Selasa, Juni 12, 2012

Samin Surantiko: Pembebas Kaum Kromo


Tanah kering di Blora yang kaya hutan jati itu ternyata memiliki sosok Mahatma Gandhi yang telah membentuk masyarakat komunalnya seperti Utopia-nya Thomas Robert More. Sejarah Indonesia telah mencatat perlawanan Samin Surantiko, walau hanya sedikit.

 

Potret Samin Sang Pencerah dan Pembebas Kaum Kromo
 
Sebenarnya orang-orang Samin setelah kematian sang pemimpinnya yang bernama Samin Surontiko, tidak suka dijuluki Samin. Kata Samin memiliki konotasi bodoh, tapi bukan kebodohan karena tidak atau kurang cerdas, tetapi bodoh yang keras kepala dalam mengukuhkan pendirian mereka. [1] Orang-orang Samin lebih suka dijuluki Wong Sikep (orang yang bertanggungjawab dalam konotasi baik dan jujur). [2]
Samin yang awalnya nama seorang pernah melawan kekuasaan dengan cara yang unik itu, kini menjadi kata juga cemoohan. Kata samin yang menjadi bahan ejekan bisa jadi bersifat politis. Hal ini diciptkan oleh penguasa yang telah menghancurkan perlawanan tanpa kekerasan ditambah sebuah ejekan. Samin yang semula adalah berusaha memanusiakan manusia, telah dijadikan ejekan yang tidak manusiawi. [3] 
Samin yang kadang diartikan bodoh ini telah menutupi keharuman nama samin dalam sejarah perlawanan sosial di Indonesia. Samin adalah sosok gerakan sosial yang nyaris dilupakan dalam sejarah. Samin bisa disejajarkan dengan Pitung Robinhood Betawi yang juga dikecilkan dan nyaris tidak disebut dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Samin telah meninggalkan masyarakat Samin yang telah dibentuknya lebih dari seabad lalu.   Masyarakat Samin adalah masyarakat eksklusif yang hidup komunial dibeberapa kabupaten diutara perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Mereka memulai perlawannya dari sebuah protes atas program perluasan hujan jati oleh pemrintah kolonial dan pendukung pribuminya. Lama-kelamaan gerakan ini berkembang menjadi gerakan kebatinan yang menentang segala bentuk formalitas. Seperti administrasi negara dan lembaga sekolah. Hal menarik dari Samin adalah mereka menolak membayar pajak. [4]
Perlawanan Tanpa Kekerasan dan Masyarakat komunal gaya Samin
Mereka tidak mau membayar pajak kepada pemerintah manapun di zaman kemunculannya; kepada penguasa lokal pribumi; juga pada pemerintah kolonial Belanda. Ini juga salah satu ajaran politik Samin Surontiko yang membuat pemerintah kolonial berang dan menindaknya. Dalam ajaran Samin ada tradisi lisan:
"Dhék jaman Landa niku njaluk pajeg boten trima sak legané nggih boten diwéhi. Bebas boten seneng. Ndandani ratan nggih bebas. Gak gelem wis dibébaské. Kenék   jaga ya ora nyang. Jaga omahé dhéwé. Nyengkah ing negara telung taun dikenék kerja paksa." (Di zaman Belanda dulu orang-orang membayar pajak bukan berdasar sukarela, tetapi atas paksaan (ditentukan besarnya) hingga orang-orang (Samin) tidak mau membayarnya. Mereka tidak senang. Memperbaiki jalan tidak mau. Dikenai ronda mereka juga tidak senang; lebih baik menjaga rumah. Bila berselisih dengan pemerintah mereka akan dikenakan hukuman kerja paksa.) [5]

Keengganan orang Samin untuk membayar pajak juga pernah disaksikan oleh sorang wartawan yang berkunjung ke Rembang. Seorang Samin diperiksa seorang patih karena tidak mau membayar pajak. Patih bertanya: "Kamu masih hutang 90 sen kepada negara." Orang Samin itu bilang: " Saya tak hutang kepada negara." Patih naik darah lalu bicara dengan nada memaksa: "tapi kamu harus bayar pajak." Orang Samin itu menjawab lagi: "Wong Sikep (orang Samin) tak kenal pajak." Jawaban tadi terlalu berani menurut patih. Seorang polisi yang duduk disebelah orang Samin tadi lalu disuruh menampar muka orang Samin itu. Reaksi orang Samin yang tenang-tenang saja atas pemukulan itu semakin membuat patih marah. Lebih lanjut sang patih bertanya lagi: "Apa kamu gila tau pura-pura gila?" Orang Samin menjawab: "saya tidak gila atau pura-pura gila." Patih lalu bilang lagi: "Kamu biasanya bayar pajak, kenapa sekarang tidak?" Orang Samin menjawab sambil balik bertanya: "Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang, kenapa negara tak habis-habisnya minta uang?" Dengan lagak birokratnya patih bilang: "negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak mempunyai cukup uang, tak mungkin merawat jalan dengan baik." Orang Samin berargumen lagi: "Kalau menurut kami keadaan jalan-jalan itu tidak mengganggu kaki, kami akan membetulkan sendiri." Patih lalu membentak: "jadi kamu tak mau bayar pajak." Sekali lagi orang Samin menjawab dengan mantap: "Wong Sikep tak kenal pajak." Berargumen sepeti orang Samin tadi tentu saja membutuhkan keberanian luar biasa. Dizaman itu priyayi rendahan masih ditakuti; karena dianggap perpanjangan tangan dari raja Jawa, kadang tiap katanya kadang harus diikuti. [6]
 Apa yang dipegang oleh orang Samin dalam kutipan diatas adalah salah satu bentuk perlawanan tanpa kekerasan. Ciri pemberontakan Samin memang tanpa kekerasan. Cara perlawanan mereka yang individual adalah umum. Dunia luar hanya mengenal Mahatma Gandhi dari India, nama Samin tidak dikenal sama sekali. Ketika gerakan Samin sedang berkembang, Gandhi sedang di Afrika Selatan; sebagai pengacara dan masih mencari jati dirinya sebagai seorang Mahatma (jiwa yang agung). Kesamaan antara Gandhi dengan Samin adalah perlawanan mereka terhadap kolonialisme kulit putih yang merengut kemanusian kulit berwarna diluar benua kulit pucat, Eropa. Gandhi sendiri mengakui bahwa perlawanan tanpa kekerasan bukan hal baru. Sebelum dia mejalankannya, memang sudah ada   perlawanan tanpa kekerasan, namun tanpa nama. [7]

Orang-orang Samin bukan orang berpendidikan Modern. Cara perlawanan mereka kepada penguasa sangat unik. Ketika mereka diperintah oleh penguasa memindahkan onggokan batu, mereka hanya memindahkannya satu saja dan membiarkan batu-batu yang lainnya. Ketika mereka disuruh mengangkat kayu untuk dipindahkan, mereka akan mengangkat tadi lalu meletakannya ditempat semula tanpa membawanya kemana-saja. Ketika dimintai cap oleh petugas pemerintah untuk melengkapi sebuah surat, mereka menjawab: sudah ada yang mereka harus cap sendiri, yaitu istrinya. [8]
Orang-orang Samin hidup secara komunal besama kaumnya. Mirip warga Utopia, sebuah negeri imajiner dalam buku Thomas Robert More sahabat Desiderius yang kesohor itu. Utopia, buku More itu mengilhami kaum komunis dan sosialis yang sebagian besar dicap atheis.
Sebagai "wong deso sing ndeso"  Samin tidak nyaris tidak mengenal peradaban barat.   Bagaimana mungkin seorang buta huruf seperti Samin membacanya. Tidak ada catatan yang menyebutkan Samin pernah berhubungan dengan dunia pendidikan barat sekuler. Di zamannya ketika muda saja sekolah sekuler Belanda macam Hollandsche Inlands School belum tersebar.
Orang-orang Samin yang layak disebut komunis dengan sistem masyarakat komunalnya, tidaklah atheis. Mereka bukan Islam mereka menganut agama Adam. [9] Seperti ungkap Samin dalam tradisi lisan desa Tepalan:
"Agama iku gaman, Adam pangucapé, man gaman lanang." [10]Maksudnya adalah Agama Adam adalah senjata. Agama Adam-lah yang mereka imani. Mereka merasa mereka semuanya adalah budak Tuhan; semua yang terjadi didunia bagi mereka adalah takdir Tuhan. Manusia adalah utusan Tuhan. Mereka juga percaya pada pembalasan Tuhan. Samin pernah meyabdakan hal ini pada pengikutnya:
.........Janjining manungsa gesang wonten ing dunya punika dados 'utusaning pangeran,' sageda amewahi asrining jagad, namung Sudarmi nglapahi. Dados dhumanwahing lalampahan begja tuwin cilaka, bingah tuwin susah, saras tuwin sakit, sadaya wau sampun ngantos angresula sanget, amergi sampun sagah déné prajanjining manusa. Gesang wonten ing dunya punika sageda angestokaken angger-anggering Allah, dateng aselipun piyambak-piyambak.......
Maksudnya:....Menurut perjanjian, manusia adalah pesuruh Tuhan didunia untuk menambah keindahan dunia jagat raya. Dalam hubungan ini manusia harus menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan perintah. Oleh karena itu apabila amnusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, sedih dan gembira, sehat dan sakit, semuanya harus diterima tanpa keluhan, sebab manusia sudah terikat pada perjanjiannya. Yang terpenting adalah manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan yaitu memahami pada asal-usulnya masing-masing.

Orang Samin menganggap hidup hanya sekali. Tidak ada orang Samin yang percaya pada penitisan atau reinkarnasi. Ajaran lisan Samin Surontiko kepada pengikutnya tentang hidup adalah:
"Wong urip kudu ngerti uripé, sebab urip siji digawa salawasé" (  setiap orang hidup harus mengerti hidupnya karena hidup hanya sekali dan akan ditanggung selamanya). [11] 

Orang-orang Samin adalah orang yang menghargai hidup dengan caranya. Hidup mereka dijaga dari pengaruh luar yang membelenggu. Tidak heran jika mereka begitu berani menentang pemerintah kolonial yang siap memuntah amunisinya untuk menghancurkan penetangnya, termasuk juga orang-orang Samin.
           
Riwayat Samin Sang Ratu Adil
Seorang priyayi rendahan bernama Raden Surowijoyo di desa Ploso Khediren pada tahun 1859 menerima kehadiran putra keempatnya.
Bayi itu diberi nama Kohar. Didepan namanya dia berhak memakai gelar Raden.  Dalam tradisi lisan di desa Tapelan, Samin adalah putra dari Raden Surowijoyo dari Bojonegoro. Priyayi yang menjadi bromocorah dan bekerja untuk kepentingan orang-orang desa yang miskin. Raden Surowijoyo dikenal sebagai Samin Sepuh. Raden Kohar sendiri memiliki pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro; juga dengan Pangeran Kusumaningayu (Dalam tradisi Jawa Timur disebut Pangeran Kusumawinahyu). Pangeran Kusumaningayu adalah nama lain dari Raden Mas Adipati Brotoningrat yang sejak 1802-1826 memerintah Kabupaten Sumoroto (sebuah daerah di Tulungagung) [12]
Ketika dewasa, Raden Kohar menjadi petani dengan sawahnya yang tiga bau dan ladang satu bau. Enam ekor sapi juga dimilikinya. Raden Kohar menganti namanya menjadi Samin. Sebuah nama yang merakyat, kendati dirinya adalah turunan priyayi rendahan. Samin mulai menyiarkan ajarannya sejak tahun 1890 di desa Klopodhuwur. Banyak orang dari desa itu, juga desa (sebelahnya) Tapelan kemudian berguru padanya. Awalnya pemerintah kolonial tidak peduli pada ajaran ini. Waktu itu ajaran ini tidak mengganggu keamanan dimata pemerintah. Samin hanya dianggap ajaran kebatinan. Lebih ekstrim lagi hanya dianggap agama baru saja. Laporan Residen Rembang ada sekitar 772 orang Samin yang tersebar di 34 desa dalam lingkup Kabupaten Blora di bulan Januari  1903. Ajaran ini kian lama kian berkembang. Orang-orang Samin mulai terlihat mengubah tatacara hidupnya dalam kehidupan sehari-hari di tahun 1905 oleh Pemerintah. Mereka tidak mau lagi menyetor pajak kepada pemerintah. Mereka juga tidak mau lagi mengandangkan sapi-sapinya bersama sapi-sapi milik orang bukan Samin. Mereka telah menganut agama Adam. Hal ini tidak lain dirunut dari sikap Samin yang memang enggan untuk membayar pajak. [13]
Awal tahun 1907 jumlah pengikut Samin semakin meningkat. Angka pengikut Samin yang mencapai 5000 orang itu mengejutkan pemerintah kolonial. Ketakutan pemerintah muncul setelah ada kabar: Maret 1907 akan ada pemberontakan orang Samin. Orang-orang Samin yang hadir dalam selamatan di desa Kedhung Tuban lalu ditangkapi dengan alasan sedang mempersiapkan sebuah pemberontakan.
Oleh pengikutnya, 8 November 1907, Samin diangkat menjadi Ratu Adil dengan gelar Prabu Pangeran Suryangalam. Raden Pragola, Asisten Wedana di Randublatung di Blora bertindak atas nama pemerintah dengan menangkap sang Ratu Adil pada hari ke 40 setelah pengangkatan itu. Sang Ratu Adil-pun dikurung di bekas tobong pembaran batu gamping, sebelum akhirnya dibawa ke Rembang untuk diintrogasi. Bersama pengikutnya Sang Ratu dengan pengikutnya dibuang keluar Jawa. [14]
            Pemerintah merasa bahaya geger Samin harus diatasi dengan pembuangan Samin dan pengikutnya keluar Jawa. Sepeninggal Samin, gerakannya masih terus berkembang. Wongsorejo, seorang pengkut Samin ditahun 1908 giat mengembangkan ajaran Samin di distrik Djiwan,   Madiun. Orang-orang desa disana dianjurkan untuk tidak membayar pajak kepada pemerintah. Nasib Wongsorejo-pun dibuat sama dengan panutannya oleh pemerintah. Bersama dua kawannya, Wongsojuga dibuang. [15]
            Surohidin, menantu Sang Ratu dan Engkrak, murid sang Ratu ditahun 1911 menyebarkan ajaran Samin ke Grobogan   (Purwodadi). Karsiyah, pengikut Sang Ratu lainnya mengembangkannya di Kajen, Pati. Penyebaran ajaran Samin di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban pada tahun 1912 mengalami kegagalan.
            Pemerintah kolonial ditahun 1914 menaikan pajak. Hal ini semakin memperhebat gerakan Samin. Di Grobogan, orang-orang Samin tidak lagi menghormati para pamong desa dan pemerintah kolonial. Orang-orang Samin di distrik Balerejo, Madiun membohongi pegawai pemerintah untuk menghindari pajak. Di Kajen, misi Karsiyah sukses dengan himbauannya pada orang-orang desa untuk tidak membayarmpajak kepada pemerintah. Di Larangan, Pati orang-orang Samin menyerang lurah dan polisi. Di Tepalan, Bojonegoro orang-orang Samin yang tidak mau membayar pajak juga mengancam Asisten Wedana. Mereka lalu ditangkap dan penjarakan.
            Perlawanan ditahun 1917 semakin meningkatkan pergerakannya terhadap pemerintah. Perlawanannya masih dalam bentuk perlawanan pasif. Tidak dengan kekerasan. Pemerintah yang semakin gerah kemudian menindas perlawanan pasif ini. Gerakan Samin sejak 1930 perlahan memudar dengan tidak adanya pemimpin tangguh bagi gerakan. Samin Surontiko alias Sang Ratu meninggal dalam pembuangannya tahun 1914, di Padang. [16]
"Wajah pucat, tangan diikat, rambut digundul, celana kolor hitam, dan lemah lunglai tubuhnya." Begitulah ungkap seorang warga Samin dari desa Tapelan melihat pemimpinnya diseret oleh pemerintah kolonial menuju tempat pembuangannya. [17]
Semasa menjadi dokter pada sebuah rumah sakit Zending di Blora, dr Soetomo sejak tahun 1913-1918, sang pendiri Budi Utomo ini pernah melakukan penelitian mengenai masalah gerakan sosial, termasuk gerakan Samin. Samin yang menjadi bahan ejekan para priyayi yang merasa prestise mereka diacuhkan oleh orang-orang Samin, tapi tidak oleh priyayi bernama Soetomo ini. Soetomo malah menjadikannya sebagai bahan agitasinya dalam pergerakan nasional. Setidaknya Soetomo bahkan menyanjung semangat demokratis mereka (orang-orang Samin). [18]
Bicara tentang Ratu Adil, ketika ditanya apakah dirinya Raja atau Ratu? Samin menjawab "tidak." Ketika ditanya: "apakah Samin tahu akan datangnya Ratu Adil atau Herucakra?" Samin juga menjawab tidak tahu. [19] Samin Surontiko mungkin ingin menunjukan sikap bodoh khas Samin-nya.
Setidaknya, dengan sikap bodoh-nya orang-orang Samin telah menunjukan pada kita: bodoh ala Samin juga perlawanan yang cukup menggeramkan penguasa lokal dan pemerintah kolonial Belanda ketika. Ketika di Aceh, Tanah Batak dan Bali bergiat untuk melawan pasukan KNIL [20] demi kedaulatan raja-raja feodal, maka orang-orang Samin melawan demi dirinya sendiri.


[1] Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h. 59.
[3] Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h.60.
[5] Saripan Sadi Hutomo, Samin Surontiko dan Ajaran-ajarannya, Majalah Basis edisi Januari 1985. h. 7-8.
[6] Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h. 65
[7] Ibid., h. 65.
[8] Ibid.
[9] Marwati Djuned dkk, Sejarah Nasional Indonesia jilid IV, Jakarta, Balai Pustaka, 1993. h.327.
[10] Saripan Sadi Hutomo, Samin Surontiko dan Ajaran-ajarannya, Majalah Basis edisi Januari 1985. h.7.
[11]Ibid., h. 7.
[12] Ibid., h.4.
[13] Ibid.
[14] Ibid., h.5
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Ibid., h. 2.
[18]Paulus Widiyanto, Samin Surantiko dan Konteksnya, Majalah Jurnal Prisma edisi 8 Agustus 1983. h. 65
[19] Marwati Djuned dkk, Sejarah Nasional Indonesia jilid IV, h. 326-327.
[20] KNIL: Koninklijk Nederlandsche Indische Lager (Tentara Hindia Belanda)

Minggu, Juni 10, 2012

Catatan dari (film) Soegija

Ini film tak bicara masalalu, Soegija bicara soal masa kini dengan media masalalu untuk masa depan yang lebih baik. Historis sekali, meski tak andalkan fakta detail soal sejarah Indonesia.


 
Film Soegija

Bicara soal film ini, saya lihat betapa cepatnya orang Indonesia tahu kalau Kaisar Hirohito  menyerah kalah pada sekutu. Juga penggambaran serdadu Belanda derapkan langkahnya dari keretapi untuk rebut Jogja. Padahal serdadu Belanda masuk ke Jogja dengan terjun di lapangan Maguwo dan naik truk dari arah luar kota. Tapi ini film pastinya bukan buku sejarah. Film ini tak bertujuan beri detail fakta histories. Film ini lebih menginginkan menyampaikan pesan perdamaian dan keadilan (kemanusiaan).
            Kemanusiaan adalah satu, begitu tulis Soegija alias Monsinyor  Sugiopranoto—orang Indonesia yang pertama kali jadi Uskup. Tiba-tiba saya teringat  Prof Syafi’i Maarif—Profesor saya waktu kuliah dulu. Dari dia saya dengar kalimat Soegija itu. Ternyata itu ajaran dua orang hebat. Sayang tak banyak dari kita yang mau belajar dan membumikan ajaran itu.
            Banyak pesan berusaha disampaikan dalam film ini. Lihatlah dari awal sampai akhir. Ada pejuang—yang diperankan Kedung Darma Romansyah seorang penyair Jogja—berpesan agar pemimpin bangsa tahu darah yang dikorbankan pejuang jaman dulu. Makanya, pemimpin bangsa masa kini harus tahu diri kalau dulu nyawa jadi korban agar Negara yang dipimpin pemimpin yang nikmati fasilitas dari uang rakyat mengerti. Romo Soegija juga ajarkan kalau jadi pemimpin harus rela menderita. Sebuah kritik yang harus ditanggapi dengan baik oleh pemimpin masa kini.
            Meski berlatar sejarah, film ini tak sedang bicara tentang masa lalu. Masa lalu hanya sebuah media saja. Film ini bicara tentang masa kini, dan berharap masa depan yang lebih baik. Film ini cukup jujur bicara soal mental orang Indonesia yang rusuh. Serusuh masa revolusi dulu.
            Ternyata, meski berjudul Soegija, film ini tak bicara soal kehidupan Soegija melulu. Catatan Soegija adalah rekaman Indonesia masa peralihan di Semarang dan Jogja. Dari mulai runtuhnya sang penjajah serta perjuangan orang Indonesia lawan penjajah.
            Seperti pesan Soegija dalam film. Layani mereka (yang sedang ditimpa kemalangan karena perang). “Jangan layani saya!” Begitu pesan sang Romo. Gila! Pemimpin ini begitu hebat. Sulit, bisa jadi tak ada, pemimpin yang mau seperti ini di masa kini.
            Pastinya film ini punya misi. Lupakan cacian ekstrim kanan agama tertentu yang mau cekal ini film. Film ini meski berlatar gereja bukan film keagamaan apalagi propaganda agama katolik. Mentang-mentang Soegija seorang Romo—pemuka agama Katolik Jawa. Propaganda perdamaian tak bisa disanggah.
            Suara akan rindu perdamaian tergambar juga dalam lakon Lingling yang keturunan Tionghoa. Bocah manis ini kehilangan ibunya  yang diculik serdadu (cabul) Nippon. Bocah turunan Tionghoa ini bertanya, mengapa kami dijarah. Seperti nasib orang-orang Tionghoa yang selalu jadi korban penjarahan kalau ada kerusuhan.
            Ada bocah berwajah jelek yang ternaknya diculik. Dia agak kesal dengan kata merdeka karena di masa merdeka ternaknya hilang. Dia lalu terpaksa jadi gerilyawan jadi-jadian. Tapi, pelan-pelan bocah berlagak preman buta huruf ini belajar membaca juga. Kata yang pertama dia bisa baca adalah “merdeka.” Dia cuma bisa kata itu. Ketika diajak belajar dari Tan Malaka yang hebat itu, bocah ini mendadak malas dan cuma bisa bilang “gelut wae.” Dia cuma mau berkelahi pakai otot daripada belajar jadi orang cerdas. Bocah ini adalah gambaran orang Indonesia yang suka kekerasan daripada perdamaian. Perang yang tahu dirilah yang membentuk anak ini jadi suka kekerasan.
            Tergambar juga seorang perwira muda Belanda bernama Robert. Dia merasa dirinya mesin perang yang harus menghancurkan Republik Indonesia. Gambaran seorang serdadu KNIL di masa revolusi. Dia wakili sebagian watak serdadu Belanda yang bernafsu hancurkan Indonesia.
            Tergambar juga wartawan Belanda bernama Hendrik yang jatuh cinta pada Mariyem yang disapanya Maria. Cukup romantis pula. Hendrik terpesona pada mata Mariyem si Maria-nya. Sayang Mariyem lebih suka tumpahkan kekesalannya pada Belanda dengan marah-marah pada Hendrik.
            Ada lagi. Seorang perwira Jepang yang suka sekali pada lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang. Dia bisa bersikap baik pada seniman karena seniman itu bisa mainkan Bengawan Solo. Mirip adegan-adegan dalam film The Pianist-nya Roman Polanski.
            Banyak karekater berbeda disajikan. Tak melulu Soegija Sang Romo. Soegija hanya benang merah dari semua karakter yang ada. Itu karena Soegija juga gembala mereka.
            Penggarapan film ini cukup baik. Musik film garapan Djaduk Ferianto tak usah diragukan. Nuansa musik tempo dulu tersaji alami dan indah. Acting para pemain tak usah diragukan, mengalir. Kita semua percaya Garin Nugroho sang sutradara adalah jaminan yang tek perlu diragukan garapannya. Intinya, ini film bagus dari sisi penggarapan dan pesan yang disampaikan.
            Tak rugi jika anda menontonnya. Rasanya, kita harus berterimakasih pada Romo Banar. Dialah yang mengumpulkan catatan harian Romo Soegija semasa perang. Kita juga harus bersyukur kalau Romo hebat ini sudah jadi Pahlawan Nasional. Gelar yang ia layak terima karena perjuangannya. Bukan karena dia adalah pemuka agama.

Selamat menonton.





Sabtu, Juni 09, 2012

Kenapa Kitorang Kudu ke Universiteit

Universiteit di Indonesia memang rusak adanya. Tapi, bukan berarti tidak bisa bikin orang terpelajar. Masih ada harapan disana.
 Teringat kata-kata, “orang terpelajar adalah orang yang berpikir adil sejak dalam pikirannya.” Teringat Minke. Teringat orang-orang yang dulu disebut kaum terpelajar. Asal pernah injak sekolah, setidaknya sampai MULO, pun dulu disebut orang terpelajar. Sekarang, orang masuk universitas pun diragukan jikalau dia sebagai terpelajar.

Dahulu kala, Tan Malaka yang jebolan sekolah guru di Belanda bisa jadi ahli ideologi di hormati kaum komunis. Dia punya buku hebat, Madilog. Sebuah karya jenius. Sangat jenius buat orang Indonesia. Tan Malaka pernah ke Eropa. Tapi bukan untuk kuliah di universitas-universitas keren yang ada di kota Rotterdam, Delft, Amsterdam atau Leiden.

            Syahrir cuma dua tahun saja di ‘negeri penjajah’—pinjam istilah dari Harry Albert Poeze. Meski tak jelas kuliahnya, masa-masa di Negeri penjajah itulah Syahrir belajar banyak soal sosialisme dan mimpinya akan perubahan Indonesia. Tak ada yang sadari jikalau di kemudian hari Syahrir bisa ikut bikin perubahan di Indonesia, tak juga ayahnya yang Jaksa pemerintah kolonial. Kakak tiri Syahrir, Roehana Koedoes, yang tak makan bangku sekolah pun tak kalah hebatnya.

            Ini dia contoh ‘mapala’—mahasiswa paling lama. Siapa lagi kalau bukan Muhamad Hatta. Sebelas tahun kuliah di Negeri Penjajah.  Dia pernah hampir selesai di sebuah program studi. Tapi dia pindah. Di kemudian hari dia jadi ekonom. Hatta juga seorang aktivis pergerakan yang tak bisa disangkal jasanya.

            Masih banyak daftar orang Indonesia yang belajar di Eropa. Kitorang Indonesia tak pernah lupa sama Baharudin Jusuf Habibie alias Rudy. Semua orang sepakat dia jenius karena bisa bikin pesawat terbang. Dia bisa bikin orang Indonesia jaya di udara. Rudy pernah kuliah di Jerman. Dia cukup diakui sebagai teknokrat.

            Kitorang sepakat, “kalau mau pinter ya harus belajar.” Cuma itu jalannya. Terserah dengan gaya belajar macam apa. Orang Islam sepakat sama Muhammad SAW punya omongan, “tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.” Orang-orang tafsirkan ini ajakan buat kitorang semua kejar ilmu walau kita harus jauh tinggalkan kitorang punya kampung halaman.

            Lebih dari seabad lalu, Belanda terpaksa itu Politik Etis (baca: politik balas budi). Bukan melulu balas budi—yang seperti namanya. Ini juga dalam rangka agar tenaga terdidik tersedia buat kepentingan kolonialis. Tapi, yang namanya orang terpelajar seperti kata Pram dan Minke, kudu adil sejak dalam pikiran.
Butuh banyak orang pinter biar ini negeri merdeka dan maju. Tapi sayang, seperti kata orang ini negeri seperti tidak butuh orang pinter. Meski banyak pemimpinnya yang bebal, yang tidak bisa bedakan orang pinter  sama orang licik. Tak bisa bedakan orang pinter dengan robot.

Inilah Indonesia masa kini. Katanya merdeka tapi universitas atawa Universiteit bikinan pemerintah gagal bikin orang Indonesia jadi pinter. Universiteit di Indonesia banyak bikin orang-orang bermental robot daripada orang pinter en kreatif. Gagal bikin Rudy-Rudy yang kuasai teknologi maju. Gagal bikin guru bangsa atau orang hebat macam Tan Malaka atau Hatta. Tapi, meski busuk, tetap saja Universiteit masih potensial bikin orang pinter. Punya potensi bikin orang terpelajar yang sebenarnya. Yang berpikir adil.
Biar kata ini masalah super kronis, ini negeri agak beruntung sekali. Ada banyak anak mudanya yang masih punya mimpi tinggi buat jadi orang pinter dan bersikap jujur serta adil. Walau banyak dari mereka dihancurkan cita-citanya, tapi mereka seperti tak pernah berhenti bermimpi soal perubahan dan kejayaan ini negeri. Kalau kitorang muda, kitorang kudu punya mimpi. Jangan ngaku anak muda kalau tidak punya mimpi.

Mari kita ingat kata Minke en Pram, kalau orang yang terpelajar adalah orang yang berpikir adil sejak dalam pikirannya. Buat apa pinter kalau pincang pikirannya? Kalau ini dunia dipimpin orang pinter en adil, maka dunia ini aman damai. Sebaliknya, kalau pemimpinnya cuma pinter(pinteran)—ngibulin orang buat bikin kenyang perut atas en puaskan perut kebawah—lupakan saja mimpi Indonesia merdeka.
Nah. Kalau kita mau pinter en adil, kitorang punya banyak jalan. Kitorang bisa ke universiteit (sebutan universitas buat orang Belanda). Mari belajar adil en berusaha jadi pinter. Itu kenapa kitorang kudu ke universiteit. Biar kitorang juga bisa rubah Universiteit biar bisa bikin orang-orang terpelajar sejati--yang berpikir adil ari hati dan pikirannya. Bukan melulu seperti pabrik bikin sarjana. Semoga saja, kitorang adalah orang-orang terpelajar sejati itu.

NB: Terbikin untuk semua murid yang haus belajar! Mantap jaya buat kitorang semua!!

Senin, Mei 21, 2012

Geliat Rustam Effendi

Jagoan ini terlalu nekad, di kandang singa-pun dia masih berani berteriak. Dia masih bisa gembira dengan keyakinannya, walaupun akhirnya harus rela diterkam dan digigiti singa tadi.

Tokoh radikal ini telah malang melintang dalam dunia pergerakan, sejak remaja. Masa mudanya diliputi kisah pergerakannya. Dia bukanlah jago kandang. Dimanapun, pada siapapun dia berani keras, apalagi pada penindasan pemerintah kolonial di Hindia Belanda.
            Separuh karirinya dalam pergerakannya dilalui di Eropa setelah pemebrontakan PKI di Silungkang gagal yang dengan gemilang ditumpas polisi Belanda dan KNIL. Rustam Effendi bukan pengecut dengan lari dari Sumatra Barat, dia tidak lari dari kenyataan, dengan pergi ke Belanda. Ke Negeri Belanda berarti memasuki kandang singa buas yang bisa menerkam dan menggigit kapan saja

Berteriak di kandang Singa
Suatu minggu ditahun 1933, ketika Jerman dikuasai Adolf Hitler, Orang muda Hindia berpidato dalam sebuah rapat umum untuk pemilihan umum angota parlemen di Tiel. Dalam rapat umum itu pemuda itu menuduh Hitler sebagai 'Oorlogsmoordenaar' (calon pembunuh perang). Karenany pemeroiontah Belanda mengenakan delik, menghina kepala negara tetangga, pemuda itu diadili di kota itu juga. Karena kesal dengan sikap arogan sang hakim yamng terlalu merendahkan dirinya, pemuda itu berkata. "En wat doen yullie, uitbeitter in mijn land?".(Dan apa yang dilakukan Yullie, lebih baik di negerinya). Publik yang hadir dalam pengadilan itu bereaksi, mereka memberikan simpatinya pada pemuda itu dengan sorakan yang mempermalukan hakim tadi. Kendati dapat banyak simpati, tetap saja pemuda itu dijebloskan juga ke penjara. Bagi pemuda ini dikemudian hari, pemerintah Belanda dengan sengaja ingin menjegalnya sebagai anggota parlemen. Menurut ketentuan saat itu, orang terhukum tidak diperbolehkan menjadi anggota parlemen. Karena bukan terlibat kasus pidana atau perdata usaha pemerintah Belanda di negeri Belanda menghalangi pemuda itu naik ke kursi Tweede Kamer itupun gagal. Atas simpati sebagian rakyat Belanda lewat surat yang dikirim orang-orang Belanda yang simpati pada orang-orang Hindia, popularitas pemuda itu naik, dan akhirnya terpilih sebagai anggota parlemen. [1]
            Penindasan pemerintah kolonial terhadap Zeven Provincien, menimbulkan reaksi di Belanda. Kaum radikal lalu mengadakan demonstrasi besar-besaran. Suasana di parlemen juga panas karena pemberontakan itu. Ketika Rustam sedang membuat catatan, Jan Schouten dari kubu anti revolusioner yang mendukung tindakan refresif pemerintah kolonial, menurutnya pemerintah memang harus melakukan hal itu terhadap pemberontakan yang terlupakan dalam sejarah Indonesia itu. Ketika Jan Schoutman melontarkan kata-kata: "En de regering moet regeren!"  (Pemerintahan harus memerintah)—maksud kalimat itu, peme5rintah kolonial berhak menindas pemerontak diatas kapa itu. Bukan Rustam Effendi bila diam saja mendengar kalimat macam itu. Spontan Rustam melompat dan membalas kata-kata tadi dengan kalimat yang agak emosional:  "En mijn volk moet zeker creperen?" (Dan bangsaku harus terus sengsara). Peserta sidang-pun terkejut dan terdiam mendengar kata-kata Rustam tadi. [2]
            Tahun 1935, Rustam menghadiri sebuah upacara pembukaan parlemen. Banyak yang bertanya mengapa dirinya hadir? Rustam sendiri agak cemas ketika berada ditengah-tengah kaum reaksiner yang diantara berseragam militer dengan embel-embel bintang kebesarannya. Biasanya, setelah ratu memberikan sambutan, semua hadirin bersorak "leve Oranje!" (hidup dinasti Oranje). Ketika itu pula Rustam berteriak "Indonesia Merdeka!", hasirin-pun diliputi rasa panik oleh ulah Rustam yang tampak puas dengan ulanya itu. Ulah Rustam ini berbuah penganiayan polisi dan petugas keamanan yang tersebar dan bersembunyi dibalik-balik gorden. Rustam-pun babak belur atas teriakan yang berdasar dari keyakinannya itu. Harga bagi seorang yang terlalu nekad di kandang Singa. Itulah Rustam Effendi. [3]
Pemuda  Rantau
Rustam Effendi, kelahiran Padang, 13 Mei 1903, sebuah daerah yang cukup banyak melahirkan kaum pergerakan baik yang koperatif bahkan  radikal dalam sejarah. Rustam Effendi menikmati kebijakan politik etis dari pemerintah kolonial, dia mengenyam pendidikan dasarnya di Hollands Inlandsche School (SD dengan pengantar bahasa Belanda) di Padang. Setamat dari sekolah dasar, Rustam masuk Kweekschool (sekolah calon guru) di Bukittinggi—sebelumnya Tan Malaka pernah bersekolah disitu sebelum berangkat ke Negeri Belanda. Dari sekolah itu, dia meneruskan ke Hogare Kweekschool di Bandung, kendati tidak memperoleh diploma dari HKS, Rustam masih belajar lagi di beberapa lembaga pendidikan keguruan di Den Haag, ketika lari ke Belanda. Setidaknya Rustam pernah menempuh pendidikan di lagere Acte voor Onderwijs dan MO voor Ekonie, keduanya di Den Haag, Belanda. Hohe Schule für Journalistik, di Berlin. Pendidikan lain di Lenins Universiteit di Moskow. [4]
Ketika Rustam Effendi masih muda dan menjalani sekolah menengah keguruannya di Bandung, adalah masa-masa  kuartal pertama abad XX, masa-masa kolonial menjadi dewa atas tanah Hindia. Semua  lini kehidupan adalah berbau kolonial, termasuk pendidikan. Dalam politik pendidikan kolonial, siswa-siswa yang belajar di sekolah menengah, kejuruan maupun tinggi tidak pernah diajarkan ilmu atau soal-soal politik, sehingga dalam bidang ini kebanyakan siswa-siswa tidak mengerti sedikitpun tentang politik, termasuk Rustam sendiri. Ketika itu, Rustam duduk sebagai siswa di HKS (Hogare Kweek School) mempelajarinya dari ayahnya. Ayah Rustam adalah Sulaeman Effendi, salah satu tokoh propaganda NIP (Nationalis Indische Partij) pimpinan oleh Douwes Dekker, R.M. Suwardi Suryaningrat dan dr Cipto Mangunkusumo. Oleh sang ayah, Rustam sering dibawa oleh ayahnya berkunjung ke rumah orang-orang pergerakan tadi. Percakapan-percakapan dan diskusi orang-orang tua itu diamati Rustam, dari situ, sikap kritis dan benci pada orang-orang Belanda tumbuh dalam darah mudanya. Entah dirumah dr Cipto atau di rumah Douwes Dekker, untuk pertama kali Rustam mengenal  Soekarno, yang kuliah  di Technische Hoge School (sekolah tinggi tehnik) di Bandung. Kala itu hubungan Rustam dengan Soekarno cukup akrab sebagai kawan berdiskusi, hampir pembicaraan selalu diakhiri dengan ajakan Soekarno: "Ayo kita kita cari sate keluar, ambil angin!" katanya.  Mereka berdua sama-sama prihatin dengan banyaknya organisasi-organisasi pemuda waktu itu bergerak sendiri-sendiri. Mereka mengibarkan  dan mengikuti bendera kesukuannya masing-masing. Mereka antara lain: Jong Java; Jong Sumatranen Bond (JSB); Jong Minahasa; Sekar Rukun; Jong Ambon dan lain-lain. [5]
            Rustam sendiri waktu itu adalah anggota JSB, tetapi lama-lama dia tidak begitu yakin dengan corak kedaerahan organisasi-organisasi tadi. Ketika itu, belum ada format organisasi pemuda yang bergerak dan beridentitas sama dalam pergerakan, antara Soekarno dan Rustam juga belum terlintas bagaimana menyatukan mereka dalam satu wadah dan bergerak bersama. Terdorong keinginan hendak berbaur dengan pemuda-pemuda dari lain suku, Rustam-pun tertarik masuk perkumpulan DVI (Dienaren van Indie) yang dipimpin oleh dua orang Eropa, Ir Fournier dan Ir van Leeuwen. Anggota DVI ini diperoleh dengan bantuan dari tokoh-tokoh terkemuka dari organisasi kesukuan diatas, seperti Dr. Amir, Basuki, Sukamsa, Sanusi Pane, Muhamad Yamin, M. Thabrani, Adinegoro, Darsa Arsa, dan lain-lain yang kemudian menjadi orang-orang berpengaruh dalam pergerakan nasional. [6]  
            Sekitar tahun 1922 Rustam lulus dari HKS Bandung. Saat itu suasana dan gelombang politik  kaum 'non cooperation' sedang panas. Ketika itu, berdasar keputusan departement van Onderwijs melalui  telegram, Rustam telah diangkat sebagai guru kepala HIS di Siak Sri Indrapura, Sumatra. Rustam dihadapkan pada dua pilihan, jadi guru dengan pengfhasilan baik, atau hidup sebagai orang pergerakan dengan segala resiko. Tanpa pikir panjang lagi dan siap menghadapi berbagai resiko yang akan dihadapinya Rustam memilih yang kedua. Tentu saja isi telegram itu tidak lagi dipedulikannya. Rustam tidak lagi ingin menjadi guru. Akibatnya Rustam tidak mendapatkan diploma guru-nya sebagai tamatan HKS Bandung. [7]

Pelarian Politik dari Padang.
Di tanah  kelahiran saya di Padang yang penuh dengan warna pergerakan, Rustam mulai dikenal sebagai 'Jago Non'. Awalnya, menurut Soe Hok Gie dalam skripsinya Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan, Rustam tidak berani berpolitik dan dicap sebagai koperator. Namun perlahan sebagai 'anggota Inlander'  dalam gementeeraad (dewan kota) disana, dia mulai bersentuhan pemikiran non koperator. Terjadinya pemberontakan kaum komunis di Silungkang (1926). Rustam merasa, dirinya  tidak ada sangkut pautnya dengan pemberontakan kaum komunis itu, sebab saya bukan komunis, namun PID—Politieke Intellingen Dienst: polisi yang mengawasi kaum pergerakan—berusaha menjebloskannya dalam barisan komunis pemberontak itu. Untuk menghindari hal terburuk, Rustam dengan terburu-buru memutuskan meninggalkan Indonesia dan pergi ke Belanda. Mengenai pemberontakan PKI yang gagagl itu, Rustam sangat tidak menyetujuinya, seperti halnya Tan  Malaka. Rustam, menganggap pemberontakan PKI itu tidak memenuhi syarat-syarat obyektif, jadi mereka revolusi yang dicetuskan dari pertemuan di Prambanan tidak dipersiapkan secara matang. Karenanya pemberontakan itu nyaris sia-sia dan menjadi bomerang bagi kaum pergerakan pasca pemeberontakan—dimana posisi kaum non koperator semakin desak. Seperginya Rustam dari Indonesia, tercetuslah Sumpah Pemuda, sebuah langkah pertama menuju persatuan pemuda-pemuda Indonesia dari suku-suku yang berbeda menjadi satu untuk sebuah kamunitas 'Bangsa Indonesia'. Komunitas yang bukan lagi imajiner, tetapi nyata. Dikemudian hari Rustam yang saat iut di Eropa tidak menghadirinya. [8]
Belanda Rustam ditampung oleh Perhimpunan Indonesia yang diketuai Muhamad Hatta. Dari Hatta , Rustam banyak memperoleh bimbingan politik. Di PI, Rustam diperbantukan di redaksi dan administrasi majalah 'Perhimpuan Indonesia'. Seperti diketahui PI juga menjadi anggota perkumpulan Internasional 'Liga menentang Imperialisme dan menunjang perjuangan kemerdekaan Nasional bangsa-bangsa yaqng tertindas'. Di Negeri Belanda, PI merupakan menjadi tumpuan penggerak dari eksistensi dan gerakan liga-nya orang pergerakan negeri yang tertindas itu. Rustam yang ditunjuk oleh Hatta sebagai  penghubung antara PI dengan organisasi-organisasi lainnya mulai berhubungan dengan kaum radikal. Ada banyak organisasi radikal di Eropa, antara lain: 'Sosialis kiri', 'Anti Militaris', 'Anarche Syndikalis', Partai Pasifis, Komunis dan lain-lain, dengan sendirinya Rustam-pun terpengaruh. Disisi lain dirinya juga mempergunakan hubungan tersebut dengan baik, yakni memperluas propaganda pergerakan nasional di Eropa pada kaum –kaum radikal tadi. [9]
Rustam berusaha memaksimalkan kerjasama dengan mereka, baik dalam rapat terbuka maupun lewat pena. Kepada majalah-majalah kaum radikal Eropa itu, Rustam berusaha menuangkan semaksimal mungkin pemikirannya. Tulisan Rustam pernah dimuat di "Links Socialist', 'De Opbouws', 'De Anti Muiliteristi, 'De Branding', dan lain-lain milik kaum radikal itu. Dipastikan hubungan Rustam dengan kaum radikal Eropa itu menyeretnya ke arah radikalisme. Pastinya ini tidak disukai Hatta dan bisa berkibat buruk pada ideologi PI dimasa depan. Ketika Hatta hendak menyudahi studinya dan berencana pulang ke Hindia, pimpinan PI-pun diserahkan pada Abdul Syukur. Saynmgnya, pengganti Hatta ini kurang mempunyai wibawa dimata para anggota PI yang sebagian mulai radikal, termasuk Rustam.  Dimasa-masa akhir inilah Hatta menulis karangannya dalam majalah PI, didalamnya tersisip kalimat, " kami tidak ingin menjadi kuda penarik kereta Moskow."  Kalimat ini tentunya menimbulkan topan reaksi dikalangan orang-orang Komunis dalam tubuh PI. Dilingkungan PI sendiri timbul kegelisahan, yang meluap-luap dan berubah menjadi oposisi yang kuat. Ini bukan dipandang dipandang dari kepentingan komunis, melainkan dari sudut praktis politik. Menurut Rustam, jika PI atau pergerakan Indonesia lainnya memusuhi Moskow kala itu, maka kita dunia Internasional macam komintern tidak akan ada sokongan positif dari pihak mereka. Pihak oposisi ini yang dipelopori oleh Abdul Madjid, Setiadjid dan Rustam sendiri. Mereka berhasil dalam suatu rapat pleno, setelah melalui perdebatan sengit, mengalahkan Hatta dan Sutan Syahrir dengan suara terbanyak. Sejak itu PI di Belanda mulai dikendalikan oleh 'tiga serangkai' (Abdul Madjid, Setiadjid dan Rustam). Mereka-pun akhirnya terjerumus mengikuti jalur Moscow (Komintern), seperti yang dihindari atau mungkin ditakuti Hatta. Aktifitas dan popularitas Rustam dikalangan buruh Belanda , rupanya menarik perhatian Moscow juga, yang melalui CPN (Partai Komunis Belanda) mencalonkan Rustam untuk menjadi anggota Tweede kamer der Staten General. Untuk alasan itu pula Rustam-pun menjadi anggota resmi dan terbuka dari CPN itu, sedangkan kawan-kawan seperjuangan yang lain tetap dalam PI yang  sebagiannya adalah anggota ilegal. Sebelum Rustam, beberapa orang-orang Indonesia pernah dicalonkan oleh Partai Komunis Belanda, pada tiap-tiap pemilihan umum, mulai dari Tan Malaka, Alimin, Semaun, Musso, Darsono dan lain-lain. Namun tidak ada satu-pun dari mereka  yang terpilih. Dalam sejarah, Rustamlah orang Indonesia  pertama yang menduduki kursi palemen Belanda itu. Saat itu, Rustam tampil sebagai anggota termuda dari semua anggota Parlemen. [10]
Rustam akhirnya berusaha melepaskan diri dari pemgaruh Moscow yang dominan terhadap pergerakan radikal Indomnesia di Belanda. Moscow berambisi, Negara baru yang merdeka ditanah Hindia adalah negara komunis, bukan feodal borjuis. Terbukti Moscow mengutus Musso ditahun 1948. [11]
Rustam menginginkan sebuah koalisi antara kelompok sosialis yang ada, ketika sebuah ide untuk menyatukan kaum sosialis di Negeri Belanda maupun di Hindia Belanda ditolak oleh segolongan orang-orang Eropa dari pimpinan buruhreformis dan sosial demokrat Belanda, Rustam amat kecewa sekali dengan sikap orang-orang Belanda itu. Orang-orang Belanda itu dicap sebagai 'pimpinan sayap kanan SDAP (Belanda) yang sombong'. Menurut Rustam, penolakan kerjasama itu, sama saja memberikan kesempatan pada pemeritahan Colijn untuk berlaku reaksioner pada kaum pergerakan. Disisi lain hal ini juga merugikan rakyat Hindia yang tarap hidup-nya dibawah standar dan semakin menjerumuskan mereka dalam kelaparan, bahkan akan memiskinkan kaum buruh di Negeri Belanda juga. Rustam bisa bergembira ketika konsentrasi kekuatan rakyat anti imperialisme dan kolonialisasi terbentuk di Indonesia, yakni fusi pada bulan Desember 1935, antara Partai Bangsa Indonesia pimpinan Soetomo dengan Boedi Oetomo—yang awalnya didirikan dan dipimpin Soetomo juga. Fusi ini terus berkembang dengan bergabungnya organisasi kecil intelektual macam: Kelompok Intelektual Banten Tirtajasa, Kaoem Betawi, Sarekat Soematra, Partai Sarekat Selebes (Parsas), juga anggota-anggota Partai Rakyat Indonesia. Formasi ini adalah front nasional  bernama Partai Indonesia Raya. Biasa disingkat Parindra. Partai yang dip[impin oleh orang-orang koperatif macam Thamrin, Soetomo dan lainnya. Walau tidak sepenuhnya seperti yang diimpikannya, karena partai ini bersifat elitis borjuis, Rustam bisa gembira sejenak. [12]




[1] Roestam Effendi, Menyusuri Kenang-kenangan Perjuangan Masa Muda,dalam Bunga Rampai Sumpah Pemuda, dihimpun oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, Jakarta, Balai Pustaka, 1986. h. 399-400.
[2] Ibid., h. 400-401.
[3] Ibid., h. 401.
[4] Ibid., h. 396.
[5] Ibid., h. 397-398.
[6] Ibid., h. 398.
[7]  Ibid., h. 398-399.
[8] Roestam Effendi, Menyusuri Kenang-kenangan Perjuangan Masa Muda,dalam Bunga Rampai Sumpah Pemuda, dihimpun oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, Jakarta, Balai Pustaka, 1986. h. 398-399: Soe Hok Gie, Orang-orang Dipersimpangan Kiri Jalan, Yogyakarta, Bentang, 1997. h. 29: Rustam Effendi, Sedikit Penjelasan Soal-soal Trotskisme, Jakarta, Patriot, 1950. h. 21.
[9] Roestam Effendi, Menyusuri Kenang-kenangan Perjuangan Masa Muda,dalam Bunga Rampai Sumpah Pemuda, dihimpun oleh Yayasan Gedung-gedung Bersejarah Jakarta, Jakarta, Balai Pustaka, 1986. h. 398-399.
[10]Ibid., 1986. h. 398-399.

[11] Ibid., h. 402.
[12] Bob Hering. M.H. Thamrin and His Quest For Indonesian Nationshood, ab. Harsono Soetedjo, M.H. Thamrin: Membangun Nasionalisme Indonesia, Jakarta, Hasta Mitra, 2003. h. 256-257.