Sabtu, September 01, 2012

Tour de Sinjai (2012)

Sulawesi Selatan dikelilingi pulau-pulau kecil, termasuk kepulauan Sembilang, Beruntung bisa mengunjungi salah satu pulaunya, Larea-rea hari ini. Balangnipa dan Gojeng keesokan harinya.

Pintu Utama Benteng Balangnipa


Sinjai, 29 Agustus 2012
Sinjai cerah pagi ini. Saya baru saja bangun dan sarapan. Tapi lagi-lagi lupa mandi. Setelah pamit pada keluarga Pak Lukman Dahlan—salah satu orang penting di Sinjai—yang menolong saya, yang berbaik hati menampung saya di rumahnya, saya pergi menemui kawan saya Arman—wartawan harian Fajar.
            Tak dinyana, Arman mengajak saya reportase ke kepulauan Sembilang. Kami berdua bergabung dengan rombongan Pak Ahmad Suhaemi—Kepala Dinas Komunikasi Informasi & Kebudayaan Pariwisata. Kami menumpang motorboat milik dinas perikanan. Butuh waktu hampir satu jam untuk menuju salah satu pulau di Kepulauan Sembilang. Gelombang tidak terlalu besar, namun cukup membuat kapal bergoyang juga.
            Rombongan bermaksud meninjau sarana internet bagi warga di Kepulauan ini, dan juga mengadakan pengenalan penggunaan media internet. Terdapat sembilan pulau disini. Beberapa masih belum berpenghuni. Pulau Kambuno adalah pusat dari administrasi Kepulauan ini. Dimana kantor camat berdiri. Pemukiman cukup padat juga. Air bersih dan listrik begitu terbatas bagi warga disini. Terdapat 15 sekolah dari tingkat SD sampai SMK di sekolah ini.
            Gedung SD di dekat lapangan cukup ramai. Kemah Pramuka sedang  berlangsung. Bocah-bocah berseragam Pramuka tidur dibawah tenda beratap terpal. Ada yang membawa koper. Tak mirip orang berkemah. Mereka tidak berkemah di alam bebas, namun di perkampungan.
Mereka lebih mirip  pengungsi korban bencana. Namun, sebagai bocah-bocah mereka tetap lucu dan lugu walau agak nakal. Mungkin ini harus mereka alami. Tentu saja rugi jika tak mengabadikan senyum bocah-bocah itu. Berbekal kamera 1 megapixel dengan baterai yang menipis. Saya putar untuk memotret momen-momen  lucu itu. Dengan susah payah, saya pun berhasil abadikan senyum-senyum bocah-bocah tadi.
            Sementara saya asyik dengan kondisi sekitar, kawan saya, Arman sibuk menulis berita untuk dikirim ke kantor redaksinya. Dia sibuk mencari koneksi internet. Listrik yang terbatas jadi masalah buat kami untuk mengetik karena baterai netbook terbatas. Siang hari tak ada listrik di pulau. Listrik baru ada dari jam 06. 00 sore sampai jam 06.00 pagi. Itu masalah buat Arman dan saya—sebagai manusia yang dimanja listrik.        
Begitu siang tiba dan perut keroncongan, rombongan  kami pun dihidangkan masakan laut yang lezat. Kami menyantapnya dengan nikmat dalam waktu singkat. Lezat.
Waktu menunjuk pukul 01.00 siang. Acara selesai. Arman masih pusing dengan listrik dan koneksi internet. Akhirnya Pak Ahmad mengusahakan listrik. Hingga listrik dan koneksi ditemukan hingga Arman bisa selesaikan tulisan dan kirim berita ke kantor redaksinya. Setelah berita terkirim rombongan niak kapal dan berlayar lagi.
Motorboat pun menuju sebuah pulau kecil, Larea-rea. Di sekitara pulau, perairan begitu dangkal. Boatberjalan pelan. Boat akhirnya merapat di dermaga kecil pulau ini. Dari dermaga, pantai kecil yang mengitari setengah pulau terlihat. Di tengah pulau, terlihat banyak vegetasi. Lebih banyak rumput dan sedikit pepohonan rindang. Pantai indah disini layak dipotret, itu yang rombongan kami lakukan. Pulau ini aset penting bagi Sinjai. Wisata alam yang layak dibanggakan. Selesai memotret sekitar pulau, kami kembali ke Sinjai daratan lagi.
Bukit Batupake Gojeng.

30 Agustus 2012
Selesai mandi, menikmati barisan batu yang tersebar bukit Gojeng adalah keharusan. Batu-batu ini tinggalan zaman batu. Tempatnya tak jauh dari pusat kota Sinjai. Kebetulan tak jauh dari tempat tinggal Arman, kawan saya. Dari pondokan Arman, obyek yang disebut Batupake Gojeng ini terlihat.
  Dari informasi yang beredar, bukit dengan ketinggian 125 meter dari permukaan laut ini,  pernah menjadi pengintaian bagi serdadu Nippon di masa perang dunia II. Mungkin gerakan tentara sekutu di Teluk Bone bisa dipantau dari sini. Di bukit ini pula, dulu pernah ditemukan keramik dan bangkai kayu. Banyak yang percaya disekitar bukit ini dulunya sekali adalah laut.
   Setelah memotret beberapa batu, saya menuju Benteng Balangnipa. Lokasinya lebih dekat lagi dengan pusat kota. Tidak terlalu jauh dari sungai. Sejarah Benteng ini lebih tua bangunan benteng yang sekarang. Tidak sulit mencarinya. Lokasinya dalam pemukiman penduduk. Anak kecil pun bisa beritahu kita dimana letak benteng ini.
Awalnya Benteng ini dibangun oleh kerajaan-kerajaan lokal Sinjai: Bulo-Bulo, Tondong dan Lamatti—persekutuan kerajaan yang dikenal dengan nama kerajaaan Tellu Limpo'e—pada 1557. Ketika Belanda ingin menguasai daerah ini, tiga kerajaan tadi pun menjadikan benteng ini sebagai kubu pertahanan.
  Dalam perang Mangarabombang, 1859-1861, Benteng ini begitu penting. Namun, kekuatan milliter Belanda—Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL)—yang unggul akhirnya bisa mengatasi perlawanan kerajaan-kerajaan tadi. Bisa kita maklumi kekalahan kaum pribumi tadi.
  Setelah tiga kerajaan tadi kalah, maka Benteng ini pun jadi milik pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Benteng ini pun diubah dengan gaya Eropa. Terlihat dengan bangunan-bangunan gedung dengan gaya Indies. Gedung-gedung ini kemungkinan berfungsi sebagai kantor. Dan beberapa ruangan lain digunakan oleh prajurit-prajurit garnisun KNIL disini. Ada beberapa bangunan yang hancur. Ada yang menyebut itu karena kena bom.
  Saya tidak lama juga di benteng ini. Ada janji dengan kawan. Tidak semua yang ada di Benteng bisa saya lihat. Hari masih pagi. Bukan jam buka museum atau kantor. Saya putuskan tidak berlama-lama. Meski masih banyak yang belum saya lihat. Peninggalan sejarah di Sulewesi Selatan sangat menarik, termasuk sejarah perangnya.
Selanjutnya, adalah ikut Arman reportase sambil makan gratis.




Salahsatu gedung di depan depan Balangnipa

Selasa, Agustus 28, 2012

Jalan Andi Djemma: Sang Penjaga Memori

Nama Jalan Jenderal Sudirman dimana-mana. Jadi tak apa jika Jalan Jenderal Sudirman di kota ini diganti menjadi Jalan Andi Djemma.




Istana Kedatuan Luwu


Saya orang baru di kota ini. Kota yang sebelumnya hanya saya tahu dari buku, juga beberapa kawan yang memang berasal dari kota ini. Kota ini tidak semrawut, selama saya lihat. Berjalan kaki ala backpacker cukup menyenangkan di pagi hari. Banyak toko berdiri di sepanjang jalan yang saya lewati. Masjid Jamitua dan bekas istana Datau Luwu--yang bangunannya ala Eropa itu.
            Perut lapar pagi ini, membuat saya singgah di sebuah warung kecil di tepi Jalan Andi Djemma. Demi sepiring nasi kuning lauk telur, untuk mengganjal si perut. Untuk ini saya hanya keluar uang Rp 5.000 saja. Sepertinya biaya hidup di kota ini tidaklah besar. Penjual nasi kuning mengatakan kalau dulu nama jalan ini adalah Jalan Jenderal Sudirman.
            Pikiran saya lalu melayang pada kota-kota lain yang pernah saya kunjungi. Jakarta, Palembang, Makassar, Yogyakarta dan kota lainnya—termasuk kota asal saya Balikpapan, dimana bisa ditemukan Jalan Jenderal Sudirman. Di Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman cukup panjang dan besar. Tapi tidak di Yogyakarta. Orang-orang yang saya kenal disana tak familier dengan nama jalan itu, meski itu adalah jalan ramai.
Saya agak terkejut dan tertarik dengan fenomena pergantian nama itu. Sudah lazim kita temukan banyak jalan dengan mengambil nama jenderal-jenderal di Indonesia. Orang-orang asing akan berpikir bahwa Indonesia adalah Negara militeristik. Bagi yang belajar sejarah akan berpikir, ini warisan orde baru.
Kota ini punya pilihannya sendiri. Mengganti nama Jenderal Sudirman menjadi Andi Djemma menjadi hal penting. Jangan dikira mereka tak hargai Jenderal Sudirman yang pimpin gerilya dengan ‘satu paru-paru’ untuk melawan tentara Belanda yang ingin mengusai kembali Indonesia. Juga bukan berarti kota ini tidak hargai Tentara Nasional Indonesia.
Merubahnya menjadi Andi Djemma adalah keharusan rasanya. Saya pun barusaja tahu, ternyata Andi Djemma adalah Datu Luwu yang dihormati. Andi Djemma bukan sekedar Bangsawan, Andi Djemma punya jasa besar pada Luwu dan juga Indonesia. Andi Djemma punya sikap yang hampir sama dengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta, mendukung Republik Indonesia yang baru berdiri. Sayang, Luwu tak bernasib seperti Yogyakarta yang menjadi Daerah Istimewa.
Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, Andi Djemma membangun dan memimpin Gerakan Sukarno Muda. Gerakan ini sangat pro RI dan sekuat tenaga mereka menentang masuknya tentara Belanda. Perang Semesta rakyat Luwu, 23 Januari 1945, juga dipimpin olehnya. Walau akhirnya beliau harus tertangkap dan dibuang.
 Tak perlu lagi membandingkan jasa-jasa antara Andi Djemma dan Jenderal Sudirman—yang berdarah Banyumas, Jawa Tengah itu.
Seperti Sudirman, Andi Djemma pun layak jadi Pahlawan dan dihargai sebagai nama jalan juga. Nama jalan adalah memori rakyat kota ini bahwa dulunya pernah ada Raja pemberani dan punya jiwa merdeka bernama Andi Djemma. Seharusnya, semua orang berjasa dari pusat maupun daerah tetap harus dihargai. Bukan melulu yang nasional tapi juga yang lokal. Bukan tidak nasionalis, tapi ini perkara identitas dan memori daerah ini. Jadi nasionalis boleh tapi jangan jadi amnesia akan akar lokalnya.  
            Tak apa tidak bernama Jalan Jenderal Sudirman, karena nama Jalan Jenderal Sudirman ada dimana-mana, tapi menamakannya Andi Djemma sangatlah perlu bagi kota. Bersama Jalan Andi Djemma kota ini tidak menjadi amnesia akan akar historisnya. Agar semua orang tahu kalau pernah ada Pahlawan bernama Andi Djemma—dan tak lupa menjadi pemberani dan penuh semangat perubahan sepertinya.
  Sebagai orang asing di kota ini, saya acungi jempol untuk Jalan Andi Djemma. Nama jalan ini membuat nasi kuning yang saya makan begitu lezat. Begitulah pandangan saya sebagai orang asing di kota ini. Salut untuk kota Palopo!!!

Masjid Jami Tua dari seberang

Selasa, Agustus 21, 2012

Jayapura-Merauke-Digul-Sota-Merauke

Papua Bumi yang ramah sebenarnya. Jangan Percaya cerita miring sebelum anda berkunjung ke Papua

Sentani, meski jarang disebut namanya dan tampak kalah popular dengan Jayapura, dulunya buka kota sembarangan. Ketika sebagian daerah lain di Indonesia masih dalam cengkraman Balatentara pendudukan Jepang, Sentani sudah bebas setelah bulan April 1944. Begitu juga Biak.yang menjadi daerah Indonesia yang pertama-tama bebas dari pendudukan Balatentara Jepang.
            Sentani punya peran besar dalam kekelahan Jepang. Danaunya yang luas menjadi zona pendaratan yang baik bagi Pesawat Catalina—yang bisa mendarat di air. Dari pesawat persenjataan dikirim. Banyak orang Papua dilatih memakai senapan. Lalu terbentuklah Batalyon Papua. Dimana anggotanya orang-orang Papua yang tahu menggunakan senjata api dan mengenal medan. Balatentara Jepang sendiri tentu tak akan sebaik orang Papua asli yang paham bagaimana daerahnya..
            Gunung Sentani pun akhirnya jadi markas komando sekutu untuk mengelahkan Balatentara Jepang di Pasifik. Jenderal McArthur beserta staf dan semua prajuritnya menjadikan Sentani daerah persiapan menghabisi balatentara Jepang di Pasifik yang sulit dikalahkan.
            Jayapura, sebelumnya bernama Nieuw Hollandia. Menjadi daerah penting bagi NICA dan penerusnya yang menguasai Papua. Biak menjadi juga pernah menjadi kedudukan pasukan Belanda. Biak dan Nieuw Hollandia pernah juga menjadi pusat latihan tentara.pusat latihan tentara Belanda. Pasukan payung Belanda yang menyerang Jogja pada 19 Desember 1948, pernah dilatih disini. Salah satu pelatihnya adalah Rokus Bernadus Visser—yang kemudian ikut mendirikan Kopassus.
            Jayapura kemudian dijadikan ibukota provinsi Irian Jaya. Dimana tugu Pepera (penentuan pendapat rakyat) yang menjadi tanda masuknya Papua ke Indonesia diperingati. Jayapura tetap menjadi pusat provisi ketika Papua dimekarkan. Karena letaknya jauh dari pusat Republik Indonesia yang sentralistis pembangunan pendidikan di Papua tertinggal. Buku di Papua tak sebanyak di Jawa. Itu juga satu alasan kenapa Papua tertinggal. Terlepas dari kebijakan  pemerintah yang tak berpihak pada rakyat Papua.

Rabu, 8 Agustus 2012, setelah penerbangan malam, dan singgah di Makassar selama 40 menit, pesawat Boeing 737 milik Merpati yang kami tumpangi tiba di Biak. Kota kecil ini masih berkabut. Kabut tipis di jajaran bukit terlihat dari bandara Frans Kaisepo. Di Biak juga tak lama, hanya 40 menit saja. Selanjutnya pesawat terbang menuju Sentani. Setelah melewati lautan dan hijaunya daratan Papua, akhirnya Danau Sentani terlihat.
            Bandara Sentani tak sebesar bandara lain di Indonesia. Tapi cukup baik untuk didarati pesawat-pesawat komersil. Bandara ini tergolong ramai untuk ukurannya. Area parkir terlihat ramai. Angkutan umum di Sentani dan Jayapura yang bisa angkut sekitar 9 penumpang biasa disebut taksi. Ada beberapa trayek taksi di Sentani. Dari Sentani, taksi bisa di carter sampai Jayapura. Namun, jika mau hemat berganti taksi bisa jadi solusi.
            Jalan dari Sentani ke Jayapura terbilang mulus. Pemandangan bukit hijau masih bisa ditemukan. Meski sebagian bukit sudah digerus untuk proyek jalan atau perumahan. Jalan dari Sentani ke Jayapura melintasi Danau Sentani yang indah. Pulau Sentani terlihat banyak rumah berdiri. Danau ini tergolong besar, walau tak sebesar Danau Toba.
            Sepanjang jalan, banyak perkampungan urban orang-orang Papua. Mereka tidak lagi pakai koteka. Mereka biasanya lebih suka bercelana pendek dan kaus tanpa lengan jika santai. Ada juga yang berpakaian rapi, seperti para pegawai kantoran. Salah satu kampung yang saya lewati adalah Kampung Harapan. Dulunya, kampung ini sempat disebut kotanica. Kampung ini masih di seputaran Danau Sentani juga.
            Jayapura terbilang kota yang urban. Dari cara warganya berpakaian dan menggunakan produk-produk modern seperti kendaraan bermotor jelas terlihat. Pusat perbelanjaan modern pun sudah ada di Jayapura. Di Jayapura akan ditemukan Hypermart, KFC, ATM dan lain sebagainya. Di beberapa kota pelabuhan di Papua mungkin bisa saja ditemukan. Namun, tak semua orang Papua rasakan fasilitas hidup modern.
Banyak orang Papua tinggal di kampung-kampung yang terisolir. Jalan darat yang tak begitu baik membuat orang Papua bergantung pada pesawat yang tak murah biayanya. Jarak tempat satu dengan tempat yang lain pun tak bisa dibilang dekat. Ingat, luas Papua jauh lebih luas dari Jawa dan tanpa jaringan transportasi darat yang baik. Di Jawa, kereta api bisa jadi solusi.
            Orang-orang Papua asli di Jayapura masih suka mengunyah buah pinang. Buah yang bisa memperkuat gigi si pengunyah. Tak hanya kaum tua, kaum mudanya pun banyak yang masih suka. Tak heran jika banyak orang yang menjualnya dipinggir-pinggir jalan.
            Meski urban, orang-orang Jayapura terbilang tertib dan berhati-hati jika mengendarai kendaraan. Mereka masih mau mengalah pada pejalan kaki yang menyeberang.
            Agama-agama baru bisa terlihat perkembangannya dengan melihat banyaknya tempat ibadah. Banyaknya gereja adalah bukti perkembangan Kristen yang dianut penduduk asli. Sementara agama Islam banyak dianut pendatang dari suku Jawa, Bugis atau yang lainnya. Ada juga sebagian kecil orang Papua asli yang Muslim.
            Sore ini saya habiskan waktu untuk berkeliling sebagian sudut kota Jayapura. Langit begitu cerah. Teluk begitu tenang dan damai. Jayapura tampak ramai dengan pedagang yang hampir semua pendatang. Jejeran ruko biasanya milik pendatang. Rumah makan didominasi pendatang juga.
            Tak terasa hari telah senja. Saya sudah di depan Kantor Gubernur. Beberapa orang tengah menikmati indahnya teluk. Anak-anak kecil banyak berenang di tepian depan kantor Gubernur itu. Mereka begitu asyik. Ada juga orang Papua asli yang berdagang buah pinang dan mangga. Ada juga orang Jawa yang berjualan Bakso.
            Malamnya saya singgah menginap di Masjid Arrahman, di APO. Dimana saya dijamu dengan ramah seorang takmir masjid yang berasal dari Makassar dan istrinya yang dari Enrekang. Dari seorang Jamaah saya dapat informasi jika nama APO dari istilah American Post Office. Daerah ini dulunya bekas komplek militer tentara Amerika di masa Perang Dunia II. Ada beberapa tinggalan tank sekutu disini, di Pasar Hamadi salah satunya. 

Kamis, 9 Agustus. Pukul tujuh, setelah pamit saya bergerak menuju Museum KODAM yang letaknya di perbukitan komplek KODAM. Melelahkan juga jika berjalan kaki. Museum ini dulunya kantor para panglima KODAM di Papua. Mulai dari bernama Cendrawasih, Trikora sampai kembali ke Cendrawasih lagi. Mulai dari jaman Brigadir O Rukman. Panglima yang sekarang menempati kantor yang baru. yang lebih modern tentunya.
Sarwo Edhi Wibowo juga pernah berkantor disini. Di ruangan ini, sekarang berjejer banyak foto para Panglima dari jaman O Rukman sampai yang terbaru. Tak banyak koleksi disini, hanyak radio komunikasi, mortir juga senjata-senjata termasuk rampasan dari OPM. Jadi panglima di Papua memang berat. Sarwo Edhi pernah hampir terbunuh disini.
Dari Museum KODAM saya diarahkan ke Museum Sarwo Edhi Wibowo. Dari awal tahu ada museum tentang Sarwo Edhi Wibowo saya hanya geleng-geleng. Ternyata ini museum berisikan benda-benda koleksi dari semua panglima KODAM Cendrawasih. Mulai dari segaram dinas, sepatu, baret, tongkat komando, baju karate.
Tongkat komando Sarwo Edhi adalah yang paling unik. Tidak besar dan begitu sederhana. Seperti karakter Sarwo Edhi sebenarnya. Dari petugas Museum, pria asal Prambanan Yogyakarta yang 25 tahun bertugas di KODAM Cendrawasih, Sarwo Edhi, George Toisutta termasuk panglima yang paling disegani karena wibawa mereka.
Petugas Museum, memutarkan video tentang eksistensi keberadaan KODAM Cendrawasih yang terlahir pasca terbebasnya Papua dari Belanda setelah belasan tahun tertahan oleh Belanda yang sebenarnya sangat menyalahi isi Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949—yang isinya penyerahan Papua ditangguhkan satu tahun. Harusnya, akhir tahun 1950, Papua sudah kembali . Tapi setelah konfrontasi militer dan tekanan dunia internasional—termasuk Amerika Serikat—akhirnya masuklah Papua ke Indonesia.
Dari Museum Sarwo Edhi yang tidak jauh dari YAPIS, saya menuju ke Pasar Hamadi. Sekedar lihat-lihat souvenir. Koteka, kapak dan aksesoris lainnya bisa didapat disini. Setelah dapat sebuah koteka, saya beranjak ke Entrop untuk naik mobil lagi ke Abe lalu ke Sentani. Di Jayapura saya sering pakai taksiyang tarifnya antara Rp 2.000 untuk dalam kota. Kearah Abe atau Sentani berkisar Rp 3.000 sampai Rp 4.000 saja. Sepanjang jalan menuju Sentani, danau Sentani jadi panorama paling indah. Sayang saya tidak bisa mengabadikan gambar danau ini dengan baik.
Sampai Sentani saya singgah di masjid istirahat. Sorenya saya jalan-jalan. Melewati lapangan, yang saya kira dari awal adalah makam. Saya mengira itu makam Lodewijk Mandacan. Dari seorang warga, saya diberitahu ternyata itu makam Theiss Eluwey, tokoh Presidium Papua yang dihormati masyarakat. Sayang sekali, Theiss Eluwey yang berjiwa bebas itu sudah pergi.
Saya diberitahu ada sebuah tempat di salah satu tepi danau Sentani. Tak jauh dari bandara. Hanya perlu naik taksi lalu disamung ojek. Pulang pergi hanya butuh Rp 14.000, untuk taksi Rp 2.000 danojek Rp 5.000. Pulang pergi tinggal di kalikan dua saja.
Rupanya, tempat yag bernama pantai Yahim adalah dermaga boat untuk menyeberang ke Pulau Sentani. Dari sini panorama sekitar danau Sentani, terutama bukit-bukit yang mengelilinginya, sangat indah. Beberapa rumah menghiasi danau. Pertanda danau ini menjadi tempat hidup yang cukup penting. Saya hanya bisa takjub tanpa bisa mengabadikan gambarnya.
Hari hampir senja saya pun kembali ke masjid. Menjelang buka puasa dan akan gelap. Karena melewati makam Theis, saya singgah sebentar sebelum ke masjid. Semoga orang hebat ini sedang tersenyum di alam sana. Senyum Theis adalah senyum Papua. Senyum kebebasan dan kedamaian Papua. Waktu berbuka pun tiba. Saya makan dan nikmati damainya hidup.
Setelah Magrib selesai, saya menuju ke Bandara Sentani. Tertidur lalu terbangun lagi. Petugas keamanan Bandara yang ramah mengajak saya mengobrol. Salah satu bukti kalau orang Papua ramah pada orang asing. Di taksi, sering saya temui orang Papua yang usianya lebih tua daripada saya minta maaf karena menyenggol saya sedikit saja—padahal saya tidak merasa itu masalah.

Jum’at-10 Agustus 2012, Malam ini Sentani dingin, saya harus pakai jaket lagi. Nyamuk-nyamuk beraksi. Darah saya mungkin rasa gudeg, terlalu manis dan buat mereka kerubungi saya.  Tak terasa, sudah dini hari.
   Saya agak salut dengan selera musik pada sebagian orang Papua yang saya temui. Mereka bukan manusia yang suka ikut trend musik. Mereka suka pop. Entah yang berbahasa Indonesia, Inggris bahkan bahasa daerah. Pemuda-pemudi Papua suka dengar musik suara si penyanyi dan instrumen-instrumen musik yang mengiringinya. Mereka bukan tipikal remaja alay ibukota yang suka melihat penyanyi dari wajahnya. BoybandsGirlband atau penyanyi tampan tak bermutu tidak punya tempat disini.
Orang Papua, yang terpengaruh tradisi musik gereja punya standar sendiri dalam menikmati musik. Tak heran kalau Papua punya penyanyi macam Edo Kondologit. Sepertinya, banyak penyanyi Papua punya kualitas dalam bernyanyi. Bernyanyi sudah dibiasakan di sekolah. Saya sering lihat anak-anak sekolah bernyanyi beramai-ramai disini.
Orang boleh berkata seenak hati dengan bilang mereka tertinggal dalam trend, tapi mereka punya standar cerdas dalam nikmati musik. Orang Papua yang sejatinya orang yang sederhana. Musik bukan perkara trend buat mereka, tapi masalah bagaimana menikmatinya. Musik itu di teling bukan di mata. Pop, Dangdut, rock atau reegee yang penting OK.     
Saya pun memutar lagu-lagu dari netbook saya. Lagu-lagu band kesohor dunia masa-lalu tentunya. Sambil menunggu pagi datang. Pagi masih lama. Pesawat baru akan terbang pukul 07.40 nanti. Pesawat Batavia akan membawa saya terbang ke Merauke pagi nanti. Pikiran saya sekarang adalah, bagaimana saya harus membuat kegiatan bersama anak-anak untuk belajar menulis. Saya barusaja mendapat pesan dari murid saya di Palembang soal harapan-harapannya terhadap Papua yang maju dalam banyak hal di Papua. Kata murid saya, “Indonesia butuh Papua.” Saya sepakat dengan apa yang dikata murid saya itu.
Sudah pasti murid saya itu titip salam buat mereka. Itu murid sayang sama orang-orang Papua, yang secara fisik beda tapi ada persaudaraan dibalik perbedaan itu. Ini harapan besar dari orang kecil macam murid saya. Banyak yang berharap seperti itu. Semoga harapan-harapan ini menjadi semangat bagi Indonesia yang damai. Malam adalah waktunya bermimpi, dan siang adalah waktu untuk mewujudkan mimpi. Malam juga waktu berisitirahat dan menyusun strategi untuk besok dalam rangka membangun mimpi.
Setiba di Merauke, saya jalan-jalan susuri sebagian kota Merauke. Tidak banyak bangunan lama. Di dekat Pelabuhan Kota Merauke yang sepi saya temukan gedung bekas kantor pos tak terpakai. Di muka gedung tertulis: Kantoor Post 1920. Sebuah tanda kalau ini kantor berdiri I tahun 1920. Gedung ini tak lagi terawat.
Di sudut lain kota terdapat jalan Mandala. Sebuah peringatana terhadap operasi Trikora pembebasan Irian Barat yang kini bernama Papua. Ada juga patung LB Murdani yang memimpin pendaratan di Merauke. Benny dan pasukannya terjun dengan parasut ke kota ini. Tak heran jika ini kota punya jalan bernama Jalan Para Komando. Kota ini tidak terlalu besar. Jumlah penduduk tak terlalu banyak, kemungkinan akan bertambah oleh pendatang yang merantau untuk merubah nasib. Peluang menjadi guru PNS cukup terbuka disini. Beberapa kampus sudah berdiri.
Warga di Merauke, umumnya pendatang. Entah dari Sulawesi, Jawa atau yang lainnya. Saya beberapa kali bertemu dengan orang-orang dari Maros. Entah Bugis atau Makassar. Ada seorang perempuan pemilik toko bangunan juga Perempuan asal Maros yang bermukim di Merauke sejak 1972. Ada tukang bakso asal Tulungagung, yang sudah lebih dari puluhan tahun berdagang bakso. Dia tampak senang berjualan bakso disini.
Pendatang biasanya berdagang, bertani atau bekerja di sektor-sektor lain. Ada yang menyebut Merauke sebagai penghasil beras juga. Harga beras di Merauke yang termurah adalah Rp 6.000.

Sabtu, 11 Agustus 2012, sekitar pukul sebelas. Saya melanjutkan perjalanan ke Boven Digoel. Digoel berjarak sekitar 450 KM dari Merauke. Mobil double gardan yang disebut Hiline. Jalan ke Boven Digoel terbilang tidak buruk. Kebanyakan sudah aspal. Namun,  banyak jembatan diperbaiki. Butuh waktu 10 jam untuk perjalanan.
            Perjalanan melewati kawasan Taman Nasional Wasur. Di sepanjang jalan banyak ditemui rumah rayap yang dulunya bekas pohon besar. Ada yang menyebut ale-ale. Di mobil saya bersama penumpang yang merupakan seleluarga penduduk asli. Sepasang suami istri beserta anak-anak kecil yang nakal-nakal dan lucu. Yang paling bungsu aalah yang paling nakal. Yang paling sulung bersikap tenang dan bijak—sepertihalnya anak pertama.
            Perjalanan juga melewati Muting yang merupakan daerah transmigrasi. Sejak 1980an pelan-pelan menjadi daerah ramai. Muting menjadi persinggahan mobil-mobil antara Merauke atau Digoel. Boven Digoel memang daerah pedalaman. Boven sendiri artinya pedalaman. Hutan belukar harus ditembus begitu lama. Sepanjang perjalanan jalan sepi dan gelap. Namun, bagi supir jalan antara Boven Digoel – Merauke terbilang aman oleh mereka. Tengah malam saya baru sampai di Boven Digoel.

Minggu, 12 Agustus 2012. Begitu bangun tidur, saya langsung menuju Kantor Polisi resort Boven Digoel. Dimana saya temukan banyak peninggalan-peninggalan dari kamp pembuangan tahanan politik Pemerintah Kolonial. Ada ruang sel berukuran kecil untuk satu orang. ada yang sedang untuk ukuran 3 orang, dan ukuran besar untuk ukuran 30an orang. untuk ukuran besar tersedia kakus untuk buang air besar.
            Di depan Polres terdapat patung besar Bung Hatta yang menunjuk tanah. Seolah berkata, “kami pernah (dibuang) disini.”Sebuah peringatan bagi kita semua bahwa memperjuangkan kemerdekaan itu berat dan sakit. Mereka harus menjadi Digoelis (penghuni kamp tahanan Digoel). Gelombang pertama penghuni kamp adalah bekas pemberontak komunis 1926/1927—seperti M Bondan, Sukendar, Thomas Nayoan, dan lainnya. Setelahnya adalah kaum pergerakan lain yang tak kalah berbahaya bagi pemerintah kolonial macam Mas Marco Kartodikromo, Hatta, Syahrir dan lainnya.
            Beberapa gedung bekas kamp pembuangan masih tersisa. Saat ini menjadi komplek kepolisian. Ada yang sebagai kantor, rumah dinas, taman kanak-kanak. Hanya ruang tahanan dan beberapa ruang lain yang tidak digunakan kepolisian. Ada yang digunakan untuk kegiatan belajar yang bermanfaat bagi remaja Digoel.
             Dalam pikiran saya, bangunan-bangunan yang tersisa sekarang, hampir semua dulunya tahanan yang merupakan penampungan sementara bagi ribuan tahanan politik sebelum mereka memiliki rumah tersendiri. Di sekitar kamp tahanan pasti dulunya terdapat: rumah dinas, pelabuhan kecil bagi kapal-kapal yang singgah di Digoel, tangsi KNIL yang menjaga kamp dan juga kantor-kantor. Kamp tahanan mungkin tergolong bangunan-bangunan modern yang pertama ada di Boven Digoel.
            Rumah-rumah para Digoelis sepertinya sudah tidak ada lagi karena dibangun sederhana dengan kayu. Berganti dengan rumah-rumah warga yang bentuk bangunannya tak jauh beda, hanya lebih besar.
Melihat jalan yang saya lewati semalam, rasanya berat sekali untuk kabur dari kamp karena harus melewati hutan rimba Papua selatan yang cukup ganas juga. Bertemu penduduk asli di masa itu bisa tidak jelas nasib si pelarian.
Tukang kabur paling legendaris adalah Thomas Nayoan. Pelarian pertamanya gagal karena tertangkap, pelarian keduanya dia mencapai Australia namun di ekstradisi lagi dan kembali ke Digoel. Pelarian ketiganya adalah akhir dari cerita sang legenda ini. Nayoan dinyatakan hilang.
            Kamp tahanan dipimpin oleh Kapten Becking. Orang yang berhasil menumpas pemberontakan PKI di Banten pada tahun 1926. Bagi beberapa orang Digoel, Becking terbilang baik hati. Ada juga seorang sersan KNIL Ambon yang disapa Om Bintang. Kisah-kisah di Digoel bisa dibaca dalam buku Chalid Salim—adik dari Agus Salim. Dari cerita-cerita tadi, kondisi di Digoel agak lebih baik daripada Pulau Buru di  masa ore baru.
            Dari bekas kamp tahanan, saya lanjutkan perjalanan ke pelabuhan lama yang harus lewati pasar. Dimana terdapat bangkai kapal yang menyatu dengan tanah. Setelahnya saya pergi ke dermaga baru yang sepi. Dimana saya ikut nimbrung dengan beberapa orang yang ternyata pelaut. Salah satu pelaut dari Menado dan dulunya adalah anak kolong yang bandel di Manado.
Sore ini, saya masih penasaran dimana makam-makam penghuni yang meninggal disini. Saya putuskan untuk bengong di dermaga baru saja—yang tak jauh dari dermaga lama. Tepat di sisi sungai Digoel. Sambil menunggu waktunya berbuka puasa dan mencatat beberapa hal.
            Hari mulai gelap. Ibu Nur—Pemilik rumah di tepi dermaga menyuruh saya tidur di ruangan penyimpanan barang. Saya nginap gratis lagi. Setelah cari makan malam di dekat pasar saya pun masuk kamar dan tidur. Tak sabar menanti esok. Mencari makam.


Senin, 13 Agustus 2012, sehabis mandi dan bincang-bincang pagi bersama Pak Pitong—kepala pemilik rumah. Pak Pitong orang Menado, sedang istrinya orang Jawa yang lahir besar di Lampung. Saya mulai berjalan lagi. Kali ini menuju Taman Makam Perintis Kemerdekaan. Taman Makam terletak di kampung Wet. Sekitar 2 KM dari komplek bekas kamp tahanan Digoel (Polres Boven Digoel) jaraknya. Sepanjang perjalanan yang dilewati adalah perkampungan dengan jarak rumah yang sangat renggang. Tidak begitu sepi. Orang-orang sudah beraktivitas pagi ini. Orang Papua bukan pemalas.
            Setelah berjalan sekitar hampir 30 menit saya sampai di makam. Saya segera keluarkan ponsel berkamera untuk mengambil gambar. Desain relief penghias tugu taman makam begitu unik. Karakter Papua yang hitam dan ekspresif begitu kentara. Terdapat sekitar 43 makam di komplek taman makam ini. Saya amati daftar-daftar nama yang tertera. Bisa dipastikan mereka umumnya adalah bekas tahanan kamp tahanan interniran Digoel yang terkenal ganas itu. Meninggal di Digoel, bisa karena sakit atau kena ganasnya hewan buas seperti buaya, termasuk malaria ganas. Malaria adalah ancaman mengerikan di Digoel. Banyak penghuni pernah kena. Termasuk Bung Hatta.
            Digoel bisa bikin kurus badan. Sebagai contoh Mas Marco bersama istrinya. Ketika baru menikah dan belum ke Digoel keduanya tubuhnya berisi. Setelah di Digoel, keduanya pun kurus kering.
            Beberapa nama yang saya kenali adalah Ali Archam saja. Yang lain saya tidak begitu kenal. Ada nama Nahjohan, yang saya kira adalah Thomas Nayoan. Mereka meninggal di waktu yang tidak lama berselang. Entah apa alasan Nahjohan meninggal kurang saya ketahui. Thomas Nayoan sendiri hilang tanpa kabar karena melarikan diri.
            Saya penasaran dengan dimana makam Thomas Nayoan. Saya juga tidak berhasil temukan makam Mas Marco Kartodikromo—seperti janji saya pada Agung Dwi Hartanto—kawan saya. Saya menyesal sekali.
            Setelah memotret beberapa hal penting, saya pergi. Sebelumnya saya tanya dulu orang yang tinggal disitu untuk cari makam lain. Tapi mereka jawab tidak ada. Tak jauh dari makam ada rumah pegawai negeri sipil—yang ternyata adalah kepala distrik Koh. Masih muda. Dia camat termuda di Boven Digoel. Di berhasrat membudidayakan kayu gaharu di Koh.
            Tidak lama mengobrol dengannya. Setelahnya saya pamit. Camat muda harus mengantar anaknya ke Sekolah. Say diantar sampai depan Polres. Melewati bekas kamp tahanan lagi. Setelah itu saya kembali ke rumah di tepi dermaga. Bermain gitar dan nongkrong di kapal. Sambil menikmati aliran air sungai Digoel. Juga tepi Digoel yang penuh tanaman. 
            Begitu sore, saya putuskan jalan-jalan sore. Bersama Daeng Candra. Kami susuri jalan besar di distrik Mandobo. Melihat bagaimana tentara dan pelajar latihan persiapan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-67. Tak terasa waktu berbuka tiba, kami  singgah di warung dan minum Es Buah.

Selasa 14-15 Agustus 2012. Anak-anak sekolah yang dipilih di sekolahnya hari ini gerak jalan dalam parade tahunan meyambut hari ulang tahun kemerdekaan. Tepat siang bolong mereka harus berbaris layaknya tentara NAZI Jerman. Rapi dan enak dilihat para penonton, juri dan juga pejabat lokal. Sebuah drumband dari SMP 1 Boven Digoel iringi peserta lomba gerak jalan itu di barisan terdepan.     
            Cuaca Digoel agak mengancam para peserta parade tahunan itu. Upacara bisa minta tumbal bila cuaca jelek. Dimana orang kehujanan dan kemudian jatuh sakit. Tradisi fasis yang diam-diam terpelihara.
            Hari ini waktu yang tepat untuk berisitirahat saja karena langit agak mendung. Sesekali gerimis turun tak merata di tepi Sungai Digoel. Ketika gerimis reda, orang-orang tetap pada kegiatannya. Para kuli terus bongkar muat di dermaga. Orang yang akan pergi ke arah hulu dari Sungai Digoel akan lanjutkan perjalanan.
            Orang Papua bukan pemalas. Mereka hanya hidup sederhana saja, tak mau berlebih seperti orang Indonesia di sisi barat yang terpengaruh modernisasi dan tergantung banyak pada uang. Orang Papua hanya berpikir agar tidak lapar. Mereka bukan perusak alam demi rupiah.
            Orang-orang Papua asli yang sebagian saya lihat hari ini, dalam ukuran saya, tetap sederhana dalam berpakaian.  Mereka cukup pakai kaos oblong dan celana pendek tiap hari. Banyak dari mereka yang tidak pakai sandal jika berjalan kaki. Bagi orang-orang di Indonesia bagian barat ini sering dianggap tidak sopan, bahkan ada yang berpikiran ini tak beradab. Tapi, orang Papua hanya ingin itu tak lebih. Apa itu salah?
Manusia modern selalu melihat dari penampilan,bukan melihat bagaimana berkemanusiaan. Saya sempat dengar perkataan akademisi yang bilang Papua belum diberadabkan sepenuhnya. Lalu di Bandara, pernah saya dengar dua perempuan yang diam-diam menertawakan orang Papua yang duduk disebalahnya. Sebagai negeri pewaris kolonialisme, orang Indonesia tak sepenuhnya bisa menghargai orang berkulit hitam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tak pernah disadari. Hitam selalu diartikan buruk.
Itu yang saya renungkan hari ini. Begitu menyedihkannnya Indonesia dan betapa menderitanya Papua yang dipinggirkan dan dianggap terbelakang pula oleh orang sok beradab. Bukan salah Papua.  

16-18 Agustus 2012. Setelah pamit dengan Ibu Nur dan keluarga, saya menuju Sota.  Awalnya, saya ingin ikut kapal ke Merauke. Tapi, karena akan ribet saya urungkan niat itu. Saya pilih naik hilinesaja. Dengan jalur yang sama ketika ke Digoel sebelumnya. Siang hari berangkat dan singgah di Asiki, masih wilayah Digoel namun agak ramai karena ada perkampungan pegawai yang cukup besar disini. Kami singgah 2 jam karena ban hiline kami rusak.
            Agak sore hiline jalan lagi melintasi jalan aspal dan sebagian jalan tanah yang makin keras. Sebagian besar jembatan yang kami lewati masih dalam perbaikan. Kami singgah di Muting terlebih dahulu. Muting makin ramai oleh pendatang. Tengah malam kami tiba di Sota. Saya pun terlelap sampai pagi di emperan warung. Paginya saya terbangun dan menumpang toilet di sebuah warung, yang pemiliknya orang Jawa. Banyak pemilik warung adalah orang Jawa. Para petani di Sota juga banyak orang Jawa.
            Pagi, tepat 17 Agustus, saya pun jalan kaki ke perbatasan. Seorang penjaga masj d mengantar saya ke Pak Ma’ruf—seorang Inspektur Polisi yang begitu peduli pada perbatasan. Saya lapor padanya soal tujuan saya. Saya hanya jalan-jalan. Saya pun dipersilahkan jalan-jalan. Tak jauh dari pos terdapan pos terakhir tentara.
            Saya disambut ramah oleh seorang anggota tentara yang jauh dari rumah itu. Dia bercerita soal anak Papua Nugini yang bersekolah di wilayah Indonesia. Kebetulan orang-orang Papua Nugini diundang ke acara peringatan Kemerekaan Indonesia. Mereka ikut upacara dan juga menghormat pada Merah Putih.

            Selesai upacara, orang-orang Papua Nugini itu ikut sumbang mereka punya tari-tarian. Tak begitu beda dengan tarian masyarakat Sota asli. Acara peringatan kemerdekaan terbilang meriah untuk ukuran desa perbatasan RI-PNG ini. Ada lomba tarik tambang ibu-ibu. Ibu-ibu dari PNG begitu kuat. Ada panjat debog pisang buat anak-anak. Lebih sulit daripada panjat pinang.
            Tentu saja saya berfoto di tugu perbatasan. Tugu perbatasan tak jauh dari jalan poros Trans Papua. Dari pertigaan tugu Sabang tak sampai 2 KM jaraknya. Di tugu perbatasan dikelilingi taman-taman dan kebun-kebun yang dirawat oleh Pak Ma’ruf. Tanah-tanah di Sota terbilang subur.
Pak Ma’ruf adalah orang penting di Perbatasan. Kerja sosial yang dia lakukan ini tak ada sangkut pautnya dengan dana dari Negara. Semua dilakukan dengan ikhlas. Tak mencari apapun. Tak heran Pak Ma’ruf pernah diunang sebuah talk show TV nasional yang cukup bergengsi. Beruntung bisa bertemu dengannya.
            Seperti aparat pemerintah lainnya, Pak Ma’ruf juga harus menjalani hidup dengan berat. Gaji aparat pemerintah yang sama seperti di daerah lain di Jawa membuat hidup mereka agak sulit. Biaya hidup di Papua terlalu tinggi. Membuat gaji bulanan mereka cepat habis.
 Karena orang-orang PNG sering keluar-masuk perbatasan untuk berbelanja, maka di dekat perbatasan terdapat pasar. Tak jauh dari perbatasan juga terdapat kantor imigrasi. Orang-orang PNG fasih berbahasa Inggris. Cara berpakaian mereka yang sederhana hampir-hampir mirip dengan orang Papua.  Orang-orang ini biasa berjalan kaki berhari-hari dari kampungnya untuk mencapai Sota. Mereka kadang berpenampilan  kucel karena berjalan begitu jauh.
Tujuan selanjutnya adalah Merauke. Memotret bekas kantor pos dekat pelabuhan. Sambil menunggu pesawat ke Makassar. Mengunjungi Papua begitu menyenangkan.

Sabtu, Juli 07, 2012

Kenang-kenangan Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat

Dia tergolong sebagai orang Indonesia yang menuliskan memoarnya. Sudah pasti, Achmad Djajadiningrat bukan orang sembarangan di masa lalu, di awal abad XX lalu.


 Djajadiningrat, dari nama keluarga inilah muncul beberapa orang berpengaruh pada awal pergerakan nasional. Beberapa Djajadiningrat itu menjadi orang berpengaruh dalam pergerakan. Seorang menjadi doktor Indologi di Negeri Belanda, seorang menjadi tokoh berpengaruh gerakan Sarekat Islam di Banten, dan yang tertua mengikuti jejak ayah mereka, menjadi bupati dikemudian hari.
Ayah dari orang-orang yang menyandang nama Djajadiningrat itu, adalah priyayi maju yang nmelahirkan priyayi baru di Jawa. Walau begitu, ayah mereka tetap berusaha tunduk pada tradisi dan selektif dalam menerima pengaruh luar.
 Ayah mereka, yang bupati Banten itu, sebenarnya menolak penggunaan nama Djajadiningrat sebagai nama keturunannya. Namun anak tertuanya, Achmad menggunakan nama belakang Djajadiningrat menjelang ujian akhir di HBS Batavia. Belakangan nama itu dipakai oleh adik-adiknya seperti Husein, Hasan, Lukman dan lainnya. Anak tertua inilah yang paling berpengaruh dalam keluarga (Djajadiningrat) setelah wafatnya ayah mereka.
Achmad si sulung-lah yang pertama kali mendukung perubahan di tanah Banten yang bernajak modern. Gerakan Sarekat Islam masuk di Banten bahkan diberi ruang yang cukup berarti oleh Achmad, walau Achmad tidak aktif dalam organisasi pergerakan itu. Achmad justru aktif dalam organisasi lain yang mengantarkannya sebagai anggota Volksraad. Sebagai bupati dan anggota Volksraad-lah Achmad memainkan peran-nya dalam peregerakan.        

Bupati Moderat
Keluarga priyayi macam Djajadiningrat di Banten, disamping Wiranatakusuma dan Kusumo Utoyo tergolong sebagai keluarga bupati liberal pada awal dilaksanakannya politik etis.[1]
            Posisi sebagai priyayi, memungkinkan anak-anak mereka duduk dalam birokrasi.Setelah lulus dari HBS Batavia, Achmad, anak sulung dari keluarga Djajadiningrat itu—bekerja pegawai kolonial. Karirnya itu dimulai dengan magang pada tahun 1889. Karir Achmad terus meningkat hingga menjadi bupati menggantikan ayahnya. Achmad pernah bertugas di Bodjonegoro sebagai asisten wedana (27 Juli 1900-4 Juli 1901). Setelah itu, sejak 1901, dia menjadi bupati di Banten(Serang) menggantikan ayahnya. Achmad pernah ditunjuk menjadi bupati Batavia—jabatan yang disandangnya sejak 1924 sampai 1929.[2]
            Semasa Achmad menjadi Bupati, Sarekat Islam yang belum lama beerdiri masuk ke Banten, dari Achmad—yang saat itu telah menjadi bupati—SI mendapat sambutan positif. Hal ini sungguh berbeda dengan daerah lain, dimana para pejabat pribumi agak takut dengan perubahan yang akan dibawa oleh SI di daerah mereka. Adik Achmad, Hasan Djajadiningrat, kemudian juga menjadi tokoh SI yang cukup berpengaruh di Banten sampai akhir hayatnya.[3]
            Masa-masa Achmad Djajadiningrat menjadi pegawai kolonial bukan hal biasa penindasan tuan tanah terhadap petani yang menggarap tanah. Hal macam ini adalah warna yang nyaris dominan dipergantian abad XIX ke XX itu.
            Mengenai kekejaman tuan tanah swasta, Ahmad Djajadiningrat, bupati Serang sejak 1901-1927, pernah mengunjungi tanah partikelir di Cikande. Ketika rombongan Ahmad datang, tidak ada yang menyambutnya sama sekali, berbeda dengan sikap penduduk di daerah lain. Hal yang tidak lazim pada masa itu dan sekarang. Bila jumlah cukai dan kontingenten demikian besar sehingga penduduk merasakannya diluar batas, yang sering terjadi adalah ribuan penduduk tanah partikelir akan mendatangi kantor resident, hampir dapat dipastikan mereka datang dari tanah partikelir.[4]
            Banyak para priyayi yang peduli pada penderitaan kaum miskin disekitar dalem (tempat tinggalnya)nya. Kebanyakan mereka tampak tidak peduli, jarang kepedulian priyayi itu ditampakkan. Achmad Djajadiningrat-pun begitu, kondisi mungkin sudah terlampau parah, hingga membuat Achmad Djajadiningrat mengeluh.
            Sebelum terjadi pemebrontakan PKI tahun 1926, Ahmad Djajadiningrat sudah memperingatkan tentang gawatnya keadaan kaum miskin daerah pinggiran Betawi.Orang-orang miskin itu kekurangan makan, tinggal berjubel dipondok-pondok tanpa ventilasi.[5]
Ahamd Djajadiningrat, sejak didirikannya Volksraad tahun 1918 tergolong anggota yang aktif berpolitik. Achmad Djajadiningrat duduk di Volksraad mewakili NIVB—(Nederlandsche Indische Vrijzennige Bond) organisasi yang  berdiri tahun 1916 yang mewakili orang-orang konservatif.[6]
            Achmad begitu tertarik pada NIVB pada tahun 1917, karenanya tahun itu juga dia bergabung.[7] NIVB akhirnya mengantarkannya measuk Volksraad—didukung popularitas Achmad sebagai Bupati terpandang didekat Batavia diawal abad XX itu.
            Azas yang dirancangnya untuk NIVB, seperti juga yang dituntutnya dalam sebuah mosi bersama Cokroaminoto, menjadi dasar pijakan sekaligus agennda kerjanya sebagai anggota Volksraad.
“Didalam tanah Kerajaan Nederlandsche (Nederlandsche Wereldrijk) hendaklah Indonesia berdiri sendiri (politik autonome eenheid) yang sama haknya dengan tanah-tanah lain yangberdiri sendiri didalam kerajaan itu. Segala keperluan kerajaan harus diatur oleh satu Dewan Kerajaan (Rijksraad). Didalam Dewan Kerajaan itu haruslah orang Indonesia mempunyai wakil yang sama haknya dengan wakil tanah-tanah lain yang berdiri sendiri (autonoom) didalam kerajaan itu. Sekalian bangsa Indonesia di dalam wet. Kebebasan didalam bergerak, kemerdekaan didalam berkata-kata, pendeknya pada umum adalah ialah segala hak yang ada pada penduduk yang merdeka, haruslah diberi kepada bangsa Indonesia, kecuali bila kemerdekaan itu mesti dibatasi karena menggangu peri keamanan umum….Rancangan…itu menetapkan pula aturan membagi tanah autonoom menjadi provinsi-provinsi, serta menetapkan pemerintahan provinsi itu; menetapkan pemerintahan local gebeid (regentschaap, gemeente, dan lain-lain).[8]
                          
Bersama Cokroaminoto, Achmad sebagai anggota Volksraad diakhir tahun 1918, mengeluarkan mosi yang menghendaki wewenang penuh parlemen bagi volksraad dengan kontrol anggaran dan tanggung jawab kepala departemen da bukan langsung pada Gubernur Jenderal. Mosi itu juga menghendaki jaminan atas kelanjutan desentralisasi dan dikuranginya peran Raad van Indie sekedar sebagai penasehat Gubernur Jenderal. Lebih lanjut, mosi itu menghendaki hak interpelasi bagi anggota-anggota dewan. Sebuah komisi perubahan dan interpelasi—Herzieningscommissie—dibentuk berdasar surat keputusan pemerintah no. 1 tertanggal 17 Desember 1918. Komisi tersebut lalu menyusun rancangan desentralisasi. Kerja komisi ini berhasil meredakan mosi anggota dewan yang kemudian dicabut dengan tenang oleh Cokroaminoto, Cipto Mangunkusumo dan Achmad Djajadiningrat.[9]
            Agenda Achmad itu, sangatlah hebat untuk seorang moderat—yang tidak luput disebut konservatif. Apa yang juga  menjadi buah pikirannya itu, adalah langkah yang cukup radikal bagi perubahan  Hindia Belanda. Suara Achmad Djajadiningrat bersama Cokroaminoto, Cipto Mangunkusumo dan lainnya itu memang terlupakan dalam sejarah Indonesia. Tuntutan macam tadi,nyaris tidak pernah dibicarakan orang, kecuali Petisi Soetardjo 1938—tigapuluh tahun setelah mosi Achmad cs dikeluarkan.  
Achmad Djajdiningrat juga menuntut kesetaraan dari pemerintah kolonial dalam posisi pemerintahan baik sipil maupun militer. “Jabatan Negeri, baik sipil ataupun militer, kata Achamd dalam mosi-nya, akan dilakukan oleh bangsa Indonesia. Jika kekurangan bangsa Indonesia, barulah diambil bangsa-bangsa lain dari tanah autonoom yang lain dalam kerajaan.”[10]
Dikalangan Pergerakan, Achmad tergolong senior. Dirinya tidak dekat dengan Boedi Oetomo—yang sekarang diagung-agungkan sebagai tonggak kebangkitan Nasional itu. Usia dan posisinya dalam struktur birokrasi kolonial—sebagai bupati dan anggota Volksraad—membuat Achmad berpengaruh. Pengaruh besar itu, setidaknya terasa bagi orang pergerakan macam Husni Thamrin—yang ayahnya pernah jadi wedana seperti Achmad sebelum menjadi bupati. Bagi Thamrin, yang masih muda,Achmad Djajadiningrat itu adalah mentor dalam perpolitikan di Hindia Belanda. Setelah berdinas lebih dari tiga dekade, Ahmad Djajadiningrat akhirnya pensiun pada tahun 1933.[11]
Achmad Djajadiningrat pernah menjadi delegasi Belanda dalam konferensi buruh Internasional (Arbeidsconferentie) di Jenewa, Swiss. Posisi Achmad yang matang di Hindia dan mengerti kondisi sosial kaum miskin pribumi mendudukannya sebagai penasehat teknis (technisch adviceur)dalam delegasi Belanda itu.[12]
            Dimata sebagian kaum muda pergerakan, Boedi Oetomo, Achmad dianggap sering memandang sebelah mata pada kaum muda lulusan STOVIA—School tot Opleiding voor Indische Artsen, sekolah dokter pribumi—tiap kali berpapasan. Suatu kali salah satu lulusan STOVIA, yang merasa diremehkan itu, menyindir Achamd secara halus. Achmad-pun lalu minta maaf. Dilain kesempatan, seorang lulusan STOVIA yang lainnya menyindir dengan kasar pada Achmad, “Tuan menjadi Regent (bupati) karena karuania Tuhan, tetapi saya telah menjadi dokter karena kekuatan dan kemauan saya saya sendiri.[13]

Willem van Banten.
            Ahmad Djajadiningrat terlahir pada 16 Agustus 1877, di desa Kabayan, Pandegelang, Banten. Saat itu ayahnya belumlah menjadi seorang bupati. Ketika Ahmad masih kecil ayahnya adalah seorang wedana di Kramatwatu.[14]
            Sebagai putra Banten yang lahir sebelum pergantian abad, Achmad yang baru berusia 6 tahun ikut menjadi saksi letusan Gunung Krakatau (1883)yang dasyat itu. Dalam Memoar-nya, yang dibuat setelah pensiun dari jabatan anggota Dewan, Achmad menceritakan kejadian menyeramkan itu juga. Peristiwa penting lain yang terjadi di Banten saat Achmad masih kecil adalah pemberontakan Petani Banten (1888), saat Achmad sebelas tahun dan duduk di sekolah dasar.[15]
            Ketika masih bocah, Ahmad dimasukan ayahnya ke pesantren. Bocah itu harus mengalami transisi pertama, berpisah dari ibunya di rumah wedana yang sedianya nayaman.
“Upacara itu dimulai. Anak bangsawan Banten itu dicukur rambutnya, sampai gundul. Ibundanya sendiri yang melakukannya.Didekatnya, seorang membacakan kitab Abda’u. Begitu rampung, si bocah diganti pakaiannya. Ia kini harus mengenakan sarung kasar, baju sang-sang putih tanpa kancing—hingga dadanya selalu terbuka—dan dikepalanya dipasang selingkar destar bersahaja. Si Achmad, cucu bupati Pandeglang Raden Adipati Aria Natadiningrat, harus pergi dari rumahnya untuk jadi santri. Ini terjadi sekitar tahun 1880an….Bapaknya, wedana di Kramatwatu, menekankan agar putranya diperlakukan sama dengan para santri lain—anak-anak dusun.”[16]

Banyak hal yang ditemui Achmad di pesantren, hanya kepada Achamd saja para santri lain mengolok kaum priyayi dan pegawai kolonial lainnya, mungkin saja karena dia satu-satunya anak priyayi disitu. Kondisi pesantren dan rumah ayahnya yang berbeda, setidaknya, membuat Achmad tertekan. Pembimbing santri-nya pernah bilang padanya, saat Achmad melafalkan kata-kata Arab,”Kamu tidak akan dapat mempelajari ini! Karena perutmu penuh dengan nasi haram!”. Saat itu, di Banten yang relijius, gaji dari pemerintah kolonial adalah haram. Di Pesantren, yang kala itu masih anak wedana, memperoleh dera atas apa yang dikerjakan orang tuanya—sebagai pegawai kolonial yang umumnya dibenci kaum santri.[17]          
Tidak menutup kemungkinan, kondisi yang dialaminya ketika kecil mempengaruhi langkah-langkah politis dan pembelaannya terhadap kaum miskin kota ketika dirinya menjadi Bupati Batavia. Thamrin sejalan dengan priyayi baru satu ini.
Tekanan Achmad nyaris tanpa akhir dimasa pertumbuhannya dimasa kanak-kanak. Lepas dari pesantren, lepas dari olokan anak dusun sebangsanya, Achmad yang memmulai pendidikan sekulernya ekharus berhadapan dengan anak-anak Eropa yang lebih jago mengejek. Lepas dari perang kelas di pesantren, Achmad harus ditekan bocah-bocah rasis di sekolahnya, saat sekolah di Europe Lager School—SD paling elit sebelum dan sesudah ada Hollandsche Indlandsche School di tanah Hindia.
Untuk bisa diterima di Hogare Burgere School (HBS) Batavia,  Ahmad memakai nama Willem van Banten, agar terkesan Belanda dimata murid-murid lain yang rasis dan memiliki rasa sentimen pada orang-orang pribumi—walaupun orang pribumi itu adalah dari golongan ningrat.[18]
Mengenai rasisme Kolonial Hindia, Achmad menulis dalam memoar-nya,”Kruseman tidak suka bila pecah kabar…disekolahnya ada murid anak bumiputra. Mula-mula saya masuk sekolah…dia berkata ‘mulai hari ini namamu bukan Achmad lagi melainkan Willem van Banten.” Achmad tentu tidak kuasa menerima pembaratan Kruseman itu. Dirinya harus terima nama baru itu, itulah jalan yang harus ditempuhnya untuk terus bisa bersekolah.[19]
Disekolah Achmad menyadari bahwa orang pribumi digolongkan sebagai orang lemah, Sickman Asia. Achmad tergolong sebagai minoritas di sekolah—yang baru sedikit jumlahnya juga murid pribuminya.
Tentang pergaulannya di sekolah, Achmad juga melakukan kenakalan remaja—yang dianggap lumrah bagi remaja seusianya masa itu. Achmad dan kawan-kawan Eropanya dikepung polisi ketika mengganggu gadis-gadis Eropa seusianya. Buntutnya, Achmad dan kawan-kawannya—semuanya Eropa kecuali Achmad—harus berurusan dengan polisi dan asisten residen. Kejadian itu dipicu oleh mitos dikalangan anak-anak Eropa bahwa anak pribumi selalu ketinggalan, termasuk dalam melakukan kenakalan macam tadi. Dihari tuanya Achmad menulis mengapa ia bisa terlibat dalam kenakalan itu.
“Saya telah Insyaf bahwa bangsa Eropa terutama kawan-kawan disekolah saya, agak menghinakan diri saya, karena saya hanya orang bumiputra saja. Oleh karena itu timbullah angan-angan dalam kalbu saya akan menunjukan pada sekalian orang, bahwa saya tidak sekali-kali ketinggalan tentang apapun juga dari mereka itu.”[20]

Achmad berusaha bangkit dari ketertinggalan orang pribumi, seperti mitos kawan-kawan Eropa-nya, dia berhasil ujudkan angan-angannya tadi. Walau dengan kenakalan sekalipun.
Achmad Djajadinningrat menjalani pensiun setelah menjabat anggota Raad van Indie pada tahun 1932, jabatan itu sebelumnya hanya diisi orang Eeropa. Snouck Hurgronje, adalah pembimbing Ahmad dan adik-adiknya dalam berproses menjadi orang modern Hindia. bersama Snouck, Ahmad dan adik-adiknya berhasil melewati prasangka orang-orang pribumi maupun kulit putih.[21]
Balai Pustaka pernah ikut membantu menterjemahkan buku untuk diterbitkan oleh Firma G. Kolff & Co di Batavia. Buku iut adalah  Kenang-kenangan Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat—aslinya berbahasa Belanda dengan judul Herinneringen van Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat—tahun 1936.[22] Dalam buku ini kita bisa membaca kondisi Banten masa kolonial, menurut kacamata seorang Achmaad Djajadiningrat.
            Bagi para bangsawan tidak merdeka diawal abad XX, termasuk Achmad Djajadiningrat, akar dari keksatrian adalah kepatuhan pada Ratu (Belanda) yang mengusai btanah Hindia Belanda—termasuk juga Banten dimana Achmad menjadi penguasa tradisionalnya. Achmad begitu hormat pada Ratu—kala itu adalah Ratu Wilhelmina—karena hormat Achmad menyebutnya dengan kata Zij—Ia dengan huruf kapital besar pada huruf pertama.[23]
            Bagaimanapun, Achmad adalah orang yang skeptis pada pemerintah kolonial kendati dia tergolong moderat—juga dianggap koperatif sebagai orang pergerakan yang setia dijalurnya—dia tidak sepenuhnya percaya pada pemerintah kolonial dikemudian hari. Dalam sebuah artikel Darmo Kondo edisi tanggal 12 Januari 1934, Achmad berkata

“Saya tidak berharap pertolongan apapun dari negeri Belanda agar Indonesia keluar dari krisis yang dialami dewasa ini. Untuk dukungan semacam itu Belanda terlalu memusatkan pada kepentingannya sendiri, dengan demikian mereka akan melanjutkan apa pun yang dapat diambilnya dari koloni.”[24]

Memang, dimanapun didunia ini, kaum penjajah dalam sejarah hanya mengambil apa saja dari objek yang dieksploitasinya dengan berbagai cara. Di negara koloni, prioritas pertama untuk negara induk dan berikutnya baru untuk pribumi, bila memungkinkan penguasa kolonial itu. Itulah mengapa Achmad Djajadiningrat tidak mau berharap banyak pada pemerintah kolonial di Hindia Belanda.



[1] Bob Hering. M.H. Thamrin and His Quest For Indonesian Nationshood, ab. Harsono Soetedjo, M.H. Thamrin: Membangun Nasionalisme Indonesia, Jakarta, Hasta Mitra, 2003. h. 174n.
[2] P. Swantoro, Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu, Jakarta, KPG, 2002. h. 60.
[3] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta, LP3ES, 1996. h. 229.
[4] Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Jakarta, Kompas. 2006. h. 494.
[5] Bob Hering., h.71.
[6] Ibid. h. 83-85.
[7] Achmad Djajadiningrat, Herinneringen van Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat,ab Balai Pustaka, Kenang-kenangan Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat, Batavia, Kolff-Bunning-Balai Pustaka, 1936. h. 392.
[8] Ibid. h. 393
[9] Bob Hering., h. 83-85
[10] Achmad Djajadiningrat, h. 393.
[11] Bob Hering., h.232.
[12] Parakitri Simbolon, h. 722.
[13] Achmad Djajadiningrat, h. 304: Parakirti Simbolon, h. 540-541.
[14] Achmad Djajadiningrat, h. 1-2.
[15] P. Swantoro, Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu, Jakarta, KPG, 2002. h. 60.
[16] Gunawan Muhamad, Kenangan Pangeran Achmad Djajadiningrat, dalam kumpulan esai  Catatan Pinggi, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1997. h. 278-279: Tempo 1 November 1980.
[17] Ibid.
[18] Achmad Djajadiningrat, h. 87.
[19] Ibid.
[20] Ibid., h. 100.
[21] P. Swantoro, h. 62-63.
[22] Ibid., h. 57.
[23] Gunawan Muhamad, loc. cit.
[24] Bob Hering., h. 232.