Sabtu, September 14, 2013

Sebatas Rindu pada Hoegeng

Kami tak bisa lagi percaya, meski berharap akan ada polisi jujur dan berani macam Hoegeng. Tapi, kami semua sadar jika itu khayal.


Berita soal terorisme dari kelompok radikal Islam sudah basi rupanya. Alias orang-orang waras akal tak mau lagi dengar. Berita penyerangan polisi lalu tersebar. Tapi, berita itu tak undang simpati masyarakat. Soal polisi orang-orang waras sudah banyak tidak peduli lagi, percaya sama polisi pun ogah. Polisi sudah menjadi momok. Jangankan berurusan, melihat pun sebaiknya jangan. Si kumis 1, kapolri kesayangan Beye, yang sepertinya belum minta maaf sama anak PUNK Aceh yang dibotaki pun bukan pemandangan bagus di televisi. Ya. Timur Pradopo betul-betul merusak mata saya kalau nonton berita di TV. Entahlah, banyak memori atau hal buruk soal polisi. Padahal, banyak kawan-kawan yang jadi polisi. Mungkin kelakukan opas polisi kolonial masih lebih nyaman. 
 Ada sebuah joke, konon ini joke dari Gus Dur. Hanya ada tiga polisi baik di Indonesia: pertama patung polisi; kedua polisi tidur (yang ada di jalan); dan polisi betulan yang namanya Hoegeng alias Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso. Saya pernah baca biografinya. Dia polisi yang berani tegakkan hukum demi keadilan. Dia pernah menolak banyak uang atau barang sogokan yang jumlahnya sangat banyak sekali waktu dinas di Medan.
Berita soal terorisme dari kelompok radikal Islam sudah basi rupanya. Alias orang-orang waras akal tak mau lagi dengar. Berita penyerangan polisi lalu tersebar. Tapi, berita itu tak undang simpati masyarakat. Soal polisi orang-orang waras sudah banyak tidak peduli lagi, percaya sama polisi pun ogah. Polisi sudah menjadi momok. Jangankan berurusan, melihat pun sebaiknya jangan. Si kumis 1, kapolri kesayangan Beye, yang sepertinya belum minta maaf sama anak PUNK Aceh yang dibotaki pun bukan pemandangan bagus di televisi. Ya. Timur Pradopo betul-betul merusak mata saya kalau nonton berita di TV. Entahlah, banyak memori atau hal buruk soal polisi. Padahal, banyak kawan-kawan yang jadi polisi. Mungkin kelakukan opas polisi kolonial masih lebih nyaman. Ada sebuah joke, konon ini joke dari Gus Dur. Hanya ada tiga polisi baik di Indonesia: pertama patung polisi; kedua polisi tidur (yang ada di jalan); dan polisi betulan yang namanya Hoegeng alias Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso. Saya pernah baca biografinya. Dia polisi yang berani tegakkan hukum demi keadilan. Dia pernah menolak banyak uang atau barang sogokan yang jumlahnya sangat banyak sekali waktu dinas di Medan.
Dia pernah memimpin jawatan imigrasi sebelum jadi Panglima Angkatan Kepolisian (Kapolri). Dia tergolong sebagai orang-orang baik dan bisa diandalkan di awal orde baru. Tapi, banyak yang sepakat dia bukan antek ORBA sejati macam Sudomo. Karirnya terhenti di tahun 1971, ketika ada kasus penyelundupan Robby Tjahjadi yang melibatkan pejabat, kasus Sum Kuning yang melibatkan anak-anak penggede di Yogyakarta, dan kasus lain yang tak terselesaikan. Hoegeng merasa penasaran sebenarnya, tapi tak bisa berbuat apapun.
 Seandainya serdadu Nipon tak pernah datang dan menduduki Indonesia, Hoegeng mungkin bakal jadi Pengacara atau notaris. Dia pernah kuliah di Recht Hoge School (sekolah tinggi hukum) di jakarta. Kondisi masa pendudukan Jepang yang penuh ketidakpastian, membuatnya ambil keputusan ikut kursus kepolisian. Tidak langsung jadi inspektur, Hoegeng harus rela dinas sebagai Agen polisi rendahan yang kudu patroli pakai sepeda. 
 Di jaman revolusi, Hoegeng sempat jadi Mayor di Polisi Militer AL. Namun dia keluar dan memilih jadi polisi sipil biasa. Hoegeng merasakan sulitnya jaman revolusi dan pernah jadi tawanan Belanda juga. Dia bisa bebas karena Oom dia adalah Abdulkadir yang pejabat tinggi Belanda yang mewakili Belanda dalam perjanjian Renville. Hoegeng termasuk orang yang rela belajar dari nol lagi, walau pernah punya pengalaman sebagai kepala polisi rendahan. Hoegeng pernah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Dia juga pernah dikirim ke Amerika untuk memperdalam ilmu tentang kepolisian.
Dia pernah memimpin jawatan imigrasi sebelum jadi Panglima Angkatan Kepolisian (Kapolri). Dia tergolong sebagai orang-orang baik dan bisa diandalkan di awal orde baru. Tapi, banyak yang sepakat dia bukan antek ORBA sejati macam Sudomo. Karirnya terhenti di tahun 1971, ketika ada kasus penyelundupan Robby Tjahjadi yang melibatkan pejabat, kasus Sum Kuning yang melibatkan anak-anak penggede di Yogyakarta, dan kasus lain yang tak terselesaikan. Hoegeng merasa penasaran sebenarnya, tapi tak bisa berbuat apapun. Seandainya serdadu Nipon tak pernah datang dan menduduki Indonesia, Hoegeng mungkin bakal jadi Pengacara atau notaris. Dia pernah kuliah di Recht Hoge School (sekolah tinggi hukum) di jakarta. Kondisi masa pendudukan Jepang yang penuh ketidakpastian, membuatnya ambil keputusan ikut kursus kepolisian. Tidak langsung jadi inspektur, Hoegeng harus rela dinas sebagai Agen polisi rendahan yang kudu patroli pakai sepeda. Di jaman revolusi, Hoegeng sempat jadi Mayor di Polisi Militer AL. Namun dia keluar dan memilih jadi polisi sipil biasa. Hoegeng merasakan sulitnya jaman revolusi dan pernah jadi tawanan Belanda juga. Dia bisa bebas karena Oom dia adalah Abdulkadir yang pejabat tinggi Belanda yang mewakili Belanda dalam perjanjian Renville. Hoegeng termasuk orang yang rela belajar dari nol lagi, walau pernah punya pengalaman sebagai kepala polisi rendahan. Hoegeng pernah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Dia juga pernah dikirim ke Amerika untuk memperdalam ilmu tentang kepolisian.
Meski tak jadi pejabat polisi lagi, Hoegeng bukan manusia apatis "sok realistis" Hoegeng berani kritis pada Suharto cs. Butuh keberanian untuk itu. Resiko melawan Suharto cs itu tidak ringan. Hoegeng sendiri pernah dipersulit. Hoegeng harus kehilangan panggung Hawaiian di TVRI. Karena melawan, hobby bermusiknya dimatikan sama rezim satu itu. Tidak mudah jadi orang jujur. Juga jadi polisi jujur. Buat kawan-kawan yang polisi, sebetulnya Hoegeng adalah Panglima terbaik kalian, belum ada yang menandinya.
 Orang-orang Indonesia, setidaknya saya, sangat merindukan polisi jujur macam Hoegeng. Sebetulnya kami ingin percaya, tapi bagaimana kami percaya jika uang kami dihisap dan entah lari kemana waktu bikin SIM atau ditilang? Padahal, sepertikata kawan saya, di sebuah negeri antah berantah sebuah jalan layang dibangun dari uang tilang. Bagaiamana kami bisa percaya jika ada orang-orang yang ditangkap tanpa jelas perkaranya? Bagaimana kami bisa menghormati kepala polisi yang tak berani tidak anggotanya yang korup? Bagaimana kami bisa terlindungi oleh polisi yang manut sama penguasa tak jujur?
 Kitorang semua tak bisa berharap apa-apa lagi, dan mungkin hanya sebatas rindu saja pada Hoegeng si polisi baik. Sebetulanya, masih ada lagi kebaikan Hoegeng seperti perpisahannya dengan SUsy dan Domo yang disayanginya, keduanya nama orangutan peliharaannya, ke alam hijau. Sayang, tak semua polisi seperti Hoegeng.
Meski tak jadi pejabat polisi lagi, Hoegeng bukan manusia apatis "sok realistis" Hoegeng berani kritis pada Suharto cs. Butuh keberanian untuk itu. Resiko melawan Suharto cs itu tidak ringan. Hoegeng sendiri pernah dipersulit. Hoegeng harus kehilangan panggung Hawaiian di TVRI. Karena melawan, hobby bermusiknya dimatikan sama rezim satu itu. Tidak mudah jadi orang jujur. Juga jadi polisi jujur. Buat kawan-kawan yang polisi, sebetulnya Hoegeng adalah Panglima terbaik kalian, belum ada yang menandinya. Orang-orang Indonesia, setidaknya saya, sangat merindukan polisi jujur macam Hoegeng. Sebetulnya kami ingin percaya, tapi bagaimana kami percaya jika uang kami dihisap dan entah lari kemana waktu bikin SIM atau ditilang? Padahal, sepertikata kawan saya, di sebuah negeri antah berantah sebuah jalan layang dibangun dari uang tilang. Bagaiamana kami bisa percaya jika ada orang-orang yang ditangkap tanpa jelas perkaranya? Bagaimana kami bisa menghormati kepala polisi yang tak berani tidak anggotanya yang korup? Bagaimana kami bisa terlindungi oleh polisi yang manut sama penguasa tak jujur? Kitorang semua tak bisa berharap apa-apa lagi, dan mungkin hanya sebatas rindu saja pada Hoegeng si polisi baik. Sebetulanya, masih ada lagi kebaikan Hoegeng seperti perpisahannya dengan SUsy dan Domo yang disayanginya, keduanya nama orangutan peliharaannya, ke alam hijau. Sayang, tak semua polisi seperti Hoegeng.

Jumat, September 06, 2013

Pilot (Tempur) Generasi Pertama Indonesia

Masih menjadi misteri, siapakah orang Indonesia yang pertama kali jadi pilot? Setidaknya ada beberapa nama pilot sohor Indonesia generasi pertama, mereka kebanyakan pilot militer.
Ada yang menulis, Bob Freiberg adalah pilot RI pertama. Ini karena Bob menerbangkan RI 002 Seulawah. Itu bukan berarti Bob pilot pertama yang pernah ada di Indonesia. Siapakah orang yang pertama kali terbang di Indonesia? Orang-orang awam mungkin ingat mitologi Bramakumbara yang terbang dengan burung raksasa-nya. 
        Di Wonosobo, 18 Januari 1914, Dennij, seorang pembuat balon udara yang kesohor di masanya, mendemonstrasikan atraksi balon udara di hadapan  masyarakat Wonosobo. Banyak orang-orang melihatnya di tanah lapang. Orang-orang Wonosobo bersorak ketika balon berhasil terbang. Sayang, ketika mendarat terjadi kecelakaan. Orang-orang yang terkesima pun tegang. Balon udara rusak berat, sementara Dennij cidera.  Orang-orang pribumi masih belum terbiasa dengan teknologi barat.(Sinar Djawa, 23 Januari 1914)
Legercommandant KNIL pun bekas pilot
Hein Ter Porten tergolong sebagai salah satu pilot pertama di Hindia Belanda. Sehari-hari dia adalah Letnan Artileri KNIL. Dia belajar terbang dengan uangnya sendiri. Dia pernah terbang mengitari Batavia. (Gedenschrift Koninklijk Nederlansche Indische Leger 1830-1950, hlm. 76-77). 
Hein Ter Porten yang mantan pilot militer jadi tawanan.
Hein Ter Porten yang mantan pilot militer jadi tawanan.
Penerbangan Ter Porten tak selamanya mulus. Pada 14 Februari 1916
Pesawatnya mengalami kecelakaan di Kalijati. Kecelakaan ini disebabkan oleh rusaknya mesin pesawat, ditambah keadaan cuaca yang buruk. Kala itu Ter Porten adalah ajudan dari Jenderal Michielsen— Legercommandant (Komandan Pasukan) KNIL. Ter Porten luka parah kala itu. Sementara Michelson meninggal dunia dan dimakamkan keesokan harinya. (Pembrita Betawi, 16 Februari 1916)
Belakangan, Ter Porten jadi komandan KNIL juga, menggantikan Barenschot yang meninggal karena kecelakaan pesawat, seperti yang dialami Michelsen. Setidaknya dua Jenderal KNIL meninggal karena kecelakaan pesawat. Nasib Ter Porten sebagai komandan KNIL pun tergolong merana, dia kalah perang dan KNIL vakkum. Dirinya pun sempat hidup di kamp interniran sebagai tawanan.
Pribumi Terbang
Tersebutlah Soetardjo—putra Bupati Bandung. Dia seorang Sportvlieger (olahragawan penerbang pesawat layang sederhana) Indoensia pertama. Pada 9 Februari 1932 dirinya telah mengadakan percobaan terbang untuk mendapatkan brevet dibidang terbang layang dari Nederlandsche Indie Vlieg Club (peerkumpulan aerosport Hindia Belanda). Sayang dalam percobaan itu Soetardjo jatuh sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Brevet yang diinginkannya pun kandas untuk beberapa waktu. (Pelita Andalas, 11 Februari 1932)
Surjadi Suryadarma, bekas pilot KNIL yang belakangan KSAU
Surjadi Suryadarma, bekas pilot KNIL yang belakangan KSAU
Sebelum Adisucipto terbang di tahun 1945, ada beberapa nama lain yang layak disebut sebagai pilot. Setidaknya ada Surjadi Surjadarma, Samboja Hurip, dan tentu Adi Sucipto sendiri. Mereka semua adalah penerbang militer.
        Surjadi Surjadarma adalah lulusan Akademi militer Breda di Belanda. Sebelum ikut latihan terbang dia adalah perwira KNIL. Belakangan dia dilibatkan dalam dunia pernebangan militer, sebelum Jepang datang ke Indonesia. Surjadi, kemudian menjadi Kepala Staf Angkatan Udara RI pertama dan terlama.
Adisucipto salah satu perintis penerbangan militer Indonesia
Adisucipto salah satu perintis penerbangan militer Indonesia
Adisucipto adalah pilot Indonesia paling kesohor. Dia menggerakan penerbangan militer di awal RI berdiri. Dia dikenal sebagai Bapak penerbangan RI. Kawan Adi Sucipto yang cemerlang selam latihan pilot oleh Belanda adalah Sambudjo Hurip. Sambudjo Hurip, terkenal sebagai petenis professional sebelum Perang Pasifik. Ancaman Jepang membuatnya harus ikut perang, sebagai pilot. Dia meninggal dalam sebuah operasi menghadapi pesawat-pesawat Jepang lalu hilang di sekitar Sumatra. 
Abdurahman Saleh Sang dokter yang terbang
Abdurahman Saleh Sang dokter yang terbang
Di zaman Adisucipto, sebetulnya banyak pilot kesohor seperti Abdurahman Saleh yang seorang dokter dan juga perancang pemancar radio  yang menyiarkan berita kemerdekaan RI. Taka da catatan bagaimana Abdurahman Saleh belajar terbang. Sebagai dokter dengan bayaran yang bagus tentu bukan hal sulit untuk ikut kursus. Nyatanya, setelah 1945, Abdurahman Saleh bisa menerbangkan pesawat.  Selain itu, ada juga Abdul Halim perdanakusumah yang pernah menjadi navigator pesawat pembom Canada dalam front Eropa semasa Perang Dunia II. AURI sedari awal sudah dilimpahi pilot-pilot hebat, namun sedari dulu hingga kini, pesawat-pesawat mereka tak memadai untuk mengawal angkasa nusantara.Halim Perdanakusuma, bekas navigator veteran front Eropa
Halim Perdanakusuma, bekas 

Selasa, September 03, 2013

Di Leang-leang bersama murid-murid

Tak lengkap rasanya jika melupakan gua Leang-leang untuk dikunjungi. Setelah 3 tahun, akhirnya saya melihat lagi lukisan purba di dalamnya.
Museum samping istana Balalompoa
Museum samping istana Balalompoa
Meski lelah, jadi backpacker jelas seru. Sabtu siang, saya baru turun dari Malino. Sekedar mengamati kota mungil di timur Makassar. Sekedar menyinggahi sebuah gereja kecil yang dulunya pernah dilangsungkan konferensi Malino pada 1946. Setelah mencari dan salah tempat, saya akhirnya temukan tempat itu. Lalu mengambil gambar dengan ditemani beberapa suster yang manis-manis. Dari gereja mungil itu lalu ke sebuah makam yang tampaknya telah berubah tugunya. Dari Malino saya langsung ke Balalompoa, sekedar cari informasi soal kacamata seorang sahabat yang tertinggal disana. Hasilnya tidak meyakinkan.
para manusia gua
para manusia gua
Esok paginya, saya penuhi janji untuk jalan-jalan ke Bantimurung. Jauh hari sebelumnya, saya pernah berjanji kepada murid-murid di sekitar Makassar untuk jalan-jalan ke Bantimurung. Tapi sebelumnya saya ingin singgahi sebuah gua purba di desa Leang-leang yang tak jauh dari Bantimurung. Semua sepakat dengan rencana saya. Kami naik pete-pete (sebutan angkot bagi orang-orang Makassar) dari jalan poros dekat Bandara. Beruntung dapat pete-pete yang ternyata supirnya adalah penduduk Leang-leang juga. Setelah melewati sebagian kota Maros, kami melewati daerah penuh sawah di kanan dan kiri jalannya. Sebelum Bantimurung, kendaraan belok kiri, masuk ke gua Leang-leang.  
Lukisan dinding di gua Leang-leang
Lukisan dinding di gua Leang-leang
Begitu sampai di loket dan pintu gerbang kami langsung menuju gua dengan berjalan kaki menyusuri taman hijau yang dipenuhi batu-batu yang mirip batu di tepi laut. Bukan batu Andesit. Taman ini disebut Taman Purbakala. Dulunya, mungkin ratusan ribu tahun silam, daerah ini adalah laut. Untuk mencapai gua, kami harus naik tangga besi yang disediakan pengelola tempat wisata yang memungut Rp 10.000 sekali masuk bagi wisatawan.
Akhirnya, pemandangan yang kami tuju pun di depan mata. Sebuah lukisan dinding buatan manusia purba. Sebuah gambar babi rusa disertai beberapa telapak tangan manusia. Ukuran telapak tangan tak jauh beda dengan telapak tangan manusia sekarang. Kata penjaga gua, lukisan itu memakai bahan pewarna dari tumbuh-tumbuhan yang ada di zaman purba, yang mungkin tumbuhan itu sudah punah.
Di dalam gua
Di dalam gua
Sudah pasti kami ambil foto sepuasnya di dalam gua. Untungnya, tak ada biaya masuk untuk kamera di tempat ini, seperti halnya banyak tempat di Jogja yang sudah kenakan biaya tambahan jika membawa kamera. Selesai berfoto di gua, kami turun dan berfoto di taman purbakala. Sementara anak-anak berfoto, saya mencari jejak Kjokenmodinger(sampah dapur). Saya agak lupa dimana tempatnya, karena sudah 3 tahun tak kunjungi lagi tempat ini. Karena kami tak lama, hanya sekitar satu jam. Kami harus ke Bantimurung untuk bersenang-senang sampai siang. Senang sekali bisa ke tempat ini bersama murid-murid. Dimana pun dan dalam kondisi apapun, bersama mereka penuaan itu serasa mitos. Saya serasa masih 23 tahun.Taman Purbakala
Taman Purbakala

Senin, September 02, 2013

Jejak Sekolah Guru Pelaut

Banyak peristiwa penting terjadi dikawasan yang dulu disebut Kampemen KIS. Pernah ada Sekolah guru pelaut dan akhirnya tetap jadi tangsi lagi.
Sore terakhir saya habiskan dengan mengunjungi tempat penting di kota Makassar. Sebelum mengunjunginya, saya pernah menulis soal peristiwa penting di kota ini, termasuk tempat yang dulunya pernah disebut sebagai kampemen KIS. Beruntung saya bisa mengunjunginya.
Dulunya, di tahun 1924 jalan ini bernama Strand Weg. Kawasan ini tak jauh dari laut. Kawasan ini adalah kawasan vital bagi Angkatan Laut Belanda di Makassar. Betapa tidak, ada bangunan dan sekolah penting bagi masa depan palayaran Belanda disini.
Sekolah Guru Pelayaran Makassar (1924)
Sekolah Guru Pelayaran Makassar (1924)
Dalam sebuah foto dari Tropen Museum yang diambil pada 20 April 1924, ada seorang pelaut menenteng senapan laras panjang berjaga di depannya. Pelaut bersenjata itu nampaknya orang pribumi. Bisa dipastikan jika sekolah guru pelayaran ini milik Angkatan Laut Belanda. Di atas pintu gerbang terdapat tulisan, Kweekschool voor Inlandsche Schepelingen, yang bisa diartikan sebagai Sekolah Guru Pelayaran Pribumi.
Saya lalu teringat koran tua yang pernah saya bongkar 2007 silam. Pewarta Makassar menulis:  Letnan Goozsen, perwira Angkatan Laut Hindia Belanda yang tinggal di Bogor, mendapat perintah agar membantu petinggi militer Hindia untuk mendirikan sekolah pelaut di Hindia Belanda yang akan dibangun di Padang dan Makassar.
Rencananya, Orang-orang pribumi yang lulus dari sekolah pelaut itu akan ditempatkan di kapal perang yang menjaga perairan Hindia Belanda—yang sekarang menajdi perairan Indonesia. Tujuan dari perekrutan orang-orang prinbumi tidak lain untuk mengurangi ketergantungan dari pelaut yang diambil dari negeri Belanda. Wilayah koloni Hindia Belada yang demikian besar--dimana lautannya lebih luas dibandingkan daratannya, maka armada laut yang menjaga lautan sangatlah penting sekali. (Pewarta Makassar, 20 Februari 1914)
Harap maklum, sedari dulu sejak ratusan tahun silam, kota Makassar memang kota pelabuhan penting, setidaknya di Indonesia bagian timur. Jazirah selatan Sulawesi tak hanya dikenal sebagai pusat pelayaran saja, sebuah kitab hukum Laut pun bernama Amanna Gappa, diambil dari nama salah orang Bugis Wajo yang menyusunnya.
Bekas kampement KIS akhirnya jadi markas Zeni Tempur
Bekas kampement KIS akhirnya jadi markas Zeni Tempur
Sekarang, bangunan sekolah itu masih ada meski ada perubahan sedikit. Namun bukti jika itu bekas sekolah pelayaran kolonial masih tersisa. Sekarang, gedung yang terletak di Jalan Rajawali itu, telah menjadi markas dari Batalyon Zeni Tempur 8 SMG. Sebelumnya, daerah pernah menjadi tangsi KNIL yang disebut kampement KIS (tangsi KIS).
Tahun 1950, di kawasan ini pernah terjadi pertempuran antara TNI dari Jawa dengan KNIL yang tak rela Makassar berada di tangan TNI--ketika Peristiwa Andi Azis bergolak membakar kota ini. Ketika menulis soal Andi Azis saya mulai familiar dengan nama kampement KIS. Belakangan saya baru paham mengapa namanya adalah kampement KIS, ternyata karena dulunya bekas sekolah pelayaran KIS tadi.
Entah kapan berubah jadi tangsi tentara, saya belum tahu, hanya saja di jaman perang kemerdekaan di sekitar bekas area sekolah ini jadi tempat berkumpul tentara Belanda. Ada yang mengatakan ada bunker di sekitar tempat ini.     
Rumah Tahanan Militer. Mungkin Walter Monginsidi pernah ditahan disini
Rumah Tahanan Militer. Mungkin Walter Monginsidi pernah ditahan disini
Tak jauh dari bekas kampement KIS ini terdapat rumah tahanan militer. KOnon katanya, Walter Manginsidi pernah ditahan di sekitar kampement KIS. Bisa jadi disinilah tempat Walter Manginsidi yang doyan kabur dan sebenarnya enggan menyerah pada Belanda itu ditahan.  Kawasan Jalan Rajawali, seperti juga beberapa kawasan lain adalah kawasan penting bagi kota Makassar di masa lalu. 
Sayang sekali, gedung ini bukan jadi sekolah pelaut yang sedianya bisa menjaga lautan Indonesia yang luas dan sering dicuri kekayaan lautnya.

Jumat, Agustus 30, 2013

Kami adalah Keluarga (Besar) Metallica

Musik rock di Indonesia seolah tenggelam begitu dalam, buat saya. Geliatnya baru gemilang lagi 25 Agustus 2013, ketika Metallica manggung.

Selain Tae Kwon Do, Palang Merah dan pastinya Sejarah, musik rock adalah hal penting di masa-masa SMA. Tanpa sadar, saya sudah dengar John Lennon dari kecil. Saya baru menyadarinya saat SMA. Di SMP, saya sudah dengar dengar Led Zeppelin; Deep Purple; Grand Funk Railroad; AKA dan entah apalagi dari piringan hitam di rumah. Hampir semua piringan yang ada pernah saya putar, termasuk lagu-lagu cengengnya Panbers atau Freedom of Rhapsodia.
            Saya punya banyak teman keren yang kenalkan saya banyak hal. Tukul alias Dwi Saputro perkenalkan Guns and Roses dan juga Metallica. Tak sekedar dengar lagu-lagu cadas mereka, kami kadang bicara tentang mereka. Kami sering menikmati Nothing Else Matter atau Enter sandman. Saya tak pernah punya mimpi untuk menonton langsung konser band rock besar macam mereka. Itu sangat mustahil. Saya kira, waktu itu, band-band rock besar dunia ogah konser di Indonesia. Apalagi Metallica punya mengalaman buruk konser di Indonesia. 
            Trend musik lalu berubah. Anak muda Indonesia belakangan lebih suka musik yang tak menggugah smangat, macam ST 12, Kangen Band dan entah apalagi. Itu semakin meyakinkan saya, "sampai kiamat pun tak bakal ada Band rock, bahkan yang Metal bakal ridho konser di negeri ini. Sebuah kiamat panjang yang menyakitkan dan terpaksa harus dinikmati anak muda pecinta musik cadas.
            Di masa kiamat panjang itu, ternyata masih ada segelintir anak muda yang masih doyan rock. Beruntung, di kampus saya yang payah masih ada penggemar rock. Ada anak-anak mahasiswa pecinta alam, anak-anak band kampus dan beberapa senior organisasi kampus lain yang bisa diajak berbagi MP3 atau cerita soal band rock. Meski nampak ketinggalan jaman, tetap saja musik rock hebat di masa itu. 
            Sekian lama musik rock tak menggema begitu rupa. Tanpa semarak konser rock band besar dunia Indonesia seolah mengalami kiamat panjang, beruntung Metallica akhirnya datang. Secara pribadi saya bukan penggemar metal, banyak tahu saya adalah penikmat Pink Floyd, tapi Metallica meyakinkan saya jika rock itu masih layak didengar oleh orang-orang Indonesia. Tanpa ragu saya terima ajakan kawan sekantor saya, sebut saja Angga Adil Darmawan, yang mengajak saya nonton Metallica. Kami tak peduli harganya, yang penting Metallica. Kami berdua berjuang memburu tiket untuk melihat Kirk Hammet, James Hetfield, Lars Ulrich dan Robert Trujilo manggung di Senayan. Beruntung kami temukan tiket itu juga di Matraman, maaf nama tempat itu ogah saya sebutkan.
            Tanggal 25 Agustus 2013 pun tiba. Kami bersukacita menyambut konser itu. Kami berangkat bersama. Mendekati Senayan, kami orang berbaju hitam dimana-mana. Mereka juga akan ke Senayan seperti kami. Metallica adalah tujuan kami. 
Norak bersama John Paul Ivan
Norak bersama John Paul Ivan
Sampai di Senayan, saya melihat rocker keren yang dipuja-puja bocah-bocah jaman saya. Dia John Paul Ivan, mantan gitaris Boomerang yang sekarang tak pernah saya lihat lagi. Terakhir lihat di Palembang, waktu ada konser yang menghadir banyak gitaris di sana, bersama kawan saya Olin Reynaldi dua tahun silam.        
Saya mendadak norak, minta foto bareng. Saya mendadak seperti anak SMA lagi. Tak apa, itu bukan dosa! Ini nostalgia. Beruntung, JOhn Paul Ivan yang mulai terlupakan itu dengan senang hati diabadikan bersama kami. 
            Pukul lima sore kami masuk Stadion Senayan. Ternyata festival A masih agak sepi. Kami ambil posisi di depan. Sambil duduk, kami pun dengan cepat ngobrol dengan penonton lain. Tanpa memperkenalkan nama. Kami hanya bicara Metallica tanpa tahu siapa nama lawan bicara kami. Kami seolah sudah kenal sejak SMA. Semua penonton Metallica di stadion rasanya seperti kawan baik. Di konser lain saya tak pernah merasa seperti itu.
  Seringai tampil sebagai band pembuka. Sebelumnya ada Raisa, penyanyi cewek yang baru naik daun, memimpin kami semua menyanyikan Indonesia raya dari atas panggung. Saya baru tahu itu adalah Raisa yang sering dibicarakan teman-teman di kantor. Seringai tampil juga bersama Stevi Item, yang aslinya memang anak Metal, tapi orang lebih sering lihat dia jadi personilnya Andra and The Backbone.
Setelah seringai turun panggung, kami menunggu satu jam Metallica untuk naik panggung. Entah alasannya apa, tetap saja itu menyebalkan. Banyak yang tak sabar, beruntung orang-orang bisa tahan diri. Tak seperti yang dibayangkan, penonton Metallica di sekitar kami adalah orang-orang tertib karena punya kesadaran pentingnya damai. Mungkin tak seperti penonton dangdut koplo yang mabuk. Maklum kebanyakan penonton adalah orang-orang yang usianya sekitar 30 tahunan, bahkan lebih.
James dkk beraksi
James dkk beraksi
Akhirnya, James dkk pun muncul. suasana mendadak meriah. Dan kiamat kecil yang panjang, dimana lingkungan sekitar jauh dari hingar bingar musik rock, pun segera berakhir. Ada kegembiraan tak tertahan dalam benak saya. Entah penonton lain. Ada diantara mereka yang menanti 20 tahun untuk menonton Metallica. Kangen mereka terobati. Dari jauh mereka datang ke Jakarta. Dengan pesawat, kereta api juga mungkin kapal laut. Semua demi Metallica. Jakarta pun menghitam. Tapi damai. 
Sebenarnya FPI ulang tahun di hari Metallica konser. Mereka sepertinya takut sama anak-anak metal. Dulu mereka boleh gagalkan Lady Gaga, tapi tidak Metallica. Mereka pasti hancur jika mencoba gagalkan Metallica, karena anak metal itu berotak dan berotot, cerdas dan bersemangat.  Harus diakui, kawan-kawan saya yang penggemar Metallica adalah orang-orang cerdas dan berani. FPI tak berani sweep and destroy...
James, ditengah konser berteriak pada semua penonton, "kalian adalah keluarga besar Metallica." Saya sepakat sekali. Saya terenyuh ketika penonton bagian depan mengambil air mineral gelasan, lalu mengoperkannya ke belakang, yang dibelakangnya, menyerahkannya ke belakang lagi. Banyak penonton yang berbagi segelas air gelasan itu ditengah konser. Jakarta boleh mengajarkan individualisme, tapi saya tak lihat rasa Individualisme yang belakangan diangkat oleh kawan-kawan Jakartais saya kantor.
Kembali ke konser, saya lupa urutan lagu-lagu yang dibawakan. JUjur saya tak hafal lagu-lagu Metallica, tapi tetap saja saya jingkrak-jingkrak, kadang seperti kerasukan. Ada rasa yang luar biasa ketika Nothing Else Matter yang alunannya agak santai. 
Semua lalu memuncak ketika Enter Sandman dibawakan James dkk. Hampir semua penonton tampak lebih menikmati konser. Seperti ada kebahagiaan yang sulit digambarkan. Senang bisa menonton Metallica. Hitam itu ternyata tidak buruk, nyatanya penonton Metallica yang berbaju hitam punya humanisme yang baik daripada orang berdasi. Saya masih terngiang, "kami adalah keluarga besar Metallica."

Mengintai Orang Kate Dari Utara

Ini bukan review film. Tapi hanya catatan soal bagaimana sekutu memata-matai Jepang di Pasifik.

Sekutu tak tinggal diam ketika Balatentara Jepang menduduki Indonesia. Untuk Indonesia, di Australia yang menjadi ladang pengungsian besar-besaran dari pihak Belanda pun sudah punya rencana untuk Indonesia. Bersama Tentara Belanda, pihak Australia terus melakukan kerja terpisah dalam mengumpulkan data-data kekuatan militer Jepang di Indonesia. Hanya infiltrasi yang bisa dilakukan mengingat kuatnya militer Jepang di Indonesia. 
Wilyah kekuasaan Angkatan Laut Jepang, Armada Selatan Kedua, yang membawahi  daerah Kalimatan hingga sekitar perairan Papua, adalah sasaran infiltrasi yang agaknya dianggap lemah. Wilayah armada selatan kedua itu jelas jauh lebih luas daripada wilayah Tentara ke-16 (Angkatan Darat) di Jawa dan Tentara ke-25 (Angkatan Darat) di Sumatra.
Ada beberapa misi rahasia dari pihak sekutu: Inggris; Belanda; Australia dan Selandia Baru dalam memata-matai Jepang di Indonesia. 

Z Force Hingga Mel Gibson
Sebuah satuan intelejen bernama SAD Force (Z Force) dikirim menyusup ke Balikpapan untuk mengumpulkan informasi intelejen. SAD Force adalah regu intelejen yang berpangkalan di Morotai. Regu ini berjumlah 14 orang tentara sekutu yang dipimpin oleh William C. Dwyer, salah satunya adalah orang Melayu. dengan kapal selam regu ini berangkat dari Morotai dan mendarat ditepi pantai Sigaku, Samboja. Mereka mendapat bantuan dari penduduk setempat. Tidak semua penduduk bersimpati pada mereka karena ada salah satu penduduk yang melapor pada Kempeitai Jepang di Balikpapan mengenai keberadaan penyusup itu di Samboja. Atas laporan itu Jepang segera bertindak dengan mengirim sekompi pasukan untuk memburu para penyusup itu. (Agus Suprapto, Perang Berebut Minyak: Peranan Strategis Pangkalan Minyak Kalimanatan Timur dalam Perang Asia Pasifik 1942-1945, hlm.197-202).
Pasukan Jepang berusaha menangkap mereka, penyusup SAD Force itu berlari kearah hutan Sigaku yang lebat. Dua anggota SAD Force tertangkap Jepang ketika merusak sarana komunikasi milik Jepang di Sungai Tiram. Dengan menambah jumlah pasukan, para penyusup itu terus diburu tentara Jepang. Akhirnya, hutan itu dipagar betis oleh pasukan Jepang agar para penyusup tidak bisa lolos lagi. Akhirnya terjadi pertempuran sengit antar pasukan itu. Pasukan khusus SAD Force tidak mau menyerah dan terus mealwan pasukan Jepang yang jumlahnya lebih dari satu kompi itu.
Penyusup SAD Force terus membobol kepungan pasukan Jepang yang sudah rapat itu. Penyusup itu berhasil membedah kepungan pasukan Jepang yang dianggap lemah dengan tembakan bertubi-tubi sehingga prajurit yang mengepung itu tewas. Kecuali seorang petugas radio yang ditangkap, penyusup SAD Force berhasil meloloskan diri dari kepungan Jepang itu.
Misi ini seolah tanpa hasil karena belum cukup memperoleh data. Mereka kembali ke pangkalan mereka di kepulauan Morotai dengan dijemput oleh pesawat Catalina—bersama penyusup SAD Force terdapat empat orang penduduk setempat yang kemudian dimintai keterangan mengenai posisi Jepang di Balikpapan. Tetap saja belum ada informasi intelejen yang layak yang digunakan untuk merencanakan penyerbuan ke Balikpapan. Setelah penyusupan itu gagal, Penjawat (camat) Samboja A.R. Ariomidjoyo, Mantri Polisi H. Anwar, dan Kepala kampung H. Arief ditangkap dari rumahnya. Atas tuduhan membantu penyusup SAD Force ketiga orang itu dieksekusi tanpa diadili terlebih dahulu. (Agus Suprapto, Perang Berebut Minyak: Peranan Strategis Pangkalan Minyak Kalimanatan Timur dalam Perang Asia Pasifik 1942-1945, hlm. 204).
Begitulah misi Z Force di Indonesia. Ternyata, Z Force tak hanya bergerak di Kalimantan saja. Mereka juga bergerak di daerah pendudukan Jepang yang lain di Asia Tenggara dan sekitar Papua. Tim khusus ini tak hanya melibatkan serdadu-serdadu Bule, orang-orang Timor, melayu pun dilibatkan. Mereka tak hanya cari informasi, mereka juga melakukan sabotase untuk mengganggu gerakan Jepang di Kepulauan Pasifik. (David Horner, (1989). SAS: Phantoms of the Jungle-A History of the Australian Special Air Service, hlm. 26).
Kisah heroik tim khusus ini pun kemudian difilmkan pada 1982 oleh Australia dan Taiwan. Saya belum telusuri lebih jauh apakah kisah film itu real atau tidak, setidaknya film buatan Australia itu terinspirasi dari aksi-aksi tim Z Force tadi. Film yang berjudul Attack Z Force ini juga melibatkan Mel Gibson sebagai Kapten Kelly, komandan pasukan misi. Tampaknya Mel Gibson tertarik dengan cerita pembebasan hingga dia terlibat dalam The Patriot,Braveheart, dan juga Galipoli. 

Misi Saumlaki dan NEFIS
Belanda tentu tak ketinggalan memata-matai Indonesia. Julius Tahiya dan seregu KNIL dikirim ke Kepulauan Saumlaki. Dengan kekuatan terbatas pasukan kecil ini berusaha melawan serdadu Jepang yang mengincar mereka. Meski sempat menuai kemenangan, tetap saja mereka harus pergi. Serdadu Jepang takan lepaskan mereka.
Julius Tahiya, masuk sebagai bintara KNIL di tahun 1937. Dia ikut menyeberang ke Australia ketika Perang Pasifik berkobar dan Tentara jepang masuk Indonesia. Julius Tahiya pernah melakukan pedaratan diam-diam di Saumlaki pada masa pendudukan Jepang sebagai bintara KNIL. Setelah PD II berakhir pangkat Julius Tahiya diaikan menjadi Letnan.
Semasa revolusi kemerdekaan RI, Julius Tahiya bekerja untuk kepentingan Belanda karena dia termasuk KNIL yang dibawa Belanda ke Australia. Julius Tahiya, sebagai orang Indoensia yang pastinya memiliki pengetahuan tentang Indonesia yang berusaha direbut kembali oleh Belanda, sangatlah penting kedudukannya. Karenanya Julius Tahiya dijadikan staf Jenderal Spoor dengan pangkat Kapten. Tahiya tidak lama menjadi staf Jenderal Spoor. (Julius Tahiya, Horizon Beyond, ab. Melani Budianta, Melintas Cakrawala: Kisah Sukses Pengusaha Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1997, hlm. 37-56, 71).
Seharusnya,  pengalaman JUlius dan kawan-kawannya bisa menjadi bahan pertimbangan bagi NEFIS yang berdiri sebelum 1945. NEFIS sendiri berdiri di AUstralia. Mereka sudah mulai mengumpulkan informasi apa saja soal kekuatan Jepang dan juga soal masyrakat Indonesia. Sayangnya, NEFIS gagal membuat analisa yang tepat soal Indonesia. Mereka mengira orang Indonesia akan senang jika Belanda kembali, karena kejamnya Jepang, namun yang terjadi sebalikanya. Mereka disambut dengan perlawanan, bukan sebagai pahlawan. Pimpinan NEFIS yang kesohor adalah Simon Hendrik Spoor yang kemudian jadi Legercommandant KNIL.
Gerrits Kakisina adalah lulusan Kader  School Gombong sebelum perang dunia II. Dia ikut mengungsi ke Australia. Sebagai Sersan II KNIL, dia dilatih  tentara Amerika untuk tugas Field Combat Intelliegence untuk menyerbu Asia Tenggara. Konon, Gerrits pernah bertugas di front Pasifik juga. Setelah Jepang menyerah, Gerrits adalah anggota NEFIS. Gerrits masuk ke Surabaya pada November 1945.Gerrits buta politik. Dia hanya berpikir dirinya serdadu yang harus professional yang harus jalankan apapun perintah komandan. Bukan mengikuti perkembangan politik. Selama di Australia, atasan-atasan Belandanya mengatakan yang akan dihadapinya di Indonesia adalah Ektrimis. Ketika bertugas di TNI, di tahun 1960an, dengan pangkat Letnan Satu, di Sumatra Selatan. Gerrits tidak begitu disukai. Bahkan dijauhi. Karena dirinya bekas musuh TNI di masa revolusi. Gerrits tak banyak bicara.  Dia pensiun dengan pangkat Kapten. (Z.A. Maulani, Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan danT anah Air (Memoar Seorang Prajurit TNI),Jakarta, Desata, 2005, hlm. 132-134). 
Gerits yang mantan NEFIS, mungkin juga termasuk orang yang ikut meneropong dan mematai serdadu Jepang yang disebut sebagai orang kate dari utara. Setidaknya dia pernah ikut melawan serdadu Jepang. Tak seperti orang macam Suharto yang tidak melawan Jepang. 

Senin, Juli 29, 2013

Sejarah adalah Hari Ini!

Sejarah bukan sembarang referensi! Faktanya, dengan belajar dari sejarah kita bisa membuat sejarah!!!
Hari ini tak dimulai dari tadi pagi, tapi sebelumnya lagi, begitulah monolog awal dalam film Mengejar  Matahari. Tak ada hari ini tanpa kemarin. Tak ada esok tanpa hari ini dan kemarin.
Kata orang, sejarah adalah masa-lalu. Pikiran macam itu menyesatkan mereka pada akhirnya, akhirnya mereka apatis pada banyak hal. Mereka seperti tak paham jika apa yang mereka lakukan hari ini akan menentukan di masa depan. Setidaknya, ada 2 alasan mengapa kita harus belajar sejarah:
Pertama, Tidak Mengulang Kesalahan Sama, Lupa adalah penyakit kronis manusia. Sangat penting bagi manusia untuk berjuang melawan lupa. Lupa, seperti kata Milan Kundera, adalah rezim paling berbahaya dan mengerikan. Lupa akan membuat kebodohan terulang kembali. Ada pepatah Belanda yang menyebutkan, “seekor keledai tidak akan jatuh pada lubang yang sama.” Maksudnya, kesalahan di masa lalu janganlah sampai terulang kembali di masa sekarang maupun di masa mendatang. Ada banyak contoh kesalahan fatal yang terulang. Diantaranya, serbuan Hitler ke Rusia di musim dingin yang gagal. Dingin salju menghambat pergerakan pasukan menyerang Rusia. Seabad sebelumnya, Napoleon pernah melakukannya dan gagal juga. Sebagai penyuka pelajaran sejarah, Hitler nampaknya tidak belajar dari sejarah.
Kedua, Menjadi Bijak. Mengambil keputusan adalah hal penting. Perlu banyak bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Sangat perlu sekali bagi para pengambil keputusan untuk menengok ke masa lalu. Hal ini karena sejarah memiliki arah gerak. dengan melihat arah gerak, maka semakin banyak hal yang bisa diramalkan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Tak ada yang salah dengan belajar dari masa lalu. Dari situ kekuatan bisa diukur. Untuk melangkah, kita harus paham potensi kita berdasar pengalaman. Contoh orang yang menjadi bijak dengan belajar dari sejarah paling terkenal adalah: Negara sekutu pemenan perang dunia II (1939-1945), tidak memperlakukan Jerman sebagai Negara yang kalah perang seperti pecundang yang dibebani banyak hutang dan terhina seperti pasca Perang Dunia I (1914-1918). Pasca PD II, Jerman bahkan dibantu memulihkan keadaan, meski Jerman agak dibatasi dalam masalah militer. Pasca PD I negara sekutu tak bijak dengan membebani Jerman banyak hutang dan membuat Jerman terhina. Akhirnya, Jerman bangkit lagi dan PD II meletus. Sikap Negara sekutu pasca PD II, cukup berhasil Jerman tak bisa berperang lagi.
                Sialnya, terutama di Indonesia, pelajaran sejarah jelas-jelas tidak membumi. Hingga orang-orang Indonesia pada umumnya dibuat tidak cerdas dengan mengatakan, “sejarah itu (pelajaran) hafalan.” Sebenarnya, ketidakcerdasan itu dibangun oleh sekelompok pihak yang ingin menjauhkan orang Indonesia masa depan dari sejarah mereka. Metode hafalan, yang sangat dibenci itu, dipaksakan pada semua siswa. Yang semula suka pun bisa jadi benci pada pelajaran sejarah. Apalagi yang tidak suka otomatis jadi semakin membenci. Sementara pemerintah (Indonesia) sangat suka sekali menjelali pelajaran sejarah di sekolah dengan sekian banyak materi yang wajib hafal. Mungkin ada tujuan, ketika sejarah tak disukai dan dijauhi maka orang-orang Indonesia tak kenal dirinya dan identitasnya. Setidaknya, dijauhkan dari kebenaran sejarah. Dengan begitu orang Indonesia hanya jadi robot baik kaum penguasa tertentu.
                Manusia tak paham sejarah, tentu tak beda dengan robot atau binatang. Yang dengan mudah digiring. Artinya metode hafalan bisa merusak bahkan menghilangkan humanisme seseorang. Mereka akan sulit belajar dari sejarah dan rentan mengulangi kesalahan yang sama. Pelajaran sejarah sudah diajarkan secara salah. Dan cukup terlihat jelas hasilnya. Orang-orang selalu memandang jika sejarah itu melulu bicara tokoh-tokoh besar yang nyaris jadi manusia “setengah dewa,” dan buku sejarah dijadikan “kitab suci.” Padahal buku sejarah atau historiografi adalah rekonstruksi yang masih bisa diperdebatkan dan bukan kebenaran mutlak.Akhirnya, pelajaran sejarah pun jadi mirip pelajaran agama!!!
                Tak ada waktu lagi untuk menunda, meski sulit kita harus luruskan. Sejarah bukan hafalan soal masa lalu. Tanamkan, bahwa kenyataannya sejarah itu rangkaian panjang yang belum selesai. Sejarah itu kemarin, saat ini dan esok. Dan kita semua adalah pelaku sejarah yang membuat sejarah! Lalu kenapa kita harus menengok ke masa lalu? Atau kenapa harus baca buku sejarah? Itu karena masa lalu adalah referensi penting untuk membandingkan dan mencari tahu mana yang baik untuk kita semua agar esok hidup kita menjadi lebih baik.
                Yang tak kalah penting juga; buku sejarah pada dasarnya rekonstruksi yang mereka masa-lalu. Jadi, sejarah bukan kebenaran mutlak yang layak dipercaya, meski sejarawan berusaha mendekati kebenaran. Kebenaran sejarawan itu jelas nisbi (relative). Sejarah itu sejatinya pelajaran seharusnya membuat kita berpikir dan mereka-reka masa-lalu.
 Jangan samakan sejarawan dengan Nabi!!! Buku sejarah jelas-jelas bukan kitab suci!! Jika kita memaksakan diri untuk percaya sepenuhnya pada kebenaran buku sejarah (terutama versi pemerintah), maka itu sama saja dengan musyrik bagi orang Islam yang cuma harus percaya pada kebenaran Tuhan. Jika begitu yang percaya pada kebenaran buku sejarah bikinan sejarawan, mungkin boleh dibilang kafir. Nah Jaksa Agung yang memaksakan buku sejarah versi Nugroho Susanto sebagai  kebenaran, layak juga disebut kafir..hehehehe
Tak penting rasanya berdebat, mana buku yang paling benar! Yang terpenting adalah, mencari tahu dengan akal sehat kita sendiri. Setelahnya, berusaha memaknai masa lalu untuk bekal menghadapi hari ini dan hari esok.
Satu hal yang tak kalah penting untuk kita yakini adalah jika sejarah adalah hari ini. Apa yang kita lakukan hari ini akan mempengaruhi hari esok. Kita harus sadar jika sejarah itu dibuat oleh kita sendiri bukan oleh orang besar saja. Dan semua orang kecil sebenarnya juga bagian penting dalam pembentukan sejarah dunia.

Rabu, Juli 24, 2013

Pangkat:Melesat Karena Revolusi

Revolusi begitu hebat dan mampu merubah nasib beberapaorang. Kekacauan melahirkan kekosongan yang kemudian segera diisi orang baru. 

Hilangnya orang Belanda dalam pemerintahan kemudian mulai diisi olehorang-orang Indonesia,yang hampir semuanya masih keturunan priyayi. Sementara di lapangan militer,hilangnya komandan-komandan Belanda, terganti dengan dengan perwira-perwira Indonesia,yang banyak diantaranya keturunan priyayi dan agak sedikit dari kalangan biasa.
Militer segera menjadi ajangmerubah nasib. Banyak orang kebanyakanbisa jadi perwira. Ada beberapa contoh macam ini: Mayor Dullah yang gugur diMaluku; Letnan Kolonel Imam Syafei yang pernah menjadi menteri; Timur Panebekas pencopet yang mengaku Jenderal di Sumatra Utara di masa revolusi; dan contohterbesar adalah Suharto.

Siapa Dulu Bapaknya?
Orang macam Abdul Haris Nasution, Alex Evert Kawilarang,T.B. Simatupang, Djatikusumo, Andi Muhamad Yusuf, Andi Matalatta, dan mungkinperwira tinggi lain di TNI tak terlalu mengherankan bisa jadi perwira di masamudanya dan kemudian jadi Jenderal di masa tua.
Nasution sang Jenderal
Nasution sang Jenderal
A.H Nasution bukan anak orang miskin pastinya.Di jaman kolonial, orang bisa sekolah adalah orang beruntung dan tercerdaskan.Soal dia pergi sekolah jalan kaki, itu hal lumrah. Bis sekolah atau angkotbelum ada di kampung pada tahun-tahun 1930an. Nasution bisa sekolah alaBelanda—dariHolland Inlandche School(HIS) atau Sekolah Belanda untuk pribumi yang semacam SD, lalu ke kweekschool sekolah guru.
Kawilarang sang perwira Brilian
Kawilarang sang perwira Brilian
Alex Evert Kawilarang? Dia ayah dia seorangperwira KNIL dengan pangkat terakhir mayor. Darah militer mengalir di dalamdirinya. Alex mengaku dalam biografinya yang ditulis Ramadhan KH, dia merasaberuntung dengan posisi ayahnya yang Mayor KNIL. Setelah sekolah di SD elitbernama Europe Lager School (sekolahuntuk Eropa), Alex bisa masuk sekolah menengah Hogare BurgerlijkSchool  (HBS) Bandung.
Simatupang sang pemikir
Simatupang sang pemikir
Tahi Bonar Simatupang, dia bukan anak pegawai pos rendahan.Posisi ayahnya memungkinkan dirinya bersekolah hingga sekolah menengah Belanda.Ini membuat T.B Simatupang sebagai pemuda cerdas dan paling cemerlang karirnyadi masa revolusi. Di usia 30 tahun, dirinya adalah Kepala Staf Angkatan PerangRIS. Meski dirinya tak sepopuler Jenderal besar Sudirman yang begitudimitoskan.
Andi Muhamad Yusuf dan Andi Matalatta, masih keturunanBangsawan Bugis. Mereka masih ada hubungan darah dengan Pahlawan Bugis palingdipuja, Arung Palakka. Mereka berdua bisa sekolah dengan baik hingga sekolahmenengah. Sayangnya, mereka berdua tidak perh masuk akademi militer. Nyaris takada pemuda asli Sulawesi Selatan  masukakademi militer di jaman Kolonial. Andi Azis, yang masih sepupu jauh AndiMatalatta, mungkin satu-satunya orang Bugis yang pangkatnya paling tinggi diKNIL pun tak pernah masuk akademi militer. Dia memulai karir dari bawah, meskidia anak bangsawan. Karena kecakapan militernya, karena pernah dilatih sebagaipasukan khusus dan pernah terjun dalam front Eropa, juga kebutuhan akan perwirapribumi bagi kepentingan KNIL di Indonesia, dalam waktu tak lebih dari 8 tahunpangkatnya sudah Letnan.
            Jadi, dimasa kolonial, posisi orang tua baik secara ekonomis maupun politis begitumempengaruhi pendidikan anak lelaki mereka. Yang orang tuanya terpandang, akanbisa bersekolah dengan baik. Yang biasa-biasa saja orang tuanya, cukupbersyukur dengan belajar 3 tahun di Volkschool(Sekolah rakyat) yang kadang disebut sekolah desa. Pendidikan tentumempengaruhi karir di masa depan.
Revolusi Indonesiayang Heibat
Tentara nasional yang baru dimiliki Indonesia lalu menyerap banyakpemuda dan orang terpandang untuk bergabung. Mereka lalu menjadikomandan-komandan. Bisa dibayangkan betapa kacaunya. Ada bocah macam Slamet Riyadi, yang usianyabelum genap 20 tahun harus memimpin ratusan prajurit. Hal ini sepertinyaterjadi pula pada Andi Sose asal Enrekang yang menjelang tahun 1950an menjadikomandan batalyon di Sulawesi Selatan.
            Hebatnyarevolusi Indonesiabisa menjadikan jagoan terkenal dari dunia hitam macam Imam Syafei yang kondangdi Senen menjadi orang baik-baik karena dia menjadi Kapten TNI yang seringdiberitugas khusus. Konon katanya dia buta huruf dan pernah masuk penjaraanak-anak. Pemerintah orde lama sukses membina Imam Syafei yang kemudian menjadiMenteri urusan keamanan Ibukota di masa kabinet 100 menteri. Dia dikenalsebagai menteri copet.
            Revolusijuga membuat raja copet macam Timur Pane berani mengangkat diri jadi Jenderal.Meski pasukannya barangkali tak lebih dari satu resimen. Petinggi tentara tentupusing dalam mengurus tentara yang kacau dari sisi rekrutmen dan kepangkatan.Belum lagi memikirkan latihan dan kesejahteraan yang nyaris tak mungkindilakuka bagi seluruh tentara RI. Banyak orang seenaknya menaikan pangkatnya.Konon Moestopo pernah mengangkat diri jadi menteri. Timur Pane tentu the realNagabonar.
            Jaditentara barangkali keterpaksaan bagi banyak pemuda. Tak ikut tentara bisa takada kawan, karena semua pemuda nyaris jadi tentara. Entah tentara reguler ataulaskar perjuangan. Yang penting pegang senjata! Tak ikut tentara, bisa-bisadituduh mata-mata Belanda atau AndjingNICA.
Suharto yang melesat karirnya di masa revolusi
Suharto yang melesat karirnya di masa revolusi
Bagi segelintir pemuda menonjol, meski pendidikan formalnyatak jelas, mereka bisa menjadi komandan. Jadi Letnan, Kapten atau Mayor lebihbaik. Dullah salah satunya. Dia bisa jadi Mayor, bahkan bisa mempersuntingperempuan terpandang. Nasib serupa dialami Suharto.
            Suharto,sekolahnya tak jelas. Dia menyelesaikan SD, namun tak selesai di sekolahmenengah. Kualitas SD, Suharto tak seperti HIS atau ELS. Pendidikanformal Suharto jelas kurang untuk jadi perwira. Suharto banyak balajar soalmiliter setelah dirinya mulai gabung di KNIL. Dengan cepat dia jadi kopral laluSersan dalam kurun waktu 2 tahun. Dengan kemampuannya dia bisa jadi KomandanKompi di akhir pendudukan. Suharto adalah contoh nyata seorang militer yang melesat seperti meteor karirnya. Memulai dari bawah lalu naik dengan cepat. Dari kopral sampai mayor Jenderal sebagai militer, dengan jabatan terakhir menteri Angkatan Darat atau setara KSAD. Lalu pangkatnya naik sebagai Jenderal sebagai Presiden Indonesia. Belakangan dipuja berlebihan sebagai Jenderal besar bintang lima yang patut dipertanyakan sumbangannya bagi militer Indonesia. Tapi Jenderal AD berwatak Jenderal Amerika latin tentu bangga pada Suharto yang posisikan Angkatan Darat sebagai angkatan utama dalam militer Indonesia. 

Selasa, Juli 23, 2013

Kaum Opurtunis dalam Arsip

Tak sedikit orangmengecam revolusi. Namun, ada sebagian orang bisa berubah nasibnya karenarevolusi. Mereka mungkin hidup susah di jaman kolonial. 

Revolusi Indonesia yangkeruh tentu membawa berkah. Bagi orang-orang muda yang pintar sebenarnyaberkah, namun tidak bagi sebagian kaum konservatif yang pernah jadi pamongprajaBelanda. Banyak kaum priyayi bekerjaasama dengan Belanda.
Andi Tjallo ArengMallusetasi mungkin contoh priyayi yang berpikir jika Belanda masih kuat danlayak jadi pemerintah di Hindia Belanda yang sudah berubah jadi Indonesia.Bersama beberapa bangsawan dia mendukung Belanda.

"Ia memerintahkanAndi Tjate bersama Polisi Negara (BAPIT) dalam daerah Adjatappareng menangkapidan memejarakan di Pare-pare semua pengurus-pengurus dan anggota-anggota BPRI,PKR, API, Al Anzhar dan lain-lain."[1]

Bangsawan ini kemudianmelarikan diri ke Surabaya setelah APRIS dariJawa menduduki Makassar tahun 1950. Tak hanyaBangsawan, pekerja jawatan pun ada yang dianggap sebagai orang yang pernahmenjadi agen NEFIS dengan memberikan informasi. Tersebutlah seseorang dengannama panggilan S Bone, dia adalah inspektur pertanian di Makassar.S Bone, konon kerap berhubungan dengan Westerling selama Kampanye Pasifikasi(1946-1947).[2]
Dua laporan mengenaituduhan dua orang tadi sebenarnya bisa diragukan juga. Bisa jadi tuduhan ataulaporan itu didasarkan dari orang-orang pada yang bersangkutan.
Tuduhan menjadimata-mata bagi Belanda akan kuat jika dituduhkan pada Suriosentoso, pensiunanMayor KNIL yang diaktifkan kembali oleh Belanda. Pangkat terakhirnya di KNILadalah Kolonel. Semasa pendudukan Jepang, Suriosentoso terlibat dalam gerakanbawah tanah anti Jepang, meski dirinya diawasi penuh oleh Kenpeitai. Bagusnya,Suriosentoso tak seceroboh Amir Syafrudin yang kemudian ditangkap dan hampirdihukum mati oleh Jepang. Suriosentoso pernah bersinggungan dengan gerakanSutan Syahrir, karena ada anak Suriosentoso yang kuliah bersama anggota gerakanbawahtanah Syahir, begitu kata Rudolf Mrazek dalam bukunya tentang Syahrir.
Bukti jelas bagaimanaSuriosentoso bekerja untuk Belanda. Ketika dia diaktifkan kembali sebagai KNILdengan pangkat Letnan Kolonel, dirinya pernah menulis laporan tentangpropaganda Islam oleh Balatentara Jepang di Jawa. Tak bisa disangkal jikaorang-orang Islam memang dirangkul Jepang, meski tak semua dirangkul.Diantaranya ada juga orang macam Zainal Mustofa yang melawan. Organisasi Islamcukup mendapat perhatian dari pemerintah militer di masa pendudukan Jepang.Hingga bisa dianggap mereka anti Belanda yang loyal pada Jepang dan bisamenjadi ancaman. Suriosantoso menulisnya untuk orang penting bernama Charlesorde van der Plas.Posisi Suriosentoso adalah kepala Afdeling Intellegence en Loyaliteit sonderoek.[3]
Memang ketikaKonferensi Meja Bundar di Den Haag, Suriosentoso ikut ke Belanda sebagai pihakBelanda. Dirinya sempat berfoto dengan Julius Tahiya dan Sutan Max Hamid II(wakil BFO). Dua nama itu jelas-jelas bekas perwira KNIL. Max lulusan KMA Bredanamun Julius Tahija awalnya bintara cemerlang namun belakangan menjadi stafJenderal Spoor. Di masa revolusi orang-orang ini nampaknya menjadi orangpenting bagi pejabat sipil maupun militer Belanda macam Hubertus van Mook atauCharles van der Plas.
Mereka-mereka yangdituduh mata-mata atau yang jelas bekerjasama dengan Belanda tadi nampaknyamerasa Republik Indonesiatak bisa diharapkan sebagai tempat berkarir. Karena sebagai negara baru Indonesia lemahdalam banyak hal. Tak ada keuntungan yang bisa diharapkan secara materi. Takada gaji daan fasilitas layak bagi yang bekerja pada Republik. Hingga bagi kaumkonservatif, jika tak ingin memakai istilah kontrarevolusi, lebih nyaman jikabekerja untuk Belanda. Kaum kontrarevolusi biasanya orang-orang tua bekaspegawai kolonial.
Tulisan ini bukan bermaksud menuduh, hanya menyikapi saja. Apapun itu tak bisa diterima tanpa ada penelusuran.
Note:
[1] (Arsip KPM RI Jilid 1 no 940:Surat-surat Mengenai Keterlibatan Raja Areng Mallusetasi dari Pare-pare danpemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan-3 November 1950)
[2] (Arsip KPM RI Jilid 1 no 1117: Laporanmengenai S Bone Inspektur Pertanian di Makassar yang dianggap sebagai mata-mata18 Agustus 1952).
[3] (Arsip NEFIS no 18: Verslag CCC IAMA-CABAfdeling Intellegence en Loyaliteit sonderzoek: berisi peringatan kepada Ch.Ovan der Plas mengenai propaganda Islam oleh Jepang yang dibuat oleh LetnanKolonel Soeriasentoso 20 Maret 1946).