Jumat, Juli 29, 2011

Melawan Lupa dengan Tidak Menghafal

Pertama yang terbesit bagi orang-orang yang pernah belajar sejarah di sekolah adalah menghafal. Banyak yang mengamini belajar sejarah adalah pelajaran yang menghafal. Jadilah pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang dihindari di sekolah. Hebat juga orang yang membuat siswa harus menghafal. Akhirnya, esensi sejarah untuk berkaca dari masa lalu untuk menghadapi masa depan hanya omong kosong. Mungkin ini yang diinginkan dunia pendidikan di Indonesia.


Menghafal

Semua orang sepakat pelajaran sejarah adalah pelajaran menghafal. Menggali hal-hal menarik berupa nilai-nilai kemanusiaan bukan lagi hal penting. Anak-anak SMA tentu merasa sejarah adalah pelajaran menghafal tanggal-tanggal.

Karena tuntutan menghafal, membuat banyak orang yang awalnya agak tertarik dengan pelajaran sejarah jadi bosan dan kehilangan rasa tertarik itu. Sejarah memang untuk mengobati rasa penasaran. Bukan berarti harus menghafal detilnya saja. Tapi mencari esensi dibalik peristiwa itu. Rasanya yang diinginkan pejabat pendidikan Indonesia hanya generasi yang bisanya hanya menghafal. Dan bukan generasi yang bisa belajar dari masa lalu. Kita tahu, para siswa dibuat menghafal menjelang ujian dan kemudian lupa karena tidak membekas sama sekali. Kita tahu banyak hal yang kita lupa setelah kita berjuang keras menghafal.


Memang banyak orang yang belajar sejarah bisa hafal—dalam jangka waktu—beberapa hal dalam sejarah tertentu. Biasanya itu bukan karena memaksakan diri untuk menghafal, tapi lebih karena membaca santai dan tidak dalam tekanan. Setidaknya itu pengalaman saya dan beberapa kawan (sejarawan) muda saya yang bergelut dengan sejarah. Mereka hanya membawa tanpa menekan diri mereka untuk hafal. Kami tak terlalu berniat menghafal, tapi entah mengapa akhirnya kami hafal? Bagi kami menghafal bukan hal penting, yang terpenting bagi kami adalah menggali esensi dari sebuah peristiwa atau tokoh sejarah.


Harus diakui, sejarah adalah pelajaran paling gila. Betapa tidak semua anak sekolah dari SD hingga SMA harus menghafal semuanya. Tidak penting menggali nilai-nilai yang ada dalam sejarah. Selalu diarahkan untuk menghafal. Dan hafalan itu akan keluar dalam ujian. Dan ujian sejarah seperti Who Wants to Be a Millionaire. Bedanya ujian bertujuan untuk menentukan nilai siswa untuk lulus, sedang Who Wants to Be a Millionaire kita dijanjikan uang banyak jika bisa jawab pertanyaan.


Yang terus menjadi pertanyaan saya, pentingkah menghafal sesuatu dan kemudian lupa begitu saja? Jujur saja, saya lupa apa saja yang saya jawab waktu ujian di sekolah saya. Jika pun saya bisa mengingat sesuatu itu bukan karena menghafal, tapi lebih karena saya menggelutinya—sekedar membacanya tanpa tekanan.


Pertanyaan lain, siapakan sebenarnya yang untung dari memaksakan siswa untuk menghafal isi pelajaran sejarah yang begitu banyak? Terutama fakta-fakta yang sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Apakah siswa untung? Rasanya siswa alami itu hanya sebagai fase untuk lulus sekolah.

Melawan Lupa

Teringat Milan Kundera, jika megucap berjuang melawan lupa. Hidup adalah berjuang. Termasuk berjuang melawan lupa. Dimana sejarah adalah media untuk berjuang melawan lupa. Orang-orang berpikiran maju biasanya orang-orang yang tidak ingin dibohongi oleh siapa saja. Termasuk oleh pemimpinnya. Orang-orang berpikiran maju tentu saja orang berjuang untuk tidak menjadi orang yang amnesia terhadap sejarah.



Kita tahu banyak penguasa dunia berusaha membangun sejarah yang begitu herois, dimana menampilkan sosok si penguasa sebagai pahlawan yang harus senantiasa didukung. Dan pelajaran sejarah di sekolah pun dijadikan media propaganda semacam itu. Semua orang Indonesia rasanya sudah mengerti hal itu. Dimana semua orang dibuat percaya heroisme penguasa (sejarah) melalui banyak hafalan. Rasanya kebenaran sejarah, yang sebenarnya relatif, menjadi bukan hal penting. Yang terpenting, versi penguasa selalu benar bagi mereka yang mendukung pemerintah. Begitulah pembodohan di Negara Dunia Ketiga.


Dengan membuat generasi muda tidak suka sejarah dengan menghafal yang sedemikian rupa, maka sebuah rezim sukses membuat sebuah amnesia sejarah bagi generasi di masa depan. Juga menjadikan jurusan sejarah sebagai kampus buangan adalah ide yang bagus untuk menjaga wacana sejarah, yang katanya selalu benar itu.

Yang terjadi memang banyak siswa enggan belajar sejarah karena enggan menghafal banyak data yang diantaranya kebenarannya masih diragukan. Ditambah lagi dalam pelajaran sejarah di sekolah gagal mengajak siswa untuk menangkap esensi dari peristiwa atau teladan dari pelaku sejarah dengan jujur.


Sepertinya, ada sebuah ketakutan jika siswa-siswa di sekolah belajar menggali sejarah masa lalu. Bisa jadi kebusukan sejarah sebuah rezim penguasa akan terbongkar dan image si penguasa akan jatuh di mata rakyatnya. Ketakutan akan kebohongan itu terbongkar tentu disiasati dengan memaksakan fakta-fakta yang dimaui si penguasa untuk di hafal generasi muda.


Kebosanan dalam pelajaran sejarah, karena terus dipaksa menghafal, tentu akan membuat siswa yang awalnya suka jadi tidak suka. Belajar sejarah, membuat seseorang menjadi ditektif yang terus menemukan fakta baru, tidak jarang faktu itu begitu memalukan bagi sebuah rezim. Itulah kenapa Suharto dan pengikutnya tidak ingin melawan lupa. Sudah pasti agar kebusukan mereka dimasa lalu tertutupi dan hanya mengumbar sisi baiknya saja agar bisa terus berkuasa. Rezim semacam itu tentu takut dengan orang-orang yang berjuang melawan lupa.


Orang-orang yang berjuang melawan lupa itu bisa siapa saja, tidak harus sejarawan. Mereka bisa pelajar-pelajar di sekolah atau orang-orang yang punya minat terhadap sejarah. Orang-orang semacam ini biasanya adalah orang-orang jujur yang apolitis. Mereka hanya ingin tahu yang benar. Mereka adalah orang yang berbahaya bagi sebuah rezim. Karenanya sebuah rezim tidak menginginkan orang-orang seperti ada. Bagi sebuah rezim, sangat penting untuk menjadi lupa. Dan bagi yang jujur dan berpikiran maju akan memilih menjadi orang yang berjuang melawan lupa.


Senin, Juli 25, 2011

Mercy’s dan Lagu-lagu Manisnya

Dekade 1980an, Rinto Harahap memang identik dengan lagu-lagu sendu—kalau tidak boleh disebut cengeng. Nama Rinto di musik pop Indonesia sudah begitu dikenal sebagai musisi, entah sebagai pencipta lagu maupun pemain musik. Rinto Harahap, dimasa mudanya adalah musisi.

Di dekade 1970an, semua pemuda penggila musik pop tahu The Mercy’s. Banyak hit yang dihasilkan band ini. Mereka punya banyak album yang berupa piringan hitam dan kaset pita. Orang-orang yang hidup ditahun 1970an, sebagaian hafal dengan hit-hit mereka. Hingga beberapa dekade setelahnya lagu-lagu mereka terus diingat dan dinyanyikan ulang oleh musisi lain.

Menuju Jakarta

Bermula, awal 1969 di kota Medan, Sumatra Utara, sekelompok anak muda memulai sebuah band. Terdapat dua bersaudara bermarga Harahap—Erwin dan Rinto—dalam band ini. Mereka bertolak dari Jakarta menuju Medan membentuk band pesta. Selain Erwin dan Rinto, awalnya mereka digawangi oleh Rizal Arsyad pada Gitar Rythem, Iskandar alias Bun pada Keyboard dan Reynold Panggabean pada Drum. Belum setahun terbentuk, band ini sudah dapat tawaran manggung di Malaysia. Namun Bun keluar. Setelah Bun keluar karena ingin kuliah kedokteran, maka Charles Hutagalung pun masuk menggantikan. Bun kemudian memang menjadi dokter bedah syaraf.

Pada band mereka, mereka pilih The Mercy’s. Nama The Mercy's sendiri secara spontan terbesit, karena menyukai naik mobil bermerk Mercy. Dalam bahasa Prancis, Mercy's artinya kasihan atau bisa juga terima kasih. Seperti band pop Indonesia lain, band ini juga mengikuti tren perkembangan musik mancanegara. Mereka sering mengacu pada band The Beatles, The Bee Gees, The Hollies, C.C.R maupun Monkeys—yang menjadi band paling berpengaruh kala itu.

Charles memiliki karakter suara yang unik. Suara Rinto pun melengkapi vokal band ini. Seperti Bee Gees, The Mercy’s punya lebih dari satu vokalis. Selain suara instrusmen musik yang khas ala 1970an, suara vokal pun menjadi sesuatu yang menarik.

Band melejit lagi setelah Charles menciptakan Tiada Lagi. Mereka tampil di sebuah club di Malaysia. Dimana mereka menetap selama enam bulan sebelum akhirnya kembali ke Medan. RRI medan lalu merekam lagu Tiada Lagi. Sebuah lagu yang cukup melankolis namun memiliki komposisi musik yang bagus, untuk ukuran jamannya.

Band ini beberapa akan tampil di negara Asia lain, namun rencana selalu kandas. Meraka hijrah ke Jakarta. Sebuah kota yang tepat untuk karir musik mereka. Mereka pun menjadi band papan atas yang sejajar dengan The Rollies. Mereka berhasil merekam album pertama mereka, pada Agustus 1972. Beberapa hit dalam album itu adalah Untukmu, Hidupku Sunyi, Love, dan Kisah Seorang Pramuria. Dua perusahaan rekaman—Remaco dan bergabung untuk merekam album pertama The Mercy’s itu.

Penjualan Album itu menyaingi dua band papan atas di zaman itu, Koes Plus dan Panbers. Hit mereka juga menjadi lagu yang sering diputar oleh radio-radio swasta Indonesia. Mereka pernah konser bersama Koes Plus, Panbers, The Favourite di Jakarta. Penonton pun membludak melebihi kapasitas.[1] Artinya band ini dasyat juga di zamannya.

Legenda Pop Juga

The Mercy’s pun jadi legenda musik pop Indonesia. Band ini selalu disebut juga dalam sejarah musik pop Indonesia. Orang-orang pun masih juga menikmati musiknya hingga kini. Kini personil-personil yang dulu berambut gondrong ini sudah beranjak tua. Charles Hutagalung pun sudah lama meninggal beberapa tahun silam. Tentang Charles, Rinto punya kesan, “Sebenarnya The Mercy's masih ada dan dari kami pun belum ada pernyataan resmi bubar. Namun, tidak dapat dipungkiri The Mercy's dikenal karena keberadaan Charles Hutagalung. Kami ini hanya sebagai pelengkap saja.” Rinto tampak rendah hati. Meski Rinto dan yang lainnya punya jasa dalam The Mercy’s. Mereka tampak menghargai Charles.

Setelah masa jayanya, Band ini sempat vakum oleh proyek-proyek individu. Charles dengan solo albumnya. Reynold dengan OM Tarantula-nya. Rinto juga banyak mengorbitkan banyak penyanyi baru seperti Christine Panjaitan atau Eddy Silitonga. [2] Sudah pasti dengan lagu-lagu yang cengeng. Intinya mereka tetap berkarya.

The Mercy’s juga identik dengan penyanyi-penyanyi Batak. Gereja membuat orang-orang batak memiliki olah vokal yang baik. Dan musik menjadi hal yang biasa dan penting bagi kehidupan mereka sehari-hari, juga dalam kegiatan religius. The Mercy’s adalah bagian penting dari sekian banyak musisi Batak lainnya.

Meski tidak akan pernah tampil lagi, karena kehilangan personil, tetap saja Band ini punya peninggalan yang masih bisa dinikmati oleh generasi sekarang. Orang-orang akan ingat lagu-lagu manisnya. The Mercy’s terus dikenang.



[2] http://ms.wikipedia.org/wiki/Kumpulan_The_Mercys: Rinto Harahap: Jangan Sakiti Hatinya, http://nasional.kompas.com/read/2010/11/07/03493533/ (Minggu, 7 November 2010 | 03:49 WIB)

Senin, Juni 27, 2011

Garudaye

Suatu hari, April 2003, bus kami menuju sebuah candi di pinggir Malang. Tur histories pertama kami. Kami menuju Candi Kidal. Sebuah perhormatan bagi Anusapati. Anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel. Anusapati jadi raja setelah membunuh ayah tirinya, Ken Arok. Seperti Ken Arok, Anusapti juga mati dibunuh ketika sabung ayam. Tohjaya, anak Ken Arok dari Ken Umang, adalah dalang pembunuhan karena merasa berhak atas kerajaan, yang dikenal dengan nama Singosari itu.

Garudaye

Candi ini mirip dengan candi-candi Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit. Seperti candi lain, ada bagian tertentu yang hilang dari candi ini. Candi ini mulai dibangun sejak 1248 hingga 1260. Pada kaki dan tubuh candi terdapat hiasan. Seperti biasa selalu ada kalamakara yang menyeramkan. Sebagai pelindung yang letaknya diatas pintu candi.

Ciri khas candi ini adalah adanya narasi cerita Garuda terlengkap yang terpahat pada kaki candi. Cara membacanya dengan berjalan berlawanan arah jarum jam, dimulai dari sisi sebelah selatan.

Relief pertama, menggambarkan Garuda menggendong tiga ekor ular besar; Kedua, melukiskan Garuda dengan kendi di atas kepalanya, Ketiga Garuda menyangga seorang wanita. Kini, hanya relief kedua yang paling indah dan masih utuh. Menurut kesusasteraan Jawa Kuno, Garudaye, ketiga relief tersebut menggambarkan perjalanan Garuda dalam membebaskan Ibunya dari perbudakan dengan penebusan air suci amerta'mentana..[1]

Tersebutlah, resi Kasiapa yang punya dua orang istri, Kadru dan Winata. Kedua wanita itu adalah bersaudara. Dua wanita itu punya anak angkat. Kadru punya tiga ular sebagai anak angkat. Winata hanya punya Garuda. Kadru yang malas mengurus tiga anak angkatnya itu kemudian berhasil memperbudak Winata dengan sebuah taruhan. Ketiga garuda beranjak dewasa Garuda berusaha membebaskan ibunya.

Dimana Garuda kemudian melakukan perjalanan dan mencari Amertamentana. Demi membebaskan ibunya, Winata. Air itu disimpan di khayangan dan dijaga para dewa. Air suci itu berasal dari lautan susu. Itulah air keabadian.

Garuda rela melakukan apa saja untuk dapatkan air itu. Termasuk berkelahi dengan para dewa. Demi kemerdekaan Winata. Ketika para dewa di khayangan bias dikalahkan Garuda, Batara Wisnu pun turun. Garuda dikalahkan. Namun, dengan bijak, Wisnu sebagai sang pemenang, mau mendengar cerita Garuda—tentang derita Winata ibunya.

Wusnu pun mengerti. Wisnu mau memberikan Amertamentana, dengan syarat, Garuda mau menjadi tunggangannya. Demi kemerdekaan Winata, Garuda pun rela. Garuda pun berhasil membebaskan Winata. Dalam relief Garuda menggendong Winata. Jadilah Garuda tunggangan Dewa Wisnu paling sohor, Garuda Wisnu Kencana.

Mengapa Anusapati diagungkan seperti Garuda? Tak lain karena dia adalah anak yang berbakti pada Ibunya. Seperti kisah Garudaye.Anusapati tertulis dalam kitab kuno, Negarakartagama:

Bathara Anusapati menjadi raja

Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa

Tahun caka Persian Gunung Sambu (1170 C - 1248 M),

Beliau berpulang ke Siwabudaloka

Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di candi Kidal.[2]

Itulah kenapa Indonesia jadikan garuda sebagai lambang Negara. Tidak penting burung garuda itu pernah ada atau tidak. Kandungan dari cerita Garudaye, tentang anak berbakti dan bermental pejuang itulah yang layak diteladani orang Indonesia. Ketika mengunjungi candi Kidal, cerita Garudaye adalah cerita yang ingin sekali saya ceritakan pada adik sepupu saya yang masih kecil atau pada siapa saja. Ini cerita paling hebat yang pernah saya dengar.

[1] Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/culture/2147808-candi-kidal-peninggalan-anusapati-bakti/#ixzz1QRzvTa29

[2] Nagarakretagama, pupuh 41 / bait 1 berdasar tafsiran Slamet Mulyono.

Sabtu, Juni 25, 2011

Sisi Lain Dokter Indonesia

Dokter bukan cuma pengobat. Dimasa lalu dokter adalah bagian dari kaum intelektual yang berjasa bagi Indonesia.

dr Cipto

Di jaman Majapahit, seorang tabib pernah membunuh Raja lalim bernama Jayanegara. Karena sang tabib bernama Ra Tanca itu sakit hati karena istrinya digoda oleh sang Raja. Padahal Ra Tanca salah satu putra terbaik Majapahit. Menjadi tabib raja bukan hal sembarangan. Dia harus kuasai ilmu kedokteran kuno. Di jaman setelahnya tidak ada cerita tabib lagi. Tabib kemudian bergeser oleh masuknya ilmu kedokteran dari Tiongkok bahkan barat.

Dokter kemudian profesi popiler. Bukan saja karena pentingnya dalam dunia kesehatan masyarakat. Tapi juga peran politisnya dalam sejarah Indonesia, disamping kaum militer, rakyat pejuang dan terpelajar lainnya. Namun, peran dokter dalam perbaikan masyarakat makin menghilang.

Mencetak Dokter Jawa

Lalu muncul istilah Dokter Jawa Mereka juga seperti tabib yang bisa mengobati orang sakit. Bedanya, dokter jawa menguasai pengobatan ala kedoteran barat. Ada yang menganggap dokter jawa di awal sejarahnya setara dengan mantri jaman sekarang. Dokter Jawa adalah lulusan School tot Opleiding voor Indische Artsen (Sekolah Kedokteran untuk Hindia) di Betawi.

Bermula dari sekolah mantri cacar yang didirikan pemerintah kolonial tahun 1849. Karena kekhawatiran pemerintah akan berjangkitnya banyak wabah penyakit di Hindia Belanda. Dan hingga awal abad XX, pes adalah wabah yang mengerikan bersama wabah-wabah lain. Belum lagi adanya penyakit tropis macam beri-beri.

Tentang sekolah dokter Jawa ini, Wikipedia mencatat:

Pada tahun 5 Juni 1853, kegiatan kursus juru kesehatan ditingkatkan kualitasnya melalui Surat Keputusan Gubernemen no. 10 menjadi Sekolah Dokter Djawa, dengan masa pendidikan tiga tahun. Lulusannya berhak bergelar "Dokter Djawa", akan tetapi sebagian besar pekerjaannya adalah sebagai mantri cacar. Selanjutnya Sekolah Dokter Djawa yang terus menerus mengalami perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Pada tahun 1889 namanya diubah menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen (atau Sekolah Pendidikan Ahli Ilmu Kedokteran Pribumi), lalu pada tahun 1898 diubah lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (atau Sekolah Dokter Pribumi). Akhirnya pada tahun 1913, diubahlah kata Inlandsche (pribumi) menjadi Indische (Hindia)…. Nama STOVIA tetap digunakan hingga tanggal 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (atau Sekolah Tinggi Kedokteran). Sempat terjadi beberapa kali lagi perubahan nama, yaitu Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) di masa pendudukan Jepang dan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan Indonesia.[1]

Sekolah Dokter Jawa dianggap berdiri pada tahun 1851. Dengan lokasi awal adalah Rumah Sakit AD Gatot Subroto sekarang. Sekolah ini lalu pindah gedung ke Gedung yang sekarang disebut Gedung Kebangkitan Nasional, Jalan Abdurahman Saleh.[2]

Kawasan Senen hingga Lapangan Banteng, dulu Waterlooplein, adalah kawasan dimana instalasi militer KNIL berdiri. Ada yang menyebut, STOVIA dalam sejarahnya terkait dengan kedokteran militer KNIL. Lulusannya maupun pengajarnya ada yang dijadikan dokter militer. Sejarahnya, pada 29 November 1847 Pemerintah Kolonial Belanda memutuskan akan memanggil pemuda-pemuda pribumi untuk dididik menjadi juru kesehatan. Mereka yang memenuhi syarat akan dididik di Rumah Sakit Militer.[3]

Para lulusan STOVIA tidak dianggap dokter penuh seperti dokter lulusan universitas di Belanda. Melainkan hanya setara mantri. Untuk bisa disamakan dengan dokter Belanda, seorang lulusan STOVIA harus melanjutkan ke Negeri Belanda. Salah seorang lulusan STOVIA yang melakukannya adalah dr Abdul Rivai. Seorang dokter Minang yang cukup dikenal dibidang penulisan.[4]

STOVIA hilang. Lalu muncul dia sekolah kedokteran yang setara dengan dokter Eropa. Geneeskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran), disingkat GHS, di Jakarta dan Nederlandsch Indische Artsen School (Sekolah Dokter Hindia Belanda), yang disingkat NIAS, di Surabaya. NIAS berdiri pada 1913, juga seperti STOVIA untul mencetak dokter Jawa juga. Pengajar NIAS adalah dokter-dokter militer KNIL.[5] NIAS dan GHS lalu digabung di Jakarta.

Dokter dan Bekas Mahasiswa Kedokteran.

Tersebutlah dokter Wahidin Sudirohusodo. Kakek dari pelukis terkenal Basuki Abdullah itu. Dialah dokter penting dalam pergerakan nasional. Dia menggaungkan kebangkitan nasional. Dia mengajurkan adanya Dana pelajar untuk membiayai pendidikan pemuda cerdas namun kurang mampu.

Lalu berdirilah Boedi Oetomo, pada 20 Mei 1908. Dimana mahasiswa dokter bernama Soetomo adalah ketua pertama. Berdirinya Boedi Oetomo, bagi sebagian pihak dianggap sebagai momen Kebangkitan Bangsa Indonesia. Soetomo tidak lama di Boedi Oetomo, karena dia kecewa dengan Boedi Oetomo yang makin feodalis. Setelah lulus dan jadi dokter, Soetomomasih bergiat dalam dunia pergerakan hingga kematiannya. Soetomo bergerak dalam organisasi yang lebih besar yang dia dirikan. Seperti Parindra di kemudian hari.[6]

Cipto Mangunkusumo adalah dokter juga. Meski dari kalangan priyayi, Cipto adalah dokter yang egalitarian dan terkesan anti feodalis dan kolonialis. Tahun 1913, dia bersama Suryadi Suryaningrat dan Douwes Dekker, dalam Tiga Serangkai, mereka mendirikan Indische Partij (Partai Hindia). Sebuah Partai Politik pertama di Hindia. Mereka bertiga lalu dibuang pemerintah kolonial ke Negeri Belanda. Pembuangan adalah hal biasa dalam hidup dr Cipto. Tahun 1927, dia diseret ke pembuangan karena dianggap terlibat dalam rencana pemberontakan sekelompok serdadu KNIL Minahasa yang gagal.[7] Cipto juga dokter berani. Dia pernah terang-terangan memakai medali hadiah dari Raja Belanda di bokongnya. Medali itu diberikan atas jasa Cipto ikut memberantas wabah pes di Jawa awal abad XX. Cipto juga pernah mengendarai kereta kuda di area terlarang milik Kesultanan. Itulah bentuk kekurang-ajaran dr Cipto sang pemberontak dimata kaum feodal.

Dokter lain lulusan STOVIA yang kesohor adalah dr Rajiman Widyoningrat yang menjadi ketua BPUPKI diakhir pendudukan Jepang. Dr Ferdinand Lumbun Tobing yang menjadi Residen Republik Indonesia di Sumatra pada masa Revolusi. Dia adalah residen sekaligus dokter gerilya.

Bukan hanya lulusan STOVIA yang punya kontribusi terhadap Indonesia. Beberapa bekas mahasiswa yang tidak pernah lulus bahkan punya andil besar bagi Indonesia. Sebutlah Tirto Adhi Suryo, Suryadi Suryaningrat dan Djamaludin Adinegoro.

Tirto Adhi Suryo (TAS), yang keturunan Bupati di pesisir uata Jawa, adalah tokoh pers kebangsaan. TAS tidak menamatkan studinya di STOVIA. Dia memilih terjun ke dunia jurnalisme.Dimana pada usia belia, sekitar 20 tahunan dia menjadi redaktur Soenda Berita. Lalu dengan bantuan RAA Prawiradiredja, Bupati Cianjur, TAS menerbitkan Medan Prijaji. Melalui Medan Prijaji, TAS telah menggerakan bangsanya melalui bahasanya.[8] TAS harus jalani hidupnya yang tragis juga. Dia alami pembuangan dan kematiannya yang sunyi. Dia kemudian menjadi pejuang yang ditenggelamkan penguasa sejarah bangsanya sendiri.[9] Beruntung dia punya pengikut yang tidak kalah hebat darinya, seperti Marco Kartodikromo—pemuda minim pendidikan barat, namun punya tulisan pedas yang bikin marah pemerintah kolonial.

Djamaludin Adhinegoro adalah bekas mahasiswa kedokteran yang memilih jalan sama dengan TAS. Dia keluar dari STOVIA di tingkat tiga. Dia kemudian menulis dan melakukan perjalanan ke Eropa. Tulisan perjalanannya itu cukup dikenang dalam Melawat ke Barat. Nama Djamaludin Adinogoro kemudian banyak dikenang dalam dunia penulisan di Indonesia. Pernah ada Hadiah Adinegoro untuk dedikasi dibidang penulisan di Indonesia.

Siapa tak kenal Ki Hajar Dewantara? Nama itu yang melekat pada Suwardi Suryaningrat. Lepas dari STOVIA, Suryadi terjun ke jurnalistik. Dimana dia menulis Als Ik eens Nederlander was—yang menentang peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis Napoleon—yang membuatnya dibuang. Suryadi kemudian begerak di bidang pendidikan. Dimana dia mendirikan Taman Siswa yang masih hidup hingga sekarang. Dia mentasbihkan diri sebagai Ki Hajar Dewantara. Dia juga menjadi pernah menjadi Menteri Pendidikan dan salah satu dari sekian banyak pejuang kemerdekaan.

Betapa kita kita tidak boleh meremehkan orang yang tidak selesai kuliah. Meski tidak selesai itu bukan berarti bodoh. Bisa jadi lebih pandai. Mereka bahkan punya banyak kontribusi untuk mencerdaskan manusia Indonesia menuju kemerdekan.

Sabtu Pagi di Kuliah Patologi (1943)

Sabtu di bulan Oktober 1943, sepasukan serdadu Jepang memasuki sebuah ruang kuliah di Ika Dai Gakku (Sekolah Kedokteran) di Jakarta. Mahasiswa di ruangan itu sedang mengikuti mata kuliah Patologi. Dengan senjata siap tembak serta bayonet terhunus serdadu Jepang itu memasuki ruang kuliah.

Banyak mahasiswa yang mengikuti kuliah patologi itu tidak mengerti kehadiran serdadu Jepang itu. Akan tetapi mahasiswa-mahasiswa itu melihat ada beberapa serdadu Jepang memegang gunting dan tondeuse—alat untuk mencukur rambut. Mahasiswa-mahasiswa kedokteran itu kemudian mengerti bahwa mereka akan kehilangan rambut mereka. Kepala mereka akan digundul seperti serdadu Jepang, meski mereka—mahasiswa kedokteran itu—bukanlah serdadu Jepang.

Akhirnya para mahasiswa kedokteran itu sadar kedatangan tentara Jepang itu terkait dengan beberapa hari sebelumnya. Mereka menolak perintah penggundulan rambut dari petinggi militer Jepang di Jawa. Sekadar pengetahuan, mahasiswa kedokteran yang umumnya lelaki adalah orang-orang terpelajar dengan pendidikan formal di atas rata-rata orang Indonesia di zaman Belanda. Mereka pun menolak perintah penggundulan itu. Bagi para mahasiswa itu, kepala adalah bagian tubuh yang harus dihormati orang lain. Pengundulan kepala bisa saja dianggap hal tidak senonoh.

Ketika tentara Jepang memasuki ruang kuliah, deretan kursi belakang ricuh. Seorang mahasiswa bersitegang dengan seorang perwira Jepang. Mahasiswa itu adalah I Gusti Ngurah, asal Bali, yang dikenal pendiam oleh kawan-kawannya. Tentara Jepang mengokang senjatanya, bersiap menembak. Para mahasiswi pun menjerit histeris. Beberapa mahasiswa bersiap mengangkat kursi untuk membantu I Gusti Ngurah yang terancam senjata tentara Jepang. Sang perwira Jepang dengan cepat mencabut pistol dari sarungnya.

Pistol sang perwira tidak jadi menyalak. Tapi pipi I Gusti Ngurah kena tampar Ketegangan mulai mereda. Penggundulan paksa akhirnya diteruskan. Satu persatu mahasiswa kehilangan rambutnya hingga tinggal satu millimeterja. Aksi penggundulan kepala mahasiswa kedokteran berlansung cepat. Tentara Jepang menggundul dengan serampangan. Belakangan, mahasiswa harus merapikan sendiri rambutnya di asrama atau tempat lain setelah tentara Jepang menghilang dari ruang kuliah patologi itu.[10]

Setelah para serdadu dan perwira Jepang meninggalkan ruang kuliah Patologi, para mahasiswa beringsut pulang. Sebagaian dari mereka menuju asrama mahasiwa di Prapatan 10 dan asrama Cikini 71, Jakarta. Mereka berencana melakukan aksi sebagai rekasi atas penggundulan serdadu Jepang yang baru saja mereka alami.

Berita itu sampai ke beberapa orang pergerakan, salah satunya, Harastuti Subandrio, seorang dokter wanita yang sudah menikah. Minggu pagi, dokter itu mendatangi mahasiswa. Dokter itu berusaha ikut menyelesaikan masalah mahasiswa calon dokter itu. Wanita ini berusaha menghindarkan mahasiswa kedokteran itu dari amarah serdadu Jepang yang tidak segan menembaki mahasiswa itu.

Hari berikutnya, Prof. dr. Achmad Mochtar mengingatkan mahasiswa agar kembali ke bangku kuliah seperti biasa karena pemerintah balatentara Jepang akan bertindak semakin keras jika pemogokan diteruskan. Mahasiswa menolak himbauan sang rektor.[11]

Peristiwa di ruang Patologi adalah bentuk perlawanan mahasiswa kedokteran di masa pendudukan Jepang. Beberapa mahasiswa kedokteran Jakarta adalah pengikut Syahrir yang militan. Mereka bergerak dengan cerdas hingga tidak menjadisantapan Kenpeitai (Polisi Rahasia) Pendudukan Jepang.

Calon Dokter Pegang Bedil

Dimasa revolusi, banyak bekas mahasiswa kedokteran di jaman pendudukan Jepang yang bergabung dengan Tentara Nasional—sejak masih bernama Bdan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR) hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bekas mahasiswa kedokteran itu kemudian menjadi perwira karena latar belakang pendidikan mereka. Setidaknya letnan, kapten dan seterusnya. Tergantung nasib dan kepemimpinannya. Beberapa mahasiswa kedokteran memang pernah mendapart latihan militer singkat Daidan (Batalyon) PETA[12] Jakarta.

Beberapa bekas mahasiswa kedokteran bahkan menduduki jabatan penting di kemiliteran. Ada Daan Yahya yang menjadi Komandan Militer di Jakarta. Eri Sudewo yang sempat menjadi Panglima Divisi Siliwangi. Revolusi memaksa mereka untuk angkat senjata. Revolusi juga membuat mereka jadi tentara.

Selain bekas mahasiswa kedokteran. Beberapa dokter juga ditentarakan. Biasanya mereka diberi pangkat mayor. Dimana mereka harus menjadi dokter yang dibutuhkan tentara dan mengobati siapa saja. Diantara dokter itu, banyak yang masih konsisten sebagai dokter di tentara. Ada juga dokter yang dapat tugas diluar kedokteran.

Dr Rubiono Kertapati adalah orang penting dalam intelejen ketika Sukarno berkuasa. Dimana Rubiono terbiasa menjadi analis intelejen bagi Sukarno.[13] Dia bahkan dikenal sebagai Bapak Persandian Indonesia. Dia aktif dalam Depatemen Pertahan ketika Republik baru berdiri. Dia punya pangkat Letnan Kolonel.

Subandrio, yang Kepala Biro Pusat Intelejen, juag seorang dokter. Dia dokter yang dekat dengan Sukarno. Pasca kudeta G 30S yang gagal, Subandrio termasuk orang yang bernasib sial. Dia dikutuk dan lama dipenjara oleh orde baru. Baru bebas ketika orde baru tumbang. Subandrio dianggap dekat dengan PKI oleh beberapa pihak.

Lalu siapa dokter paling kaya dalam sejarah Indonesia? Kita bisa menunjuk Ibnu Sutowo sebagai jawaban. Bagaimana tidak, keluarga Sutowo adalah keluarga kaya hingga saat ini. Ibnu Sutowo adalah dokter lulusan NIAS Surabaya. Dia kemudian berdinas di Sumatra cukup lama. Menikah dan kemudian ikut revolusi disana. Dia bahkan sempat menjadi Panglima Komando Militer Sumatra selatan—yang kemudian di sebut Sriwijaya. Nasibnya sama seperti Eri Sudewo di Siliwangi Jawa Barat. Dari Sumatra Selatan, Ibnu Sutowo ditarik ke Jakarta. Dia termasuk dekat dengan Ahmad Yani yang pernah jadi KSAD sebelum G 30 S. Sutowo juga jadi jenderal. Dia bersama Eri Sudewo adalah contoh sedikit dokter yang jadi Jenderal. Hebatnya lagi, setelah jadi jenderal tentara, Ibnu Sutowo adalah Direktur Pertamina. Dari jaman Sukarno hingga Suharto. Di Pertamina, Ibnu dianggap pejabat korup dan dibenci mahasiswa Demonstran. Mulai dari demonstrasi 1966 maupun 1974. Kasus korupsi Pertamina yang sempat muncul lalu ditenggelamkan oleh orde baru.

***

Begitulah cerita tentang dokter-dokter di Indonesia. Sebuah bagian dari kelompok Intelektual Indonesia. Banyak nama dokter yang punya jasa bagi Republik ini. Hingga ada yang jadi nama jalan. Ada juga yang masuk sel. Ada yang terkenal karena tulisannya. Ada yang memang dikenal karena dedikasinya pada dunia kedoteran Indonesia. Ada juga yang bermain minyak dan lainnya.

Cerita dokter Indonesia mungkin agak sedikit menjengkelkan dengan mahalnya biaya ke dokter. Juga diperparah dengan oknum dokter yang malpraktek. Sebuah fenomena yang mengerikan dan berbalik parah jika kita melirik peran dokter dalam kemerdekaan Indonesia.

Biaya kuliah untuk jadi dokter juga mengerikan hingga tidak ada dokter macam Cipto Mangunkusumo. Indonesia nyaris tidak punya dokter macam Guevara.

Ada cerita miris tentang dokter Kuba seputar Gempa 2006 di Jogja dan Klaten dari seorang kawan. Dimana sekelompok dokter Kuba yang akan beri pengobatan gratis dilarang buat Rumah Sakit. Hingga korban luka harus dibawa ke rumah sakit pemerintah yang tidak murah bayarnya. Dimana dokter-dokter Indonesia yang mirip pedagang maut berkeliaran.

Dunia para dokter atau mahasiswa kedokteran juga latar belakang menarik dalam novel sastra Indonesia. Sutan Takdir Alisyahbana menggunakan dalam Layar Terkembang. Marga T dalam Badai Pasti Berlalu.

[1] http://id.wikipedia.org/wiki/School_tot_Opleiding_van_Indische_Artsen.

[2] STOVIA Gedenboek, 1851-1926, Waltevreden, G Kolff, 1936: Fredrick Willem & Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia, Jakarta, LP3ES, 2005, hlm. 242.

[3] Bali Post, 22 Mei 2005, http://www.balipost.com/BaliPostcetak/2005/5/22/ars1.html

[4] Kumpulan tulisan dr Rivai bisa ditemukan dalam buku Student Indonesia di Eropa, Jakarta, KPG, 2000.

[5] http://id.wikipedia.org/wiki/Nederlandsch_Indische_Artsen_School

[6] Beruntung dr Soetomo menulis autobiografinya. Buku itu berjudul Kenang-kenangan dr Soetomo.Lihat Fredrick Willem & Soeri Soeroto, Pemahaman Sejarah Indonesia (Sebelum dan Sesudah Revolusi), Jakarta, LP3ES, 2005, hlm 152-172,

[7] Lihat Petrik Matanasi, Pemberontak Tak Selalu Salah, Yogyakarta, Indonesia Boekoe, 2009.

[8] Takeshi Siraishi, Zaman Bergerak, Jakarta, Grafiti, 1997, hlm. 43-44 & 46.

[9] Tentang TAS dilihat Pramoedia Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta, Lentera Dipantara, 2000. Pramoedia Ananta Toer juga menulis 4 novel biografis terkait kehidupan TAS, Tetralogi Buru yang terdiri dari Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca.

[10] Soejono Martosewojo dkk, Mahasiswa ’45 Prapatan 10: Pengabdiannya 1, Bandung, Patma, 1984, hlm. 27.

[11] Ibid., hlm. 28.

[12] PETA: Pembela Tanah Air adalah tentara sukarelawan yang dibentuk Jepang untuk mempertahankan Jawa dari serangan sekutu. PETA dibentuk tahun 1943. Mantan PETA menjadi pendominasi dalam ketentara Republik setelah Indonesia merdeka.

[13] Lihat Ken Conboy, Intel: Menguak Dunia Intelejen Indonesia, Jakarta.


Selasa, Juni 14, 2011

Kepada Penulis Skenario Darah Garuda

BERLEBIHAN, itulah kesan saya tentang film ini. Heroisme, solidaritas dan juga Nasionalisme-lah yang ingin diangkat film ini. Gayanya pun cukup Hollywood. Tidak ada masalah yang saya lihat dari aktor-aktor yang memerankannya. Semua bermain dengan cukup baik. Entah Donny Alamsyah, Atikah Hasiholan, Darius Sinatrya, Lukman Sardi, Rudy Wowor dan lainnya sudah bermain dengan baik. Tidak terlalu menonjol juga tidak minus juga aktingnya. Salut untuk semua pemeran.

Film bernuansa nasionalisme biasanya klise dan emosional. Begitu juga film ini. Biasanya, karena terlalu emosional yang sering terlalu didramatisir, maka tidak akan terlihat realis. Itu terjadi di film ini.

Meski digarap dengan dana yang cukup besar dan mendatangkan orang-orang Hollywood yang konon terlibat dalam pembuatan miniseri HBO Band of Brother,film ini jadi nampak konyol. Kalah dramatis dengan Band of Brother. Karena heroisme yang berlebihan itu. Film ini juga gagal menangkap suasana jaman revolusi. Terdapat juga kesalahan Setting dalam film ini.

Darah Garuda

Meleset Gambarkan Tentara Belanda

Di bagian awal, film ini menggambarkan kekejaman tentara Belanda yang berlebihan. Seolah kelakuan tentara Belanda sama dengan kelakuan tentara Jepang yang doyan memperkosa wanita. Tentara Belanda lebih suka ngamar ke tempat pelacuran ketimbang memperkosa yang bisa membuat mereka diseret ke mahkamah militer. Saya pribadi belum pernah dengar laporan dan membaca catatan bahwa tentara Belanda doyan memperkosa wanita pribumi di masa revolusi.

Di film Darah Garuda, ada terdapat tangsi di pegunungan. Dimana tangsi tentara Belanda itu berupa pondokan dari kayu dan beratap rumput. Di masa revolusi, tentara Belanda biasa memakai bangunan kosong yang ditinggalkan pemiliknya. Biasanya, tangsi tentara Belanda di sekitar kota. Tidak jauh di gunung yang sepi dan rawan gangguan gerilyawan pro Republik.

Tentara Belanda lazim pakai istilah Ekstrimis buat para gerilyawan pro Republik. Itu tidak tergambar dalam film ini.

Parahnya lagi, senjata tentara Belanda dalam film Darah Garuda ini, bukanlah senapan mesin ringan jenis Sten Gun—yang magazine-nya disamping. Film ini memakai senjata semacam Carl Gustaav dan Thompson. Thompson yang buatan Amerika itu hanya mungkin dipakai Marinir Belanda—karena Marinir Belanda memang dilatih Amerika. Kebanyakan tentara Belanda baik KNIL maupun KL, hanya memakai Sten Gun atau senapan laras panjang lainnya. Lebih konyol lagi, sebagian gerilyawan dalam film ini juga ikut menyandang Thompson. Ya, Thompson memang ada dipakai tapi tidak akan sebanyak pemakai Sten Gun.

Masih Bambu Runcing

Entah dari mana tentara Republik dapat tenda peleton? Sulit sekali mendapatkan tenda bagi tentara Republik yang bergerilya di Jawa Tengah. Tentara Republik tidak bisa bertahan lama di daerah Jawa Tengah. Posisi tentara Belanda yang kuat dan ofensif jelas membuat tentara Republik harus terus bergerak. Yang terjadi dimasa revolusi, tentara Republik biasa tidur dirumah penduduk atau di alam terbuka ketimbang di tenda peleton—yang entah dari mana?

Di film Darah Garuda, di dalam tenda yang jadi ruang kerja komandan terdapat meja dan alat tulis yang cukup baik. Mustahil di masa revolusi, ada perkemahan tentara Republik yang dilengkapi meja. Pekerjaan tulis menulis perwira biasanya dilakukan seadanya dan dimana saja. Tapi sulit menemukan meja dan alat tulisnya di tengah hutan.

Dalam dialog, disebut, Sekolah Tentara Rakyat. Saya tidak pernah temukan catatan soal sekolah militer semacam itu. Hanya ada Akademi Militer atau sekolah militer dengan nama tertentu. Tapi bukan pakai nama Tentara Rakyat. Bisa dipastikan sekolah militer masa itu terlihat kacau mulai dari segaram dan kurikulum latihannya. Memang nyaris sulit bagi tentara Republik adakan sekolah militer yang mapan.

Katanya, Film ini bersetting 1947. Anehnya, kenapa ada Jenderal Sudirman ditandu. Dan banyak pengawal yang pakai bambu runcing . Padahal, Jenderal Sudirman baru pakai tandu setelah 19 Desember 1948—setelah Jogja diduduki tentara Belanda dalam Agresi Militer Belanda II. Sementara itu, rombongan pengawal Jenderal Sudirman ketika gerilya sudah banyak yang pakai senjata api. Entah Mauser, Garand, Sten Gun atau yang lainnya. Komandan tertinggi Pengawal Sudirman adalah Kolonel Suadi. Setting tempat dalam film ini begitu kabur hingga alurnya kurang realis lagi.

Serangan yang paling mungkin dilakukan gerilyawan pro Republik biasanya adalah gangguan di malam hari. Itu pun hanya dilakukan di dari luar tangsi tentara Belanda. Di awal film digambarkan gerilyawan pro Republik berhasil menyusup ke dalam tangsi tentara Belanda dan membuat kekacauan yang merugikan tentara Belanda. Dimana jumlah para penyusup itu hanya sedikit. Itu adalah cerita yang tidak pernah saya baca dari laporan-laporan sejarah. Hanya isapan jempol. Para gerilyawan pro republik tidak akan sebodoh itu. Sudah bagus jika para gerilyawan menyerang di malam hari dan kemudian lari ke hutan lagi.

Misi menghancurkan lapangan udara setelah agresi militer II, adalah hal mustahil. Misi penghancuran lapangan terbang oleh tentara Republik memang pernah dilakukan di Lapangan terbang Kalibanteng di Semarang. Misi ini sukses dilakukan diawal-awal revolusi kemerdekaan, sebelum tahun 1947, oleh pasukan yang sekarang Korps Marinir Indonesia. Dimana beberapa pesawat Belanda rusak. Setelah itu tidak ada lagi. Lapangan terbang biasanya dijaga ketat. Dalam film Darah Garuda, seolah tentara Belanda membangun lapangan terbang. Itu jelas tidak mungkin. Bisa membangun jembatan yang dirusak gerilyawan saja sudah cukup bagus sekali..

Hal Bodoh Lain

Cacat adegan adalah hal biasa dalam film-film mana pun. Namun cacat adegan dalam film ini nampak konyol. Bisa bertahan hidup di bilik kayu yang terus mendapat rentetan tembakan dari musuh adalah adegan akhir yang konyol. Seperti biasa tentara musuh seolah tampak bodoh karena tidak bisa menghabisi orang-orang yang berada dalam bilik kayu tersebut. Apalagi posisi orang yang bersembunyi di dalam itu duduk dan bukan tiarap. Pejuang Indonesia memang digambarkan selalu sakti.

Pesawat terbang mirip Cessna juga sudah ada di film ini. Pesawat macam itu tidak digunakan tentara Belanda di zaman revolusi. Jika bukan jenis Mustang untuk memburu pesawat musuh, paling hanya Dakota yang buat menerjunkan pasukan atau mengangkut pasukan dan barang. Itu patut kita tertawakan juga.

Lebih lucu lagi, Marius (tokoh yang diperankan Darius) digambarkan sebagai pemuda kaya yang bisa menerbangkan pesawat. Itu hal sangat mustahil. Zaman Hindia Belanda atau zaman Jepang, orang pribumi Indonesia yang bisa menerbangkan pesawat biasanya berstatus pilot militer. Tidak ada sekolah penerbangan sipil di Indonesia. Hindia Belanda bukan Amerika. Jika ada orang yang iseng belajar biasanya berpangkat tinggi, seperti Letnan Jenderal Barenschot yang tewas dalam kecelakaan pesawat.

Film fiksi boleh berimajinasi, tapi jika lepas dari realitas maka film itu akan terlihat konyol seperti film ini. Darah Garuda. Dana besar, didukung aktor-aktris hebat pula, tapi tidak didukung cerita yang realis dan sesuai dengan nuansa historis yang realistis.

Film Nagabonar masih jauh lebih bagus dari film Darah Garuda ini. Meski tampak konyol tokoh-tokohnya, Nagabonar sangat realis dan juga dramatis. Sudah pasti menghibur pula. Kepada penulis scenario, sebaiknya sebanyak mungkin membaca buku sejarah Indonesia. Setidaknya melihat-lihat foto-foto terbitan Ipphos. Itu sangat membantu menangkap suasana jaman revolusi.

Jika saya tertawa menonton film ini, itu bukan karena lucu seperti Nagabonar, tapi karena setting filmnya yang konyol dan tidak realis. Maaf jika kritikan saya terlalu pedas dan terlamabat? Tapi Nagabonar adalah film perang paling realis dan menghibur Indonesia.


Kamis, Juni 09, 2011

Jejak Rimbaud

6 MEI 2011, sore itu Stasiun sepi. Kereta lewat jika hari libur saja, kata petugas yang masih berjaga di stasiun bersejarah itu. Seorang dari jauh yang fasih soal sejarah Indonesia beritahu kami jika Stasiun Tuntang pernah disinggahi Jean Arthur Rimbaud,[1] penyair Perancis kesohor itu. Seorang sejarawan Perancis Bernhard Dorleans pernah menulis dalam artikelnya soal Rimbaud di Indonesia.[2] Sebuah tangsi Kompeni alias KNIL[3] pernah berdiri tidakjauh dari stasiun.

Rimbaud muda

Dari keterangan orang-orang yang kami temui, ada tiga rumah tua dekat stasiun itu dulunya tangsi kompeni itu. Tangsi ini sepertinya hanya kantor dan tempat tinggal beberapa serdadu dulunya.

Seperti ditulis Dorleans, Rimbaud mendaftar KNIL di Negeri Belanda. Dia melewati Haderwijk pastinya, got Eropa yang membuang manusia-manusia yang dianggap sampah-sampah Eropa itu.

Setelah mengalami perjalanan laut yang lama, Rimbaud tiba di HIndia Belanda. Dia lalu menuju Semarang. Dari Semarang Rimbaud naik kereta ke Tuntang. Dari Tuntang, Rimbaud jalan kaki ke Salatiga.

Salatiga sudah menjadi tempat latihan militer Belanda kala itu. Setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia di kawasan sekitar Salatiga dan Ambarawa, masih banyak terdapat instalasi militer.[4] Menurut Ben Anderson dan sejarawan lain, Salatiga menjadi tempat latihan bagi serdadu KNIL asal Eropa yang baru dating ke HIndia Belanda.

Salatiga menjadi kota orientasi bagi serdadu Eropa untuk mengenal lama tropis nusantara. Tidak mudah bagi banyak serdadu Eropa untuk bisa menyesuaikan diri dengan iklim tropis Nusantara yang disebut Hindia oleh serdadu-serdadu Eropa itu.

Rimbaud mungkin termasuk yang tidak betah dengan iklim tropis. Selain masalah iklim ada juga serdadu Eropa yang tertipu dalam masalah kontrak. Kenyataan dan janji yang tidak sesuai itu tidak jarang membuat beberapa serdadu kecewa dan ingin kabur.

Kisah serdadu kecewa dan kabur itu, pernah ditulis dalam novel Desersi karya Paerlaer. Bekas perwira KNIL di Kalimantan. Rimbaud pun salah satu desertir yang layak jadi legenda prajurit desersi dalam dunia militer. Rimbaud bukan satu-satunya yang desersi, mungkin karena nama besar Rimbaud di dunia sastra.

Kisah Rimbaud yang kabur dari Salatiga jelas absurd. Dia baru seminggu di Salatiga. Dan Selama beberapa bulan Rimbaud menghilang. Rimbaud kemudian muncul lagi di Eropa.

Rimbuad tampak terobsesi dengan petualangan. Hal yang membuatnya masuk KNIL. Sebuah unit militer yang mirip Legion Estranger (Legiun Asing Perancis) yang anggotanya disebut Legiuner. Dimana orang dari bermacam bangsa bisa bertempur untuk kerajaan. Bedanya, KNIL tidak perlu nama samaran seperti para calon Legioner.

Sayangnya, Rimbaud tidak terlalu tahan menderita. Jika mau bersabar, dia akan nikmati indahnya nusantara. Seorang serdadu kompeni alias KNIL lebih banyak berpindah-pindah daripada TNI. Seorang serdadu kompeni akan berkali-kali jelajahi nusantara yang luas dan banyak pulau.

Rimbaud pasti akan rasakan ganasnya rimba belantara Kalimantan, atau indahnya alam Indonesia lain. Bisa jadi juga Rimbaud akan mati membela Ratu Belanda karena kena peluru atau kelewang pemberontak..

Ada pertanyaan konyol di kepala kami. Kemana Rimbaud berlari begitu dia menghilang dari Salatiga? Apa mungkin dia menikmati terlebih dahulu Rawa Pening. Lalu sekedar mampir ke Bandungan, yang punya image sebagai “Surga Laki-laki”. Dimana banyak serdadu KNIL biasa kesana. Rimbaud mungkin akan hindari tempat ini, karena banyak serdadu KNIL Ngamar di Bandungan.

Catatan Akhir:

[1] Rimbaud adalah penyair Perancis yang cemerlang. Di usia 15 tahun dia menulis syair-syair hebat. Kemudian dia jalani kehidupannya yang liar dan penuh petualangannya. Terlahir di Charleville, 20 Oktober 1854 dan wafat 10 November 1891.

[2] Kisah Rimbaud di Salatiga sebagai serdadu KNIL selama seminggu itu pernah ditulis Bernhard Dorleans dalam bukunya Les Francais et l’Indonesie due XVIe au Xxe siecle, yang dialih bahasakan Parakirti Simbolon dkk dalam bahasa Indonesia menjadi Orang Indonesia Dan Orang Prancis: Dari Abda XVI Sampai Dengan Abad XX, terbitin KPG Jakarta 2006. Saya mengutip banyak darinya ketika menulis buku KNIL (Koninklijk Nederlandsche Indische Leger): Bom Waktu Tinggalan Belanda.

[3] KNIL: Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Militer Hindia Belanda yang sebagian besar anggotanya adalah orang-orang Indonesia dan sekelompokcampuran dari bangsa-bangsa lain termasuk Belanda.

[4] Di Jawa Tengah, ada beberapa kota yang ditempati instalasi militer. Seperti Gombong, Magelang, Salatiga, Ambarawa dan Semarang. Kita bisa menyebut kota-kota tadi sebagai kota tangsi.

Selasa, Mei 31, 2011

Meneropong Manusia Bugis Dari Dekat

Pertama kali baca Manusia Bugis ini, saya sudah jadi mahasiswa ujur yang harus siap DO. Kebetulan, saya harus cari bahan soal We Tenriolle, Ratu dari Tanette. Meski tidak temukan apa yang saya cari, buku ini sangat membantu saya untuk mengenali tradisi Bugis dan peranan wanitanya dalam kehidupan sehari-hari.

Christian Pelras, berbagi banyak informasi dan analisisnya tentang komunitas akbar yang mendiami jazirah Sulawesi Selatan ini. Cukup komprehensip juga. Meski tidak terlalu detail. Pelras menulis bagaimana perkawinan orang Bugis, agama yang dianut, budaya orang Bugis, pergolakan politiknya dan mata pencaharian orang Bugis.

Yang paling menarik dari buku ini, Pelras berusaha meluruskan bahwa orang Bugis tidak melulu bermata pencaharian sebagai pelaut. Seperti terkonstruk dalam pikiran banyak orang bahwa Bugis adalah bangsa pelaut, bersama orang Makassar. Banyak orang Bugis yang bertani juga. Sebagian tanah di tempat komunitas Bugis bermukim cukuplah subur. Begitulah kenyataan di tanah Bugis. Orang Bugis banyak menyebar ke berbagai wilayah di nusantara. Dan memang mereka dikenal sebagai bangsa pelaut dan saudagar karenanya.

Pelras, menggambarkan bagaimana Luwu sebagai kerajaan terpenting di Sulawesi Selatan, secara kultural. Kerajaan ini pengaruh politisnya memudar ketika kerajaan macam Gowa atau Bone pegang peranan penting di Sulawesi Selatan pada abad XVII.

Kuatnya pengaruh Islam bai orang Bugis, juga orang-orang Makassar dijelaskan dengan baik juga oleh Pelras. Saat ini, pengaruh Bugis kuno yang masih dianut oleh kaum Bissu, ditinggalkan. Dimasa lalu, kaum bissu adalah orang terdekat dan berpengaruh di kerajaan. Mereka seperti balian dalam masyarakt Dayak. Bissu adalah orang-orang sakti. Kini bissu hanya kaum minoritas. Hampir semua orang Bugis di masa kini adalah penganut Islam.

Sudah pasti, Pelras juga bicara soal La Galigo—sastra Bugis yang menjadi legenda itu. Berkisah tentang perjalanan panjang Sawerigading. Karya ini banyak menjadi kajian dunia sastra di masa kini. Pastinya, Manusia Bugis—yang dalam bahasa aslinya The Bugis—bukanlah satu-satunya buku tentang Bugis. Akan tetapi ini adalah buku penting untuk mengenali Bugis sejak dini. Christian Pelras membangun sebuah pintu untuk memasuki peradaban Bugis. Sudah empat dekade Pelras bergelut dalam penelitiannya soal Bugis.

Seorang putra bangsawan Bone pernah bercerita pada saya (2010), bagaimana Pelras yang begitu dekatnya dengan turunan raja Bone. Dimana Pelras memposisikan dirinya sebagai rakyat Bugis dalam hubungan antara rakyat dengan raja. Pelras telah menunjukan totalitasnya, baik dalam riset dan tentu saja dalam buku ini.

Bagi para backpacker, buku ini bisa merayu anda untuk mengunjungi tanah Bugis.


Babon Sejarah Nasional Indonesia Itu


Inilah buku Sejarah Nasional Indonesia penting tentang Indonesia. Tak terhitung orang yang membacanya.


Ditahun-tahun mengerikan di SMA, antara 2000-2001, saya pernah berdebat dengan guru SMA saya. Hanya soal, usia minimal seorang Seinendan. Guru saya bilang, 12 tahun. Saya berkeras 14 tahun. Kawan-kawan sekelas yang selalu anggap saya gila hanya melongo. Tentu saja saya menangkan debat itu, karena begitulah kata buku sejarah, bukan karena saya pintar tentunya.

Guru sejarah saya itu tidak marah sedikitpun pada murid bebal macam saya. Justru dia perlihatkan saya buku babon sejarah Indonesia yang legendarisitu, Sejarah Nasional Indonesia. Karena pada dasarnya Guru sejarah saya itu baik hati, saya pun dipinjamkan buku itu. Saya membaca buku itu dari jilid satu sampai jilid enam. Butuh waktu sebulan lebih untuk itu. Bukan prestasi hebat. Itu hanya hal paling menyenangkan di Kelas Dua.

Beberapa tahun kemudian saya baca lagi buku itu. Karena tuntutan kuliah. Babon-babon Sejarah Nasional Indonesia yang banyaknya enam jilid ini, jadi buku wajib mata kuliah sejarah Indonesia kuno sampai modern. Babon-babon ini acuan untuk kurikulum pelajaran sejarah di sekolah. Semua buku paket pelajaran sejarah sekolah, entah bikinan penerbit mana pun, selalu mengacu dari sini. Meski sudah puluhan tahun terbit dan berganti cover.



Untuk Mencacinya

Dalam diskusi sejarah di kampus, tidak jarang buku ini juga kami hujat. Buku ini berbau orde baru. Terutama di jilid terakhir. Buku ini juga terkesan Jawasentris juga. Jawa melulu kadang kesannya, karena lebih banyak bicarakan jawa sebagai sentral sejarah Indonesia. Sebagian besar sejarawan yang dilibatkan pun adalah orang-orang Jawa.

Tentu sajabuku ini hanya garis besar sejarah Indonesia. Karena Indonesia itu luas dan punya sejarah panjang. Jelas saja babon-babon ini tidak detail. Itu jelas bisa dimaklumi. Selama penulisannya, buku-buku ini jadi bahan perdebatan. Seorang professor sejarah mundur karena baginya penulisan sejarah nasional belum waktunya, karena basis sejarah local di Indonesia belum mendukung untuk penulisan sejarah Nasioanl. Itu yang saya tangkap.

Pada jilid-jilid terakhir, babon-babon ini terkesan menonjolkan peran militer. Nugroho Notosusanto, seorang sejarawan yang dimiliterkan—yang kemudian jadi menteri pendidikan—ikut serta dalam proyek ini. Pangkat terakhirnya Mayor Jenderal. Bisa jadi dia satu-satunya sejarawan TNI yang menulis, jika Nasution dan Haryo kecik tidak dimasukan hitungan sebagai sejarawan. Dalam penulisan ini peran Nugroho Notosusanto begitu dominan. Hingga sejarah nasional Indonesia pasca kemerdekaan selalu berbau militer. Ini seperti menutupi peran kaum non militer yang juga tidak kalah punya jasa dalam perjuangan Indonesia.

Bagi saya, dengan sinis yang tiada tara, Nugroho adalah Dewa bagi Sejarawan Kacang Ijo yang mandul karena tidak berkarya membuat buku-buku sejarah militer. Tentu saja, babon-babon ini, terutama jilid-jilid terakhir, jadi senjata pamungkas bagi sejarawan Kacang Ijo yang mandul-mandul itu.



Tetap Harus!

Terlepas dari kekurangannya, juga cacian-cacian saya, bagi saya pribadi buku ini tetap penting. Mahasiswa sejarah tentu harus baca. Entah untuk memuji atau mencaci?

Untuk mempelajari Indonesia lebih dalam, buku ini mungkin saja bisa memberi petunjuk untuk mempelajari peristiwa sejarah tententu. Para sejarawan atau beberapa peneliti ilmu-ilmu sosial di Indonesia lainnya yang risetnya terkait dengan sejarah Indonesia, setidaknya pernah membaca buku ini.

Buku ini pasti banyak dimasukan dalam daftar pustaka skripsi, tesis, disertasi maupun tulisan-tulisan sejarah tentang Indonesia. Nyaris semua sarjana sejarah atau sarjana pendidikan sejarah di Indonesia pernah membacanya.

Jika suatu hari jadi guru sejarah, buku ini menjadi buku wajib bagi para siswa. Ini demi menyiasati terciptanya gerakan membaca bagi anak-anak SMA yang terus payah di Indonesia. Metode menghafal, dalam pembelajaran sejarah di sekolah, memusnahkan waktu membaca bagi anak-anak di sekolah. Hingga mereka tidak bisa rasakan nikmatnya membaca.

Membaca sejarah, termasuk membaca babon-babon ini, adalah perlu bagi anak-anak SMA. Harus diakui, soal membaca SMA masa kini payah. Jauh lebih payah daripada zaman kolonial dulu. Dimana murid-murid Algemene Midelsbare School (AMS)—SMA di zaman kolonial—harus membaca setidaknya 30 judul buku. Tentu saja itu bukan buku paket pelajaran yang doyan ganti tiap ada penguasa baru.

Itu bisa buku sains, filsafat, sejarah sastra atau yang lainnya.

Siswa SMA sekarang, lebih banyak ditekankan untuk baca buku paket saja, karena UAN menuntut demikian. Dimana seorang anak dinyatakan sudah belajar kalau sudah mencapai nilai tertentu. Entah kapan lubang neraka bernama UAN yang penuh pembodohan? UAN hanya standart sementara tapi tidak punya implikasi nyata dalam kehidupan nyata yang menuntut lifeskill ketimbang statistik di raport. Karenanya, membaca itu jauh lebih penting daripada UAN.

Membaca buku, termasuk buku babon ini akan membuat siswa menjadi tahu. Tidak perlu menghafalnya hanya membacanya saja sudah cukup. Tentu saja juga membaca buku-buku yang lain. Saya tidak sudi sarankan siswa untuk membaca buku paket pelajaran sekolah.

Jadi, siswa saya nanti wajib baca buku-buku babon Sejarah Nasional Indonesia ini. Mereka juga wajib baca buku-buku lain. Membantah tulisan dan omongan saya boleh, tapi menolak membaca buku yang melimpah, “Sana! silahkan keluar dari kelas saya! Jadi Inlander Forever saja sana!”

Suka tidak suka, buku-buku babon ini terus jadi kawan saya. Hampir selalu saya mengutip darinya. entah buku-buku sejarah maupun artikel sejarah yang saya tulis. Sudah pasti dua skripsi saya. Beruntung, setelah bertahun-tahun hanya melihatnya di perpustakaan, akhirnya dengan uang keringat menulis di tahun 2007 6jilid buku itu saya beli di Balai Pustaka Jakarta.

Sudah pasti saya akan membawanya kemana pun saya mengajar. Dan membaca buku ini dan buku sejarah dunia lainnya adalah titah saya yang tidak bisa dibantah! Akhir kata, kepada Bu Betty yang perkenalkan babon-babon ini pada saya, saya berutang ucapan Terimakasih….







Dedicated to Ibu Betty Guru Ilmu Sosial di SMA Negeri 2 Balikpapan.

Senin, Mei 23, 2011

Freedom of Rhapsodia van Bandung


Lagu-lagu rekaman mereka cukup cengeng juga. Tapi musik mereka jelas cukup kaya bagi band Indonesia di zamnnya. Procol Harum begitu mempengaruhi mereka.


MUNGKIN band asal Bandung ini tidak sepopuler raksasa rock Indonesia macam God Bless atau AKA. Soal aksi panggung, band ini tidak mengecewakan juga. Meski lagu-lagu di album mereka tampak cengeng, kata beberapa orang, mereka cukup asyik di panggung. Mereka biasa bawakan lagi-lagu dari band mancanegara. Seperti Uriah Heep, Deep Purple, Santana, atau legenda musik di zaman itu. Merekalah Freedom of Rhapsodia. Satu dari sekian band yang layak jadi legenda musik Indonesia juga.
Bermula dari Rhapsodia yang sudah punya pamor dan order manggung yang cukup padat. Utte Thahir bergabung disini sebelum Freedom of Rhapsodia. Band Rhapsodia kemudian bubar karena masalah internal. Deddy Dores lalu bergabung. Disusul kemudian personil lain yang punya peran dalam album rekaman pertama mereka.. Seperti J Sarwono pada keyboard, Kiki drum, Soleh Sugiarto yang pandai bermain gitar dan perkusi, Dave Tuhuley yang bisa bermain gitar dan saxsofon atau flute sesekali.
Beberapa personil di Freedom of Rhapsodia bisa bernyanyi. Mereka seolah tidak punya penyanyi tunggal seperti band-band pop pada umumnya. Formasi ini, konon adalah formasi solid mereka.
Band ini pernah mengalami kevakkuman yang cukup lama. Para pesonil sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang terus bermusik seperti Deddy Dorres. Ada juga yang berpolitik dan pernah jadi anggota parlemen. Bukan terkesan egois sebenarnya. Mereka bikin album dalam band ketika masih muda. Dan ketika masa muda habis mereka mulai jalan sendiri. Hingga band vakkum. Terkesan mereka tidak serius main band. Tapi setidaknya mereka sudah membuat lagu-lagu penting di jamannya.
Masa muda adalah masa eksplorasi bagi beberapa orang. Wajar bila masa itu berakhir karena energi eksplorasi itu terkuras ketika muda. Setiap orang punya pilihan untuk terus bermain band atau melakukan hal lain. Banyak band hebat berumur singkat dalam sejarah musik di jagat ini. Ada juga band yang muncul tenggelam. Freedom of Rhapsodia salah satunya. Dan setelah berjaya band ini tenggelam lama. Tapi tetap saja lagu hebat mereka selalu dikenang.


Hilangnya Seorang Gadis

Tahun 1972 adalah tahun penting dalam sejarah Freedom of Rhapsodia. Mereka merekam album volume 1 mereka. Purnama record menjadi lebel yang menaungi mereka kala itu.
Hilangnya Seorang Gadis ciptaan J Sarwono jadi hits andalan mereka. Lagu legendaris ini termasuk lagu penting dalam sejarah musik Indonesia. Sayangnya, lagu ini terkesan menenggelamkan lagu-lagu lain garapan mereka. Begitu juga dalam album-album selanjutnya. Orang-orang dimasa kini, mungkin hanya tahu Hilangnya Seorang Gadis saja. Mereka tidak tahu lagu-lagu lain dari Freedom of Rhapsodia. Bahkan mungkin generasi sekarang tidak tahu bahwa pernah ada Band bernama Freedoom of Rhapsodia.
Bahkan ada anggapan salah tentang lagu Hilangnya Seorang Gadis. Lagu itu dianggap milik Deddy Dores. Seolah Deddy Dores lah mencipta lagu itu. Deddy tak pernah mengakui itu sebagai karyanya, walau Deddy sering menyanyikannya. Memang, banyak lagu ciptaan Deddy Dores agak mirip coraknya dengan Hilangnya Seorang Gadis.

Mirip Procol Harum

Nasib lagu Hilangnya Seorang Gadis, agak mirip A Whiter Shade of Pale milik Procol Harum yang legendaris itu. Sama-sama menenggelamkan lagu-lagu Procol Harum lainnya. Meski begitu, Procol Harum punya lagu lain yang cukup bagus. Sayangnya, penikmat musik pada umumnya lebih terkesan dan mungkin hanya terkesan pada A Whiter Shade of Pale. Begitulah nasib band pengusuk psycedelict rock. Hanya penikmat fanatic yang bias nikmati lagu-lagu diluar hits yang sering diputar di media.
Freedom of Rhapsodia tampak bernasib sama. Dalam hal lagu Hilangnya Seorang Gadis salah satunya. Jika mendengar musiknya, Freedom of Rhapsodia, nampaknya terpengaruh oleh Procol Harum. Freedom of Rhapsodia juga pernah memainkan irama klasik Air on G String milik Johan Sebastian Bach dengan organ dalam lagu Apakah Dosaku dalam mereka di tahun 1974, Tak Pernah bahagia.
Lagu-lagu mereka selalu dilapisi suara organ yang menjadi ciri khas tahun 1970an. Meski terpengaruh oleh Procol Harum, Freedom of Rhapsodia tetap menjadi diri mereka. Setidaknya, mereka tidak se-psycedelict Procol Harum dalam hal lirik. Lirik-lirik lagu Freedom of Rhapsodia lebih bisa dicerna banyak penikmat musik pop yang lebih suka instant.

Kamis, April 21, 2011

Nitisemito: Juragan Bal Tiga


Nitisemito hanya menjadi legenda saja dalam sejarah kretek di Kudus. Nitisemito tampil sebagai pengusaha kretek sukses diawal industrialisasi kretek. Setalah Bal Tiga menghilang, Nitisemito tenggelam. Penikmat kretek masa kini lebih kenal Dji Sam Soe dari pada Bal Tiga yang pernah Jaya itu.


Siapa yang tidak kenal rokok kretek, hampir semua perokok pasti tahu bahkan pernah menikmatinya. Para pendaki gunung sering membawanya, lalu menikmatinya dipuncak gunung. Rokok identik dengan penyakit pernafasan. Anehnya kretek justru diracik pertama kali oleh Djamhari yang sering sesak nafas. Setelah menikmati rokok ciptaannya itu, sesak nafas nafas Djamhari kian berkurang. [i]

Djamhari memang dicap sebagai penemu rokok kretek dalam sejarah rokok di Kudus, yang merupakan kota asal kretek. Dalam sejarah kretek, Djamhari bukanlah nama besar. Ada Nitisemito, juragan—kalau boleh dibilang dialah konglomerat kretek—diawal sejarah komersialisasi di Kudus bahkan di nusantara. Sebenarnya ada banyak legenda dalam sejarah rokok kretek, termasuk cerita penjual kretek bernama Roro Mendut, sosok wanita cantik yang memikat pelangganya bukan karena rasa kreteknya, melainkan ludah Roro Mendut untuk merekatkan gulungan kreteknya. [ii]

Pengusaha Kretek Bal Tiga

Di sebuah desa bernama Janggalan—kecamatan kota Kudus—ditahun 1863, ibu Markanah melahirkan anak keduanya. [iii] Anak itu diberi nama Rusdi. Ayah Rusdi adalah Haji Sulaiman, seorang kepala desa (lurah) didesanya, Janggalan. [iv]

Rusdi tidak pernah bersekolah kendati anak lurah, karenanya dia buta huruf. Diusia 17 tahun Rusdi mengganti namanya menjadi Nitisemito, nama Jawa yang terus disandangnya sampai akhir hidupnya, juga disandang oleh keturunannya. [v]

Nitisemito tidak meneruskan jejak ayahnya menjadi kepala desa, dia lebih memilih menjadi seorang wirausaha. Diusianya yang ke 17, dia merantau ke Malang (Jawa Timur) bekerja sebagai buruh jahit pakaian. Perlahan Nitisemito menjadi pengusaha konfeksi yang sedang berkembang walau hanya sementara. Usaha konfeksinya ini bangkrut karena dililit hutang. Lepas menjadi pengusaha konfeksi, Nitisemito-pun pulang kampung dan berdagang kerbau dan memproduksi minyak kelapa, usaha ini juga gagal. Akhirnya dia kembali kebawah lagi, kali ini menjadi kusir dokar. Walau begitu, jiwa dagang-nya masih mengalir dalam tubuhnya, disamping mencari nafkah dengan menjadi kusir, Nitisemito juga menjajakan tembakau. [vi]

Ketika menjadi kusir, Nitisemito sering mangkal di warung Mbok Nasilah (kini toko kain Fahrida, di jalan Sunan Kudus). Mbok Nasilah, dianggap juga sebagai penemu kretek, penemuannya bermula dari usahanya untuk menghentikan kebiasaan nginang para kusir yang sering mangkal di warungnya ditahun 1870an. Ampas nginang yang diludah oleh pengingangnya, mengotori warungnya. Rokok yang dijual diwarungnya untuk menghentikan kebiasaan nginang itu ternyata sangat diminati para kusir maupun pedagang keliling yang sering singgah di warungnya, termasuk juga Nitisemito. Rokok racikan Mbok Nasilah adalah campuran tembakau dengan cengkeh, rokok itu lalu dibungkus dengan daun jagung kering (klobot) setelah itu diikat dengan benang. [vii]

Singkat kata, Nitisemito-pun menikahi Mbok Nasilah ditahun 1894. [viii] Pernikahan Nitisemito dengan Mbok Nasilah ini adalah titik awal sejarah pemasaran rokok kretek. Hasil racikan Mbok Nasilah, menejemen produksi dan pemasaran yang bukan hal baru bagi Nitisemito yang sering kali jatuh bangun dalam dunia wirausaha. Pasangan yang saling mengisi dan berpengaruh dalam sejarah rokok kretek Kudus. Awalnya warung Mbok Nasilah menjadikan rokok kretek buatannya menjadi barang dagangan utama.

Perlahan tapi pasti usaha rokok itupun maju pesat. Awalnya, Nitisemito memberi label rokoknya “Rokok Tjap Kodok Mangan Ulo” (Jawa: Rokok cap Kodok makan ular), karena lebel itu menjadi bahan tertawaan dan tidak membawa hoki, Nitisemito lalu menggantinya dengan nama Tjap Bulatan Tiga. Karena kotak pembungkus rokok ini bergambar bulatan mirip bola, merek ini lebih dikenal pasar sebagai Bal Tiga. Merek Bal Tiga ini akhirnya menjadi merek resmi rokok produksi Nitisemito, akhirnya rokok ini diberi nama: Tjap Bal Tiga H.M. Nitisemito. Secara resmi Bal Tiga lahir pada tahun 1914 di desa Jati, Kudus. [ix]

Setelah usaha rokoknya berjalan sepuluh tahun, Nitisemito berhasil mendirikan pabrik diatas lahan 6 hektar di desa jati. Saat itu, di Kudus sudah beroperasi 12 pabrik rokok yang terbilang besar untuk ukuran masa itu, diantaranya milik M. Atmowidjojo (merek Goenoeng Kedoe)H.M. Muslich (merek Delima), Haji Ali Asikin (merek Djangkar) dan Tjoa kang Hay (merek Trio), M. Sirin (merek Garbis & Manggis). Disamping yang besar, terdapat 6 pabrik rokok kelas-kelas gurem di Kudus waktu itu. Ditahun 1938, Nitisemito telah membawahi 10.000 buruh rokok dengan produksi rokok 10.000.000 batang perhari. Usaha Nitisemito semakin besar dan uang yang masuk semakin deras, untuk lebih mudah mengontrol keuangan, Nitisemito memperkerjakan tenaga pembukuan asal Belanda, orang kulit putih. Ironis untuk zaman itu, seorang pribumi mampu memperkerjakan orang Belanda. Biasanya orang pribumi bekerja pada orang-orang Belanda. [x]

Perusahaan Nitisemito pernah menyewa pesawat Fokker seharga f 200,- untuk mempromosikan rokoknya di Bandung dan Jakarta. Rokok produksi Nitisemito memiliki pangsa pasar ke kota-kota di Jawa, Kalimantan, Sumatra bahkan ke Negeri Belanda. [xi] Usaha pemasaran Nitisemito juga dilakukan memalui radio. Memerikan hadiah: sepeda, piring, jam, dinding dan lainnya kepada para pemebeli dengan menukar bungkus rokok Bal Tiga dalam jumlah yang ditentukan. Cara sampai sekarang masih sering dilakukan banyak produsen dalam pemasaran produknya kepada masyarakat konsumen Indonesia. [xii]

Nitisemito berusaha agar usaha rokoknya abadi untuk anak cucunya. Kaderisari pewaris usaha diadakan dengan mengambil salah satu pegawai terpandai-nya untuk masuk dalam keluarganya. Nitisemito melihat bakat wiraswasta pada diri M. Karmani. Putri kedua Nitisemito lalu dinikahkan dengan Karmani. Nitisemito yang akan pensiun pelan-pelan dari usahanya itu mengangkat Karmani sebagai Menejer pabrik rokok Bal Tiga-nya. Begitu semangatnya, Nitisemito juga menyertakan nama Karmani dalam rokok Bal Tiga-nya. [xiii]

Perjalanan usaha pribumi macam Bal Tiga Nitisemito tidak tanpa badai. Persaingan antar pengusaha, khususnya pengusaha pribumi dengan pengusaha Tionghoa dalam industri rokok berujung pada sebuah konflik dan huru-hara 31 Oktober 1918, yang berbentuk pada tindakan pengerusakan dan pembakaran pabrik rokok kretek, beberapa pengusaha rokok lalu diseret ke pengadilan dan dipenjara. Kerusuhan itu mengakibatkan kemunduran beberapa industri rokok kretek termasuk Bal Tiga. [xiv]

Musibah terparah adalah tuduhan penggelapan pajak oleh pemerintah kolonial. Nitisemito dituduh menggelapan pajak yang merugikan pemerintah kolonial sebesar f 160.000,- melalui pembukuan dobel. Perkara ini menyeret Nitisemito ke pengadilan. Awalnya pengadilan memutuskan akan menyita kekayaan Nitisemito serta menutup pabrik rokoknya. Rupanya pengadilan kolonial itu kecut melihat banyaknya buruh yang menggantungkan hidupnya pada usaha rokok Nitisemito itu. Diputuskan Nitisemito harus melunasi hutang pajak f 160.000 itu dengan menyicilnya. Oleh pemerintah, Nitisemito yang sudah tua saat pengadilan itu, dipandang sebagai manusia yang sangat berjasa dalam industri rokok kretek, industri yang juga memberikan masukan (berupa pajak) pada pemerintah kolonial masa itu. [xv]

Ada fitnah yang menyeret Karmani dalam kasus penggelapan pajak. Tuduhan penggelapan pajak tidak pernah terbukti dan Karmani terbebas dari tuduhan itu. kendati bebas dan tidak bersalah, hal ini telah membuat Karmani jatuh sakit lalu meninggal. Nitisemito dilanda kemalangan dalam hal ini karena tidak hanya kehilangan pegawai terbaiknya, menantunya saja, tetapi jugapewaris tahta industri kreteknya: Karmani. Padahal saat itu Nitisemito sudah separuh mundur dalam pengelolaan usaha yang dirintisnya dari bawah. [xvi] Sang perintis, Nitisemito, akhirnya kembali turun dalam industri kreteknya, disaat dia harus pensiun. Ini bukan hal mudah kendati Nitisemito sangat berpengalaman, kondisinya yang semakin tua nyaris tidak mungkin menjalankan usaha kreteknya yang telah banyak tersaingi kretek lainnya.

Kesuksesan Bal Tiga juga tidak berlangsung lama. Disinyalir muncul konflik internal keluarga; siapa yang akan menggantikan Nitisemito yang semakin tua dalam menjalankan perusahaan rokok itu. Munculnya merek baru masam Minak Djinggo milik Kho Djie Siong, disinyalir semakin mempercepat tenggelamnya Bal Tiga ditahun 1930. Sebelumnya Kho Djie Siong pernah bekerja pada industri rokok Nitisemito. [xvii] Rupanya masa kejayaan Bal Tiga hanya menjadi prolog dalam sejarah industri kretek saja. [xviii] Impian Nitisemito untuk meneruskan kejayaan Bal Tiga-nya telah gagal. Bal Tiga malah berakhir sebelum hidup Nitisemito sendiri berakhir diawal dekade 1950an.

Jiwa usaha Nitisemito tidak pernah termakan usianya yang semakin tua, kendati sulit bersaing dengan kretek merek-merek baru yang menjamur, Nitisemito terus bangkit. Sebelum kematiannya usahanya menghidupkan Bal Tiga beberapa gagal, Nitisemito tidak takut jatuh bangun dimasa seharusnya dia pensiun demi mengembalikan kejayaan Bal Tiga. [xix]

Borjuasi Pribumi dimasa Pergerakan

Kehadiran Notosemito dengan Bal Tiga menunjukan bahwa seorang pribumi dengan usaha dari bawahnya akan mampu menjadi golongan kelas menengah terpandang dimasa itu. Kejayaan Nitisemito sangat bersamaan dalam masa-masa pergerakan nasional. Seorang pengusaha besar macam Nitisemito setidaknya menyelamatkan banyak pribumi dengan mempekerjakan mereka dalam usaha rokoknya. Dengan begitu buruh pribumi itu tidak bekerja dibawah orang-orang Belanda maupun nonpribumi (seperti Cina). Walau dengan upah hampir sama, hal ini menghindarkan mereka diperbudak oleh tuan-tuan muka pucat Eropa.

Industri kretek Bal Tiga, telah membuat Nitisemito yang begitu tersohor diawal abad XX. Dalam sebuah almanak berbahasa Jawa, Volksalmanak Djawi, Nitisemito dan kisah sukses usaha kreteknya telah dimuat pada tahun 1936. Almanak tahunan bertiras seratus ribu eksemplar itu, juga pernah memuat pengusaha pribumi lain yang sukses, seperti Djohan Djohar ditahun 1937. Kisah sukses pengusaha pribumi yang dimuat oleh alamanak itu, bukanlah bermaksud mengiklankan lagi produk pengusaha pribumi macam Nitisemito atau Djohan Djohar. Almanak itu hanya berusaha memberikan contoh pada masyarakat pribumi, bahwasanya seorang pribumi, dengan usaha yang keras seorang pribumi bisa sukses dan mengalahkan orang Cina atau Belanda. “Awit sampoen keboektèn sanadjan bangsa Priboemi, poenika manawi poeroen kémawon boten badé kowan kalijan bangsa senès.” (Maksudnya: asal ada kemauan, mantap tekadnya dalam semua hal, selalu waspada dalam melaksanakan niatnya, lagi pula bersedia mandi keringat, akhirnya akan mulia). Bila seseorang mampu mencapai tingkat itu maka orang itu layak untuk dihormati karena orang itu memiliki mental yang kuat dan luhur jiwanya. [xx]

Persaingan dalam dunia usaha adalah hal biasa, ada pengusaha yang bermain curang dengan menyabot usaha lawan bisnisnya. Hal ini begitu jelas digambarkan dalam novel Ca Bau Kan karya Remy Silado dan digarap Nia Dinata menjadi sebuah film dengan judul sama dengan novelnya; dunia dagang diawal abad XX dipenuhi intrik saling menghancurkan satu dengan lainnya.

Di lapangan banyak pengusaha pribumi dikalahkan oleh pengusaha Cina bahkan Belanda yang bermodal besar. Hal ini melahirkan sebuah organisasi dagang pribumi bernama Sarekat Dagang Islam pimpinan Haji Samanhudi, yang kemudian menjadi Sarekat Islam. Organisasi Islam bernuansa dagang itu juga kemudia berdiri juga di Kudus. [xxi] Keberadaan Sarekat Islam, dikemudian hari hanyalah menjadi kendaraan politik semata dengan nama Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Sarekat Islam—meski kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam—tidak mampu memajukan dunia wirausaha pribumi.

Pada masa dunia wirausaha di Hindia hanya diisi sedikit orang pribumi. Sampai sekarangpun, dunia wirausaha di Indonesia masih di kuasai non pribumi seperti Cina. Feodalisme yang mengakar begitu kuat di Indonesia tidak memberi hidup pada rakyat kecil untuk berwirausaha atau dagang. Feodalisme di nusantara telah menutup pintu kewirausahaan rakyat yang hanya diarahkan menjadi budak-budak di tanah pertanian para priyayi. Hanya kromo yang gigih dan cerdas saja yang dapat keluar dari lubang jarum feodalisme itu.

Nitisemito adalah salah satunya, kendati akan hidup mapan bila mengikuti jejak ayahnya, Nitisemito memilih dunia yang lain. Nitisemito tidak mau terjebak dalam dunia birokrasi feodal tingkat desa dengan menggantikan ayahnya sebagai kepala desa, dia memilih keluar dari dunia birokrasi itu dan memulai perjuangannya sebagai buruh jahit lalu bergelut dalam dunia usaha sebelum akhirnya sukses.

Kendati ada Nitisemito dari kretek Kudus, sayangnya apa yang diharap Volksalmanak Djawi tidaklah melahirkan generasi wirausahawan baru, rakyat pribumi rupanya lebih banyak memilih menjadi buruh daripada menjadi majikan. Jarang ada pribumi yang mau membuka usaha sendiri,mereka memilih menjadi buruh di pabrik atau di perkebunan, dimana mereka dengan sabar menerima hinaan dari majikan kulit mereka putih. Pribumi nusantara memang berbeda dengan pendatang Cina yang mau menabung lalu membuka usaha sendiri, hingga tidak perlu jadi buruh seumur hidup.

Sarekat Islam dan pendahulunya Sarekat Dagang Islam juga tidak mampu mengangkat dunia usaha pribumi, lantaran terlalu tenggelama dalam berpolitik melawan pemerintah Belanda disaat landasan perekonomian pribumi lemah. Kehadiran Nitisemito dalam dunia usaha pribumi juga kurang dimanfaatkan oleh kaum pergerakan.

Bagaimanpun Nitisemito adalah inspirasi bagi dunia usaha di Indonesia. Dimasa pengusaha Eropa bertahta diperkebunan-perkebunan—yang tersebar di nusantara—seorang pribumi buta huruf, di Kudus tampil sebagai industrialis rokok kretek. Industri ini juga menjadi tempat sepuluh ribu buruh bergantung untuk bertahan hidup.

Bila saja ada seribu Nitisemito yang peduli pada pribumi miskin pada masa itu, maka perekonomian pribumi bisa sekaligus melepaskan ketergantungan pribumi dari belenggu pengusaha kulit putih. Kemapanan ekonomi pribumi akan membantu dunia pergerakan nasional secara finansial maupun politis menghadapi tekanan politik pemerintah kolonial.

Nitisemito patut dicatat sebagai salah satu pengusaha sukses disamping Djohan Djohar. Sebagai pengusaha kretek pribumi, Nitisemito pengusaha adalah yang pertama jaya di Kudus bahkan di Indonesia. Pemerintah kolonial Belanda sekalipun, perlu berpikir panjang untuk menutup pabriknya. Pemerintah Belanda pula menganggap Nitisemito berjasa dalam perkembangan industri kretek, kendati tidak catatan yang menyebutkan Nitisemito pernah dapat bintang jasa dari pemerintah kolonial atas usahanya itu.



[i] http://id.wikipedia.org/wiki/kretek. lihat juga: http://djokosantoso.blogspot.com/2007/02/menjawab -pertanyaan-jeng-lia-saya.html. Diakses:10-April-2007.15.40

[ii] Ibid.

[iii] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/24/jateng/578076.html . Diakses:10-April-2007.15.42.

[iv] http://id.wikipedia.org/wiki/kretek. lihat juga: http://djokosantoso.blogspot.com/2007/02/menjawab -pertanyaan-jeng-lia-saya.html. Diakses:10-April-2007.15.40

[v] Ibid.

[vi] Ibid.

[vii] Ibid.

[viii] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/24/jateng/578076.html . Diakses:10-April-2007.15.42.

[ix] http://id.wikipedia.org/wiki/kretek. lihat juga: http://djokosantoso.blogspot.com/2007/02/menjawab -pertanyaan-jeng-lia-saya.html. Diakses:10-April-2007.15.40

[x] Ibid.

[xi] Ibid

[xii] J.B. Kristanto, Seribu Tahun Nusantara, Jakarta, Kompas, 2005. h.607.

[xiii] Ibid.

[xiv] Ibid.

[xv] Ibid., h.607-608.

[xvi] Ibid., h. 608.

[xvii] http://id.wikipedia.org/wiki/kretek. lihat juga: http://djokosantoso.blogspot.com/2007/02/menjawab -pertanyaan-jeng-lia-saya.html. Diakses:10-April-2007.15.40

[xviii] http://id.wikipedia.org/wiki/kretek. lihat juga: http://djokosantoso.blogspot.com/2007/02/menjawab -pertanyaan-jeng-lia-saya.html. Diakses:10-April-2007.15.40

[xix] Ibid.

[xx] P. Swantoro, Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu, Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia, 2002. h. 52-53.

[xxi] Lance Castles, Religion, Politics and Economic Behavior in Java: the Kudus Cigarette Industry, ab. J. Sirait, Tingkah laku Agama, Politik Dan Ekonomi Di Jawa: Industri Rokok Kudus, Jakarta, Sinar Harapan, 1982. h. 103.