Sabtu, Juli 07, 2012

I.J. Kasimo: orang Katolik dalam pergerakan Nasional

Anggota Volksraad ini selalu membela kepentingan pribumi Nusantara tanpa kecuali. Dia membela semua pribumi, termasuk mayoritas kendati dia adalah minoritas agama yang dianut orang pribumi nusantara.


Terlahir disebuah kota feodal, Yogyakarta pada 10 April 1900.Kasimo berasal dari jaringan keluarga feodal rendahan kraton. Ayahnya, Ronosentiko—seorang prajurit kraton, Mantrijeron. Kasimo terlahir dari rahim Dalikem. Sebagai prajurit kraton, Ronosentiko memiliki kedudukan terhormat. Kendati demikian, dari kraton Ronosentiko tidak menerima gaji sepeserpun kecuali tanah 2 jung—setara dengan delapan bau—sebagai jasanya kepada kraton. Sejak kecil dirinya sudah mulai bekerja keras—dia mulai bertanggungjawab kepada adik-adiknya—dia rajin membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. [1]
Kedudukan keluarganya yang bukan tergolong orang susah, memungkinkannya untuk bersekolah kendati hanya di Tweede Inlandsche School (Sekolah Ongko Loro) di Kampung Gading; tidak jauh dari rumahnya. Sekolah bumiputra ini biasa dikenal sebagai Sekolah Setalenen. Waktu itu biaya sekolah disitu hanya  25 sen atau setali uang. Usianya baru 8 tahun ketika memasuki sekolah itu. Kawan-kawannya sekelasnya berusia lebih tua darinya. Sekolah menjadi hal menarik bagiKasimo kecil—dia memiliki banyak teman disekolah. Menyesuaikan diri dalam pergaulan di sekolah bukan hal sulit baginya—sifat egalitarian-nya mulai tumbuh—karena dirinya merasa dia adalah anak dari keluarga sederhana kendati ayahnya orang terpandang. [2] Kasimo tidak terlahir dalam keluargga Katolik kendati dia akhirnya menjadi Katolik dan juga mewakili orang-orang Katolik dalam perjuangannya.
Menjadi Seorang Katolik
            Suatu ketika—sebelum liburan puasa tahun 1912—Sekolah Ongko Loro kampung Gading kedatangan Romo Frans van Lith. Saat itu Kasimoduduk dikelas IV. Romo van Lith datang dengan dandanan parlente. [3]Romo van Lith—seorang kepala Kweekschool atau sekolah guru Muntilan—sedang mencari murid untuk sekolahnya yang sepi kekurangan murid.Kweekschool Muntilan  asuhan van Lith adalah Kweekschool swasta pertama yang diakui pemerintah kolonial Belanda. [4] Setiap tahun sang Romo selalu mengadakan kunjungan ke sekolah-sekolah yang ada di Yogyakarta, Surakarta, Magelang dan Klaten untuk mencari murid. [5]
            Kasimo merasa tertarik dengan ajakan sang romo kepada murid-murid Sekolah Ongko Loro untuk belajar di Kweekschool-nya. Tidak ada rencana bagi kasimo setelah lulus dari Sekolah Ongko Loro. Ia sempat dihadapkan beberapa pilihan mulai menjadi prajurit kraton seperti ayahnya; punakawan di kraton, dia tidak tertarik. Berdiam dirumah juga bukan hal baik baginya. Diusianya yang baru 12 tahun itu, Kasimomengambil keputusan yang paling menentukan dalam hidupnya: belajar diKweekschool Muntilan. [6]
            Sebelumnya dia berbicara terlebih dahulu dengan ayahnya. Ronosentiko yang berpikiran maju lalu mengijinkan putranya, kendati putranya sekolah di sekolah katolik, padahal waktu itu rasa curiga penduduk kepada missi dan zending cukup kuat. Tujuan Kasimo awalnya hanya ingin sekolah dan bukan menjadi seorang katolik. [7]
            Setelah lulus Sekolah Ongko LoroKasimo pergi ke Muntilan menanggapi tawaran Van Lith untuk sekolah di Kweekschool Muntilan. Tidak ada diskriminatif di Kweekschool Muntilan. [8] Diawal-awal sekolahnya kasimo harus menjalani masa beradaptasi sebagai siswa baru, semuanya teratasi perlahan setelah bertemu dua kawannya di Sekolah Ongko Loro Kampung Gading dulu. Kasimo perlahan terbiasa dengan kehidupan asrama yang disiplin. Suatu ketika Kasimo minta diberikan pelajaran agama Katolik kepada pihak sekolah. Kasimo mulai tertarik dengan ajaran katolik karena tertarik dengan tingkah laku yang baik, sopan dan saleh siswa-siswa Kweekschool Muntilan. Kendati berusia diatas 13 tahun, mereka tidak pernah mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak senonoh. Kasimo mulai serius belajar agama Katolik langsung pada Romo van Lith. Pada perayaan paskah bulan April 1913, Kasimomemperoleh nama baptis-nya Ignatius Joseph. Nama lengkapnya-pun berubah menjadi Ignatius Joseph Kasimo, nama yang terus disandangnya.[9]
Kasimo meninggal Kweekschool Muntilan diakhir kelas V tanpa meraih ijazah. Pelajaran umum di kelas V Kweekschool sudah dianggap cukup, karena di kelas VI lebih banyak praktek mengajar saja. Walau begitu jebolan kelas V Kweekschool yang tidak ingin menjadi guru bolah melanjutkan ke Middelbare Landbouw School (sekolah Pertanian Menengah disingkat MLS). [10]
Kasimo termasuk yang tidak ingin menjadi guru, karenanya dia kemudian pada tahun 1918 memilih belajar pertanian di MLS Bogor. MLS Bogor dibagi menjadi 2 jurusan:   Pertanian dan Kedokteran Hewan.Kasimo memiliki Pertanian karena kakek neneknya seorang petani, dunia pertanian tidak asing baginya. Lama pendidikan disini 3 tahun, setelah lulus siswa disini ditarik menjadi pegawai perkebuan pemerintah. Sebagai siswa ikatan dinas Kasimo menerima beasiswa pemerintah kolonial tiap bulan sebesar f 35 dikelas I; f 40 dikelas II; dan f 45 di kelas III. Di Bogor,Kasimo dan beberapa temannya menyewa sebuah rumah tua yang sempit untuk 14 anak untuk dijadikan asrama. [11]
Kasimo pernah membaca Katholieke Maatschappijleer (ajaran sosial katolik) karangan Imam Karmelit, Dr Llovera yang diterjemahkan oleh Dr Drieschen. Dalam buku mengutip Ferari dalam Il Papolo yang menyatakan: " setiap bangsa mempunyai hak untuk mencapai kemerdekaandan persatuan." Buku hadiah Romo L. Von Rijkevorsel ini memberi inspirasi besar bagi Kasimo. [12]
Di  Semasa di Bogor ini bergabung dengan Tri Koro Darmo,kemudian berganti menjadi Jong Java. [13] Selain itu, Kasimo pernah menjadi ketua perkumpulan siswa MLS, Ceres. Di Bogor Kasimo banyak berinteraksi dengan banyak orang yang berasal dari berbagai daerah. [14]
Selesai belajar di MLS Bogor pada pertengahan 1921, Kasimokemudian bekerja di kantor pemerintah dengan jabatan Aspirant Landbouw Consultant, dengan gaji pertamanya f 100 perbulan. Pos pertamanya adalah perkebunan karet milik negara Merbuh, kabupaten Kendal.  Diperkebunan ini bersama mandor-mandor orang-orang Belanda bertugas mengawasi kerja buruh-buruh pribumi. Kasimo memiliki citra yang baik dimata buruh. Sayangnya hubungan yang erat dengan buruh inilah dirinya hanya bekerja sebentar di Merbuh. Masalahnya bermula ketika Kasimo menerima buruh yang dipecat di bagian lain. Sebenarnya ada peringatan dari orang-orang Belanda di Jawatannya untuk melarang bekerjanya pegawai tadi, tapi peringatan itu dtidak diberitahukan langsung kepada Kasimo, jadi Kasimo berani mempertahankan buruh yang dipecat itu. Suatu ketika kasimo dipanggil pimpinan tertinggi perkebunan,Kasimo dimaki-maki oleh atasannya, dia dituduh merusak ketertiban umum dan suasana kerja. Kasimo juga dikatakan apejongen (anak kera). Mendengar itu Kasimo marah dan berkata: "U bent zelf een aap!" (tuan berarti seekor kera). Pimpinan perkebunan menjadi semakin marah karena belum ada seorang Inlander (pribumi) yang pernah berani menghinany seperti Kasimo. [15]
Insiden tadi berbuntut dengan dipersalahkannya Kasimo hingga  dirinya dipindahkan menjadi guru sekolah pertanian di Tegalgondo, Klaten. Kepala Sekolahnya adalah kakak kelasnya di MLS Bogor, Suwardi. Kasimotetap hidup mapan dengan gaji f 100 sebulan. [16]
Karir Politik Kasimo
          Pada suatu hari di bulan Agustus 1923, disebuah ruang kelas sekolah Missi di Yogyakarta; sekitar 30 alumni Kweekschool Muntilan. Dalam karangannya Kegiatan-kegiatan Golongan Katolik Indonesia dibidang Politik (1964),   Kasimo melukiskan:
            "Usia mereka itu semuanya antara 20-30 tahun. Mereka adalah pemuda-pemuda Jawa biasa saja, berasal dari keluarga-keluarga biasa pula. Mereka tahu dan insyaf bahwa kedudukan mereka dikalangan masyarakat tidak dapat dipandang tinggi. Kecuali itu mereka juga tahu bahwa jumlah orang Katolik Jawa waktu itu belum, masih belum 10.000 orang. Meskipun demikian, dalam pertemuan tersebut mereka dengan berani mengambil keputusan untuk mendirikan partai politik untuk golongan Katolik Jawa sendiri, disamping Indische Katholieke Partij yang sudah ada tetapi 100% anggotanya adalah terdiri dari orang-orang Katolik Belanda." [17]
           
Usia kasimo saat itu baru 23 tahun. Baru dua tahun lulus dari MLS Bogor dan masih bekerja sebagai guru di sekolah pertanian Tegalgondo. Panitia persiapan pembentukan partai katolik sendiri sudah terbentuk sejak 1922. terlebih dahulu mereka mempersiapkan dahulu masyarakat katolik Jawa. Dalam setiap pertemuan gunakan untuk mematangkan gagasan pendirian Partai Katolik, kendati mendapat tanggapan yang tidak menggembirakan. Hal ini karena adanya Indische Katholieke Partij (IKP)dan diantara orang Katolik pribumi ada keinginan bergabung dengan partai tersebut. [18]
            Pemuda-pemuda Katolik tadi berpandangan bahwa IKP arah politiknya lebih cenderung pro terhadap pemerintah kolonial. Sebuah partai baru kemudian lahir dengan nama Katholieke Vereeneging voor Politieke Actie Afdeling Katholieke Javanen (Perkumpulan Katolik Untuk Aksi Politik Orang-orang Jawa Katolik). Orang-orang Jawa dengan namaPerkoempoelan Politik Katolik Djawi (PPKD). Awalnya partai ini berafiliasi dengan IKP. Partai ini didirikan Kasimo dan kawan-kawannya. [19]
            Bersama F.S . Harjadi (mantan ketua Boedi Oetomo cabang Klaten)  sebagai ketua; Raden Jakob Soejadi sebagai sekretaris; danKasimo sebagai sekretaris PPKD, mereka merumuskan pedoman pokok PPKD: aksi PPKD adalah dilapangan politik dengan politik beazas-azas Katolik; aksi bersifat permulaan Nasionalis Jawa, lalu Nasional Indonesia; haluan PPKD harus evolusioner, artinya menurut jalan teratur, dan selalu tanggap pada situasi yang terjadi. [20]
            Dalam rapat tahunan 1924, Kasimo terpilih sebagai ketua PPKD. Jabatan ini dipegang sampai tahun 1960. Sejak 22 Februari 1925 PPKD yang semula berafiliasi dengan IKP berdiri sendiri sebagai partai politik. Pada tahun 1930, diputuskan Perkoempoelan Politik Katolik Djawaberubah nama menjadi Perkoempoelan Politik Katolik Indonesia(PPKI) .Semula hanya di Jawa Tengah saja, kemudian memiliki cabang-cabang di jakarta, Medan dan Makassar. [21]
            Semula PPKD dengan embel-embel kata Djawa-nya terasa keanggotaan partai hanya sebats orang-orang katolik Jawa saja. Perubahan nama menjadi PPKI memungkinkan partai Kasimo berkembang dengan menerima anggota non Jawa. Akar kesukuan dalam partai katolik pimpinan Kasimo ini perlahan memudar. [22]
            Dalam rangka menjalankan prinsip "haluan perubahan yang evolusioner," Kasimo berusaha memperjuangkan perjuangan bangsa Indonesia melalui Volksraad (Dewan Rakyat). Jakob Soejadi adalah tokoh katolik yang pernah duduk di Volksraad dari tahun 1924-1927. Pada bulan Juli 1931, Kasimo terpilih untuk duduk di Volksraad. Komunitas pribumi dalam Volksraad sangat heterogen karena terdiri dari suku-suku dan agama-agama yang berbeda. Walau begitu mereka kadang dipersatukan dalam cita-cita memperjuangkan hak rakyat Indonesia. Mereka berusaha memprioritaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk kepentingan pribumi, kendati sering kali gagal. [23]
            Banyak kaum pergerakan yang beranggapan tentang   Volksraad.Tidak selamanya Volksraad menjadi boneka pemerintah kolonial. Nyatanya Husni Thamrin sangat konsisten membela kepentingan pribumi miskin. Thamrin bahkan tampil sebagai anggota Volksraad paling keras bereaksi terhadap kebijakan kolonial bahkan konsisten menuntut Indonesia berparlemen. [24]
            Di Volksraad terdapat kelompok radikal yang berani menentang kebijakan pemerintah kolonial. Selain Thamrin terdapat: Sam Ratulangi, Soetardjo Kertohadikoesoemo, Soesanto Tirtoprodjo, Soekardjo Wirjopranoto. Mereka berusaha mengadakan perombakan sistem kenegaraan, politik, ekonomi dan sosial dalam cara-cara yang tida bertentangan dengan hukum. [25]
            Volksraad adalah jalan meraih semua cita-cita tadi. Beberapa anggota partainya juga diarahakan untuk duduk dibeberapa dewan perwakilan di kabupaten. Kasimo telah menduduki kursi Volksraad selama beberapa periode yaitu: 1931-1935 1935-1939; dan 1939-1943. [26]Beberapa anggota partainya juga diarahakan untuk duduk dibeberapa dewan perwakilan di kabupaten. Dalam dewan tingkat kabupaten tersebut—dengan berdasar prinsip-prinsip katolik dan program kerja PPKI—diajukan beberapa tuntutan kepada pemerintah kolonial. Mulai dari desentralisasi pemerintahan; undang-undang sosial; peningkatan fasilitas dan kesehatan rakyat. [27]
            Kasimo pernah menyampaikan tuntutannya mengenai perbaikan kehidupan rakyat pribumi dan tuntutannya ini semacam kebutuhan Nasional. Dalam sebuah pidatonya dalam sidang Volksraad tanggal 19 Juli 1932, Kasimo memaparkan:
            "Tuan Ketua! Dengan ini saya menyatakan bahwa suku-suku bangsa Indonesia yang berada dibawah kekuasaan Negeri Belanda, menurut kodratnya mempunyai hak serta kewajiban untuk membina eksistensinya sendiri sebagai bangsa, dan karenanya berhak memperjuangkan pengaturan negara sendiri sebagai sarana untuk mencapai kesejahteraan abngsa sesuai dengan kebutuhan nasional, yaitu sesempurna mungkin Ini berarti bahwaNegeri Belanda sebagai negara berbudaya terpanggil untu ikut mengembangkan seluruh rakyat, dan khususnya sebagai negara penjajah, mempunyai kewajiban untuk membimbing dan merampungkan pendidikan rakyat, sehingga dengan demikian dapat dicapai kesejahteraan rakyat Indonesia, untuk kemudian dapat diberikan hak untuk mengatur dan akhirnya memerintah sendiri. [28]
           
            Kata " memerintah sendiri" diakhir kutipan tadi hampir mirip denga petisi Soetadrjo yang arahnya adalah pemerintahan sendiri atas bangsa Indonesia secara bertahap. Petisi Soetardjo mulai diajukan pada tanggal 15 Juli 1936.
            Kasimo telah mewakili orang-orang Katolik dalam memmperjuangkan Indonesia merdeka. Selain seorang katolik, dirinya juga telah menjadi seorang Indonesia sejati, berjiwa nasional dan dalam hal ketatanegaraan bercita-cita yang sama dengan kelompok lain.
            Sebagai orang Katolik dalam pergerakan Nasional, Kasimo pernah merasakan bahwa agama Katolik dicap sebagai agama Belanda lantaran dianut oleh banyak orang-orang Belanda. Mengenai hal ini Kasimoberpendapat:
            "...Agama Kristen-Katolik dipandang sebagai agama orang Belanda, agama kaum penjajah, sehingga orang Indonesia yang beragama Kristen-Katolik juga lalu dianggap berjiwa atau bersemangat Belanda atau penjajah..untuk..itu..dipandang perlu untuk mendirikan partai sendiri untuk orang-orang Katolik..." [29]
            Menurut Kasimo, mengikuti aspirasi nasional tidaklah bertentangan dengan ajaran Katolik. Dalam pidato perdananya sebagai anggota Volksraad 13 Juli 1931 mengenai arti sebuah kemerdekaan bagi umat Katolik Indonesia yang dia wakili:
"...kami orang-orang Katolik Djawa bukanlah pengikut yang baik dari perintis besar Misi Jawa ini (Maksudnya Romo van Lith) jika kami tidak sependapat dengan dia serta pengarang-pengarang Katolik terkenal lainnyaseperti Cathrein dan Ferrari, mengenai prinsip kebangsaan, yaitu prinsip yang menyatakan bahwa setiap bangsa mempunyai hak untuk membntuk negara merdeka.."

Jelas sekali bahwa Kasimo adalah duta sekaligus suara umat Katolik Indonesia dalam pergerakan Nasional. Kendati dirinya wakil dari kaum Katolik namun dia sebenarnya mewakili kepentingan pribumi yang sedang dibelenggu oleh kekuasaan kolonial Belanda tanpa memandang kepercayaan dari orang-orang yang dibelanya, termasuk juga mayoritas umat Islam saat itu. Kasimo adalah wakil kaum minoritas Katolik yang berjuang untuk seluruh Indonesia.
           


[1] Tim Wartawan Kompas dan Redaksi Penerbit Gramedia, I.J. Kasimo: Hidup dan Perjuangannya, Jakarta, Gramedia, 1980. h. 4.
[2] Tashadi dkk, Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan, Jakarta, Dedikbud, 1993. h. 156.
[3] Tim Wartawan Kompas dan Redaksi Penerbit Gramedia, I.J. Kasimo: Hidup dan Perjuangannya, h. 9.
[4]  Tashadi dkk, Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan, h. 161.
[5]  Tim Wartawan Kompas dan Redaksi Penerbit Gramedia, I.J. Kasimo: Hidup dan Perjuangannya, loc. cit .
[6] Ibid.
[7] Ibid., h. 9-10.
                [8]  Heri Siswanto, I.J. Kasimo dan Partai Katolik, Majalah Filsafat Driyarkara Tahun XXII nomor 3. h. 23.
[9]  Tashadi dkk, Tokoh-tokoh Pemikir Paham Kebangsaan, h. 160-161.
[10] Tim Wartawan Kompas dan Redaksi Penerbit Gramedia, I.J. Kasimo: Hidup dan Perjuangannya, h. 15.
[11] Ibid., h. 16-17.
[12] Ibid., h. 18-19.
[13] Heri Siswanto, I.J. Kasimo dan Partai Katolik, loc. cit.
[14] Tim Wartawan Kompas dan Redaksi Penerbit Gramedia, I.J. Kasimo: Hidup dan Perjuangannya, h. 19.
[15] Ibid., h. 19-20.
[16] Ibid., h. 20.
[17] Ibid., h. 21.
[18] Ibid., h. 21-22.
[19]Heri Siswanto, I.J. Kasimo dan Partai Katolik, op. cit., h. 24-25.
[20] Ibid., h. 25.
[21] Ibid., h. 25-26.
[22]  I.J KasimoGolongan Katolik Indonesia Dalam Sumpah Pemuda, dalam 45 Tahun Sumpah Pemuda, Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta & PT Gunung Agung, 1974. h. 216.
[23] Ibid., h. 26.
[24] Bob Hering, Moehamad Hoeni Thamrin: Tokoh Betawi-Nasionalis Perintis Kemerdekaan, Jakarta, Hasta Mitra, 2003. h. 399-403.
[25] Heri Siswanto, I.J. Kasimo dan Partai Katolik, op. cit., h. 27.
[26] Ibid.
[27] Ibid., h.27-28.
[28] Ibid., h. 28.
[29] I.J KasimoGolongan Katolik Indonesia Dalam Sumpah Pemuda, loc. cit.

Hasyim Asyhari dan Gerakan Islam Tradisional


"Bersamaan dengan menurunnya penguasa tradisional dimata publik, suatu kelompok elit baru muncul dengan menonjol, yaitu para haji dan kyai". (Bernard Dahn). [1] Hasyim Asyhari adalah salah satu dari hari dan kyai itu. Perannya dalam kemunculan organisasi Islam modern, Nahdatul Ulama terus dikenang hingga kini.


Akhir abad XIX, menurut Bernard Dahm, adalah masa bagi munculnya semangat baru Islam di Hindia Belanda. Hal ini adalah imbas dari semakin meningkatnya jumlah jemaah haji Indonesia yang berangkat ke Mekkah, tempat mereka mendapat pencerahan dan kesadaran baru. Jemaah haji Hindia yang biasanya adalah para guru atau bahkan pemimpin pondok Pesantren yang menyebar di wilayah yang pengaruh Islam-nya begitu kuat. Kesadaran Islam baru ini, akhirnya terserap juga dalam lingkungan pesantren dimana jalinan persatuan antara suku-suku juga tumbuh. Tanpa bisa dihindari, sikap anti kolonialisme juga tumbuh, melihat kondisi sosial ekonomi masyarajkat Indonesia begitu mengenaskan oleh politik kolonial Pemerintah Hindia Belanda. [2]
Kebangkitan Islam juga merupakan benih-benih masinalisme modern Indonesia. Kebangkitan ini bukanlah sesuatu yang homogen, dua arus utama mempengaruhinya antara lain, pertama adalah yang ingin melepaskan diri dari empat mazhab besar yang dipegang oleh mayoritas muslim Hindia; kedua, mereka yang juga berusaha meningkatkan peranan dan pemikiran Islam tanpa harus meninggalkan keterikatannya pada empat mazhab besar tadi. [3] Hasyim Asyhari termasuk kelompok kedua.
Pemerintah kolonial Belanda semakit ketakutan dengan perkembangan Islam memasuki abad XX.  Setidaknya, ditahun 1887, karena kebangkitan Islam tersebut sebanyak 43.000 desa yang tersebar dipenjuru di Indonesia telah memiliki haji sebanyak 49.819 orang. Jumlah ulama juga meningkat mencapai 21.500 orang. Secara perlahan kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda dan pembantunya—penguasa lokal pribumi—mulai diabaikan oleh mereka. Rupanya sebagian pejabat kolonial sadar akan semakin buruknya kehidupan  rakyat jajahan karena politik koloniaol di Hindia. Ditahun 1899, Ch van Deventer mengkampanyekan politik etis dalam tulisannya "A Debt of Honour."  Sebuah interpretasi tentang politik etis dalam dunia pendidikan, Bernard Dahm mengatakan "kebijakan baru dalam bidang pendidikan bukanlah hadiah yang dilimpahkan oleh penguasa, melainkan sebagai akibat dari aktifitas Islam dan semakin meningkatnya ketidakpuasan sosial serta tuntutan atas perluanya tenaga terdidik."  Jadi politik etis balas budi, mtetapi hanya untuk mencari muka dihadapan rang pribumi. Kepedulian itu hanya topeng kolonial, apa yang tersembunyi adalah mempertahankan kekuasaan dan mencari keuntungan.  Bagi Snouck Hurgronje, pendidikan barat sangat diperlukan dalam menghadapi atau bahkan mengalahkan pengaruh Islam di tanah Hindia Belanda. [4]Usul Snouck Hurgronje iut tentunya ditanggapi dengan serius, akhirnya beberapa sekolah model dengan mutu pendidikan yang baik bermunculan di Hindia Belanda, meski dalam jumlah yang kecil sekali dan hanya diakses sekelompok pribumi saja. Usul ini tergolong melahirkan banyak tokoh intelektual pribumi sekuler.
Gerakan Islam Tradisional
Sebelum mendirikan Nahdatul Ulama pada tahun 1926, berbagai gerakan keagamaan (Islam) sudah tersebar diberbagai kota besar maupun kecil di Hindia Belanda sejak dekade 1910an. Tahun 1912 sudah ada gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Sayangnya gerakan Muhamadiyah pimpinan Ahmad Dahlan ini, sebelum wafatnya sang pemimpin tahun 1923, belum mampu menyentuh akar-akar fundamental Islam tradisional. Karena tekanan awal gerakan Islam modern itu bertumpu pada masalah sosial, ekonomi dan politik mengakibatkan munculnya rasa terancam dari para pimpinan Islam tradisional. Meningkatnya jumlah pengikut Sarekat Islam menjelang dekade 1920an dikarenakan karena peran kyai dalam memobilisasi massa pada tingkat masyarakat luas. Didalam Sarekat Islam sendiri terdapat dua kubu: Islam modern maupun Islam tradisional. Sering terjadi perdebatan antar kyai pimpinan pondok pesantran dan para ulama pasca meninggalkan Ahmad Dahlan. Wadah perdebatan mereka adalah organisasi Tashwirul Afkar di Surabaya. [5]
Februari 1923 di kota Bandung, berdirilah Persatuan Islam (Persis). Para anggota Persis sering melontarkan pandangan-pandangan tidak kompromistis yang ditujukan pada pikiran Islam tradisional.  Ketika Kongres Al-Islam  diselenggarakan di Bandung pada bulan Februari 1926, pemimpin gerakan Islam modern tampil mendominasi forum kongres dan usul-usul pimpinan Islam tradisional diabaikan. Usulan kaum tradisional itu menyangkut terpeliharanya praktek keagamaan tradisional seperti eksistensi empat mazhab dan pemeliharaan kuburan nabi dan empat sahabatnya. Karenanya, Hasyim Asyhari lalu melontarkan kritik pedas pada forum yang dikuasai kaum Islam modern itu. [6]
Permulaan tahun 1926 dengan  kota Surabaya sebagai pusat gerakannya,Hasyim Asyhari membentuk dan memimpin Nahdatul Ulama. Dengan pengaruhnya yang besar, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nahdatul Ulama semakin berkembang dengan banyak pendukung dari dua daerah itu. Dalam anggaran dasar-nya yang dirumuskan tahun 1927, organisasi ini bertujuan memperkuat kesetiaan kaum Muslimin pada salah satu dari empat  mazhab yang ada serta melakukan kegiatan-kegiatan yang menguntungkan dalam ajaran Islam. Kegiatan Nahdatul Ulama antara lain: pertama, memperkuat persatuan antara sesama ulama  yang masih setia pada empat mazhab; kedua,  memberi bimbingan tentang kitab-kitab yang diajarkan pada lembaga pendidikan Islam; ketiga, menyebarkan ajaran-ajaran Islam; keempat, menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan tuntutan empat mazhab; kelima, memperluas jumlah madrasah dan membantu organisasinya; keenam, membantu pembangunan masjid, langgar dan pondok pesantran; ketujuh, membantu anak-anak yatim piatu dan fakir miskin serta mendirikan badan-badan usaha untuk memajukan kehidupan ekonomi anggota. [7] 
            Sejak berdirinya, Nahdatul Ulama terbilang mampu membendung masuknya ide-ide Islam modern ke desa-desa Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejak akhir dekade 1920an terjadi status quo, dimana kaum Islam modern memusatkan gerakannya dilingkungan perkotaan, sedang Islam tradisional cukup puas dengan menarik pengikut dari lingkungan desa saja. Kendati ada persaingan antara Islam tradisional dengan Islam modern, keduanya bersatu dalam Majelis Ulama A'la  Indonesia (MUAI). Kaum Islam modern juga mengakui kharisma dan pengaruh Hasyim Asyhari begitu bagi masyarakat Islam tradisional menimbulkan kesepakatan menunjuk Hasyim Asyhari dan putranya, Wahin Hasyim, duduk sebagai pimpinan MUAI. [8]
            Apa yang dilakukan Hasyim Asyhari selama kurun waktu masa pergerakan nasional adalah membenahi diri dan memperkuat kaum Islam tradisional yang tersebar di pelosok desa dalam gerakan Islam tradisonalnya, Nahdatul Ulama.Hasyim Asyhari berusaha memelihara kekuatan kebangkitan Islam dengan basis kaum Islam tradisonal dimasa pergerakan nasional sebagai kekuatan potensial pergerakan Islam. Kendati tidak tampak, kaum Islam tradisional yang terdiri dari kyai dan santri ini seolah menjadi kekuatan menakutkan bagi pemerintah kolonial dimasa pergerakan dan sebelumnya. Peran kelompok Islam tradisional dalam pergerakan nasional seolah tertutupi dalam lembaran sejarah bangsa ini.
Kyai dari Tebu Ireng
Hasyim Asyhari adalah keturunan kyai dari Demak—pusat perkembangan Islam pertama di Jawa Tengah. Hasyim terlahir pada tanggal 14 Februari 1871. Sejak usia 6 tahun, Hasyim mulai belajar mengaji dari ayahnya. Hasyim sudah terlihst cerdas sejak dini. Ketika baru berumur 12 tahun, dirinya sudah diberikan kesempatan mengajar para santri di pesantren ayahnya. [9]
Sejak usia 15 tahun, dirinya mulai berkelana dari pesantren ke pesantren di Jawa Timur dan Madura. Tahun 1891, Hasyim belajar di pesantren kyai Ja'kub, Sialan Panji, Sidoarjo. Ia mengikuti jejek ayahnya, menikahi putri gurunya di tahun 1892. Ditahun yang sama dirinya juga pergi berhaji ke Mekkah sambil menimba ilmu agama Islam. Salah satu gurunya adalah Syaikh Ahmad Khatib dari Minangkabau. Malangnya, setelah di Mekkah selama tujuh tahun, istrinya meninggal. [10]
            Selama berada di Mekkah, dirinya juga pernah memberi pelajaran agama Islam, walau sebentar, pada pelajar-pelajar dari Asia Tenggara seperti Burma, Siam, Malaysia, Indonesia dan sekitarnya. [11] Ketika Hasyim belajar di Mekkah, Mohamad Abduh sedang giat mengkampanyekan gerakan pembaruan pemikiran Islam yang kemudian juga ikut mewarnai babak baru sejarah Islam modern di Indonesia. Pembaruan Islam yang dibawa Mohamad Abduh yang berasal dari Mesir, menurut Deliar Noer, cukup mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di Mekkah. Syaikh Ahmad Khatib, salah satu guru Hasyim Asyhari, salah orang yang tertarik dengan ajaran Mohamad Abduh. Ide-ide pembaruan Islam yang usung Mohamad Abduh antara lain: memurnikan Islam dari pengaruh non Islam; mereformasi pendidikan Islam ditingkat unversitas; mengkaji dan merumuskan ajaran-ajaran Islam sesuai perkembangan zaman; mempertahankan Islam. [12]
            Apa yang menjadi pandangan gurunya, Syaikh Ahmad Khatib, tidak menjadi pandangan bagi Hasyim Asyhari. Sekembalinya ke Indonesia dua orang itu menempuh arus yang berbeda, Khatib memilih jalan pembaharuan dengan melepaskan diri pada empat mazhab besar. Hasyim  setuju dengan ide Mohamad Abduh dan Syaikh Ahmad Khatib mengenai melepaskan keterikatan umat Islam dari empat mazhab, tetapi Hasyim berpendapat bahwa tidak sepenuh apa yang menjadi praktik yang ada dan berlangsung di Hindia salah. [13]
Sekembalinya dari Mekkah, Hasyim memndirikan pesantren Tebuireng. Pesantren ini dimulai dengan tujuh orang murid lalu bertambah duapuluh orang yang kemudian terus berkembang. Muridnya-pun kelamaan tidak hanya santri biasa, tetapi juga kyai yang haus ilmu. Para kyai itu biasa datang pada bulan Sya'ban. Seorang guru Hasyim juga ada yang ikut belajar padanya di Tebu Ireng pada tahun 1933. Ini adalah tanda, betapa tinggi ilmu Hasyim Asyhari yang pernah belajar banyak Syeik di Mekkah. [14]
 Pengalaman belajar serta mengajar ini kelak bermanfaat baginya untuk mengembangkan metode pengajaran bagi pesantrennya kelak. Kondisi tanah kelahirannya, Hindia, terlihat kaum pribumi telah begitu dihinakan dan diperas oleh bangsa dari benua lain, Belanda. Rakyat pribumi dibodohi agar tidak melawan atas penindasan orang-orang Eropa itu. Pembodohan ini harus dihentikan oleh bngsa pribumi. Hasyim pernah mengatakan: "Bangsa tidak akan jaya apabila warganya bodoh. Hanya dengan ilmu suatu bangsa menjadi baik." Karenanya Hasyim lebih berkonsentrasi di jalur yang telah dijalani ayah kakek-kaket buyutnya, menjalankan sebuah pesantren. [15]
Usaha pendirian pesantren, rupanya mendapat banyak tantangan dari pemerintah kolonial yang berkeinginan agar umat Islam di Hindia terus terbelakang. Saat itu pemerintah Hindia Belanda melihat adanya ancaman dari gerakan Wahabi yang dibawa oleh orang-orang Islam yang naik haji. Tidak heran bila kuota haji pribumi kemudian dibatasi. Sebuah peristiwa yang memilukan lalu terjadi pada pesantren Tebu Ireng. Setelah mengalami kegagalan menjegal usaha HasyimAsyhari, sebuah pasuskan bersenjata kemudian dikirim untuk menduduki pesantren Tebu Ireng dan menghancurkan apa saja yang ada di dalam pesantren. Ada usaha dari aparat kolonial untuk menculik atau membunuh Hasyim Asyhari. Tidak  salah bila terjadi pertumpahan darah lantaran para santri pasti akan membela kyai-nya sampai mati. Tentu saja pemerintah kolonial, sebagai penyerang, menggunakan berbagai dalih atas tindakannya. Kaum santri dicap sebagtai pemberontak. Pesantren adalah pusat perusuh, pemberontak, atau bahkan tempat bercokol-nya orang-orang Islam Ekstrim. [16]
Setelah peristiwa memilukan itu, Hasyim menyaksikan, pesantrennya rusak berat. Kitab-kitab banyak yang disita. Para guru, santri dan tokoh masyarakat setempat lalu berkumpul. Pada kesempatan itu Hasyim berseru agar semua yang hadir bersabar dan tabah. "Kejadian-kejadian ini tidak boleh menghancurkan cita-cita dan mengendorkan semangat" kata Hasyim. Peristiwa ini justru menjadi pendorong utama mengganda tekat dan kegiatan dalam perjuangan. Hasyim juga mengirimkan utusan ke berbagai kota dan pulau di Hindia. Utusan itu berhasil mengumpulkan berbagai dukungan, baik moral maupun material dari orang-orang Islam yang simpati. Banyak pemuda dengan sukarela datang untuk melindungi pesantren. Banyak orang Islam beranggapan peristiwa ini tidak hanya merusak pesantren Tebu Ireng, tetapi juga menginjak-injak kaum muslim secara umum. [17]
Pada 7 Juli 1936, bertempat dirumahnya, Tebu Ireng, Hasyim ditanyai Mohamad Asad Syihab—seseorang yang kemudian menulis biografi HasyimAsyhari yang berjudul Hadlratussyaikh Haysim Asyhari: Perintis Kemerdekaan Indonesia. Mohamad Asad Syihab bertanya:"mengapa anda tidak menulis atau menyusun risalah tentang sebab-sebab dan motivasi anda memeluk Islam?".Hasyim lalu menjawab dengan agak menyesal; banyak sebab yang membuatnya tidak memulis, yaitu masih banyaknya kaum muslimin terkena trauma yang hampir-hampir merusak akidah. Trauma yang diimaksud Hasyim adalah 'orientasi'—musuh baru yang dating dari barat, Eropa. Ketakutan Hasyim menulis, lebih dikarenakan ketakutan akan dicap sama seperti orientalis Belanda tadi. [18]
Apa yang diberikan oleh hasyim Asyhari pada bangsa ini dengan Nahdatul Ulama-nya adalah dengan diakuinya warisan pendidikan tradisional, pesantren, sebagai lembaga pendidikan Islam yang diakui oleh bangsa ini. Pesantren selama ini menampung 15% anak didik Indonesia. Keberhasilan pesantren ini jelas karena usaha pelestarian dan moderniasi lembaga pesantren oleh Hasyim Asyhari. Dalam hal politik, Nahdatul Ulama yang sedianya diperuntukan bagi aspirasi kaum Islam tradisional mampu bermain dipentas nasional dengan baik. Terbukti dengan masuknya Nahdatul Ulama dalam empat besar dalam pemilu pertama bangsa Indonesia tahun 1955, delapan tahun setelah kematian Hasyim Asyhari. Dalam pemilu itu, Nahdatul Ulama mendapat tujuh juta suara (18,4%). Ini adalah bukti sejak berdirinya, setidaknya selama tiga dekade pertama NU telah aktif dalam perpolitikan nasional. [19]
Bersama Nahdatul Ulama, Hasyim Asyhari telah membawa masyarakat Islam tradisional yang agak terpinggirkan sejak masa-masa kolonial masuk dalam kancah pergerakan nasional. Mereka, selain tampil sebagai kekuatan yang konsisten dengan apa yang mereka anut dengan empat mazhabnya, juga ikut mewarnai sejarah perjuangan pergerakan bangsa ini untuk menentang dominasi pemerintah kolonial dalam kehidupan dimasa-masa kolonial.  Nahdatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama, sebenarnya memiliki dua hal yang harus dibendung dalam sejarah yakni gerakan pembaharuan dari
kaum Islam modernis dan tentunya pemerintah kolonial yang siap menindas kapan saja dengan berbagai dalih.


[1] Yantho Bashri &  Retno Suffatni, Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta, LKiS, 2004. h. 357.
[2] Ibid., h. 356.
[3] Ibid., h. 358.
[4] Ibid., h. 362-363.
[5] Ibid., h. 367.
[6] Ibid., h. 367-368.
[7] Ibid.
[8] Ibid., h. 369.
[9] Ibid., h. 354.
[10] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia(1900-1942), Jakarta, LP3ES, 1986. h. 249.
[11] Muhamad Asad Syihab, Hadlratussyaikh Haysim Asyhari: Perintis Kemerdekaan Indonesia.,  Yogykarta, Kurnia Kalam Semesta, 1994. h. 17.
[12] Yantho Bashri &  Retno Suffatni, h. 359-360.
[13] Ibid., h. 361.
[14] Deliar Noer,  h. 249-250.
[15] Muhamad Asad Syihab, h. 17-18.
[16] Ibid., h. 18-19.
[17] Ibid., h. 21-22.
[18] Ibid., h. 62-63.
[19] Yantho Bashri &  Retno Suffatni, h. 372: Deliar Noer, h. 6.

Selasa, Juni 12, 2012

Samin Surantiko: Pembebas Kaum Kromo


Tanah kering di Blora yang kaya hutan jati itu ternyata memiliki sosok Mahatma Gandhi yang telah membentuk masyarakat komunalnya seperti Utopia-nya Thomas Robert More. Sejarah Indonesia telah mencatat perlawanan Samin Surantiko, walau hanya sedikit.

 

Potret Samin Sang Pencerah dan Pembebas Kaum Kromo
 
Sebenarnya orang-orang Samin setelah kematian sang pemimpinnya yang bernama Samin Surontiko, tidak suka dijuluki Samin. Kata Samin memiliki konotasi bodoh, tapi bukan kebodohan karena tidak atau kurang cerdas, tetapi bodoh yang keras kepala dalam mengukuhkan pendirian mereka. [1] Orang-orang Samin lebih suka dijuluki Wong Sikep (orang yang bertanggungjawab dalam konotasi baik dan jujur). [2]
Samin yang awalnya nama seorang pernah melawan kekuasaan dengan cara yang unik itu, kini menjadi kata juga cemoohan. Kata samin yang menjadi bahan ejekan bisa jadi bersifat politis. Hal ini diciptkan oleh penguasa yang telah menghancurkan perlawanan tanpa kekerasan ditambah sebuah ejekan. Samin yang semula adalah berusaha memanusiakan manusia, telah dijadikan ejekan yang tidak manusiawi. [3] 
Samin yang kadang diartikan bodoh ini telah menutupi keharuman nama samin dalam sejarah perlawanan sosial di Indonesia. Samin adalah sosok gerakan sosial yang nyaris dilupakan dalam sejarah. Samin bisa disejajarkan dengan Pitung Robinhood Betawi yang juga dikecilkan dan nyaris tidak disebut dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Samin telah meninggalkan masyarakat Samin yang telah dibentuknya lebih dari seabad lalu.   Masyarakat Samin adalah masyarakat eksklusif yang hidup komunial dibeberapa kabupaten diutara perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Mereka memulai perlawannya dari sebuah protes atas program perluasan hujan jati oleh pemrintah kolonial dan pendukung pribuminya. Lama-kelamaan gerakan ini berkembang menjadi gerakan kebatinan yang menentang segala bentuk formalitas. Seperti administrasi negara dan lembaga sekolah. Hal menarik dari Samin adalah mereka menolak membayar pajak. [4]
Perlawanan Tanpa Kekerasan dan Masyarakat komunal gaya Samin
Mereka tidak mau membayar pajak kepada pemerintah manapun di zaman kemunculannya; kepada penguasa lokal pribumi; juga pada pemerintah kolonial Belanda. Ini juga salah satu ajaran politik Samin Surontiko yang membuat pemerintah kolonial berang dan menindaknya. Dalam ajaran Samin ada tradisi lisan:
"Dhék jaman Landa niku njaluk pajeg boten trima sak legané nggih boten diwéhi. Bebas boten seneng. Ndandani ratan nggih bebas. Gak gelem wis dibébaské. Kenék   jaga ya ora nyang. Jaga omahé dhéwé. Nyengkah ing negara telung taun dikenék kerja paksa." (Di zaman Belanda dulu orang-orang membayar pajak bukan berdasar sukarela, tetapi atas paksaan (ditentukan besarnya) hingga orang-orang (Samin) tidak mau membayarnya. Mereka tidak senang. Memperbaiki jalan tidak mau. Dikenai ronda mereka juga tidak senang; lebih baik menjaga rumah. Bila berselisih dengan pemerintah mereka akan dikenakan hukuman kerja paksa.) [5]

Keengganan orang Samin untuk membayar pajak juga pernah disaksikan oleh sorang wartawan yang berkunjung ke Rembang. Seorang Samin diperiksa seorang patih karena tidak mau membayar pajak. Patih bertanya: "Kamu masih hutang 90 sen kepada negara." Orang Samin itu bilang: " Saya tak hutang kepada negara." Patih naik darah lalu bicara dengan nada memaksa: "tapi kamu harus bayar pajak." Orang Samin itu menjawab lagi: "Wong Sikep (orang Samin) tak kenal pajak." Jawaban tadi terlalu berani menurut patih. Seorang polisi yang duduk disebelah orang Samin tadi lalu disuruh menampar muka orang Samin itu. Reaksi orang Samin yang tenang-tenang saja atas pemukulan itu semakin membuat patih marah. Lebih lanjut sang patih bertanya lagi: "Apa kamu gila tau pura-pura gila?" Orang Samin menjawab: "saya tidak gila atau pura-pura gila." Patih lalu bilang lagi: "Kamu biasanya bayar pajak, kenapa sekarang tidak?" Orang Samin menjawab sambil balik bertanya: "Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang, kenapa negara tak habis-habisnya minta uang?" Dengan lagak birokratnya patih bilang: "negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak mempunyai cukup uang, tak mungkin merawat jalan dengan baik." Orang Samin berargumen lagi: "Kalau menurut kami keadaan jalan-jalan itu tidak mengganggu kaki, kami akan membetulkan sendiri." Patih lalu membentak: "jadi kamu tak mau bayar pajak." Sekali lagi orang Samin menjawab dengan mantap: "Wong Sikep tak kenal pajak." Berargumen sepeti orang Samin tadi tentu saja membutuhkan keberanian luar biasa. Dizaman itu priyayi rendahan masih ditakuti; karena dianggap perpanjangan tangan dari raja Jawa, kadang tiap katanya kadang harus diikuti. [6]
 Apa yang dipegang oleh orang Samin dalam kutipan diatas adalah salah satu bentuk perlawanan tanpa kekerasan. Ciri pemberontakan Samin memang tanpa kekerasan. Cara perlawanan mereka yang individual adalah umum. Dunia luar hanya mengenal Mahatma Gandhi dari India, nama Samin tidak dikenal sama sekali. Ketika gerakan Samin sedang berkembang, Gandhi sedang di Afrika Selatan; sebagai pengacara dan masih mencari jati dirinya sebagai seorang Mahatma (jiwa yang agung). Kesamaan antara Gandhi dengan Samin adalah perlawanan mereka terhadap kolonialisme kulit putih yang merengut kemanusian kulit berwarna diluar benua kulit pucat, Eropa. Gandhi sendiri mengakui bahwa perlawanan tanpa kekerasan bukan hal baru. Sebelum dia mejalankannya, memang sudah ada   perlawanan tanpa kekerasan, namun tanpa nama. [7]

Orang-orang Samin bukan orang berpendidikan Modern. Cara perlawanan mereka kepada penguasa sangat unik. Ketika mereka diperintah oleh penguasa memindahkan onggokan batu, mereka hanya memindahkannya satu saja dan membiarkan batu-batu yang lainnya. Ketika mereka disuruh mengangkat kayu untuk dipindahkan, mereka akan mengangkat tadi lalu meletakannya ditempat semula tanpa membawanya kemana-saja. Ketika dimintai cap oleh petugas pemerintah untuk melengkapi sebuah surat, mereka menjawab: sudah ada yang mereka harus cap sendiri, yaitu istrinya. [8]
Orang-orang Samin hidup secara komunal besama kaumnya. Mirip warga Utopia, sebuah negeri imajiner dalam buku Thomas Robert More sahabat Desiderius yang kesohor itu. Utopia, buku More itu mengilhami kaum komunis dan sosialis yang sebagian besar dicap atheis.
Sebagai "wong deso sing ndeso"  Samin tidak nyaris tidak mengenal peradaban barat.   Bagaimana mungkin seorang buta huruf seperti Samin membacanya. Tidak ada catatan yang menyebutkan Samin pernah berhubungan dengan dunia pendidikan barat sekuler. Di zamannya ketika muda saja sekolah sekuler Belanda macam Hollandsche Inlands School belum tersebar.
Orang-orang Samin yang layak disebut komunis dengan sistem masyarakat komunalnya, tidaklah atheis. Mereka bukan Islam mereka menganut agama Adam. [9] Seperti ungkap Samin dalam tradisi lisan desa Tepalan:
"Agama iku gaman, Adam pangucapé, man gaman lanang." [10]Maksudnya adalah Agama Adam adalah senjata. Agama Adam-lah yang mereka imani. Mereka merasa mereka semuanya adalah budak Tuhan; semua yang terjadi didunia bagi mereka adalah takdir Tuhan. Manusia adalah utusan Tuhan. Mereka juga percaya pada pembalasan Tuhan. Samin pernah meyabdakan hal ini pada pengikutnya:
.........Janjining manungsa gesang wonten ing dunya punika dados 'utusaning pangeran,' sageda amewahi asrining jagad, namung Sudarmi nglapahi. Dados dhumanwahing lalampahan begja tuwin cilaka, bingah tuwin susah, saras tuwin sakit, sadaya wau sampun ngantos angresula sanget, amergi sampun sagah déné prajanjining manusa. Gesang wonten ing dunya punika sageda angestokaken angger-anggering Allah, dateng aselipun piyambak-piyambak.......
Maksudnya:....Menurut perjanjian, manusia adalah pesuruh Tuhan didunia untuk menambah keindahan dunia jagat raya. Dalam hubungan ini manusia harus menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan perintah. Oleh karena itu apabila amnusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, sedih dan gembira, sehat dan sakit, semuanya harus diterima tanpa keluhan, sebab manusia sudah terikat pada perjanjiannya. Yang terpenting adalah manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan yaitu memahami pada asal-usulnya masing-masing.

Orang Samin menganggap hidup hanya sekali. Tidak ada orang Samin yang percaya pada penitisan atau reinkarnasi. Ajaran lisan Samin Surontiko kepada pengikutnya tentang hidup adalah:
"Wong urip kudu ngerti uripé, sebab urip siji digawa salawasé" (  setiap orang hidup harus mengerti hidupnya karena hidup hanya sekali dan akan ditanggung selamanya). [11] 

Orang-orang Samin adalah orang yang menghargai hidup dengan caranya. Hidup mereka dijaga dari pengaruh luar yang membelenggu. Tidak heran jika mereka begitu berani menentang pemerintah kolonial yang siap memuntah amunisinya untuk menghancurkan penetangnya, termasuk juga orang-orang Samin.
           
Riwayat Samin Sang Ratu Adil
Seorang priyayi rendahan bernama Raden Surowijoyo di desa Ploso Khediren pada tahun 1859 menerima kehadiran putra keempatnya.
Bayi itu diberi nama Kohar. Didepan namanya dia berhak memakai gelar Raden.  Dalam tradisi lisan di desa Tapelan, Samin adalah putra dari Raden Surowijoyo dari Bojonegoro. Priyayi yang menjadi bromocorah dan bekerja untuk kepentingan orang-orang desa yang miskin. Raden Surowijoyo dikenal sebagai Samin Sepuh. Raden Kohar sendiri memiliki pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro; juga dengan Pangeran Kusumaningayu (Dalam tradisi Jawa Timur disebut Pangeran Kusumawinahyu). Pangeran Kusumaningayu adalah nama lain dari Raden Mas Adipati Brotoningrat yang sejak 1802-1826 memerintah Kabupaten Sumoroto (sebuah daerah di Tulungagung) [12]
Ketika dewasa, Raden Kohar menjadi petani dengan sawahnya yang tiga bau dan ladang satu bau. Enam ekor sapi juga dimilikinya. Raden Kohar menganti namanya menjadi Samin. Sebuah nama yang merakyat, kendati dirinya adalah turunan priyayi rendahan. Samin mulai menyiarkan ajarannya sejak tahun 1890 di desa Klopodhuwur. Banyak orang dari desa itu, juga desa (sebelahnya) Tapelan kemudian berguru padanya. Awalnya pemerintah kolonial tidak peduli pada ajaran ini. Waktu itu ajaran ini tidak mengganggu keamanan dimata pemerintah. Samin hanya dianggap ajaran kebatinan. Lebih ekstrim lagi hanya dianggap agama baru saja. Laporan Residen Rembang ada sekitar 772 orang Samin yang tersebar di 34 desa dalam lingkup Kabupaten Blora di bulan Januari  1903. Ajaran ini kian lama kian berkembang. Orang-orang Samin mulai terlihat mengubah tatacara hidupnya dalam kehidupan sehari-hari di tahun 1905 oleh Pemerintah. Mereka tidak mau lagi menyetor pajak kepada pemerintah. Mereka juga tidak mau lagi mengandangkan sapi-sapinya bersama sapi-sapi milik orang bukan Samin. Mereka telah menganut agama Adam. Hal ini tidak lain dirunut dari sikap Samin yang memang enggan untuk membayar pajak. [13]
Awal tahun 1907 jumlah pengikut Samin semakin meningkat. Angka pengikut Samin yang mencapai 5000 orang itu mengejutkan pemerintah kolonial. Ketakutan pemerintah muncul setelah ada kabar: Maret 1907 akan ada pemberontakan orang Samin. Orang-orang Samin yang hadir dalam selamatan di desa Kedhung Tuban lalu ditangkapi dengan alasan sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan.
Oleh pengikutnya, 8 November 1907, Samin diangkat menjadi Ratu Adil dengan gelar Prabu Pangeran Suryangalam. Raden Pragola, Asisten Wedana di Randublatung di Blora bertindak atas nama pemerintah dengan menangkap sang Ratu Adil pada hari ke 40 setelah pengangkatan itu. Sang Ratu Adil-pun dikurung di bekas tobong pembaran batu gamping, sebelum akhirnya dibawa ke Rembang untuk diintrogasi. Bersama pengikutnya Sang Ratu dengan pengikutnya dibuang keluar Jawa. [14]
            Pemerintah merasa bahaya geger Samin harus diatasi dengan pembuangan Samin dan pengikutnya keluar Jawa. Sepeninggal Samin, gerakannya masih terus berkembang. Wongsorejo, seorang pengkut Samin ditahun 1908 giat mengembangkan ajaran Samin di distrik Djiwan,   Madiun. Orang-orang desa disana dianjurkan untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah. Nasib Wongsorejo-pun dibuat sama dengan panutannya oleh pemerintah. Bersama dua kawannya, Wongsojuga dibuang. [15]
            Surohidin, menantu Sang Ratu dan Engkrak, murid sang Ratu ditahun 1911 menyebarkan ajaran Samin ke Grobogan   (Purwodadi). Karsiyah, pengikut Sang Ratu lainnya mengembangkannya di Kajen, Pati. Penyebaran ajaran Samin di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban pada tahun 1912 mengalami kegagalan.
            Pemerintah kolonial ditahun 1914 menaikan pajak. Hal ini semakin memperhebat gerakan Samin. Di Grobogan, orang-orang Samin tidak lagi menghormati para pamong desa dan pemerintah kolonial. Orang-orang Samin di distrik Balerejo, Madiun membohongi pegawai pemerintah untuk menghindari pajak. Di Kajen, misi Karsiyah sukses dengan himbauannya pada orang-orang desa untuk tidak membayarmpajak kepada pemerintah. Di Larangan, Pati orang-orang Samin menyerang lurah dan polisi. Di Tepalan, Bojonegoro orang-orang Samin yang tidak mau membayar pajak juga mengancam Asisten Wedana. Mereka lalu ditangkap dan penjarakan.
            Perlawanan ditahun 1917 semakin meningkatkan pergerakannya terhadap pemerintah. Perlawanannya masih dalam bentuk perlawanan pasif. Tidak dengan kekerasan. Pemerintah yang semakin gerah kemudian menindas perlawanan pasif ini. Gerakan Samin sejak 1930 perlahan memudar dengan tidak adanya pemimpin tangguh bagi gerakan. Samin Surontiko alias Sang Ratu meninggal dalam pembuangannya tahun 1914, di Padang. [16]
"Wajah pucat, tangan diikat, rambut digundul, celana kolor hitam, dan lemah lunglai tubuhnya." Begitulah ungkap seorang warga Samin dari desa Tapelan melihat pemimpinnya diseret oleh pemerintah kolonial menuju tempat pembuangannya. [17]
Semasa menjadi dokter pada sebuah rumah sakit Zending di Blora, dr Soetomo sejak tahun 1913-1918, sang pendiri Budi Utomo ini pernah melakukan penelitian mengenai masalah gerakan sosial, termasuk gerakan Samin. Samin yang menjadi bahan ejekan para priyayi yang merasa prestise mereka diacuhkan oleh orang-orang Samin, tapi tidak oleh priyayi bernama Soetomo ini. Soetomo malah menjadikannya sebagai bahan agitasinya dalam pergerakan nasional. Setidaknya Soetomo bahkan menyanjung semangat demokratis mereka (orang-orang Samin). [18]
Bicara tentang Ratu Adil, ketika ditanya apakah dirinya Raja atau Ratu? Samin menjawab "tidak." Ketika ditanya: "apakah Samin tahu akan datangnya Ratu Adil atau Herucakra?" Samin juga menjawab tidak tahu. [19] Samin Surontiko mungkin ingin menunjukan sikap bodoh khas Samin-nya.
Setidaknya, dengan sikap bodoh-nya orang-orang Samin telah menunjukan pada kita: bodoh ala Samin juga perlawanan yang cukup menggeramkan penguasa lokal dan pemerintah kolonial Belanda ketika. Ketika di Aceh, Tanah Batak dan Bali bergiat untuk melawan pasukan KNIL [20] demi kedaulatan raja-raja feodal, maka orang-orang Samin melawan demi dirinya sendiri.


[1] Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h. 59.
[3] Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h.60.
[5] Saripan Sadi Hutomo, Samin Surontiko dan Ajaran-ajarannya, Majalah Basis edisi Januari 1985. h. 7-8.
[6] Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h. 65
[7] Ibid., h. 65.
[8] Ibid.
[9] Marwati Djuned dkk, Sejarah Nasional Indonesia jilid IV, Jakarta, Balai Pustaka, 1993. h.327.
[10] Saripan Sadi Hutomo, Samin Surontiko dan Ajaran-ajarannya, Majalah Basis edisi Januari 1985. h.7.
[11]Ibid., h. 7.
[12] Ibid., h.4.
[13] Ibid.
[14] Ibid., h.5
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Ibid., h. 2.
[18]Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h. 65
[19] Marwati Djuned dkk, Sejarah Nasional Indonesia jilid IV, h. 326-327.
[20] KNIL: Koninklijk Nederlandsche Indische Lager (Tentara Hindia Belanda)