Kamis, September 30, 2010

Ranukumbolo Fun Tracking



Sabtu, 18 September 2010

Hari yang kami tunggu telah tiba. Meski diiringi hujan, kami tetap meninggalkan Jogja juga menjelang malam. Tentu saja dengan sebuah apel kecil penuh makna dari kawan-kawan Madawirna—begitu nama komunitas mahasiswa pecinta alam bekas kampus saya, UNY.

Kami meninggalkan Jogja dengan sebuah bis AC tujuan Surabaya. Suasana lebaran menguras kantong kami. Kami harus bayar tiket sedikit lebih mahal dari biasa. Sekitar pukul 21.00 lewat banyak bis kami meninggalkan Jogja.

Rombongan kami berjumlah 14 orang. Beberapa diantaranya, tidak berstatus sebagai mahasiswa. Namun masih berjiwa muda tentunya. Masih suka menikmati alam. Awal perjalaan, rombongan kami adalah pembuat gaduh di bis. Dengan nyanyian tidak jelas tentunya. Setelah itu, kami tertidur pulas beberapa jam hingga mendekati Surabaya.



Minggu, 19 September 2010

Hari masih gelap ketika bus kami tiba di Surabaya. Turun dari bus, kami menggendong carrier kami yang besar. Orang awam pasti bisa menebak kami tukang naik gunung. Kami tidak langsung mencari bus tujuan Malang. Kami singgah ke kamar kecil dahulu.

Setelah urusan dengan kamar kecil selesai, kami lalu mencari bis AC ke Malang. Ketika meninggalkan Surabaya, Matahari mulai terlihat perlahan. Sebagian dari kami melanjutkan tidur, namun ada juga yang menikmati pemandangan di sepanjang yang kami lewati. Salah satu pemandangan itu tentunya danau baru hasil karya tak terduga dari Lapindo di daerah Porong.

Sampai Malang, kami naik mikrolet ke Tumbang. Menuju sebuah homestay yang cukup nyaman disinggahi. Disini kami bersiap, melengkapi isi carrier, makan, mandi dan gosok bagi yang terbiasa.

Selesai bersiap dan isi perut. Kami naik sebuah hardtop yang berisi 15 orang termasuk supir dan carrier kami tentunya. Perjalanan kami menuju Ranupane—desa terakhir menuju Semeru—memakan waktu sekitar 2 Jam. Kami menyematkan diri sebentar ke kantor pengelola Taman Nasional semeru-Bromo-Tengger. Setelah itu jalan lagi. Sampai Ranupane pimpinan rombongan mengurus perizinan. Setelah itu, kami bersiap, berdoa lalu mulai berjalan.

Jalur menuju puncak Mahameru, terbilang menyenangkan namun cukup panjang. Butuh waktu maksimum 10 jam perjalanan dengan berjalan kaki menuju puncak dari Ranupane.

Awalnya kami bisa berjalan bersama-sama tanpa ada yang tertinggal. Namun, pelan-pelan rombonaan terbagi. Saya termasuk yang tertinggal di belakang. Jujur saja, saya tidak sekuat kawan-kawan Madawirna yang baru beberapa tahun bergabung. Mereka jauh lebih muda dari saya. Mereka, harus saya akui, jauh lebih terbiasa naik gunung di banding saya.

Dalam perjalanan di hari pertama ini, kami sering berpapasan dengan pendaki lain yang sedang turun gunung. Kami dengar, mereka tidak dapat mencapai puncak Mahameru karena hujan yang sering turun. Banyak pendaki merasa kecewa dengan perubahan cuaca ekstrim di Semeru. Cuaca memang tidak lagi bisa ditebak seperti dulu. Kami semua bisa memakluminya.

Dalam perjalanan, kami melihat satwa primate yang disebut lutung. Kelompok terakhir, hanya melihat dua ekor saja. Binatang liar itu tidak mengganggu kami. Hanya menonton dari atas dahan. Kami pun berhent berjalan dan balik menonton sang lutung. Kami saling bertukar pandang sebentar. Sebelum akhirnya lutung itu pergi dengan begitu aktraktifnya. Berpindah-pindah seperti Tarsan.

Kami, kelompok terakhir makin tertinggal dari kelompok depan. Kami terlalu menikmati perjalanan. Kelompok pertama berhasil mencapai Ranukumbolo sebelum senja. Kami harus merasakan gelap di jalan dan harus emakai senter. Dan saya dengan senter pinjaman, karena tidak membawa senter.

Setelah merasakan gelap di jalan sekitar 1 jam. Akhirnya kami, kelompok terakhir, melihat cahaya dari kejauhan. Kami yakin, Ranukumbolo sudah di depan. Untuk mencari kawan-kawan yang pertama tiba kami harus mengitari seperempat danau. Melelahkan juga.

Belum sampai tenda yang dibangun tim pertama, hujan turun. Dan beberapa meter sebelum tiba di tenda hujan pun turun makin deras. Segera carrier saya dibongkar untuk membangun tenda.

Lelah, basah dan tentu saja lapar melanda kami. Untung saja, kawan-kawan yang lebih dulu tiba sudah memasak beberapa waktu sebelum kelompok terakhir alias tim hore. Dan makanan pun juga nikmat. Saya tidak rasakan lagi apa rasanya. Tetap nikmat disantap pastinya. Setelah makan, kami menyuruput coklat panas. Dan acara naik gunung kali ini makin nikmat saja.

Dingin, hujan dan tentu saja karena sudah malam, kami memantapkan diri untu tidur. Meski sebagian tenda bocor. Tetap saja kami tertidur, meski terbangun juga tengah malam untuk menyeruput kopi. Setelah itu tidur lagi setelah melewati hari minggu panjang yang seru.



Senin, 20 September 2010

Hari mulai terang ketika hujan masih belum reda. Hujan membuat kami terus makan dan minum minuman hangat. Dan kami semakin malas saja bergerak. Hari ini hujan turun berkali-kali.

Hujan membuat peralatan dan pakaian kami basah. Karenanya kami memutuskan menunggu cerah agar bisa mengeringkan pakaian dan peralatan kami. Rencana hari ini adalah beragkat menuju Kalimati. Jika cerah. Namun kami tidak mendapat cerah yang kami tunggu.

Baru saja berkemas dan memindahkan posisi tenda ke pondokan yan agak besar dan bebas hujan, ternyata hujan deras datang lagi. Kami terpaksa batal berangkat ke Kalimati. Hujan deras ini membuat saya separuh frustasi. Dan saya putuskan untuk bertahan saja di Ranukumbolo. Saya pun tidak peduli lagi dengan rencana muncak di Mahameru.

Beruntung, Ranukumbolo mempesona saya.



Selasa, 21 September 2010

Kawan-kawan memutuskan traking ke Kalimati. Tidak sampai puncak. Saya memutuskan bertahan di Ranukumbolo saja. Bersama Mr Bag—salah satu sesepuh rombongan selain Mas Paryono. Saya lebih tertarik pada Ranukumbolo siang itu. Saya tidak peduli pada apapun.

Pagi itu saya sempatkan menaiki sebuah tanjakan. Hanya sekedar olahraga pagi. Saya menaiki tanjakan itu seperti orang berlari dengan nafas tersengal-sengal. Dengan bersusah payah sampai juga diatas. Setelah itu saya menengok ke belakang dan menikmati indahnya Ranukumbolo. Air beningnya, terlihat menyala di tanjakan yang biasa disebut Tajakan Cinta itu. Nama yang aneh dan menggelikan.

Hanya ada sedikit orang hari ini di Ranukumbolo. Hanya ada sedikit pendaki berlalu-lalang. Ada yang berwajah cerah karena bisa mencapai puncak. Tidak seperti pendaki yang saya temui tempo hari.

Setelah kawan-kawan pergi traking, saya dan Mr Bag memulai agenda kami, memasak. Nasi dan sayur—yang entah apa namanya—hari itu harus kami buat sebelum kawan-kawan kembali dari trakingnya. Kami bergerak cepat. Hari ini saya seperti ibu-ibu, mengupas kentang dan memotong sayuran lalu memasaknya. Selain memasak, kami juga harus mencuci alat-alat makan dan masak. Air di botol-botol pun kami isi. Seelum jam 1 semua beres. Saya dan Mr Bag bebas menimati danau.

Hari itu, orang-orang seperti emilih menjauh dari Ranukumbolo yang indah. Saya makin senang. Artinya hari itu Ranukumbolo milik saya siang itu. Mungkin bersama dengan Mr Bag. Sebenarnya saya tidak rela berbagi dengannya, tapi mau bagaimana lagi?

Saya duduk di kursi sambil memegang alat tulis. Mungkin seperti penyair. Tapi saya bukan penyair dan saya tidak seproduktif dulu dalam menulis puisi. Seperti zaman SMA atau awal-awal kuliah. Menulis puisi gombal picisan saja tak mampu.

Ketika saya duduk di bibir danau, seekor burung yang entah apa namanya, mendeketi saya. Burung itu nampak berani, hingga jarak saya dengannya 2 meter saja. Tidak seperti biasanya ada burung sedekat itu dengan saya. Dan kicau burung seharian saya dengar di Ranukumbolo. Pengalaman menyenangkan tentunya. Kabut berkali-kali melewati Ranukumbolo dengan cepat.

Meski tidak bisa mencapai Mahameru, saya tidak sedih. Meski Mahameru belum memberi damainya, namun Ranukumbolo membuat saya damai. Saya merasa nyaman tanpa gangguan. Benar-benar tanpa tekanan. Itu yang saya rasakan. Di dunia ini, damai tersisa di tempat sepi yang jauh dari jangkauan kebanyakan manusia.

Di sekitar Ranukumbolo, terdapat beberapa nisan. Sebagai peringatan pada pendaki yang tewas dalam pendakiannya. Mereka seperti Soe Hok Gie, yang wafat disekitar Mahameru karena terhisap gas beracun bersama Idhan Lubis 16 Desember 1969.

Seperti juga Gie, pendaki-pendaki yang dinisankan itu juga mati muda juga seperti Gie. Muda adalah masa dimana seseorang begitu polos dan naïf menjalani kehidupan. “Masa muda, masa yang berapi-api,” kata haji Rhoma Irama dalam lagunya darah Muda. Pernah ada yang berpendapat, mati muda adalah keberuntungan. Entahlah mereka yang mati di gunung adalah manusia muda beruntung barangkali.



Rabu, 22 September 2010

Ini hari terakhir di Ranukumbolo. Tempat saya bisa tidur nyenyak. Makan nikmat seadanya. Menjadi menusia damai. Dan entah apalagi. Dengan berat hati, Ranukumbolo harus kami tinggalkan.

Setelah berkemas, pagi itu juga kami berfoto dipinggir danau. Juga dengan latar Tanjakan Cinta. Selesai berfoto, kami mulai berjalan. Saya pun dengan berat hati menoleh danau indah ini. Ini adalah tempat menunggu paling indah. Selama masih ada cadangan makanan tentunya.

Bagaimanapun kami harus pergi dari Ranukumbolo. Dengan carrier dipunggung, kami melewati jalan yang kami lewati ketika pergi. Tiga hari tinggal di Ranukumbolo membuat saya berkhayal. Dimana saya ingin sekali memiliki Ranukumbolo dan sekitarnya. Entah bagaimana caranya!? Saya akan buat aturan baru, tidak ada orang yang boleh melihat dan menikmati Ranukumbolo kecuali saya. Ya khayalan yang serakah juga.

Butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan dari Ranukumbolo ke Ranupane. Sampai Ranupane, kami singgah sebentar di Ranuregulo.Sisa waktu sebelum ke Surabaya, kami gunakan mengunjungi Bromo. Perjalanan dari Ranupane menggunakan mobil hardtop yang mengantar kami kemarin. Perjalanan ke Bromo seperti offroad. Jadi cukup seru. Perjalanan pulang dari Ranukumbolo diiringi hujan juga hingga Tumpang.

Meski gagal ke Mahameru, perjalanan tetap menyenagkan dan saya masih ingin mengulangnya lagi. Suatu hari...

Rabu, September 29, 2010

Rumah Kaca Itu Bernama Hindia Belanda



Hampir semua orang pergerakan Indonesia pernah dikuntit Politieke Intelingen Dienst (PID). Pramudya Ananta Toer, pernah menyinggung dalam seri terakhir dari tetralogi Buru, Rumah Kaca. Dimana ada seorang perwira polisi bernama Pangemanan yang rajin menguntit Minke yang hidupnya sudah dihancurkan pemerintah kolonial.
PID pastinya bisa dianggap sebagai badan intelejen pemerintah. Dimana mereka bisa membuntuti siapa saja yang mereka angap berbahaya. Di Zaman Hindia Belanda, kaum pergerakan adalah kaum berbahaya.
PID ada demi menjaga ketentraman pemerintah Kolonial. Pemberontakan tentu sangat dihindari pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Karenanya, segala gerak-gerik kaum pergerakan harus terus diawasi
PID Menguntit
Mengawasi kaum pergerakan begitu efektif setelah PID dibentuk. Gagasan pembentukan organisasi ini muncul pada tahun 1914, ketika PD I meletus. PID dibentuk sebagai satu divisi KNIL. Sebuah kantor dinas intelejen pun berdiri di Batavia tahun 1914. Tujuan organiasi ini adalah untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang aktifitas agen Jepang di Hindia Belanda.
Secara resmi PID baru berdiri pada 6 Mei 1916. Dengan fungsi lebih luas dibandingkan satu divisi KNIL. Mengawassi dan mengontrol organisasi pergerakan radikal adalah salah satu tugas utamanya. Mekanisme kerja PID berhubungan erat dengan kantoor voor Chineesche Zaken, Adviseur voor Inlandsch Zaken en Arabische Zaken. PID memusatkan perhatian pada organisasi dan peristiwa yang sama.
Semasa PD I berakhir, secara khusus PID memusatkan perhatian pada SI dan ISDV. Setelah itu aktifitas PID berhenti sementara pada 1919. Namun tidak lama setelah itu Jaksa Agung menulis surat pada Gubernur Jenderal agar PID diaktifkan. Ini dikarenakan, si Jaksa melihat, gerakan-gerakan kebangkitan akan meluas.
Data untuk mengkualifikasikan orang orang atau organisasi dianggap membahayakan rust en orde sangat diperlukan. Selain itu, dibentuk pula badan baru dalam dinas kepolisian dengan fungsi intelejen pada 1919 yang bernama Gewestelijke Recherche Bureau. Sebagaian besar anggota badan ini adalah bumiputra. Pada 1930, ketika dikonsolidasikan GRB telah beranggotakan 800 orang pribumi yang tersebar dalam 100 lokasi berbeda di Jawa dan Madura.
Selain badan-badan tadi, di tubuh kejaksaan juga terdapat badan intelejen sendir yang bernama Algemene Recherche Dienst. Organisasi ini keberadaannya tidak ada pemberitahuan resminya.
PID pastinya membayangi gerakan kiri yang rajin mogok dan melakukan mimbar bebas pada decade 1920an. Tindakan anarkis kaum kiri ini gagal oleh PID dalam aksi mogok buruh kereta api tahun 1923.
Pada Desember 1931, Pemerintah Jepang melakukan devaluasi mata uang Yen. Segera Hindia Belanda dibanjiri barang-barang buatan Jepang yang laku keras karena murah harganya. Hal ini tentu membahayakan kepentingan pemodal Hindia Belanda yang lain. Selain itu, banyak orang Jepang masuk ke Hindia dan segera membuka toko mereka. Dimana mereka merekrut orang pribumi sebagai pembantu di toko. Kecemasan petinggi Belanda, membuat Menteri Urusan Tanah Jajahan Colijn memerintahkan De Jonge untuk mengumpulkan laporan-laporan intelejen yang sempurna, sistematis dan sangat rahasia mengenai kehadiran orang-orang Jepang di Hindia Belanda. Selain cemas dengan ekspansi dagang orang Jepang, pemerintah kolonial juga cemas dengan aksi spionase agen-agen Jepang—yang mulai membangun negaranya yang militerisme-fasis dan membahayakan. Ketakutan pemerintah kolonial yang lain adalah pengaruh dari mata-mata Jepang terhadap kaum pergerakan, pers bumiputra dan raja-raja local di tanah jajahan. Pendekatan terhadap kaum pergerakan dibidang penerbitan adalah pemasangan iklan besar-besaran dengan syarat adanya artikel pro Jepang.
Kegiatan spionase di Hindia Belanda juga mendapat dukungan dari Angkatan Laut Jepang, departemen penerangan, dan Departemen Luar Negeri Jepang. Biro riset Ekonomi Jepang di Asia Timur juga menyiapkan dan mendidik mata-mata. Kegiatan penerbitan orang-orang Jepang juga mendapat perhatian khusus dari PID. Dan orang-orang Jepang, diantaranya juga merasa diawasi PID hingga membuat pengalihan dengan memindah-tangan penerbitan ke orang-orang Indonesia. Seperti dalam kasus Kubo Affair, dimana Tjahaja Pesoendan, dipindah tangan kepada Djojopranoto, yang sebelumnya milik Kubo. Dimana Djojopranoto dan Saerun—keduanya jurnalis kenamaan zaman itu—akhirnya dipenjara terkait dengan kasus Kubo yang ingin mengadakan propaganda pro Jepang dengan jalan penerbitan.
Semakin meningkatnya kebutuhan informasi akan Hindia Belanda, maka penyebaran agen mata-mata dilakukan pada decade 1930an. Di Batavia, kegiatan mata-mata yang kemudian terkenal adalah Nanyo Warehousing Company. Dimana salah satu karyawan disitu adalah Naujo Aratame yang seorang perwira Angkatan Laut Jepang—yang mendapat tugas spionase. Dia juga ditempatkan di konsulat Jenderal Jepang di Batavia. Sesudah tahun 1939, kegiatan spionase Jepang juga ditingkatkan. Dimana hamper semua karyawan Jepang diberbagai perusahaan Jepang di Hindia Belanda, dijadikan agen mata-mata yang mengumpulkan data-data militer, organisasi sabotase, dan mencoba menyuap orang-orang sipil dan militer. Hotel dan tempat pelacuran dijadikan sebagai tempat pengumpulan informasi. Sebagian orang pergerakan menganggap keberadaan Jepang bukan sebuah bahaya.
Sejak 1933, De Jonge melarang para pegawai masuk organisasi pergerakan. Dinas intelejen diefektifkan untuk meneror kaum pergerakan. Pemerintah kolonial makin refresif setelah pemberontakan kapal Zeven Provincien. Prinsip tindak terror pemerintah dan alat intelejennya itu didasarkan pada Rust en Orde. Selain PID, polisi rahasia dan reserse juga aktif. Setiap pejabat pamong praja bahkan memiliki mata-mata sendiri untuk mengawasi daerah wewenangnya.

Kematian Husni Thamrin
Thamrin adalah tokoh penting pergerakan di Jakarta karena dia adalah anggota Volksraad dari fraksi Nasional. Dia adalah keturunan Indo-Inggris dari pihak ayah. Thamrin berasal dari keluarga pangrehpraja yang cukup berpengaruh di Sawah Besar Batavia pada pergantian abad XIX-XX.
Sejak muda Thmarin sudah menjadi orang dewan. Dimulai ketika dia menjadi Gemeenteraad (Dewan Kota) Batavia. Dia terhitung anggota paling muda dari kalangan pribumi. Selain sibuk sebagai Gemeenteraad, Thamrin juga aktif dalam dunia pergerakan. Mulai dari Kaoem Betawi hingga Partai Indonesia Raya.
Ketika Hindia Belanda hampir tumbang, Thamrin didekati oleh orang-orang Jepang di Indonesia. Hingga kemudian Thamrin dianggap membahayakan. Thamrin sendiri meninggal di rumahnya dalam kondisi penuh tekanan dari polisi kolonial dan pejabat Hindia Belanda yang menganggap Thmarin berkolaborasi dengan Jepang. Bukan tidak mungkin Thamrin juga dicurigai dan diintai oleh PID.

Bayang-bayang NAZI
Orang Belanda tampak takut pada orang-orang Jerman—karena dikira mereka itu pro NAZI. Di Hindia Belanda juga terdapat kaum fasis yang tergabung dalam NSB. Ketika Jepang akan mendarat, orang-orang Jerman memang ditangkapi untuk dimasukan kamp tahanan.
Fobia akan NAZI di Hindia Belanda cukup menarik. Pernah ada seorang siswa MULO di Malang yang harus berurusan dengan polisi kolonial karena telah menggambar lambang swastika di toilet tempat umum di kota Malang.


Dibawah Pengawasan Spionase
Tan Malaka adalah oran yang hidup dibawah intaian banyak intel sejak muda. Karenanya Tan Malaka pun menjadikan dirinya seperti bunglon untuk menghindari intaian intel-intel imperialis.
Tidak hanya kaum pergerakan, taruna KMA Bandung seperti Nasution juga tidak lepas dari intaian intel Belanda.
Pasca gagalnya pemberontakan komunis 1927, banyak orang-orang komunis dari Indonesia yang lari ke Eropa, termasuk ke Negeri Belanda. Pengawasan berlebih trhadap kadet Indoensia bisa jadi semakin ditingkatkan. Bukan tidak mungkin seorang kadet pribumi terpengaruh komunis. Hal ini berbahaya karena seorang perwira bisa mempengaruhi bawahannya dalam ketentaraan. Komunisme dalam KNIL di masa depan tentunya akan membahayakan pemerinah kolonial Hindia Belanda. Pengawasan terhadap kadet Indonesia bisa jadi tidak jauh berbeda seperti halnya PID mengawasi orang-orang pergerakan. Pengawasan-pengawasan itu tentunya membuat para kadet Indonesia lebih berhati-hati. Salah satu cara adalah denan menjauhi mahasiswa Indonesia, yang kemungkinan besar adalah anggota Perhimpunan Indonesia.
Soejarso Soerjosoerarso adalah kadet yang telah mendapat pengawasan dari pimpinan KMA. Semua ini bermula ketika Soejarso masih sekolah di HBS Bandung. Saat itu diadakan pemutaran film. Saat dinyanyikan lagu kebangsaan Belanda—Wilhelmus van Nassau—untuk menghormati Ratu Wilhelmina, Soejarso tidak mau berdiri padahal semua hadirin berdiri. Ketika menjadi KMA Breda, Soejarso sebenarnya sudah mulai berhati-hati. Inilah salah satu cara pemerintah kolonial membersihkan KNIL dari pengaruh nasionalis dimasa depan.

Rabu, September 15, 2010

Muhamad Husni Thamrin: Dari Betawi Untuk Indonesia


Adalah Muhamad Husni Thamrin. Tokoh elit Betawi zaman kolonial yang memiliki kepedulian besar pada Jakarta. Pada penduduknya, pada lingkungannya, juga pada banjirnya yang datang tiap musim hujan. Tidak hanya pada Jakarta, Thamarin juga berjuang untuk Indonesia dan rakyatnya, yang kala itu disebut Inlander oleh kaum muka pucat.

Perjuangan Thmarin bukan tanpa resiko. Sudah pasti, keberpihakan pada kaum pribumi, yang umumnya, miskin akan berakibat adanya permusuhan atas dirinya dari kalangan penguasa. Kematian, menyisakan banyak kecurigaan. Thamrin meninggal dalam penahanan di rumahnya. Ketika itu Thamrin dalam kondisi sakit. Sebelum sakit, ditahan dan meninggal, Thamrin dicurigai memiliki hubungan dekat dengan orang-orang Jepang yang diam-diam memusuhi pemerintah kolonial, sebelum Jepang mendarat dan mengalahkan Hindia Belanda di tahun 1942.

Terlahir sebagai anak dari keluarga berada, Thamrin sempat menikmati bangku sekolahan. Namun, Thamrin tidak sempat meluluskan sekolahnya di KW III—sebuah sekolah menengah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang pribumi—dengan alasan ingin bekerja. Pergaulannya ketika dewasa dengan kaum intelektual yang kritis terhadap pemerintah mendorong Thamrin untuk menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota) maupun Volksraad (Dewan Rakyat).

Muda dan Bergerak

Pertemuan Thamrin dengan Daan van der Zee di KPM, tempat Thamrin pernah bekerja, lalu berlanjut dengan perbincangan di rumah van der Zee adalah peristiwa penting yang menntukan jalan hidup Thamrin muda. Dua tokoh yang saling mengagumi ini akhirnya bekerja sama memeperbaiki kondisi kampung-kampung Betawi Batavia yang tidak tersentuh oleh pemerintah kolonial.

Thamrin telah masuk dalam kehidupan politik sejak dini. Setidaknya setelah dia berkawan dengan Daan van der Zee, sekretaris Gemeenteraad Batavia. Pergaulannya dengan kaum Intelektual Belanda yang peduli dengan kondisi Hindia saat itu adalah salah satu pendorong Thamrin untuk duduk dalam kursi Gemeenteraad maupun Volksraad. Diusianya yang ke-25 tahun Thamrin sudah terlibat dalam pembangunan kota Batavia dengan duduk sebagai anggota Gemeenteraad. Sebagai anggota dewan rakyat Thamrin selau berada dibelakang kepentingan rakyat.

Lingkup perjuangan Thamrin semakin luas ketika dia masuk Volksraad. Thamrin tidak hanya membela rakyat Betawi tetapi seluruh masyarakat Hindia yang menderita karena tekanan Pemerintah kolonial. Pergulatannya membela rakyat tertindas kemudian mengantarkannya terlibat dalam dunia pergerakan nasional. Kasus besar yang menjadi kemenangan Thamrin selama duduk di Volksraad adalah Poenale Sanctie yang kemudian dihapuskan menyengsarakan para kuli kontrak di Sumatra.

Thamrin terkenal solidaritas yang tinggi dengan sesama kaum pergerakan. Setidaknya Thamrin pernah membantu perjuangan Soekarno yang gerakanya dipangkas pemerintah kolonial. Thamrin dengan kapasitasnya sebagai Volksraad kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda pernah mengajukan pemindahan Soekarno ke tempat yang lebih baik dalam hukuman pembuangannya.

Ketika sekolah swasta milik kaum pergerakan ditekan oleh Wilde Schoolen Ordonantie (ordonansi sekolah liar), Thamrin juga memberikan pembelaannya terhadap sekolah swasta tanpa subsidi pemerintah dengan menentang kebijakan pemerintah kolonial itu. Thamrin juga memperjuangkan hal-hal yang sangat tidak disetujui pemerintah kolonial seperti masalah pengunaan bahasa Indonesia, merubah nama Hindia Belanda menjadi Indonesia. Bahkan menuntut diadakannya parlemen di Hindia Belanda.

Thamrin juga konsisten dengan perjuangannya. Dia berkali-kali berusaha menyatukan seluruh unsur pergerakan dalam satu wadah baik yang koperatif maupun non koperatif. Hal ini sangat sulit karena sering terjadi konflik antar golongan ditubuh federasi organisasi pergerakan (PPPKI) yang dia bentuk. Sebagai manusia Thamrin tidak lepas dari kegagalan dan hujatan.

Sebagai anggota Volksraad beberapa tuntutannya banyak yang tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah. Tuntutan terbesar Thamrin terhadap pemerintah adalah diadakannya sebuah parlemen bagi Hindia Belanda yang mulai diajukan sejak petisi Soetardjo. Tuntutan ini sebenarnya akan membawa perubahan susunan pemerintahan di Hindia Belanda dalam kurun waktu selama sepuluh tahun. Thamrin juga memperjuangkan pengunaan bahasa Indonesia di Volksraad dan mengajukan perubahan nama Hindia Belanda menjadi Indonesia. Tentu saja permintaan itu ditolak pemerintah kolonial.

Dalam dunia pergerakan Thamrin juga pernah dihujat bahkan digolongkan sebagai Kaoem Senang oleh sesama orang pergerakan dari Gerindo. Biasanya Thamrin akan menanggapinya biasa saja. Dia hanya akan beraksi luar biasa didalam sidang Volksraad. Thamrin selalu menyimpan energinya untuk perjuangan di Volksraad. Dari bebberapa sumber tentang dirinya dapat ditarik kesimpulan bahwa Thamrin tidak pernah lepaskan energinya untuk berdebadat habis-habisan denga sesama tokoh pergerakan.

Ketika tokoh pergerakan lain berjalan sendiri dalam pergerakan maka Thamrin berusaha mempersatukan semua golongan dalam dunia pergerakan dalam sebuah federasi untuk malakukan aksi bersama menuntut sebuah perubahan dalam susunan pemerintahan di Hindia Belanda. Jadi Thamrin bukan tokoh pergerakan biasa, dirinya bahkan telah menampilkan diri sebagai pemimpin besar dalam pergerakan nasional Indonesia. Setidaknya Thamrin telah dua kali menyatukan kaum pergerakan dalam satu wadah. PPPKI adalah yang pertama dan Gapi adalah yang kedua dan terus berjalan setelah Thamrin wafat. Kepada kemajuan kota Batavia, Thamrin telah memberikan dedakasinya dalam memperbaiki kampung dan menanggulangi banjir. Sayangnya apa yang diperjuangkan Thamrin itu belam tercapai sampai sekarang. Kaum miskin kota di Batavia juga telah diperjuangkan kemudahan hidupnya oleh Thamrin dan ini juga belum terpenuhi sampai sekarang. Banyak yang menjadi cita-cita Thamrin yang belum terpenuhi sampai sekarang.

Dibawah Cengkraman Hindia Belanda

Dimata pemerintah kolonial, pada awalnya Thamrin adalah tokoh yang tenang, lama kelamaan apalagi setelah PNI di tindak pemerintah kolonial pada tahun 1929, Thamrin mulai bersikap keras terhadap pemerintah. Lama kelamaan Thamrin semakin dianggap berbahaya saja dimata pemerintah kolonial. Pemerintah kolonial kemudian memgunakan sebuah dokumen untuk menjebak Thamrin. Karenanya Thamrin dikenai tahanan rumah dan meninggal dalam tahanan. Kepergiannya diantar oleh 20.000 orang yang setia kepada cita-cita pergerakan. Thamrin pergi tanpa pernah mengerti bagaimana Indonesia yang dia perjuangkan sekarang ini. Terbukti tidak pernah ada anggota parlemen Indonesia yang mampu mengikuti jejaknya dengan baik. Selama ini anggota parlemen Indonesia hanya mengurus dirinya sendiri dan tidak peduli dengan kepentingan rakyat. Mereka tidak pernah mau tahu di zaman kolonial dulu Husni Thamrin adalah pembela kepentingan rakyat yang gigih.

Thamrin telah menampilkan diri sebagai anggota dewan yang konsisten membela rakyat (di Volksraad maupun Gemeenteraad), tokoh pergerakan yang menuntut sebuah perubahan radikal dalam susunan pemerintahan di Hindia Belanda, tokoh pergerakan yang berusaha menyatukan kaum pergerakan dalam satu wadah untuk menuntut perubahan di tanah Hindia. Thamrin dan pendukungnya menginginkan sebuah parlemen bagi Indonesia. Hal yang paling sering dilupakan orang adalah perjuangan Thamrin yang didukung Parindra-nya dalam merubah nama Hindia Belanda menjadi Indonesia dan Inlander menjadi Indonsische. Dengan begitu Thamrin telah berusaha mempertinggi derajat rakyat pribumi yang direndahkan dengan sebutan Inlander menjadi orang Indonesia yang merdeka.

Masalah banjir di Jakarta, juga menjadi salah masalah yang dihadapi Thamrin sejak muda. Begitu juga masalah lingkungan pada perkampungan rakyat di sekitar kota Jakarta. Thamrin adalah salah satu tokoh penting Jakarta yang memiliki kepedulian besar pada Jakarta. Meski sistem di Hindia Belanda yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil, Thamrin sebenarnya bisa berusaha memperjuangkan rakyat kecil.

Harusnya, Thmarin adalah teladan bagi anggota parlemen yang kini dijuluki wakil rakyat. Banyak orang melihat bahwa wakilakyat masa kini lebih banyak disibukan dengan urusan pribadinya daripada urusan rakyat kecil. Dalam keterbatasan, Thamrin bisa melakukannya, namun tidak banyak wakil rakyat yang mau seperti Husni Thmarin.

Senin, September 06, 2010

Ragusa Lagi



Siang bolong, adalah waktu dimana Jakarta sedang panas-panasnya. Rasanya ini sudah terjadi sejak zaman kolonial. Untung saja, beberapa tahun sebelum Hindia Belanda bertekuk-lutut pada Balatentara Jepang ditahun 1942, sudah ada Ragusa. Es krim ini konon sudah ada sejak 1932, namun masih brdagang keliling di sekitar Pasar Gambir. Inilah es krim ala Italia yang merupakan salah satu legenda es krim di Indonesia.

Hingga akhirnya Ragusa kemudian memiliki lahan sendiri, di Jalan Vetaran satu, sebelumnya bernama Jalan Segara dimana pernah bermarkas pasukan Pengawal Sukarno, Cakrabirawa. Jalan Veteran, sejak dulu sangat straegis. Dekat dengan Wilhelminapark (Taman Masjid Istiqlal) dan Koningenplain (Monas). Dekat juga dengan Gambir dan juga istana Gubernur jenderal (Istana Negara).

Es krim ragusa, kadang dianggap es krim tradisional. Seperti industri makanan rumah-tangga. Tidak diproduksi pabrik besar. Rasanya jelas unik. Dan berbeda daripada es krim buatan pabrik. es krim disini menggunakan bahan-bahan berkualitas mulai dari susu sampai bahan lainnya. Semuanya dibuat secara handmade, bukan diambil dari pabrik jadi kualitas akan tetap terjaga. Bahkan es krim yang berasal dari Italia ini tidak menggunakan pengawet.

Es Krim Ragusa masih legenda hingga kini. Selama beberapa generasi, Ragusa masih menjadi tujuan kuliner yang menyenangkan. Jika anda menikmati Ragusa di Jalan Veteran, anda juga akan nikmati suasana yang agak Jadul alias tempo doeloe sekali. Tidak AC, hanya ada kipas angin. Selain itu anda juga akan duduk di kursi-kursi rotan. Beberapa potret tua juga dipajang didinding. Suasananya mirip zaman kolonial sebelum Perang Dunia II. Sangat indies sekali menurut saya.

Walau bangunannya dan interiornya kuno, tidak berarti rasa dari es krim tidak layak untuk dicicipi. Anda dapat mencoba menu yang ada misalnya banana split, special mix, spaghetti ice cream, cassata siciliana, tutti frutti, chocolate sundae, lemon ice, cola float dan nougat. Dengan tampilan es yang menarik, Anda dapat merasakan keunikan rasanya. Bila Anda bingung memilih, Anda dapat menentukan pilihan Anda setelah melihat gambar-gambar es krim yang ada dipajang di sekeliling dinding bagian atas.

Ragusa, karena ada aroma indies-nya, membuat saya ingin menikmatinya lagi jika ke Jakarta. Ragusa juga mengingatkan masa-masa awal bekerja di Jakarta. Ketika lelah mencari data di perpustakaan Salemba, atau menulis kronik, Ragusa menjadi tujuan. Bukan hanya saya, tapi juga kawan-kawan lain, yang mungkin sampai hari ini masih merindukannya. Terakhir kali di Ragusa, saya bersama kawan saya asal Belanda, Fredrick. Menyenangkan sekali mengobrol disana, terutama bagi anda yang suka bicara soal sejarah.

Jika anda merasa gerah dengan kota Jakarta, terutama jika anda di sekitar Monas, ragusa mungkin bisa sedikit basahi tenggorokan anda.

Kamis, Agustus 05, 2010

Isu Kudeta Dewan Jenderal

Tidak ada yang bernama Dewan Jenderal. Hanya saja, ada sekelompok jenderal yang agak bersebrangan dengan Sukarno menjelang Oktober 1965. Nyatanya kudeta Dewan Jenderal tidak pernah terjadi, namun hanya ada satu Jenderal pemenang.


Senjata Anti Komunis

Perang Ideologi juga melahirkan perang teknologi, termasuk teknologi persenjataaan. Ketika Uni Sovyet merilis AK-47 yang melegenda itu, maka Amerika Serikat kemudian menciptakan M-16. Kedua sejata itu adalah symbol perang dingin juga. [1]

RPKAD muncul dalam sebuah perayaan HUT ABRI penuh duka. Bukan parade militer yang diadakan tapi iringan jenazah 6 perwira tinggi AD dan seorang perwira pertama. Kala itu M-16 belum sepenuhnya digunakan AS. Anggota militer AS di Vietnam saja masih menggunakan senjata M-14 maupun M-1 Garand. Ketika itu senjata standar AD bukanlah M-16 atau semacamnya. AK-47 adalah yang paling banyak diandalkan oleh para prajurit TNI yang kala itu sudah disebut ABRI.

Bisa jadi senjata buatan Amerika itu pesanan resmi, namun memesan senjata baru yang belum jelas kemampuannya juga hal jangal. Apalagi senjata itu berasal dari Negara yang jelas menjadi musuh kepala Negara. Pesanan M-16 itu, tentu tidak akan terjadi tanpa ada hubungan antara jenderal AD dengan AD Amerika Serikat.

Hubungan Sukarno dengan AS kala itu cukup buruk. Sangat mustahil jika AS memberikan senjata andalan mereka ke Indonesia—yang mereka anggap komunis. Apalagi, seluruh dunia tahu jika Sukarno selaku Presiden RI cenderung bersikap pro pada Negara Sosialis yang baru merdeka dan tidak menyukai imperialisme gaya barunya Inggris dan Amerika Serikat. Petinggi AD tampak berhubungan dengan AS menjelang PRRI/Permesta meletus. AS awalnya hanya mau membantu BRIMOB saja. Dimana pasukan para militer kepolisian ini pernah mendapat latihan ranger dari AD AS. Latihan ranger biasanya hanya diberikan kepada AD, bukan paramiliter polisi.



Tenatara Amerika menggemgam senapan M-16. (http://www.fxha.com/Gallery01.htm)


AD RI baru dilirik AS ketika PRRI/Permesta dianggap tidak mampu melawan pemerintahan komunis Sukarno. Kebetulan Nasution, panglima AD yang cukup berpengaruh cukup bersebrangan dengan Sukarno. AD kemudian tampil sebagai kelompok anti komunis, hingga sering bersebrangan dengan politik Sukarno.

Angkatan Darat ditahun 1960an, dipimpin oleh orang-orang yang di zaman revolusi sudah menjadi perwira militer—dengan pangkat antara Kapten hingga Letnan Kolonel. Mereka biasanya perwira kelahiran 1917-1925. Beberapa diantara perwira tinggi AD itu diantaranya berasal dari KODAM Diponegoro, Jawa Tengah, setidaknya pernah berhubungan dengan Jawa Tengah semasa revolusi.

Ahmad Yani berhasil menjadi orang nomor satu di AD menggantikan Nasution sejak tahun 1962. Seperti Nasution, Yani juga kemudian bersebrangan dengan Sukarno soal politik yang dijalankan Sukarno. Perbedaan paham antara Presiden dengan petinggi Angkatan Darat itu tentu menjadi peluang bagi CIA AS yang begitu ingin menggulingkan Presiden Sukarno. CIA-AS percaya bahwa AD adalah sekutu terbaik untuk menggulingkan Sukarno. Petinggi AD yang terkesan tidak loyal terhadap Sukarno.

CIA mulai merangkul AD setelah Pemberontakan PRRI/Permesta. Dimana CIA-AS merasa memiliki sekutu baru untuk menggulingkan Sukarno yang cenderung ke kiri. Sebelumnya, AS lebih percaya pada polisi sebagai elemen anti komunis potensial di tubuh militer Indonesia. Peristiwa Madiun yang melibatkan sebagian AD di Jawa Tengah, membuat AS yakin bahwa AD adalah sarang komunis yang sulit dipercaya. Apalagi Panglima Sudirman merangkul Tan Malaka yang kiri dalam Persatuan Perjuangan di zaman revolusi.

Tidak heran jika pasukan Brimob dari kepolisian pernah mendapat latihan ranger. Latihan yang seharusnya diberikan kepada pasukan Angkatan Darat. Tujuan tidak lain agar Polisi bisa bertempur melawan komunis. Perkembangan Brigade Mobil itu tentunya diperhatikan oleh Amerika Serikat—yang sedang giat-giatnya melakukan propaganda anti komunis. Tentu ada maksud dalam memperkuat Brimob. Tentu demi menghancurkan kaum komunis. Kala itu AD—yang kemudian dekat dengan AS—belum dilirik AS—sebaga kekuatan anti komunis.[2] AD yang terlibat dalam peristiwa Madiun dan sudah terkena anasir PKI. AS begitu menjaga jarak dengan AD sebelum kasus PRRI/Permesta.

Banyak yang sepakat bahwa keterlibatan AS melatih polisi karena Terbongkarnya konspirasi CIA untuk menggulingkan pemerintah Indonesia membuat panik pemerintah Amerika Serikat. Amerika Serikat dan CIA kemudian membuat manuver untuk ”mengambil hati” Bung Karno. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah AS adalah memberikan bantuan militer bagi Indonesia dengan mendidik para perwira militer Indonesia di AS.

Brigade Mobil juga kemudian mendapatkan ”berkah” dari aksi permintaan maaf oleh pemerintah Amerika Serikat ini. Pada bulan Januari 1959, pemerintah AS memberikan bantuan pelatihan militer dan senjata kepada Brigade Mobil dari Kepolisian Republik Indonesia. Ada 8 perwira polisi yang dididik di Okinawa (pangkalan marinir AS) sebagai kontingen pertama. Selanjutnya pada bulan September 1959 kompi pertama Brimob Ranger telah dibentuk. Pada pertengahan 1960 kontingen kedua perwira polisi Indonesia kembali dididik menjadi Ranger.

Selain mendapatkan pelatihan, pada pertengahan 1960, Ranger Brigade Mobil (saat itu namanya berubah menjadi Pelopor) mendapatkan bantuan senjata senapan serbu AR 15 yang merupakan versi awal atau versi non-militer dari M 16 A1. Pasukan Menpor adalah salah satu pengguna pertama senjata ini, bahkan pada saat itu pasukan reguler batalyon Infanteri AS yang ditugaskan di Vietnam sebagai observer (pengamat) militer AS saja masih menggunakan senjata M 1 Garrand sebagai perlengakapan tempur di Vietnam.[3]

Setidaknya, ditahun 1965, tepatnya pada 5 Oktober 1965, ada anggota RPKAD yang menyandang senapan M-16, yang menjadi senapan standar militer Amerika Serikat.[4] Tidak diketahui bagaimana senjata tersebut bisa masuk ke Indonesia. Hanya bisa dipastikan senjata itu berasal dari Amerika Serikat.

Senjata-senjata itu bahkan digunakan RPKAD untuk membersihkan orang-orang Komunis. Senjata asal Amerika Serikat itu macet ketika digunakan. Sebenarnya senjata ini baru tahap uji coba. RPKAD sendiri lebih suka memakai AK 47 yang jelas terbukti garang dalam pertempuran meski akurasinya kalah dengan M 16.[5]

Keamanan Sukarno yang terancam, membuat petinggi militer membentuk sebuah pasukan yang lebih kuat lagi untuk menjaga keselamatan Pemimpin Besar revolusi.

Ketika Cakrabirawa berdiri, pada Juni 1962, setiap Angkatan memberikan pasukan khususnya. Hanya AD yang tampaknya enggan memberikan pasukan khususnya. Cakrabirawa yang begitu loyal pada Sukarno kemudian tampak seperti SS-Nazi yang loyal pada Hitler. Tidak hanya loyal tapi juga tangguh.

Petinggi AD kemungkinan tidak ingin sebagian pasukan RPKAD masuk Cakrabirawa. Dalam kondisi AD bersebrangan dengan Sukarno, sangat tidak mungkin AD memberikan pasukan terbaiknya untuk Sukarno.

Alasan Nasution dan petinggi AD lain yang menyatakan RPKAD hanya memfokuskan diri menjadi pasukan khusus, adalah alasan masuk akal dan bisa diterima banyak pihak termasuk Sukarno sendiri. RPKAD pun bebas dari jeratan masuk kandang Sukarno. Sementara RPKAD terus menempa diri menjadi pasukan khusus, semua anggota RPKAD masih bisa dikendalikan pimpinan AD tentunya.

AD merasa RPKAD adalah elemen potensial meski jumlahnya kecil. Sementara itu Kostrad kurang begitu diperhitungkan karena kebanyakan pasukannya tersebar. Sementara RPKAD berada disekitar Jakarta dan bisa digerakan sewaktu-waktu. Bagaimanapun RPKAD adalah kekuatan penting AD, karena merupakan pasukan terlatih dan siap tempur. Meski begitu, Kostrad sendiri dimasa Sukarno sebenarnya bisa menjadi pasukan pemukul yang baik karena memiliki pasukan lintas udara (airborne), yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kostrad adalah pasukan cadangan yang memiliki daya pukul. Pasukan ini ada setelah Trikora selesai.


RPKAD berfose denganorang sipil ditahun 1966. (http://psik.multiply.com/photos/photo/11/5)


Keberadaan AD, dengan pasukan Kostrad dan RPKAD tentu menakutkan banyak pihak. Artinya jenderal-jenderal yang tidak loyal terhadap Sukarno itu tentunya memiliki kekuatan, yang layak ditakuti lawannya. Bukan tidak mungkin Sukarno juga khawatir. Jenderal-jenderal AD yang tidak loyal tentu cukup punya taring untuk adu kekuatan dengan musuh-musuhnya yaitu, kaum komunis. Di belakang jenderal-jenderal AD itu, ada Amerika Serikat. Dimana seorang atase militer-nya, Kolonel George Benson, yang tidak lain adalah kawan baik Yani selama sekolah staf dan komando di Fort Benning, Amerika Serikat.

RPKAD adalah unit kecil dan penting ditahun 1965. Beberapa petinggi militer Indonesia yang menjadi perwira pertama RPKAD kala itu adalah Sintong Panjaitan dan Faizal Tanjung (yang kemudian menjadi orang penting di AD pada akhir kejayaan orde baru).

Unit ini sukses menggulung beberapa pemberontakan pasca 30 September 1965. kondisi pasukan RPKAD yang tidak masuk RPKAD tentu mudah menggerakannya. Meski jumlah pasukan RPKAD di Jawa hanya tinggal separuh karena sebagaian dikirim ke perbatasan Malaysia dalam rangka konfrontasi Dwikora. Bukan hal sulit menggulung kelompok gerakan 30 September yang dipimpin oleh Untung. Pasukan yang terlibat sendiri, setelah penculikan selesai sebenarnya tidak ingin bertempur dengan siapapun. Mereka bahkan memilih kembali ke kesatuanya.

Isu sakitnya Sukarno, yang begitu parah tentu membuat banyak pihak khawatir. Banyak yang sepakat, jika dimasa itu hanya ada dua pilihan mendahului atau didahului. Beberapa orang bahkan mengatakan jika banyak pihak bersiap untuk menjaga kemungkinan jika sewaktu-waktu Sukarno meninggal karena sakitnya.

AD selaku musuh besar PKI tentu bersiap. Begitu juga PKI juga menjaga kemungkinan agar tidak didahului AD. Hanya orang atau pihak bodoh yang tidak bersiap dalam kondisi “Ibu Pertiwi Hamil Tua” itu. RPKAD jelas menjadi andalan jajaran petinggi AD jika pecah perang saudara.

Tidak ada RPKAD dalam Cakrabirawa? Hanya ada Banteng Raiders dari batalyon 454/Diponegoro saja pimpinan Letkol Untung. Ketiadaan RPKAD dalam Cakrabirawa bisa mengesankan bahwa AD tidak loyal pada Sukarno. Jenderal SUAD, dalam hal ini Yani, kerap berhubungan dengan Amerika. Setidaknya Yani pernah belajar di Fort Benning, AS. Dimana dia berkawan dengan Kolonel George Benson.

Mengapa RPKAD tdak masuk Cakrabirawa adalah agar petinggi AD punya pasukan andalan jika sewaktu-waktu dibutuhkan.. Entah untuk kudeta maupun mengcounter kudeta sewaktu-waktu.

Ketika Konfrontasi Dwikora pun prajurit RPKAD hanya sebagian saja yang dikirim ke Kaliantan. KKO lah penyumbang terbanyak Sukarelawan Dwikora dalam konfrontasi dengan Malaysia.



4. Soal Ada Tidaknya Dewan Jenderal?

Pertentangan petinggi AD dengan Sukarno begitu kentara. Nasution, selaku perwira senior AD, yang sudah menjabat Menteri Pertahanan. Sebuah jabatan tak bergigi bagi seorang perwira tinggi militer sepertinya. Artinya Nasution tidak punya pasukan, meski tingkat jabatannya diatas Panglima yang memegang puluhan ribu pasukan yang diantaranya mahir bertempur.

Jenderal pemegang pasukan di AD adalah Suharto, Umar Wirahadikusumah (Pangdam Jakarta), Ibrahim Adjie (Pangdam Siliwangi di Jawa Barat). Di KKO ada Mayor Jenderal Hartono. Di AD, lebih kebawah lagi ada Kolonel Sarwo Edhi Wibowo komandan RPKAD, kawan lama Yani dan sama-sama berasal dari Purworejo.[6]

Petinggi AD di SUAD umumnya adalah orang-orang anti-komunis. Banyak dari para perwira ini merasa bahwa Konfrontasi melawan Malaysia di perbatasan adalah sesuatu yang tidak perlu didukung. AD tampak setengah hati saja dalam menghadapi Dwikora. Padahal Sukarno jelas begitu antusias.

Tidak heran jika Konfrontasi Dwikora juga dianggap sepi oleh sebagaian pucuk perwira Angkatan darat. Hanya ada sedikit pasukan komando Angkatan darat yang diterjunkan semasa Dwikora. Sementara, KKO yang terkenal loyal terhadap Presiden Sukarno, beserta sukarelawan lainnya sajalah yang berada di sekitar perbatasan Malaysia berperang. Sementara kebanyakan pasukan AD hanya sibuk dengan perang saudara di Jawa. Dan KKO adalah prajurit yang tidak melibatkan diri dari perang saudara—yang dibanggakan orde baru sebagai penumpasan kaum komunis.



Jenderal Abdul Haris Nasution, Wakil Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan yang gagal diculik pasukan Untung. (http://mahasurya-46.blogspot.com/p/sekilas-mahasurya.html)


Nasution tidak loyal pada Sukarno. Nasution sudah berbeda pendapat dengan Sukarno sejak Peristiwa 17 Oktober 1952. Nasution terkenal sebagai Jenderal yang cerdas dan kuat ketika menjadi KSAD. Dalam sejarah, Nasution adalah KSAD terlama. Dia sempat diskor dari posisinya sebagai KSAD selama tiga tahun. Meski banyak musuh, terutama dalam kasus PRRI/Permesta, posisi Nasution tetap kuat. Karena kuatnya posisi Nasution di AD, maka posisi Nasution kemudian dilemahkan. Tahun 1962, Nasution tidak lagi menjadi KSAD. Hingga Nasution menjadi Jenderal tanpa pasukan.

Meski tanpa pasukan, Nasution tidak sendiri dalam berbeda pendapat dengan Sukarno. Yani, pengganti Nasution, yang semula dianggap loyal kepada Sukarno juga kemudian bersebrangan dengan Sukarno. Jumlah musuh Sukarno pun bertambah dan Sukarno tidak bisa merangkul AD. Padahal AD adalah kekuatan militer terbesar di Indonesia.

Isu Dewan Jenderal semakin sensitive di zaman orde baru. Kontraversi keberadaan Dewan Jenderal tentu menjadi masalah. Seorang perwira tinggi pernah terkena masalah karena menyatakan Dewan Jenderal itu ada. Ahmad Sukandro, nama Jenderal itu, kemudian dijauhkan dari pusat kekuasaan. Mayjen Achmad Sukendro - Ditahan selama 9 bulan di RTM Nirbaya karena pernah mengakui keberadaan Dewan Jenderal dalam sebuah seminar Angkatan Darat.[7]

Ditakutkan pengakuan Sukendro itu dipercaya banyak pihak. Apalagi Sukendro juga menjadi sasaran penculikan pasukan Letkol Untung pada malam 30 September 1965. Selain itu Sukendro adalah orang kepercayaan Nasution. Nasution sendiri tidak banyak bicara soal Dewan Jenderal. Pemerintah Orde Baru adalah yang paling berkeras bahwa-sanya Dewan Jenderal itu tidak pernah ada. Hal ini dimaksudkan untuk menyudutkan kaum komunis sebagai pelaku utama kudeta 30 September agar aksi pembunuhan besar-besar yang dijalankan RPKAD dan sekutu anti komunisnya tidak tercium.

Istilah Dewan Jenderal konon diciptakan oleh petinggi partai komunis untuk menjatuhkan Jenderal Angkatan Darat. Dimana Dewan Jenderal ini berniat untuk melakukan kudeta terhadap Sukarno. Tentu saja hal ini diangap fitnah oleh kelompok perwira itu.

Ada yang menyebut bahwa kudeta akan dilakukan pada tanggal 5 Oktober 1965. Hal ini nampaknya sulit dipercaya. Tidak pernah ada terlihat bahwa para petinggi AD di SUAD melakukan persiapan kudeta terhadap Sukarno. Petinggi AD tidak melakukan manauver apapun menjelang akhir September. Artinya tidak ada bukt kuat jika AD akan melakukan kudeta pada tangga 5 Oktober 1965. Hanya ada persiapan pasukan RPKAD dalam jumlah kecil di Jakarta untuk diberangkatkan ke Kalimantan dalam rangka memperkuat pasukan dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Soal Dewan Jenderal sediri, tidak ada sebuah komunitas pun yang menyatakan diri sebagai Dewan Jenderal menjelang Peristiwa 30 September. Hanya ada sekelompok Jenderal AD saja yang bersebrangan dengan Sukarno. Mereka juga tidak menyatakan diri sebagai Dewan Jenderal. Jika pun ada yang dsebut Dewan Jenderal, tentunya bukan sebagai institusi resmi. Tidak lebih hanya sekelompok kecil Jenderal SUAD, yang tidak sadar bahwa mereka adalah sebuah komunitas. Mereka adalah orang-orang anti Sukarno.

Mereka punya potensi menjadi junta militer. Seperti yang terjadi di Negara-negara berkembang yang baru merdeka. Hal lumrah di negara seperti itu bagi AD untuk mendirikan junta militer. Jumlah AD berlebih tentu sebuah potensi demi terbentuknya junta militer. Hanya tinggal melakukan kudeta saja.




Letnan Jenderal Ahmad Yani. Orang yang dianggap Dewan Jenderal dan harus bernasib naas di Lubang Buaya karena penculikan bekas pasukan Banteng Raider yang pernah didirikannya.

(http://pahlawannasional-indonesia.blogspot.com/2008/11/jenderal-anumerta-achmad-yani.html)


Apalagi Yani adalah seorang yang ambisius dan kehilangan atas respeknya terhadap Sukarno. Dengan sakitnya Sukarno tentu pertanda akan adanya keekosongan kekuasaan di Indonesia. Jika ada pemilu, maka PKI sangat berpotensi menjadi pemenang. Sebuah hal yang sangat tidak disukai dan tidak boleh terjadi bagi petinggi AD yang anti komunis karena dekat dengan Sukarno.

Nasution, Yani dan kawan-kawan Jenderalnya adalah harimau bertaring menjelang Oktober 1965. Jika mau, mereka bisa melakukan kudeta menjelang Oktober 1965. Dukungan luar tidak perlu diragukan. AS yang anti komunis tentu akan mendukung Jenderal-jenderal AD tersebut untuk merebut kekuasaan dan menggulingkan Sukarno. Dukungan umum dari AD yang terpecah tentu masih mejadi masalah.

Harapan AS adalah menghancurkan kaum komunis Indonesia, yang bisa jadi akan bersekutu dengan Komunis Vietnam atau Republik Rakyat China. Teori Domino AS untuk menghambat komunis juga harus dilakukan di Indonesia. Duta Besar AS, Marshal Green konon tidak bisa berbuat banyak dalam mengontrol kegiatan intelejen AS di Indonesia untuk menghancurkan Sukarno.

Petinggi AD, para jenderal pembangkang itu tentu tidak akan sulit melakukan kudeta jika waktunya tepat. Cukup menggerakan RPKAD dan pasukan lain yang masih pro SUAD saja sebenarnya. Komandan RPKAD adalah Kolonel Sarwo Edhi Wibowo—ayah mertua dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—yang kawan lama Yani. Mereka sama-sama berasal dari Purworejo.

RPKAD bisa dijadikan pasukan utama kudeta. Namun memenuhi pasukan pendukung adalah hal mustahil. AD sendiri memang terpecah. Tidak semua perwira, terutama di daerah, mau dan bisa sepaham dengan perwira tinggi SUAD di Jakarta. Artinya kudeta bisa dilakukan namun dengan mudah bisa dicounter pasukan lain.

Seumpama, Sukarno meninggal tentu jenderal SUAD akan bergerak dengan kekuatan yang ada. Hal ini tentu untuk menghindari berkuasanya kaum komunis. Kekosongan kekuasaan ditengah kekacauan jika Sukarno meninggal tentunya membuat jenderal tertinggi AD, entah Nasution maupun Yani, akan naik sebagai penguasa. Kondisi keamanan sendiri bisa menjadi alasan bagi petinggi AD tadi untuk menjalankan status Negara dalam bahaya. Yang tentunya akan mempermudah tindakan refresif mereka pada kelompok yang akan menentang mereka atas nama menegakan ketertiban dan keamanan.


5. Para Jenderal AD Dimata Kelompok Untung

Bagi kelompok Untung, para Jenderal SUAD itu ditambah Menteri Pertahanan, adalah orang-orang yang tidak loyal pada presiden dan kontrarevolusioner. Anggota kelompok Untung yang membangun komplotan anti Jenderal AD di SUAD, jelas beranggapan bahwa akan ada usaha dari kelompok Jenderal yang mereka cap sebagai Dewan Jenderal itu.

Kelompok Untung tentu begitu yakin jika apa yang mereka lakukan adalah menyelamatkan Presiden dan juga menyelamatkan Revolusi Indonesia yang berusaha dihalangi Dewan Jenderal itu. Dewan Jenderal, dalam hal ini adalah Jenderal-Jenderal AD, yang diantaranya adalah atasan Untung juga, adalah musuh berbahaya dan layak untuk disingkirkan.

Tidak ada alasan lagi bagi Untung sebagai prajurit revolusioner untuk taat pada Jenderal macam Yani dan kawan-kawan SUAD-nya. Sebagai prajurit revolusioner, Untung tentunya hanya tunduk pada Pemimpin Besar Revolusi yang jelas konsisten pada Revolusi Indonesia. Sementara itu, Yani selaku Pemimpin AD dan juga atasan Untung karena Untung sejatinya adalah prajurit AD juga, tidak perlu lagi dianggap pemimpin AD dari sebuah Negara yang menjalankan revolusi. Yani dan kawan-kawannya jelas dianggap sebagai duri dalam daging bagi Presiden dan revolusi.





[1] Angkasa Edisi Koleksi, no 65, Kisah hebat AK-47 & Lima Senapan Legendaris, Jakarta, Gramedia, tanpa-tahun, hlm. 107.



[2] Harold Crouch, Army and Politics In Indonesia, ab. T.H. Sumarthana, Militer & Politik Di Indonesia, Jakarta, Sinar Harapan, 1999. hlm. 107.



[3] Commando, edisi No 1 th IV, 2010. hlm. 72-73.



[4] Angkasa Edisi Koleksi, no 65, Kisah hebat AK-47 & Lima Senapan Legendaris, Jakarta, Gramedia, tanpa-tahun, hlm. 107.



[5] Hendro Subroto, Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Komando, Jakarta Kompas, 2009. hlm. 141-143.



[6] Amelia Yani, Ahmad Yani Profil Sang Prajurit, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1990, hlm. 240.


[7] Teguh Budi Santoso, Pembersihan Jenderal, Dalam http://anusapati.com/?p=45 (Diakses November 2009, pukul 22.00)



Senin, Juli 12, 2010

Akhirnya KNIL Bubar Juga


60 tahun lalu, serdadu-serdadu KNIL makin gelisah menjelang 26 Juli 1950. Mereka meraba masa depan suram sesudahnya.

Sekumpulan pembela ratu Singa itu harus terima kenyataan pahit. Mereka harus dikalahkan oleh Diplomasi yang berpihak pada Indonesia. Padahal, mereka baru saja sukses mendesak kekuatan militer Indonesia pada 19 Desember 1948. Dimana Militer Indonesia hanya bisa bergerilya. Para pembela ratu Singa itu nyaris sukses dengan semakin luasnya wilayah pendudukan Belanda.
Merekalah Koninklijke Nederlandsch Indische Leger. Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Hampir 75% anggotanya adalah pribumi Indonesia. Lebih dari 100 tahun mereka menegakan kekuasaan Hindia Belanda di nusantara. Dimana banyak pemberontakan suci kaum pribumi yang ingin bebas dari kekuasan asing ditindas. Itulah tugas KNIL. Tugas serdadu atau militer professional yang baru muncul di Indonesia. Ada yang menyebut KNIL serdadu bayaran, walau sebenarnya KNIL adalah tentara regular. Seorang penyair menyebutnya bandit VOC.
Meski sempat vakkum di Indonesia, semasa pendudukan Jepang, KNIL dibangun lagi dengan persenjataan lebih canggih dan kostum yang berbeda dibanding sebelum Jepang datang. Dengan pasukan baru yang terdiri dari orang rekrutan dari kamp tahanan Jepang dan lainnya, KNIL tampil lagi sebagai pembela Ratu Singa. Tugas mereka bukan melawan pemberontak, melainkan Negara baru.
Dengan dukungan lebih dari 3 divisi KL dari Negeri Belanda, yang sebagian ogah-ogahan bertempur lawan Negara merdeka, KNIL begitu bersemangat menghabisi kekuatan bersenjata Indonesia. KNIL jauh lebih bersemangat dan lebih bisa diandalkan daripada KL dari Belanda.

Mulai Gelisah

KNIL pun tampil sebagai musuh tentara dan orang Indonesia. Dimana banyak militer Indonesia dulunya juga mantan KNIL sebelum revolusi. KNIL asli Indonesia tampak lebih beringas daripada KL—yang Belanda asli. Hingga mereka kerap disebut Belanda Item. Selama beberapa tahun revolusi, KNIL cukup sukses bertempur.
Hingga datanglah KMB yang begitu menguntungkan Indonesia sebenarnya. Jadilah KNIL sebagai orang kalah secara politis. Ternyata kemenangan militer Belanda tidak diikuti kemenangan politis dalam diplomasi. Serdadu-serdadu KNIL lalu gelisah. Sebuah poin KMB adalah bahwa KNIL akan dimasukan dalam TNI. Padahal TNI adalah musuh KNIL selama hampir lima tahu revolusi Indonesia.
Parahnya lagi gaji mereka di TNI nantinya jauh lebih rendah daripada semasa mereka di KNIL. Di TNI mereka hanya terima upah f. 4 seminggu. Sementara di KNIL mereka bisa terima f. 140 sebulan. Sebuah kondisi yang makin pahit. Kalah secara politis dan terancam miskin. Belum lagi mereka akan bertemu orang-orang bekas musuh mereka yang sudah dipastikan akan memusuhi mereka di barak.
Para serdadu KNIL pun mulai gelisah. Masalah gajih dan kawan yang dulunya musuh yang masih sulit menerima kehadiran meraka. Kebiasaan buruk mereka pada minuman keras, dan sikap temperamental serdadu KNIL, yang tidak bisa diragukan lagi, tentu semakin tidak terkontrol atas kondisi buruk politik Indonesia. Mereka cenderung indisipliner.
Pasca penandatangan KMB, 27 Desember 1949, pikiran mereka terganggu. Hingga dengan mudah diajak oleh jaringan Westerling untuk bertindak rusuh. Tidak heran jika sebagian KNIL kemudian terlibat dalam aksi Angkatan Perang Ratu Adil binaan Westerling—yang tidak menjadi kapten KNIL yang pimpin pasukan khusus Belanda. Aksi APRA itu cukup kesohor di Bandung dan Jakarta.
Kekecewaan KNIL di Makassar pun tidak terbendung lagi. Sepasukan TNI yang terdiri dari satu batalyon pimpinan mayor Hein Worang dikirim ke Makassar. Pemerintah RI begitu bernafsu dan gegabah mengirimkan pasukan Worang. KNIL di Makassar itu menolak kedatangan pasukan pemerintah karena merekalah yang brwenang menjaga kota Makassar. Peristiwa Andi Azis tentu tidak akan terjadi jika pasukan TNI tidak dikirim kesana. Pemerintah harusnya bersbar dan menunda pasukan Worang mendarat. Karenanya, bentrokan KNIL dan TNI disana tidak bisa dihindari.

Dijauhi

Agenda pembubaran KNIL 26 Juli 1950, tentu membuat banyak KNIL frustasi. Meski mereka diberi pilihan untuk masuk TNI atau masuk KL dan ikut ke Negeri Belanda. Selama masa penantian itu mereka biasa berbuat rusuh. Mereka begitu tempramentalnya dengan membuat keributan. Mereka tampak belum puas bertempur melawan tentara Indonesia.

Sebelum KNIL dinyatakan bubar pada 26 Juli 1950, beberapa kerusuhan antara KNIL dan TNI kerap terjadi. Seperti di Bandung, Jakarta, Bogor, Makassar dan Malang. Di Jakarta, Bandung dan Bogor masih terkait dengan peristiwa Westerling.

Saya menemukan nama Letnan Spier, mungkin Emile Spier kata Fredrick Willem kawan saya di Nijmegen, dalam arsif seputar Peristiwa Westerling yang saya temukan di Gedung Arsip Nasional Jakarta. Spier berasal dari KL. Dirinya memiliki beberapa pengikut yang terlibat dalam peristiwa Westerling. Dimana pengikut APRA Cibarusa dipersenjatai olehnya.

Pengikut Westerling yang lain adalah Adjudant Tanasale. Dia KNIL Ambon yang hnya berpangkat Spaandrig (serdadu kelas I) sebelum revolusi Indonesia. Dia anggota Batalyon X di Senen, Jakarta—yang kerkenal ganas dan kejam pada pemuda Pro Republik Indonesia yang mereka temui.

Tanasale konon telah membunuh beberapa orang Indonesia militan hingga pangkatnya dinaikan menjadi adjudant (setara pembantu letnan) di KNIL dimasa revolusi. Ada kabar yang menyebutkan bahwa Tanasale telah masuk TNI dengan pangkat Kapten.

Di Makassar adalah peristiwa Andi Azis. Dimana Kapten Andi Azis yang sudah masuk TNI harus terkena getah dari serdadu gelisah. Pengaruhnya atas pasukan KNIL di Makassar membuatnya terseret dalam masalah yang biangnya adalah pemerintah RI di Jawa yang memaksakan diri untuk mengirim pasukan TNI ke Makassar.

Dan di Malang tidak banyak diketahui. Setidaknya saya belum menemukan buku yang menyebut kerusuhan KNIL di Malang. Dimana sekelompok serdadu KNIL, dari suku Ambon, membuat keributan di Alun-alun Malang. Mereka beselisih dengan orang-orang China. Semula terjadi cek-cok di Bioskop REX Malang. Yang kemudian berlanjut dengan baku tembak di dekat restoran China dekat Alun-alun. Begitu kata arsif yang saya temukan di arsip nasional Jakarta.

Rupanya, banyak juga anggota KNIL dan KL di bioskop. Namun mereka memilih tidak ikut dalam keributan. Karena mereka mengakui kekalahan meraka dalam revolusi Indonesia. Mereka merasa Indonesia adalah Negara merdeka. Sebagai militer mereka hanya mennggu nasib. Ke Belanda atau masuk TNI.

Diantara serdadu gelisah itu. Banyak juga yang memilih tidak bersikap temperamental. Gelisah adalah hal yang biasa dialami di masa perang. Mereka gelisah soal masa depan mereka pasca perang. Inilah yang dialami banyak serdadu KNIL. Hilangnya pekerjaan. Hilangnya kehidupan yang sebelumnya nyaman. Mungkin masih banyak ketakutan akan kehilangan lagi.

Serdadu bawahan KNIL yang hidupanya keras, apalagi pasca revolusi Indonesia yang membuat mereka harus kalah, membuat mereka menjadi orang yang nampak berbahaya bagi banyak orang Indonesia. Mereka kerap dijauhi. Seperti dialami Geritz Kakisima, seorang mantan KNIL dan NEFIS yang masuk TNI. Letnan itu sangat dijauhi meski keahlian militer yang diperlukan TNI.

Dimasa lalu, zaman revolusi, mereka dicap sebagai pengkhianat dan musuh. Tidak heran jika kemudian mereka membuat iri para bekas pejuang yang tidak bisa diterima dalam TNI.

Begitulah nasib KNIL yang harus tumbang oleh revolusi Indonesia. Dan serdadu-serdadunya yang gelisah pun ikut tertelan sejarah di kemudian hari. Mereka hanya bisa timbulkan keributan-keributan menjelang mereka dibubarkan.

120 tahun bukan waktu singkat bagi KNIL berkiprah di Indonesia. TNI pun masih baru separuh usia KNIL sekarang. Suka tidak suka KNIL juga punya kontribusi pada TNI meski sering dinafikan kaum nasionalis anti Belanda. Sementara itu, dari KNIL, petinggi TNI hanya bisa mengambil sisi buruk saja. Seperti hanya bersiap menindas bangsa sendiri daripada bertahan dari serangan luar. Sementara sisi professional KNIL tidak pernah bisa ditiru dengan baik kecuali jadi jargon.

Semoga dimasa depan TNI bisa lebih baik daripada KNIL!!!!

Rabu, Juli 07, 2010

Perwira Polisi Korup: Pemuja Rahasia van Rossen


Beberapa waktu lalu, saya dengar majalah Tempo diborong dalam jumlah besar. Entah oleh kelompok mana? Kemudian, saya baru tahu, jika cover majalah Tempo edisi 28 Juni –4 Juli 2010 itu bergambar polisi senior memegang kekang beberapa ekor celeng (babi) gemuk. Laporan utama edisi itu adalah Rekening Gendut Perwira Polisi. Aksi borong itu tentunya membuat publik berpikir bahwa polisi-lah yang memborong majalah-majalah itu hingga sulit dicari di pasaran.
Beberapa hari kemudian ada berita jika kantor Tempo dilempar bom Molotov. Lagi-lagi tidak tahu pasti siapa pelakunya. Judul artikel beserta covernya itu tentu bias bikin gerah petinggio Polisi, terutama yang merasa memegang rekening. Sebuah tanda bahaya.
Aksi borong dan pelembaran bom Molotov itu, membuat banyak orang berfikir jika polisi ada balik semua aksi tadi. Beberapa orang berpikir, polisi lakukan itu demi menjaga nama baik korps. Tapi kebenaran belum terkuak. Kita semua hanya bisa berspekulasi. Tanpa tahu siapa pelaku sebenarnya. Ini hanya permainan yang menguntungkan pihak tertentu.
Polisi korup bukan hal aneh. Film-film Mandarin, Hollywood, juga film-film Bollywood sudah sering mengangkat cerita tentang polisi-polisi korup. Terutama kelas perwiranya. Anak kecil juga tahu sepertinya.
Polisi bukan sosok yang menyenangkan bagi banyak orang Indonesia. Polisi bahkan bukan pengayom, seperti dalam jargon-jargon mereka. Rasa aman pada masyarakat pun gagal diberikan polisi. Polisi masih hanya sebagai alat politis semata. Polisi hanya dikenal sebagai tukang tilang di jalan raya.

Dulu Memang Ada Yang Begitu

Tidak ada yang kaget soal polisi sekarang korup. Sebelum orang Indonesia, pimpin kepolisian, zaman kolonial sudah ada polisi korup. Tanggal 24 Oktober 1923, suratkabar Oetoesan Melajoe-Perobahan, menulis Asisten Residen Meester Cornelis (Jatinegara), Jakarta, bernama Beck telah diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya. Pemecatan Beck itu terkait dengan penggelapan uang belasting (pajak perorangan). Rupanya, Beck bukanlah pelaku utama, masih terdapat nama komisaris polisi van Rossen dan bekas kepala Accountandiesnt, yang paling aktif berperan dalam penggelapan terkait dengan posisinya sebagai kepala akuntan. Beberapa pelaku penggelapan uang negara itu akhirnya akan dihadapkan ke Raad van Justitie di Betawi (Jakarta).
Kejadian itu bikin gempar pemerintah kolonial Hindia Belanda di Batavia. Pada 2 November 1923 Di Istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jakarta telah diadakan konferensi. Konferensi dihadiri oleh sekretaris pemerintah kolonial, Welter--yang kemudian menjadi Menteri tanah Jajahan Belanda. Pembicaraan konferensi itu mnyengkut siapakah yang akan diajdikan Kepala Komisaris Polisi Betawi pasca terbongkarnya penggelapan yang dilakukan oleh van Rossen--Komisasris Polisi sebelumnya. Lowongan ajun komisaris Polisi Bogor juga dibicarakan. Kali ini pemerintah akan lebih berhati-hati dalam menunjuk seorang komisaris polisi yang membawahi dua daerah penting pusat kekuasaan kolonial Hindia Belanda itu.
Tanggal 6 November 1923 Tersiar kabar bahwa Seorang perwira militer dalam dinas militer Hindia Belanda akan diangkat menjadi Kepala Komisaris Polisi Betawi. Pengangkatan iini terkait dengan terjadinya kecurangan-kecurangan orang-orang dalam tubuh kepolisian Betawi. Tidak hanya perwira, personil lain kepolisian juga akan diambil dari orang-orang Militer, karena orang-orang sipil yang menjadi polisi itu tidak bisa bekerja dengan baik dan jujur.
Tanggal 15 November 1923 Oetoesan Melajoe Peroebahan kemudian juga memberitakan Politie Bond (Perkumpulan anggota Polisi) yang merasa tidak senang dengan rencana pengangkatan orang militer sebagai kepala Polisi di Betawi menyatakn keberatannya. Mereka akan mengajukan keberatan mereka pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Jakarta. Mereka tidak menginginkan adanya campur tangan militer dalam kepolisian dalam wujud pengangkatan seorang perwira militer sebagai kepala polisi yang membawahi wilayah sebesar Betawi. Penolakan ini bermula dari rencana pemerintah kolonial untuk mengangkat seorang perwira militer untuk menggantikan komisaris polisi van Rossen yang terlibat kasus pengelapan uang negara.

Van Rossen Belum Mati

Kasus van Rossen adalah kasus klasik yang kerap berulang. Orang-orang Indonesia tentu bisa, bahkan mudah membayangkan, jika perwira polisi ala van Rossen masih ada. Yang digelapkan tentu bukan lagi uang belasting, seperti zaman kolonial. Bisa uang tilang dari pelanggaran pengendara di jalan raya.
Kawan saya, Oryza Aditama, pernah membaca di sebuah Negara barat, uang tilang bisa membangun jalan layang. Betapa pelanggar hukum pun berkontribusi pada pembangunan. Disini, Indonesia katanya, tidak pernah jelas kemana uang tilang dipergunakan.
Polisi adalah orang bersenjata paling kaya. Seperti para mafia cosa nostra di pulau Sicilia, Itali sana. Bedanya hanya yang berseragam tentu lebih sok suci. Alias pakai bawa nama Tuhan, ketika disumpah sebelum menjadi dan menjabat. Kita tahu sekarang itu omong kosong.
Polisi Indonesia, terutama kalangan perwira tertentunya, seolah dirasuki jiwa-jiwa van Rossen. Bukan jiwa Pancasila—yang rajin diobral di khalayak. Van Rossen adalah contoh pejabat polisi korup yang tentunya tidak patut diitiru.
Meski tidak layak ditiru oleh polisi Indonesia, setelah puluhan tahun Indonesia merdeka,polisi Indonesia adalah masih juga korup. Seperti para polisi yang menjajahnya. Saya yakin polisi Indonesia tidak pernah tahu siapa dan apa yang dilakukan van Rossen, tapi kelakuan van Rossen banyak ditiru sebagian perwira polisi.
Saya tidak tahu nasib van Rossen setelah korupsinya terbongkar. Van Rossen masih tetap ada dan tidak pernah mati, karena sebagian perwira polisi Indonesia adalah pemuja rahasia van Rossen.

Dari Polisi Kebon ke Densus Acak Acak


Seharusnya, orang-orang Indonesia muntah dengan polah sok aksi para polisi yang mengatas-namakan pemberantasan teroris. Menangkap orang yang dicurigai seperti penculik aktivis 1998. Pemeriksaan terhadap tersangka terorisme juga tidak pernah terbuka. Tidak ada azas praduga tak bersalah salah. Bagi sebagian orang tampak hebat. Bagi kemanusiaan itu jelas menjijikan.
Polisi bersenjata semacam Densus 88, katanya dibiayai oleh Amerika Serikat. Wajar jika tunduk pada kepentingan Amerika Serikat untuk memberantas orang yang disebut teroris. Polisi, dalam hal ini Brigade Mobil, memang sudah menjadi alat AS sejak zaman revolusi Indonesia. Ketika CIA-AS tidak percaya pada TNI AD, maka polisi Indonesia dibina untuk menghabisi kaum komunis. Tidak heran jika kemampuan Brimob setara dengan tentara. Sekarang, ketika komunisme habis, maka musuh lain terorisme adalah kelompok Islam garis keras. Dan jika Islam garis keras, entah siapa yang akan dihabisi. Begitulah alat amerika kebanggan Indonesia itu. Sejarahnya juga cukup panjang.

Polisi Kebon
Zaman Hindia Belanda terdapat istilah Veldpolitie. Di Italia terdapat istilah Carabinieri. Semacam pasukan para-militer. Tidak diketahui, Negara mana yang menggunakan pasukan semacam ini untuk pertama kalinya. Namun di Eropa pernah ada pasukan marechaussée—yang di Indonesia disebut Marsose.
Di Hindia Belanda, Marsose adalah pasukan gerak cepat dengan seragam hijau dengan tanda garis bengkok warna merah pada lengan dan leher terdapat gari merah. Dalam tugasnya, mereka dibekali senjata khas penduduk setempat, semacam klewang. Mereka memakai bedil dengan ukuran yang lebih pendek dari bedil biasa, karaben. Mereka tidak tergantung pada angkutan militer dan biasa berjalan kaki. Mereka tidak bergantung pada jalur suplai logistik.
Pemerintah Kolonial sendiri memiliki pasukan para-militer di kepolisian. Mereka bersenjata karena biasa dikerahkan menghadapi para pemberontak dan perusuh yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah kolonial yang dirasa menindas. Pasukan para-militer ini setidaknya sudah ada sejak 1919.
Pada 17 Februari 1919, Mr. Hoorweg berangkat ke Jawa Tengah dengan tujuan akan membentuk veldpolitie (polisi lapangan). Awalnya ada kabar yang menyatakan bahwa van Hambracht akan diangkat menjadi inspektuur (inspektur) dari veld politie. Tetapi kabar tersebut seakan sirna saat diketahui bahwa tahun ini van Hambracht ada keinginan untuk pergi ke Eropa dan telah mendapatkan ijin dari atasannya.
Awalnya veld politie ini bernama Gewapende Politie (polisi bersenjata). Tugasnya antara lain, Menjaga keamanan dan ketertiban serta meredam segala konflik dengan tetap menjunjung tinggi hukum sipil agar tindakan yang merupakan tugas aparat militer tidak terjadi. Veld politie inilah yang bisa dikatakan sebagai organ polisi pertama kali yang kontak secara langsung terhadap beberapa perlawanan massa, sebelum aparat militer turun tangan secara langsung jika situasi benar-benar sudah tidak terkendali. Brimob POLRI saat ini sebenarnya sedikit banyak juga merupakan metaforfosis dari paramiliter era penjajahan Belanda ini.

Semakin hari, karena semakin panasnya gerakan perlawanan kaum Merah, maka pada 31 Maret 1927 Departemen Dalam Negeri berencana melakukan Perluasan polisi dengan penambahan veldpolitie (polisi kebon).
Kerusuhan adalah gangguan yang dialami oleh pemerintah Kolonial yang ingin menegakan Rush en Orde. Salah satunya adalah pencegahan menghindari kerusuhan besar karena bentrokan kecil di Banten tahun 1932. Banten sendiri pernah terjadi pemberontakan beberapa kali. Jadi kali ini Pemerintah Kolonial langsung mengirimkan pasukan Veldpolitie-nya.
Veldpolitie juga tidak hanya menanggulangi kerusuhan tapi dilibatkan juga dalam membantu tugas polisi lain. Seperti penggerebegan pabrik minuman keras. Seperti yang terjadi pada 30 Maret 1930. Dimana Petugas Veldpolitie di Tebingtinggi, tidak jauh dari Simujur, Sumatra Utara, ikut membongkar sebuah pabrik minuman keras yang tertangkap basah sedang melakukan kegiatan membuat minuman keras. Enam buah ketel, lima buah tong dan 15.000 tapeh disita. Dalam sehari pabrik tersebut dapat memproduksi 100 kaleng arak. Namun dari 10 orang pembuat arak, hanya 3 orang yang tertangkap, salah seorang yang tertangkap adalah penghulu.
Pasukan paramiliter Veldpolitie jelas dibutuhkan kehadirannya oleh pemerintah kolonial. Karena kehadiran militer sebisa mungkin dibatasi oleh pemerintah kolonial. Jadi Veldpolitie begitu diandalkan untuk menjaga ketertiban masyarakat di daerah yang pernah terjadi pemberontakan.
Tentu saja Pemerintah Kolonial menaruh perhatian begitu besar pada kesatuan Veldpolitie ini. Selain penambahan personil, tentunya pemerintah berpikir untuk melokalisasi tempat tinggal anggota Veldpolitie agar bisa digunakan sewaktu-waktu. Karenanya sebuah tangsi bagi tempat tinggal dan koordinasi agar kerja Veldpolitie efektif, seperti halnya KNIL.

Lalu Jadi Polisi Istimewa
Menjelang runtuhnya Hindia Belanda, Veldpolitie masih ada. Meski kemudian nama Veldpolitie tidak disebut, namun sejarah Veldpolitie atau Polisi Lapangan masih ada walau sempat sementara waktu dizaman Jepang. Hanya berganti sistem, bentuk, nama dan juga ditambah fungsinya namun intinya tetap saja sebagai pasukan polisi bersenjata yang bisa bergerak kemana saja.
Pemerintah militer Jepang menginginkan adanya tenaga cadangan yang dapat digerakkan dengan cepat dan memiliki mobilitas yang tinggi. Jika keadaan memerlukan, cadangan polisi ini dapat berperan sebagai tenaga tempur, keinginan ini akhirnya terealisasi dengan terbentuknya polisi khusus yang disebut Tokubetsu Keisatsu Tai (Pasukan Polisi Istimewa) pada April 1944.
Anggotanya terdiri dari para Polisi Muda serta Pemuda Polisi. Tokubetsu Keisatsu Tai didirikan di setiap keresidenan seluruh Jawa-Madura dengan fasilitas persenjataan lebih lengkap daripada Polisi Umum. Para calon anggota Tokubetsu Keisatsu Tai diasramakan serta memperoleh pendidikan dan latihan kemiliteran dari tentara Jepang. Maka dari itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa anggota Tokubetsu Keisatsu Tai adalah pasukan yang terlatih, berdisiplin tinggi, terorganisasi dengan rapi dan memiliki persenjataan yang cukup baik.
Di setiap keresidenan wilayah Jawa-Madura pada akhir tahun 1944 telah dibentuk Tokubetsu Keisatsu Tai dengan kekuatan satu kompi yang beranggotakan 60 sampai 200 orang, tergantung pada situasi wilayah kompi tersebut berada di bawah kekuasaan Polisi Keresidenan, umumnya Komandan Kompi berpangkat Itto Keibu (Letnan Satu).
Ketika Jepang menyerah kalah kepada sekutu dan kemudian Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, pada saat itu pula ‘masa penggemblengan’ Tokubetsu Keisatsu Tai telah cukup. Bersama-sama dengan rakyat dan berbagai kesatuan lainnya, anggota Tokubetsu Keisatsu Tai telah bahu-membahu ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Tentu saja memberi pengaruh pada polisi di Indonesia. Jika anggota PETA dipulangkan dan senjata dilucuti, maka polisi sebagai penjaga ketertiban masih menyandang senjatanya. Jadi polisi adalah satu-satunya kesatuan militer yang masih utuh, baik personil dan persenjataan ketika Revolusi Indonesia dimulai.
Selanjutnya, satuan polisi bersenjata tinggalan Jepang itu menamakan diri mereka Polisi Istimewa yang tunduk pada Proklamasi Sukarno Hatta 19 Agustus 1945. Selanjutnya Polisi-polisi harus bekerja lebih keras daripada sebelum laykanya tentara. Mereka tidak sempat jalani tugas sebagai polisi penertib. Mereka terpaksa jadi pasukan tempur atas tuntutan revolusi Indonesia—yang dalam bahaya karena kedatangan Tentara Belanda dengan KNIL-nya.

Jadi Brimob
Dalam usaha penyempurnaan Pasukan Polisi Istimewa, yang ketika itu masih terdapat banyak sebutan seperti Polisi Istimewa, Pasukan Polisi Istimewa, Barisan Polisi Istimewa, maka Komisaris Polisi Soemarto, yang ketika itu menjabat Wakil Kepala Kepolisian Negara mempunyai inisiatif agar Pasukan Polisi Istimewa diubah namanya menjadi Mobile Brigade (Mobrig) dan kemudian akhirnya menjadi Brimob. Dizaman pergolakan daerah dekade 1950an, Brimob juga ikut terjun menumpas pemberontakan daerah seperti PRRI/Permesta dan DI/TII.
Republik Indonesia pernah mendapat bantuan pelatihan militer dari Amerika. Latihan militer itu lalu diberikan pada Polisi bersenjata atau Brimob. Tentu saja kemudian Brimob menjadi semakin membangun diri sebagai kesatuan paramiliter yang memiliki kemampuan tempur seperti halnya pasukan darat milik Angkatan darat. Tidak heran diakhir orde lama Brimob dan KKO menjadi kekuatan yang cukup diperhitungkan.
Polisi brsenjata itu juga kemudian mendapat senjata AR-15—yang cukup mutakhir dizamannya. Tidak banyak kesatuan militer RI lain yang memilki senjata macam itu dizamannya. Senjata buatan Amerika Serikat itu adalah saingan AK-47 yang legendaris.
Brigade Mobil itu tentunya diperhatikan oleh Amerika Serikat—yang sedang giat-giatnya melakukan propaganda anti komunis. Tentu ada maksud dalam memperkuat Brimob. Tentu demi menghancurkan kaum komunis.

Mengacak Rumah
Ancaman terorisme, yang cendrung pro Marxis, di tahun 1970an, membuat banyak Negara di dunia barat maltih kembali polisi bersenjata mereka. Hingga akhirnya lahirlah semacam tim SWAT dalam penanggulangan teroris itu. Di Jerman Barat, yang mendapat serangan teroris dalam Olimpiade Munich, terpaksa membentuk tim polisi khusus legendarisnya, GSG 9 yang menjadi kiblat polisi khusus dunia.
Di Indonesia, juga terdapat Gegana. Hingga kemudian terbentuklah Densus 88. Dengan tujuan yang tentu sama dengan GSG 9 milik Jerman. Densus memdapat peralatan tempur terbaik tentunya. Seperti senapan MP 5 maupun senjata api dengan tingkat akurasi yang cukup baik. Selama ini, tim ini cukup mendapat pujian dari kepala Negara. Namun juga kritik atas aksi mereka di Temanggung yang dianggap beberapa pihak tidak efktif.
Aksi densus 88 di Temanggung itu terkesan serampangan. Karena banyak tembakan sia-sia yang dilakukan tim densus ke arah rumah dimana seorang yang diduga gembong teroris. Padahal orang yang mereka serang jelas lemah dan bukan perkara sulit, karena sudah terkepung. Aksi buang peluru itu tentu sangat mengganggu penduduk sekitar area penangkapan.
Selain aksi di Temanggung, masih di daerah Jawa Tengah, tim densus juga menggeladah rumah yang diduga dihuni oleh seorang teroris. Banyak orang tidak percaya atas dugaan polisi itu. Di rumah itu polisi tidak menemukan apa-apa. Sebuah pekerjaan sia-sia. Satuan yang banyak habiskan uang ini tidak berbuat banyak pada rakyat Indonesia. Hanya tuduhan dan isu keji atas seseorang sebagai teroris saja yang bias ditebar satuan ini. Juga kerusakan akibat aksi main tangkap yang sok aksi layaknya film Hollywood.
Sebaiknya Densus 88 kita sebut Densus Acak-acak yang tidak berguna bagi sebagian rakyat Indonesia, kecuali beberapa elit pemerintah yang begitu sujudnya pada kepentingan AS. Akan lebih berguna jika satuan ini dikerahkan untuk menghabisi kapal-kapal asing pencuri kekayaan laut Indonesia.

Rabu, Juni 30, 2010

Enrekang-Tana Toraja, Negeri Diawan


Menginjak Tana Toraja membuat saya bernyanyi sebuah lagu yang populer waktu saya kecil. Negeri Diawan judulnya. Yang video klipnya sangat bagus sekali.
Naar de Tana Toraja
Saya terbangun ketika bus malam yang saya tumpangi sudah mencapai Enrekang. Artinya, dari Makassar saya sudah melewati Maros, Pangkajane Kepulauan, Barru, Pare-pare dan Sidrap. Saya teringat, pemandangan di jalan-jalan menuju Tana Toraja begitu indah. Saya pun tidak bisa memejamkan mata lagi. Hari masih subuh, namun pelan-pelan pemandangan indah mulai terlihat.
Pelan-pelan, hari mulai terang. Barisan pegunungan yang berselimut kabut begitu indah di daerah Enrekang. Jalan menuju Tana Toraja dari Enrekang terus menanjak. Serasa bus akan mendekati awan.
Setelah melewati kota Enrekang yang begitu kecil, bus terus berjalan menanjak lagi mengitari lereng-lereng gunung. Di seberang gunung, masih ada gunung lagi yang lebih tinggi dengan dengan hanya dibatasi sebuah jurang yang cukup jalan. Sekitar 59 KM dari Enrekang, bus akhirnya melewati perbatasan Toraja-Enrekang. Di perbatasan itu terdapat sebuah gerbang tak berpintu dengan dilengakapi beberapa ruangan sebagai pos.
Ketika pagi datang, Tana Toraja masih menyisakan kabutnya. Meski hari sudah terang, beberapa pucuk gunung masih diselimuti kabut. Bukan hal buruk. Namun sebaliknya, disinilah daya tariknya Tana Toraja yang berada di dataran tinggi Sulawesi Selatan.
Pemandangan khas dari Tana Toraja adalah bentuk rumahnya yang agak mirip dengan suku Batak. Menyerupai bentuk tanduk. Bangunan unik khas toraja itu, yang saya lihat kali ini lebih kecil. Sebuah bangunan yang sebenarnya berfungsi sebagai lumbung. Bangunan yang lebih besarlah yang dimanfaatkan sebagai rumah untuk ditinggali sebuah keluarga.
Orang-orang Toraja masih mempertahankan kebudayaan lamanya. Yaqng tentunya sangat berbeda dengan suku Bugis atau Makassar yang terpengaruh Islam. Menurut Yamin Buan, kawan saya yang asli Toraja yang sekarang tinggal di Makassar, agama asli orang Toraja adalah semacam Animisme. Agama yang sekarang berkambang disana masuknya belakangan. Dibeberapa wilayah bahkan baru dianggap beragama ala pemerintah ketika zaman orde baru.
Sebuah pemberontakan terbesar di Sulawesi Selatan, yang mengatasnamakan sebuah agama dominan, konon agak memaksakan masuknya sebuah agama yang dianut pemberontak. Anda yang pernah baca buku sejarah Indonesia pasti bisa menebak agama apa itu, saya enggan sebut merek.
Orang-orang Toraja yang saya lihat adalah orang dengan kulit bersih karena alam mereka yang sejuk. Mereka biasa menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Toraja sebagai bahasa ibu. Meraka salah satu masyarakat agraris dengan lahan pertanian yang subur.
Mereka tergolong sebagai masyarakat yang hidup modern, namun masih menjalankan tradisi lama, seperti pemakaman ala Toraja yang menghabiskan banyak dana. Mempertahankan penguburan orang yang sudah meninggal di bukit berbatu.
Beberapa hari sebelum saya injakan kaki di tanah Toraja, Tana Toraja, terutama di Makale—pusat pemerintahan Kabupaten Tana Toraja—begitu mencekam. Sekelompok masssa yang menolak hasil PEMILUKADA menyerang kantor KPUD Tana Toraja. Kotak suara hasil pilihan rakyat pun dibakar dan menuntut pemilihan ulang. Ketika saya melewati kantor KPUD, kantor itu masih diberi segel oleh polisi.
Selain Makale di Kabupaten Tana Toraja, di kabupaten Toraja Utara yang baru dimekarkan terdapat Rantepao. Keduanya adalah pusat kabupaten. Jarak dua daerah itu sebenarnya berdekatan. Hanya butuh waktu 15 menit dengan berkendaraan mobil. Keduanya adalah kota kecil yang cukup teratur. Makale tidak sedatar Rantepao.

Upacara Kematian
Ada beberapa kuburan batu di Tana Toraja dan Toraja Utara. Semuanya memiliki daya tarik. Upacara pemakaman orang Toraja juga memiliki daya tarik bagi pihak luar. Meski sebenarnya berkabung, upacara pemakaman yang besar-besaran itu terkesan seperti pesta.
Dari pengakuan orang-orang Toraja yang saya kenal, pemakaman itu ramai dan harus memotong banyak kerbau karena banyak anggota keluarga jauh datang menghadiri acara pemakaman itu.
Sebagai bentuk penghormatan pada tamu yang datang, yang kebanyakan dari luar daerah karena banyak orang Toraja merantau jauh dari Toraja, diluar Sulawesi Selatan tentunya. Dan perjalanan menuju Tanah Toraja tentu saja menguras banyak tenaga, maka menghidangkan makanan dalam jumlah besar menjdi keharusan. Tidak hanya bagi sanak keluarga yang dtang dari jauh saja, tapi juga semua yang hadir dalam acara. Itulah jawaban orang-orang Toraja atas betapa mahal dan ramainya upacara kematian keluarga mereka yang telah pergi.
Dalam upacara kematian biasanya dipotong beberap ekor kerbau. Padahal harga kerbau di Toraja cukup tinggi. Maklum, postur kerbau Toraja cukup besar dan nampak sehat. Kerbau Toraja umumnya berbulu. Dan kerbau Toraja adalah harta penting petani Toraja. Sebelum dipotong, kerbau diadu terlebih dahulu. Adu kerbau tentu menjadi tontotan yang mengasyikan bagi banyak orang. Cara penyebelihan kerbau pun dengan mengikuti tradisi lama.
Kadang, upacara penguburan menjadi agenda yang ditunggu-tunggu banyak wisatawan dari luar Tana Toraja. Paling ramai adalah ketika musim libur, dimana banyak anggota keluarga bisa berkumpul lebih banyak.

Menikmati Kota Kecil
Sebenarnya, Tana Toraja cukup menyenangkan. Alam dan kultur masyarakatnya yang masih asli cukup menyenangkan. Karena saya juga penasaran pada daerah lain di Tana Toraja, maka saya tidak bisa berlama-lama di Tana Toraja. Saya harus menuju Enrekang, yang subuh tadi saya lewati. Penginapan di Enrekang jauh lebih murah daripada di Tana Toraja. Jika ingin berhemat, untuk menginap ketika mengunjungi Tana Toraja dalam waktu yang singkat, sebaiknya menginap di Enrekang. Apalagi jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 59 KM.
Daerah ini memiliki pesona alam yang tidak kalah indahnya dengan Tana Toraja. Enrekang memiliki Gunung Latimojong, yang merupakan Gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Enrekang juga punya gnung eksotik yang dikenal orang sebagai Gunung Nona, karena bentuknya yang menyerupai payudara wanita. Gunung ini dapat dilihat dalam perjalanan dari Enrekang ke Tana Toraja.
Enrekang dan Tana Toraja memiliki kultur masyarakat yang berbeda. Toraja adalah suku tersendiri di Sulawesi Selatan selain Makassar dan Bugis. Seperti ditulis Pelras. Sementara Enrekang, meski dianggap sebagai bagian dari suku Bugis, lebih merasa sebagai bagian dari Mesenrempulu. Sebuah komunitas yang memiliki perbedaan bahasa dengan Bugis.
Sebenarnya ingin mencari tahu sejarah Enrekang. Tapi sulit mencari jejaknya. Kecuali sebuah monumen perjuangan laskar Harimau Indonesia dan BPRI di jalan poros. Sebuah saksi bisu perjuangan dua laskar penting di Sulawesi Selatan. BPRI (Badan Pemberontak Republik Indonesia) terdapat ditempat lain di Indonesia. Dimana Soetomo alias Bung Tomo, tokoh penting 10 November 1945 adalah pimpinannya. Sementara Harimau Indonesia, hanya ada di Sulawesi Selatan. Walter Manginsidi pernah terlibat dalam laskar ini dalam menghadapi tentara Belanda. Selain monumen tadi, saya hanya ingat jika pasukan pemberontak pimpinan Kahar Muzakar pernah bergerilya melawan TNI di pegunungan Enrekang.
Perjalanan panjang dari Makassar Tana Toraja tentu melelahkan. Sekarang waktunya istirahat. Sambil menikmati dua tanah yang saya sebut saja Negeri di Awan, karena kabut begitu rajin datang kemari.

Senin, Juni 28, 2010

Ziarah Minggu Pagi


Sekian lama di Makassar, saya lebih sibuk kunjungi kota diluar Makassar. Hari inilah saya bisa menyusuri sedikit situs sejarah Makassar dan Gowa.


Hari minggu lagi. Bangun pagi lagi. Kali ini, dengan sepeda motor pinjaman Acil. Dengan badan masih bau, saya meluncur ke Jalan Peristis Kemerdekaan-Urip Sumoharjo-A.P Petarani-Sultan Alaudin-Sultan Hasanudin. Acara pagi ini hanya cuci-mata. Tentu saja ke situs sejarah seperti biasa. Sebuah ritual yang terus saya lakukan sejak kuliah sejarah.

Ada yang kurang dalam perjalanan saya. Mengunjungi makam pemberontak terhebat dalam sejarah Indonesia. Arung Palaka namanya. Saya memasukannya, dan dengan bangga pernah menulis artikel tentangnya dalam buku Pemberontak Tak Selalu Salah: Seratus Pembangkangan di Nusantara.

Saya mengira Arung Palaka dimakamkan di Bone. Ternyata tidak. Di Bone hanya ada keturunan dan penerusnya saja. Beberapa minggu lalu, Andi Irvan Zulfikar menyarankan saya mengunjungi makamnya di Gowa. Dia juga menyarankan saya mengunjungi makam Syech Yusuf—seorang pemuka agama Islam tersohor asal Sulawesi Selatan. Mungkin sekarang saatnya.

Ketika mencapai perbatasan Makasar-Gowa, saya mulai menurunkan kecepatan motor. Saya mencari jalan masuk ke makam Arung Palaka. Saya tidak menemukan plang tulisan Makam Arung Palaka, padahal saya melihatnya tiga hari yang lalu ketika kembali dari Selayar.

Maksud hati saya semula adalah menuju Makam Arung Palaka, namun yang saya temukan justeru makam Sultan Hasanudin. Tanpa pikir panjang, saya ikuti juga plang itu dan berbelok, menuju Makam Sultan Hasanudin. Setelah bertanya arah makam pada seorang tukang besak, saya temukan juga makamnya. Sebuah bangunan gaya lama dan cukup besar.

Makam Sultan Hasanudin, nampaknya bergaya Eropa. Tentu saja ada plang bertulis Pahlawan Nasional-nya. Sayangnya saya hanya bisa memotret sedikit dari luar saja. Tak apalah, saya tidak bisa berlama-lama di depan makam. Saya kembali pada tujuan semula, makam Arung Palaka. Karena masih agak lupa saya ke Balalompoa, rumah kebesaran kerajaan Makassar di Gowa. Bangunan ini cukup megah dan menjadi symbol kebesaran Gowa dimasa lalu. Hanya sebentar saja di Balalompoa, yang masih dalam perbaikan. Hanya memotret dari jauh saja.

Saya pun kembali mencari makam Arung Palaka lagi. Saya kembali ke jalan yang saya lewati sebelumnya dan mengamati plang-plang dipinggir jalan raya yag saya lewati. Akhirnya saya menemukan gerbang bertulis Makam Arung Palaka. Saya pun girang dan langsung menuju makam.

Jalanan menuju Makam Arung Palaka tidak sebagus jalanan ke Makam Sultan Hasanudin. Namun makam Arung Palaka lebih mudah dijangkau dengan berjalan kaki dari jalan raya.

Seperti halnya Makam Sultan Hasanudin, Makam Arung Palaka juga bergaya Barat juga. Terbuat dari batu dan berwarna putih. Makamnya cukup megah dari luar meski agak berlumut, seperti bangunan tua lainnya. Meski dimakan usia, baik makam Sultan Hasanudin maupun Arung Palaka sama-sama masih tampak kokoh.

Rupanya makam Arung Palaka sedang terkunci, maka saya hanya memotret dari luar saja. Meski saya tahu Arung Palaka bukan komunis maupun Sosialis, namun karena perjuangannya juga melawan penindasan maka saya menyanyikan dalam hati lagu Internasionale yang legendaris itu. Sebagai bentuk penghormatan saya atas pejang kemanusiaan yang berani berontak melawan penindasan.


"Bangkitlah kaum yang tertindas. Bangkitlah kaum yang lapar. Cita mulia dalam perjuangan. Senantiasa bertambah besar. Pikirkan adat paham lama, kita masa rakyat yang sadar. Dunia telah berganti rupa, untuk kemenangan kita. Perjuangan Penghabisan, bangkitlah melawan. Internasionale pasti jaya di dunia.Perjuangan Penghabisan, bangkitlah melawan. Internasionalepasti jaya di dunia."

Ini adalah lagu pemberontakan rakyat tertindas di seluruh dunia. Namun Arung Palaka dan pembebas lain dunia banyak yang berjuang sebelum lagu ini ada. Setelah itu saya pergi dengan bangga karena pernah berkunjung ke makam Arung Palaka.

Selanjutnya saya memacu kendaraan saya ke arah Benteng Sombaopu. Benteng terpenting milik Kerajaan Makassar melawan VOC dan sekutunya. Hanya sekitar 30 ment saja dari Makam Sultan Hasanudin dan Makam Arung Palaka. Benteng ini cukup besar dan menjadi pusat perekonomian di Sulawesi Selatan abad XVII. Dimana beberapa perwakilan asing seperti Portugis, Denmark, China dan Belanda pernah berkantor di sekitar benteng.

Di komplek situs sejarah benteng Sombaopu, terdapat museum Kareng Patingalong. Sebagai penghormatan pada penguasa Tallo yang begitu peduli pada ilmu pengetahuan. Dia adalah guru dan pelindung Arung Palaka ketika di Gowa, sebelum berontak. Sangat sedikit koleksi museum ini.

Setelah puas memotret saya meninggalkan komplek benteng Sombaopu. Jadi saya sudah menziarahi empat situs sejarah. Mulai dari makam Sultan Hasanudin; Istana Bolalompoa; makam Arung Palaka dan Benteng Sombaopu. Selanjutnya saya meluncur dengan sepeda motor pinjaman ke arah kota Makasar. karena asal jalan, saya tersesat. berkat jurus primitif saya ketika tidak tahu, bertanya, maka saya pun selamat. Seseorang menunjukan pada saya arah jalan raya menuju Makassar. Tidak butuh uang, cukup bermodal senyum saja.

Ternyata saya menyusuri jalan raya yang melewati Trans Studio, sebuah tempat wisata yang cukup besar. Dimana Yusuf Kalla dianggap berjasa dalam pembangunannya. Setelah itu saya ,elewati pantai Losari yang cukup ramai. Maklum hari minggu. Sebenarnya saya ingin ke Fort Roterdam, namun saya tidak tahu persis dimana tempatnya. Maka saya tunda dulu.

Saya pun berjalan ke arah Masjid Al Markaz-yang dibangun mantan Jenderal M Yusuf. Saya pun teringat plang bertulis makam Diponegoro ketika baru sampai di Makassar, tiga minggu sebelumnya. Saya pun mencari plang itu dan menemukannya. Saya ikuti plang itu dan menemukan juga makam Diponegoro. Pemberontak yang tidak diakui oleh kaum nasionalis. Malang sekali.

Bagi saya Pangeran Diponegoro jelas-jelas berontak pada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Meski bukan hal memalukan, menganggap Diponegoro sebagai Pemberontak karena tujuan dia berontak sangat mulia juga, melawan keserakahan pemerintah kolonial yang sok modern dengan menyerobot tanah makam leluhur Diponegoro dan kemudian membangun rel keretapi diatasnya. Sebuah hal politis untuk mencap semua pemberontak adalah salah. Karena teladan dan kharisma Diponegoro yang besar, maka gelar suci Pangeran DIponegoro sebagai pemberontak hebat di nusantara pun dihilangkan. Dasar Nasionalis picik.

Kampung kelahiran nenek saya adalah kampng yang berdiri pasca Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro. Setelah Diponegoro ditawan, maka pengikutnya pun bubar dan membangun banyak kampung di sekitar daerah Temanggung, Bagelen dan lainnya. Jadi riwayat saya maski tersangkut oleh Diponegoro, meski saya bukan turunannya. Mungkn keturunan pengikutnya.

Dengan makam Pangeran Diponegoro, maka sudah lima situs saya ziarahi. Selanjutnya saya kembali lagi ke Tamalanrea, basecamp saya. Untuk menulis lagi tentang perjalanan ini. Dan tentu saja mengembalikan sepeda motornya Acil.

Jika saya hidup di zaman perang Jawa, saya memilih ikut berontak dengan Pangeran Diponegoro. Dan jika saya hidup di zaman orang Bone dikerja-paksakan, maka saya memilih bergabung dengan Arung Palaka, meski saya bukan orang Bugis.