Rabu, Februari 17, 2010

Dibalik Ronta


Selalu ada cerita menarik mengapa seseorang jadi pemberontak. Sudah pasti cerita-cerita itu tidak menyenangkan. Juga selalu ada alasan personal, yang tidak jarang juga bisa menjadi alasan kolektif, pencetus pemberontakan.

Arung Palakka dari Bone harus melawan Ayam Jantan dari Timur alias Sultan Hasanuddin, karena ingin membebaskan Bone dari cengkraman Gowa. Bone tidak akan merdeka dari Gowa seandainya Arung Palakka diam saja dan membiarkan banyak orang Bone dihinakan dalam sebuah kerja paksa untuk Gowa. Memberontak tentu sebuah solusi penting bagi Arung Palakka. Berontak bukan kata hina dan tidak bisa begitu saja disamakan dengan pengkhianat. Arung Palakka kemudian sukses, walau dia kemudian dicap pengkhianat dalam buku pelajaran sekolah karena bersekutu dengan VOC. Sementara, fakta imperialis Gowa sebagai penjajah tetangganya tertutupi dalam buku sekolah. Sejarah selalu dibuat mudah oleh penguasa. Politik selalu tidak menyenangkan bagi yang berkuasa

Ketika tanah leluhurnya di Tegalrejo dijadikan jalan kereta, maka Pangeran Diponegoro pun melawan. Masalah sengketa tanah itu pun menjadi sebuah Perang Besar yang menguras dalam kantong pemerintah kolonial. Diponegoro akhirnya kalah juga setelah memberi perlawanan hebatnya. De Kock dengan licinnya menjerat Diponegoro di Magelang lalu membuangnya ke Sulawesi. Saat ini, tanah sengketa itu menjadi jalur kereta api yang sering kulewati ketika menuju Jakarta dari Jogja. Rel itu memakan banyak darah. Tidak sia-sia, karena kita bisa belajar bahwa melawan itu perlu walaupun akhirnya kalah. Juga belajar agar tidak kalah dan ditindas lagi.

Nasionalisme, selalu jadi jawaban mengapa Sukarno melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Apa hanya karena itu? Entahlah. Ada cerita menarik. Ketika remaja Sukarno yang puber menyatakan cinta pada seorang gadis Belanda. Malangnya Sukarno ditolak. Gadis itu mungkin menyesal di kemudian hari, begitu tahu pria yang dulu dia tolak jadi Presiden. Jika ini adalah alasan Sukarno, karena merasa direndahkan kebangsaannya oleh penolakan gadis Belanda itu, maka ini bukan alasan yang buruk, meski lucu.

Kelas juga jadi alasan seseorang berontak. Seorang anak Dokter Jawa, bernama Maruto Darusman mengalami nasib naas. Lamarannya ditolak ayah gadis pujaannya. Konon, alasannya Darusman bukan orang kaya yang tidak sepadan dengan gadis pujaannya itu. Padahal keluarga dokter jawa bukan keluarga miskin dimasa itu. Darusman lalu ke Belanda dan jadi seorang komunis militan yang rasakan ngeri Perang Eropa. Dia kembali ke Indonesia sebagai seorang komunis, yang kemudian ditembak mati bersama Amir Syarifudin. Sebelum kematiannya untung saja Darusman menikah juga, walau bukan dengan gadis pujaannya yang dulu. Sebagai komunis samapDarusman dan Amir

Cerita-cerita tadi, bukan lagi cerita baru. Anda-anda tentu akan menerima cerita-cerita lain yang berbeda namun dengan inti sama, ketidakpuasan. Karena masih banyak cerita tidak menyenangkan lain yang jadi sebeb pemberontakan di Indonesia. Mulai dari enggan kerja paksa untuk pemerintah, ditolak masuk tentara, kemelaratan maupun karena kekecewaan lainnya. Sebenarnya tidak perlu teori macam-macam yang rumit untuk berontak. Cukup dengan ketidakpuasan, tenaga dan militansi maka meledaklah.

Didedikasikan untuk semua Pemberontak
Terimakasih telah warnai sejarah dan dunia…

Senin, Februari 15, 2010

Thomas Nayoan Tak Pernah Lelah Untuk Kabur


Kabur adalah tindakan pengecut, kata banyak orang. Tapi Nayoan kabur sebagai seorang pemberani. Ini adalah perlawana gigihnya terhadap politik kolonial.

Digul, banyak yang bilang Boven Digul (pedalaman Digul). Tempat ini begitu terkutuk. Ganas malarianya. Tidak ada yang bisa lolos darinya. Nyamuk disini tidak kenal kelas. Siapa saja dia gigit. Tempat ini makin terkutuk lagi dengan manusianya. Dulu, mereka manusia penuh semangat melawan Gobernemen. Mereka tampak mulia kala itu. Sekarang, mereka saling mangsa antar sesama, yang dulu sama-sama lawan Gubernemen. Waktu dan kamp terkutuk ini menggilas semangat mereka.
Pemerintah Gubernemen menyebut mereka kaum merah. Kaum yang dihabisi setelah mengamuk di tahun 1926-1927. Dengan mesin perangnya, Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL), pemerintah Gubernemen berhasil menyikat pemberontakan itu.
Banyak yang bilang, orang Menado adalah antek Belanda. Nyatanya tidak juga. Di Digul pun ada orang Menado juga. Tidak kalah merahnya dengan orang Jawa. Thomas Nayoan namanya. Tidak banyak cerita tentangnya. Apalagi dibuku sejarah. Nayoan seperti tidak dianggap penting. Dia memang bukan ketua partai oposisi terhadap pemerintah Gubernemen. Dia bagian dari pemberontakan PKI 1926. Tidak ada cerita detail tentang dirinya, juga bagaimana ceritanya hingga dia bisa menjadi seorang komunis.
Nayoan, yang dari Menado itu berada di Surabaya menjelang pemberontakan PKI 1926. Tidak ada catatan bagaimana posisi dia di partai. Rasanya dia seperti tokoh penting dan terpelajar. Hari itu, 7 Oktober 1926, Thomas Nayoan, ditangkap di Surabaya oleh oppas kolonial. Kemudian Najoan dikirim lagi ke Manado dan harus menjalani hukuman 3 bulan penjara lamanya. (Pandji Poestaka, 12 Oktober 1926)
Hukumannya tidak berhenti disitu. Akhirnya dia harus dikirim juga ke Digul. Sebuah pembuangan bagi kaum merah di Papua Barat. Banyak yang bilang jauh dari peradaban. Orang-orang merah itu, akan dibuat gila ditempat itu. Berharap orang merah itu kapok untuk melawan. Dan benar, orang-orang di pembuangan itu makin menggila. Entah karena malaria atau perpecahan antar mereka. Luar dalam, Digul pun semakin mengerikan saja.
Mereka yang menyerah dan tidak kuat pada tekanan alam Digul maupun politik kolonial tentu jadi gila. Yang menyerah pada Gubernemen, tentu bisa sedikit labih nyaman disana. Tapi alam Digul tetap tak kenal ampun.
Tekanan dan perpecahan diantara orang-orang merah terus mendera penghuni Digul. Ditengah kegilaan ini, tinggal Nayoan yang punya kegilaan sendiri. Dia selalu punya rencana kabur dari kamp Digul terkutuk itu. Dia mencoba kabur tiga kali, dan tiga kali pula gagal. Itulah yang ditulis oleh Sejarawan John Ingleson dalam bukunya "Jalan Ke Pengasingan".
Dalam pelarian keduanya, Nayoan sukses mencapai Australia dengan berperahu. Meski sukses melewati sungai-sungai Digul, yang katanya buaya sering berkeliaran, namun malangnya Nayoan tidak bisa menerabas hukum Australia—yang punya perjanjian Ekstradisi dengan Hindia Belanda. Tidak lama menikmati bebas dari politik kolonial, Nayoan dikapalkan lagi ke Digul.
Kembali ke Digul tentu bukan hal menyenangkan. Artinya harus kembali lagi menikmati tekanan politik kolonial seperti penghuni kamp lainnya. Mungkin saja ada ejekan bernada pujian dari sesama penghuni karena sukses kabur mencapai Australia walau kemudian tertangkap lagi.
Sebagai tukang kabur yang sering gagal namun hebat, Nayoan tentu tidak terlibat perbedaan paham antar penghuni kamp. Dia terhindar kegilaan tanpa arti penghuni kamp. Kabur lebih punya arti bagi Nayoan. Kabur lebih baik daripada berselisih seperti kawan-kawan merahnya di Digul. Kabur sering diidentikan sebagai tindakan pengecut dan bodoh oleh banyak orang. Nayoan rasanya tahu bahwa aparat kolonial akan terus mengejarnya. Namun, kebebasan adalah hal penting bagi Nayoan. Karenanya dia menjadi tukang kabur legendaries di kamp Digul. Ada impian menuju bebas ketika dia bergabung dengan PKI dan terlibat dalam pemberontakan. Impian menuju bebas itu terus walau dia semakin ditekan.
Dalam pelarian terakhirnya Nayoan mengambil jalan berbeda. Dalam palarian sebelumnya, yang kearah selatan, maka pelarian terakhir Nayoan ini menuju arah utara. Nayoan belajar bagaimana negeri di selatan bernama Australia tidak akan menerimanya, karena ada perjanjian ekstradisi. Karenanya Nayoan kabur ke arah utara. Dimana alam Papua yang ganas harus dinikmatinya.
Aparat kolonial, yang pasti memburunya, lalu tidak menemukan jejak Nayoan sama sekali. Setelah itu tidak ada lagi kabar tentang Thomas Nayoan. Berbagai spekulasi muncul. Ada yang bilang dia jadi korban kanibal suku asli yang masih liar pedalaman Papua. Hal ini tentu saja menakuiti penghuni kamp jika mereka berani kabur seperti Nayoan. Tapi kali ini Nayoan tidak tertangkap aparat kolonial lagi. Bagaimanapun nasibnya, Nayoan benar-benar bebas lagi dari tekanan Gubernemen. Perlawanan Nayoan terhadap politik kolonial pun sukses bagi dirinya.




Selasa, Januari 05, 2010

Indonesia Timur: Pantai yang indah, Buku dan Merdeka


Waktu kecil, aku berpikir Indonesia Timur adalah wilayah terbelakang yang tidak ada bagusnya sama sekali. Belakangan aku sadar, bahwa aku salah. Banyak laut dan pantai yang indah disana. Tentu, dengan tidak banyaknya pabrik disana, daerah itu akan jauh lebih baik daripada pinggiran rel kereta api di Bekasi yang dipenuhi pabrik. Bisa dibayangkan betapa bebas polusinya Indonesia Timur.

Indonesia Timur, dalam banyak buku yang kubaca, adalah daerah penuh konflik. Zaman Hindia Belanda, tentu bukan daerah stabil. Masalah pajak, bisa jadi sumber kerusuhan disana. Buku Pemberontak tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan Nusantara, mencatat banyak pemberontakan anti pajak di Indonesia Timur. Jelas orang Indonesia Timur bukan tipe orang yang mau ditindas. Mereka pernah berontak setidaknya, walau harus kalah oleh serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) yang membela kejayaan Sri Ratu Belanda di Indonesia.

Mengapa, ada bangsa asing di Maluku, buku-buku sejarah sudah jelas menjawabnya. Aroma rempah-rempah telah mangundang bangsa asing, dari Eropa seperti Belanda dan Portugis, mau datang ke Maluku. Anak kelas 6 SD di Indonesia tahu kalau zaman dahulu kala, Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah. Belanda kemudian sukses melakukan monopoli atas rempah-rempah itu dengan maskapai dagangnya Vereniging Oost-Indishe Compagnie (VOC). Setelah zaman tanam paksa, yang jauh sesudah VOC bangkrut, maka rempah-rempah meredup. Tanah Jawa dan sebagian Sumatra yang subur melahirkan banyak Onderneming (perkebunan) swasta yang sukses memenuhi kantong Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang bertahta di Batavia alias Jakarta. Begitu juga pertambangan di Sumatra dan Kalimantan, membuat pamor Indonesia Timur makin meredup.

Muncul kalimat, "Maluku masa lalu, Jawa masa kini, dan Sumatra masa depan" di kalangan orang petinggi dan pengusaha Belanda di Indonesia pada awal abad XX. Eksploitasi makin berkembang saja.

Zaman Revolusi, wilayah Sulawesi ke timur adalah wilayah Negara Indonesia Timur. Dimana banyak tokoh penting dari Sulawesi, Maluku dan Bali menjadi petinggi Negara--yang katanya Negara boneka Hubertus Van Mook itu. Negara Indonesia timur ini tidak banyak yang menginginkannya. Lalu Republik Indonesia yang Jawasentris mengambil alihnya pasca Pengembalian Kedaulatan Desember 1949.

Zaman Indonesia merdeka, Indonesia timur adalah daerah tertinggal. Dimana pemerintah pusat di Jawa terkesan hanya memperhatikan daerah Indonesia barat saja. Indonesia Timur terlupakan dan semakin jauh tertinggal. Memang banyak fasilitas pendidikan seperti sekolah dan Universitas namun kualitasnya jauh tertinggal. Sirkulasi buku-buku bacaan tentu akan sangat kalah jauh dengan di Jawa. Seorang kawan dari sana, jika berada di Yogyakarta--yang katanya gudang buku murah--tentu akan memborong banyak buku. Seorang Om dari kawan saya yang menjadi petinggi sebuah sekolah di Flores bilang, minat baca anak-anak disana tinggi, sayang buku-buku bacaan sangat kurang sekali. Sirkulasi buku di Indonesia timur harus ditingkatkan untuk mempercepat pembangunan pendidikan disana. Paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa buku barang mewah dan tidak perlu harus segera dihilangkan dengan sirkulasi buku yang baik.

Pemerataan adalah hal tersulit di Indonesia. Pembangunan seolah milik Indonesia bagian barat saja. Selalu ada kata orang-orang Indonesia Timur belum siap mental dan sebagainya. Bagaimana mau siap? Jika pendidikan masih jauh tertinggal dengan jawab. Setiap perasaan tidak puas mereka untuk melepaskan diri, akan selalu ditimpali dengan kata "Tidak Nasionalis." Orang pusat mungkin cuma mengerti kata tidak NAsionalis tapi tidak mengerti arti kata "berbagi." Tentu saja Indonesia tidak ingin terpecah lagi. Kasus Timor-Timur yang sudah jadi Timor Leste adalah pembelajaran. Orang-orang Indonesia umumnya tidak ingin Papua lepas dan Republik Maluku Selatan bangkit lagi. Gerakan Papua Merdeka dan Neo RMS tentu bisa tumbuh berkembang di Indonesia Timur jika pembangunan pendidikan disana jauh tertinggal. Pendidikan, perekonomian dan pemerataan yang lebih baik tentu akan membuat orang Indonesia Timur merasa mereka bagian dari Republik Indonesia.

Saya sering mendengar adanya percepatan pembangunan untuk Indonesia Timur. Sayangnya saya tidak tahu, apakah itu terjadi atau tidak. Jika terjadi itu baik sekali, namun jika tidak jangan salahkan sekelompok orang Indonesia Timur yang berteriak minta merdeka. Hanya ada dua pilihan sekarang untuk Indonesia Timur, "Percepatan pembangunan atau Merdeka!"




Selasa, November 03, 2009

Aku, Bugis dan Gadis Itu


Sejak kecil, aku selalu punya teman Bugis. Tidak mampu aku menghitung jumlahnya. Sangat banyak. HIngga hari ini, aku masih berhubungan dengan teman-teman Bugisku itu. Kota tempat aku lahir dan besar, Balikpapan, punya populasi orang Bugis yang banyak.
Gambaranku tentang orang Bugis adalah mereka keras, bisa berbaur dengan orang dari suku lain dan aku bisa pastikan agama mereka adalah Islam. Walau hanya Islam KTP sepertiku. Dalam pengalamanku mereka baik hati. Jika bertamu ke rumah mereka, aku tidak akan dibiarkan kelaparan.
Beberapa tahun ini, aku sangat jarang bertatap muka dengan mereka. Karena aku harus merantau dan menjalani hidupku sebagai apa yang aku mau.
Orang Bugis punya tanah leluhurnya di Sulawesi Selatan dari pinggir pantai sampai pegunungannya. Banyak orang menganggap, Bugis adalah bangsa Pelaut. Tapi, Christian Pelras, membantah itu dalam bukunya "Manusia Bugis"--buku paling kusuka tentang Bugis. Menurut Pelras, sebagian besar orang Bugis itu bertani dan yang terjun ke dunia maritim tidak sebanyak yang bertani. Nyatanya, di laut orang Bugis kesohor juga. Bahkan peradaban pelayarannya cukup maju dengan adanya Amanna Gappa.
Di bidang sastra, orang Bugis juga tidak kalah. ada I La Galigo. Salah karya sastra terhebat di dunia. Kajian tentang La Galigo sudah dimulai sejak awal abad XIX.
Tentang Bugis aku memang tidak banyak tahu. Tapi aku kerap bersentuhan dengan Bugis, terutama dalam kajian sejarah. Aku pernah menulis beberapa kisah pemberontakan yang dilakukan orang Bugis, juga tentang tokoh Bugis seperti Andi Azis dan We Tenriolle. Mereka, orang-orang Bugis memberontak dengan bagitu hebatnya kepada siapa saja yang merusak kehormatannya. Orang Bugis melakukan pemberontakan, lebih banyak dilakukan karena Sirri (harga diri). Arung Palaka juga melakukan pemberontakan karena ingin membebaskan Bone dari penjajahan dan penghinaan dari Gowa pada abad XVII.
Tulisanku tentang Andi Azis, tanpa disangka juga telah membuatku berkomunikasi kembali dengan orang Bugis, setelah sekian lama. Aku jadi mengenal istri Andi Azis, Tante Bida, begitu aku menyapanya. Juga keponakannya Andi Irvan Zulfikar, yang sangat peduli dengan kebudayaan Bugis. Meski Puang Irvan tidak tinggal di tanah Bugis, dia terus bersinggungan dengan tanah leluhurnya sejak lama. Bersama Puang Irvan aku kembali belajar tentang Bugis.
Orang Bugis memang menyebar dibanyak tempat di Indonesia. Di Nias pun ada perkampungan Bugis. Aku pun juga punya sahabat, yang biasa kusapa Dike, dia keturunan Bugis yang ayahnya hilang di laut. Ketika mencari ikan.
Seminggu yang lalu, aku juga bertemu orang Bugis, asal Bone. Dia bercerita tentang tanah kelahirnnya. Tiba-tiba, aku semakin menggebu-gebu untuk mengunjungi tanah leluhur orang Bugis itu. Kembali menjadi backpacker lagi. Tinggal menunggu waktu saja.
Aku memang bukan orang Bugis. Tapi, karena besar di Balikpapan dan kemudian menulis tentang serkelumit sejarah Bugis, maka aku pun bersentuhan dengan Bugis. Aku jadi ingat di Balikpapan dulu, tergila-gila seorang gadis Bugis juga. Mengingatnya membuat merah wajahku dan membayangkan sesosok Manusia Bugis dalam hidupku.


Jumat, September 11, 2009

Di Laut harus Jaya


Katanya nenek moyangku seorang pelaut. Itu kata lagu yang dinyanyikan Adikku waktu SD dulu. Rasanya, Indonesia kurang bangga sebagai Negara Maritim. Jalasveva Jaya Mahe (artinya: Dilaut kita jaya) seperti tidak arti. Cuma para pelaut rendahan saja yang menjadikan kalimat sakti itu sebagai kebanggaan.

Katanya, Muhamad Yamin, Majapahit dulu berhasil menguasai Nusantara. Jika benar, berarti Armada laut Majapahit pasti tangguh. Butuh armada laut tangguh untuk menjelajahi dan menguasai perairan nusantara yang kadang dipenuhi bajak laut.
Bisa disimpulkan kejayaan Majapahit, yang katanya menguasai Nusantara itu, berarti juga kejayaan pelaut Indonesia di masa lalu. Cukup bisa dibanggakan sebenarnya.

Zaman terus berlalu, nyatanya kejayaan Pelaut Indonesia tinggal romantisme belaka. Nyaris tidak bisa dibanggakan. Apakah salah para pelaut?rasanya tidak! Tidak ada yang salah dengan para pelaut. Mereka tidak bisa disalahkan ketika Laut Nusantara terus dijarah. Juga bukan salah nelayan di Nusantara jika banyak hasil laut dicuri, dan kadang rusak. Nyatanya banyak nelayan tidak diperhatikan.

Dalam sejarah, selain Hang Tuah (Panglima laut kerajaan Melayu), Mpu Nala (panglima armada laut Majaphit)ataupun John Lie (pahlawan Laut Indonesia zaman revolusi kemerdekaan RI), Indonesia harusnya bisa melahirkan pahlawan laut baru.
Dalam pelajaran SD, dijelaskan luas lautan Indonesia lebih luas daripada daratan. Jadi banyak perairan yang harus dijaga. Laut adalah anugrah terbesar bagi Indonesia, namun laut belum bisa dijaga dengan baik di Indonesia.

Siapa yang harus disalahkan? Ya siapa lagi kalau bukan pengarah pembangunan nasional, pemerintah. Kebijakan pemerintah kurang begitu peduli dalam sektor maritim. Mencintai Laut Indonesia, tinggal wacana kosong. Ketika Sail Buneken, yang diadakan Agustus lalu, selesai dilaksanakan, maka selesai pula perhatian orang Indonesia kepada laut.

LAUT INDONESIA LUAS
Orang-orang Indonesia pecinta laut Nusantara, tentu akan miris mendengar berita gangguan berupa pencurian di laut-laut Nusantara oleh kapal-kapal asing. Sementara itu, Angkatan Laut Indonesia tampak tidak berdaya mengatasi semua gangguan itu, karena laut Indonesia yang begitu luas. Banyak orang akan memaklumi ketidakberdayaan pihak Angkatan Laut itu setelah mengetahu jumlah personil Angkatan Laut yang jelas-jelas terbatas.

Tahun 2009, jumlah personil Angkatan Perang alias TNI berjumlah 432.129 personil. Dengan 328.517 personil diantaranya adalah Angkatan Darat. Sementara itu, jumlah personil Angkatan Laut hanya 74.963 personil. Jumlah personil Angkatan Udara, hanya 34.930 personil saja. Jumlah personil Angkatan Laut yang hanya 74.963 itu harus mengamankan lautan yang 5,8 juta km2 yang terdiri dari 3,1 juta km2 Perairan Nusantara dan 2,7 km2 Perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).Dan 70 persen dari luas total Indonesia, adalah lautan.

PERBANYAK PERSONIL DI LAUT!
Mengutip tulisan Nasrul Alam, "Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Bernard Kent Sondakh, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR awal Juli (2002), mengakui lemahnya kemampuan tempur matra laut. Dari total 113 KRI (Kapal Republik Indonesia) yang dimiliki TNI AL saat ini-meliputi kapal tempur, kapal patroli, dan kapal pendukung-tak ada satu pun yang siap tempur sesuai fungsi azasinya. Umumnya kapal milik TNI AL itu telah berusia tua dan kondisinya semakin diperparah oleh embargo peralatan militer oleh Amerika Serikat (AS), yang sampai saat ini belum benar-benar dicabut. Keseluruhan armada kapal TNI AL, sebanyak 39 KRI berusia di atas 30 tahun, 42 KRI berusia antara 21-30 tahun, 24 KRI berusia antara 11-20 tahun, dan hanya delapan KRI yang berusia di bawah sepuluh tahun tahun." Tergambar betapa payahnya armada laut Indonesia. Kondisi ini nampaknya tidak banyak berubah.

Bisa dibayangkan kondisi Angkatan Laut Indonesia seperti Angkatan Laut Hindia Belanda zaman Hindia Belanda sebelum dikalahkan Armada Laut Jepang dari arah Pasifik. Sekali serbu saja, Angkatan Laut Indonesia bisa kalah telak. Hal ini bisa mempengaruhi semangat berjuang para personil Angkatan Laut, yang sedianya siap mati di lautan untuk menjaga lautan Indonesia. Betapa, kondisi peralatan tempur Angkatan Laut itu juga mengecewakan personil Angkatan laut juga.

Semua harus berubah dari sekarang! Angkatan Laut harus terus disupport dengan personil dan peralatan tempur seperti kapal-kapal perang yang jumlahnya mampu menjaga lautan Indonesia. Petinggi TNI hendaknya tidak terus-terusan berpikir ke darat saja. Personil Angkatan Darat yang terlalu banyak rasanya lebih membahayakan. Indonesia adalah Negara Maritim, dan tidak boleh menjadi Negara Angkatan Darat!. Jangan sampai Indonesia seperti negara Amerika latin, dimana Angkatan darat dominan. Dominasi Angkatan Darat, hanya akan menjebak Angkatan Darat semakin menjadi pelanggar HAM terbesar ditubuh militer Indonesia.

Tidak ada waktu untuk menunggu sebuah pembenahan Angkatan Laut Indonesia secara besar-besaran untuk orang-orang Indonesia terus menjaga Nusantara dan dengan bangga bisa berkata, "JALASVEVA JAYA MAHE!" Ini tuntutan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi! Pencurian kekayaan laut harus berhenti atau di laut Indonesia tidak pernah jaya.


Selasa, September 08, 2009

Mahkamah Buku Untuk Kasdi


Aku bisa terus hidup karena buku. Aku tidak dibilang bodoh juga karena buku. Rupanya tidak hanya terjadi padaku. Orang lain juga rasakan hal yang sama.Ternyata buku milik peradaban manusia. Dan manusia beradab selalu hargai buku. Mantan Presiden juga menghormati buku, dengan membangun perpustakaan.

Di Indonesia, buku kadang menjadi sampah tak berharga. Bukan masalah jika yang perlakukan buku seperti sampah itu orang-orang awam. Ternyata, ada seorang yang harusnya menghargai buku malah membakar buku, seolah buku itu punya dosa padanya. Seminggu belakangan ini, ada kisah seorang Profesor membakar buku. Gila. Kawan-kawan yang sangat mencintai buku lalu mengganti gelar Prof (Profesor) nya menjadi Prov (Provokator).
Ampun deh. Kayaknya, dalam sejarah Indonesia baru dia yang bakar buku. Memalukan sekali? sangat tidak layak sekali.
Bukan rahasia umum, jika Kasdi alias Profesor Aminudin Kasdi yang guru besar Universitas Negeri Surabaya itu, anti komunis. Tidak ada yang salah dengan ideologinya! Dia cukup keras menulis sikap antinya terhadap komunis. Selama dia menulisnya itu tidak masalah, tapi bukan membakarnya.
Kasdi rupanya sangat kesal dengan sebuah buku tentang Sumarsono dan Revolusi Agustus-nya. Kasdi begitu membenci Sumarsono yang punya jasa terhadap Republik, walau Sumarsono tidak mengakui Proklamasi 17 Agustus. Rasanya itu hak Sumarsono, toch dia juga punya jasa besar dalam pertempuran 10 November 1945.
Katanya, dalam sebuah wawancara, Kasdi tidak puas dengan Buku Sumarsono. Harusnya! Jika Kasdi, yang katanya sejarwan yang banyak nulis buku, tidak puas dengan Buku-nya Sumarsono, ya Kasdi harus nulis buku juga. Tulisan dilawan dengan tulisan. Bukan tulisan dilawan dengan pembakaran.
Bagaimanapun pembakaran buku adalah vandalisme! Jadi harus ada sangsi kepada pelaku. Jika tidak buku menjadi makin tidak dihargai.Jadi, penting sekali untuk diadakan Mahkamah Buku untuk Kasdi! Letkol Untung saja diadili di Mahkamah Militer Luar Bi(n)asa, mengapa Kasdi tidak diadili oleh pecinta Buku sejagat? Kasdi harus mendapat hukuman setimpal!
Mahkamah Buku harus lahir dan bertindak untuk mengadili Kasdi! Agar tidak lahir Kasdi-Kasdi lain di masa depan yang hanya merusak peradaban manusia,


(NB: Tulisan ini adalah reaksi atas vandalisme yang dilakukan Profesor Aminudin Kasdi yang membakar buku Sumarsono. Semoga tidak peristiwa memalukan ini di masa depan. Peristiwa ini bukti bahwa Indonesia sebagai bangsa belum bisa menghargai buku!)

Rabu, Agustus 26, 2009

Nasib Anak Tiri Kartini


Sejarah selalu berkait antara satu dengan yang lain. Juga antara tokoh satu dengan yang lain. Semua saling mempengaruhi, setidaknya mewarnai. Ada cerita menarik tentang anak Kartini yang masuk dunia pergerakan. Dia bergerak seperti Ibu Tirinya yang hebat, seperti dalam kacamata Pramoedya Ananta Toer

Abdulmadjid dilahirkan pada tanggal 9 Januari 1904 di Rembang. Abdulmadjid terlahir sebagai putra bupati Rembang, dan termasuk salah satu anak tiri Kartini, karena ayahnya yang bupati Rembang itu menikahi Kartini. Abdulmadjid, menurut pengakuan salah seorang tokoh nasional yang dikutip oleh Soe Hok Gie dalam Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan, adalah sosok yang kaku, aristokratis dan dogmatis.
Pastinya Abdulmadjid tidak akan melihat Kartini yang moderat itu secara utuh, Kartini meninggal saat melahirkan Susalit ditahun 1904, yang juga tahun Abdulmadjid lahir. Hubungan akibat perkawinan ayahnya dengan Kartini itu tidak memberikan pengaruh pada intelektualitas Abdulmadjid. Ketika dalam masa pertumbuhan Abdulmadjid, tidak pernah berhubungan dengan Kartini yang sudah berada di alam baka.
Abdulmadjid setidaknya telah merasakan bangku empuk di sekolah Belanda hasil politik etis Belanda di pergantian abad XIX ke XX. Sebagai anak bupati Rembang, Abdulmadjid setidaknya bisa bersekolah dengan pengantar bahasa Belanda di Europe Lager School (ELS: setingkat SD) lalu ke Hogare Burger School (HBS: sekolah menengah)—sepertihalnya sosok Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dua sekolah sekolah macam tadi hanya terdapat di kota-kota besar Hindia kala itu, setidaknya Abdulmadjid pernah bersekolah di Semarang. Kota dimana Sastrokartono, kakak Kartini, sempat bersekolah sebelum akhirnyta belajar di Negeri Belanda.
Selepas sekolah menengah di Indonesia, Abdulmadjid mengikuti jejak paman tirinya, Sastrokaratono yang lebih dulu berangkat ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya. Disana Abdulmadjid berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa pergerakan macam Hatta. Abdulmadjid-pun terpengaruh dan ikut terlibat dalam arus pergerakan kaum kiri di Eropa itu. Tidak tanggung-tanggung, Abdulmadjid akhirnya terseret ke prodeo pemerintah Belanda yang represif terhadap gerakan anti kolonialisme.
Kehadiran orang-orang komunis dari Indonesia macam Semaun atau Darsono cukup memberi pengaruh pada Abdulmadjid untuk menempuh jalan komunis. Sama saja dengan Rustam Effendi, awalnya aktif di PI, lalu setelah Hatta kembali ke Indonesia tampil sebagai seorang komunis terkemuka di Eropa.
Abdulmadjid kemudian berhasil memepengaruhi kawannya yang lain dari Indoenesia, seperti Setiadjit. Pemuda ini kenal sebagai mahasiswa yang gemar mengunjungi dunia gemerlap malam di Belanda, dan oleh kawan-kawan Indonesianya dikenal sebagai anak malas dan tiap kali tidak punya uang sering meminjam uang dari Abdulmadjid dan kawan-kawan komunis lainnya. Semakin sering Setiadjit butuh uang, semakin sering dia berinteraksi dengan Abdulmadjid yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi Setiadjid dengan paham kirinya itu. Lama kelamaan, hobi Setiadjit meminjam uang itu semakin berkurang, ke menikmati dunia gemerlap malam-pun semaki berkurang. Pastinya mulailah Setiadjid terpengaruh oleh komunisme dari Abdulmadjid. Akhirnya Setiadjit mulai masuk dalam kelompoknya Abdulmadjid. Perkawanan Abdulmadjid dengan Setiadjit semakin akrab dalam gerakan kiri mahasiswa Indonesia itu. Mereka, seperti halnya Semaun-Darsono diawal kejayaan PKI di Semarang, tampil dwitunggal berpengaruh dalam PI pasca kembalinya Muhamad Hatta ke Indonesia.
Abdulmadjid kemudian sempat meninggalkan Belanda sebelum Jerman menduduki Negeri Belanda. Masa-masa menjadi aktifis Komunis itu, Abdulmadjid tidak pernah berhenti belajar. Setidaknya dia sudah menyandang gelar Mr (Meester in Rechten: Sarjana Hukum sekarang). Bersama beberapa kawannya Abdulmadjid pernah belajar di Lenins Institute di Moscow, Rusia sekitar tahun 1934-1935. Selama PD II mereka aktif dalam gerakan bawah tanah anti NAZI.
Abdulmadjid tampaknya berpikiran bahwa komunisme adalah jalan untuk mencapai tujuan perjuangan kaum pergerakan. Kesuksesan revolusi komunis di Rusia tahun 1917, memberi petunjuk bagi Abdulmadjid tentang perubahan atas tanah Hindia yang terjajah, dimana Hindia Belanda akan menjadi Indonesia dan tidak ada lagi kata Inlander lagi. Seperti halnya orang-orang komunis lain, Abdulmadjid yakin akan dukungan Komunis Internasional pada perjuangan bangsa Indonesia yang dipimpin kaum komunisnya untuk pembebasan negeri.
Kaum komunis Indonesia, termasuk Abdulmadjid, bagaimanapun juga adalah elemen penting pergerakan nasional. Sejak kemunculannya di Semarang, kaum komunis sudah berusaha menyentuh kepentingan kaum miskin tertindas dan ikut serta dalam pergerakan. Semaun, Tan Malaka, Darsono dan lainnya telah meberikan dirinyan untuk pergerakan. Begitu juga Abdulmadjid.
Apa yang dialami dan lakukan Abdulmadjid dan kawan-kawannya selama di Eropa bagaimanapun adalah suatu usaha untuk mencapai dua kata, seperti judul pledoi Muhamad Hatta, Indonesie Vrij (baca: Indonesia Merdeka). Tujuan yang sama dengan kaum pergerakan di Indonesia, walaupun berbeda visi mengenai Indonesia Merdeka bagaimanakah yang akan dituju itu.
Banyak tokoh nasional akan dicap sebagai sampaih bila pernah bersentuhan komunis. Tokoh yang terlibat dalam kudeta atau pemberontakan biasanya akan di beri lebel pengkhianat bangsa. Sejarah Indonesia tiga dekade terakhir masih menganggap kaum komunis di arena pergerakan nasional dianggap sebagai 'duri dalam daging' atau bahkan 'musuh dalam selimut' kaum pergerakan. Karenanya peranan kaum kiri itu nyaris tidak tertulis dalam sejarah bangsa. Dibangun opini bahwa orang-orang kiri adalah perusak perjuangan kaum pergerakan karena pemberontakan PKI 1926-1927. Hampir tidak pernah dibahas bahwa seorang orang kiri Indonesia di Negeri Belanda, Rustam Effendi pernah duduk dalam parlemen Belanda dan berhasil menarik simpati beberapa warga Belanda atas ketimpangan rasial pemerintah kolonial Belanda terhadap orang-orang Indonesia.
Stereotif atas orang-orang kiri itu sangat politis sekali, dalam sejarah, kaum penguasa berhak melakukan apa saja, apalagi terhadap kaum yang kalah—kaum yang pecundang yang layak dijadikan warganegara kelas dua bahkan layak juga diperbudak oleh kaum pemenang. Dalam sejarah tidak ada kata pengkhianat atau pahlawan. Bila-pun ada, hal itu lebih bersifat politis saja.
Ada yang patut diingat dari seorang Abdulmadjid dibalik sosoknya yang kaku dan nyaris dogmatis, seperti yang dikutip Soe Hok Gie, pengkomunisan yang dilakukannya terhadap PI adalah usahanya, bersama Setiadjid, memperoleh dukungan gerakan komunis Internasional pada dunia pergerakan nasional di Indosnesia. Terlihat Abdulmadjid berusaha belajar dari kecerobahan PKI 1926/1927 yang nekad memberontak itu.



Sabtu, Agustus 15, 2009

Bukan Kali Pertama Ada Bom


Orang-orang sibuk dengan berita bom. Berita-berita pendidikan dan kesejahteraan rakyat tenggelam. Ada yang untung dengan pemboman itu, tapi bukan sang teroris yang mungkin saja nyasar ke Surga.

Bom sendiri bukan hal baru seperti yang diributkan sekarang. Zaman revolusi juga bukan momen pertama bom meledak di Indonesia. Kota Semarang pernah menjadi sasaran bom di tahun 1923. Jika bom-bom di tahun 2000an mengkambinghitamkan kelompok Islam, maka bom tahun 1923 mengkambinghitamkan kaum komunis yang tidak sudi diperentah orang-orang Belanda
Kalender ketika itu menunjuk 31 Agustus 1923. Hari itu adalah Hari besar Kerajaan Belanda yang selalu dirayakan, baik di Negeri Belanda maupun dikoloninya. Bagi banyak kalangan, tidak layak kaum terjajah merayakan hari besar penjajahnya.
Hari itu, sekitar pukul 11.00 siang, bom meledak di Semarang. Ledakan terjadi di sekitar alun-alun kota Semarang yang ketika itu berlangsung keramaian. Suasana cukup ramai dalam acara tahunan itu ketika bom meledak. Diperkirakan sekitar 11.000 orang hadir dalam keramaian itu. Tanpa diduga seseorang tidak dikenal melemparlkan dua bom ke tengah alun-alun kota Semarang yang dipenuhi manusia itu. Satu bom dilempar lagi dari Hotel Du Pavilion. Akibat ledakan bom itu, 8 orang Tionghoa, 3 orang Eropa dan seorang pribumi tewas. Seorang polisi Belanda juga terluka insiden bom di siang bolong ini.

Serangan bom ini membuat komisaris polisi di Semarang mengerahkan pasukan polisinya untuk memperketat penjagaan di dalam kota Semarang. Polisi memperkirakamn pelaku pengeboman yang belum ditemukan itu masih berada di dalam kota Semarang.
Di tempat berbeda, di hari yang sama juga terjadi ledakan bom di Madiun. Ledakan bom itu mengakibatkan dua orang pribumi terluka dan akhirnya tewas karena ledakan bom. Polisi memperkirakan bom itu meledak sebelum waktunya dan kedua orang yang tewas akibat bom tersebut adalah orang komunis.
Kaum komunis adalah musuh pemerintah paling radikal di Hindia Belanda. Beberapa waktu sebelumnya, orang-orang komunis di Jawa itu juga telah menggerakan pemogokan buruh kereta api di Jawa yang mengakibatkan jaringan kereta api di Jawa lumpuh.
Orang-orang komunis dengan konsep perlawanan kelasnya dari ajaran Marx itu menganggap pemerintah kolonial sebagai musuh yang harus dilawan. Pemerintah kolonial, dimata kaum komunis dekade 1920an, sebagai antek kapitalisme yang menghisap rakyat pribumi yang di antara mereka menjadi buruh kereta api maupun kuli-kuli di perkebuanan.
Selain pemogokan, beberapa kaum komunis mencoba langkah lain, dengan cara lebih keras. Mereka meledakkan bom sebagai solusi ketika pemerintah kolonial tidak pernah mau berkompromi dengan tuntutan kaum kiri yang umumnya radikal. Tapi bom itu tidak membuat pemerintah kolonial takut, sebaliknya justru makin keras melakukan pembersihan di kalangan pergerakan yang radikal dan nonkoperasi.
Sumber-sumber pengadaan bahan peledak juga dibersihkan di seluruh Hindia Belanda. Namun, usaha pemerintah kolonial itu tidak selalu sukses. Pada 6 Oktober 1923, Pejabat Asisten Demang di Kacang, Sumatra Barat, gagal menangkap seorang yang dicurigai sebagai pedagang dimanit (bahan peledak). Dari orang yang sebelumnya ditangkap pihak berwenamg, orang yang melarikan diri tadi adalah pedagang dinamit yang memiliki banyak pelanggan di kalangan para penangkap ikan—yang sebagian memerlukan dinamit untuk menangkap ikan—yang tinggal di Kacang dan Tikalak. Penggunaan dinamit akan merusak lingkungan di sekitar danau Singkarak. Penggunaan dinamit sendiri oleh pemerintah kolonial hanya terbatas untuk menghancurkan bukit berbatu cadas untuk membangun jalan. Penjualan dinamit dikalangan sipil akan sangat berbahaya karena kerap disalahgunakan dan bisa memakan korban manusia.



Minggu, Juli 19, 2009

Musik Melayu Punya Indonesia!


Kalo Anti Melayu, Mending Bubarkan Saja Indonesia
Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu
Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu
lagu cinta melulu
kita memang benar-benar melayu
suka mendayu-dayu
(Efek Rumah Kaca, Cinta Melulu)

Belum lama ini, segerobolan musisi Indonesia komersil muring-muring. Mereka, yang kebanyakan ngepop itu, menggugat musik melayu. Bahkan ada musisi, yang katanya, Underground, sok menasehati, Bertobatlah!!!!
Heran? apa ada yang salah dari melayu. Kenapa mereka, musisi melayu harus digugat di ajang musik Indonesia. Mereka juga orang Indonesia! Musik melayu, juga musik Indonesia. Salah satu akar musik Dang Dut, yang diusung Rhoma Irama juga berakar dari Melayu. Bukan hal aneh, musik melayu juga milik Indonesia. Bukan milik orang Malaysia saja.
Kenapa dulu Siti Nurhaliza, yang Malaysia, diterima di Indonesia, tidak lain karena orang Indonesia punya akar musik melayu. Bahkan Indonesia adalah bagian dari rumpun melayu.
Hendaknya, orang-orang Indonesia sadar, bahwa di pesisir Sumatra sana ada orang-orang Melayu. Mereka juga bagian dari Indonesia. Dan bukan tidak mungkin kalo kakek-nenek orang-orang Indonesia itu juga pejuang kemerdekaan, hingga Indonesia bisa seperti sekarang. Hingga para pengejek musik melayu itu bisa bermusik dengan gaya mereka juga. So, tidak ada yang salah dengan musik melayu.
Kenapa Musisi-musisi Indonesia, yang sekelas Yovie Widianto tampak Childies dengan keberadaan band-band baru bergaya Melayu. Yovie menganggap mereka tidak layak masuk forum musisi Indonesia. What up? Apa masalah rezeki, karena musik bergaya melayu lebih laris? Memalukan sekali! Harusnya, sebagai musisi besar, Yovie cuek saja dan terus buat musik yang bisa kalahkan band-band Melayu itu. Dan bukan mengumbar kebencian! Rasanya sejawat Yovie yang anti band ala melayu, juga hendaknya lakukan hal yang sama. Biarkan masyarakat menilai.
Saya bertahu anda semua, ”Musik Melayu itu bagian dari musik Indonesia, seperti juga Campur Sari dan lainnya!
Tapi, seperti yang selama ini saya ikuti, lagu-lagu Yovie juga itu-itu saja. Alias tentang cinta aja. Sama saja dengan musisi melayu itu. Huuuhhhh. Sama-sama jual cinta, kayak pelacur-pelacur di tempat prostitusi! Mending rukun aja melacurnya, eh jual cintanya. Bersainglah dengan sehat! Sebelum bisa buat apa yang pernah dibuat Beatles atau Pink Floyd, Jangan mencela!

Sabtu, Mei 16, 2009

Dosa Mengejar Soumokil


Soumokil akhirnya tewas juga dihadapan regu tembak. Mungkinkah dia kualat pada walter Manginsidi yang belia itu.

Aku menemukan foto2 seram dua minggu lalu di http://republikmaluku.multiply.com/photos/album/3/Mr.Dr.Chr.Soumokil Reaksiku, kaget, senang, dan tentu saja menyeramkan. Selain, Soumokil yang narsis lewat foto. Banyak juga foto persidangan, foto penahanan dan foto eksekusi matinya.
Soumokil, dalam sejarah Indonesia, dicap pengkhianat dengan Republik Maluku Selatan (RMS)nya. Dia dianggap pro Belanda, ketika revolusi kemerdekaan. Tuntutan mati, yang sukses, atas diri Walter Manginsidi, adalah karyanya. Soumokil menjebloskan Manginsidi, si gerilya muda pro republik ke hadapan regu tembak, dengan alasan pengacau di Makassar.
Soumokil seperti dikejar dosa. kegagalan Andi Azis, yang berontak di Makassar, membuatnya lari ke Maluku. Masuknya tentara republik (TNI), berbahaya bagi posisinya, dia mungkin akan dituntut balik oleh orang2 pro republik atas kematian Manginsidi. Di Maluku Selatan, ada sebuah kesempatan untuk menjadi pejabat yang tidak perlu tunduk pada republik Indonesia, juga untuk menghindari diri dari dosa.
Soumokil, akhirnya pulang juga ke tanah Nenek Moyangnya. Dia lahir dan besar sebagai "Belanda Itam" di zaman kolonial. Gelijkgesteld, membuatnya jadi Belanda Itam, yang tentu berbeda dengan orang-orang pribumi biasa. Soumokil adalah pemuda beruntung, karena pernah kuliah hukum di Leiden, Belanda. Lepas kuliah, hidupnya tambah nyaman lagi, tapi tidak di zaman Jepang, dia jadi tawanan tentara jepang.
Zaman kemerdekaan Indonesia, mimpi buruknya dimulai. Tanda zaman suram membayanginya. Karena dia "Belanda Itam" dia pun pilih menolak Republik--hingga akhirnya memproklamasikan RMS. Kematian Manginsidi adalah dosanya, dan dosa mengejarnya.
Nasibnya pun tak jauh beda dengan Manginsidi, mati dihadapan regu tembak.Bedanya,jika Manginsidi di hadapan regu tembak Tentara Belanda, maka Soumokil ditembak oleh TNI. Intinya, nasib keduanya tragis.
Satu perbedaan lagi, Manginsidi jadi pehalawan yang harum, maka Soumokil sebaliknya. Namun di sebuah tempat di negeri Belanda sana, Soumokil mungkin dianggap pahlawan oleh generasi2 RMS.
(Foto kematian Soumokil, akan terabadi, dan jadi pelajaran.)



Minggu, Mei 03, 2009

Yang Terendam Buku


Lorong perpus SMA menjadi favoritku, meski jutaan orang Indonesia menghindarinya, kecuali hanya uuntuk bercumbu demi nafsu. Tapi, lorong perpus itu suci dan bukan untuk bercumbu. itu tempat pelarianku.

Aku bosan dengan Indonesia yang menyedihkan. Mungkin sama menyedihkannya dengan kondisi yang tidak nayaman di kelas 2 SMA ku.Ya mungkin sama menyedihkannya dengan kondisi dan mentalitas kawan-kawanku. Beragam, tapi pola pikirnya seragam hingga gak bisa hargai keberagaman. Sama seperti Indoensia. Indonesia tidak pernah damai karena sebenarnya orang yang beragam dipaksakan untuk seragam.
Seperti dunia kecil dalam kelas 2-1 SMA ku di SMA Negeri 2 Balikpapan. Dimana kawan mereka yang berbeda akan dianggap sok, gila, dan layak dibenci barangkali.

Aku terbilang beruntung menurut beberapa kawan SMP Negeri 3 Balikpapan, aku diterima di SMA Negeri 2 Balikpapan. Ya awal-awal cukup menyenangkan, tapi tidak seterusnya. Ada masa dimana keberadaanku tidak diakui. Karakterku tidak dibenarkan oleh kawan-kawan. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Rasanya semua harus seragam pola pikirnya. Tidak ada perbedaan, semua harus seperti kata orang-orang itu (kawan-kawan yang kerap mengkritiku tanpa mengerti apa duniaku).
Akhirnya, kelas menjadi tidak menyenangkan. Aku mulai muak dengan kelasku dan aku lebih senang bergaul dengan anak palang Merah, ato dengan anak kelas lain. Buruknya lagi, kami seperti disetting untuk ikut les. Beruntung aku tidak mau ikut. Dulu tidak ikut les menyakitkan, bakal ketinggalan pelajaran. Tapi sekarang, ketika aku telah melewati masa itu, aku merasa aku adalah manusia bebas ketika itu.
Sebuah tempat kemudian menyelamatkanku dari tekanan manusia-manusia sok sempurna itu. Ya, sebuah perpustakaan. Dimana buku-buku sejarah dan sastra tersimpan rapi dan menggiurkanku untuk dibaca. Tapi, kondisi sekarang sudah tidak seperti dulu. penyajian di Perpustakaan itu sudah tidak menarik lagi. Tidak seperti ketika Bu Satiyati mengurusnya. Semua berubah. Bu Satiayati, saperti juga Bu Asnalin (Guru Sejarah), termasuk orang yang membuat aku rajin membaca.
Di perpus aku temukan buku-buku yang buat aku menjadi manusia. Di kelas, aku adalah siswa yang paling rajin ke perpus dan pinjam buku. siswa yang nilainya paling baik pun jarang meminjam buku. mereka lebih banyak berkutat dengan buku-buku pelajaran saja. Gila, mereka dianggap pintar, tapi ogah membaca buku lebih banyak daripadaku. Membaca buku menjadi ritual paling asyik, meski aku dua kali hampir tidak naik kelas. Pokoknya, dan memang yang sebenarnya, bahwa buku adalah segala-galanya. Buku jauh lebih penting daripada buku-buku teks Eksakta, yang memuakan dan tidak manusiawi.
Buku-buku di Perpus itu membuat aku menjadi seperti sekarang, suka menulis dan mengkritik. Aku tidak merasa pintar, hanya saja aku menjadi semakin bisa melihat dunia, meski hanya dalam kacamataku saja. Aku suka buku dan cinta pada buku mulai menghebat waktu SMA. Aku berkenalan dengan tulisan Gibran yang dasyat. Tentu saja buku-buku sejarah juga mulai menggodaku, sebelum kuputuskan untuk menjad sejarawan.
Buku menyelamatku dari pola pikir konyol kawan-kawan SMA, yang merasa lebih dewasa. Buku seperti menutupi masa laluku yang tidak menyenangkan. Selama kuliah dan bergelut dengan buku, aku seolah melupakan sebuah peristiwa di kelas 2 SMA (2000-2001). Dulu ada berita kehilangan uang.kami sekelas jadi tersangka.seorang teman bernama Andre yang lagi iseng bilang, "Trik kayaknya kamu deh yang dituduh". sontak aku langsung bilang dengan tegas, "kalo sampe aku yang dituduh, bakal ada perang antar kelas!". aku wakil kelas miskin dan penuduh tentu wakil ato anjing kelas kaya. aku tahu Andre bercanda,tapi reaksiku sadarkan aku bahwa ajaran Marx dah merasuk dalam otakku.
Akhirnya, aku tahu bahwa dalam sejarah manusia ada istilah The Have & The Have Not. Dimana ada kaum The Have yang berpunya dan juga berkuasa dan ada The Have Not yang tidak memiliki apa-apa dan kerap tereksploitasi. Aku adalah kelompok yang The Have Not itu. Kuharap tak ada lagi orang sepertiku di sekolah. biar gak ada strugle class!!! Beberapa waktu buku bantu aku lupakan hal-hal konyol itu.
Itu semua karena buku. Aku juga menjadi orang yang tidak percaya dengan omongan orang, dan hanya buku yang bisa untuk dipercaya. Buku juga yang memperkenalkan aku pada Karl Marx--penulis Das Kapital yang pernah mengobrak-abrik Kapitalisme. Buku membuat aku berteriak, dan akhirnya jadi pemberontak.
Rasanya aku sedang balas dendam dengan masalalu.yang tak bermodal dilarang berekpresi oleh kawan sekelasnya.kemiskinan dan kerendahanku dibalas dengan cacian, kebencian pada tindak tandukku yang sebenarnya tidak mengganggu mereka. aku benci kelas 1 dan kelas 2 ku di SMA 2 tahun 2000-2001. Tapi, Kebencian itu bisa tertutupi dengan buku-buku yang kubaca, kukoleksi, atau yang kutulis.

Jumat, Mei 01, 2009

Tuhan Memberkati God Bless


Raksasa Rock ini masih hidup, ditengah arus musik pop yang menjejal blantika musik Indonesia. Legenda rock Indonesia ini masih menyisakan Ahmad Albar, Donny Fattah dan Ian Antono.

Bertahun-tahun menetap di Belanda, dan tidak lupa menjajal dapur rekaman di Eropa, akhirnya Ahmad Albar—yang biasa disapa Iyek—kembali ke Indonesia. Iyek ditemani oleh Ludwig Lehman.
Niat awalnya berlibur. Segera saja, niat itu berbelok. Di Jakarta, sedang diadakan pentas seni menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI, bertajuk Summers 1972. sebuah formasi band dadakan pun dibentuk. Tentu saja ada Iyek sebagai vokalis, Ludwig Lehman sebagai gitaris dan beberapa musisi yang kala itu masih muda—namun kini sudah menjadi nama besar dalam sejrah musik Indonesia.

Posisi drum awalnya diisi oleh Fuad Hasan dan Soman Lubis pada keyboard. Dua pemuda itu bernasib naas karena kecelakaan yang menewaskan mereka, ketika sepeda motor mereka berpapasan dengan truk kacang ijo (militer). Segera band yang diberinama God Bless ini minus pemain. Bukan hanya itu, kematian Fuad Hassan dan Soman Lubis itu juga, membuat personil lain terpukul. Meski begitu mereka terus menggeliat dalam dunia musik rock Indonesia.
God Bless pun menjadi raja panggung rock Indonesia. Mereka menjadi perhatian para pemuda Indonesia—yang mulai terjangkiti musik rock barat yang sedang populer. Kala itu raksasa rock dunia macam Led Zeppelin dan Deep Purple sedang naik daun. Lagu barat pun kerap dibawakan God Bless.
Gonta-ganti personil pun kerap didera band besar ini selama lebih dari dua dekade. Beberapa nama besar seperti: Deddy Stanzah alias Deddy Rollies (pendiri The Rollies dari Bandung), Deddy Dores (dedengkot Freedom of Rhapsodia juga dari Bandung), Abadi Soesman, juga Nasution bersaudara dari gang Pegangsaan pun pernah ikut memperkuat pasukan God Bless.
Nama-nama besar itu layak ngejam di God Bless karena mereka memang sangat diperhitungkan. God Bless, jadi para pemain instrumennya juga orang besar, setidaknya diperhitungkan ketika mereka mengisi formasi God Bless. Pemain instrumen boleh ganti, namun vokal tetap saja urusan Iyek—yang merupakan anggota terlawas selain Donny Fattah. Selama bergabung dengan God Bless, Donny Fattah sebagai pemain bas, namun di awal-awal God Bless, Donny Fattah sempat memegang gitar—namun tidak lama.
Bicara soal Gitaris? God Bless punya leganda. Anak band zaman sekarang pasti akan menyebut nama Ian Antono jika ditanya salah satu gitaris terhebat Indonesia. Memang benar! Setidaknya, majalah musik Rolling Stone versi Indonesia pernah mentasbihkan Ian Antono masuk sepuluh besar gitaris Indonesia terbaik. Ian Antono tidak hanya aktif di God Bless, diluar God Bless dia pernah main di Gong 2000 bersama Iyek. Ian pernah bermain di Benteol Band sebelum gabung di God Bless.
Personil God Bless pernah menjadi figuran film. Ketika Iyek ikut menjadi pemeran antagonis dalam Si Doel Anak Modern, personil lain ikut muncul sekilas ditangah adegan film. Bukan hal aneh! Dunia film lebih dulu dijajal Iyek sebelum berangkat ke Belanda. Ketika kecil, Iyek membintangi film Jenderal Kancil.
Popularitas Iyek ikut mengangkat popularitas God Bless juga. Begitu juga popularitas anggota lain yang keluar masuk—yang memang punya nama besar, meski kala itu belum jadi legenda musik Indonesia.
Hal unik, mungkin juga aneh bagi penglihatan orang dekade sekarang. Rupanya dua personil God Bless, Ian dan Iyek, pernah buat album Dangdut. Hit terkenal dalam album itu adalah lagu Zakia—yang tentang penari gurun pasir ternama itu. Lagu itu pun ngetop, bahkan pernah dirilis ulang oleh band rock, besar juga tapi belum melegenda, bernama Boomerang diakhir dekade 1990an. Hal itu dibuat Iyek dan Ian karena lagu dangdut lagi laris. Lumayan bisa ngasapi dapur. Daripada beridealisme dengan rock sementara perut kelaparan, dan juga tidak bisa main musik rock.
Cerita God Bless sangat panjang, juga menarik hingga Mira Lesmana dan Riri Riza berniat membuat film tentang God Bless. Tampaknya Tuhan memang memberkati band besar itu. Hingga eksis dan jadi legenda rock Indonesia. Sesuai namanya, God Bless (Inggris, artinya : Berkat Tuhan), Tuhan memberkati God Bless.



Selasa, Februari 10, 2009

Jejak Penangsang van Jipang


Begawan Sore masih kencang. Deras menuju laut. Motor kami meluncur diatas lumpur. Tibalah kami di desa Jipang. Pikiran kami melayang pada Aria Penangsang si pemberontak legendartis itu.

Berdasar catatanku, ini tempat Aria Penangsang berkuasa sebagai Adipati Jipang—yang wilayahnya meliputi sekitar Blora dan Bojonegoro. Padi terhampar luas, tanahnya subur—seperti dalam lirik lagu Darah Juang, ” Negeri kami subur Tuhan”.
Tidak jauh dari tepian Bengawan Sore, ada reruntuhan istana kadipaten Jipang. Nyaris tak terlihat. Tapi disini memang ada kehidupan, waktu zaman dulu—ketika darah tertentu saja yang jadi pemimpin. Istana itu diruntuhkan tanpa bekas oleh penguasa asing lalim lantaran penguasa lokal Jipang tidak mau bekerjasama dengan penguasa lalim tadi. Setidaknya, begitu kata Eko Prasetyo—pemuda peduli desa yang menjadi Modin di Desa Jipang.
Desa Jipang? Ya, Jipang bukan lagi sebuah kadipaten seperti zaman Aria Penangsang, Jipang kini hanya nama desa tempat Eko Prasetyo tumbuh. Jipang kini hanya bagian dari distrik Cepu, Blora. Eko, selaku Modin, berusaha menjaga komplek makam umum—dimana beberapa petingi Jipang bersemayam di pemakaman desa itu.
Siapa Aria Penangsang? Kita akan menemukan Aria Penangsang di buku-buku teks sejarah sekolah yang isinya seperti cerita sintron yang klise. Dimana selalu ada tokoh antogonis—yang harus dimusuhi oleh para penontonnya. Antagonis, begitulah Aria Penangsang diposisikan sebagai tokoh antagonis—yang dilaknat sejarah karena berontak pada Kerajaan Demak, yang dianggap penting oleh orang-orang Islam Jawa.
Demak dianggap mulia, begitupun penguasanya—yang mungkin juga sepenuhnya dianggap alim seperti tokoh protogonis dalam sinetron. Rasanya tidak adil jika kita beranggapan seperti itu. Aria Penangsang pun bukan orang yang sepenuhnya jahat. Pendekar berdarah panas ini adalah murid Sunan Kudus—salah seorang walisanga.
Mengapa Aria Penangsang berontak? Rasanya ini yang harus diketahui, termasuk oleh anak sekolah. Raden Fattah punya 3 anak: Adipati Unus, Seda Lepen dan Trenggana. Setelah Raden Fattah wafat maka Adipati Unus berkuasa. Ketika Adipati Unus, penguasa Demak setelah Raden Fattah wafat tanpa keturunan, Trenggana lalu naik tahta. Seharusnya, Seda Lepenlah yang lebih berhak awalnya berdasar urutan kelahiran dari putra-putra Raden Fattah.
Awal bekuasanya Trenggana, tidak ada perlawanan keras dari pihak Seda Lepen. Setelah kematian Trenggana, tahta pun harus berganti pemilik. Pertumpahan darah dimulai. Seda Lepen—orang yang seharusnya menjadi raja Demak—pun dibunuh sepulang dari shalat Jum’at atas kemauan Prawata, putra Trenggana yanga nampak ambisus.
Kematian Seda Lepen, tentu saja membakar amarah Aria Penangsang. Dimana Aria Penangsang menuntut balas pada saudara sepupunya yang kejam pada ayahnya hanya karena tahta. Selain menuntut balas kematian ayahnya, Penangsang juga menuntut tahta Demak. Aria Penangsang pun berontak pada Demak. Akhirnya, Prawata terbunuh juga oleh orang suruhan Penangsang. Begitu juga Pangeran Hadiri, suami Kalinyamat—putri dari Trenggana. ”Pembalasan memang lebih kejam” bukanlah sebuah omong kosong.
Singkat kata, Demak pun terpecah. Ada Pajang, yang dikuasai Jaka Tingkir yang licin dan Jipang yang dikuasai Penangsang sendiri. Semua bersaing demi bekas tahta Demak yang hancur. Dua penguasa itu bunuh-bunuhan, hingga muncul satu pemenang.
Beruntung saja, Jaka Tingkir punya sekutu macam Ki Ageng Pemanahan beserta kawan dan pengikutnya. Dimana Aria Penangsang yang mudah panas hati terpancing untuk bertarung melawan pengikut Ki Ageng Pemanahan. Dalam sebuah pertarungan tidak seimbang, Aria Penangsang yang dikeroyok, berhasil dilukai oleh Sutawijaya—Penembahan Senapati yang kelak mendirikan dinasti penguasa Mataram Islam—dengan tombak keramat Ki Plered-nya.
Pelan-pelan Aria Penangsang pun meninggal. Jipang pun meredup dari Sejarah Jawa, meski berusaha menentang penguasa asing termasuk VOC atau Hindia Belanda. Hingga Jipang hanya menjadi nama desa. Ini adalah resiko dari tidak mau berkompromi dengan penguasa yang lebih kuat. Ini bukan kebodohan, melainkan keberanian yang layak diapresiasi. Aria Penangsang layak menjadi tokoh Cepu atau Blora, dalam sejarah tidak ada pahlawan atau pengkhianat—seperti politisasi yang dimau oleh penguasa—melainkan pengukir sejarah saja.







Minggu, Februari 01, 2009

Tugu, Wieteke van Dort dan Keroncong Chaos


Keroncong adalah musik yang masih hidup hingga sekarang. Di Jakarta kominutas Keroncong Tugu, yang keturunan Portugis disana pun masih melestarikan Keroncong-nya hingga ke generasi terakhirnya. Belakangan Kroncong Tugu pernah diundang tampil oleh Pemerintah Daerah Jakarta.
Meski ada anasir Portugis-nya, Keroncong seolah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Karena Keroncong berproses di Nusantara hingga memiliki bentuk yang khas seperti sekarang ini. Dimana Kroncong tidak lagi dianggap barat, melainkan—sebagaian orang mengira Keroncong dari timur.
Budak-budak Portugis adalah komunitas yang dianggap ikut melahirkan keroncong. Belakangan, orang-orang Belanda yang Protestan kemudian juga ikut memberi warna pada musik bekas budak Portugis itu. Susunan harmonik akordik ala GerejaProtestan Belanda. Selanjutnya, Keroncong pun berkembang dan didendangkan Sinyo-sinyo (anak laki-laki Indo-Belanda)—atau yang merasa Belanda—dirumah gedongan-nya.

Saking melegendanya, muncul istilah “Buaya Keroncong” bagi mereka yang jago memainkan musik Keroncong dalam dunia perkeroncongan. Akhir abad XIX, muncul sekumpulan orang-orang Indo-Belanda yang jago memainkan musik Keroncong di Kemayoran, Jakarta. Mereka menamakan diri De Krokodilen—yang berarti ‘buaya-buaya’ dalam bahasa Belanda.
De Krokodilen sangat piawai memainkan lagu-lagu cinta yang membuat para gadis tergila-gila. Karena begitu takutnya, orang-orang tua sebelum dekade 1950an, sering menutup pintu atau jendela mereka jika ada serombongan pemain keroncong yang sedang ngamen. Mereka takut anak gadis mereka tergila-gila pada ‘buaya-buaya’ jogo keroncong itu.
Tema lagu-lagu keroncong tidak beda dengan tema lagu zaman sekarang, lagi-lagi temanya cinta melulu—seperti salah satu judul lagu Efek Rumah Kaca. Keroncong, seperti halnya lagu melayu juga mendayu-dayu seperti dalam lagu Cinta Melulu-nya Efek Rumah Kaca. Bisa jadi temanya juga klise. Mungkin, di zaman kolonial dulu, lagu cinta yang temanya ngeblues (sedih) sudah digemari seperti sekarang. Bisa jadi lagu tema cinta, bagi muda-mudi yang asmaranya bergelora, jauh lebih baik daripada lagu-lagu pujian untuk Tuhan, atau para raja yang gila sanjungan.
Lagu mendayu-dayu bernafas cinta itu, bukan musik yang membakar semangat. Menurut Remi Sylado, Keroncong bertema cinta yang lembek dimata pemerintah balatentara Jepang itu akhirnya menjadi musik haram. Sama seperti rock n roll yang dianggap ngak-ngik-ngok zaman rezim Soekarno.
Kroncong dimata banyak orang saat ini adalah musik orang-orang kolot dan hanya ada di Indonesia. Itu salah besar! Cari saja-saja lagu-lagu milik Wieteke van Dort—yang bisa saya bilang dia adalah penyanyi Kroncong dari Negeri Belanda. Lagunya yang terkenal adalah Geef Mij Maar Nasi Goreng, Arm Den Haag, Boelang Pake Pajong. Irama Kroncong dan liriknya yang bahasa Belanda dengan menyerap banyak kosakata dari bahasa Indonesia, membuat saya kagum sekaligus tergelitik. Ada juga lagu-lagu yang dinyanyikan Wieteke van Dort dalam bahasa Indonesia seperti Burung Kakatua dan Nina Bobo. Dua lagu itu sudah menjadi lagu abadi di Indonesia. Dimana di Taman Kanak-kanak biasanya sering mengajarkan lagu-lagu itu.
Kroncong sebelum tahun 1950an menjadi musik wajib di nusantara. Musik pop gaya barat belum berkembang. Sementara akses orang Indonesia untuk menikmasti musik jazz sangatlah minim. Mahasiswa Indonesia di Belanda, seperti Suryosumarno, juga pernah memainkannya untuk menambah uang sangunya yang kurang untuk hidup di Negeri Belanda.
Sebagian anak muda sekarang bahkan masih mau mendengarkan musik keroncong, meski musik keroncong mereka bukan Keroncong Tugu atau Moresco. Melainkan Keroncong Chaos yang terkesan konyol temanya. Tapi, bagaimanapun itu juga hasil budaya Indies yang disesuaikan dengan kebutuhan anak muda saat ini yang bosan tema cinta yang serius dan mendayu-dayu.
Sebagaian anak-anak Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di kota-kota pulau Jawa, pasti kenal dengan nama Pemuda Harapan Bangsa dan Sri Rejeki. Meski minoritas, mereka musik mereka cukup mewakili generasi sekarang dengan genre keroncong chaos. Mereka masih menyisakan akar musik keroncong yang lahir sejak zaman awal-awal kedatangan bangsa Eropa di Indonesia.

Geef Mij Maar Nasi Goreng


Saya terkejut ketika Wieteke van Dort menyanyikan lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng. Lagu itu seperti mengisyaratkan kerinduan sekelompok kecil orang di Negeri Belanda yang rindu akan suasana dan makanan Indonesia.
Jangan lupa, Nasi Goreng adalah budaya kuliner Indies—seperti juga Sambel Goreng Tempe yang angkringan-angkringan (warung yang menyediakan menu nasi kucing) di Jogjakarta dikenal dengan nama kering. Kering menjadi teman nasi dalam sebungkus nasi kucing. Di beberapa kota di Jawa, banyak Warteg (Warung-Tegal) yang menyediakan kering untuk dimakan dengan nasi.
Di setiap kota di Indonesia menemukan nasi goreng jauh lebih mudah daripada menemui pejabat daerah yang jarang di kantor. Nasi goreng pun memiliki rasa, bumbu dan campuran yang beragam. Bukti bahwa makanan ini lestari dan kaya ragam.
Budaya kuliner tadi terus lestari dan menjadi bagian dari budaya Indonesia, meski ada enggan mengakuinya. Maklum orang-orang Indonesia yang keracunan rasa Nasionalisme sering enggan tidak mau mengakui jasa pihak luar terhadap diri dan kebudayaannya.

Nasi goreng mungkin lahir dirumah gedongan Tuan dan Nyonya Belanda di Nusantara. Roti mungkin sulit didapat di nusantara. Bila ada, pabrik roti di nusantara hanya ada di kota-kota pelabuahan macam Batavia, Surabaya, Semarang maupun kota pedalaman yang banyak terdapat orang-orang Belanda atau orang Eropa seperti Bandung, Yogyakarta atau Malang.
Sebelum jumlah wanita Eropa memadai agar setara dengan jumlah laki-laki, dapur orang-orang Eropa tentu saja kekurangan menu makanan Eropa. Karenanya dapur-dapur orang Eropa banyak diurus nyai pribumi—pengurus rumah tangga merangkap teman ranjang yang bisa juga menjadi Sleeping Dictionary (kamus tidur) dimana laki-laki Eropa itu belajar bahasa setempat. Nyai tentunya menjadi penyerap nilai-nilai barat selain pegawai pemerintah kolonial dan anak-anak pribumi yang bersekolah di sekolah Eropa di nusantara. Kehadiran nyai tentu saja ikut mempengaruhi lidah laki-laki kulit putih yang mereka urus.
Untuk bertahan hidup, orang-orang Eropa di nusantara pun mencoba bahan makanan pokok bagi orang pribumi, beras yang dimasak menjadi nasi. Nasi itu lalu mereka oleh menjadi nasi goreng. Begitu juga tempe yang dioleh disebuah wajan setelah diiris, lalu jadilah sambel goreng tempe.
Makanan ini, belakangan tidak hanya dinikmati orang-orang gedongan. Jongos-jongos (pembantu rumah tangga) dari rumah tuan dan nyonya, maupun nyai-nyai yang sudah tidak diperlukan orang Belanda, yang harus pulang itu pun membawa resep nasi goreng maupun sambel goreng-nya ke kampung-kampung mereka. Orang-orang kampung pun mencoba dan menyantapnya.
Rasanya, di zaman Hindia Belanda, tiada ada larangan makan nasi goreng dari pemerintah kolonial. Seorang pribumi pun tidak akan diseret ke Landraad (pengadilan rendah untuk orang pribumi) jika dilihat opas Polisi atau orang Belanda ketahuan sedang makan nasi goreng. Artinya nasi goreng bukan makanan terlarang, hingga nasi goreng pun menjadi makanan yang cukup populer.
Makanan seperti itu akhirnya menyebar dan menjadi milik rakyat nusantara. Bukan cuma milik tuan dan nyonya Belanda di rumah gedongannya. Berbagai lapisan bisa menikmatinya. Bedanya, lapisan atas bisa menikmati nasi goreng mahal yang disajikan di restoran bergengsi, sementara lapisan bawah cukup menikmatinya di kali-lima saja. Nasi goreng yang mahal tentu banyak campurannya dagingnya. Bicara soal mana yang enak, itu urusan lidah. Rasa juga sesuatu yang nisbi dan tidak punya standar tertentu. Bagaimananpun rasa dan campurannya, nasi goreng tetap nasi goreng. Ada nasi yang digoreng dengan bumbu-bumbu tertentu.
Di Negeri Belanda, beberapa makanan ala Indonesia masih ada. Restoran khusus makanan Indonesia pun ada di Negeri Belanda. Sekelompok eksodus kiri pasca gagalnya G 30 S juga mendirikan restoran. Dimana adik D.N. Aidit, Sobran Aidit, ikut serta dalam mendirikan restoran itu. Makanan Indonesia tentu saja menjadi menu di restoran itu.
Nasi goreng sendiri cukup diminati sebagian orang-orang di Negeri Belanda, baik orang Belanda asli maupun orang-orang Indonesia yang tinggal di negeri Belanda. Keturunan orang-orang Republik Maluku Selatan pengikut Ir Manusama, mungkin juga penyantap nasi goreng. Bagaimanapun, meski mereka sudah biasa makan roti isi daging, nasi tentu tidak asing bagi lidah mereka karena nenek-nenek moyang mereka juga sering makan nasi. Jadi tidak sulit bagi mereka untuk makan nasi goreng.
Nasib nasi goreng di negeri Belanda bisa jadi jauh lebih baik daripada Soto Babat. Berdasar pengalaman Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara—yang kala dibuang ke Negeri Belanda sekitar tahun 1910an masih bernama Suwardi Suryaningrat—sering memasak Soto Babat bersama istrinya. Karena sering membeli usus—yang di Negeri Belanda adalah makanan anjing—maka si penjaga toko dengan sopan bertanya, “berapa anjing tuan?.” Ki Hajar mungkin hanya bisa diam berpikir betapa apa yang dimakan anjing di Eropa juga dimakan manusia di Hindia Belanda (Indonesia).
Dari sini bisa saja Soto Babat yang bahannya sama dengan makanan anjing peliharaan juga semakin merendahkan pribumi. Tapi nasib Soto Babat zaman ketika Ki Hajar Dewantara dibuang tentu berbeda nasib nasi goreng di Belanda sekarang. Dimana nasi goreng disajikan di restoran-restoran. Bisa jadi sulit menemukannya di kaki-lima seperti di Indonesia.
Sangat disayangkan, sejarah kuliner Nusantara seperti nasi goreng sulit ditemukan. Padahal nasi goreng adalah fenomena menarik dalam kehidupan Indonesia. Orang-orang banyak tidak mengerti bagaimana nasi goreng yang mereka pernah makan itu itu lahir di Indonesia.



Kamis, Juni 05, 2008

Virus Indo-Rock van Nusantara

Tielman Brother nyaris tidak dikenal di Indonesia. Hebatnya lagi band keluarga ini ikut memberi pengaruh besar dalam sejarah musik rock n roll dunia.Inilah Band pembawa virus Indorock sebelum Beatles berjaya.
Surabaya layak dijuluki kota Rock n Roll Indonesia. Banyak band-band besar, termasuk pengusung musik cadas lahir di Kota Pahlawan ini. Sebutlah Dewa 19, Grass Rock, Boomerang dan lainnya. Tidak banyak orang tahu bahwa Surabaya pernah melahirkan band rock kelas dunia bernama Tielman Brother. Nama ini tidak pernah dikenang dalam sejarah rock Indonesia. Entah mengapa? Mungkin karena kebijakan anti rock n roll yang Ngak-Ngik-Ngoek. Mungkin karena ayah dari musisi-musisi itu yang Kapten KNIL (Tentara Hindia Belanda). Terlepas dari semua kemungkinan tadi, Tielman Brother layak menjadi bagian dari sejarah rock Indonesia juga. Mereka juga orang Indonesia, lebih penting lagi mereka memberi sumbangan besar bagi sejarah rock n roll dunia—yang pengaruhnya juga terasa di Indonesia. Pastinya, referensi tentang Tielman Brother di Indonesia memang terbatas.
Siapa Tielman Brother? Mereka juga band keluarga seperti Koes Bersaudara. Tielman brother terdiri dari Reggy Tielman (Surabaya, 20 May 1933) memainkan banjo,guitar dan vocal; Ponthon Tielman ( 4 Agustus 1934 - 29 April 2000) memainkan double bass,guitar dan vocal: Andy Tielman (30 May 1936) memainkan guitar dan vocal: Herman Lawrence Tielman alias Loulou Tielman (30 oktober 1938 - 4 Agustus 1994) memainkan drum merangkap vocal. Mereka berempat adalah personil inti yang cukup dasyat di atas panggung. Selain empat bersaudara itu, adik perempuan mereka Janette Loraine Tielman alias Jane Tielman (17 Agustus 1940 - 25 juni 1993) juga ikut bernyanyi dalam band. Mereka sempat memakai nama The Timor Rhytm Brothers diawal karirnya sebelum akhirnya memakai nama Tielman Brothers—yang menjadi nama besar dalam dunia rock n roll di zamannya.
Ayah mereka yang Kapten KNIL ternyata pecinta musik. Begitu juga ibu mereka yang kerap menjadi menejer band. Surabaya 1945 adalah awal karir mereka bermusik. Zaman mereka masih bocah yang senang dolanan (bermain). Dolanan mereka sekeluarga adalam musik. Mereka kerap bermain dalam pesta-pesta keluarga. Kebanyakan band, memang mulai tampil sebagai peramai pesta—seperti pernah dialami Koes Bersaudara di awal dekade 1960an kemudian.
Tahun 1956, keluarga Tielman hijrah ke Breda, Belanda. Negeri ini memberi banyak ruang anak-anak Tielman untuk mengembangkan musik mereka. Arah mereka tidak lain rock n roll—yang identik dengan musik anak muda. Di Negeri Kincir Angin itu mereka juga mulai merekam rock n roll. Setelahnya mereka menjadi terkenal.
Kepindahan mereka ke negeri Belanda, juga telah membawa budaya tropis dan kecintaan mereka pada gitar akhirnya melahirkan term “Indo-Rock” yang populer masa itu. Cirinya adalah dominasi gitar, instrumen yang dikenalkan orang-orang Portugis saat datang ke Hindia-Belanda sekitar abad ke-14. Permainan gitar ala Portugis yang akhirnya dikenal sebagai musik keroncong ini dipadukan oleh anak-anak Timor itu dengan musik Hawaii, country, dan rock’n'roll yang mereka dengar dari radio-radio Amerika Serikat yang dipancarluaskan dari Filipina atau Australia.
Perjalanan Tielman Brothers menjelajah dunia rock di luar negeri juga ikut memberikan pengaruh yang cukup dasyat di blantika musik rock pada saat itu. Penampilan mereka juga cukup memukau publik di Belanda khususnya dan Eropa pada umumnya. Bisa dibilang mereka lah yang pertama kali memulai atraksi panggung yang liar dan atraktif, seperti bermain gitar dan juga double bass sambil melompat atau berguling-gulingan, serta tentunya demo drum.
Meski pengaruhnya besar dalam sejarah rock dunia. Ada suara menyatakan bahwa musisi dunia sekelas Paul McCartney, vocalis dan bassis Beatles, mengagumi aksi panggung Tielman Brother. Ketika Beatles masih menjadi band kafe di Hamburg, Jerman, para personil Beatles menyempatkan diri untuk melihat aksi panggung Tielman Brothers.
Orang-orang pasti kenal Jimi Hendrix, seorang gitaris dengan aksi panggung yang mencengangkan. Tapi hanya sedikit orang Indonesia yang tahu bahwa sebelum pecinta rock tercengang dan berdecak kagum dengan permainan atraktif Jimi Hendrix di tahun 1967, Andy Tielman, sang frontman telah memulai teknik memetik gitar menggunakan gigi atau kaki. Andy Tielman memulainya di tahun 1956, 11 tahun sebelum Jimi Hendrix bereksperimen dengan gitarnya.
Salah satu gitar andalan Andy Tielmans adalah Fender Jazz Master khusus dengan 10 senar. Fender, pabrikan gitar terkemuka di dunia itu, bahkan sengaja mengirim wakilnya ke Jerman untuk merancang gitar untuk Andy Tielmans. Ini sebuah keuntungan dan juga kehormatan bagi Fender karena telah digunakan salah satu pelopor musik rock n roll kelas dunia seperti Andy Tielman. Gitar lain milik Andy Tielman adalah Gibson Les Paul keluaran pertama yang di impor ke Belanda. Gibson juga tidak kalah mendunia dengan Fender.
Masa jaya Tielman Brothers adala akhir era 1950an hingga awal 1970an. Di tahun 1958 TheTielmans Brothers punya 3 album yang jadi hits di seluruh dunia. Mereka mendahului Beatles yang muncul awal dekade 1960an. Setelahnya, bisa dibilang, Tielman Brothers kalah pamor dengan Beatles. Histeria para gadis lebih tertuju pada Beatles pada dekade 1960an. Betapapun melejitnya Beatles, tetap saja Tielman Brothers tampil lebih liar dan atraktif di atas panggung daripada Beatles.
Di tahun 1976 band ini dikabarkan Tielman Brother bubar. Ada opini menyatakan jika permainan musik mereka terkesan mandek dan tidak ada perkembangan alias kurang eksploratif. Masa rock n roll dianggap telah berlalu. Beatles sendiri dinyatakan bubar di tahun 1970an. Publik musik rock n roll sudah bosan dengan gaya mereka—yang cukup ketinggalan zaman dimasa itu. Tahun 1970an bukan zaman mereka lagi. Dekade 1970, dalam musik rock, adalah era milik Psycodelict rock milik Pink Floyd atau Heavy Blues yang diusung Led Zepellin.
Andy Tielman saja yang masih eksis bermain musik dan tinggal di Negari Belanda. Di usianya yang sudah semakin senja, Andy Tielman kini lebih banyak rekaman untuk lagu-lagu rohani dan sesekali tampil di publik Belanda dengan gitarnya. Tentu penampilannya tak bisa seliar dulu lagi
Tielman Brothers kurang dikenal publik musik rock Indonesia karena isolasi budaya Indonesia dimasa orde lama. Larangan Sukarno atas masuknya rock n roll tentu menghambat dikenalnya Tielman Brother di Indonesia—yang notabene-nya juga negeri asal mereka. Lagu-lagu Beatles saja bisa dianggap kontrarevolusi pendukung kapitalis dan buat gerah pejabat orde lama. Bagaimana jika Tielman Brothers beraksi diatas panggung dengan jingkrak-jingkrak, Sukarno mungkin bisa kena serangan jantung.
Seperti halnya Beatles yang hanya bisa dinikmati dari siaran radio BBC tiap subuh. Hal yang sama mungkin saja dilakukan untuk mendengar lagu-lagu Tielman Brother—itupun jika sedang beruntung karena yang populer dimasa itu adalah Beatles. Nusantara dibawah kaki rezim Sukarno seolah menutup mata bahwa mereka punya anak-anak hebat dari keluarga Tielman yang menguncang sejarah rock n roll dengan Indi-Rock-nya.
(disadur dari beberapa sumber)
Anak Paria

Chrisye: Suara Sutra Dari Pegangsaan


“Semangat bermusik saya tidak akan pernah mati” Kata itu tertulis pada halaman terakhir autobiografinya. Ketika sakit Chrisye masih menyimpan energi bermusiknya, seperti saat dia mulai bermusik di Pegangsaan bersama Nasution bersaudara.

Laurens Rahadi boleh sedih jika putranya, Chrisye, enggan melanjutkan kuliah teknik arsitektur seperti harapannya. Meski sang ayah kecewa, pilihan Chrisye itu mengantarkan dirinya sebagai legenda musik Indonesia. Sang ayah akhirnya menghargai sepenuh hati keputusan Chrisye mengabil jalan sebagai musisi.
Christian Rahadi lebih memilih bermusik bersama anak-anak tetangganya, Nasution Bersaudara—Odink, Keenan, Gauri dan Debby yang dikenal sebagai pentolan Gang Pegangsaan. Pergaulan Chrisye dengan tetangganya itu, memperkenalkan Chrisye dengan instrumen bass.
Awalnya, Chrisye yang hanya nongkrong dan sesekali ngejam bareng, tidak masuk dalam formasi band. Suatu hari, Gauri mendatangi Chrisye dan bilang, “Chrisye, pemain bass kami sakit. Lu bisa gantikan? Soalnya kita dapat kerjaan banyak.” Chrisye hanya tercengang. “Lo kan sering nonton kita latihan. Pasti lo bisa ngikutin permainan kita” lanjut Gauri. Chrisye langsung meng-iya-kan. Sore itu juga mereka latihan. Hari-hari setelahnya, mereka manggung di banyak tempat. Nama band Chrisye adalah Sabda Nada, sebelum akhirnya bernama Gipsy—dimana nama terakhir membawa Chrisye manggung di sebuah restoran Ramayana—milik Pertamina—di New York. Chrisye juga sempat satu band bersama Broery Marantika dalam The Pro’s—dimana Chrisye masih memetik bas. Masa-masa ini, bagi Chrisye adalam masa belajar. Kala itu, awal dekade 1970an, Chrisye belum dikenal sebagai vokalis bersuara khas.
Dari New York, Chrisye pulang kembali ke Indonesia. Bertemulah Chrisye dengan Guruh yang berniat membuat musik idealis yang eksperimental. Bersama Guruh ini, Chrisye mulai bernyanyi solo. Sebelumnya Chrisye hanya menjadi penyanyi pendukung dalam band. Kerjasama Chrisye, Keenan, Odink, Abadi Soesman, Rony Harahap dengan Guruh melahirkan Album Guruh Gipsy yang dicetak 5.000 keping oleh Pramaqua Record.
“Ada kalanya kita berkarya untuk uang, ada saatnya karya dibuat untuk memberi makanan bagi Jiwa”. Inilah mengapa Chrisye merasa perlu terlibat dalam proyek eksperimental. Meski uang tidak mengalir deras, proyek ekspreimental sangat menyegarkan rohani bagi seorang Chrisye yang religius. Chrisye terasa menikmati proyeknya bersama Guruh itu. Dimana dia bisa lebih ekspresif dalam bermusik.
Suara Chrisye mulai dikenal masyarakat luas lewat lagu Lilin-lilin Kecil ciptaan James F. Sundah—lagu itu adalah lagu yang diikutkan dalam Lomba Cipta lagu Remaja yang diadakan Radio Prambors Jakarta. Menurut Sys N.S, yang kala itu jadi penyiar radio Prambors, lagu itu hanya cocok dinyanyikan Chrisye. Meski lagu itu tidak menang dalam lomba, namun lagu itu paling sering diputar di radio.
Medio 1977, Eross Djarot mengajak Chrisye untuk terlibat dalam membuat Soundtrack film “Badai Pasti Berlalu” yang disutradarai Teguh Karya. Dengan dibantu beberapa musisi kenamaan—seperti Keenan Nasution, Debby Nasution, Yocky Suryoprayogo, Broery Marantika dan penyanyi bersuara tinggi bernama Barlian Hutauruk—proyek ini rampung dalam 3 bulan. “Kami mendadak seperti kerasukan spirit yang sama besar”, kata Chrisye. Kesuksesan film “Badai Pasti Berlalu” diikuti dengan sukses album soundtrack-nya. Beberapa lagu seperti Merapih Alam, Matahari, Cintaku, Angin Malam, Pelangi, Semusim dan pastinya Badai Pasti Berlalu masih didengar hingga sekarang. Lagu-lagu itu bahkan direkam ulang oleh penyanyi muda sekarang seperti Astrid, Ari Lasso dan lainnya. Dikabarkan juga bahwa album Badai Pasti Berlalu dianggap sebagian kalangan sebagai album terbaik dalam blantika musik Indonesia.
Setelah album Badai Pasti Berlalu, Chrisye harus bertaruh hidup dengan album solo yang penjualannya kadang mengecewakan. Selama karir bermusiknya, Chrisye kerap bekerjasama dengan musisi ternama dalam karirnya.
Setelah album Badai Pasti Berlalu, Chrisye banyak mengarap lagu-lagu komersil. Seperti dalam album Sendiri (1984) yang penjualan sangat sukses begi Chrisyenya. Album ini mendapat penghargaan BASF Award. Chrisye bahkan mendapatkan hadiah jalan-jalan ke Jerman. Chrisye tidak mengambilnya—dirinya lebih senang berkutat dengan musik di studio daripada jalan-jalan ke luar negeri.
Medio dekade1980an, lagu-lagu Chrisye banyak yang terkesan ceria. Di cover kaset, Chrisye tampil mesra dengan model cantik. Dimana Chrisye berlagak dansa dengan kostum eyecatching. Terbayang dalam pikiran Chrisye wajah-wajah Gank Pegangsaan tetangganya yang akan menertawakannya.
Suatu kali, Chrisye dituntut untuk berdansa. Dimana Guruh sang koreografer akan mengajar Chrisye berdansa. Lagu ceria yang membuat orang berdansa itu menuntut Chrisye berdansa. Ini bukan hal mudah bagi Chrisye, karena bukan gayanya. Orang banyak mengenal Chrisye dengan gaya menyanyi kaku diatas panggung. Chrisye kerap mencoba permintaan aneh itu, meski tidak seperti harapan orang melihat Chrisye untuk tidak kaku diatas panggung. Hanya suara saja yang menjadi daya magnet bagi Chrisye diatas panggung, selain itu tidak ada..
Jauh sebelum kepergiannya, Chrisye sempat berkolaborasi dengan beberapa musisi muda Seperti Ahmad Dhani, Project Pop, Peterpan, Ricky FM, Naif dan lainnya dalam album Senyawa. Beberapa musisi muda merasa nyaman ketika bekerja sama dengan Chrisye, meski awalnya canggung dengan gaya Chrisye yang pendiam itu.
Di blantika musik Indonesia Chrisye memiliki karakter suara yang khas. “Suaranya seperti suara sutra. Suara Surga” kata Titik Puspa. Suara Chrisye memberi kesejukan bagi pendengarnya. Si anak Pegangsaan ini memberi kedamaian dengan lagu-lagunya. Chrisye harus kembali pada yang kuasa 30 Maret 2007 silam. Yang terekam tak pernah mati. Suara Chrisye akan selalu terdengar di hati penikmat karyanya.






Kamis, Mei 15, 2008

Melihat Nias

Mas Jajang kirim Email, dia bilang dia mau launching buku. Bisa ditebak, buku itu tentang Nias. Dia satu dari sekian orang dari Jogja yang punya fokus tentang Nias. Mas Jajang, begitu dia dipanggil, tidak lain adalah dosen muda arkeologi UGM. Dia begitu jatuh cinta pada Nias, mungkin jauh lebih cinta dibanding orang Nias sendiri. Dia merasa memiliki Nias dengan begitu dalam. Buku "Melacak Batu Menguak Mitos" satu bukti kecintaannya yang dalam itu. Itulah Jajang Agus Sonjaya.

Mas Jajang begitu bersemangat bercerita pengalamanannya di pulau yang hampir miring bernama Nias. Banyak hal yang ingin dia lakukan di Nias. Dia cerita tentang seorang Salawa (kepala kampung) yang nestapa karena ditinggal mati istrinya. Salawa itu juga, mungkin akan ditinggalkan oleh masyarakat Nias yang mulai urban. Gelar Salawa akan menyiksa dalam hidup karena sebagian masyarakat Nias mulai tertelan mentah-mentah modernisasi yang sudah sampai di Gunung Sitoli.
Nias tidak lagi seperti dulu. Seperti sebelum Deninger memulai misi kristenisasi di Nias. Hal menyeramkan seperti Ngayau (penggal) kepala tidak lagi ada di Nias setelah Deninger datang. Agama lain, Islam berhasil menggasak daerah pesisir Nias. Bukan sesuatu yang buruk memang. Beberapa orang mungkin akan menyesalkan akibat yang begitu dalam masuknya agama baru, beberapa orang bilang agama modern, bagi kebudayaan Nias kuno. Karena hilangnya kaum Pagan (penyembah patung) yang berubah menjadi Vandalis (penghancur patung) dalam skala kecil, orang-orang Nias sekarang bukan lagi orang Nias yang dulu. Tanpa sadar mereka telah tercerabut dari akarnya. Mereka lebih merasa nyaman dengan apa yang datang sekarang. Agama baru telah membunuh hal-hal lama yang merupakan pembentuk budaya Nias kuno. Orang Islam Nias, lebih memilih membuang jauh-jauh taring babi. karena babi dilarang oleh Islam.
Kolonialisasi Hindia Belanda adalah vandalis terbesar bagi kebudayaan Nias kuno. Sebelumnya VOC sudah membakari rumah kuno khas Nias. Karenanya, jumlah rumah adat khas Nias berkurang, meski banyak rumah adat Nias masih tersisa di desa Bowomataluo, Teluk Dalam. Demi memudahkan kolonialisasi, Agama Kristen, menjadi sarana kolonialisasi. Artinya pemerintah Hindia Belanda, dengan terselubung, telah menyimpangkan tujuan Orang-orang suci Zending (lembaga Kristenisasi). Tidak hanya di Nias, tapi juga di Kalimantan. Dua nama itu, punya latar belakang kehidupan yang masih bebas dari kultur Islam dan Jawa.
Bisa dibayangkan bila kolonialisasi Hindia Belanda tidak memperalat kaum Zending. Hindia Belanda hanya angin lalu bagi masyrakat yang sederhana itu. Secara halus, politik terselubung pemerintah kolonial itu merubah banyak hal dalam kemasyarakatan di Nusantara, begitu pun di Nias.

Senin, Mei 05, 2008

Melacak Sejarah

“Kertas bisa bicara dengan goresan potlot diatasnya. Jadi kertas juga anak sejarah. Karena kertas, sejarah akan terus berbicara. Sejarah akan terus berbicara lewat mulut anak-anaknya.”
Beberapa arsip dan buku langka tentang gerakan Westerling menuntun pada, sedikit dari sekian banyak, sejarah kekerasan di Nusantara. Tidak hanya arsip dan buku, dunia maya juga sanggup menunjukan hal yang sama. Di Nijmegen, Negeri Belanda, tersebut seorang yang mengaku bernama Frederick Willem. Orang ini blogger-nya Westerlingonline. Mau cari siapa itu algojo “penebar senyum” bernama Westerling, main aja ke blog itu. Entah apa yang buat Frederick Willem mau buat blog tentang orang berbau darah itu. Terbayang di kepala kita kalau dia lakukan riset kecil untuk blog-nya. Tinggal di Belanda tidak akan menyulitkan Frederick Willem untuk mempelajari Nusantara, setidaknya dalam kacamata orientalis Eropa.

Bukan rahasia lag jika banyak data-data kuno, mungkin juga yang mutakhir, tentang Nusantara bercokol di perpustakan Universitas. Leiden adalah salah satu surga itu. Sebagian sejarahwan Nusantara mungkin menganggap Leiden, mungkin juga KITLV, sumur zam-zam. Semua terjadi karena Imperialisme Ratu Singa yang 3,5 abad itu.
Untung saja ada jejak Westerling tertinggal di Jl Ampera Raya III Cilandak (Gedung ANRI). Seorang kepala polisi membuat laporan tentang peristiwa Westerling (pemberontakan APRA) di Bandung dan Jakarta—yang kadang disebut Kudeta 23 Januari (1950). Tercatat beberapa nama orang yang terlibat dalam laporan polisi itu. Keterlibatan Sultan Hamid II dan kaum pemilik modal besar—yang punya kepentingan besar di Nusantara—sekelas KPM, BPM, Borsumij dan lainnya.
Rasanya tidak perlu kita mencari tengkorak korban orang bersenjata atau rongsokan besi tua bekas bedil orang-orang bersenjata. Melalui kertas-kertas juga akan membawa kita pada kisah orang-orang bersenjata. Kita tahu surat penahanan atau perintah hukuman mati juga dari kertas. Sejarah kekerasan bisa ditilik dari tumpukan surat-surat. Selain surat-surat resmi, pengadilan juga punya proses verbal. Tentang Sultan Hamid, ada buku berjudul “Peristiwa Sultan Hamid II” terbitan Perdjasi. Lebih dari 75% buku itu adalah proses verbal. Dari buku ini, kerterlibatan Sultan Hamid II—juga tokoh-tokoh lainnya—bisa diketahui seberapa jauhnya.
Westerling layak digolongkan orang yang sadar sejarah. Karenanya scripta manent verba volant berlaku bagi Westerling. Westerling ingin sejarah mencatat dan bukan sekedar bertutur lewat mulut yang akhirnya membuat sejarah terlupakan. Hasilnya, Westerling menulis autobiografinya, yang berjudul “Chellenge to Terror”. Pastinya Westerling berkilah soal aksi pembantaian di Sulawesi Selatan dan kudeta 23 Januari. Berlagak Eropasentris, Westerling menganggap gerilyawan buruannya sebagai ekstrimis (pengacau). Selain Chellenge to Terror, ada beberapa buku tentang Westerling yang bukan ditulis Westerling seperti Westerling De Eenling dan Westerling Oorlog. Rasanya bukan hanya Westerling yang sadar sejarah dan menulis autobiografi atau memoir. Banyak tokoh dalam sejarah melakukannya, untuk sekedar mengenang dan berusaha dikenang, membela diri bahkan menjatuhkan lawannya. Semua tulisan apapun bentuknya juga maksudnya adalah sah untuk menjadi sumber sejarah dalam fase heuristik sejarah.
Setelah heuristik (pengumpulan berbagai data sejarah), langkah penting kedua adalah kritik sumber. Dimana sejarawan menilai kebenaran yang terkandung dalam sumber yang diperolehnya. Apa yang diperiksa sejarawan dari sumbernya adalah kebenaran tersurat (kritik ekstern) dan kebenaran tersirat (kritik ekstern) yang terkandung dalam sumber yang diperoleh. Artinya sejarawan melakukan koreksi dan penilaian luar-dalam atas data yang diperolehnya. Langkah kritik sumber penting untuk menjauhkan sejarawan dari kesalahan, mungkin juga kebohongan.
Hampir semua sumber punya celah-celah lemah. Manusia bisa berbohong. Meski tidak berbohong sekalipun, kebenaran dari mulut seseorang bisa bergeser karena tafsir yang berbeda-beda. Sumber sejarah tidak seutuhnya mampu menyajikan kebenaran. Begitu juga tumpukan kertas. Apa yang tertulis di kertas bisa saja meragukan—lihat kasus Supersemar. Laporan polisi, meski ditulis dengan penuh kejujuran, bisa saja penulis laporan terpengaruh sumber palsu atau pengakuan bohong dari pelaku peristiwa. Karena setiap laporan intelejen diadakan penilaian laporan berupa kode huruf-angka. (ABCDEF: untuk menilai kepercayaan narasumber, 123456 untuk menilai kebenaran isi dari laporan intelejen itu)
Kerja sejarawan pada fase kritik sumber sama saja dengan kerja analis intelejen menilai laporan intelejen yang diperoleh. Jadi cukup ideal bagi orang sejarah untuk bekerja di badan intelejen. Historiografi dengan intelejen adalah dua dunia yang memiliki kesamaan prinsip, dimana tidak ada yang bisa dipercaya namun tetap menghargai data-data. Karenanya data-data perlu menjalani proses uji dan telaah.
Tidak semua arsip itu benar isinya. Juga tidak semua buku sejarah yang ada telah menyajikan kebenaran meski telah teruji secara akademis. Interpretasi sangatlah penting dan harus dalam penulisan sejarah. Tidak ada sejarawan yang memiliki data sepenuhnya lengkap dalam riset. Dalam rekontruksi sejarah, selalu ada rantai yang hilang. Disini interpretasi bermain. Interpretasi tidak melulu beranalisis dengan apa yang sudah ada. Penting sekali mencari rantai hilang dengan imajinasi. Dengan data yang sudah ada, sejarawan berusaha membayangkan apa yang terjadi dalam kekaburan sejarah. Interpretasi (atau penafsiran) yang dilakukan dan dihasilkan sejarawan adalah buah penting dalam penelitian. Disini sejarawan menemukan, setidaknya berusaha menemukan hal baru dari penelitiannya. Tafsir sejarawan ini juga yang nantinya akan memberikan wacana baru dalam dunia historiografi, bahkan ilmu pengetahuan. Apa yang ditafsir sejarawan bukanlah hal yang sepenuhnya “benar” (dalam arti mutlak). Sejarawan hanya berusaha mendekati kebenaran. Kebenaran yang benar dalam dunia wacana, termasuk sejarah, adalah kebenaran nisbi dan bukan yang Mutlak.
Hal terakhir adalah menulis apa yang menjadi tafsir tadi dengan dasar berbagai fakta-fakta sejarah yang sudah ada. Hal terakhir ini pula adalah fase penutup dan laporan dari riset (atau penelitian) historis.
Dari kertas dan menjadi kertas lagi, itu yang dilakukan mahasiswa sejarah. Betapa tumpukan kertas, berisi data-data sejarah, berguna lagi dan menjadi kertas lagi. Kertas bukan sembarang kertas, tapi kertas dari tangan sejarawan adalah kertas yang bisa bicara, meski tak bermulut. Layaknya anak sejarah, kertas-kertas itu akan bicara soal kehidupan

Anak_Paria



Senin, Maret 17, 2008

Ada Westerling di Veteran I Jakarta

Saya pernah menulis tentang Westerling beberapa tahun silam. Tulisan itu sekarang telah menjadi buku yang membatalkan kelulusan saya. Suatu kali, ketika ada pertemuan di sebuah kafe bernama Matahari Lounge,di Jalan Veteran I Jakarta Pusat, Taufik Rahhzen bilang pada saya bahwa kafe ini dulu bernama Black Cat Noir atau Au Chat Noir. Saya kaget, karena ditempat itu Westerling pernah berkunjung dan bersembunyi dari kejaran TNI.
Saya hanya menulis itu di buku saya, tapi saya belum tahu persis dimana tempat itu sebelumnya. Saya langsung terbayang sosok kejam menakutkan itu lagi.Padahal saya berusaha melupakannya dari hidup saya. Tapi itu akan sulit. Karena saya selalu bertemu dengan namanya ketika menulis naskah sejarah, yang sudah jadi bagian hidup saya.

Matahari Lounge, sebelumnya pernah bernama Cuba Libre masih menyimpan sejarahnya. Bulan Januari 1948, di tempat yang dulunya bernama Au Chat Noir (atau juga disebut Black Cat Noir)ini, dua nama yang dianggap hitam dalam sejarah Indonesia bertemu. Mereka adalah Kapten komando Belanda bernama Westerling dan satunya lagi adalah Sultan Hamid II dari Pontianak. Hamid, yang kerap disapa Max, bukan orang baru di kalangan orang Belanda masa itu. Dia bekas perwira KNIL dengan pangkat Letnan Satu sebelum Perang Pasifik. Hamid juga ikut bertempur melawan Jepang di Balikpapan. Masuknya NICA ke Indonesia, serta pembunuhan balatentara Jepang terhadap Keluarga Kesultanan Pontianak, membuat Hamid memegang tahta Kesultanan keturunan Arab itu.
Artinya, pertemuan dua orang yang kesohor karena pemberontakan APRA di Bandung dan Jakarta itu berawal di kafe yang sekarang bernama Cuba Libre ini.
Di tempat ini, Westerling bisa mengobrol dengan orang-orang berpengaruh, juga mencari informasi intelejen karena naluri intelejen Westerling juga menginginkannya. Hamid, yang mungkin sudah dicap Belanda juga bisa mengobrol dengan orang-orang Belanda atau orang-orang berpengaruh lainnya. Bergaul dengan orang Belanda tuntutan bagi Hamid, karena istri Hamid juga wanita Belanda berambut blonde.
Disini juga Hamid bisa meneguk minuman favoritnya, Jenewer. Tidak diketahui secara pasti berapa kali Westerling dan Hamid berkunjung dan bertemu di kafe tersebut. Mereka berdua orang sibuk yang kerap meninggalkan Jakarta. Hamid harus mengurusi Kesultanan Pontianak, walau jauh diluar Pontianak. Hamid Juga memimpin BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg: Persekutuan Negara Federal yang d) Menjelang Pengembalian Kedaulatan RI 1949, Hamid lebih sibuk lagi karena harus menghadiri beberapa pertemuan penting. Salah satunya Konferensi Meja Bundar untuk mewakili BFO.
Harus saya akui tempat itu begitu penting dalam sejarah. Mungkin sebelum mahluk bernama Westerling muncul di tempat itu. Matahari Lounge akhirnya menjadi tempat penting juga untuk saya. Senang sekali jika buku saya diobrolkan ditempat bersejarah. Dimana sosok yang yang pernah saya tulis itu pernah terpuruk. Setiap ke tempat itu saya selalu membayangkan Westerling tersenyum menyembunyikan semua kekejaman yang mengotori hidupnya.