Kamis, November 22, 2007

Tanö Niha: Ngayau, Denninger dan Backpacker

Nias, terdengar agak menyeramkan bila belum mengerti. Banyak beredar cerita miring yang tidak seluruhnya benar. Hingga orang akan memilih Bali untuk berwisata dan melupakan Nias. Misteri Nias hanya menakutkan calon wisatawan, hanya beberapa peneliti yang bermimpi bisa mencapai pulau itu untuk menggali tanah penuh misteri ini.Beberapa peneliti mengatakan, Nias terkesan seperti Jepang sebelum restorrasi Meiji dengan politik isolasi. Sebelum abad XX, Nias adalah The Untouchable Island. Ada 2 orang misionaris Perancis meninggal di Pulau ini pada tahun 1830, seperti dalam buku Orang Indonesia Orang Perancis karya Bernard Dorleans.Usaha pemerintah Belanda gagal dengan beberapa ekspedisi militernya. Kesulitan di Nias, ini membuat pemerintah kolonial untuk melakukan pembaratan pada penduduk Nias dengan menghentikan ekspedisi militer. Sekelompok misionaris diajak bekerja di Nias. Maksud pemerintah kolonial adalah “memberadabkan” masyarakat Nias yang kala itu dianggap biadab lantaran mereka sulit dikuasai. Tentu saja “pemberadaban” itu dari sudut pandang pemerintah kolonial kal itu. Akhirnya tahun 1860an, Denninger masuk bersama RMG-nya untuk menyebarkan agama kristen.Ada cerita menarik tentang perkembangan agama kristen di Nias. Tersebutlah seorang pengayau (pemburu kepala) yang merasa dikejar dosa, dia merasa bersalah sekali. Akhirnya pengayau itu menemui Denninger. Atas saran Denninger, pengayau tadi menemui keluarga korban ngayau-nya. Awalnya pengayau itu ragu, karena rundung rasa bersalah, pengayau itu mau meminta maaf pada keluarga korbannya. Diluar dugaan keluarga korban tadi justru menangis. Padahal ngayau bisa meninggalkan dendam lebih dari tujuh turunan. Merekapun—pengayau dan keluarga korban tadi—seperti mendapat pencerahan atas saran Denninger. Cerita menyebar, ada seorang dukun membawa pencerahan di Gunung Sitoli—kebetulan Denninger menjalankan klinik di Gunung Sitoli. Dalam beberapa dekade dua pertiga penduduk Nias telah memeluk kristen.Perlahan-lahan isolasi Nias terbuka. Pengaruh barat tentunya masuk. Nias sekarang tidaklah seseram dulu, ratusan tahun lalu. Sudah pasti Nias membuka pintunya lebar-lebar untuk dimasuki pengunjung. Ada banyak tempat menarik disini. Sisa-sisa kebudayaan masa lalunya dan pantainya adalah obyek menarik.Mengunjungi Nias bisa melalui laut dengan kapal dari Jakarta singgah di Padang atau Sibolga yang semalam dari Gunung Sitoli. Atau dengan pesawat Merpati dari Medan setiap pagi. Bila kita dari Jakarta, kita bisa naik pesawat ke Medan lalu naik pesawat lagi ke Gunung Sitoli. Bila naik pesawat dari Medan-Gunung Sitoli terlalu Rp 500.000 terlalu mahal, ada travel ke Sibolga lalu naiklah kapal Ferry atau kapal kayu. Perjalanan darat Medan – Sibolga sangat menyenangkan karena kita bisa saksikan keelokan perbukitan Tanah Batak dan pastinya Danau Toba akan kita saksikan dari jendela mobil.Sampai di Gunung Sitoli, anda tidak akan temui hotel mewah sekelas, Dusit Iin. Mungkin anda bisa cari penginapan kelas melati. Tidak masalah bagi para Backpacker, anda bisa menginap dimana saja selama menginjak bumi. Untuk saat ini Nias cukup menantang bagi para Backpacker.Bagi anda yang tertarik mengkaji Nias, anda wajib kunjungi Museum Pusaka Nias yang letaknya dekat dengan pelabuhan. Disini disajikan beberapa miniatur rumah adat Nias kuno, baju perang ksatria Nias. Di museum ini juga dijual beberapa buku tentang Nias yang diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Nias. Bila anda kurang puas, silahkan berbincang langsung dengan pastur Hammerlee, pendiri museum.Nias memiliki potensi wisata yang baik terutama wisata bahari-nya. Ada beberapa pantai yang baik untuk berselancar seperti Lagundri di Teluk Dalam, Nias Selatan atau pantai Sirombu du Nias Barat. Ada banyak pantai di Nias, hanya beberapa yang menjadi tempat wisata. Beberapa pantai di Nias Utara banyak yang belum bisa diakses. Di Nias Utara beberapa pantai memiliki ombak menantang untuk berselancar.Mengunjungi Nias tanpa melihat Hömbö batu (lompat batu), tidak lengkap rasanya kunjungan wisata kita. Hömbö batu dapat anda saksikan di Böwömataluö, sebuah desa dengan sisa-sisa budaya Nias kuno.Nias bukan tempat yang meyeramkan. Beberapa orang yang pernah ke Nias hampir semua berkeinginan kembali berkunjung ke pulau Nias lagi. Ini bukan pengaruh magic. Seorang dosen muda yang pernah menemani kawannya untuk penelitian beberapa tahun lalu, mengaku ingin kembali dan mengerjakan sebuah penelitian arkeologis di Gomo.
Gempa Nias Zaman Kolonial
Dimasa kolonial, Nias sudah sering mendapat kiriman gempa. Selisih waktu terjadinya gempa yang tidak tentu itu terjadi selang puluhan tahun. seperti yang dicatat Schroeder, Nias 3 kali mengalami gempa dizaman kolonial. Gempa pertama terjadi 5-6 Januari 1843; gempa kedua ditahun 1861; dan ketiga ditahun 1907. 1>
Mengenai gempa pertama, 5-6 Januari 1843, Schroeder mendapat informasi salah satunya dari Dr. Junghuhn. Gempa ini, membuat Gunung Sitoli seperti mendapat getaran-getaran keras pada malam hari. Gempa datang dari arah baarat daya ke timur laut—dari arah samudra Hindia. Arah getaran awalnya teratur, lalu arahnya menjadi tidak jelas. Bisa dibayangkan, Pulau Nias seperti di goyang-goyang. Tentu saja tidak ada orang-orang yang bisa berdiri atau duduk dengan stabil. Gempa bumi ini berlangsung selama 9 menit dengan kekutan yang tidak pernah menurun sama sekali. Tidak diketahui secara pasti berapa kekautan gempa ini dalam hitungan skala richter. Kebanyakan rumah roboh karenanya. Balkon yang berada diatas benteng juga jatuh. Pohon-pohon kelapa dan pohon-pohon lainnya, banyak yang tercerabut dengan akarnya dan terlempar jauh oleh getaran gempa. Gunung Harefa, dekat Gunung-Sitoli, sebagian tanahnya longsor dan masuk jurang. Kerak bumi pecah dan dimana-mana keluar dari celah-celah tanah munculah air yang berlumpur dan berbuih. Sesudah getaran-getaran besar tadi, dari arah laut di tenggara sebuah gelombang besar dan bergulung-gulung jauh diatas dataran pesisir timur pulau Nias—termasuk kota Gunung Sitoli. Gelombang itu mengilas apa saja sampai hilang, rumah, manusia, binatang daan lainnya. Karannya, desa-desa dipesisir pantai hancur total. Kapal-kapal yang dilewati gelombang terlempar ratusan meter. Orang-orang yang ketika getaran buni terasa masih selamat, kini banyak yang hilang bahkan meninggal dihantam gelombang Tsunami itu. Setelah tsunami berlalu, gempa-gempa dengan kekuatan kecil, sering datang tiap dua menit sekali. Hal ini berulang samapai pukul 04.30 dinihari. Bukan berarti tidak ada gempa lagi, tidak lama setelah pukul 04.30 itu juga gempa datang 6 menit. Selama beberapa hari, gempa-gempa dengan kekuatan yang sudah menurun sering menggoyang pulau Nias. 2>
Gempa Nias terjadi lagi pada 16 Februari 1861 nampaknya terjadi di Nias bagian selatan, sekitar kecamatan Teluk Dalam. Beberapa hari sebelum gempa besar tejadi pada 16 Februari, beberapa kali terjadi gempa-gempa ringan beberapa hari sebelumnya. Gempa besar terjadi pada pukul 18.30 mulailah gempa pertama yang cukup dasyat. Gempa terjadi selama 3 menit dengan getaran yang sangat kuat. Tidak heran bila bnayak serdadu KNIL di garnisun yang ada di Teluk Dalam jatuh tertelungkup. Setelah itu datang lagi 3 kali gempa dengan kekuatan yang tidak terlalu besar. Pukul 18.45 sorenya, gelombang pasang muncul dari arah tenggara. Pukul 19.30 sore itu terlihat bangunan-bangunan habis disapu gelombang besar itu. Konon menurut pemberitaan, tinggi gelombang di Lagundri adalah 7 hasta. Gempa ini mengakibatkan beberapa pos pemerintah kolonial di Lagundri hancur total. Korban jatuh adalah 16 orang serdadu KNIL dan 32 orang dari desa sekitar. Di sebuah garnisun militer, senjata-senjata api, walau tidak hilang karena basah oleh tsunami, tidak lagi bisa dipakai. Penghuni garnisun dan orang-orang pemerintah dari Teluk Dalam bertolak ke Gunung-Sitoli karena tidak lagi memiliki barang Logistik seperti pakaian, makanan juga senjata.
Di Gunung Sitoli, gempa terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Arah gempa adalah dari tenggara ke barat daya. Air laut sempat tersedot sekitar 32 hasta ke arah laut. Lalu dengan kecepatan tinggi air datang dari arah laut dan membanjiri daratan. Banyak desa-desa hancur oleh gempa di tahun 1861. Di pusat kota, hanya rumah seorang komandan militer saja yang lolos dari terjangan tsunami itu. Terlihat tanah-tanah yang terbelah oleh gempa. Di Tumula, sebuah kapal terlempar ke daratan. Di Lafau, sesudah gempa, anatara pulau Lafau nyaris terhubung dengan daratan. Di Pantai barat Nias yang berhadapan dengan Samudra Hindia, banyak batu karang yang muncul dipermukaan laut. 3>
Gempa yang terjadi di 4 Januari 1907 adalah Gempa bumi yang dirasakan sendiri oleh Schroeder yang menjadi pegawai kolonial yang memiliki wewenang penuh atas pulau Nias. Gempa terjadi sekitar pukul 12.00 siang hari. Dengan gerakan ringan dari kerak bumi selama satu setengah menit. Seorang Belanda bernama H. von Arx yang sedang berada di Toyolawa melihat adanya tsunami disebelah barat dan barat daya. Pulau Wunga, disebalah barat laut pulau Nias, harus mengalami benturan hingga pulau ini hancur. Getaran terkeras terjadi pukul 12.50 dan berlangsung sekitar satu menit.setelah gempa besar itu, air laut tersedot jauh sekali dari daratan. Air laut yang berwarna coklat kemudian naik lagi dan mencapai pantai. Hal ini berulang, namun dengan kekuatan yang berbeda dari sebelumnya. Kerusakan terparah gempa ini terjadi di pesisir pantai barat Nias bagian utara. Beberapa semenanjung menjadi gundul karena hantaman gelombang tsunami itu. Gempa ini telah menewaskan ratusan orang di pantai barat bagian utara—sekitar kecamatan Lahewa dan Afulu sekarang ini. Beberapa rumah disini hancur. Teluk Afulu tertimbun pasir laut dan material lain yanjg dibawa gelombang. disini beberapa orang yang ditemukan meninggal, beberapa diantaranya mengenaslkan, dengan kepala yang hancur dan bada yang terpisa-pisah. Di pualu Uma, semua penghuninya lenyap setelah serangan tsunami itu. Daerah Tumula juga tidak luput dari serangan tsunami. Sekelompok perahu nelayan yang kebetulan berada di sisi selatan Sungai Oyo lenyap. Di Lagundri, yang pada gempa sebelumnya adalah daerah terparah, tidak terlalu keras merasakan gempa ini. 4>
Gempa besar terakhir yang terjadi di Nias pada masa kolonial ini tentu saj paling diingat karena Schroeder sebagai orang penting di Nias melakuakan pemotratan kondisi pasca gempa lalu mendokumentasikannya dalam buku yang ditulisnya. Catatan mengenai gempa terakhir pasti lebih banyak. Hingga saat ini pulai Nias masih diganggu gempa.
Gempa di Nias juga membuat penghuni pulau inii untuk berbenah lagi. Kondisi Nias sudah mulai normal beberapa tahun setelahnya. Orang-orang Nias mungkin sudah terbiasa menghadapi gempa. Ketika kekuasaan Hindia Belanda atas Nias hampir, mereka tampak tidak merasakan efek buruk atas gempa yang terjadi tiga dekade sebelumnya. Orang-orang nampak tidak terlalu berkelauh kesah atas gempa yang lebih besar terjadi dibanding sekarang. Gempa yang sering terjadi di pulau Nias membuat kontur dan relief pulau Nias berubah sedemikian rupa seperti juga sekarang. Dimana beberapa tempat di selatan digenangi air laut dan diutara pantai menjadi semakin panjang
Catatan Kaki
1> Sumber ini berasal dari Pastur Hammerle dengan berdasarkan tulisan E.E.W.Gs Schroder, Nias, Ethnographische, Geographische en Historische Aanteekeningen en Studien, E.J. Brill, Leiden, 1917. h. 632-636: Javasche Courant vom 9 edisi 9 dan 10 Maret 1861: http://www.museum-nias.net/?p=185
2> Sebuah desa besar diselatan Gunung-Sitoli bernama Mego (yang dimaksud mungkin desa Migo) juga hancur total. Dibuthkan satu jam jalan kaki untuk mencapainya dari Gunung-Sitoli. Desa ini hingga tahun 1855, masih menyisakan kehancuran sisa gempa 12 tahun sebelumnya. Sisa-sisa gempa itu masih terasa saat itu. E.E.W.Gs Schroder, Nias, Ethnographische, Geographische en Historische Aanteekeningen en Studien, E.J. Brill, Leiden, 1917. h. 632-636: Javasche Courant vom 9 edisi 9 dan 10 Maret 1861: http://www.museum-nias.net/?p=185
3> E.E.W.Gs Schroder, Nias, Ethnographische, Geographische en Historische Aanteekeningen en Studien, E.J. Brill, Leiden, 1917. h. 632-636: Javasche Courant vom 9 edisi 9 dan 10 Maret 1861: http://www.museum-nias.net/?p=185
4> Dikutip dari E.E.W.Gs Schroder, Nias, Ethnographische, Geographische en Historische Aanteekeningen en Studien, E.J. Brill, Leiden, 1917. h. 632-636: http://www.museum-nias.net/?p=185
Kudeta Orang-orang Jerman Di Nias (1942)
Pada 19 januari 1942, kapal Van Imhoff meninggalkan Sibolga। Kapal ini mengangkut 477 internir Jerman ke India। Tidak jauh dari pelabuhan muncul pesawat pengintai Angkatan Laut Jepang (Kaigun) yang menjatuhkan bom ke kapal, perlahan kapalpun tenggelam. Seratus sepuluh orang Belanda, awak kapal dan penjaga tawanan Jerman, berhasil menyelamatkan diri dengan sekoci. Para tawanan dibiarkan mati konyol di laut. Kapten kapal, sebelum pergi meninggalkan kunci-kunci kepada komandan Jerman yang segera membebaskan para tawanan yang terkurung. Banyak orang Jerman yang panic lalu tenggelam. Salah satunya Walter Spies
[1]. Sayangnya sekoci kapal sudah habis disikat orang-orang Belanda. Hanya ada kapal kerja (werkboot) dan sejumlah rakit.[2] Ledakan bom yang dijatuhkan pesawat pengintai Jepang, menyebabkan banyak ikan laut mati disekitar tenggalamnya kapal, akan mengundang ikan hiu. Karenanya tawanan yang selamat berusaha secepat mungkin meninggalkan puing-puing kapal. Kondisi ini juga membuat sebagian tawanan bunuh diri. Bagi yang bersemangat hidup, berusaha membuat rakit dari puing sisa ledakan. Sekelompok tawanan menemukan sebuah perahu dayaung sepanjang 2-3 meter, perahu lalu diisi 14 orang dipimpin oleh Albert Vehring. Ada 200 orang yang tertinggal dalam kapal. Akhirnya sebuah rombongan dengan 2 perahu dan sebuah rakit, dipimpin oleh Vehring, melihat kapal Belanda bernama Boeloengan. Orang-orang Jerman malang itu mengira akan diselamatkan oleh kapal Belanda. Sayang, setelah bertanya: “apa kalian orang Belanda?” karena merasa tidak digubris, Boeloengan keburu kabur begitu tahu yang dijumpainya adalah Jerman yang akan berbahaya bila sekapal, mengingat Jerman adalah musuh mereka secara politis. Membiarkan musuh mati lebih baik daripada menolongnya.[3]
Hampir semua dari mereka, sampai di Nias ditangkap lalu disekap oleh aparat keamanan Belanda disana. Orang Jerman ini akhirnya dibawa ke Gunung Sitoli.[4] Orang-orang Jerman malang yang berjumlah 67 orang mencapai Nias dalam beberapa rombangan. Salah satu rombongan ada terdampar di Nias Selatan.
Pada hari ke empat, 23 Januari 1942, kondisi mereka semakin payah. Mereka kehausan, lapar, kekeringan serta disiksa terik matahari di pantai nIas yang menanjak. Dalam kondisi frustasi ini seorang berusia 73 tahun bunuh diri. Untung saja, beberapa orang Nias yang bersahabat dan seorang pastur Belanda, Ildefons van Straalen, menolong mereka dengan makanan dan minuman pada sisa-sisa orang Jerman itu.[5]
Sekelompok orang Jerman, berjumlah 35 orang, itu lalu mencapai Hilisimaetano, ibukota Nias Selatan. Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan itu, mereka dirawat sebelum dibawa ke Gunung Sitoli. Disana mereka bertemu dengan kawan-kawan Jerman lainnya dalam tangsi (kazerne).[6]
Terhitung dari 67 orang yang sampai ke Nias, 2 orang tewas, satu tewas karena kecelakaan perahu dan satu sang kakek yang bunuh diri tadi. Sisa dari mereka adalah 65 orang.
Orang-orang Jerman itu dijaga beberapa orang Belanda dan 38 angggota Veldpolitie.[7] Karena Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati 8 Maret 1942, maka pejabat Belanda di Nias bingung, apa yang harus mereka perbuat. Termasuk pada tawanan Jermannya.[8]
Selama dalam tahanan, Vehring bersekongkol dengan polisi Indonesia.[9] Polisi pribumi itu dengan mudah dibujuk itu tidak puas dengan majikannya, Belanda. Mereka lalu merencanakan sesuatu, kudeta atas pulau Nias. Sebuah baku tembak lalu terjadi, dan sejumlah orang Belanda dan Inggris lalu dijadikan kaum internir oleh orang-orang Jerman yang kini berkuasa. Untuk ini Fischer menjadi perdana menteri Nazi Jerman untuk pulau Nias. Karenanya lambing swastika khas Nazi Jerman mereka buat. Sebuah kontak dengan Jepang-pun mereka buat.
Pada 17 April, tentara jepang mendarat di Nias dengan sambutan meriah dari orang-orang Indonesia. Lagu Indonesia raya saat itu dinyanyikan. Mereka semua memberikan heil Hitler. 20 april yang istimewa, ulang tahun sang fuhrer Adolf Hitler, dirayakan dengan meriah oleh orang-orang Fasis tadi—Jerman dan Jepang sekutunya. 21 April, melaui jalur laut, Teluk Dalam diduduki, dan Hilisimaetano keesokan harinya. Pelan-pelan Jepang menjadi penguasa baru atas pula Nias dengan mudah atas usaha kawan Jermannya tadi. Semua orang Jerman lalu meninggalkan pulau Nias menuju Sibolga kecuali dr Heidt yang lalu bunuh diri karena kesepian pada Agustus 1942.
[1] Walter Spies adalah seorang seniman musik dan pulikis. Pernah menjadi dirigen sebuah orkestra musik klasik sebelum menetap di Bali. Dia adalah seorang homoseksual, Gay. (Rosihan Anwar, Sejarah Kecil: La Petite Histoire, Jakarta, Kompas, 2004. h. 82). Setelah kematiannya, orang tua Walter Spies yang berada di Inggris menuntut ganti rugi setelah perang dengan membuat surat pengaduan. (http://www.bogor.indo.net.id/indonesia tuguperingatanjerman/#atas Diakses tanggal 27 Maret 2007 pukul 08.41.)
[2] Rosihan Anwar, Sejarah Kecil: La Petite Histoire, Jakarta, Kompas, 2004. h. 81.
[3] Pada 20 Juni 1949, Vehring melaporkan kejadian keji itu dengan mengangkat sumpah kepada notaris Bernard Grünewald, di Bielefeld. (http://www.bogor.indo.net.id/indonesia tuguperingatanjerman/#atas Diakses tanggal 27 Maret 2007 pukul 08.41.)
[4] (http://www.bogor.indo.net.id/indonesia tuguperingatanjerman/#atas Diakses tanggal 27 Maret 2007 pukul 08.41.)
[5] (http://www.bogor.indo.net.id/indonesia tuguperingatanjerman/#atas Diakses tanggal 27 Maret 2007 pukul 08.41.)
[6]Rosihan Anwar, Sejarah Kecil: La Petite Histoire, Jakarta, Kompas, 2004. h. 81-82.
[7] Veldpolitie: polisi lapangan. Semacam brigade mobil sekarang ini.
[8] Rosihan Anwar, Sejarah Kecil: La Petite Histoire, Jakarta, Kompas, 2004. h. 82
[9] (http://www.bogor.indo.net.id/indonesia tuguperingatanjerman/#atas Diakses tanggal 27 Maret 2007 pukul 08.41.)