Rabu, Maret 30, 2011

Harus bagaimanakah Orang-orang Indonesia Itu?

Beberapa karakter penting yang harus dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Dimana karakter-kareakter ini bisa ditemukan oleh tokoh-tokoh terbaik bangsa Indonesia, yang diantaranya adalah pendiri Negara.

Dibutuhkan banyak sikap Positif jika Indonesia ingin terus ada, apalagi untuk Indonesia yang jaya di masa depan. Dimana semua karakter ini harus ditanamakan sejak dini pada generasi baru Indonesia dalam pendidikan karakter yang melibatkan semua pihak. Bukan hanya keluarga dan sekolah, tetapi juga masyrakat luas dan pemerintah.

Jujur

Banyak sekali contoh bahwa kejujuran membawa kebaikan bagi seseorang. Kejujuran pula yang membuat seseorang bangga dan bisa menghargai dirinya sendiri. Hampir semua agama mengajarkan kejujuran. Meski banyak orang diajarakan untuk jujur, bersikap jujur masih menjadi hal sulit bagi banyak orang.

Sejarah memberikan contoh gagalnya hal-hal yang dibangun oleh ketidakjujuran. Salah satu bentuk ketidakjujuran adalah korupsi. Dimana banyak hak rakyat yang tidak tersampaikan karena korupsi. Tidak perlu dipungkiri lagi jika korupsi melahirkan banyak derita bagi ribuan orang di Negara berkembang. Termasuk di Indonesia.

Dimana seorang pemimpin yang tidakjujur akan sakit jika terjatuh dari kepemimpinannya. Suharto harus hidup sebegai orang yang dikecam oleh sebagian rakyatnya. Ferdinand Marcos, Presiden Filipina, harus meninggal dalam pengasingan dan menghadapi tuntutan dari rakyatnya untuk mengembalikan harta hasil korupsinya.

Korupsi adalah bentuk ketidakjujuran. Korupsi adalah salah satu alasan kekalahan pihak Vietnam Selatan yang disokong Amerika Serikat. Vietnam Selatan yang mengaku kaum nasionalis tidak memperoleh simpati sebagian besar rakyat Vietnam. Karenanya gempuran pihak Vietnam utara berhasil menguasai wilayah Vietnam Selatan. Dan tentara Amerika Serikat yang membantu Vietnam Selatan pun harus angkat kaki dari Vietnam sebagai pecundang.

Bentuk ketidakjujuran lain adalah membohongi public dengan isu-isu yang sebenarnya tidak penting. Pada dasarnya sikap tidak jujur akan terus menjadikan kita pembohong. Kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan kita bertumpuk. Kebohongan pertama yang selalu ditutupi, akan membuat kita pelan-pelan menjadi pembohong besar.

Bersikap jujur adalah penting. Semua orang tidak suka dibohongi. Kebohongan akan selalu bisa dibongkar bahkan terbongkar dengan sendirinya. Ketidakjujuran tentu akan merusak kepercayaan dari orang lain. Padahal kepercayaan bisa mendatangkan relasi. Sebuah kerjasama, tentu saja dibangun atas dasar kepercayaan.

Sebelum diangkat menjadi Nabi Muhamad SAW, adalah orang yang jujur. Karenanya, ajarannya bisa diterima oleh banyak orang. Bahkan diterima oleh hampir separuh penduduk dunia hingga saat ini. Muhamad memang sudah bergelar Al Amin, yang artinya jujur. Sesuatu yang membuat disukai banyak orang. Profesinya sebagai pedagang tentu akan sangat cemerlang, meski tidak kaya. Orang-orang berusaha untuk membeli darinya karena merasa nyaman dan tidak akan dibohongi sama sekali.

Seorang guru yang berbohong pun akan kehilangan simpati dari murid-murid-nya. Pelan-pelan muridnya akan pergi dan mencari guru lain. Kemudian guru pembohong itu akan dilupakan sama sekali. Seorang guru yang suka berbohong adalah guru yang tidak akan pernah berhasil. Dia hanya akan sukses melahirkan para pembohong.

Seorang dokter yang jujur pun akan disukai para pasiennya. Seorang prajurit yang jujur tentu akan disukai komandannya. Seorang pemimpin yang jujur akan selalu dikenang tanpa harus membuat sebuah monument patung dirinya atau biografi yang hanya menonjolkan dirinya sebagai pahlawan.

Tetangga yang suka membual dengan segala ketidakjujurannya, juga bukan sosok yang disukai oleh tetangga-tetangganya. Dimana tetang-tetangga itu akan menjaga jarak. Karena apa yang dibicarakan seorang pembual biasanya tidak bermutu dan hanya menonjolkan dirinya.

Seorang pembohong yang dipercaya akan sulit diterima oleh lingkungannya. Ketika dia berkata jujur dan penting maka orang akan memilih tidak akan mempercayainya. Artinya hidupnya akan sulit. Sikap tidak jujur hanya menyulitkan dirinya sendiri. Sudah pasti seorang yang dikenal sebagai pembohong akan sulit mendapat simpati dari orang-orang disekitar maupun dalam pergaulan pada umumnya.

Bermental Pejuang dan Pekerja Keras

Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti, seperti judul lagu Dewa19[1] Hidup memang harus diperjuangkan. Seorang anak yang baru belajar berjalanpun sebenarnya berjuang juga. Dia berusaha keras untuk bisa berjalan dengan baik meniru orang dewasa meski dengan tergopoh-gopoh.

Selanjutnya, setelah melewati masa menjadi bayi, masa anak-anak pun dilalui. Dimasa anak-anak pun kerja keras dan perjuangan pun telah ditanamkan oleh orang tua. Dimasa ini bentuk perjuangan seorang anak adalah dengan belajar. Termasuk anak yang menjadi pekerja. Sebagai pekerja anak itu sebenarnya masih dalam masa belajar. DImana anak itu mengalami pendewasaan lebih cepat karena melakukan apa yang harusnya dilakukan orang dewasa.

Tanpa ada kerja keras, tidak akan ada republik Indonesia. Sejarah sudah membuktikan hal itu. Sejarah telah memberikan bukti bahwa kerja keras menuntun pada kesuksesan. Meski banyak juga para pekerja keras yang harus terpental dan gagal dalam perjuangannya. Kegagalan ini biasanya berujung pada rasa malu dan kurang dihargai. Banyak orang hanya melihat keberhasilan tanpa menghargai kegagalan sedikitpun.

Gagal adalah resiko dari kerja keras, danjuga hal yang paling ditakuti banyak orang ketika mereka bekerja keras. Kerja keras umumnya hanya dikukan karena terpaksa dan untuk bertahan hidup. Tradisi kerja keras di Indonesia begitu memprihatinkan. Hal ini juga dikarenakan ketakutan mereka pada kegagalan. Ketakutan pada kegagalan itu melahirkan kemalasan.

Meski kegagalan ditakuti dan menjadikan itu sebagai bahan ejekan yang hina, maka masih ada orang yang menghargai kegagalan. Dimana mereka selalu berkaca pada kegagalannya. Mereka belajar untuk tidak gagal lagi dengan segala perhitungannya, namun tidak pernah takut sedikitpun dengan kegagalan yang bisa jadi akan menimpa mereka. Keberanian menghadapi kegagalan, juga akan menuntun kepada jalan keberhasilan. Ketakutan pada kegagalan hanya akan mematikan langkah.

Thomas Nayoan mungkin tidak pernah benar-benar berhasil kabur dari Digul. Dua kali mencoba kabur, Nayoan akhirnya bisa tertangkap lagi. Hal ini tidak pernah membuat Nayoan kapok untuk kabur. Dia bahkan belajar dari kegagalannya. Ketika gagal kea rah selatan, Nayoan akhirnya mencoba ke arah utara. Meski pelarian ketiga ini dia benar-benar hilang tanpa jejak di pedalaman Papua. Nayoan mengajarkan kita untuk terus berusaha. Nayoan juga mengajarkan kita mengacuhkan rasa takut dan malu mencoba.

Banyak tokoh pergerakan maupun pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya yang selalu menemui kegagalan. Upaya Syahrir dan kawan-kawan seperjuangannya untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 15 Agustus 1945 juga gagal. Sukarno Hatta tidak bisa dihadirkan di Cirebon. Namun hal itu tidak mengendurkan semangat Syahrir dan kawan-kawannbya. Usaha Syahrir yang gagal itu mungkin bisa terobati dengan adanya Proklamasi 17 Agustus 1945. Proklamasu kemerdekaan itu tidak membuat kaum pergerakan berhenti mereka masih terus berjuang. Berjuang memanbg tanpa akhir. Selesai satu masalah, maka masalah lain muncul.

Berani berkorban

Tanpa bertaruh di meja judi atau membeli toto gelap sekali pun hidup sebenarnya juga sudah berjudi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Jika masih percaya pada Tuhan, kita bisa percaya bahwa kebesaran Tuhan telah memberikan manusia ruang untuk berusaha dan kesempatan untuk mencoba. Bagi yang percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil juga akan percaya bahwa Tuhan Yang Maha Adil akan` memberi yang terbaik atas apa yang kita perjuangkan.

Bagi mereka yang beragama Islam, pasti pernah mendengar kisah NAbi Ibrahim yang mengorbankan putranya dengan tulus Ikhlas pada Allah SWT. Mimpi Ibrahim pada suatu malam membuatnya bicara dengan Putranya Ismail. Bahwa Ismail akan dikorbankan. Ismail pun Ikhlas dikorbankan maka berkorbankanlah mereka berdua. Pengorbanan itu pun tidaklah sia-sia. Pengorbananan mereka diterima, namun Allah SWT tidak mengambil apapun dari mereka. Tidak pula nyawa Ismail.

Ceritera Nabi Ibrahim dan Ismail itu adalah latar belakang adanya Hari Raya Qurban yang dirayakan umat Islam setiap tahun. Dalam Islam Berkurban begitu dihargai. Karenanya nyatanya kurban itu juga memiliki manfaat social yang begitu besar dalam kehidupan.

Untuk menuju sebuah perubahan yang lebih baik, pengorbanan dalam bentuk apapun tak bisa dihindari. Tidak ada perjuangan yang tanpa pengorbanan. Untuk bisa berjuang dalam kancah pergerakan nasional, Hatta harus hidup menyendiri tanpa kekasih dan keluarga. Hatta baru menikah setelah Indonesia merdeka.

Sneevliet, seorang intelektual Belanda yang dianggap sebagai orang yang membawa ajaran komunisme ke Indonesia, rela melepaskan pekerjaannya di Kamar Dagang yang gajinya besar untuk berjuang melawan politik colonial pemerintah Hindia Belanda. Meski namanya hitam bagi Republik Indonesia, Sneevliet adalah orang yang berkorban juga untuk Indonesia. Sneevliet tidak hanya kehilangan penghasilan yang besar itu saja. Sneevliet bahkan menjadi musuh pemerintah colonial, yang kemudian mengusir Sneevliet.

Demi sebuah kemerdekaan yang begitu Mulia, seorang pemuda cerdas bernama Robert Walter Manginsidi harus menderita di penjara Tentara Belanda dan akhirnya ditembak mati di Makassar. Kemerdekaan Indonesia memang punya banyak martir sepertinya. Ada banyak ribuan pemuda yang nyawanya melayang karena tembakan peluru tentara Belanda dimasa revolusi kemerdekaan RI. Banyak pemuda rela bergabung dengan tentara republic yang tidak banyak persenjataannya. Mereka bahkan sadar apa resiko jika mereka bertempur melawan tentara Belanda.

Masih banyak pengorbanan yang diberikan oleh tokoh-tokoh sejarah lain. Sukarno pernah bilang, revolusi akan memakan anaknya. Nyatanya revolusi bisa memakan siapa saja sebagai tumbal atau martir.

Bercita-cita Tinggi

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit,” begitu kata Sukarno yang dilupakan banyak pemuda Indonesia. Tanpa idealisme atau mimpi-mimpi, seseorang hidup seperti robot dan tidak nampak seperti manusia. Manusia memiliki kemauan yang bisa diwujudkan. Banyak tokoh idelis yang merubah dunia. Untuk merdeka pun, para pejuang kemerdekaan menjunjung tinggi idealismenya.

Idealisme telah membawa orang-orang seperti Sukarno, Muhamad Hatta dan lainnya berjuang dan akhirnya menemukan apa yang disebut Indonesia merdeka. Tanpa ada mimpi atau idealisme mereka hanya orang-orang tidak penting yang hanya hidup seadanya dan menerima diri mereka sebagai warga Negara kelas tiga ditanah Nenek Moyangnya.

Apa yang terjadi di masa sekarang sungguh memprihatinkan. Dimana banyak orang Idealis hanya dianggap orang gila yang tidak realistis. Banyak orang yang mengaku terpelajar menganggap orang idealisme tidak melihat kenyataan.

Sebenarnya, seorang idealis adalah orang yang berpijak pada sebuah kenyataan yang bisa jadi pahit. Dimana orang itu kemudian berusaha merubah keadaan pahit itu menjadi sebuah keadaan yang lebih baik, bahkan jauh lebih lagi.

Sementara, orang yang merasa terpelajar itu, merasa diri sebagai seorang realistis. Apa yang mereka anggap realistis itu tidak lain hanya sikap tunduk pada sebuah kenyataan yang baginya sudah dianggap nyaman. Orang yang merasa realistis, biasanya adalah orang yang bisa menerima kondisi buruk begitu saja tanpa merasa perlu membuat perubahan yang lebih baik.

Mentalitas orang yang merasa realistis macam ini adalah orang-orang bermental budak dan menjadi santapan penjajah. Bukan tidak mungkin orang macam ini adalah orang rela menerima kaumnya terjajah. Mereka mengklaim diri mereka realistis karena meraka ingin menutupi kekalahan atas nasib mereka yang sebenarnya buruk dan bukan tidak mungkin mereka sama sekali `tidak memiliki visi dan misi hidup yang lebih baik.

Dunia yang beradab pastinya dibangun oleh orang-orang yang punya cita-cita. Hingga mereka bisa mengendalikan arah dunia. Orang-orang yang tidak punya cita-cita tidak mungkin bisa mengarahkan karena mereka tidak memiliki arah. Orang yang tidak punya cita-cita atau visi dan misi tidak layak menjadi pemimpin.

Pemimpin Indonesia dimasalalu, Seperti Sukarno, Hatta dan lainnya adalah oaring-orang yang tahu kemana Indonesia akan mereka bawa. Mereka tidak sekedar menjadi penguasa. Berbeda dengan pemimpin berikutnya yang hanya ingin berkuasa saja tanpa memiliki arah jelas tentang Indonesia yang lebih baik.

Sederhana

Sejarah juga punya tokoh yang dikenal karena gaya hidupnya yang sederhana dan bersahaja. Sebut saja Hatta, Natsir, Agus Salim dan lainnya.

Agus Salim konon tidak pernah memiliki rumah dan harus berpindah-pindah rumah. Pernah di rumah kontrakannya yang atapnya bocor, Agus Salim mengajak anak-anaknya bermain kapal-kapalan ketika hujan turun. Ini adalah bentuk betapa nikmatnya Agus Salim menikmati hidup sederhana. Dengan mengajak anaknya bermain itu, Agus Salim mengajak anak-anaknya untuk belajar dan menikmati kesederhanaan tanpa merasa itu adalah kesulitan yang menyakitkan.

Natsir ketika menjadi perdana Menteri, konon pernah tinggal di rumah yang tidak baik kondisinya sebenarnya. Natsir bahkan hanya memakai mobilnya sesekali saja. Dia tidak gunakan mobilnya untuk urusan keluarga. Konon, Natsir pernah memakai jas jelek dalam sebuah acara. Ini adalah bentuk kesederhanaannya.

Kesederhaan bisa melawan budaya konsumtif. Pengaruh globalisasi yang tergolong negative adalah budaya konsumtif yang tidak bisa dibendung. Dimana hal yang tidak perlu menjadi sesuati yang begitu diingini. Kapitalisme modern berjuang keras menciptakan pasar yang gila. Dimana semua manusia dibuat untuk gila belanja.

Kesederhaan juga bentuk menghargai kerja keras. Kesederhanaan juga membuat banyak orang bisa membuat seseorang menghindari tindak kejahatan. Pola hidup sederhana yang berusaha memakai energi sesuai kebutuhan sebenarnya sangat mendukung gerakan penyelamatan dan penghematan energi dunia yang makin terbatas. Hidup sederhana juga membuat kita ikut terlibat dalam menanggulangi Global Warming.

Bagi Negara berkembang macam Indonesia, sikap sederhana menjadi sesuatu yang lebih layak daripada bermewah-mewahan. Beberapa tokoh besar, lebih bisa menikmati kesederhanaan. Sebut saja Mahatma Gandi, Hatta, Natsir dan lainnya.

Selama ini kesederhanaan diidentikan dengan kemiskinan. Sebenarnya tidak juga. Banyak orang kaya yang punya gaya hidup yang bersahaja dan sederhana. Banyak orang salah mengira dengan berpikir hidup sederhana dan prihatin adalah sebuah keterpaksaan. Hidup sederhana juga belum tentu ujud dari sikap kikir. Hidup sederhana pastinya adalah pilihan untuk bisa hidup lebih nyaman dan santai, bahkan bisa menyatu dengan alam.

Kaum Hippies di Amerika Serikat di tahun 1970an, justru berasal dari kalangan keluarga yang cukup berada. Mereka memilih menjadi Hippies, atau setidaknya separuh Hippies, karena jenuh dengan kehidupan mewah yang membosankan. Hippies tergolong kaum yang dekat dan berusaha mendekatkan diri pada alam. Mereka ikut menjadi penyelamat dunia. Mereka menyuarakan perdamaian dunia, ketika pemimpin dunia yang didukung orang yang suka bermewah-mewahan mendukung peperangan yang saling menghancurkan satu sama lain.

Mau Belajar untuk Menjadi Manusia Berilmu

Menguasai suatu ilmu adalah sebuah kebahagian yang besar manfaatnya dalam hidup. Ilmu, membuat seorang manusia menjadi berharga. Manusia berilmu adalah manusia yang memiliki peran dalam kehidupan. Ilmu pula yang menentukan peradaban dan jalannya sejarah Indonesia

Islam adalah salah satu agama yang begitu menghargai ilmu. Nabi Muhamad bahkan pernah bersabda, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Islam sendiri pernah dikenal sebagai kaum yang berjasa pada perkembangan Ilmu pengetahuan. Dimana tokoh seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan lainnya kemudian menjadi legenda ilmu pengetahuan juga. Setelah dikembangkan oleh orang-orang Islam, ilmu pengetahuan itu dikembangkan oleh orang-orang Barat lalu muncullah dunia modern. Dan akhirnya ilmu pengetahuan tidak lagi milik barat semata, atau islam semata, melainkan milik dunia.

Indonesia membutuhkan sosok-sosok orang yang berilmu dalam banyak hal. Indonesia membutuhkan orang-orang yang memiliki keahlian dan bukan sekedar orang-orang bermental pegawai. Orang Islam percaya, banyak hal yang harus dilakukan dengan ilmu.

Karenanya belajar adalah hal penting. Wajib bagi generasi muda untuk mempelajari sebuah keterampilan maupun mendalami suatu bidang kajian. Bukan rahasia lagi jika dunia modern menuntut manusia yang memiliki keterampilan. Manusia modern adalah manusia yang menghargai keterampilan.

Sangat penting bagi pemerintah Indonesia mengembangkan lebih serius pendidikan kejuruan. Pendidikan kejuruan di sekolah menengah sebenarnya sangat menguntungkan. Karena sejak dini, anak-anak Indonesia bisa memulai lebih dini untuk mempelajari apa yang menjadi minatnya.

Selama ini pemerintah Indonesia lebih banyak memperbanyak sekolah menengah umum ketimbang sekolah kejuruan tingkat menengah. Berpuluh tahun silam pernah ada sekolah kejuruan tingkat sekolah menengah pertama seperti Sekolah Guru Bantu (SGB), Sekolah Tehnik (ST), Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP). Di zaman Hindia Belanda pernah ada Ambachtschool (Sekolah tukang). Sekolah semacam ini sangat penting bagi anak lulusan sekolah dasar belajar keterampilan.

Keterampilan dan keahlian adalah hal tidak dianggappenting oleh penentu kebijakan Negara. Dalam dunia nyata yang dialami jutaan pemuda Indonesia, keterampilan dan keahlian apapun bentuknya sangatlah berharga untuk bertahan hidup bahkan membangun sebuah masyarakat. Pendidikan Indonesia selama ini hanya menekankan jenjang bukan keahlian ataupun keterampilan.

Dimata orang Indonesia, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka orang tersebut akan semakin dihargai. Artinya pendidikan sudah selesai jika jenjangnya tinggi namun tidak pernah dihargai arti keahlian dan keterampilan. Sementara orang yang terampil dan ahli bukan orang yang layak dihargai jika pendidikan mereka rendah. Orang Indonesia nampaknya belum bisa hidup di alam nyata hingga kemampuan bertahan hidup tidak dianggap penting. Dimana prestis dan jenjang melebihi segalanya.

Ujud payahnya orang Indonesia yang tidak bisa menghargai pendidikan yang sebenarnya adalah pada penghargaan mereka terhadap bacaan. Tradisi membaca di Indonesia tergolong payah. Anak-anak SMA masa kini tergolong anak-anak yang miskin bacaan. Berbeda dengan anak-anak SMA di zaman Hindia Belanda. Entah dimana sebenarnya letak kemajuan pendidikan yang dimaksud pemerintah saat ini?

Di zaman Hindia Belanda, anak-anak Algemene Middelsbare School AMS atau SMA diwajibkan membaca sebanyak mungkin buku. taufik Ismail, sang pujangga 66 itu, pernah berujar ”AMS mewajibkan siswanya membaca 25 judul buku selama 3 tahun.”[2]

Kualitas lulusan SMA itu bisa terlihat dimasa tuanya. Dimana mentalitas anak-anak lulusan AMS nyaris tidak bisa dikalahkan sarjana lulusan masa kini.

Tradisi di kalangan mahasiswa masa kini pun memprihatinkan. Kultur SMA masih terbawa ke bangku kuliah. Banyak mahasiswa seolah tidak siap kuliah yang menuntut belajar mandiri. Mahasiswa masa kini lebih banyak terpaku pada diktat yang diberikan dosen. Dimana diktat dosen itu seperti kitab suci. Karena pertanyaan yang akan keluar tentunya hanya berasal dari diktat sang dosen.

Beberapa dosen pun rupanya hanya akan membenarkan jawaban yang keluar dari diktatnya saja, yang diluar itu disalahkan. Hal ini membunuh daya nalar mahasiswa yang menjadi didikan dosen tersebut. Hal ini justru membuat banyak mahasiswa makin malas membaca.

Kemalasan mahasiswa, maupun generasi muda lainnya, untuk membaca bisa berakibat fatal dimasa depan pada sebuah bangsa. Padahal jalan terbesar untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan membaca. Banyak ilmu yang terdokumentasikan dari buku, menyia-nyiakan buku sama saja dengan menyia-nyiakan Ilmu pengetahuan.

Kemalasan tentunya akan mengancam akan mandegnya dunia intelektual Indonesia. Hal ini bisa menjerumuskan Indonesia sebagai negara bar-bar yang tidak bisa menghasilkan sebuah peradaban yang membanggakan.

Berani Menjadi Pelopor

Banyak orang memilih menjadi pengikut dan hanya akan ikut-ikutan pada hal-hal yang menguntungkan saja. Tidak pernah terpikir betapa bangganya menjadi seorang pelopor yang akan dikenang dalam sejarah setidaknya. Kehadiran pelopor adalah penting dalam perubahan menuju kemajuan. Sebenarnya, kemajuan hanya milik kaum pelapor saja.

Akio Murata pendiri Sony adalah contoh orang yang berusaha menjadi pelopor. Dia adalah orang penting dibalik populernya walkman dua dekade silam. Akio memang berusaha menjadi menjadi pelopor. Dalam sejarah manapun hanya kaum pelopor yang mendapat tempat tempat mulia. Seolah tinta emas sejarah dunia hanya milik kaum pelopor.

Dalam sejarah Indonesia, kaum pelopor juga punya tempast mulia dalam sejarah. Kaum perintis kemerdekaan hampir selalu dipandang sebagai Bapak Bangsa. Tanpa seorang pelopor, tidak ada pergerakan nasional yang melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Indonesia, tidak ada pula Republik Indonesia. Dalam dunia usaha pun, tidak akan ada sebuah perusahaan besar tanpa ada pendirinya. Pelopor harus selalu ada dalam semua lini.

Menjadi pelopor tidak mudah. Tidak semua orang mau dan berani jadi pelopor. Sudah pasti, kebanyakan orang hanya ingin ikut arus yang bisa membuat mereka untung saja. Apapun yang terjadi, kaum pelopor adalah sebuah kebutuhan. Perubahan tidak bisa dihindari, siapa yang tidak berubah otomatis dianggap tertinggal.

Kondisi Indonesia yang banyak hancur disemua sisi membutuhkan banyak kaum pelopor. Harus ada yang berubah. Sikap mental kaum pelopor harus ditanam sejak dini. Dimana seorang anak dirahakan untuk menjadi orang-orang kreatif yang biasa melakukan, bahkan jika perlu menciptakan hal-hal baru.

Dibanding, bangsa Asia lainnya, Indonesia tergolong bisa menjadi bangsa pelopor di tahun 1945. ketika bangsa lain seperti Filipina, Malaya, Burma dan lainnya, masih belum bisa menentukan sikap sebagai bangsa merdeka, Indonesia sudah berani Proklamasi. Indonesia proklamasi tiga hari setelah pernyataan kekalahan Jepang pada Sekutu diatas kapal USS Missouri milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Bukti kepeloporan Indonesia yang lain adalah tampilnya Indonesia sebagai penggagas Koferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955. Dimana Indonesia memimpin Negara-negara di Asia dan Afrika yang baru merdeka untuk bisa menunjukan diri sebagai Negara-negara dalam kancah pergaulan dunia internasional. Indonesia bahkan mempelopori GANEFO pesta oleh raga Negara-negara yang tergolong Negara merdeka yang menolak imperialis pada 1962.

Sukarno, adalah satu-satunya Presiden Indonesia yang berjiwa pelopor. Konferensi Asia Afrika dan GANEFO adalah bukti kepeloporan Sukarno yang mengharumkan nama Indonesia. Indonesia kemudian menjadi Negara baru yang diperhitungkan. Indonesia adalah bangsa yang benar-benar bisa membuktikan dirinya merdeka ketika itu.

Indonesia juga tampil sebagai bangsa yang tidak ingin terjebak dalam Perang Dingin. Bersama Negara-negara yang menolak terlibat perang dingin lainnya, Indonesia aktif dalam gerakan Non Blok. Dimana tidak berdiri di belakang Blok Barat yang kapitalis imperialis maupun blok timur yang komunis tiranis.

Sayangnya, tidak lagi ditemukan sikap seperti Sukarno yang berjiwa pelopor pada diri pemimpin Indonesia masa kini. Pemimpin Indonesia masa kini tidak lebih dari pemimpin yang rela tunduk dibawah kaki bangsa adidaya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan dimasa Sukarno. Ironis sekali, Indonesia yang semakin berumur semakin tidak mandiri dan tidak mampu menjadi manusia berjiwa pelopor, padahal ketika masih baru berdiri Negara ini bisa menjadi pelopor.

Percaya Diri

Percaya diri bangsa Jerman pernah jatuh sedemikian parah setelah kekalahan dalam Perang Dunia I dan Perjanjian Versailles yang begitu menyakitkan. Namun Adolf Hitler, melalui buku Mein Kamft yang ditulisnya didalam penjara untuk pertama kalinya itu, berhasil menaikan harga diri bangsa Jerman. Dan dalam waktu singkat Jerman pun tampil sebagai bangsa hebat, walau harus kalah lagi dalam Perang Dunia II. Jerman tetap tampil sebagai bangsa yang masih dihargai karena kepercayaan diri mereka pasca naiknya Hitler. Jerma bahkan dianggap sebagai bangsa hebat oleh musuh-musuh yang mengalahkannya.

Bangsa Asia adalah bangsa yang terjajah dimasa yang lalu. Kepercayaan dirinya juga hancur sedemikian rupa. Nyaris tanpa harapan untuk menjadi bangsa merdeka. Hingga akhirnya Jepang mengalahkan Rusia. Segera, tidak hanya rasa percaya diri bangsa Jepang saja yang naik, bangsa Asia lain pun menjadi percaya diri untuk bisa menjadi bangsa bebas. Meski dominasi barat begitu kuat di dunia.

Kemenangan Jepang atas Rusia itu setidaknya telah mengangkat semangat juang kaum pergerakan di India, Filipina maupun Indonesia sendiri. Mereka tentu semakin bersemangat untuk berjuang. Mereka bahkan saling berhubungan satu sama lain dan saling bertukar pikiran untuk mencari strateginya masing-masing untuk bisa tampil menjadi bangsa merdeka dikemudian hari.

Rasa percaya diri begitu penting dalam hidup. Seorang seniman, pemimpin, aktivis maupun kaum terpelajar adalah kaum yang dituntut untuk percaya diri. Ini sudah harga mati. Dunia tidak mungkin dikuasai orang yang tidak punya rasa percaya.

Rasa percaya diri membuat seseorang berani melakukan apa saja. Termasuk merubah dan menguasai dunia. Rendah diri jelas sesuatu yang harus segera dihindari. Rasa rendah diri bisa dikarenakan banyak sebab baik dari lingkungan masyrakat, keluarga maupun disekolah.

Seorang anak yang mengalami tekanan luar biasa dalam keluarga akan terhambat rasa pecaya dirinya. Biasanya anak yang mengalami tekanan besar dari keluarganya akan menyimpan berbagai ketakutan yang tidak bisa berkembang di kemudian hari.

Ketika keluarga gagal, sekolah kemudian menjadi harapan tersisa untuk membangkitkan rasa percaya diri. Ini bukan tugas mudah bagi seorang guru untuk membuat siswanya yang selalu rendah diri untuk bisa sesekali percaya diri. Diperlukan proses yang lama. Buku sejarah tokoh hendaknya dijadikan bahan ujicoba untuk merubah rendah diri pada siswa tersebut menjadi sebuah rasa percaya diri. Prosesnya tentu tidak bisa cepat melainkan perlahan.

Pramoedia Ananta Toer adalah anak yang rendah diri semasa kecil. Dia begitu tertekan dan menjadi pemalu serta kurang percaya diri karena bayang-bayang ayahnya yang seorang guru pintar. Pramoedia awalnya merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding ayahnya. Rasa rendah diri Pramoedia itu pelan-pelan berubah. Tidak ada yang mengarahkannya, dia hanya berani mengungkapkan banyak hal lewat tulisan sejak kecil. Tulisannyalah yang kemudian membentuk kepercayaan dirinya.

Para tokoh pergerakan membutuhkan rasa percaya diri luar biasa untuk bisa tampil dihadapan kalayak untuk menyampaikan ide dan cita-cita merdeka. Sukarno adalah orang yang layak diteladani soal percaya diri. Tidak bisa dipungkiri Sukarno adalah pemimpin dengan kepercayaan diri luar biasa di hadapan umum.

Ada sosok yang secara penampilan begitu luar biasa. Namun, ada juga tokoh yang memiliki kepercayaan diri luar biasa dalam menulis meski secara penampilan Hatta tergolong biasa saja.

Bertanggungjawab

Sangat penting untuk menjadi manusia yang bertanggungjawab. Manusia sebagai mahluk sosial menuntut sikap yang bisa menjaga kepercayaan satu dengan yang lain. Karenanya tanggungjawab sangat penting dalam menjamin kehidupan yang lebih baik.

Dimulai dengan bertanggungjawab pada diri sendiri. Menjaga tanggungjawab berarti menjaga kepercayaan dari bangak pihak. Jika pekerjaan diselesaikan dengan penuh tanggungjawab, maka keuntungannya akan bersikap jangka panjang. Akan banyak orang yang akan percaya dan keuntungan lain pun akan mudah didapat.

Banyak tokoh Indonesia yang memberikan contoh bagaimana bertanggungjawab. Contohnya, Des Alwi pernah dipercayakan oleh Hatta membawa buku sebanyak 16 peti dari Banda Naira ke Jakarta. Perjalanan itu begitu jauh dan dengan beban yang tidak kecil untuk bocah belasan tahun macam Des Alwi. Jika Des Alwi tidak bertanggungjawab, bisa saja buku-buku itu ditinggalkan. Hatta paling hanya marah saja dan tidak akan membunuhnya. Tapi tidak, meski dengan susah payah buku itu sampai juga di Jakarta. Padahal transportasi dimasa sulit dan jasa pengiriman sedang kacau. Tapi bocah belasan tahun bernama Des Alwi bisa bertanggungjawab pada 16 peti buku milik Hatta itu.

Di kalangan militer pada era 1980an. Semua prajurit TNI mengenal Jenderal M Yusuf, Menteri Pertahanan merangkap Panglima TNI. Dia begitu disayangi anak buahnya. Bentuk tanggungjawab Yusuf adalah dengan berusaha mensejahterakan prajurit TNI yang tersebar di pelosok Indonesia ditengah anggaran kesejahteraan prajurit yang terbatas. Namun Yusuf tetap berusaha memperbaiki kondisi prajuritnya.

Bentuk mutakhir dan besar dari rasa tidak bertanggungjawab adalah tindak korupsi. Seharusnya, uang Negara yang lewat ke tangan seorang pejabat harus dipertanggungjawabkan setiap rupiahnya. Namun banyak pejabat yang belum bisa memberi contoh bagaimana bertanggungjawab pada uang hasil keringat rakyat Indonesia.

Tanggungjawab, jika melalaikan akan berakibat fatal bagi seseirang. Dia akan memperoleh banyak sangsi, salah satunya sangsi social dengan hilangnya banyak kepercayaan padanya. Tanggungjawab adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.

Mandiri dan Berdikari

Berdiri diatas kaki sendiri (berdikari) adalah hal yang terlupakan. Istilah ini keras didengungkan oleh Sukarno dalam banyak pidatonya ketika dirinya menjadi Presiden Indonesia sebelum tahun 1965. Setelahnya berdikari hanya tinggal sebuah kata bagi jutaan orang Indonesia. Hanya segelintir orang yang ingat dan mengamalkannya.

Ketika zaman colonial Hindia Belanda, pendidikan umumnya selalu bergantung pada pemerintah colonial semata.. Suryadi Suryaningrat, lalu mendirikan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan universal yang segala operasional pendidikannya tidak tergantung pada pemerintah kolonial.

Keberadaan Taman Siswa adalah bentuk kemandirian pendidikan bangsa Indonesia. Sekolah-sekolah Taman Siswa tidak menggantungkan diri pada dana atau anggaran pemerintah colonial untuk mencerdaskan anak-anak Indonesia. Pemerintah Kolonial pernah berusaha menghancurkan Taman Siswa dengan orodonansi sekolah liar.

Untuk menjadi Negara yang merdeka sikap mandiri begitu perlu. Itulah mengapa Sukarno begitu keras menentang kelahiran Negara Malaysia yang didukung Inggris. Sukarno lebih menginginkan rakyat Malaya memerdekakan dirinya sendiri. Bahkan untuk itu, Sukarno bahakan siap untuk diam-diam mengirimkan militernya secara rahasia dan terbatas ke Malaya.

Berdikari, membuat seseorang tidak bergantung pada orang lain. Dimana orang itu menjadi kuat dan mampu bersaing dengan yang lain, termasuk yang lebih kuat darinya.

Sukarno adalah tokoh yang mengajarkan Indonesia sebagai bangsa mandiri. Efek kedepan dari silkap mandiri dan berdikari ini bisa membuat Indonesia sebagai bangsa Indonesia.

Sayangnya, berdikari ini tinggallah wacana yang tidak lagi diingat oleh orang-orang Indonesia. Hanya sebagian kecil orang Indonesia yang berusaha untuk berusaha untuk mandiri dan berdikari.

Ketergantungan menjadi hal yang tidak terhindarkan bagi Indonesia. Terutama dalam hal ekonomi. Yang paling mendasar adalah pertanian makanan pokok jutaan orang di Indonesia. Impor beras sangat merugikan petani Indonesia sejak zaman Hindia Belanda. Panen petani Indonesia dirusak dengan masuknya beras asing. Sangat penting untuk mendistribusikan dan menggunakan beras dalam negeri.

Bagaimanapun, Indonesia pernah mengirim beras ke India yang pernah dilanda kelaparan sekitar tahun 1946. Ada yang menyebut bahwa beras hasil petani Indonesia sebenarnya cukup untuk mengganjal perut orang-orang Indonesia sendiri. Impor beras dari luar sendiri seperti hal yang mengada-ada. Selama ini, pemerintah seolah kurang bisa melindungi petani. Padahal dengan mendukung petani, pemerintah sebenarnya bisa mendukung gerakan mandiri dan berdikari jika para petani benar-benar dilindungi pemerintah.

Mengajarkan sikap mandiri haruslah sejak dini. Dimana seorang anak diajarkan untuk bisa melakukan sendiri yang menjadi kebutuhannya. Memakai pakaiannya sendiri, mandi sendiri, makan sendiri tanpa disuapi, mengerjakan tugas pekerjaan rumahnya sendiri, dan lainnya.

Mengajarkan kemandirian juga butuh proses yang tidak pendek. Mengajarkannya pun tidak hanya dengan mendoktrin, melainkan dengan keteladanan. Seorang kakak yang mandiri bisa menjadi teladan baik bagi adik-adiknya. Mengajarkan kemandirian akan lebih baik jika memulainya di kalangan keluarga. Harapannya, sikap mandiri ini akan terbawa ke sekolah dan pergaulan.

Sikap mandiri membuat anak tidak terus bergantung pada orangtuanya. Anak mandiri akan siap, bahkan lebih siap untuk menghadapi dunia yang pernuh persaingan. Sikap mandiri bisa melahirkan sikap kreatif juga. Karena tidak mau tergantung pada orang lain, maka pikiran orang yang mandiri adalah berusaha memenuhi kebutuhan dengan tidak menggantungkan diri pada yang sudah melainkan dengan terobosan baru.

Sikap mandiri yang melahirkan terobosan baru dan menciptakan sumber hidup yang baru ini yang diinginkan oleh Sukarno. Jika sikap mandiri dan berdikari ini bisa dimiliki bangsa Indonesia, maka Indonesia bisa menjadi bangsa yang kuat dan tidak perlu sedikitpun bergantung pada Negara lain. Derajat dan nasib bangsa Indonesia secara ekonomis pun bisa maju.

Kesetiakawanan

Sebagai bangsa, Indonesia pernah mengirim beras ke India yang dilanda kelaparan. Ini adalah contoh besar bagaimana Indonesia sebagai bangsa pernah menjadi bangsa yang peduli pada negera tetangganya yang menderita. Kondisi politik Indonesia ketika pengiriman beras ke India itu bisa dibilang buruk.Sengketa antara Indonesia Belanda masih berlangsung

.

Kesetiakawanan juga yang membuat orang-orang Indonesia bisa merdeka. Kesetiakawanan begitu penting dalam perjuangan, termasuk dalam perjuangan kemerdekaan dulu. Dimana diantara pejuang berbagai banyak hal maupun saling melindungi satu sama lain.

Menanamkan rasa setiakawanan antar sesama juga harus dilakukan sejak dini. Dimana rasa setiakawanan itu bisa lahir dari teladan yang diberikan oleh orang tua. Dimana kemudian anak-anak akan menirunya.

Rasa setia kawan sebenarnya sudah dimiliki sejak lama. Sejak dulu rasa kekeluargaan orang-orang Indonesia cukup tinggi, jadi tidak heran jika rasa setia kawan bukan hal yang sulit. Rasa setia kawan ini paling mudah mudah tumbuh dalam sebuah kelompok.

Rasa setia kawan itu perlu terus dipelihara agar tercipta kerukunan dan masyarakat yang solid.

Mencintai Kemerdekaan

Sikap mencintai kemerdekaan tidak hanya berteriak soal kemerdekaan. Menghargai kemerdekaan diri adalah sebuah sikap positif bagi sebuah bangsa. Karena kemerdekaan telah mengorbankan banyak hal yang dimiliki orang-orang Indonesia.

Ada banyak pemuda di zaman revolusi begitu mencintai apa yang disebut kemerdekaan. Merdeka menjadi mimpi mereka. Hingga mereka melakukan apa saja dan berkorban apa saja demi sebuah kemerdekaannya.

Tidak hanya orang Indonesia, rupanya pernah ada anggota tentara Belanda yang membelot. Dia adalah H.J. Princen. Princen adalah pecinta kemerdekaan sejati yang konsisten. Dia pernah merasakan hidup tidak merdeka ketika Negeri Belanda diduduki tentara Jerman. Princen kemudian tidak bisa menerima ketika ada bangsa lain yang terjajah. Princen memilih membela Indonesia yang sedang berusaha dikuasai petinggi negaranya. Princen memilih berperang melawan kebijakan negaranya yang lalim.

Bukan hal mudah Princen bisa dituduh pengkhianat oleh tentara Belanda yang lain. Namun Princen tidak peduli dengan klaim pengkhianat yang akan diberikan oleh orang-orang karena berbeda sikap soal kemerdekaaan sebuah bangsa. Jadi, sebaiknya orang-orang Indonesia malu pada Princen yang keturunan Belanda tapi berjasa dan peduli pada Indonesia. Orang Indonesia harus belajar banyak dari Princen.

Rasa cinta pada kemerdekaan, bukan hanya ditunjukan dan diyakini Princen ketika zaman revolusi bersenjata saja. Princen adalah orang yang peduli pada masalah Hak Azasi Manusia (HAM). Ketika ribuan orang Indonesia membisu atas pembunuhan orang Indonesia yang dituduh komunis, Princen dan segelintir orang angkat bicara. Tetap saja orang-orang Indonesia lain tidak peduli.

Rasa cinta pada kemerdekaan juga pernah ditujukan dimasa Sukarno yang kerap menggandeng tangan Negara-negara lain yang baru merdeka. Banyak Negara-negara Afrika maupun Asia yang baru merdeka bersahabat dengan Sukarno. Sukarno bersahabat dengan Patrice Lamumba dari Kongo, Ho Chi Minh dari Vietnam dan lainnya. Bahkan Sukarno bersahabat dengan Fidel Caastro yang baru saja menggulingkan dictator Batista di akhir tahun 1950an.

Persahabatan dengan Negara yang baru merdeka adalah ujud rasa cinta pada kemerdekaan.Sukarno dan lainnya merasa kemerdekaan itu begitu mahal harganya. Banyak hal yang harus dikorbankan.

Sebelum masa Sukarno menjadi Presiden. Ribuan orang Indonesia berjuang mati-matian membela kemerdekaannya. Rasa cinta pada kemerdekaan yang sedemikian tinggi itu membuat mereka berkorban banyak. Mulai dari waktu, tenaga, pikiran, harta benda bahkan nyawa.

Hidup orang pergerakan kemerdekaan tidaklah mudah. Hidup mereka terus diawasi oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID) yang dianggap sebagai polisi rahasia yang mengawasi orang-orang pergerakan. Di negeri Belanda, orang-orang yang terlibat dalam pergerakan Nasionalhidupnya akan dipersulit pemerintah colonial. Bagi anak pegawai colonial, maka si orangtua mendapat perintah untuk mengehentikan kiriman biaya hidup maupun biaya kuliah.

Betapa rasa cinta kemerdekaan itu begitu mahal ongkosnya. Karenanya sangat penting bagi orang Indonesia untuk menghargai kemerdekaan. Bentu rasa cinta pada kemerdekaan adalah menikmati kemerdekaan dengan berusaha memperbaiki kehidupan masyarakat secara umum kearah yang lebih baik layaknya Negara merdeka. Dalam konstitusi Negara Indonesia yang begitu dibela sampai mati, Undang-Undang Dasar 1945, tujuan Negara Indonesia yang merdeka adalah Mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ciri bangsa merdeka selama ini hanyalah terbebasnya dari kekuasaan politis dari Negara asing. Pemahaman orang Indonesia akan kemerdekaan sendiri begitu rendah. Karena mereka hanya menganggap Indonesia sudah merdeka dari kekuasaan asing dan rasa cinta pada kemerdekaan tidak penting.

Pemikiran salah itu tidak pernah mengerti bahwa kemerdekaan bukan bukan berarti bergantinya penguasa Negara yang dulunya orang asing dengan orang Indonesia asli. Mereka melupakan ketergantungan Indonesia dan kepala Negara pada pemerintah asing. Apapun bentuknya, semua ketergantungan pada Negara asing bukanlah sebuah kemerdekan. Ketergantungan hanya dimiliki oleh bangsa terjajah. Bangsa yang merdeka tidak akan tergantung pada bangsa manapun.

Kemerdekaan sebuah bangsa terlihat dari kemerdekaan manusia bangsa yang bersangkutan. Bangsa itu rakyatnya pasti sejahtera dan bisa hidup sendiri tanpa tergantung pada bangsa lain. Rakyat bangsa itu tentu saja tidak sedang ataupun akan kelaparan selamanya. Rakyat bangsa itu juga tidak sedang dobodohi oleh siapa saja. Baikorlah bangsa asing maupun pemimpin bangsa tersebut.

Menghargai Sesama

Sikap menghargai sesama adalah halsulit bagi banyak manusia Indonesia saat ini. Dengan saling menghargai, kedamaian akan tercipta. Sikap saling menghargai perlu karena Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

Selama ini pendidikan untuk menghargai orang lain lebih banyak sekedar teori di sekolah. Pelajaran untuk menghargai orang lain haruslah dilakukan dalam lingkungan yang lebih luas dimana anak berada.

Orang tua yang tidak bisa menghargai orang lain, akan menularkan pada anaknya sikap yang tidak bisa menghargai orang lain juga. Orang tua adalah orang yang lebih mungkin ditiru si anak. Bagaimanapun, orangtua adalah teladan dan kebanggaan yang kadang sering selalu ingin ditiru oleh anak.

Kemerdekaan Indonesia dibangun atas dasar rasa saling menghargai satu sama lain. Demi menjaga persatuan antara orang-orang Indonesia barat yang mayoritas muslim dan orang-orang Indonesia bagian timur yang diantaranya banyak yang nasrani., atau orang-orang Hindu di Bali, maka Sila Pertama dari Pancasila pun dirubuah kalimatnya. Kemudian sila pertama itu hanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bentuk rasa menghargai sesama yang lain adalah menghargai orang-orang yang berbeda latar belakang etnis, keyakinan bahkan ideologi. Ini bukan sebuah jargon melainkan kebutuhan karena Indonesia adalah negeri penuh keanekaragaman. Rasa menghargai perbedaan sangat perlu untuk menyelamat Indonesia dari segala perpecahan yang bisa terjadi kapan saja.

Bhinneka Tunggal Ika adalah jargon yang selalu di gaung-gaungkan. Nyatanya itu semua tingal jargon. Setiap tahun, selalu ada berita perkelahian antar kampong. Bahkan perkelahian antar pelajar juga kerap menjadi berita yang dikonsumsi publik tiap hari.

Jika rasa saling menghargai itu ada, maka berita perkelahian tidak ada. Di masyarakat, masih banyak orang-orang yang hanya ingin menonjolkan kelompok atau kaumnya, dan memojokan kelompok atau kaum lain. Maksud dari semua itu adalah kelompok atau kaumnya menjadi dominant diantara banyak kelompok. Hal ini sebenarnya mental penjajah yang barbar. Nafsu berkuasa yang tinggi tanpa mengindahkan kehormatan orang lain.

Keberagaman yang di miliki membuat sikap saling menghargai satu dengan yang lain begitu perlu. Menyatukan dan menjaga perasaan berbagai etnis dan keyakinan bukan hal mudah. Keberagaman bisa menjadi sebuah kekayaan yang membanggakan bagi yang bisa merespon perbedaan secara positif. Namun juga bisa menjadi malapetaka mengerikan jika rasa penghargaan pada yang berbeda tidak ada.

Sikap menghargai antar umat beragama maupun antar etnis yang berbeda menjadi mutlak. Pendidikan saling menghargai begitu penting untuk diberikan sejak dini. Pendidikan untuk menghargai perbedaan ini bukan tanggungjawab sekolah semata. Melainkan melibatkan banyak elemen.

Orang-orang Indonesia tentu tidakingin Indonesia bernasib seperti bekas-bekas Negara Yugoslovakia yang pecah dan hancur setelah kematian Yosef Bros Tito—Presiden Yugoslovakia yang berhasil menyatukan Negara-nagara Balkan dalam Yugoslovakia. Namun, setelah kematian Tito, persatuan itu selesai juga. Parahnya, perpecahan itu diikuti kerusuhan antar etnis yang memakan banyak korban.

Masalah kerusuhan etnis maupun agama pernah dialami Indonesia satu dekade silam. Bayangan konflik antar etnis dan agama itu akan terus terjadi di Indonesia. Jadi rasa saling menghargai begitu diperlukan untuk seterusnya, tidak bisa tidak.

Cinta Damai

Dimasa lalu, orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang juga bisa saling menghargai. Konon, pernah ada orang asing yang berkunjung ke nusantara (Indonesia) dimasa masa lalu. Dimana orang itu melihat orang-orang Indonesia itu adalah orang yang damai. Kedamaian itu ada karena adanya rasa saling menghargai sesamanya di dalam masyrakat.

Indonesia pernah disebut sebagai Nusa Damai. Sebuah gugusan kepulauan yang damai. Sebutan itu berasal dari orang-orang asing. Banyak orang asing yang jatuh cinta pada dengan keindahan dan kedamaian di Nusantara pada masa lalu. Orang Indonesia harus tahu siapa Nyi Ketut Tantri. Orang Amerika yang jatuh cinta pada keindahan dan kedamaian di nusantara. Nyi Ketut Tantri, yang orang asing itu, merasa nyaman dan tanpa terasa dia pun seolah orang Indonesia juga. Dia juga ikut berjuang membantu kemerdekan Indonesia. Dia pernah menulis Revolusi di Nusa Damai.

Indonesia sebagai Negara yang damai memang kerap terganggu kedamaiannya karena sikap egosentris sebagaian kalangan. Apapun alasannya menyulut sebuah peperangan adalah kesalahan fatal. Perang saudara juga berkali-kali terjadi di Indonesia dan hal ini kerap ditutupi oleh pemerintah. Selalu hanya digambarkan Indonesia sudah cukup damai namun tidak pernah orang Indonesia mau diarahkan untuk belajar dari kesalahan untuk terus menjaga rasa damai itu.

Tradisi kekerasan di Indonesia harus sesegera mungkin ditinggalkan. Perkelahian antar kampung menjadi hal yang tidak bisa dihindari dimasa kini dan dimasa lalu. Sangat sulit merubah tradisi perang antar kampung itu. Nyatanya, selalu ada alasan bagi orang-orang Indonesia untuk berkelahi. Jika sebelumnya beda kampung musuh, maka sekarang muncul beda klub sepakbola favorit juga bisa menjadi musuh. Permusuhan pun bisa ditimbulkan dari hal sangat sepele namun kemudian dibesar-besarkan.

Menciptakan kedamaian bisa dimulai dari sikap saling menghargai sesamanya. Dimulai dari lingkungan kecil, baik keluarga atau dengan tetangga. Rasa damai sebenarnya memberi banyak kenyamanan dalam menjalani hidup sehari-hari. Segala urusan bisa lancar bahkan banyak kemajuan yang bisa dicapai bila damai tercipta.

Belajar dari Kesalahan

Bersalah adalah hal yang memalukan. Hingga semua yang salah selalu dicaci-maki dan ejek. Hingga mental orang yang bersalah itu jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Sementara itu, di lain waktu orang lain mengulang kesalahan itu, diantara yang melakukan kesalahan itu aalah orang yang sebelumnya mencaci maki dan mengejek orang yang bersalah.

Kesalahan hanya menjadi hal yang dihindari. Seseorang memang tidak boleh salah, namun bersalah kadang menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Karenanya, sangat penting untuk belajar dari kesalahan.

Selama ini orang Indonesia hanya baru bisa saling menyalahkan orang lain dan selalu merasa dirinya paling benar serta tidak pernah salah sedikitpun. Mencari kambinghitam pun menjadi tradisi bangsa Indonesia, tanpa seorang Indonesia pun yang sadar. Jarang ada orang yang dengan mantap bilang, “saya salah.” Dan orang tersebut mengemukakan apa alasan kesalahannya. Jika bersalah orang akan memilih diam seribu bahasa. Kebanyakan orang Indonesia tentu akan semakin menyalahkan orang yang bersangkutan habis-habisan.

Orang bersalah bukan untuk dihakimi. Orang bersalah harus dibantu agar dia bisa memperbaiki kesalahannya. Sementara itu, orang-orang lain pun belajar dari kesalahan orang lain itu agar dia tidak melakukannya. Yang kerap terjadi adalah kesalahan yang sama selalu berulang. Tidak jarang kesalahan yang sama itu lebih fatal daripada yang pernah terjadi sebelumnya.

Orang-orang Belanda, yang pernah menjajah Indonesia pernah bilang, “seekor keledai tidak pernah jatuh pada lubang yang sama.” Artinya seekor keledai, bintang yang paling diangap bodoh pun tidak akan jatuh pada lubang yang sama. Sangat ironis jika manusia yang jelas-jelas lebih berakal daripada seekor keledai bisa jatuh pada lubang kesalahan yang sama.

Sejarah dunia memang punya fakta bahwa orang-orang penting yang berpengaruh kelas dunia pun kerap melakukan kesalahan yang sama. Hitler yang dianggap hebat pun pernah dan jelas-jelas mengulang kesalahan Napoleon dengan menyerang Rusia di musim dingin. Musim dimana pergerakan pasukan Napoleon begitu kacau karena salju. Hingga akhirnya membawa pasukan Perancis pimpinan Napoleon dalam kekalahan luar bisa. Hitler pun mencoba menyerang Rusia di musim yang sama. Meski pasukan Jerman kuat, tetap saja salju dan udara dingin membunuh mereka pelan-pelan. Betapa fatal jika kesalahan fatal itu diulang.

Kesalahan fatal yang selalu dulang pemimpin atau raja di Indonesia adalah, mereka hanya mementingkan tahtanya saja. Mereka tidak pernah berpikir untuk menjaga keutuhan Negara yang pernah dibangun leluhurnya. Contoh saja Pangeran Puger, Sunan Surakarta pertama yang rela bekerjasama dengan VOC Belanda dengan boleh membiarkan VOC mencampuri urusan kerajaan agar dirinya berkuasa. Atau Sultan Haji dari Banten yang rela bekerjasama dengan VOC agar bisa berkuasa dengan merebut tahta dari ayahnya.

Kaum pergerakan Indonesia telah memberi contoh pada bangsa Indonesia tentang bagaimana belajar dari kesalahan. Karena kekalahan yang sering dialami kaum pejuang yang berontak melawan pemerintah kolonial dengan cara kekerasan, maka kaum pergerakan nasional menempuh jalan berbeda. Tidak lagi dengan cara kekerasan, melainkan dengan cara yang lebih intelek. Melalui jalan damai dan organisasi yang lebih modern.

Perjuangan tidak lagi dengen bedil dan klewang seperti pada masa sebelumnya. Melainkan dengan mencerdaskankan orang-orang Indonesia sendiri dengan mendirikan sekolah bagi anak-anak dan mengadakan perkumpulan untuk menyatukan banyak orang dalam perjuangan melawan pemerintah kolonial.

Sangat penting untuk menekankan pada generasi baru Indonesia untuk belajar dari sejarah agar kesalahan yang terjadi di masa lalu tidak terulang. Hal ini bisa dimulai untuk tidak mengkambinghitamkan orang lain, melainkan bertanya mengapa kesalahan terjadi, lalu bersama-sama mencari solusi memperbaiki kesalahan itu dan berusaha agar kesalahan itu tidak terulang lagi di kemudian hari.

Terdengar begitu Utopis memang, tapi itulah yang yang harus dimiliki oleh orang-orang Indonesia jika Indonesia ingin terus ada dan maju. Hanya perlu berjuang dan berusaha untuk menjadi baik. Bukan mengeluh dan menunggu keajaiban. Jatah keajaiban untuk Indonesia sudah habis

Catatan


[1] lagu ini milik band Dewa19, dalam album Bintang Lima yang dirilis tahun 1999.


[2] Zein anwar maulani, Melaksanakan Kewajiban Kepada Tuhan dan Tanah Air: Memoar seorang Prajurit TNI, Tangerang, Daseta, 2005. hlm. viii.


[3] Pemimpin Pemberontakan Minoritas Warsawa tutup Usia, http://erabaru.net/top-news/38-news3/5547-pemimpin-pemberontakan-minoritas-warsawa-tutup-usia


[4] Lihat film The Pianist. sebuah film yang diproduksi pada tahun 20002 yang disutradarai oleh Roman Polanski dengan bintang utama Adrien Brody yang berperan sebagai Wladyslaw Spilzman. Film ini diinspirasi dari sebuah memoir karangan Wladyslaw Spilzman, seorang pianis Yahudi Polandia. Film ini juga mendapatkan anugerah Palme d'Or di Festival Film Cannes. Dan juga mendapatkan Penghargaan Oscar. Dalam Film ini pemberontakan orang Yahudi di Warsawa disinggung sedikit menjelang bagian terakhir film.




Sabtu, Februari 12, 2011

Heidt dan Kesepian itu

Dokter Heidt. Dua kali bikin geger Gunung Sitoli, Tana Niha (Bumi Manusia). Pertama dia bikin kudeta dan memproklamasikan koloni seberang lautan bernama pulau Nias sebagai bagian dari NAZI Jerman. Ya dasar dokter Fasis. Dia salah satu fasis dari Bandung. Paham fasis masih tersimpan di kepalanya ketika pemerintah kolonial penjarakan semua orang-orang Jerman termasuk dirinya.
Heidt dan ratusan orang Jerman termasuk Walter Spies, seniman Jerman yang menetap di Bali, diangkut dalam sebuah kapal. Lepas dari Sibolga kapal itu dimuntahi bom maut pesawat Jepang. Para tawanan diperlakukan biadab oleh awak kapal Belandayang tidak memberi mereka pertolongan.
Bangkai kapal dan mayat-mayat dari atas kapal Belanda itu bisa memancing ikan hiu. Sebagian orang Jerman tadi termasuk sang dokter lalu tiba di Nias dan jadi tawanan lagi. Meski dari dalam penjara mereka sukses melakukan kudeta dengan mengajak polisi pribumi yang dikecewakan pegawai dan pemerintah kolonial. Dalam semalam kekuasaan berpindah dari tangan pegawai kolonial Belanda ke tawanan Jerman itu.
Mereka tidak lama berkuasa karena kemudian mereka menyerahkan Nias pada tentara Jepang. Ternyata Selain Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang, secara tidak langsung Indonesia pernah dijajah Perancis dan Jerman juga dengan aksi dokter Heidt dan kawan-kawannya itu.
Ketika kawan-kawannya pergi, Heidt tinggal sendiri di Nias. Sayang Heidt tidak segila Robinson Crusoe atau petualang lainnya. Heidt tidak menikmati Nias rupanya. Padahal ngayau alias tradisi penggal kepala sudah lewat sejak Deninger datang menginjil. Heidt mungkin juga tidak jatuh cinta pada satu wanita Nias pun, yang tidak kalah cantik daripada wanita Jerman.
Entah mengapa Heidt merasa sepi? Pastinya di segelintir kulit putih disana dan mungkin saja tidak mampu berbahasa Nias. Bisa jadi juga dia hilang kontak dengan keluarganya karena Perang Dunia II berkecamuk. Hingga Heidt yang kesepian itu makin tertekan saja setelah ditinggal kawan-kawannya. Tentang kesepian Heidt, saya hanya bisa berspekulasi saja.
Akhirnya, untuk kedua kalinya Heidt bikin geger Gunung Sitoli lagi. Dia bunuh diri. Tidak anyak orang Nias tahu kisah ini. Tentu saja orang-orang Nias itu tidak tahu betapa sepinya sang dokter.

Kamis, Januari 13, 2011

Orang KNIL Ambon

Setidaknya, ada tiga orang KNIL yang cukup dikenal masuk TNI. Josef Muskita, Tanasale dan Julius Tahiya. Dimana semua punya ceritanya sendiri-sendiri.

Jumlah tentara KNIL tahun 1945 adalah sekitar 60.000 personil. Dalam formasi KNIL saat itu, komposisi serdadu Ambon dan non Ambon secara keseluruhan adalah satu banding lima. Mereka tinggal dalam tangsi-tangsi bersama anak dan istrinya. Orang-orang Ambon yang masuk KNIL biasanya beragama Kristen Protestan.[1]

Mereka juga tidak lagi mendapat gaji yang besar seperti ketika mereka bergabung dalam KNIL. Walau begitu, bekas KNIL ini justeru mendapat gaji besar dibandingkan dengan prajurit TNI yang lebih lama mengabdi dan hal ini pula yang menimbulkan kecemburuan dikalangan TNI sendiri.


Diperkirakan mereka adalah KNIL Ambon

Masa Bersiap, yang menakutkan bagi banyak orang-orang yang dianggap pro Belanda pada awal Revolusi, juga menjadi salah satu sebab bagi banyak anggota atau mantan KNIL Ambon enggan bergabung ke Republik.

Mereka digolongkan sebagai Andjing NICA, seperti halnya sebagian orang pro Belanda. Bergabung dengan Republik sama saja menyerahkan diri pada bekas musuh, yang bisa jadi menjadi musuh abadi.

Ketika banyak bekas serdadu KNIL Ambon kembali pulang ke kampungnya, mereka dalam kondisi tidak terima dengan kekalahan politik Belanda dalam diplomasi, mereka begitu merasa hidup mereka tanpa masa depan.

Josef Muskita

Terahir di kota militer Magelang, 28 Juli 1924. pernah menikmati sekolah di Hogare Burger School bagian B (Ilmu Pasti Alam). Kemungkinan dia belajar di HBS Jakarta sebelum Jepang mendarat. Melihat kota kelahirannya, Muskita nampaknya berasal dari keluarga militer KNIL juga.

Sebelum tahun 1950, dia adalah perwira KNIL. Lalu masuk TNI pasca KMB. Dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal, yang disandangnya sejak 1 Oktober 1967. Dan purnawirawan sejak 28 Juli 1979. Usianya baru 43 tahun ketika menjadi Mayor Jenderal. Meski tergolong cepat, namun tidak pernah menempati posisi strategis dalam kemiliteran di TNI. Beberapa kali belajar di luar negeri.

Diusianya yang harusnya menjadi pucuk pimpinan militer, Muskita hanya menjadi Pimpinan Sementara PT Departemen Store Indonesia Sarinah pada 14 November 1970. Lalu diangkat menjadi Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, pada Departemen Perdagangan dan Koperasi sejak akhir tahun 1970 hingga tahun 1978. Selanjutnya menjadi Duta Besar RRI untuk Jerman Barat sejak 1979. Sejak September 1983 diangkat menjadi sekretaris Wakil Presiden RI.[2]

Karir militer Muskita selesai ketika orde baru mulai merangkak dan berkuasa. Muskita bukan orang politik. Dan yang pasti Muskita juga bukan orang PETA yang punya kencendrungan dekat dengan Suharto dan dapat posisi empuk di militer pada rezim Suharto. Muskita bisa dibilang tersingkir. Mungkin karena dia bekas KNIL zaman revolusi yang jadi musuh TNI dan laskar.

Tidak diketahui dimana dia bertugas sebagai KNIL semasa revolusi. Bisa dipastikan dia hanya berpangkat Letnan KNIL, jika melihat latar belakang pendidikan dan kacaunya revolusi Indonesia yang membuat KNIL butuyh perwira berpendidikan sepertinya. Dia juga bukan perwira KNIL yang populer bagi para gerilyawan RI yang menjadi musuhnya. Berbeda dengan Tanasale.

Muskita, ketika baru ergabung dengan TNI sudah diikutsertakan dalam operasi penumpasan RMS. Pengalamannya di KNIL, dan latar belakang kesukuannya, dinilai potensial untuk menyelesaikan masaah RMS yang melibatkan banyak mantan KNIL

Adjudant Tanasale

Ketika revolusi kemerdekaan Indonesia berlangsung, masih banyak orang Ambon yang tergabung dalam KNIL. Mereka menunjukan diri sebagai prajurit tangguh. Tidak heran jika mereka kemudian direkrut dalam pasukan baret Hijau yang dilatih Westering. [3]

Salah satu pengikut Westerling adalah Adjudant (Pembantuy Letnan) Tanasale. Dia KNIL Agmbon yang hnya berpangkat Spaandrig (serdadu kelas I) sebelum revolusi Indonesia. Dia anggota Batalyon X di Senen, Jakarta—yang kerkenal ganas dan kejam pada pemuda Pro Republik Indonesia yang mereka temui. [4]

Tanasale konon telah membunuh beberapa orang Indonesia militan ghingga pangkatnya dinaikan menjadi adjudant (setara pembantu letnan) di KNIL dimasa revolusi. Ada kabar yang menyebutkan bahwa Tanasale telah masuk TNI dengan pangkat Kapten.[5]

Sebagai pengikut Westerling, Tanasale bahkan tidak tersentu sama sekali. Dia cukup beruntung karena didekati oleh Palupesy dari brigade Patimura.[6] Brigade Patimura adalah kelompok yang akan diberangkatkan ke Maluku Selatan. Termasuk menumpas pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS).

Tanasale adalah salah satu dari sekian banyak serdadu KNIL. Namun dia beruntung karena bisa melewati banyak tingkatan. Mulai dari Spandrig lalu menjadi Adjudant. Dan di TNI dia bisa naik pangkat menjadi Kapten. Tanasale tidak memilih ikut ke Negeri Belanda. Jika ia ikut tentara Belanda, dalam Koninklijk Landmacth (Angkatan darat Kerajaan Belanda, disingkat KL) ia hanya akan menjadi adjudant. Dan bisa jadi hanya akan menjadi pensiunan Letnan saja. TNI mungkin menjadi sebuah harapan bagi mantan KNIL yang tidak ingin ikut dengan KL. Setelah itu, tidak ada cerita bagaimana nasib Tanasale di TNI.

Julius Tahiya

Masuk sebagai bintara KNIL di tahun 1937. Dia ikut menyeberang ke Australia ketika Perang Pasifik berkobar dan Tentara jepang masuk Indonesia. Julius Tahiya pernah melakukan pedaratan diam-diam di Saumlaki pada masa pendudukan Jepang sebagai bintara KNIL. Setelah PD II berakhir pangkat Julius Tahiya diaikan menjadi Letnan.

Semasa revolusi kemerdekaan RI, Julius Tahiya bekerja untuk kepentingan Belanda karena dia termasuk KNIL yang dibawa Belanda ke Australia. Julius Tahiya, sebagai orang Indoensia yang pastinya memiliki pengetahuan tentang Indonesia yang berusaha direbut kembali oleh Belanda, sangatlah penting kedudukannya. Karenanya Julius Tahiya dijadikan staf Jenderal Spoor dengan pangkat Kapten. Tahiya tidak lama menjadi staf Jenderal Spoor.[7]

Bulan April 1946 Tahiya meninggalkan KNIL untuk mengikuti pendidikan di jawatan Keuangan Jakarta. Hal ini adalah persiapan dirinya untuk menjalankan perannya dalam Negara Indonesia Timur. Selanjutnya, sebagai orang Maluku, Tahiya ditunjuk sebagai perwakilan orang-orang Maluku di NIT. Ketika Konferensi Malino pada 16 hingga 22 Juli 1946, Tahiya hadir. Dimana disusun struktur pemerintahan Federalis.[8] Julius hanya seorang federalis. Kedekatannya dengan Belanda hanya untuk mendukung kemajuan Indonesia Timur.

Meski mengaku keluar dari KNIL 1946, Julius masih sering terlibat dalam forum penting seperti KMB. Dia kemudian mencapai pangkat Letnan Kolonel.

Agenda pembubaran KNIL 26 Juli 1950, tentu membuat banyak KNIL frustasi. Meski mereka diberi pilihan untuk masuk TNI atau masuk KL dan ikut ke Negeri Belanda. Selama masa penantian itu mereka biasa berbuat rusuh. Mereka begitu tempramentalnya dengan membuat keribeutan. Mereka tampak belum puas bertempur melawan tentara Indonesia.

Sebelum KNIL dinyatakan bubar pada 26 Juli 1950, beberapa kerusuhaan antara KNIL dan TNI kerap terjadi. Seperti di Bandung, Jakarta, Bogor, Makassar dan Malang. Di Jakarta, Bandung dan Bogor masih terkait dengan peristiwa Westerling.

Sebenarnya, kepindahan orang-orag KNIL ke TNI bukan hal mudah. Bergabung di TNI berarti akan kehilangan penghasilan f 140 ssebulan. Orang-orang KNIL sendiri menganggap prajurit TNI umumnya buta huruf. Oran-orang KNIL yang akan bergabung dalam TNI sendiri merasa bahwa mereka akan dianggap sebagai pengkhianat turun-temurun karena semasa revolusi melawtan pemerintah republik. Mantan KNIL yang ingin bergabung ke TNI umumnya orang-orang Menado-Minahasa.[9]

Di Surabaya, muncul kegelisahan orang-orang KNIL. Mereka tampak tidak begitu suka dengan kehadiran Julius Tahiya yang mulai mengadakan sosialisasi mutasi KNIL ke TNI. Beberapa beranggapan bahwa tahiya mengkhianati mereka. Tahiya cukup kesohor di kalangan KNIL Ambon. Menjelang berakhirnya KNIL, Tahiya mulai dibenci oleh serdadu bawahan KNIL ambon. Mereka melihat Tahiya makin condong ke Republik Indonesia. Tahiya adalah anggota delegasi BFO dalam KMB. Serdadu KNIL di Surabaya begitu membencinya. Ketika Tahiya hendak memberikan sosialisasi pemindahan KNIL pribumi kedalam TNI.Sebagian beranggapan selaku orang Maluku Tahiya tidak paham dengan kondisi Maluku.

Julius Tahiya. Dia lebih memilih menjadi pengusaha daripada terus berkarir di TNI. Sebuah langkah bijak bagi seorang ingin membangun sebuah negeri baru. Surplus tentara adalah masalah bagi sebuah Negara yang baru mulai membangun. Latar belakang militer Julius Tahiya di KNIL, dimana dirinya pernah menjadi asisten Jenderal Spoor bisa menjadi masalah bila dirinya terus berkarir di militer. Julius Tahiya mungkin masih bisa hidup sebagai perwira militer dengan gaji kecil karena istrinya yang keturunan Australia adalah seorang dokter gigi.[10] Istri Julius Tahiya bahkan sudah merasa nyaman sebagai seorang istri perwira dan menentang rencana Julius yang ingin keluar sepenuhnya dari dinas militer.[11] Padahal posisi seorang perwira secara ekonomis di masa itu sangatlah lemah, meski tiap bulan dapat gaji. Pilihan Julius keluar dari TNI tepat. Dia akhirnya menjadi pengusaha terkenal yang memiliki usaha minyak dan bank. Sebelum masuk KNIL tahiya meman sudah punya bakat dagang.

[1] Rosihan Anwar, Sejarah Kecil “La Petite Histoire” Indonesia, Jakarta Kompas, 2004. h. 52-53.

[2] Muskita pernah menjadi pelatih olahraga perahu layar (sailing). Dan ikut serta dalam olimpiade perahu layar di Napoli Itali. Dia juga pernah menjadi Duta Besar RI untuk Jerman Barat (1983-1988) dan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1988-1993). Dirinya pernah mendapat Groot-Officier in de Orde van Oranje-Nassau dari pemerintah belanda 1990. Josef Muskita tutup usia pada 1 Mei 2006. (http://anakmaluku.blogspot.com/): Harsya Bachtiar, Siapa Dia: Perwira Tinggi TNI AD, Jakarta, Djambatan, 1988. hlm., hlm. 217.

[3] Laporan Djawatan Kepolisian Negara kpada Pemangku jabatan Presiden RI, perdana Menteri RI, Jaksa Agung,, Yogyakarta 21 Februari 1950. No Polisi: 278/AR/PAM/DKN/50. Perihal Aksi Westerling. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara Bagian PAM Yogyakarta beserta lampiran. (Desember 1949, Januari, Maret 1950)

[4] Laporan Djawatan Kepolisian Negara kpada Pemangku jabatan Presiden RI, perdana Menteri RI, Jaksa Agung,, Yogyakarta 21 Februari 1950. No Polisi: 278/AR/PAM/DKN/50. Perihal Aksi Westerling. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara Bagian PAM Yogyakarta beserta lampiran. (Desember 1949, Januari, Maret 1950)

[5] . Laporan Pengawas Aliran Masyarakat kepada Kepala Polisi Keresidenan Bogor di Bogor Tanggal 5 Juli 1950. No: 84/rahasia, Perihal: Suasana Kalangan KNIL, KL dan TNI. (Koleksi ANRI: KPM RI Yogyakarta. No 130 RA 5. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara bagian PAM Mengenai Insiden antara KNIL dan TNI beserta Lampirannya (Januari, februari, Mei, Juni, Juli 1950)

[6] Laporan Djawatan Kepolisian Negara kepada Pemangku jabatan Presiden RI, perdana Menteri RI, Jaksa Agung,, Yogyakarta 21 Februari 1950. No Polisi: 278/AR/PAM/DKN/50. Perihal Aksi Westerling. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara Bagian PAM Yogyakarta beserta lampiran. (Desember 1949, Januari, Maret 1950)

[7] Julius Tahiya, Horizon Beyond, ab. Melani Budianta, Melintas Cakrawala: Kisah Sukses Pengusaha Indonesia, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1997, hlm. 37-56, 71.

[8] Ibid., hlm. 73-74.

[9] Lampiran Pengakuan Tuan Korro. Laporan Pengawas Aliran Masyarakat kepada Kepala Polisi Keresidenan Bogor di Bogor Tanggal 5 Juli 1950. No: 84/rahasia, Perihal: Suasana Kalangan KNIL, KL dan TNI. (Koleksi ANRI: KPM RI Yogyakarta. No 130 RA 5. Seri Laporan Jawatan Kepolisian Negara bagian PAM Mengenai Insiden antara KNIL dan TNI beserta Lampirannya (Januari, februari, Mei, Juni, Juli 1950).

[10] Julius Tahiya, op. cit. hlm. 43, 75-76.

[11] Ibid., hlm. 105.

Rabu, Januari 12, 2011

Jan Rapar

Sosok Preman ideal. Dia seorang revolusioner yang punya jasa Republik, namun belakangan dia terlihat sebagai seorang kontrarevolusioner.


Jan Rapar (bertopi) bersama Evert Lengkai

Berdasar pengakuan Vintje Sumual, Rapar adalah bagian dari kelompomk Senen. Dia bagian dari kelompok Preman pimpinan Imam Syafei alias bang Pie’i. Mereka tergolong sebagai bagian dari kelompok yang kemudian pro kemerdekaan Indonesia. Mereka dicap sebagai bagian dari dunia hitam yang menguasai kawasan Senen.[1]

Di Senen, rapar bukan satu-satunya orang Menado-Minahasa. Rapar adalah mantan KNIL. Di masa pendudukan Jepang, Rapar sudah menjadi preman di Senen. Rapar dikenal sebagai manusia bersosok tinggi besar. Dengan berat badan 100 Kg. Postur yang baik untuk seorang preman. Dia dikenal sosok tukang berkelahi. Dan seringkali terlibat perkelahian. Jika sudah begini, Mr AA Maramis, seorang tokoh pergerakan yang juga seorang advocate turun tangan. Dan orang Menado-Minahasa yang ribut dan ditahan polisi itu pun bebas.[2] Hubungan preman Indonesia dengan kaum pergerakan pun terjalin. Meski hanya dalam batas tertentu.

Preman Menado Minahasa, di masa pendudukan Jepang, biasa berhubungan dengan pemuda Menado-Minahasa di Asrama Kaigun (Angkatan Laut Jepang) Gunung Sahari. Di Angkatan laut Jepang, Laksamana Maeda, duduk sebagai wakil Angkatan Laut di Jakarta. Jakarta sendiri adalah pusat Angkatan Darat ke-16 yang menguasai Jawa.

Selama pendudukan Jepang, Maeda pernah mendirikan Choku-eitai, semacam organisasi semi-militer dengan berbagai macam fungsi seperti kontraintelejen, sabotase, dan pengintaian. Guna menghadapi sekutu yang bisa mendarat kapan saja ke Hindia Belanda. Beberapa anggota dari kelompok ini adalah orang-orang Minahasa—yang direkrut di Jakarta karena tidak bisa pulang ke kampungnya ketika Jepang mendarat. Maeda diberi tugas oleh petinggi Angkatan Laut di Makassar untuk mengawasi orang-orang Minahasa itu. Sebagian diantaranya adalah mantan KNIL yang kehilangan pekerjaan dan terpisah dari keluarganya. Organisasi ini terkesan seperti pengawal Maeda.

Di Jawa, pusat Angkatan Laut adalah di Jakarta dan Surabaya, karenanya ketika KRIS berdiri, dua kota in menjadi basis KRIS yang terkuat. Di Surabaya, organisasi ini terkesan dikuasai orang-orang Menado saja dan memfokuskan diri sebagai unit militer. Di Jakarta, KRIS tidak hanya kegiatan militer saja dan tidak hanya terdiri dari orang Menado saja, tap banyak suku di Sulawesi. Di KRIS Jakarta, organisasi API Sulaawesi pimpinan Jan Rapar. Dimana KRIS kemudian membangun diri sebagai unit militer bersenjata yang berdisiplin baik seperti tentara resmi.[3]

Gejolak Revolusi

Sebagai bagian dari kelompok Senen, Rapar juga pendukung Republik di kala Republik baru lahir. Para pemuda Manado-Minahasa di Jakarta, baik yang biasanya bergiat sebagai Preman Senen maupun pemuda penghuni Asrama Kaigun Gunung Sahari, berada dibawah komando Rapar mengamankan proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan cara mereka. Mengamankan area sekitar Pegangsaan, dengan berjaga. Menjaga kemungkinan gangguan Angkatan Darat yang bisa datang kapan saja. Angkatan darat dengan angkatan Laut Jepang punya kedekatan dan pemikiran berbeda tentang orang-orang Indonesia yang ingin merdeka.

Ketika Indonesia Merdeka, sebagian orang Menado-Minahasa resah. Mereka, karena selama Kolonial Hindia Belanda berkuasa di Indonesia, banyak orang Menado-Minahasa begitu dekat dengan pemerintah colonial. Banyak diantara mereka yang menjadi pegawai pemerintah Kolonial. Juga menjadi serdadu pemerintah Kolonial KNIL. Kedekatan itu berdampak buruk bagi orang-orang Menado-Minahasa di sekitar Jakarta. Mereka menjadi sasaran buta orang-orang Indonesia anti Belanda yang terjebak dalam euphoria kemerdekaan Indonesia. “Masa bersiap” juga menjadikan mereka terteror. Mereka bukan orang pro Belanda.

Karenanya, orang-orang Menado-Minahasa mendirikan organisasi yang berusaha melindungi orang Menado-Minahasa dari serangan buta orang Indonesia yang dendam pada Belanda. Image orang Menado-Minahasa sebagai Andjing NICA dalam pikiran orang awam yang dendam pada Belanda harus diubah. Dengan susah payah Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi pun terbentuk. Tidak hanya kelompok Menado-Minahasa asal Sulawesi utara saja. Orang Sulawesi Selatan juga bergabung. Salah satu yang kesohor adalah kahar Muzakar. KRIS terbentuk pada 9 Oktober 1945.[4]

Rapar dan kawan-kawan Menado-Minahasa-nya, yang biasa bentrok dengan orang-orang pro Belanda di sekitar Senen, juga dihubungi oleh Willy Pesik, seorang yang kemudian menjadi petinggi KRIS. KRIS sebenarnya sebuah organisasi sosial saja. Dalam perkembangannya, KRIS memiliki seksi pertahanannya sendiri. Seksi pertahanan ini lalu berkembang menjadi sayap militer yang kekuatannya satu Brigade. Rapar adalah salah satu pimpinannya. Bahkan yang paling berpengaruh selama revolusi.

Rapar adalah tipikal gerilyawan nekad. Bersama Lombogia dan Hermanus mereka sering menyerang markas batalyon X yang terkenal ganas di Senen. Bersama preman senen pimpinan Imam Syafei, preman Minahasa kerap melakukan penghadangan untuk memperoleh senjata.

Sebagai pemimpin militer KRIS, Rapar sering terlibat dalam pertempuran melawan pasukan NICA (Nederland Indies Civil Administration atau Pemerintah sipil Hindia Belanda)—yang membonceng pada sekutu. Karenanya Rapar menjadi orang yang begitu dihormati oleh orang-orangg KRIS. Rapar paling sering terlibat bentrokan dengan personil KNIL dari Batalyon X di Senen dan sekitarnya. Batalyon itu juga terkenal ganas di sekitar Jakarta. Namun sebagian orang dari Batalyon itu, mereka yang berasal dari suku Menado-Minahasa, diam-diam bersimpati pada kemerdekaan Indonesia. Kadang-kadang mereka memberi bantuan diam-diam pada Republik.[5]

Dalam perkembangannya, Rapar memimpin KRIS bersama Evert Lengkai. Orang yang pernah terlibat dalam Peristiwa 10 November 1945 dan kenal baik dengan Bung Tomo—pimpinan rakyat dalam Peristiwa 10 November itu. Dimana Rapar menjadi Wakil Lengkai selaku Komandan Brigade. Namun pengaruh rapar jauh lebih besar di pasaukan ketimbang Lengkai. Belakangan, Evert Lengkai mundur dan menyerahkan komando pasukan pada Rapar pada 1947.[6]

Selama kepemimpinannya, Rapar tergolong orang selalu peduli pada bawahannya. Namun bersikap tegas dan menghukum siapa saja bawahannya yang bersalah. Rapar juga selalu menempatkan orang pintar pada posisi yang tepat dalam komandonya.

Pasukan KRIS juga menjadi bagian dari pasukan militer Indonesia, yang kala itu bernama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang melawan tentara Belanda. Meski masuk dalam ketentaraan, struktur tidak banyak berubah. Dalam artian kepemimpinan masih dipegang oleh orang-orang Sulawesi yang sejak awal bergabung dengan KRIS. KRIS justru semakin besar. Bukan hanya orang Sulawesi tapi dari suku lain. Nama KRIS juga mash dipakai sebagai nama brigade. Ketika pemerintahan republik menyingkir ke Jogjakarta, pasukan Rapar juga ikut ke Jogja dan bertemu dengan pasukan KRIS lain. [7]

KRIS menjadi laskar tangguh karena banyak orang tua mantan serdadu KNIL sebelum jepang mendarat, juga masuk KRIS. Dimana orang tua itu akan berbagi ilmu dan pengalaman militernya.[8]

Tersingkir

Belakangan, Rapar tersingkir dalam ketentaraan. Dia kehilangan posisi penting yang biasa dia pegang dalam pasukan KRIS. Dimana kemudian dia keluar dari ketentaraan. Bersama beberapa pengikut setianya, Rapar kembali ke Jakarta yang berstatus sebaga daerah pendudukan Tentara Belanda. Rapar tetap menjadi orang berpengaruh di kalangan bekas pejuang yang pernah bertempur di sekitar Cikampek. Disini Rapar memiliki ratusan pengikut yang siap bertempur bersamanya.[9]

Rapar kemudian terlibat dalam gerakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) Westerling. Rapar nampak begitu kecewa pada tentara republik dalam gerakan Weserling itu, rapar bahakan tergolong begitu bersemangat. Tidak begitu jelas apa lasan Rapar ikut Westerling? Beberapa kawan seperjuangan Rapar semasa revolusi yakin jika Rapar hanya membayangi Westerling alias memata-matai Westerling. Seperti juga alasan frans Nayoan, seorang mantan polisi.

Rapar tewas dalam sebuah serbuan ke sebuah asrama polisi ketika akan merebut senjata dari para polisi itu. Rapar tertembak. Ketika itu pasukan APRA gagal memperoleh senjata untuk gerakannya pada 23 Januari 1950. Rapar lalu mengusulkan untuk merebut senjata dari asrama polisi, Westerling setuju. Rencana gagal dan Rapar bernasih naas dan tewas.[10]

Begitulah akhir nasib dari Jan Rapar. Bekas KNIL sangar yang ditakuti. Rapar yang selalu berlinang air mata ketika mengingat kampung halamannya di Sulawesi Selatan sana yang selalu dia rindukan. Perang Dunia II dan revolusi Indonesia menghalanginya pulang. Begitulah pengakuan Vintje Sumual, kawan seperjuangan Rapar dimasa revolusi.

[1]Lihat Laporan Djawatan Kepolisian Negara Bagian PAM kepada Presiden RI di Yogyakarta, tanggal 21 Februari 1950.No. Polisi 278/A.R./PAM/DKN/50. (Koleksi Arsip Nasional)

[2] [2] Bert Supit & BE Matindas, Ventje Sumual: Menatap Hanya Ke Depan (Biografi Seorang Patriot, Gembong Pemberontak), Jakarta, Bina Insani, 1998, hlm. 40-100.

[3] Ben Anderson, Java in the Time of Revolution, Occupation and Resistence, 1944-1946, ab. Revolusi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 , Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988, hlm. 290-291.

[4] Jozef Warouw, KRIS 45 Berjuang Membela Negara: Sebuah Refleksi Perjuangan Revolusi KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1999, hlm. 37-46.

[5] Ibid., hlm. 51 & 86.

[6] Ibid., hlm. 95-100.

[7] Ibid., hlm. 160-163, 183, 283.

[8] Ibid., hlm. 68, 143 & 154.

[9] Persatuan Djaksa-djaksa Seluaruh Indonesia, Peristiwa Sultan Hamid II,Jakarta, Fasco Jakarta, 1955, hlm. 60-80: Lihat Laporan Djawatan Kepolisian Negara Bagian PAM kepada Presiden RI di Yogyakarta, tanggal 21 Februari 1950.No. Polisi 278/A.R./PAM/DKN/50. (Koleksi Arsip Nasional)

[10] Dominique Venner, Westerling de Eenling, Amsterdam, Uitgeverij Spoor, 1983, hlm. 348-350.


Jumat, Januari 07, 2011

Akhir Andjing NICA


Batalyon KNIL terganas ini andalan bagi NICA di zaman revolusi. Akhir pahit harus mereka alami di Balikpapan. Dimana mereka harus berhenti jadi andjing NICA.



Menjelang kalahnya Jepang, KNIL dibangun kembali. Bekas KNIL, juga tawanan perang, pun direkrut menjadi serdadu KNIL. KNIL sedang membutuhkan personil banyak pasca kalahnya balatentaara jepang. Batalyon Infanteri II, IV dan V adalah pasukan yang terdiri dari bekas tawanan juga. Namun, revolusi Indonesia yang buta dan tak kenal belas kasih kepada orang-orang pro Belanda, juga yang dituduh pro Belanda, harus melahirkan dendam bagi sebagian orang. Inilah yang terjadi di masa bersiap. Dimana banyak orang pro Belanda, maupun yang dianggap pro Belanda, mengalami ketakutan luar biasa dari orang-orang Indonesia yang begituy antipati pada belanda.

Rasa dendam pun lahir dari sekelompok orang yang kemudian rela menjadi serdadu KNIL. Dimana mereka bergabung sebuah Batalyon paling brutal di zaman revolusi Indonesia. Batalyon Infanteri V KNIL. Alias Andjing NICA. Batalyon yang biasa bertempur dengan gaya beringas di front-front pertempuran. Batalyon ini dibentuk di Bandung.[1]



Lahir Untuk Bertempur

Batalyon V terbentuk pada 2 Desember 1945. ketika ‘masa bersiap’ mencekam banyak orang Eropa maupun Ambon dan Menado. Nyawa mereka terancam oleh kacaunya revolusi Indonesia yang diwarnai kebencian kepada hal-hal berbau Belanda, termasuk orang-orang Belanda dan semacamnya. Tidak heran jika banyak orang-orang Belanda dan Ambon pro Belanda menaru dendam atas kebencian orang-orang Indonesia di kemudian hari. Dua bulan, antara September hingga November, setidaknya menjadi masa mengerikan bagi beberapa orang itu.[2]



Terbentuknya batalyon V bisa menjadi solusi mereka. Dengan bersenjata mereka bisa menjaga diri dan terlepas dari rasa takut atas serangan kekacauan revolusi. Masa mencekam itu segera tertutup oleh rasa benci tak terhingga pada orang-orang Indonesia.

Batalyon ini bertempur dengan ganasnya. Banyak bekas pejuang kemerdekaan mengerti betapa menerikannya pasukan ini. Pasukan ini menyebut dirinya sebagai Andjing NICA. Lamban mereka adalah anjing galak berwarna merah. Batalyon ini terlibat dalam beberapa seranga militer Belanda ke Jawa Tengah.[3] Di seragamnya,mereka selal menuliskan kata “Andjing NICA”. Orang-oran kemudian lebih mengenal pasukan ini sebaai Andjing NICA.

Istilah Andjing NICA lebih banyak diketahui orang sebagai julukan atau stigma kepada orang-orang Indonesia pro Belanda. NICA sendiri adalah pemerintahan sipil di Hindia Belanda. Sebuah badan untuk mengambil-alih kembali kekuasaan belanda atas Hindia Belanda sebagai bagian dari republik Indonesia. Orang Indonesia pro Belanda tersebut biasanya, orang-orang pribumi yang menjadi pegawai sipil maupun militer pada pemerintah Hindia Belanda. Secara tidak langsung, orang-orang Ambon maupun Menado yang berdomisili di Jawa dan keluarganya berkaitan erat dengan KNIL maupun pegawai gubernemen kena getahnya pula.

Diera penuh kekacauan itu, keluarga Ambon maupun menado di Jakarta, Bandung dan sekitarnya terancam keselamatannya karena revolusi membunuh orang yang dianggap pro Belanda tanpa pandang bulu.

Padahal tidak sedikit orang Menado maupun Ambon yang berpihak pada Republik dan dimasa sebelum perang terlibat dalam pergerakan nasional. Hanya image belanda itam atau Andjing NICA saja yang ada di kepala orang-orang tentang orang Ambon maupun Menado.

Selain batalyon V,ada juga batalyon X KNIL yang berkedudukan di Senen, tepatnya di bekas daerah yang kini menjadi Hotel Borobudur. Batalyon ini terdapat banyak orang Ambon sebagai serdadu bawahannya. Mereka tidak kalah ganasnya kepada oran-oran Indonesia pro republik.

Dari batalyon X ini, Westerling memperoleh banyak pasukan untuk dijadikan inti dari Depot Speciale troepen. Mereka terlibat dalam “kampanye pasisfikasi”ala westerling di Sulawesi Selatan. Batalyon X d Senen banyak beranggotakan orang-orang Ambon yang temperamental. Mereka mudah tersulut emosinya. Hingga mereka sering bentrok dengan pemuda-pemuda Indonesia, terutama yag pro republik.[4] Orang-orang biasa menyebut pasukan ini Belanda Hitam. Mereka dianggap lebi belanda daripada orang belanda sendiri.

Beberapa orang Ambon, yang kerap muncul di Senen, bernama Wimpie, Albert, Mingus Gerardus dan Polang, konon pernah menyuruh orang republic yang mereka temui ntuk menelan lencana merah putih yang dikenakannya.[5]

Nyaris tidak ada gambaran positif dari oran Indonesia tentang Andjing NICA. Menurut orang-orang KRIS, sebagian anggota Batalyon X, ada juga yan mau membantu republic diam-diam.

Andjing NICA bertempur dengan ganasnya. Layaknya marsose dimasa perang aceh. Dimana bertempur adalah dengan penuh kebencian. Bukan bertempur dengan kehormatan. Mereka bertempur untuk Nederlands Indies Civil Administration (NICA)—pemerintah sipil di Hindia Belanda—yang baru dibentuk dan berkuasa atas nama kerajaan Belanda di Indonesia selama revolusi. Sangat layak jika juluki diri mereka, atau orang lain menjuluki mereka, Andjing NICA.







Sebuah Batalyon



Batalyon Andjing NICA, semula beroperasi di Jawa Barat di bawah komando Brigade W. Sejak 2 Desember 1945, Batalyon ini menyusun kekuatan di Bandung. Dimana diadakan pendidikan dan perekrutan oleh mantan Kapten KNIL JC Pasqua—yang semula jua bekas tawanan Jepang. Batalyon ini dibentuk di gedung bekas Koninklijk Militaire Academie (KMA) Bandung.

23 Desember 1945 hingga 18 januari 1946 kekuatannya terus dibangun di sekitar Bandung dan Cimahi. Lalu Juni 1946, batalyon tersusun dalam 4 kompi. Dimana mereka memakai warna dasi yang berbeda. Kompi Eropa dengan dasi hijau, Kompi Ambon dengan dasi merah, Kompi Timor dengan warna hitam. Dan kompi campuran denan warna biru.

Batalyon V Infanteri memilih julukan itu tetapi gelar kehormatan yang disajikan dalam lambang lengan dirancang oleh E.C.E. Amade.[6] Lambang Anjing menyala pun dipakai.



Andjing NICA yang Lain

Istilah Andjing NICA juga dipakai untuk menyebut` orang-orang pro Belanda di kalangan sipil. Siapa pun yang dekat dengan orang Belanda, meski tidak terkesan politis dan sekedar bersahabat, juga bisa kena cap Andjing NICA. Revolusi Indonesia meman buta dan orang tak bersalah pun bisa kena getah.

Kebencian antar manusia, terutama pada yang berbeda kulit, begitu besar di Indonesia. Seperti yang tulis dalam Menjadi Tjamboek Berdoeri: memoir Kwee Thiam Tjing, digambarkan:



Di Malang, masih terdapat banjak pendoedoek golongan Belanda(kebanjakan golongan Indo) maka tentoe sadja saling bentji membentji dan mentjoerigai ada hal² jang bisa dimengerti. Satoe waktoe terdapat aroes apa jang dinamakan “andjing NICA”. Dengen Nica dimaksoedken kekoeatan militer Belanda jang datang poela dengen membontjeng dibelakang sekoetoe. Baik di stasion kereta-api, di pasar, di kendaraan oemoem, dimana sadja, kalaoe badan lagi apes dan kita ditjoerigai sebage “andjing Nica” (mata² Belanda), nasib kita aken djelek sekali. Soedah bagoes kalaoe tjoeman dihadjar dan digeboekin sadja. Dan ini tjap “andjing Nica” tida pandang boeloe, tjoema oedji nasib. Mala orang² Indonesia asli tida djarang jang ditjap sebage mata² Belanda, hal mana saja sendiri saksikan kebenarannja, kalaoe ditilik dari matjamnja orang² jang lagi alamken nasib djelek begitoe.[7]



Begitulah revolusi Indonesia. Sementara yang dicap Andjing NICA terus kena sial, Batalyon Andjing NICA terus brutal melawan tentara republic dan laskarnya. Andjing NICA pernah diterjunkan ke Jawa Tengah. Tentu saja berhadapan dengan TNI yang berkonsentrasi di pedalaman Jawa. Kebrutalan itu membuat mereka kesohor dimasa revolusi.





Balikpapan: Akhir Sejarah Andjing NICA

Balikpapan adalah kota penting dengan instalasi minyak. Tidak heran jika KNIL ditempatkan di Balikpapan. Kehadiran Andjing NICA juga cukup penting di kota itu. Setidaknya hanya menjaga kota dan instalasinya. Perlawanan bersenjata di Kalimantan timur tidak separah di Jawa. Andjing NICA tidak terlalu banyak musuh berat di Balikpapan. Perlawanan bersenjata dari pihak RI lebih banyak terjadi diluar kota balikapapan. Pemerintah NICA tentunya telah memperkuat militernya di kota balikapapan. Hingga angguan keamanan cukup minim. Dalam sebuah tulisan Bambang Sadaryanto Santoso di multiply.com:





Meskipun di Balikpapan masih ada sebahagian pasukan dari Yon Anjing NICA yang merupakan seteru lama (yang mundur dari Jawa Tengah) dan KMK hanya membawahi empat orang TNI saja, tampaknya tantangan itu dapat dilewati.

Dari buku Anjing NICA terbaca bahwa Yon V (Anjing NICA) / KNIL tsb. diangkut mundur dengan kapal laut, diantaranya adalah kapal Waibalong, pada bulan Desember 1949 dari Semarang dalam suasana hati depresi. Letkol Van Santen yg telah menjadi komandan Batalyon selama 4 tahun baru diganti dengan Letkol Van Loon. Pada pagi hari sebelum Waibalong bongkar sauh, Van Loon cedera akibat kecelakaan (jip nya menabrak pohon) sehingga pimpinan batalyon diserahkan kepada perwira paling senior, yaitu Kapten Schlosmacher. Sementara loading barang2 ke kapal cukup rumit sehingga banyak yang rusak. Setelah mendarat di Kalimantan, staf dan kompi staf nya ditempatkan di Balikpapan

. Kompi-kompi lainnya ditempatkan di Samarinda, Samboja dan Sepinggan.

Letnan Toorop yg saat itu menjabat Komandan Kompi dari Yon XIV / KNIL dan sudah beberapa lama bertugas di Balikpapan menulis: Karena jumlah perwira sangat minim, terjadilah situasi-situasi aneh. Saya Komandan Kompi 3 / Yon XIV, tetapi hrs merangkap komandan kompi staf / Yon XIV. Betul2 gila (helemal te gek) ketika saya hrs juga mengurus kompi staf / Yon V (Anjing NICA) yg baru mendarat.[8]









Ketika Batalyon Andjing NICA ditempatkan di Balikpapan, sebagian besar serdadu KNIL sebenarnya dalam kondisi terpuruk. KNIL yang dalam proses pembubaran. Seorang perwira KNIL di Balikpapan merasa mengalami situasi yang unik. Dimana dirinya harus sekaligus memimpin tiga kompi dari dua batalyon berbeda.

Semua anggota KNIL yg berminat beralih ke APRIS ditempatkan di Batalyon XIV. Sisanya ditempatkan di batalyon V yg kemudian akan dibubarkan. Si perwira ini, secara resmi pada tanggal 16 Mei 1950 juga dipindah dari Batalyon XIV ke Batalyon V. Namun dia tetap di batalyon sebelumnya juga sampai hari pembubarannya.

Aksi APRA (Westerling) di Bandung dan Jakarta. Juga Peristiwa Andi Azis di Makasar juga mempengaruhi anggota KNIL di Balikpapan. Nyaris saja aksi seperti itu terjadi di Balikpapan. Hal ini mungkin saja terjadi di kalangan KNIL yang sebagian besar temperamental. Schlosmacher menulis:



“Pemberontakan telah dilakukan di Balikpapan oleh anggota KNIL terutama yang asal Ambon, yg antara lain kecewa karena tdk diperbolehkan kembali ke Ambon. Mereka mengancam untuk membakar kilang minyak BPM. Mereka menduduki tangsi, menguasai gudang senjata dan amunisi serta menyekap beberapa perwira dan tidak mengijinkan seorang pun masuk tangsi. Untunglah situasi ini diselamatkan oleh Jenderal Scheffelaar, yang pernah jadi komandan Anjing NICA. Ia memerintahkan agar kapal Waterman - yg berisi ex KNIL (kebanyakan asal Ambon) yg baru dikalahkan APRIS di Makasar - singgah di Balikpapan. Lalu pimpinan pemberontak KNIL di Balikpapan yg asal Ambon dibiarkan berbicara dgn konco (teman2) nya di kapal. Pendekatan ini berhasil. Pemberontakan di Balikpapan diakhiri dan pemberontak setuju menyerahkan senjatanya bila mendapat 'perlindungan KL'. Hal ini berlangsung dan orang-orang asal Ambon yg tidak mau beralih ke APRIS itu diberangkatkan dengan kapal ke Jakarta dan kemudian ke Negeri Belanda.”[9]



KOndisi di Balikpapan mungkin berbeda dengan KNIL di Bandung,Jakarta, Malang, maupun di makassar. Dimana bekas KNIL itu harus menentukan pilihan yang keduanya tidak menyenangkan. Mereka terkalahkan secara politis. Diplomasi Belanda harus kalah dengan diplomasi Republik, walau secara militer, Belanda lebih unggul. Sebagian KNIL diberi pilihan juga untuk bergabung dengan tentara Republik. Soal ini Toorop juga menulis:



“Serah terima resmi dari pasukan KNIL (yang mau beralih ke APRIS) dilakukan melalui suatu upacara militer. Mayor Wiluyo (Puspoyudo), otoritas militer APRIS tertinggi setempat, menerima pasukan itu. Sisa pasukan KNIL (yg tidak mau beralih ke APRIS) secara resmi dibubarkan melalui surat Ratu Belanda tanggal 20 Juli 1950. Kelak Balikpapan (dan Dewan Kalimantan Timur) ikut mendukung peleburan RIS menjadi RI (NKRI) pada tanggal. 17 Agustus 1950.”[10]



Bubarnya KNIL, berarti bubarnya Andjing NICA. Riwayat mereka tamat bersama riwayat NICA selaku pemegang kuasa atas daerah pendudukan Belanda di Indonesia semasa revolusi.

Djokja, 19 Desember 1948


“Good Luck,” ucap Spoor si legercommant KNIL yang membawahi tentara Belanda dan tentara Hindia belanda di Indonesia. Spoor menucapkannya pasukan payungnya. Ujung tombak serangan ke jantung Republik musuhnya itu. Dua puluh menit kemudian, pasukan-pasukan itu duduk dalam pesawat untuk berangkat ke Yogyakarta.



Spoor tampaknya optimis akan serangannya kali ini. Setelah tertunda operasi impiannya itu terlaksana juga. Tidak tanggung-tanggung, Spoor mengerahkan pasukan baret merah (penerjun) dan baret hijau (komando) yang pernah dipimpin Westerling. Kedua pasukan itu cukup terlatih.



Pasukan payung terjun dari udara. Mereka berangkat dari Andir. Sementara itu pasukan baret hijau berangkat dari Semarang. Naik pesawat juga namun mereka mendarat bersama pesawat. Berbeda dengan pasukan payung sebagai pasukan pendahulu yang membersihkan area pendaratan.



Sementara itu pasukan pendukung lain, seperti pasukan brigade T pimpinan Kolonel van Langen akan memasuki Jogja setelah pasukan merah dan hijau memasuki kota Jogja. . Operasi bersandi "Gagak," alias Kraai Operatie itu pun sukses.



Jantung Republik



Mengapa Jogja? Kota ini begitu penting karena disinilah pusat pemerintahan Republik yang telah menyingkir dari Jakarta yang kacau oleh kebrutalan tentara Belanda. Salah satu sumber kerusuhan itu adalah Batalyon X KNIL, yang markasnya kini menjadi Hotel Borobudur. Batalyon ini cukup sering adu fisik dengan orang-oran pro Republikdi Senen.



Mengapa Jogja? Kota ini relatif tenang. Selama Gunung Merapi tidak sedang erupsi tentunya. Selain itu, Bangunan fisik untuk perkantoran di Jogja bisa diandalkan untuk menjalankan roda pemerintahan. Malioboro terdapat gedung yang bisa dijadikan perpustakaan umum. Dan ada bekas benteng Vredeberg dan istana bekas gubernur Jawa Bagian Selatan yang kini disebut Istana gedung Agung itu. Sultan Jogja, Hamengkubuwono IX, yang berkuasa atas Jogja juga dengan rela menerima Jogja sebagai Ibukota.



Menjadikan Joja sebagai ibukota tentu hal yang tepat bagi kaum Republik. Hingga sebagai ujud terimakasih pada Jogja, selama puluhan tahun Jogja menjadi daerah istimewa. Dimana Sultan Hamengkubuwono dan Sri Paku Alam yang memerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Rakyat Jogja pada umumnya menerima dua bangsawan itu sebagai pemimpin. Dan ketenangan pun tercipta.



Jakarta, selaku pusat Republik selama puluhan tahun menerima kondisi Yogyakarta. Meski terkesan feodal, Keistimewaan Jogja itu seolah menjadi identitas daerah Jogja pada umumnya. Dimana sisa kejayaan Mataram masih tersisa. Di kota yang katanya feodal inilah, banyak orang dari luar Jogja yang sedah sekolah atau kuliah belajar apa itu demokrasi. Termasuk saya sendiri.







“Good Luck”



Republik Indonesia memang beruntung punya Jogja. Yang membantu Republik berdiri tegak dari kehebatan militer Belanda. Beruntung sekali bisa ke Jogja. Apalagi menguasainya. Hingga untuk merebutnya, Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor pun harus berucap “Good Luck” (semoga beruntung) pada pasukannya yang akan terjun ke Jogja. Spoor nampak berdoa dalam ucapannya itu.



Singkat kata, penerjunan pasukan pun sukses. Tidak sampai sehari kota Jogja dikuasai pasukan Spoor. Tentara Belanda memang beruntung. Dengan susah payah Joja sebagai jantung republik Indonesia akhir mereka kuasai.



Dari foto-foto yang saya lihat, tentara Belanda, baik KNIL maupun KL, tampak gembira memasuki Jogja—walau mereka juga takut kena peluru nyasar tentara republik yang kapan saja akan menyerbu mereka di Jogja.

“Good Luck,”



“Good Luck,” tentara Belanda, atau bandit-bandit VOC kata Romo Mangun dalam novel Burung Burung Manyar-nya, sangat beruntung. Doa Spoor terkabul lewat kerja keras pasukannya yang hebat itu. Jogja mereka kuasai. Namun mereka tidak berani macam-macam pada Sultan Jogja. Sungguh musuh yang beradab.



Beruntunglah tentara Belanda itu. Namun Republik lebih beruntung lagi karena Jogja kemudian kembali ke tangan Republik pasca Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Atas dedikasinya Jogja lalu menjadi daerah istimewa selama pemerintahan beberapa Presiden. Bahkan Presiden suharto yang paling dikator pun tidak berani mengusiknya.



Dan sungguh tidak tahu diuntung, orang yang mencabut keistimewaan Jogja! Apalagi dengan menjual nama demokrasi. Bagaimanapun, demokrasi bukan sekedar memilih dan dipilih, atau juga ditetapkan. Demokrasi itu juga menghargai! Yang pasti juga, demokrasi tidak menjual nama demokrasi juga.



Beginilah Jogja! Tidak megistimewakannya mungkin sebuah pengkhianatan dalam perjuangan republik ini. Meski terkesan feodal, banyak orang belajar demokrasi disini.

Mbah Sireng van Bagelen


110 tahun silam. Pergantian abad modern, XIX menuju XX. Kata cerita yang kudengar dari Adik dari Eyang kakung, membuatku menyimpulkan Eyang buyut sudah jadi serdadu kompeni kala itu. Perang Aceh juga sedang berkobar kala itu. Para serdadu kompeni, yang kelak disebut KNIL, dengan dibantu Marsose yang jago berantem itu.



Eyang buyut, kami menyebutnya Mbah Sireng, berasal dari bukit-bukit kecil di Bagelen yang tidak subur. Tanah yang tidak subur itu pula alasan banyak orang Bagelen jadi serdadu. Dari jaman kompeni sampe jaman Presiden NKRI berkuasa. Biasanya jadi serdadu rendahan. Serdadu rendahan tak tahu sekolah. Kalau mereka bisa baca tulis, di kompeni mereka bisa jadi kopral. Tidak jadi spandrig. Kata adik Eyang kakung, mbah buyut bisa baca tulis karena belajar di tangsi.



Orang Bagelen memang cocok jadi serdadu. Mereka bisa juga berkelahi. Konon, kampung-kampung di Bagelen didirikan pengikut Diponegoro yang dikalahkan dengan licik oleh Jenderal Mayor de Kock di Magelang (1830). Bisa dibilang umur sebagian kampung di Bagelen paling tua belum lebih dari 180 tahun. Makanya mereka juga punya darah petarung. Meski tidak sesangar orang KNIL dari luar Bagelen seperti dari Ambon. Menado, Minahasa, timor dan lainnya.



Kata sejarawan sableng, Ambon adalah KNIL paling setia. Mungkin seperti ituy, tapi harus dicatet, orang Jawa adalah penyumbang terbanyak serdadu KNIL. Tahun 1916, terdapat 17.854 orang Jawa; 1.792 orang Sunda; 151 orang Madura; 36 orang Bugis; 1.066 orang Melayu; 3.519 orang Ambon; 5.925 orang Menado dan 59 orang Alfuru dalam formasi KNIL. Banyak orang Jawa kan? Eyang buyut bagian dari serdaduy KNIL Jawa. Dia dari Bagelen.



Kata Adik Eyang Kakung lagi, Mbah Sireng pernah dikirim ke beberapa daerah di Nusantara. Ke Nias, Aceh dan daerah lainnya. Aku hanya bisa bayangkan kalau Mbah Sireng adalah bagian dari Serdadu Jawa yang tidak pakai sepatu kalo berjalan kaki dan bertempur. Orang Jawa paling sial di KNIL. Sepatu tidak pakai, gaji paling kecil.



Ada yang bilang Orang Jawa tidak loyal. Tapi tidak demikian kata menantu Van Heutz, si Jenderal Perang Aceh.Menantuy Van Heutz ituy menulis:



“Prajurit Jawa tidak rendah kualitasnyua, tetapi direndahkan oleh kita sendiri, orang-orang Belanda. Apakah kita tidak belajar dari sejarah perang Jawa, dimana orang-orang Jawa dapat berperang dengan gagah berani serta nekad, meskipun melawan kita, orang orang Belanda, yang jumlahnya lebih banyak. Karena ia tahu berperang untuk tujuan mulia. Kita tidak boleh melupakan orang Jawa setelah orang Aceh adalah lawan kita paling tangguh dan berani.”



Sejak itu Serdadu KNIL Jawa Bersepatu. Dan Mbah Sireng pun jadi Serdadu KNIL bersepatu. Pangkat terakhir Mbah Sireng adalah Spandrig. Dia rajin dimutasi petinggi KNIL ke beberapa daerah di Indonesia. Dia lalu dapet pensiun dari pemerintah kolonial. Kata Adik Eyang, uang pensiun spandrig KNIL Jawa cukup untuk hidup. Dengan uang itu anak Mbah Sireng, kakek dan saudaranya, bisa belajar baca tulis tanpa perlu jadi serdadu. Anak Mbah Sireng terbiasa dengan dunia serdadu. Anak tertuanya, seorang wanita, kawin dengan serdadu KNIL yang kemudian masuk TNI di zaman revolusi. Ketiga anak lelakinya, tidak ada yang jadi KNIL. Anak lekaki tertua, Eyang buyutku pernah jadi tentara Republik di zaman revolusi. Dia pernah jadi tawanan tentara Belanda. Hebatnya dia sukses kabur waktu mandi di sebuah kali. Entah di kali mana? Arah larinya ke kampung halannya di bagelen.



Di kampung eyang Buyut menikahi seorang gadis kampung juga, yang kelak jadi Eyang putriku. Waktu Tentara Belanda pergi, Eyang kakung dapet panggilan jadi serdadu lagi. tapi panggilan itu tidak dipenuhi. Dia pilih hidup tidak jadi serdadu seperti ayahnya, Mbah Sireng. Dia pilih kerja di Pertamina jadi terrain bewaging alias petugas keamanan di kilang minyak Balikpapan. Kata Eyang Putri, Eyang kakung jago nyanyi krongcong. Anak Lelaki kedua, dia pensiunan Pembantu Letnan TNI, istilah jaman Belandanya Adjudant. Dia dinas di kesehatan tentara KODAM Siliwangi. Di zaman revolusi, usianya baru belasan tahun. Dia suydah ikut jadi tentara republik.semasa revolusi ini Mbah Sireng wafat. Dia pergi dengan damai. Dan disemayamkan di sebuah bukit.Anak laki-laki terakhir tidak jadi serdadu. Namun menikahi anak serdadu juga. Putri seoran TNI danhidup tenang di Jogja. Dialah adik bungsu eyang kakung yang bercerita banyak pada saya soal Eyang Buyut yang serdadu KNIL, tentang Bagelen, tentang Bagus Kendo dan lainnya. Kami memanggilnya Mbah Sihir.



Imajinasiku selalu membayangkan, bedil Mbah Sireng menembaki para pemberontak yang ingin merdeka. Aku tidak menganggapnya jahat, meski tidak juga membenarkannya. Karena itu tugasnya sebagai serdadu kompeni. Itu pilihan hidupnya.



Jika dia datang ke suatu daerah dengan bedilnya danpanji-panji negara di zamannya. Aku hanya perlu membawa buku. Entah ke Nias, Aceh, Sulawesi, atau ke tempat lainnya. Aku harus bawa buku saja. Ya kami, Mbah Sireng dan aku, hidup di zaman berbeda. Juga dengan pilihan dan jalan berbeda pula. Diam-diam aku bangga padanya sebagai orang yang berpindah-pindah tempat. Rasanya, darah backpacker dalam diriku datang darinya.



Sesekali aku selalu berceloteh, "aku anak KNIL" dan kenalanku tertawa. Dia adalah serdadu KNIL tulen berpangkat spandrig. Sebagai cicitnya, saya hanya pemerhati sejarah militer yang sering bicara dan menulis tentang KNIL. Beberapa orang bilang saya adalah sejarawan KNIL. KNIL menjadi penghubung saya dengan Eyang buyut saya.





Tulisan ini hanya sejarah kecil tentang orang kecil, dalam hal ini Eyang buyut saya. Kita punya sejarah keluarga kita sendiri. Dan tidak jarang itu menarik bagi kita sendiri. Saya yakin semua orang yang ingin menulis sejarah keluarganya, bisa melakukannya. Menulis sejarah kita sendiri.

Bekas Vaandrig Itu

Mereka bekas serdadu kolonial berpengalaman. Namun revolusi memecah mereka. Dan revolusi juga buat mereka kecewa.



KNIL punya banyak vaandrig, alias perwira muda rendahan. Banyak diantaranya melampaui pangkat diatasnya. Banyak yang bilang, keberadaan perwira pribumi dalam KNIL adalah keterpaksaan. Karena butuh banyak perwira lapangan. Pangkat tertinggi perwira pribumi yang bertugas di pasukan umumnya mayor. Namun ada juga yang menjadi Letnan Kolonel namun di kesehatan.[1]

Bekas perwira KNIL pribumi, berdasarkan berita radio tanggal 9 Maret 1942 KNIL telah dibubarkan dan seluruh prajurit KNIL tidak lagi terikat dengan sumpah setia Ratu Belanda

Perwira macam ini pastinya mengalami masa pahit pendudukan Jepang yang membuat mereka dendam. Bagaimana tidak, pendudukan Jepang memberi perlakuan khusus kepada bekas perwira KNIL yang tentu saja tidak diberi kesempatan untuk berkarir sebagai perwira militer dalam PETA—karena paham profesionalisme KNIL sebagai militer dengan pengaruh barat. Dimasa pendudukan Jepang Suriosentoso juga diawasi Jepang meskipun kerap berhubungan dengan kelompok bawah tanah Syahrir.[2]

Pasca Proklamasi Sukarno Hatta, sebagian bekas perwira KNIL itu mendukung gerakan kemerdekaan republik Indonesia. Mereka berdiri dibelakangnya dan siap melaksanakan apa yang dimintah pemerintah baru, Republik Indonesia.

Didi Kartasasmita, salah satuy dari bekas perwira KNIL itu, ikut menentukan keberpihakan bekas perwira KNIL pada republik baru. Dikalangan bekas perwira KNIL sendiri paling dominan dalam TNI adalah KNIL angkatan-angkatan terakhir macam Nasution setelah kelompok perwira tua tersingkir satu persatu dari tentara baru itu. Didi adalah lulusan KMA Breda tahun 1938 dan menjadi perwira KNIL sampai PD II meletus dan akhirnya diinternir Jepang.

Sebagai dukungannya pada Republik, Didi mencari para bekas KNIL yang tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk mengumpulkan tanda tangan untuk mendukung pernyataan yang dibuatnya bersama Soedibyo dan Samidjo.[3]

Di lain tempat, ada beberapa eks perwira KNIL yang ikut KNIL lagi. Ketika KNIL dibangun kembali beberapa mantan perwira KNIL seperti Mayor Surio Sentoso, Kapten Kavaleri Suryobroto, Mayor Sugondo, Letnan Satu Hamid Algadrie bergabung kembali dengan KNIL. Beberapa mantan KNIL bahkan sudah diculik untuk berabung kembali dalam KNIL.[4]

Terdapat juga nama Poerbo Soemitro (kelahiran tahun 1915). Dia menjadi Letnan II sejak 1939, pastinya mengalami ikut berperang melawan Jepang sebelum kapitulasi Kalijati.[5] Diawal kemerdekaan, Poerbo Soemtro yang ditemui Didi Kartasasmita ketika memgumpulkan petisi bekas perwira KNIL untuk mendukung kemerdekaan RI, mendukung isi petisi itu. Belakangan, Poerbo Soemitro justru menyeberang kepada tentara Belanda. Bersama istrinya Poerbo Soemitro mengikuti tentara Belanda yang kembali ke Negeri Belanda.[6]

Sultan Hamid Alqadrie II sebagai perwira KNIL yang mengalami masa interniran setelah kalah dalam pertempuran di Balikpapan, juga pembunuhan Tentara Jepang terhadap ayahnya yang Sultan Pontianak dan anggota keluarganya yang lain, setidaknya membuat Hamid membenci kekejaman fasisme Jepang.[7]

Pemerintahan RI yang baru dengan formasi Sukarno dan Hatta, yang terlanjur dicap sebagai kolaborator fasisme Jepang bahkan juga penjahat perang dimata sekutu, tentu saja tidak menarik simpati sama sekali dari Hamid. Sukarno dan Hatta yang identik dengan Jepang dan cukup mengundang antipati dari sekutu, dimata Hamid bukanlah sosok yang layak dihormati sebagai pemimpin negara baru. Inilah mengapa kemudian Sultan Hamid II terlibat dengan Belanda dalam BFO yang berusaha memperlemah posisi RI.[8]

Hamid adalah lulusan KMA Breda juga.[9] Dia cukup lama jadi Letnan KNIL. Dan pernah alami sebuah diskriminasi rasial juga. SROI yang didirikan atas prakarsa Sultan Hamid II itu untuk mencetak perwira tentara federal BFO itu.[10] Dari latar belakang Hamid dapat diramalkan bagaimana arah sekolah perwira itu. Model perwira itu bisa saja sama dengan para lulusan KMA Breda. Tentara BFO itu juga tidak jauh dari model militer KNIL.

Kolonel Sugondo juga mantan KNIL yang kecewa dengan keadaan. Menurut Hamid beberapa perwira yang kemudian gabung dengan APRIS mengeluh. Menurut Hamid “Perwira-perwira itu, di Kementrian Pertahanan hanya doiberi meja saja dengan tidak diberi komando” oleh petingg APRIS.[11]

Kolonel Soegondo sebenarnya sudah dinyatakan pensiun tahun 1939.[12] bekas perwira KNIL pribumi yang berpihak pada Belanda selama revolusi kemerdekaan umumnya telah berpangkat perwira menangah, sudah mayor, sebelum PD II berlangsung.

Satu persatu mantan Perwira KNIL seperti Urip Sumoharjo menghilang daari markas Besar TKR dan Didi Kartasasmita lalu mengundurkan diri dan hidup di Pariangan karena merasa tidak lagi diterima dalam Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat. Usia tua membuat Oerip harus mundur dari pertarungan antar kepentingan dalam Markas Besar TKR. Perannya untuk TKR dianggapnya sudah cukup dalam pendirian Markas Besar TKR di Jogjakarta. Organisasi Tentara pun sudah dia rancang. Sebagai sosok yang tidak ambisius, dirinya merasa lebih baik mundur dan jalani hari tuanya dengan tenang.

Markas Besar TKR hanya menyisakan beberapa mantan perwira KNIL yang lebih muda. Suryadarma dan Didi Kartasasmita lalu digolongkan sebagai orang tua setelah kepergian Urip dari dinas militer. Perwira lain adalah perwira mantan KNIL muda seperti Nasution dan Simatupang. Meski muda, mereka cukup brilyan dalam TKR, meski juga tidak disenangi. Nasution adalah satu-satunya mantan perwira KNIL yang bisa mencapai jabatan tertinggi dalam Ketentaraan, sebagai KSAD lalu menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Perang dalam kurun waktu yang cukup lama dan berliku karena ditentang banyak perwira mantan PETA.[13]

Didi, mengaku berberat hati, menulis surat pengunduran dirinya pada Presiden tanggal 20 april 1947. Surat itu tidaklah berbalas dengan pengabulan dari pemerintah. Didi tetap saja diberi posisi tidak strategis di ketentaraan selama setahun lebih. Akhirnya, pada 31 Juni 1948, Didi resmi tidak berhubungan dengan tentara republic yang pernah dia bangun. Pasca pengunduran dirinya Didi kembali ke Jawa barat. Dalam perjalanan, Didi dibawa tentara Belanda yang menangkapnya ke Purwokerto. Dari Purwokerto Didi dibawa ke Semarang. Dan terbang dari lapangan udara Jatingaleh ke Jakarta. Didi kemudian menetap di Bandung. Dimana Didi dibujuk untuk jadi komandan Veilligheids Bataljon Negara Pasundan. Namun Didi lebih memilih bekerja di dinas kesehatan Negara Pasundan saja.[14]

Disbanding, Sultan Hamid II, Soeriasentoso dan lainnya, Didi jauh dari klaim pengkhianat Indonesia. Meski kecewa setidaknya Didi pernah membangun tentara republik di awal kemerdekaan. Mengapa Didi masuk ke daerah pendudukan Belanda? Mungkin adalah salah satu bentuk kekecewaannya pada tentara republik yang pernah dibangunnya bersama Urip Sumoharjo.

Rupanya tidak hanya Didi saja yang keluar, mantan perwira KNIL lain yang keluar dari tentara republik adalah Kolonel Samidjo dan Jenderal Mayor Soedibyo.[15] Mereka tampaknya juga kecewa.

Mereka semua, mulai dari Hamid, Soegondo, hingga Didi adalah orang potensial yang kecewa pada keadaan. Ada yang kecewa dengan Negara baru yang dipimpin kolaborator Jepang, Sukarno-Hatta. Ada yang kecewa dengan sekelompok perwira bekas didikan Jepang yang dominan di ketentaraan. Dan lainnya. Hingga mereka mau bekerja sama dengan musuh. Hal yang manusiawi.





[1] Harsya Bachtiar, Siapa Dia?Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm. 4-5.



[2] George McTurnan Kahin, Nationalism and Revolution In Indonesian, ab. Nin Bakdi Soemanto, Refleksi Pergumulan Lahirnya Republik: Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, tanpa kota, UNS Press & Pustaka Sinar Harapan, 1995, hlm. 432-434.



[3] Rosihan Anwar, Sejarah Kecil “La Petit Histoire” Indonesia, Jakarta: Kompas, 2004, hlm. 251-253.



[4] Abdul Haris Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid II, Bandung, Angkasa dan Disjarahad, 1977, hlm. 215.



[5] Harsya Bachtiar, Siapa Dia?Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm. 4.



[6] Didi Kartasasmita bertemu kembali dengan Poerbosoemitro pada perayaan 150 tahun berdirinya KMA Breda tahun 1978 di Negeri Belanda. Poerbo Soemitro, seperti pengakuan Didi, pernah menjadi perwira KL di Suriname dan mencapai pangkat yang cukup tinggi dalam KL. (Tatang Sumarsono, Didi Kartasasmita: Pengabdian Untuk Republik, Jakarta, Pustaka Jaya, 1995, hlm. 114.)



[7] Sultan Hamid II sendiri beristrikan wanita Belanda. Dikalangan orang-orang Eropa, Sultan Hamid biasa dipanggil, dengan nama Eropa, Max.



[8] Hamid melihat peluang berdirinya sebuah pemerintahan lain non RI diluar Jawa melalui BFO-nya. Pandangan buruk dari orang-orang pro republik kapada Hamid semakin kentara sekali ketika terjadi Kudeta 23 Januari yang digerakan Westerling. Disini Hamid, seperti banyak dituduhkan dan diakuinya sendiri, jelas terlibat bahkan menjadi otak atas peristiwa yang rencananya akan membunuh beberapa pejabat dan melukai Hamid sendiri.



[9] Buku Kenang-Kenangan Alumni KMA Breda. Yayasan Wira Bakti. Tanpa kota dan tahun. Hlm. 82



[10]Ibid.



[11] Persatuan Djaksa-djaksa Seluruh Indonesia, Peristiwa Sultan Hamid II, Jakarta, Fasco Jakarta, 1955, hlm. 156.



[12] Harsya bachtiar, Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD, Jakarta, Djambatan, 1988, hlm. 5.



[13] Ulf Sundhaussen, Road to Power: Indonesian Army, ab. Hasan Basary, Politik Militer Indonesia 1945-1967, Jakarta, LP3ES, 1982., hlm. 70.



[14] Tatang Sumarsono, Didi kartasasmita: Pengabdian bagi Kemerdekaan, Jakarta, Dunia Pustaka Jaya, 1993, hlm. 210, 238-256



[15] Ibid., hlm. 223.

Senin, Desember 13, 2010

Pasifikasi ala Westerling di Zuid Celebes

Pasifikasi ala Westerling di Zuid Celebes


Sebagian pasukan DST dalam Kampanye Pasifikasi Westerling Di Sulawesi Selatan. Mereka menerapkan Pengadilan lapangan atas rakyat sipil yang dituduh pro geriluawan kemerdekaan.
Zaman permulaan revolusi Indonesia di Sulawesi Selatan tidak kalah panasnya. Perlawanan gerilya pro republik di Sulawesi Selatan membuat perwira tertinggi KNIL disana frustasi dan menghubungi Spoor. Harus ada solusi atas perlawnan gerilya yang sengit dan membuat Sulawesi Selatan menjadi daerah, yang bagi Belanda, paling tidak aman di luar Jawa.
Spoor akhirnya memerintahkan pasukan Westerling untuk turun tangan. Pasukan Westerling itu belum lama dibentuk. Mereka melakukan berbabgai latihan militer khusus. Sepertinya penerjunan pasukan Westerling ke Sulawesi Selatan itu seolah menjadi ujicoba pasukan Komando baru itu. Ini tentu hal baru, sebab metode pelatihan yang digunakan Westerling adalah yang didapatnya di Inggris—metode bertempur Komando yang dirancang untuk wilayah Eropa.
Mereka berangkat 5 Desember 1946. Dan Aksi mereka mulai sejak 11 Desember 1946. Aksi mereka baru berakhir 3 bulan kemudian. Dengan menumpahkan banyak darah orang yang belum tentu bersalah juga.
Pasukan yang mengikuti tugas Westerling di Sulawesi Selatan itu terdiri dari 123 prajurit komando—yang sudah dilatih Westerling. Seabian besar kompi Westerling itu adalah orang-orang Ambon yang diambil dari kesatuan KNIL. Mereka juga diambil dari Batalyon X KNIL sebelum PD II yang memang militan.
Mungkin ada perbedaan medan Eropa dengan medan tropis Indoensia. Ini tantangan sendiri bagi Westerling—dimana dia harus menyesuaikan metode yang didapatnya di inggris dengan mengadaptasikannya dengan medan tropis Indonesia. Selalu ada kesamaan dalam dunia pasukan komando antara satu dan yang lain. Mereka selalu dilatih untuk meminimalisir penggunaan senjata api dan berusaha beradaptasi untuk bertempur disegala medan. Hanya saja, sebuah pasukan komando selalu dilatih dengan menyesuaikan diri disegala medan dan keadaan yang tidak selalu nyaman. Pasukan yang diberi pelatihan ini pernah diturunkan dalam kampanye Pasifikasi Belanda Di Sulawesi Selatan, dimana Westerling menjadi komandan pasukan dan operasi yang membanatai banyak nyawa orang-orang Sulawesi Selatan itu.
Pasukan Westerling yang ikut dalam kampanye pasifikasi itu adalah pasukan yang sangat loyal kepada Ratu Belanda. Selama di Jakarta, mungkin sebelum direkrut dalam DST, orang-orang itu sering terlibat baku hantam dengan pemuda-pemuda pro republik.Kebencian mereka terhadap hal berbau republik menjadi tersalur dengan kekejaman mereka di Sulawesi Selatan. Dalam mendapatkan informasi tentang gerilyawan, mereka berlaku kejam terhadap rakyat sipil—yang dimata mereka adalah orang republik yang tidak layak dihormati.
Westerling berangkat ke Sulawesi Selatan bersama 120 prajurit komando yang selesai dilatihnya. Sebelum Westerling dalam rombongan besar berangkat, sebuah tim pendahuluan telah dikirim terlebih dahulu. Tim yang terdiri 20 prajurit DST ini dipimpin oleh Letnan Satu Vermeulen. Tim pertama ini melakukan tugas-tugas intelejen untuk melacak keberadaan pimpinan republik di Sulawesi Selatan.
Aksi (pasukan) Westerling ini tidak peduli status sosial dalam menghabisi korban. Seorang bengsawan Bugis pro republik Datu Suppa juga dijadikan korban. Dalam tulisan Ricklefs tercatat sedikitnya 3.000 orang tebunuh karena aksi Westerling dan pasukannya ini.
Selama penugasan di Sulawesi Selatan, Westerling sama sekali tidak berpedoman pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionale Taak van het Legel (VTPL)—pedoman pelaksanaan bagi tentara untuk tugas politik dan polisional—dimana terdapat petunjuk mengenai pelaksanaan tugas intelejen dan bagaimana memperlakukan penduduk dan tahanan. Westerling telah mengulang apa yang dilakukan van Daelaan di Aceh dan Tanah Gayo. Kitab VTPL dianggap kuno oleh Westerling dan hanya taktik komando yang berlaku dalam melakukan Counter Insurgency (menghadapi pemberontak).
Pasukan ini tentu saja melakukan tugasnya seperti mesin perang. Mereka sudah memiliki latar belakang sebagai orang-orang yang akan membela Ratu Belanda untuk menguasai Indonesia kembali. Mereka merasa mereka hanya membunuh para gerilyawan saja dan merasa tidak peduli dengan hukum perang dan kemanusian.
Belum empat bulan aksi Westerling di Sulawesi Selatan, Spoor menarik Westerling dan pasukannya ke Jakarta. Terlepas dari berbagai kecaman orang-orang sipil peduli HAM, dimata petinggi militer, pasukan Westerling itu dinilai sukses di Sulawesi Selatan.
Keberadaan Westerling di daerah Jakarta yang tergolong aman oleh militer Belanda tentu bukan untuk bersantai di tangsi. Bersama para stafnya, Westerling tentu harus melatih terus pasukannya, baik yang lama apalagi y ang baru. Melatih pasukan semacam ini tentunya tidak bisa langsung dalam jumlah besar. mereka dipilih berdasar kemampuan sebagai seorang militer. Dari sekian ratus calon prajurit komando dari berbagai kesatuan militer Belanda, hanya beberapa orang saja yang terpilih. Mereka dilatih dalam sebuah kamp khusus di Jakarta dan Jawa Barat.
Kegilaan Westerling tidak berhenti di Sulawesi Selatan. Westerling selalu berambisi untuk menangkap orang-orang pemerintah RI. Westerling berserta pasukan khususnya pernah melakukan pembunuhan terhadap orang sipil—sekitar 150 orang di Cikalong, selatan Tasikmalaya; 200 orang yang dituduh preman dan melukai 200 lainnya di Karawang. Selain menewaskan 150 orang, pasukan Westerling yang kala itu sudah bernama Korps Speciale Troepen, di Cikalong juga menghancurkan 165 rumah dan membakar 980 ton padi—tujuannya tidak lain untuk memperlemah perlawanan gerilyawan yang ada di sekitar Cikalong. Aksi KST itu terjadi sekitar bulan Mei 1947.
Aksi pasukan Westerling juga menimbulkan protes dari kalngan pemuda wajib militer dan sukarelawan KL. Melalui Mayor KL R.F. Schill, komandan pasukan 1-11 Resimen Infanteri di Tasikmalaya, ulah Westerling dan pasukannya itu dilaporkan kepada Kolonel KL M.H.P.J. Paulissen. Pengaduan Schill itu menyebutkan bahwa tanpa alasan yang jelas, 10 orang penduduk dibantai pasukan DST dan membiarkan 10 mayat itu dibiarkan begitu saja dipinggir jalan. Setelah diusut, disimpulkan bahwa DST telah mengalami kemerosotan moral dan Westerling paling disalahakan dalam hal ini.
Menurut Batara Hutagalung, Jenderal Spoor mengambil langkah aman dengan me-nonaktif-kan Westerling dari pasukan Khusus untuk menghindari penyelidikan lebih lanjut—yang menurut Spoor tidak baik bagi jalannya peperangan Belanda di Indonesia. Akhirnya Westerling dinonaktifkan sejak 16 November 1948 oleh Jenderal Spoor, orang yang paling mengandalkannya untuk merebut ibukota RI. Dalam biografinya, Westerling justru mengaku bahwa dia dinonaktifkan oleh Spoor bukan karena kasus HAM-nya, melainkan karena menolak perintah Spoor untuk memimpin operasi ke Yogyakarta.
Terjadi simpangsiur berapa sebenarnya korban pembantaian alias pasifikasi ala Westerling ini. Ada yang menyebut 40.000 jiwa. Yang mana sebagian orang Sulawesi Selatan sendiri meragukan jumlah ini. Mereka percaya jumlahnya pasti banyak ribuan orang. Sulit menghitungnya. TNI AD yang pernah membuat penyelidikan menyatakan jumlahnya sekitar 1.700 jiwa. Saya hanya bisa perkirakan, meski bukan angka pasti, jumlah korban hanya ribuan, tidak sampai puluhan ribu. Dengan melihat waktu pembantaian dan personil pembantainya yang tidak terlalu banyak. Jadi saya ragu dengan angka 40.000 jiwa.

Tjeritera dari Peng Gepeng

Tersebutlah seorang botjah bernama Tjipto. Tjukup Broken Home didjamannja. Ajahnja djadi kriminil lantaran tjuri duit dari sebuah onderneming (Perkebunan, Belanda). Ibunja pun kawin lagi dengan orang Madura. Tjipto jang awalnja sekolah di Europe Leger School (ELS)--jang elite itu--lalu pindah ke sekolah jang lebih rendah drajatnja. Ajah tiri Tjipto tjukup kedjam djuga padanja. Hingga kelujuran djadi djurus mudjarab biar tidak ketemu dia punja ajah tiri jang galak itu.

Tjipto tinggal di Situbondo kala itu. Kemungkinan tidak djauh dari Kampung Panjie jang luas itu. Situbondo banjak dihuni orang-orang berbahasa Medura. Ja, mereka itu memang orang Medura pastinja. Seperti djuga ajah Tjipto jang tiada tara galaknja itu.

Bukan botjah djika tidak suka kelajapan. Tjipto suka kelajapanan pastinja. Tjipto punja perdjalanan heibat. Suatu hari. djika tidak salah masih diawal abad lalu, abad XX. Sekitar 90 taun silam rasanja. Tjipto berdjalan menudju sebuah bukit. Orang biasa sebut itu Bukit Ulama. Dengan smangat botjah-nja Tjipto susuri djalan jang pastinja tidak semulus djaman kita sekarang. Kemungkinan, Tjipto mulai perjalannja tidak lama sehabis petang.

Langkah botjah seusia Tjipto biasanja ketjil. Dan tidak bisa tjepat sepertinja. Dia berdjalan bersama prempuan-prempuan dewasa. Prempuan-prempuan itu djuga aken menudju itu bukit. Mereka bawa sadjen. Mereka, para prempuan itu tentu akan djiarah kubur. Bersama prempuan-prempuan itu, Tjipto berdjalan slama satu djam. Setelah bersusah pajah, tibalah mereka di sebuah bukit. Itulah jang di sebut orang djaman itu sebagai Bukit Ulama.Tempat dimana orang biasa minta berkah kehidupan.

Setiba disana, Tjipto disidik sama pendjaga makam. Laiknja seorang orang asing mentjurigakan. Pendjaga makam mungkin merasa aneh dengan botjah Tjipto ini. Mengapa kelujuran ke makam jang agak djauh dari kampung itu? Malam-malam pula. Rupanja si pendjaga makam tidak ambil pusing djuga akhirnja. Dan Tjipto pun bebas kelujuran disitu.

Tjipto menjaksikan pemandangan bagus disitu. Dia tidak tjuma liat makam--jang rupanja makam Panji Anom Prangkusumo--jang dianggep makam pendiri kampung Panjie itu. Ketika Tjipto menghadap arah barat daja, Tjipto liat gemerlapnja Situbondo di kala malam.

Soal Panji Anom Prangkusumo, ada jang sebut ini orang adik dari Djoko dari Medura. Kemungkinan besar, Panji Anom dari Medura djuga. Dia pendiri kampung Panjie di Situbondo.Tidak banjak tjatetan tentang Panji Anom. Panji Anom beserta keluarganja memang dimakamkan di makam itu djuga.

Meski bukan perdjalanan pandjang, tapi ini perdjalanan tjukup heibat untuk anak seumur Tjipto. Mungkin kala itu, Tjipto baru berumur 11 taun. Usia dimana dia sudah bisa batja tulis. Diantara orang bumiputra, dia tentu tergolong pintar djuga.Bagi botjah seperti Tjipto pemandangan Situbondo kala itu begitu heibat karena dia belum banjak jelajahi kota lain.

Tjipto kemudian bikin cerita soal perdjalanan hebatnja itu. Dalam sebuah naskah. Ben Anderson mengetahui naskah itu. Dan memang menarik mendengar apalagi membatja ceritera Tjipto itu. Menurut Ben, kisah masa ketjil jang dimasukan dalam sebuah memoar 90 taun silam adalah hal langka di Hindia Belanda. Kemungkinan Tjipto orang Bumiputra jang pertama kali melakukannja.

Beruntung Tjipto pernah bercerita pada kita tentang Bukit Ulama. Saat ini tidak seorang pun di Situbondo jang mengerti ada tempat jang bernama Bukit Ulama. Mereka hanja mengerti Penggepeng. Sebuah bukit dimana masih tersisa sebuah makam kuno. Makam jang sama sekali tidak berbau Islam. Meski dulu itu disebut Bukit Ulama.

Tidak sulit menemukannja. Djika anda di Situbondo, silahkan pergi ke Panjie lalu tanja dimana Penggepeng. Maka orang aken menundjukan sebuah bukit. Dimana berdiri tiang sutet. Nah makam itu disebelah tiang sutet itu. Nama makam itu berbau Madura memang. Penggepeng.