Sabtu, Oktober 23, 2010

Marsose Oh Marsose


“Biar susah satu gunung, kami tetap Marsose…”

Ketiksa saya SMP, saya pernah membaca keganasan pasukan kolonial. Konon cukup tidak beradab dalam menghabisi pemberontak—atau pembebas—pribumi. Saya mulai tertarik mengkajinya di akhir-akhir kuliah saya yang berantakan. Cerita soal Marsose masih menarik buat saya.

Bermula dari Pemerintah Kolonial yang begitu pusing menghadapi para pemberontak Nusantara. Juga Perang Aceh yang makan banyak biaya. Banyaknya korban dikalangan KNIL dalam menghadapi gerilyawan pribumi yang hanya bersenjata parang dan minim senjata api itu, maka pemerintah kolonial mencari cara mengalahkan para pemberonak.

Lalu munculah sebuah gagasan membentuk pasukan khusus yang efektif menghadapi gerilyawan. Pasukan yang beradaptasi dengan gaya perang kaum gerilyawan. Jadilah sebuah pasukan antigerilya. Jangan heran bila dalam Marsose penggunaan senjata api sangatlah minim. Prajurit Marsose lebih sering menggunakan klewang daripada karaben atau senjata api yang mereka bawa.

Sepertihalnya gerilyawan, pasukan Marsose tidak memerlukan logistik yang terlalu banyak seperti pasukan biasa. Marsose selalu hampir memasuki hutan untuk mencari para gerilyawan dan sebisa mungkin menangkap pemimpinnya—perburuan itu dilakukan selama berhari-hari.

Keberhasilan Marsose menjadi kebanggan tersendiri bagi sebagian kalangan termasuk militer Belanda—disamping kesadisannya yang juga dibenci dan membuat ngeri sebagian orang-rang Belanda sendiri. Bagaimanapun juga, pasukan ini memiliki legenda tersendiri di nusantara.

Pasukan ini dibentuk pada tanggal 20 April 1890—digolongkan oleh beberapa kalangan sebagai pasukan komando modern. Menurut Paul van’t Veer, Marsose dibentuk atas prakarsa dari Teuku Muhamad Arif, seorang Jaksa Kepala di Kutaraja, Aceh. Pastinya Teuku Muhamad Arif adalah orang Indonesia yang pro Belanda setelah pendudukan Belanda di Aceh dimulai. Dia memberi nasehat kepada Gubernur Militer Belanda di Aceh, Jenderal van Teijn juga Kepala Staf-nya J.B. van Heutsz, untuk membentuk sebuah unit-unit tempur kecil infanteri yang memiliki mobilitas tinggi. Pasukan ini tentunya pasukan anti gerilya. Pembentukan pasukan ini tidaklah sulit, tahun 1889, Komando Tentara Belanda di Aceh sudah menyusun dua detasemen pengawalan mobil yang memiliki kemampuan antigerilya.[i]

Konsep pasukan itu lalu dimatangkan lagi hingga menjadi pasukan Marsose yang akhirnya membuktikan diri sebagai pasukan elit karena beberapa tugas berat yang sulit dilakukan serdadu KNIL biasa berhasil mereka selesaikan. Bagaimana tidak, pasukan ini adalah pasukan pilihan dari berbagai kesatuan KNIL baik pribumi maupun Eropa.[ii]

Setiap unit Marsose terdiri dari 20 orang dengan dipimpin seorang sersan Belanda yang dibantu seorang kopral pribumi. Setiap pasukan biasanya terdiri dari satu peleton yang terdiri dari 40 orang dan dipimpin seorang Letnan Belanda. Secara keseluruhan, korps Marsose terdiri dari 1.200 orang—dari berbagai bangsa. Pasukan ini, selain dipersenjatai karaben, juga dipersenjatai dengan senjata tradisional seperti klewang, rencong dan sebagainya.[iii]

Kata Marsose berasal dari kata marechaussée yang sebenarnya memiliki akar sejarah cukup panjang. Tahun 1370, dikota Paris terdapat sebuah otoritas hokum bernama Tribunal of Constables and Marshals of France. Constables dan Marshals ini lalu menjadi Gendermarie, yang menjadi kekuatan kepolisian di Belanda dan Belgia. sebuah unit kepolisian yang berakar pada masa pendudukan Perancis di Belanda. Berdasar dekrit Republik Bataaf, bentukan Perancis, dibentuklah sebuah unit kepolisian ini pada tanggal 4 Februari 1863 dengan nama marechaussée. Hal ini tidak langsung ditanggapi oleh otoritas Belanda. Tahun 1805, barulah terbentuk satu unit Gendermarie.[iv] Ketika wangsa Oranje berkuasa di Negeri Belanda, setelah Republik Bataaf tersingkir, berdasar dekrit nomor 48 tanggal 26 Oktober 1814 Marechaussée terbentuk.[v]

Di Hindia Belanda, Marsose adalah pasukan gerak cepat dengan seragam hijau dengan tanda garis bengkok warna merah pada lengan dan leher terdapat gari merah. Dalam tugasnya, mereka dibekali senjata khas penduduk setempat, semacam klewang. Mereka memakai bedil dengan ukuran yang lebih pendek dari bedil biasa, karaben. Mereka tidak tergantung pada angkutan militer dan biasa berjalan kaki. Mereka tidak bergantung pada jalur suplai logistik.[vi]

Keberadaan Marsose di Hindia Belanda lebih berkembang sebagai pasukan tempur handal daripada pasukan polisi bersenjata seperti pendahulunya, Marechaussée, di Eropa barat. Kesamaannya di Eropa atau di Hindia Belanda, keduanya sama diseganinya. Ketika Perang Dunia II berlangsung, Marsose ikut membantu Angkatan Perang Belanda. Pasukan ini berhasil menewaskan Sisingamangaraja XII di Sumatra utara.[vii]

Marsose terdiri orang-orang Belanda, Perancis, Swiss, Belgia, Afrika, Ambon, Ambon, Menado, Jawa, juga beberapa orang Nias dan Timor. Selain karaben—senapan modern berukuran pendek—mereka juga membawa klewang dalam front Aceh dan Batak. Hal ini sangat berguna dalam perang jarak dekat, man to man, seperti yang dilakukan para gerilyawan pribumi. Marsose berusaha mengikuti gaya berperang ini karena gerilya kaum gerilyawan begitu efektif menggempur KNIL yang biasa menang dalam front besar namun repot ketiuka diserang mendadak. Pasukan ini tentunya terlatih dalam peperangan di hutan menghadapi serangan gerilyawan[viii]

Marsose bukan pasukan tempur biasa seperti yang berkembang pada pergantian abad XIX ke XX. Marsose tidak seperti KNIL, mereka memiliki karakter sendiri dalam bertempur. Mereka tidak terlalu mengandalkan senjata api, melainkan klewang mereka untuk mengahabisi lawannya dalam jarak dekat. Marsose lebih terlihat seperti jawara dibanding tentara reguler pada umumnya. Senjata api tetap mereka pegang dan akan digunakan bila keadaan terpaksa.

Kapten Hans

Hans Christofell adalah orang yang memimpin pengejaran yang menewaskan Sisingamangaraja XII dengan bantuan prajurit Belanda dari Senegal yang sangat ahli berburu. Setelah mereka menewaskan Sisingamangaraja XII, dipedalaman Sumatra Utara, Piso Gaja Dompak, pedang pusaka yang biasa dibawa bertempur oleh Sisingamangaraja XII lalu diserahkan ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebagai bukti[ix] Sisingamangaraja XII tewas ditembak seorang serdadu, asal Alfuru bernama Hamisi.[x]

Selama Pemberontakan PKI 1926-1927 yang gagal, disamping polisi, KNIL juga ikut melakukan penumpasan. Penumpasan pemberontakan PKI di Padang dan Silungkang , Sumatra Barat, beberapa brigade Marsose pimpinan Mayor (KNIL) W.V. Rhemrev, melakukan penyiksaan sadis pada kaum pemeberontak komunis. Terjadi penjagalan dalam usaha meredam pemberontakan kaum komunis itu. Tubuh korban dirusak, kepala korban ditusuk dengan tongkat lalu diarak keliling kampung. Tujuannya tidak lain untuk menebar teror di kalangan penduduk biasa. Berita kesadisan Marsose itu terdengar sampai di Eropa tanpa dapat disangkal.[xi]

Marsose, dalam banyak catatan, lebih banyak melakukan tugasnya sebagai pasukan kontra-gerilya di Aceh dan Tanah Batak. Dua daerah itu sangatlah sulit dikuasai pemerintah kolonial hingga awal abad XX. Marsose dalam jumlah besar dibutuhkan disana untuk waktu tugas yang lama. Bahkan setelah perang melawan orang-orang Batak di Pedalaman Sumatra dan Aceh itu berakhir, perlawanan kecil kadang masih terjadi. Seperti dialami bekas komandan Marsose, Letnan Kolonel W.B.J.A Scheepens, yang tertusuk rencong orang Aceh.

Marsose sebenarnya tidak hanya ditugaskan di dua daerah itu, tapi juga dibeberapa tempat seperti di kepulauan Nusa Tenggara juga Sulawesi—walau dengan personil yang tidak terlalu banyak. Cerita kekejamana pasukan Marsose lebih banyak didengar di Aceh saja dan tanah Gayo saja.

Kolone Macan

Kehadiran Marsose sebagai pasukan khusus yang sedemikian handal itu, rupanya masih dirasa belum cukup oleh petinggi militer Belanda. Perwira-pwerwira Belanda itumembentuk lagi sebuah unit didalam pasukan Marsose bernama Kolone Macan.. Seperti halnya Marsose, Kolone Macan juga dipimpin oleh perwira-perwira dari orang-orang Eropa. Salah satunya adalah perwira asal Swiss bernama Hans Christofell. Dia sangat tersohor karena berjasa kepada pemerintah kolonial dalam peperangan di Sumatra bagian utara itu. Dia membentuk pasukan khusus baru lagi, dimana anggotanya adalah anggota-anggota Marsose yang terpilih.[xii]

Ada perwira Marsose yang lebih tinggi pangkatnya dibanding Christoffel, Kapten Scheepens. Setelah lewati berbagai pertimbangan, pembuat kebijakan militer Belanda sampai pada kesimpulan, pekerjaan algojo yang sadistis tidaklah cocok bagi Scheepens—walaupun Scheepens tergolong orang bersedia mengerjakan tugas militer yang berat sekalipun seperti bertempur berhari-hari dalam hutan. Dimata pembuat kebijakan itu, Christoffel dianggap lebih cocok untuk memimpin sekelompok algojo. Akhirnya Christoffel diberangkatkan ke Cimahi—dimana berdiri sebuah garnisun pasukan Belanda disana. Disini Christoffel berttemu dengan banyak Marsose kawakan dan memiliki pengalaman bertempur di Aceh. Keberadaan mereka di Cimahi adalah dalam rangka istirahat setelah peperangan berat di Aceh selama berbulan-bulan.[xiii]

Dia menghimpun anggota Marsose yang beringas, jago berkelahi. Pasukan ini dinamakan Kolone Macan. Pasukan ini dilatih oleh Christoffel di Garnisun Cimahi. Pakaian mereka berwarna hijau kelabu yang kerah bajunya terdapat dua lambing jari berdarah. Tentu saja ikat leher warna merah agar nampak lebih lebih menyeramkan. Mereka dikenal sebagai pasukan yang menyeramkan dengan julukan ‘pembunuh berdarah dingin’.[xiv]

Setelah beristirahat dalam waktu yang lama, para Marsose itu merasa ingin kembali berperang di Aceh lagi. Dunia Marsose jelas bukan dunia tangsi yang damai, dunia mereka adalah peperangan dalam hutan, seperti di Aceh. Selama di tangsi Cimahai yang damai itu, para Marsose itu juga diberikan teori peperangan, namun hal itu kurang direspon pleh marsose yang berpendidikan rendah. Mereka tidak butuh teori dalam peperangan, melainkan pertempuran. Wajar bila teori perang itu tidak sekalipun dicerna prajurit Marsose. Mereka lebih tahu dan senang bertempur. Rutinitas lain yang mereka benci di tangsi adalah beberapa kali dalam sehari harus apel. Latihan marsose bukanlah menembakan senapan, melainkan memainkan klewang.[xv]

Di Cimahi, Christoffel mengamboil beberapa komandan brigade—yang biasanya berpangkat sersan—terbaik Marsose. Mereka yang bosan hidup di garnisun jelas menjadi prioritasnya. Pasukan ini terdari dari 12 brigade marsose yang sudah dilatih lagi di Cimahi. Betapa terlatihnya mereka sekarang. Barisan depan pasukan Kolene Macan adalah para Marsose jejaka. Jelas mereka bisa lebih leluasa bertempur karena tidak akan memikirkan anak istrinya.[xvi]

Cara kerja pasukan ini lebih kejam dari Marsose sebelumnya. Mereka melakukan eksekusi ditempat. Hal ini tergolong gila, seperti yang dirasakan salah seorang komandan Marsose Schriwanek. Walau dia tergolong kasar, namun dia melihat cara kerja Kolone Macan, dirasa oleh perwira itu, benar-benar keterlaluan ketika melakukan Sweeping. Mereka membersihkan gerakan gerilyawan perlawanan rakyat dengan kejam sejak dari dataran rendah. Mereka lakukan kerja mereka dengan singkat dan tuntas.[xvii]

Reaksi keras atas cara kerja Kolone Macan muncul juga dari kalangan militer Belanda sendiri. Peperangan yang mereka jalankan di Aceh terbilang keterlaluan. Reaksi ini datang dari perwira Belanda yang bukan berlatar belakang dari tentara bayaran. Akhirnya komando atas daerah Aceh dirubah dari van Daalen kepada Swart. Karena hal pergantian komando itu, cara kejam Kolone Macan perlahan dihilangkan. Pasukan yang pernaha dilatih dan dipimpin oleh Christoffel itu kemudian beralih komando pada van der Vlerk. Komandan baru ini, seperti tuntutan sebagian perwira Belanda yang benci kebengisan van Daalen dan Christoffel, mulai merubah sifat pasukan Kolone Macan. Pasukan ini lama-lama menghilang dan hanya menjadi Marsose biasa.[xviii]

Kolone Macan adalah bagian terkejam dari korps bernama Marsose dan hanya terjun di front Aceh saja. Pemerintah Kolonial rupanya tidak menginginkan adalah sepasukan algojo terorganisir, bagi pemerintah kolonal, cukup hanya marsose saja pasukan terkejam yang mereka miliki. Bagaimanapun perlawanan terhadap kebijakan kolonial tidak bisa ditebak kapan terjadinya dan inilah alasan mengapa Marsose terus dipertahankan walaupun perannya semakin meredup sinarnya. Marsose tidak terdengar kehebatannya lagi ketika Jepang mendarat di Indonesia. akhir sejarahnya mungkin saat perang Aceh saja lalun hilang adan tanpa terlihat taringnya yang tajam seperti pada Perang Aceh.

Cerita-cerita Marsose Pribumi.

Walau, Marsose pasukan elit, bukan berarti pasukan ini hanya terdiri orang Belanda maupun Eropa lain. Banyak orang pribumi yang menjadi anggota Marsose. Orang pribumi bahkan bisa menjadi Marsose yang baik dibanding orang-orang Eropa yang menjadi serdadu KNIL umumnya tidak bisa menyesuaikan diri dengan iklim tropis. Banyak diantara Marsose adalah orang-orang dengan kemampuan seperti jawara yang ada di Banten yang ahli dalam berkelahi.

Satu dari banyak anggota Marsose pribumi yang cukup diakui jasanya adalah W.C. Ferdinandus. W.C. Ferdinandus adalah pemuda kelahiran 19 Februari 1883 di Haruku, Saparua. Seperti banyak pemuda disana yang ingin bertualang sebagai serdadu KNIL, Ferdinandus pada tanggal 1 Maret 1906 mendaftarkan diri sebagai KNIL di Ambon—teeken soldadu istalahnya pada waktu itu.[xix]

Pagi hari tanggal 12 Desember 1908 di Dondo—sebuah daerah di Nusa tenggara Barat sekarang ini—sekelompok Marsose bergerak. Salah satu dari mereka adalah W.C. Ferdinandus bergerak dibawah komando dari Letnan Satu de Vries untuk menyerang markas pemberontak di pantai utara. Marie Langa, pimpinan pemberontak itu membangun kubu pertahanan didekat Watoe Ngere. W.C. Ferdinandus adalah salah satu dari sekian banyak pasukan dari Letnan Satu De Vries. Pasukan yang dipimpin De Vries itu terdiri dari tiga brigade Marsose dengan kekuatan 50 karaben. Dan sekelompok strapan yang terdiri dari tiga puluh orang.

Pasukan beserta strapannya itu berangkat ke Nio Panda, mereka tiba pukul 2 sore. Mereka beristirahat, sebelum bergerak pada pukul 22.00 malam. Malam itu, De Vries, memimpin pasukannya mengintai benteng musuh itu dari atas. Dalam kegelapan malam mereka bergerak. Mereka melintasi jalan yang berat dan terjal. Mereka mencapai daerah tujuan mereka denganm susah payah dan dari jauh mengintai lawan mereka dalam kegelapan malam itu.

Pada pukul 8 pagi, 12 Desember 1908, Letnan Satu de Vries membagi tiga pasukannya, satu pasukan dibawah sersan van Rijen, satu pasukan dibawah pimpinan sersan Ambon dan satu pasukan lagi dibawah pimpinan Kopral Katuuk. Ketiga pasukan itu bergerak mengelilingi benteng diam-diam. W.C. Ferdinandus adalah Marsose pertama yang menaiki benteng. Didalam benteng, W.C. Ferdinandus dan penyerang lain berhasil menembak tiga musuh dalam benteng dan membuat gerilyawan lain melarikan diri ke utara, sementara itu di utara sudah menunggu pasukan pimpinan Kopral Katuuk. Akhir dari serangan itu adalah, beberapa musuh melarikan diri dan benteng direbut. Majalah Trompet juga pernah menampilkan profil salah prajurit marsose lain, salah satunya dalah Robert Talumewo. Pemuda dari Langoan kelahiran 11 September 1882 dan teeken soldadu pada 6 Agustus 1904 di Manado. Karena keberaniannya ketika menjadi serdadu reguler biasa di KNIL, dia akhirnya dimutasikan ke Marsose[xx]

Ada Marsose Jawa bernama Redjakrama. Pemuda kelahiran Kedungwaru, Bagelen—Kabupaten Purworejo sekarang—tahun 1867. Diusianya yang ke-18, tahun 1885 dia teeken soldadu di Gombong. Setehun kemudian Redjakrama dikirim ke Aceh untuk pertama kalinya. Tahun 1887 Redjakrama ditempatkan di Sulawesi. Tanggal 21 Desember 1888, Redjakrama resmi menjadi kopral dan 2 Oktober 1890 sudah menjadi seorang sersan. Sebuah prestasi hebat untuk seorang pemuda kampung yang tidak terpelajar macam dirinya. Pada 2 Oktober 1901, Redjakrama dimutasikan ke Marsose. Sebagai Marsose Redjakrama telah menunjukan keberaniannya—seperti yang dimuat dalam majalah Trompet. Pada 26 Juni 1904, Sersan Redjakrama ditugaskan di daerah Beureuleueng, Pidie—Nangroe Aceh Darussalam sekarang.

“Sementara berkelahi ini, maka satu bahagian dari kumpulan musuh darai Pang Andah tahan sekuat-kuatnya didalam dua rumah dari sini mereka pasang pada Marsose. Cuma dengan pendek saja, pasangan dari musuh dibalas oleh Marsose, lantas Marsose tarik jatuh dinding dari kedua rumah. Ini pekerjaan dikerjakan oleh brigade, dimana terdapat sesan Redjakrama yang telah enam bulan lamanya pegang komando dari brigade ini yang telah menunjuk gagah beraninya. Ini onderofficer biasa terdapat ditempat-tempat yang ada dan sikapnya ada satu contoh yang bagus buat soldadu-soldadu. Yang perlu sabar dan tiada hilang otak sehat, sebab brigade terdiri dihadapan musuh yang tahan dengan sekuat-kuatnya dirumah-rumah dimana seperti dekking, musuh memakai karung-karung dengan beras. Contoh yang gagah berani dari sesan Redjakrama yang pertama kali masuk rumah, ada sebegitu rupa sehingga dituruti oleh brigade, yang bikin kalah musuh dan sesungguh-sungguhnya.”[xxi]

Cerita keberanian yang juga dimuat di Majalah Trompet adalah Simon Leiwakabessy. Ia pensiunan kopral yang tinggal di Ambon. Leiwakabessy lahir di Tial, Ambon pada 25 Januari 1870 dan teeken soldadu di Ambon pada 8 Maret 1894. sebelum ditempatkan di Marsose, Leiwakabessy termasuk anggota pasukan dari Batalyon 3 yang beberapa kali pindah tugas dibeberapa tempat di Indonesia.

“Overvalling musuh disebelah selatan dari Cot Bamboton (Troeseb Pidie) pada tanggal 24 Agustus 1903. Agar supaya menyemu musuh, maka keluarlah Letnan Darlang pada tanggal 24 Agustus jam 3 pagi dari Didok dengan satu brigade ke selatan dari Troeseb yang terdapat di terrain yang berbukit-bukit. Yang lain brigadenya mendapat opdract pada jam 7 pagi marsch ke lapang, disebelah dari kaki utara dari bukit-bukit dan disana diajak musuh dengan vurren yang biasa dari pihak itu mereka pasang pada compagnie. Waktu pagi hari, maka Letnan Darlang 2 orang Aceh Aceh disatu cot boleh jadi ini 2 orang ada Wachtpost dari musuh. Dengan tiada diketahui oleh musuh, maka brigadenya Letnan Darlang di itu bukit dan dengan ati-ati naik keatas. Sampai dekat diatasnya bukit, maka kelihatan 10 orang Aceh, yang ada tidur ditanah. Tempo satu dari diantara musuh bangun dan berdiri dan tunggu lama tiadalah baik, bertentangan dengan mereka boleh lihat di compagnie maka Darlang dan beberapa Marsose-nya storm pada musuh. Marsose Leiwakabessy yang oleh sebab kurang kader dan juga oleh sebab gagah berani-nya dan cepat biasanya ditunjuk seperti komandan dari spits lari kemuka dengan lewati 2 temannya dan sekonyong-konyong berada ditengah-tengah dari musuh yang lari. 2 orang musuh ditembak mati oleh Leiwakabessy. Tempo Leiwakabessy lihat, bahwa lain-lain musuh lari kebawah, maka dengan beberapa temannya dari spits ia ambil jalan pendek dan potong pas dari musuh. Dengan ini, maka ia tembak lagi 4 orang musuh mati. Oleh sebab gagah beraninya dari Leiwakabessy, maka jatuh didalam tangan kita 6 orang musuh dengan senjata-senjatanya, 3 beamont dan 3 senapan voorlaad.”[xxii]

Stephanus Melfibossert Anthony pemuda kelahiran 3 Juni 1872 di Ambon dan teeken Soldadu tanggal 27 Agustus 1890 di Ambon. S.M. Anthony terpilih untuk dimasukan ke korps Marsose pada 13 April 1897 lalu terlinbat dalam ekspedisi militer KNIL di beberapa tempat seperti Aceh, Timor juga Sulawesi Selatan. Dia memiliki cerita keberaniannya sebagai seorang Marsose dalam benteng Sala Banga di daerah Mandar, Sulawesi Selatan. Peristiwa oitu terjadi pada 20 Oktober 1914.

“Waktu bestorming benteng tersebut, maka naiklah kopral Anthony, biarpun musuh tahan dengan begitu kuat dan lawan pada compagnie dengan gagah berani stormladder dan biasa pertama dimuka waktu bongkar rintangan-rintangan dimana pekerjaan ini menuntut banyak kekuatan. Sesudahnya dengan banyak susah pekerjaan lamanya satu setengah jam dikerjakan dan satu lubang diborstwering dibikin, maka dengan segera Anthony storm kemuka dengan lagti 3 militairen lain kedalam benteng. Sesudahnya itu ia pasang pada musuh yang dekat padanya, sehingga mereka tiada bisa apa lagi, sehingga troep dibelakang bisa mendapat kesempatan ke borstwering.”[xxiii]

Masih banyak lagi cerita heroik yang menggambarkan keberanian para Marsose pribumi—dimata masyarakat kolonial—yang termuat di majalah Trompet. Marsose-marsose pribumi tadi telah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang prajurit yang membela bendera Ratu Belanda. Bagaimanapun, Marsose pribumi adalah bagian penting dalam korps Marsose, dari segi jumlah pastinya lebih banyak dan sebagai prajurit rendahan mereka siap melakukan hal-hal berat yang mungkin saja tidak mau dilakukan oleh perwira maupun bintara Belanda. Sebagai prajurit mereka siap untuk melawan siapa saja yang menajdi musuh ratu Belanda di Hindia Belanda. Mereka tidak takut melawan siapa saja termasuk gerilyawan di Aceh. Perang Aceh dan gerilyawannya yang tidak kenal menyerah adalah bagian terpenting dalam sejarah Marsose selain korps dan anggota Marsose itu sendiri.

Disarikan dari buku Pasukan Komando: Pengukir Sejarah Indonesia (Media Pressindo, Yogyakarta, 2008)

Catatan Kaki

[i]Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, Jakarta, Cipta Adi Perkasa, 1990. h. 167.

[ii] Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, h. 167.

[iii] Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid X, h.167-168.

[iv] Polisi Lapangan bersenjata seperti Brigade Mobil di Indonesia sekarang.

[v] (Batara Hutagalung, Mardijkers, Marechaussěe, Tentara Kontrakan, Belanda Hitam Dan KNIL, http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/04/mardijkers-marechaussee-tentara.html Diakses pada tanggal 29 Maret 2007, pukul 09.38 wib.)

[vi] R.P. Suyono, Peperaqngan Kerajaan di Nusantara, Jakarta, Grasindo, 2003. h. 336.

[vii] Batara Hutagalung, Mardijkers, Marechaussěe, Tentara Kontrakan, Belanda Hitam Dan KNIL, Dalam: http://batarahutagalung.blogspot.com/2006/04/mardijkers-marechaussee-tentara.html Diakses pada tanggal 29 Maret 2007, pukul 09.38 wib

[viii] Walter Bonar Sidjabat, Ahu Sisingamangaradja XII, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1982, h. 245.

[ix] Sibarani, Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, Jakarta, Ever Ready, tanpa tahun. h. 210-218: W. Bonar Sidjabat, h. 17.

[x] W. Bonar Sidjabat, h. 290-295.

[xi] Imam Soedjono, Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, Yogyakarta, Resist Book, 2006. h. 37.

[xii] Sibarani, h. 204

[xiii] H.C. Zentgraaff, Aceh, ab. Firdaus Burhan, Jakarta, Depdikbud Direktorat Jarahnitra, 1983. h. 177.

[xiv] Sibarani,. h. 204

[xv] H.C. Zentgraaff, h. 178.

[xvi] H.C. Zentgraaff, h. 178.

[xvii] H.C. Zentgraaff, h. 179.

[xviii] H.C. Zentgraaff, h. 179.

[xix] TROMPET (organ van den Bond van Inheemsche Gepensionereerd Militairen) no 72 tahun ke 6, edisi Januari 1940. h. 4-5.

[xx] TROMPET no 72 tahun ke 6, edisi Januari 1940., h. 4-5.

[xxi] TROMPET no 73 tahun ke 6, edisi Februari 1940., h 6-7.

[xxii] TROMPET no 70tahun ke 6, edisi November 1939., h 4-5.

[xxiii] TROMPET no 81 tahun ke 6, edisi November 1940, h . 5

Jumat, Oktober 08, 2010

Bang Pie’i van Senen


Dialah jagoan Senen legendaris. Bukan sekedar sangar-sangaran belaka, tapi berjuang demi Republik juga walau kemudian dicap hitam karena jadi pengikut Sukarno.

Salah satu penghuni khas Pasar Senen adalah orang orang dunia hitam dari kelompok Cobra. Ini adalah sebuah organisasi ala mafia jaman dulu, yang dibentuk oleh Bang Pi’i, asli Betawi. Syafei nama aslinya, yang hidup sejak kecil sebagai anak gelandangan di jalanan jalanan Pasar Senen. Sejak umur lima tahun sudah menjadi anak yatim. Ia yang mencari makan untuk adik-adiknya. Sejak umur lima belas tahun ia sudah mengorganisir ribuan preman, pencopet, penjambret. [1]



Iman syafei lahir Agustus 1923, di Kampung Bangka, Kebayoran baru. Syafei sudah berkegiatan di Senen sebelum pendudukan Jepang. Konon, ia berasal dari keluarga sederhana dan nasionalis. Imam Syafei pernah menghuni LOG, sebuah penjara khusus untuk anak-anak nakal pada masa Hindia Belanda. [2]

Mendirikan perkumpulan, Kumpulan 4 sen—dimana dia mengumpulkan para rakyat kecil seperti pedagang kecil, pedagang sayur, pedagang asongan, pedagang kali lima, sais andong, tukang becak, kuli angkut dsb. Perkumpulan ini mengadakan iuran, yang didigunakan untuk membantu para begundal sekiar senen agar tidak membuat onar bagi para pedagang.

Syafei sudah anti Belanda sejak dia bermukim di Senen. Dia pernah dipenjara oleh pemerintah kolonial karena pencurian. Safei semula adalah pencuri di pasar sayur Senen. Ia beroleh kekuasaan di Senen setelah membunuh jagoan Senen, Muhayar—yang berasal dari Bogor. Syafei yang bertubuh pendek harus naik lapak sayur untuk bisa menusuk pisau ke perut Muhayar. Hingga dirinya mengendalikan pasar Senen dan sekitarnya. Dirinya pun kesohor sebagai Preman teresar di zaman itu. menurutHusni, bekas anak buah syafei, ”kalau orang menguasai Senen, dia juga menguasai sekitarnya.” Selama pendudukan Jepang, Syafei dan organisasinya membantu keluarga korban romusya. Syafei sempat ditangkap, namun berhasil melarikan diri ketika terjadi kebakaran. Kemudian tertangkap lagi dan dipenjara ke Ambarawa, namun dia berhasil kabur lagi.[3]

Juni 1945, dia membentuk Oesaha Pemoeda Indonesia yang kemudian berhasil menculik serdadu-serdadu Jepang. Syafei juga memimpin sebuah laskar yang merupakan bagian dari Barisan bambu runcing—yang aktif dalam pertempuran melawan sekutu-Belanda diakhir tahun 1945. Ada kisah yang menyebutkan bahwa Syafei pernah mengejar jip tentara Belanda dengankuda putihnya. Ia lalu meninggalkan Jakarta, untuk memimpin mundur pasukannya dan berjanji akan kembali ke Jakarta. April 1946, dirinya masuk TNI karena laskar-laskar telah identik dengan ekstrimis.

Syafei merasa bahwa perannya adalah sah dan terhormat hingga ia memiliki pangkat resmi. Ketika ada konflik antara laskar dengan TNI, Imam Syafei berhasil meyakinkan sebagian laskar untuk bergabung dengan TNI dan membentuk sebuah resimen Perjuangan yang terdiri dari para penduri dan pencopet sebagai anggotanya.

Tahun 1948, ketika terjadi Madiun Affair, Imam Syafei dan pasukannya terlibat dalam operasi penumpasan para pemberontak yang identik dengan PKI itu.

Kata orang, Bang Pi’i seorang yang sakti mandraguna. Jaman revolusi kemerdekaan ia bisa menerobos pertahanan Belanda dengan cara ‘ menghilang ‘. Benyak yang melihat Bang Pi’i sambil naik kuda sambil memegang kelewang mengejar jeep Tentara belanda di sepanjang jalanan Senen dan Galuh. Ketika di tembaki ia tidak mempan. Mirip, adegan film film action Hongkong besutan John Woo. Misbach Jusa Biran, orang film pernah mendesak Bang Pi’i untuk membuat film mengenai perjuangannya dulu melawan Belanda. Ia menolak, Jawabnya “ Siapa yang mau percaya, nanti orang bilang ane ngibul “.[4]

Syafei terkenal militan dan tidak takut mati. Pasca agresi Militer Belanda II, Syafei memimpin gerilya dari Karawang ke Jakarta. Imam syafei yang buta huruf masih menjadi anggota TNI dengan pangkat Kapten dan menjabat komandan batalyon. konon, karena buta huruf itu pula dia tidak menyandang pangkat Mayor selaku komandan Batalyon, hingga pangkatnya setingkat lebih rendah daripada komandna batalyon pada umumnya. [5]

Setelah KMB, sejumlah organisasi preman mengendalikan kota. awal tahun 1950an, Cobra didirikan Imam Syafei, yang bisa disebut pahlawan perang yang memulai hidup baru pasca perang.

Saat APRA berlangsung Syafei diketahui memiliki organisasi rahasia juga yang bergerak di Jakarta. Namun gerakan batalyon ini sendiri sepengatuan pihak militer republik di Jakarta. Nama kelompok ini adalah batalyon P4 (Pembasmi Pengatjau Perundingan Pemerintah).[6] Nampak jelas bahwa Syafei pendukung setia pemerintah RI dari golongan dunia bawah Jakarta.

Setelah perang kemerdekaan, reorganisasi militer membuat sebagian besar anak buah Bang Pi’I yang buta huruf dipecat. Bang Pi’i sebenarnya juga buta huruf, namun dia dibiarkan tetap di TNI sementara anak buahnya ditampung dalam organisasi yang menjaga keamanan sekitar Pasar Senen. Namanya organisasi ini dibuat seram. Cobra.[7]

Alasan tidak dipecatnya Syafei dikarenakan untuk menghindari sakit hati jika semua bekas pejuang itu dipecat, padahal mereka berjasa bagi revolusi. Sebagai mantan pejuang yang biasa bertempur maka akan muncul penjahat-penjahat yang terlatih dan sulit diatasi. Keberadaan Syafei di TNI dianggap akan menentramkan hati anak buahnya yang bekas pejuang sekaligus bekas orang-orang dunia bawah tanah.[8]

Bukan hal aneh jika orang-orang geng Cobra sudah diatur. Di belakang Syafei, anak-anak buahnya itu kadang susah dikendalikan. Namun jika mereka tahu ada syafei mereka akan bersikap tenang. Syafei berusaha agar anak buahnya tidak membuat onar dan mengganggu pedagang di Senen. Jika ada yang ketahuan membuat onar atau kepergok membuat onak, maka Syafei akan menghajar si anak buah itu. Syafei berusaha memberikan kenyamanan pada pedagang untuk beroperasi di Senen karena mereka membayar uang keamanan. [9]

Dia (Imam Syafei) kembali ke Senen. teman-teman pada datang. ”Gimana kita nggak dikerjakan.” Muncul ide: tolong dikoordinir. Akhirnya dikordinir oleh Imam Syafei, dibuatkan sebuah organisasi barisan keamanan atau kelompok keamanan kampung yang namanya Cobra. teman-teman bekas seperjuangan ini akhirnya direkrut, jadi anggota Cobra. (pengakuan Husni)[10]

Cobra dianggap oleh sebagian pihak dari akronim Korps bambu Runcing. Kelompok ini lahir untuk mengawasi suatu wilayah, juga lahan kerja untuk kaum veteran. Seolah ada kewajiban bagi Imam Syafei cs. Dimana Syafei berharap agar kawan-kawan seperjuangannya tidak jadi penjahat. Organisasi macam ini bukan hal baru bagi syafei, mirip dengan Kumpulan 4 Sen. Cobra berhasil menghimpun jagoan-jagoan Jakarta di Tanah abang, pasar rebo, Jembatan Lima (barat Glodok), Meester Cornelis (Jatinegara) sampai kebayoran lama. setiap kecamatan terdapat anggota geng cobra. geng cobra kerap mendapat perlawanan dari geng lain.

Anggota Cobra adalah sebagian besar adalah orang-orang Betawi, namun ada juga orang Batak, Ambon dan Makassar dsb. anggota kesohor adalah Mat Bendot yan kerap menunggang kuda dan memegang cemeti ekor ikan pari. Ia mengendalikan tanah tinggi. Ia menjadi penyedia perlengkapan preman. cek dien, preman asalah Palembang, membuka bisnis kasino di rumahnya. mereka adalah kepala kelompok—yang biasa melaporkan diri ke Senen sebagai markas besar Cobra. ada hukuman bagi anggota yang bersalah dengan cabukan ekor ikan pari.

Organisasi ini menjadi dekat dengan aparat angkatan bersenjata, karena Imam Syafei sebagai boss besar adalah kapten TNI. Syafei disegani karena ia jagoan yang nekad dan ia bersenjata api. pendapatannya berasal dari upeti pertokoan milik orang Tionghoa yang ada stiker ular kobra berdiri. selain itu, perjudian dan kasino menjadi pemasukan syafei.[11]

Dia kerap bekerjasam adnegan orang China yag buka kasino di Glodok, senen dan jatinegara. Tahun 1959, Cobra bubar karena permintaan Komando Militer jakarta setelah adanya persaingan dengan kelompok lain, seperti Ular Belang. Meski cobra bubar, syafei tetap memiliki pamor. dia masih menjadi perwira TNI. dia masih menjadi tokoh penting di Jakarta, karena mampu menggerakan massa untuk berdemontrasi, mungkin juga untuk berbuat rusuh. inilah yang membuat dirinya memiliki posisi tawar dimata penguasa.

Dalam kabinet seratus menteri, Syafei diangkat menjadi menteri Urusan Keamanan yang mengurusi masalah keamanan Jakarta. jabatan itu dipangku sejak 24 februari hingga 28 maret 1966. Dia mendapat tugas menghamabt demonstrasi mahasiswa angkatan 1966—yang menuntut Soekarno turun. Syafei, yang pernah menumpas perlawanan PKI Madiun, lalu dituduh komunis hingga dirinya ditangkap pada 18 Maret 1966. jelas dia bukan komunis, karenanya dia dibebaskan beberapa bulan kemudian. menurut Misbach Yusra Biran, ”dia tidak tahu apa-apa tentang politik. dia hanya setia pada soekarno. [12]

Cerita tentang Syafei susah ditelusuri karena dia terlanjur dicap komunis. bekas anak buah syafei, Husni, mengaku pernah membakar dokumen tentang syafei karena takut bermasalah dengan orde baru, apalagi sampai dituduh subversif.[13]



Bang Pi’i yang konon kebal peluru ini meninggal karena sakit di RSPAD Gatot Soebroto tahun 70 an. Setelah selama sembilan tahun meringkuk dalam penjara.
Sejarah memang selalu mengajarkan sisi lain yang menarik. Jika Bang Pi’i hidup dalam jaman sekarang, ia pasti menjadi caleg atau setidaknya Ketua Partai.[14]

Tahun 1980, dalam keremangan pagi, ia harus menerima hantaman peluru regu tembak, bukan dari jejeran serdadu musuh tapi prajurit sebangsanya sendiri. Kusni yang di era revolusi tergabung dalam Batalyon Rampal Malang harus menerima risiko dari pilihan hidupnya sebagai perampok. Tiga puluh tahun sebelum Kusni, Suradi Bledeg, pejuang pemberani dari Merbabu juga harus meregang nyawa di depan Polisi Klaten karena membegal.

Lain lagi dengan cerita beberapa tokoh militer di masa selepas pengakuan kedaulatan RI. Sebagian di antara para perwira menjalani hidup dengan peran ganda. Hadap kanan sebagai pejuang, hadap kiri sebagai dedengkot dunia hitam. Seolah menjadi prototipe dwifungsi yang tengah mencari-cari bentuk.

Mantan komandan Front Bandung Utara, Kolonel Sukanda Bratamanggala, usai revolusi mendirikan geng preman yang menguasai pasar-pasar, terminal dan pusat keramaian di Bandung. Namanya Geng Kobra, akronim dari pangkat dan namanya sendiri, Kolonel Bratamanggala. Geng inilah motor dari aktivitas okem di Bandung.

Melintas ke Jakarta, bekas tokoh kelaskaran di Betawi, Letkol Imam Syafei justru mencatatkan dirinya sebagai menteri negara dalam Kabinet Dwikora di penghujung pemerintahan Soekarno. Sementara dalam panggung yang lain, Bang Pi’i - demikian namanya kerap disebut - punya singgasana di Pasar Senen tempat ia bertahta sebagai raja copet se-Djakarta Raya.[15]



Organisasi Cobra akhirnya menguasai dunia hitam Jakarta tidak hanya di sekitar Pasar Senen. Mulai dari Ancol ke Tanah Abang, sampai cawang yang waktu itu masih pinggiran Jakarta. Cobra jadi tempat berlindung para pencopet, penjambret sampai penyanyi orkes melayu.

Kalau ada yang kecopetan di Pasar Senen, tinggal bilang kepada tokoh Cobra, maka dalam waktu singkat barang akan kembali. Semua tunduk pada Bang Pi’i. Padahal sosok Bang Pi’i bertubuh kecil dengan wajah ramah. Namun galaknya minta ampun terhadap anak buahnya yang melanggar aturan. Kalau ada anggota Cobra buat onar disebuah toko, maka Bang Pi’i akan menggamparnya habis habisan. Tentu saja, karena toko toko, warung selama ini harus membayar iuaran keamanan pada Bang Pi’i.[16]

Kadang kala Bang Pi’i suka jalan jalan dengan mobil mewah Cabriolet dengan kap terbuka. Semua orang akan menggangguk hormat. Para brandal yang sedang mabuk di pinggir jalan, tiba tiba mendadak sadar seketika. Sesekali ia turun dari mobil lalu dengan simpatik bergabung bermain kartu atau ngobrol ngobrol dengan para seniman yang sedang makan di rumah makan Padang Mera pi.

kabinet dwikora

Pelantikan para menteri dengan Presiden Sukarno. Imam Syafei yang dianggap penguasa Jakarta dijadikan Menteri oleh Sukarno untuk mengamankan Jakarta dan sudah pasti untuk mengamankan kekuasaan Sukarno juga.



Pangkatnya sudah Letnan Kolonel. Dalam kabinet Dwikora II - seratus menterinya - Bung Karno, ia masuk sebagai Menteri negara khusus Keamanan. Satu satunya menteri yang buta huruf dalam sejarah Indonesia. Agak aneh, struktur jabatannya. Mungkin Bung Karno mengganggap sebagai tokoh dunia hitam, Bang Pi’i bisa mengatasi demontrasi mahasiswa atau situasi situasi yang mulai merongrong kekuasaan Bung Karno.[17]

Zaman memang berubah. Saat Bung Karno jatuh, Bang Pi’i juga terseret masuk tahanan orde baru. Ia ditawan di penjara Nirbaya berbarengan Omar Dhani, Oei Tjoe Tat, Sri Mulyono Herlambang dan lain lain. Namun Bang Pi’i tetap sosok yang disegani. Walau dipenjara dia sering seenak udelnya memanggil petugas CPM tentara untuk membelikan nyamikan makanan dari luar penjara, atau minta dibukakan pintunya karena ia ingin jalan jalan mencari udara segar.

Ada petugas sipir yang mencoba keras terhadap Bang Pi’i ternyata suatu hari rumahnya kerampokan. Setelah ia meminta maaf, keesokan harinya, barang barangnya kembali lagi.[18]

Imam Syafei pernah menjadi sasaran amukan angkatan 66. Semua karena posisinya sebagai menteri dan sudah pasti karena loyalitasnya pada Soekarno. Dimata Mahasiswa, Imam Syafei dianggap sebagai ketua bajingan Jakarta, ketua perkumpulan copet Jakarta, ahli teror (berpengalaman tentunya), dan yang tidak bisa disangkal lagi dia ikut menguasai dunia bawah tanah Jakarta yang penuh kekerasan.Dia adalah salah satu dari sekian menteri yang harus ditahan dalam daftar menteri-menteri Gestapu.[19]

Ada orang bernama Syafei pernah menjadi orang kepercayaan Nasution. Dia menjadi staf pribadi Nasution bahkan. Meski pendidikan dasar tidak tinggi, Syafei pernah mengikuti Seskoad Bandung dan mampu lulus dengan baik. Syafei terlibat revolusi setelah ia kontak dengan sebuah laskar. Dia baru saja terlibat perampokan sebelum bergabung di TNI. Dia pernah bergabung di Siliwangi dan ikut serta dalam penumpasan PRRI Sumatra.

Setelah terjadi percobaan pembunuhan terhadap Sukarno, pada 7 Januari 1962 di Makassar, maka Imam syafei ditahan untuk dikorek keterangan tentang pembunuhan itu. Karena Nasution dianggap terkait dengan kasus percobaan pembunuhan ini. Namun Syafei kemudian dibebaskan juga.[20]

Disinyalir Soe Hok Gie dalam catatannya, Imam Syafii selaku orang penting dunia bawah Jakarta, telah mengerahkan banyak preman untuk menghadang aksi demontrasi mahasiswa. Dimana orang-orang Syafii itu siap main pukul bila berhadapan dengan mahasiswa demonstran. Mereka, jika perlu, akan membuat kerusuhan di beberapa tempat penting Jakarta untuk merusak perjuangan mahasiswa yang ingin menggulingkan Sukarno.

Alasan pemilihan Syafei sebagai menteri juga politis untuk menjaga kestabilan Jakarta dari para pengguling Sukarno. Apa yang dilakukan Syafei adalah bentuk loyalitasnya pada Soekarno dan berakibat buruk pada Soekarno. Nama Syafii pun buram di masa orde baru karena ini.Dia pun jauh dari kekuasaan rezim orde baru. Untuk urusan dunia bawah, rezim Suharto tidak pakai Syafii. Syafei pun tampak loyal kepada Nasution. Syafei pun tampaknya selalu setia pada atasannya, pada nasution lalu kepada Sukarno. Meski memiliki kekuatan di Senen, dia tampaknya tidak ingin mengkhianati atasannya meski itu bisa dilakukan.




[1] Iman Brotoseno, Bang pie i http://blog.imanbrotoseno.com/?p=553

[2] Abdul Haris Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas jlid 4 (Masa Pancaroba Kedua), Jakarta, Gunung Agung, 1984, hlm. 395.

[3] Jerome Tadie, Les territories de la violence a Jakarta, ab. Wilayah Kekerasan Jakarta, Masup Jakarta, 2009, hlm. 237.

[4] Misbach Yusa Biran, Kenang-Kenangan Orang Bandel, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009, hlm. 111.

[5] Ibid, hlm. 238.

[6] Laporan Djawatan Kepolisian Negara bagian PAM Yogyakarta, 21 Februari 1950. Nomor Polisi 278/A.R./PAM/DKN/50.

[7] Iman Brotoseno, Bang pie i http://blog.imanbrotoseno.com/?p=553

[8] Misbach Yusa Biran, Kenang-Kenangan Orang Bandel, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009, hlm. 110-111.

[9] Misbach Yusa Biran, Kenang-Kenangan Orang Bandel, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009, hlm. 111.

[10] Ibid, hlm. 241.

[11] Ibid, hlm. 243.

[12] Ibid, hlm. 244.

[13] Ibid, hlm. 236-237.

[14] Iman Brotoseno, Bang pie i http://blog.imanbrotoseno.com/?p=553



[15] Teguh Budi santoso http://anusapati.com/?p=31



[16] Misbach Yusa Biran, Kenang-Kenangan Orang Bandel, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009, hlm. 111.

[17] Misbach Yusa Biran, Kenang-Kenangan Orang Bandel, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009, hlm. 141.

[18] Iman Brotoseno, Bang pie i http://blog.imanbrotoseno.com/?p=553

[19] Soe Hok Gie, Zaman Peralihan, Yogyakarta, Bentang, 1996, hlm. 10.

[20] Abdul Haris Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas jlid 4 (Masa Pancaroba Kedua), Jakarta, Gunung Agung, 1984, hlm. 395.

Kamis, September 30, 2010

Ranukumbolo Fun Tracking



Sabtu, 18 September 2010

Hari yang kami tunggu telah tiba. Meski diiringi hujan, kami tetap meninggalkan Jogja juga menjelang malam. Tentu saja dengan sebuah apel kecil penuh makna dari kawan-kawan Madawirna—begitu nama komunitas mahasiswa pecinta alam bekas kampus saya, UNY.

Kami meninggalkan Jogja dengan sebuah bis AC tujuan Surabaya. Suasana lebaran menguras kantong kami. Kami harus bayar tiket sedikit lebih mahal dari biasa. Sekitar pukul 21.00 lewat banyak bis kami meninggalkan Jogja.

Rombongan kami berjumlah 14 orang. Beberapa diantaranya, tidak berstatus sebagai mahasiswa. Namun masih berjiwa muda tentunya. Masih suka menikmati alam. Awal perjalaan, rombongan kami adalah pembuat gaduh di bis. Dengan nyanyian tidak jelas tentunya. Setelah itu, kami tertidur pulas beberapa jam hingga mendekati Surabaya.



Minggu, 19 September 2010

Hari masih gelap ketika bus kami tiba di Surabaya. Turun dari bus, kami menggendong carrier kami yang besar. Orang awam pasti bisa menebak kami tukang naik gunung. Kami tidak langsung mencari bus tujuan Malang. Kami singgah ke kamar kecil dahulu.

Setelah urusan dengan kamar kecil selesai, kami lalu mencari bis AC ke Malang. Ketika meninggalkan Surabaya, Matahari mulai terlihat perlahan. Sebagian dari kami melanjutkan tidur, namun ada juga yang menikmati pemandangan di sepanjang yang kami lewati. Salah satu pemandangan itu tentunya danau baru hasil karya tak terduga dari Lapindo di daerah Porong.

Sampai Malang, kami naik mikrolet ke Tumbang. Menuju sebuah homestay yang cukup nyaman disinggahi. Disini kami bersiap, melengkapi isi carrier, makan, mandi dan gosok bagi yang terbiasa.

Selesai bersiap dan isi perut. Kami naik sebuah hardtop yang berisi 15 orang termasuk supir dan carrier kami tentunya. Perjalanan kami menuju Ranupane—desa terakhir menuju Semeru—memakan waktu sekitar 2 Jam. Kami menyematkan diri sebentar ke kantor pengelola Taman Nasional semeru-Bromo-Tengger. Setelah itu jalan lagi. Sampai Ranupane pimpinan rombongan mengurus perizinan. Setelah itu, kami bersiap, berdoa lalu mulai berjalan.

Jalur menuju puncak Mahameru, terbilang menyenangkan namun cukup panjang. Butuh waktu maksimum 10 jam perjalanan dengan berjalan kaki menuju puncak dari Ranupane.

Awalnya kami bisa berjalan bersama-sama tanpa ada yang tertinggal. Namun, pelan-pelan rombonaan terbagi. Saya termasuk yang tertinggal di belakang. Jujur saja, saya tidak sekuat kawan-kawan Madawirna yang baru beberapa tahun bergabung. Mereka jauh lebih muda dari saya. Mereka, harus saya akui, jauh lebih terbiasa naik gunung di banding saya.

Dalam perjalanan di hari pertama ini, kami sering berpapasan dengan pendaki lain yang sedang turun gunung. Kami dengar, mereka tidak dapat mencapai puncak Mahameru karena hujan yang sering turun. Banyak pendaki merasa kecewa dengan perubahan cuaca ekstrim di Semeru. Cuaca memang tidak lagi bisa ditebak seperti dulu. Kami semua bisa memakluminya.

Dalam perjalanan, kami melihat satwa primate yang disebut lutung. Kelompok terakhir, hanya melihat dua ekor saja. Binatang liar itu tidak mengganggu kami. Hanya menonton dari atas dahan. Kami pun berhent berjalan dan balik menonton sang lutung. Kami saling bertukar pandang sebentar. Sebelum akhirnya lutung itu pergi dengan begitu aktraktifnya. Berpindah-pindah seperti Tarsan.

Kami, kelompok terakhir makin tertinggal dari kelompok depan. Kami terlalu menikmati perjalanan. Kelompok pertama berhasil mencapai Ranukumbolo sebelum senja. Kami harus merasakan gelap di jalan dan harus emakai senter. Dan saya dengan senter pinjaman, karena tidak membawa senter.

Setelah merasakan gelap di jalan sekitar 1 jam. Akhirnya kami, kelompok terakhir, melihat cahaya dari kejauhan. Kami yakin, Ranukumbolo sudah di depan. Untuk mencari kawan-kawan yang pertama tiba kami harus mengitari seperempat danau. Melelahkan juga.

Belum sampai tenda yang dibangun tim pertama, hujan turun. Dan beberapa meter sebelum tiba di tenda hujan pun turun makin deras. Segera carrier saya dibongkar untuk membangun tenda.

Lelah, basah dan tentu saja lapar melanda kami. Untung saja, kawan-kawan yang lebih dulu tiba sudah memasak beberapa waktu sebelum kelompok terakhir alias tim hore. Dan makanan pun juga nikmat. Saya tidak rasakan lagi apa rasanya. Tetap nikmat disantap pastinya. Setelah makan, kami menyuruput coklat panas. Dan acara naik gunung kali ini makin nikmat saja.

Dingin, hujan dan tentu saja karena sudah malam, kami memantapkan diri untu tidur. Meski sebagian tenda bocor. Tetap saja kami tertidur, meski terbangun juga tengah malam untuk menyeruput kopi. Setelah itu tidur lagi setelah melewati hari minggu panjang yang seru.



Senin, 20 September 2010

Hari mulai terang ketika hujan masih belum reda. Hujan membuat kami terus makan dan minum minuman hangat. Dan kami semakin malas saja bergerak. Hari ini hujan turun berkali-kali.

Hujan membuat peralatan dan pakaian kami basah. Karenanya kami memutuskan menunggu cerah agar bisa mengeringkan pakaian dan peralatan kami. Rencana hari ini adalah beragkat menuju Kalimati. Jika cerah. Namun kami tidak mendapat cerah yang kami tunggu.

Baru saja berkemas dan memindahkan posisi tenda ke pondokan yan agak besar dan bebas hujan, ternyata hujan deras datang lagi. Kami terpaksa batal berangkat ke Kalimati. Hujan deras ini membuat saya separuh frustasi. Dan saya putuskan untuk bertahan saja di Ranukumbolo. Saya pun tidak peduli lagi dengan rencana muncak di Mahameru.

Beruntung, Ranukumbolo mempesona saya.



Selasa, 21 September 2010

Kawan-kawan memutuskan traking ke Kalimati. Tidak sampai puncak. Saya memutuskan bertahan di Ranukumbolo saja. Bersama Mr Bag—salah satu sesepuh rombongan selain Mas Paryono. Saya lebih tertarik pada Ranukumbolo siang itu. Saya tidak peduli pada apapun.

Pagi itu saya sempatkan menaiki sebuah tanjakan. Hanya sekedar olahraga pagi. Saya menaiki tanjakan itu seperti orang berlari dengan nafas tersengal-sengal. Dengan bersusah payah sampai juga diatas. Setelah itu saya menengok ke belakang dan menikmati indahnya Ranukumbolo. Air beningnya, terlihat menyala di tanjakan yang biasa disebut Tajakan Cinta itu. Nama yang aneh dan menggelikan.

Hanya ada sedikit orang hari ini di Ranukumbolo. Hanya ada sedikit pendaki berlalu-lalang. Ada yang berwajah cerah karena bisa mencapai puncak. Tidak seperti pendaki yang saya temui tempo hari.

Setelah kawan-kawan pergi traking, saya dan Mr Bag memulai agenda kami, memasak. Nasi dan sayur—yang entah apa namanya—hari itu harus kami buat sebelum kawan-kawan kembali dari trakingnya. Kami bergerak cepat. Hari ini saya seperti ibu-ibu, mengupas kentang dan memotong sayuran lalu memasaknya. Selain memasak, kami juga harus mencuci alat-alat makan dan masak. Air di botol-botol pun kami isi. Seelum jam 1 semua beres. Saya dan Mr Bag bebas menimati danau.

Hari itu, orang-orang seperti emilih menjauh dari Ranukumbolo yang indah. Saya makin senang. Artinya hari itu Ranukumbolo milik saya siang itu. Mungkin bersama dengan Mr Bag. Sebenarnya saya tidak rela berbagi dengannya, tapi mau bagaimana lagi?

Saya duduk di kursi sambil memegang alat tulis. Mungkin seperti penyair. Tapi saya bukan penyair dan saya tidak seproduktif dulu dalam menulis puisi. Seperti zaman SMA atau awal-awal kuliah. Menulis puisi gombal picisan saja tak mampu.

Ketika saya duduk di bibir danau, seekor burung yang entah apa namanya, mendeketi saya. Burung itu nampak berani, hingga jarak saya dengannya 2 meter saja. Tidak seperti biasanya ada burung sedekat itu dengan saya. Dan kicau burung seharian saya dengar di Ranukumbolo. Pengalaman menyenangkan tentunya. Kabut berkali-kali melewati Ranukumbolo dengan cepat.

Meski tidak bisa mencapai Mahameru, saya tidak sedih. Meski Mahameru belum memberi damainya, namun Ranukumbolo membuat saya damai. Saya merasa nyaman tanpa gangguan. Benar-benar tanpa tekanan. Itu yang saya rasakan. Di dunia ini, damai tersisa di tempat sepi yang jauh dari jangkauan kebanyakan manusia.

Di sekitar Ranukumbolo, terdapat beberapa nisan. Sebagai peringatan pada pendaki yang tewas dalam pendakiannya. Mereka seperti Soe Hok Gie, yang wafat disekitar Mahameru karena terhisap gas beracun bersama Idhan Lubis 16 Desember 1969.

Seperti juga Gie, pendaki-pendaki yang dinisankan itu juga mati muda juga seperti Gie. Muda adalah masa dimana seseorang begitu polos dan naïf menjalani kehidupan. “Masa muda, masa yang berapi-api,” kata haji Rhoma Irama dalam lagunya darah Muda. Pernah ada yang berpendapat, mati muda adalah keberuntungan. Entahlah mereka yang mati di gunung adalah manusia muda beruntung barangkali.



Rabu, 22 September 2010

Ini hari terakhir di Ranukumbolo. Tempat saya bisa tidur nyenyak. Makan nikmat seadanya. Menjadi menusia damai. Dan entah apalagi. Dengan berat hati, Ranukumbolo harus kami tinggalkan.

Setelah berkemas, pagi itu juga kami berfoto dipinggir danau. Juga dengan latar Tanjakan Cinta. Selesai berfoto, kami mulai berjalan. Saya pun dengan berat hati menoleh danau indah ini. Ini adalah tempat menunggu paling indah. Selama masih ada cadangan makanan tentunya.

Bagaimanapun kami harus pergi dari Ranukumbolo. Dengan carrier dipunggung, kami melewati jalan yang kami lewati ketika pergi. Tiga hari tinggal di Ranukumbolo membuat saya berkhayal. Dimana saya ingin sekali memiliki Ranukumbolo dan sekitarnya. Entah bagaimana caranya!? Saya akan buat aturan baru, tidak ada orang yang boleh melihat dan menikmati Ranukumbolo kecuali saya. Ya khayalan yang serakah juga.

Butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan dari Ranukumbolo ke Ranupane. Sampai Ranupane, kami singgah sebentar di Ranuregulo.Sisa waktu sebelum ke Surabaya, kami gunakan mengunjungi Bromo. Perjalanan dari Ranupane menggunakan mobil hardtop yang mengantar kami kemarin. Perjalanan ke Bromo seperti offroad. Jadi cukup seru. Perjalanan pulang dari Ranukumbolo diiringi hujan juga hingga Tumpang.

Meski gagal ke Mahameru, perjalanan tetap menyenagkan dan saya masih ingin mengulangnya lagi. Suatu hari...

Rabu, September 29, 2010

Rumah Kaca Itu Bernama Hindia Belanda



Hampir semua orang pergerakan Indonesia pernah dikuntit Politieke Intelingen Dienst (PID). Pramudya Ananta Toer, pernah menyinggung dalam seri terakhir dari tetralogi Buru, Rumah Kaca. Dimana ada seorang perwira polisi bernama Pangemanan yang rajin menguntit Minke yang hidupnya sudah dihancurkan pemerintah kolonial.
PID pastinya bisa dianggap sebagai badan intelejen pemerintah. Dimana mereka bisa membuntuti siapa saja yang mereka angap berbahaya. Di Zaman Hindia Belanda, kaum pergerakan adalah kaum berbahaya.
PID ada demi menjaga ketentraman pemerintah Kolonial. Pemberontakan tentu sangat dihindari pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Karenanya, segala gerak-gerik kaum pergerakan harus terus diawasi
PID Menguntit
Mengawasi kaum pergerakan begitu efektif setelah PID dibentuk. Gagasan pembentukan organisasi ini muncul pada tahun 1914, ketika PD I meletus. PID dibentuk sebagai satu divisi KNIL. Sebuah kantor dinas intelejen pun berdiri di Batavia tahun 1914. Tujuan organiasi ini adalah untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang aktifitas agen Jepang di Hindia Belanda.
Secara resmi PID baru berdiri pada 6 Mei 1916. Dengan fungsi lebih luas dibandingkan satu divisi KNIL. Mengawassi dan mengontrol organisasi pergerakan radikal adalah salah satu tugas utamanya. Mekanisme kerja PID berhubungan erat dengan kantoor voor Chineesche Zaken, Adviseur voor Inlandsch Zaken en Arabische Zaken. PID memusatkan perhatian pada organisasi dan peristiwa yang sama.
Semasa PD I berakhir, secara khusus PID memusatkan perhatian pada SI dan ISDV. Setelah itu aktifitas PID berhenti sementara pada 1919. Namun tidak lama setelah itu Jaksa Agung menulis surat pada Gubernur Jenderal agar PID diaktifkan. Ini dikarenakan, si Jaksa melihat, gerakan-gerakan kebangkitan akan meluas.
Data untuk mengkualifikasikan orang orang atau organisasi dianggap membahayakan rust en orde sangat diperlukan. Selain itu, dibentuk pula badan baru dalam dinas kepolisian dengan fungsi intelejen pada 1919 yang bernama Gewestelijke Recherche Bureau. Sebagaian besar anggota badan ini adalah bumiputra. Pada 1930, ketika dikonsolidasikan GRB telah beranggotakan 800 orang pribumi yang tersebar dalam 100 lokasi berbeda di Jawa dan Madura.
Selain badan-badan tadi, di tubuh kejaksaan juga terdapat badan intelejen sendir yang bernama Algemene Recherche Dienst. Organisasi ini keberadaannya tidak ada pemberitahuan resminya.
PID pastinya membayangi gerakan kiri yang rajin mogok dan melakukan mimbar bebas pada decade 1920an. Tindakan anarkis kaum kiri ini gagal oleh PID dalam aksi mogok buruh kereta api tahun 1923.
Pada Desember 1931, Pemerintah Jepang melakukan devaluasi mata uang Yen. Segera Hindia Belanda dibanjiri barang-barang buatan Jepang yang laku keras karena murah harganya. Hal ini tentu membahayakan kepentingan pemodal Hindia Belanda yang lain. Selain itu, banyak orang Jepang masuk ke Hindia dan segera membuka toko mereka. Dimana mereka merekrut orang pribumi sebagai pembantu di toko. Kecemasan petinggi Belanda, membuat Menteri Urusan Tanah Jajahan Colijn memerintahkan De Jonge untuk mengumpulkan laporan-laporan intelejen yang sempurna, sistematis dan sangat rahasia mengenai kehadiran orang-orang Jepang di Hindia Belanda. Selain cemas dengan ekspansi dagang orang Jepang, pemerintah kolonial juga cemas dengan aksi spionase agen-agen Jepang—yang mulai membangun negaranya yang militerisme-fasis dan membahayakan. Ketakutan pemerintah kolonial yang lain adalah pengaruh dari mata-mata Jepang terhadap kaum pergerakan, pers bumiputra dan raja-raja local di tanah jajahan. Pendekatan terhadap kaum pergerakan dibidang penerbitan adalah pemasangan iklan besar-besaran dengan syarat adanya artikel pro Jepang.
Kegiatan spionase di Hindia Belanda juga mendapat dukungan dari Angkatan Laut Jepang, departemen penerangan, dan Departemen Luar Negeri Jepang. Biro riset Ekonomi Jepang di Asia Timur juga menyiapkan dan mendidik mata-mata. Kegiatan penerbitan orang-orang Jepang juga mendapat perhatian khusus dari PID. Dan orang-orang Jepang, diantaranya juga merasa diawasi PID hingga membuat pengalihan dengan memindah-tangan penerbitan ke orang-orang Indonesia. Seperti dalam kasus Kubo Affair, dimana Tjahaja Pesoendan, dipindah tangan kepada Djojopranoto, yang sebelumnya milik Kubo. Dimana Djojopranoto dan Saerun—keduanya jurnalis kenamaan zaman itu—akhirnya dipenjara terkait dengan kasus Kubo yang ingin mengadakan propaganda pro Jepang dengan jalan penerbitan.
Semakin meningkatnya kebutuhan informasi akan Hindia Belanda, maka penyebaran agen mata-mata dilakukan pada decade 1930an. Di Batavia, kegiatan mata-mata yang kemudian terkenal adalah Nanyo Warehousing Company. Dimana salah satu karyawan disitu adalah Naujo Aratame yang seorang perwira Angkatan Laut Jepang—yang mendapat tugas spionase. Dia juga ditempatkan di konsulat Jenderal Jepang di Batavia. Sesudah tahun 1939, kegiatan spionase Jepang juga ditingkatkan. Dimana hamper semua karyawan Jepang diberbagai perusahaan Jepang di Hindia Belanda, dijadikan agen mata-mata yang mengumpulkan data-data militer, organisasi sabotase, dan mencoba menyuap orang-orang sipil dan militer. Hotel dan tempat pelacuran dijadikan sebagai tempat pengumpulan informasi. Sebagian orang pergerakan menganggap keberadaan Jepang bukan sebuah bahaya.
Sejak 1933, De Jonge melarang para pegawai masuk organisasi pergerakan. Dinas intelejen diefektifkan untuk meneror kaum pergerakan. Pemerintah kolonial makin refresif setelah pemberontakan kapal Zeven Provincien. Prinsip tindak terror pemerintah dan alat intelejennya itu didasarkan pada Rust en Orde. Selain PID, polisi rahasia dan reserse juga aktif. Setiap pejabat pamong praja bahkan memiliki mata-mata sendiri untuk mengawasi daerah wewenangnya.

Kematian Husni Thamrin
Thamrin adalah tokoh penting pergerakan di Jakarta karena dia adalah anggota Volksraad dari fraksi Nasional. Dia adalah keturunan Indo-Inggris dari pihak ayah. Thamrin berasal dari keluarga pangrehpraja yang cukup berpengaruh di Sawah Besar Batavia pada pergantian abad XIX-XX.
Sejak muda Thmarin sudah menjadi orang dewan. Dimulai ketika dia menjadi Gemeenteraad (Dewan Kota) Batavia. Dia terhitung anggota paling muda dari kalangan pribumi. Selain sibuk sebagai Gemeenteraad, Thamrin juga aktif dalam dunia pergerakan. Mulai dari Kaoem Betawi hingga Partai Indonesia Raya.
Ketika Hindia Belanda hampir tumbang, Thamrin didekati oleh orang-orang Jepang di Indonesia. Hingga kemudian Thamrin dianggap membahayakan. Thamrin sendiri meninggal di rumahnya dalam kondisi penuh tekanan dari polisi kolonial dan pejabat Hindia Belanda yang menganggap Thmarin berkolaborasi dengan Jepang. Bukan tidak mungkin Thamrin juga dicurigai dan diintai oleh PID.

Bayang-bayang NAZI
Orang Belanda tampak takut pada orang-orang Jerman—karena dikira mereka itu pro NAZI. Di Hindia Belanda juga terdapat kaum fasis yang tergabung dalam NSB. Ketika Jepang akan mendarat, orang-orang Jerman memang ditangkapi untuk dimasukan kamp tahanan.
Fobia akan NAZI di Hindia Belanda cukup menarik. Pernah ada seorang siswa MULO di Malang yang harus berurusan dengan polisi kolonial karena telah menggambar lambang swastika di toilet tempat umum di kota Malang.


Dibawah Pengawasan Spionase
Tan Malaka adalah oran yang hidup dibawah intaian banyak intel sejak muda. Karenanya Tan Malaka pun menjadikan dirinya seperti bunglon untuk menghindari intaian intel-intel imperialis.
Tidak hanya kaum pergerakan, taruna KMA Bandung seperti Nasution juga tidak lepas dari intaian intel Belanda.
Pasca gagalnya pemberontakan komunis 1927, banyak orang-orang komunis dari Indonesia yang lari ke Eropa, termasuk ke Negeri Belanda. Pengawasan berlebih trhadap kadet Indoensia bisa jadi semakin ditingkatkan. Bukan tidak mungkin seorang kadet pribumi terpengaruh komunis. Hal ini berbahaya karena seorang perwira bisa mempengaruhi bawahannya dalam ketentaraan. Komunisme dalam KNIL di masa depan tentunya akan membahayakan pemerinah kolonial Hindia Belanda. Pengawasan terhadap kadet Indonesia bisa jadi tidak jauh berbeda seperti halnya PID mengawasi orang-orang pergerakan. Pengawasan-pengawasan itu tentunya membuat para kadet Indonesia lebih berhati-hati. Salah satu cara adalah denan menjauhi mahasiswa Indonesia, yang kemungkinan besar adalah anggota Perhimpunan Indonesia.
Soejarso Soerjosoerarso adalah kadet yang telah mendapat pengawasan dari pimpinan KMA. Semua ini bermula ketika Soejarso masih sekolah di HBS Bandung. Saat itu diadakan pemutaran film. Saat dinyanyikan lagu kebangsaan Belanda—Wilhelmus van Nassau—untuk menghormati Ratu Wilhelmina, Soejarso tidak mau berdiri padahal semua hadirin berdiri. Ketika menjadi KMA Breda, Soejarso sebenarnya sudah mulai berhati-hati. Inilah salah satu cara pemerintah kolonial membersihkan KNIL dari pengaruh nasionalis dimasa depan.

Rabu, September 15, 2010

Muhamad Husni Thamrin: Dari Betawi Untuk Indonesia


Adalah Muhamad Husni Thamrin. Tokoh elit Betawi zaman kolonial yang memiliki kepedulian besar pada Jakarta. Pada penduduknya, pada lingkungannya, juga pada banjirnya yang datang tiap musim hujan. Tidak hanya pada Jakarta, Thamarin juga berjuang untuk Indonesia dan rakyatnya, yang kala itu disebut Inlander oleh kaum muka pucat.

Perjuangan Thmarin bukan tanpa resiko. Sudah pasti, keberpihakan pada kaum pribumi, yang umumnya, miskin akan berakibat adanya permusuhan atas dirinya dari kalangan penguasa. Kematian, menyisakan banyak kecurigaan. Thamrin meninggal dalam penahanan di rumahnya. Ketika itu Thamrin dalam kondisi sakit. Sebelum sakit, ditahan dan meninggal, Thamrin dicurigai memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Jepang yang diam-diam memusuhi pemerintah kolonial, sebelum Jepang mendarat dan mengalahkan Hindia Belanda di tahun 1942.

Terlahir sebagai anak dari keluarga berada, Thamrin sempat menikmati bangku sekolahan. Namun, Thamrin tidak sempat meluluskan sekolahnya di KW III—sebuah sekolah menengah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang pribumi—dengan alasan ingin bekerja. Pergaulannya ketika dewasa dengan kaum intelektual yang kritis terhadap pemerintah mendorong Thamrin untuk menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) maupun Volksraad (Dewan Rakyat).

Muda dan Bergerak

Pertemuan Thamrin dengan Daan van der Zee di KPM, tempat Thamrin pernah bekerja, lalu berlanjut dengan perbincangan di rumah van der Zee adalah peristiwa penting yang menntukan jalan hidup Thamrin muda. Dua tokoh yang saling mengagumi ini akhirnya bekerja sama memeperbaiki kondisi kampung-kampung Betawi Batavia yang tidak tersentuh oleh pemerintah kolonial.

Thamrin telah masuk dalam kehidupan politik sejak dini. Setidaknya setelah dia berkawan dengan Daan van der Zee, sekretaris Gemeenteraad Batavia. Pergaulannya dengan kaum Intelektual Belanda yang peduli dengan kondisi Hindia saat itu adalah salah satu pendorong Thamrin untuk duduk dalam kursi Gemeenteraad maupun Volksraad. Diusianya yang ke-25 tahun Thamrin sudah terlibat dalam pembangunan kota Batavia dengan duduk sebagai anggota Gemeenteraad. Sebagai anggota dewan rakyat Thamrin selau berada dibelakang kepentingan rakyat.

Lingkup perjuangan Thamrin semakin luas ketika dia masuk Volksraad. Thamrin tidak hanya membela rakyat Betawi tetapi seluruh masyarakat Hindia yang menderita karena tekanan Pemerintah kolonial. Pergulatannya membela rakyat tertindas kemudian mengantarkannya terlibat dalam dunia pergerakan nasional. Kasus besar yang menjadi kemenangan Thamrin selama duduk di Volksraad adalah Poenale Sanctie yang kemudian dihapuskan menyengsarakan para kuli kontrak di Sumatra.

Thamrin terkenal solidaritas yang tinggi dengan sesama kaum pergerakan. Setidaknya Thamrin pernah membantu perjuangan Soekarno yang gerakanya dipangkas pemerintah kolonial. Thamrin dengan kapasitasnya sebagai Volksraad kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah mengajukan pemindahan Soekarno ke tempat yang lebih baik dalam hukuman pembuangannya.

Ketika sekolah swasta milik kaum pergerakan ditekan oleh Wilde Schoolen Ordonantie (ordonansi sekolah liar), Thamrin juga memberikan pembelaannya terhadap sekolah swasta tanpa subsidi pemerintah dengan menentang kebijakan pemerintah kolonial itu. Thamrin juga memperjuangkan hal-hal yang sangat tidak disetujui pemerintah kolonial seperti masalah pengunaan bahasa Indonesia, merubah nama Hindia Belanda menjadi Indonesia. Bahkan menuntut diadakannya parlemen di Hindia Belanda.

Thamrin juga konsisten dengan perjuangannya. Dia berkali-kali berusaha menyatukan seluruh unsur pergerakan dalam satu wadah baik yang koperatif maupun non koperatif. Hal ini sangat sulit karena sering terjadi konflik antar golongan ditubuh federasi organisasi pergerakan (PPPKI) yang dia bentuk. Sebagai manusia Thamrin tidak lepas dari kegagalan dan hujatan.

Sebagai anggota Volksraad beberapa tuntutannya banyak yang tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah. Tuntutan terbesar Thamrin terhadap pemerintah adalah diadakannya sebuah parlemen bagi Hindia Belanda yang mulai diajukan sejak petisi Soetardjo. Tuntutan ini sebenarnya akan membawa perubahan susunan pemerintahan di Hindia Belanda dalam kurun waktu selama sepuluh tahun. Thamrin juga memperjuangkan pengunaan bahasa Indonesia di Volksraad dan mengajukan perubahan nama Hindia Belanda menjadi Indonesia. Tentu saja permintaan itu ditolak pemerintah kolonial.

Dalam dunia pergerakan Thamrin juga pernah dihujat bahkan digolongkan sebagai Kaoem Senang oleh sesama orang pergerakan dari Gerindo. Biasanya Thamrin akan menanggapinya biasa saja. Dia hanya akan beraksi luar biasa didalam sidang Volksraad. Thamrin selalu menyimpan energinya untuk perjuangan di Volksraad. Dari bebberapa sumber tentang dirinya dapat ditarik kesimpulan bahwa Thamrin tidak pernah lepaskan energinya untuk berdebadat habis-habisan denga sesama tokoh pergerakan.

Ketika tokoh pergerakan lain berjalan sendiri dalam pergerakan maka Thamrin berusaha mempersatukan semua golongan dalam dunia pergerakan dalam sebuah federasi untuk malakukan aksi bersama menuntut sebuah perubahan dalam susunan pemerintahan di Hindia Belanda. Jadi Thamrin bukan tokoh pergerakan biasa, dirinya bahkan telah menampilkan diri sebagai pemimpin besar dalam pergerakan nasional Indonesia. Setidaknya Thamrin telah dua kali menyatukan kaum pergerakan dalam satu wadah. PPPKI adalah yang pertama dan Gapi adalah yang kedua dan terus berjalan setelah Thamrin wafat. Kepada kemajuan kota Batavia, Thamrin telah memberikan dedakasinya dalam memperbaiki kampung dan menanggulangi banjir. Sayangnya apa yang diperjuangkan Thamrin itu belam tercapai sampai sekarang. Kaum miskin kota di Batavia juga telah diperjuangkan kemudahan hidupnya oleh Thamrin dan ini juga belum terpenuhi sampai sekarang. Banyak yang menjadi cita-cita Thamrin yang belum terpenuhi sampai sekarang.

Dibawah Cengkraman Hindia Belanda

Dimata pemerintah kolonial, pada awalnya Thamrin adalah tokoh yang tenang, lama kelamaan apalagi setelah PNI di tindak pemerintah kolonial pada tahun 1929, Thamrin mulai bersikap keras terhadap pemerintah. Lama kelamaan Thamrin semakin dianggap berbahaya saja dimata pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial kemudian memgunakan sebuah dokumen untuk menjebak Thamrin. Karenanya Thamrin dikenai tahanan rumah dan meninggal dalam tahanan. Kepergiannya diantar oleh 20.000 orang yang setia kepada cita-cita pergerakan. Thamrin pergi tanpa pernah mengerti bagaimana Indonesia yang dia perjuangkan sekarang ini. Terbukti tidak pernah ada anggota parlemen Indonesia yang mampu mengikuti jejaknya dengan baik. Selama ini anggota parlemen Indonesia hanya mengurus dirinya sendiri dan tidak peduli dengan kepentingan rakyat. Mereka tidak pernah mau tahu di zaman kolonial dulu Husni Thamrin adalah pembela kepentingan rakyat yang gigih.

Thamrin telah menampilkan diri sebagai anggota dewan yang konsisten membela rakyat (di Volksraad maupun Gemeenteraad), tokoh pergerakan yang menuntut sebuah perubahan radikal dalam susunan pemerintahan di Hindia Belanda, tokoh pergerakan yang berusaha menyatukan kaum pergerakan dalam satu wadah untuk menuntut perubahan di tanah Hindia. Thamrin dan pendukungnya menginginkan sebuah parlemen bagi Indonesia. Hal yang paling sering dilupakan orang adalah perjuangan Thamrin yang didukung Parindra-nya dalam merubah nama Hindia Belanda menjadi Indonesia dan Inlander menjadi Indonsische. Dengan begitu Thamrin telah berusaha mempertinggi derajat rakyat pribumi yang direndahkan dengan sebutan Inlander menjadi orang Indonesia yang merdeka.

Masalah banjir di Jakarta, juga menjadi salah masalah yang dihadapi Thamrin sejak muda. Begitu juga masalah lingkungan pada perkampungan rakyat di sekitar kota Jakarta. Thamrin adalah salah satu tokoh penting Jakarta yang memiliki kepedulian besar pada Jakarta. Meski sistem di Hindia Belanda yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil, Thamrin sebenarnya bisa berusaha memperjuangkan rakyat kecil.

Harusnya, Thmarin adalah teladan bagi anggota parlemen yang kini dijuluki wakil rakyat. Banyak orang melihat bahwa wakilakyat masa kini lebih banyak disibukan dengan urusan pribadinya daripada urusan rakyat kecil. Dalam keterbatasan, Thamrin bisa melakukannya, namun tidak banyak wakil rakyat yang mau seperti Husni Thmarin.

Senin, September 06, 2010

Ragusa Lagi



Siang bolong, adalah waktu dimana Jakarta sedang panas-panasnya. Rasanya ini sudah terjadi sejak zaman kolonial. Untung saja, beberapa tahun sebelum Hindia Belanda bertekuk-lutut pada Balatentara Jepang ditahun 1942, sudah ada Ragusa. Es krim ini konon sudah ada sejak 1932, namun masih brdagang keliling di sekitar Pasar Gambir. Inilah es krim ala Italia yang merupakan salah satu legenda es krim di Indonesia.

Hingga akhirnya Ragusa kemudian memiliki lahan sendiri, di Jalan Vetaran satu, sebelumnya bernama Jalan Segara dimana pernah bermarkas pasukan Pengawal Sukarno, Cakrabirawa. Jalan Veteran, sejak dulu sangat straegis. Dekat dengan Wilhelminapark (Taman Masjid Istiqlal) dan Koningenplain (Monas). Dekat juga dengan Gambir dan juga istana Gubernur jenderal (Istana Negara).

Es krim ragusa, kadang dianggap es krim tradisional. Seperti industri makanan rumah-tangga. Tidak diproduksi pabrik besar. Rasanya jelas unik. Dan berbeda daripada es krim buatan pabrik. es krim disini menggunakan bahan-bahan berkualitas mulai dari susu sampai bahan lainnya. Semuanya dibuat secara handmade, bukan diambil dari pabrik jadi kualitas akan tetap terjaga. Bahkan es krim yang berasal dari Italia ini tidak menggunakan pengawet.

Es Krim Ragusa masih legenda hingga kini. Selama beberapa generasi, Ragusa masih menjadi tujuan kuliner yang menyenangkan. Jika anda menikmati Ragusa di Jalan Veteran, anda juga akan nikmati suasana yang agak Jadul alias tempo doeloe sekali. Tidak AC, hanya ada kipas angin. Selain itu anda juga akan duduk di kursi-kursi rotan. Beberapa potret tua juga dipajang didinding. Suasananya mirip zaman kolonial sebelum Perang Dunia II. Sangat indies sekali menurut saya.

Walau bangunannya dan interiornya kuno, tidak berarti rasa dari es krim tidak layak untuk dicicipi. Anda dapat mencoba menu yang ada misalnya banana split, special mix, spaghetti ice cream, cassata siciliana, tutti frutti, chocolate sundae, lemon ice, cola float dan nougat. Dengan tampilan es yang menarik, Anda dapat merasakan keunikan rasanya. Bila Anda bingung memilih, Anda dapat menentukan pilihan Anda setelah melihat gambar-gambar es krim yang ada dipajang di sekeliling dinding bagian atas.

Ragusa, karena ada aroma indies-nya, membuat saya ingin menikmatinya lagi jika ke Jakarta. Ragusa juga mengingatkan masa-masa awal bekerja di Jakarta. Ketika lelah mencari data di perpustakaan Salemba, atau menulis kronik, Ragusa menjadi tujuan. Bukan hanya saya, tapi juga kawan-kawan lain, yang mungkin sampai hari ini masih merindukannya. Terakhir kali di Ragusa, saya bersama kawan saya asal Belanda, Fredrick. Menyenangkan sekali mengobrol disana, terutama bagi anda yang suka bicara soal sejarah.

Jika anda merasa gerah dengan kota Jakarta, terutama jika anda di sekitar Monas, ragusa mungkin bisa sedikit basahi tenggorokan anda.

Kamis, Agustus 05, 2010

Isu Kudeta Dewan Jenderal

Tidak ada yang bernama Dewan Jenderal. Hanya saja, ada sekelompok jenderal yang agak bersebrangan dengan Sukarno menjelang Oktober 1965. Nyatanya kudeta Dewan Jenderal tidak pernah terjadi, namun hanya ada satu Jenderal pemenang.


Senjata Anti Komunis

Perang Ideologi juga melahirkan perang teknologi, termasuk teknologi persenjataaan. Ketika Uni Sovyet merilis AK-47 yang melegenda itu, maka Amerika Serikat kemudian menciptakan M-16. Kedua sejata itu adalah symbol perang dingin juga. [1]

RPKAD muncul dalam sebuah perayaan HUT ABRI penuh duka. Bukan parade militer yang diadakan tapi iringan jenazah 6 perwira tinggi AD dan seorang perwira pertama. Kala itu M-16 belum sepenuhnya digunakan AS. Anggota militer AS di Vietnam saja masih menggunakan senjata M-14 maupun M-1 Garand. Ketika itu senjata standar AD bukanlah M-16 atau semacamnya. AK-47 adalah yang paling banyak diandalkan oleh para prajurit TNI yang kala itu sudah disebut ABRI.

Bisa jadi senjata buatan Amerika itu pesanan resmi, namun memesan senjata baru yang belum jelas kemampuannya juga hal jangal. Apalagi senjata itu berasal dari Negara yang jelas menjadi musuh kepala Negara. Pesanan M-16 itu, tentu tidak akan terjadi tanpa ada hubungan antara jenderal AD dengan AD Amerika Serikat.

Hubungan Sukarno dengan AS kala itu cukup buruk. Sangat mustahil jika AS memberikan senjata andalan mereka ke Indonesia—yang mereka anggap komunis. Apalagi, seluruh dunia tahu jika Sukarno selaku Presiden RI cenderung bersikap pro pada Negara Sosialis yang baru merdeka dan tidak menyukai imperialisme gaya barunya Inggris dan Amerika Serikat. Petinggi AD tampak berhubungan dengan AS menjelang PRRI/Permesta meletus. AS awalnya hanya mau membantu BRIMOB saja. Dimana pasukan para militer kepolisian ini pernah mendapat latihan ranger dari AD AS. Latihan ranger biasanya hanya diberikan kepada AD, bukan paramiliter polisi.



Tenatara Amerika menggemgam senapan M-16. (http://www.fxha.com/Gallery01.htm)


AD RI baru dilirik AS ketika PRRI/Permesta dianggap tidak mampu melawan pemerintahan komunis Sukarno. Kebetulan Nasution, panglima AD yang cukup berpengaruh cukup bersebrangan dengan Sukarno. AD kemudian tampil sebagai kelompok anti komunis, hingga sering bersebrangan dengan politik Sukarno.

Angkatan Darat ditahun 1960an, dipimpin oleh orang-orang yang di zaman revolusi sudah menjadi perwira militer—dengan pangkat antara Kapten hingga Letnan Kolonel. Mereka biasanya perwira kelahiran 1917-1925. Beberapa diantara perwira tinggi AD itu diantaranya berasal dari KODAM Diponegoro, Jawa Tengah, setidaknya pernah berhubungan dengan Jawa Tengah semasa revolusi.

Ahmad Yani berhasil menjadi orang nomor satu di AD menggantikan Nasution sejak tahun 1962. Seperti Nasution, Yani juga kemudian bersebrangan dengan Sukarno soal politik yang dijalankan Sukarno. Perbedaan paham antara Presiden dengan petinggi Angkatan Darat itu tentu menjadi peluang bagi CIA AS yang begitu ingin menggulingkan Presiden Sukarno. CIA-AS percaya bahwa AD adalah sekutu terbaik untuk menggulingkan Sukarno. Petinggi AD yang terkesan tidak loyal terhadap Sukarno.

CIA mulai merangkul AD setelah Pemberontakan PRRI/Permesta. Dimana CIA-AS merasa memiliki sekutu baru untuk menggulingkan Sukarno yang cenderung ke kiri. Sebelumnya, AS lebih percaya pada polisi sebagai elemen anti komunis potensial di tubuh militer Indonesia. Peristiwa Madiun yang melibatkan sebagian AD di Jawa Tengah, membuat AS yakin bahwa AD adalah sarang komunis yang sulit dipercaya. Apalagi Panglima Sudirman merangkul Tan Malaka yang kiri dalam Persatuan Perjuangan di zaman revolusi.

Tidak heran jika pasukan Brimob dari kepolisian pernah mendapat latihan ranger. Latihan yang seharusnya diberikan kepada pasukan Angkatan Darat. Tujuan tidak lain agar Polisi bisa bertempur melawan komunis. Perkembangan Brigade Mobil itu tentunya diperhatikan oleh Amerika Serikat—yang sedang giat-giatnya melakukan propaganda anti komunis. Tentu ada maksud dalam memperkuat Brimob. Tentu demi menghancurkan kaum komunis. Kala itu AD—yang kemudian dekat dengan AS—belum dilirik AS—sebaga kekuatan anti komunis.[2] AD yang terlibat dalam peristiwa Madiun dan sudah terkena anasir PKI. AS begitu menjaga jarak dengan AD sebelum kasus PRRI/Permesta.

Banyak yang sepakat bahwa keterlibatan AS melatih polisi karena Terbongkarnya konspirasi CIA untuk menggulingkan pemerintah Indonesia membuat panik pemerintah Amerika Serikat. Amerika Serikat dan CIA kemudian membuat manuver untuk ”mengambil hati” Bung Karno. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah AS adalah memberikan bantuan militer bagi Indonesia dengan mendidik para perwira militer Indonesia di AS.

Brigade Mobil juga kemudian mendapatkan ”berkah” dari aksi permintaan maaf oleh pemerintah Amerika Serikat ini. Pada bulan Januari 1959, pemerintah AS memberikan bantuan pelatihan militer dan senjata kepada Brigade Mobil dari Kepolisian Republik Indonesia. Ada 8 perwira polisi yang dididik di Okinawa (pangkalan marinir AS) sebagai kontingen pertama. Selanjutnya pada bulan September 1959 kompi pertama Brimob Ranger telah dibentuk. Pada pertengahan 1960 kontingen kedua perwira polisi Indonesia kembali dididik menjadi Ranger.

Selain mendapatkan pelatihan, pada pertengahan 1960, Ranger Brigade Mobil (saat itu namanya berubah menjadi Pelopor) mendapatkan bantuan senjata senapan serbu AR 15 yang merupakan versi awal atau versi non-militer dari M 16 A1. Pasukan Menpor adalah salah satu pengguna pertama senjata ini, bahkan pada saat itu pasukan reguler batalyon Infanteri AS yang ditugaskan di Vietnam sebagai observer (pengamat) militer AS saja masih menggunakan senjata M 1 Garrand sebagai perlengakapan tempur di Vietnam.[3]

Setidaknya, ditahun 1965, tepatnya pada 5 Oktober 1965, ada anggota RPKAD yang menyandang senapan M-16, yang menjadi senapan standar militer Amerika Serikat.[4] Tidak diketahui bagaimana senjata tersebut bisa masuk ke Indonesia. Hanya bisa dipastikan senjata itu berasal dari Amerika Serikat.

Senjata-senjata itu bahkan digunakan RPKAD untuk membersihkan orang-orang Komunis. Senjata asal Amerika Serikat itu macet ketika digunakan. Sebenarnya senjata ini baru tahap uji coba. RPKAD sendiri lebih suka memakai AK 47 yang jelas terbukti garang dalam pertempuran meski akurasinya kalah dengan M 16.[5]

Keamanan Sukarno yang terancam, membuat petinggi militer membentuk sebuah pasukan yang lebih kuat lagi untuk menjaga keselamatan Pemimpin Besar revolusi.

Ketika Cakrabirawa berdiri, pada Juni 1962, setiap Angkatan memberikan pasukan khususnya. Hanya AD yang tampaknya enggan memberikan pasukan khususnya. Cakrabirawa yang begitu loyal pada Sukarno kemudian tampak seperti SS-Nazi yang loyal pada Hitler. Tidak hanya loyal tapi juga tangguh.

Petinggi AD kemungkinan tidak ingin sebagian pasukan RPKAD masuk Cakrabirawa. Dalam kondisi AD bersebrangan dengan Sukarno, sangat tidak mungkin AD memberikan pasukan terbaiknya untuk Sukarno.

Alasan Nasution dan petinggi AD lain yang menyatakan RPKAD hanya memfokuskan diri menjadi pasukan khusus, adalah alasan masuk akal dan bisa diterima banyak pihak termasuk Sukarno sendiri. RPKAD pun bebas dari jeratan masuk kandang Sukarno. Sementara RPKAD terus menempa diri menjadi pasukan khusus, semua anggota RPKAD masih bisa dikendalikan pimpinan AD tentunya.

AD merasa RPKAD adalah elemen potensial meski jumlahnya kecil. Sementara itu Kostrad kurang begitu diperhitungkan karena kebanyakan pasukannya tersebar. Sementara RPKAD berada disekitar Jakarta dan bisa digerakan sewaktu-waktu. Bagaimanapun RPKAD adalah kekuatan penting AD, karena merupakan pasukan terlatih dan siap tempur. Meski begitu, Kostrad sendiri dimasa Sukarno sebenarnya bisa menjadi pasukan pemukul yang baik karena memiliki pasukan lintas udara (airborne), yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kostrad adalah pasukan cadangan yang memiliki daya pukul. Pasukan ini ada setelah Trikora selesai.


RPKAD berfose denganorang sipil ditahun 1966. (http://psik.multiply.com/photos/photo/11/5)


Keberadaan AD, dengan pasukan Kostrad dan RPKAD tentu menakutkan banyak pihak. Artinya jenderal-jenderal yang tidak loyal terhadap Sukarno itu tentunya memiliki kekuatan, yang layak ditakuti lawannya. Bukan tidak mungkin Sukarno juga khawatir. Jenderal-jenderal AD yang tidak loyal tentu cukup punya taring untuk adu kekuatan dengan musuh-musuhnya yaitu, kaum komunis. Di belakang jenderal-jenderal AD itu, ada Amerika Serikat. Dimana seorang atase militer-nya, Kolonel George Benson, yang tidak lain adalah kawan baik Yani selama sekolah staf dan komando di Fort Benning, Amerika Serikat.

RPKAD adalah unit kecil dan penting ditahun 1965. Beberapa petinggi militer Indonesia yang menjadi perwira pertama RPKAD kala itu adalah Sintong Panjaitan dan Faizal Tanjung (yang kemudian menjadi orang penting di AD pada akhir kejayaan orde baru).

Unit ini sukses menggulung beberapa pemberontakan pasca 30 September 1965. kondisi pasukan RPKAD yang tidak masuk RPKAD tentu mudah menggerakannya. Meski jumlah pasukan RPKAD di Jawa hanya tinggal separuh karena sebagaian dikirim ke perbatasan Malaysia dalam rangka konfrontasi Dwikora. Bukan hal sulit menggulung kelompok gerakan 30 September yang dipimpin oleh Untung. Pasukan yang terlibat sendiri, setelah penculikan selesai sebenarnya tidak ingin bertempur dengan siapapun. Mereka bahkan memilih kembali ke kesatuanya.

Isu sakitnya Sukarno, yang begitu parah tentu membuat banyak pihak khawatir. Banyak yang sepakat, jika dimasa itu hanya ada dua pilihan mendahului atau didahului. Beberapa orang bahkan mengatakan jika banyak pihak bersiap untuk menjaga kemungkinan jika sewaktu-waktu Sukarno meninggal karena sakitnya.

AD selaku musuh besar PKI tentu bersiap. Begitu juga PKI juga menjaga kemungkinan agar tidak didahului AD. Hanya orang atau pihak bodoh yang tidak bersiap dalam kondisi “Ibu Pertiwi Hamil Tua” itu. RPKAD jelas menjadi andalan jajaran petinggi AD jika pecah perang saudara.

Tidak ada RPKAD dalam Cakrabirawa? Hanya ada Banteng Raiders dari batalyon 454/Diponegoro saja pimpinan Letkol Untung. Ketiadaan RPKAD dalam Cakrabirawa bisa mengesankan bahwa AD tidak loyal pada Sukarno. Jenderal SUAD, dalam hal ini Yani, kerap berhubungan dengan Amerika. Setidaknya Yani pernah belajar di Fort Benning, AS. Dimana dia berkawan dengan Kolonel George Benson.

Mengapa RPKAD tdak masuk Cakrabirawa adalah agar petinggi AD punya pasukan andalan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.. Entah untuk kudeta maupun mengcounter kudeta sewaktu-waktu.

Ketika Konfrontasi Dwikora pun prajurit RPKAD hanya sebagian saja yang dikirim ke Kaliantan. KKO lah penyumbang terbanyak Sukarelawan Dwikora dalam konfrontasi dengan Malaysia.



4. Soal Ada Tidaknya Dewan Jenderal?

Pertentangan petinggi AD dengan Sukarno begitu kentara. Nasution, selaku perwira senior AD, yang sudah menjabat Menteri Pertahanan. Sebuah jabatan tak bergigi bagi seorang perwira tinggi militer sepertinya. Artinya Nasution tidak punya pasukan, meski tingkat jabatannya diatas Panglima yang memegang puluhan ribu pasukan yang diantaranya mahir bertempur.

Jenderal pemegang pasukan di AD adalah Suharto, Umar Wirahadikusumah (Pangdam Jakarta), Ibrahim Adjie (Pangdam Siliwangi di Jawa Barat). Di KKO ada Mayor Jenderal Hartono. Di AD, lebih kebawah lagi ada Kolonel Sarwo Edhi Wibowo komandan RPKAD, kawan lama Yani dan sama-sama berasal dari Purworejo.[6]

Petinggi AD di SUAD umumnya adalah orang-orang anti-komunis. Banyak dari para perwira ini merasa bahwa Konfrontasi melawan Malaysia di perbatasan adalah sesuatu yang tidak perlu didukung. AD tampak setengah hati saja dalam menghadapi Dwikora. Padahal Sukarno jelas begitu antusias.

Tidak heran jika Konfrontasi Dwikora juga dianggap sepi oleh sebagaian pucuk perwira Angkatan darat. Hanya ada sedikit pasukan komando Angkatan darat yang diterjunkan semasa Dwikora. Sementara, KKO yang terkenal loyal terhadap Presiden Sukarno, beserta sukarelawan lainnya sajalah yang berada di sekitar perbatasan Malaysia berperang. Sementara kebanyakan pasukan AD hanya sibuk dengan perang saudara di Jawa. Dan KKO adalah prajurit yang tidak melibatkan diri dari perang saudara—yang dibanggakan orde baru sebagai penumpasan kaum komunis.



Jenderal Abdul Haris Nasution, Wakil Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan yang gagal diculik pasukan Untung. (http://mahasurya-46.blogspot.com/p/sekilas-mahasurya.html)


Nasution tidak loyal pada Sukarno. Nasution sudah berbeda pendapat dengan Sukarno sejak Peristiwa 17 Oktober 1952. Nasution terkenal sebagai Jenderal yang cerdas dan kuat ketika menjadi KSAD. Dalam sejarah, Nasution adalah KSAD terlama. Dia sempat diskor dari posisinya sebagai KSAD selama tiga tahun. Meski banyak musuh, terutama dalam kasus PRRI/Permesta, posisi Nasution tetap kuat. Karena kuatnya posisi Nasution di AD, maka posisi Nasution kemudian dilemahkan. Tahun 1962, Nasution tidak lagi menjadi KSAD. Hingga Nasution menjadi Jenderal tanpa pasukan.

Meski tanpa pasukan, Nasution tidak sendiri dalam berbeda pendapat dengan Sukarno. Yani, pengganti Nasution, yang semula dianggap loyal kepada Sukarno juga kemudian bersebrangan dengan Sukarno. Jumlah musuh Sukarno pun bertambah dan Sukarno tidak bisa merangkul AD. Padahal AD adalah kekuatan militer terbesar di Indonesia.

Isu Dewan Jenderal semakin sensitive di zaman orde baru. Kontraversi keberadaan Dewan Jenderal tentu menjadi masalah. Seorang perwira tinggi pernah terkena masalah karena menyatakan Dewan Jenderal itu ada. Ahmad Sukandro, nama Jenderal itu, kemudian dijauhkan dari pusat kekuasaan. Mayjen Achmad Sukendro - Ditahan selama 9 bulan di RTM Nirbaya karena pernah mengakui keberadaan Dewan Jenderal dalam sebuah seminar Angkatan Darat.[7]

Ditakutkan pengakuan Sukendro itu dipercaya banyak pihak. Apalagi Sukendro juga menjadi sasaran penculikan pasukan Letkol Untung pada malam 30 September 1965. Selain itu Sukendro adalah orang kepercayaan Nasution. Nasution sendiri tidak banyak bicara soal Dewan Jenderal. Pemerintah Orde Baru adalah yang paling berkeras bahwa-sanya Dewan Jenderal itu tidak pernah ada. Hal ini dimaksudkan untuk menyudutkan kaum komunis sebagai pelaku utama kudeta 30 September agar aksi pembunuhan besar-besar yang dijalankan RPKAD dan sekutu anti komunisnya tidak tercium.

Istilah Dewan Jenderal konon diciptakan oleh petinggi partai komunis untuk menjatuhkan Jenderal Angkatan Darat. Dimana Dewan Jenderal ini berniat untuk melakukan kudeta terhadap Sukarno. Tentu saja hal ini diangap fitnah oleh kelompok perwira itu.

Ada yang menyebut bahwa kudeta akan dilakukan pada tanggal 5 Oktober 1965. Hal ini nampaknya sulit dipercaya. Tidak pernah ada terlihat bahwa para petinggi AD di SUAD melakukan persiapan kudeta terhadap Sukarno. Petinggi AD tidak melakukan manauver apapun menjelang akhir September. Artinya tidak ada bukt kuat jika AD akan melakukan kudeta pada tangga 5 Oktober 1965. Hanya ada persiapan pasukan RPKAD dalam jumlah kecil di Jakarta untuk diberangkatkan ke Kalimantan dalam rangka memperkuat pasukan dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Soal Dewan Jenderal sediri, tidak ada sebuah komunitas pun yang menyatakan diri sebagai Dewan Jenderal menjelang Peristiwa 30 September. Hanya ada sekelompok Jenderal AD saja yang bersebrangan dengan Sukarno. Mereka juga tidak menyatakan diri sebagai Dewan Jenderal. Jika pun ada yang dsebut Dewan Jenderal, tentunya bukan sebagai institusi resmi. Tidak lebih hanya sekelompok kecil Jenderal SUAD, yang tidak sadar bahwa mereka adalah sebuah komunitas. Mereka adalah orang-orang anti Sukarno.

Mereka punya potensi menjadi junta militer. Seperti yang terjadi di Negara-negara berkembang yang baru merdeka. Hal lumrah di negara seperti itu bagi AD untuk mendirikan junta militer. Jumlah AD berlebih tentu sebuah potensi demi terbentuknya junta militer. Hanya tinggal melakukan kudeta saja.




Letnan Jenderal Ahmad Yani. Orang yang dianggap Dewan Jenderal dan harus bernasib naas di Lubang Buaya karena penculikan bekas pasukan Banteng Raider yang pernah didirikannya.

(http://pahlawannasional-indonesia.blogspot.com/2008/11/jenderal-anumerta-achmad-yani.html)


Apalagi Yani adalah seorang yang ambisius dan kehilangan atas respeknya terhadap Sukarno. Dengan sakitnya Sukarno tentu pertanda akan adanya keekosongan kekuasaan di Indonesia. Jika ada pemilu, maka PKI sangat berpotensi menjadi pemenang. Sebuah hal yang sangat tidak disukai dan tidak boleh terjadi bagi petinggi AD yang anti komunis karena dekat dengan Sukarno.

Nasution, Yani dan kawan-kawan Jenderalnya adalah harimau bertaring menjelang Oktober 1965. Jika mau, mereka bisa melakukan kudeta menjelang Oktober 1965. Dukungan luar tidak perlu diragukan. AS yang anti komunis tentu akan mendukung Jenderal-jenderal AD tersebut untuk merebut kekuasaan dan menggulingkan Sukarno. Dukungan umum dari AD yang terpecah tentu masih mejadi masalah.

Harapan AS adalah menghancurkan kaum komunis Indonesia, yang bisa jadi akan bersekutu dengan Komunis Vietnam atau Republik Rakyat China. Teori Domino AS untuk menghambat komunis juga harus dilakukan di Indonesia. Duta Besar AS, Marshal Green konon tidak bisa berbuat banyak dalam mengontrol kegiatan intelejen AS di Indonesia untuk menghancurkan Sukarno.

Petinggi AD, para jenderal pembangkang itu tentu tidak akan sulit melakukan kudeta jika waktunya tepat. Cukup menggerakan RPKAD dan pasukan lain yang masih pro SUAD saja sebenarnya. Komandan RPKAD adalah Kolonel Sarwo Edhi Wibowo—ayah mertua dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—yang kawan lama Yani. Mereka sama-sama berasal dari Purworejo.

RPKAD bisa dijadikan pasukan utama kudeta. Namun memenuhi pasukan pendukung adalah hal mustahil. AD sendiri memang terpecah. Tidak semua perwira, terutama di daerah, mau dan bisa sepaham dengan perwira tinggi SUAD di Jakarta. Artinya kudeta bisa dilakukan namun dengan mudah bisa dicounter pasukan lain.

Seumpama, Sukarno meninggal tentu jenderal SUAD akan bergerak dengan kekuatan yang ada. Hal ini tentu untuk menghindari berkuasanya kaum komunis. Kekosongan kekuasaan ditengah kekacauan jika Sukarno meninggal tentunya membuat jenderal tertinggi AD, entah Nasution maupun Yani, akan naik sebagai penguasa. Kondisi keamanan sendiri bisa menjadi alasan bagi petinggi AD tadi untuk menjalankan status Negara dalam bahaya. Yang tentunya akan mempermudah tindakan refresif mereka pada kelompok yang akan menentang mereka atas nama menegakan ketertiban dan keamanan.


5. Para Jenderal AD Dimata Kelompok Untung

Bagi kelompok Untung, para Jenderal SUAD itu ditambah Menteri Pertahanan, adalah orang-orang yang tidak loyal pada presiden dan kontrarevolusioner. Anggota kelompok Untung yang membangun komplotan anti Jenderal AD di SUAD, jelas beranggapan bahwa akan ada usaha dari kelompok Jenderal yang mereka cap sebagai Dewan Jenderal itu.

Kelompok Untung tentu begitu yakin jika apa yang mereka lakukan adalah menyelamatkan Presiden dan juga menyelamatkan Revolusi Indonesia yang berusaha dihalangi Dewan Jenderal itu. Dewan Jenderal, dalam hal ini adalah Jenderal-Jenderal AD, yang diantaranya adalah atasan Untung juga, adalah musuh berbahaya dan layak untuk disingkirkan.

Tidak ada alasan lagi bagi Untung sebagai prajurit revolusioner untuk taat pada Jenderal macam Yani dan kawan-kawan SUAD-nya. Sebagai prajurit revolusioner, Untung tentunya hanya tunduk pada Pemimpin Besar Revolusi yang jelas konsisten pada Revolusi Indonesia. Sementara itu, Yani selaku Pemimpin AD dan juga atasan Untung karena Untung sejatinya adalah prajurit AD juga, tidak perlu lagi dianggap pemimpin AD dari sebuah Negara yang menjalankan revolusi. Yani dan kawan-kawannya jelas dianggap sebagai duri dalam daging bagi Presiden dan revolusi.





[1] Angkasa Edisi Koleksi, no 65, Kisah hebat AK-47 & Lima Senapan Legendaris, Jakarta, Gramedia, tanpa-tahun, hlm. 107.



[2] Harold Crouch, Army and Politics In Indonesia, ab. T.H. Sumarthana, Militer & Politik Di Indonesia, Jakarta, Sinar Harapan, 1999. hlm. 107.



[3] Commando, edisi No 1 th IV, 2010. hlm. 72-73.



[4] Angkasa Edisi Koleksi, no 65, Kisah hebat AK-47 & Lima Senapan Legendaris, Jakarta, Gramedia, tanpa-tahun, hlm. 107.



[5] Hendro Subroto, Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Komando, Jakarta Kompas, 2009. hlm. 141-143.



[6] Amelia Yani, Ahmad Yani Profil Sang Prajurit, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1990, hlm. 240.


[7] Teguh Budi Santoso, Pembersihan Jenderal, Dalam http://anusapati.com/?p=45 (Diakses November 2009, pukul 22.00)