedar anak ingusan. Tidak hanya berorganisasi yang dia bisa. Tapi juga menulis. Dua pelajaran penting yang tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia masa kini.

Semaeon juga mampu ikuti wacana pemikiran. Meski tak sehebat Darsono atau Tan Malaka. Tulisan Semaoen pun tak mengecewakan. Setidaknya dia pernah menulis Hikayat Kadiroen. Semaoen juga menulis untuk surat-kabar. Menulis dan bergerak bersama kaum buruh adalah bentuk partisipasi politik Semaoen dalam melawan politik kolonial dari Hindia Belanda. Kehebatan Semaoen adalah dia menjadi Ketua pertama dari Perhimpunan Komunis Indonesia yang kemdian menjadi Partai Komunis Indonesia.

Nama Semaoen lalu melekat kuat di kalangan buruh. Ketika pemogokan buruh terbesar di Indonesia pada 1923, nama Semaoen disebut. Dia bukan lagi anak Ingusan ketika itu. Semaoen baru saja merasakan kehadiran anak pertamanya di tahun itu. Dia sudah beristri dan masih tetap sebagai aktivis buruh. Namun disekitar masa bahagianya itu, Semaoen ditangkap pemerintah kolonial dari rumahnya di Tegalwereng, Semarang.[2]

Nama Semaoen lalu meredup. Setelah berkelana ke Eropa Semaoen tidak lagi aktif sebagai ketua PKI. PKI mengalami perubahan haluan politik. Yang tahun 1920an independen dari Moskow, menjadi pro Stalin di tahun 1948. Dan pro Mao Ze Dong di tahun 1965. Nama Semaoen hilang. Meski punya jasa pada Indonesia namanya tidak dianggap penting dalam sejarah Indonesia.

Semaoen adalah contoh orang muda Indonesia yang layak dijadikan panutan. Mengapa? Semaoen adalah orang yang bisa belajar dari keterbatasan. Prestasi Semaoen dalam menulis dan berorganisasi layaknya bisa diapresiasi oleh pemuda Indonesia lainnya. Lupakan aroma politis soal kekomunisan Semaoen. Banyak hal positif yang bisa dipelajari darinya.

NB: Dilarang keras menyukai catatan ini! Kritiklah dengan pedas naskah ini!

[1] Tempo edisi 21 Agustus 2011, hlm. 64.

[2] Darmo Kondo, 9 Mei 1923.

Potret Semaoen dalam cover bukunya.

Kamis, Agustus 18, 2011

Presiden = Radja

Presiden adalah landjutan sedjarah radja. Lupakan demokrasi karna itu tjuma Gintju. Dan akan lahir dinasti lebay.

Dulu kala, kitorang punja radja. Mau kedjam, mau begundal, atau gimana djuga, itu radja tetep adja mulia. Dan, kitorang kudu sembah itu radja. Karna katanja, radja itu djuga wakil Tuhan. Muke gile. Lalu, kitorang di nusantara tertjinta ini punja Gubernur Djinderal. Tangan pandjang dari Ratu Singa diseberang lautan sono. Pokoknja bule deh.

Tukang Kibul kelas Wahid

Lalu mengakulah orang-orang di Pegangsaan sono pada 17 Agustus 1945. Katanja Indonesia sudah merdika. Dan, kitorang AMINI itu sampai ini hari. Kata buku peladjaran begitu djuga, pokoknja ini negri sudah merdika. Achirnja, kitorang punja presiden. Kulitnja sama. Tidak bule. Mirip sama radja2 djaman dulu. Kulitnja sama dengan kitoranglah.

Ada kalanja, Presiden kajak Malaikat. Tapi kata orang, djiwa iblisnja bisa muntjul. Karna takut orang2 liat itu Presiden punja tanduk, maka si Presiden punja profesi terselubung, djadi tukang kibul. Dan achirnja, kitorang tahu jikalo mo djadi presiden, kudu bisa ngibul. Apalagi djadi presiden Indonesia. Banjak rakjat jang suka dan rela dikibulin, tapi ada orang jang tara mau dikibulin tapi serba salah untuk djadi pinter.

Sebenarnja, buat apa djadi merdika kalo dikibuli selalu? Entahlah, rasanja orang Indonesia emang dojan dikibuli. Djadi penipu tak apalah. Asal punja Mercy dan bagi2 duit. Karna orang tetep akan hormat. Djadi, tukang kibul itu sutji di ini negeri. Guru SD jang bikin pinter anak2 bego pun deradjatnja djauh dibanding tukang kibul. Itu semua karna tukang kibul punja kuasa jang luar binasa. Djadi kitorang pada takut kena masalah, susah bikin KTP, susah dapat kredit usaha bahkan takut kena bedil pula.

Dinasti Lebay

Kata orang di djaman Orde Babe (pintjem etjeannja Om Ben Anderson buat ngetje Harto en geng) musuh atawa bahaja laten, tara lain adalah Komunis. Padahal komunis gak lagi djadi bahaj karna sudah disikat sampai kering. Kalo diperes ra ono getihe (gak ada darahnja, kata orang Djawa).

Di djaman ini, djaman Presiden paling Lebay (aliasa Alay Commander) , musuh besar itu terorisme. Orang matjam saia djadi bingung. Rasanja, teroris itu gak pernah ngebom angkringan Felix langganan kami di Karangmalang Djogja. Djuga ibu2 jang djual makanan murah di dekat pondok2 pesantren Krapjak. Bahaja matjam mana pula itu teroris. Teroris djadi bahaja laten. Rasanja kitorang boleh sebut teroris sebagai bahaja paling lebay. Karna itu tjuma isu ra mutu (tak bermutu, istilah kawan2 saia di Djogja). Toch kitorang tahu kalo dinasti lebay pantang ngutuk korupsi. Entah kenapa? Mereka djuga tara pernah ngiangkan bahaja laten korupsi.

Kitorang pernah denger keluarga Kennedy atau Bush di Amrik sono. Atawa tak usah djauh2 dari Indonesia, kitorang tahu Filipina jang punja beberapa dinasti politik matjam Aquino atau Aroyo. Atawa ada Butho di Pakistan. Dan Indonesia mulai tiru itu gaja. Dinasti Sukarno jang pertama sukses karna Megawati djadi Presiden. Dan akan muntjul Dinasti politik lain. Politisi rasanja djadi profesi keren walau tak mutu. Tak apalah, duitnja kan tebel kata orang.

Kini semua orang tahu, kitoran punja Presiden makin lebay. Pake mau naikan istrinja djadi Presiden. Djelas ini watjana konjol. Kajak Kabupaten Bantul sadja. Kitorang lagi tahu kalo Presiden terAlay kita, kasih naik doi punja ipar biar bikin stabil doi punja kuasa. Dalam sedjarah posisi KSAD itu lebih vital daripada Panglima serdadu Republik Indonesia. Soalnja setjara hirarki, diatas kertas Panglima serdadu lebih tinggi daripada KSAD. Tapi urusan pegang serdadu KSAD lebih punja kuasa. Soal sistem, semua kan bisa diatur, jang penting ada komisi. Djauh lebih penting pasukan ditangan.

Kitorang kudu tahu kalo dinasti kudu punja pendukung. Nah tentara kan djuga bisa dipake. Kita lihat seberapa lama Ipar si Presiden lebay bisa tahan lama djadi KSAD. Rasanja si pemilih tak perlu bosan. Dan dinasti pun punja gigi sekarang. Meski diambang hantjur dinasti lebay tjukup kuat. Punja tentara pula. Ngeri. Presiden sudah djadi sang radja sekarang. Radja jang bersiap diambang tumbang.

Jumat, Agustus 12, 2011

Rasa Merdika

Mrika bosan djadi Inlander. Mrika lebih suka djadi Indonesier. Dan Merdika itu mimpi utama.

Orang2 Indonesia kini pertjaja bahwasanja diri mrika telah merdika. “Merdika itu bebas dari pendjadjahan orang asing,” kata mrika. Kini orang2 Indonesia memang dojan ngaku diri mrika sudahlah merdika. Begitulah mrika kini.

Merdika itu sebuah mimpi besar. Sedari djaman Ratu Wilhelmina dulu. Lalu muntjul kaum-kaum terpeladjar. Mrika dari Sekolah Dokter Djawa, jang tak djauh dari bekas Pasar Buku Kwitang itu. Mrika anak prijaji sebenarnja. Mrika lajak djuga kita sebut sebagai orang2 Mulia.

Lalu muntjullah kaum pergerakan. Kaum-kaum jang radjin serang gubermen pake kritik jang lumajan pedes djuga di djaman itu. Mrika tak lagi pake otot. Kini mrika adalah orang jang ingin pake otak. Mrika tak mau pake Ratu Adil, jang entah kapan mau turun ke bumi. Mrika bukan pendahulu mrika. Kesamaan dengan pendahulu hanja melawan gubermen dengan tjara mrika, tjara baru.

Makin hari, makin banjak orang2 jang seide sama itu kaum pergerakan. Orang2 pribumi, jang leh Tuan Blanda disebut Inlander itu, mulai ingin djadi Indonesier sedjati. Itu tara mudah. Tetap sadja mrika berdjuang. Dengan keras hati, seperti badja. Meski diantara mrika ada jang ditangkap sama oppas2 gubermen. Mrika bahkan rela mogok kerdja dan dipetjat karnanja. Mrika trus melawan. Tuan Gubernur Djenderal, lalu teken surat buat bikin pengasingan super ngeri di pedalaman Papua. Digul namanja. Meski terpentjar, dan hantjur, merdika masih djadi mimpi utama.

Suatu kali, seorang bernama Soetardjo bikin petisi heibat. Petisi Soetardjo namanja. Itu petisi bikin nama Indonesia makin eksis sadja. Seperti dalam Kongres Pemoeda sebelumnja. Soetardjo inginkan sebuah parlemen. Ini hal penting dalam sedjarah parlemen di Indonesia. Sajang sekali ini dilupakan. Orang Indonesia kini hanja ingin djadi anggota parlemen alias DPR, tapi ogah mau tahu bagaimana harusnja Parlemen itu.

Lalu datang balatentara dari utara, tentara Djepun. Orang Djawa liat ini gedjala bagus. Mirip Ramalan djangka Djajabaja. Akan datang orang Kate dari utara jang bebaskan mrika dari kebo bule, kata mrika. Mrika suka orang2 Djepun datang. Karna bisa sikat itu orang2 Blanda. Tapi Djepun pun super kedjam. Mrika sikat smua padi buat bikin perang. Sikat perempuan pribumi biar puas birahi tentara mrika jang berperang demi Asia Timur Raja. Sebuah pengorbanan gila.

Beruntung, ada bom djatuh dari arah langit. Jang dibawa kapal mabur dari Amrik. Dua bom itu bikin mampus dua kota di Djepun sana. Nagasaki dan Hirosima djadi tumbal djuga dari politik militerisme Djepun. Achirnja, Djepun pun ngaku kalah sama sekutu Amrik. Dan Kaisar Hirohito pun bangun Djepun lagi. Dan djadilah kini Djepun bangsa besar di Asia Raja, meski tak kuasai Asia Raja, banjak bikinan Djepun meradjalela di Asia Raja. Termasuk Indonesia jang dojan pake bikinan Djepun.

Tak lama Djepun ngaku kalah pada sekutu, segera orang2 Indonesia jang tak sabar lagi ingin merdeka mo bikin Proklamasi. Pengakuan kalo mrika sudah merdika. Itu rada sulit djuga. Karna ada orang2 tua jang takut sama tentara sekutu. Ada djuga orang2 jang masih setia pada Blanda. Mrika ini jang lalu disebut Andjing NICA.

Dan proklamasi pun tara bisa terhalangi lagi. Niat merdika itu mulia, djadi lebih tjepat lebih baik. Dan lahirlah Repoeblik Indonesia. Dan segala aset penting pun ditulisi Milik RI. Bukan hal mudah bikin negara. Orang2 Indonesia tampak belum siap. Kata orang luar, mrika tidak tampak seperti orang Indonesia. Mrika lebih mirip Inlander jang berlagak kajak tuan-tuan. Dan revolusi Indonesia pun tampak ngawur. Main bunuh sembarangan pada siapa sadja jang tak disuka. Revolusi tampak seperti Chaos antar sesama.

Ternjata, masuknja tentara Djepun ke Indonesia bikin lahir satu generasi opurtunis. Lihat sadja Soeharto cs. Mrika pimpin sebuah rezim korup selama tiga dekade. Dimana orang2 dihisap dan ada kelas baru jang untung. Kelas jang dekat dengan Harto pasti kelas beruntung. Jang lain kudu miskin. Tara boleh kritis. Kalo kritis nanti dibui. Meski hidup di negeri fasis terselubung dibawah orde baru, orang2 masih suka bilang merdika. Omong kosong jang heibat sekali pastinja.

Tak ada jang pernah ada jang lebih baik dimasa merdika. Rasanja ada sadja hal jang makin rusak. Bahkan lebih rusak dari djaman Ratu. Merdika achirnja hanja kekatjauan jang begitu rapi dalam politik Indonesia. Dan merdika adalah masa dimana pemimpin disjaratkan buat korup. Dan korup adalah tradisi negeri dan orang korup adalah orang mulia di djaman merdika. Bukan orang pergerakan jang mulia kini.

Orang korup didjamin mulia. Punja duit semua tanggung beres. Tanja sadja pada Gayus jang sukses ngibulin rakjat Indonesia dan aparat hukum. Tjukup dengan bayar pedjabat hukum dan doi bisa liburan ke Bali.

Dan orang muda jang heibat dimasa kini bukanlah jang bergerak. Tapi jang bisa djadi pedjabat, boleh di Partai boleh di PT atawa di birokrasi. Pemuda baik2 itu, dimasa sekarang adalah pemuda jang mapan. Banjak duit. Tak berdjiwa merdika tak apalah. Jang penting kaja-raja.Mrikalah harapan mertua masa kini. Korup tak apalah, jang penting duit melimpah. Pemuda bukan lagi penggerak kayak di djaman pergerakan dulu.

Adakah rasa merdika itu? Silahkan anda2 djawab sendiri sadja. Orang sekarang boleh ngaku Indonesier, walo mental masih Inlander. Mental mrika jang korup dan terlalu tunduk pada golongan korup, rasanja bukan mental Indonesier jang ditanamkan pendiri ini negeri. Rasanja, orang Indonesia masih berdjiwa Inlander dan tara lajak disebut Indonesier sedjati. Itu menurut kitorang. Mungkin berbeda menurut anda.

Senin, Agustus 08, 2011

Menjaga Laut

Kita punya laut luas dan kaya. Apakah kita bisa menjaganya?

“Seekor keledai tidak akan jatuh pada Lubang yang sama,” setidaknya itulah kata orang Belanda. Mereka berusaha untuk tidak menjadi lebih bodoh dari keledai. Mereka tahu keledai dianggap binatang bodoh. Meski bodoh, keledai selalu belajar.

Tidak sia-sia. Hampir semua orang Indonesia tahu bahwa orang-orang Belanda yang datang ke Nusantara dibawah panji-panji VOC[1], berhasil menguasai Indonesia. Nasib yang malang bagi nusantara, karena dikuasai sebuah perusahaan. Apalagi perusahaan penguasa nusantara itu jumlah personilnya tidak sebanyak orang-orang Indonesia yang dikuasainya. Apa orang-orang Belanda itu terlalu pintar atau orang-orang Indonesia itu terlalu baik hati untuk dikuasai.

Mengapa Terjajah

Ada pertanyaan mengapa orang Indonesia dijajah orang Belanda? Jawaban dalam buku pelajaran disekolah adalah, karena orang Belanda memakai Devide et Impera alias politik belah bambu. VOC hanya memanfaatkan perpecahan diantara para penguasa di Indonesia di nusantara. Dan memang, berseteru di nusantara adalah hal biasa. VOC tidak perlu terlalu pusing membuat perpecahan, karena perpecahan itu sudah ada. Bahkan di sebuah kerajaan pun beberapa Bangsawan pun bisa diadu domba.

Politik belah bambu memang strategi yang bagus. Tapi itu bukan strategi utama apalagi penyebab utama orang-orang Belanda menguasai Indonesia. Politik belah bambu saja belum cukup untuk menguasai Indonesia. Ketika orang-orang Belanda datang ke nusantara, tidak ada kerajaan besar di nusantara yang benar-benar menguasai lautan.

Setelah Gajah Mada tiada dan runtuhnya Majapahit, kerajaan-kerajaan di nusantara mulai mengabaikan kekuatan laut. Tidak ada federasi kerajaan-kerajaan kecil yang mau menjaga lautan nusantara. Sebagian laut, akhirnya menjadi arena merampok bagi para bajak laut. Akhirnya, laut juga yang menjadi jalan bagi masuknya Imperialisme barat. Dimulai dari kedatangan Cornelis de Houtman yang kemudian disusul orang-orang VOC lainnya.

Orang-orang Indonesia melupakan dan tidak tahu bahwa laut adalah Benteng. Jika laut nusantara dikuasai maka nunsatara pun otomatis dikuasai orang asing.

Yang Tidak Pernah Belajar

Apa yang terjadi sekarang rasanya seperti tak berkaca dari masa lalu. Selalu ada slogan yang lalu biarlah berlalu. Akhirnya kesalahan yang lalu terulang lagi. Pernah ada masa dimana penjajah datang melalui laut dan dengan gemilang menguasai seluruh nusantara. Bahkan tercatat, oleh sekelompok sejarawan yang mengklaim bahwa Indonesia dijajah Belanda 350 tahun.

Beberapa tahun silam, setidaknya dua pulau Indonesia dikuasai Malaysia. Ini segera masalah nasional yang sangat terlambat untuk diatasi. Dan kasus yang sering terjadi adalah masuknya kapal-kapal asing ke laut Indonesia yang kaya. Dimana berton-ton kekayaan laut Indonesia hilang dicuri. Ironis sekali jika negara yang dikarunia laut begitu luas tidak bisa menjaga laut beserta isinya yang kaya.

Layakkah Indonesia disebut sebagai negara Maritim? Sebuah pertanyaan yang akan mendapat banyak jawaban. Sebagai negara yang wilayahnya terdiri dari lautan, Indonesia syah disebut negara Maritim. Tapi jika dilihat dari mentalitas dan bagaimana cara menjaga laut, jawabannya tidak. Semua orang di negeri ini tahu Angkatan Laut Indonesia begitu lemah.

Laut harusnya menjadi lumbung pangan rakyat. Banyak rakyat Indonesia yang bergantung pada sektor keluatan. Kita tahu ribuan nelayan bergantung pada tangkapan ikan dari laut Indonesia. Ikan tidak pernah habis mereka tangkapi tapi mereka selalu miskin karena keterbatasan alat penangkap ikan. Mereka kalah dengan kapal nelayan asing yang mencuri kekayaan laut Indonesia.

Kondisi ekonomi Indonesia yang demikian terpuruk kala ini bisa juga diatasi dengan memberdayakan sektor kelautan. Dengan memperkuat industri maritim yang beraneka-ragam bentuknya. Mulai dari perikanan sampai pariwisata. Melihat laut Indonesia yang kaya, rasanya Indonesia bisa melakukan apa saja dilaut.

Dunia Yang Sunyi

Keluatan menjadi studi yang sangat sepi. Karena negeri ini beserta penguasanya mulai meninggalkan laut. Dalam artian tidak lagi peduli dengan keluatan. Terlihat dari kurangnya armada Angkatan Laut untuk menjaga laut Indonesia yang luar biasa luasnya. Hingga kekayaan laut Indonesia binasa dan tak lagi dinikmati rakyat Indonesia. Dan artinya kemiskinan terus berlanjut bagi rakyat Indonesia

Dalam sepinya pemerintah peduli pada laut, tetap saja ada saja orang Indonesia yang masih peduli dengan laut. AB Lapian hanya salah satu. Dia telah menulis karya pentingnya soal laut. Bukunya, Orang Laut Bajak Laut Raja Laut, yang merupakan disertasinya adalah karya penting dalam dunia keluatan Indonesia. AB Lapian dikenal sering menulis tentang Laut Indonesia yang dilupakan.

Sebelum terlambat lebih jauh, atau menyesal di kemudian hari, marilah kiranya kita perhatikan laut Indonesia. Dan membuatnya menjadi kuat. Kita bisa buktikan bahwasanya Indonesia sekarang tidak kalah dengan Sriwijaya dan Majapahit di masa lalu. Kalah jaya di laut dibanding jaman Sriwijaya dan Majapahit jelas kemunduran besar. Dan ini sangat memalukan.

[1] VOC: Vereninging Oost-Indische Compagnie (Perusahaan dagang Hindia Timur)

Jumat, Juli 29, 2011

Melawan Lupa dengan Tidak Menghafal

Pertama yang terbesit bagi orang-orang yang pernah belajar sejarah di sekolah adalah menghafal. Banyak yang mengamini belajar sejarah adalah pelajaran yang menghafal. Jadilah pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang dihindari di sekolah. Hebat juga orang yang membuat siswa harus menghafal. Akhirnya, esensi sejarah untuk berkaca dari masa lalu untuk menghadapi masa depan hanya omong kosong. Mungkin ini yang diinginkan dunia pendidikan di Indonesia.


Menghafal

Semua orang sepakat pelajaran sejarah adalah pelajaran menghafal. Menggali hal-hal menarik berupa nilai-nilai kemanusiaan bukan lagi hal penting. Anak-anak SMA tentu merasa sejarah adalah pelajaran menghafal tanggal-tanggal.

Karena tuntutan menghafal, membuat banyak orang yang awalnya agak tertarik dengan pelajaran sejarah jadi bosan dan kehilangan rasa tertarik itu. Sejarah memang untuk mengobati rasa penasaran. Bukan berarti harus menghafal detilnya saja. Tapi mencari esensi dibalik peristiwa itu. Rasanya yang diinginkan pejabat pendidikan Indonesia hanya generasi yang bisanya hanya menghafal. Dan bukan generasi yang bisa belajar dari masa lalu. Kita tahu, para siswa dibuat menghafal menjelang ujian dan kemudian lupa karena tidak membekas sama sekali. Kita tahu banyak hal yang kita lupa setelah kita berjuang keras menghafal.


Memang banyak orang yang belajar sejarah bisa hafal—dalam jangka waktu—beberapa hal dalam sejarah tertentu. Biasanya itu bukan karena memaksakan diri untuk menghafal, tapi lebih karena membaca santai dan tidak dalam tekanan. Setidaknya itu pengalaman saya dan beberapa kawan (sejarawan) muda saya yang bergelut dengan sejarah. Mereka hanya membawa tanpa menekan diri mereka untuk hafal. Kami tak terlalu berniat menghafal, tapi entah mengapa akhirnya kami hafal? Bagi kami menghafal bukan hal penting, yang terpenting bagi kami adalah menggali esensi dari sebuah peristiwa atau tokoh sejarah.


Harus diakui, sejarah adalah pelajaran paling gila. Betapa tidak semua anak sekolah dari SD hingga SMA harus menghafal semuanya. Tidak penting menggali nilai-nilai yang ada dalam sejarah. Selalu diarahkan untuk menghafal. Dan hafalan itu akan keluar dalam ujian. Dan ujian sejarah seperti Who Wants to Be a Millionaire. Bedanya ujian bertujuan untuk menentukan nilai siswa untuk lulus, sedang Who Wants to Be a Millionaire kita dijanjikan uang banyak jika bisa jawab pertanyaan.


Yang terus menjadi pertanyaan saya, pentingkah menghafal sesuatu dan kemudian lupa begitu saja? Jujur saja, saya lupa apa saja yang saya jawab waktu ujian di sekolah saya. Jika pun saya bisa mengingat sesuatu itu bukan karena menghafal, tapi lebih karena saya menggelutinya—sekedar membacanya tanpa tekanan.


Pertanyaan lain, siapakan sebenarnya yang untung dari memaksakan siswa untuk menghafal isi pelajaran sejarah yang begitu banyak? Terutama fakta-fakta yang sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Apakah siswa untung? Rasanya siswa alami itu hanya sebagai fase untuk lulus sekolah.

Melawan Lupa

Teringat Milan Kundera, jika megucap berjuang melawan lupa. Hidup adalah berjuang. Termasuk berjuang melawan lupa. Dimana sejarah adalah media untuk berjuang melawan lupa. Orang-orang berpikiran maju biasanya orang-orang yang tidak ingin dibohongi oleh siapa saja. Termasuk oleh pemimpinnya. Orang-orang berpikiran maju tentu saja orang berjuang untuk tidak menjadi orang yang amnesia terhadap sejarah.



Kita tahu banyak penguasa dunia berusaha membangun sejarah yang begitu herois, dimana menampilkan sosok si penguasa sebagai pahlawan yang harus senantiasa didukung. Dan pelajaran sejarah di sekolah pun dijadikan media propaganda semacam itu. Semua orang Indonesia rasanya sudah mengerti hal itu. Dimana semua orang dibuat percaya heroisme penguasa (sejarah) melalui banyak hafalan. Rasanya kebenaran sejarah, yang sebenarnya relatif, menjadi bukan hal penting. Yang terpenting, versi penguasa selalu benar bagi mereka yang mendukung pemerintah. Begitulah pembodohan di Negara Dunia Ketiga.


Dengan membuat generasi muda tidak suka sejarah dengan menghafal yang sedemikian rupa, maka sebuah rezim sukses membuat sebuah amnesia sejarah bagi generasi di masa depan. Juga menjadikan jurusan sejarah sebagai kampus buangan adalah ide yang bagus untuk menjaga wacana sejarah, yang katanya selalu benar itu.

Yang terjadi memang banyak siswa enggan belajar sejarah karena enggan menghafal banyak data yang diantaranya kebenarannya masih diragukan. Ditambah lagi dalam pelajaran sejarah di sekolah gagal mengajak siswa untuk menangkap esensi dari peristiwa atau teladan dari pelaku sejarah dengan jujur.


Sepertinya, ada sebuah ketakutan jika siswa-siswa di sekolah belajar menggali sejarah masa lalu. Bisa jadi kebusukan sejarah sebuah rezim penguasa akan terbongkar dan image si penguasa akan jatuh di mata rakyatnya. Ketakutan akan kebohongan itu terbongkar tentu disiasati dengan memaksakan fakta-fakta yang dimaui si penguasa untuk di hafal generasi muda.


Kebosanan dalam pelajaran sejarah, karena terus dipaksa menghafal, tentu akan membuat siswa yang awalnya suka jadi tidak suka. Belajar sejarah, membuat seseorang menjadi ditektif yang terus menemukan fakta baru, tidak jarang faktu itu begitu memalukan bagi sebuah rezim. Itulah kenapa Suharto dan pengikutnya tidak ingin melawan lupa. Sudah pasti agar kebusukan mereka dimasa lalu tertutupi dan hanya mengumbar sisi baiknya saja agar bisa terus berkuasa. Rezim semacam itu tentu takut dengan orang-orang yang berjuang melawan lupa.


Orang-orang yang berjuang melawan lupa itu bisa siapa saja, tidak harus sejarawan. Mereka bisa pelajar-pelajar di sekolah atau orang-orang yang punya minat terhadap sejarah. Orang-orang semacam ini biasanya adalah orang-orang jujur yang apolitis. Mereka hanya ingin tahu yang benar. Mereka adalah orang yang berbahaya bagi sebuah rezim. Karenanya sebuah rezim tidak menginginkan orang-orang seperti ada. Bagi sebuah rezim, sangat penting untuk menjadi lupa. Dan bagi yang jujur dan berpikiran maju akan memilih menjadi orang yang berjuang melawan lupa.


Senin, Juli 25, 2011

Mercy’s dan Lagu-lagu Manisnya

Dekade 1980an, Rinto Harahap memang identik dengan lagu-lagu sendu—kalau tidak boleh disebut cengeng. Nama Rinto di musik pop Indonesia sudah begitu dikenal sebagai musisi, entah sebagai pencipta lagu maupun pemain musik. Rinto Harahap, dimasa mudanya adalah musisi.

Di dekade 1970an, semua pemuda penggila musik pop tahu The Mercy’s. Banyak hit yang dihasilkan band ini. Mereka punya banyak album yang berupa piringan hitam dan kaset pita. Orang-orang yang hidup ditahun 1970an, sebagaian hafal dengan hit-hit mereka. Hingga beberapa dekade setelahnya lagu-lagu mereka terus diingat dan dinyanyikan ulang oleh musisi lain.

Menuju Jakarta

Bermula, awal 1969 di kota Medan, Sumatra Utara, sekelompok anak muda memulai sebuah band. Terdapat dua bersaudara bermarga Harahap—Erwin dan Rinto—dalam band ini. Mereka bertolak dari Jakarta menuju Medan membentuk band pesta. Selain Erwin dan Rinto, awalnya mereka digawangi oleh Rizal Arsyad pada Gitar Rythem, Iskandar alias Bun pada Keyboard dan Reynold Panggabean pada Drum. Belum setahun terbentuk, band ini sudah dapat tawaran manggung di Malaysia. Namun Bun keluar. Setelah Bun keluar karena ingin kuliah kedokteran, maka Charles Hutagalung pun masuk menggantikan. Bun kemudian memang menjadi dokter bedah syaraf.

Pada band mereka, mereka pilih The Mercy’s. Nama The Mercy's sendiri secara spontan terbesit, karena menyukai naik mobil bermerk Mercy. Dalam bahasa Prancis, Mercy's artinya kasihan atau bisa juga terima kasih. Seperti band pop Indonesia lain, band ini juga mengikuti tren perkembangan musik mancanegara. Mereka sering mengacu pada band The Beatles, The Bee Gees, The Hollies, C.C.R maupun Monkeys—yang menjadi band paling berpengaruh kala itu.

Charles memiliki karakter suara yang unik. Suara Rinto pun melengkapi vokal band ini. Seperti Bee Gees, The Mercy’s punya lebih dari satu vokalis. Selain suara instrusmen musik yang khas ala 1970an, suara vokal pun menjadi sesuatu yang menarik.

Band melejit lagi setelah Charles menciptakan Tiada Lagi. Mereka tampil di sebuah club di Malaysia. Dimana mereka menetap selama enam bulan sebelum akhirnya kembali ke Medan. RRI medan lalu merekam lagu Tiada Lagi. Sebuah lagu yang cukup melankolis namun memiliki komposisi musik yang bagus, untuk ukuran jamannya.

Band ini beberapa akan tampil di negara Asia lain, namun rencana selalu kandas. Meraka hijrah ke Jakarta. Sebuah kota yang tepat untuk karir musik mereka. Mereka pun menjadi band papan atas yang sejajar dengan The Rollies. Mereka berhasil merekam album pertama mereka, pada Agustus 1972. Beberapa hit dalam album itu adalah Untukmu, Hidupku Sunyi, Love, dan Kisah Seorang Pramuria. Dua perusahaan rekaman—Remaco dan bergabung untuk merekam album pertama The Mercy’s itu.

Penjualan Album itu menyaingi dua band papan atas di zaman itu, Koes Plus dan Panbers. Hit mereka juga menjadi lagu yang sering diputar oleh radio-radio swasta Indonesia. Mereka pernah konser bersama Koes Plus, Panbers, The Favourite di Jakarta. Penonton pun membludak melebihi kapasitas.[1] Artinya band ini dasyat juga di zamannya.

Legenda Pop Juga

The Mercy’s pun jadi legenda musik pop Indonesia. Band ini selalu disebut juga dalam sejarah musik pop Indonesia. Orang-orang pun masih juga menikmati musiknya hingga kini. Kini personil-personil yang dulu berambut gondrong ini sudah beranjak tua. Charles Hutagalung pun sudah lama meninggal beberapa tahun silam. Tentang Charles, Rinto punya kesan, “Sebenarnya The Mercy's masih ada dan dari kami pun belum ada pernyataan resmi bubar. Namun, tidak dapat dipungkiri The Mercy's dikenal karena keberadaan Charles Hutagalung. Kami ini hanya sebagai pelengkap saja.” Rinto tampak rendah hati. Meski Rinto dan yang lainnya punya jasa dalam The Mercy’s. Mereka tampak menghargai Charles.

Setelah masa jayanya, Band ini sempat vakum oleh proyek-proyek individu. Charles dengan solo albumnya. Reynold dengan OM Tarantula-nya. Rinto juga banyak mengorbitkan banyak penyanyi baru seperti Christine Panjaitan atau Eddy Silitonga. [2] Sudah pasti dengan lagu-lagu yang cengeng. Intinya mereka tetap berkarya.

The Mercy’s juga identik dengan penyanyi-penyanyi Batak. Gereja membuat orang-orang batak memiliki olah vokal yang baik. Dan musik menjadi hal yang biasa dan penting bagi kehidupan mereka sehari-hari, juga dalam kegiatan religius. The Mercy’s adalah bagian penting dari sekian banyak musisi Batak lainnya.

Meski tidak akan pernah tampil lagi, karena kehilangan personil, tetap saja Band ini punya peninggalan yang masih bisa dinikmati oleh generasi sekarang. Orang-orang akan ingat lagu-lagu manisnya. The Mercy’s terus dikenang.



[2] http://ms.wikipedia.org/wiki/Kumpulan_The_Mercys: Rinto Harahap: Jangan Sakiti Hatinya, http://nasional.kompas.com/read/2010/11/07/03493533/ (Minggu, 7 November 2010 | 03:49 WIB)

Senin, Juni 27, 2011

Garudaye

Suatu hari, April 2003, bus kami menuju sebuah candi di pinggir Malang. Tur histories pertama kami. Kami menuju Candi Kidal. Sebuah perhormatan bagi Anusapati. Anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Anusapati jadi raja setelah membunuh ayah tirinya, Ken Arok. Seperti Ken Arok, Anusapti juga mati dibunuh ketika sabung ayam. Tohjaya, anak Ken Arok dari Ken Umang, adalah dalang pembunuhan karena merasa berhak atas kerajaan, yang dikenal dengan nama Singosari itu.

Garudaye

Candi ini mirip dengan candi-candi Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit. Seperti candi lain, ada bagian tertentu yang hilang dari candi ini. Candi ini mulai dibangun sejak 1248 hingga 1260. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan. Seperti biasa selalu ada kalamakara yang menyeramkan. Sebagai pelindung yang letaknya diatas pintu candi.

Ciri khas candi ini adalah adanya narasi cerita Garuda terlengkap yang terpahat pada kaki candi. Cara membacanya dengan berjalan berlawanan arah jarum jam, dimulai dari sisi sebelah selatan.

Relief pertama, menggambarkan Garuda menggendong tiga ekor ular besar; Kedua, melukiskan Garuda dengan kendi di atas kepalanya, Ketiga Garuda menyangga seorang wanita. Kini, hanya relief kedua yang paling indah dan masih utuh. Menurut kesusasteraan Jawa Kuno, Garudaye, ketiga relief tersebut menggambarkan perjalanan Garuda dalam membebaskan Ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta'mentana..[1]

Tersebutlah, resi Kasiapa yang punya dua orang istri, Kadru dan Winata. Kedua wanita itu adalah bersaudara. Dua wanita itu punya anak angkat. Kadru punya tiga ular sebagai anak angkat. Winata hanya punya Garuda. Kadru yang malas mengurus tiga anak angkatnya itu kemudian berhasil memperbudak Winata dengan sebuah taruhan. Ketiga garuda beranjak dewasa Garuda berusaha membebaskan ibunya.

Dimana Garuda kemudian melakukan perjalanan dan mencari Amertamentana. Demi membebaskan ibunya, Winata. Air itu disimpan di khayangan dan dijaga para dewa. Air suci itu berasal dari lautan susu. Itulah air keabadian.

Garuda rela melakukan apa saja untuk dapatkan air itu. Termasuk berkelahi dengan para dewa. Demi kemerdekaan Winata. Ketika para dewa di khayangan bias dikalahkan Garuda, Batara Wisnu pun turun. Garuda dikalahkan. Namun, dengan bijak, Wisnu sebagai sang pemenang, mau mendengar cerita Garuda—tentang derita Winata ibunya.

Wusnu pun mengerti. Wisnu mau memberikan Amertamentana, dengan syarat, Garuda mau menjadi tunggangannya. Demi kemerdekaan Winata, Garuda pun rela. Garuda pun berhasil membebaskan Winata. Dalam relief Garuda menggendong Winata. Jadilah Garuda tunggangan Dewa Wisnu paling sohor, Garuda Wisnu Kencana.

Mengapa Anusapati diagungkan seperti Garuda? Tak lain karena dia adalah anak yang berbakti pada Ibunya. Seperti kisah Garudaye.Anusapati tertulis dalam kitab kuno, Negarakartagama:

Bathara Anusapati menjadi raja

Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa

Tahun caka Persian Gunung Sambu (1170 C - 1248 M),

Beliau berpulang ke Siwabudaloka

Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal.[2]

Itulah kenapa Indonesia jadikan garuda sebagai lambang Negara. Tidak penting burung garuda itu pernah ada atau tidak. Kandungan dari cerita Garudaye, tentang anak berbakti dan bermental pejuang itulah yang layak diteladani orang Indonesia. Ketika mengunjungi candi Kidal, cerita Garudaye adalah cerita yang ingin sekali saya ceritakan pada adik sepupu saya yang masih kecil atau pada siapa saja. Ini cerita paling hebat yang pernah saya dengar.

[1] Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/culture/2147808-candi-kidal-peninggalan-anusapati-bakti/#ixzz1QRzvTa29

[2] Nagarakretagama, pupuh 41 / bait 1 berdasar tafsiran Slamet Mulyono.

Sabtu, Juni 25, 2011

Sisi Lain Dokter Indonesia

Dokter bukan cuma pengobat. Dimasa lalu dokter adalah bagian dari kaum intelektual yang berjasa bagi Indonesia.

dr Cipto

Di jaman Majapahit, seorang tabib pernah membunuh Raja lalim bernama Jayanegara. Karena sang tabib bernama Ra Tanca itu sakit hati karena istrinya digoda oleh sang Raja. Padahal Ra Tanca salah satu putra terbaik Majapahit. Menjadi tabib raja bukan hal sembarangan. Dia harus kuasai ilmu kedokteran kuno. Di jaman setelahnya tidak ada cerita tabib lagi. Tabib kemudian bergeser oleh masuknya ilmu kedokteran dari Tiongkok bahkan barat.

Dokter kemudian profesi popiler. Bukan saja karena pentingnya dalam dunia kesehatan masyarakat. Tapi juga peran politisnya dalam sejarah Indonesia, disamping kaum militer, rakyat pejuang dan terpelajar lainnya. Namun, peran dokter dalam perbaikan masyarakat makin menghilang.

Mencetak Dokter Jawa

Lalu muncul istilah Dokter Jawa Mereka juga seperti tabib yang bisa mengobati orang sakit. Bedanya, dokter jawa menguasai pengobatan ala kedoteran barat. Ada yang menganggap dokter jawa di awal sejarahnya setara dengan mantri jaman sekarang. Dokter Jawa adalah lulusan School tot Opleiding voor Indische Artsen (Sekolah Kedokteran untuk Hindia) di Betawi.

Bermula dari sekolah mantri cacar yang didirikan pemerintah kolonial tahun 1849. Karena kekhawatiran pemerintah akan berjangkitnya banyak wabah penyakit di Hindia Belanda. Dan hingga awal abad XX, pes adalah wabah yang mengerikan bersama wabah-wabah lain. Belum lagi adanya penyakit tropis macam beri-beri.

Tentang sekolah dokter Jawa ini, Wikipedia mencatat:

Pada tahun 5 Juni 1853, kegiatan kursus juru kesehatan ditingkatkan kualitasnya melalui Surat Keputusan Gubernemen no. 10 menjadi Sekolah Dokter Djawa, dengan masa pendidikan tiga tahun. Lulusannya berhak bergelar "Dokter Djawa", akan tetapi sebagian besar pekerjaannya adalah sebagai mantri cacar. Selanjutnya Sekolah Dokter Djawa yang terus menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada tahun 1889 namanya diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen (atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi), lalu pada tahun 1898 diubah lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (atau Sekolah Dokter Pribumi). Akhirnya pada tahun 1913, diubahlah kata Inlandsche (pribumi) menjadi Indische (Hindia)…. Nama STOVIA tetap digunakan hingga tanggal 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (atau Sekolah Tinggi Kedokteran). Sempat terjadi beberapa kali lagi perubahan nama, yaitu Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) di masa pendudukan Jepang dan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan Indonesia.[1]

Sekolah Dokter Jawa dianggap berdiri pada tahun 1851. Dengan lokasi awal adalah Rumah Sakit AD Gatot Subroto sekarang. Sekolah ini lalu pindah gedung ke Gedung yang sekarang disebut Gedung Kebangkitan Nasional, Jalan Abdurahman Saleh.[2]

Kawasan Senen hingga Lapangan Banteng, dulu Waterlooplein, adalah kawasan dimana instalasi militer KNIL berdiri. Ada yang menyebut, STOVIA dalam sejarahnya terkait dengan kedokteran militer KNIL. Lulusannya maupun pengajarnya ada yang dijadikan dokter militer. Sejarahnya, pada 29 November 1847 Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan akan memanggil pemuda-pemuda pribumi untuk dididik menjadi juru kesehatan. Mereka yang memenuhi syarat akan dididik di Rumah Sakit Militer.[3]

Para lulusan STOVIA tidak dianggap dokter penuh seperti dokter lulusan universitas di Belanda. Melainkan hanya setara mantri. Untuk bisa disamakan dengan dokter Belanda, seorang lulusan STOVIA harus melanjutkan ke Negeri Belanda. Salah seorang lulusan STOVIA yang melakukannya adalah dr Abdul Rivai. Seorang dokter Minang yang cukup dikenal dibidang penulisan.[4]

STOVIA hilang. Lalu muncul dia sekolah kedokteran yang setara dengan dokter Eropa. Geneeskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran), disingkat GHS, di Jakarta dan Nederlandsch Indische Artsen School (Sekolah Dokter Hindia Belanda), yang disingkat NIAS, di Surabaya. NIAS berdiri pada 1913, juga seperti STOVIA untul mencetak dokter Jawa juga. Pengajar NIAS adalah dokter-dokter militer KNIL.[5] NIAS dan GHS lalu digabung di Jakarta.

Dokter dan Bekas Mahasiswa Kedokteran.

Tersebutlah dokter Wahidin Sudirohusodo. Kakek dari pelukis terkenal Basuki Abdullah itu. Dialah dokter penting dalam pergerakan nasional. Dia menggaungkan kebangkitan nasional. Dia mengajurkan adanya Dana pelajar untuk membiayai pendidikan pemuda cerdas namun kurang mampu.

Lalu berdirilah Boedi Oetomo, pada 20 Mei 1908. Dimana mahasiswa dokter bernama Soetomo adalah ketua pertama. Berdirinya Boedi Oetomo, bagi sebagian pihak dianggap sebagai momen Kebangkitan Bangsa Indonesia. Soetomo tidak lama di Boedi Oetomo, karena dia kecewa dengan Boedi Oetomo yang makin feodalis. Setelah lulus dan jadi dokter, Soetomomasih bergiat dalam dunia pergerakan hingga kematiannya. Soetomo bergerak dalam organisasi yang lebih besar yang dia dirikan. Seperti Parindra di kemudian hari.[6]

Cipto Mangunkusumo adalah dokter juga. Meski dari kalangan priyayi, Cipto adalah dokter yang egalitarian dan terkesan anti feodalis dan kolonialis. Tahun 1913, dia bersama Suryadi Suryaningrat dan Douwes Dekker, dalam Tiga Serangkai, mereka mendirikan Indische Partij (Partai Hindia). Sebuah Partai Politik pertama di Hindia. Mereka bertiga lalu dibuang pemerintah kolonial ke Negeri Belanda. Pembuangan adalah hal biasa dalam hidup dr Cipto. Tahun 1927, dia diseret ke pembuangan karena dianggap terlibat dalam rencana pemberontakan sekelompok serdadu KNIL Minahasa yang gagal.[7] Cipto juga dokter berani. Dia pernah terang-terangan memakai medali hadiah dari Raja Belanda di bokongnya. Medali itu diberikan atas jasa Cipto ikut memberantas wabah pes di Jawa awal abad XX. Cipto juga pernah mengendarai kereta kuda di area terlarang milik Kesultanan. Itulah bentuk kekurang-ajaran dr Cipto sang pemberontak dimata kaum feodal.

Dokter lain lulusan STOVIA yang kesohor adalah dr Rajiman Widyoningrat yang menjadi ketua BPUPKI diakhir pendudukan Jepang. Dr Ferdinand Lumbun Tobing yang menjadi Residen Republik Indonesia di Sumatra pada masa Revolusi. Dia adalah residen sekaligus dokter gerilya.

Bukan hanya lulusan STOVIA yang punya kontribusi terhadap Indonesia. Beberapa bekas mahasiswa yang tidak pernah lulus bahkan punya andil besar bagi Indonesia. Sebutlah Tirto Adhi Suryo, Suryadi Suryaningrat dan Djamaludin Adinegoro.

Tirto Adhi Suryo (TAS), yang keturunan Bupati di pesisir uata Jawa, adalah tokoh pers kebangsaan. TAS tidak menamatkan studinya di STOVIA. Dia memilih terjun ke dunia jurnalisme.Dimana pada usia belia, sekitar 20 tahunan dia menjadi redaktur Soenda Berita. Lalu dengan bantuan RAA Prawiradiredja, Bupati Cianjur, TAS menerbitkan Medan Prijaji. Melalui Medan Prijaji, TAS telah menggerakan bangsanya melalui bahasanya.[8] TAS harus jalani hidupnya yang tragis juga. Dia alami pembuangan dan kematiannya yang sunyi. Dia kemudian menjadi pejuang yang ditenggelamkan penguasa sejarah bangsanya sendiri.[9] Beruntung dia punya pengikut yang tidak kalah hebat darinya, seperti Marco Kartodikromo—pemuda minim pendidikan barat, namun punya tulisan pedas yang bikin marah pemerintah kolonial.

Djamaludin Adhinegoro adalah bekas mahasiswa kedokteran yang memilih jalan sama dengan TAS. Dia keluar dari STOVIA di tingkat tiga. Dia kemudian menulis dan melakukan perjalanan ke Eropa. Tulisan perjalanannya itu cukup dikenang dalam Melawat ke Barat. Nama Djamaludin Adinogoro kemudian banyak dikenang dalam dunia penulisan di Indonesia. Pernah ada Hadiah Adinegoro untuk dedikasi dibidang penulisan di Indonesia.

Siapa tak kenal Ki Hajar Dewantara? Nama itu yang melekat pada Suwardi Suryaningrat. Lepas dari STOVIA, Suryadi terjun ke jurnalistik. Dimana dia menulis Als Ik eens Nederlander was—yang menentang peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis Napoleon—yang membuatnya dibuang. Suryadi kemudian begerak di bidang pendidikan. Dimana dia mendirikan Taman Siswa yang masih hidup hingga sekarang. Dia mentasbihkan diri sebagai Ki Hajar Dewantara. Dia juga menjadi pernah menjadi Menteri Pendidikan dan salah satu dari sekian banyak pejuang kemerdekaan.

Betapa kita kita tidak boleh meremehkan orang yang tidak selesai kuliah. Meski tidak selesai itu bukan berarti bodoh. Bisa jadi lebih pandai. Mereka bahkan punya banyak kontribusi untuk mencerdaskan manusia Indonesia menuju kemerdekan.

Sabtu Pagi di Kuliah Patologi (1943)

Sabtu di bulan Oktober 1943, sepasukan serdadu Jepang memasuki sebuah ruang kuliah di Ika Dai Gakku (Sekolah Kedokteran) di Jakarta. Mahasiswa di ruangan itu sedang mengikuti mata kuliah Patologi. Dengan senjata siap tembak serta bayonet terhunus serdadu Jepang itu memasuki ruang kuliah.

Banyak mahasiswa yang mengikuti kuliah patologi itu tidak mengerti kehadiran serdadu Jepang itu. Akan tetapi mahasiswa-mahasiswa itu melihat ada beberapa serdadu Jepang memegang gunting dan tondeuse—alat untuk mencukur rambut. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu kemudian mengerti bahwa mereka akan kehilangan rambut mereka. Kepala mereka akan digundul seperti serdadu Jepang, meski mereka—mahasiswa kedokteran itu—bukanlah serdadu Jepang.

Akhirnya para mahasiswa kedokteran itu sadar kedatangan tentara Jepang itu terkait dengan beberapa hari sebelumnya. Mereka menolak perintah penggundulan rambut dari petinggi militer Jepang di Jawa. Sekadar pengetahuan, mahasiswa kedokteran yang umumnya lelaki adalah orang-orang terpelajar dengan pendidikan formal di atas rata-rata orang Indonesia di zaman Belanda. Mereka pun menolak perintah penggundulan itu. Bagi para mahasiswa itu, kepala adalah bagian tubuh yang harus dihormati orang lain. Pengundulan kepala bisa saja dianggap hal tidak senonoh.

Ketika tentara Jepang memasuki ruang kuliah, deretan kursi belakang ricuh. Seorang mahasiswa bersitegang dengan seorang perwira Jepang. Mahasiswa itu adalah I Gusti Ngurah, asal Bali, yang dikenal pendiam oleh kawan-kawannya. Tentara Jepang mengokang senjatanya, bersiap menembak. Para mahasiswi pun menjerit histeris. Beberapa mahasiswa bersiap mengangkat kursi untuk membantu I Gusti Ngurah yang terancam senjata tentara Jepang. Sang perwira Jepang dengan cepat mencabut pistol dari sarungnya.

Pistol sang perwira tidak jadi menyalak. Tapi pipi I Gusti Ngurah kena tampar Ketegangan mulai mereda. Penggundulan paksa akhirnya diteruskan. Satu persatu mahasiswa kehilangan rambutnya hingga tinggal satu millimeterja. Aksi penggundulan kepala mahasiswa kedokteran berlansung cepat. Tentara Jepang menggundul dengan serampangan. Belakangan, mahasiswa harus merapikan sendiri rambutnya di asrama atau tempat lain setelah tentara Jepang menghilang dari ruang kuliah patologi itu.[10]

Setelah para serdadu dan perwira Jepang meninggalkan ruang kuliah Patologi, para mahasiswa beringsut pulang. Sebagaian dari mereka menuju asrama mahasiwa di Prapatan 10 dan asrama Cikini 71, Jakarta. Mereka berencana melakukan aksi sebagai rekasi atas penggundulan serdadu Jepang yang baru saja mereka alami.

Berita itu sampai ke beberapa orang pergerakan, salah satunya, Harastuti Subandrio, seorang dokter wanita yang sudah menikah. Minggu pagi, dokter itu mendatangi mahasiswa. Dokter itu berusaha ikut menyelesaikan masalah mahasiswa calon dokter itu. Wanita ini berusaha menghindarkan mahasiswa kedokteran itu dari amarah serdadu Jepang yang tidak segan menembaki mahasiswa itu.

Hari berikutnya, Prof. dr. Achmad Mochtar mengingatkan mahasiswa agar kembali ke bangku kuliah seperti biasa karena pemerintah balatentara Jepang akan bertindak semakin keras jika pemogokan diteruskan. Mahasiswa menolak himbauan sang rektor.[11]

Peristiwa di ruang Patologi adalah bentuk perlawanan mahasiswa kedokteran di masa pendudukan Jepang. Beberapa mahasiswa kedokteran Jakarta adalah pengikut Syahrir yang militan. Mereka bergerak dengan cerdas hingga tidak menjadisantapan Kenpeitai (Polisi Rahasia) Pendudukan Jepang.

Calon Dokter Pegang Bedil

Dimasa revolusi, banyak bekas mahasiswa kedokteran di jaman pendudukan Jepang yang bergabung dengan Tentara Nasional—sejak masih bernama Bdan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bekas mahasiswa kedokteran itu kemudian menjadi perwira karena latar belakang pendidikan mereka. Setidaknya letnan, kapten dan seterusnya. Tergantung nasib dan kepemimpinannya. Beberapa mahasiswa kedokteran memang pernah mendapart latihan militer singkat Daidan (Batalyon) PETA[12] Jakarta.

Beberapa bekas mahasiswa kedokteran bahkan menduduki jabatan penting di kemiliteran. Ada Daan Yahya yang menjadi Komandan Militer di Jakarta. Eri Sudewo yang sempat menjadi Panglima Divisi Siliwangi. Revolusi memaksa mereka untuk angkat senjata. Revolusi juga membuat mereka jadi tentara.

Selain bekas mahasiswa kedokteran. Beberapa dokter juga ditentarakan. Biasanya mereka diberi pangkat mayor. Dimana mereka harus menjadi dokter yang dibutuhkan tentara dan mengobati siapa saja. Diantara dokter itu, banyak yang masih konsisten sebagai dokter di tentara. Ada juga dokter yang dapat tugas diluar kedokteran.

Dr Rubiono Kertapati adalah orang penting dalam intelejen ketika Sukarno berkuasa. Dimana Rubiono terbiasa menjadi analis intelejen bagi Sukarno.[13] Dia bahkan dikenal sebagai Bapak Persandian Indonesia. Dia aktif dalam Depatemen Pertahan ketika Republik baru berdiri. Dia punya pangkat Letnan Kolonel.

Subandrio, yang Kepala Biro Pusat Intelejen, juag seorang dokter. Dia dokter yang dekat dengan Sukarno. Pasca kudeta G 30S yang gagal, Subandrio termasuk orang yang bernasib sial. Dia dikutuk dan lama dipenjara oleh orde baru. Baru bebas ketika orde baru tumbang. Subandrio dianggap dekat dengan PKI oleh beberapa pihak.

Lalu siapa dokter paling kaya dalam sejarah Indonesia? Kita bisa menunjuk Ibnu Sutowo sebagai jawaban. Bagaimana tidak, keluarga Sutowo adalah keluarga kaya hingga saat ini. Ibnu Sutowo adalah dokter lulusan NIAS Surabaya. Dia kemudian berdinas di Sumatra cukup lama. Menikah dan kemudian ikut revolusi disana. Dia bahkan sempat menjadi Panglima Komando Militer Sumatra selatan—yang kemudian di sebut Sriwijaya. Nasibnya sama seperti Eri Sudewo di Siliwangi Jawa Barat. Dari Sumatra Selatan, Ibnu Sutowo ditarik ke Jakarta. Dia termasuk dekat dengan Ahmad Yani yang pernah jadi KSAD sebelum G 30 S. Sutowo juga jadi jenderal. Dia bersama Eri Sudewo adalah contoh sedikit dokter yang jadi Jenderal. Hebatnya lagi, setelah jadi jenderal tentara, Ibnu Sutowo adalah Direktur Pertamina. Dari jaman Sukarno hingga Suharto. Di Pertamina, Ibnu dianggap pejabat korup dan dibenci mahasiswa Demonstran. Mulai dari demonstrasi 1966 maupun 1974. Kasus korupsi Pertamina yang sempat muncul lalu ditenggelamkan oleh orde baru.

***

Begitulah cerita tentang dokter-dokter di Indonesia. Sebuah bagian dari kelompok Intelektual Indonesia. Banyak nama dokter yang punya jasa bagi Republik ini. Hingga ada yang jadi nama jalan. Ada juga yang masuk sel. Ada yang terkenal karena tulisannya. Ada yang memang dikenal karena dedikasinya pada dunia kedoteran Indonesia. Ada juga yang bermain minyak dan lainnya.

Cerita dokter Indonesia mungkin agak sedikit menjengkelkan dengan mahalnya biaya ke dokter. Juga diperparah dengan oknum dokter yang malpraktek. Sebuah fenomena yang mengerikan dan berbalik parah jika kita melirik peran dokter dalam kemerdekaan Indonesia.

Biaya kuliah untuk jadi dokter juga mengerikan hingga tidak ada dokter macam Cipto Mangunkusumo. Indonesia nyaris tidak punya dokter macam Guevara.

Ada cerita miris tentang dokter Kuba seputar Gempa 2006 di Jogja dan Klaten dari seorang kawan. Dimana sekelompok dokter Kuba yang akan beri pengobatan gratis dilarang buat Rumah Sakit. Hingga korban luka harus dibawa ke rumah sakit pemerintah yang tidak murah bayarnya. Dimana dokter-dokter Indonesia yang mirip pedagang maut berkeliaran.

Dunia para dokter atau mahasiswa kedokteran juga latar belakang menarik dalam novel sastra Indonesia. Sutan Takdir Alisyahbana menggunakan dalam Layar Terkembang. Marga T dalam Badai Pasti Berlalu.

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/School_tot_Opleiding_van_Indische_Artsen.

[2] STOVIA Gedenboek, 1851-1926, Waltevreden, G Kolff, 1936: Fredrick Willem & Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia, Jakarta, LP3ES, 2005, hlm. 242.

[3] Bali Post, 22 Mei 2005, http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2005/5/22/ars1.html

[4] Kumpulan tulisan dr Rivai bisa ditemukan dalam buku Student Indonesia di Eropa, Jakarta, KPG, 2000.

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Nederlandsch_Indische_Artsen_School

[6] Beruntung dr Soetomo menulis autobiografinya. Buku itu berjudul Kenang-kenangan dr Soetomo.Lihat Fredrick Willem & Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia (Sebelum dan Sesudah Revolusi), Jakarta, LP3ES, 2005, hlm 152-172,

[7] Lihat Petrik Matanasi, Pemberontak Tak Selalu Salah, Yogyakarta, Indonesia Boekoe, 2009.

[8] Takeshi Siraishi, Zaman Bergerak, Jakarta, Grafiti, 1997, hlm. 43-44 & 46.

[9] Tentang TAS dilihat Pramoedia Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta, Lentera Dipantara, 2000. Pramoedia Ananta Toer juga menulis 4 novel biografis terkait kehidupan TAS, Tetralogi Buru yang terdiri dari Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca.

[10] Soejono Martosewojo dkk, Mahasiswa ’45 Prapatan 10: Pengabdiannya 1, Bandung, Patma, 1984, hlm. 27.

[11] Ibid., hlm. 28.

[12] PETA: Pembela Tanah Air adalah tentara sukarelawan yang dibentuk Jepang untuk mempertahankan Jawa dari serangan sekutu. PETA dibentuk tahun 1943. Mantan PETA menjadi pendominasi dalam ketentara Republik setelah Indonesia merdeka.

[13] Lihat Ken Conboy, Intel: Menguak Dunia Intelejen Indonesia, Jakarta.