Senin, Januari 06, 2014

Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri Belanda

Nabi Muhamad SAW bersabda: “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China.” Dan, trend zaman Kolonial yang western, menuntut pemuda belajar ke Negeri Belanda.

Orang Indonesia masa kini masih selalu menganggap barat adalah hebat dalam banyak hal. Meski pengetahuan yang berkembang di barat pun sebelumnya berkembang di Arab, bahkan sebelumnya lagi Yunani, China dan entah dimana lagi. Jadi, pengetahuan bukan milik dan karena orang barat. Seperti halnya di Arab, maka di Barat (maksudnya Eropa) pun hanya numpang berkembang saja.
Kekaguman pada barat (Eropa, dan sekarang plus Amerika) bukan hal baru. Di abad XVII (tahun 1600an) ada orang Indonesia asal Makassar yang mengoleksi banyak buku, peta dan juga globe dari Eropa. Itu karena orang yang bernama Karaeng Patinggaloang mencintai ilmu pengetahuan. Bukan sekedar gengsi.
Agama Islam boleh dominan di Indonesia. Tapi, tak semua orang Indonesia mau dan punya keinginan belajar ke Arab atau ke negeri yang terkenal Islamnya.  Orang Islam sebenarnya punya cara sendiri dalam menafsir sabda Nabi Muhamad SAW: “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China.”  Banyak yang memahami carilah ilmu pengetahuan dimana saja. Bahkan di tempat yang jauh sekalipun. Tak harus ke negeri China. Di jaman Nabi, China dianggap jauh.
Nah, di masa kolonial, karena pengaruh barat yang kuat serta dorongan untuk hidup mapan, maka banyak orang-orang Indonesia bersekolah di sekolah-sekolah berbahasa Belanda (dari level sekolah dasar macam Hollandsch Inlandsch School atau Europe Lager School; level menengah Meer Uitgebrid Lager Onderwijz, Alegemene Midelsbare School, Hogare Burger School) bahkan ke level perguruan tinggi yang didirikan Belanda baik di Indonesia maupun di negeri Belanda.
Tak perlu heran jika orang macam Hatta pergi ke Belanda untuk kuliah. Walau ujung-ujungnya, Hatta kembali sebagai sarjana ekonomi dan belakangan jadi orang pergerakan nasional yang sampai mati tak pernah kaya. Hatta bukan kembali untuk jadi orang mapan, walau dia pernah sebentar kerja pada pamannya, Mak Etek. 
Selain Hatta ada juga seorang dokter Minang bernama Abdul Rivai yang ingin kuliah untuk mencapai persamaan status dengan dokter Belanda. Sebelumnya Rivai hanya dokter lulusan STOVIA Batavia yang hanya disebut dokter jawa (yang mungkin hanya setara mantri atau mungkin diatas mantra dibawah dokter). Jadi dokter yang dipersamakan dengan dokter Belanda tentu akan mendapat gaji yang lebih baik. Di jaman kolonial ada perbedaan gaji antara orang Belanda dengan orang pribumi.
Ada pula Tan Malaka yang pergi ke Belanda untuk sekolah singkat untuk menjadi tenaga pengajar. Tan Malaka memang pulang untuk jadi tenaga pengajar namun belakangan dia lebih dikenal sebagai legenda dari  dunia pergerakan nasional Indonesia.
Sebelum Tan Malaka, ada seorang pelopor pendidikan modern Indonesia bernama Willem Iskander datang ke Belanda untuk belajar tentang pendidikan. Dia datang dua kali. Yang kedua setelah usahanya membuka sebuah Kweekschool (sekolah guru) sukses di Tapanuli. Sayang, nama Willem Iskander  kalah populer daripada Ki Hajar Dewantara. Padahal Willem jauh lebih dulu.
Ada juga Arnold Mononutu yang masa mudanya sempat diisi foya-foya dan kuliahnya tak rampung, dia juga bagian dari kaum pergerakan nasional juga. Arnold punya kenalan lain seperti Setiadjid dan Abdulmadjid, keduanya masih keturunan priyayi Jawa. Namun belakangan keduanya jadi tokoh kiri terkenal dalam sejarah Indonesia.
Ada hal yang agak menarik bagi orang Indonesia. Ternyata, ada orang Indonesia yang harus merasakan sakitnya menjadi penghuni kamp konsentrasi NAZI di tengah ganasnya perang Eropa. Hal ini dialami Parlindungan Lubis. Bahkan kawannya, Darmasetiawan, yang asal Indonesia, harus meninggal selama di kamp. Mereka berdua datang ke Negeri Belanda sebagai mahasiswa. Lubis adalah mahasiswa kedokteran dan lulus sebagai dokter. Perang Eropa menyisakan trauma mengerikan dalam hidupnya. 
 Tak hanya nama-nama diatas. Ada nama-nama lain lagi. Selain yang datang untuk belajar, ada juga yang hanya singgah dan berkunjung. Menariknya lagi, ada juga orang Indonesia yang menjadi pembantu rumah tangga alias Jongos di Negeri Belanda. Sebelum ke Arab Saudi dan Malaysia, ternyata ada orang-orang Indonesia yang jadi pembantu di Eropa.
Buku yang dalam Bahasa Indonesia berjudul Di Negeri Penjajah (Orang Indonesia di Negeri belanda 1600-1950) ini disusun oleh Harry Albert Poeze (dengan dibantu juga oleh Cees van Dijk dan Inge van der Meulen). Para pecinta Sejarah tentu taka sing dengan nama Harry Poeze yang lebih dari 30 tahun meneliti tentang Tan Malaka. Buku ini jelas referensi yang baik untuk mendalami sejarah Indonesia. Terutama yang ingin mempelajari hubungan Indonesia dengan Belanda.
Orang Indonesia masa kini masih selalu menganggap barat adalah hebat dalam banyak hal. Meski pengetahuan yang berkembang di barat pun sebelumnya berkembang di Arab, bahkan sebelumnya lagi Yunani, China dan entah dimana lagi. Jadi, pengetahuan bukan milik dan karena orang barat. Seperti halnya di Arab, maka di Barat (maksudnya Eropa) pun hanya numpang berkembang saja. Kekaguman pada barat (Eropa, dan sekarang plus Amerika) bukan hal baru. Di abad XVII (tahun 1600an) ada orang Indonesia asal Makassar yang mengoleksi banyak buku, peta dan juga globe dari Eropa. Itu karena orang yang bernama Karaeng Patinggaloang mencintai ilmu pengetahuan. Bukan sekedar gengsi. Agama Islam boleh dominan di Indonesia. Tapi, tak semua orang Indonesia mau dan punya keinginan belajar ke Arab atau ke negeri yang terkenal Islamnya. Orang Islam sebenarnya punya cara sendiri dalam menafsir sabda Nabi Muhamad SAW: “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China.” Banyak yang memahami carilah ilmu pengetahuan dimana saja. Bahkan di tempat yang jauh sekalipun. Tak harus ke negeri China. Di jaman Nabi, China dianggap jauh. Nah, di masa kolonial, karena pengaruh barat yang kuat serta dorongan untuk hidup mapan, maka banyak orang-orang Indonesia bersekolah di sekolah-sekolah berbahasa Belanda (dari level sekolah dasar macam Hollandsch Inlandsch School atau Europe Lager School; level menengah Meer Uitgebrid Lager Onderwijz, Alegemene Midelsbare School, Hogare Burger School) bahkan ke level perguruan tinggi yang didirikan Belanda baik di Indonesia maupun di negeri Belanda. Tak perlu heran jika orang macam Hatta pergi ke Belanda untuk kuliah. Walau ujung-ujungnya, Hatta kembali sebagai sarjana ekonomi dan belakangan jadi orang pergerakan nasional yang sampai mati tak pernah kaya. Hatta bukan kembali untuk jadi orang mapan, walau dia pernah sebentar kerja pada pamannya, Mak Etek. Selain Hatta ada juga seorang dokter Minang bernama Abdul Rivai yang ingin kuliah untuk mencapai persamaan status dengan dokter Belanda. Sebelumnya Rivai hanya dokter lulusan STOVIA Batavia yang hanya disebut dokter jawa (yang mungkin hanya setara mantri atau mungkin diatas mantra dibawah dokter). Jadi dokter yang dipersamakan dengan dokter Belanda tentu akan mendapat gaji yang lebih baik. Di jaman kolonial ada perbedaan gaji antara orang Belanda dengan orang pribumi. Ada pula Tan Malaka yang pergi ke Belanda untuk sekolah singkat untuk menjadi tenaga pengajar. Tan Malaka memang pulang untuk jadi tenaga pengajar namun belakangan dia lebih dikenal sebagai legenda dari dunia pergerakan nasional Indonesia. Sebelum Tan Malaka, ada seorang pelopor pendidikan modern Indonesia bernama Willem Iskander datang ke Belanda untuk belajar tentang pendidikan. Dia datang dua kali. Yang kedua setelah usahanya membuka sebuah Kweekschool (sekolah guru) sukses di Tapanuli. Sayang, nama Willem Iskander kalah populer daripada Ki Hajar Dewantara. Padahal Willem jauh lebih dulu. Ada juga Arnold Mononutu yang masa mudanya sempat diisi foya-foya dan kuliahnya tak rampung, dia juga bagian dari kaum pergerakan nasional juga. Arnold punya kenalan lain seperti Setiadjid dan Abdulmadjid, keduanya masih keturunan priyayi Jawa. Namun belakangan keduanya jadi tokoh kiri terkenal dalam sejarah Indonesia. Ada hal yang agak menarik bagi orang Indonesia. Ternyata, ada orang Indonesia yang harus merasakan sakitnya menjadi penghuni kamp konsentrasi NAZI di tengah ganasnya perang Eropa. Hal ini dialami Parlindungan Lubis. Bahkan kawannya, Darmasetiawan, yang asal Indonesia, harus meninggal selama di kamp. Mereka berdua datang ke Negeri Belanda sebagai mahasiswa. Lubis adalah mahasiswa kedokteran dan lulus sebagai dokter. Perang Eropa menyisakan trauma mengerikan dalam hidupnya. Tak hanya nama-nama diatas. Ada nama-nama lain lagi. Selain yang datang untuk belajar, ada juga yang hanya singgah dan berkunjung. Menariknya lagi, ada juga orang Indonesia yang menjadi pembantu rumah tangga alias Jongos di Negeri Belanda. Sebelum ke Arab Saudi dan Malaysia, ternyata ada orang-orang Indonesia yang jadi pembantu di Eropa. Buku yang dalam Bahasa Indonesia berjudul Di Negeri Penjajah (Orang Indonesia di Negeri belanda 1600-1950) ini disusun oleh Harry Albert Poeze (dengan dibantu juga oleh Cees van Dijk dan Inge van der Meulen). Para pecinta Sejarah tentu taka sing dengan nama Harry Poeze yang lebih dari 30 tahun meneliti tentang Tan Malaka. Buku ini jelas referensi yang baik untuk mendalami sejarah Indonesia. Terutama yang ingin mempelajari hubungan Indonesia dengan Belanda.

Sekitar Selat Sunda Akhir Desember 2013

Tanpa banyak rencana, kami putuskan menuju Anyer. Pantai yang saya dengar pertama kali namanya dari lagunya SLANK: Anyer 10 Maret. Saya lupa bagaimana lagunya. Yang pasti itu lagu ditulis ketika Kaka sang vokalis ulang tahun. 

Selamat Datang di Bumi Kangen Band
Karena berangkat sore, kami tak akan tiba di Anyer pada sore hari. Saya, dan seorang kawan: sebut saja Nurun Najib Ad-Dakhil (maaf jika salah tulis kawan?) seorang sosiolog jebolan UI, memutuskan akan ke Merak. Dimana pelabuhan ferry yang menghubungkan Jawa-Sumatra berada. Kami makan malam di sebuah warung kecil. Dan pemilik warung yang ramah mengajak kami berbincang. Tentu saja kami bicara soal Krakatau yang keramat itu. Karena masih pukul 10.00 malam, kami putuskan naik ferry sembari menunggu pagi. 
Sepanjang perjalanan kami nekad tidur di lantai dan tak peduli dengan orang lain. Ketika mulai tidur, hanya kami berdua yang tidur di lantai ala gelandangan. Ketika kami bangun, ternyata ada juga yang tidur di lantai seperti kami. Sampai pelabuhan Bakauheni, kami turun dan sekedar berjalan-jalan di sekitar pelabuhan saja. Tentu saja kami disambut calo-calo yang tampak sinis dengan orang ingin berjalan kaki dan kere. Dan kami penampik mereka benci pastinya.
Karena berangkat sore, kami tak akan tiba di Anyer pada sore hari. Saya, dan seorang kawan: sebut saja Nurun Najib Ad-Dakhil (maaf jika salah tulis kawan?) seorang sosiolog jebolan UI, memutuskan akan ke Merak. Dimana pelabuhan ferry yang menghubungkan Jawa-Sumatra berada. Kami makan malam di sebuah warung kecil. Dan pemilik warung yang ramah mengajak kami berbincang. Tentu saja kami bicara soal Krakatau yang keramat itu. Karena masih pukul 10.00 malam, kami putuskan naik ferry sembari menunggu pagi. Sepanjang perjalanan kami nekad tidur di lantai dan tak peduli dengan orang lain. Ketika mulai tidur, hanya kami berdua yang tidur di lantai ala gelandangan. Ketika kami bangun, ternyata ada juga yang tidur di lantai seperti kami. Sampai pelabuhan Bakauheni, kami turun dan sekedar berjalan-jalan di sekitar pelabuhan saja. Tentu saja kami disambut calo-calo yang tampak sinis dengan orang ingin berjalan kaki dan kere. Dan kami penampik mereka benci pastinya.
Sayup-sayup terdengar alunan musik. Sebuah Band lokal Lampung yang kondang se-Nusantara: Kangen Band.  Pendengar musik domestic tentu ingat lagu: Yolanda. Saya hanya tahu itu saja hits mereka. Hal lain yang saya tahu tentang Kangen Band, hanyalah mantan vokalisnya yang belakangan bernasib sial: Andhika. Selamat Datang di Bumi Kangen Band!!!
Karena hari masih gelap, kami tidur sebentar di dermaga. Menunggu pagi. Mata saya berhasil terpejam, meski tak sampai satu jam. Ketika mata terbuka, langit mulai sedikit cerah. Pemandangan bagus mulai terlihat. Dan kami mulai memotret. Akhirnya, perut kami merasa lapar. Kami masuk sebuah warung untuk makan nasi untuk mengganjal perut. Sekalian mengisi baterai HP kami yang sudah sekarat. Setelah selesai urusan di warung, kami menuju loket dan naik kapal. 
Pelabuhan mulai ramai. Kali ini bukan sayup-sayup lagi, dan kami berdua dengan jelas mendengar lagu Kangen Band lagi. Suka atau tidak suka kitorang semua pada ini Band, tetap saja mereka berhak didengar, apalagi di kampong halaman mereka: Lampung. Mereka K-Pop, mungkin kita harus memberi hak dengar juga. Perlahan kapal ferry kami meninggalkan Bakauheni. Setelah numpang tidur, buang air, charge HP dan ambil beberapa foto. Selamat tinggal Lampung. Selamat tinggal Kangen Band. Selamat tinggal Andhika.
Sayup-sayup terdengar alunan musik. Sebuah Band lokal Lampung yang kondang se-Nusantara: Kangen Band. Pendengar musik domestic tentu ingat lagu: Yolanda. Saya hanya tahu itu saja hits mereka. Hal lain yang saya tahu tentang Kangen Band, hanyalah mantan vokalisnya yang belakangan bernasib sial: Andhika. Selamat Datang di Bumi Kangen Band!!! Karena hari masih gelap, kami tidur sebentar di dermaga. Menunggu pagi. Mata saya berhasil terpejam, meski tak sampai satu jam. Ketika mata terbuka, langit mulai sedikit cerah. Pemandangan bagus mulai terlihat. Dan kami mulai memotret. Akhirnya, perut kami merasa lapar. Kami masuk sebuah warung untuk makan nasi untuk mengganjal perut. Sekalian mengisi baterai HP kami yang sudah sekarat. Setelah selesai urusan di warung, kami menuju loket dan naik kapal. Pelabuhan mulai ramai. Kali ini bukan sayup-sayup lagi, dan kami berdua dengan jelas mendengar lagu Kangen Band lagi. Suka atau tidak suka kitorang semua pada ini Band, tetap saja mereka berhak didengar, apalagi di kampong halaman mereka: Lampung. Mereka K-Pop, mungkin kita harus memberi hak dengar juga. Perlahan kapal ferry kami meninggalkan Bakauheni. Setelah numpang tidur, buang air, charge HP dan ambil beberapa foto. Selamat tinggal Lampung. Selamat tinggal Kangen Band. Selamat tinggal Andhika.
Bakauheni terlihat menjauh. Dan dari kejauhan kami melihat pulau-pulau kecil termasuk Rakata. Dan Gunung Krakatau. Krakatau, bukan sekedar gunung yang ledakan dasyat di abad lalu. Krakatau juga satu dari sekian legenda besar Nusantara. Sialnya, kami hanya bisa lihat dari kejauhan saja. Tentang ledakannya yang dasyat, Simon Wincester pernah menulis: Krakatoa. Bahkan ada film berjudul sama yang dibuat orang-orang asing. Bahkan, ada sebuah film silat yang sangat bagus berjudul Krakatau. Dimainkan Dicky Zulkarnaen—yang beken dengan karakter Pitung. Ceritanya: tentang pencarian murid perguruan Krakatau yang kabur. Berakhir dengan pertarungan menjelang meletusnya gunung Krakatau.
Bakauheni terlihat menjauh. Dan dari kejauhan kami melihat pulau-pulau kecil termasuk Rakata. Dan Gunung Krakatau. Krakatau, bukan sekedar gunung yang ledakan dasyat di abad lalu. Krakatau juga satu dari sekian legenda besar Nusantara. Sialnya, kami hanya bisa lihat dari kejauhan saja. Tentang ledakannya yang dasyat, Simon Wincester pernah menulis: Krakatoa. Bahkan ada film berjudul sama yang dibuat orang-orang asing. Bahkan, ada sebuah film silat yang sangat bagus berjudul Krakatau. Dimainkan Dicky Zulkarnaen—yang beken dengan karakter Pitung. Ceritanya: tentang pencarian murid perguruan Krakatau yang kabur. Berakhir dengan pertarungan menjelang meletusnya gunung Krakatau.

Mencari Ujung Jalan Deandels
Kami sampai lagi di Merak. Kembali ke misi awal: Anyer. Setelah ganti Angkot, kami temukan angkot khusus ke Anyer. Tidak sebentar untuk naik angkot ini menuju Anyer. Jalannya panjang dan berdebu. Sialnya lagi, kami lupa bawa masker. Karena lama, kami sempat tertidur di angkot. Angkot kami harus melewati komplek industri Krakatau Steel. Sambil saya memaki rezim orde baru dalam hati. Memaki sambil mengingat kata Max Lane, selama tigapuluh tahun lebih berkuasa, orde baru cuma punya Krakatau Steel saja untuk negeri sebesar NKRI. Mungkin import baja itu pahalanya besar, mungkin begitu dalam otak penguasa orba. 
Begitu lewat itu komplek industri, makian pun hilang. Mata kami mulai lihat laut, pantai dan pohon kelapa. Kami sudah sampai Anyer. Saatnya memaki Herman Deandels atas kekejamannya membangun jalan Anyer Panarukan. Dimana ribuan orang jadi korban. Darah dan keringat kaum kromo diperas habis-habisan. Mega-proyek Anyer-Panarukan itu sejatinya juga milik kaum kromo yang membangunnya. Dan keturunan kaum kromo itu layak menikmati jalanan yang dulu bagian dari jalan yang disebut Jalan Deandels itu. Jadi bukan melulu milik Deandels yang punya ide dan perintah.
Kami sampai lagi di Merak. Kembali ke misi awal: Anyer. Setelah ganti Angkot, kami temukan angkot khusus ke Anyer. Tidak sebentar untuk naik angkot ini menuju Anyer. Jalannya panjang dan berdebu. Sialnya lagi, kami lupa bawa masker. Karena lama, kami sempat tertidur di angkot. Angkot kami harus melewati komplek industri Krakatau Steel. Sambil saya memaki rezim orde baru dalam hati. Memaki sambil mengingat kata Max Lane, selama tigapuluh tahun lebih berkuasa, orde baru cuma punya Krakatau Steel saja untuk negeri sebesar NKRI. Mungkin import baja itu pahalanya besar, mungkin begitu dalam otak penguasa orba. Begitu lewat itu komplek industri, makian pun hilang. Mata kami mulai lihat laut, pantai dan pohon kelapa. Kami sudah sampai Anyer. Saatnya memaki Herman Deandels atas kekejamannya membangun jalan Anyer Panarukan. Dimana ribuan orang jadi korban. Darah dan keringat kaum kromo diperas habis-habisan. Mega-proyek Anyer-Panarukan itu sejatinya juga milik kaum kromo yang membangunnya. Dan keturunan kaum kromo itu layak menikmati jalanan yang dulu bagian dari jalan yang disebut Jalan Deandels itu. Jadi bukan melulu milik Deandels yang punya ide dan perintah.
Kami berusaha mencari titik awal jalan Deandels di Anyer. Sepanjang jalan kami mencari tulisan besar atau semacam tugu peringatan namun tak kami temui. Ternyata kami melewatkan Mercusuar. Saya hanya teringat mercusuar, yang mirip dalam film Krakatoa, yang habis disikat amukan Krakatau yang meletus 27 Agustus 1883. Ngeri sekali membayangkannya.
Kami nekad berhenti dan mulai bertanya dimana tugu peringatan titik nol Jalan Deandels. Agak sulit juga. Jarang ada orang yang tahu soal tugu kecil yang kami cari. Koneksi internet HP kami tak membantu.  Akhirnya kami dapat petunjuk, mungkin tugu itu di Mercusuar. Kami pun naik angkot lagi ke mercusuar. 
Di angkot kami berbincang dengan orang berpakaian rapi dan sedikit punya tampang agak garang. Kami bicara soal jalan di Banten, yang terkait dengan keluarga Ratu Atut. Orang ini agak membela adik si Ratu Atut dalam Bahasa yang halus dan ramah kepada kami. Kami hanya mengangguk. Mungkin dia jawara Banten juga (yang bisa jadi bagian dari APRA: Angkatan Perang Ratu Atut).
Kami berusaha mencari titik awal jalan Deandels di Anyer. Sepanjang jalan kami mencari tulisan besar atau semacam tugu peringatan namun tak kami temui. Ternyata kami melewatkan Mercusuar. Saya hanya teringat mercusuar, yang mirip dalam film Krakatoa, yang habis disikat amukan Krakatau yang meletus 27 Agustus 1883. Ngeri sekali membayangkannya. Kami nekad berhenti dan mulai bertanya dimana tugu peringatan titik nol Jalan Deandels. Agak sulit juga. Jarang ada orang yang tahu soal tugu kecil yang kami cari. Koneksi internet HP kami tak membantu. Akhirnya kami dapat petunjuk, mungkin tugu itu di Mercusuar. Kami pun naik angkot lagi ke mercusuar. Di angkot kami berbincang dengan orang berpakaian rapi dan sedikit punya tampang agak garang. Kami bicara soal jalan di Banten, yang terkait dengan keluarga Ratu Atut. Orang ini agak membela adik si Ratu Atut dalam Bahasa yang halus dan ramah kepada kami. Kami hanya mengangguk. Mungkin dia jawara Banten juga (yang bisa jadi bagian dari APRA: Angkatan Perang Ratu Atut).
Banten, dalam pandangan saya adalah daerah yang ironis. Padahal, di awal abad lalu, Husein Djajadiningrat (keturunan Bupati Banten) adalah orang Indonesia pertama yang jadi doctor di Universiteit Leiden. Bisa kita artikan orang Banten pintar sejak dulu. Sayang ini tidak bisa direfleksikan dengan baik. Di masa lalu boleh saja si Husein yang pintar, tapi harusnya setelah puluhan tahun, orang pintar di Banten terutama di masa depan haruslah seluruhnya. Sekarang kami sering lihat berita anak SD di banten harus menyebrangi jembatan rusak untuk pergi ke sekolah, itu tak hanya makan waktu tapi juga mempertaruhkan nyawa. Semoga ada perubahan.
Tak terasa angkot kami sampai di mercusuar. Kami langsung menuju Mercusuar. Dengan akal Yahudi si Najib yang punya tampang mirip Karl Marx, penjaga parkir yang mau pungut duit dari pejalan kaki tak mau pungut setelah Najib dengan tekanan bicara ala birokrat bilang: “Mau ke kantor!!!” Kami lolos dari pungli (pungutan liar). Jebakan pungli belum selesai, begitu mau masuk kami dicegat lagi. Sikap Keyahudian Najib hilang, dan dia langsung kasih uang Rp 10.000 untuk dia dan saya masuk mercusuar.
Banten, dalam pandangan saya adalah daerah yang ironis. Padahal, di awal abad lalu, Husein Djajadiningrat (keturunan Bupati Banten) adalah orang Indonesia pertama yang jadi doctor di Universiteit Leiden. Bisa kita artikan orang Banten pintar sejak dulu. Sayang ini tidak bisa direfleksikan dengan baik. Di masa lalu boleh saja si Husein yang pintar, tapi harusnya setelah puluhan tahun, orang pintar di Banten terutama di masa depan haruslah seluruhnya. Sekarang kami sering lihat berita anak SD di banten harus menyebrangi jembatan rusak untuk pergi ke sekolah, itu tak hanya makan waktu tapi juga mempertaruhkan nyawa. Semoga ada perubahan. Tak terasa angkot kami sampai di mercusuar. Kami langsung menuju Mercusuar. Dengan akal Yahudi si Najib yang punya tampang mirip Karl Marx, penjaga parkir yang mau pungut duit dari pejalan kaki tak mau pungut setelah Najib dengan tekanan bicara ala birokrat bilang: “Mau ke kantor!!!” Kami lolos dari pungli (pungutan liar). Jebakan pungli belum selesai, begitu mau masuk kami dicegat lagi. Sikap Keyahudian Najib hilang, dan dia langsung kasih uang Rp 10.000 untuk dia dan saya masuk mercusuar.
Selanjutnya, kami naiki tangga-tangga besi menuju lantai 16 mercusaur. Cukup melelahkan. Phobia ketinggian kambuh lagi. Dari atas mercusuar pemandangan Selat Sunda begitu indah. Dari jauh Krakatau terlihat juga, walau kecil sekali. Setelah mengambil beberapa gambar, kami turun.
Kami temukan informasi soal Mercusuar yang dibangun setelah letusan Krakatau, jelas tertulis itu mercusuar dibangun dimasa Raja Willem III dari Belanda—yang waktu itu kuasai nusantara alias Hindia Belanda. Tak jauh dari mercusuar kami temukan apa yang kami cari.
Selanjutnya, kami naiki tangga-tangga besi menuju lantai 16 mercusaur. Cukup melelahkan. Phobia ketinggian kambuh lagi. Dari atas mercusuar pemandangan Selat Sunda begitu indah. Dari jauh Krakatau terlihat juga, walau kecil sekali. Setelah mengambil beberapa gambar, kami turun. Kami temukan informasi soal Mercusuar yang dibangun setelah letusan Krakatau, jelas tertulis itu mercusuar dibangun dimasa Raja Willem III dari Belanda—yang waktu itu kuasai nusantara alias Hindia Belanda. Tak jauh dari mercusuar kami temukan apa yang kami cari.
Tugu kecil titik nol dari Jalan Raya Anyer Panarukan yang legendaris itu. Mungkin, dari sinilah Deandels memulai jalan bersejarah dan penuh darah itu. Sebelum jaman Deandels, kata orang Portugis pernah bikin bangunan juga, kemungkinan bangunan itu sudah hancur. 
Hari sudah siang ketika kami temukan  tugu kecil itu.  Karena perdamaian dunia terletak pada masalah perut, kami pun pergi makan. Untuk mengenang kolonialisme di nusantara sekali menghormati laut, maka nasi goreng seafood pilihan yang tepat.
Awalnya, niat kami adalah menunggu matahari terbenam. Karena awan tak mendukung kami meninggalkan Anyer lebih cepat dari jadwal.  Perjalanan membosankan akan menemui kami sepanang pulang. Mungkin melewati tinggalan Deandels juga sedikit  barangkali.
Tugu kecil titik nol dari Jalan Raya Anyer Panarukan yang legendaris itu. Mungkin, dari sinilah Deandels memulai jalan bersejarah dan penuh darah itu. Sebelum jaman Deandels, kata orang Portugis pernah bikin bangunan juga, kemungkinan bangunan itu sudah hancur. Hari sudah siang ketika kami temukan tugu kecil itu. Karena perdamaian dunia terletak pada masalah perut, kami pun pergi makan. Untuk mengenang kolonialisme di nusantara sekali menghormati laut, maka nasi goreng seafood pilihan yang tepat. Awalnya, niat kami adalah menunggu matahari terbenam. Karena awan tak mendukung kami meninggalkan Anyer lebih cepat dari jadwal. Perjalanan membosankan akan menemui kami sepanang pulang. Mungkin melewati tinggalan Deandels juga sedikit barangkali.

Selasa, Desember 31, 2013

Coretan Film Sukarno

Film yang bagus bukanlah film yang mengobral habis kepahlawanan, melainkan yang mengangkat sisi kemanusiaan. Maksudnya, agar yang buruk tak datang lagi dan yang terbaikterus diperjuangkan.

Awalnya, saya ogah nonton film yang diberi judul Soekarno ini. Bukan karena tidak suka Soekarno, tapi lebih karena ini bikinan Hanung Bramantyo. Sejak film Ayat-ayat Cinta , saya tidak suka lagi film-film Hanung. Sebelumnya, film pertama Hanung, Brownies jauh lebih bermutu menurut saya. Tapi, adalah Hak Hanung untuk membuat film di luar keinginan saya. Karena saya dengar periset film ini adalah kakak kelas waktu kuliah dulu, saya tergugah menonton film ini. setelah saya lewatkan banyak film Hanung yang kata orang bagus-bagus itu. 

Sebagai orang sok menyejarah, tentu saja, saya memperhatikan setting dan alur ceritanya. Ada bagian dari film-film yang mungkin aneh, atau berlebihan buat saya. Misal: adegan tentara Belanda (KNIL) yang jadi tawanan serdadu Jepang, dan akan dihukum mati oleh Jepang, di akhir kematiannya dengan lantang menyanyikan lagu Wilhemus van Nassau. Sepertinya, orang Belanda yang anti Jepang pun tak akan seheroik itu. Orang Belanda tak seheroik orang Jerman. Selanjutnya, ada serdadu PETA (pembela Tanah Air: Tentara Sukarela bikinan Pemerintah Militer Jepang) yang nampaknya beretnis Ambon. Orang Ambon memang berbakat jadi serdadu, tapi di masa pendudukan Jepang, mereka adalah orang-orang tersingkir yang sebisa mungkin jangan sampai pegang bedil. 

Saya juga agak ragu, apakah sedari awal Fatmawati dipanggi Fatma, dan bukan nama aslinya Fatimah? Tahu-tahu dalam film dia dipanggil Fatimah sebelum menjalin hubungan dengan Sukarno. Saya kira penggambaran Soekarno yang lantang dan memancing keributan terkesan agak berlebihan. Tak apalah, namanya juga film.  Juga gambaran Syahrir yang agak berlebihan dalam membenci Sukarno. Syahrir memang tak menyukai Sukarno, tapi tentu saja sikap anti itu pun tak berlebihan. Mereka hanya beda pandangan. Syahrir digambarkan agak sok serius. Saya lebih sering menemukan foto Syahrir sedang nyengir dan wajah bersahabat.

Meski ada setting dan alur dan setting yang ganjil, di mata saya, tetap saja ada hal yang luar biasa dari film ini. Setidaknya, para penonton jadi tahu kalau ada sosok Inggit Garnasih. Istri kedua Soekarno yang kesetiaan dan dukungannya luar biasa bagi hidup dan perjuangan Soekarno. Tak namanya dalam buku sejarah. Tapi ada jasanya dalam sejarah Indonesia. Jika mau berhitung (baca: membandingkan), Inggit lebih lama menemani Soekarno di masa-masa sulit. Dan, Fatma hanya sedikit alami itu. Soekarno bukan lagi orang buangan ketika Fatma jadi istri si Bung Besar itu.

Belakangan, saya dengar orang-orang ribut dan tampak kecewa dengan film ini. Lantaran Soekarno seperti digambarkan sebagai sosok lelaki dewasa beristri yang menggoda gadis remaja. Tapi, beberapa sejarawan menganggap begitulah adanya. Soekarno berpaling kepada Fatma dan terkesan mengkhianati cinta Inggit. Dalam kehidupan nyata, saya kira bukan hanya Soekarno yang seperti itu. Mungkin kita punya contoh masing-masing dalam kehidupan sehari-hari. Soal Inggit, kawan saya Reni Nuryanti dulu menulis soal wanita hebat ini dalam skripsinya. Dan Ramadhan KH pun menulis biografinya dalam bahasa yang sastrawi sekali.

Hanung saya kira berhasil menggambarkan Soekarno sebagai manusia. Bukan melulu sebagai pahlawan suci tak bernoda. Banyak pihak selau ingin film biografi yang menggambarkan tokoh idolanya sebagai manusia tanpa cela, kalau perlu setengah dewa. Memang, orang Indonesia suka dibohongi dan selalu ingin terlihat suci dan gagah. Tak masalah jika harus bertentangan dengan kemanusiaan dan kejujuran. Semoga dengan film ini orang Indonesia bisa belajar jujur dan menerima kenyataan pahit. Termasuk bisa menerima kenyataan jika idolanya, atau bahkan pendahulunya juga pernah salah. Bukan ditutupi seharusnya tapi diusahakan agar tidak terulang di masa depan.
Meski film ini agak ganjil buat saya, Tim Periset tidaklah gagal dalam mencari data. Nyatanya banyak data menarik, seperti soal Inggit diangkat ke permukaan. Soal dramatisasi itu urusan sutradara. Boleh dong Hanung melakukannya. Jika ada yang tidak suka dan tidak terima, silahkan buat film sendiri. Tak perlu main larang. Tanpa bermaksud memuji, film ini cukup menarik dan layak ditonton.

Rabu, Desember 18, 2013

Porselen Londo di Kesepuhan

Porselen tak hanya dari Tiongkok. Porselen dari Belanda, mungkin bisa bercerita pada kita bagaimana VOC mengusai Indonesia. 

Dahulu kala, punya porselen itu mungkin kemewahan bagi kaum ningrat. Juga hal bodoh bagi orang kere Indonesia tempo doeloe. Di banyak tempat di Indonesia, porselen kuno sering sekali ditemukan. Paling banyak dari Tiongkok. Banyak orang berpikir: Tiongkok adalah penghasil Porselin terbesar. Banyak orang pernah dengar soal keramik tinggalan dinasti Ming. Namun, ternyata porselen ala Belanda pun juga ada.
Dahulu kala, punya porselen itu mungkin kemewahan bagi kaum ningrat. Juga hal bodoh bagi orang kere Indonesia tempo doeloe. Di banyak tempat di Indonesia, porselen kuno sering sekali ditemukan. Paling banyak dari Tiongkok. Banyak orang berpikir: Tiongkok adalah penghasil Porselin terbesar. Banyak orang pernah dengar soal keramik tinggalan dinasti Ming. Namun, ternyata porselen ala Belanda pun juga ada.
Jika Anda berada di Keraton Kesepuhan Cirebon, di dinding Siti Hinggil, bagian depan Kraton, Anda akan temukan porselen-porselen. Bagi yang melihatnya sekilas, yang terpikir mungkin hanya: itu hanya porselen kuno. Namun, jika mendekat, Anda akan punya keberanian berkesimpulan jika porselen-porselen itu kebanyakan bercorak Eropa. 
Ada poselen bergambar kincir. Semua tahu kincir identik dengan Belanda, karena orang mengenal Belanda sebagai Negeri Kincir Angin. Kincir Angin yang biasa dipakai di Negeri Belanda untuk berbagai keperluan tak pernah diterapkan di Indonesia.
Jika Anda berada di Keraton Kesepuhan Cirebon, di dinding Siti Hinggil, bagian depan Kraton, Anda akan temukan porselen-porselen. Bagi yang melihatnya sekilas, yang terpikir mungkin hanya: itu hanya porselen kuno. Namun, jika mendekat, Anda akan punya keberanian berkesimpulan jika porselen-porselen itu kebanyakan bercorak Eropa. Ada poselen bergambar kincir. Semua tahu kincir identik dengan Belanda, karena orang mengenal Belanda sebagai Negeri Kincir Angin. Kincir Angin yang biasa dipakai di Negeri Belanda untuk berbagai keperluan tak pernah diterapkan di Indonesia.
Ada porselen bergambar sebuah rumah yang agak besar di tepi laut. Kita mengenal Belanda sebagai Negara maritim juga. Karena Negara maritim itulah Belanda bisa menguasai perairan dan daratan di Nusantara alias Indonesia. Diantara porselen itu, terdapat juga porselen bergambar kapal besar yang sedang berlayar.
Ada porselen bergambar sebuah rumah yang agak besar di tepi laut. Kita mengenal Belanda sebagai Negara maritim juga. Karena Negara maritim itulah Belanda bisa menguasai perairan dan daratan di Nusantara alias Indonesia. Diantara porselen itu, terdapat juga porselen bergambar kapal besar yang sedang berlayar.
Orang Belanda, yang datang demi rempah-rempah untuk mereka monopoli dan dagangkan dengan harga bagus, kemudian mendirikan VOC (Vereniging Oost-Indische Compagnie alias maskapai dagang Hindia Timur). Mereka datang dengan banyak kapal. Beberapa memastikan mereka datang dengan rombongan besar. Dimana tak hanya pedagang dan pelaut di dalam kapal-kapal itu, tapi juga rohaniawan, ahli bangunan, dokter, rohaniawan, juru masak, ahli geografi, dan pastinya serdadu-serdadu. Kapal-kapal besar itulah yang membawa cikal-bakal VOC yang menguasai nusantara. Maskapai ini usianya tak lebih dari 200 tahun. Berdiri tahun 1602, dan dinyatakan bangkrut pada 31 Desember 1799, karena krisis keuangan akibat sering perang dan kecurangan pegawainya.
Orang Belanda, yang datang demi rempah-rempah untuk mereka monopoli dan dagangkan dengan harga bagus, kemudian mendirikan VOC (Vereniging Oost-Indische Compagnie alias maskapai dagang Hindia Timur). Mereka datang dengan banyak kapal. Beberapa memastikan mereka datang dengan rombongan besar. Dimana tak hanya pedagang dan pelaut di dalam kapal-kapal itu, tapi juga rohaniawan, ahli bangunan, dokter, rohaniawan, juru masak, ahli geografi, dan pastinya serdadu-serdadu. Kapal-kapal besar itulah yang membawa cikal-bakal VOC yang menguasai nusantara. Maskapai ini usianya tak lebih dari 200 tahun. Berdiri tahun 1602, dan dinyatakan bangkrut pada 31 Desember 1799, karena krisis keuangan akibat sering perang dan kecurangan pegawainya.
Terdapat juga gambar serdadu-serdadu Belanda.  Ada poselen dengan gambar yang serdadu memegang bedil kuno. Satu porselen dengan gambar serdadu memegang tombak. Mereka mengenakan pakaian ala Eropa, yang mungkin jadi trend sekitar abad XVI-XVII. Di zaman VOC, tak semua serdadu sewaan Belanda menggunakan pakaian yang benar-benar sama seperti gambar di porselen. Tak semuanya pula yang pegang bedil panjang. Serdadu sewaan atau serdadu bantuan VOC yang orang Indonesia umumnya hanya pakai senjata tajam non api: tombak, parang atau panah. Mereka banyak yang tak bersepatu. Umumnya juga bertelanjang badan.
Terdapat juga gambar serdadu-serdadu Belanda. Ada poselen dengan gambar yang serdadu memegang bedil kuno. Satu porselen dengan gambar serdadu memegang tombak. Mereka mengenakan pakaian ala Eropa, yang mungkin jadi trend sekitar abad XVI-XVII. Di zaman VOC, tak semua serdadu sewaan Belanda menggunakan pakaian yang benar-benar sama seperti gambar di porselen. Tak semuanya pula yang pegang bedil panjang. Serdadu sewaan atau serdadu bantuan VOC yang orang Indonesia umumnya hanya pakai senjata tajam non api: tombak, parang atau panah. Mereka banyak yang tak bersepatu. Umumnya juga bertelanjang badan.
Soal kenapa ada porselen-poselen itu ada di kraton? Kita bisa menebak ada hubungan antara Cirebon dengan Belanda. Bisa jadi porselen itu hadiah atau beli. Atau bagi yang tidak suka pada Belanda, mungkin akan berpikiran jika porselen itu pampasan perang. 
Porselen-porselen itu tentunya bukan buatan orang Cirebon dan pastinya tak mencerminkan kehidupan sehari-hari orang Cirebon. Apa maksud porselen-porselen itu dipajang, belum jelas. Apakah karena porselen itu barang mewah. Keluarga Ningrat memang kaya dan banyak koleksi perhiasan. Tak ada salahnya memajangnya di dinding kraton. Selain terlihat bagus tentu akan menaikkan prestis. Perkara itu mencerminkan kepribadian atau tidak, itu perkara nanti. Orang Indonesia mungkin tidak sadar: meski mulut mereka mendewa-dewakan Timur, tapi mereka tak sadar mereka lsering melakukan pembaratan dalam hidup mereka.
Soal kenapa ada porselen-poselen itu ada di kraton? Kita bisa menebak ada hubungan antara Cirebon dengan Belanda. Bisa jadi porselen itu hadiah atau beli. Atau bagi yang tidak suka pada Belanda, mungkin akan berpikiran jika porselen itu pampasan perang. Porselen-porselen itu tentunya bukan buatan orang Cirebon dan pastinya tak mencerminkan kehidupan sehari-hari orang Cirebon. Apa maksud porselen-porselen itu dipajang, belum jelas. Apakah karena porselen itu barang mewah. Keluarga Ningrat memang kaya dan banyak koleksi perhiasan. Tak ada salahnya memajangnya di dinding kraton. Selain terlihat bagus tentu akan menaikkan prestis. Perkara itu mencerminkan kepribadian atau tidak, itu perkara nanti. Orang Indonesia mungkin tidak sadar: meski mulut mereka mendewa-dewakan Timur, tapi mereka tak sadar mereka lsering melakukan pembaratan dalam hidup mereka.

Selasa, Desember 10, 2013

Cukup Bandara Sepinggan Saja

Tak ada yang salah dengan nama Sepinggan. Kemulian hati dan menghargai sejarah tak harus dengan memberikan nama raja sebagai Bandara.


Dulu, nama Jalan Affandi Yogyakarta adalah Jalan Gejayan. Tetap saja orang-orang yang terbiasa melewati jalan itu masih terbiasa menyebut nama jalan itu Gejayan. Bukan Affandi. Ini bukan berarti tak menghormati Affandi yang maestro lukis Indonesia yang tak boleh dilupakan. Cara menghormati seorang maestro bukan mencomot namanya, namun meneladani dan berkarya apa saja, seperti yang didedikasikan sang Maestro.
Sebagai kota pelabuhan, Balikpapan punya lapangan terbang. Lapangan terbang yang bernama Sepinggan ini, setidaknya sudah ada sebelum datangnya Balatentara Jepang. Ada yang menyebut bandara ini dibangun untuk kepentingan Bataafs Petroleum Maatschappij (maskapai minyak Belanda) yang kita sebut BPM. Sebagai lapangan terbang, Sepinggan adalah bagian penting dari sejarah Balikpapan.  
Soal mengapa namanya Sepinggan, sebetulnya masih jadi teka-teki yang menarik untuk membuat otak-otak orang berpikir. Ini bukan hal buruk, karena keberadaan seseorang itu ditentukan ketika dia berpikir. “Cogito Ergu Sum (Saya Berpikir Maka Saya Ada),” kata Rene Descartes. Toch berhenti berpikir akan membuat seseorang menjadi pikun dan lupa. Selama kita melatih otak kita untuk berpikir maka itu bisa menghindari pusing. Mengganti nama Sepinggan, yang sudah jadi icon Balikpapan, berarti membuat orang malas berpikir. Selanjutnya bisa menjerumuskan orang Balikpapan menjadi bodoh. Ini tentu alasan yang sulit diterima orang yang malas berpikir.
            Belakangan muncul wacana konyol: perubahan nama Sepinggan menjadi Sultan Adji Moehammad Soelaiman. Nama yang jadi wacana itu diambil dari nama seorang Sultan Kutai yang memberikan konsesi kepada maskapai minyak Belanda. Dari konsesi itu, pundi-pundi sang Sultan bertambah. Lalu, minyak dan para buruh minyak itulah yang bergerak membangun sebuah kampong yang boleh kita sebut sebagai Balikpapan menjadi sebuah kota modern.
Dulu, nama Jalan Affandi Yogyakarta adalah Jalan Gejayan. Tetap saja orang-orang yang terbiasa melewati jalan itu masih terbiasa menyebut nama jalan itu Gejayan. Bukan Affandi. Ini bukan berarti tak menghormati Affandi yang maestro lukis Indonesia yang tak boleh dilupakan. Cara menghormati seorang maestro bukan mencomot namanya, namun meneladani dan berkarya apa saja, seperti yang didedikasikan sang Maestro. Sebagai kota pelabuhan, Balikpapan punya lapangan terbang. Lapangan terbang yang bernama Sepinggan ini, setidaknya sudah ada sebelum datangnya Balatentara Jepang. Ada yang menyebut bandara ini dibangun untuk kepentingan Bataafs Petroleum Maatschappij (maskapai minyak Belanda) yang kita sebut BPM. Sebagai lapangan terbang, Sepinggan adalah bagian penting dari sejarah Balikpapan. Soal mengapa namanya Sepinggan, sebetulnya masih jadi teka-teki yang menarik untuk membuat otak-otak orang berpikir. Ini bukan hal buruk, karena keberadaan seseorang itu ditentukan ketika dia berpikir. “Cogito Ergu Sum (Saya Berpikir Maka Saya Ada),” kata Rene Descartes. Toch berhenti berpikir akan membuat seseorang menjadi pikun dan lupa. Selama kita melatih otak kita untuk berpikir maka itu bisa menghindari pusing. Mengganti nama Sepinggan, yang sudah jadi icon Balikpapan, berarti membuat orang malas berpikir. Selanjutnya bisa menjerumuskan orang Balikpapan menjadi bodoh. Ini tentu alasan yang sulit diterima orang yang malas berpikir. Belakangan muncul wacana konyol: perubahan nama Sepinggan menjadi Sultan Adji Moehammad Soelaiman. Nama yang jadi wacana itu diambil dari nama seorang Sultan Kutai yang memberikan konsesi kepada maskapai minyak Belanda. Dari konsesi itu, pundi-pundi sang Sultan bertambah. Lalu, minyak dan para buruh minyak itulah yang bergerak membangun sebuah kampong yang boleh kita sebut sebagai Balikpapan menjadi sebuah kota modern.
Di kota-kota lain, kebanyakan nama bandara adalah nama-nama orang, seperti Adisucipto, Sukarno-Hatta, Sultan Mahmud Badarudin II, Juanda, Ngurah Raid dan entah apalagi. Namun, ada juga yang masih nyaman dengan nama tempat seperti Sentani. Ini adalah hal yang sangat jarang alias sedikit kota yang melakukannya. Menjadi sesuatu yang sedikit itu adalah salah satu karakter.
            Selama ini banyak orang merasa jika Balikpapan adalah kota tak berkarakter apalagi tak beridentitas. Ini salah!!! Tak semua kota bisa setertib dan sebersih Balikpapan. Penyebrang jalan, bisa jadi raja di jalanan kota Balikpapan karena banyak pengendara rela memberi jalan pada penyebrang. Tak seperti Jakarta yang dibangga-banggakan Indonesia. Itu karakter dan identitas Balikpapan.
Ada lagi yang bisa dibanggakan sebagai karakter dan identitas Balikpapan: mempertahankan nama Sepinggan. Dengan itu, maka Balikpapan, beserta warga kotanya, akan terhindar dari image latah. Seperti halnya manusia, kota yang baik pun adalah kota yang bisa menjadi dirinya sendiri. Orang atau kota yang latah adalah kota yang tak layak disebut dalam sejarah.
            Saat ini, polemik perubahan nama terus berlangsung. Bagi yang ingin Balikpapan menjadi kota berkarakter, tentunya konsisten denga nama Sepinggan. Namun, pejabat lokal ingin adanya kemulian hati, atau kita sebut saja mengalah.
Di kota-kota lain, kebanyakan nama bandara adalah nama-nama orang, seperti Adisucipto, Sukarno-Hatta, Sultan Mahmud Badarudin II, Juanda, Ngurah Raid dan entah apalagi. Namun, ada juga yang masih nyaman dengan nama tempat seperti Sentani. Ini adalah hal yang sangat jarang alias sedikit kota yang melakukannya. Menjadi sesuatu yang sedikit itu adalah salah satu karakter. Selama ini banyak orang merasa jika Balikpapan adalah kota tak berkarakter apalagi tak beridentitas. Ini salah!!! Tak semua kota bisa setertib dan sebersih Balikpapan. Penyebrang jalan, bisa jadi raja di jalanan kota Balikpapan karena banyak pengendara rela memberi jalan pada penyebrang. Tak seperti Jakarta yang dibangga-banggakan Indonesia. Itu karakter dan identitas Balikpapan. Ada lagi yang bisa dibanggakan sebagai karakter dan identitas Balikpapan: mempertahankan nama Sepinggan. Dengan itu, maka Balikpapan, beserta warga kotanya, akan terhindar dari image latah. Seperti halnya manusia, kota yang baik pun adalah kota yang bisa menjadi dirinya sendiri. Orang atau kota yang latah adalah kota yang tak layak disebut dalam sejarah. Saat ini, polemik perubahan nama terus berlangsung. Bagi yang ingin Balikpapan menjadi kota berkarakter, tentunya konsisten denga nama Sepinggan. Namun, pejabat lokal ingin adanya kemulian hati, atau kita sebut saja mengalah.
“Mengakhiri polemik itu adalah kemuliaan hati dari warga Kalimantan Timur. Menambah nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada nama bandara Sepinggan adalah suatu keluhuran yakni keluhuran pikiran, hati dan jiwa semua semua warga Kalimantan Timur,” kata Awang Yacoub, ketua DPRD Kutai Kartanegara. Maka baiklah, kami minta kepada semua pihak dengan kemulian hati untuk tetap mempertahankan nama Sepinggan sebagai nama bandara kebanggaan Balikpapan.  
            Bicara soal menghargai sang Sultan Kutai, sebaiknya dirikan saja sebuah universitas yang betul-betul dibutuhkan bagi masyarakat Kaltim. Atau jadikan saja nama jalan bagus yang menghubungkan banyak daerah. Mungkin bisa juga dijadikan nama jembatan di Tenggarong yang kemarin runtuh.
            Mari kita bertanya lagi, buat apa memberi nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada sebuah bandara di kota kecil? Apakah itu artinya tidak menghina Sultan Adji Moehammad Soelaiman sendiri. Saya kira, nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman akan dibutuhkan ditempat lain. Harus kita sadari, para Balikpapaner (baca: orang-orang Balikpapaner), sudah terbiasa dengan nama Balikpapan. Memaksakan nama baru, berarti menganiaya lidah Balikpapaner. Jadi mengganti nama Sepinggan bukan kebijaksaan atau kemuliaan hati. Jangan sampai belakangan kita sadar jika ada muatan politik dibalik nama baru bandara dalam rangka Pemilu 2014 atau politik dinasti. Itu akan memperburuk citra Balikpapan sebagai kota berkarakter...
“Mengakhiri polemik itu adalah kemuliaan hati dari warga Kalimantan Timur. Menambah nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada nama bandara Sepinggan adalah suatu keluhuran yakni keluhuran pikiran, hati dan jiwa semua semua warga Kalimantan Timur,” kata Awang Yacoub, ketua DPRD Kutai Kartanegara. Maka baiklah, kami minta kepada semua pihak dengan kemulian hati untuk tetap mempertahankan nama Sepinggan sebagai nama bandara kebanggaan Balikpapan. Bicara soal menghargai sang Sultan Kutai, sebaiknya dirikan saja sebuah universitas yang betul-betul dibutuhkan bagi masyarakat Kaltim. Atau jadikan saja nama jalan bagus yang menghubungkan banyak daerah. Mungkin bisa juga dijadikan nama jembatan di Tenggarong yang kemarin runtuh. Mari kita bertanya lagi, buat apa memberi nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman pada sebuah bandara di kota kecil? Apakah itu artinya tidak menghina Sultan Adji Moehammad Soelaiman sendiri. Saya kira, nama Sultan Adji Moehammad Soelaiman akan dibutuhkan ditempat lain. Harus kita sadari, para Balikpapaner (baca: orang-orang Balikpapaner), sudah terbiasa dengan nama Balikpapan. Memaksakan nama baru, berarti menganiaya lidah Balikpapaner. Jadi mengganti nama Sepinggan bukan kebijaksaan atau kemuliaan hati. Jangan sampai belakangan kita sadar jika ada muatan politik dibalik nama baru bandara dalam rangka Pemilu 2014 atau politik dinasti. Itu akan memperburuk citra Balikpapan sebagai kota berkarakter...

Selasa, November 26, 2013

Dari Oom Bintang sampai Bier Bintang

Anak kecil, berpikir bintang; serdadu KNIL bangga kalau ada bintang di dada. Dan sebagian orang meminumnya di kala senggang.


Di sebuah tempat sunyi di pedalaman Papua yang bernama Tanah Merah alias Boven Digoel, tersebutlah seorang mantra polisi. Di mata  Thomas Nayoan Si Raja Pelarian yang kesohor karena doyan kabur itu, Oom Bintang bukan sipir jahat yang suka menyiksa tahanan. Oom Bintang yang ditemui Thomas Nayoan pastinya tak sejahat dan sebengis sipir penjara jaman orde baru yang suka memerah keringat orang tahanan untuk kepentingan pribadi. Seperti seorang abdi negara yang pernah menyuruh Hendra Gunawan melukis, lalu uang penjualan lukisan itu dimakan untuk dirinya. Oom Bintang yang di Boven Digoel tak seperti kesannya barangkali. Jadi, kata siapa jaman colonial lebih buruk daripada jaman Indonesia merdeka?
 Mari kita bicara lagi soal Oom Bintang. Dulu, setelah Thomas Nayoan tertangkap lagi setelah kaburnya yang begitu heroik sampai Australia, Nayoan tak sedih. Dia masih suka berkelakar seperti ini: “Australia tak suka padaku, maka kembalilah ke Oom Bintang!” 
Orang yang melihatnya, akan berpikir Nayoan terlihat seperti orang bebas tanpa tekanan di Digoel. Nayoan terlihat sebagai orang yang suka tersenyum.    Terbayang dalam pikiran saya, Oom Bintang hanya geleng-geleng saja pada Nayoan. Paling Nayoan hanya ditaruh di ruang isolasi saja. Tak perlu disiksa, karena pernah tinggal di Digoel saja sudah siksaan buat Nayoan cs.
Suatu kali Syahrir bertanya pada Nayoan, “apa tujuan pelariannya?.” Thomas Nayoan, dengan lucunya menjawab: “Yang pertama lari untuk ketemu Lenin, tetapi yang ketemu Oom Bintang. Yang kedua kali ingin ketemu Stalin, tetapi yang ketemu Oom Bintang juga.”
Di sebuah tempat sunyi di pedalaman Papua yang bernama Tanah Merah alias Boven Digoel, tersebutlah seorang mantra polisi. Di mata Thomas Nayoan Si Raja Pelarian yang kesohor karena doyan kabur itu, Oom Bintang bukan sipir jahat yang suka menyiksa tahanan. Oom Bintang yang ditemui Thomas Nayoan pastinya tak sejahat dan sebengis sipir penjara jaman orde baru yang suka memerah keringat orang tahanan untuk kepentingan pribadi. Seperti seorang abdi negara yang pernah menyuruh Hendra Gunawan melukis, lalu uang penjualan lukisan itu dimakan untuk dirinya. Oom Bintang yang di Boven Digoel tak seperti kesannya barangkali. Jadi, kata siapa jaman colonial lebih buruk daripada jaman Indonesia merdeka? Mari kita bicara lagi soal Oom Bintang. Dulu, setelah Thomas Nayoan tertangkap lagi setelah kaburnya yang begitu heroik sampai Australia, Nayoan tak sedih. Dia masih suka berkelakar seperti ini: “Australia tak suka padaku, maka kembalilah ke Oom Bintang!” Orang yang melihatnya, akan berpikir Nayoan terlihat seperti orang bebas tanpa tekanan di Digoel. Nayoan terlihat sebagai orang yang suka tersenyum. Terbayang dalam pikiran saya, Oom Bintang hanya geleng-geleng saja pada Nayoan. Paling Nayoan hanya ditaruh di ruang isolasi saja. Tak perlu disiksa, karena pernah tinggal di Digoel saja sudah siksaan buat Nayoan cs. Suatu kali Syahrir bertanya pada Nayoan, “apa tujuan pelariannya?.” Thomas Nayoan, dengan lucunya menjawab: “Yang pertama lari untuk ketemu Lenin, tetapi yang ketemu Oom Bintang. Yang kedua kali ingin ketemu Stalin, tetapi yang ketemu Oom Bintang juga.”
Usut punya usut, Oom Bintang adalah pensiunan Sersan KNIL  barangkali. Pangkat yang sudah cukup baik baik orang Indonesia di KNIL. yang menjadi mantri polisi di Tanah Merah Boven Digoel. Tak jelas siapa nama aslinya, hanya diketahui dia adalah orang Ambon. Dia pernah terlibat dalam perang Aceh, dimana dia mendapat bintang (medali kehormatan militer dari kerajaan). Itulah kenapa dirinya dipanggil Oom Bintang.    
 Gubernemen Belanda, tentu bukan penajajah yang bodoh dalam meperlakukan orang pribumi. Jauh lebih pinter ketimbang penguasa berambut hitam terhadap saudara sedarah dan setanah airnya. Ada kerja ada gaji. Ada jasa bisa dapat penghargaan atau bintang. Itu prinsip gubernemen Belanda. Bukan karena koneksi lantas seenaknya dapat bintang, apalagi jadi pahlawan nasional.
 Dulu, waktu gubernemen Belanda masih berkuasa, ada penghargaan khusus bagi serdadu yang berjasa. Tapi, ada tingkatan medali bagi serdadu yang berjasa, Militair Willemsorde. Nah sialnya, orang pribumi paling banyak hanya dapat Militair Willemsorde kelas IV saja. Sedikit yang dapat di kelas atasnya. Tapi, dasar orang Indonesia yang cepat bersyukur, apapun namanya dan tingkatannya, dapat bintang macam Militair Willemsorde kelas IV, saja bangga luar biasa. Pakai seragam dengan medali di dada, itu membanggakan. 
Orang Indonesia memang tergolong orang-orang haus penghargaan atau gelar. Tak perlu heran jika banyak orang Indonesia yang doyan mengoleksi dan mengejar sertifikat. Tak heran jika diantara kita ada yang mengejar gelar haji, sarjana, bahkan Pahlawan Nasional. Tapi, setidaknya mereka akan dapat gelar almarhum juga.   
Punya bintang dari Kanjeng Ratu itu sesuatu banget. Bisa dibayangkan betapa bahagianya mantri polisi Tanah Merah itu disapa Oom Bintang. 
Ada rumor, kenapa di tahun 1950, serdadu-serdadu KNIL bikin rebut? Ternyata mereka sudah lama tak minum bier. Tak ada lagi jatah bier, karena KNIL hamper bubar. Jika mereka berganti gabung ke TNI mereka tak bakal dapat jatah bier.
Usut punya usut, Oom Bintang adalah pensiunan Sersan KNIL barangkali. Pangkat yang sudah cukup baik baik orang Indonesia di KNIL. yang menjadi mantri polisi di Tanah Merah Boven Digoel. Tak jelas siapa nama aslinya, hanya diketahui dia adalah orang Ambon. Dia pernah terlibat dalam perang Aceh, dimana dia mendapat bintang (medali kehormatan militer dari kerajaan). Itulah kenapa dirinya dipanggil Oom Bintang. Gubernemen Belanda, tentu bukan penajajah yang bodoh dalam meperlakukan orang pribumi. Jauh lebih pinter ketimbang penguasa berambut hitam terhadap saudara sedarah dan setanah airnya. Ada kerja ada gaji. Ada jasa bisa dapat penghargaan atau bintang. Itu prinsip gubernemen Belanda. Bukan karena koneksi lantas seenaknya dapat bintang, apalagi jadi pahlawan nasional. Dulu, waktu gubernemen Belanda masih berkuasa, ada penghargaan khusus bagi serdadu yang berjasa. Tapi, ada tingkatan medali bagi serdadu yang berjasa, Militair Willemsorde. Nah sialnya, orang pribumi paling banyak hanya dapat Militair Willemsorde kelas IV saja. Sedikit yang dapat di kelas atasnya. Tapi, dasar orang Indonesia yang cepat bersyukur, apapun namanya dan tingkatannya, dapat bintang macam Militair Willemsorde kelas IV, saja bangga luar biasa. Pakai seragam dengan medali di dada, itu membanggakan. Orang Indonesia memang tergolong orang-orang haus penghargaan atau gelar. Tak perlu heran jika banyak orang Indonesia yang doyan mengoleksi dan mengejar sertifikat. Tak heran jika diantara kita ada yang mengejar gelar haji, sarjana, bahkan Pahlawan Nasional. Tapi, setidaknya mereka akan dapat gelar almarhum juga. Punya bintang dari Kanjeng Ratu itu sesuatu banget. Bisa dibayangkan betapa bahagianya mantri polisi Tanah Merah itu disapa Oom Bintang. Ada rumor, kenapa di tahun 1950, serdadu-serdadu KNIL bikin rebut? Ternyata mereka sudah lama tak minum bier. Tak ada lagi jatah bier, karena KNIL hamper bubar. Jika mereka berganti gabung ke TNI mereka tak bakal dapat jatah bier.

Mungkin, kebiasaan serdadu KNIl minum bier sedikit bisa dilacak dari terbitan organisasi pensiunan militer KNIL (Bond van Inheemsche Gepensioneneerde Militairen) bernama TROMPET. Ada iklan bier dalam terbitan-terbitan yang bisa ditemukan di Perpustakaan Nasional Jakarta lantai 7. Setidaknya ada iklan Javabier; Ankerpils dan juga Heinekens. Setidaknya, marketing perusahaan bier bisa mencium ada peminum di kalangan serdadu-serdadu. 
Terbitan ini menarik karena selain berisi kabar-kabar soal para pensiunan KNIL yang tersebar di Hindia Belanda, ada sebuah rubrik bernama Ridders—yang berisi kisah-kisah heroik pensiunan itu di waktu muda dulu. Ketika mereka bertempur melawan para pemberontak pribumi yang ogah nurut sama Gubernemen dan hanya bersenjata golok. Ada yang bertempur di Aceh atau Flores. Nah atas aksi-aksi heroik itu mereka dapat bintang. 
Belakangan, ada adik tiri dari Heinekens yang dikenal sebagai Bintang. Dimana bier ini kemudian begitu dikenal di Indonesia dan masih cukup diminati di Indonesia. Ternyata, ini bier punya sejarha panjang juga. Pada tahun 1929, perusahaan bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen didirikan di Medan dan pabrik pembuatan bir di Ngegel Surabaya.  Pada tahun 1936, kantor dipindahkan ke Surabaya, dan pada tahun yang sama, Heineken NV menjadi pemegang saham utama. Dari sinilah bier Bintang lahir dan berkembang hingga sekarang.
Mungkin, kebiasaan serdadu KNIl minum bier sedikit bisa dilacak dari terbitan organisasi pensiunan militer KNIL (Bond van Inheemsche Gepensioneneerde Militairen) bernama TROMPET. Ada iklan bier dalam terbitan-terbitan yang bisa ditemukan di Perpustakaan Nasional Jakarta lantai 7. Setidaknya ada iklan Javabier; Ankerpils dan juga Heinekens. Setidaknya, marketing perusahaan bier bisa mencium ada peminum di kalangan serdadu-serdadu. Terbitan ini menarik karena selain berisi kabar-kabar soal para pensiunan KNIL yang tersebar di Hindia Belanda, ada sebuah rubrik bernama Ridders—yang berisi kisah-kisah heroik pensiunan itu di waktu muda dulu. Ketika mereka bertempur melawan para pemberontak pribumi yang ogah nurut sama Gubernemen dan hanya bersenjata golok. Ada yang bertempur di Aceh atau Flores. Nah atas aksi-aksi heroik itu mereka dapat bintang. Belakangan, ada adik tiri dari Heinekens yang dikenal sebagai Bintang. Dimana bier ini kemudian begitu dikenal di Indonesia dan masih cukup diminati di Indonesia. Ternyata, ini bier punya sejarha panjang juga. Pada tahun 1929, perusahaan bernama NV Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen didirikan di Medan dan pabrik pembuatan bir di Ngegel Surabaya. Pada tahun 1936, kantor dipindahkan ke Surabaya, dan pada tahun yang sama, Heineken NV menjadi pemegang saham utama. Dari sinilah bier Bintang lahir dan berkembang hingga sekarang.
Anda bisa temukan gambar bintang merah di bier Bintang maupun  Heinekens.Orang Indonesia mungkin kesulitan menyebut, bahkan mengingat, kata Heinekens. Orang mungkin lebih ingat bintang merah yang ada diatas tulisan Heinekens. Itu mungkin alasan orang lebih mengenalnya sebagai Bintang. Lalu dibuatlah merk baru agar orang mudah mengingat dan melafalkan. Inilah Heinekens versi lokal alias Bintang.
Pernah ada iklan bir Tjap Bintang dengan logo bintang segienam seperti bintang Daud di koran Soerabaiasche Handelsblaad. Tapi sepertinya ini berbeda dengan Bintang yang adik tiri Heinekens tadi. Bir ini sepertinya cocok dengan serdadu-serdadu-nya Ratu Belanda, baik yang totok maupun yang pribumi. Tegukan pertama rasanya seperti disematkan bintang oleh Ratu Wilhelmina. Selanjutnya, dunia dalam genggaman dan akhirnya Je Martendrai (kita akan berkuasa selamanya).
Anda bisa temukan gambar bintang merah di bier Bintang maupun Heinekens.Orang Indonesia mungkin kesulitan menyebut, bahkan mengingat, kata Heinekens. Orang mungkin lebih ingat bintang merah yang ada diatas tulisan Heinekens. Itu mungkin alasan orang lebih mengenalnya sebagai Bintang. Lalu dibuatlah merk baru agar orang mudah mengingat dan melafalkan. Inilah Heinekens versi lokal alias Bintang. Pernah ada iklan bir Tjap Bintang dengan logo bintang segienam seperti bintang Daud di koran Soerabaiasche Handelsblaad. Tapi sepertinya ini berbeda dengan Bintang yang adik tiri Heinekens tadi. Bir ini sepertinya cocok dengan serdadu-serdadu-nya Ratu Belanda, baik yang totok maupun yang pribumi. Tegukan pertama rasanya seperti disematkan bintang oleh Ratu Wilhelmina. Selanjutnya, dunia dalam genggaman dan akhirnya Je Martendrai (kita akan berkuasa selamanya).