Selasa, Mei 28, 2013

Indonesia di mata Bekas Anak Kolong (sebuah resensi yang terlambat atas Burung-Burung Manyar)

Seandainya serdadu Nippon tak serbu Hindia Belanda, juga tak ada fasisme Jepang, bocah Teto alias Setadewa yang separuh Londo tak akan menderita. Ibunya yang bule Londo tak akan dijadikan gundik Komandan Tentara  Jepang dan ayahnya yang Letnan Tentara Kerajaan Hindia Belanda tak akan jadi buruan Kenpeitai (Polisi Rahasia Jepang). Teto sendiri tak perlu terlibat gerakan bawah tanah dan jadi pemuda pendendam dan sinis pada Indonesia—yang baginya bikinan Jepang.
Gambaran anak kolong jaman kolonial
Kekejaman Jepang pada keluarganya membuatnya benci pada Jepang. Hal berbau Jepang pun lalu dibenci, termasuk kepemimpinan Sukarno yang baginya bekas kolaborator juga dimusuhinya.  Maka pilihan terbaik Teto adalah jadi Letnan  KNIL juga—atas rekomendasi mayor Verbrugen. Jadi bandit-bandit VOC jelas lebih baik daripada jadi Anjing Fasis.
Masa muda Teto yang suram membuatnya benci pada Republik. Teto melihat Indonesia sebagai Negara bikinan balatentara Jepang, dimana para bekas kolaborator Jepang adalah pemimpinnya. Hingga Teto tak merasa perlu menghormati mereka. Menembaknya jauh lebih baik.
Derita Teto seolah tak habis setelah Indonesia merdeka. Ibunya begitu nestapa dan jadi gila. Teto menemukannya di rumah sakit jiwa Magelang. Balatentara Jepang tak hanya memeras harta benda, darah dan keringat tapi juga bikin orang jadi gila. Mungkin tak hanya ibu Teto tapi juga seluruh orang Indonesia yang tiba-tiba doyan pegang bedil dan pakai baju militer.
Di usia tuanya, Teto mengunjungi Indonesia setelah berpuluih tahun hidup di Luar Negeri dan punya karir bagus di perusahaan asing. Rasa sinis Teto tak hilang, meski dia tampak lebih memaklumi dari sebelumnya.
Cover novel Burung-burung Manyar
Begitulah yang saya tangkap dari novel Romo Mangunwijaya ini. Pertama kali, saya hanya nikmati penggalan awal. Kisah Teto bergaul anak kolong (anak-anak serdadu bawahan), walau Teto anak Letnan. Teto bahagia dalam masa kecilnya yang egalitarian. Penggalan ini sangat saya dan sahabat saya, Dwi Saputro, sukai waktu SMA dulu. Belakangan dia punya novelnya dan saya belum. Sial.
Membaca novel ini dan menikmati diri masuk ke dalam cerita sebagai Teto membuat kita melihat Indonesia sebagai seorang pembenci—meski ada rasa cinta di balik benci itu. Rasanya, kita perlu melihat Indonesia sebagai pembenci. Itu bukan pendekatan yang buruk. Apalagi dalam kondisi Indonesia yang semakin tidak menyenangkan seperti sekarang.
Cerita dalam novel jelas menarik. Tak perlu diragukan. Namun, hal yang paling menarik buat saya adalah bagaimana Romo Mangun memberikan gambaran nyata Indonesia di masa lalu. Setidaknya itu membuat kita berimajinasi ke masa lalu. Saya kira, Romo Mangun begitu kuat membangun setting cerita, soal karakter dan plot saya tak ragukan. Ini mungkin karena Romo Mangun hidup di jaman ketika Indonesia masih disebut Hindia Belanda. Dia terlibat langsung dalam revolusi dan mengalami Indonesia masa presiden Sukarno dan Suharto.
Romo Mangun dalam kebersahajaan
Novel Romo Mangun yang dirilis tahun 1981 ini sangat membantu saya menulis sejarah—baik buku maupun skripsi. Nama Romo Mangun sering saya singgung selama mata kuliah Sejarah Indonesia Modern. Meski fiksi, gambaran Indonesia masa kolonial soal anak kolong saya bisa dapat.
Romo Mangun punya latar belakang sebagai arsitek, rohaniawan, aktivis sosial kelas kakap selain sebagai penulis. Itu semua tentu membuatnya menjadi orang yang banyak paham soal Indonesia. Baginya, mungkin Indonesia ibarat bangunan yang harus dilihat dari berbagai macam sisi.
Novel Romo Mangun ini sangat membantu saya menulis sejarah—baik buku maupun skripsi. Nama Romo Mangun sering saya singgung selama mata kuliah Sejarah Indonesia Modern. Meski fiksi, gambaran Indonesia masa kolonial soal anak kolong saya bisa dapat. Dari sekian banyak penulis hebat yang menulis soal Indonesia, Romo Mangun adalah salah satu yang mempengaruhi.

Tribute: Romo Mangun (Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, lahir di Ambarawa 6 Mei  1929. Menulis banyak novel historis, salah satu yang terkenal adalah Roro Mendut.romo Mangun yang pernah belajar arsitektur di Eropa, juga dikenal sebagai arsitek yang karya-karyanya memiliki bentuk yang unik. Orang-orang layak menyebutnya sebagai budayawan penting. Orang cerdas di Jogja pasti mengenal tokoh yang meninggal pada 10 Februari 1999). 

Minggu, Mei 19, 2013

Negeri Terjajah Yang Menipu Diri

Enak mana, dijajah Belanda, Perancis, Inggris atau Jepang?  Apapun jawabannya, sangat tak pantas jika dijajah Bangsa sendiri.

Menunggu kereta di stasiun Senen sangat membosankan. Kereta senja ke Jogja yang terjadwal pukul 07.00 hampir selalu ngaret. Banyak orang Indonesia pasrah dengan tradisi ngaret penyedia jasa. Tapi, bagi mahluk yang sudah kangen setengah hidup pada Jogja, ini tak bisa dimaafkan. Sebaiknya Menteri Perhubungan digantung saja di Lapangan Banteng. Penantian kereta senja itu membuat saya merenungi banyak hal.
Ketika kereta datang, saya naik kereta, cari kursi saya dan duduk. Lalu saya merenung lagi. Pikiran saya melayang lagi. Ditengah perenungan saya mengantuk karena sebelum ke Senen, saya harus ke perpustakaan Salemba cari bahan untuk menulis. Itu melelahkan sekaligus menyenangkan.
Saya baru terbangun ketika menjelang kereta menginjak Tanah Tegalrejo, dekat rumahnya Pangeran Diponegoro. Gara-gara Belanda mau bikin jalan, keributan dimulai dan berubah jadi Perang Jawa. Harus saya akui, apa yang saya rasakan itu hasil penderitaan orang-orang Indonesia yang diperas darah dan keringatnya, sekaligus kreatifitas teknisi Belanda yang memperlancar kolonialisasi. Karena mereka, saya bisa naik kereta api. Kerena mereka saya bisa pulang ke Jogja sebagai rumah sejati sekaligus menyambangi pacar saya waktu itu, yang sudah jadi mantan.

Jawa: Pulau Yang Paling Lama Dijajah
Selanjutnya, muncul pertanyaan. Siapa yang membangun jaringan kereta ini? Lalu kenapa rel-rel kereta api itu dibangun? Karena kuliah sejarah hamper tujuh tahun, tak sulit bagi saya menjawabnya. Rel kereta-api beserta keretanya itu dibangun Belanda, dengan tujuan memperlancar eksploitasi hasil perkebunan pasca tanam paksa demi menggendutkan kantong Ratu Singa (di Negeri Belanda).  
Lukisan stasiun kereta api dan relnya.
Beruntunglah Pulau Jawa sebagai pulau yang paling lama dijajah Belanda. Jaringan rel jauh lebih banyak daripada di pulau lain. Belanda memang baru betul-betul fokus di pulau besar paling lama dijajah dahulu, pulau lain masih belum dan rencananya menyusul.
Sayang, Indonesia keburu merdeka dan jaringan rel di luar Jawa masih ala kadarnya saja. Jaringan rel yang tak begitu panjang  pernah dibangun juga di Sumatra Selatan-Lampung (1914), Sumatra barat (1886) Sumatra utara (1891); Aceh (1874); Makassar Takalar (1922). Selama pendudukan Jepang, banyak rel dibongkar balatentara Pendudukan Jepang.
Lalu saya teringat Jalan Deandels. Jenderal Perancis yang loyal pada Napoleon ini, kesohor karena mega-proyeknya Anyer –Panarukan yang menelan banyak korban. Jalan itu dibangun sekitar satu tahun, dengan panjang sekitar 1.000 KM. Deandels yang tangan besi itu jelas jauh lebih hebat daripada kontraktor pembuat jalan raya masa kini. Keberadaan Deandels adalah jejak penjajahan tak langsung Perancis sekaligus efek revolusi Perancis di Indonesia. 

Potret Herman Deandels sang Marsekal napoleon di Jawa
Maha karya Deandels itu, nampaknya berkembang menjadi jalan raya yang hingga saat ini masih dipakai. Jalan Raya Pos yang membentang di utara pulau Jawa. Jalur yang selalu ramai di kala mudik lebaran. Jadi, berhentilah mengutuk Deandels jika masih memakai jalan itu!!!

Kalau ada yang bertanya, “kenapa di Jawa ada kereta api dan jalan rayanya bagus?” Selain karena uang banyak berputar di Jawa, yang terpenting adalah Jawa adalah pulau yang paling lama dijajah. Sejarawan Jawasentris percaya Indonesia dijajah 350 tahun. Mitos ini ditentang oleh sejarawan Belanda, kalau tidak salah namanya Van Resink.
Mitos ini mengundang disintegrasi, karena Aceh, Bali, Tanah Batak baru dikuasai Belanda tak lebih dari 40 tahun—karena baru sekitar tahun 1905-1908 baru dikalahkan KNIL. Mengakui pendapat sejarawan Jawasentris tadi berarti memecah-belah NKRI yang mereka banggakan karena tak menafikan orang Aceh, Batak dan Bali juga. Sejatinya, bukan Indonesia yang dijajah 350 tahun tapi Jawa.

Enak Jamanku to?
Kira-kira, paling enak itu dijajah siapa ya? Banyak yang sering bertanya pada saya seperti itu, karena mereka mengira saya sejarawan yang bisa dipercaya—walau saya ragukan itu hehehe. Saya pun tak bisa jawab pertanyaan itu.
Kalau saya bekas pegawai terpelajar kolonial Belanda saya akan bilang dengan jujur, “enak ikut Ratu Wilhelmina. Pegawai yang bisa baca-tulis hidupnya enak tanpa harus korupsi.”  Tapi bagi sebagian bekas serdadu buatan Jepang macam PETA, dijajah Jepang itu keren. Nyatanya kebiasaan Jepang di Indonesia macam taiso dan sistem tentara pendudukan jelas-jelas dilestarikan Suharto cs.
si Smiling General Suharto yang inocen
Saya agak geli sekaligus kesal dengan gambar Suharto tersenyum bertuliskan: “Piye kabarmu? Enak jamanku to?.” Bagi mereka yang merasa nyaman di jaman itu jelas bilang enak jaman Suharto. Bagi saya yang pernah merasakan kelaparan bersama adik saya, maka dalam hati yang paling dalam akan bilang, “matamu kae, Su!!!” Pendukung Suharto tentu tak rasakan lapar yang saya rasakan.
 Tanpa Suharto saya bisa melakukan apa yang saya mau, itu alas an kalau Suharto itu penipu ulung dalam sejarah Indonesia. Saya pernah ditipu antek-antek Suharto, beruntung ada gerakan Mahasiswa reformasi 1998 yang menyadarkan saya.  Itu alasan tambahan untuk tidak suka dan melawan Suhartoisme.
Suharto, bagi saya adalah penerus raja Jawa. Selicik Ken Arok dalam merebut kekuasaan. Sekaligus selemah Amangkurat dari Mataram. Kalau Amangkurat kasih Semarang ke VOC, maka Suharto kasih Papua ke Freeport.  Rela jual apa saja untuk berkuasa. Hal ini diteladani banyak orang Indonesia yang membeli jabatan. Suharto adalah pemelihara bibit korupsi dalam sejarah Indonesia yang berakar dari feodalisme. 

Menipu diri dengan mitos-mitos
Mahasiswa sejarah sering membandingkan jika Negara yang dijajah Inggris itu lebih maju daripada dijajah Belanda.  Mereka melihat perkembangan India dan Malaysia yang jauh diatas Indonesia. Adik kelas saya pernah menyanggah opini macam itu yang didukung Profesor Killer kami di kelas. Gara-gara dijajah Inggris kultur masyarakat Melayu di Malaysia jadi rusak.
Katanya, kalau dijajah Inggris kita akan bisa berbahasa Inggris. Bisa bahasa Inggris itu keren karena itu bahasa Internasional. Itu sangat diagung-agungkan. Sebuah keterpaksaan kultural tidak mereka sadari.  Kalau saya memakai bahasa Inggris, itu karena saya terpaksa sebagai  bagian dari rakyat terjajah, sama saja seperti yang tidaknya menyadarinya. Bedanya saya sadar secara bahasa saya terjajah.
Coba lihat serial anak Ipin dan Upin, terlihat betapa bahasa Melayu mereka sudah terkontaminasi dengan Inggris. Meski saya suka serial ini karena dua karakter lucu itu, saya merasa bahasa Melayu Indonesia lebih terpelihara daripada Melayu Malaysia. Sementara itu, selama kolonialisasi Belanda di Indonesia, hukum adat lebih terpelihara daripada setelah Indonesia merdeka, begitu pula agama lokal—yang makin punah setelah Belanda pergi.
Ipin dan Upin, jejak penjajahan INggris ada disana. Baguskah bahasa leluhur hilang dan berganti bahasa penjajah
Sebetulnya, terjebak dalam opini kalau perkembangan suatu Negara dipengaruhi siapa Negara penjajahnya, adalah agak menyesatkan. Opini ini pun sudah menjadi mitos menghambat kemajuan Indonesia.  Mereka lupa kalau kemajuan itu diperjuangkan. Mereka lupa kalau Jepang tak pernah dijajah untuk jadi Negara maju, mereka hanya perlu kerja keras.
Ada banyak mitos menyesatkan yang berbahaya di Indonesia. Saya hanya bisa sebutkan empat: Pertama, mitos Indonesia dijajah 350 tahun yang berpotensi disintegrasi. Kedua, korupsi itu ada sejak jaman VOC  hingga orang Indonesia lupa kalau korupsi itu ada karena feodalisme yang terpelihara kuat hingga sekarang hingga korupsi pun merajalela. Ketiga, Indonesia tidak maju karena lama dijajah Belanda dan tidak dijajah Inggris. Ini menyesatkan karena sejatinya kemajuan itu dicapai karena kerja keras dan mitos ini hanya untuk menyembunyikan sifat malas orang Indonesia.  Keempat, katanya Pancasila nyatanya keadilan hukum dan kesejahteraan tidak terjamin. Artinya pancasila hanya symbol Negara dan juga mitos. Kelima, di jaman Suharto semua enak, kata siapa? Lah saya kelaparan, bukan cuma saya. Percaya mitos bodoh ini berarti menafikan penderitaan orang lain dan hanya peduli pada perut sendiri. Mitos-mitos lain mungkin bisa anda-anda temukan di ruang dan waktu yang lain. Jika Anda percaya pada mitos-mitos tadi, saya ucapkan selamat menipu diri sendiri...

Itulah yang saya renungi dari penantian di stasiun dan gerbong kereta api. Menanti kereta pukul tujuh itu membuat saya menulis lirik pendek sebuah lagu absurd yang tak pernah selesai. Dimanapun, Indonesia adalah renungan dan kegelisahan. 

Selasa, April 30, 2013

Indonesia Pra Sekolah

Orang Berpendidikanadalah orang yang sekolah, begitu kata orang-orang. Apakah orang bijak akanbilang seperti itu?

Sebelum ada sekolah, Indonesia sudah terdidik oleh alam. Sebelumada sekolah, orang-orang Indonesia sudah belajar dan berguru. Entah ilmu agamaatau ilmu silat. Apakah bijak mengatakan orang yang belajar tapi tak sekolahsebagai orang tak berpendidikan.

Guru Kula Mirip Cerita Silat
Tak ada gambaran pasti bagaimana awal sejarah pendidikan diIndonesia. Tak ada yang bisa menjelaskan bagaimana seseorang belajar menjadicerdas dari gurunya di masa Nusantara lama dulu? Mungkin tak dikenal sistempembelajaran yang mapan. Manusia hanya belejar tanpa menyadari bahwa dirinyajuga belajar, dengan kata lain belajar secara alamiah. Untuk bisa bertahanhidup manusia memang butuh belajar.

Guru Kula era India Kuno
Dosen mata kuliah Sejarah Pendidikan saya waktu kuliah di IKIP Jogja dulu, Akung  Karsiman, Guru Kula tergolong sistem pengajaran tertua di Indonesia sebelum ada Madrasah atau sekolah. Guru Kula disebut Gurukul  dalam bahasa Sansekerta—dimana istilah ini berasal. Bisa ditelaah jika sistem ini dibawa orang India ke Indonesia di era awal-awal masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia. Sistem ini memang sarana pembelajaran agama Hindu sejak zaman Weda di India, belakangan juga Budha menerapkannya.

Guru diartikan sebagai pengajar,pendidik, guru atau master. Kula diartikan sebagai keluarga. Maksudnya, muriddan guru tinggal bersama dalam satu lingkungan—dimana murid juga harusmengurusi pekerjaan rumah tangga di lingkungan itu sembari belajar ilmu laindari sang guru.  Murid hidup jauh darikeluarganya. Lingkungan ini disebut asrama (ashram).Murid disebut shishya—mungkin diadaptasidalam bahasa Indonesia menjadi siswa.
Kita mungkin teringat bagian daricerita Pararaton dimana Ken Arokbelajar  sebentar pada seorang gurubernama Lohgawe. Meski dikenal sebagai garong sebelum jadi raja, Ken Aroksetidaknya bisa digolongkan sebagai orang berpendidikan. Begitu simpulan sayasoal Ken Arok yang pernah berguru diashrampendeta Lohgawe.

Wiro Sableng murid si Sinto Gendeng. Dialah produk Guru Kula
Dalam otak saya, Gurukul atau Guru Kula mirip dengan padepokan silat dalam cerita atau film-film silat. Seperti Wiro Sableng diasuh dan diajar silat oleh Sinto Gendeng.  Setelah Sinto Gendeng merasa cukup mengajarkan ilmu silatnya pada Wiro Sableng, maka Wiro pun berkelana untuk belajar soal kehidupan diluar padepokan. Sang Guru pun melepas murid kesayangannya itu.

Dalam cerita silat, seorang gurusilat tak hanya punya satu murid. Ada beberapa murid. Murid-murid yang baikselalu bersikap melindungi saudaranya yang lain. Kadang, ada cerita murid yangdurhaka pada sang guru dan menyakiti murid yang lain. 
Di Indonesia, bentuk rasa hormatmurid pada sang guru adalah menjadikan cium tangan sang guru sebagai tradisi. Halini belakangan sering dianggap feodal dan terkesan konservatif.  Andi Hakim Nasution pernah punya jawaban,kenapa murid kudu cium tangan pada gurunya? Menurutnya, ketika seorang muridmelihat murid lain mencium tangan gurunya, murid itu akan merasa kalau gurumereka sama. Dan mereka harusnya merasa saudara seperguruan. 
Cium tangan ternyata bukan perkara simbolis!
Sebagai saudara mereka harus saling menjaga, jadi haram hukumnya untuk baku hantam atau tawuran antar sesama. Ini tak hanya berlaku di sekolah saja seharusnya. Dalam dunia persilatan pun sama. Jadi cium tangan itu bukan hal mudah. Cium tangan bukan simbolis belaka!!

Pesantren: Penerus Guru Kula
Beberapa sejarawan Islam di Indonesia percaya pesantrenmuncul di era Walisongo menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Berdasarkan catatan yangada, kegiatan pendidikan agama di Nusantara telah dimulai sejak tahun1596. Kegiatan agama inilah yang kemudain dikenal dengan nama Pondok Pesantren. Bahkan dalam catatan Howard M. Federspiel, salah seorang pengkaji keIslaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh (pesantren disebut dengan nama Dayah); Palembang, di Jawa Timur dan di Gowa telah menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar. (Hielmy, Irfan. Wancana Islam (ciamis:Pusat InformasiPesantren,2000), hal. 120).
Pesantren, berasal dari katasantri (berarti murid dalam bahasa Jawa). Area pesantren disebut funduuq(dalam bahasa Arab) atau Pondok(dalam bahasa Indonesia). Guru atau pengajar atau pendidik di pesantren disebutKyai.
Cium tangan Kyai, sebuah tradisi pesantren


Biasanya Kyai ini guru tertinggidisamping guru-guru pembantu lain. Guru di pesantren tampaknya lebihbertingkat. Mungkin tak sebanyak GuruKula.Sama dengan sistem Guru Kula,dalam sistem pesantren murid-murid atau santri-santri tinggal dalam satulingkungan yang disebut pondok tadi. Lalu, dimana perbedaan pesantren dengan Guru Kula? Setidaknya, hanya beda dalamistilah saja dan pesantren adalah pengembangan adalah Guru Kula.
Orang boleh saja mengklaimpesantren asli Indonesia dan produk Islam Indonesia. Tapi jangan lupa iniberangkat dari sistem zaman Hindu yang dibawa orang India. Pengembangan Islamnyatanya memang sering memakai tinggalan Hindu sebagai media, termasuk sistempengajarannya.
Pesantren makin hari makinberkembang. Bahkan jauh lebih besar daripada Guru Kula. Termasuk dalam jumlah murid. Belakangan, banyakpesantren non tradisional tak memakai istilah Kyai untuk para guru melainkanmemakai istilah Ustadz—yang terkesan lebih Arab (atau Islami bagi kelompoktertentu).
Para santri siap mendengar wejangan


Pesantren masih bisa eksis dijaman dimana sekolah dianggap bergengsi. Sialnya, pesantren kadang dijadikanpelarian bagi sebagian orangtua untuk menitipkan anak mereka yang nakal. Karenasekolah, yang semula mereka anggap keren itu tak mampu lagi membuat anak merekabaik di mata mereka.
Pesantren  tak terkesan kuno. Pesantren tak takutmemodernkan diri. Tujuannya tak lain adalah memberi bekal lulusannya agar bisamenghadapi tuntutan dunia yang terus berubah. Nilai-nilai kearifan yang agamistentu tetap ditekankan.


Ayo Sekolah
Siapa yang membawa sekolah ke Indonesia? Anda bisa tebak kalauorang-orang barat macam Belanda atau Eropa lain. Kaum misionaris dan Zending,yang menyebar agama ke Indonesia, adalah pihak yang terbilang massif mempopulerkansekolah di Indonesia, ketika pemerintah Kolonial baru bikin sedikit sekolahkarena lebih asyik mengeksploitasi bumi nusantara.
                Sekolahtentu berbeda dengan Guru Kula atauPesantren, murid tak harus tinggal dalam satu asrama dengan guru—meski adasekolah berasrama. Kebanyakan, murid tinggal di di rumah bersama orangtua. Hanyajam tertentu saja mereka ke sekolah untuk ambil kelas. Harus kita akui jika sekolah adalah bagian dari pembaratandi Indonesia.

Sekolah sebagai wadah pembaratan yang tak disadari.
Sekolah atau school dapat dilacak dari kata Latinseperti skhole, scola, scolae,yang dipergunakan sekitar awal abad XII. Arti harafiahnya adalah "waktuluang" atau "waktu senggang". Dengan demikian agaknya bersekolahpada awalnya tak lain adalah leisuredevoted to learningyakniwaktuluang yang digunakan secara khusus untuk belajar.(Andreas Harefa, Pembelajaran:Melacak Asal Usul Sekolah).

Dasar OrangIndonesia! Yang dari barat selalu bagus dalam otak mereka. Sekolah, dianggaplebih modern ketimbang pesantren apalagi GuruKula. Sekolah juga menjadi kebutuhansekaligus trend masyrakat Indonesia. Sedari kecil, anak mereka yang masih 4 atau5 tahun dimasukan ke sekolah. Anak mereka pun dibiasakan dengan tugas-tugas.

Tak puas disekolah, anak mereka pun diikutkan les. Jam bermain anak pun makin menipis dansosialisasi anak dengan teman sebayanya, akhirnya berujung pada semakin mininyakesetiakawanan sosial—mungkin karena orang Indonesia tak membutuhkannya.

Orang-orangpun menganggap perlu sekolah hanya untuk tuntutan sosial bukan pada kebutuhanuntuk menjadi cerdas dan kebutuhan batin mereka. Begitulah sekolah jadi trendIndonesia di masa modern. 

Senin, April 29, 2013

Ucok AKA Harahap: Datuk Rock Indonesia

Jika ada yang bertanya, “siapakah rockstar Indonesia yang hidupnya betul-betul rockn roll?” Di kepala saya hanya ada satu nama, Ucok AKA Harahap—meski hidupnyalebih mirip lagu-lagu mellow-nya.

Suatu malam di bulan Desember,bersama kawan Giri, Kiki dan Teguh, mengunjungi sebuah toko buku di kawasanBlok M, mata saya pun terbelalak melihat buku UcokAKA Harahap: AntaraRock, Wanita, dan Keruntuhan. Tanpa pikir panjang buku itu saya beli dan bacasemalaman.

Rock adalahHidupnya
Meski agak bingung dengan logika historis buku itu,saya tetap bisa menangkap masa kecil dan masa muda Ucok yang cukup romantis. Terlahirsebagai anak berada, namun bisa berbaur dengan orang pinggiran. Andalas DatukOloan Harahap alias Ucok anak dari Ismail Harahap, seorang ahli obat pemilikApotik Kali Asin. Nama apotik itulah asal usul nama AKA—band raksasa asalSurabaya yang kondang di dekade 1970an. Ayahnya sangat memahami kemauan Ucokdan sempat memenejeri AKA. Jadi, selain personil AKA dan para kru panggung,Ismail Harahap adalah orang yang berjasa besar bagi band rock ini. Begitu yangtersirat dari buku Ucok AKA Harahap:Antara Rock, Wanita,dan Keruntuhan yang ditulis Siti Nasyi’ah terbitan Elex Komputindo, 2012, ini.
Ucok Harahap sang rocker

Rasa cinta Ucok pada musik rock,jelas tak perlu dipertanyakan lagi. Meski lagu-lagu mellow AKA lebih seringdiputar ketimbang lagu-lagu cadasnya, orang tetap menganggap Ucok sebagairocker sangar yang namanya layak jadi legenda sejarah rock Indonesia.
                Awalterjun ke music rock, Ucok sudah menjadikan band rock barat yang mendunia macamLed Zeppelin, Deep Purple, Grand Funk Railroad dan Jimi Hendrix Experiencesebagai teladan dalam bermusik. Dan AKA memang selalu cadas di atas panggung diera kejayaannya.
                NamaUcok muda ditentukan oleh aksi panggungnya. Terserah orang suka atau tidak,itulah Ucok dan kawan-kawan. Mereka bermusik atas karakter mereka yangterbentuk oleh pengaruh rock barat. Mereka terbiasa memainkan lagu-lagu bandrock barat. Mereka pernah main di klub malam di Singapura. Sedari awal, namamereka dibesarkan di panggung, bukan di studio rekaman. Mereka masuk dapurrekaman setelah mereka kondang di panggung.
Mereka bermusik bukan atas kemauanpasar atau produser. Di atas panggung. mereka memainkan apa yang menurut merekaasyik. Orang boleh suka, juga boleh tidak suka, tapi rocker macam mereka takbisa dilarang kalau sudah di atas panggung. Aksi panggung mereka pernah bikinjantung aparat dan pejabat keamanan tak karuan, karena mereka dianggap bisamerubah arena konser menjadi medan kerusuhan.

Foto AKA sebagai raksasa rock Indonesia selain God Bless
Meski garang di panggung, band cadas ini masih bisa melantunkan lagu-lagu manis yang mellow. Meski lagu-lagu tadi mendayu, karena menyimpan kecadasan rock lagu mellow tadi tampak berenergi. Banyak band rock, termasuk band-band rock Indonesia yang belakangan masih muncul setelah AKA, punya lagu melankolik tapi tetap saja lagu melankolik itu punya kekuatan dasyat dalam kecengengan lirik dan vocal agak mendayu.   Mau melankolik atau cadas, tetap saja mereka rocker dan nuansa rock itu tetap ada.

Sepertilagu-lagunya
Ucok boleh cadas dengan musik-musiknya, tetap sajahidup Ucok seperti lagu-lagu AKA yang tak begitu cadas. Jeritan Seniman, lagu AKA yang saya dengar dan saya suka sejak SMP,bagi saya lagu ini adalah Ucok sendiri.  Tentangseniman idealis yang sulit dimengerti orang lain. Tentang seniman yang dalamhidupnya memimpikan damai. Nyaris semua rocker memang orang-orang anti-perang. Begitulahsemangat kaum Hippies yang didukung banyak seniman dan musisi macam Bob Dylan,Jimi Hendrix dan lainnya, setidaknya di Woodstock.
                Ucokadalah orang sulit dimengerti orang. Begitulah yang tersirat dalam buku ini. Orang-oranghanya menganggap Ucok adalah orang aneh. Jadi orang aneh adalah derita yangsulit dipahami orang lain. Menjadi aneh atau melalui hal aneh adalah hal biasadalam mencari jati diri. Tak dimengerti orang lain adalah proses. Tak melulumenjadi seniman. Menjadi penulis pun sering tak dimengerti dan dianggap aneh.
                                                                          
Kulaluidan kupergi.  Mencari hidup ini.
Mungkinkahkujumpai. Kehidupan yang serasi.

Kutunggudan Kunanti. Apapun kan terjadi
Didalamhidup ini. Sebagai seniman nan abadi

Tapi mengapamereka tak mengerti
Keluh kesahkuungkapan rasa pedih

Tiada artiTiada arti

Semoga dankuharap. Cetusan kali ini
Sebagaibukti deritaku. Seniman abadi

Bagi saya, iniadalah pencarian jatidiri. Entah bagi Ucok atau siapa saja.  Hidup memang pahit. Tak semua hal yang kitainginkan belum tentu tercapai. Tapi hidup harus diperjuangkan. Harus ada yangdiperjuangkan gagal atau meski hasilnya pahit.


Dalam urusanpercintaan, tak jauh beda. Ada lagu cinta yang bikin saya geleng-geleng, jatuh Cinta judulnya. Saya tak tahupasti siapa saja yang menulis lagu di AKA. Tapi beberapa lagu mellow AKA mirip dengan kehidupan Ucok. Dalamlagu Jatuh Cinta, isinya didominasiantara kerinduan dan harapan yang mengawang-awang. Mirip kisah cinta Ucokdengan Farida Jasmine—jago karate yang jadi aktris setelah kawin lari denganUcok.
 Kisah cinta yang diawali kerinduan dan harapanitu membuat mereka berani kabur dari Suabaya dan berkelana tanpa kepastian di Jakarta.Itu karena keluarga Farida yang pejabat menolak hubungan itu. Ucok betul-betulrock n roll. Ucok nekad bawa lari anak orang dan juga tinggalkan AKA yangdibesarkannya.
 Personil AKA lain: Syech Abidin (Drum); ArthurKaunang (bass); dan Sunata Tanjung (gitar) yang sudah teken kontrak bermusikseumur hidup pun terpaksa bikin band baru SAS (akronim dari nama depan mereka).Bukan hal sulit buat SAS untuk eksis di blantika musik rock Indonesia, bahkan Baby Rock mereka bisa jadi lagu favoritdi Australia. Maklum, meski Ucok terkesan dominan di AKA, tetap saja Ucok takbisa pungkiri segala sumbangsih personil lain yang bisa nyanyi dan buat lagu. Takheran jika vakumnya AKA tak membuat hidup personil lain berakhir.

Ketika AKAvakum dan kaburnya Ucok dari Surabaya, Ucok pun mulai bangkit lagi sebagairocker setelah setahun menggelandang di Jakarta. Ucok bahkan duet dengan AhmadAlbar dalam proyek Duo Kribo. Hebatnya, seperti yang pernah dialaminya kepekaansosial Ucok tak diragukan, Ucok punya ide brilyan dalam membuat film.
Bersama Ahmad Albar dalam Duo Kribo

Dalam film DuaKribo itu diceritakan dua seniman kribo berbeda nasib yang dipersatukan. Senimankribo pertama hidup di jalanan (diperankan Ucok, seperti yang pernah dialaminya)dan seniman kribo kedua adalah mahasiswa seni di luar negeri yang kebetulananak orang kaya di Jakarta (diperankan Ahmad Albar yang dalam dunia nyatamemang anak tiri Jamaludin Malik yang memang kaya).

Desember
Ada hal penting di bulan Desember dalam hidup Ucok. Dia pernah membuat lagu BadaiBulan Desember. Lagu mellow yang kentara romantisnya. Masih tentang praharapercintaan di bulan Desember.  Kisah cintaUcok pun juga seperti lagu yang dia ciptakan di tahun 1969 ini. Berkali-kalilagu ini dibawakan, termasuk menjelang kepergiannya di awal Desember 2009,ketika kawan-kawannya mengunjunginya di rumah sakit.
Ucok Harahap di hari tuanya.

  Lagu ini mungkin seperti ramalan. Hidupnya sang rocker ini memang berakhir di bulan Desember. Kematian rocker ini juga salah satu hal yang saya sesali, karena saya belum sempat menemuinya dan mewawancarainya tentang banyak hal: soal AKA dan rock Indonesia di tahun 1970. Dia adalah saksi sekaligus pelaku dalam sejarah rock. 

 Saya belum pernah tahu siapaBapak Rock Indonesia? Silahkan pengamat musik rock berdebat. Ucok mungkin salahsatu kandidat dari sekian legenda lain. Akhir kata, apapun yang terjadi saya harus menulis: Andalas Datuk Oloan Harahap alias Ucokadalah Datuk Rock Indonesia.

Sabtu, Maret 09, 2013

Pasukan Baret: Anak Didik Westerling

Aksinya di Sulawesi Selatan adalah jejak hitamnya. Depot Speciale Troepen (DST)—yang bermetamorfosa sebagai Regiment Speciale Troepen (RST) lalu Korps Speciale Troepen (KST)—adalah Masterpiece-nya.
Kebanyakan orang jadi perwira karena lulus Akademi Militer. Tapi, Westerling jadi perwira karena perang. Dia bukan dari Akademi Militer. Dia baru masuk militer di  tahun 1941. Karirnya mulai dari bawah; pernah jadi Kopral lalu Sersan. Pada 1945, ketika terjun ke Medan, untuk bebaskan tawanan dan melatih pasukan, pangkatnya sudah Letnan.
Jelang aksinya yang disebut pihak Belanda sebagai Kampanye Pasifikasi di Sulawesi Selatan, dimana ribuan orang jadi korban, pangkatnya Kapten. Westerling tampil sebagai komandan operasi yang kejam. Dia begitu mudah menembakan pistol colt-38 selama operasi di Sulawesi Selatan pada orang yang dicurigainya sebagai Extrimis(baca: Pejuang Republik).
Westerling seakan tak kenal hukum perang. Tak seperti perwira pada umumnya yang punya etika perang, namun Westerling lebih suka menebar teror yang dianggapnya benar. Latar belakang Westerling yang tak pernah ikut sekolah perwira atau akademi militer, membuatnya tak terapkan etika perang. Padahal, tawanan perang dan orang-orang sipil harus dilindungi Konvensi Genewa. Seorang perwira harusnya hormati hukum kemanusiaan. Yang dibunuh harusnya musuh bersenjata, bukan orang sipil tak bersenjata.
Pangkatnya tergolong cepat untuk orang yang tak pernah masuk Akademi Militer. Itu tak lain karena Westerling Prajurit Komando (Baret Hijau) berpengalaman tempur. Tak semua prajurit Belanda sepertinya. Begitu tiba di Jakarta, Westerling melatih sebuah pasukan khusus KNIL yang kemudian disebut  Depot Speciale Troepen (Depot pasukan Khusus)—yang kemudian berkembang menjadi Regiment Speciale Troepen(RST) lalu Korps Speciale Troepen (KST).
Pasukan khusus yang semula dipimpin Letnan Scheepen, lalu diserahkan pada Westerling. Pasukan ini direkrut dari serdadu-serdadu KNIL pilihan—yang terdiri dari orang Belanda, Indo, Jawa, Manado, Ambon dan lainnya. Mereka umumnya sangat fanatik bela Belanda dan anti Republik. Kesamaan DST dengan Marsose (pasukan khusus zaman Hindia Belanda), mereka sama-sama ditanamkan rasa benci berlebih pada bakal musuh mereka.
Westerling menjadikan pasukan ini sebagai Pasukan Komando seperti dirinya juga. Melatih mereka seperti dirinya dulu dilatih di Inggris. Mereka diajari: taktik antigerilya, mendarat dengan perahu karet, menggunakan pisau dan membunuh dengan tangan kosong—keahlian khusus yang membuatnya pernah jadi asisten instruktur semasa di Inggris.
Petinggi KNIL tampak puas dengan pasukan yang dilatih Westerling ini. Kampanye Pasifikasi Sulawesi Selatan 1946-1947 adalah bukti kehandalan pasukan ini di mata para Jenderal tentara Belanda. Tak heran jika Westerling jadi orang kepercayaan Letnan Jenderal Spoor—Panglima tertinggi pasukan Belanda di Indonesia—yang berambisi menghabisi TNI dan menamatkan riwayat Republik Indonesia secara militer. Ketika pasukan Komando baret hijau digabungkan dalam RST/KST bersama pasukan Para baret merah, Westerling tetap jadi komandan.
RST/KST ini kadang disebut Pasukan Baret. Jumlah pasukan itu mencapai 1.200 orang, kata Westerling dalam autobiografinya Challenge to Terror. Pasukan dalam sebesar itu harusnya dipimpin Letnan Kolonel, bukan Kapten. Ini karena kepercayaan Spoor pada Westerling. Setelah Westerling keluar dari KNIL, pasukan ini diserahkan pada Letnan Kolonel van Beek. Lebih dari tiga tahun, sebelum diserahkan pada van Beek, Westerling melatih dan memimpin pasukan ini.
Bersama van Beek, bekas anak-anak didik tadi terlibat aksi besar, Operasi Gagakmerebut Jogjakarta, 19 Desember 1948, yang sukses menangkap Sukarno dan pemimpin Republik lainnya. Secara tidak langsung, Westerling punya andil besar mengobrak-abrik ibukota RI dalam hitungan jam saja.
Siapapun komandan Pasukan Baret setelahnya, Westerling tetap legenda hidup bagi bekas anak didiknya. Dialah yang menjadikan mereka sebagai pasukan khusus yang sulit dikalahkan musuh mereka. Reputasi Westerling sebagai Prajurit Komando, walau kejam dan kelam di Sulawesi, sangat dikagumi mantan anak didiknya. Tak heran jika diantaranya APRA di Bandung dan Jakarta.
Belakangan, bekas anak didiknya ada yang terlibat Republik Maluku Selatan di Ambon seperti Thomas Nussy dkk. Juga ada Nicholas Sulu dkk yang awalnya hanya ingin mudik, namun terlibat dalam Permesta di Sulawesi Utara akhirnya. Meraka tak mudah dikalahkan pasukan-pasukan TNI yang dikirim menumpas mereka karena berontak.
Menurut mantan Pasukan Baret yang kemudian masuk RPKAD, lebih dari separuh anggota pasukan khusus pertama Indonesia yang dipimpin Mayor Mohamad Idjon Djanbi—yang mantan Kapten baret Merah Belanda—adalah bekas anak didik Westerling juga.
Bekas Pasukan Baret tadi memang betul-betul masterpiece Westerling. Karena membentuk Pasukan Baret itulah karir Westerling melesat, baru setahun jadi Letnan, dia naik jadi Kapten. Begitulah tuntutan perang.

Senin, Desember 10, 2012

Kota Tangsi Baru

"Setelah jadi kota minyak, Balikpapan pun jadi kota tangsi"

Balikpapan pun mulai jadi kota tangsi setelah tentara Belanda pergi. Mayor Waluyo Puspoyudo adalah komandan militer RI pertama yang sampai Balikpapan.  Setelah tentara Belanda pergi Balikpapan mulai dibangun banyak instalasi militer. Entah berupa kantor, gudang amunisi, tempat latihan tentara atau perumahan bagi tentara.
Balikpapan kemudian  menjadi pusat atau markas dari apa yang disebut Komando Daerah Militer (KODAM). Mulai dari KODAM Mulawarman yang hanya membawahi Kalimantan Timur dan terakhir adalah KODAM Tanjungpura yang menaungi keamanan seluruh Kalimantan.
Banyak instalasi militer TNI di Balikpapan. Bekas tangsi KNIL sudah tidak ada lagi. Markas besar tentara (MAKODAM) lalu dibangun di sekitar Klandasan, tidak jauh dari Lapangan Merdeka dan Rumahsakit Pertamina.
Semasa Jenderal Hartoyo menjadi Panglima KODAM Mulawarman, BPM Shell sedang membangun pipa sepanjang kurang lebih 300KM dari Tanjung ke Balikpapan. Tenaga kerja yang dipakai adalah para transmigran yanG didatangkan oleh Jawatan Transmigrasi dari Jawa Tengah.  Ketika mereka berangkat, mereka dijanjikan lahan (tanah). Sialnya, pejabat-pejabat korup Jawatan Transmigrasi kemudian menelantarkan mereka. Selesai proyek, pekerja yang tinggal di kamp Petung itu. Jumlahnya hampir seribuan. Keterlantaran membuat mereka jadi pengemis dan membanjiri kota Balikpapan. Mereka disebut Pengemis Petung.[1]  Fenomena ini terjadi sekitar tahun 1950an.                      
Semasa Kecik, seorang Insinyur Belanda yang mengajar di ITB, pernah akan menuju ke Balikpapan untuk menyelidiki kemungkinan pengeboran airtawar untuk kebutuhan air bersih kota Balikpapan. Kecik menyetujui rencana itu. Insinyur itu menumpang sebuah pesawat Garuda dari Jakarta ke Balikpapan. Sayangnya pesawat garuda itu kemudian tak pernah sampai Balikpapan. Pesawat itu kemudian hilang. Beberapa perwira TNI, kepala percetakan Negara Balikpapan dan orang sipil lainnya pun hilang dalam pesawat itu. Hario Kecik yang semula akan menumpang pesawat itu membatalkannya. Dia naik mobil ke Surabaya lalu naik pesawat ke Balikpapan.[2]  
Pengakuan kecik:
“Kantor besar perusahaan (minyak asing) raksasa internasional ini terletak di Balikpapan, meradiasikan pengaruh besar kepada kehidupan sosial ekonomi dan politik dari masyarakat Kalimantan timur. Markas KODAM IX Mulawarman juga berada di Balikpapan dan berdasarkan prinsip militer, sebuah markas komando harus ditempatkan di lokasi yang aman, agar dapat efisien dipertahankan dan memenuhi tuntutan lain bersifat militer. Markas KODAM tidak dapat dipindahkan ke tempat lain, bukan hanya karena masalah kesulitan teknis dan keuangan tetapi juga karena pertimbangan strategis, politis dan psikologis. Jadi harus dicari alternative tindakan yang dapat menjamin tuntutan tersebut di atas.[3]
Mengenai  komplek perusahaan minyak asing di Balikpapan, Kecik menulis:
“Suatu masyarakat tersendiri dengan fasilitas-fasilitas mewah seperti klub, bioskop, kolam renang, lapangan golf, toserba, dan lain-lainnya. Dalam masyarakat seperti itu para pegawai menengah dan tinggi, asing maupun pribumi, hidup dalam suasana istimewa terlepas dari masyarakat biasa yang mengelilinginya.”[4]
Pernah terjadi kematian pekerja karena terlindas mobil pengendara bule, tapi orang bule itu bebas dari tuntutan hukum karena masih orang perusahaan asing.
Ada toko Centraal inkoop & verkoop Organisasaties yang menjual barang-barang impor untuk keperluan pegaawai tinggi perusahaan. Barang-barang import ini masuk tanpa pajak.[5]
Kepada Brigadir Jenderal Soemitro—yang baru ditunjuk sebagai Panglima KODAM Mulawarman—Sukarno berujar: “Generaal Mitro, saya titip reffinaderij (kilang minyak) yang ada disana. Jagalah baik-baik!” Sumitro, dengan sepenuh hati lalu menjawab: “Baik, pak. Akan saya perhatikan.” Amanah Sukarno itu dijalankan Sumitro dengan menjaga stabilitas kota Balikpapan ditengah pusaran politik nasional yang kian memanas pada dekade 1960an itu. Soemitro juga tidak ragu untuk turun langsung berpatroli menjaga kilang minyak yang diamanahkan Panglima besar Revolusi kepadanya. Soemitro sendiri sering berkeliling di sekitar kilang minyak pada malam hari. Soemitro menjaga agar panas-nya situasi politik nasional tidak sampai membakar Balikpapan.[6]
Atas usaha Sumitro, kota Balikpapan masih dianggap nyaman pada pertengahan dekade 1960an yang kacau. Balikpapan terhindar untuk menjadi ladang pembantaian orang-orang Komunis seperti yang terjadi di Jawa dan Bali—dimana telah memakan banyak korban yang mencapai angka ratusan ribu. Orang-orang Komunis, oleh Sumitro ditahan sebelum meletus G 30 S di Jakarta. Orang-orang Komunis itu banyak yang dilokalisasikan di Samboja dalam di dekat pantai.


[1] Gubernur Pranoto dan Jenderal Hartoyo adalah orang yang bertanggungjawab dalam hal ini. Mereka dianggap bekerjasama dengan SHELL dan BPM. (Hario Kecik, Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2009, hlm. 188-189).
[2] Hario Kecik, Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2009, hlm. 266-267.
[3] Hario Kecik, Memoar Hario Kecik, Jakarta, Pustaka Utan Kayu, 2002, hlm.563.
[4] Hario Kecik, hlm.564.
[5] Hario Kecik, hlm.564.
[6] Ramadhan K.H, Soemitro (Mantan Pangkopkamtib): Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib,Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1994. h. 22-23.

Setelah 1945

Merdeka itu butuh aksi. Juga pengorbanan

Pada 13 November 1945: Demonstrasi rakyat Balikpapan di Karang Anyar, mengibarkan bendera merah putih. Demonstrasi ini dipelopori oleh rakyat  Komite Indonesia Merdeka (KIM) pimpinan Abdul Mutalib. Mereka menuntut, agar Belanda angkat kaki dari Indonesia. Pidato Abdul Mutalib yang berapi-api soal penolakan terhadap Belanda di Indonesia yang baru  merdeka itu membuat dirinya ditangkap. Akhirnya, Husein Yusuf membubarkan demonstrasi itu menghindari kerusuhan yang dirasa akan merugikan semangat perlawanan terhadap Belanda. Demonstrasi bubar teratur tanpa kekacauan. Sorenya, Abdul Mutalib yang ditangkap pihak berwenang pun dibebaskan, lalu di buang ke pulau Jawa.[1]
Sesekali terjadi aksi berani terhadap Belanda. Pada 18 November 1945, terjadi pelemparan granat di sentral NICA, Kampung Baru, Balikpapan. Dilakukan oleh Misbach dan Sabrie.[2]
Kaum pendukung kemerdekaan terus memperkuat diri. Pada 29 November 1945, Fonds Nasional Indonesia (Foni) didirikan, dipimpin Aminuddin Nata, Mas Saraman, dan S. Mawengkang.
NICA yang mulai menguasai Kalimantan Timur. Pengibaran bendera merah putih dilarang. Konferensi tentang kerajaan Kutai diadakan pada 17 Desember 1945. Dimana dibahas jika Kutai dibagi 5 Kepatihan: Kutai Selatan berpusat di balikpapan; Kutai Timur berpusat di Samarinda; Kutai Barat berpusat di Tenggarong; Kutai Tengah berpusat di Muara Muntai;  Kutai Ulu berpusat di Long Iram.  Keputusan ini baru diwujudkan tahun 1946. [3]
Kaum pro kemerdekaan pun menjadi bahan pengawasan bagi aparat NICA.  Di Samboja seorang mantan Gerindo bernama Djohan ditangkap NICA atas tuduhan kepemilikan senjata api. Di Balikpapan, Hasan Yusuf, yang juga mantan Gerindo,  ditangkap NICA juga.  Keduanya dulu aggota Gerindo.
Senjata api, sering dijual Tentara Australia yang berhasil merebut Balikpapan. Tentara Australia, sebelum meninggalkan Balikpapan sering menjual apa saja yang bisa mereka jual kepada warga Balikpapan yang kurang sandang, pangan, bahkan kelambu, pasca Perang Pasifik. Pakaian militer Australia pun tak ada masalah ketika dipakai orang sipil di Balikpapan selama tidak mengenakan tanda pangkat. [4]
Pada 6 Mei 1946, Kubu pertahanan Belanda Bronbeek (RSU Balikpapan, lahan Puskib) digempur pasukan Abdurrahman Muhidin dan Limpat (HA Talib). Sebulan kemudian, 5 Juni 1946, Partai Ikatan Nasional Indonesia didirikan di Balikpapan. Ketuanya Aminuddin Nata. Sebulan kemudian, pada 6 Juli 1946, Pasukan Limpat di Tanjung Batu, Balikpapan, diserang patroli BElanda. Pada 11 Juli 1946, Di Kampung Sepaku (PPU) pasukan Limpat dan pasukan Abdurrahman Muhididn diserang tentara Belanda. Pada 16 Juli 1946 Pasukan pecahan dari Muhidin/Limpat diserang di Kampung Riko (PPU) dan mundur ke Paser. Pada 14 Agustus 1946, Pasukan Limpat dan Abdurrahman Muhidin diserang di Paser. Sejumlah pejuang gugur. di Balikpapan, JF Sitohang dan Ny Suwito  membakar gudang NIGIO yang berisi hasil bumi untuk diekspor. Keduanya ditangkap di balikpapan. Pada 7 November 1946, Pasukan Anang Acil dkk menyerang Kamp Werk Kompie di Jembatan Bungkuk. Pada 11 November 1946, Markas Anang Acil di Kampung Damai, Balikpapan, diserang BElanda. Empat pejuang dan tujuh penduduk tewas. [5]
Aksi-aksi terus berlanjut, pada 30 November 1946, terjadi Pelemparan granat di Manila Club di Muara Rapak  yang epnuh tentara Belanda. Granat tidak meledak, tapi banyak yang tewas terinjak-injak. Kemudian, pada 1 Desember 1946, Seorang mata-mata Belanda mati dalam penyerbuan di Gunung Air Terjun. Polisi rupanya menyelidiki pelemparan granat di Manila Club.
Tanggal, 4 Desember 1946, Herman Rutambi berhasil melucuti patroli polisi di Sungai Wain, Balikpapan. Herman bergabung dengan pasukan Kasmani di Gunung Samarinda. Essok harinya, 5 Desember 1946, Penguasa militer Belanda melarang orang berjalan bergerombol lebih dari lima orang. [6]
Tanggal 10 Desember 1946, Tangsi Loc di Pandasari dan tangsi polisi NICA di Gunung Pipa, Balikpapan, diserang pasukan merah putih. Tanggal 11 Desember 1946, Bentrokan pasukan merah putih dengan serdadu Belanda di Muara Rapak. Tiga penduduk terkena peluru nyasar.
NICA tentu bertindak keras kemudian, pada 12 Desember 1946, Polisi NICA dibantu militer menyerang pasukan merah putih di Gunung Samarinda, Balikpapan. Seorang polisi NICA ditawan. Tanggal 14 Desember 1946, dengan senjata berta dan empat truk pasukan, Belanda menyerang pasukan Merah Putih di Gunung Samarinda. Pejuang mundur ke Kampung Damai. [7]
Tanggal 15 Desember 1946, Markas pejuang di Kampung Damai, Balikpapan. Puluhan pejuang Republik ditangkap. Esoknya, 16 Desember 1946: Pasukan Herman Ruturambi dan kawan-kawan yang lolos dari Kampung Damai kembali diserang di Gunung Bakaran, Balikpapan. Hingga tersisa lima pejuang, termasuk Herman, mereka mundur ke Handil Dua.
Tanggal 20 Desember 1946, Jip militer Belanda menggeledah rumah penduduk di Samboja termasuk kepala penjawat (camat) Abdul Gani. Ketika pulang ke Markoni, jip disergap pejuang. Seorang militer Belanda berpangkat vaandrig tewas.[8]
Kedua ada Jembatan Merah di Balikpapan, masih di zaman perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945-1947, Jembatan Merah ini juga menjadi saksi bisu  pertempuran para pejuang Balikpapan. [9]


[1] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 17.
[2] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 19. 
[3] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 19. 
[4] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 20-30. 
[5] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 20-30. 
[6] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 20-30. 
[7] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 20-30. 
[8] Kaltim Post Balikpapan - 14 Agustus 2012
[9] Abdul Gani, Kronik Perjoangan Rakyat Kalimantan Timur, Samarinda&Jakarta, Jakarta Kaltim Group, 1993, hlm. 20-30.