Rabu, Juni 30, 2010

Enrekang-Tana Toraja, Negeri Diawan


Menginjak Tana Toraja membuat saya bernyanyi sebuah lagu yang populer waktu saya kecil. Negeri Diawan judulnya. Yang video klipnya sangat bagus sekali.
Naar de Tana Toraja
Saya terbangun ketika bus malam yang saya tumpangi sudah mencapai Enrekang. Artinya, dari Makassar saya sudah melewati Maros, Pangkajane Kepulauan, Barru, Pare-pare dan Sidrap. Saya teringat, pemandangan di jalan-jalan menuju Tana Toraja begitu indah. Saya pun tidak bisa memejamkan mata lagi. Hari masih subuh, namun pelan-pelan pemandangan indah mulai terlihat.
Pelan-pelan, hari mulai terang. Barisan pegunungan yang berselimut kabut begitu indah di daerah Enrekang. Jalan menuju Tana Toraja dari Enrekang terus menanjak. Serasa bus akan mendekati awan.
Setelah melewati kota Enrekang yang begitu kecil, bus terus berjalan menanjak lagi mengitari lereng-lereng gunung. Di seberang gunung, masih ada gunung lagi yang lebih tinggi dengan dengan hanya dibatasi sebuah jurang yang cukup jalan. Sekitar 59 KM dari Enrekang, bus akhirnya melewati perbatasan Toraja-Enrekang. Di perbatasan itu terdapat sebuah gerbang tak berpintu dengan dilengakapi beberapa ruangan sebagai pos.
Ketika pagi datang, Tana Toraja masih menyisakan kabutnya. Meski hari sudah terang, beberapa pucuk gunung masih diselimuti kabut. Bukan hal buruk. Namun sebaliknya, disinilah daya tariknya Tana Toraja yang berada di dataran tinggi Sulawesi Selatan.
Pemandangan khas dari Tana Toraja adalah bentuk rumahnya yang agak mirip dengan suku Batak. Menyerupai bentuk tanduk. Bangunan unik khas toraja itu, yang saya lihat kali ini lebih kecil. Sebuah bangunan yang sebenarnya berfungsi sebagai lumbung. Bangunan yang lebih besarlah yang dimanfaatkan sebagai rumah untuk ditinggali sebuah keluarga.
Orang-orang Toraja masih mempertahankan kebudayaan lamanya. Yaqng tentunya sangat berbeda dengan suku Bugis atau Makassar yang terpengaruh Islam. Menurut Yamin Buan, kawan saya yang asli Toraja yang sekarang tinggal di Makassar, agama asli orang Toraja adalah semacam Animisme. Agama yang sekarang berkambang disana masuknya belakangan. Dibeberapa wilayah bahkan baru dianggap beragama ala pemerintah ketika zaman orde baru.
Sebuah pemberontakan terbesar di Sulawesi Selatan, yang mengatasnamakan sebuah agama dominan, konon agak memaksakan masuknya sebuah agama yang dianut pemberontak. Anda yang pernah baca buku sejarah Indonesia pasti bisa menebak agama apa itu, saya enggan sebut merek.
Orang-orang Toraja yang saya lihat adalah orang dengan kulit bersih karena alam mereka yang sejuk. Mereka biasa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Toraja sebagai bahasa ibu. Meraka salah satu masyarakat agraris dengan lahan pertanian yang subur.
Mereka tergolong sebagai masyarakat yang hidup modern, namun masih menjalankan tradisi lama, seperti pemakaman ala Toraja yang menghabiskan banyak dana. Mempertahankan penguburan orang yang sudah meninggal di bukit berbatu.
Beberapa hari sebelum saya injakan kaki di tanah Toraja, Tana Toraja, terutama di Makale—pusat pemerintahan Kabupaten Tana Toraja—begitu mencekam. Sekelompok masssa yang menolak hasil PEMILUKADA menyerang kantor KPUD Tana Toraja. Kotak suara hasil pilihan rakyat pun dibakar dan menuntut pemilihan ulang. Ketika saya melewati kantor KPUD, kantor itu masih diberi segel oleh polisi.
Selain Makale di Kabupaten Tana Toraja, di kabupaten Toraja Utara yang baru dimekarkan terdapat Rantepao. Keduanya adalah pusat kabupaten. Jarak dua daerah itu sebenarnya berdekatan. Hanya butuh waktu 15 menit dengan berkendaraan mobil. Keduanya adalah kota kecil yang cukup teratur. Makale tidak sedatar Rantepao.

Upacara Kematian
Ada beberapa kuburan batu di Tana Toraja dan Toraja Utara. Semuanya memiliki daya tarik. Upacara pemakaman orang Toraja juga memiliki daya tarik bagi pihak luar. Meski sebenarnya berkabung, upacara pemakaman yang besar-besaran itu terkesan seperti pesta.
Dari pengakuan orang-orang Toraja yang saya kenal, pemakaman itu ramai dan harus memotong banyak kerbau karena banyak anggota keluarga jauh datang menghadiri acara pemakaman itu.
Sebagai bentuk penghormatan pada tamu yang datang, yang kebanyakan dari luar daerah karena banyak orang Toraja merantau jauh dari Toraja, diluar Sulawesi Selatan tentunya. Dan perjalanan menuju Tanah Toraja tentu saja menguras banyak tenaga, maka menghidangkan makanan dalam jumlah besar menjdi keharusan. Tidak hanya bagi sanak keluarga yang dtang dari jauh saja, tapi juga semua yang hadir dalam acara. Itulah jawaban orang-orang Toraja atas betapa mahal dan ramainya upacara kematian keluarga mereka yang telah pergi.
Dalam upacara kematian biasanya dipotong beberap ekor kerbau. Padahal harga kerbau di Toraja cukup tinggi. Maklum, postur kerbau Toraja cukup besar dan nampak sehat. Kerbau Toraja umumnya berbulu. Dan kerbau Toraja adalah harta penting petani Toraja. Sebelum dipotong, kerbau diadu terlebih dahulu. Adu kerbau tentu menjadi tontotan yang mengasyikan bagi banyak orang. Cara penyebelihan kerbau pun dengan mengikuti tradisi lama.
Kadang, upacara penguburan menjadi agenda yang ditunggu-tunggu banyak wisatawan dari luar Tana Toraja. Paling ramai adalah ketika musim libur, dimana banyak anggota keluarga bisa berkumpul lebih banyak.

Menikmati Kota Kecil
Sebenarnya, Tana Toraja cukup menyenangkan. Alam dan kultur masyarakatnya yang masih asli cukup menyenangkan. Karena saya juga penasaran pada daerah lain di Tana Toraja, maka saya tidak bisa berlama-lama di Tana Toraja. Saya harus menuju Enrekang, yang subuh tadi saya lewati. Penginapan di Enrekang jauh lebih murah daripada di Tana Toraja. Jika ingin berhemat, untuk menginap ketika mengunjungi Tana Toraja dalam waktu yang singkat, sebaiknya menginap di Enrekang. Apalagi jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 59 KM.
Daerah ini memiliki pesona alam yang tidak kalah indahnya dengan Tana Toraja. Enrekang memiliki Gunung Latimojong, yang merupakan Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Enrekang juga punya gnung eksotik yang dikenal orang sebagai Gunung Nona, karena bentuknya yang menyerupai payudara wanita. Gunung ini dapat dilihat dalam perjalanan dari Enrekang ke Tana Toraja.
Enrekang dan Tana Toraja memiliki kultur masyarakat yang berbeda. Toraja adalah suku tersendiri di Sulawesi Selatan selain Makassar dan Bugis. Seperti ditulis Pelras. Sementara Enrekang, meski dianggap sebagai bagian dari suku Bugis, lebih merasa sebagai bagian dari Mesenrempulu. Sebuah komunitas yang memiliki perbedaan bahasa dengan Bugis.
Sebenarnya ingin mencari tahu sejarah Enrekang. Tapi sulit mencari jejaknya. Kecuali sebuah monumen perjuangan laskar Harimau Indonesia dan BPRI di jalan poros. Sebuah saksi bisu perjuangan dua laskar penting di Sulawesi Selatan. BPRI (Badan Pemberontak Republik Indonesia) terdapat ditempat lain di Indonesia. Dimana Soetomo alias Bung Tomo, tokoh penting 10 November 1945 adalah pimpinannya. Sementara Harimau Indonesia, hanya ada di Sulawesi Selatan. Walter Manginsidi pernah terlibat dalam laskar ini dalam menghadapi tentara Belanda. Selain monumen tadi, saya hanya ingat jika pasukan pemberontak pimpinan Kahar Muzakar pernah bergerilya melawan TNI di pegunungan Enrekang.
Perjalanan panjang dari Makassar Tana Toraja tentu melelahkan. Sekarang waktunya istirahat. Sambil menikmati dua tanah yang saya sebut saja Negeri di Awan, karena kabut begitu rajin datang kemari.

Senin, Juni 28, 2010

Ziarah Minggu Pagi


Sekian lama di Makassar, saya lebih sibuk kunjungi kota diluar Makassar. Hari inilah saya bisa menyusuri sedikit situs sejarah Makassar dan Gowa.


Hari minggu lagi. Bangun pagi lagi. Kali ini, dengan sepeda motor pinjaman Acil. Dengan badan masih bau, saya meluncur ke Jalan Peristis Kemerdekaan-Urip Sumoharjo-A.P Petarani-Sultan Alaudin-Sultan Hasanudin. Acara pagi ini hanya cuci-mata. Tentu saja ke situs sejarah seperti biasa. Sebuah ritual yang terus saya lakukan sejak kuliah sejarah.

Ada yang kurang dalam perjalanan saya. Mengunjungi makam pemberontak terhebat dalam sejarah Indonesia. Arung Palaka namanya. Saya memasukannya, dan dengan bangga pernah menulis artikel tentangnya dalam buku Pemberontak Tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan di Nusantara.

Saya mengira Arung Palaka dimakamkan di Bone. Ternyata tidak. Di Bone hanya ada keturunan dan penerusnya saja. Beberapa minggu lalu, Andi Irvan Zulfikar menyarankan saya mengunjungi makamnya di Gowa. Dia juga menyarankan saya mengunjungi makam Syech Yusuf—seorang pemuka agama Islam tersohor asal Sulawesi Selatan. Mungkin sekarang saatnya.

Ketika mencapai perbatasan Makasar-Gowa, saya mulai menurunkan kecepatan motor. Saya mencari jalan masuk ke makam Arung Palaka. Saya tidak menemukan plang tulisan Makam Arung Palaka, padahal saya melihatnya tiga hari yang lalu ketika kembali dari Selayar.

Maksud hati saya semula adalah menuju Makam Arung Palaka, namun yang saya temukan justeru makam Sultan Hasanudin. Tanpa pikir panjang, saya ikuti juga plang itu dan berbelok, menuju Makam Sultan Hasanudin. Setelah bertanya arah makam pada seorang tukang besak, saya temukan juga makamnya. Sebuah bangunan gaya lama dan cukup besar.

Makam Sultan Hasanudin, nampaknya bergaya Eropa. Tentu saja ada plang bertulis Pahlawan Nasional-nya. Sayangnya saya hanya bisa memotret sedikit dari luar saja. Tak apalah, saya tidak bisa berlama-lama di depan makam. Saya kembali pada tujuan semula, makam Arung Palaka. Karena masih agak lupa saya ke Balalompoa, rumah kebesaran kerajaan Makassar di Gowa. Bangunan ini cukup megah dan menjadi symbol kebesaran Gowa dimasa lalu. Hanya sebentar saja di Balalompoa, yang masih dalam perbaikan. Hanya memotret dari jauh saja.

Saya pun kembali mencari makam Arung Palaka lagi. Saya kembali ke jalan yang saya lewati sebelumnya dan mengamati plang-plang dipinggir jalan raya yag saya lewati. Akhirnya saya menemukan gerbang bertulis Makam Arung Palaka. Saya pun girang dan langsung menuju makam.

Jalanan menuju Makam Arung Palaka tidak sebagus jalanan ke Makam Sultan Hasanudin. Namun makam Arung Palaka lebih mudah dijangkau dengan berjalan kaki dari jalan raya.

Seperti halnya Makam Sultan Hasanudin, Makam Arung Palaka juga bergaya Barat juga. Terbuat dari batu dan berwarna putih. Makamnya cukup megah dari luar meski agak berlumut, seperti bangunan tua lainnya. Meski dimakan usia, baik makam Sultan Hasanudin maupun Arung Palaka sama-sama masih tampak kokoh.

Rupanya makam Arung Palaka sedang terkunci, maka saya hanya memotret dari luar saja. Meski saya tahu Arung Palaka bukan komunis maupun Sosialis, namun karena perjuangannya juga melawan penindasan maka saya menyanyikan dalam hati lagu Internasionale yang legendaris itu. Sebagai bentuk penghormatan saya atas pejang kemanusiaan yang berani berontak melawan penindasan.


"Bangkitlah kaum yang tertindas. Bangkitlah kaum yang lapar. Cita mulia dalam perjuangan. Senantiasa bertambah besar. Pikirkan adat paham lama, kita masa rakyat yang sadar. Dunia telah berganti rupa, untuk kemenangan kita. Perjuangan Penghabisan, bangkitlah melawan. Internasionale pasti jaya di dunia.Perjuangan Penghabisan, bangkitlah melawan. Internasionalepasti jaya di dunia."

Ini adalah lagu pemberontakan rakyat tertindas di seluruh dunia. Namun Arung Palaka dan pembebas lain dunia banyak yang berjuang sebelum lagu ini ada. Setelah itu saya pergi dengan bangga karena pernah berkunjung ke makam Arung Palaka.

Selanjutnya saya memacu kendaraan saya ke arah Benteng Sombaopu. Benteng terpenting milik Kerajaan Makassar melawan VOC dan sekutunya. Hanya sekitar 30 ment saja dari Makam Sultan Hasanudin dan Makam Arung Palaka. Benteng ini cukup besar dan menjadi pusat perekonomian di Sulawesi Selatan abad XVII. Dimana beberapa perwakilan asing seperti Portugis, Denmark, China dan Belanda pernah berkantor di sekitar benteng.

Di komplek situs sejarah benteng Sombaopu, terdapat museum Kareng Patingalong. Sebagai penghormatan pada penguasa Tallo yang begitu peduli pada ilmu pengetahuan. Dia adalah guru dan pelindung Arung Palaka ketika di Gowa, sebelum berontak. Sangat sedikit koleksi museum ini.

Setelah puas memotret saya meninggalkan komplek benteng Sombaopu. Jadi saya sudah menziarahi empat situs sejarah. Mulai dari makam Sultan Hasanudin; Istana Bolalompoa; makam Arung Palaka dan Benteng Sombaopu. Selanjutnya saya meluncur dengan sepeda motor pinjaman ke arah kota Makasar. karena asal jalan, saya tersesat. berkat jurus primitif saya ketika tidak tahu, bertanya, maka saya pun selamat. Seseorang menunjukan pada saya arah jalan raya menuju Makassar. Tidak butuh uang, cukup bermodal senyum saja.

Ternyata saya menyusuri jalan raya yang melewati Trans Studio, sebuah tempat wisata yang cukup besar. Dimana Yusuf Kalla dianggap berjasa dalam pembangunannya. Setelah itu saya ,elewati pantai Losari yang cukup ramai. Maklum hari minggu. Sebenarnya saya ingin ke Fort Roterdam, namun saya tidak tahu persis dimana tempatnya. Maka saya tunda dulu.

Saya pun berjalan ke arah Masjid Al Markaz-yang dibangun mantan Jenderal M Yusuf. Saya pun teringat plang bertulis makam Diponegoro ketika baru sampai di Makassar, tiga minggu sebelumnya. Saya pun mencari plang itu dan menemukannya. Saya ikuti plang itu dan menemukan juga makam Diponegoro. Pemberontak yang tidak diakui oleh kaum nasionalis. Malang sekali.

Bagi saya Pangeran Diponegoro jelas-jelas berontak pada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Meski bukan hal memalukan, menganggap Diponegoro sebagai Pemberontak karena tujuan dia berontak sangat mulia juga, melawan keserakahan pemerintah kolonial yang sok modern dengan menyerobot tanah makam leluhur Diponegoro dan kemudian membangun rel keretapi diatasnya. Sebuah hal politis untuk mencap semua pemberontak adalah salah. Karena teladan dan kharisma Diponegoro yang besar, maka gelar suci Pangeran DIponegoro sebagai pemberontak hebat di nusantara pun dihilangkan. Dasar Nasionalis picik.

Kampung kelahiran nenek saya adalah kampng yang berdiri pasca Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro. Setelah Diponegoro ditawan, maka pengikutnya pun bubar dan membangun banyak kampung di sekitar daerah Temanggung, Bagelen dan lainnya. Jadi riwayat saya maski tersangkut oleh Diponegoro, meski saya bukan turunannya. Mungkn keturunan pengikutnya.

Dengan makam Pangeran Diponegoro, maka sudah lima situs saya ziarahi. Selanjutnya saya kembali lagi ke Tamalanrea, basecamp saya. Untuk menulis lagi tentang perjalanan ini. Dan tentu saja mengembalikan sepeda motornya Acil.

Jika saya hidup di zaman perang Jawa, saya memilih ikut berontak dengan Pangeran Diponegoro. Dan jika saya hidup di zaman orang Bone dikerja-paksakan, maka saya memilih bergabung dengan Arung Palaka, meski saya bukan orang Bugis.

Jumat, Juni 25, 2010

Sambil Memantau Jalan-jalan di Selayar


Pesta Demokrasi lagi. Kali ini di Selayar. Lagi-lagi bukan sebagai pemilih. Berkali-kali saya sia-siakan hak pilih saya. Saya tidak pernah menyesalinya. Bagi saya, melihat orang lain pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan mencoblos pilihannya, daripada saya mencoblos.
Beruntung saya mendapat kesempatan sebagai pemantau PEMILUKADA (Pemilihan Umum Kepala Daerah). Dimana saya hanya perlu mendatangi TPS, lalu melaporkan hasil perhitungan suara ke Jaringan Suara Indonesia (JSI), melalui SMS saja. Bukan hal sulit. Bahkan lebih terkesan menyenangkan buat saya. Melihat orang berbondong datang ke TPS dan mencoblos pilihannya, sebagai ujud peran serta mereka dalam kehidupan bernegara dan berdemokrasi tentunya. Sayangnya saya terlambat datang ke TPS.
Namun bagaimanapun, hal yang membaut saya senang adalah saya bisa berkeliling Selayar. Saya tidak peduli dengan politik. Disini saya hanya memantau pemilu dan tidak perlu pusing dengan para kandidat pemilu. TPS bisa menjadi ajang silaturahmi bagi banyak orang. Dimana mereka bisa bertemu dan bersenda-gurau. Meski mereka punya pilihan berbeda dan berpotensi pada konflik. Hal terpenting ketika saya memantau PEMILUKADA adalah saya bisa belajar sedikit tentang orang-orang Selayar yang sebenarnya heterogen dimasa kini. Selayar adalah daerah wisata laut yang cukup menarik dan mulai dikembangkan, seperti Taka Bonerate yang merupakan area menyelam. Sayang saya tidak bisa kesana. Mungkin bukan sekarang.
PEMILUKADA adalah hal yang memungkinkan saya berada disini. Karena dengan menjadi pemantau maka saya diberngkatkan kemari. Karena saya tidak suka politik praktis, untuk saat ini, maka saya enggan bicara politik. Dan catatan ini bukan tntang PEMILUKADA, tapi sedikit catatan tentang Selayar yang baru saya kenal.

Selayar Asing Buat Saya
Selayar, ini adalah sebuah kepulauan yang indah. Saya tidak pernah mengetahui secara pasti letak pulau ini sebyenarnya. Dua minggu terakhir, saya makin sedikit memahami letak geografis Sulawesi Selatan. Saya bahkan tidak pernah memasukannya dalam gambar peta yang saya buat ketika SD dulu. Karena saya hanya mengerti Sumatra, Papua, Sulawesi, Jawa, Madura, Bali dan tentu saja Kalimanatan—tanah dimana saya dibesarkan. Beruntung bisa menjejakan kaki di pulau kecil ini, setelah menjejakan kaki di Sulawesi.
Untuk mencapai pulau ini, dari Makassar kita harus menyusuri beberapa (kota) Kabupaten di selatan provinsi Sulawesi Selatan—seperti Gowa, Takalar, Bantaeng lalu Bulukumba. Semuanya bisa memakan waktu sekitar 6 jam, termasuk istirahat makan di jalan. Di Bulukumba, kita harus menunggu kapal ferry untuk menyebrang di Pelabuhan Bira, Bulukumba. Dari Bira, diperlukan waktu setidaknya sekitar 2 jam untuk mencapai Pulau Selayar.
Kapal biasanya merapt di sore hari dan baru berangkat menjelang senja. Pemandangan sore hari di Bira cukup indah ketika matahari terbenam. Di sore itu tentu saja dipenuhi oleh hiruk-pikuk bongkar-muat kapal yang cukup ramai. Menyebrang menuju Selayar bukan hal mudahr. Gelombang laut yang kencang membuat kapal bergoyang. Itu yang kami rasakan. Berkali-kali kapal oleng. Meski menakutkan, para penumpang umumnya cukup mhiaklum atas kondisi ini.
Setelah dua jam lebih kapal merapat juga. Tidak mudah merapatkan kapal. Karena beberapa mil sebelum daratan pulau Selayar, ada sebuah area dengan gelombang keras. Hal ini tentu mempersulit dan membuat kapal harus berjalan melambung mengitari laut untuk mencapai pelabuhan Selayar. Pengalaman awak ferry menghadapi hal semacam ini, akhirnya membuat kapal merapat juga.
Pusat Kepulauan Selayar adalah daerah Benteng—sebuah kecamatan besar yang dan paling ramai Selayar. Dari pelabuhan, diperlukan waktu sekitar 2 jam perjalan dengan mobil ke Banteng. Angkutan darat di Selayar adalah angkutan mobil yang biasa disebut pete-pete (istilah yang sama dengan yang d kota Makassar) atau ojek. Di pulau ini biaya hidup tinggi, jauh lebih tingggi daripada Makassar. Selayar adalah salah satu daerah wisata laut di Indonesia. Daerah Taka Bonerate adalah area menyelam banyak diminati.
Ini adalah kesekian kalinya saya berada di sebuah daerah, yang mana bahasa dan kultur masyarakatnya tidak saya pahami. Bahasa daearah di Selayar mirip dengan bahasa di Makassar. Meski masyarakat sehari-harinya berbahasa daerah, cukup banyak orang-orang di Selayar bisa berbahasa Indonesia.
Selayar mengingatkan saya pada Nias. Dimana banyak orang Nias yang masih belum bisa berbahasa Indonesia. Sebenarnya hal semacam ini adalah wajar di luar pulau Jawa. Dimana anak-anak kecil hanya bisa menggunakan bahasa daerahnya, karena itulah bahasa ibunya. Seorang anak baru bisa berbahasa Indonesia biasanya menginjak usia 10 tahun, bahkan lebih. Saya tidak alami kesulitan berkomunikasi di Selayar. Karena memang banyak orang Selayar yang bisa berbahasa Indonesia.

Naik Onthel lagi
Di Selayar, kami (rombongan pematau), menginap di rumah Pak Syamsudin, ayah kawan kami Dian yang asli Selayar. Cukup menyenangkan lagi seperti di rumah-rumah dan keluarga yang pernah saya singgahi di Sulawesi Selatan. Semua memiliki keramahan dan keunikannya masing-masing. Dengan Pak Syamsudin, saya cukup nyaman mengobrol tentang Jawa. Dimana Pak Syamsudin pernah tinggal di Bogor dan belajar pertanian di IPB. Obrolan kami pun akhirnya beralih ke onthel. Setelah obrolan Onthel itu saya pun minta izin mempergunakannya esok hari untuk ke TPS.
Dengan onthel pinjaman, saya sedikit bisa menjelahan kecamtan Benteng. Mengingatkan saya pada masa-masa kuliah ditahun 2005 hingga 2007. Dimana saya pergi kuliah ke kampus atau pesiar keliling Jogaj dengan Onthel. Kendaraan yang satu ini memang punya sejarah khusus dengan saya. Sepeda kadang identik dengan orang yang belum mampu membeli sepeda motor. Memang tapi tidak sepenuhnya itu bentuk keprihatinan. Bagaimanapun gaya hidup tidak selalu sepenuhnya dikarenakan isi kantong. Beberapa orang kaya kadang memilih sederhana. Dan mereka juga suka bersepeda.
Kali ini saya bersepeda bukan alasan kondisi ekonomi. Bukan perkara murah saja. Sepeda lebih efektif untuk menyusuri desa-desa di sekitar Benteng. Apalagi onthel adalah kendaraan yang cukup seksi karena unik. Kata Pak Syamsudin, onthel punya daya tarik bagi orang-orang berumur, apalagi yang sudah mapan. Onthel juga pernah jadi raja jalanan yang cukup melegenda. Dan Onthel masih diminati banyak usia, meski pengoleksinya cukup sedikit.

Nekara Raksasa
23 Juni 2010, waktu saya banyak saya habiskan dengan Onthel pinjaman dari Pak Syamsudin. Selain keliling kota, saya kayuh Onthel untuk mencari lokasi gong raksasa berupa nekara perunggu. Nekara itu membuat saya penasaran juga. Malam sebelumnya, sebelum tidur, Pak Syamsudin bercerita pada saya soal nekara raksasa itu.
Karena punya nilai Historis, sudah pasti saya penasaran.
Dan sore itu saya datangi lokasi nekara yang tidak jauh dari sebuah masjid. Tidak jauh dari tempat penyimpanannya yang cukup megah, terdapat rumah juru kunci. Ketika saya mendatangi rumah itu. Sang juru kunci tidak ada. Hanya ada dua gadis muda yang cukup mabnis saya pikir. Pada mereka saya bertanya dimana juru kunci berada. Tapi mereka justru memberi saya kunci tempat penyimapan. Saya heran sekaligus senang. Perjalan yang tidak sia-sia. Tidak apa tidak bertemu juru kunci, karena kuncinya ada dan yang memberi dua orang gadis muda yang manis-manis.
Sayangnya, saya tidak bisa memotret nekara. Pencahayaan kamera HP saya tidak bisa diharapkan. Tidak lama saya datang datang empat pemuda yang juga penasaran dengan nekara tadi. Kami berbincang sambil menganati nekara yang kami pikir sudah tidak asli lagi bentuknya dengan ketika ditemukan. Seperti ada tambalan dan renovasi.
Nekara ini ditemukan oleh seorang petani di Selayar, pada tahun 1600an. Dimana kemudian nekara tadi menjadi pusaka dua kerajaan yang pernah ada di Selayar yakni Pontobangun pada awalnya lalu oleh kerajaaan Matalalang. Benda besar ini cukup menarik dan semoga tidak dicuri. Karena ini adalah harta kolektif orang-orang Selayar.

Ngobrol Dengan Pelaut Phinisi
Di TPS, saya bertemu pemantau dari partai. Wajahnya mirip Abdel (pasangannya Temon dalam sebuah komedi disebuah TV swasta). Kita sebut saja pria ini Abdel. Saya kaget, dia ternyata seorang pelaut tradisonal. Lebih tepatnya dia pelaut di sebuah kapal phinisi. Kapal khas Bugis. Dia adalah turunan Bone. Ayah dan kakeknya adalah pelaut seperti dia juga. Meski tidak terlalu menguntungkan secara ekonomis, darah pelaut mengalir keras ditubuhnya. Dia pernah ke Timor Leste, ketika Negara kecil itu masih NKRI. Tapi dia lebih sering ke Surabaya.
Abdel memberitahu saya sedikit soal Phinisi. Dulunya kapal phinisi diawaki 14 orang. Dimana awak kapal merangkap kuli angkut ketiak kapal bongkar muat. Namun sekarang kapal phinisi bisa diawaki 8 orang saja. Karena kuli angkut sudah disediakan pihak pelabuhan. Tentu saja penghasilan pelaut agak berkurang karena tidak ada kerja angkut-angkut lagi. Kedelapan awk itu terdiri dari nakhoda, tiga petugas kebersihan kapal, tiga juru mesin dan seorang juru masak.
Kapal phinisi kebanyakan dibuat di Bulukumba, Sulawesi Selatan, memang terkenal dalam hal ini. Biasanya kapal bisa dibuat dalam kurun waktu antara enam bulan hingga setahun. Semua kembali dari ada tidaknya bahan baku utama, yakni kayu. Kayu beberapa tahun terakhir memang sulit dicari, pasca naiknya SBY yang memperketat penebangan hutan untuk kayu. Sebuah kebijakan yang membuat kayu menjadi barang langka.
Hingga akhirnya kebudayaan fisik yang dibuat dari kayu semakin langka juga. Banyak rumah adat dari kayu, seperti banyak didapati di luar Jawa, menjadi sulit dibangun karena orang-orang banyak beralih ke rumah batu. Begitu juga dengan kapal-kapal kayu yang menjadi bagian penting budaya maritim Indonesia. Itulah efek buruk kebijakan masa kini. Kebijakan yang merusak sebuah kultur tanpa disadari.
Jatah waktu untuk Selayar dari saya tidak banyak, jadi esok paginya saya harus kembali ke Makassar. Sebuah perjalanan panjang yang diiringi hujan pagi. Namun tidak lama karena laut tampak cerah. Lagi-lagi saya malas mandi sebelum meninggalkan Selayar.

Minggu, Juni 20, 2010

Wisata Pagi Ini, Bantimurung


Saya belum mandi pagi ini. Dengan sepeda motor pinjaman dari Iwan, saya meluncur ke Maros pukul 07.00 pagi. Jalanan agak sepi. Kendaraan saya pacu tidak lebih dari 60 KM/jam. Satu jam kemudian saya mencapai jalan poros Maros-Bone. Tidak sulit mencapai jalan itu, selain jalannya cukup baik, juga saya mengerti jalur itu ketika menuju Bone beberapa hari yang lalu. Acara minggu pagi saya kali ini adalah ke Bantimurung.
Ini adalah wisata saya ke tempat wisata terkenal selama perjalanan saya ke Sulawesi Selatan. Saya memang menghindari daerah tujuan wisata, karena pengalaman yang tidak menyenangkan di Jawa. tempat wisata di Indonesia tidak bisa menjamin privasi seseorang karena gangguan pedagang asongan yang sebenarnya setengah memaksa agar barangnya dibeli. Hal yang sulit dihindari juga, karena mereka juga cari makan.

Liang Leang-leang
Beberapa bulan lalu, seorang kawan wanita saya zaman SMA, bercerita pada tentang taman yang terdapat kupu-kupunya. Maksudnya Taman Nasional Bantimurung. Tapi itu bukan tujuan pertama saya. Karena seorang kawan saya di Jogja pernah bercerita tentang desa Leang-Leang, yang penuh gua. Ketika saya ke Bone, saya melihat ternyata jarak Leang-leang dengan Taman Nasional tidak jauh dan sejalur. Dimana Leang-leang pertama dilewati sebelum Taman Nasional Bantimurung. Maka saya pun putuskan ke Leang-Leang dulu.
Tidak sulit mencari jalan masuk menuju desa Leang-Leang. Cukup mencari kantor camat Bantimurung, maka kita akan temukan gapura bertulis Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang. Masuklah ke jalan tersebut, dan seterusnya ikuti jalan desa yang sebagian mulus sebagian kecil berlubang. Jika anda bingung, bertanyalah pada penduduk sekitar jalan. Mereka tentu akan menjawab dengan ramah jika anda bertanya dengan ramah juga tentunya. Tenang saja penduduk disini cukup ramah.
Di sepanjang jalan, saya melihat sawah-sawah yang luas. Dimana banyak saya lihat serangga beterbangan diatas tanaman padi milik petani. Banyak gunung-gunung di desa ini, tapi saya tidak menghitungnya.
Untuk mencapai Desa Leang-leang untuk menemukan goa dan taman prasejarahnya, saya harus masuk sekitar 6 KM. Sebelum saya mencapai desa Leang-leang, saya menemukan gua Leang Burung I dan II. Saya hanya memotret sebagian saja dan meneruskan perjalanan ke desa Leang-leang yang jaraknya dari gua Leang Burung sekitar 1,5 KM.
Saya tiba di des Leang-leang sekitqar pukul 08.00 lebih. Setelah memarkir sepeda motor dan membayar bea masuk hanya Rp 5.000, saya mulai berjalan menuju gua. Ditemani Aba, seorang juru kunci yang masih muda. Pada saya Aba bercerita banyak soal gua Leang-leang itu.
Pintu masuk gua sengaja dikunci karena situs gua-gua disini adalah situs sejarah yang dilindungi. Saya dengan ditemani Aba, melewati taman terlebih dahulu sebelum tiba di mulut gua. Belum sampai mulut gua, saya melihat tangga besi yang cukup tinggi untuk naik. Gua ini adalah Petta Kere. Didalamnya ditemukan lukisan dinding bergambar babi rusa dan telapak tangan manusia. Ketika ditemukan gua, di gua ini ditemukan alat batu serpih bilah dan mata panah. Mungkin saja manusia purba disini hidup dari berburu dan meramu.
Saya sekuat tenaga manaiki tangga dan menyusuri gua dengan menunduk atau memiringkan badan. Saya rasa semua orang bisa lalui apa yang saya lalui. Dan sesekali memanjat untuk melihat lukisan dinding purba yang ditunjukan Aba. Meski agak gelap saya berusaha memotret lukisan dinding itu dengan kamera HP 1 MP, yang tentu saja tidak baik hasilnya. Susur gua ini cukup melelahkan dan menyenangkan. Saya berkeringat dan terengah-engah.
Saya tidak lama di gua ini karena saya akan menuju gua yang lain. Jaraknya tidak jauh dari Petta Kere. Jalannya juga cukup baik. Gua itu masih termasuk dalam taman prasejarah Leang-leang. Gua ini tidak setinggi gua Petta Kere, tapi saya lupa nama gua ini. Disini sya tidak perlu memanjat lagi. Disini juga terdapat lukisan dinding. Di dua gua ini saya hanya foto-foto. Udara disini cukup sejuk di pagi hari.
Pada saya Aba bercerita, banyak arkelog dan wisatawan asing mengunjungi gua purba ini. Wisatawan dalam negeri sangat jarang ke Taman Prasejarah ini. Saya bisa memaklumi jika tempat ini agak sepi. Biasanya, para arkeolog kadang bermalam di gua dengan asyik-nya. Tentu saja tidak merusak sedikitpun, hanya menikmati hidup di gua dan menikmati lukisan dinding gua yang kecil. Aba juga menyayangkan adanya coretan, meski tidak banyak, buatan manusia masa kini yang mengaku beradab.
Setelah menyusuri dua gua yang tidak dalam namun indah itu, saya dan Aba menuju museum gua. Dimana disajikan artefak berupa pecahan alat dari batu milik manusia prasejarah. Ada juga keterangan tentang gua-gua di sekitar Leang-leang, Aba mengatakan pada saya, ada sekitar 50 gua prasejarah di sekitar des Leang-leang. Namun tidak semuanya memiliki lukisan dinding.
Leang adalah bahasa Bugis untuk gua atau liang. Tidak salah jika desa yang masuk dalam Kecamatan bantimurung, Kabupaten Maros ini diberi nama Leang-leang. Salah satu tempat wisata menarik juga.
Sepertinya saya harus kesini lagi suatu hari. Untuk menjelajahi gua-gua yang lain. Dari museum saya pamit pada Aba menuju Bantimurung. Senang bisa bertemu orang muda seperti Aba yang cukup mengerti soal saya pikir.

Melihat Kupu-kupu
Taman Nasional Bantimurung tidak jauh dari Leang-leang. Masih satu kecamatan. Di gerbang masuk taman nasional ini terdapat patung kupu-kupu yang cukup besar dipinggir jalan poros Maros Bone. Jadi tidak sulit mencapainya. Seperti Leang-leang yang harus masuk kedalam sepanjang 6 KM.
Setelah parkir sepeda motor dan beli tiket masuk, maka saya pun masuk. Tiket masuk hanya Rp 10.000. Tidak malah. Udara di taman nasional juga cukup sejuk. Tidak juh dari pintu masuk terdapt museum kupu-kupu. Dimana terdapat beberapa kupu-kupu yang diawetkan dan dipajang dengan keterangan speciesnya. Museum kupu-kupu ini adalah andalan dan ikon taman nasional Bantimurung. Dimana banyak anak-anak kecil disekitar Bantimurung suka menangkap kupu-kupu, seperti yang saya temui dalam perjalanan ke Leang-leang. Mereka menggukan jaring-jaring penangkap kupu-kupu biasanya. Di dekat pintu masuk juga banyak pedagang kaki lima yang menjajakan jupu-kupu yang sudah diawetkan.
Disini juga terdapat air terjun. Ini adalah wisata yang paling diminati di Bantimurung daripada wisata gua dan museum kupu-kupu. Banyak anak-anak mandi di air terjun ini. Cukup aman karena dangkal. Saya hanya memotret air terjun dan anak-anak yang nampak ceria bermain air atau berenang. Saya menaiki tangga yang cukup tinggi. Ini tangga kedua pagi ini yang saya naiki cukup melelahkan juga. Selanjutnya saya menyusuri jalan kecil dengan penjual minuman dan makanan dipinggir jalan. Tidak seagresif di tempat wisata di Jawa. Saya melewati danau yang dipagari. Danau ini cukup tenang airnya, namun pernah memakan korban setahun silam. Begitu kata petugas.
Akhirnya saya sampai juga ke ujung area wisata Bantimurung. Sebuah gua. Gua ini cukup gelap dimasuki. Kita bisa menyewa senter untuk masuk dan melihat dinding gua yang mengkilap seperti kristal atau marmer. Di dekat Leang-leang memang ada penggalian batu marmer. Saya tidak masuk gua kali ini, perut saya yang belum saya isi sejak pagi tidak bisa diajak kompromi. Saya hanya mendapat cerita dari Bapak-bapak yang menyewakan senter kalau di dalam gua terdapat tempat bertapa dan air yang bisa membuat kita awet muda.
Saya pun meninggalkan Taman Nasoional Bantimurung dengan perut kroncongan. Saya pun bertekad cari makanan dipinggir jalan. Setelah melewati terminal Bantimurung, saya pun menemukan warung makan kecil. Dengan menu ikan baker dan sup. Saya pun pesan satu porsi kepala ikan tongkol bakar. Begitu disajikan dimuka saya ikan bakar, sup dan nasi saya langsung melahapnya. Sangat nikmat sekali makan pagi ini. Hrganya hanya Rp 8.000. Saya nyaris tidak percaya semurah itu untuk makanan lezat yang baru saya makan.
Setelah membayar, saya pun menuju Makassar lagi. Dengan perut kenyang dan hati puas karena sudah mencapai desa Leang-leang dan Taman Bantimurung yang pernah diceritakan kawan wanita saya yang sekarang entah dimana itu. Dia mungkin salah satu alasan perjalanan saya juga.

Jumat, Juni 18, 2010

Wisata Sejarah Bumi Arung Palaka


Cerita menarik saya dapat lagi. Bukan cuma tentang Arung Palaka, tapi juga Pelras—yang luar biasa tekun meneliti tentang Bugis.

Hidup adalah berjalan. Makanya saya terus berjalan dan belajar lagi. Tujuan selanjutnya adalah Bone. Terlepas karena rasa penasaran soal Bone, juga karena tawaran Irfan, putra daerah asli Bone. Banyak cerita menarik lagi saya peroleh. Itulah gunanya berjalan.
Bukan buang-buang waktu tapi belajar hal baru. Tentu saja harus dibarengi dengan membuka diri tentang banyak hal yang belum tentu kita sepakati. Disinilah kita akan belajar lagi tentang bagaimana menerima sesuatu. Tidak semua yang kita ingini akan kita temukan. Bisa jadi yang tidak kita akan menemui kita. Berjalan tentu membuat kita belajar menerima, sesuatu yang tidak kita ingini. Inilah hidup. Sepertinya sok bijak sekarang. Sudahlah, saya hanya ingin bercerita saja.

Naar de Bone
Sore itu (15/06/12), Makassar hujan rintik-rintik. Agenda sore ini adalah menuju rumah Irfan di Watampone, Bone. Diperkirakan, perjalanan memakan waktu 5 jam. Cukup lama juga. Saya hanya bisa membayangkan jalan rusak meuju Bone. Saya cukup maklum jika jalan diluar pulau Jawa buruk. Jadi bukan masalah jika nantinya saya akan melewati jlan yng buruk. Setelah menunggu agak lama, kami menemukan mobil yang diinginkan Irfan untuk pulang ke rumahnya. Irfan memang tipe manusia pemilih, dalam hal ini memelih mobil.
Mobil kami meluncur mulus menuju Maros. Saya baru tahu Bone lewat Maros. Saya pernah lewat Maros, waktu ke Barru. Mobil lalu mengambil jalan ke arah Bone, di sebuah pertigaan. Jalan yang dilewati mobil makin mengecil. Dan jalan mulai menanjak. Di kanan-kiri jalan perumahan tampak sederhana khas Makassar. Sebagian besar rumah adalah rumah panggung. Hanya sedikit rumah batu yang saya lihat.
Tidak jauh dari jalan raya, di sisi kiri jalan menuju Bone, sebuah bukit tegak lurus berdiri terlihat. Bukit ini mlembentang cukup panjang dari barat ke timur. Jalan yang kami lewati adalah desa-desa yang cukup ramai.
Mobil kami akhirnya melewati Bantimurung. Saya jadi ingat taman kupu-kupu yang cukup terkenal, dan desa Leang-Leang yang menyimpan gua purba beserta lukisan dindingnya. Dua desa di Maros itu membuat saya penasaran, tapi saya tidak bisa singgah. Sepertinya saya harus kunjungi dua desa itu. Mungkin sekembali dari Bone. Rasa penasaran saya pun bertambah lagi.
Lepas dari Bantimurung, jalan semakin menanjak. Pemandangan di kanan kiri jalan menuju Bone begitu hijau. Baik oleh hutan maupun persawahan. Maros masih memelihara tradisi agrarisnya. Karena hari mulai gelap, maka pemandangan indah itu tidak bisa terus saya nikmati. Saya hanya bisa berkata,” woooww keren,” sambil mengacungkan jempol pada Irfan. Hawa dingin makin terasa ketika melewati perbukitan hijau.
Jalan berkelok-kelok dan menanjak, membuat isi perut tergoncang. Namun bukan masalah buat saya, pemandangan indah di perbukitan membuat tubuh saya nyaman juga. Namun ada penumpang wanita di mobil kami harus muntah-muntah, hingga mobil harus berhenti sebentar. Sopir lalu membersihkan muntahan wanita muda itu. Dan saya pilih tidak peduli, seperti orang autis yang sedang berada di dunia lain.
Saya tidak menyesal ke Sulawesi Selatan. Dan masih ingin kembali lagi lain waktu. Jika punya anak, saya akan melatihnya menjadi backpacker sejak dini. Tentu saja saya akan mengajaknya menjelajahi Sulawesi Selatan. Tidak ke Bali bukan masalah, tapi ke Sulawesi Selatan harus!
Jalan menuju Bone, selain menanjak juga berkelok-kelok. Gelap malam membuat saya kurang bisa menikmati pemandangan. Seorang asal Bone yang saya temua di kereta-api Jakarta-Jogaj tahun lalu pernah bilang, tanah di Bone subur. Omongan Bapak yang tidak saya ketahui namanya itu benar juga. Karena ketika mencapai Bone, saya masih melihat banyak persawahan.a
Mobil akhirnya sampai juga di rumah Irfan. Kami beristirahat. Ibu Irfan harus repot lagi, memasak untuk kami. Ibu Irfan lalu menyuruh kami makan malam. Hawa dingin di jalan, membuat kami makan dengan lahap. Setelah itu saya tidur.

Keliling Watampone
Agenda pagi ini adalah pergi ke balai arsip, perpustakaan dan museum. Satu persatu tempat itu pun kami kunjungi. Kami hanya sebentar saja di perpustakaan dan arsip daerah. Selanjutnya kami menuju museum. Jadi hari ini hanya sekitar Watampone.
Museum Lapowawoi nama museum ini. Diambil dari nama raja Bone yang melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di tanah Bone. Lapawawoi Karaeng Segeri tidak bisa lagi berkuasa sejak 1905 karena pemberontakannya berhasil dihabisi serdadu KNIL. Kisah pemberontakan Lapowawoi pernah saya tuliskan dalam buku saya Pemberontak Tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan di Nusantara (Yogyakarta: Indonesia Buku, 2009). Dalam buku ini saya juga menulis pemberontakan raja wanita Bone, Besse Kajuara. Dan tentu saja Arung Palaka sang pembebas Bone.
Tidak ada loket dimana pengunjung harus membayar. Museum tampak sepi. Penjaga museum mempersilahkan masuk. Juga membiarkan saya memngambil foto. Tidak pungutan apapun. Sosok Arung Palaka begitu mendominasi museum. Tokoh ini adalah ikon Bone masa kini. Meski Sejarah nasional versi pemerintah begitu menyudutkan Arung Palaka. Hal ini karena persekutuan Arung Palaka dengan VOC yang kemudian meruntuhkan imperium Gowa di Sulawesi Selatan. Alasan persekutuan itu adalah demi membebaskan Bone yang kala itu dijajah Gowa. Nyatanya alasan Arung Palaka bersekutu dengan VOC untuk membebaskan Bone dari penjajahan Gowa itu tidak bisa diterima begitu saja, apalagi oleh Sejarawqan-Sejarawan berstatus pegawai negeri yang dibayar pemerintah.
Tidak saya sangka, ternyata keturunan raja Bone kebetulan tinggal disitu. Andi Baso Bone, begitu dia perkenalkan dirinya. Awalnya kami hanya mengobrol sekilas saja tentang isi museum. Akhirnya, pelan-pelan kami mengobrol soal sejarah Bone. Tentu saja dalam perspektif orang Bone. Andi Baso begitu fasih bercerita soal Bone, dan tentu saja tentang Arung Palaka.
Tentang Arung Palaka, Andi Baso bercerita bahwa Arung Palaka digambarkan sebagai sosok yang tangguh, cerdas dan berperawakan setinggi 2 meter. Soal Arung Palaka yang kemudian menjadi pemimpin besar bukan hal aneh. Karena Arung Palaka alias La Tenritata pernah tinggal dengan Karaeng Patingalong, seorang Cendikiawan Makassar yang mencintai ilmu pengetahuan dan sangat ahli dalam berdiplomasi. Dari Karaeng Patingngalong ini, Arung Palaka banyak belajar.
Arung Palaka begitu dihormati karena perjuangan heroiknya membebaskan Bone. Andi Hasanudin, salah seorang Budayawan Bugis pernah bilang pada saya Arung Palaka pernah mengunjungi Sultan Hasanudin yang sedang sakit di Istana Balalompoa. Setelah membebaskan Bone, Arung Palaka tidak menaruh dendam pada Gowa—yang pernah menjadi penjajah sekaligus musuhnya.
Arung Palaka, seperti diceritakan Andi Baso Bone, berusaha menciptakan kestabilan di Sulawesi Selatan. Jalannya dengan melakukan perkawinan antar keluarga bangsawan Bugis dan Makassar. Tidak heran jika kemudian raja-raja di Sulawesi Selatan adalah bersaudara sedarah sebenarnya. Karenanya, pasca berkuasanya Arung Palaka, Sulawesi Selatan nyaris tidak terdengar adanya perang saudara yang cukup parah. Hanya ada perang antara orang Bugis melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pembicaraan saya dengan Andi Baso juga menyinggung Christian Pelras yang menulis Manusia Bugis, buku favorit saya soal Bugis. Bertahun-tahun Pelras, yang asli Perancis, belajar tentang Bugis. Pelras mahir berbahasa dan baca-tulis huruf Bugis. Pelras cukup menyelami masyarakat Bugis dengan berlaku layaknya rakyat jelata ketika akan bertemu keturunan raja Bone. Pelras berusaha melihat Bugis dengan menyelami hubungan antara raja dengan rakyat Bugis. “Pelras itu orang Bugis, hanya kulitnya saja yang putih,” kata Andi Baso.
Dari Andi Baso, saya mendapatkan copyan foto We Tenriolle lagi, juga foto suami Belanda-nya Johan Brugman. Perjalanan membuat saya temukan hal baru. Saya menilai, Andi Baso cukup peduli dengan warisan Bone dan memiliki visi melestarikan sejarah Bone. Ketika hari menjelang siang saya dan Irfan pamit dari Museum. Saya beruntung bisa berbincang dan mendapat hal baru dalam kunjungan ke Museum Lapowawoi.
Agenda selanjutnya adalah mengunjungi komunitas Bissu Bone di Gedung Kesenian Bone, Bolasoba. Sore itu komplek gedung kesenian cukup ramai oleh remaja-remaja yang berlatih tari tradisional. Pertanda bagus dalam pelestarian Budaya Bugis. Bissu mungkin bias menjadi agen pelestari budaya Bugis. Bissu dalam pandangan saya adalah orang-orang sakti. Orang-orang menganggap mereka adalah banci. Mereka bisa bermain debus yang membuat kita merinding ketika mereka menusuk leher, mata atau bagian tubuh yang lainnya dengan badik atau keris. Kata bissu sendiri kemungkinan, seperti banyak pendapat ahli Bugis, adalah dari kata biksu (atau pendeta). Zaman dahulu, Bissu adalah penasehat spiritual raja.
Sepulangnya kami melewati sumur penting dalam sejarah Bone, Sumur Laccokkong. Dimana seorang bayi, yang kemenakan raja Bone, sekaligus akan raja Palaka, pernah merasakan air disumur itu ketika bayi. Dimana sehari sesudahnya bayi itu dinobatkan menjadi raja Bone.
Bone, jauh sebelum saya tiba di Watampone, memang identik dengan Arung Palaka. Lukisan diri Arung Palaka dengan gambar pita bertulis “Radja Palacca de koning der Bugish” selalu menjadi perhatian saya disini. Saya begitu hormat padanya atas keberaniannya berontak membebaskan Bone. Tentu saja saya menyempatkan diri berfoto di bawah patung Arung Palaka di Taman Bunga kota Watampone. Tidak biasanya saya mau narsis dekat dengan patungnya, salah satu pemberontak idola saya.
Belajar soal Bugis masih berlanjut tentunya. Malamnya saya belajar lagi soal Bugis. Kali ini berupa obrolan santai dengan Burhanudin, abangnya Irfan. Cukup menyenangkan juga belajar seperti ini. Walau saya tidak yakin akan mengikuti jejak Pelras.
Agenda hari kamis (17/06/10), di Bone adalah mengunjungi Goa Cempalagi atau Goa Janji. Goa ini adalah salah satu persembunyian Arung Palaka dari kejaran tentara Gowa, sebelum menuju Buton. Di Goa ini juga ada perjanjian beberapa bangsawan Bugis, untuk membebaskan Bone—yang kala itu dijajah Gowa. Karenanya goa ini disebut goa Janji. Tentu saja goa ini cukup penting dalam sejarah Bone.
Kami berdua memasuki goa gelap ini setelah menaiki tangga didepan mulut gowa. Jalan masuk goa cukup sempit, namun didalamnya banyak ruang besar. Kami tidak lama didalam goa, karena baterai senter terbatas. Lagi pula kami tidak terlalu mengenal goa ini. Kami kelelahan, meski hanya beberapa meter saja menjelajahi goa. Menurut saya, kadar oksigen di goa ini cukup baik. Karena banyak lobang bercahaya.
Tidak jauh dari goa adalah hutan kecil yang dihuni banyak kalong. Ada juga sebuah situs yang dipercaya jejak kaki Arung Palaka. Menurut penduduk sekitar, air laut yang mengenai jejak kaki Arfung Palaka itu tidak asin.
Dari goa, saya dan Irfan mengunjungi rumah keluarganya, yang tidak jauh dari goa. Irfan pernah menjalani masa kecilnya di desa ini. Bang Arif, saudara sepupu Irfan, mempersilahkan kami naik ke rumah panggungnya yang sederhana. Kami bersantai di beranda. Dimana sanggara’ (pisang goreng) dan es teh lemon dihidangkan. Tentu swaja sambil mengobrol. Irfan dan keluarganya sering bicara dalam bahasa Bugis, yang tentu saja saya tidak mengerti. Tapi bukan masalah bagi saya.
Cukup menyenangkan, menikmati hidangan sambil melihat hamparan sawah hijau dan hembusan angin sore yang meneduhkan. Tidak hanya itu, kami juga disuguhi makanan berat. Setelah puas duduk di beranda, saya dan Irfan pamit. Selanjutnya kami menuju Tanjung Palette, sebuah tempat wisata dipinggir laut Teluk Bone. Saya dan Irfan melewati rumah Yusuf Kalla—mantan Wakil Presiden RI yang sekarang menjadi ketua PMI. Sepanjang jalan yang kami lewati adalah areal tambak yang luas. Dimana masyarakat disini hidup dari Ikan dan rumput laut. Sekolah perikanan juga kami lewati sebelum mencapai gerbang tempat wisata Tanjung Palette. Disini setelah melihat laut, kami berenang di kolam renang. Cukup hanya membayar Rp. 4.000 saja. Hari ini masih menyenangkan. Selanjutnya kami menginap dirumah paman-bibinya Irfan.
Begitu banyak kisah-kisah yang tidak bisa saya dokumentasikan di Bone. Waktu saya sebenarnya terbatas kali ini. Butuh waktu yang agak lama untuk bisa mendokumentasikan kisah-kisah tentang Bone.
Andi Baso bilang pada saya, “harus bertahun-tahun tinggal disini untuk belajar tentang Bugis. Bahkan jika perlu harus beristrikan orang Bugis juga.” Saya setuju poin pertama, tapi poin terakhir agak sulit saya terima karena sulit untuk saya. Tapi suatu kali saya akan kembali lagi, mungkin untuk waktu yang agak lama. Tentu saja meropotkan Irfan lagi. Jum'at siang, kami harus kembali ke Makassar. Bang Bur menghadiahi say sandal jepit. Saya sangat senang sekali, karena akan sangat berguna sekali. Sekaligus menggantikan sandal saya yang hilang. Sandal jepit memang sangat berguna bagi para backpacker, begitu juga saran backpacker berpengalaman, seperti yang saya baca di sebuah majalah.

Senin, Juni 14, 2010

Menyusuri Gowa


Suatu sore, 10 Juni 2010, Acil iseng mengajak saya survey ke Gowa. Tanpa pikir panjang, saya terima tawaran itu. Tidak akan ada ruginya, bahkan akan sangat menyenangkan sekali, karena akan mengunjungi dan melewati banyak perkampungan orang-orang Makassar. Dua hari sebelumnya, saya sudah mengunjungi perkampungan orang-orang Bugis di pantai barat Sulawesi. Saya pun bersiap dan menunda beberapa acara dengan sejumlah kawan yang meminta saya berdiskusi soal penulisan. Tidak ada yang keberatan, jadi saya semakin bersemangat untuk ikut Aci survey ke Gowa.

11 Juni 2010
Setelah menyandang ransel, saya bersama Acil, Irfan dan Muhtang, menuju sebuah desa teerpencil di Gowa. Untuk mencapai desa itu kami harus menyusuri jalan poros Gowa, Takalar dan Jeneponto. Perjalanan panjang ini kami lalui dengan bermotor. Sepanjang jalan saya masih melhat rumah-rumah orang Makassar, yang bentuknya tidak jauh berbeda rumah orang Bugis. Sepengelihatan saya, rumah-rumah orang Makassar yang kami lewati banyak yang memakai dinding seng.
Kata Acil, kawan seperjalanan saya, di Jeneponto ada coto kuda. Karena kami belum sempat sarapan pagi, maka kami pun mampir menikmati coto kuda. Coto kuda tidak berbeda dengan coto Makassar pada umumnya. Hanya daging kuda saja yang membedakannya. Karena biasanya coto Makassar menggunakan daging sapi. Tidak butuh waktu lama menikmati coto kuda. Karena kami harus bergegas ke desa Biringbulu.
Sulawesi selatan memiliki populasi kuda lebih banyak dengan daerah bagian utara. Saya tidak banyak melihat kuda di daerah Barru. Dari apa yang saya ketahui, Jeneponto tidak jauh dari Bulukumba—dimana daerah itu terkenal dengan kudanya. Kuda yang saya lihat sepanjang jalan sedikit lebih besar dari kuda Sumba.
Kami tidak lama ke Jeneponto, karena kami harus berbelok menuju Biringbulu, yang merupakan bagian dari Kabupaten Gowa. Sebuah distrik yang sebenarnya lebih dekat dengan Jeneponto ketimbang Sungguminasa, yang merupakan pusat Gowa.
Setelah menikmati jalan aspal yang begitu panjang, kamipun melewati jalan berbatu. Dengan sepeda motor kami harus merasakan jalan batu berliku. Tujuan kami adalah Biringbulu, tepatnya desa Parangloe. Setelah menyebrangi sungai dengan sebuah jembatan baru, kami harus berjalan menanjak dan akhirnya menemukan sebuah desa yang sudah masuk kabupaten Gowa, tapi bukan Parangloe namun desa Taring.
Jalan desa masih berbatu dan menanjak. Bentuk rumah penduduk masih berupa rumah Makassar. Seperti umumnya petani Indonesia, para petani disini hidup sederhana jika melihat rumah mereka. Penduduk desa umumnya adalah petani Jagung. Hampir di tiap rumah di desa Taring, saya melihat ada kuda. Setidaknya satu ekor tiap rumah.
Selepas desa Taring, kami berpisah jalan. Dua kawan, Irfan dan Muhtang, harus menuju desa Tonrorita, yang letaknya jauh dari desa Parangloe. Tidak lama setelah berpisah dengan dua kawan tadi, saya dan Acil menemukan lagi jalan aspal—sebelum akhirnya tiba di Parangloe.
Rumah yang pertama yang kami tuju adalah rumah kepala desa. Kepala desa tidak dirumah awalnya, namun datang juga tidak lama kemudian—karena waktu Shalat Jum’at hampir tiba. Setelah berbincang dan menyampaikan keinginan kami yang akan melakukan survey, dan mendapat restu dari kepala desa, kami pun pergi Shalat Jum’at. Kepala desa Parangloe adalah mantan prajurit Infanteri Wirabuana—yang pernah dikirim ke Timor Leste. Sosoknya cukup ramah dan santai.
Selesai shalat Jum’at kami pun dijamu makan siang di rumah kepala desa. Kami disuguhi ikan, yang memang menjadi makanan paling digemari orang Bugis dan Makassar sehari-hari. Sorenya, kami berkelana mencari data penduduk desa. Kami menemukan data penduduk di rumah seorang guru muda bernama Siradjudin—yang merupakan koordinator tim sensus di desa.
Karena hari menjelang senja, kami pun diajak menginap dan makan dirumah Daeng Siradjudin. Kami pun menerima tawaran itu dengan senang hati. Aci begitu sibuk dengan data-data desa. Saya pun mengobrol sedikit dengan daeng Siradjudin tentang desanya, termasuk soal jagung, kuda dan sarana umum yang harus disediakan pemerintah pada desa ini. Petani di desa ini umumnya menanam jagung dan kapas.
Acil harus mengunjungi rumah ke rumah, saya pun ikut. Pemandangan desa cukup menarik di malam hari. Melihat bintang dari Parangloe sangat baik karena jarang ada sinar lampu desa ini. Hingga bintang-bintang itu menghampar seperti pasir. Dimana banyak penduduk berbahasa Makassar yang kami tidak paham. Aci, yang Bugis dari Palopo, tidak paham bahasa Makassar. Kami menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara pada siapa saja.
Karena ingin mengenal karakter penduduknya, saya menyempatkan berbincang dengan beberapa penduduk dimuka rumah yang sedang mengadakan pesta. Mereka kadang berbicara dalam bahasa Makassar dengan sesamanya, namun saya sama sekali tidak merasa diacuhkan. Saya justru senang mereka bicara dengan bahasa daerahnya. Walau saya tidak mengerti dan peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Selama berbincang, saya merasakan keramahan mereka.
Saya juga mengobrol dengan seorang guru sekolah dasar yang belum diangkat PNS. Sepertinya dia sangat senang menjadi guru, namun tidak banyak yang diberi pemerintah padanya. Karena hampir malam, kami kembali kerumah daeng Siradjudin. Dimana kami harus istirahat karena esok hari Acil harus mewawancarai responden.
Sampai rumah daeng Siradjudin, kami melihat ada keributan di sebuah pesta—yang diadakan tidak jauh dari rumah daeang Siradjudin. Dimana beberapa orang dengan membawa badik (pisau kecil khas Makassar) mengamuk dan dipihaknya seseorang telah membawa parang. Tujuan amukan orang itu adalah pada seseorang yang menyakiti salah seorang anggota keluarganya yang terluka kepalanya hingga banyak keluar darah diawal keributan itu. Sasaran amukan tentu saja dilindungi keluarganya agar tidak terluka. Sementara para tetangga hanya bisa melerai sekedar menghindari korban lagi.
Sebuah hal wajar bagi orang Makassar, Sirri’ atau kehormatan harus ditegakan. Saya pun tidak terlalu kaget dengan hal semacam itu, meski saya benci kekerasan sebenarnya. Tidak lama setelah keributan terjadi, kami pun tidur. Sampai esok harinya keributan harus diredam kepala desa.

12 Juni 2010
WC adalah tempat paling langka di Parangloe. Orang biasa buang hajat di sungai. Karena populasi penduduk yang tidak banyak, serta air sungai yang terus mengalir jernih, MCK bukan menjadi masalah penting bagi Parangloe. Tentu saja kami mandi pagi di sungai. Setelah sarapan, kami pergi mencari responden hingga siang hari. Tidak terlalu sulit, bahkan cukup menyenangkan. Akhirnya kami selesai siang itu juga. Setelah makan siang, Aci melengkapi berkas, kamipun pamit dan hanya bisa berucap terimakasih atas segala bantuan dan keramahannya pada keluarga daeng Siradjudin dan Kepala desa tentunya.
Kami meninggalkan Parangloe, kami menuju desa Tonrorita. Dalam perjalanan, kami singgah membenahi sepeda motor disebuah bengkel sederhana, sebelum akhirnya terus berjalan menuju desa Tonrorita. Jalan yang kami lalui jauh lebih berat dari sebelumnya. Selain penuh tanjakan curam, jalannya pun hanya berupa batu yang dikeraskan. Ditengah perjalanan, hujan pun turun. Cukup deras. Hingga jalan menjadi licin. Kami sempat berteduh sebentar dibawah pohon. Karena hari sudah sore dan diperkirakan hujan akan terus mengguyur, kami pun memutuskan terus berjalan. Bukan hal tentunya, karena jalan licin.
Setelah berkali-kali bertanya, kami pun menemukan juga jalan aspal lagi sebelum akhirnya sampai di desa Tonrorita. Dimana kami bertemu kembali dengan Irfan yang mensurvey desa itu. Irfan sudah lama selesai ketika kami tiba. Dia sedang duduk-duduk dirumah seorang penduduk ketika kami tiba. Malam sebelumnya Irfan menginap di masjid. Di desa ini, Aci harus mengganti ban dalam motornya. Tidak lama Muhtang pun datang dari surveynya di desa Batumalonro. Karena hampir malam kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan esok hari, kembali ke Makassar dan melaporkan hasil survey mereka.
Kami diterima dengan ramah oleh Pak Djummang, tempat Irfan duduk-duduk tadi. Kami pun duduk-duduk dan mengobrol. Pak Djummang tidak terlalu bisa berbahasa Indonesia. Namun bukan masalah besar. Saya jadi sedikit belajar bahasa Makassar, tentu saja saya kesulitan. Pak Djummang adalah petani jagung sederhana. Saya cukup salut dengan kesederhanaannya. Di rumahnya kami disuguhi makanan untuk menahan hawa dingin. Setelah makan kami berbincang dengan Pak Djummang. Tentu hanya membicarakan hal sederhana saja. Tidak lama saya pun memutuskan tidur di kasur yang disediakan istri Pak Djummang yang tidak kalah baiknya. Kami disediakan selimut karena malam sangat dingin.

13 Juni 2010
Pagi ini, saya harus bersiap lagi. Mengemasi barang di ransel lagi, lalu duduk-duduk dan mengobrol santai dengan Pak Djummang dengan bahasa campuran antara Makassar dan Indonesia. Tidak lama kemudian, kami lalu sarapan pagi dengan nikmatnya. Setelah sarapan, kami pun pamit pada Pak Djummang dan mengucapkan terimakasih atas keramahannya.
Setelah isi bensin, sepeda motor kamipun berangkat. Lagi-lagi menyusuri jalan desa yang sempit dan naik-turun. Namun kami tidak menemukan jalan batu, hanya jalan aspal saja. Jalan berkelok-kelok, membuat kami harus berhati-hati.
Pagi ini masih dingin. Masih banyak pucuk gunung masih tertutup kabut. Pemandangan sepanjang perjalanan begitu indah. Tentu saja kami berfoto dengan latar pucuk pegunungan tertutup kabut. Lalu melewati hutan pinus yang rindang, tentu saja berfoto. Akhirnya kami pun memasuki daerah hutan Suaka Margasatwa Komara. Tidak ada hewan satu pun terlihat dipinggir jalan. Kami sempat singgah disitu, dekat sungai kecil yang airnya jernih. Pemandangannya cukup bagus. Lagi-lagi berfoto.
Sekitar seperempat jam berhenti dan menikmati alam yang sejuk kami pun berjalan lagi. Hingga akhirnya kami menemukan bendungan Bili-bili. Dan Makassar semakin dekat. Jalan raya di sekitar bendungan tidak cukup baik dengan lubang-lubangnya, yang di musim hujan menjadi masalah.
Setelah dua jam perjalanan dari rumah Pak Djummang, kami pun samapai juga di Sungguminasa, Gowa. Dimana kami melewati Istana Balalompoa yang megah. Istana kebanggaan raja Gowa ini terbuat dari kayu dan tampak kurang terawat. Sultan Hasanudin si Ayam Jantan dari Timur itu, pernah bertahta di istana ini. Sejak melewati Gowa dua hari sebelumnya, pikiran saya selalu melayang pada sosok Sultan pemberani itu.
*****
Banyak hal yang saya pelajari dari perjalanan bersama tiga kawan dari Unhas. Perjalanan saya ke Gowa, sedikit mencari jawaban, mengapa Gowa-Tallo (Makassar) bisa menjadi kerajaan besar dan berkuasa di Sulawesi Selatan diabad XVII?
Wilayah Gowa yang luas dan pertaniannya cukup maju, dan posisi Makassar yang memiliki laut dan pelabuhan, membuat Makassar kuat dalam perniagaan dan kelautan. Hal ini memungkinkan Gowa memiliki senjata-senjata modern yang belum tentu dimiliki kerajaan lain disekitarnya. Populasi kuda di daerah selatan Gowa, juga mempengaruhi kekuatan militer Gowa. Dimasa itu pula Gowa sudah menjadi kerajaan terbuka. Tidak heran jika kerajaan di utara seperti Bone dan lainnya dikuasai. Itu hanya simpulan sementara saja. Masih butuh kajian mendalam lagi, dan juga perjalanan yang lebih panjang lagi. Mungkin lain waktu.

Joka-joka ke Pancana


Pagi hari, 9 Juni 2010. Saya bangun pagi lagi. Sehari sebelumnya saya susuri kota kecil Barru. Tidak lupa mengunjungi Makam Andi Aziz, seperti rencana saya sebelumnya. Setelah mandi dan berkemas, lalu sarapan pagi, bersama Andi Idris kami menuju rumah Andi Hasanudin—seorang tokoh budaya Bugis di Barru. Seperti saran Andi Irvan di Jakarta. Andi Idris mengendarai mobil. Dia tampak kuat, meski dengan jujur mengaku pada saya soal penyakit dan usia menggerogotinya. Sampai di rumah Andi Hasanudin, tentu saja kami bicara santai soal Barru dan sejarahnya. Meski santai, tetap saja banyak hal baru yang menarik untuk saya pelajari, mungkin ditulis lagi, dilain waktu. Kedua tokoh sepuh Barru itu begitu bersemangat ketika bercerita pada saya.

Saya tidak bisa terlalu lama di Barru. Hanya dua hari saja, meski sebenarnya saya merasa nyaman dengan banyak hal. Selalu ada kawan baru yang mau berbagi dan menyenangkan. Mereka mau bicara apa saja soal Barru. Informasi mereka tidak memungut biaya dan dengan senang hati mereka bercerita. Seperti Bang Kurniawan dan kawan-kawannya. Salah satu kawan Bang Kurniawan adalah Om Bob dari Pancana—yang begitu disegani di Pancana. Om Bob tidak lupa bercerita dengan penuh semangat soal penemuan kuburan raja yang belum lama ditemukan. Mereka terheran mengapa saya mau belajar sejarah mereka? Dan saya hanya bilang, saya hanya tertarik saja. Walau secara kebetulan ada yang menawarkan saya pada awalnya.

Setelah pamit dengan Andi Idris dan Andi Hasanudin—yang beri saya banyak cerita-cerita menarik—saya pun berjalan kaki menuju terminal dengan berjalan kaki layaknya backpacker.

Tepat siang hari saya menuju Pancana, Tanette. Tujuan kali ini adalah Makam We Tenriolle—raja wanita yang sekitar 55 tahun menjadi Datu Tanette (Raja Tanette). Tokoh yang membuat saya belajar lebih soal wanita Bugis. Soal ketangguhan mereka, yang tidak kalah dengan lelaki. Ternyata tidak sulit menemukan makamnya, meski saya harus berjalan sekitar 2 KM dari jalan raya poros Makassar-Barru di daerah Pancana.

Cuaca Pancana cukup cerah. Saya menyusuri jalan aspal yang cukup bagus menyusuri tambak. Penduduk Pancana cukup ramah. Mereka tampak senang disapa dan menunjukan pada saya makam We Tenriolle. Tentu pencarian jadi semakin mudah. Letak makam berada di Barat Masjid. Makam ini boleh difoto. Tidak ada pungutan untuk kamera di situs bersejarah (Pancana) sini, seperti di obyek-obyek wisata Yogyakarta yang menyediakan pungutan khusus macam itu. Jadi saya pun memoto sesuka dan sesopan mungkin Makam We Tenriolle.

Setelah puas memotret, saya pun beristirahat sekaligus buang air kecil di rumah salah satu penduduk. Lagi-lagi ramah dan mengijinkan saya. Pemilik runah bahkan mengajak saya berbincang-bincang dan bertanya asal saya. Setelah saya jawab saya dari Jogja dan baru saja dari Makam We Tenriolle, tuan rumah beri saya informasi ada kursi tinggalan We Tenriolle di rumah Andi Citta. Informasi ini gratis dan pemberi informasi bahkan memberi dengan Ikhlas. Saya pamit lalu saya menuju rumah besar milik Andi Citta.

Andi Citta tidak di rumahnya, tapi anggota keluarga lain menerima saya. Meski belum mengenal saya, tanpa ragu saya diperbolehkan memoto kursi dan foto-foto lama. Kursi warisan We Tenriolle itu begitu terawat dan masih bisa digunakan. Meski ada foto yang hilang dikursi karena ulah Balatentara Jepang. Saya tidak lama dirumah Andi Citta karena kawan-kawan yang akan menampung saya sudah menunggu di Makassar. Saya segera berjalan kaki lagi menuju jalan raya.

Apa yang saya alami dan saya dapat membuat saya girang. Barru dan Pancana menyenangkan. Sebenarnya juga ingin berlama-lama dan belajar lebih banyak, tapi mungkin lain kali. Atas kunjungan saya, hanya bisa bilang Terimakasih pada semua atas segala keramahannya.

Kamis, Juni 10, 2010

Joka-joka ke Barru


Barru, Pagi 8 Juni 2010.
Dengan modal sangat terbatas, saya putuskan untuk mengunjungi Sulawesi Selatan. Banyak hal yang menarik dari jazirah itu. Baik kebudayaan orang Bugisnya, dan juga sejarahnya. Meski berkali-kali menulis tentang kejadian di Sulawesi Selatan, sebelumnya tidak pernah sekalipun saya menginjakan kaki saya di tanah itu. Saya hanya mengerti sedikit soal Sulawesi Selatan hanya dari buku, maupun dari pergaulan dengan kawan-kawan saya yang berasal dan memiliki darah Sulawesi Selatan.
Kapal menjadi pilihan saya untuk mencapai Sulawesi Selatan. Selain murah, kita juga akan menikmati pemandangan laut biru. Bagi saya, kapal bukan pilihan yang buruk. Meski dibutuhkan waktu 24 jam untuk tiba di Pelabuhan Makassar, dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kapal akan melewati Selat Makassar yang indah pada malam hari.
Ketika kapal angkat jangkar dan bersiap berangkat dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, tampak diselatan Pelabuhan Jembatan Suramadu, yang menghubungkan antara kota Surabaya dengan Pulau Madura. Ketika kapal sampai di lepas pantai, pemandangan laut begitu menyenangkan untuk dilihat. Saya jadi ingat jika lautan Indonesia begitu luas dan kaya.
Setelah menyeberangi Selat Makassar, saya pun tiba di kota Makassar. Begitu turun dari kapal, saya sengaja tidak mencari angkutan, maupun penginapan. Saya memilih berjalan kaki menyusuri kota Makassar. Sebuah hal menyenangkan bagi backpacker.
Kota Makassar, sudah tampak ramai pada pukul 19.30. Dimana kehidupan malamnya sudah dimulai. Tempat hiburan sepanjang satu kilometer, baik café maupun Karaoke Dang-dut, yang terletak diseberang Pelabuhan Makassar sudah tampak berdenyut. Terlihat wanita pekerja malam sudah bersiap dengan pakaian seksinya. Meski belum banyak pengunjung datang.
Kaki saya terus melangkah ke sudut kota yang lain. Dimana jalanan kota Makassar masih dilalui banyak kendaraan bermotor. Melewati Lapangan Karebosi lalu terus ke arah utara. Dimana saya melihat betapa megahnya Masjid Al Markaz.
Karena hari sudah malam, saya lalu memutuskan berhenti berjalan. Selain kaki saya lelah, saya juga harus online di warnet di Jalan Masjid Raya. Penjaga warnetnya, Bang Meank, yang baik hati itu menawarkan saya tidur di warnetnya. Kami ngobrol soal Sulawesi sambil mendengar musik cadas, Avanged Sevenfold. Tanpa sadar saya pun terlelap di warnet hingga pagi.
Begitu pagi tiba, saya terbangun dan mengemasi barang saya. Tentu saja backpacker lagi. Kaki saya menyusuri utara kota Makassar. Setelah berjalan sekitar 2 KM, saya putuskan untuk naik mobil angkutan menuju terminal. Awalnya saya agak risih memasuki terminal. Perlahan rasa risih itu hilang, ketika orang-orang di terminal dengan ramah mengajak saya ngobrol. Saya pun jadi belajar lagi soal keramahan orang Bugis.
Saya menilai mereka begitu tulus dan tanpa maksud tertentu ketika saya mengobrol dengan saya. Mereka begitu ramah dan akrab sebelum mobil Panther yang akan menuju Barru berangkat. Karena penumpang di mobil sudah penuh, mobil pun berangkat. Tentu saja acara ngobrol di terminal harus selesai.
Tidak biasanya saya betah berlama-lama menunggu di terminal. Ternyata orang Bugis membuat saya betah berlama-lama di terminal tanpa sedikitpun khawatir. Saya jadi semakin yakin jika orang Bugis ramah dan menyenangkan.
Jalan ke Barru, di Maros, Pangkajane Kepulauan, Barru sendiri, dipenuhi dengan poster-poster calon Bupati dan calon wakil Bupatinya. Saya sadar, pilkada akan berlangsung. Perjalanan sangat menyenangkan. Mungkin karena ini adalah perjalanan pertama saya di Sulawesi Selatan.
Pak Ahmad, supir saya adalah orang yang ramah. Dia tahu saya dari Jogja yang jauh dari tanah Sulawesi. Beliau bahkan mentrakir saya makan siang di Pangkep, ketika singgah di sebuah rumah makan. Sebuah rezeki yang tidak bisa saya tolak. Setahu saya, orang Bugis tidak pernah membiarkan tamu atau kawan—yang dengan cepat dia anggap saudaranya—kelaparan.
Saya tiba di Barru pukul 12.30 siang. Tentu saja saya memutuskan berjalan kaki lagi. Setelah jalan sebentar saya beristirahat sebentar di pos ronda.sekedar duduk dan minum air mineral saya. Saya lalu berjalan lagi menyusuri Jalan Ahmad Yani. Belum jauh berjalan, saya menghampiri Seorang penjual Es Teler yang baik hati. Saya hanya sekedar bertanya awalnya, namun dia menwarkan saya untuk duduk di kursi. Lagi-lagi saya tidak bisa menolak.
Kami tidak saja mengobrol soal Barru, tapi Beliau juga menyuguhkan saya Es Teller buatannya. Cukup menyenangkan juga. Karena kemudian anak dan cucu dari Bapak penjual Es Teller itu datang dan mengobrol dengan saya. Kepada Bapak penjual Es Teller itu, saya bertanya arah pantai, karena saya akan ke pantai. Setelah ngobrol hamper 2 jam, saya putuskan untuk pamit. Ketika akan membayar Es Teller, Bapak tadi menolaknya dengan senyum. Saya jadi tidak enak. Dan saya hanya bisa ucapkab terimakasih dan tersenyum. Lalu saya berjalan lagi.
Dalam perjalanan ke pantai saya putuskan untuk tidur di pos ronda saja. Karena Barru sudah sangat nyaman buat saya. Sampai di pantai, saya duduk dan tertidur sebentar dibawah pohon asam. Bangun tidur saya langsung mandi. Saya sadar sudah dua hari saya belum mandi. Setelah mandi dan menjemur pakaian basah saya pergi ke rumah Andi Idris di Sumpang Binangae, salah satu kampong tua di Barru.
Awalnya, saya hanya bisa bicara dengan putra Andi Idris saja, namun kemudian saya bertemu juga dengan Andi Idris. Karena Beliau baru saja pulang. Saya bicara banyak dengan beliau. Tentu saja bicara soal Abang Beliau, Kapten Andi Azis—sosok hebat prajurit Indonesia yang pernah saya tulis dalam dua buku saya yang terbit tahun lalu. Ketika saya mengobrol sebentar dengan Putra Beliau, saya simpulkan bahwa wacana sejarah putra beliau saya piker cukup baik, apalagi untuk orang yang tidakKetika saya mengobrol sebentar dengan Putra Beliau, saya simpulkan bahwa wacana sejarah putra beliau saya piker cukup baik, apalagi untuk orang yang tidak pernah kuliah sejarah.
Pada saya Andi Idris bicara soal penyakit stroke yang menimpanya. Dia uga bicara soal masa mudanya. Masa-masa sekolahnya di Jogja. Dimana dia tinggal di Asrama Latimojong, bermain band dan merasakan rekaman di Lokananta, Solo. Juga soal ketekunannya dalam olahraga Judo. Hingga bisa menjadi juara nasional di Surabaya ketika mewakli kontingen Jogja. Sayangnya, sekolah Andi Idrus berantakan karena kegiatan hebatnya itu. Beliau lalu dipulangkan ke Barru. Dimana beliau pernah 10 tahun menjadi Kepala Desa Sumpang Binangae. Pengaruhnya yang besar di kampong juga membuatnya ditarik sebuah Partai berkuasa untuk menjadi anggota DPR.
Tidak lupa Andi Idris juga bercerita soal penembakan orang-orang Bugis di Sumpang Binangae, yang dituduh Extrimis oleh Tentara Belanda zaman revolusi. Karena ketika itu Andi Idris masih kecil, Beliau tidak ingat tahun berapa kejadiannya. Diperkirakan peristiwa ini terjadi setelah tahun 1947. Selain itu tentara Belanda juga berusaha membakar orang-orang Bugis, yang mungkin mereka tuduh Extrimis. Hal ini lalu dicegah oleh Andi Azis (kakak tertua Andi Idris) dan Andi Juana (Ayah Andi Idris)—yang pernah menjadi Sullewatang (semacam perdana menteri atau wakil raja) di Barru.
Pada saya, Andi Idris juga menwarkan saya menginap di rumahnya dan putra Beliau bahkan dengan sukarela akan mengantarkan saya ke Makam Andi Aziz. Dengan senang hati tawaran itu saya terima. Saya pun bisa tidur nyaman lagi setelah pada malam-malam sebelumnya hanya tidur di bis, malam berikutnya di kapal dan semalam yang lalu di warnet.
Orang-orang Bugis yang saya temui, umumnya mengakui jika bahasa dan cara mereka kasar. Namun, sebenarnya mereka sangat terbuka dan ramah. Dan tentu saja baik hati. Rasanya, selama ini orang Bugis memang tidak pernah mengecewakan saya. Ketika bersama mereka pun saya selalu merasa aman dan nyaman.
Sejauh ini Sulawesi Selatan masih sangat menyenangkan.

Bang Ali, Makasih Ye Tempat Pacarannye


Saya temukan kutipan yang menggelikan di tabloid Bataviasche Nouvelles, yang tidak pernah terbit lagi. Yakni pengakuan Ali Sadikin. Setahu saya dia mantan perwira KKO dan Gubernur Jakarta. Begini bunyinya:

“Saya bangun Lapangan Monas, saya bangun Ancol. Saya sengaja melarang orang yang lagi pacaran diganggu. Awas lu ya, kalau mengganggu. Kalau melacur tidak boleh. Tapi kalau pacaran, itu Anugrah Allah.
Sudah pernah pacaran? Kan senang, bahagia….. Makanya tidak boleh diganggu. Sebab apa? Di kampung tidak bisa pacaran.
Coba, disini anak saya bisa pacaran, ruang tamu kosong, halaman besar. Tapi kalau you (kamu) masuk kampung, satu kamar berjejal dari kakek, nenek, sampai cucu jadi satu dimana mau pacaran? Orang sedang bercinta-cintaan ketahuan.
Ini saya hayati. Berikan tempat untuk berhibur. Nah orang tidak mengerti bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata. Dus, pikiran kita harus sampai kesana.”


Memang menggelikan gaya bahasanya. Tapi cukup mengena dizamannya. Kita bisa menilai betapa pedulinya orang yang biasa disapa Bang Ali ini. Pembangunan Jakarta, tidak melulu bangun gedung megah atau rumah-rumah gedongan (rumah mewah) semata. Ali Sadikin, telah mengenal medan Jakarta yang padat oleh manusia. Seperti lagu Gang Kelinci-nya Titik Puspa.

Bahkan perhatian Ali Sadkin harus dibilang jauh kedepan juga. Sampai pada tempat pacaran anak muda. Dia sadar tidak semua anak Jakarta bernasib seperti anaknya. Artinya, Ali Sadikin mengerti anak muda. Sebuah contoh langka di Indonesia, sosok pemimpin yang membangun kota tanpa menghiangkan sisi kemanusiaan warga kotanya. Juga kepada anak mudanya, yang sedang asyik pacaran. Anak muda Jakarta harus bangga pernah punya Gubernur macam Ali Sadikin.

Saya bukan orang Jakarta, tapi jika saya warga Jakarta, atau kebetulan sedang pacaran di Ancol atau taman Monas, saya mau bilang ke Ali Sadikin, “Bang Ali, makasih ye tempat pacaran-nya.”

Bangkit Dari Apa Sekarang?


102 tahun yang lalu sekelompok pemuda bangkit—dan merasa bosan dengan status mereka sebagai pribumi terjajah. Mereka memulai sebuah perbaikan penting dari sebuah kampus kedokteran bernama STOVIA. Kebangkitan Nasional itu lalu menjadi mitos yang diskralkan di negeri sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meski banyak perdebatan kapan sebenarnya Kebangkitan Negeri ini dimulai?
Sudah berpuluh-puluh tahun, Kebangkitan Nasional diperingati. Hasilnya, banyak orang mengerti bahwa dirinya adalah “terjajah” dan melawan. Hingga mereka bertindak berani menyatakan diri merdeka sebagai Indonesia, ketika Perang Dunia II, menggilas banyak bangsa Imperialis Eropa.
Berpuluh kali dperingati, penjajahan tak pernah berhenti. Artinya kondisi tdak berubah, meski penjajah lama, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, telah pergi. Penjajah hanya bersalin rupa. Kulitnya tidak lagi putih, kulitnya sawo matang. Berlaku layaknya wakil atau utusan rakyat.
Apa ukurun ketertindasan sekarang? Nyatanya pelayanan publik masa kini begitu mengecewakan. Banyak warga—yang seharusnya dilayani dengan baik—banyak yang merasa kecewa. Birokrasi makin rumit dan gila hormat. Kita tahu banyak birokrat, dari yang kecil hingga yang paling tinggi, gila hormat dan selalu ingin disembah layaknya priyayi zaman Kolonial. Artinya ada semacam feodalisme terselubung yang ingin dipelihara di sektor pelayanan publik. Intinya Birokrasi, yang harusnya melayani malah menindas. Apakah ini harus disebut kemerdekaan?
Sebagai pelayan publik, pemerintah Indonesia masa kini gagal dan semakin gagal saja dengan tersiksanya mereka yang mengurus berbagai perizinan dan kegiatan yang sebenarnya untuk kemaslahatan publik. Artinya “kemerdekaan” yang mereka dengungkan pada kita tidak memberi perbaikan hidup bagi banyak orang Indonesia. Orang miskin masih tetap ada, bahkan diantaranya masih dan terus dimiskinkan.
Apakah penjajah bersawo matang ini harus dilawan? Kata buku-buku disekolah, birokrasi—sebagai bagian dari Negara tidak boleh dilawan. Karenanya setiap yang melawan sama dengan pengkhianat. Pemberontak selalu salah, kata mereka. Sementara penindasan terselubung mereka semakin menjadi-jadi saja. Hanya perlu membuang jauh-jauh mental feodal mereka saja yang dibutuhkan, dan menggantinya dengan jiwa pelayan rakyat. Bagaimanapun birokrat adalah pelayan rakyat!
Pertanyaan saya sekarang adalah, akan kita apakan penjajah terselubung ini? Apa perlu sebuah kebangkitan untuk melawan mereka? Menerima atau bangkit melawan mentalitas mereka? Pastinya kita tidak ingin revolusi sosial, seperti yang terjadi di Brebes, Tegal dan Pekalongan pada awal kemerdekaan terjadi lagi tentunya? Atau akan ada kebangkitan yang lain?

Senin, Mei 10, 2010

Cacatnya Pelajaran Sejarah Indonesia

Kata sejarawan “bayaran” Pemerintah, Indonesia adalah bangsa besar. Begitu tertulis di buku pelajaran, apalagi di buku pelajaran sejarah. Konon, Indonesia punya sejarah hebat dan pemimpinnya sejak dulu tanpa cela. Saya, ketika disekolah dulu pernah begitu yakin dengan kehebatan bangsa, yang terus di reproduksi itu. Pelan-pelan saya belajar lebih dalam lagi. Betapa sangat mengejutkan dan menggelikan ketika melihat betapa lucunya sejarah Indonesia. Selalu ada seseorang yang ingin dijadikan dan menjadikan orang lan layaknya Pangeran yang terhormat tanpa cela. Banyak orang akan melihat itu pangeran, namun sebenarnya dia hanya badut atau bahkan penjahat.

Sejarah bukan perkara memiliki masa lalu hebat. Keharusan macam itu telah menyasat banyak generasi kedepan. Karena mereka akan lupa pada kesalahan yang seharusnya mereka perbaiki.

Selalu ada pihak yang selalu menampilkan sisi putihnya dalam sejarah. Nyaris tanpa cacat bahkan. Begitulah sejarah kaum nasionalis dibangun, demi cita-cita nasional katanya. Nyatanya itu hanya menguntungkan sekelompok elit saja. Kita tahu kelakuan Muhamad Yamin—yang mengagungkan sejarah Majapahit yang katanya jaya. Nyatanya Majapahit adalah Imperialis Nusantara. Hal ini tidak pernah dibahas dan sengaja dihindari dan ditutupi.

Tak Ada Sejarah Tanpa Cela
Nasionalisme dalam sejarah Indonesia begitu marak puluhan tahun silam. Dimana Muhamad Yamin sebagai salah satu pendukung Nasionalisme sejarah itu. Yamin terkesan berlebihan mengagungkan sejarah kejayaan nusantara dibawah Majapahtit demi membangkitkan nasionalisme. Padahal Majapahit adalah Imperialis pribumi terbesar di Nusantara sebelum VOC (Belanda) dan bangsa asing lainnya datang dan menguasai Indonesia.

Majapahit, bukan sebuah federasi kerajaan Nusantara dimana Majapahit sebagai pimpinan. Ekspedisi Majapahit sendiri dalam menguasai kerajaan lain dipenuhi kekerasan, walau ada beberapa kerajaan secara sukarela mau diperintah Majapahit ang mereka tahu begiu kuat. Kita tahu bersama peristiwa Bubat, dimana rombongan Sri Baduga Maharaja dihabisi orang-orang-nya Gajah Mada, karena Sri Baduga Maharaja selaku raja Sunda tidak mau tunduk pada Majapahit.

Tangan penguasa cenderung dikotori darah. Sukarno yang bukan pembunuh, bahkan tidak pernah memberi perintah untuk membunuh, pun harus tegak berdiri diatas kematian Musso, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, Tan Malaka dan lainnya. Suharto pun semua orang tahu betapa berdarah dinginnya dia. Orang yang diakui sebagai Jenderal Besar Bintang Lima itu, tidak pernah bertanggung-jawab atas jutaan pembunuhan politik di Indonesia ketika dirinya berkuasa. Namun nyatanya dalam buku-buku sejarah di sekolah nama-nama pemimpin Indonesia selalu harum dan suci.

Bahkan peran militer dalam sejarah juga ikut ditonjolkan ketika Suharto naik sebagai penguasa. Hingga peran kelompok lain akhirnya terpinggirkan. Dimana seolah hanya militerlah yang paling berjasa dan yang lain tidak begitu berjasa. Nugroho Notosusanto harus bertanggung-jawab soal dominasi militer dalam sejarah Indonesia. Militerisme adalah arah yang dibangun Nugroho Notosusanto dalam sejarah Indonesia.





Selalu Menyalahkan Bangsa Lain

Penulisan sejarah Indonesia yang akan dikonsumsi siswa sekolah dan masyarakat luas, selalu bernada kebencian pada bangsa penjajah secara berlebihan. Selalu digambarkan lebih jahat dari yang sebenarnya.

Lihat saja angka 40.000 korban kekejaman pasukan Westerling di Sulawesi Selatan. Angka 40.000 itu tidak disepakati sejarawan, termasuk sejarawan Indonesia. Seorang mahasiswa sejarah di Makassar malah mengaku bahwa angka sebenarnya bukan 40.000, namun bukan angka-nya yang mengerikan tapi metode pembunuhan yang dilakukan Westerling—yang sebenarnya hanya untuk mencari para gerilyawan ditengah kerumunan. Metode pembunuhan Westerling itu adalah pengadilan sekaligus eksekusi yang lebih banyak salah korban. Aksi Westerling yang hanya sekitar tiga bulan itu, hanya memakan korban sekitar beberapa ribu korban saja, tidak mencapai puluhan ribu. Karena berdasar penelitan dari Angkatan Darat RI, hanya menemukan angka 1.700. itupun angka yang tewas selama revolusi Indonesia. Meski hanya mencapai angka ribuan, tetap saja itu sudah jumlah yang banyak.

Dalam buku sejarah SD, selalu ditulis bahwa bangsa Belanda dengan VOC-nya menerapkan politik Devide Et Impera (politik pecah belah). Memang benar politik itu digunakan. Meski begitu, jangan lupa bahwa sebelum politik pecah belah dijalankan penguasa-penguasa di Nusantara sudah terpecah belah. Bahkan perpecahan antar bangsawan pada sebuah kerajaan sudah ada jauh sebelum bangsa asing datang. Artinya penguasa dan juga bangsawan-nya sudah terpecah belah dan memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Mereka memiliki ego untuk untung dan berkuasa sendiri, hingga dengan mudah dirangkul VOC. Banyak penguasa lokal mau bersekutu dengan VOC dengan syarat-syarat tertentu yang pastinya juga menguntungkan VOC.

Jadi, VOC tidak perlu bersusah payah memecah belah Bangsa yang mengaku Indonesia itu. Mereka sudah terpecah, jadi tidak susah menguasainya. Menguasai nusantara ada kalanya mudah karena sudah terpecah. Namun yang terkesan dalam pelajaran sejarah adalah bahwa VOC berusaha keras memecah belah bangsa di Nusantara.

Inilah hal yang konyol dalam pebelajaran sejarah di sekolah. Penjajah bangsa asing adalah sosok kejam yang menindas dan harus dibenci. Digambarkan kehidupan rakyat jelata menjadi susah ketika bangsa asing lain datang. Padahal kesengsaraan rekyat jelata sudah ada sejak feodalisme dan kerajaan-kerajaan klasik muncul. Pelajaran sejarah slalu mengarahkan bahwa penjajah selalu bangsa asing dan bukan Bangsawan penindas—yang memang menindas sejak dulu.





Harus Berhenti

Banyak hal yang harus dibongkar dalam sejarah Indonesia. Untung saja, kemajuan teknologi informsi membuat pemuda Indonesia makin kritis dan sedikit bisa menelanjangi sejarah yang dibangun pemerintah.

Banyak orang mulai bertanya kenapa Arung Palaka berontak? Kenapa Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, PRRI-Permesta berontak? Lalu kenapa pula Letkol Untung dengan berani menculik para Jenderal AD—yang adalah senior dan atasannya sendiri? Pasti ada sebabnya. Dan sebab pemberontakan selalu dikarang pemerintah karena mereka tidak memiliki rasa nasionalisme yang kuat. Lebih keji lagi para pemberontak disamakan dengan pengkhianat oleh pemerintah.

Pelajaran sejarah yang tidak jujur telah dibuat. Mulai dari menyalahkan para pemberontak, menutupi jasa-jasa kelompok PKI dalam pergerakan Nasional, mengkultuskan pemimpin nasional tertentu sebagai sosok tanpa cela, namun sebenarnya penuh dosa. Begitulah isi dan tujuan dari kurikulum pemerintah. Yang tidak adil dan sangat tidak jujur.

Efek dari ketidakjujaran yang dibangun pemerintah adalah makin hilangnya wibawa pemerintah di kalangan kaum muda sendiri. Dimata dunia internasional itu jelas memalukan. Setelahnya, bagi masyarkat dunia, Indonesia tentu akan dipandang hina sebagai bangsa pembohong. Jauh lebih memalukan setelah dituduh sebagai Bangsa Terkorup di dunia.

Sudah saatnya kurikulum pelajaran sejarah disusun dengan penuh kejujuran. Setidaknya pelajaran bisa mengajak generasi baru Indonesia untuk lebih bisa bersikap jujur daripada sebelumnya. Harapan jauh kedepannya sikap jujur ini bisa melahirkan perang melawan korupsi di Indonesia. Apa mungkin korupsi yang menjangkiti Indonesia ini dikarenakan pelajaran sejarah yang dipenuhi ketidak-jujuran?

Tulisan ini mungkin akan menjawab mengapa saya enggan menjadi guru sejarah di Sekolah yang harus ikut kurikulum yang tidak-jujur. Lagipula saya punya gelar SPd dan selalu mau membaca buku-buku sejarah non-diktat selama kuliah. Jika mau memotong rambut saya dan berpakaian rapi? Tentu saya semakin layak mengajar di sekolah. Ketidakjujuran kurikulum tadi ikut membuat saya memanjangkan rambut saya dan memilih mengajar dengan gaya saya, lewat tulisan atau diskusi ringan dimana pun, tidak harus di sekolah—yang sudah terkontaminasi.Cacatnya Pelajaran Sejarah Indonesia



Kata sejarawan “bayaran” Pemerintah, Indonesia adalah bangsa besar. Begitu tertulis di buku pelajaran, apalagi di buku pelajaran sejarah. Konon, Indonesia punya sejarah hebat dan pemimpinnya sejak dulu tanpa cela. Saya, ketika disekolah dulu pernah begitu yakin dengan kehebatan bangsa, yang terus di reproduksi itu. Pelan-pelan saya belajar lebih dalam lagi. Betapa sangat mengejutkan dan menggelikan ketika melihat betapa lucunya sejarah Indonesia. Selalu ada seseorang yang ingin dijadikan dan menjadikan orang lan layaknya Pangeran yang terhormat tanpa cela. Banyak orang akan melihat itu pangeran, namun sebenarnya dia hanya badut atau bahkan penjahat.

Sejarah bukan perkara memiliki masa lalu hebat. Keharusan macam itu telah menyasat banyak generasi kedepan. Karena mereka akan lupa pada kesalahan yang seharusnya mereka perbaiki.

Selalu ada pihak yang selalu menampilkan sisi putihnya dalam sejarah. Nyaris tanpa cacat bahkan. Begitulah sejarah kaum nasionalis dibangun, demi cita-cita nasional katanya. Nyatanya itu hanya menguntungkan sekelompok elit saja. Kita tahu kelakuan Muhamad Yamin—yang mengagungkan sejarah Majapahit yang katanya jaya. Nyatanya Majapahit adalah Imperialis Nusantara. Hal ini tidak pernah dibahas dan sengaja dihindari dan ditutupi.



Tak Ada Sejarah Tanpa Cela

Nasionalisme dalam sejarah Indonesia begitu marak puluhan tahun silam. Dimana Muhamad Yamin sebagai salah satu pendukung Nasionalisme sejarah itu. Yamin terkesan berlebihan mengagungkan sejarah kejayaan nusantara dibawah Majapahtit demi membangkitkan nasionalisme. Padahal Majapahit adalah Imperialis pribumi terbesar di Nusantara sebelum VOC (Belanda) dan bangsa asing lainnya datang dan menguasai Indonesia.

Majapahit, bukan sebuah federasi kerajaan Nusantara dimana Majapahit sebagai pimpinan. Ekspedisi Majapahit sendiri dalam menguasai kerajaan lain dipenuhi kekerasan, walau ada beberapa kerajaan secara sukarela mau diperintah Majapahit ang mereka tahu begiu kuat. Kita tahu bersama peristiwa Bubat, dimana rombongan Sri Baduga Maharaja dihabisi orang-orang-nya Gajah Mada, karena Sri Baduga Maharaja selaku raja Sunda tidak mau tunduk pada Majapahit.

Tangan penguasa cenderung dikotori darah. Sukarno yang bukan pembunuh, bahkan tidak pernah memberi perintah untuk membunuh, pun harus tegak berdiri diatas kematian Musso, Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, Tan Malaka dan lainnya. Suharto pun semua orang tahu betapa berdarah dinginnya dia. Orang yang diakui sebagai Jenderal Besar Bintang Lima itu, tidak pernah bertanggung-jawab atas jutaan pembunuhan politik di Indonesia ketika dirinya berkuasa. Namun nyatanya dalam buku-buku sejarah di sekolah nama-nama pemimpin Indonesia selalu harum dan suci.

Bahkan peran militer dalam sejarah juga ikut ditonjolkan ketika Suharto naik sebagai penguasa. Hingga peran kelompok lain akhirnya terpinggirkan. Dimana seolah hanya militerlah yang paling berjasa dan yang lain tidak begitu berjasa. Nugroho Notosusanto harus bertanggung-jawab soal dominasi militer dalam sejarah Indonesia. Militerisme adalah arah yang dibangun Nugroho Notosusanto dalam sejarah Indonesia.





Selalu Menyalahkan Bangsa Lain

Penulisan sejarah Indonesia yang akan dikonsumsi siswa sekolah dan masyarakat luas, selalu bernada kebencian pada bangsa penjajah secara berlebihan. Selalu digambarkan lebih jahat dari yang sebenarnya.

Lihat saja angka 40.000 korban kekejaman pasukan Westerling di Sulawesi Selatan. Angka 40.000 itu tidak disepakati sejarawan, termasuk sejarawan Indonesia. Seorang mahasiswa sejarah di Makassar malah mengaku bahwa angka sebenarnya bukan 40.000, namun bukan angka-nya yang mengerikan tapi metode pembunuhan yang dilakukan Westerling—yang sebenarnya hanya untuk mencari para gerilyawan ditengah kerumunan. Metode pembunuhan Westerling itu adalah pengadilan sekaligus eksekusi yang lebih banyak salah korban. Aksi Westerling yang hanya sekitar tiga bulan itu, hanya memakan korban sekitar beberapa ribu korban saja, tidak mencapai puluhan ribu. Karena berdasar penelitan dari Angkatan Darat RI, hanya menemukan angka 1.700. itupun angka yang tewas selama revolusi Indonesia. Meski hanya mencapai angka ribuan, tetap saja itu sudah jumlah yang banyak.

Dalam buku sejarah SD, selalu ditulis bahwa bangsa Belanda dengan VOC-nya menerapkan politik Devide Et Impera (politik pecah belah). Memang benar politik itu digunakan. Meski begitu, jangan lupa bahwa sebelum politik pecah belah dijalankan penguasa-penguasa di Nusantara sudah terpecah belah. Bahkan perpecahan antar bangsawan pada sebuah kerajaan sudah ada jauh sebelum bangsa asing datang. Artinya penguasa dan juga bangsawan-nya sudah terpecah belah dan memiliki kepentingannya sendiri-sendiri. Mereka memiliki ego untuk untung dan berkuasa sendiri, hingga dengan mudah dirangkul VOC. Banyak penguasa lokal mau bersekutu dengan VOC dengan syarat-syarat tertentu yang pastinya juga menguntungkan VOC.

Jadi, VOC tidak perlu bersusah payah memecah belah Bangsa yang mengaku Indonesia itu. Mereka sudah terpecah, jadi tidak susah menguasainya. Menguasai nusantara ada kalanya mudah karena sudah terpecah. Namun yang terkesan dalam pelajaran sejarah adalah bahwa VOC berusaha keras memecah belah bangsa di Nusantara.

Inilah hal yang konyol dalam pebelajaran sejarah di sekolah. Penjajah bangsa asing adalah sosok kejam yang menindas dan harus dibenci. Digambarkan kehidupan rakyat jelata menjadi susah ketika bangsa asing lain datang. Padahal kesengsaraan rekyat jelata sudah ada sejak feodalisme dan kerajaan-kerajaan klasik muncul. Pelajaran sejarah slalu mengarahkan bahwa penjajah selalu bangsa asing dan bukan Bangsawan penindas—yang memang menindas sejak dulu.





Harus Berhenti

Banyak hal yang harus dibongkar dalam sejarah Indonesia. Untung saja, kemajuan teknologi informsi membuat pemuda Indonesia makin kritis dan sedikit bisa menelanjangi sejarah yang dibangun pemerintah.

Banyak orang mulai bertanya kenapa Arung Palaka berontak? Kenapa Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, PRRI-Permesta berontak? Lalu kenapa pula Letkol Untung dengan berani menculik para Jenderal AD—yang adalah senior dan atasannya sendiri? Pasti ada sebabnya. Dan sebab pemberontakan selalu dikarang pemerintah karena mereka tidak memiliki rasa nasionalisme yang kuat. Lebih keji lagi para pemberontak disamakan dengan pengkhianat oleh pemerintah.

Pelajaran sejarah yang tidak jujur telah dibuat. Mulai dari menyalahkan para pemberontak, menutupi jasa-jasa kelompok PKI dalam pergerakan Nasional, mengkultuskan pemimpin nasional tertentu sebagai sosok tanpa cela, namun sebenarnya penuh dosa. Begitulah isi dan tujuan dari kurikulum pemerintah. Yang tidak adil dan sangat tidak jujur.

Efek dari ketidakjujaran yang dibangun pemerintah adalah makin hilangnya wibawa pemerintah di kalangan kaum muda sendiri. Dimata dunia internasional itu jelas memalukan. Setelahnya, bagi masyarkat dunia, Indonesia tentu akan dipandang hina sebagai bangsa pembohong. Jauh lebih memalukan setelah dituduh sebagai Bangsa Terkorup di dunia.

Sudah saatnya kurikulum pelajaran sejarah disusun dengan penuh kejujuran. Setidaknya pelajaran bisa mengajak generasi baru Indonesia untuk lebih bisa bersikap jujur daripada sebelumnya. Harapan jauh kedepannya sikap jujur ini bisa melahirkan perang melawan korupsi di Indonesia. Apa mungkin korupsi yang menjangkiti Indonesia ini dikarenakan pelajaran sejarah yang dipenuhi ketidak-jujuran?

Tulisan ini mungkin akan menjawab mengapa saya enggan menjadi guru sejarah di Sekolah yang harus ikut kurikulum yang tidak-jujur. Lagipula saya punya gelar SPd dan selalu mau membaca buku-buku sejarah non-diktat selama kuliah. Jika mau memotong rambut saya dan berpakaian rapi? Tentu saya semakin layak mengajar di sekolah. Ketidakjujuran kurikulum tadi ikut membuat saya memanjangkan rambut saya dan memilih mengajar dengan gaya saya, lewat tulisan atau diskusi ringan dimana pun, tidak harus di sekolah—yang sudah terkontaminasi

Minggu, Maret 21, 2010

Sunarti Nasution, Terimakasih Telah Bercerita


Sejarah akan berbicara lewat mulut anaknya. Seperti Sunarti bercerita tentang dunia sosial di Indonesia dengan segala masalahnya, juga tentang hidupnya yang hebat.

Suatu hari di Bulan Desember 2009, saya harus mewawancarai Yohana Sunarti Nasution—tentang berbagai kegiatan Sosialnya yang seabrek. Seperti tokoh Angkatan 45 lainnya, hari itu wanita tangguh yang rela saya sapa Ibu Sunarti itu, berbicara pada saya panjang lebar soal kegiatan sosialnya dengan penuh semangat. Dia berkata pada saya ingin bercerita semuanya tentang dirinya dan apa yang dilakukannya, sebelum Tuhan memanggilnya.

Kegiatan sosial, dikenalkan oleh Ibunya, Maria Federika Rademayer—yang Belanda tulen dan Sunario Gondokusumo—salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia. Jadi Sunarti juga bagian kecil dari dunia pergerakan Nasional. Diusianya yang kelima, dia ikut hadir dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Meski berasal dari keluarga terpandang dan berada, hidup sebagai bagian dunia pergerakan nasional tidaklah terlalu menyenangkan. Selalu ada pengintai PID suruhan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang sering tidak disadari.
Saya lebih mengenal suaminya, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Orang-orang Indonesia yang pernah buku sejarah kemerdekaan Indonesia pasti mengenalnya. Nama itu kerap saya tulis dalam tulisan-tulisan saya yang amis darah. Hanya sejarawan militer Indonesia bodoh saja yang tidak tahu siapa itu Abdul Haris Nasution. Sementara itu, tidak banyak yang tahu Yohana Sunarti Nasution, istri Jenderal Besar itu.
Masa mudanya, sebenarnya tergolong beruntung. Dia bisa menikmati pendidikan terbaik di zamannya. Dia pernah nikmati Lyceum (sekolah menengah elit) di Bandung sebelum Jepang datang. Lalu dia berhasil lulus ujian SMA zaman Jepang. Karena tidak bisa baca tulis huruf kanji, Ika Dai Gakku (sekolah tinggi Kedokteran) tidak menerimanya sebagai mahasiswa. Cita-citanya menjadi dokter pun pupus. Akhirnya Sunarti harus berpuas diri belajar menjadi apoteker. Zaman revolusi, Sunarti sempet belajar hukum di UGM, namun harus ditinggalkan karena salah satu pendiri Tentara Nasional Indonesia, Abdul Haris Nasution—yang masih berpangkat Kolonel—menikahinya. Segera Sunarti memasuki dunia para istri tentara—yang kerap diliputi kekhawatiran karena suami-suami mereka pergi berperang.
Menjadi istri Nasution bukan hal mudah. Nasution kerap berseberangan dengan penguasa negeri ini. Berkali-kali ancaman kematian menguntit hidupnya sejak zaman revolusi. Hal tragis lalu menimpanya. Putri bungsunya menjadi tumbal sejarah Indonesia dalam Gerakan 30 September 1965.
Lepas dari nasib tragis tadi, Sunarti masih terus menunjukkan kekuatannya. Dia terus membantu menanggulangi masalah sosial masyarakat yang menjadi korban pembangunan yang kejam dan tidak adil. Sunarti bersama-sama dengan banyak pihak berjuang untuk mensejahterakan orang-orang bernasib malang—yang tidak mampu disejahterakan negara.
Sunarti terus bergelut dalam dunia sosial ketika Nasution tidak lagi menjadi pejabat negara. Setidaknya dia bergelut di dunia sosial lebih dari separuh abad. Kegiatan sosial dijalani lebih lalui sepanjang hidupnya sejak belia. Hingga Magsaysay Award, penghargaan bergengsi dari Filipina, diganjarkan padanya beberapa dekade silam.
Pada saya, Sunarti mengaku, dirinya tidak melakukannya sendiri. Dia merasa apa yang dikerjakan berhasil bukan semata karena dirinya saja. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Ini menjadi hal penting baginya. Betapa egalitariannya Sunarti. Tanpa sadar dia telah ajarkan itu pada saya.
Namun, tetap saja ada orang-orang tertentu yang ikut merusak kerja sosial. Bahkan di eselon atas sendiri. Kerja sosial menjadi semakin kacau ketika orang-orang bermotif bisnis pencari profit pribadi masuk bahkan memimpin sebuah lembaga sosial. Duka dialami dan menghambat kerja sosial Sunarti di zaman orde baru. Penguasa yang tidak suka pada sang suami, begitu membatasi hubungan Sunarti dengan lembaga sosial luar negeri yang bermaksud membari bantuan pada Sunarti. Bukan Sunarti namanya jika dirinya berhenti begitu saja. Sunarti terus bergerak. Satu program digagalkan, Sunarti masih bergerak dengan program-program lainnya. Hanya sedikit cerita darinya yang bisa saya tulis sekarang.
Kalimat Sunarti yang masih terngiang di kepala saya adalah, “biarkan masalah datang pada saya, maka saya akan mencari penyelesaiannya.” Mengobrol dengannya menyenangkan dan membuat saya lupa bahwa hari sudah siang, juga lupa makan siang. Lalu saya pamit meninggalkan Sunarti sibuk menjalani kegiatan sosial dan hari tuanya. Usia tidak bisa mengalahkannya. Tidak ada matinya. Itulah Sunarti.
Pada saya, Sunarti telah bercerita banyak Desember itu. Lalu saya menuliskan ceritanya. Saya bangga pernah mendengar ceritanya. Sebagai salah satu anak sejarah, dia telah membuat sejarahnya dan memberikan saya petunjuk dari jejak-jejak sejarahnya, juga sejrah bangsanya yang ikut dia ukir. Saat itu adalah saat terakhir saya bertemu dengannya. Semoga Sunarti yang saya kenal pergi dalam damai. Terimakasih sudah berbagi cerita pada saya… Selamat Jalan Menuju Surga.



Rabu, Maret 03, 2010

Naar de Jogja


Entah dimana kutub magnet kota ini? Kami pilih tidak peduli saja dimana letaknya. Ya seperti inilah Jogja. Kecil tapi daya tariknya tak pernah habis. Kata Jogja dalam tulisan ini, tidak hanya mengacu pada kodya Jogja saja, tapi juga daerah sekitar Jogja seperti Sleman, Bantul, Kulon Progo dan pastinya Gunung Kidul.
Tidak ada yang menyangkal kota ini penting. Setidaknya, sejak 1755, pasca Perjanjian Giyanti. Dimana Kesultanan Yogyakarta hadiningrat berdiri setelah suksesnya pemberontakan Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan hamengkubuwono I. Yogyakarta adalah negeri yang lahir karena pemberontakan. Dan Yogyakarta bukan satu-satunya.

Banyak orang menuju kota ini. Tiap hari selalu ada bis pariwisata melintasi Jalan Malioboro. Selalu ada juga pengemudi-pengemudi sepeda motor yang dikejar setan. Mereka memacu kencang mesin agar cepat sampai kampus. Entah mau kuliah, mengumpul tugas dari dosen killer, atau sekedar ketemu pacar.
Kota ini seolah bukan milik Sri Sultan dan rakyatnya saja. Orang Kalimantan yang kuliah disini akan bilang saya betah tinggal disini. Juga orang dari pulau lain. Ada berjuta alas an mereka kangen Jogja. Mungkin di kota ini orang-orang kangen itu kenal cinta. Atau menemukan pasangannya. Ada juga yang kangen nasi kucing, beserta angkringannya. Banyak orang bilang, semua di Jogja murah, tapi orang-orangnya jelas tidak murahan. Mereka terbuka. Akhirnya jadilah kota ini milik siapa saja yang kangen padanya.
Pemandangan Jogja juga elok. Di sore yang cerah, bersepeda pancal kearah utara kota Jogja menyenangkan. Kita akan melihat Merapi. Gunung ini, mengingatkan orang pada sosok Mbah Marijan yang lugu dan baik hati. Dia pernah menyalami saya suatu pagi. Smoga dia sedang tersenyum di teras rumahnya sore ini.
Kata sejarawan, yang juga diamini anak-anak yang kuliah sejarah juga penduduk Jogja, daerah seputaran Jogjakarta adalah pemukiman tua yang sudah ada sejak zaman dulu. Terbukti banyak candi-candi dan bangunan tua lain yang ditemukan di sekitar Jogja. Pokoknya, banyak bentuk wisata di Jogja.
Kota ini juga hasilkan tokoh-tokoh hebat dalam sejarah Republik ini. Cukup panjang daftarnya jika kita sebutkan. Mulai dari tokoh politik, pendidikan dan kebudayaan. Wajar saja, sejak dulu kota ini sudah jadi kota pelajar. Ada banyak kampus, komunitas seni dan diskusi, juga banyak angkringan yang tidak jarang jadi tempat diskusi kecil.
Biar seru, saya akan cerita sedikit pentingnya Jogja zaman revolusi. Kota ini pernah jadi Ibukota Negara. Karenanya Jenderal Spoor begitu gigih merebut kota ini. Operasi bersandi burung gagak alias Kraii Operatie dia lancarkan. Pasukan penyerbu pun pilihan. Pasukan yang pernah dilatih dan dipimpin Westerling. Untung Westerlig tidak terlibat. Seperti saya tulis di skripsi pertama saya, dia mundur dari dinas militer Belanda karena berbeda pendapat dengan Spoor dan menolak perintah memimpin operasi penyerbuan ke Jogja. Bagi yang tahu reputasi westerling di Sulawesi Selatan, mungkin akan membayangkan dia akan menjadi algojo lagi ketika menyerbu Jogja. Jogja pun akan banjir darah sperti Sulawesi Selatan. Lalu Kraii Operatie pun dpimpin Letkol Van Beek. Tanggal 19 desember 1949, operasi Gagak ini sukses meawan pimpinan Republik. Namun menjunkirbalikan posisi Belanda di meja Diplomasi, karena dunia internasional mulai bersimpati pada Republik. Mungkin sengketa Indonesia Belanda bisa lebih panjang jika Jogja tidak diserbu Belanda. Bagaimanapun, Jogja pun menjadi kota perjuangan. Perlawanan terus berjalan disekitar Jogja, meski kota ini telah diduduki Belanda. Meski kta ini telah diduduki, tetap saja serdadu KL asal Negeri Belanda takut tidur di Jogja. Mereka merasa gerlyawan Republik akan menghantui mereka di Jogja.
Itulah mengapa Jogja, yang menjadi simbol eksistensi Republik Indonesia, begitu berharga bagi Spoor—yang tewas mendadak 6 bulan setelah sukses merebut Jogja. Sekarang kota ini makin berharga lagi. Banyak anak muda yang bermimpi jadi sarjana rela dan betah tinggal di kota ini. Bahkan diantara yang betah tadi, rela tidak jadi sarjana, atau setidaknya menunda jadi sarjana, agar bisa selamanya di Jogja. Mari berkaca siapa mereka?

Ya inilah Jogja yang sejuta kenangan. Milik mereka yang punya kenangan di kota ini. Mereka yang selalu merindukannya, meski di seberang lautan. Jogja, kami datang. Mari menuju Jogja! Naar de Jogja, kata serdadu Belanda yang menyerbu Jogja dulu.